MENAPAKI HARI BERSAMA TUHAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 20 Desember 2020)

Matius 2:1-12

Pendahuluan
Tidak terasa kita sudah berada dipenghujung tahun 2020, 10 hari lagi kita akan tinggalkan tahun ini dan memasuki tahun baru 2021. Tentunya ada banyak pengalaman yang telah kita lalui sepanjang tahun ini, lebih-lebih tahun ini menjadi tahun yang tersulit yang pernah kita lalui karena pandemi Covid yang terjadi. Apapun keadaannya, kehidupan harus tetap berjalan. Sesulit apapun kondisi yang kita alami, hidup ini tidak boleh berhenti. Kita harus tetap menjalani hidup ini hingga garis akhir perjalanan nanti. Itulah sebabnya pada hari ini kita akan belajar bagaimana menapaki hari-hari kedepan bersama dengan Tuhan.

Matius 2:1-12
Dikisahkan bahwa  sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem. Melalui tuntunan bintang mereka mencari bayi Yesus yang baru dilahirkan. Meski perjalanan yang ditempuh sangat jauh, menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan diperjalanan, serta menghabiskan banyak uang dan perbekalan, pada akhirnya rombongan orang-orang Majus ini berjumpa dengan Yesus bersama Maria dan Yusuf di rumahnya. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. Itulah kisah perjalanan orang-orang majus yang mencari Yesus.

Sebelum kita membahas kisah perjalanan orang majus ini, marilah kita melihat terlebih dahulu, siapakah yang disebut orang-orang Majus ini.

Tentang orang majus
Ayat 1  Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem

Orang-orang Majus : dalam bahasa Yunani ditulis dengan kata magoi (bentuk jamak dari magos), tetapi Alkitab tidak memberitahukan siapa sebenarnya mereka. Para penerjemah biasanya menerjemahkannya dengan “orang-orang bijaksana” (“wise men”) karena mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian tentang perbintangan dan ilmu lain.

Darimana orang-orang majus berasal?
Alkitab hanya memberi keterangan bahwa orang-orang majus ini berasal dari Timur. Kata Timur : ditulis dengan kata anatolē (“timur”), secara hurufiah berarti “tempat terbitnya matahari”, sehingga tepat jika diterjemahkan “timur”. Sebagian besar penafsir Alkitab menduga para majus berasal dari Babilonia atau Persia. Selain dari sisi geografis baik Babel maupun Persia sama-sama terletak di sebelah timur, dua kerajaan ini juga terkenal karena ilmu perbintangannya, apalagi di kemudian hari negara Babel juga dikalahkan oleh Media-Persia.

Jika kita memperhatikan tempat asal orang-orang majus ini dan jarak yang mereka tempuh, tentu perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah. Ada banyak kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi diperjalanan. Pada awalnya mereka melihat bintang di Timur sebagai penanda lahirnya seorang raja, lalu melalui pimpinan bintang itu mereka memulai perjalanan mencari raja yang baru dilahirkan. Rupa-rupanya bintang itu tidak selalu nampak menyertai perjalanan mereka, ada waktunya dimana bintang itu hilang sehingga mereka harus berjalan tanpa tuntunan bintang. Orang-orang majus harus terus berjalan meski tanpa tuntunan, arah dan alamat yang jelas sampai mereka menemukan raja yang baru dilahirkan. Puji Tuhan, oleh pertolongan Tuhan, pada akhirnya mereka menemukan Yesus dalam sebuah rumah bersama dengan orang tuanya.

Hidup adalah sebuah perjalanan.
Hidup adalah sebuah perjalanan, maka tugas kita hanya berjalan dan terus berjalan, hingga kita sampai di tempat tujuan. Perjalanan ini diawali saat kita dilahirkan dan akan diakhiri saat kita meninggalkan dunia ini. Pertanyaannya? Bagaimana cara kita mengakhiri perjalanan hidup ini dengan baik. Bagaimanakah cara kita memenangkan perjalanan yang kita lakukan. Melalui kisah perjalanan orang majus ini, marilah kita belajar menapaki hari bersama Tuhan sampai kita meraih keberhasilan.

Prinsip-prinsip menapaki hari bersama dengan Tuhan
1. Fokuslah kepada siapa yang menyertai, bukan jalan yang kita lalui.

Perhatikanlah ayat 2 dan 9
Mat 2:2  dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Mat 2:9  Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

Apakah yang membuat orang-orang majus ini berhasil menemukan Yesus? Karena mereka fokus kepada siapa yang menyertai, bukan jalan yang dilalui. Jika orang-orang majus ini memperhatikan jalan yang mereka lalui, kesulitan yang dihadapi dan tantangan yang dialami, tentu mereka akan berhenti menempuh perjalanan ini. Untunglah mata mereka tertuju kepada siapa yang menyertai bukan tantangan yang menghalangi. Kehadiran bintang di Timur adalah sebuah pertanda akan penyertaan Tuhan dalam perjalanan yang mereka lakukan.

Jika kita ingin berhasil dalam menjalani hidup ini, maka fokuskan perhatian kita kepada Tuhan yang menyertai bukan jalan yang kita lalui. Banyak orang gagal menjalani hidup ini, bukan kurangnya pengetahuan yang mereka miliki, bukan sedikitnya modal yang dimiliki atau ketiadaan relasi, tetapi karena mata mereka tertuju kepada jalan yang dilalui bukan Tuhan yang menyertai.

Banyak orang berhenti di tengah jalan karena tak tahan dengan tantangan dan kesulitan diperjalanan. Tidak sedikit mereka memilih untuk menyerah dan berhenti melangkah karena tak kuat menghadapi masalah.  Ketahuilah, selama mata dan perhatian kita hanya tertuju kepada jalan yang kita lalui kita akan berhenti, tetapi jika mata kita tertuju kepada Tuhan yang menyertai maka kita akan terus berjalan maju dan mengalahkan setiap tantangan, kesulitan dan hambatan satu persatu.

Berapa banyak diantara kita yang meyakini akan pernyertaan Tuhan dalam perjalanan yang sedang kita lakukan? Sadarilah, jika kita dapat menjalani tahun 2020 sampai hari ini, itu semua terjadi karena Tuhan menyertai. Di tengah-tengah kesulitan yang sedang kita hadapi karena pendemi, penyertaan Tuhan akan selalu menjadi jawaban. Orang-orang yang sadar akan penyertaan Tuhan selalu memiliki keberanian untuk menjalani kehidupan.

Mazmur 23:4
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Apa yang membuat pemazmur tidak pernah takut dengan jalan yang lalui? Bahkan ditengah-tengah lembah kekelaman sekalipun? Keyakinan akan penyertaan Tuhan.  Hidup yang kita jalani kadang-kadang menghantar kita berjalan dalam lembah kekelaman. Kita berada di jalan-jalan yang menakutkan, penuh mara dan bahaya, berdiri diantara hidup dan mati, kita berada dalam pilihan melangkah maju atau menyerah kalah, dipulihkan atau mengalami kehancuran. Jika itu yang sedang kita hadapai yakinlah akan penyertaan Tuhan. Percayalah, Tuhan tidak hanya menyertai kita di jalan yang tenang dan senang, tetapi Tuhan juga beserta di jalan yang menakutkan, sulit dan bahaya sekalipun.

Sebaliknya orang-orang yang tidak menyadari akan penyertaan, mereka akan mengalami ketakutan saat ujian dan kesulitan datang.

Mat 8:25, 26
Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

Murid-murid sedang bersama Tuhan Yesus. Mereka ada dalam satu perahu, satu perjalanan, namun sayangnya murid-murid tidak menyadari akan penyertaan Tuhan dalam diri mereka. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak ketakutan saat gelambong datang.

Jangan takut memasuki tahun baru 2021, Tuhan yang telah menyertai kita di tahun ini, Tuhan yang sama akan menyertai kita memasuki tahun baru yang akan datang. Percayalah akan penyertaan Tuhan yang memberikan kemenangan kepada anak-anakNya. Ingatlah, bukan kemana kita melangkah, tetapi dengan siapa kita melangkah.

2Tawarikh 32:7,8
“Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali.

Sadarkah kita bahwa saat kita merayakan natal disetiap bulan Desember, Pribadi yang kita rayakan yaitu Tuhan Yesus Kristus yang lahir di kandang Betlehem namanya disebut : “Imanuel”yang berarti: Allah menyertai kita.

Matius 1:23
“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.

Bahkan ketika Tuhan Yesus naik ke sorga, Dia berikan Roh Kudus untuk menyertai kita selama-lamanya.

Yohanes 14:16
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

2. Jangan berhenti, meski tantangan dan rintangan menghalangi.
Ayat 7  Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.

Karena tidak mengetahui alamat atau tempat dimana bayi Yesus dilahirkan, maka rombongan orang majus ini menuju istana Herodes dan bertanya dimana raja yang baru lahir itu. Bukannya mendapat jawaban yang melegakan, Herodes justru menginterogasi orang-orang majus ini. Dikatakan: dengan teliti Herodes bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.

Perjalanan yang ditempuh oleh orang-orang majus ini tidaklah mudah. Ada banyak kesulitan dan rintangan yang mereka hadapi dalam perjalanan, dan sekarang mereka menghadapi tantangan dari pihak kerajaan Herodes. Pertanyaanya, apakah mereka berhenti saat tantangan dan rintangan menghalangi? Tidak! Meskipun menghadapi banyak kesulitan dan tantangan namun orang-orang majus tetap berjalan maju hingga bertemu dengan bayi Yesus yang dilahirkan.

Sadarilah, bahwa tidak ada jalan mudah untuk meraih keberhasilan. Sukses itu butuh perjuangan kerja keras dan usaha. Sebab itu jangan menyerah meski pikiran dan tubuh telah lelah, jangan berhenti meski banyak tantangan yang menghalangi. Ingatlah: Orang-orang yang tidak mudah menyerah, tidak pernah kalah.

 2 Tawarikh 15: 7
tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”

 Ezra 10:4
Bangkitlah, karena hal itu adalah tugasmu. Kami akan mendampingi engkau. Kuatkanlah hatimu, dan bertindaklah!”

Apapun keadaan yang sedang engkau alami, janganlah berhenti untuk menjalani hidup ini. Kuatkanlah hati, teguhkan iman dan bangunlah kepercayaan kepada Tuhan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan engkau berjalan sendirian. Melangkahlah dengan penuh keberanian, yakinlah bersama Tuhan kita raih kemenangan. Tuhan memberkati. KJP!

Diselamatkan Untuk Menjadi Terang Kristus – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 13 Desember 2020)

Matius 5:13-16

PENDAHULUAN
Dalam perikop ini, Yesus sedang berbicara kepada murid-murid-Nya bahwa mereka (sekarang adalah kita sebagai pengikut Yesus/orang Kristen) digambarkan sebagai garam dan terang. Jadi, hidup kita didalam dunia ini harus menjadi terang dan garam. Apabila ada pengikut Yesus atau orang Kristen yang hidupnya tidak menjadi teladan, tidak menjadi berkat atau tidak menjadi contoh yang baik bagi lingkungan disekitarnya maka Yesus mengumpamakan mereka seperti:

1). Garam yang kehilangan asinnya.
Pada zaman dulu, bangsa Israel memakai batu yang diambil dari laut mati yang mengandung garam sebagai bahan untuk mengasinkan sesuatu. Batu tersebut berukuran kecil dan berongga seperti batu karang. Namun lama kelamaan batu ini akan kehilangan rasa asinnya kemudian dibuang ke halaman sehingga diinjak-injak orang.

2). Pelita yang menyala terang tetapi ditutup gantang dan diletakkan di bawah tempat tidur.
Artinya, sekalipun ada pelita namun karena ditutupi sehingga tidak menjadi berkat.

Setelah kita melihat hal-hal di atas, maka apakah relevansinya bagi perayaan natal? Yesaya 9:1 berkata “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.”

 Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa kelahiran Yesus ke dalam dunia seperti terang untuk menerangi kegelapan, sehingga hidup orang yang percaya kepada Yesus diterangi oleh terang Kristus dan tidak tinggal lagi dalam kegelapan. Dan orang yang menerima Yesus, ia akan menjadi pengikut Yesus yang sejati dan menjadi terang atau menjadi berkat bagi semua orang yang ada di sekitarnya. Hal ini memberi pengertian kepada kita bahwa setiap orang yang telah percaya kepada Yesus, orang tersebut tidak lagi hidup didalam dosa dalam seluruh aspek kehidupan dan perbuatannya. Selain itu, orang Kristen atau pengikut Yesus yang sejati, hidupnya pasti menjadi berkat bagi orang yang ada di sekitarnya.

PERISTIWA NATAL
Hal ini sangat erat kaitannya dengan peristiwa para Majus yang hidup di benua timur (Matius 2:1-12). Mereka menerima berita kelahiran Yesus bukan dari para malaikat seperti para gembala, tetapi orang majus menerima berita tentang kelahiran Yesus dari bintang-bintang yang bersinar dan terang bintang yang mereka lihat. Bintang itu mengisyaratkan atau menginformasikan kepada mereka bahwa telah lahir seorang Raja diatas segala raja yang harus disembah. Bintang itu menuntun para majus itu sampai mereka tiba di Bethlehem berjumpa dengan Yesus, dan mereka pun menyembah Yesus.

Pertanyaannya bagi kita adalah apakah hidup kita telah menjadi terang bagi orang di sekitar kita? Dan, apakah kita sudah membawa jiwa-jiwa yang masih hidup dalam dosa (kegelapan) kepada terang Kristus?

2000 tahun yang lalu, saat Yesus datang ke dalam dunia, secara khusus Allah telah menempatkan bintang di Timur untuk menuntun para Majus, sehingga oleh para Majus: Herodes, para imam dan seluruh penduduk Yerusalem mengetahui bahwa Yesus, Mesias itu telah lahir ke dalam dunia. Bagaimana dengan kita sebagai bintang-bintang yang Yesus tempatkan di dunla, dimasa akhir zaman ini? Apakah kita sudah berperan menjadi bintang yang bersinar terang di dunia ini?

HIDUP SEBAGAI BINTANG
Untuk menjadi bintang-Nya Yesus di akhir zaman, kita tidak perlu menjadi orang top di dunia ini. Tetapi, walaupun kita  orang yang sederhana, namun dengan beriman kepada Yesus maka Yesus dapat mengubah kita menjadi bintang-Nya! Yang jadi masalah adalah, apakah kita bersedia menyerahkan diri kita untuk dipulihkan Tuhan atau tidak?

SYARAT UNTUK MENJADI BINTANG
Filipi 2:15 berkata, “Supaya kamu tidak BERAIB dan tidak BERNODA, sebagai anak-anak Allah yang tidak BERCELA di tengah- tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu BERCAHAYA di antara mereka seperti BINTANG-BINTANG di dunia.”

Ada beberapa hal yang ditekankan oleh Paulus dalam ayat ini, yaitu:

  • BERAIB
    Seorang anak Tuhan seharusnya di dalam dirinya / hidupnya tidak ada lagi aib. Kata aib dalam bahasa Yunani ditulis: AMEMPTOS = hati kita benar-benar bersih atau murni dari semua yang jahat, sehingga siapa pun juga tidak dapat menemukan yang jahat di dalam diri orang itu.
  • BERNODA
    Sebagai pengikut Yesus seharusnya tidak ada lagi noda. Dalam bahasa Yunani ditulis: AKERAIOS, artinya hidup kita tidak bercampur lagi atau dicemari lagi oleh segala macam kejahatan yang ada di dunia ini sehingga, motivasi kita benar-benar bersih dan murni dari yang jahat.
  • BERCELA
    Sebagai pengikut Yesus, seharusnya hidup kita tidak ada lagi cela. Dalam bahasa Yunani ditulis: MOMOS artinya hidup kita seperti korban yang benar-benar berkenan dan layak di mezbah Tuhan.

Jadi, kita akan gagal menjadi “TERANG KRISTUS” di dunia ini, apabila ketiga hal ini yaitu: AIB, NODA dan CELA masih ada dalam diri kita. Untuk menjadi bintang, yang memancarkan kasih Kristus di tengah-tengah dunia ini. Setiap pengikut Yesus harus memancarkan kasih Yesus. Artinya, kita mengekspresikan kasih Kristus dalam perbuatan dan seluruh aktivitas hidup kita selama kita hidup di dunia ini.

Dalam Yesaya 58:8, Allah telah berfirman bahwa, “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu  dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.” Ini adalah janji Allah kepada bangsa Israel, namun bukan saja kepada mereka tetapi juga kepada kita yang percaya kepada Yesus. Tetapi, dengan cara apa ayat ini digenapi? Hal ini akan terjadi apabila kita melakukan hal-hal berikut ini: Yesaya 58:7 berkata, “Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”

Apabila kita mau bersinar terang maka ada syarat yang harus kita lakukan. Ayat ini memang dapat kita lakukan secara harafiahnya, namun selain itu dapat kita lakukan secara rohani.

1. Memecah-mecahkan roti
Kita menerima banyak roti yaitu Firman Allah melalui ibadah-ibadah yang dilakukan didalam gereja. Roti hidup yang kita terima yaitu Firman Allah, bukan hanya untuk diri kita, tetapi harus kita bagikan kepada mereka yang belum diselamatkan. Hanya Firman Allah yang di dalamnya ada berita tentang Yesus yang sangup menghidupkan dan menyelamatkan.

2. Membawa ke rumah orang miskin yang tak punya rumah
Yohanes 14:2 Yesus berkata: “Di dalam rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal!” Kita yakin, Yesus sudah menyediakan rumah bagi kita dl sorga. Tetapi ada banyak orang yang tidak memiliki rumah di sana. Oleh sebab itu, hal ini seharusnya hal ini menjadi beban untuk kita tanggung.

3. Memberi pakaian kepada yang bertelanjang
Ketika Adam dan Hawa berdosa, mereka bertelanjang di hadapan Allah sehingga mereka malu dan menyembunyikan diri. Lalu, Allah mengenakan pakaian dari kulit binatang sehingga Adam dan Hawa tidak malu lagi. Selama zaman Taurat, manusia dibenarkan dan dosanya diampuni bila mereka membawa korban binatang. Ini adalah teologi tipologi yang kemudian digenapi oleh Yesus di atas kayu salib. Sehingga barangsiapa yang percaya kepada Yesus ia tidak bertelanjang lagi sebab ia telah berpakaian kebenaran.

KESIMPULAN
Menjelang kita memperingati kelahiran Tuhan Yesus, di hari natal ini, marilah hidup sebagai bintang-bintang yang menerangi banyak orang. Hiduplah sebagai berkat, sehingga melalui hidup kita banyak orang akan diselamatkan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

MENJADI SERUPA DENGAN YESUS – oleh Pdt. J. S. Minandar  (Ibadah Raya – Minggu, 6 Desember 2020)

Roma 8:29
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya la, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

PENDAHULUAN
Untuk menyelamatkan dan mengembalikan manusia kepada maksud dan rencana Allah yang semula, maka Allah harus menjelma menjadi manusia. Dan bila kita mengatakan bahwa: “Allah menjadi manusia hal ini tidak berarti bahwa ketika Allah menjadi manusia, Allah itu tidak ada sebab sudah berubah jadi manusia.” Sebab Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa Allah yang menjelma menjadi manusia adalah: Firman Allah yaitu kalam Allah, yang adalah Allah sendiri, yang menjelma menjadi manusia dalam wujud Yesus, sebagaimana yang telah difirmankan dalam Yohanes 1:1,14. Dan pada saat Allah menebus dosa manusia maka Filipi 2:5-8 berkata bahwa, “dalam keadaan manusia Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa kita.”

Dan inilah janji yang disampaikan Yesus kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dalam Yohanes 5:24 berkata bahwa “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa yang mendengar perkataan-Ku (Yesus-Firman yang menjadi manusia) dan percaya kepada Dia (Allah Bapa) yang mengutus Aku (Yesus) ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”

PINDAH DARI MAUT KEPADA HIDUP
Oleh karena pengorbanan Yesus di atas kayu salib bagi seluruh umat manusia, maka orang-orang yang percaya kepada Yesus posisinya sudah dipindahkan oleh Yesus dari maut kepada hidup yang kekal.

Dibawah ini merupakan ilustrasi posisi orang yang percaya kepada Yesus

Keterangan gambar:
Jadi, dari gambar diatas kita melihat bahwa ketika ketika kita percaya kepada Yesus, maka posisi kita tidak lagi berada dalam kebinasaan, namun kita berada dalam kehidupan yang kekal bersama-sama dengan Yesus

Oleh karena itu, ada dua hak istimewa yang kita dapat sebagai orang yang percaya kepada Yesus, yaitu:

1. Kepastian Selamat
Kapanpun kita dipanggil Tuhan (mati) maka kita pasti masuk sorga. Kecuali apabila kita tidak setia dalam mengikut Yesus atau menolak dan menyangkal Yesus.

2. Menggenapi Rencana Allah
Artinya, apabila kita hidup sampai Yesus datang kedua kali, maka kita memiliki peluang besar untuk menggenapi rencana Allah yang gagal dilakukan oleh Adam dan Hawa. Dengan catatan bahwa kualitas kerohanian kita harus pulih menjadi seperti Adam Hawa yang serupa dengan Allah sebelum mereka jatuh dalam dosa (Kejadian 1:26). Bahkan, menjadi serupa dengan Yesus (Roma 8:19).

KESUNGGUHAN DALAM MENGIKUT YESUS
Untuk tetap ada pada “posisi jaminan keselamatan” maka Yesus meminta pertanggung jawaban pengiringan kita kepada Dia. Filipi 2:12 berkata, “Hai Saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.”

Bagaimana caranya untuk memiliki kesungguhan dalam mengikut Yesus?

1). TAAT
Dilihat atau tidak dilihat orang, kita senantiasa hidup sesuai dengan kebenaran firman Allah. Inilah yang disebut pengikut Yesus yang sejati (CHRISTIANOS), Yesaya 26:7.

2). KERJAKAN KESELAMATANMU
Keselamatan yang sudah kita terima dari Yesus harus bisa dilihat setiap orang dalam hidup kita sehari-hari dari karakter dan perbuatan kita.

3). TAKUT DAN GENTAR
Artinya, siapa dan apapun status kita: pendeta, diaken, pelayan/aktivis, anggota jemaat, suami, isteri, pemuda, remaja bahkan apapun itu, kita harus memiliki rasa hormat kepada Tuhan dan menyadari bahwa Tuhan memperhatikan dan mengamat-amati secara detail aktivitas roh jiwa dan tubuh kita, dimanapun kita berada.

Tidak sedikit orang yang bertanya mengenai latar belakang hidup mereka yang jahat dan banyak sekali melakukan dosa: “Apakah saya bisa diubah, dan menjadi serupa dengan Yesus? Apakah ini dapat menjadi kenyataan?” Yesus sudah mengampuni kita oleh kematian-Nya di kayu salib pada saat kita percaya kepada-Nya. Dan untuk menjadi serupa dengan Yesus, kita tidak dapat melakukannya dengan usaha dan kekuatan kita, namun kita harus berserah sepenuhnya kepada Firman-Nya dan Roh Kudus agar Dia membentuk kita menjadi serupa dengan Yesus. Sebab walaupun bagi manusia hal itu adalah mustahil tetapi dikatakan dalam Lukas 1:37 bahwa “Bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Demikian juga Ayub berkata dalam Ayub 42:2 bahwa “Allah sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Nya yang gagal.”

3. Bertumbuh dalam Mengikut Yesus

Perhatikan gambar dibawah ini.

Didalam mengikut Yesus, seharusnya kerohanian kita bertumbuh seperti gambar diatas. Ketika kita bertumbuh maka kita akan menjaga diri kita sedemikian rupa agar hidup kita menjadi semakin seperti Yesus. Ketika kita bertumbuh maka kita akan melakukan hal-hal dalam tangga kekristenan, yang menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Yesus yang sejati.

4. Jangan Kendor Dalam Pengiringan
Roma 12:11 berkata, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala- nyala dan layanilah Tuhan.” Apapun situasi dan kondisi yang terjadi dengan dunia ini, kita harus tetap setia tetap bersemangat dalam beribadah dan melayani Tuhan Yesus Kristus. Dalam 2 Korintus 12:3 Rasul Paulus mengungkapkan rasa kuatirnya ketika melihat kerohanian jemaat (demikian juga dengan setiap gembala) bahwa Rasul Paulus tidak mau apa yang Yesus nubuatkan digenapi secara negatif di dalam jemaat. Nubuat Yesus terdapat didalam Matius 19:30 yang berkata, “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

FENOMENA PETOBAT BARU DIGENAPI
Roma 10:20,21 berkata, “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: “Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku” Tetapi tentang Israel ia berkata: “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.”

Di bawah ini merupakan gambar-gambar petobat baru.

Demikian juga seorang gembala sangat takut kalau ada jemaat yang kehilangan kasih yang mula-mula seperti yang dialami jemaat Efesus. Wahyu 2:4 berkata, “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Menjelang Yesus datang kedua kali, apabila kondisi rohani kita seperti jemaat Efesus (kehilangan kasih yang mula-mula). Maka status kita di mata Yesus adalah: Wahyu 2:5 “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.”

Hal ini berarti:

1). Kita hidup dalam dosa seperti kita hidup di masa lalu saat kita belum diselamatkan.

2). Kita harus bertobat, artinya: berbalik dari jalan yang salah dan kembali ke jalan yang semula (dan mulai dari nol lagi).

3). Bila tidak mau bertobat atau mengeraskan hati kita maka,

4). Yesus akan mengambil kaki dian dari kita.

Apa arti kaki dian? Wahyu 1:20b berkata bahwa, “Ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.” Jadi, kaki dian yang diambil dari tempatnya artinya: Orang yang dikeluarkan oleh Yesus dari keanggotaan jemaat (bukan dari organisasi gereja) sehingga orang tersebut bukan milik Yesus lagi. Orang yang bukan menjadi milik Yesus akan dicampakkan kedalam api yang kekal.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, untuk menjadi serupa dengan Yesus, kita harus bertumbuh, bersungguh-sungguh dalam mengikut Yesus, menjaga diri kita untuk melakukan Firman Allah, serta tidak kendor dalam pengiringan kepada Yesus. Hal-hal inilah yang akan membuat kita menjadi serupa dengan Yesus dan kita akan masuk dalam kerajaan sorga bersama dengan Yesus.

LAPAR dan HAUS oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya – Minggu, 29 November 2020

PENDAHULUAN
Ayat ini merupakan bagian ke empat dari rangkaian sepuluh kata bahagia pada khotbah Yesus di bukit. Tuhan Yesus menggunakan kesepuluh kata berbahagia itu dalam bahasa aslinya : MAKARIOS, yang lebih tepat diterjemahkan dengan kata “DIBERKATILAH.”

Tuhan Yesus menggunakan kata “berbahagia” ini tidak untuk membicarakan tentang orang-orang yang merasa bahagia atau orang yang berpikir bahagia. Juga tidak sedang membicarakan tentang apa yang kita pikir tentang diri kita atau perasaan kita. Sebab kehidupan rohani orang pecaya tidak dimulai dari perasaan, atau dari apa yang kita pikirkan, tetapi fondasi kerohanian Kristen yang sejati adalah “Apa kata Yesus mengenai kita dan apa yang telah la singkapkan di dalam firman-Nya mengenai kita.”

Dalam bagian ini, Tuhan sedang mendeklarasikan para pengikut-Nya, bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia diberkati, jika memiliki rasa lapar dan haus, dalam hal ini akan kebenaran karena Tuhan akan memuaskannya.

LAPAR DAN HAUS
Lapar dan haus merupakan fundamental needs artinya kebutuhan yang paling mendasar, yang jika tidak dipenuhi orang pasti akan mati. Tubuh manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh dan memiliki kebutuhan masing-masing.

  • TUBUH : Dipuaskan dengan makanan dan minuman.
  • JIWA : Dipuaskan dengan ketenangan, penghiburan, wisata.
  • ROH : Dipuaskan dengan hal yang datang dari asalnya, yaitu hadirat Allah dan firman-Nya/ kebenaran.

Jika kita melihat tentang hukum alam ciptaan, kita dapat mengetahui bahwa apa yang diciptakan Tuhan lewat perkataan firman adalah tumbuhan dan binatang (Kej. 1:11, 20, 24). Tumbuhan tidak akan hidup tanpa tanah karena ia muncul dari dalam tanah oleh perkataan firman Allah,  demikian juga dengan binatang. Ikan tidak akan hidup tanpa air karena ia keluar dari air oleh perkataan firman Allah. Bagaimana dengan manusia? Manusia diciptakan oleh tangan Allah sendiri dan menghembuskan nafas-Nya, sehingga manusia menjadi mahluk yang hidup dan begitu mulia yang segambar dengan Allah sendiri, Kej. 2:7. Tanpa manusia tidak masalah bagi Allah, tetapi manusia tanpa Allah, ia akan mati karena rohnya berasal dari Allah. Sama seperti dengan kebutuhan akan makanan dan minuman untuk menghidupi tubuh jasmani kita, demikian juga “kebenaran” adalah kebutuhan mutlak rohani kita yang harus dipenuhi tiap hari. Kita tidak dapat berkata kadang-kadang saja saya makan, kadang-kadang saja saya minum, makan sebulan sekali minum setahun sekali.

Setiap orang yang percaya kepada Yesus, hidupnya telah ditebus dari dosanya dan dibenarkan oleh Allah. Orang benar tidak akan mungkin dapat hidup tanpa kebenaran, untuk itu kita tidak bisa hanya sekali-kali saja belajar akan kebenaran Allah. Orang benar tidak akan dapat hidup dengan kadang-kadang saja menaruh perhatian kepada kebenaran.

(Yohanes. 6:27) “Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu, sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Ayat ini memberi peringatan jangan hanya mementingkan kebutuhan jasmani yang hanya dapat mempertahankan hidup jasmani manusia sampai 70-80 tahun saja, tetapi berjuanglah juga untuk memenuhi kebutuhan rohani kita yang kekal.

WASPADAI TIPU DAYA IBLIS
Jika Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya (Roma 8:28), iblispun turut bekerja dalam situasi dan kondisi manusia untuk mengalihkan, menyesatkan dan membinasakan manusia.

Kepada Yesus sebagai manusia, Iblis berani mencoba mengalihkan kebutuhan lapar  dan haus-Nya kepada hal yang bukan makanan. BATU dijadikan ROTI.  Matius.4:3 – “Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Sesuatu yang bukan makanan yaitu batu minta dijadikan roti. Inilah tipu daya Iblis yang disebut pengalihan kepada hal yang bukan kebutuhan sejati. Tetapi Tuhan segera menjawabnya.

(Matius 4:4) “Tetapi Yesus menjawab. Ada tertulis manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah .” Tuhan meluruskan kembali bahwa manusia tidak hanya melulu membutuhkan makanan jasmani, tetapi juga membutuhkan makanan rohani yaitu firman kebenaran Allah.

Bagaimana Iblis mengalihkan rasa lapar dan haus akan kebenaran kepada perkara lain?
1. Melalui tipu daya (Markus 4:19)
“Lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” Ada dua hal dalam ayat ini untuk bisa dialami.

A).Tipu daya kekayaan
Menjadi kaya itu tidak salah asal bekerja keras sesuai aturan Tuhan, pasti Tuhan akan berkati, tetapi waspadai Iblis yang akan menggunakan tipu dayanya agar kita menjadi lapar dan haus bukan kepada kebenaran tetapi kepada cinta akan uang.

1 Timotius 6:10.
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta akan uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Iblis berusaha mengalihkan rasa lapar hausnya manusia akan kebenaran kepada tipu daya kekayaan, manusia dibuat lapar untuk memburu kekayaan jasmani apapun caranya, sehingga neraca / timbangan kehidupannya menjadi tidak seimbang, kebutuhan jasmaninya kenyang, tetapi rohaninya tetap kelaparan dan kehausan. Amsal 11:1 mengatakan bahwa neraca yang serong itu merupakan kekejian bagi Tuhan. Orang-orang seperti ini masih bisa mengikuti ibadah tetapi tanpa merasa perlu mendengar tentang kebenaran Allah bagi rohaninya. Biasanya suka pilih-pilih khotbah mana yang cocok baginya untuk didengar.

Tipe orang seperti ini dalam kitab wahyu adalah tipe jemaat Laodekia. Wahyu 3:17 berkata:  “Karena engkau berkata, aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.”

Kelihatannya secara jasmani kaya tidak kekurangan apapun, tetapi rohaninya menyedihkan di mata Tuhan.

B). Keinginan-keinginan yang lain
Salah satu dari keinginan yang lain yang terus meningkat adalah rasa lapar dan haus pada MEDSOS. Orang tidak lagi merasa perlu baca Alkitab cetak lagi. Bisa kirim ayat tanpa merasa perlu buka Alkitab. Bisa mengirimkan acara ibadah dan khotbah tanpa harus hadir dan mendengar apa isi khotbahnya. Lebih suka memposting keadaan yang sedang dihadapi dari pada dibawanya dalam doa.

Apa kata Alkitab mengenai kondisi rohani orang-orang seperti ini? Wahyu 3:1 berkata, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!”

Kelihatan hidup ada aktivitas, tetapi sebenarnya mati secara rohani. Rasul Paulus menyebutnya sebagai manusia duniawi.

1 Korintus 2:14
“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan, dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.”

Orang-orang seperti ini tidak dapat bertumbuh rohaninya, karena mati. Itulah sebabnya mereka tidak sanggup mengerti hal- hal rohani.

Iblis membuat banyak orang akan kehilangan kepekaannya akan rasa lapar dan haus yang sesungguhnya kepada kebenaran Allah, sehingga membuatnya menjadi seperti lima gadis yang bodoh (Matius 25:3,8,12). Tahu bahwa pelitanya butuh minyak tapi tidak menyediakan minyaknya. Mereka terlambat menyadari kebutuhan minyaknya, sampai akhirnya ditolak masuk kedalam pesta perjamuan Anak Domba Allah.

2. Melalui penyesatan, Matius 18:7.
Penyesatan dapat terjadi melalui:

  • Nabi palsu – Nubuat dan mujizat palsu
  • Rasul palsu – Pengajaran firman yang disesatkan.
  • Penginjil palsu- Memberitakan Injil lain.
  • Gembala dan guru palsu – Mengajarkan hal yang bertentangan dengan kebenaran firman.
  • Kristus palsu – Karunia yang dipalsukan, urapan yang dipalsukan.

LAPAR DAN HAUS
Hubungannya dengan makanan dan minuman. Yohanes 6:53, “Maka kata Yesus kepada mereka, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup didalam dirimu.”

Ayat ini menjelaskan bahwa kelaparan dan kehausan manusia adalah keselamatan jiwanya, dan hanya pribadi Yesus melalui penebusan-Nya yang dapat menyelesaikannya. Ketika kita percaya dan menerima Yesus sebagai juru selamat, kita dipersekutukan dengan tubuh dan darah Yesus melalui perjamuan Kudus.

AKAN KEBENARAN
Yohanes 17:17.
“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran.”

Dalam perjalanan hidup kita sebagai orang yang sudah dibenarkan, maka kehidupan kita dihidupi dengan firman Tuhan.

DIPUASKAN
Orang-orang yang mencari hadirat Tuhan dan firman-Nya dengan rasa lapar dan haus akan kebenaran-Nya akan dipuaskan.

Kata “dipuaskan” ditulis dalam bahasa aslinya – KHORTASTESONTAI, yang juga dapat berarti dikenyangkan atau dipenuhi. Jadi Kebenaran bukan hanya menghidupkan kita tetapi juga “memuaskan” kita.

Segeralah sadar dan siuman, apakah masih ada rasa lapar dan haus akan kebenaran Allah? Ini penting sebab itu petanda bahwa kita masih hidup secara rohani. Lapar dan haus rohani kita hanya dapat dipuaskan oleh hadirnya Yesus dalam hidup kita, dan kebenaran firman-Nya, inilah yang dapat mempertahankan hidup kita sampai pada kekekalan. Amin.

MASA SUKAR : Memahami rancangan dan mewaspadai jebakan – oleh Pdp. Joy Lazarus (Ibadah Raya – Minggu, 22 November 2020)

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.”  (2 Timotius  3:1)

 Pendahuluan
Surat ini merupakan surat terakhir yang ditulis oleh Rasul Paulus, kepada Timotius. Ia berkata bahwa di hari-hari terakhir akan ada masa sukar. Kesukaran yang disampaikan oleh rasul Paulus setidaknya berbicara tentang dua hal. Yang pertama kesukaran dapat diartikan sebagai keadaan sulit (penderitaan, gangguan keamanan, sakit penyakit) yang dialami manusia yang hidup di akhir zaman. Ini tentu relevan dengan kita, sebab kita adalah orang-orang yang hidup di akhir zaman. Kesukaran bisa saja masalah ekonomi, pertengkaran rumah tangga, atau gangguan kesehatan. Secara global misalnya kita dapat melihat kesukaran yang terjadi hari-hari ini, yang berdampak bagi semua orang.

Siapa yang dapat menyangka jika virus yang terjadi diakhir tahun 2019, tetapi sampai sekarang belum juga selesai. Namun yang paling ditakuti adalah ancaman kematian. Berdasarkan data statistik 18 November saja jumlah orang yang meninggal akibat covid di seluruh dunia telah mencapai lebih dari 1 juta jiwa. Bahkan dampak dari virus ini merusak ekonomi, keuangan, usaha dan berbagai bidang kehidupan lainnya.

Yang kedua kesukaran juga bicara tentang keadaan manusia. Dijelaskan bahwa orang-orang di akhir zaman mengalami degradasi moral dan cenderung mementingkan diri sendiri/Self Center (2 Tim 3:2-9). Kedua poin ini dapat saling mempengaruhi, kesulitan hidup dapat menyebabkan degradasi moral bagi orang yang mengalaminya, sebaliknya orang-orang yang mementingkan diri sendiri dapat mencelakakan atau menimbulkan kesukaran bagi sesamanya.

 KEDAULATAN TUHAN
Di tengah kesukaran yang terjadi tentu kita tetap percaya akan kedaulatan TUHAN. Kita yakin bahwa semua ini adalah penggenapan firman Tuhan, sebab tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seijin TUHAN dan jika diijinkan tentu Tuhan punya tujuan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Sebagai contoh, kepada orang Yehuda yang dibuang ke Babel TUHAN telah berfirman Yeremia 29:11“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

 Begitu juga yang dikatakan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Dari ayat-ayat di atas kita dapat meyakini bahwa hidup mungkin penuh kesukaran tetapi TUHAN tidak pernah lepas tangan, dibalik masa yang sukar Dia punya rancangan yang terbaik bagi manusia secara umum dan orang percaya secara khusus.

AGENDA IBLIS
Dibalik masa sukar yang dihadapi oleh manusia ada juga Iblis yang turut memanfaatkan situasi yang sulit untuk menjalankan rencananya. Seperti kisah Ayub dimana iblis berupaya menghancurkan kerohanian Ayub lewat penderitaan yang dialami. Iblis sangat yakin bahwa masa sukar akan membuat manusia yang saleh sekalipun berpaling dan mengutuki TUHAN.

Ayub 1:11 “Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”

2 CARA PANDANG TERHADAP MASA SUKAR
Sampai disini kita melihat bahwa dibalik kesukaran ada kedaulatan TUHAN tetapi disisi lain juga ada agenda iblis. Dalam masa sukar kita diperhadapkan kepada dua pilihan yaitu masuk dalam rancangan Tuhan atau sebaliknya masuk dalam jebakan setan.

RANCANGAN TUHAN VS JEBAKAN SETAN
Ada beberapa perbedaan-perbedaan yang jelas antara rancangan TUHAN dan jebakan setan, yang perlu kita pahami.

RANCANGAN TUHAN
1. Menaikkan level iman (Ayub 23:10)
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

Catatan :
Bicara tentang emas murni, maka kita tahu bahwa semakin panas api semakin murni pula emas yang dihasilkan. Ini bicara kualitas iman orang percaya. Masa yang sukar akan membawa kita untuk semakin bergantung kepada-Nya. Masa yang sukar juga berbicara tentang “masa penampian”, seperti panasnya api memisahkan emas murni dari unsur-unsur bukan emas demikian juga masa sukar akan menunjukkan siapa orang yang sungguh-sungguh percaya kepada TUHAN dan mana yang bukan.

2. Mengerjakan mujizat (Kel 15:11)
Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?

Catatan :
Di balik masa sukarlah TUHAN menyatakan kuasa-Nya. Tidak jarang kita melihat mujizat-Nya dinyatakan dalam hidup kita lewat masa sukar yang kita hadapi.

3. Mengalami Pribadi-Nya (Ayub 42:5)
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

Catatan :
Ayub tidak sedang bicara tentang perkara jasmani, melainkan tentang pengalaman pribadi bersama TUHAN dimana ia mengalami kesetiaan Tuhan saat masa-masa sukar dalam hidupnya. Ini merupakan suatu pernyataan kekaguman Ayub setelah melihat kesempurnaan rancangan Tuhan. Masa sukar sering menjadi sarana bagi TUHAN agar kita mengalami Dia.

JEBAKAN SETAN
1. Melemahkan iman (Yoh 10:10)
“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan.”

Catatan : Yang ingin iblis hancurkan dibalik masa yang sukar bukan sekedar ekonomi, kesehatan (jasmani) melainkan iman kita (rohani).

2. Melepaskan tipu muslihat (Efesus 6:11)
“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;”

Catatan : Masa sukar sering menjadi kesempatan bagi iblis untuk menipu orang percaya.

3. Mengalami kekecewaan.
Yer 14:4 “Pekerjaan di ladang sudah terhenti, sebab hujan tiada turun di negeri, maka petani-petani merasa kecewa dan menyelubungi kepala mereka.”

catatan : Orang yang masuk jebakan setan biasanya mudah kecewa, mulai dari kecewa dengan keadaan, sesama maupun TUHAN.

Dapat kita katakan bahwa orang yang mengalami TUHAN memiliki pengharapan, orang yang mengalami kekecewaan kehilangan iman!

Murid-murid Yesus pun tidak terlepas dari masa sukar yaitu penolakan bahkan penganiayaan dan untuk itu Yesus telah berkata kepada mereka dalam Yohanes 16:1 “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.”

Pertanyaannya bagi kita yang sedang menghadapi masa sukar ini adalah bagaimana kita bisa masuk dalam rancangan TUHAN dan terhindar dari jebakan setan? Jawabanya adalah miliki respon yang benar.

Seperti apa respon yang benar di masa sukar? Saya mencatat setidaknya ada 4 hal yang dapat menjadi respon kita di tengah situasi yang sukar.

RESPON YANG BENAR DI MASA SUKAR
1. Mendekat dan bukan menjauh
Mazmur 62:2 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.

Kita dapat mendekat kepada TUHAN lewat ibadah, doa dan persekutuan secara pribadi dengan-Nya. Kesukaran seharusnya menarik kita kedalam keintiman dengan TUHAN bukan menjerumuskan kita ke jurang kekecewaan. Di masa yang sukar seharusnya kita mencari TUHAN dan bukan berlari tanpa tujuan. Sungguh sangat disayangkan ketika masa sukar dijadikan alasan bagi beberapa orang untuk menjauh dari TUHAN.

Contoh :
Kisah dari raja Yosafat yang memilih untuk mencari TUHAN ditengah kesukaran yang dihadapi dapat menjadi contoh bagi kita. (2 Taw 20:3-24)

2 Tawarikh 20:3 “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.”

2. Berserah dan jangan menyerah
Mazmur 56:4 “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu;”

Kesukaran tidak boleh membunuh iman kita. Banyak orang yang ketika hadapi kesukaran imannya lumpuh. Orang-orang ini biasanya berkata tidak sanggup, tidak mungkin, mulai putus asa lalu kecewa dengan keadaan dan bahkan kecewa dengan Tuhan.

3. Bijak bukan sembarangan bertindak
Amsal 14:15b “…tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.”

Sekalipun Tuhan memiliki rancangan yang baik, itu bukan berarti kita kehilangan hikmat. Kita perlu merespon dengan bijak di tengah situasi yang sukar ini. Di masa pandemi seperti ini contoh sikap yang bijak adalah dengan mentaati protokol kesehatan dan bukan malah melanggar atau mengabaikannya. Orang percaya patut memberikan contoh bagi masyarakat bagaimana kita bisa melewati pandemi ini dengan sikap yang bijak.

4. Dengarkan Firman bukan perasaan
(Mazmur 119:105) Perasaan kita bukanlah kebenaran, Firman TUHAN adalah kebenaran. Dalam situasi tertentu bisa saja perasaan kita terluka, kita jadi takut, marah, kecewa dan kita tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan di luar apa yang TUHAN kehendaki. Tindakan-tindakan yang lebih mengedepankan perasaan sering kali hanya memperburuk keadaan karena tetaplah berpegang kepada Firman TUHAN. Sebab Firman TUHAN adalah kebenaran (Yohanes 17:17b).

Kesimpulan :
Milikilah respon yang benar di masa sukar, karena itulah yang akan membuat kita masuk dalam rancangan TUHAN dan terhindar dari jebakan setan.

JALAN BUNTU atau JALAN BARU – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 15 November 2020)

Pandemi covid 19 telah menimbulkan dampak yang besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia terutama bidang ekonomi. Dari berbagai sumber media atau berita kita dapat mengetahui bahwa tidak sedikit perusahaan-perusahaan besar gulung tikar, pabrik-pabrik yang dulu perkasa dan jaya, kini tak berdaya menghadapi wabah korona.

Berikut ini saya coba daftarkan beberapa perusahanan yang menutup usahanya karena diterjang badai korona.

  • NPC International selaku pemegang waralaba Pizza Hut dan restoran cepat saji Wendy’s telah menutup 1.200 gerai Pizza Hut dan sekitar 400 restoran cepat saji Wendy’s di AS.
  • Muji, perusahaan ritel asal Jepang yang menjual dekorasi rumah tangga, alat tulis, hingga pakaian itu mengajukan kebangkrutan karena terbeban utang yang besar.
  • Brooks Brothers, ritel pakaian pria asal AS. Perusahaan yang sudah berusia 200 tahun dan ‘mendandani’ 40 presiden AS serta menjadi brand favorit bagi para bankir Wall Street mengajukan pailit dan memecat hampir 700 pekerja di tiga negara bagian pada Juni 2020.
  • Crew, perusahaan ritel asal AS. Perusahaan yang sudah berdiri sekitar 73 tahun itu mengajukan pailit karena pandemi corona.
  • Diamond Offshore perusahaan minyak asal AS. Perusahaan dengan lebih dari 2.500 pekerja mengajukan pailit karena utang sekitar US$2 miliar.

Tentunya masih ada daftar yang panjang perusahaan-perusahaan lain yang menutup usahanya karena pandemi seperti: Boeing perusahaan pembuat pesawat, Starbucks Coffee, Hermes, perusahaan jam Rolex, perusahaan mobil Nissan, perusahaan sepatu Nike, dll. Pertanyaannya adalah mengapa perusahan yang besar dan berskala internasional menutup usahanya? Jawabannya adalah karena perusahaan tersebut menemui jalan buntu. Tidak ada jalan keluar agar perusahaan tetap operasi. Satu-satunya pilihan adalah menutup usahanya.

JALAN BUNTU BANGSA ISRAEL
Bangsa Israel juga pernah mengalami jalan buntu saat berjalan menuju ke tanah perjanjian. Perjalanan yang awalnya dipenuhi dengan sukacita karena kedahsyatan tangan Allah atas apa yang telah menimpa orang Mesir, tiba-tiba berubah menjadi duka dan bencana karena mereka menemui jalan buntu. Dari belakang pasukan Mesir mengejar mereka, sementara itu di depan mereka terbentang laut Teberau yang luas. Semakin lama, suara derap kuda dan pasukan Mesir makin terdengar keras pertanda pasukan Mesir semakin dekat, tetapi mereka tidak bisa berajalan maju karena terhalang laut Tiberau. Dalam keadaan demikian ini, maka tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan selain mempersalahkan Musa, karena telah membawa mereka keluar dari Mesir. Mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kau perbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?  Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.”

SAAT JALAN TERASA BUNTU, TUHAN MEMBUKA JALAN BARU
Pada saat itu Musa dan bangsa Israel benar-benar berada di jalan buntu. Tidak ada jalan keluar, semua jalan telah tertutup, tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri. Sepertinya itulah akhir cerita hidup mereka. Pasukan Mesir akan membunuh mereka semua atau mati bunuh diri di laut Teberau. Pada saat seolah-olah tidak ada jalan keluar, Tuhan memerintahkan Musa agar mengulurkan tongkatnya dan membelah laut Teberau. Oleh kuasa Tuhan laut Teberau terbelah airnya, sehingga orang Israel dapat berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. Puji Tuhan, pada saat jalan terasa buntu, Tuhan membuka jalan baru. Percayalah, bagi Tuhan tidak ada perkara yang sukar, Dia dapat membuka jalan baru bagi anak-anakNya.

BAGAIMANA MENEMUKAN JALAN BARU, SAAT JALAN TERASA BUNTU?
Saat kesulitan datang, apakah yang kita temukan jalan buntu atau jalan baru? Dalam perjalanan menuju Kanaan bangsa Israel mendapati jalan buntu, tetapi Musa menemukan jalan baru.  Mari kita belajar dari Musa, bagaimana menemukan jalan baru saat jalan terasa buntu.

1. Percayalah bahwa besarnya ukuran masalahmu tak melebihi besarnya ukuran TUHAN-mu
Kel. 14:13
Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.

Inilah yang membedakan antara Musa dan bangsa Israel. Musa melihat Allahnya yang besar, sedangkan bangsa Israel melihat masalahnya yang besar. Oleh karena melihat masalah yang besar, maka bangsa Israel ketakutan hasilnya kebuntuan. Berbeda dengan Musa. Musa melihat masalah yang sama besar, tetapi Musa percaya bahwa masalahnya yang besar tidak akan melebihi ukuran besarnya Allah. Akibatnya Musa timbul iman, Musa percaya Allah berkuasa, Ia mendapatkan jalan baru.

Ketahuilah bahwa cara kita memandang, menentukan yang kita dapatkan. Melihat masalah yang besar kita menemukan jalan buntu, melihat Allah yang besar kita menemukan jalan baru. Untuk itu lihatlah dengan mata iman sebab iman adalah kunci pembuka jalan baru.

Yohanes 11:40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

 2. Jika tidak ada yang bisa kita lakukan, serahkanlah sepenuhnya kepada TUHAN
Kel. 14:14
“TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Semua cara telah kita coba tetapi sepertinya sia-sia, segala daya telah dicurahkan tetapi tak ada hasil yang didapatkan, maka serahkanlah sepenuhnya kepada Tuhan. Jika tak ada lagi yang  bisa kita lakukan, ketahuilah masih ada satu hal yang bisa kita lakukan yaitu berdoa kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa iman sejati tidak sekedar percaya, tetapi iman sejati adalah mempercayai Tuhan sepenuhnya. Jangan menyerah dengan keadaan atau kesulitan, sebaliknya berserahlah sepenuh kepada Tuhan. Menyerah ditengah kesulitan membuat kita menemukan jalan buntu, tetapi berserah kepada Tuhan akan membawa kita mendapatkan jalan baru.

Mengapa kita harus berserah kepada Tuhan pada saat masa sukar? “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Luk 1:37) Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita. JalanNya tak pernah dapat diduga sebelumnya. Musa tidak pernah tahu kalau Tuhan akan membuka jalan di tengah laut Teberau, yang ia tahu adalah percaya saja kepada firmanNya, sebab Tuhan pembuat keajaiban.

Keluaran 15:11
Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?

Marilah kita lihat contoh orang-orang yang memilih berserah kepada Allah daripada menyerah kepada masalah.

  • Raja Hizkia (2Ki 19:14)

Ketika raja Hizkia menerima surat tantangan dari tangan para utusan raja Asyur, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN. Hizkia sadar dengan seluruh kekuatan pasukan dan persenjataan yang dimiliki tak akan dapat mengalahkan pasukan raja Asyur yang besar jumlahnya itu. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah menyerahkan surat tantangan itu kepada Tuhan dan mengijinkan Tuhan berperang baginya.

  • Hana (1Samuel 1:9-10)

Setelah bertahun-tahun menanti kelahiran anak baginya, Hana pergi ke rumah Allah di Silo dan berdoa memohon kepada Tuhan agar memberikan anak baginya. Puji Tuhan, Tuhan membuat keajaiban, kandungan Hana dibukaNya, lalu setahun kemudian Hana melahirkan seorang anak yang diberi nama Samuel.

Mazmur 37:5
Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.

3. Jalan baru terbuka, saat kita bergerak maju bersamaNya.
Kel. 14:15
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat.

Diam tidak akan menyelesaikan persoalan, sebaliknya diam hanya akan menambah beban terasa makin memberatkan. Itulah sebanya Tuhan memerintahkan Musa agar orang Israel berangkat maju menuju tanah perjanjian. Diam berarti menunggu kematian, sebab dari belakang pasukan Mesir akan menghancurkan mereka. Meski tidak tahu apa yang akan terjadi, Musa memerintahkan orang Israel berangkat maju, sebab Musa percaya bahwa jalan akan terbuka saat ia bergerak maju bersamaNya. Saat Musa dan bangsa Israel melangkah maju, Tuhan membelah laut Teberau.

Orang yang meyakini tidak ada jalan buntu akan terus berjalan maju sampai menemukan keajaiban baru. Jika kita berhenti melangkah saat menemui masalah, kita akan menemui jalan buntu, tetapi saat kita melangkah maju maka terbukalah jalan baru. Apapun yang sedang kita hadapi jangan diam menanti keajaiban. Melangkahlah maju, lakukan apapun yang masih bisa dilakukan. Percayalah, gembok tidak diciptakan tanpa kunci, tidak ada masalah tanpa jalan keluar. Semua masalah selalu ada jalan keluarnya meski tidak mudah.

1Kor. 10:13
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

TUHAN MEMBUKA JALAN BARU MELALUI KEMATIANNYA
Ibrani  10:19,20
Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,

Jika jalan hidupmu sedang buntu, tak ada pintu yang terbuka, pandanglah kepada Tuhan Yesus Kristus. Jika jalan ke sorga DIA dapat membukanya, apalagi jalan hidupmu. Tidak ada yang sulit bagi Tuhan untuk menolongmu. Percayalah, ditengah jalan buntu, DIA membuka jalan baru. Tuhan memberkati. KJP!

KESANGGUPAN DIDALAM YESUS – oleh Pdt. Simon Sitinjak (Ibadah  – Minggu, 08 November 2020)

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13)

PENDAHULUAN
Kata “kutanggung” dalam bahasa Yunani ditulis ischuo yang berarti memiliki kekuatan atau kemampuan untuk menghadapi segala pekerjaan. Rasul Paulus dapat menanggung segala perkara yang dia alami baik sebagai pelayan Tuhan, saat ia bekerja, sebagai orang percaya bahkan saat menghadapi situasi yang sulit.

Dari ayat ini kita mengerti bahwa mengenal Yesus bukan hanya berbicara bagaimana kita mengalami berkat tetapi juga bagaimana kita mengalami banyak kesulitan. Berikut merupakan pengalaman-pengalaman dari tanggung jawab rasul Paulus.

1. Rasul Paulus sebagai pelayan (2 Korintus 11:23-28)
Paulus bukan sedang menyombongkan diri atau membandingkan apa yang dia kerjakan dengan apa yang orang lain kerjakan, namun ia menyaksikan bahwa ia ada karena kesanggupan dari Allah. Ada banyak tantangan dan kesulitan sebagai pelayan Tuhan. Namun Rasul Paulus mengakui bahwa kekuatan Allahlah yang memampukan rasul Paulus untuk tetap melayani Tuhan.

2. Rasul Paulus dalam pekerjaan ( Kisah Rasul 20:34-35).
Paulus bekerja sebagai seorang tukang tenda. Bahkan Paulus bukan hanya bekerja untuk diri sendiri, namun ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan orang lain (2 Timotius 3:1).

3. Rasul Paulus dalam komunitas ( Kisah Rasul 18:3).
Paulus mau bekerja sama sebagai satu tim. Kesanggupan dari Allah akan memampukan kita untuk bekerja sama dengan orang-orang disekeliling kita maupun orang-orang dunia. Sekalipun bekerja dengan orang lain bukanlah hal yang mudah karena terbentur dengan perbedaan, namun Allah yang memampukan rasul Paulus untuk bekerja sama dengan orang lain.

4. Rasul Paulus sebagai orang percaya ( Filipi 4:11-12).
Sebagai orang percaya Paulus juga mengerti bahwa menderita demi Kristus adalah sebuah karunia (Filipi 1:29). Demikian juga dengan kita sebagai orang percaya. Kita bukan hanya hidup untuk menerima berkat, namun juga akan mengalami penderitaan. Mengapa Paulus sanggup menghadapi hal-hal ini?

Ada beberapa rahasia mengapa Paulus sanggup melakukan banyak perkara.
1. Belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11)
Dalam bahasa aslinya mengatakan bahwa, Paulus memiliki segala sesuatu, namun ia belajar mencukupkan dirinya. Dia merasa puas akan segala sesuatu yang Allah percayakan dalam dirinya. Beberapa minggu lalu kita telah belajar dari Pdt. Gideon bagaimana sebagai orang percaya kita harus mencukupkan diri. Mungkin kita memiliki kemampuan, namun belajarlah untuk mencukupkan diri dan merasa puas dengan apa yang Allah berikan dalam hidup kita. Apalagi ditengah pandemi ini ada banyak kesulitan yang kita alami. Namun ketika kita belajar mengelolah berkat yang Allah berikan dengan cara mencukupkan diri, maka kita akan melewati segala situasi sulit dengan baik. Ada dua keuntungan besar saat kita mencukupkan diri, yaitu:

  • Ketika kita mencukupkan diri maka kita akan terhindar dari kekhawatiran.
    Kekhawatiran akan membuat sukacita hilang, ketenangan hilang. Namun apabila kita mencukupkan diri maka kita akan terhindar dari semua itu.
  • Ketika kita mencukupkan diri maka kita akan hidup bahagia.
    Kebahagiaan sering diusahakan oleh banyak orang diluar Kristus, namun berbeda dengan orang percaya. Hanya dengan mencukupkan diri, kita akan hidup berbahagia, sebab kita tidak khawatir dengan apa yang terjadi hari esok.

2. Mau menanggungnya didalam Tuhan
Paulus mengerti bahwa segala perkara akan mampu ia tanggung ketika ia ada didalam Tuhan. Kata didalam dalam bahasa asli ditulis -en- menyatakan syarat mutlak. Lawan kata dari kata “didalam” adalah “diluar”. Artinya, hanya dengan didalam Yesus maka kita dapat menikmati apa yang dijanjikan, yaitu kekuatan dari Allah.

Yohanes 15: 5 berkata “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Hal ini berarti bahwa, Kita harus memiliki kesadaran untuk tinggal didalam Dia. Mengapa kita harus tinggal didalam Tuhan? Dalam Kolose 2:1-2 rasul Paulus menceritakan perjuangan yang harus ia lakukan untuk jemaat Kolose. Namun, pada ayat 3 rasul Paulus berkata bahwa ketika ada didalam Dia maka ada harta yang akan diberikan, yaitu hikmat dan pengetahuan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Oleh sebab itu, janganlah kita keluar dari Yesus karena apabila kita keluar maka kita tidak dapat berbuat apa-apa (Kolose 2:9).

Kata “memberi kekuatan” dalam Filipi 4:13 berarti bukan kekuatan dari dirinya, melainkan ada oknum lain yang menjadi sumber kekuatan itu. Artinya, Allah yang menjadi sumber kekuatan dan kekuatan itu juga diberikan bukan hanya kepada Paulus, namun juga kepada kita.

Ada beberapa keterbatasan dalam hidup ini:

  • Keterbatasan fisik
  • Mental
  • Finansial
  • Logika
  • dll

Artinya, kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dimasa depan sebab sebagai manusia biasa kita memiliki banyak keterbatasan. Namun apabila kita mengerti bahwa kita memiliki keterbatasan, maka jangan pernah keluar dari Yesus.

KESIMPULAN
Belajarlah mencukupkan diri dalam segala keadaan dan teruslah ada didalam Yesus sebab kesanggupan kita hanya ada didalam-Nya. Oleh sebab itu, teruslah setia, percaya dan berhadap kepada Yesus, maka kita akan mampu menanggung segala hal karena ada Yesus yang memampukan kita.

Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita (Mazmur 68:20).

RENCANA ALLAH MENYELAMATKAN MANUSIA – oleh Pdt. J. S. Minandar (Ibadah Raya -Minggu, 1 November 2020)

PENDAHULUAN
Allah memiliki rencana yang besar bagi manusia. Khotbah ini adalah sambungan khotbah dari saudara Jeff Minandar beberapa minggu lalu. Pernahkah anda bertanya dalam diri anda bahwa:

  1. Mengapa Allah menciptakan alam semesta dan isinya?
  2. Mengapa Allah menciptakan manusia?
  3. Mengapa Allah menciptakan saudara dan saya?

Dari pertanyaan-pertanyaan diatas maka jawabannya terdapat dalam Kejadian 1:27-29:

  1. Allah menciptakan manusia menurut gambar yang Allah (mulia).
  2. Allah menciptakan manusia berpasangan (laki-laki dan perempuan).
  3. Allah memberkati manusia, dengan perintah: beranakcuculah dan bertambah banyak.
  4. Kepada manusia diberi otoritas untuk berkuasa atas seisi dunia dan ciptaan-Nya yaitu langit, bumi alam semesta dan isinya, (menjadi penguasa bumi).

Berikut ini sketsa berdasarkan proses urutan waktu:

H1 – Kej. 1:3-5 Terang
H2 – Kej. 1:6-8 Cakrawala atau langit
H3 – Kej. 1:9-13 Darat dan laut serta pohon-pohonan
H4 – Kej. 1:14-19 Matahari, bulan dan bintang
H5 – Kej. 1:20-25 Ikan, burung dan ternak
H6 – Kej. 1:26 Manusia (laki-laki dan perempuan)
H7 – Kej. 2:2 Allah selesai bekerja dan berkati hari ke 7

Berapa lama manusia (Adam dan Hawa) diberi kuasa atas langit, bumi dan isinya? Jawabannya adalah tidak ada batasan (selamanya). Sebab Allah memberkati manusia (bukan mengutuk) untuk hidup kekal.

SETELAH HARI KE TUJUH
Kejadian 1-2, setelah hari ketujuh tidak ada penjelasan mengenai kegiatan apa yang dilakukan Adam dan Hawa selama di Taman Eden. Sebab Yohanes 21:25 mengatakan: “Jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis.”

Bila kita membaca Kejadian 3:1-24, maka Firman Allah langsung menceritakan peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa. Lalu, manusia diusir dari Taman Eden. Dengan demikian, manusia gagal melakukan rencana Allah. Selain itu, ada hal-hal yang dialami manusia akibat dosa dan upaya Allah memulihkan rencana-Nya.

 

Dari gambar diatas, kita melihat bahwa posisi manusia seharusnya terus bersama dengan Allah, namun karena dosa maka manusia terpisah dengan Allah. Roma 3:23 berkata, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dan Roma 6:23 berkata, Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

RENCANA MEMULIHKAN MANUSIA
Untuk memulihkan manusia, Allah memberi “hukum hati nurani” kepada manusia. Tetapi tidak ada satupun yang dapat taat kepada hukum hati nurani. Kejadian 6:5,6 berkata: “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal ini memilukan hati-Nya.”

ALLAH MEMILIH KELUARGA NUH
Dari sekian banyak manusia di bumi, Allah memilih Nuh dan keluarganya. Kejadian 6:8 berkata: “…Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan!” Diharapkan dari keluarga Nuh lahir keturunan/ generasi baru, yang sekualitas dengan Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa. Tujuannya adalah agar mereka menggenapi maksud dan rencana Allah.

Kejadian 6 dan seterusnya menceritakan bahwa:

  • Nuh disuruh membuat bahtera.
  • Setelah bahtera selesai, seluruh umat manusia diundang untuk masuk ke dalam bahtera.
  • Yang mendengar atau mengikuti ajakan Nuh dan masuk kedalam bahteralah yang akan selamat. Sebaliknya, yang menolak akan binasa.

Bahtera gambaran dari Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia. Yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dan yang tidak percaya akan binasa.

NUH DAN KELUARGA GAGAL
Namun setelah bahtera mendarat, Nuh mabuk anggur. Ham, anak Nuh yang kedua, yang seharusnya menjadi keturunan yang kudus, sempurna dan mulia, justru menerima kutuk dari Nuh sehingga Nuh dan keluarganya gagal  untuk menjadi keturunan yang sesuai dengan kehendak dan rencana Allah.

MEMILIH SATU BANGSA
Allah memilih satu bangsa yaitu bangsa Israel yang cikal-bakalnya dari manusia terbaik yaitu: Abraham (Yesaya 5:1-3). Setelah Israel menjadi bangsa yang besar, Allah memberikan “Hukum Taurat” kepada mereka dengan tujuan agar ketaatan Israel dalam menjalani Taurat dapat berdampak bagi semua bangsa di dunia. Dan oleh ketaatan bangsa Israel kepada Hukum Taurat, maka seluruh bangsa-bangsa di dunia diberkati. Bahkan semua bangsa-bangsa di dunia, menjadi milik kepunyaan Allah. Selain itu, seluruh manusia di muka bumi akan menjadi umat yang kudus, suci, sempurna dan mulia sama seperti Adam dan Hawa ketika berada di Taman Eden.

BANGSA ISRAEL GAGAL
Tidak seorang pun dari bangsa Israel yang bisa melakukan hukum Taurat secara sempurna/ 100% (Yesaya 5:5-7). Sebaliknya, hukum Taurat menjadi kutuk bagi umat manusia. Galatia 3:13 berkata: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”

Jadi, dengan diturunkannya hukum Taurat, manusia bukannya menjadi pulih dari dosa, sebaliknya semakin nyata dan terbukti betapa besar dosa manusia di hadapan Tuhan. Sebab Hukum Taurat membuktikan bahwa manusia jahat dan tidak berkenan di hadapan Allah sehingga manusia harus dihukum.

YESUS DIUTUS
Sebab itu Yesus diutus. Tidak ada pilihan lain, untuk menggenapi rencana Allah yang gagal dilakukan Adam dan Hawa. Allah sendiri yang harus turun menyelesaikan masalah dosa manusia. Caranya Allah harus menjadi manusia untuk menebus dosa manusia dan memulihkan manusia kepada keadaan semula.

ALLAH MENJADI MANUSIA
Yohanes 1:1,2 berkata “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia (Firman) pada mulanya bersama-sama dengan Allah.”

Firman adalah Allah. Firman pada mulanya bersama-sama Allah. Dan, untuk memulihkan rencana Allah, maka Yohanes 1:14 berkata, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”  Agar manusia dapat menggenapi rencana Allah yang gagal dilakukan Adam dan Hawa maka, Yesus memberikan hukum kepada manusia. Hukum tersebut adalah hukum pengampunan sebesar-besarnya dan seluas-luasnya yang diberikan Allah kepada umat manusia. Artinya, berapa pun besarnya dosa seseorang, bagaimanapun hebatnya kejahatan masa lalu yang dilakukan oleh seseorang, hitam pekat seperti apapun hidup masa lalu seseorang, Yohanes 1:14 berkata, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Dan agar manusia bisa menggenapi rencana Allah yang gagal dilakukan Adam dan Hawa, maka Yesus memberikan hukum kepada manusia.

Saat kita membuka hati dan percaya kepada Yesus, lalu kita mengalami kelahiran baru, 2 Korintus 5:17 berkata “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Maka kita yang percaya dan sudah menjadi ciptaan baru, kita adalah orang yang dipersiapkan Allah untuk menggenapi rencana Allah yang mulia.

KESIMPULAN
Orang-orang yang percaya kepada Yesus dengan sungguh-sungguh dan telah dilahirkan kembali, status orang tersebut adalah pewaris kerajaan Allah (Yohanes 3:3,5). Selain itu, mereka adalah orang-orang yang akan menggenapi rencana Allah yang gagal digenapi/ dilakukan oleh Adam dan Hawa. Artinya, apabila kita dipanggil Tuhan sebelum rencana Allah digenapi, maka kita akan mewarisi kerajaan Sorga. Namun, bila kita hidup sampai Yesus datang kedua kali dan kita bertumbuh menjadi pengikut Yesus yang sejati (gereja sempurna), maka kita akan menjadi orang-orang yang menggenapi rencana Allah yang gagal seperti yang dilakukan oleh Adam dan Hawa.

Bagaimana bila terdapat seorang pengikut Yesus yang tidak mengalami pertumbuhan rohani, sehingga ia tidak masuk ke dalam gereja sempurna atau pengikut Yesus yang sejati? Maka sebelum Yesus datang kedua kali, Yesus akan mengadakan proses pemisahan dalam gereja.

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT YESUS YANG SEJATI- oleh Pdt. Elisabeth Minandar (Ibadah Raya -Minggu, 25 Oktober 2020)

Amsal 30:24-28

PENDAHULUAN
Tulisan ini ditulis oleh seorang yang bernama Agur dan ayahnya bernama Yake. Tetapi tulisan Agur ini penuh hikmat. Sebagai pengikut Yesus yang sejati, kita harus mempraktekkan ayat ini dalam pengiringan kita.

Kita sudah mengerti bahwa, saat kita membuka hati dan percaya kepada Yesus, pada saat itu kita menerima jaminan/kepastian keselamatan di dalam Yesus (Yohanes 3:16). Tetapi walaupun kita sudah menerima jaminan keselamatan, kita harus bertanggung jawab untuk memelihara keselamatan yang sudah kita terima, sebagaimana ditulis dalam Filipi 2:12a yang berkata: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.”

Pada kesempatan ini, kita akan membahas karakter dari keempat binatang yang dibahas oleh Agur bin Yake, yang akan memberi pelajaran bagaimana menjadi pengikut Yesus yang sejati.

1. SEMUT
Amsal 30:25 “Semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas.”

KEISTIMEWAAN SEMUT
Yang paling menonjol dari semut ialah rajin bekerja. Sebab itu kita tidak pernah lihat ada semut yang menganggur, berdiam diri atau bersantai. Semut selalu bergerak aktif untuk bekerja atau melakukan kegiatan. Tidak heran bila Salomo menegur dengan keras dalam Amsal 6:6-8 yang berkata, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.”

 2 Timotius 3:1 Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa, sekarang kita sedang hidup di akhir zaman dan dikatakan bahwa di akhir zaman akan ada masa yang sukar. Secara jasmani walaupun saat ini sangat berbahaya akibat covid-19, orang-orang tidak peduli dengan bahaya ini. Mereka tetap berusaha bekerja agar semua kebutuhan jasmaninya dapat tercukupi.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana sikap kita dalam memenuhi kebutuhan rohani? Apakah kita berani nyerempet-nyerempet bahaya demi mendapat makanan rohani? Amsal 30:25 berkata: “Semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas.”

Ayat ini menubuatkan bahwa akan ada masa kelaparan rohani yang luar biasa menjelang kedatangan Yesus kedua kali. Tetapi berbahagialah mereka yang senantiasa rajin mencari firman Allah di masa sulit sekalipun.

2. PELANDUK (KELINCI)
Amsal 30:26 “Pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu.”

Kita kurang akrab dengan istilah pelanduk. Istilah lain digunakan kelinci yang masuk dalam ordo rusa. Karena pelanduk termasuk hewan kecil, biasanya binatang ini jadi sasaran atau mangsa binatang-binatang buas seperti singa, macan dan lainnya.

KEISTIMEWAAN PELANDUK
Untuk menghindarkan diri dari sasaran hewan/binatang buas, pelanduk menjadikan bukit batu sebagai tempat perlindungan bagi mereka. Sebab pelanduk menyadari tubuhnya yang kecil itu tidak mungkin bisa melawan binatang buas dengan kekuatan fisiknya. Sebab itu pada saat binatang buas mengincar dirinya, satu-satunya harapan pelanduk adalah menjadikan gunung batu sebagai tempat perlindungannya.

Demikian juga seorang pengikut Yesus yang sejati. Ia sadar dalam 1 Petrus 5:8 bahwa Iblis menyerang dia, seperti singa yang mengaum untuk memangsa dirinya. Satu-satunya harapan pengikut Yesus yang sejati ialah datang kepada Yesus dan berdoa. Mazmur 71:3 berkata “Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku”.

3. BELALANG
Belalang bukan binatang yang kuat atau mempunyai senjata yang ampuh seperti tawon. Anak kecilpun bisa menangkap belalang. Tetapi bila belalang bersatu, seperti saat Allah mendatangi Mesir dengan belalang dalam jumlah besar, maka orang Mesir pun mengalami ketakutan (Keluaran 10:1-20).

Amsal 30:27 berkata “Belalang itu tidak mempunyai raja atau pemimpin. Namun semuanya berbaris dengan teratur.”

 Kalau belalang yang tidak mempunyai raja tetapi karena mereka bersatu hati dengan teratur, maka persatuan mereka menjadi kekuatan yang besar dan hebat. Apalagi kalau sebagai pengikut Yesus yang sejati, kita menyatukan hati di bawah pemimpin Tuhan Yesus Kristus, Raja kita maka tidak ada yang sanggup bertahan di hadapan Yesus, Raja kita dan tak ada yang tidak mungkin bagi kita. Iblis mengetahui bahwa kekuatan gereja, yaitu orang-orang percaya selain Yesus dan Roh Kudus yang menyertai orang-orang percaya, yaitu persatuan jemaat.

Matius 18:20 mengatakan: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku (nama Yesus), di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Pada saat orang-orang percaya menyatukan hati dan datang kepada Yesus dalam doa maka Iblis menjadi gemetar dan ketakutan. Sebab itu, jangan kita terkecoh oleh tipu muslihat Iblis yang berusaha memecah belah dengan roh kebencian, sakit hati, kemarahan, perselisihan dan lain sebagainya.

4. CICAK
Amsal 30:28
“Cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.”

Cicak adalah hewan yang sederhana, tidak memiliki gigi taring, tidak memiliki sengat, kuku yang tajam dan lain-lainnya.

KEISTIMEWAAN CICAK
Menurut seorang peneliti dari Universitas, Berkeley – California: di telapak tangan cicak ada bulu-bulu halus yang disebut “SOBOTTA” yang membuat cicak bisa melekat di dinding.

Kalau kita hubungkan dengan nubuatan Yakub untuk Yusuf dalam kejadian 49:22 mengatakan: “Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok.”

Tidak seorangpun dari kakak adik Yusuf, bahkan ayah Yusuf, yaitu Yakub yang mengira bahwa Yusuf akan menjadi seorang penguasa di istana Firaun, di Mesir. Yang mengerti rahasianya adalah Yusuf sendiri. Bagaimana Yusuf melekatkan dirinya kepada Tuhan sehingga ujian dan cobaan seperti apapun tidak membuat Yusuf jauh dan terpisah dari Tuhan.

Demikian juga, walaupun dunia tidak memandang kita karena kita adalah orang yang sangat sederhana di mata manusia. Tetapi, kalau kita melekatkan diri kita kepada pribadi Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus sanggup membawa kita untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Bukan di istana dunia ini, tetapi di dalam istana  kemuliaan-Nya di dalam sorga.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, biarlah karakteristik dari keempat binatang ini menjadi karakteristik kita sebagai pengikut Yesus yang sejati, bahwa kita rajin dalam mencari Tuhan, kita menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan, kita tetap menjaga persatuan dan semakin melekat kepada Tuhan. Apabila kita melakukan hal-hal ini, maka kita akan menikmati kemuliaan-Nya didalam kerajaan sorga (Yesaya 40:30-31).

PROTOKOL KERAJAAN ALLAH – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya – Minggu, 18 Oktober 2020)

Ester 4:11
“Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja.”

Ester diangkat untuk menggantikan ratu Wasti. Ester merupakan orang Yahudi. Namun ada sebuah masalah. Orang kedua dalam kerajaan yaitu Haman ingin memusnahkan seluruh bangsa Yahudi. Kemudian Mordekhai datang kepada Ester, sebab hanya Ester yang memiliki akses untuk datang kepada raja. Namun Ester berkata bahwa telah 30 hari raja tidak memanggilnya. Sebab, dalam kerajaan Media Persia ada sebuah protokol kerajaan yang berlaku bahwa semua orang yang menghadap raja dengan tidak dipanggil raja dan raja tidak mengulurkan tongkatnya, maka hukumannya adalah mati.

Ester 5:1-3 menceritakan bahwa ketika raja melihat Ester, maka raja berkenan dengan mengulurkan tongkat emasnya. Artinya, raja menghendaki kehadiran Ester untuk menghadap raja. Bahkan raja bertanya apa yang Ester inginkan, sampai berani melanggar protokol kerajaan.

PROTOKOL
Protokol adalah sekumpulan panduan / aturan yang dibuat untuk menjaga kehormatan sebuah negara yang diwakili oleh pemimpin tertinggi dari negara tersebut. Protokol berhubungan dengan kehormatan seorang raja dan lingkungan istana kerajaan. Protokol berhubungan dengan pemimpin sebuah negara dan istana kenegaraannya. Protokol juga berhubungan dengan acara kenegaraan saat menyambut pemimpin dari negara lain. Protokol tidak boleh dilanggar karena mewakili suatu kehormatan dan kemuliaan dari sebuah negara. Kalau dilanggar, maka sangsinya tidak terkatakan (sebuah kehinaan bagi negara tersebut).

Di tengah pandemi ini juga kita memakai istilah protokol kesehatan. Mengapa harus memakai kata protokol? Karena apabila dilanggar maka akan menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi kita dan bagi sesama kita, sebab akibat dari pelanggaran ini adalah kematian. Sanksi protokol Covid-19 diberikan agar orang-orang tahu bahwa hal ini merupakan hal yang serius, tidak bisa sembarang dilanggar.

Apakah protokol kerajaan? Protokol kerajaan Allah berisi panduan apa yang dikehendaki seorang Raja (Sang Pemilik kerajaan) di lingkungan kerajaan-Nya. Protokol dibuat untuk menyenangkan hati Raja.

PROTOKOL KERAJAAN ALLAH
Dengan protokol ini diharapkan seseorang yang datang kepada Tuhan dihadapan tahta-Nya mendapat perkenanan-Nya (bahkan mendapat akses kepada seluruh istana-Nya).

Ketika protokol ini disampaikan, sangat diharapkan bahwa orang-orang yang datang ke takhta seorang Raja, diperkenan oleh Raja, sama seperti ratu Ester. Sekalipun ia melanggar protokol kerajaan pada saat itu, namun karena raja berkenan, raja mengulurkan tongkatnya kepada Ester bahkan memberikan apa yang Ester inginkan.

KERAJAAN ALLAH
Mengapa kita harus belajar mengenai protokol kerajaan Allah?
Allah tinggal di sorga dan sorga merupakan sebuah kerajaan. Selama Yesus melayani di bumi, Yesus sering memberitakan mengenai kerajaan Allah, bahkan Paulus juga melelakukan hal yang sama (Matius 4:17; Matius 9:35; Kisah 1: 3a; Kisah 28:31).

Mengapa kita harus mengikuti protokol kerajaan Allah? Sebab kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan (Ibrani 12: 26-28). Orang-orang yang hidup dalam kerajaan Allah ini sudah sepatutnya hidup mereka selalu mengucap syukur dan beribadah dengan menghormati Tuhan dalam ibadah.

Banyak kerajaan-kerajaan dunia ini yang begitu hebat pada awal mulanya (Mesir, Babel, Asyur, Media Persia, Yunani, Romawi) pada akhirnya menurun karena goncangan-goncangan yang dialami. Kerajaan yang terakhir memerintah adalah kerajaan Antikristus. Sekalipun kerajaannya begitu kuat pada mulanya, namun pasti akan hancur juga.

Ketika kita mentaati protokol kerajaan Allah, maka hal ini berarti memberikan jaminan kepada kita aman dan tidak akan tergoncang dari kegoncangan yang akan dialami oleh dunia melainkan terpelihara dalam kerajaan  Allah.

Apa saja isi protokol kerajaan Allah ini? (Roma 14:17)
1. Kebenaran
Apakah kita sudah menjadi warga negara kerajaan Allah? Kalau belum, berarti posisi kita belum benar terhadap kerajaan Allah.

Yohanes 3:3-5 berkata untuk mengalami kerajaan Allah, maka kita harus benar. Bagaimana caranya? Yaitu mengalami kelahiran baru. Ketika kita mengalami kelahiran baru, maka kita akan dipimpin oleh Firman dan Roh Kudus yang akan membawa hidup kita dalam pertobatan setiap hari.

Bertobat dalam bahasa Yunani: Metanoia yang berarti perubahan pikiran. Bukan lagi pikiran yang berasal dari kehidupan lama. Oleh sebab itu pikiran kita harus terus dicek juga setiap jari agar tetap selaras dengan Firman Allah. Sebelum tindakan kita berubah, maka yang harus kita ubah adalah pikiran kita.

2. Damai sejahtera (Inside)
Kalau kita mengikuti protokol ini maka kita akan mengalami damai sejahtera. Mengapa? Dalam bahasa Yunani, damai sejahtera ini berkaitan dengan jaminan kelimpahan dari kerajaan Allah.

Kalau posisi kita benar terhadap undang-undang kerajaan Allah, maka keyakinan kita akan kuat bahwa kerajaan ini akan memelihara kehidupan kita. Kita tidak akan mengalami ketakutan, kekuatiran, kegelisahan, dsb sekalipun dunia mengalami goncangan-goncangan (Matius 6:33).

3. Sukacita oleh Roh Kudus (Outside)
Sukacita yang terekspresi lewat perkataan dan tindakan yang tidak mempermalukan dan mencemari kerajaan Allah (1 Tesalonika 1:5-6).

Matius 13: 41 memberi contoh bahwa banyak orang yang berada didalam kerajaan Allah namun tidak mengikuti protokol. Orang yang tidak mengikuti protokol kerajaan Allah tidak akan hidup dalam kebenaran, damai sejahtera dan sukacita. Oleh sebab itu, mereka tidak akan masuk dalam kerajaan Allah. Namun orang-orang yang mengikuti protokol kerajaan Allah akan bersinar dalam kerajaan-Nya (Matius 13:43).

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, hiduplah dalam protokol kerajaan Allah yaitu kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Ketika kita melakukan protokol kerajaan Allah, Allah disenangkan dan pada akhirnya jaminan pemeliharaan dari Kerajaan Allah menjadi bagian kita orang yang percaya. Amin.