Mujizat Masih Ada – oleh Pdt. Anton Toganti Kumayas, GPdI Siaga Jakarta (IBADAH RAYA 3 – Minggu, 25 Agustus 2019)

Yohanes 6:5-7

Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”

Ada antusiasme diantara orang Yahudi untuk berjumpa dengan satu figur yaitu Yesus. Mereka sendirilah yang berinisiatif untuk mencari Yesus. Mereka mengadakan perjalanan yang cukup jauh dan kebanyakan dari mereka berjalan kaki. Kondisi itu bukan menjadi hambatan bagi mereka. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya timbulah belas kasihan terhadap orang banyak itu.

Yesus tidak hanya memperhatikan perkara rohani tetapi juga kebutuhan jasmani orang yang mengikuti-Nya. Yesus menyuruh para muridNya untuk memberi makan orang banyak itu. Namun posisi mereka jauh dari kota. Bagaimana caranya mendapatkan makanan? Yang ada hanya 5 roti dan 2 ikan. Sedangkan Filipus meresponi dengan sikap pesimis, sebab roti seharga 200 dinar tidak akan cukup untuk memberi makan orang banyak itu. Ini pandangan manusia. Tuhan memilih menggunakan apa yang ada pada kita. Tanpa tindakan iman kita tidak akan melihat mujizat Tuhan.

Dalam injil Yohanes, rupanya Filipus tidak mengenal Yesus dengan benar.
Yohanes 14:9.
Kata mengenal dalam ayat ini menggunakan kata Ginosko yaitu mengenal secara timbal balik. Bukan hanya kita mengenal Tuhan tapi Tuhan juga mengenal kita. Kita bisa saja mengenal Tuhan, tapi apakah Tuhan juga mengenal kita?

Kata Ginosko artinya:

  • Datang untuk jadi taat
  • Datang untuk Memahami
  • Datang untuk Mengenal
  • Datang untuk Mengalami

Yohanes 14:12
Percaya adalah modal untuk melihat mujizat.
Sesuatu yang kecil di tangan kita dapat dilipatgandakan oleh Tuhan hanya bila kita percaya kepadaNya.

Dunia ini gudangnya masalah. Kita tidak bisa berdoa untuk tidak diberikan masalah. Masalah itu akan datang tanpa kita minta. Kita hendaknya berdoa agar kita dimampukan untuk melewati masalah. Terkadang Tuhan bawa kita kepada persoalan agar kita mengalami mujizat dan menjadi kuat.  Tuhan memberkati.

Seri 12 PEMBUNUH RAKSASA – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 25 Agustus 2019)

1Samuel 17

1Samuel 17:50
Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu;
ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Kehadiran raksasa-raksasa dalam hidup kita adalah hal yang tidak mungkin dapat dielakkan. Sebagaimana Daud menghadapi raksasa dari Filistin yaitu Goliat, demikian juga dengan kita ada banyak raksasa-raksasa yang menghadang perjalanan hidup kita. Mungkin ada yang sedang menghadapi raksasa yang dinamakan penyakit, kegagalan, masalah, kesulitan, hubungan yang rusak, terikat dengan dosa,  kehilangan anggota keluarga, atau mungkin ada yang sedang menghadapi raksasa yang dinamakan keuangan. Apapun yang sedang kita hadapi, tetaplah maju, janganlah menyerah lakukanlah seperti yang Daud lakukan untuk meraih kemenangan.

Mari kembali kita memperhatikan tindakan-tindakan Daud untuk membunuh raksasa yang menantang barisan Israel yaitu Goliat.

  1. Pembunuh raksasa memilih mendengar suara Tuhan dari pada suara lawan.
  2. Pembunuh raksasa memilih memandang Tuhan daripada memandang lawan.
  3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
  4. Pembunuh raksasa memperkatakan kemenangan bukan kekalahan.
  5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan dari pada mencari kehormatan diri sendiri.
  6. Pembunuh raksasa memilih berharap kepada Tuhan, bukan senjata perang
  7. Pembunuh raksasa memilih keluar dari zona nyaman ke zona iman
  8. Pembunuh raksasa memilih untuk menyembah TUHAN sekalipun lawan ada di depannya
  9. Pembunuh Raksasa memilih menggunakan apa yang ia punya dan ia bisa
  10. Pembunuh Raksasa memilih melihat peluang, bukan hambatan dan kesulitan
  11. Pembunuh Raksasa memilih bertemu Allahnya sebelum bertemu musuhnya

Selanjutnya mari kita mempelajari kunci kemenangan Daud yang ke dua belas yaitu:

 12
Pembunuh raksasa memilih membunuh dirinya sendiri, sebelum membunuh lawannya.

Sesungguhnya musuh terbesar dalam peperangan bukanlah lawan yang dihadapi tetapi diri sendiri. Musuh terkuat bukan yang terlihat, tetapi mereka yang tak terlihat yang ada dalam diri kita. Kemenangan-kemenangan dalam peperangan bukan ditentukan oleh besar dan kuatnya lawan, tetapi oleh kemampuan mengalahkan diri sendiri. Karena apa yang terjadi didalam diri kita lebih penting dari pada yang terjadi di luar diri kita. Kemampuan kita menaklukan diri sendiri adalah pertanda untuk membunuh musuh yang ada dihadapan kita.

Mari kita perhatikan apa yang terjadi dalam diri tentara dan yang terjadi dalam diri Daud.

Kita lihat kembali 1Sam. 17:10,11 : Pula kata orang Filistin itu: “Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.” Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.

 Mendengar tantangan Goliat, raja Saul bersama dengan orang Israel cemas dan ketakutan lalu lari menjauhi Goliat, tetapi  Daud  maju dengan penuh keberanian (bd, ayat 24, 32) Melihat sosok Goliat, orang Israel ketakutan, tapi Daud tidak ada kegentaran. Mengapa terjadi respon yang berbeda terhadap situasi yang sama? Perbedaannya adalah terletak pada kemampuan untuk membunuh dirinya sendiri. Saul dan bangsa Israel tidak mampu membunuh ketakutan yang ada di dalam diri mereka, sedangkan Daud berhasil membunuh ketakutan yang ada dalam dirinya. Sebagai seorang anak gembala yang masih muda melihat sosok Goliat yang tinggi besar dan mendengar tantangannya tentu saja membuatnya menjadi takut, tetapi Daud memilih membunuh ketakutan dan kecemasan  yang menyerang dirinya.

Kadang-kadang dalam peperangan kehidupan yang kita alami bukan besarnya lawan yang membuat kita kalah, tetapi kecilnya keyakinan dalam diri kita untuk menang. Jadi jika kita sudah merasa kalah sebelum berperang maka kalahlah kita. Sadarilah bahwa ukuran diri Anda, lebih penting dari pada ukuran lawan Anda. Lihatlah apa yang ditulis oleh penulis Amsal dalam: Amsal 24:10 Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.

Kekuatan kita tidak ditentukan oleh besarnya fisik yang kita miliki, tetapi besarnya keyakinan dan iman yang ada dalam diri kita. Jika hati kita tawar, takut, cemas, maka kehebatan fisik dan persenjataan perang tidak ada artinya apa-apa. Sebaliknya orang-orang yang berani, dengan apapun yang dipegang akan memenangkan pertandingan.

Kembali kepada kisah Daud dan Goliat. Daud berhasil membunuh Goliat, karena Daud memilih membunuh raksasa “KETAKUTAN” yang ada dalam dirinya sendiri, sebelum membunuh raksasa Goliat. Jangan biarkan ketakutan menguasai hidup kita sehingga melumpuhkan keberanian kita untuk melawan musuh yang kita hadapi.

BAHAYA KETAKUTAN
Jika kita tidak membunuh ketakutan yang ada dalam diri kita, maka ketakutan itulah yang akan membunuh kita. Ketakutan itu sangat bahaya. Dia tak terlihat tetapi memiliki kuasa dahsyat. Beberapa bahaya dari ketakutan adalah:
1. Ketakutan membunuh POTENSI
1Sam 17:23,24
Sedang ia berbicara dengan mereka, tampillah maju pendekar itu. Namanya Goliat, orang Filistin dari Gat, dari barisan orang Filistin. Ia mengucapkan kata-kata yang tadi juga, dan Daud mendengarnya. Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka dari padanya dengan sangat ketakutan.

Saul dan tentara Israel adalah orang-orang memiliki potensi besar karena mereka adalah para prajurit yang terlatih. Selain itu mereka adalah orang-orang yang diperlengkapi dengan senjata. Jadi peluang untuk memenangkan pertempuran melawan Goliat sangatlah besar. Namun sayang, ketakutan membunuh semua potensi tersebut sehingga tak satupun berani menghadapi Goliat. Daud potensinya mungkin kecil karena hanya tahu memainkan umban dan batu, tetapi keberaniannya telah melipatgandakan potensi yang ada dalam dirinya, sekalipun hanya bermodalkan umban dan batu, ia berhasil menumbangkan Goliat sang raksasa Filistin.

Kadang bukan karena kurangnya pengetahuan, sedikitnya modal, atau sempit pergaulan yang membuat kita gagal, tetapi ketakutan itulah yang membunuh semuanya itu. Orang-orang yang berani dengan kualitas apapun yang dia pegang selalu membawa kepada keberhasilan.

 2. Ketakutan membuat kita menentang titah TUHAN
Ulangan 1:26
Tetapi kamu tidak mau berjalan ke sana, kamu menentang titah TUHAN, Allahmu.
Contoh : Saul – 1 Sam 13:11-13

Hati-hatilah dengan ketakutan sebab ketakutan dapat membuat seseorang menentang firman Tuhan. Karena ketakutan menghadapi bangsa-bangsa yang ada di Kanaan, bangsa Israel akhirnya menentang titah. Mereka melawan dan memberontak kepada kehendak Allah. Jangan biarkan ketakutan pada akhirnya berbuah dosa dalam hidup kita. Beranilah menghadapi, percaya saja bahwa Tuhan selalu menyertai.

3. Ketakutan membuat kita gagal memahami kehendak dan rencana TUHAN
Ulangan 1:27
Kamu menggerutu di dalam kemahmu serta berkata: Karena TUHAN membenci kita, maka Ia membawa kita keluar dari tanah Mesir untuk menyerahkan kita ke dalam tangan orang Amori, supaya dimusnahkan.

Selanjutanya ketakutan membuat bangsa Israel gagal memahami rencana Tuhan. Mereka pikir Allah membawa mereka keluar dari Mesir agar mereka mati dibunuh bangsa Amori. Bukankah rencanaNya adalah memberikan tanah yang berlimpah susu dan madu? Namun karena ketakutan mereka gagal melihatnya, pandangan mereka tertuju kepada kesulitan hidup yang dihadapinya.

MEMBUNUH KETAKUTAN
Jangan biarkan ketakutan berkembang dalam hidup kita sehingga mengagalkan seluruh rencana dan kehendak Allah dalam diri kita. Bunuhlah ketakutan sebelum ia membunuh masa depanmu dengan cara:
1. BERANILAH melangkah karena kuasa/mujizat terjadi saat kita bertindak.
Yosua 3:13
Segera sesudah kaki para imam pengangkat tabut TUHAN, Tuhan semesta bumi, berhenti di dalam air sungai Yordan, maka air sungai Yordan itu akan terputus; air yang turun dari hulu akan berhenti mengalir menjadi bendungan.

Jangan tunggu keadaan baik baru bertindak, bertindaklah maka keadaan akan berubah. Bangsa Israel tidak menunggu arus sungai Yordan tenang atau mengering, saat arus sungai sedang deras para imam maju menyebrangi, maka terjadilah mujizat dan pertolongan Tuhan. Saat kaki para imam pengangkat tabut TUHAN, berhenti di dalam air sungai Yordan, maka air sungai Yordan itu akan terputus; air yang turun dari hulu akan berhenti mengalir menjadi bendungan.

Barangkali penyakit kita belum disembuhkan, masalah kita belum diselesaikan, hutang masih banyak, persoalan menumpuk. Jangan tunggu selesai, melangkahlah dengan berani, percayalah saat kita bertindak kuasa Allah bergerak.

2. Ketahuilah bahwa kesuksesan terjadi secara bertahap.
Ulangan 7:22
TUHAN, Allahmu, akan menghalau bangsa-bangsa ini dari hadapanmu sedikit demi sedikit; engkau tidak boleh membinasakan mereka dengan segera, supaya jangan binatang hutan menjadi terlalu banyak melebihi engkau.

Kesuksesan adalah proses, bukan peristiwa dadakan. Tidak ada suskes yang terjadi seketika semua butuh waktu dan usaha. Sukses terjadi secara bertahap, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Ingatlah, bahwa seorang pembunuh raksasa tidak dimulai dari membunuh raksasa. Sebelum membunuh Goliat, Daud terlebih dulu telah membunuh singa dan beruang. Kemenangan-kemenangan di padang penggembalaan telah menghantarnya kepada kesuksesan besar yaitu membunuh raksasa Goliat. Sadarilah bahwa kemenangan-kemenangan besar di masa depan ditentukan oleh kemenangan-kemanangan kecil yang terjadi dari hari lepas hari.

3. Masa depan menuntut RESIKO
Ester 4:16
“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Tidak ada keberhasilan tanpa harga. Untuk mendapatkan barangnya Anda harus membayar harganya. Itulah resiko. Harga bayaran untuk sebuah keberhasilan. Ingatlah beberapa kebenaran berikut ini:

  • Untuk menuju puncak anda harus mendaki
  • Tidak ada kemenangan tanpa peperangan
  • Tidala ada keberhasilan tanpa usaha

 4. Percayalah kepada Tuhan
Ulangan 31:6
Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

Musuh dari iman adalah ketakutan. Saat ketakutan berkembang, maka iman kita hilang. Sebaliknya saat kita percaya, maka ketakutan akan sirna. Oleh sebab itu jangan takut percaya saja kepada Tuhan. Yakinlah bersama Tuhan kita dapat melewati badai, bersama Tuhan kita mampu berjalan mengatasi gelombang. Jangan pandang tantangan yang ada di depan, jangan lihat kesulitan yang menghadang, lihatlah Tuhan yang memberi kemenangan. Percayalah kepada Tuhan, maka keberhasilan akan datang. Tuhan memberkati. KJP!!

SUARA KENABIAN : Menjadi Suara Kebenaran ditengah dunia – oleh Pdp. Corneles Wim Kandou (Ibadah Raya 1 – Minggu, 25 Agustus 2019)

1 RAJA-RAJA 20:35-43

Kisah Para Rasul 20:42-43
Kata nabi itu kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Oleh karena engkau telah membiarkan lolos orang yang dikhususkan bagi-Ku untuk ditumpas, maka nyawamu adalah ganti nyawanya dan rakyatmu ganti rakyatnya.” Lalu raja Israel pergi ke istananya dengan kesal hati dan gusar, maka sampailah ia di Samaria.

A. PENDAHULUAN
Dunia kita hari-hari ini sedang mengalami ‘degradasi nilai –nilai kebenaran” bahkan kehilangan krisis kebenaran yang dipegang selama ini. Contohnya:

  1. Seorang penceramah agama, yang dalam ceramahnya menghina simbol keagamaan yang lain. Katanya Jin Kafirlah dan sebagainya. Bukankah agama harusnya menebarkan perdamaian dan bukan penghinaan serta memprovokasi?
  2. Kebohongan / Hoaks yang ditebarkan di media untuk menarik perhatian
  3. Trend Kawin cerai dianggap sesuatu yang wajar
  4. Transeksual yang dipromosikan di media elektronik. Seorang selebritis / selebgram Lucinta Luna yang dianggap wajar-wajar saja.
  5. Kalangan Hamba Tuhan:
    – Andrew Stocklein, Pendeta Inland Church, AS bunuh diri karena stress
    – Joshua Harris, Pendeta dan Penulis Buku menceraikan istrinya dan tidak lagi menjadi seorang Kristen
    – Marty Sampson, Mantan Pemimpin Pujian Hillsong yang kehilangan imannya karena kecewa dengan pemimpin gereja

Bagaimana sikap orang percaya terhadap dunia yang seperti ini? Apakah kita diam saja, ikut terhanyut atau tetap berdiri pada kebenaran Tuhan? Sesungguhnya hari ini dunia membutuhkan suara kenabian yang dengan lantang menyuarakan kebenaran !

Mari kita kembali pada ayat pokok kita. Pada zaman itu, Israel berada dalam era kemerosotan rohani yang luar biasa. Raja demi raja berganti namun tak satupun yang berbalik kepada Tuhan.

Ahab adalah salah satu raja Israel yang terkenal, namun terkenal karena kefasikan, kejahatan dan kelalimannya sehingga menimbulkan kepedihan di hati Tuhan.

Bahkan oleh salah satu komentator Alkitab mencatat bahwa pemerintahan Ahab adalah salah satu pemerintahan Israel yang mengalami kemerosotan rohani terburuk yang pernah ada. Perikop ini (1 Raja-Raja 20:35-43) kemudian menunjukkan celaan Tuhan kepada Ahab yaitu dengan memakai Nabi-Nya untuk menyampaikan nubuatan kepada Raja Ahab. Bayangkan, ketegasan Tuhan terhadap ketidaktaatan hingga salah satu nabi yang menolak perintah Tuhan untuk memukul rekan nabi yang lain justru mengalami akhir hidup yang begitu mengerikan.

NABI ANONIM
Saya tertarik dengan Nabi anonim yang diutus Tuhan untuk menyatakan nubuat kepada Raja Ahab. Nabi Anonim ini dapat juga menjadi gambaran hidup orang percaya yang seharusnya tak segan menyuarakan kebenaran dan berita pertobatan.

Zaman Israel dibawah pemerintahan Raja Ahab pada waktu itu kurang lebih sama dengan masa sekarang. Dunia dimana kita hidup sedang mengalami kemerosotan moral bahkan kemerosotan rohani. Tidak hanya pemimpin pemerintahan bahkan para pemimpin rohani, yang mulai mendegradasi nilai-nilai Firman Tuhan untuk memudahkan kehidupan Kekristenan.

Kehidupan orang percaya di dunia ini harusnya seperti suara kenabian, yaitu suara yang menemplak dan menegur dunia sekitarnya untuk berbalik kepada Tuhan. Berani menyuarakan kebenaran, dan tidak enggan menegur ketidakbenaran.

Mari terlebih kita perhatikan bagian-bagian ini . 

B. APA YANG DAPAT KITA PELAJARI SEKARANG ?
1. Kebenaran Harus Tetap Disampaikan Sekalipun Menyakitkan.
1 Raja-raja 20:35 Seorang dari rombongan nabi berkata kepada temannya atas perintah TUHAN: “Pukullah aku!” Tetapi orang itu menolak memukulnya.

Perintah atau Firman Tuhan atau Kebenaran Tuhan adalah nilai absolute yang tak bisa ditawar. Sekalipun itu berlawanan dengan nilai, kebiasaan, budaya yang terbangun disekitar kita namun Kebenaran harus dinyatakan dengan cara apapun, bahkan walau sesakit apapun.

Kisah Bangsa Israel.
Ulangan 8:2
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu

Kebenarannya adalah masa-masa sukar yang dialami bangsa Israel dimaksudkan agar timbul kerendahan hati dari mereka untuk sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan.

 2. Kebenaran Harus Dinyatakan Sekalipun Ada Resiko Yang Diterima.
1 Raja-raja 20:42
Kata nabi itu kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Oleh karena engkau telah membiarkan lolos orang yang dikhususkan bagi-Ku untuk ditumpas, maka nyawamu adalah ganti nyawanya dan rakyatmu ganti rakyatnya.”

Apabila kita mundur di pasal-pasal sebelumnya maka akan terlihat dengan jelas bahwa Raja Ahab dan Istrinya Izebel terkenal begitu membenci para Nabi Tuhan bahkan tak segan mengancam dan membunuh.

Namun Nabi Anonim ini tak bisa menahan kebenaran Tuhan yang harus dinyatakan kepada Raja Ahab. Ia tetap pergi dan menyampaikan kebenaran Tuhan tanpa peduli bahaya apapun yang mengancamnya.

Kisah Paulus
1 Korintus 16:9
Sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.

 Pekerjaan yang besar disini adalah usaha pemberitaan injil kebenaran Yesus Kristus walau resiko banyaknya penentang.

 Filipi 1:12-13
Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

Sekalipun dipenjarakan menjadi harga yang harus dibayar karena memberitakan kebenaran Tuhan, namun Paulus tetap mensyukuri hal itu. Harusnya semangat dan dedikasi yang sama dimiliki oleh orang percaya. Apapun resikonya, entah ditolak, dibenci, dikucilkan atau apapun itu asalkan itu karena kebenaran Tuhan yang kita suarakan.

BAGAIMANA CARA KITA MENYAMPAIKAN KEBENARAN
1. Berkatalah Dengan Jujur
Matius 5:37
Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Jangan berbohong hanya karena takut cekcok dengan orang lain yang jelas hidupnya sedang dalam dosa. Jangan sampai suara kebenaran kita terhambat oleh karena kita sungkan kepada orang yang jelas-jelas bersalah.

2. Kebenaran Harus Disampaikan Dengan Kebaikan.
Sekeras apapun kebenaran itu dinyatakan, namun sampaikan dengan cara yang santun. Jadi bahan pemikiran untuk kita. Mengapa suara kebenaran kita sering kali tidak diterima ? Bisa saja karena cara dan waktu kita menyampaikannya tidak tepat.

Amsal 15:1
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. (Lihat juga: Amsal 15:23)

 3. Kebenaran Harus Disampaikan Dengan Motivasi Kasih
Wahyu 3:19
Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu  dan bertobatlah!

Segala kebenaran yang kita suarakan harus dilandaskan pada sebuah kasih yang tulus. Sebagaimana teguran dan hajaran Tuhan digerakkan oleh kasih yang besar. Biarlah kebenaran yang kita kumandangkan bukan dilandaskan pada motivasi atau intrik-intrik tertentu tetapi semua karna kasih yang tulus.

4. Hiduplah Dalam Kebenaran
Suara kebenaran yang kita kumandangkan akan jauh lebih kuat dan berdampak apabila kita memang menghidupi nilai-nilai kebenaran. Kegagalan kita adalah kita seringkali bersandiwara mengumandangkan kebenaran yang kita tidak hidupi.

Hidup dalam kebenaran menjadi hal yang penting, mengapa ?
a. Kebenaran Adalah Standar Tuhan.
Yohanes 14:6
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

b. Kebenaran Itu Menghidupkan
Mazmur 119:93
Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku.

CARA HIDUP KITA ADALAH SUARA KENABIAN KITA
Suara Kenabian Orang Percaya harus tampak dan terasa dampaknya dalam seluruh aspek kehidupan

  1. Profesionalisme pekerjaan kita harusnya menemplak orang yang asal-asalan dalam pekerjaanNya.
  2. Ketulusan, kekudusan dan dedikasi pelayanan kita harusnya menemplak mereka yang melayani asal-asalan
  3. Kesetiaan dan Kasih kita kepada suami dan istri kita harusnya menemplak mereka yang curang kepada pasangannya.
  4. Cara kita memperlakukan pasangan kita harusnya menjadi suara kenabian bagi mereka yang tak menghormati pasangannya.
  5. Kesungguhan kita membesarkan dan mendidik anak-anak kita harusnya suara kenabian bagi orang tua yang lain.
  6. Cara pacaran kita yang kudus harusnya menemplak mereka yang cara pacarannya tidak kudus
  7. Cara kita mengucap syukur harusnya menjadi suara kebenaran, kesaksian yang kuat.

Apapun profesi, keadaan dan situasi dihidup kita, kita selalu bertindak, berdiri, melandaskan seluruh aktivitas kita sesuai pada kebenaran Tuhan.

Kiranya Roh Kudus memampukan kita semua, supaya apapun yang kita sentuh oleh tangan kita sesuai dengan kebenaran Tuhan, maka dibuatNya berhasil. Biarlah sinar wajah Tuhan menerangi setiap langkah kita ! www.corneleskandou.wordpress.com

YESUS JURU DAMAI – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 18 Agustus 2019)

Kolose 1:20-22

Pendahuluan
Kolose 1: 15-18 membahas tentang keutamaan Yesus karena Yesus adalah yang utama sebab IA adalah pencipta, kepala gereja dan jemaat sebagai anggota tubuhNya, Kolose 1:18. Dan keutamaan Yesus juga dibuktikan lewat kebangkitan sulung  yang menjamin kebangkitan orang percaya, 1 Tesalonika 4:16. Jadi sebagai orang percaya semua hal mulia yang kita terima yaitu kehidupan kekal dan menjadi sempurna karena Yesus sudah menjadi juru damai antara kita dengan Allah.

Hidup Jauh Dari Allah
Dalam Kolose 1:21, menerangkan kepada kita bahwa dahulu kita jauh dari Tuhan karena dosa. Kejadian 3:9 menerangkan bahwa sebelum manusia jatuh dalam dosa, manusia dapat memandang Allah, berkomunikasi dengan Allah. Namun setelah jatuh dalam dosa, maka manusia diusir oleh Allah untuk keluar dari Taman Eden dan Allah menaruh Kerub dengan pedang yang menyala di pintu masuk Taman Eden (Kejadian 3:24). Jadi manusia hidup jauh dari Allah karena dosa. Dosa memisahkan hubungan antara Allah dengan manusia, padahal dalam Zakharia 4:10 menuliskan, bahwa sesungguhnya tidak ada tempat yang tidak bisa didatangi oleh Allah, Mazmur 139 menegaskannya. Dan Yesaya 59:1 menuliskan bahwa  tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong dan pendengaran Allah tidak kurang tajam untuk mendengar. Tuhan dapat lakukan apapun untuk menusia, tetapi sekali lagi dalam Yesaya 59:2, “yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar ialah segala dosamu.”

Solusi
Allah begitu mengasihi manusia, itulah mengapa Allah tidak serta merta membinasakan manusia berdosa melainkan IA menjadi manusia yang disebut Yesus dan membuka kebuntuan antara Allah dengan manusia. Hanya Allah (Yesus) yang tidak pernah berbuat dosa, yang memenuhi syarat untuk mendamaikan. Itu sebabnya Yesus timpakan upah dosa yaitu maut ke atas diri-Nya, agar kita diperdamaikan dengan Allah dan tidak dihukum. Salah satu buktinya adalah kisah dalam Lukas 23 dimana seorang yang penuh kejahatan dan disalib bersebelahan dengan Yesus menerima anugrah keselamatan menjelang kematiannya diatas kayu salib. Hal ini nyata dari ucapan Yesus dalam Lukas 23:43.

Setiap orang yang percaya Yesus menerima perdamaian dengan Allah, tetapi apakah cara hidup dan pemikiran kita membuktikan bahwa kita sudah diperdamaikan dengan Allah? Itulah mengapa rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Kolose, dalam Kolose 1:21 yang menjadi 3 pertanyaan:

  • Apakah jemaat Kolose benar-benar memiliki hubungan yang intim dengan Allah?
  • Dan apakah jemaat Kolose benar-benar tidak memusuhi Allah?
  • Apakah mereka hanya puas jadi Kristen, tapi sebenarnya kita belum jadi Pengikut Yesus Yang Sejati?

Ketiga pertanyaan itu juga, berlaku kepada setiap orang percaya di zaman sekarang untuk menjadi bahan evaluasi, yaitu:
1. Sejauh mana hubungan kita dengan Tuhan
Rasul Petrus menuliskan dalam suratnya di 1 Petrus 1:4 – 8, bahwa sebagai orang percaya jangan hanya puas dengan menjadi Kristen. Karena masih ada tanggung jawab kita yaitu mendekat kepada Kristus. Untuk lebih jelas dapat diperhatikan gambar berikut.

 

Saat seseorang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan, maka ia akan naik kepada iman. Dan sasaran orang percaya bukan hanya menjadi Kristen, namun sampai seperti Yesus. Antara iman kepada kasih agape masih ada jarak yang jauh. Itu sebabnya iman perlu bertumbuh ke tangga berikutnya, yang terekspresi dalam hidup orang percaya lewat kebajikan yang didasari oleh pengetahuan firman sehingga mampu melakukan karena mengerti firman. Selanjutnya naik ke tangga penguasaan diri, penguasaan diri bukan hanya saat emosi, tetapi mampu menguasai diri justru pada saat memilih atau mengambil keputusan yang sulit. Dan terus tekun di dalam melakukan firman Tuhan, sampai menjadi saleh hingga sampai kepada kasih philea dan naik sampai kasih agape.

Sudah dimanakah posisi kita sekarang? Apakah baru sampai pada iman? Yang penting percaya Yesus dan selamat tanpa memikirkan pertumbuhan iman untuk mendekat kepada Yesus sebagai mempelai pria.

2. Memusuhi Tuhan
Sebagai orang percaya, kita tidak mungkin secara demostatif menyatakan memusuhi Tuhan, seperti beberapa kelompok orang yang  secara demonstratif memusuhi Tuhan dengan cara menjadi penyembah setan. Mereka lakukan karnaval, mengenakan logo Antikristus dan menyanjung patung Iblis.

Tetapi memusuhi Tuhan adalah tidak bersama-sama dengan Tuhan. Dalam Lukas 11:23, pada saat itu Yesus bersama-sama sekelompok orang. Secara fisik mereka bersama Yesus namun hatinya tidak bersama Yesus, artinya mereka yang tidak bersama- sama dengan Tuhan karena tidak percaya. Mereka lebih percaya bahwa mujizat itu terjadi oleh kuasa kegelapan bukan kuasa Tuhan. Jadi Lukas 11:14,15, orang yang tidak bersama Tuhan adalah orang-orang yang percaya ajaran mistis ketimbang percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup melakukan mujizat. Sesungguhnya, seorang pengikut Yesus harusnya sudah lepas dari kuasa-kuasa kegelapan, karena hal itu sama dengan memusuhi Tuhan, 1 Timotius 4:1-7.

 3. Melakukan kekerasan
Kitapun tidak mungkin memusuhi Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang membakar gereja; menganiaya para pengikut Yesus.

Tetapi, tidak menutup kemungkinan, ada orang yang mengaku pengikut Kristus, tetapi kalau hati dan pikiran kita tidak sejalan dengan hati dan pikiran Yesus, kita sama dengan sedang memusuhi Tuhan. Contohnya Markus 8:31-33, Yesus memarahi Petrus sebab ia tidak sejalan dengan Yesus. Ia tidak mengetahui kehendak dan rencana Allah karena hati dan pikirannya tidak bersama-sama dengan Yesus.

Hati-Hati
Sering kali firman Allah yang kita dengar atau pesan Tuhan yang kita dengar bertentangan dengan apa yang daging kita inginkan. Kita ingin berkat; kemapanan dan yang kita senangi sehingga kita pun berpikir dan berbuat seperti Petrus yaitu menolak rencana Allah.

KESIMPULAN
Sebagai orang percaya, jangan hanya puas dengan menjadi Kristen saja. Tanpa memiliki kerinduan untuk bertumbuh menjadi sama seperti Yesus yaitu memiliki kasih Agape. Seperti rasul Paulus katakan sebagai bahan evaluasi, apakah kita sudah dekat dengan Allah? ataukah masih jauh dari Allah? Apakah mungkin kita memusuhi Yesus dengan sikap hidup dan perbuatan kita ? Dengan lebih percaya kepada hal mistis dan ajaran setan-setan. Ataukah kita memusihi dengan hidup bertentangan dari kehendak Allah.

Tuhan kiranya menolong setiap kita untuk hidup mendekat kepada Allah dan memahami kehendakNya sehingga menjadi sempurna sama seperti Yesus.

YESUS ADALAH KEBANGKITAN SULUNG – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 11 Agustus 2019)

KOLOSE 1:17-19

Pendahuluan
Dalam Kolose1:15-23, menjelaskan kepada kita bahwa Yesus adalah Allah yang dapat dilihat dari segala aspek. Salah satu peristiwanya adalah kebangkitan Yesus.  Semua ditulis bukan berdasarkan pemikiran manusia melainkan oleh ilham Roh Kudus.

Berbicara tentang kematian, pada hakekatnya kematian akan dialami oleh semua manusia dan setiap manusia yang mati secara fisik juga akan mengalami kebangkitan. Tetapi yang pertama-tama bangkit serta hidup untuk selama-lamanya hanya Yesus, sebab Yesus adalah Allah. Meskipun ada dalam perjanjian lama dan baru yang mati kemudian bangkit, namun mereka tidak hidup selamanya karena mereka akan mati lagi secara fisik. Itu sebabnya Yesus disebut kebangkitan sulung, karena memanglah IA satu-satunya yang bangkit dan tidak akan mati kembali seperti manusia biasa. Lewat kematian dan kebangkitan Yesus, keselamatan bergantung sepenuhnya di dalam Yesus.

Sebab itu Yesus bergelar kebangkitan sulung sehingga iman dan pengakuan seseorang dengan percaya dan mengaku bahwa Yesus bangkit dari kematian, sebab Yesus adalah Tuhan, terjamin keselamatannya. Buktinya terdapat dalam Roma 10:9, 10 – jika tidak percaya maka tidak akan dianggap benar oleh Tuhan, sebaliknya jika mengaku Yesus bangkit dari kematian maka ia akan selamat. karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku  dan diselamatkan.

DUA JENIS KEBANGKITAN
Yohanes 5:29 menuliskan “…dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.”

Jadi ada dua jenis kebangkitan, yaitu:
1. Kebangkitan untuk menerima hidup kekal
2. Kebangkitan untuk menerima hukuman kekal

Pada mulanya, Tuhan tidak pernah menciptakan manusia untuk neraka melainkan neraka untuk Iblis tetapi manusia banyak terjebak oleh tipu muslihat iblis sehingga mereka terseret masuk dalam neraka. Tentu tidak ada orang yang mau dihukum dan binasa dalam neraka, semua ingin bahagia di dalam sorga.  Dan satu -satunya yang dapat menjamin sorga adalah Yesus oleh karena kebangkitan-Nya.

Dalam Yohanes 5:29, dituliskan bahwa orang yang berbuat baik akan hidup. Berbuat baik yang dimaksud bukan berbuat baik saja, pasti selamat tanpa percaya Yesus tetapi perhatikan:

  • Yohanes 5:26-28, hidup yang dimaksud adalah kehidupan untuk manusia. Artinya Bapa-lah yang sanggup memberikan hidup yang sekarang sampai kepada hidup yang kekal, yaitu Yesus (Yohanes 10:30).  Sanggup memberikan hidup kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, yaitu dengan iman percaya kepada Yesus, yang memberikan hidup kekal.
  • Yohanes 5:27, 28 – Yesus punya kuasa untuk menghakimi umat manusia. Oleh pengakuan mulut kita dan iman dalam hati kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, karena Allah telah membangkitan Yesus sebagai kebangkitan sulung dari antara orang mati.

Jadi, dalam pandangan Allah perbuatan yang baik adalah pada saat seseorang beriman dan mengaku Yesus adalah Tuhan, karena Allah telah membangkitkan Yesus sebagai Kebangkitan sulung baginya. Sebaliknya, kejahatan yang terbesar dalam pandangan Allah adalah ketika seseorang menolak (tidak mau) percaya dan menolak (tidak mau mengaku) Yesus ialah Tuhan yang telah bangkit dari kematian sebagai kebangkitan sulung.

KEBANGKITAN SULUNG
Dapat disimpulkan bahwa kebangkitan sulung hanya diperuntukan bagi Yesus sebab Yesus yang pertama bangkit dari kematian,  menerima tubuh yang baru dan hidup selama-lamanya karena Yesus adalah Allah. Meskipun pada saat Yesus disalib ada yang bangkit dan masuk kota kudus/Yerusalem tetapi mereka tidak hidup selamanya melainkan mati, karena kota kudus yang dimaksud adalah Yerusalem jasmani di Israel. Jadi siapapun yang pernah bangkit di dunia ini akan alami kematian lagi, tetapi Yesus bangkit dan hidup untuk selama-lamanya.

  • Mengapa Yesus bergelar Kebangkitan Sulung?

Sebab kebangkitan Yesus adalah jaminan bagi setiap orang percaya. Sebagaimana Yesus dibangkitkan dari kematian,  begitu juga orang yang percaya dan mengaku Yesus adalah Tuhan akan dibangkitkan dan menerima hidup kekal.

  • Mengapa disebut kebangkitan sulung?

Karena kebangkitan sulung menunjukan ada kebangkitan berikutnya. Hal itu tercatat dalam 1 Tesalonika 4:16, saat Yesus datang kedua kali, orang percaya yang sudah mati akan dibangkitkan Yesus untuk menerima hidup yang kekal. Tetapi orang yang tidak percaya dan menolak Yesus, juga akan dibangkitkan, namun untuk dihukuman kekal (Wahyu 20:13 – 15).

  • Kapan kebangkitan sulung, kebangkitan pertama dan kebangkitan kedua?

Kebangkitan yang Yesus telah alami disebut “kebangkitan sulung.” Istilah ini tidak berarti kebangkitan akan terjadi secara serentak atau sekaligus. Paulus menjelaskan tentang urut-urutan kebangkitan dalam 1 Korintus 15:22,23, yaitu:

  1. Kebangkitan sulung oleh Yesus
  2. Kebangkitan pertama oleh orang percaya
  3. Kebangkitan kedua oleh orang yang tidak percaya

URUT-URUTAN KEBANGKITAN
1. Kebangkitan Sulung
Yang bangkit pada kebangkitan sulung hanya Yesus. Kalau saat Yesus dibangkitkan ada juga yang bangkit, mereka akan mati lagi. Hanya Yesus yang bangkit dan hidup selamanya, karena Yesus adalah Tuhan.

Sejak Adam jatuh dalam dosa,  maka waktu berpengaruh pada manusia. Setelah 2000 tahun, masuk zaman Abraham dan 2000 masuk salib. Yesus disalib dan mati, kemudian dihari ketiga IA bangkit dari antara orang mati dan naik ke Sorga serta hidup selama-lamanya. Jadi inilah saat kebangkitan sulung terjadi.

2. Kebangkitan pertama
Kebangkitan pertama adalah kebangkitan orang-orang yang sudah diselamatkan. Bagaimana mereka dapat diselamatkan? Perhatikan gambar kedua.

Dari zaman Adam sampai dengan Yesus datang ke dua kali, ada tiga hukum yang berlaku, antara lain:
1). Zaman Adam sampai Musa, mereka hidup di bawah Hukum Hati Nurani.
2). Zaman Musa sampai Salib, mereka hidup di bawah Hukum Taurat
3). Zaman Yesus sampai sekarang, berlaku Hukum Kasih Karunia

Dari ketiga hukum tersebut, hanya hukum anugerah atau kasih karunia, adalah hukum yang benar-benar menjadikan kita baru didalam Yesus sehingga kita mampu hidup dalam kehendak-Nya dengan sempurna karena hukum kasih karunia memampukan kita hidup dalam Tuhan. Dan berdasarkan ketiga hukum itulah, kelak setiap orang dihukum menurut perbuatannya.

Kesimpulan
Kebangkitan pertama adalah kebangkitan bagi  orang-orang benar yang hidup  sejak Adam sampai awal pemerintahan Antikristus.  Dan mereka akan menerima tubuh baru serta menyongsong Yesus di angkasa.

3. Kebangkitan kedua


Kebangkitan kedua adalah kebangkitan orang-orang BERDOSA, yaitu mereka yang hidup sejak Adam sampai kedatangan Yesus kedua kali. Yaitu orang-orang jahat yang hidup sejak Adam, orang-orang yang tidak taat pada Hukum Hati Nurani, di zaman Musa yang tidak taat kepada Hukum Taurat. Dari zaman Yesus (sejak Yesus mati) sampai Yesus datang kedua kali, yaitu orang-orang yang tidak mau percaya (menolak Yesus) sebagai Tuhan. Mereka semua akan dibangkitkan setelah Kerajaan 1000 tahun dan menerima tubuh yang baru, sebab tubuh jasmani yang sekarang kita kenakan mudah hancur tetapi tubuh baru kekal adanya. Mereka yang tidak taat akan dibinasakan di dalam neraka kekal selama-lamanya bersama Iblis, Antikris dan nabi palsu.

PENUTUP
Sebab itu, sebagai orang percaya yang sudah hidup dalam kasih karunia Allah, milikilah cara hidup yang benar dan berkenan dihadapan Tuhan menjelang kedatangan Tuhan yang semakin mendekat. Sehingga kelak ketika bunyi sangkakala terdengar, kita akan dibangkitkan dalam kebangkitan pertama untuk menerima upah dan hidup yang kekal, sehingga kita tidak malu saat kedatangan Yesus kedua kali, menyambut Yesus dalam segala kemuliaan dan keagungannya. Tuhan Yesus memberkati.

TANGGUNG JAWAB ANGGOTA TUBUH KRISTUS – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 4 Agustus 2019)

KOLOSE 1:17-19

PENDAHULUAN
Beberapa minggu lalu telah dijelaskan, bahwa gereja yaitu jemaat digambarkan seperti tubuh dan Kristus adalah kepalanya. Tubuh Kristus adalah setiap orang yang percaya kepada Yesus, diselamatkan dan mengalami kelahir baru. Itu sebabnya rasul Paulus menuliskan dalam 1 Korintus 12:13, bahwa setiap orang yang percaya Yesus dalam strata atau kedudukan apapun, saat percaya kepada Yesus dibaptis atau dimasukKan menjadi satu tubuh Kristus dan diberi minum dalam satu roh.

Perhatikan gambar.

Dahulu kita ada didalam dosa, sebab dosa diwariskan dari nenek moyang. Oleh karena itu seorang anak dapat berbuat dosa tanpa ada yang mengajar. Namun saat kita dewasa dan mengerti tentang keselamatan hanya diterima lewat  kematian Kristus di salib, maka kita percaya, lahir baru dan kemudian dimasukkan ke dalam tubuh Kristus. Dan setelah menjadi anggota tubuh Kristus, maka ada tanggung jawab yang harus dikerjakan karena jika tidak dikerjakan, orang tersebut akan dibinasakan.  Apa sajakah tanggung jawab orang percaya?

TANGGUNG JAWAB ORANG KRISTEN
1.
TEGUH – tidak tergoncangkan (Efesus 4:14)
Artinya dalam segala goncangan dunia serta ajaran sesat tetap kokoh dan teguh.

2. MENJADI ANGGOTA TUBUH YANG BERFUNGSI (1 Petrus 4:10)
Artinya dalam persekutuan tubuh Kristus, kita tidak pasif melainkan aktif melayani serta menolong. Sebab Allah menciptakan segala sesuatu dengan sebuah tujuan. Setiap jemaat berfungsi dan berperan. Biarlah roh yang saling melayani ada dalam diri setiap kita.

3. SALING MENGASIHI (Efesus 5:29)
Artinya, tidak ada orang yang membenci dirinya sendiri, tetapi mengasuh serta merawatnya.  Demikian juga sesama orang percaya jangan tidak saling mengasihi. Sebab seseorang yang menyadari ia adalah anggota tubuh Kristus akan melakukan kehendak Tuhan yaitu saling mengasihi.

Dan masih banyak beberapa tanggung jawab lainnya yang harus kita kerjakan. Hendaklah setiap anggota tubuh Kristus menjalankan perannya, karena anggota tubuh Kristus yang tidak berfungsi atau tidak menjalankan tanggung jawab akan dipotong serta digantikan/dibuang dengan yang lain yaitu sel-sel yang berfungsi.

DIBUANG KARENA TIDAK BERFUNGSI
Mengapa harus dibuang? Karena setiap anggota tubuh yang tidak berfungsi akan merusak sel yang lainnya. Itu mengapa setiap sel yaitu jemaat yang tidak berfungsi akan dibuang atau dikeluarkan dari tubuh Kristus atas kehendak Tuhan bukan kehendak gembala sidang, kecuali ada dosa tertentu yang dilakukan jemaat karena telah melanggar ajaran firman Allah, gembala berhak mengambil keputusan untuk mendidik jemaat tersebut.

Dalam Matius 25:14-30 menjelaskan bahwa orang yang tidak berfungsi sebagai tubuh Kristus sama dengan hamba yang menerima talenta tetapi tidak menfungsikan atau menggunakan talentanya. Oleh sebab itu jadilah anggota jemaat yang berfungsi agar tidak dibuang. Maka dari itu perlu bagi setiap orang kristen untuk:
1. Membangun hubungan yang intim dengan Kepala yaitu Kristus.
Sebab aktifitas tubuh digerakkan oleh kepala. Bagian tubuh atau sel yang tidak berfungsi dikarenakan tidak ada hubungan dengan kepala sang pemimpin gereja.

2. Tunduk kepada kepala yaitu perintah Yesus.
Efesus 5:22-24, kewajiban jemaat tunduk kepada Yesus sebab tunduk menunjukkan karakter Allah. Tanyakan pada diri kita, apakah kita tunduk atau tidak kepada sang kepala dalam menjalankan peran sebagai orang percaya.

3. Bergerak sesuai perintah Kepala
Segala yang digerakkan tubuh hasil dari perintah kepala atau otak.  Maka secara rohaniah anggota tubuh kristus harus bergerak dan beraktivitas sesuai dengan perintah otak yaitu sang kepala yaitu Kristus Yesus dan perintahnya adalah firman Allah.

Jadi untuk kita berfungsi dengan optimal, jalankan ketiga hal tersebut. Karena secara lahirian seluruh anggota tubuh taat atau tunduk pada perintah kepala (otak). Demikian juga gereja tunduk pada sang kepala yaitu Kristus dan harus bergerak dan beraktifitas sesuai kebenaran firman Tuhan.

Namun jika ada anggota tubuh Kristus yang bergerak dengan liar yaitu bergerak diluar firman Tuhan,  apakah Tuhan Yesus akan biarkan? Seperti penderita penyakit Septic yaitu, penyakit syaraf yang dialami oleh kanak-kanak. Penyakit ini membuat tubuh bergerak liar artinya bergerak diluar perintah otak. Jawabannya tentu tidak. Tuhan Yesus tidak akan biarkan anggota tubuh yang bergerak liar untuk terus ada dalam tubuh-Nya. Tuhan tidak mau orang percaya bergerak diluar kehendak Allah, maka dari itu mereka akan dibuang juga karena dapat mempermalukan tubuh Kristus.

Sebuah contoh dalam Matius 16:21, ketika Tuhan Yesus memberikan konsep surga kepada para murid. Bahwa Yesus akan dihukum dan menanggung dosa manusia. Ketika Petrus mendengar, ia menolak konsep surga kemudian menegur Yesus. Saat Petrus bergerak liar, tidak sesuai konsep Allah maka Yesus menegur Petrus dengan berkata “Enyahlah iblis” karena apa yang dipikirkan Petrus tidak sesuai dengan konsep Surga. Jadi bila kita tidak bergerak sesuai konsep Allah, maka kita sedang berada dalam kendali iblis dan dienyahkan. Bergeraklah dalam konsep sorga bukan konsep iblis atau diri sendiri sehingga tidak dibinasakan. Matius 16:24 – siapa yang ikut Yesus harus mememikul salib dan ikut Yesus.

PENUTUP
Meskipun kita sedang ada dalam dunia yang masyarakatnya membuat perbuatan yang gelap, maka tindakan kita hendaklah menelanjangi perbuatan gelap itu dengan mengikuti konsep sorgawi (Efesus 5:11,12).  Karena 1 Petrus 4:17, penghakiman dimulai dari gereja, yaitu tubuhNya. Dan setiap roh yang liar dan tidak sesuai kehendak atau konsep surga akan dibersihkan sebab kepala adalah kudus maka tubuh juga kudus. Firman Tuhan keras, tetapi IA yaitu Yesus, mau kita hidup bersama DIA dalam kekekalan. Tuhan Yesus memberkati.

NEW CALLING, NEW GROWTH – Oleh Pdt. Dr. Johnny Weol, STH, MMIN, MDIV, MM, MTH – Ketua Umum GPdI (Ibadah Perayaan HUT GPdI Mahanaim – Minggu, 28 Juli 2019)

PENDAHULUAN
GPdI sudah berdiri 99 tahun dan berkembang dari Sabang sampai Merauke, GPdI juga ada di negara-negara lain dan di 20.000 gereja lokal. GPdI berpegang teguh pada alkitab sebab firman Allah katakan agar kita mengawasi ajaran kita yaitu doktrin sebab ajaran yang sesat akan membawa kepada kebinasaan.  Di hari ini, 28 Juli 2019, Gereja Pantekosta di Indonesia jemaat Mahanaim Tegal atau lebih dikenal GPdI Mahanaim Tegal sudah memasuki usia yang matang, yaitu 30 tahun. Sebab usia 30 tahun merupakan usia kedewasaan seseorang untuk melayani menurut zaman perjanjian lama. Sedang pada zaman perjanjian baru,  kita dapat melayani pada usia kapanpun, asal kita sudah mengetahui makna pelayanan dan tujuan melayani.

Dalam 1 Petrus 2:9, menuliskan bahwa kita semua adalah imamat yang rajani yaitu imam Allah dan kita dipanggil untuk melayani Dia. Karena karakteristik surat Petrus ditujukan kepada semua orang percaya yang tersebar di berbagai daerah, tetapi bukan orang Israel dan kita sama dengan orang yang menerima surat Petrus di Alkitab, bahwa kita bukan keturunan Israel. Orang Israel adalah umat pilihan Allah dan Tuhan membela mereka begitu rupa dalam perjalanan ke tanah perjanjian Allah. Dan dengan kasih karuniaNya Allah mengangkat israel. Namun Roma 11, orang Israel menolak Yesus sehingga kasih karunia Allah yang besar kepada Israel beralih kepada kita, orang bukan Israel.

Jadi, panggilan pertama kita adalah bahwa kita dipanggil dari gelap kepada terang-Nya yang ajaib, Efesus 1:3,4 untuk menerima warisan yang masih tersimpan di sorga. Sebab saat kita menerima Yesus, kita akan memperoleh warisan dengan berkelimpahan. Kelimpahan adalah suatu keseimbangan antara keperluan rohani dan jasmani. Tetapi kelimpahan jasmani bukan ukuran seseorang dikasihi Allah, sebab jika ada orang percaya yang memiliki kelimpahan jasmani, maka itu digunakan untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Kapan pilihan dan panggilan Allah dilaksanakan? Yaitu sebelum dunia dijadikan sebab satu hari Allah sama dengan 1000 tahun bagi manusia. Pada masa sebelum perciptaan, Kejadian 1 menuliskan bahwa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, seperti mengerami bumi. Sebab iblis sudah hadir di bumi yaitu Lucifer. Ia adalah penghulu bala tentara malaikat dan pakaiannya sangat indah. Karena kesombongan maka ia dicampakkan ke bumi. Jadi iblis sudah ada sebelum penciptaan,  namun korban Yesus lebih dahulu disiapkan dan Allah sang pencipta yang mengetahui segala sesuatu tentang kita.

Maka dapat disimpulkan bahwa Tuhan sudah memilih kita sebelum dunia diciptakan dengan tujuan membawa dari gelap kepada terang-Nya yang ajaib. Didalam Yesus kita menjadi milik-Nya dan Roma 1:6, saat seseorang percaya kepada Yesus itu adalah titik awal mengenal Yesus. Pada saat itulah kita adalah milik Kristus dan Allah mengenal milik kepunyaan-Nya.

Tanggung jawab orang Kristen
Pada saat seseorang menjadi milik Allah karena iman mereka kepada Yesus, Roma 8:9,10 –  ia tidak lagi hidup dalam sifat duniawi melainkan hidup dalam Roh. Hidup dalam Roh adalah hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Kisah Para Rasul 2 menuliskan bagaimana pertama kali gereja dipenuhi Roh Kudus. Pada saat itu mereka berkata-kata dengan berbagai bahasa dan setelah itu ada banyak mujizat serta tanda ajaib yang Tuhan kerjakan didalam gereja Tuhan.

2 Korintus 1:21, Roh Kudus memeteraikan setiap orang percaya, sehingga menjadi serupa dengan gambar anak-Nya (Roma 8:29-30). Gambar anakNya adalah dimana manusia diciptakan sesuai dengan rupa Allah yaitu dengan tangan Allah. Diciptakan dari lumpur, suatu bahan baku yang jelek namun menjadi indah karena pengorbanan Yesus. Jadi ketika kita dipanggil menjadi milik-Nya,  maka kita diciptakan sesuai dengan sifat Allah, maka sifat Allah ada pada Adam tetapi menadi rusak saat dosa menyentuh Adam dan lambat laun akan dipulihkan sesuai dengan tujuan Allah.

GAMBAR DAN RUPA ALLAH
Kata “Rupa” berbicara soal struktur tubuh manusia yang terdiri dari Roh, Jiwa dan Tubuh. Dan saat dosa datang struktur itu masih ada karena yang hilang dari manusia adalah gambar, yaitu sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Yesus Kristus. Contoh Petrus yang hidup bersama Yesus dan menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama Yesus namun sifatnya tidak berubah, sampai ia saat penuh Roh Kudus. Jadi kita dipanggil dari gelap kepada terang untuk menjadi milik Allah, serta diproses sampai sempurna kembali kepada sifat Allah. 2 Korintus 3:18, hingga semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan tidak berselubung.

Gereja yang adalah tubuh Kristus harus bertumbuh ke arah Kristus. Maksudnya adalah kita harus bertumbuh di dalam kita melayani TUHAN sesuai dengan bagian kita. Ketika kita melayani sesuai talenta yang Tuhan berikan maka disinilah kita akan semakin menjadi serupa dan bertumbuh ke arah Kristus.