Kebahagiaan Sejati – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 24 November 2019)

Hampir semua orang yang hidup di dunia ini ini tujuan hidupnya mencari dan memiliki kebahagiaan. Itu sebabnya mereka bekerja pagi, siang, sore sampai malam untuk mendapatkan sesuatu demi mencapai sebuah kebahagiaan. Namun apakah mereka memiliki kebahagiaan yang sejati?

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan hal jasmani/ lahiriah
Kebahagiaan sejati tidak dapat diukur dengan hal-hal jasmani atau lahirnya kecantikan seseorang yang dapat membuatnya berbahagia. Namun fisik manusia dapat berubah seiring dengan perubahan tersebut sehingga hilang juga kebahagiaan yang didapat dari hal-hal fisik.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan materi
Kebahagiaan sejati tidak dapat diukur dengan materi sebanyak apapun materi yang dimiliki. Memang materi dapat memenuhi kebutuhan orang tersebut bahkan hal-hal yang menyangkut kesenangan seperti membeli sesuatu ataupun dapat berlibur untuk menikmati kebahagiaan. Namun kita harus menyadari bahwa materi sewaktu-waktu dapat hilang dicuri orang dan lain dan sebagainya. Seiring hal tersebut terjadi, hilang juga kebahagiaan yang sudah pernah didapatkan.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan perasaan
Kebahagiaan sejati tidak juga didapat dari perasaan senang, gembira atau apapun yang kita bisa dapatkan. Mengapa? karena perasaan kita begitu cepat berubah seiring perubahan situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan, kebahagiaan tersebutpun dapat berubah menjadi kesedihan.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan kedudukan
Begitu juga dengan kedudukan yang bersifat sementara. Banyak orang meraihnya untuk memperoleh kebahagiaan, penghormatan, dihargai dan diakui. Namun pada kenyataannya setelah kedudukan tersebut hilang, hilang juga kebahagiaan yang ada.

Semuanya sementara
Kita harus mengakui bahwa hal-hal materi, fisik, lahiriah, jasmani, perasaan, kedudukan hanyalah sesuatu yang bersifat sementara, yang tidak dapat menjamin bahwa kebahagiaan yang kita miliki bersifat permanen.

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki hal-hal tersebut, apakah mereka pasti tidak berbahagia ? Belum tentu. Itulah sebabnya mengapa hal-hal tersebut tidak dapat menghasilkan kebahagiaan sejati.

Blessed – Diberkati
Dalam salinan bahasa Inggris kata berbahagialah disini disalin dengan menggunakan kata Blessed, yang artinya diberkati. Kata diberkati ini tidak terhubung dengan sumber yang berasal dari dunia ini tetapi dari Tuhan.

Dan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan terhubung dengan spiritual kita yaitu roh manusia kita. Jadi jikalau kita mau mengalami kebahagiaan sejati perhatikanlah kebutuhan roh manusia kita.

Bagaimana memiliki “Kebahagiaan Sejati” menurut Mazmur 1 ini?
1. Jangan berjalan menurut nasihat orang fasik, jangan berdiri dijalan orang berdosa dan jangan duduk dalam kumpulan pencemooh.

Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan mungkin saja mendengar ada unsur kebahagiaan yang terdapat pada nasihat orang fasik atau juga karena melihat kebahagiaan dari cara hidup orang berdosa atau juga mendapat kesenangan ketika duduk dalam kumpulan pencemooh yang merasa dirinya lebih benar dari orang lain.

Namun nasehat firman Tuhan sangat jelas, untuk memiliki Bahagia yang sejati, kita jangan terpengaruh untuk berada dalam keadaan-keadaan tersebut yang coba ditawarkan dunia kepada kita.

2. Kesukaan/kebutuhan utama kita adalah Firman Tuhan.
Jadi jika berkat ada hubungannya dengan pribadi Tuhan dan Tuhan yang adalah roh itu selalu berhubungan dengan roh manusia kita maka jika kita ingin mengalami kebahagiaan sejati, kita harus mengisi kebutuhan roh manusia kita dengan Taurat Tuhan atau firman Tuhan.

Dalam firman Tuhan tertulis ‘yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan’. Kesukaan bukan hanya sekedar seperti sebuah tawaran yaitu bisa kita terima atau kita tolak. Kesukaan merujuk kepada sebuah kebutuhan yang mau tidak mau harus kita penuhi seperti orang yang membutuhkan makanan dan minuman untuk setiap hari. Jika untuk makanan jasmani saja kita membutuhkan makanan paling sedikit 3 kali sehari dan minuman kurang lebih 8 liter, lalu bagaimana dengan makanan rohani kita?

Apakah kita berpikir cukup untuk memenuhi kebutuhan rohani kita hanya seminggu sekali? Bayangkan kekuatan apa yang kita bisa dapatkan dalam spiritual kita jika menyukai firman Tuhan hanya seminggu sekali. Sedangkan hampir setiap hari kita menemui dan dipenuhi banyak persoalan, pergumulan dan masalah dalam kehidupan. Darimana kekuatan kita untuk bisa bertahan dan menang menghadapi hal-hal tersebut?

Jadi untuk mengalami kebahagiaan sejati kita juga harus menyukai firman Tuhan setiap hari. Kita membutuhkan manusia roh kita kuat dan stabil untuk dapat mempengaruhi jiwa kita yang selalu mengalami tekanan perubahan yang berasal dari perubahan yang muncul dari hal-hal lahiriah atau jasmaniah. Sehingga jiwa kita dapat stabil ketika menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Satu-satunya yang ‘sangat-sangat’ stabil di dalam dunia ini adalah Firman Tuhan. Yesus berkata langit dan bumi akan berlalu tetapi firman Tuhan tidak akan berlalu. Langit dan bumi akan tergoncang dan satu-satunya yang tetap stabil tidak akan tergoncang adalah Firman Tuhan yang hidup dan berkuasa.

3. Lebih lanjut kebahagiaan sejati didapatkan ketika kita merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam
Salah satu kebutuhan manusia roh kita yaitu firman Tuhan namun firman Tuhan yang kita dengar harus melewati banyak tantangan seperti ketika seorang penabur menaburkan benih firman Tuhan. Hanya satu jenis tanah yang baik dari 4 jenis tanah yang ada.

Demikian juga ketika kita mendengar firman Tuhan tantangan utamanya adalah bahwa tubuh kita tidak menyukainya. Apalagi ketika tubuh kita sedang lelah atau sakit, sulit bagi Firman itu untuk dapat sampai masuk ke dalam roh manusia kita. Belum lagi tantangan yang harus dihadapi dimana firman Tuhan yang kita dengar harus dapat menembus jiwa kita. Di dalam jiwa kita ada pemikiran-pemikiran logika manusia yang terkadang menolak Firman yang kita dengar dengan alasan yang logis. Belum lagi Firman itu harus menembus perasaan-perasaan kecewa, kepahitan dan luka-luka batin yang terdapat pada perasaan manusia. Jadi jalan keluarnya adalah (mau tidak mau) Firman yang kita dengar harus kita renungkan siang dan malam.

Merenungkan Firman sama seperti hewan Ruminansia (mamalia) memproses makanan yang dimakannya. Hewan ruminansia dapat mengunyah atau memamah makanannya melalui dua fase. Fase pertama terjadi pada saat awal makanan masuk, makanan hanya dikunyah sebentar dan masih dalam tekstur yang kasar. Selanjutnya makanan akan disimpan di dalam rumen lambung. Fase kedua yaitu ketika rumen sudah penuh, hewan ruminansia akan mengeluarkan makanan yang dikunyahnya tadi untuk dikunyah kembali hingga teksturnya lebih halus. Kemudian makanan akan masuk ke dalam lambung lagi untuk diteruskan ke usus halus yang berfungsi menyerap sari-sari makanan yang telah diproses di dalam lambung. Sari-sari makanan yang diserap kemudian diedarkan ke seluruh tubuh dan diubah menjadi energi.

Demikian juga seharusnya proses perenungan Firman sampai kepada Firman itu menjadi Rhema yang memberkati diri kita, yang memberi makan manusia roh kita untuk menjadi kuat dan sehat.

Beberapa langkah merenungkan firman antara lain:

  • Memikirkan Firman (think)
  • Mendeklarasikan Firman (declare)
  • Membicarakan Firman (talk)
  • Menyanyikan Firman (sing)

Contoh: Mazmur 1:3 (TB)
“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

  • Setelah kita mendengar atau membaca ayat tersebut kita taruh dalam ingatan kita kemudian di manapun kita berada ada atau sedang melakukan apapun kita ingat kembali ayat tersebut mengucapkannya berulang-ulang dalam hati ataupun dengan suara yang kecil.
  • Setelah kita merasakan diberkati oleh ayat tersebut kita deklarasikan bagi diri kita dengan penuh keyakinan bahwa ayat tersebut mengingatkan kita bahwa orang yang mengalami kebahagiaan sejati, ia seperti pohon yang ditanam di tepi air.
  • Setelah kita merasa diberkati dengan ayat tersebut kita perlu membagikannya baik lewat sosial media ataupun membicarakannya dengan rekan-rekan kita di manapun kita berada.
  • Kita juga dapat menyanyikan ayat tersebut ketika kita sedang berdoa dan menyembah Tuhan sehingga ayat tersebut benar-benar tercerna sampai ke dalam manusia roh kita. Saya yakin dan percaya ayat tersebut menjadi hidup dan mulai menguasai hati dan pikiran kita yang berdampak pada tindakan kita yang sesuai dengan firman Tuhan.

Orang yang mengalami kebahagiaan sejati, seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Keadaan dan situasi bisa berubah, semua musim kehidupan dapat terjadi pada orang benar, namun ia tetap mengalami kebahagiaan sejati, mengapa? Karena perenungannya firman Tuhan akan dapat melewatinya dengan penuh kemenangan.

Selanjutnya kualitas kebahagiaan dan kehidupan orang fasik begitu ringan. Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Mereka tidak akan tahan dalam ujian kehidupan, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; di penghujung dari semuanya, jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Ulangan 6:6-9 (TB)
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *