MENYENANGKAN HATI TUHAN – oleh Pdt. Yaveth Montalili (Ibadah Raya 2 – Minggu, 20 Oktober 2019)

1 Korintus 10:1-5

Dalam ayat pokok yang akan dibahas bahwa rasul Paulus sedang mengingatkan orang Israel tentang peristiwa perjalanan mereka dari Mesir ke tanah perjanjian. Bahwa semua umat Tuhan mengalami banyak tantangan bersama-sama,  makanan dan pengalaman bersama. Namun ayat 5 diceritakan bahwa tidak semua umat Israel sama-sama sampai ke tanah perjanjian.

Jadi jelas ada orang-orang yang tidak berkenan, yang tidak sesuai kehendak Tuhan. Mazmur 2, ada konspirasi raja-raja untuk melawan Tuhan dan Tuhan tertawa melihat mereka.

1 Korintus 10:6, dituliskan bahwa Israel tidak menjadi contoh yang baik. Kata contoh dituliskan kata “Tupos” suatu pola. Ayat 6 ini memberi pengertian bahwa pola hidup israel jangan dicontoh.

Beberapa hal hidup yang tidak menyenangkan Tuhan:
1. Menginginkan hal yang jahat
Ayat 6, contoh ini memperingatkan supaya kita jangan menginginkan hal jahat seperti yang mereka perbuat. Bilangan 11:4-7, ini yang dikatakan menginginkan hal jahat. Bukan soal makanan dagingnya melainkan kepuasan hawa nafsu untuk makan daging.

Membandingkan kondisi mereka di perjalanan dan saat masih tinggal di Mesir, mereka membandingkan pemeliharaan Tuhan dan saat di Mesir. Bagi mereka Mesir lebih memuaskan. Jangan sampai hidup diluar Tuhan lebih puas ketimbang hidup dalam Yesus. Saat kita puas dalam Yesus, segala yang kita butuhkan akan merasa cukup.

2. Menyembah berhala, ay. 7.
Ketika Musa naik ke atas gunung, ia tak kunjung kembali, maka Israel bertindak sendiri sesuai keinginan mereka. Mereka membuat patung lembu emas untuk mereka sembah. Hal ini membangkitkan murka Allah. Jangan berikan posisi Allah direbut orang lain ataupun digantikan dengan hal lain.

3. Perzinahan, ayat 8.
 Tuhan tewaskan umat Israel karena dosa perzinahan, dosa yang dibenci oleh Tuhan. Bilangan 25:1- 4 ini adalah perzinahan fisik dan rohani. Dan orang kristen banyak yang jatuh dalam dosa perzinahan ini.

4. Tidak percaya janji Allah
Ayat 9,  menganggap salah rencana Allah, sehingga mencobai Tuhan.
Bilangan 21:5,6 – mereka mencobai Tuhan dengan mempertanyakan janji Tuhan. Ini adalah orang-orang yang mempertanyakan janji Tuhan. Yeremia 11:29 padahal rencana Tuhan adalah damai sejahtra bukan celaka.

5. Bersungut-sunggut
Ayat 10, persunggutan adalah hal yang Tuhan tidak inginkan. Tuhan mau kita mengucap syukur. Ada berkat Tuhan dalam bersyukur.

Dari kisah Isarel kita dapat belajar, hal-hal apa saja yang tidak menyenangkan hati Tuhan. Jangan sampai kita melakukannya sehingga dihadapan Tuhan kita tidak berkenan bahkan melukai hati-Nya.

Setia Sampai Akhir – oleh Pdt. Yaveth Montalili, GPdI Magelang (Ibadah Raya 1 – Minggu, 20 Oktober 2019)

2 Timotius 4:6-8

Jika diperhatikan ini adalah nasihat dan dorongan rasul Paulus kepada Timotius sebagai gembala jemaat di Efesus. Bahwa Timotius harus siap sedia setiap waktu untuk menyampaikan kebenaran firman Allah. Firman yang menasihati, menegur dan membangun sebab dalam ayat 3 dikatakan akan ada orang-orang  kristen yang akan menghadapi kerohanian yang tidak sehat. Inilah zaman akhir, sebab tujuan mereka bukan untuk menegur dosa, melainkan untuk kesenangan diri dan memuaskan telinga.

Dalam 1 Raja 22:1-18 diceritakan bahwa Israel dibawah pimpinan Ahab untuk melawan bangsa lain dan 400 nabi Baal, mereka dikumpulkan untuk meminta petunjuk. Dan ucapan Baal menyenangkan hati Ahab dan Yosafat. Maka datanglah Mikha, nabil yang dibenci Ahab dan nubuatannya berbeda denga Nabi Baal.

Inilah fenomena zaman akhir.  2 Tim 4:6 – Paulus berkata bahwa sekalipun penyesat ada,  kita harus mampu menguasai diri, sabar menderita dan tetap melakukan pemberitaan injil. Pemberitaan injil adalah tugas orang percaya.

Ayat 6-8, Paulus menyampaikan tentang doktrinnya dan kehidupannya sebagai orang percaya sekaligus sebagai rasul. Tentang hidup dalam iman:

Penderitaan, ay. 6
Penderitaan yang dialami rasul Pulus sebagai bentuk pencurahan darah yang dik1orbankan kepada Tuhan.

2 Kor 11:23-27, ucapan rasul Paulus ini adalah fakta tentang perjuangannya dalam pelayanan. Karena memberitakan injil ia ditangkap dan dimasukan ke penjara. Dan 195 kali rasul Paulus dicambuk (ayat 24). Dan selanjutnya ayat 25-27 adalah tantangan yang dihadapi Paulus, yang begitu besar. Melihat kisah rasul Paulus ini, belum tentu kita mampu melewatinya.

Bertanding dengan baik adalah bertanding dengan cara yang baik, sesuai firman Allah. Apa sebab Paulus bertahan sampai akhir:
A. Paulus membangun fanatisme yang kuat kepada yang ia percayai. Roma 1:16, injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya.

B. Pokok pikiran mengenai penderitaan bagi kristus adalah anugrah. Filipi 1:29, menderita dalam pelayanan adalah anugrah Allah.

C. Roma 8:18, Paulus melihat bahwa penderitaan yang akan dialaminya akan mendapat kemuliaan yang besar. Penderitaan di dunia bersifat sementara.  2 Kor 4:17, penderitaan yang ia alami di dunia ini tidaklah seberapa.

2 Kor 10:11, pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa. 1 Kor 9:25, ada mahkota dalam pertandingan.

Rom 8:26, Roh Kudus membantu dalam kita berdoa kepada Tuhan. Penolong yang membantu kita dalam menghadapi tantangan.

Roma 8:31, 35-37, Paulus mengetahui kalau Allah bersama dengannya. Dan kasih Tuhan memampukan dan memberikan kemenangan. Penyertaan Allah dan kasih Allah menyertai Paulus.

Penutup
Setialah sampai akhir meskipun ujian dan tantangan semakin berat. Berpegang pada iman,  penderitaan dalam Kristus adalah anugrah dan tidak melebihi kekuatan, ada Roh Kudus serta kasih Allah yang senantiasa menyertai orang yang sungguh-sungguh percaya Yesus

PEMBUNUH RAKSASA seri 14 – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 20 Oktober 2019)

1Samuel 17

Para pembunuh raksasa mengetahui rahasia untuk mencapai kemenangan. Kemenangan para pembunuh raksasa selalu dimulai dari membunuh raksasa yang ada dalam dirinya sendiri bukan yang dihadapinya. Inilah jejak kemenangan yang ditinggalkan Daud bagi kita. Kemenangan Daud mengalahkan Goliat diawali dari kemenangannya mengalahkan raksasa yanga ada dalam dirinya. Beberapa raksasa yang ditundukkan Daud adalah “ketakutan” (seri 12) dan “kemustahilan” (seri 13).

Setiap orang memiliki rasa takut, namun jangan ijinkan rasa takut membunuh keberanian kita, sehingga menyerah sebelum peperangan terjadi. Seperti para prajurit dan raja Saul, Daud juga memiliki rasa takut, tetapi Daud tidak mengijinkan rasa takut menghentikan langkahnya maju melawan Goliat. Dengan penuh keyakinan Daud menghadapi Goliat dan membunuhnya tanpa pedang di tangan.

Sekarang marilah kita lihat raksasa selanjtnya yang dibunuh Daud yaitu “TAWAR HATI”

  1. Pembunuh raksasa memilih membunuh raksasa dalam dirinya, yaitu : TAWAR HATI

1Samuel 17:10,11
Pula kata orang Filistin itu: “Aku menantang hari ini barisan Israel;
berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.”

Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.

Empat puluh hari empat puluh malam teriakan tantangan diperdengarkan Goliat kepada barisan perang Israel. Akibatnya mereka tawar hati dan sangat ketakutan. Tak seorangpun berani maju menghadapi tantangan Goliat, sampai muncul seorang anak muda, penggembala domba ayahnya yaitu Daud.

Jika kita memperhatikan bahasa Ibrani, kata cemas ditulis dengan kata Khatat. Kata ini memiliki beberapa arti, yaitu:
1. Hilang keberanian.
Orang yang tawar hatinya akan kehilangan keberanian untuk menghadapi apapun yang ada di depannya. Peperangan belum dimulai, genderang perang belum juga dibunyikan, tetapi Saul beserta seluruh pasukan perang Israel tak ada yang berani melawan Goliat. Inilah yang disebut tawar hati. Jangan beri tempat tawar hati dalam hidup kita, sebab ia akan membunuh semua keberanian yang kita miliki. Penulis amsal dalam Amsal 24 : 10 dengan cermat mengatakan: Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.

Contoh lain dapat kita lihat dalam kitab Ulangan, orang-orang yang tawar hati tidak berani memasuki tanah perjanjian.

Ulangan 1:28
Ke manakah pula kita maju? Saudara-saudara kita telah membuat hati kita tawar dengan mengatakan: Orang-orang itu lebih besar dan lebih tinggi dari pada kita, kota-kota di sana besar dan kubu-kubunya sampai ke langit, lagipula kami melihat orang-orang Enak di sana.

2. Tidak bersemangat / tidak antusias
Orang yang tawar hati tidak memiliki semangat atau gairah apapun yang ditawarkan kepadanya. Kesenangan atau hadiah yang besar tidak ada artinya apa-apa bagi orang yang tawar hati.

3. Putus harapan
Arti yang ketiga dari kata Khatat adalah putus harapan. Orang yang tawar hati tidak lagi memiliki harapan akan kemenangan ataupun masa depan. Bagi orang yang tawar hati semuanya suram dan tidak menjanjikan. Hal ini nampak jelas dalam diri bangsa Yehuda yang sedang membangun tembok Yerusalem dibawah pengawasan Nehemia.

Nehemia 4:10  Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.” Lihatlah keputusasaan yang menyergap bangsa Israel, secara bersama mereka berkata: tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.

PENYEBAB TAWAR HATI
1. Intimidasi bertubi-tubi
1Samuel 17:16
Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari lamanya.

Hati-hatilah dengan sesuatu yang berulang, karena persitiwa yang terulang dapat memberi dampak makin dalam atau makin berat. Hal ini seperti paku yang dipukul dengan palu. Sekalipun pukulan itu tidak keras namun berulang-ulang, paku menancap makin dalam. Itulah kuasa intimidasi yang bertubi-tubi. Ia membunuh kekuatan dan keberanian lawan secara pelan-pelan.

2. Fokus kepada lawan, kesulitan dan tantangan
1Samuel 17:14
Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka dari padanya dengan sangat ketakutan.

Tawar hati terjadi jika hati dan pikiran kita terfokus kepada masalah yang dihadapi. Ketahuilah sesuatu yang kita perhatikan akan nampak semakin besar. Bangsa Israel fokus perhatiannya hanya kepada Goliat sehingga dalam pandangannya Goliat nampak semakin besar dan kuat. Akibatnya mereka semua tawar hati.

MENGALAHKAN TAWAR HATI
A. Berilah makan kepada iman Anda, bukan kepada persoalan Anda.
Menang atau kalah dalam hidup tergantung siapa yang kita beri makan, iman atau masalah? Yang kita besarkan itu yang akan keluar menjadi pemenang. Oleh sebab itu besarkan iman kita bukan masalah kita. Berilah makan kepada iman kita agar kita memiliki keberanian menghadapi tantangan dan kesulitan.

B. Arahkan pandangan Anda kepada hadiah kekal, 1Samuel 17:25-26.
Saul menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang berhasil mengalahkan Goliat. Tidak tanggung-tanggung hadiahnya, dijadikan menantu raja dan diberikan kekayaan yang banyak. Bagi Daud bukan itu yang menarik, baginya membela kehormatan raja diatas segala raja lebih utama. Daud tidak rela nama dan kehormatan Tuhan dihina dan direndahkan oleh Goliat. Itulah sebabnya ia tidak takut menghadapi Goliat walau mati sekalipun demi hadiah kekal yang akan diterimanya.

Demikian halnya dengan rasul Paulus, sekalipun mengalami berbagai kesulitan namun ia tidak pernah tawar hati karena pandangannya ditujukan kepada kekekalan bukan kepada yang sementara (2 Kor 4:16-18).

C. Arahkan pandangan Anda kepada TUHAN yang memberi kemenangan
1Samuel 17:47
dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

Daud mengarahkan pandangannya kepada Tuhan yang memberi kemenangan. Dengan yakin ia berkata : “Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

Apakah yang sedang Anda alami saat ini? Seberat dan sebesar apapun beban yang menindih jangan tawar hati. Arahkan pandangan kepada Tuhan Yesus yang memberi kemenangan.

Ibrani 12:3
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
Perjamuan suci merupakan sarana untuk mengingat Tuhan.

Lihatlah di Golgota, di sana Tuhan Yesus mati untuk menebus dosa kita. Tahukah Anda saat berjalan dari Getsemani menuju Golgota berulang kali Tuhan Yesus jatuh dengan salib dipundakNya. Lihatlah, sekalipun dengan langkah yang tertatih-tatih, penuh kelemahan dan kesakitan, Tuhan Yesus tidak menyerah untuk kita. Dia terus memikul salib hingga ke Golgota agar keselamatan menjadi miliki kita. Sekali lagi, Tuhan tidak menyerah untuk kita, apakah kita ingin menyerah karena beban yang kita alami? Jangan menyerah, jangan tawar hati, teruslah melangkah, lihatlah Tuhan yang penuh cinta rela menderita bagi kita. Tuhan memberkati. KJP!

KRISTEN POHON ZAITUN – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 3 – Minggu, 13 Oktober 2019)

Mazmur 52:1-11
“Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya.”  Mazmur 52:10

PENDAHULUAN
Mazmur ini ditulis saat Daud dikejar Saul dan Daud ada di rumah Tuhan saat imam Ahimelekh melayani dirumah Tuhan, 1Sam. 22:9-10. Daud sedang dalam keadaan yang sangat genting karena tindakan Doeg berpotensi untuk menghancurkan masa depan serta membahayakan keselamatan jiwa Daud, namun Daud tetap berkomitmen dan tidak mengeluh.

  • Ayat 3-6: kita melihat Doeg yang bangga dengan kejahatannya terhadap orang yang dikasihi Allah. Jangan pernah lemah dan kecewa jika kita diperhadapkan kondisi seperti Daud dan menemukan tantangan yang digambarkan seperti Doeg yang menipu, berdusta dan melakukan kejahatan. Perlu kita ketahui dan yakini seperti Daud bahwa mereka akan dirobohkan oleh Allah.
  • Ayat 7-9: Daud punya keyakinan bahwa tindakan Doeg itu akan mendatangkan cemoohan serta kehancuran bagi diri Doeg sendiri.

Apa yang Daud lakukan?

  • Dalam kondisi seperti ini Daud berkomiten dalam dirinya sebagai “Pohon Zaitun” yang menghijau (ayat 10). Ia yakin tidak ada kekuatan apa pun yang akan mengubah rencana Allah bagi dirinya dan menggagalkan rencana Tuhan dalam hidupnya. Daud siap berjuang dan bekerja keras untuk tetap kuat dalam proses rencana Allah bagi dirinya.
  • Dalam kondisi seperti ini Daud berkomitmen dalam dirinya untuk selalu “Bersyukur” kepada Tuhan karena Tuhan yang bekerja di dalam pergumulannya. Keyakinan yang luar biasa inilah yang mendorong Daud untuk bersyukur dan bersaksi akan kesetiaan dan kemuliaan Tuhan senantiasa tanpa tergantung pada situasi maupun keadaan (perhatikan  ayat 11).

POHON ZAITUN
Daud berkomitmen bahwa ia akan tetap seperti  pohon zaitun. Pohon zaitun adalah pohon yang memerlukan waktu yang lama untuk bertumbuh dan membutuhkan proses yang begitu lama untuk dapat dikagumi, dapat kuat, berbuah.

Pohon ini melambangkan keindahan, kekuatan, kedamaian, kelimpahan, bahkan berkat ilahi. Jika kita lihat kerohanian Daud yang dewasa dan kepribadiannya yang matang maka Daud tidak lepas dari namanya ‘proses’ yang  Daud hadapi dalam kehidupannya.

Kehidupan orang percaya seringkali Alkitab ibaratkan seperti pohon atau tanaman yang harus mengalami pertumbuhan fase demi fase:  mulai dari bertunas, berakar, bertumbuh dan kemudian berbuah. Inilah kehidupan Kristen yang normal yaitu kehidupan yang terus bertumbuh secara rohani.

Efesus 4:13 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

Artinya hidup Kristen adalah hidup yang terus berproses, dinamis, bergerak maju, aktif dan tidak statis. Namun banyak orang yang sudah mengikut Tuhan atau menjadi Kristen selama bertahun-tahun kehidupan rohaninya tidak mengalami perubahan yang berarti, tidak ada kemajuan, seperti berjalan di tempat.  Jika demikian berarti kekristenan mereka sudah mati, walau secara kasat mata masih tampak melakukan aktivitas kerohanian yang mungkin tak lebih dari sekedar rutinitas. Kehidupan rohani orang percaya seharusnya seperti pohon zaitun.

TENTANG POHON ZAITUN
1. Akar pohon zaitun pun sangat kuat sehingga tidak mudah dicabut atau dipindahkan ke tempat lain, itulah sebabnya ia dapat hidup dalam waktu yang sangat lama.
Akar pohon zaitun ke dalam dan mencari sumber air, dapat menembus tanah hingga 6 meter dan menjalar ke kanan dan kiri. Nah, inilah rahasia ketangguhan pohon zaitun bisa berumur panjang, kuat, dan tetap menghasilkan buah.

Maksud dari akar yang dalam mencari sumber air artinya kerinduan yang terus ada untuk selalu terhubung dengan Tuhan dan inilah yang menjadi kristen pohon zaitu yaitu kristen yang terus terhubung dengan Tuhan.

Yeremia 17:8 “…Ia akan seperti pohon yang ditanam ditepi air yang merambatkan akar-akarnya ketepi batang air,…”

Menjadi pertanyaan buat kita, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan hari-hari ini? Apakah kita justru lemah dan semakin menjauh? Ketika kita terhubung dengan Tuhan akan ada ketenangan ditengah goncangan, akan ada kekuatan disaat alami kelemahan, akan ada kesegaran disaat kita mulai tidak bergairah melakukan segala sesuatu, ada harapan ditengah keputusasaan (Mazmur 62:9).

Apa ciri-ciri orang yang dekat atau terhubung dengan Tuhan?

  • Percaya kepada Tuhan setiap waktu.
    Dalam kondisi dan keadaan apapun yang dialami oleh pengikut Kristus jika ia terhubung dengan Tuhan maka ia akan terus percaya, Mazmur 52:10b.
  • Mencurahkan isi hatinya hanya kepada Tuhan.
    Kebiasaan manusia bila menghadapi masalah adalah menceritakannya kepada orang yang dekat dengan kita. Tapi disini kita bisa melihat yang Tuhan kehendaki ialah kita terbuka pada Tuhan. Bukan hanya dalam hal masalah saja kita harus jujur kepada Tuhan tapi dalam hal berkat, kita juga harus terbuka padaNya. Jika kita dekat dengan Tuhan kita tidak akan menyembunyikan sesuatu dari Tuhan. Apabila kita jujur di hadapan Tuhan maka semua akan Tuhan proteksi.
  • Tidak akan pernah ragu dengan Tuhannya (Yakobus 1:6-8).
    Sekalipun ada banyak penderitaan yang dialami, dia akan tetap menaruh kepercayaannya hanya pada Tuhan saja. Kita harus bangkit, jangan hanyut dengan masalah, jangan tertekan karena kesulitan. Dunia boleh bergoncang, badai boleh datang tapi kita sebagai anak Tuhan jangan mau dibawa oleh gelombang. Selama Tuhan di sisi kita, tidak ada yang bisa menyentuh kita. Amin.

2. Jenis pohon yang dapat bertahan hidup ribuan tahun lamanya.  Ini berbicara tentang kesetiaan kita mengiring Tuhan.
Wahyu 2:10b- “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Semakin kita setia kepada Tuhan, semakin kita melekat kepada-Nya, semakin kita beroleh kekuatan untuk menghadapi angin, badai dan gelombang kehidupan.

Badai apa yang sedang saudara hadapi, gelombang besar yang datang tidak akan membuat kita lemah dan mundur tetapi kita akan tetap berdiri kokoh dan terus jadi berkat . Tekanan dan ancaman yang dialami oleh Daud mungkin juga sudah atau suatu saat akan kita alami tapi bukankah kita adalah orang-orang yang dikasihi Allah? Karena Ia sudah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk kita.

Tak ada satu kekuatan pun yang dapat menghancurkan kita atau rencana Allah bagi hidup kita, maka bersiaplah senantiasa dan tetap kuat dan setia karena Tuhan akan menggenapi rencana-Nya dalam kehidupan kita. Maka dari itu kita harus seperti pohon zaitun yang tertanam di rumah Tuhan, yang sekali tertanam akan tetap tertanam sampai selama-lamanya artinya belajarlah untuk tetap setia.

3. Pohon zaitun adalah pohon yang menghasilkan minyak.
Minyak zaitun pada masa itu sering dipakai untuk mengurapi raja, disamping untuk keperluan hidup sehari-hari, dimana semua orang membutuhkannya.

Hidup Kristen adalah hidup yang harus menghasilkan buah baik yang dapat dinikmati banyak orang, menjadi berkat bagi orang lain. Orang dapat mengenal kita dari buah yang kita hasilkan  Matius 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

Matius 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
Setiap pohon yang tidak berbuah akan dipotong dan pohon yang  berbuah baik pasti memberi diri untuk terus dibersihkan supaya banyak berbuah.

Yohanes 15:2 Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

 Ilustrasi tentang hidup yang menjadi berkat “EMAS DAN TANAH”
Emas berkata kepada Tanah.
“Coba lihat pada dirimu.. suram.. dan lemah.. Apakah engkau memiliki cahaya mengkilat seperti aku..?? Apakah engkau berharga seperti aku.. ??”

Tanah menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku bisa menumbuhkan bunga dan buah, bisa menumbuhkan rumput dan pohon. Bisa menumbuhkan tanaman dan banyak yang lain, apakah kamu bisa.. ??”

Emas pun terdiam seribu bahasa..!!

Dalam hidup ini banyak orang yang seperti emas yang berharga, menyilaukan tetapi  tidak bermanfaat bagi sesama. Sukses dalam karir, rupawan dalam paras, tapi sukar membantu apalagi peduli.

Tapi ada juga yang seperti tanah. Posisinya biasa saja, bersahaja namun ringan tangan siap membantu kapanpun. Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar bermanfaatnya kita bagi orang lain. Jika keberadaan kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang, barulah kita benar-benar bernilai.

Apalah gunanya kesuksesan bila itu tidak membawa manfaat bagi kita, keluarga dan orang lain.
Apalah arti kemakmuran bila tidak berbagi pada yang membutuhkan.
Apalah arti kepintaran bila tidak memberi inspirasi di sekeliling kita.
Karena hidup ini adalah proses, ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima.
Apakah kita seperti ‘Tanah’ atau ‘Emas’ ?

Galatia 6.10  “Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita,marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Galatia 6: 2 “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Kesimpulan
Jadilah Kristen pohon zaitun yang terus terhubung dengan Tuhan, bertahan dalam kesetiaan, selalu menjadi berkat. Tuhan Yesus memberkati

BERKAT DARI SUMBER HIKMAT seri 4 : PEMULIHAN ROHANI dan JASMANI  (Ibadah Raya 2 – Minggu, 13 Oktober 2019 oleh Pdt. Gideon Santoso)

AMSAL 3:7-8

Pendahuluan
Keseluruhan Amsal pasal 3-9 Merupakan nasihat firman, dimana Allah mengambil peran seperti seorang Bapa yang menasihati anak-anak-Nya. Tiga nasihat sudah kita pelajari dari pasal 3 dan kita masuk pada nasihat yang ke empat.

Amsal 3:7-8  “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan. Itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.”

Dari nasihat ayat tersebut, ada tiga hal yang dapat kita pelajari:
1. “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak….”
Menganggap itu artinya menilai diri sendiri bijak atau merasa dirinya bijak. Mengapa Tuhan melarang kita untuk merasa diri bijak ? Orang yang merasa atau menilai dirinya bijak biasanya mudah merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih tahu, lebih pintar dari yang lain. Orang model seperti ini akan bertentangan dengan nasihat Tuhan.
Amsal 3:7b “…Takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan.”

Contoh : 2 Samuel 6:1-8 tentang Daud. 

  • Ayat 1-2 : Daud mempunyai maksud baik dan mulia, memindahkan Tabut Allah (media hadirat Allah) dari Kiryat Yearim ke Yerusalem. Kali ini Daud tidak bertanya kepada Allah soal bagaimana cara yang benar memindahkan Tabut Allah itu.
  • Ayat 3-5: Dengan memakai pemikirannya sendiri, ia memindahkan Tabut Allah dengan tidak sesuai aturan Tuhan. Tabut Allah harusnya dipikul oleh para imam sesuai aturan Tuhan karena tidak boleh sembarangan orang yang boleh menyentuh dan memindahkannya.
  • Ayat 6-7 : Murka Allah bangkit dengan membunuh Uza ketika menyentuh Tabut Allah, meskipun maksudnya baik mau menyelamatkan Tabut Allah yang oleng hampir jatuh. Ada korban kematian karena Daud yang merasa dirinya bijak dengan menggunakan caranya sendiri, tetapi mengabaikan aturan Tuhan.
  • Ayat 8 : Daud marah atas kebodohannya, yang membuat Uza menjadi korban dan Daud menjadi takut akan Tuhan (Ay. 9.) Daud melakukan pemindahan Tabut Allah kedua kalinya sesuai dengan aturan Tuhan yaitu dengan dipikul oleh para imam.
  • Ayat 12-15: Hasilnya Tuhan berkenan atas apa yang Daud lakukan, karena Daud tidak lagi memakai caranya sendiri tetapi memakai aturan Tuhan.

Pelajaran buat kita adalah jangan memakai cara kita dalam kita mengangkat hadirat Tuhan, tapi pakailah ketetapan firman Tuhan. Ada banyak maksud baik dengan tujuan yang juga baik, tetapi Tuhan justru sebaliknya tidak berkenan karena kita sering memakai cara dan kebijakan kita sendiri dan mengabaikan apa yang Tuhan kehendaki sesuai dengan aturan firman-Nya.

Ada banyak gereja Tuhan yang terjebak dalam hal seperti ini. Untuk mengangkat hadirat Tuhan dalam ibadah memakai berbagai cara tampilan dan suasana yang hingar bingar, lagu-lagu baru yang semangat dan dimodifikasi seruan-seruan semangat. Sebenarnya tidaklah salah, pertanyaannya adalah “Apakah Tuhan benar-benar berhadirat diatas puji-pujian yang demikian dan berkenan?” Bagaimana kondisi hati dan rohani pembawa pujiannya, pemain musiknya hampir tidak pernah menjadi perhatian, yang penting tampilan luar. Kalau sudah seperti ini, hadirat Tuhan bukannya membawa berkat, tetapi malah hukuman.

Contoh lain 1 Samuel 15:1-23 tentang Raja Saul.

  • Ayat 1-3
    Raja Saul mendapat perintah dari Tuhan untuk menumpas bangsa yang jahat yaitu Amalek. Tuhan perintahkan tumpas habis tanpa sisa termasuk binatang ternak yang ada di sana.
  • Ayat 4-9
    Saul melaksanakan perintah Tuhan memerangi bangsa Amalek, tetapi tidak menumpas semuanya. Rajanya Agag dan kambing domba lembu yang gemuk tidak ditumpas, hanya yang kurus yang ditumpas.  Apa alasan Saul ketika ditanya oleh nabi Samuel ?
    1 Samuel 5:15 “Jawab Saul: Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan Allahmu, tetapi selebihnya telah kami tumpas.” Alasan Saul terlihat baik dan rohani, untuk dipersembahkan kepada Tuhan, hal itu diucapkan Saul sampai dua kali.
  • Ayat 15,21
    Tuhan marah dan kecewa kepada Saul, Tuhan ungkapkan kekecewaan-Nya kepada nabi Samuel.
    1 Samuel 5:10-11 “Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian. Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku, maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.”
    1 Samuel 5:22 “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.”

Dua kesalahan Saul dalam hal ini :
1).  Saul ingin dianggap bijak oleh rakyatnya sehingga ia membiarkan mereka untuk tidak membunuh Raja Agag dan menyisakan lembu kambing domba yang gemuk-gemuk, padahal perintah Tuhan sangat jelas tumpas semuanya tanpa sisa.
2).  Saul ingin dihargai dan dihormati rakyatnya dari pada menghormati dan mentaati perintah Tuhan.

Pelajaran buat kita :
Jangan mencari hormat dan pujian manusia dengan mengesampingkan rasa hormat dan ketaatan kepada perintah Tuhan. Tuhan sangat kecewa dengan Saul meski Tuhan sendiri yang memilihnya menjadi Raja pertama di Israel. Sehebat apapun prestasi kita, sebaik apapun yang yang kita kerjakan kepada Tuhan, semua tidak ada artinya bahkan mengecewakan Tuhan, kalau semuanya dilakukan dengan kebenaran diri sendiri, caranya sendiri dan mengesampingkan rasa hormat dan tunduk untuk dengar-dengaran kepada Tuhan.

2. “Takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan.”
Takut disini adalah menaruh hormat dan mentaati perintah Tuhan dengan tunduk dan patuh. Menjauhi kejahatan adalah tindakan untuk tidak mengecewakan Tuhan. Dan hanya orang yang benar-benar takut akan Tuhanlah yang pasti menjauhi kejahatan.

3. “..Itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.”
Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, hal ini sama manfaatnya seperti makanan bagi tubuh jasmani kita, membuat sehat jiwa dan kerohanian kita. Orang yang merasa bijak dan tidak takut akan Tuhan itu, seperti dosa yang membawa penyakit pada tubuh dan tulang kita.

Mazmur 38:4 “Tidak ada yang sehat pada dagingku oleh karena amarah-Mu, tidak ada yang selamat pada tulang-tulangku oleh karena dosaku.”

Tuhan akan pulihkan kondisi rohani dan jasmani kita dengan menjaga diri senantiasa tunduk dan taat kepada firman-Nya dan menjauhkan diri dari kejahatan apapun.

Dosa pertama terjadi di sorga oleh malaikat Lusiel karena hilangnya rasa hormat dan tunduk kepada Allah. Ia merasa dirinya hebat, merasa dirinya layak untuk sejajar dengan Allah. Allah lempar ia ke bumi dan namanya diganti dengan Lucifer.

Efesus 5:21 “ …Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.”

Kondisi kerohanian kita akan berpengaruh pada jiwa dan tubuh kita, sedangkan kondisi kerohanian kita dipengaruhi pada seberapa taat dan tunduknya kita kepada firman Tuhan. Tuhan ingin kondisi roh, jiwa dan tubuh kita dipulihkan sehingga terpelihara sempurna dengan tidak bercacat, sampai kepada kedatangan Tuhan (1 Tes. 5:23).

Dosa level tubuh : perzinahan, percabulan dan semua dosa yang dilakukan dengan alat anggota tubuh kita. Dosa level jiwa : semua firman Tuhan yang kita ketahui tetapi tidak dilakukan, tahu dan mengerti tetapi tidak dilakukan, ini sama dengan sakit jiwa, karena semua kehendak dan keinginannya tidak tunduk kepada firman tetapi kepada hawa napsunya sendiri. Sedang dosa level roh :  hal-hal yang tersembunyi, seperti iri hati, kebencian, penyembahan berhala. Semuanya ini harus kita jauhkan, mohon Roh Kudus memulihkan semuanya dan hidup dalam kerendahan hati, ketaatan kepada Kristus.

Bagaimana caranya untuk kita dapat senantiasa belajar untuk merendahkan diri ?  Perhatikan nasihat Rasul Paulus.

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

 Ketika kita menaklukan pikiran dan perasaan kita kepada pikiran dan perasaan Yesus, maka Roh Kudus akan memampukan kita hidup dalam kerendahan hati.

Filipi 2:6-7 “…. Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” 

Kata mengosongkan diri itu artinya Tuhan rela kehilangan hak-Nya dan menjadi hamba.

Filipi 2:8 “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Kerendahan hati karena taat dan tunduk kepada perintah Tuhan adalah kerelaan untuk menderita bagi keselamatan oran lain.  Mari kita adakan pemulihan kondisi rohani kita yang akan berpengaruh pada jasmani kita, sehingga senantiasa berkenan kepada Tuhan.

KEHIDUPAN ADALAH PROSES – oleh Pdm. Melky Mokodongan (Ibadah Raya 1 – Minggu, 13 Oktober 2019)

Yeremia 18:1-6

Ayat 6
“Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat, di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!”

PENDAHULUAN
Segala sesuatu yang ada kepada kita, baik yang dipakai/gunakan entakah rumah, kendaraan, pakaian bahkan uang yang kita miliki, semua itu ada karena proses. Demikian juga dengan kehidupan kita sendiri, hidup kita ini juga adalah sebuah proses, baik secara jasmani terlebih secara rohani.

Hidup sukses atau tidaknya kita secara jasmani, tergantung dari proses yang mau kita jalani, seperti halnya bejana yang indah, itu terjadi tidak kebetulan tetapi karena ada proses pembentukan. Kalau mau sukses secara materi maka kita harus kerja keras, berusaha dengan tekun, tidak cepat putus asa untuk mencapainya, karena itu yang namanya proses. Begitu juga secara rohani, menjadi lebih baik dan kuatnya kehidupan kekristenan kita kembali kepada proses. Dan proses kehidupan kita ada di tangan Tuhan. Memang tidak mudah seperti yang dibayangkan. Tapi itulah PROSES yang harus kita jalani.

TUJUAN DARI PROSES
1. Baik di pemandangan Allah, Yeremia 18:4
Dalam pasal ini, Allah mengutus Yeremia pergi ke tukang periuk dan memperhatikan bagaimana tukang periuk bekerja membuat bejana, ayat 1-3. Di ayat 4 Yeremia memperhatikan prosesnya, yaitu ketika bejana itu dibuat lalu rusak maka tukang periuk itu membentuknya lagi menjadi bejana yang lain dan baik sesuai pemandangan tukang periuk.

Demikian juga kepada umat-Nya,di ayat 5-6 Firman Allah datang kembali kepada Yeremia, bahwa bukankah Allah akan membuat hal yang sama kepada umat-Nya Israel/ orang-orang Yehuda.

Contoh :
Yunus  yang diproses Tuhan, dia harus dibuang ke laut karena tidak sesuai di pemandangan Tuhan, artinya tidak mau mengikuti kehendak/perintah Allah. Proses dibuangnya dia ke laut membuat dia sadar akan Tuhan sehingga berdoa kepada Tuhan.

Yunus 2:7; Jiwaku letih lesu di dalamaku, teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku kepada-Mu, kedalam bait-Mu yang kudus.

Jadi Allah akan memproses sesuai kehendak Allah yaitu agar umat Allah itu terlihat baik dan indah di pemandangan-Nya. Demikan juga kepada kita umat pilihan-Nya, kita harus percaya bahwa ketika kita ada dalam proses Tuhan, itu agar kita menjadi lebih baik, sempurna dan berkenan kepada-Nya.

2. Beruntung, Yeremia 18:10
Tujuan dari proses yang kedua adalah agar kita memiliki hidup yang beruntung yang telah dijanjikan Allah. Di ayat 10 ini dikatakan apabila mereka melakukan yang jahat dan tidak mendengar suara Tuhan, maka Allah menyesal sudah merancang keberuntungan yang telah dijanjikan. Artinya proses Allah dalam hidup kita adalah kehidupan yang beruntung bukan sebaliknya.

Segala rancangan/proses Tuhan atas hidup kita adalah hidup yang penuh dengan damai sejahtera, pengharapan bukan kecelakaan, Yeremia 29:11.Tetapi bagaimana proses memiliki kehidupan yang beruntung?

Proses memiliki kehidupan beruntung?

  • Ulangan 30:15 – Kembali kepada pilihan dan keputusan. Kalau kita memilih dan memutuskan untuk mengasihi Tuhan serta melakukan apa yang Tuhan kehendaki maka itulah kehidupan yang beruntung.
  • Yosua 1:7 – Tidak menyimpang dari perintah Allah. Jangan pernah menyimpang ketika proses itu datang kepada kita.
  • Yosua 1:8 – Merenungkan Firman Allah serta melakukan (bandingkan Mazmur 1:1-3)

BAGAIMANA CARA TUHAN MEMPROSES KITA?

  • Situasi sulit/sukar (1 Raja-raja 17:7-24, Rut 1:1-22)
    Kelaparan adalah keadaan atau situasi yang sukar/sulit dialami oleh seorang janda dan anaknya, serta keluarga Elimelekh, Naomi dan kedua anaknya. Dan keadaan ini adalah sebuah proses yang harus dialami mereka. Namun yang menjadi perbedaan mereka, seorang janda tetap bertahan di Sarfat wilayah Sidon, tetapi keluarga Elimelek meninggalkan Betlehem dan pergi ke Moab. Demikian juga dengan kita, kadang tanpa kita duga atau pikirkan keadaan atau situasi yang sulit dan sukar menimpa kita. Mungkin itu bukan karena kesalahan kita, tetapi karena orang lain sehingga kita harus mengalaminya. Jangan pernah menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan Tuhan dan meninggalkan Tuhan, sebab kita harus tahu bahwa semua itu merupakan proses agar iman kita menjadi lebih kuat dan berdaya tahan, Yakobus 1:2-4.
  • Melalui teguran/ganjaran ( Ibrani 12:6,10; Wahyu 3:19)
    Teguran/ganjaran adalah situasi yang sulit/sukar memukul kita merupakan sebuah proses untuk kita alami mungkin itu kesalahan kita, tetapi tujuannya adalah untuk mendidik kita, karena kita ini diakui sebagai anak-anak-Nya yang dikasihi. Tapi jangan kita menolak dan memberontak karena proses itu adalah untuk kebaikan kita dan juga karena Allah menunjukan perhatian dan kasih-Nya serta mengakui kita sebagai anak. Dikatakan karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,  dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
  • Kegagalan (Yeremia 18:4)
    Bejana yang rusak merupakan produk yang tidak laku atau gagal. Mungkin kita berpikir bahwa hidup kita telah gagal dan berakhir. Namun kalau kita perhatikan bahwa di tangan sang penjunan bejana itu dibentuk kembali menjadi bejana yang lain.
    Contoh:
    Yusuf yang mengalami proses dibenci, dimasukkan ke sumur, dijual oleh saudara-saudaranya, bahkan difitnah, dimasukkan ke penjara bahkan dilupakan. Semua ini adalah proses yang harus dijalani oleh Yusuf. Sepertinya gagal sudah semua yang Tuhan janjikan kepadanya. Tetapi ternyata dibalik proses yang dia harus jalani, dia tidak mengeluh atau bersungut-sungut, tidak menyalahkanTuhan, bahkan saudara-saudaranya tetap dikasihinya. Luar biasa apa yang dialami oleh Yusuf (Kejadian 37-45).
    Jangan pernah putus asa/menyerah karena proses yang sedang kita alami bukan kegagalan yang sebenarnya, tetapi Allah sedang menyediakan hidup yang terbaik bagi kita.
  • Diproses di tangan Tuhan,Yeremia 18:6
    Ketika kita diproses maka jangan pernah takut karena proses itu ada di tangan Tuhan dan kalau proses itu ada di tangan Tuhan maka itu tidak akan pernah salah apalagi gagal. Tangan Tuhan berbeda dengan tangan kita. Tangan kita tidak punya jaminan untuk tidak gagal, tetapi tangan Allah adalah jaminan yang sempurna bagi kita.

BAGAIMANA SIKAP KITA MENGHADAPI PROSES?

  • Menyerahkepadatangan Allah. Mengapa? Karena tangan Tuhan tidak terbatas untuk membentuk kita, tidak kurang panjang untuk menolong kita, tidak kurang kuat untuk mengangkat kita bahkan tidak kurang berkat untuk memberkati
  • Mengikuti cara dan waktu Allah. Mengapa? Karena cara dan waktu Allah tidak akan salah, Allah punya cara dan waktu yang tepat bagi kita.
  • Percaya saja pada tindakan Allah. Apa alasannya? Tindakan Allah tidak akan pernah keliru.

Jika TUHAN memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa proses, hal ini akan membuat kita lemah. Kita tidak akan menjadi kuat seperti yang kita harapkan.

Jika kita meminta kekuatan dan TUHAN izinkan kita hadapi kesulitan, itu bertujuan agar kita menjadi kuat.

Jika kita meminta kebijaksanaan dan TUHAN mengizinkan kita dalam masalah, tujuannya agar kita dapat memecahkan masalah tersebut.

Jika kita meminta cinta dan TUHAN memberikan orang-orang yang dalam kesulitan untuk kita bantu. Ini semua adalah proses kehidupan yang harus kita jalani.

 Penutup
Kalau kehidupan ini adalah sebuah proses, maka terimalah, jalani prosesnya dan nikmati semua proses yang menjadi bagian kehidupan kita. Jangan takut, ingatlah Allah turut bekerja bersama kita,Roma 8:28.

MENDERITA KARENA KRISTUS – oleh Pdt. J.S. Minandar ( Ibadah Raya – Minggu, 6 Oktober 2019)

Kolose 1:24-29

Minggu lalu kita fokus pada ayat 24, bahwa ayat tersebut bukan berbicara tentang penderitaan Kristus yang tidak lengkap sehingga rasul Paulus harus menderita lagi agar genap. Sebab ada sebuah pernyataan bahwa penderitaan Yesus belum lengkap di atas kayu salib. Kolose 1:24 memberi ajaran bahwa penderitaan membawa kepada pertumbuhan menuju kedewasaan. Jadi setiap kita setelah diselamatkan, jangan hidup hanya untuk kesenangan diri kita, melainkan hidup juga juga bagi orang lain, sama seperti Kristus yang menderita bagi kita.

Rasul Paulus rindu jemaat bertumbuh sebab ada 3 tingkat penderitaan Kristen:
1. Menderita karena dosa (kejahatan)
Menderita bukan karena hidup bagi Yesus melainkan karena berbuat dosa. Sebab siapa menabur angin akan menuai badai. Dan orang Kristen yang memiliki cara hidup demikian adalah kristen KTP. Hidup yang belum sungguh-sungguh dalam pengiringannya kepada Tuhan. Ada banyak orang Kristen yang seperti ini, bahwa melanggar UUD pemerintah juga melawan tuan dalam pekerjaan sehingga dipenjara dan ada yang dihukum mati. Bahkan orang Kristen KTP yang tidak bertobat, akan menerima ganjarannya dalam api neraka. Dalam 1 Petrus 3:17; 4:5 – jika ada jemaat yang masih Kristen KTP, maka gembala wajib menegurnya. Dan bila tidak bertobat, maka ia dianggap sama dengan orang yang tidak mengenal Yesus.

2. Menderita supaya taat
Sedang orang kristen yang sudah lahir baru, dibaptis dan percaya sungguh-sungguh kepada Yesus, namun tidak alami pertumbuhan akan terus dididik oleh Tuhan. Ia mengalami penderitaan atau ajaran Tuhan karena hidup kekristenan yang demikian harus disiplin sehingga menjadi anak yang taat. Yesus tidak membenci orang kristen yang demikian,  melainkan karena Tuhan mengasihi dia.

Contoh: Jemaat Laodikia (Wahyu 3:17) – kondisi rohani jemaat Laodikia dalam pandangan Tuhan adalah melarat, malang, miskin, buta dan telanjang. Telanjang yang dimaksudkan adalah seperti kondisi Adam dan Hawa saat ada dalam dosa, maka penderitaan diberikan untuk mendidik mereka. Wahyu 3:9, Tuhan meminta kerelaan hati jemaat Laodikia untuk dihajar dengan mengijinkan Yesus menegur mereka sampai sadar.

1 Korintus 11:32 – tujuan Tuhan mendidik umat-Nya, agar kita tidak dihukum bersama-sama dengan orang yang tidak mengenal Tuhan, melainkan mengalami pertobatan.

3. Menderita bagi orang lain
Poin ke tiga, merupakan poin bagi orang Kristen yang bertumbuh. Karena mereka mengalami penderitaan bukan karena kejahatan mereka dan bukan juga karena tidak taat sehingga mengalami didikan, melainkan karena suatu kesediaan untuk menderita bagi orang lain. Penderitaan disini bukan karena berbuat kesalahan demi orang lain atau berbuat kejahatan demi orang lain, seperti orang yang belum kenal Yesus. Melainkan rela menderita agar orang lain agar dapat menerima keselamatan, percaya kepada Yesus bahkan mengalami pertobatan. Tahap ke tiga ini dilaksanalan oleh mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dan hidup bagi Tuhan, yaitu menjadi pengikut Yesus yang sejati.

Meskipun terkadang penderitaan membuat menjadi kita lemah, padahal kita sudah melakukan dengan sungguh-sungguh, biarlah kita terus bertahan dalam ujian. Sebab Matius 16:24, menuliskan bahwa kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Kata memikul salib dalam ayat ini mengandung arti suatu kesiapan menderita memikul salib demi keselamatan, pertumbuhan dan kemajuan rohani bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi pertumbuhan orang lain.

Contoh-Contoh Penderitaan Bagi Keselamatan Orang Lain
1. Tuhan Yesus untuk keselamatan umat manusia
Ibrani 5:8, sesungguhnya Yesus sebagai anak Allah tidak perlu menderita karena salib. Namun karena melihat manusia membutuhkan keselamatan, maka Yesus diutus dan dengan taat Yesus turun menjadi manusia.

2. Rasul Paulus menderita untuk jemaat Galatia
Galatia 4:19, rasul Paulus rela menderita berkali-kali bagi jemaat Galatia agar ada jemaat yang bertobat. Penderitaan yang berat Paulus hadapi untuk keselamatan mereka sehingga jemaat Galatia bertumbuh. Namun pada akhirnya jemaat Galatia justru turut mengikuti ajaran sesat. Tidak ada penderitaan yang lebih berat atau menyakitkan selain ketika gembala melihat ada jemaat yang dijerat dalam ajaran sesat.

3. Rasul Paulus menderita untuk jemaat di Korintus
2 Korintus 11:2-3, jemaat Korintus adalah jemaat yang dibentuk dan dibimbing rasul Paulus. Digambarkan seperti seorang anak gadis yang dipelihara dan diajar sampai menjadi wanita dewasa. Lewat berbagai penderitaan rasul Paulus lalui untuk mempersiapkan anak gadisnya untuk dipertunangkan dengan satu laki-laki yaitu Kristus, tetapi anak gadis yang telah bertumbuh malah melirik yang lain yaitu ajaran sesat. Sungguh ini menyakiti hati rasul Paulus. Jadi rasul Paulus rela menderita demi pertumbuhan dan kedewasaan jemaat di Korintus. Dengan berbagai tantangan, ia tetap berjuang.

4. Kisah empat orang yang mengusung temannya
Markus 2:1-12, menuliskan kisah tentang empat orang membawa teman mereka karena sakit lumpuh sebab empat orang temannya ingin satu sahabatnya ini sembuh. Maka mereka mulai bersepakat untuk mengusung ia agar berjumpa dengan Yesus dan disembuhkan. Namun ada beberapa hal yang mereka hadapi.

Identifikasi:
Penyebab keempat orang ini tidak tembus masuk untuk berjumpa dengan Yesus :

1). Orang-orang yang ada dalam rumah adalah orang yang ingin berjumpa Yesus
2). Ada yang datang karena membutuhkan kesembuhan dari Yesus.
3). Para penonton yang datang hanya untuk melihat perbuatan Yesus.
4). Orang yang menjadi penghalang (batu sandungan)
5). Orang farisi dan ahli taurat yang datang secara khusus untuk mengkritik dan mempersalahkan Yesus.
6). Empat orang yang datang untuk melayani dan bersedia menderita untuk kebaikan, kemajuan dan pertumbuhan orang lain.

Bentuk Penderitaan
1. Dikecewakan orang-orang yang egois, namun 4 orang pengusung itu tidak menyerah.

2. Rela kerja keras dan berkorban, menyatukan hati melewati jalan lain dengan berkorban menaikkan temannya yang lumpuh ke atas rumah sehingga mereka dapat berjumpa dengan Yesus.

Bila kita memiliki sikap demikian, seperti keempat orang itu yang rela mengusung temannya yang sakit sampai berhasil bertemu dengan Yesus, maka kita semakin kokoh dalam Tuhan, menjadi orang kristen yang dewasa dalam Tuhan.

MENDERITA KARENA KRISTUS – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 29 September 2019)

Kolose 1:24-29

Pendahuluan
Berbicara tentang penderitaan, tidak ada seorangpun yang suka dengan penderitaan termasuk khotbah tentang penderitaan, melainkan menyukai khotbah tentang berkat, mujizat, sorga dan kemuliaan.   Namun dalam surat Kolose kita diarahkan untuk memahami soal penderitaan. Meskipun secara jasmani tidaklah populer khotbah soal penderitaan, melainkan khotbah yang enak adalah khotbah berkat dan surga. Penderitaan merupakan doktrin yang utama dalam firman Allah. Buktinya Yesus menderita untuk menyelamatkan manusia. Dan seorang hamba Tuhan yang menolak memberitakan tentang penderitaan dan terus melewati topik penderitaan akan bersalah dihadapan Tuhan.

Dalam Matius 16:24 memberi penjelasan, bahwa setiap orang yaitu pengikut Yesus harus mengalami penderitaan dengan menyangkal diri dan memikul salib. Matius 16:25, setiap orang yang mau menyelamatkan nyawanya,  yaitu mempertahankan kenikmatan dunia untuk menikmati dosa, akan kehilangan hidup kekal. Dan sebaliknya bila mematikan kenikmatan dunia akan terima hidup kekal. Jadi jika hidup kita hanya berfokus pada pemuasan diri, kita perlu berhati-hati karena ada ajaran soal hidup dalam Yesus tidaklah menderita, hanya hidup makmur – maka pasti orang yang seperti itu akan binasa.

AJARAN KEMAKMURAN
Menjelang kedatangan Yesus kedua kali yang semakin dekat, ajaran yang marak adalah tentang doktrin kemakmuran. Banyak gereja hanya mengkhotbahkan yang enak-enak untuk kepuasan telinga tetapi firman Allah sudah jelaskan bahwa penderitaan adalah bagian dari kekristenan. Perhatikan Kolose 2:24, rasul Paulus bersukacita untuk jemaat Tuhan. Dan ia menuliskan dalam suratnya bahwa ia harus “menggenapkan penderitaan Kristus”. Kata “menggenapkan” jangan salah diartikan. Dengan berpikir bahwa keselamatan yang Yesus telah kerjakan bagi kita di atas kayu salib tidak sempurna. Tetapi ingat penebusan yang telah dikerjakan oleh Yesus sudah diselesaikan dengan sempurna tanpa harus menambahkan apapun.

Efesus 2:8,9 – Tidak ada penderitaan manusia yang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus di salib.  Sepenuhnya keselamatan secara sempurna karena karya Kristus. Sebab dituliskan bahwa karena kasih karunia kita diselamatkan bukan hasil usaha kita. Karena jika keselamatan adalah usaha manusia maka akan ada orang yang sombong di surga. Jadi apakah yang dimaksud menggenapi penderitaan dalam Kristus? Perhatikan catatan berikut.

BERBUAT DOSA VS BERBUAT BAIK – 1 PETRUS 2:20
Jika menabur yang baik dan mengalami penderitaan, maka itu adalah kasih karunia Allah.  Firman Allah menjelaskan bahwa ada 2 penyebab atau 2 alasan orang mengalami penderitaan,  yaitu:

  • Menderita karena berbuat dosa (kejahatan)
  • Menderita karena berbuat baik (kebenaran)

TINGKAT PENDERITAAN
Tiga tingkat penderitaan:
1. Penderitaan karena dosa
Orang yang mengalami penderitaan karena berbuat dosa atau melakukan yang jahat pasti orang tersebut masih diluar Kristus. Dan kalau mengaku percaya Yesus namun masih berbuat dosa,  maka ia belum bertobat atau lahir baru (diselamatkan) sebab meskipun ia pergi beribadah, namun ia tetap dalam kejahatan. Oleh sebab itu, perhatikan nasihat rasul Petrus bagi setiap orang percaya dalam 1 Petrus 3:17. Dituliskan lebih baik menderita karena berbuat baik jika kehendak Allah, daripada menderita karena berbuat jahat. Lebih jelas lagi dalam 1 Petrus 4:15, akhir hidup orang yang terus dalam dosa begitu tragis.

Firman Allah menjelaskan bahwa mereka yang tidak bertobat akan mendapat bagian dalam lautan api yang menyala-nyala dan kematian kekal menurut Wahyu 21:8. Dan sebaliknya, akhir hidup orang yang tidak berbuat dosa, Wahyu 21:7, orang tersebut adalah orang yang menang dan akan menerima hidup yang kekal.

2. Penderitan supaya taat
Bila mengalami penderitaan ijinkan Tuhan menegur. Wahyu 3:19 mengatakan orang yang dikasihi Tuhan pasti ditegur dan dihajar oleh Tuhan. Semestinya respon kita adalah menerima teguran dengan rela hati agar tidak binasa. Seperti jemaat Laodikia yang ditegur oleh Tuhan. Perhatikan Wahyu 3:17, sebab inilah kondisi rohani jemaat laodikia yaitu: miskin, buta, malang, telanjang dan melarat dihadapan Tuhan, meskipun mereka kaya jasmani karena surga tidak dapat dibeli dengan uang yang banyak.

MISKIN DAN TELANJANG
Dalam 2 Petrus 1:5-8, dahulu sebelum percaya Yesus, kita ada dalam jurang dosa dan oleh anugrah Kristus kita dipindahkan dari maut kepada iman dan terus bertumbuh sampai kasih agape. Sedangkan jemaat Laodikia miskin dalam kebajikan,  padahal tangga berikutnya kita harus menunjukan kebajikan sebagai bukti pertumbuhan kristen. Mereka juga miskin pengetahuan, karena saat firman Tuhan tidak konsentrasi dalam mendengarkan. Jangan sampai kita juga miskin pengetahuan, sebab tidak serius mendengar firman Tuhan, karena itulah kunci agar tidak mudah digoyahkan. Dan karena ada pengetahuan firman kita mampu menguasai diri, bertekun dan saleh dengan mengikuti firman Allah serta terus kaya dalam kasih persaudaraan sampai sama seperti kasih Yesus.

YESUS MENGASIHI JEMAAT LAODIKIA

  • Karena Yesus tidak mau jemaat Laodikia binasa di dalam neraka maka Yesus tegor dan hajar mereka. Tegor dalam bahasa Yunani: ELENGKHO, artinya orang tua yang mendidik anaknya yang melakukan kesalahan. Dan seperti seorang guru yang mendidik murid. Ketika sang murid salah menulis maka si guru tidak segan-segan menghapus dan memperbaiki kalimat yang salah untuk diperbaiki menjadi
  • Hajar, bahasa Yunaninya: PAIDEO,seperti orang tua mendisiplin anak dengan memberi hukuman agar anak tersebut jera dan tidak mengulanginya. Kalau anak tidak disiplin maka ia akan menderita selamanya.

3. Penderitaan bagi orang lain
Yesus ingin agar pengiringan kita kepada Yesus terus bertumbuh dewasa sehingga bukan seperti anak nakal yang harus ditegor dan dihajar. Tetapi kita menjadi seperti Yesus rela menderita bagi keselamatan orang lain.