YESUS JURU DAMAI – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 18 Agustus 2019)

Kolose 1:20-22

Pendahuluan
Kolose 1: 15-18 membahas tentang keutamaan Yesus karena Yesus adalah yang utama sebab IA adalah pencipta, kepala gereja dan jemaat sebagai anggota tubuhNya, Kolose 1:18. Dan keutamaan Yesus juga dibuktikan lewat kebangkitan sulung  yang menjamin kebangkitan orang percaya, 1 Tesalonika 4:16. Jadi sebagai orang percaya semua hal mulia yang kita terima yaitu kehidupan kekal dan menjadi sempurna karena Yesus sudah menjadi juru damai antara kita dengan Allah.

Hidup Jauh Dari Allah
Dalam Kolose 1:21, menerangkan kepada kita bahwa dahulu kita jauh dari Tuhan karena dosa. Kejadian 3:9 menerangkan bahwa sebelum manusia jatuh dalam dosa, manusia dapat memandang Allah, berkomunikasi dengan Allah. Namun setelah jatuh dalam dosa, maka manusia diusir oleh Allah untuk keluar dari Taman Eden dan Allah menaruh Kerub dengan pedang yang menyala di pintu masuk Taman Eden (Kejadian 3:24). Jadi manusia hidup jauh dari Allah karena dosa. Dosa memisahkan hubungan antara Allah dengan manusia, padahal dalam Zakharia 4:10 menuliskan, bahwa sesungguhnya tidak ada tempat yang tidak bisa didatangi oleh Allah, Mazmur 139 menegaskannya. Dan Yesaya 59:1 menuliskan bahwa  tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong dan pendengaran Allah tidak kurang tajam untuk mendengar. Tuhan dapat lakukan apapun untuk menusia, tetapi sekali lagi dalam Yesaya 59:2, “yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar ialah segala dosamu.”

Solusi
Allah begitu mengasihi manusia, itulah mengapa Allah tidak serta merta membinasakan manusia berdosa melainkan IA menjadi manusia yang disebut Yesus dan membuka kebuntuan antara Allah dengan manusia. Hanya Allah (Yesus) yang tidak pernah berbuat dosa, yang memenuhi syarat untuk mendamaikan. Itu sebabnya Yesus timpakan upah dosa yaitu maut ke atas diri-Nya, agar kita diperdamaikan dengan Allah dan tidak dihukum. Salah satu buktinya adalah kisah dalam Lukas 23 dimana seorang yang penuh kejahatan dan disalib bersebelahan dengan Yesus menerima anugrah keselamatan menjelang kematiannya diatas kayu salib. Hal ini nyata dari ucapan Yesus dalam Lukas 23:43.

Setiap orang yang percaya Yesus menerima perdamaian dengan Allah, tetapi apakah cara hidup dan pemikiran kita membuktikan bahwa kita sudah diperdamaikan dengan Allah? Itulah mengapa rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Kolose, dalam Kolose 1:21 yang menjadi 3 pertanyaan:

  • Apakah jemaat Kolose benar-benar memiliki hubungan yang intim dengan Allah?
  • Dan apakah jemaat Kolose benar-benar tidak memusuhi Allah?
  • Apakah mereka hanya puas jadi Kristen, tapi sebenarnya kita belum jadi Pengikut Yesus Yang Sejati?

Ketiga pertanyaan itu juga, berlaku kepada setiap orang percaya di zaman sekarang untuk menjadi bahan evaluasi, yaitu:
1. Sejauh mana hubungan kita dengan Tuhan
Rasul Petrus menuliskan dalam suratnya di 1 Petrus 1:4 – 8, bahwa sebagai orang percaya jangan hanya puas dengan menjadi Kristen. Karena masih ada tanggung jawab kita yaitu mendekat kepada Kristus. Untuk lebih jelas dapat diperhatikan gambar berikut.

 

Saat seseorang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan, maka ia akan naik kepada iman. Dan sasaran orang percaya bukan hanya menjadi Kristen, namun sampai seperti Yesus. Antara iman kepada kasih agape masih ada jarak yang jauh. Itu sebabnya iman perlu bertumbuh ke tangga berikutnya, yang terekspresi dalam hidup orang percaya lewat kebajikan yang didasari oleh pengetahuan firman sehingga mampu melakukan karena mengerti firman. Selanjutnya naik ke tangga penguasaan diri, penguasaan diri bukan hanya saat emosi, tetapi mampu menguasai diri justru pada saat memilih atau mengambil keputusan yang sulit. Dan terus tekun di dalam melakukan firman Tuhan, sampai menjadi saleh hingga sampai kepada kasih philea dan naik sampai kasih agape.

Sudah dimanakah posisi kita sekarang? Apakah baru sampai pada iman? Yang penting percaya Yesus dan selamat tanpa memikirkan pertumbuhan iman untuk mendekat kepada Yesus sebagai mempelai pria.

2. Memusuhi Tuhan
Sebagai orang percaya, kita tidak mungkin secara demostatif menyatakan memusuhi Tuhan, seperti beberapa kelompok orang yang  secara demonstratif memusuhi Tuhan dengan cara menjadi penyembah setan. Mereka lakukan karnaval, mengenakan logo Antikristus dan menyanjung patung Iblis.

Tetapi memusuhi Tuhan adalah tidak bersama-sama dengan Tuhan. Dalam Lukas 11:23, pada saat itu Yesus bersama-sama sekelompok orang. Secara fisik mereka bersama Yesus namun hatinya tidak bersama Yesus, artinya mereka yang tidak bersama- sama dengan Tuhan karena tidak percaya. Mereka lebih percaya bahwa mujizat itu terjadi oleh kuasa kegelapan bukan kuasa Tuhan. Jadi Lukas 11:14,15, orang yang tidak bersama Tuhan adalah orang-orang yang percaya ajaran mistis ketimbang percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup melakukan mujizat. Sesungguhnya, seorang pengikut Yesus harusnya sudah lepas dari kuasa-kuasa kegelapan, karena hal itu sama dengan memusuhi Tuhan, 1 Timotius 4:1-7.

 3. Melakukan kekerasan
Kitapun tidak mungkin memusuhi Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang membakar gereja; menganiaya para pengikut Yesus.

Tetapi, tidak menutup kemungkinan, ada orang yang mengaku pengikut Kristus, tetapi kalau hati dan pikiran kita tidak sejalan dengan hati dan pikiran Yesus, kita sama dengan sedang memusuhi Tuhan. Contohnya Markus 8:31-33, Yesus memarahi Petrus sebab ia tidak sejalan dengan Yesus. Ia tidak mengetahui kehendak dan rencana Allah karena hati dan pikirannya tidak bersama-sama dengan Yesus.

Hati-Hati
Sering kali firman Allah yang kita dengar atau pesan Tuhan yang kita dengar bertentangan dengan apa yang daging kita inginkan. Kita ingin berkat; kemapanan dan yang kita senangi sehingga kita pun berpikir dan berbuat seperti Petrus yaitu menolak rencana Allah.

KESIMPULAN
Sebagai orang percaya, jangan hanya puas dengan menjadi Kristen saja. Tanpa memiliki kerinduan untuk bertumbuh menjadi sama seperti Yesus yaitu memiliki kasih Agape. Seperti rasul Paulus katakan sebagai bahan evaluasi, apakah kita sudah dekat dengan Allah? ataukah masih jauh dari Allah? Apakah mungkin kita memusuhi Yesus dengan sikap hidup dan perbuatan kita ? Dengan lebih percaya kepada hal mistis dan ajaran setan-setan. Ataukah kita memusihi dengan hidup bertentangan dari kehendak Allah.

Tuhan kiranya menolong setiap kita untuk hidup mendekat kepada Allah dan memahami kehendakNya sehingga menjadi sempurna sama seperti Yesus.

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s