My Heart Longs For Christmas – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Natal Sore – Rabu, 25 Desember 2019)

Matius 2:9-12

PENDAHULUAN
Ada kerinduan yang begitu besar dalam hati para Majus untuk bertemu Yesus dan mempersembahkan yang mereka miliki bagi Yesus yaitu emas; kemenyan dan mur. Dan Yesus dapat merasakan kerinduan yang ada di hati para Majus saat itu. Sebab walaupun Yesus masih bayi, IA adalah pribadi badi Allah yang berdiam didalam diri manusia Yesus. Jadi Yesus tahu apa yang dirasakan oleh para Majus. Pertanyaannya adalah apakah saat ini Yesus dapat merasakan getaran kerinduan para majus yang sama, ada didalam diri kita? Karena ada sekian banyak orang percaya yang merayakan natal, adakah yang rindu mempersembahkan sesuatu bagi Yesus?

Mengenai persembahan, mungkin kita selama ini sudah memberikan persembahan kepada Allah berupa talenta, tenaga termasuk kekayaan kita. Namun yang Yesus rindukan bukan hanya persembahan itu saja, Roma 12:1. Yesus rindu kita memberikan persembahan yang terbaik adalah seluruh hidup kita, persembahan hidup yang berkenan kepada Allah sehingga saat Yesus datang kedua kali, kita didapati seperti  para  Majus  yang  mempersembahkan hidup bagaikan emas yang murni; kemenyan terbaik dan mur yang berharga dihadapan Yesus.

BAGAIMANA KONDISI KITA?
Kalau kita lihat diri kita, kira-kira seperti apakah kondisi kita?  Bila Yesus datang, apakah kita siap mempersembahkan diri kita, bagai emas murni, gambaran dari seorang perawan suci bagi Yesus mempelai laki-laki? 2 Korintus 11:2,3. Sebuah ilustrasi raja Salomo untuk menggambarkan Gereja Yang Kudus dan Tidak Bercacat. Dalam Amsal 25:4 “Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah benda yang indah (mulia) bagi pandai emas.” Sanga, adalah sejenis logam yang terkandung dalam logam mulia (emas – perak). Dan, STATUS SANGA, adalah menjadi KOTORAN, di dalam logam mulia. Artinya perhiasan yang masih mengandung sanga, perhiasan tersebut belum murni (masih kotor). Ada beberapa jenis logam sebagai sanga, tembaga, timah putih, besi dan timah hitam. Allah tidak ingin kehidupan orang percaya memiliki sanga atau justru menjadi sanga itu sendiri seperti bangsa Israel dihadapan Yesus. Yehezkiel 22:18,  Tuhan menyamakan Israel seperti sanga dituliskan “Hai anak manusia, bagiKu kaum Israel sudah menjadi sanga…; mereka seperti sanga perak.” Dihadapan Allah mereka seperti kotoran karena hidup yang tidak berkenan dihadapan Allah. Jadi, bagaimana kondisi kita? Apakah masih ada sanga ataukah kita yang menjadi sanga itu sendiri? Sanga harus dibuang.

Jika pandai emas yang malas, membiarkan sanga dalam logam mulia. Hasilnya, perhiasan tidak berkualitas dan nilai jualnya rendah. Sebaliknya pandai emas yang rajin, membuang sanga yang ada dalam logam mulia. Hasilnya, ia memiliki perhiasan berkualitas.

Rasul Paulus juga memberikan ilustrasi kepada Timotius untuk menjelaskan Gereja Yang Mulia – Sempurna dalam 2 Timotius 2:20. Bahwa dalam rumah terdapat berbagai jenis perabot, ada emas, perak, tapi ada  perabot  yang  terbuat  dari  bahan kayu dan tanah liat. Perabot mulia, diperuntukan bagi maksud mulia. Tetapi, perabot yang kurang mulia (kayu dan tanah liat), diperuntukan bagi maksud yang kurang mulia. Rumah yang besar dan perabot yang dimaksud bukan perabot yang jasmania melainkan:

  • Rumah yang besar, yang dimaksud adalah gereja lokal – jemaat
  • Perabot, yang dimaksud adalah diri kita dan anggota jemaat lainnya dalam gereja lokal.

Secara kasat mata, hampir tidak ada bedanya antara individu anggota  jemaat  yang satu dengan anggota jemaat lainnya dalam Jemaat  Lokal. Tetapi, Yesus sanggup melihat  dan  membedakan, mana jemaat yang berkualitas emas, perak dan mana anggota jemaat yang berkualitas kayu dan tanah liat. Jika kita menilai diri sendiri, kira-kira kualitas kita seperti apa di hadapan Yesus? Berapa lama kita ada di rumah yang besar? Sejauh mana perubahan yang saudara alami? Seharusnya kualitas rohani kita berubah jadi semakin mulia, bukan sebaliknya. Sebab rasul Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:16, kualitas kita harus semakin bertambah. Bukan seperti rumah jasmani, yang dibeli. Contohnya perabot dari kayu, tanah liat (keramik) yang diletakkan di rumah. Berapa pun lamanya perabot itu diletakkan, ia tidak akan berubah jadi mulia. Sebaliknya, perabot itu bisa merosot, rusak bahkan hancur. Namun gereja Tuhan yang ada dalam  rumah yang besar yaitu, gereja lokal (Rumah Rohani – Rumah Pemulihan). Tidak sedikit orang, yang  pada awalnya ia percaya, kondisi rohaninya seperti tanah  liat  bahkan  seperti  lumpur. Tetapi  oleh  Firman  Allah  dan  Roh Kudus, diubah jadi mulia seperti  emas atau perak yang mulia.

SIAP DIPROSES
Sekarang, apa yang harus dilakukan supaya selama masih hidup/diberi waktu oleh Tuhan ada di rumah yang besar, yaitu gereja lokal, kita benar-benar diproses dan dibentuk Tuhan menjadi perabot yang mulia dan diperuntukan bagi maksud yang mulia? 2 Timotius 2:21, Perhatikan kalimat “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat.” Jadi untuk dapat menjadi perabot yang mulia, maka kejahatan dan dosa harus dibersihkan dengan firman Allah dan Roh Kudus. Oleh karena itu, saat beribadah jangan perhatian kita dialihkan dengan apapun termasuk handphone. Sebab firman yang didengar akan menyadarkan kita dan saat kembali ke rumah serta beraktivitas, kita ingat firman tersebut serta melakukannya. Roh kudus memampukan untuk melaksanakan. Dan bila terus dilakukan, lambat laun hidup kita semakin serupa dengan Kristus karena kejahatan dan dosa, seperti sanga yang membuat kualitas hidup kita kotor serta merosot dan firmanlah yang menguduskannya.

KUALITAS GEREJA SEMPURNA
Kitab Wahyu menjelaskan tentang Gereja Sempurna dalam Wahyu 21:2 dengan dua gambaran:

  1. Seorang Pengantin Perempuan yang berdandan untuk melayani suaminya, Efesus 5:27.
  2. Kota Yang Kudus, yang bernama Yerusalem Baru, Wahyu 21:10.

Seperti apa kemuliaan Kota Yang Kudus, bernama Yerusalem Baru, yaitu Gereja Sempurna? Perhatikan Wahyu 21:16-22:
1. Kota empat segi, Wahyu 21:16
Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan Ia mengukur kota itu dengan tongkat itu dua belas ribu mil; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama. Bentuknya seperti ruang maha kudus yang ada di Tabernakel, suatu tempat dimana Allah bertahta. Jadi gereja sempurna adalah tempat Allah berdiam, disana ada kemuliaan dan kekudusan Allah.

2. Tembok kota, Wahyu 21:18
Tembok itu terbuat dari permata Yaspis dan kota itu sendiri  dari  emas  tulen, bagaikan kaca murni.

3. Dua belas pintu, Wahyu 21:21,22
Kota itu memiliki dua belas pintu gerbang dan masing-masing memiliki satu mutiara dan jalan-jalan kota itu emas murni bagaikan kaca bening. Mutiara memiliki nilai yang sangat tinggi karena prosesnya. Mutiara tercipta karena ada butiran-butiran pasir yang masuk dalam kerang. Ketika kerang itu terisi dengan pasir maka ia akan membungkus dirinya dengan cairan yang khusus sehingga lambat laun menjadi mutiara. Penderitaan yang kita alami selama hidup di dunia ini akan membentuk kita menjadi gereja yang berkualitas dan mulia.

Biarlah hati kita terus merindukan Yesus dan hidup dalam kehendak Tuhan sehingga lewat proses yang dihadapi kualitas kita semakin mulia dan digunakan untuk maksud yang mulia. Penderitaan adalah jalan menjadi sama seperti Yesus. Semakin mulia dan indah dihadapan Tuhan menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *