PEMBUNUH RAKSASA seri 13 – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 22 September 2019)

1Samuel 17

Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu;
ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.
1Samuel 17:50

Pendahuluan
Hidup yang kita jalani tidak pernah steril dari masalah. Masalah akan selalu ada sepanjang hidup kita. Bahkan kadang-kadang ada masalah yang berat dan sukar untuk diselesaikan. Sepertinya itu mustahil dapat diatasi. Kisah pertarungan antara Daud dan Goliat memberikan contoh kepada kita cara mengatasi persoalan-persoalan hidup yang berat bahkan yang mustahil sekalipun. Sejatinya yang menjadi masalah bukan pada masalah yang terjadi, melainkan bagaimaan cara menghadapi masalah itu sendiri. Kegagalan mengetahui atau mendapatkan cara mencari solusi adalah kegagalan menyelesaikan masalah.

Daud mengerti cara menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dia tahu dengan benar bagaimana cara membunuh raksasa Goliat. Cara-cara yang dipilih Daud adalah:

  1. Pembunuh raksasa memilih mendengar suara Tuhan dari pada suara lawan.
  2. Pembunuh raksasa memilih memandang Tuhan daripada memandang lawan.
  3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
  4. Pembunuh raksasa memperkatakan kemenangan bukan kekalahan.
  5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan dari pada mencari kehormatan diri sendiri.
  6. Pembunuh raksasa memilih berharap kepada Tuhan, bukan senjata perang
  7. Pembunuh raksasa memilih keluar dari zona nyaman ke zona iman
  8. Pembunuh raksasa memilih untuk menyembah TUHAN sekalipun lawan ada di depannya
  9. Pembunuh Raksasa memilih menggunakan apa yang ia punya dan ia bisa
  10. Pembunuh Raksasa memilih melihat peluang, bukan hambatan dan kesulitan
  11. Pembunuh Raksasa memilih bertemu Allahnya sebelum bertemu musuhnya
  12. Pembunuh raksasa memilih membunuh dirinya sendiri, sebelum membunuh lawannya. (MEMBUNUH KETAKUTAN)

Sekarang marilah kita mempelajari rahasia kemenangan Daud membunuh Goliat.

13.
Pembunuh raksasa memilih membunuh dirinya sendiri,
sebelum membunuh lawannya.
(MEMBUNUH KEMUSTAHILAN )

Musuh yang terbesar dan terkuat dalam peperangan iman sesungguhnya bukan lawan yang sedang dihadapi, tetapi diri kita sendiri. Kemenangan-kemenangan dalam pepeperangan bukan ditentukan oleh besar dan kuatnya lawan, tetapi oleh kemampuan mengalahkan diri sendiri. Karena apa yang terjadi didalam diri kita lebih penting dari pada yang terjadi di luar diri kita.

Apa yang membuat Saul dan pasukan Israel tidak berani melawan Goliat? Bukan besarnya Goliat yang menakutkan, tetapi ketidakmampuan mereka mengalahkan dirinya sendiri yaitu: “KEMUSTAHILAN”

1Samuel 17:33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Ketika melihat besarnya Goliat, Saul dan bangsa Israel dikuasai ketakutan sehingga berfikir bahwa mustahil mengalahkan Goliat. Akibatnya kemustahilan itulah yang membunuh mereka.

 Menembus KEMUSTAHILAN
1. Jangan izinkan seorangpun membatasi diri kita
1Samuel 17:33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Lihatlah apa yang dikatakan Saul kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia,…” Saul memberikan batasan kepada Daud bahwa ia tidak mungkin dapat mengalahkan Goliat. Hati-hatilah dengan perkataan orang lain, sebab perkataan yang negatif akan membatasi hidup kita sehingga hidup kita menjadi kerdil, tidak bertumbuh dan tumpul. Untungnya Daud memilih mendengarkan suara Tuhan bukan suara Saul. Daud lebih yakin apa yang Tuhan katakan daripada yang diucapkan Saul. Ingatlah, hidup kita tidak ditentukan oleh apa kata orang, tetapi oleh apa yang dikatakan TUHAN, sebab itu jangan ijinkan seorangpun membatasi hidup kita dengan perkataannya yang negatif dan melemahkan. Percayalah semua yang Tuhan katakan itu yang akan jadi kenyataan.

Kita dapat melihat contoh dari kehidupan Gideon. Dalam kitab Hakim-hakim 7, Tuhan memerintahkan agar Gideon mengumpulkan bangsa Israel untuk maju berperang. Ternyata dari 32.000 orang yang siap berperang, Tuhan hanya memilih 300 orang sebagai pasukan Gideon untuk menghancurkan lawan. Rasanya memang mustahil dengan 300 orang dapat menang melawan musuh yang besar. Sekalipun sepertinya tidak mungkin, Gideon memilih mempercayai perkataan Tuhan, hanya dengan 300 orang Gideon maju menghancurkan musuh.

Belajarlah mempercayai perkataan Tuhan sekalipun di tengah kemustahilan, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang. (1Sam. 14:6)

2. Jangan batasi diri Anda dengan keadaan yang Anda alami.
1Samuel 17:33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Sekali lagi kita melihat bahwa Saul meragukan kemampuan Daud, sebab ia melihat keadaan Daud. Saul berkata: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda.” Saul berfikir mustahil Daud menang melawan Goliat karena ia masih muda. Apakah benar bahwa yang bisa menang adalah orang yang tua atau mereka yang menjadi prajurit? Tidak, nyatanya prajurit dan semua orang tua yang ada di Israel tak satupun berani menghadapi Goliat.

Jangan ijinkan keadaan membatasi dan membelenggu hidup kita, sehingga hidup kita tidak berkembang. Percayalah bahwa keadaan kita dimasa lalu atau saat ini tidak menentukan hidup kita di masa yang akan datang. Hidup ini dinamis, segala sesuatu bisa berubah. Orang yang lahir miskin, tak harus tetap miskin. Orang tua yang bodoh tidak selamanya melahirkan anak-anak yang bodoh pula. Masalahnya adalah apakah kita lebih percaya kepada keadaan atau percaya kepada TUHAN? Sekali lagi, setiap orang memiliki masa lalu, tapi masa lalu kita tidak menentukan masa depan. Faktanya banyak orang yang masa lalunya jahat, tetapi sekarang jadi dermawan, orang yang masa lalunya buruk, sekarang hartanya menumpuk. Siapa yang sangka tahun 2001 Bp. Jokowi ke AS untuk jualan mebel, tetapi tahun 2014, Beliau kembali ke AS sebagai presiden RI. Demikian juga dengan seorang wanita yang bernama Najat Belkacem. Ia lahir di Desa Nador, pedalaman Maroko pada 4 Oktober 1977. Masa kecilnya sebagai seorang gembala, tetapi tahun 2004 dan 2008 ia terpilih menjadi Menteri Pendidikan Perancis. Hidup ini tidak statis, keadaan bisa berubah jika kita gigih memperjuangan masa depan. Ingatlah, hidup kita tidak ditentukan oleh keadaan kita tetapi oleh kuasa Tuhan.

3. Jangan membandingkan diri Anda dengan orang lain.
1Samuel 17:33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Inilah yang membedakan Daud dengan Saul. Saul membandingkan dirinya dengan lawannya, itu tercermin dari caranya membandingkan Daud dengan Goliat. Akibatnya Saul selalu berada dibawah kuasa dan kekuatan lawannya. Jangan bandingkan diri Anda dengan siapapun. Saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain kita telah terjebak kepada “kutuk perbandingan” sehingga tidak dapat bertumbuh melampaui orang tersebut.

Tidak perlu cemas dengan kehebatan orang lain, sebab setiap orang diciptakan secara spesial untuk menggenapi tujuan Allah. Percayalah bahwa yang kecil tidak selalu lemah dan yang lemah tidak selalu kalah. Bersama Allah yang kecil menjadi perkasa, bersama Tuhan kita menang sekalipun sendirian.

4. Lakukan yang Anda bisa, selebihnya serahkan Tuhan (1Samuel 17 : 48 – 50)
Keajaiban tidak datang dengan membalik tangan, tidak juga terjadi tiba-tiba. Keajaiban datang melalui perjuangan dan kerja keras. Bekerja dan berusaha adalah cara terbaik menembus kemustahilan. Sebab itu lakukan saja yang Anda bisa, selebihnya serahkan kepada Tuhan.

Ulangan 29:29
Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.”

5. Melangkahlah dengan iman
Inilah yang penting yaitu melangkah dengan iman. Iman bukan impian atau angan-angan, iman butuh tindakan agar menjadi kenyataan. Keberanian untuk melangkahlah yang akan membuat kita menembus kemustahilan.

Apakah yang dimaksud melangkah dengan iman?
a. Iman bukanlah berpangku tangan menanti keajaiban, iman adalah keberanian bertindak menghadapi tantangan.

1Samuel 17:45
Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

b. Iman bukanlah berdiam diri menanti apa yang terjadi, iman adalah berani menghadapi apapun yang terjadi
1Samuel 17:48
Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;

c. Iman bukanlah berpangku tangan menanti pertolongan Tuhan, iman adalah berjuang menghadapi tantangan karena percaya akan penyertaan TUHAN

1Samuel 17:47
dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.

Penutup
Adakah diantara kita yang sedang menghadapi kemustahilan? Barangkali disembuhkan adalah sebuah kemustahilan karena dokter sudah angkat tangan. Atau mungkin ada yang merasa bahwa kehancuran keluargamu mustahil dipulihkan, karena ayah dan ibu sudah berpisah, anak-anak terikat narkoba. Yang lain mungkin berkata: usahaku mustahil diperbaiki kembali karena modal sudah habis, hutang menumpuk. Apapun yang kita anggap kemustahilan jangan biarkan ia terlalu lama membelenggu hidup kita. Percayalah kepada firmanNya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, bahkan firman Tuhan berkata tidak ada yang mustahil bagi orang percaya. Sebab itu bangkitlah dari keterpurukan dan tembuslah kemustahilan. Tuhan memberkati. KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s