Iman dan Belas Kasihan – oleh Pdt. Heintje Talumewo, GPdI Getsemani – Manado (Ibadah Raya 3 – Minggu, 24 November 2019)

Dalam Matius 23:23, ada 3 hal yang penting yang disampaikan yaitu belas kasihan, iman dan kesetiaan. Iman dalam Yesus, menerobos hal-hal yang sukar dalam hidup. Contoh seorang wanita yang datang kepada Yesus dalam Matius 15:21-28. Wanita Siro Fenisia adalah wanita kafir. Namun imannya membawanya mengalami kuasa Allah. Dengan iman ia datang meminta belas kasihan Yesus. Ia melangkah kepada tangga kekristenan yang berikutnya. Tanpa mengetahui tangga selanjutnya, karena menyerahkan kepada kehendak Allah. Rasul Yohanes mengatakan bahwa yang mengalakan dunia adalah iman kita.

Ada 2 hal tentang iman:
1. Iman kepada Yesus (keselamatan)
2. Iman yang memindahkan gunung (pengharapan kepada Allah – kuasa Allah)

Dalam Galatia 3:14,  saat Yesus disalib yang terjadi:
1. Mengampuni kita dan masuk kerajaan Allah
2. Menyembuhkan
3. Memberkati
Semua diperoleh dengan iman.

Lewat iman dalam Yesus kita juga menerima berkat Abraham, yaitu:

  1. Bangsa yang besar
  2. Nama yang masyur
  3. Mulplikasi
  4. Kesehatan
  5. Berkat raja-raja
  6. Kemenangan atas musuh
  7. Berkat materi
  8. Berkat rohani
    Dan tanggung jawab kita, saat menerima berkat adalah miliki belas kasihan agar tidak menjadi sombong.

BELAS KASIHAN
Selain iman, poin yang kedua adalah belas kasihan Allah. Artinya,  selain kita memiliki iman, biarlah belas kasihan Allah yang terjadi. Artinya kehendak Allah yang terlaksana bukan kehendak kita. Jika Allah berkehendak mendengar doa dan melaksanakan apa yang kita imani, maka semua adalah kasih karunia. Inilah iman yang memindahkan gunung yaitu pengharapan kepada Allah.

Iman memindahkan gunung bukan hanya untuk kesenangan jasmani diaman kita beriman untuk kesenangan pribadi, sehingga mudah kecewa bila apa yang kita imani tidak terjadi.  Biarlah sebagai orang percaya, iman kita bertumbuh semakin dewasa didalam Kristus. Sehingga bila kita diberkati,  kita tidak melupakan bahwa ini adalah belas kasihan Allah atas hidup kita. Dan bila iman kita belum terjawab atau tidak terjadi, maka kita tidak menjadi kecewa bahkan meninggalkan Tuhan.

Milikilah iman seperti wanita Siro Fenisia,  yang mengalami mujizat sebab belas kasihan Allah. Ia tidak memaksa Tuhan dengan imannya melainkan Tuhan yang berkehendak. Dan oleh belas kasihan Allah ini juga, biarlah ada dalam hidup kita.

Berkat belas kasihan Allah
Dalam mempergunakan setiap berkat Allah jangan kita seperti:
1. Orang Isarel, mereka dibuang ke Babel karena egois, sebab mereka mengabaikan perintah Tuhan yaitu belas kasihan.
2. Para imam melupakan yang terutama yaitu belas kasihan.
3. Kisah orang kaya dan Lazarus. Orang kaya ini sudah menerima belas kasihan Allah dan berkat Allah tetapi lupa untuk memberikan belas kasihan kepada orang lain.

Kiranya iman kita terus bertumbuh dalam Kristus, bukan lagi untuk hal jasmani kita beriman.  Dalam hal rohani juga kita meningkat. Masalah selalu ada, namun biarlah kehendak dan belas kasihan Allah yang terjadi. Tuhan Yesus kiranya menolong setiap kita untuk berjalan dalam iman dan belas kasihan Allah.

BERKAT DARI SUMBER HIKMAT seri 5: PERLIPATGANDAAN BERKAT – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 24 November 2019)

AMSAL 3:9-10

Amsal 3:9-10 “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”

Salah satu tujuan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah adalah untuk dapat memuliakan Tuhan. Ada begitu banyak cara untuk memuliakan Tuhan, salah satunya “Berkat Kepemilikan.”

Kepemilikan disini diuraikan dengan jelas dalam dua jenis :
1. Hartamu
Yaitu semua jenis kekayaan yang dimiliki. Bisa berupa benda materi, tetapi termasuk juga non materi seperti kepandaian, keahlian, tenaga.

2. Hasil pertama dari segala penghasilanmu.
Ini yang disebut sebagai buah sulung atau hulu hasil. Bangsa Israel memberikan persembahan ini sebagai rasa hormat dan menghargai Tuhan, karena Tuhanlah yang memberikan berkat atas segala yang diusahakan bangsa Israel.

Tuhan memberi pernyataan tegas tentang kekayaan dan penghasilan pertama yang dipersembahkan kepada Tuhan. Selain dari yang tertulis pada ayat pokok di atas, juga tertulis dalam,  Lukas 6:38a “Berilah dan kamu akan diberi, suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu…”

TENTANG HARTA
Harta, selain dapat dilipatgandakan lewat korban dan persembahan, juga merupakan ujian yang berat bagi pemiliknya.

Matius 6:27 “Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada.”
Tuhan memberkati manusia dengan harta, tujuannya agar harta itu dapat menjadi alat untuk memuliakan-Nya, tetapi pada kenyataannya tidak sedikit orang justru menjadikan harta itu sebagai tuhannya, sehingga…

Matius 6:24 “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Mamon adalah sebuah istilah kata dalam bahasa Aram, yang artinya harta duniawi, yang dipresentasikan sebagai uang, karena semua yang menyangkut harta di dunia ini, selalu di nilai dengan uang. Tuhan tidak melarang kita untuk menjadi kaya dengan memiliki banyak uang karena selama kita hidup di bumi ini, kita sangat membutuhkannya. Uang dapat menjadi sahabat yang baik, jika kita mampu menguasai dan mengendalikannya.

Lukas 16:9 “Dan Aku berkata kepadamu, ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Dengan menggunakan Mamon/uang, kita dapat mengikat persahabatan dengan bebas untuk memberitakan kabar keselamatan dari Tuhan dan memuliakan nama Tuhan. Kita bisa bangun gereja, membeli semua fasilitas untuk beritakan Injil Tuhan. Sebaliknya jika uang menguasai dan memperhamba manusia, maka ia akan menjadi tuan yang kejam.

1 Timotius 6:10 “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Manusia menjadi lupa diri menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang yang memperbudaknya, sehingga menyimpang dari iman dan kebenaran firman yang berakhir pada kebinasaan.

 MULIAKANLAH TUHAN DENGAN HARTAMU
Harta itu relatif, bagi orang kaya uang, emas, jabatan dan benda-benda mewah itulah hartanya. Bagi orang sederhana, apa yang ada padanya itu sudah merupakan hartanya.  Memuliakan Tuhan dengan hartamu, tidak berarti kita tidak boleh menyimpan harta kita untuk keperluan anak cucu kita. Tetapi Tuhan mengajar kita untuk dapat mengelola berkat dengan bijaksana sesuai bagiannya.

Perhatikan 2 Korintus 9:10 “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaran.”  

 Ada tiga hal tentang benih yang semuanya dari Tuhan dalam ayat ini, dimana Tuhan mengajar kita untuk mengelola keuangan kita :

  1. Benih untuk ditabur. Ini adalah modal dari Tuhan untuk diusahakan.
  2. Roti untuk dimakan. Ini adalah bagian dari hasil usaha yang dapat kita nikmati untuk dimakan dan disimpan.
  3. Benih untuk melipatgandakan. Yang ini adalah hasil tuaian dari benih yang ditabur, selain untuk dimakan, juga sebagian untuk diinvestasikan agar menjadi berlipat ganda. Ada dua jenis investasi disini :
    – Ditanam di bumi sebagai modal untuk mendapatkan hasil yang dapat dinikmati selagi hidup di bumi yang hanya 70-80 tahun saja.
    – Diinvestasikan ke Sorga, melalui pekerjaan Tuhan dan memuliakan Tuhan di bumi, yang nantinya kita akan dapatkan kembali sebagai pahala di sorga.

Perhatikan nasehat Tuhan: Yohanes 6:27a “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal……”

Jangan hanya mencari harta untuk jasmani saja, tetapi juga untuk hal yang kekal, sebab  Matius 16:26 “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?  Ini bagi orang yang hanya menggunakan hartanya untuk kepentingan duniawi saja. Memang ia dapat menikmatinya selagi hidup yang hanya 70-80 tahun saja, tetapi ia binasa setelah kematiannya.

Matius 6:19-20 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

 Ada tiga musuh harta kepemilikan kita di bumi yaitu ngengat merusak pakaian, karat merusak logam termasuk  emas dan perak (Yak 5:1-3) dan pencuri kapan saja dapat menjarah harta kita. Tuhan mau supaya kita menyimpan atau menginvestasikan harta di sorga. Apakah ada Bank di sorga ? Bagaimana caranya? Segala sesuatu yang kita berikan bagi kepentingan pelayanan kepada Tuhan adalah investasi kita ke Sorga. Dari hal yang paling kecil dan sepele sekalipun Tuhan perhatikan.

Matius 10:42 “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu, Sesunggunya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Perhatikan yang yang menjadi perhatian bukan kepada siapa kita memberinya, tetapi kepada “karena ia murid-KU”. Jadi segala sesuatu yang kita berikan karena Tuhan, itu adalah investasi kepada kerajaan sorga.

Mengapa Tuhan memerintahkan agar harta kita dipakai untuk memuliakan Tuhan ?

  • Sudah menjadi tujuan Tuhan kita diberkati agar dapat digunakan bagi kemuliaan-Nya.
  • Agar kita dapat terus dipercaya mengelola berkat dari Tuhan.
  • Sebagai alat uji untuk mengetahui apakah kita lebih mengasihi Tuhan sebagai sang pemberi berkat atau lebih mengasihi berkat-Nya yang dipercayakan kepada kita. Ingat Matius 6:27 “Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada.”

 Contoh: Matius 19:16-23, tentang seorang muda yang kaya datang kepada Yesus menanyakan, perbuatan baik apakah yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus memberikan ENAM perintah Allah kepada pemuda itu untuk dilakukan, yaitu jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,  hormatilah ayahmu dan ibumu,  kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Apa jawab dari pemuda kaya itu ?

Matius 19:20-22 “Kata orang muda itu kepada-Nya: Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang ? Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.”

 Orang muda yang kaya itu dapat melakukan enam perintah Allah, tapi ketika diminta berkorban, ia tidak merespon. Mengapa? Ia lebih berpegang kepada hartanya yang hanya sementara daripada mempercayai Yesus sebagai pemilik berkat Itu. Apa sebenarnya yang Tuhan harapkan dari pemuda kaya itu? Sama seperti Yesus, nilai pegorbanannya.  Ketika kita memiliki nilai pengorbanan kepada Tuhan atas segala kepemilikkan kita, sebenarnya tidak ada yang berkurang dari apa yang kita miliki. Mengapa Yesus menilai persembahan janda yang miskin itu yang hanya dua peser dinilai lebih besar dari persembahan orang farisi yang kaya? Karena nilai pengorbanannya, bukan pada jumlahnya. Semakin kita mempercayakannya harta kita kepada Tuhan untuk kemuliaanNya, Tuhan akan lebih mempercayakan harta itu pada kita.

Amsal 3: 9-10 “Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”

Lumbung berbicara tentang persediaan. Tuhan sanggup cukupkan sampai ke anak cucu.  Bejana pemerahan berbicara tentang hasil usaha, akan dilimpahi hingga meluap, artinya mendapat kelebihan. Kita diberkati untuk menjadi berkat, dan kita dipercaya untuk mengerjakan berkat yang dipercayakan untuk kemulian Tuhan, maka perlipatgandaan berkat Tuhan akan berlaku bagi kita. Jangan tunda apa yang Tuhan percayakan kepada kita tentang berkat yang Tuhan limpahkan, sebab akan datang waktu kita terlambat yaitu saat AntiKris berkuasa di bumi ini. Semua harta kepemilikan kita akan dirampas dan diatur oleh antiKris, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa bebas untuk menjual dan membeli tidak ada lagi kesempatan untuk mempersembahkan harta kita bagi Tuhan.

Wahyu 13:17 “..Tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.” Waktu sekaranglah waktu untuk menginvestasikan harta kita bagi kemuliaan Tuhan dan perlipatgandaan berkat menjadi bagian kita, sampai pada kekekalan.

Kebahagiaan Sejati – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 24 November 2019)

Hampir semua orang yang hidup di dunia ini ini tujuan hidupnya mencari dan memiliki kebahagiaan. Itu sebabnya mereka bekerja pagi, siang, sore sampai malam untuk mendapatkan sesuatu demi mencapai sebuah kebahagiaan. Namun apakah mereka memiliki kebahagiaan yang sejati?

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan hal jasmani/ lahiriah
Kebahagiaan sejati tidak dapat diukur dengan hal-hal jasmani atau lahirnya kecantikan seseorang yang dapat membuatnya berbahagia. Namun fisik manusia dapat berubah seiring dengan perubahan tersebut sehingga hilang juga kebahagiaan yang didapat dari hal-hal fisik.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan materi
Kebahagiaan sejati tidak dapat diukur dengan materi sebanyak apapun materi yang dimiliki. Memang materi dapat memenuhi kebutuhan orang tersebut bahkan hal-hal yang menyangkut kesenangan seperti membeli sesuatu ataupun dapat berlibur untuk menikmati kebahagiaan. Namun kita harus menyadari bahwa materi sewaktu-waktu dapat hilang dicuri orang dan lain dan sebagainya. Seiring hal tersebut terjadi, hilang juga kebahagiaan yang sudah pernah didapatkan.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan perasaan
Kebahagiaan sejati tidak juga didapat dari perasaan senang, gembira atau apapun yang kita bisa dapatkan. Mengapa? karena perasaan kita begitu cepat berubah seiring perubahan situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan, kebahagiaan tersebutpun dapat berubah menjadi kesedihan.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan kedudukan
Begitu juga dengan kedudukan yang bersifat sementara. Banyak orang meraihnya untuk memperoleh kebahagiaan, penghormatan, dihargai dan diakui. Namun pada kenyataannya setelah kedudukan tersebut hilang, hilang juga kebahagiaan yang ada.

Semuanya sementara
Kita harus mengakui bahwa hal-hal materi, fisik, lahiriah, jasmani, perasaan, kedudukan hanyalah sesuatu yang bersifat sementara, yang tidak dapat menjamin bahwa kebahagiaan yang kita miliki bersifat permanen.

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki hal-hal tersebut, apakah mereka pasti tidak berbahagia ? Belum tentu. Itulah sebabnya mengapa hal-hal tersebut tidak dapat menghasilkan kebahagiaan sejati.

Blessed – Diberkati
Dalam salinan bahasa Inggris kata berbahagialah disini disalin dengan menggunakan kata Blessed, yang artinya diberkati. Kata diberkati ini tidak terhubung dengan sumber yang berasal dari dunia ini tetapi dari Tuhan.

Dan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan terhubung dengan spiritual kita yaitu roh manusia kita. Jadi jikalau kita mau mengalami kebahagiaan sejati perhatikanlah kebutuhan roh manusia kita.

Bagaimana memiliki “Kebahagiaan Sejati” menurut Mazmur 1 ini?
1. Jangan berjalan menurut nasihat orang fasik, jangan berdiri dijalan orang berdosa dan jangan duduk dalam kumpulan pencemooh.

Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan mungkin saja mendengar ada unsur kebahagiaan yang terdapat pada nasihat orang fasik atau juga karena melihat kebahagiaan dari cara hidup orang berdosa atau juga mendapat kesenangan ketika duduk dalam kumpulan pencemooh yang merasa dirinya lebih benar dari orang lain.

Namun nasehat firman Tuhan sangat jelas, untuk memiliki Bahagia yang sejati, kita jangan terpengaruh untuk berada dalam keadaan-keadaan tersebut yang coba ditawarkan dunia kepada kita.

2. Kesukaan/kebutuhan utama kita adalah Firman Tuhan.
Jadi jika berkat ada hubungannya dengan pribadi Tuhan dan Tuhan yang adalah roh itu selalu berhubungan dengan roh manusia kita maka jika kita ingin mengalami kebahagiaan sejati, kita harus mengisi kebutuhan roh manusia kita dengan Taurat Tuhan atau firman Tuhan.

Dalam firman Tuhan tertulis ‘yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan’. Kesukaan bukan hanya sekedar seperti sebuah tawaran yaitu bisa kita terima atau kita tolak. Kesukaan merujuk kepada sebuah kebutuhan yang mau tidak mau harus kita penuhi seperti orang yang membutuhkan makanan dan minuman untuk setiap hari. Jika untuk makanan jasmani saja kita membutuhkan makanan paling sedikit 3 kali sehari dan minuman kurang lebih 8 liter, lalu bagaimana dengan makanan rohani kita?

Apakah kita berpikir cukup untuk memenuhi kebutuhan rohani kita hanya seminggu sekali? Bayangkan kekuatan apa yang kita bisa dapatkan dalam spiritual kita jika menyukai firman Tuhan hanya seminggu sekali. Sedangkan hampir setiap hari kita menemui dan dipenuhi banyak persoalan, pergumulan dan masalah dalam kehidupan. Darimana kekuatan kita untuk bisa bertahan dan menang menghadapi hal-hal tersebut?

Jadi untuk mengalami kebahagiaan sejati kita juga harus menyukai firman Tuhan setiap hari. Kita membutuhkan manusia roh kita kuat dan stabil untuk dapat mempengaruhi jiwa kita yang selalu mengalami tekanan perubahan yang berasal dari perubahan yang muncul dari hal-hal lahiriah atau jasmaniah. Sehingga jiwa kita dapat stabil ketika menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Satu-satunya yang ‘sangat-sangat’ stabil di dalam dunia ini adalah Firman Tuhan. Yesus berkata langit dan bumi akan berlalu tetapi firman Tuhan tidak akan berlalu. Langit dan bumi akan tergoncang dan satu-satunya yang tetap stabil tidak akan tergoncang adalah Firman Tuhan yang hidup dan berkuasa.

3. Lebih lanjut kebahagiaan sejati didapatkan ketika kita merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam
Salah satu kebutuhan manusia roh kita yaitu firman Tuhan namun firman Tuhan yang kita dengar harus melewati banyak tantangan seperti ketika seorang penabur menaburkan benih firman Tuhan. Hanya satu jenis tanah yang baik dari 4 jenis tanah yang ada.

Demikian juga ketika kita mendengar firman Tuhan tantangan utamanya adalah bahwa tubuh kita tidak menyukainya. Apalagi ketika tubuh kita sedang lelah atau sakit, sulit bagi Firman itu untuk dapat sampai masuk ke dalam roh manusia kita. Belum lagi tantangan yang harus dihadapi dimana firman Tuhan yang kita dengar harus dapat menembus jiwa kita. Di dalam jiwa kita ada pemikiran-pemikiran logika manusia yang terkadang menolak Firman yang kita dengar dengan alasan yang logis. Belum lagi Firman itu harus menembus perasaan-perasaan kecewa, kepahitan dan luka-luka batin yang terdapat pada perasaan manusia. Jadi jalan keluarnya adalah (mau tidak mau) Firman yang kita dengar harus kita renungkan siang dan malam.

Merenungkan Firman sama seperti hewan Ruminansia (mamalia) memproses makanan yang dimakannya. Hewan ruminansia dapat mengunyah atau memamah makanannya melalui dua fase. Fase pertama terjadi pada saat awal makanan masuk, makanan hanya dikunyah sebentar dan masih dalam tekstur yang kasar. Selanjutnya makanan akan disimpan di dalam rumen lambung. Fase kedua yaitu ketika rumen sudah penuh, hewan ruminansia akan mengeluarkan makanan yang dikunyahnya tadi untuk dikunyah kembali hingga teksturnya lebih halus. Kemudian makanan akan masuk ke dalam lambung lagi untuk diteruskan ke usus halus yang berfungsi menyerap sari-sari makanan yang telah diproses di dalam lambung. Sari-sari makanan yang diserap kemudian diedarkan ke seluruh tubuh dan diubah menjadi energi.

Demikian juga seharusnya proses perenungan Firman sampai kepada Firman itu menjadi Rhema yang memberkati diri kita, yang memberi makan manusia roh kita untuk menjadi kuat dan sehat.

Beberapa langkah merenungkan firman antara lain:

  • Memikirkan Firman (think)
  • Mendeklarasikan Firman (declare)
  • Membicarakan Firman (talk)
  • Menyanyikan Firman (sing)

Contoh: Mazmur 1:3 (TB)
“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

  • Setelah kita mendengar atau membaca ayat tersebut kita taruh dalam ingatan kita kemudian di manapun kita berada ada atau sedang melakukan apapun kita ingat kembali ayat tersebut mengucapkannya berulang-ulang dalam hati ataupun dengan suara yang kecil.
  • Setelah kita merasakan diberkati oleh ayat tersebut kita deklarasikan bagi diri kita dengan penuh keyakinan bahwa ayat tersebut mengingatkan kita bahwa orang yang mengalami kebahagiaan sejati, ia seperti pohon yang ditanam di tepi air.
  • Setelah kita merasa diberkati dengan ayat tersebut kita perlu membagikannya baik lewat sosial media ataupun membicarakannya dengan rekan-rekan kita di manapun kita berada.
  • Kita juga dapat menyanyikan ayat tersebut ketika kita sedang berdoa dan menyembah Tuhan sehingga ayat tersebut benar-benar tercerna sampai ke dalam manusia roh kita. Saya yakin dan percaya ayat tersebut menjadi hidup dan mulai menguasai hati dan pikiran kita yang berdampak pada tindakan kita yang sesuai dengan firman Tuhan.

Orang yang mengalami kebahagiaan sejati, seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Keadaan dan situasi bisa berubah, semua musim kehidupan dapat terjadi pada orang benar, namun ia tetap mengalami kebahagiaan sejati, mengapa? Karena perenungannya firman Tuhan akan dapat melewatinya dengan penuh kemenangan.

Selanjutnya kualitas kebahagiaan dan kehidupan orang fasik begitu ringan. Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Mereka tidak akan tahan dalam ujian kehidupan, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; di penghujung dari semuanya, jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Ulangan 6:6-9 (TB)
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

BATU ROHANI – oleh Pdt. Yosep Sumangkul, GPdI Efata Pamulang Tangerang Selatan (Ibadah Raya 3 – Minggu, 17 November 2019)

1 Petrus 2:3-5

Jika kita sudah mengecap kebaikan Tuhan dengan telah ditebusnya dosa kita dengan darah Yesus (1Pet 1:8). Nilai kita mahal sebab itu kita dapat berani menghampiri Yesus. Batu yang hidup,  yang ditolak namun dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Penebusan Allah memiliki tujuan untuk membangun rumah rohani, suatu persembahan yang kudus dihadapan Tuhan.

Dalam pembangunan rumah jasmani,  batu kali yang digunakan untuk pondasi harus bersih agar dapat menempel dengan baik. Untuk urusan jasmani menggunakan bahan yang baik terlebih kita sebagai batu rohani, harus bersih dan kudus agar melekat dengan sang batu penjuru yaitu Yesus. Saat tantangan datang,  kita melekat dengan sang batu penjuru dan tetap kokoh menghadapi tantangan.

Bagaimana caranya kita sebagai batu rohani menjadi bersih dan tersusun rapi?

  1. Buang segala macam kejahatan (1Pet 2:1). Untuk itulah Yesus telah mati bagi kita yaitu agar kita dikuduskan.
  2. Membuang segala tipu muslihat dan kemunafikan.
  3. Membuang kedengkian dan fitnah.

Ketika batu dibersihkan maka sering batu itu harus dipecahkan. Ini berbicara tentang goncangan atau proses yang harus kita alami ketika dibersihkan agar dapat dipakai oleh Tuhan. Batu besar yang tidak bisa dipecah tidak akan digunakan. Jangan hidup kita terlihat besar atau hebat di mata manusia tapi tidak dipakai oleh Tuhan.

Hidup kita pasti tidak lepas dari ujian atau proses. Bagaimana kita menjadi kuat? Jadilah seperti bayi yang baru lahir.

  1. Seorang bayi yang baru dilahirkan, yang dilakukannya adalah menangis. Artinya kita menangis di kaki Tuhan sehingga kita dikuatkan.
  2. Haus air susu yang murni. Ini bicara tentang firman TUHAN. Sudah seharusnya Firman Tuhan menjadi kesukaan kita. Sebab Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita.

BERJUANG UNTUK MENJADI SEMPURNA – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya 1,2– Minggu, 17 November 2019)

KOLOSE 2:1-5

PENDAHULUAN
Dalam Kolose 1:28, dijelaskan bahwa untuk masuk dalam bagian gereja sempurna kita harus hidup dipimpin oleh Firman Allah dan Roh Kudus. Hanya hidup dengan cara seperti itu kita bisa masuk dalam bagian dari gereja sempurna. Oleh sebab itu, para rasul (Paulus) dan hamba-hamba-Nya berusaha berjuang dengan sekuat tenaga dan dengan kuasa Tuhan meminta hikmat Tuhan agar rahasia firman Allah dibukakan dan disampaikan  kepada jemaat (Kolose 1:29). Pekerjaan membimbing, menasihati, menegor dan mengajar jemaat supaya hidup sesuai firman Allah bukan perkara mudah. Hal itu menuntut perjuangan dan pengorbanan  yang sangat berat, serta kesungguhan yang penuh dari seorang hamba Tuhan (Kolose 2:1).

Demi menyampaikan pengajaran firman Allah yang benar, rasul Paulus berkata dalam:
1 Korintus 9:27 “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Rasul Paulus sadar bahwa sebagai pemberita Injil, ia harus hidup sesuai dengan Injil yang diberitakan agar setelah memberitakan Injil ia sendiri jangan ditolak Allah. Karena besarnya tanggung jawab seorang yang menyampaikan firman Allah, maka rasul Paulus nasihati jemaat agar menghormati para pemimpin rohaninya yaitu orang-orang yang mengajar dan menuntun jemaat dalam kebenaran.

1 Tesalonika 5:12 “Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu  menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin  kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu;”

1 Tesalonika 5:13 “…dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.”

Kolose 2:2 “Supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih…” Artinya dengan senang hati jemaat sehati sepikir tanpa paksaan, tapi sehati sejiwa, dengan tekad yang bulat berusaha menjadi jemaat yang kaya secara rohani.

PEMISAHAN TIBA
Apabila saat pemisahan tiba, gereja Tuhan akan dipisahkan menjadi dua bagian. Pertama adalah gereja yang sempurna, yang kedua gereja yang tidak sempurna. Bagi gereja sempurna (pengikut Yesus yang sejati) adalah jemaat yang kaya secara rohani dan memiliki keyakinan kuat serta mengerti rahasia Allah yaitu Kristus akan disingkirkan dan mengalami pengubahan tubuh. Sedangkan bagi gereja yang tidak sempurna akan melewati masa antikris. Perhatikan gambar!

PENGHALANG DI AKHIR ZAMAN
Di akhir zaman iblis berusaha menggagalkan kita menjadi gereja sempurna dengan berbagai cara, antara lain melalui masalah ekonomi, keuangan, kesehatan, usaha, kekayaan, pernikahan (moral) keluarga dan sebagainya. Melalui masalah-masalah tersebut Iblis berupaya menarik umat Allah agar hanya fokus pada harta jasmani bukan kekayaan rohani. Dalam Matius 24:12, Tuhan Yesus memberikan peringatan bahwa di akhir zaman, manusia secara terang-terangan melakukan dosa dan kejahatan. Jika kita tidak hati-hati, hal ini bisa berdampak sangat buruk kepada orang percaya. Persoalan-persoalan yang terjadi dapat membuat kasih kita kepada perkara-perkara rohani (kekayaan rohani) menjadi dingin. Artinya, antusias, gairah atau semangat untuk menjadi  kaya secara  rohani dan  hidup  menurut Firman Tuhan serta kerinduan akan Tuhan dalam diri kita akan sama sekali hilang. Perhatikanlah perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus dalam Lukas 14:15-24. Dalam perumpamaan ini banyak banyak orang yang lebih tertarik kepada urusan-urusan duniawi ketimbang menanggung undangan sang raja.

PERHATIKAN NERACA HIDUP KITA
Amsal 11:1
“Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.”

Sudah seharusnya neraca hidup kita seimbang antara hal-hal jasmani dan perkara rohani. Jangan sampai neraca jasmani lebih berat dari neraca rohani.

Perhatikan gambar:

NASIHAT BAGI JEMAAT KORINTUS
1 Korintus 7:26 “Aku berpendapat, bahwa mengingat waktu darurat  sekarang adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya (tidak mengambil keputusan untuk menikah).”

Pernikahan menuntut tanggung jawab jasmani, jiwani dan rohani bagi seluruh kaum keluarga kita. Kalau kita tidak bisa pertahankan neraca rohani tetap seimbang, kita akan korbankan nilai-nilai rohani untuk mengejar nilai-nilai jasmani.

1 Korintus 7:33-34, besarnya tanggung jawab seseorang yang menikah, membuat beberapa orang kesulitan dalam menjaga neraca hidupnya tetap seimbang, mereka tidak dapat memusatkan diri untuk mengikut TUHAN mencari perkara rohani karena lebih fokus untuk menyenangkan suami atau istri mereka (perkara duniawi). Sesibuk apapun dalam memenuhi kebutuhan keluarga, jangan lupakan untuk mencari kekayaan rohani. Kiranya Tuhan akan selalu menjadi yang utama dalam hidup kita.

MOTIVASI PAULUS
1 Korintus 7:35, semuanya yang rasul Paulus katakan adalah untuk kepentingan jemaat sendiri bukan untuk menghalang-halangi jemaat dalam kebebasan, tetapi sebaliknya supaya mereka melakukan apa yang benar dan baik serta melayani Tuhan tanpa gangguan. Beratnya perjuangan yang ia lakukan untuk jemaat di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal dia secara pribadi menunjukkan keinginan rasul Paulus agar jemaat tidak melupakan hal-hal rohani. Jadi berjuanglah sedemikian rupa agar kita masuk dalam bagian gereja yang sempurna. Amin.

DIPIMPIN MENUJU KESEMPURNAAN (Menjadi Gereja Yang Sempurna) – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 10 November 2019 )

Kolose 1:27-29

PENDAHULUAN
Ketika Allah menciptakan manusia, kondisi manusia tidak berdosa artinya manusia dalam keadaan sempurna. Namun saat manusia jatuh dalam dosa, keadaannya seperti sekarang yaitu terpisah jauh dari Allah. Namun oleh kematian Yesus disalib, dosa kita diampuni dan kita yang dulunya jauh dari Allah, sekarang Allah menjadi Immanuel bagi kita. Artinya, Allah beserta manusia, bahkan diam di dalam manusia, Matius 1:23; Yohanes 17:21. Dan rencana Allah bukan hanya sebatas menjadikan manusia satu dengan Allah, melainkan Allah punya rencana untuk memulihkan manusia menjadi sempurna seperti Adam dan Hawa ketika tinggal di taman Eden, bahkan menjadi seperti Yesus.

Tetapi mungkin ada yang bertanya “Bagaimana mungkin manusia yang kondisinya seperti ini bisa pulih seperti Adam dan Hawa sewaktu tinggal di taman Eden, bahkan menjadi seperti Yesus, Efesus 4:15? Dalam Kolose 1:28 dijelaskan bahwa yang memimpin kita menjadi Gereja yang sempurna adalah hikmat Allah, yaitu Firman Allah. Itu sebabnya, bila kita mendengar firman Tuhan jangan baper, saat mendengar firman Tuhan kita jangan mudah tersinggung sehingga pada akhirnya mengundurkan diri dan kecewa. Sebab yang membawa kepada kesempurnaan adalah firman Tuhan yaitu hikmat Allah. Tuhan memilih hamba-hamba Tuhan untuk menasihati, mengajari, membimbing dan mendorong agar jemaat melakukan firman Allah. Hanya oleh hikmat yaitu Yesus yang adalah firman Allah, jemaat bisa bertumbuh dewasa dan menjadi sempurna. Jadi, jangan pernah berkata mustahil menjadi sempurna. Jika betul-betul mau dibentuk firman Allah, maka kita menjadi sempurna. Menjadi pengikut Kristus yang sejati bukan karena hebatnya pendeta yang berkhotbah, tetapi karena firman Allah. Persoalannya jemaat mau atau tidak hidup sesuai firman Allah dan melayani Tuhan walaupun hanya dengan modal 1 (satu) talenta?

Dalam Kisah Para Rasul 20:26-27, Rasul Paulus memberikan pesan, bahwa ia akan segera menuju kematian. Dan ia katakan bahwa selama ia memberitakan firman Tuhan dengan jujur dan bersih dihadapan Tuhan. Ia memberitakan firman yang murni, bukan hanya berisi tentang berkat dan mujizat saja tapi juga teguran-teguran. Ia tidak pernah lalai dan lelah memberitakan ajaran firman Allah sebab hanya dengan melakukan firman Allah jemaat menjadi sempurna.

PEMISAHAN
Begitu penting sebagai orang percaya kita hidup didalam kebenaran firman Tuhan karena menjelang kedatangan Yesus kedua kali, Yesus akan melakukan atau mengadakan pemisahan dalam jemaat untuk melihat mana jemaat yang hidupnya taat melakukan firman Allah dan yang hidupnya tidak taat melakukan firman Allah.

1 Korintus 11:19, kata “kamu” dalam ayat ini bukan personal tetapi jemaat. Jadi Rasul Paulus berbicara kepada jemaat Korintus bahwa akan ada perpecahan ditengah jemaat untuk membuktikan kualitas jemaat. Dahulu dalam gereja mula-mula, mereka selalu mengadakan perjamuan suci dalam setiap pertemuan. Setelah itu ada perjamuan makan bersama seperti keluarga, dengan membawa makanan dari rumah masing-masing. Tapi saat makan bersama, yang kaya dengan yang kaya dan yang miskin dengan yang miskin. Jadi ada yang pulang dengan kenyang dan ada yang pulang dengan lapar. Ayat ini rasul Paulus sampaikan untuk menjelaskan bahwa bukan perpecahan yang demikian yang Tuhan mau. Jadi perpecahan ini bukan soal perpecahan yang terjadi diantara jemaat sehingga ada pertikaian melainkan PEMISAHAN antara jemaat.

PERUMPAMAAN PEMISAHAN
Dalam injil Matius 25, ada 3 (tiga) macam perumpamaan, antara lain:
1. Matius 25:1-13, Pemisahan 10 Gadis, 5 Gadis Bijaksana dan 5 Gadis Bodoh. Secara status mereka sama.

2. Matius 25:14-30, Pemisahan hamba yang baik dan hamba yang jahat. Secara status mereka juga sama.

3. Matius 25:31-46, Pemisahan domba dan kambing. Kalau yang ini berbeda antara kambing dan domba.

Dari ketiga perumpamaan ini, perumpamaan ketiga yang akan dibahas terlebih dahulu yaitu pemisahan antara domba dan kambing.

DOMBA DAN KAMBING – Matius 25:31-46
Perumpamaan ini menjelaskan pemisahan manusia di dunia. Sejak kematian Yesus, di mata Allah  bahwa manusia di  dunia  hanya  terdiri  dari  dua  kelompok  manusia, yaitu orang yang percaya Yesus dan orang yang tidak percaya Yesus. Kawanan domba adalah mereka yang ditebus oleh darah Yesus dan DNA ini yang membawa mereka dari hari ke sehari menjadi sama dengan Yesus. Tetapi apakah kita mau menjadi sama seperti Yesus dan masuk dalam kerajaan kekal? Perumpamaan ini bukan soal berbuat baik  melainkan posisi. Berbahagialah mereka yang ada dalam Tuhan, mereka akan masuk dalam kerajaan kekal. Sedangkan kelompok kambing adalah orang yang tidak percaya Yesus akan masuk dalam siksaan kekal. Saat pemisahan, orang yang percaya kepada Yesus menerima jaminan keselamatan yang pasti di dalam Yesus. Tetapi bagi kita yang hidup di akhir zaman, ada kemungkinan besar kita akan mengalami apa yang disebut dengan peristiwa Saat Pemisahan.”

 PEMISAHAN 10 GADIS DAN HAMBA
Dalam dua perumpamaan lainnya kita pelajari “Pemisahan Yang Akan Terjadi Di Dalam Jemaat” yaitu:
1. Pemisahan 10 Gadis – Matius 25:1-1
Pemisahan dalam jemaat dilihat dari ketaatan kita dalam melakukan firman Allah. Bandingkan dengan kisah dalam Matius 7:24,25, bahwa hanya orang yang bijak akan melakukan firman Tuhan dan hasilnya berkualitas. Sedangkan Matius 7:26,27 orang bodoh mendirikan rumah diatas pondasi yang tidak kuat maka hasilnya tidak berkualitas. Mereka tidak tahan uji karena tidak lalukan firman Tuhan.

2. Hamba yang baik dan jahat – Matius 25:14-30
Ada seorang tuan, yang punya sekian banyak hamba. Kolose 3:24 “Kristus adalah tuan dan kamu (kita) hamba-Nya.” Jadi, hamba adalah gambaran orang percaya yang diberi berbagai macam berkat, talenta; ilmu pengetahuan; bakat; tenaga; waktu; kekayaan; keahlian dan lain sebagainya. Semua diberikan bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi Tuhan ingin agar digunakan untuk melayani Tuhan. Hamba yang baik akan mengerjakan talentanya dengan penuh tanggung jawab sedangkan hamba yang jahat akan menyimpan talentanya bahkan tidak mengerjakannya sama sekali.

APA YANG TERJADI?
Apakah yang akan terjadi apabila saat pemisahan itu tiba? Perhatikan gambar:

Kawanan orang percaya yang akan masuk gereja sempurna, akan menikmati pesta kawin Anak Domba.

Mereka disingkirkan jauh dari Antikris, mereka diubahkan dan menikmati kerajaan 1000 tahun damai. Sedangkan pengikut Kristus yang tidak sempurna karena tidak berkualitas akan menghadap Antikris selama masa 3,5 tahun. Bila mereka setia dengan iman mereka, maka mereka akan dibangkitkan saat Yesus datang kedua kali serta masuk kerajaan 1000 tahun. Untuk memperjelas, ada satu gambar penuh yang memudahkan pengertian kita.

MENJADI TEMPAT KEDIAMAN  ALLAH – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 3 November 2019)

KOLOSE 1:27-29

PENDAHULUAN
Minggu yang lalu dijelaskan dalam Kolose 1:25, bahwa Rasul Paulus mendapat kepercayaan dari Tuhan untuk meneruskan “rahasia Allah” kepada jemaat. Ada banyak rahasia firman Allah yaitu kebenaran firman Allah yang tidak kita pahami, namun saat dijelaskan kita menjadi mengerti. Dan tugas rasul Paulus merupakan juga tugas para hamba Tuhan, bahwa mereka bertugas untuk menyampaikan pemberitaan firman Tuhan dan menyingkapkan rahasia firman Tuhan yang masih tersembunyi dengan tuntunan dari pada Roh Kudus. Dan salah satu rahasia firman Tuhan yang akan dibahas hari ini, terdapat dalam Kolose 1:27, bahwa Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.

Apakah rahasia yang dimaksud Kristus ada di tengah- tengah kamu? Pada mulanya, ketika manusia diciptakan, manusia ada dalam kekudusan serta kemuliaan. Manusia ditempatkan di taman Eden. Di sana Allah dapat setiap saat dan setiap waktu ada di tengah-tengah manusia Adam dan Hawa,  sehingga manusia setiap saat dapat menikmati persekutuan yang erat/intim dengan Allah. Karena saat itu manusia belum berdosa dan keadaannya digambarkan oleh pemazmur, sedikit lebih rendah dari Allah. Itulah mengapa manusia dapat dengan mudah berinteraksi dengan Allah. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, sebab manusia jatuh dalam dosa. Karena setelah manusia berdosa, manusia kehilangan persekutuan dengan Allah. Kejadian 3:24, menuliskan bahwa Allah menghalau manusia dari  taman Eden dan menempatkan beberapa Kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan menuju pohon kehidupan sehingga manusia tidak dapat masuk ke taman Eden.

DOSA MEMISAHKAN
Karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia kehilangan persekutuan dengan Allah. Padahal Allah begitu rindu ada di tengah-tengah manusia (umat-Nya) sama seperti pada waktu manusia ada di Taman Eden. Tetapi karena Allah adalah kudus, maka manusia harus terpisah dari Allah. Allah mengungkapkan isi hati-Nya kepada manusia lewat nabi Yesaya. Dalam Yesaya 59:2 “Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar,  tetapi  yang  merupakan pemisah antara  kamu dan Allahmu  ialah  segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosa-mu.”

Apakah Allah membiarkan kondisi ini terus berlanjut? Jika diperhatikan dari runtutan firman Allah, sesungguhnya Allah ingin memulihkan hubungan Allah dengan manusia. Dan inisiatif Allah dapat terlihat dalam Alkitab, yaitu:
1. Keluaran 20:18,19. Allah ingin berbicara langsung dengan Israel (umat – Nya) di gunung Sinai.
Di gunung Sinai, Allah ingin berbicara langsung kepada umat Israel untuk menyampaikan kehendak dan keinginan-Nya. Maka Israel bersiap mendengar suara Allah dan Allah menyatakan kemuliaan-Nya lewat kilat dan angin, sehingga Israel begitu ketakutan saat melihat kemuliaan Allah. Maka mereka menghadap Musa dan meminta agar tidak lagi mengadakan acara seperti ini. Mereka meminta agar Musa saja yang menghadap Tuhan dan lewat Musa pesan Tuhan disampaikan kepada Isarel. Ketakutan ini disebabkan karena dosa, padahal betapa Allah menginginkan untuk dekat dengan manusia.

2. Keluaran 36:8-38, Allah memerintahkan agar Musa membangun “Kemah Suci; Kemah Sembahyang – Tabernakel.”
Di kemah suci, Allah ingin diam bersama umat-Nya di dalam  sebuah Tabut Perjanjian atau Tabut Asyahadat yang terletak di  Ruang Maha Kudus. Itupun hanya Imam Besar yang bisa menghampiri Allah di ruang Maha Kudus. Berbicara kemah suci, kira-kira dapat digambarkan seperti ini skemanya. Perhatikan gambar .

Dalam gambar, ada halaman luar untuk umat memuji Tuhan. Kemudian para imam masuk dalam halaman kemah suci. Di dalam halaman ini terdapat mezbah korban bakaran yang darahnya diambil dan dagingnya dibakar sampai habis. Kemudian imam ke bejana pembasuhan, setelah itu masuk dalam ruang kudus, di dalam ruang kudus ada kaki dian (pelita), mezbah dupa dan meja roti. Setelah ruang kudus, maka ada ruang maha kudus dan hanya imam besar yang dapat masuk ke dalamnya. Di dalam ruang maha kudus hanya ada tabut perjanjian. Di tempat itulah Allah menyatakan kemuliaan-Nya.

Jadi yang dapat berinteraksi dengan Allah hanya imam besar. Sebab tabut perjanjian adalah benda yang kudus dan tidak sembarang orang dapat menyentuhnya, karena di situ Allah menyatakan diri. Seperti apakah gambar tabut perjanjian secara dekat? Perhatikan gambar berikut.

Beberapa ayat dimana Allah nyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya:
a. Yosua 3:12, Umat Israel bisa menyeberangi sungai Yordan karena Imam-imam mengangkat tabut Tuhan dan sungai Yordan berhenti mengalir.

b. Imamat 10:1-7, Nadab dan Abihu mati karena tidak menghormati Allah dengan membawa api asing di hadapan Tabut Tuhan.

c. 2 Samuel 5:1-12,Bangsa Filistin merampas tabut Allah dan dibawa ke Asdod, ditaruh di rumah berhala Dagon, di sisi patung Dagon. Pagi hari, ketika orang Filistin melihat patung Dagon sudah tersungkur di depan tabut Tuhan maka mereka menaruhnya kembali dan esok hari patung Dagon itu tersungkur dengan kepala dan lengan putus.

d. 2 Samuel 6:1-9, Daud berniat membawa tabut Tuhan ke Yerusalem kota Daud dengan cara menaikkan ke atas kereta lembu baru. Ketika lembu tergelincir dan Uza mau menjaga tabut Tuhan supaya tidak jatuh maka Tuhan murka dan Uza mati. 2 Samuel 6:10,11 oleh karena peristiwa kematian Uza, Daud titipkan tabut Tuhan di rumah Obed Edom selama 3 bulan. Obed Edom tidak berbuat seenaknya dengan tabut Tuhan, tetapi menjaga diri terhadap tabut Tuhan. Dan Obed Edom diberkati Tuhan. Maka 2 Samuel 6:12-16, Daud membawa tabut Tuhan ke kota Daud dengan sikap hormat kepada Tuhan. Dan setiap pembawa tabut berjalan 6 langkah, Daud persembahkan kepada Tuhan korban sembelihan. Daud memuji dan memuliakan Tuhan dengan menari-nari di hadapan Tuhan. 2 Samuel 6:17, setelah tabut Tuhan tiba di Yerusalem, kota Daud, Daud membentangkan sebuah Kemah bagi tabut Tuhan, dalam Kisah Rasul disebut Pondok Daud. Dan yang menarik dalam Kisah 15:1-21, saat rasul-rasul rapat di Yerusalem membahas hal-hal yang harus dihindari oleh pengikut Yesus, Kisah 15:16, Yakobus mensitir nubuat nabi: “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan.” Jadi pondok Daud akan dibangun kembali.

SEPERTI APA PONDOK DAUD?
Ritual pondok Daud berbeda dengan ritual yang dilakukan di Kemah Tabernakel. Dalam Kemah Tabernakel para imam harus melewati ritual, yaitu melalui:
1. Halaman luar
2. Halaman dalam
3. Ruang Kudus
4. Ruang Maha Kudus hanya Imam Besar yang dapat masuk untuk berhadapan dengan Allah dan melakukan syafaat untuk pengampunan umat Allah.

Berbeda dengan Pondok Daud (2 Samuel 6:17,18). Dalam Kemah/Pondok Daud, tidak ada peralatan apa-apa, hanya sebuah tenda dan Daud meletakkan tabut Tuhan di tengah-tengah pondok. Dalam pondok Daud, tidak ada upacara (ritual) seperti yang dilakukan oleh imam di kemah Tabernakel. Di Kemah – Pondok Daud hanya ada pujian penyembahan. Sebagai rasa syukur, Daud mempersembahkan kepada Tuhan korban bakaran dan korban keselamatan dan Daud adakan perjamuan kasih dengan membagi-bagi seketul roti, sekerat daging dan sepotong kue kismis kepada umat Allah.

MAKNA PONDOK DAUD MASA KINI
Berbicara tentang pondok Daud, sebenarnya ini menggambarkan tentang manusia yang telah putus (kehilangan) hubungan dengan Allah akibat dosa dan manusia tidak bisa menikmati kembali hubungan  yang intim dengan Allah seperti di Taman Eden selain oleh karya kematian Yesus di kayu salib. Yesus perlihatkan hal ini kepada Yohanes di pulau Patmos dalam Wahyu 4:1-11. Formasinya persis seperti di kota Daud dalam Pondok/Kemah Daud, tidak ada perangkat seperti di Kemah Tabernakel. Karena Yesus sudah genapi semuanya di kayu salib. Bahkan sebagai orang-orang percaya, kita telah diampuni, disucikan dan dibenarkan oleh darah Yesus, kita bisa menikmati hubungan yang erat dengan Yesus sekarang, bukan hanya nanti kalau kita sudah ada di sorga. Seperti yang tertulis dalam Kolose 1:27, bahwa Kristus ada ditengah-tengah umatNya, bukan secara fisik tetapi secara Roh, Dia ada bersama kita.

  • Secara pribadi – 1 Korintus 6:19, tubuh kita adalah tempat Allah berdiam/berkemah. Jadi dimana pun kita berada, kita bisa menikmati persekutuan dalam Roh dengan Tuhan Yesus.
  • Secara komunal – Hubungan yang akrab dan intim dengan Tuhan Yesus bisa kita alami secara komunal, dalam persekutuan atau perhimpunan Ibadah Raya, Wadah, Kemah (Matius 18:20). Dan dijelaskan dalam 1 Korintus 3:16 bahwa Allah ada dalam perhimpunan jemaat.
  • Secara universal – Persekutuan yang erat dan intim dengan Yesus secara massal (universal), kita akan mengalaminya pada waktu kita ada di sorga dalam kemuliaan Bapa, Putra dan Roh Kudus, Wahyu 4:1-11.

Jadi saat kita berdoa, memuji dan menyembah Dia dengan penuh kesungguhan serta kerinduan, baik secara pribadi atau bersama, disana Kristus ada bersama kita dan diam didalam diri kita. Sebab itu dalam beribadah biarlah kita menghormati Dia, bukan hanya saat firman disampaikan, tetapi juga saat pujian dan penyembahan dinaikkan kepada Allah. Tuhan rindu kita bersekutu erat dengan pribadi-Nya.

JEMAAT YANG MELAYANI TUHAN – Oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 27 Oktober 2019)

Kolose 1 : 24 – 29

PENDAHULUAN
Dalam pembahasan 3 minggu lalu, dalam tema menderita bagi Kristus, dijelaskan bahwa Allah dapat melihat kualitas kekristenan orang percaya melalui kesetiaan, korban, pelayanan dan dari banyak hal. Dan salah satunya juga dapat terlihat melalui penderitaan yang dialami.  Sudah dijelaskan bahwa ada 3 tingkat penderitaan kekristenan, yaitu:

1. Menderita karena kejahatan sebab dosa dan pelanggaran
Mereka yang menderita dalam tahap ini adalah kristen KTP. Artinya, fisik mereka pergi ke gereja, namun kehidupan kekristenannya tidak sungguh-sungguh pada Tuhan, melainkan hidup dalam dosa dan jika mereka terus berbuat dosa sampai hari matinya, mereka akan masuk dalam neraka.

2. Menderita supaya taat
Inilah tipikal kristen yang sudah hidup dalam Yesus, namun masih mengalami banyak teguran dan hajaran dari Tuhan. Mereka diumpamakan seperti domba yang mengikuti gembala, namun masih melenceng. Artinya, ia sangat mudah terpengaruh, seperti domba yang  ikut-ikutan dengan domba yang lain dalam melakukan pelanggaran. Sehingga gada gembala harus digunakan pada domba tersebut, supaya tidak melenceng. Bahkan kadang tongkat gembala menarik dia agar kembali kepada kelompok dombanya. Inilah kekristenan yang terus ditegur Tuhan, agar menjadi Kristen yang taat dan tunduk kepada Tuhan.

3. Penderitaan karena rindu melihat ada jiwa-jiwa yang diselamatkan
Seperti sebuah kisah dalam Markus 2:1-12, tentang empat orang yang membawa seorang lumpuh kepada Yesus agar disembuhkan. Mereka tidak putus asa dalam melayani orang yang lumpuh itu. Bahkan mereka melewati atap rumah untuk membawa orang lumpuh itu kepada Yesus dan tentunya mereka bersepakat untuk memperbaiki kembali atap rumah yang telah mereka bongkar.

MELEPAS MILIK KITA
Untuk menjadi pengikut Yesus yang sejati, kita tidak hanya dituntut mengikuti jejak Yesus dengan tepat dan benar, tetapi kita juga dituntut bersedia menderita dengan memberi, menolong dan melayani orang-orang/jemaat yang membutuhkan pertolongan kita. Markus 10:45, sebagaimana Yesus menderita untuk kita dan melayani, demikian juga kita dipanggil untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Hanya orang yang dewasa rohaninya yang dapat melalui penderitaan ini. Sebab melayani bukan karena pujian,  tetapi ada kritik juga.

PELAYANAN PAULUS
Rasul Paulus memberi contoh kepada jemaat di Kolose, bagaimana ia rela menderita bagi jemaat. Kolose 1:25 “Aku telah menjadi PELAYAN jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu”. Spesifikasi  pelayanan  Paulus adalah meneruskan firman Tuhan kepada jemaat. Firman Tuhan seperti apa yang Paulus teruskan ke jemaat Kolose?

Kolose 1:26 “…yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya.” Suatu rahasia yang tersembunyi dan rahasia tersembunyi itu adalah Firman Allah, yang selama ini tersembunyi lalu dibukakan di dalam Yesus. Mulai dari konsep:

  1. Keselamatan
  2. Hidup yang berkenan kepada Tuhan
  3. Akhir zaman
  4. Kedatangan Yesus ke dua kali
  5. Hidup kekal di Surga

Kelima hal ini sudah ada di hati  Allah dan telah direncanakan Allah dalam kekekalan, tetapi tersimpan (tersembunyi) berabad-abad di dalam Perjanjian Lama. Kemudian dinyatakan Allah di zaman akhir, yaitu zaman Perjanjian Baru. Dan rahasia Allah ini diberikan Tuhan kepada Rasul, Nabi, Pemberita Injil, Gembala, Pengajar-pengajar dan Guru. Mereka semua meneruskan kepada jemaat agar jemaat hidup sesuai dengan firman Tuhan, berkenan kepada Tuhan, menjadi pengikut Yesus yang sejati dan masuk dalam kemuliaan.

KONSEP KESELAMATAN
Konsep keselamatan oleh Yesus, sebenarnya sudah dinyatakan Allah berabad – abad lalu, bahkan sudah dinyatakan  Allah :

  • Di Taman Eden, sejak manusia (Adam – Hawa) jatuh dalam dosa
    Perhatikan, setelah manusia jatuh dalam dosa, pertama-tama, Allah berkata kepada Hawa dalam Kejadian 3:13,14 “Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah engkau perbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan. Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada ular itu:“Karena engkau berbuat demikian terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar  dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu.”

 Dan Allah menyatakan konsep keselamatan di dalam Yesus kepada Adam dan Hawa dalam Kejadian 3:15a “Aku (Allah) akan mengadakan permusuhan antara engkau (Iblis) dengan perempuan ini (Hawa), antara keturunanmu (keturunan Iblis) dan keturunannya (Keturunan Hawa).”

Siapakah yang dimaksud Allah dengan keturunan Iblis dalam Kejadian 3 tersebut? Jika kita perhatikan dalam Matius 26:24, dituliskan bahwa Anak Manusia, yaitu Yesus akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang oleh orang tersebut Yesus itu diserahkan. Jadi keturunan iblis yang dimaksud adalah ia yang menyerahkan Yesus sehingga disalib, yaitu Yudas Iskariot. Mengapa Yudas sampai tega melakukan dosa yang begitu jahat dan keji kepada Yesus? Karena Yudas membuka hati bagi Iblis untuk dipakai menjadi alat Iblis sehingga Iblis bisa melaksanakan rencananya kepada Yesus. Apa hanya berdosa seperti Yudas, orang bisa disebut keturunan Iblis? Dalam Yohanes 8:44 lebih jelas dituliskan, bahwa keturunan iblis adalah mereka yang melakukan keinginan-keinginan iblis, tidak  hidup  dalam kebenaran dan berkata dusta sesuai kehendak iblis. Itulah yang dimaksud keturunan Iblis.

Sedangkan keturunan Hawa adalah Yesus.  Karena Yesus akan meremukkan kepala ular atau iblis di atas kayu salib dan iblis akan meremukkan tumit-Nya, yaitu meremukkan tumit Yesus lewat kematian Yesus di atas kayu salib. Jadi konsep keselamatan sudah diberitahukan jauh sebelum Yesus datang ke dunia.

  • ABRAHAM PERSEMBAHKAN ISHAK
    Berikutnya, konsep kematian Yesus juga diberitakan melalui peristiwa pengorbanan Ishak oleh Abraham di gunung Moria,  Kejadian 22:1-19. Ishak harus mati karena tuntutan Tuhan. Tapi, karena adanya domba pengganti, Ishak luput dari kematian dan menjadi pewaris Abraham. Dalam kisah tersebut menggambarkan bahwa seharusnya kitalah yang binasa, karena tuntutan Tuhan kepada manusia. Roma 6:23, upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah Yesus sebagai domba pengganti diberikan secara cuma-cuma kepada kita dan oleh domba penganti, yaitu Yesus, kita yang percaya menerima hidup yang kekal.
  • ISRAEL DIJAJAH DI MESIR
    Israel dijajah di Mesir selama 400 tahun. Dengan usaha apapun tidak mungkin mereka dapat bebas dari kekuasaan Firaun. Satu-satunya jalan adalah Allah mengadakan Paskah (simbolik), dimana anak domba disembelih dan darahnya diolesi pada tiang dan ambang pintu. Maka setiap rumah yang memiliki tanda darah domba akan selamat sedangkan yang tidak memiliki tanda akan binasa termasuk orang Mesir.

Inilah konsep keselamatan yang sekarang telah dinyatakan dalam Roma 10:9,10 yaitu percaya dalam hati dan mengaku dengan mulut akan diselamatkan. Oleh karena keselamatan yang sudah kita terima, wajiblah kita melayani sesuai dengan kapasitas yang Tuhan berikan. Meskipun pelayanan setiap anggota jemaat kepada Tuhan tidak sama, Efesus 5:23,30. Kristus adalah Kepala dan Jemaat adalah Tubuh Yesus. Peran dan fungsi setiap anggota tubuh  berbeda  satu  dengan  lainnya (Roma 12:4,5). Kita bisa melayani seperti yang dilakukan oleh empat orang yang mengusung orang lumpuh untuk dibawa kepada Yesus, dan kita bisa melayani seperti pengikut Yesus, yang digambarkan seperti kawanan domba yang dibanggakan dan ditempatkan di sebelah kanan Yesus, Matius 25:34-40. Tetapi jangan sampai kita seperti pengikut Yesus yang digambarkan seperti kawanan kambing, yang ditempatkan di sebelah kiri Yesus di mana mereka dimasukkan ke dalam tempat yang disebut siksaan kekal, Matius 25:35-46.

CONTOH
1. Contoh yang baik: orang yang memberi pakaian kepada Yesus. Namanya Tabita, bahasa Yunaninya Dorkas, Kis. 9:36-39.
Ia tidak memberikan pakaian fisik kepada Yesus, melainkan sebagai pengikut Yesus, Dorkas peduli akan kebutuhan para janda dan Dorkas memberi pakaian hasil jahitannya kepada para janda.

2. Contoh yang tidak baik: orang yang tidak memberi makan Yesus. Orang kaya (Mr. X – Matius 16:23a)
Lazarus dan orang kaya itu akhirnya mati, lalu dikubur. Orang kaya itu menderita sengsara di alam maut dan dari jauh dilihatnya Abraham dan Lazarus duduk di pangkuannya. Orang kaya ini mengalami siksaan. Orang kaya ini adalah orang percaya Yesus namun ia tidak meningkatkan imannya sampai pada kesempurnaan, sebaliknya imannya semakin merosot.

Pertanyaannya mengapa Tabita (Dorkas) namanya dicatat dan orang kaya tidak? Sebab hanya orang yang namanya dicatat dalam buku kehidupan yang akan masuk sorga, tidak bagi yang namanya dihapus. Mengapa dihapus? Bukan karena belum percaya kepada Yesus, tetapi karena imannya mati (Yakobus 2:20,26).

Iman yang mati adalah iman yang tidak mengalami pertumbuhan atau peningkatan, dari iman kepada kebajikan dan terus sampai kasih Agape melainkan menurun bahkan hidup sama seperti orang yang tidak mengenal Tuhan.