SIAP MENGHADAPI KENYATAAN HIDUP BERSAMA YESUS – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya – Minggu, 26 Januari 2020)

MATIUS 26:39

Pendahuluan
Banyak orang percaya kurang dapat memahami bahkan tidak dapat menerima kenyataan bahwa, sering kali apa yang diharapkan, apa yang didoakan kepada Tuhan, hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan yang yang diinginkannya. Mengapa banyak orang yang mengalami kekecewaan,  kepahitan,  dendam,  stres, putus asa?  Jawabnya tidak dapat menerima kenyataan. Mengapa banyak orang sulit menerima kenyataan hidup yang dihadapi ? Untuk kita dapat mengetahui jawabannya kita lihat contoh yang paling akurat yang diungkapkan lewat doa dari Tuhan Yesus di taman Getsemani.

Matius 26:39 – maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa kata-Nya : “Ya Bapa-Ku jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

 Tuhan Yesus dalam tubuh kemanusiaan-Nya yang seratus persen manusia, ternyata juga dapat memiliki keinginan yang sama yaitu menawar sesuatu yang kalau bisa sesuai dengan apa yang Ia kehendaki dalam mengemban tugas mulia di bumi ini. Tetapi Tuhan memberi pengajaran penting kepada kita dengan doa-Nya “…tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dari sini kita mendapatkan jawaban mengapa banyak orang sulit menerima kenyataan hidup yang dihadapi yaitu,  karena apa yang ia terima tidak sesuai dengan apa yang ia kehendaki, apa yang Tuhan berikan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Betapa sering kita sebagai orang percaya tanpa sadar meminta Tuhan melalui permohonan kita agar Tuhan menyesuaikan dengan kehendak kita, keinginan kita, maunya kita, yang seharusnya kitalah yang harus menyesuaikan segala sesuatu yang kita inginkan kepada kehendaknya Tuhan. Kadang kita merasa lebih tahu dari Tuhan tentang apa yang baik buat hidup kita. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Itulah sebabnya Ia membuat sesuatu yang justru bertentangan dengan keinginan kita dan mengijinkan hal itu memproses kehidupan kita.

Mengapa Tuhan ijinkan, ada penderitaan, kegagalan, sakit, kerugian dialami oleh orang percaya? Amsal 16:14 “Tuhan membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.”  Penulis Amsal menjelaskan bahwa, apa yang Tuhan buat bagi kita yang bertentangan dengan kehendak kita, itu punya tujuan yang tentunya pasti baik buat kita. Orang fasik saja disiapkan hari bagi mereka untuk terima malapetaka kalau tidak menghargai kesabaran Tuhan untuk bertobat, apalagi kita orang-orang yang dikasihi-Nya. Siapapun dapat salah dalam memahami Tuhan, kalau menilai kebaikan Tuhan hanya pada berkat dan hal-hal yang baik saja. Munculnya teori theologi kemakmuran, karena salah memahami kasih Tuhan, yang hanya dinilai dari  berkat-berkat-Nya saja. Kasih Tuhan tidak selalu dinyatakan lewat berkat saja, tetapi juga lewat didikan, teguran, hajaran dengan mengijinkan kenyataan hidup yang pahit. Perhatikan apa yang dikatakan Ayub.

Ayub 2:10 “Tetapi jawab Ayub kepadanya, Engkau berbicara seperti perempuan gila. Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?. Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”

 Siapa yang tidak kenal Ayub, orang yang diluar Tuhan saja banyak yang tahu kisahnya yang luar biasa. Salah satu dari kunci kekuatan Ayub dalam menghadapi kenyataan hidup yang pahit adalah ia memahami bahwa Tuhan tidak selalu memberikan hal yang baik atau berkat saja, tetapi juga hal yang buruk untuk kebaikannya.  Kita juga dapat melihat penjelasan dari penulis kitab Pengkhotbah yang lebih gamblang lagi.

Pengkhotbah 7:14 “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.”

Kita lihat disini bahwa, Tuhan membuat dua situasi yaitu mujur  dan malang pada tujuan yang sama, yaitu untuk kebaikan kita.

“…tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur…” Artinya kemalangan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita itu juga merupakan bentuk kasih sayang Tuhan seperti ketika Tuhan memberi kemujuran kepada kita. Banyak orang percaya salah dalam menilai kenyataan hidup yang mereka hadapi, yang menilai Tuhan itu sayang karena memberi kemujuran, tetapi Tuhan dinilai sudah meninggalkan hidupnya dan tidak peduli lagi ketika mengalami kemalangan. Kalimat selanjutnya pada ayat di atas  adalah “supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Artinya adalah agar setiap orang yang percaya memiliki penyerahan total pada Tuhan yang tahu mengelola masa depan kita dengan baik.

Contoh:

  • Yusuf
    Kejadian 50:20a “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan….” Yusuf adalah seorang yang begitu mempercayai Allah dalam setiap kenyataan hidup yang ia alami meski tidak sesuai dengan kehendaknya. Ia mempercayai Allah meskipun saudara-saudaranya mereka-rekakan kejahatan atas dirinya sehingga kenyataan hidupnya begitu pahit. Yusuf tetap berpegang kepada Tuhan yang sanggup mengubah rekaan jahat menjadi kebaikan dan menguntungkan dirinya.
  • Rasul Paulus
    2 Korintus. 12:7-9.  “ Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.  Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna…”
    Orang sekelas rasul Paulus yang dipercaya Tuhan dengan karunia yang melebihi rasul-rasul lain saja, Tuhan proses lewat kemalangan penderitaan dalam dirinya. Paulus mengalami penderitaan karunia, sesuatu seperti duri dalam dagingnya, yaitu seorang utusan Iblis yang menggocoh dan menjadi batu sandungan dalam pelayanannya. Sudah tiga kali Paulus berdoa menghendaki supaya itu dicabut dari dalam hidupnya, tetapi kehendak Tuhan berkata lain, cukup kata Tuhan kasih karunia-Nya bagi Paulus, duri itu tetap ada. Mengapa? Karena duri itu juga merupakan bentuk kepedulian Tuhan kepada Paulus agar tidak jatuh pada dosa kesombongan.

BAGAIMANA KITA DAPAT SANGGUP MENGHADAPI KENYATAAN HIDUP INI ?
Jawabannya adalah apapun yang terjadi tetaplah tinggal dalam penggembalaan Tuhan. Kita dapat melihat contoh pengalaman Daud dalam penggembalaan Tuhan di Mazmur 23.

  • 23:1 “ Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

Ayat ini bukan sedang menjelaskan bahwa Daud tidak pernah berkekurangan, tetapi menjelaskan bahwa Daud mampu menang dalam menghadapi krisis kekurangan. 1 Sam. 21:1-6. Daud dan pasukan pernah tidak punya makanan sama sekali sampai minta makanan kepada imam Eliezer di Nob dan hanya diberi roti sajian yang sebenarnya hanya dimakan oleh para imam karena memang tidak ada makanan.

  • Maz 23:2 “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.” Daud pernah mengalami ketidaktenangan hidup karena dikejar-kejar musuh yang hendak membunuhnya.
  • Maz 23:3 “Ia menyegarkan jiwaku, Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Daud juga pernah mengalami kekeringan jiwanya ketika ia tidak lagi berjalan pada jalan yang benar. Itu terjadi ketika ia jatuh dalam dosa zinah dengan Bethsyeba.
  • Maz 23:4 “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku.” Daud pernah mengalami ketakutan karena bahaya maut.
  • Maz 23:5 “Engkau menyediakan hidangan bagiku, dihadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.” Daud pernah mengalami bagaimana ia direndahkan oleh lawan-lawannya, tetapi Allah membalikkannya menjadi kehormatan dengan menyajikan makanan dihadapan para lawan-lawannya, kepalanya diurapi dengan minyak sebagai tanda kepercayaan Allah kepada Daud.
  • Maz 23:6 “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.” Dalam semua penderitaannya Daud menyadari bahwa didalamnya kebajikan dan kemurahan Tuhan selalu dinyatakan baginya. Semuanya ini Daud dapatkan dan alami dalam penggembalaan Tuhan.

Apapun yang saudara dalam menghadapi kenyataan hidup sekarang ini, jangan pernah keluar apalagi meninggalkan penggembalaan Tuhan.

Contoh lain : Ayub 42:5  – “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ini dikatakan Ayub setelah ia mengalami tragedi buruk yang luar biasa dalam hidupnya.  Dari mulai hartanya habis dalam waktu yang singkat, sepuluh anaknya mati dalam satu hari, berpenyakitan dari ujung kepala sampai telapak kakinya, Ayub tetap peluk kuat Tuhan dantidak keluar dari penggembalaan Tuhan. Ia mempercayai penuh apa yang Tuhan ijinkan dan menghadapi dengan teguh kenyataan hidupnya di dalam Tuhan.  Baik Yusuf, Ayub, Daud maupun Rasul Paulus, mereka adalah pribadi-pribadi yang kuat dan tak tergoyahkan imannya karena mereka berani menghadapi kenyataan hidup bersama Tuhan.  Mereka tetap tinggal dan tidak keluar dari penggembalaan Tuhan.  Mereka tahu apapun konsekuensi dalam mengikut Tuhan, selama ada dalam tangan Tuhan dan selama masih ada waktu. Tuhan sanggup mengubahkan, memulihkan segala sesuatunya bagi kita, seperti ada tertulis dalam Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

BIJAK MENGGUNAKAN WAKTU – Oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 19 Januari 2020)

1 PETRUS 4:2 

PENDAHULUAN
Rasul Petrus berkata dalam 1 Petrus 4:2 “Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”

WAKTU
Dalam bahasa Yunani ada tiga kata yang dipakai untuk menjelaskan tentang waktu antara lain:
1. KRONOS
Kronos adalah satuan waktu dengan berbagai ukuran, dari yang paling singkat yaitu sekejap mata, Lukas 4:5, dan istilah lainnya: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dekade, abad sampai millennium. Kronos juga dipakai untuk menjelaskan waktu yang berlangsung lama, hal ini bisa kita baca dalam Lukas 8:27; 20:9.

2. AION
Adalah waktu tanpa batas dan Alkitab tidak menjelaskan kapan langit dan bumi diciptakan.

Kalau kita baca Kejadian 1:3 sampai dengan Kejadian 2:7, ayat-ayat ini bukan saat Allah  menciptakan langit dan bumi, tapi ayat ini menjelaskan Allah melakukan restorasi (memulihkan) terhadap langit dan bumi yang dirusakkan oleh Iblis dan direstorasi atau dipulihkan kembali oleh Allah. Aion juga dipakai untuk menjelaskan waktu yang berlangsung lama, hal ini dapat dibaca dalam Lukas 8:27; 20:9.

Perhatikan Gambar! Setelah berakhir riwayat hidup manusia di muka bumi, maka waktu akan melebur dalam kekekalan, sehingga tidak ada lagi waktu, tetapi semuanya hidup dalam kekekalan. Jadi saat semua berakhir yaitu setelah masa 1000 tahun, waktu akan kembali kepada kekekalan sama seperti zaman Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa.

Firman Allah menegaskan dalam Efesus 1:21 “bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga dunia yang akan datang” yaitu dalam dunia kekekalan dan Wahyu 21:1 tentang langit yang baru. Suatu keadaan dimana tidak ada waktu lagi, karena waktu telah lebur kedalam kekekalan dan inilah: “AION”.

3. KAIROS
Kairos adalah waktu Tuhan dalam melakukan rencana-Nya. Tak ada yang bisa mempengaruhi, mencegah atau memaksa Tuhan untuk melakukan atau mengulanginya. KAIROS adalah waktu Tuhan dalam menyatakan kasih, kemurahan-Nya dalam memberikan hidup; keselamatan dan pengampunan. Dalam Mazmur 90:10, Tuhan telah menetapkan bagi manusia kesempatan untuk hidup di dunia hanya satu periode dengan rentang waktu 70-80 tahun. Faham reinkarnasi yang mengajarakan manusia hidup dalam beberapa periode bertentangan dengan firman Allah. Bahwa firman Allah menuliskan dalam Ibrani 9:29 “…manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.”

Oleh sebab itu bagaimana sikap yang harus digunakan sehubungan dengan waktu?

  1. KRONOS – yaitu paket waktu yang masih kita miliki dari Tuhan sebagai kesempatan bagi kita hidup di dunia ini.
  2. AION – yaitu di mana kita akan hidup di suatu tempat tanpa batas waktu. Dan tempat itu: sukacita bersama-sama Yesus dalam sorga atau siksa dan penderitaan di neraka. Ini pilihan kita. Sebab itu, kita tidak boleh bermain-main dengan (perhatikan poin 3):
  3. KAIROS – yaitu periode kerja Allah. Tidak untuk selamanya pintu anugerah Allah dibuka untuk mengaruniakan: kasih-Nya, kemurahan-Nya, ampunan-Nya dan keselamatan-Nya bagi kita. Wahyu 3:7 “…apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”

Perhatikan nasihat rasul Petrus dalam 1 Petrus 4:2 “…Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” Artinya dalam menggunakan kesempatan yang Tuhan beri kepada untuk menerima: kasih, kemurahan dan keselamatan itu telah habis, ditutup atau berakhir. Kita tidak mungkin bisa minta agar Tuhan memperpanjang kesempatan atau mengulangnya kembali. Maka yang harus dilakukan adalah tidak mempergunakan waktu menurut keinginan manusia melainkan menurut kehendak Allah. Sebab Kairos adalah kesempatan yang tidak bisa diulang untuk kedua kali selama hidup. Kalau kesempatan itu disia-siakan, kita akan menyesal selama-lamanya. Oleh karena itu, dari sisa waktu yang masih dimiliki, apakah kita telah menggunakan KAIROS atau waktu/kesempatan untuk kehendak Allah. Roma 5:6 tidak untuk seterusnya Allah memberi/ mengaruniakan keselamatan, kasih dan kemurahan-Nya kepada kita, tapi Allah mengaruniakannya sesuai KAIROS – waktu yang ditentukan bagi kita. Karena ada saatnya, Allah sendiri yang akan mengakhiri kesempatan itu bagi kita.

KAIROS DALAM MELAYANI TUHAN
Ada saatnya Tuhan beri kesempatan kita untuk melayani, tapi ada saatnya kairos kesempatan untuk kita melayani juga akan diakhiri! Galatia 6:10 “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Apabila kita tidak mempergunakan kairos-Nya Tuhan, yaitu (waktu atau kesempatan yang Tuhan berikan) maka kesempatan itu akan hilang.

PENUTUP
Berbicara soal waktu ada sebuah contoh dalam alkitab yaitu: Orang kaya; Lazarus dan Abraham dalam mempergunakan waktu Kronos; Kairos dan berakhir dengan Aion yang tercatat dalam Lukas 16:19-31.

ORANG  KAYA (Lukas 16:19)

  • Orang kaya ini menyia-nyiakan KAIROS: kesempatan yang Tuhan beri, yaitu kemurahan, kasih dan keselamatan. Tetapi sebaliknya, kesempatan baik untuk menerima kemurahan, kasih dan keselamatan ia pergunakan untuk kesenangan daging yaitu pesta pora.
  • Setelah umur (kronos – masa hidupnya berakhir), Lukas 16:24, orang kaya baru sadar ia butuh Yesus sebagai air kehidupan. Tapi KAIROS Tuhan (waktu untuk menerima keselamatan) sudah habis.
  • Lukas 16:27,28, orang kaya itu juga ingin melayani (berbuat baik) kepada saudara-saudaranya, agar saudaranya tidak masuk neraka. Tapi KRONOS, waktu / kesempatan yang dimilikinya habis.
  • Apa yang dialami oleh orang kaya itu di AION, yaitu suatu tempat (alam) yang tidak dibatasi oleh waktu – detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun? Lukas 16:23-25, si orang kaya menderita tanpa henti dan tanpa ujung.

LAZARUS

  • Lukas 16:20, Lazarus menyambut KAIROS; waktu; kesempatan yang Tuhan berikan untuk mendapat kasih, kemurahan dan keselamatan dari Yesus.
  • Di AION – suatu tempat yang tidak dibatasi waktu, Lazarus senang ada di pangkuan Abraham, tapi Lazarus tidak  turut  melayani  Tuhan  yaitu meletakkan mahkota di hadapan Yesus. Sebab semasa hidupnya ia tidak melayani Tuhan, melainkan hidup tidak menjadi berkat.

A B R A H A M

  • Lukas 16:23b “…dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.” Selama hidupnya di dunia, Abraham hargai dan gunakan KRONOS dan KAIROS yang Allah berikan kepada Abraham dengan sebaik-baiknya.
  • Kejadian 12:1-7, Ketika KAIROS Allah dinyatakan kepada Abraham, saat Allah panggil Abraham untuk rencana-Nya yang besar. Dengan taat Abraham penuhi panggilan Allah.
  • Kejadian 14:14-16, Selama menjalani KRONOS-(hidup di dunia), Abraham pakai semua potensi dari Tuhan untuk melayani, antara lain: menyelamatkan Lot, dari raja Sodom dan Gomora.
  • Kejadian 18:16-33, Abraham BERSYAFAAT untuk keluarga Lot.
  • Apa yang Abraham alami pada saat Abraham masuk suatu tempat yang tidak dibatasi waktu. Abraham bukan hanya masuk sorga, dikatakan: “Lazarus duduk di pangkuan Abraham”, suatu gambaran di sorga kemuliaan Abraham menerima kedudukan yang mulia.

 KESIMPULAN
Ada waktu-Nya Tuhan buka pintu kesempatan bagi kita. Bila kita abaikan pintu kesempatan, saatnya pintu akan tertutup selamanya. Kemungkinan pintu kesempatan hanya sekali terbuka bagi kita. Sebab itu hendaklah kita peka, bijaksana, berani bertindak, atau kita akan menyesalinya untuk selamanya. Tuhan Yesus memberkati.

PEMBUNUH RAKSASA seri 15 : PEMBUNUH RAKSASA MEMILIH MAJU BERTEMPUR DARI PADA KABUR (Fight not Flight) – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 12 Januari 2020)

1Samuel 17

1Samuel 17:48
Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu.

Puji Tuhan, oleh kasih karuniaNya, Tuhan telah menghantar kita memasuki tahun baru 2020. Dua belas hari telah kita tapaki tahun 2020, masih ada 352 hari lagi yang akan kita jalani di tahun 2020. Datangnya tahun baru selalu memberikan harapan baru, kehidupan yang lebih baik dan berkat yang melimpah. Namun demikian kita harus menyadari bahwa hari depan tidak hanya menjanjikan kecerahan, tahun yang baru juga memberikan tantangan, kesulitan dan seribu satu persoalan hidup.

Firman Tuhan berkata: “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” Kapan yang dimaksud dengan hari-hari terakhir? Sekaranglah waktunya hari-hari terakhir. Inilah waktu kesukaran itu tiba. Jadi siapkan diri untuk menghadapi masa kesulitan dan kesukaran yang akan terjadi di hari-hari yang akan datang. Jangan kecut dan tawar hati karena kita percaya dalam masa yang sukar sekalipun Tuhan tetap menyertai dan memberkati hidup kita. Ingatlah firman Tuhan yang telah disampaikan oleh Bapak Gembala dalam ibadah sulung pada tanggal 5 Januari yang lalu. Jemaat telah diberi peringatan bahwa kekristenan itu seperti orang yang bertanding dalam arena pertandingan. Dalam pertandingan, kita akan menghadapi penghalang-penghalang agar kita jatuh bahkan gagal menyelesaikan pertandingan.

Sejalan dengan yang telah disampaikan Bapak Gembala di ibadah sulung, pada saat ini kita akan kembali belajar tentang pembunuh raksasa seri 15. Tema kita pada pokok bahasan kali ini adalah: “PEMBUNUH RAKSASA MEMILIH MAJU BERTEMPUR DARI PADA KABUR.”

Seorang pembunuh raksasa bukanlah orang yang tidak memiliki kelemahan dan ketakutan, ia memiliki kelemahan, kekurangan bahkan ketakutan, tetapi ia memilih untuk maju bertempur dari pada mundur. Keberanian untuk menghadapi musuh itulah awal dari sebuah kemenangan. Banyak orang tidak pernah mencapai sukses dalam hidupnya karena takut menghadapi musuh, takut mengalami kesukaran dan takut menderita rasa sakit. Itulah sebanya hidupnya begitu-begitu saja tidak pernah maju dari tahun ke tahun.

Ingatlah bahwa di hari depan, tantangan pasti ada, kesukaran pasti terjadi, kesulitan pasti dialami, namun jadilah sebagai pembunuh raksasa yang memilih bertemput bukan kabur. Percayalah tidak ada pilihan yang terbaik bagi kita selain memutuskan untuk terus maju bertempur meski tubuh babak belur bahkan hancur. Jadilah seperti Daud yang memilih berlari ke barisan musuh, bertempur, menghadapi musuh face to face, daripada mundur teratur.

Mengapa Daud memilih maju bertempur, sementara barisan Israel memilih kabur?
1. Tidak ada kemenangan tanpa peperangan.
Kita semua tahu bahwa kita adalah pemenang bahkan alkitab berkata: kita ini adalah lebih dari pemenang. Tahukah Anda bahwa kemenangan hanya terjadi jika kita berani masuk dalam pertempuran. Tanpa peperangan atau pertempuran mustahil lahir kemenangan. Jadi jangan menghindari peperangan jika ingin mengalami kemenangan.

Ingatlah, yang juara hanya mereka yang berlaga, yang meraih piala hanya mereka yang berlomba, dan yang menang mereka yang perang.

Beranikanlah keluar dari zona nyaman, abaikan kelemahan, kalahkan ketakutan, hadapi tantangan, lawan semua kesulitan dan songsong kemenangan. Hanya ada dua kemungkinan dalam peperangan kita kalah atau menang. Jika kita menang kita mendapatkan piala kemenangan, namun jika kalah tak perlu kecil hati, sebab kalah di medan pertempuran lebih terhormat dari pada menang tanpa peperangan. Lihatlah para pahlawan, mereka tewas di pertempuran, tetapi nama mereka dikenang sebagai pahlawan. Ketahuilah kapal yang aman bersandar di pelabuhan, tetapi tidak pernah sampai tujuan. Jangan jadi orang kristen yang hanya mencari senang, ke gereja hanya cari berkat, berdoa hanya untuk mendapat miujizat, melayani hanya cari hormat. Akibatnya orang kristen yang seperti ini tidak pernah bertumbuh dewasa. Ia mudah kecewa, gampang terluka dan rentan dengan kepahitan. Tahun 2020 adalah tahun kemenangan bagi kita, karena itu beranikan diri menghadapi peperangan.

2. Keberhasilan terjadi dalam tindakan bukan angan-angan atau rancangan
Ada pepatah yang berkata: gagal merencanakan adalah merencanakan kegagalan. Tapi saya mau katakan, sehebat apapun rencana yang kita buat, sebagus apapun planning yang dilakukan, sedetail apapun rancangan dikerjakan, jika tidak ada aksi nyata, tidak ada tindakan, semuanya sia-sia. Banyak orang tidak maju hidupnya bukan karena tidak adanya rencana, mereka memiliki rencana, cita-cita tetapi tidak berani bertindak. Orang-orang besar dan sukses adalah mereka yang berani bertindak ditengah ketidakmungkinan sekalipun.

Iman disempurnakan oleh tindakan.
Yakobus 2:22
Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

Sadarilah bahwa iman disempurnakan oleh tindakan. Percaya Tuhan hebat, itu baik, Tuhan dahsyat itu baik, namun jika kita tidak berani bertindak maka kita tidak akan pernah mengalami dan melihat kehebatan dan kedahsyatan Tuhan. Daud percaya bahwa Tuhan adalah hebat, kuat dan dahsyat, sebab Tuhan pernah menolongnya saat mengembalakan domba ayahnya. Saat singa dan beruang akan memangsa domba-dombanya ia memukulnya hingga mati. Oleh karena percaya kepada Tuhan yang besar dan dahsyat itulah yang membuat Daud memilih untuk maju bertempur menghadapi Goliat. Tindakan adalah buah dari iman. Tindakan-tindakan yang didasarkan kepada iman yang benar menghasilkan kemenangan.

3. Saat kita bergerak, maka Tuhan akan bertindak
Inilah cara kerja Tuhan, Tuhan akan bertindak saat kita bergerak. Iman melihat yang tak kelihatan, bukan melihat kenyataan. Daud tidak menunggu Tuhan bertindak, menunjukkan kuasaNya baru ia maju. Daud memilih maju lebih dahulu, setelah itu dia lihat tangan Tuhan menolongnya, mengarahkan batu umban yang dilepaskan tepat di dahi Goliat. Percaya itu tidak melihat tanda, percaya itu bergerak tanpa bertanya. Beranikanlah untuk bergerak maju menghadapi musuh, sebab saat kita maju, kuasa Allah akan menyokong hidup kita.

Mari kita lihat sebuah contoh yang dicatat dalam 1 Sam. 14: 1-23. Perhatikan ayat 6, 12 dan 15.
1Sam. 14:6 Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: “Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.”

 1Sam. 14:12 Orang-orang dari pasukan pengawal itu berseru kepada Yonatan dan pembawa senjatanya, katanya: “Naiklah ke mari, maka kami akan menghajar kamu.” Lalu kata Yonatan kepada pembawa senjatanya: “Naiklah mengikuti aku, sebab TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Israel.”

 1Sam. 14:15 Lalu timbullah kegentaran di perkemahan, di padang dan di antara seluruh rakyat. Juga pasukan pengawal dan penjarah-penjarah itu gentar, dan bumi gemetar, sehingga menjadi kegentaran yang dari Allah.

Yonatan tidak pernah tahu sebelumnya apa yang akan Tuhan kerjakan bagi dia dan bangsa Israel. Yonatan hanya memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan kemenangan dan menyerahkan musuh ke tangan orang Israel. Buah dari imannya, ketika ia bersama bujangnya berjalan maju ke perkemahan lawan, Tuhan membuat langkah mereka menggentarkan bahkan bumi gemetar sehingga musuh lari sebelum mereka tiba.  Haleluya!!

Kisah lain, kita dapat lihat dalam cerita sepuluh orang kusta yang dicatat dalam Lukas 17.
Lukas 17:14
Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

Saat sepuluh orang kusta datang kepada Yesus agar disembuhkan, Tuhan Yesus tidak mendoakan atau menumpangkan tangan kepada mereka, Tuhan Yesus memerintahkan agar menunjukkan diri kepada imam. Orang-orang yang kusta ini tahu aturan torat, bahwa hanya orang yang sudah tahir dari kusta yang boleh menghadap imam. Menurut aturan mereka tidak boleh datang kepada imam sebelum sembuh, tetapi karena mereka percaya kepada perkataan Tuhan Yesus, maka sepuluh orang kusta ini pergi memperlihatkan diri kepada imam. Dan terjadilah, sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Lihatlah saat mereka bergerak, maka Tuhan bertindak.

Perjalanan 2020 masih panjang, jangan takut dengan tantangan yang menghadang, bergeraklah maju sebab saat kita bergerak, Tuhan akan bertindak. Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan, selebihnya biarkan Tuhan yang berkerja. Percayalah Dia tidak pernah membiarkan kita, Tuhan pasti menyokong kita. Ingatlah perkataan Pemazmur dalam Mazmur 20:3 Kiranya dikirimkan-Nya bantuan kepadamu dari tempat kudus dan disokong-Nya engkau dari Sion.

Selamat berjalan bersama Tuhan, jadilah pembunuh raksasa yang memilih bertempur, bukan kabur. Tuhan memberkati – KJP!!

Tantangan Dalam Pertandingan Iman – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Sulung – Minggu, 5 Januari 2020)

1 Korintus 9:24-25

PENDAHULUAN
Berbicara tentang kehidupan, firman Allah mengumpamakan bahwa hidup manusia di dunia ini seperti:

  • Yosua 1:8 – sebuah perjalanan panjang
  • Ayub 7:1 – orang yang sedang bergumul
  • 1 Korintus 9:7 – seperti orang berperang
  • 1 Korintus 9:24 – seperti arena pertandingan

SEJARAH PERTANDINGAN
Sebuah pertandingan dalam sejarah olimpiade Yunani, tidak semua orang dapat mengikuti  pertandingan di arena perlombaan. Ada syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang ingin bertanding. Syaratnya antara lain:

  1. Harus orang merdeka bukan budak.
  2. Berstatus warga negara
  3. Mengikuti pelatihan
  4. Memiliki dedikasi dan berdisiplin
  5. Diperkenalkan (nama dan asalnya disebut) saat perlombaan

Kelima syarat ini harus dimiliki oleh setiap orang yang akan mengikuti sebuah pertandingan. Jika tidak memenuhi syarat pertandingan, mereka akan gugur. Dalam kekristenan pun, ada syarat dan ketentuan. Karena orang yang mengikuti pertandingan rohani (iman) adalah orang yang telah percaya kepada Yesus; lahir baru dan namanya sudah tercatat di dalam kerajaan Surga. Artinya, tidak semua orang di dunia ada di arena pertandingan iman. Orang yang  ada di luar Kristus, tidak turut berlomba. Arena menuju kemuliaan adalah waktu yang kita miliki sekarang ini. Namun dalam arena pertandingan iman pasti ada tantangan, sebab itu untuk  jadi pemenang, membutuhkan disiplin rohani; asupan gizi rohani; diperlukan latihan rohani tiap-tiap hari; memelihara stamina rohani dan berjuang dengan gigih.

GAMBARAN KEKRISTENAN dan PERJALANAN BANGSA ISRAEL
Berbicara tentang pertandingan iman, kisah bangsa Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir ke tanah Kanaan dapat kita pelajari, karena dapat dikatakan relevan dengan perjalanan kita dari dunia ini menuju Kanaan Samawi, Sorga yang kekal.

Jika diperhatikan perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan seperti dalam  pertandingan, pergumulan, perjuangan dan peperangan yang harus dimenangkan oleh bangsa Israel. Demikian kita sebagai orang percaya, kita sedang bertanding untuk bisa sampai di Tanah Kanaan Samawi, yaitu Surga dan hal ini sesuai yang dijelaskan Paulus kepada jemaat Korintus dalam 1 Korintus 10:1. Sebagaimana bangsa Israel bisa melintasi Laut Teberau dengan cara ajaib, setiap pengikut Yesus juga melintasi laut kematian oleh korban Yesus di kayu salib, sehingga kita sekarang ada di jalur menuju Surga kekal. Jadi Israel dapat melintasi laut Teberau karena Tuhan menyertai mereka. Sebab untuk menuju Tanah Perjanjian , yaitu Kanaan, kita dapat melintasi Laut Kematian oleh korban Yesus di kayu salib sehingga sekarang kita ada di jalur menuju Tanah Perjanjian, Sorga yang mulia.

1 Korintus 10:2-4, bangsa Israel akan mati di padang gurun apabila mereka tidak mau berhimpun untuk mengumpulkan roti manna dan memakannya. Jemaat (pengikut Yesus yang sejati) juga harus setia ibadah makanan rohani, yaitu firman Allah dan kehadiran Roh Kudus yang menyegarkan  rohani. Itu sebabnya “jangan tinggalkan ibadah”.

JAMINAN TUHAN
Kalau kita cermati 1 Korintus 10:2-4, sebenarnya tidak ada satu pun dari bangsa Israel yang  gagal. Mengapa? Sebab, Tuhan sudah sediakan semua kebutuhan bangsa Israel.  Mereka  hanya  dituntut  patuhi pimpinan Tuhan, mereka pasti akan sampai di Tanah Kanaan. Tetapi, selanjutnya dikatakan dalam 1 Korintus 10:5, bahwa Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Bangsa Israel gagal masuk ke tanah perjanjian karena Allah tidak berkenan kepada bangsa Israel. Dan hal ini harus menjadi contoh dan peringatan bagi kita yang hidup di akhir zaman (1 Korintus 10:6a). Artinya, kegagalan bangsa Israel jangan sampai terulang dalam diri kita. Walaupun kita sudah ada di jalan menuju sorga tetapi kita gagal karena kita seperti atlet yang  tidak taat dengan aturan pertandingan.

5 (LIMA) KESALAHAN BANGSA ISRAEL
Kesalahan yang dilakukan bangsa Israel yang menyebabkan mereka gagal masuk Kanaan, yaitu:
1. Menginginkan hal yang jahat
1 Korintus 10:6b “Supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat.” Peristiwa ini dicatat dalam kitab Bilangan 11:4-6, dimana bangsa Israel bosan dengan manna yang mereka makan tiap hari. Mereka menginginkan menu Mesir. Dan arti rohaninya, orang Kristen yang sudah percaya Yesus, tapi hidupnya masih dikuasai keinginan daging yaitu hawa nafsu, 1 Yohanes 2:16. Penyebabnya Bilangan 11:4, ada orang bajingan yaitu orang Mesir yang cuma ikut-ikutan, merupakan gambaran orang Kristen yang hanya ikut-ikutan (Keluaran 12:28).

2. Menjadi penyembah berhala (1 korintus 10:7)
Peristiwa ini dicatat dalam Keluaran 32:1-6, lama bangsa Israel tidak melihat nabi Musa sebagai pemimpin mereka. Sebagai gambaran bahwa dalam menantikan kedatangan Yesus kedua kali, banyak orang kehilangan iman; goyah lalu berpaling dan berkompromi dengan penyembahan-penyembahan lain. Yesus ingin kita setia, apa pun yang terjadi, Matius 24:12,13 “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi  dingin. Tetapi  orang  yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”

3. Melakukan percabulan
1 Korintus 10:8 “Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan beberapa orang dari mereka sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.” Dosa zinah sama dengan dosa tidak setia. Kisah ini tercatat dalam:

a. Bilangan 22 – Balak, raja Moab ketakutan, lalu meminta jasa dari Bileam untuk mengutuk bangsa Israel.
b. Bilangan 23,24 – Bileam bukan mengutuki Israel tetapi memberkati karena bangsa Israel, berada pada posisi formasi yang Allah tetapkan. Perhatikan gambar! Bangsa Israel setia dengan posisi mereka saat dalam perjalanan, tetapi ketika bangsa Israel tergoda oleh para wanita Moab, mereka keluar dari formasi yang Allah tetapkan dan berzinah dengan wanita-wanita Moab, yang terjadi adalah kematian bagi yang berzinah. Bilangan 25:9 “Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu orang banyaknya.”

4. Mencobai Tuhan
1 Korintus 10:9 “Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka sehingga mereka mati dipagut ular.” Pada kasus ini, bangsa Israel dengan sengaja menantang Tuhan, yaitu berbuat/melakukan dosa yang sudah diketahui dan dimengerti.

5. Jangan bersungut-sungut
1 Korintus 10:10 “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.”

Berjalan Bersama Tuhan Dengan Hati Yang Bijaksana Di Sepanjang Tahun 2020 – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Tutup Tahun – Selasa, 31 Desember 2019)

Kiranya ini menjadi kerinduan kita bersama jemaat GPdI Mahanaim Tegal yaitu berjalan bersama Tuhan di tahun 2020 namun yang perlu ditambahkan didalamnya adalah hati yang bijaksana.

Musa meminta kepada Tuhan supaya Tuhan menyertai mereka dalam perjalanan sampai ke tanah Kanaan. Musa menginginkan agar Tuhan berjalan bersama dengan mereka. Namun tahukah saudara, sekalipun Tuhan berjalan bersama dengan mereka yang hanya bisa memasuki tanah Kanaan hanyalah Yosua dan Kaleb, selebihnya adalah keturunan bangsa Israel yang lahir di padang gurun. Mengapa demikian? Mereka meminta Tuhan berjalan bersama mereka namun mereka tidak memiliki hati yang bijaksana. Itulah sebabnya Musa di masa tua kehidupannya, dia menuliskan Mazmur 90:12 untuk mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya setelah kita mengevaluasi hari-hari kehidupan kita sehingga pada akhirnya kita memiliki hati yang bijaksana.

Mazmur 90:12 – Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Namun adalah lebih bijaksana bila kita memperoleh hati yang bijaksana bukan karena sudah terjadi suatu musibah atau sakit penyakit yang mengharuskan kita tidak memiliki pilihan yang lain selain hati yang bijaksana. Memperoleh hati yang bijaksana namun hanya memiliki sedikit waktu untuk tidak mengulanginya kembali.

EVALUASI AKHIR TAHUN
Akhir tahun adalah waktu untuk kita mengevaluasi diri. Bapak Gembala dalam firman Tuhan yang disampaikan di minggu terakhir tanggal 29 Desember 2019, menyampaikan topik tentang bagaimana kita mengevaluasi waktu yang ada untuk kita mengerti kehendak Tuhan. Jangan sampai kita berada di situasi  ‘point of no return’, di mana kita tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan dan kekeliruan yang sudah kita lakukan. Evaluasi ini dibutuhkan untuk kita menjalani tahun baru dengan hati yang bijaksana.

Tahun baru adalah sebuah kesempatan karena Tuhan masih mengijinkan kita untuk hidup, berkarya bagi Tuhan dan memuliakan-Nya. Di tahun baru kita memiliki kesempatan untuk lebih mengerti kehendak Tuhan, untuk kembali kepada tujuan Tuhan atas hidup kita, untuk kembali kepada visi Tuhan dalam hidup kita, untuk menemukan ulang prioritas hidup kita, untuk menetapkan ulang apa yang akan kita lakukan (apakah bermanfaat bagi diri sendiri? Berguna bagi orang lain? Tuhan dipermuliakan atau tidak?). Tahun baru juga adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk membuang hal-hal yang buruk, menguburkan semua kekecewaan dan ‘move on’.

BEROLEH HATI YANG BIJAKSANA
Bagaimana mengalaminya?
1Ko 13:13 – Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

1. Berjalan dalam iman, pengharapan dan kasih.
Ibrani 11:6 – Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Berjalanlah dengan iman meskipun ada tantangan dan kesukaran yang akan kita hadapi. Sebuah kata-kata bijak yang berbunyi ‘iman adalah berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk’, adalah hal yang terbaik untuk kita menjalani kehidupan. Tetap percaya kepada Tuhan untuk yang terbaik. Namun jika iman kita tidak terjadi seperti yang kita inginkan, tetaplah memiliki pengharapan.

Ibrani 6:19 – Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.

Pakailah pengharapan ketika apa yang kita imani tidak terjadi. Percayalah pengharapan kita di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan karena pengharapan dalam Yesus seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Jaminannya adalah Yesus yang ada di surga sebagai pengharapan kita.

Roma 8:38-39-  Sebab aku yakin, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Ketika iman dan pengharapan kita tidak menjadi kenyataan pergunakanlah kasih. Caranya adalah renungkanlah apa yang Allah sudah lakukan dalam mengasihi diri kita orang yang berdosa.

Roma 5:8 (TB)  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

2. Berjalan dalam rencana Tuhan (kehendak Tuhan)
Karena kerinduan kita adalah Tuhan berjalan bersama dengan kita maka sangatlah bijaksana jikalau kitalah yang harus menyesuaikan rencana kita terhadap rencana Allah.

Pahamilah apa yang menjadi tujuan Tuhan (purpose) dalam hidup kita. Tidak ada satupun yang diciptakan oleh Tuhan yang tidak memiliki tujuan.

Amsal 16:4 – TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.

Kita dibuat oleh Tuhan untuk menyelesaikan tujuan kita. Tujuan besar kita adalah keselamatan dan Kerajaan Allah datang ke dunia ini, melalui panggilan kita masing-masing. Seperti satu tubuh banyak anggota, demikianlah kita memiliki tujuan dan fungsi  yang berbeda-beda. Untuk mengetahui tujuan Tuhan dalam kehidupan kita, mutlak kita harus terhubung kepada-Nya sebagai sumber hidup kita. Dari tujuan Tuhan (purpose) inilah akan menghasilkan keyakinan yang sangat kuat dalam hidup kita untuk mengerjakan apa yang harus kita kerjakan (conviction). Bahkan sampai kematian pun tidak dapat menghalangi kita dalam menyelesaikan tujuan Tuhan dalam hidup kita.

Kisah 20:22-24 – Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ, selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

Dari keyakinan inilah muncul visi yaitu gambaran masa depan yang selalu terbayang-bayang dalam imajinasi kita dan selalu membayangi kita seolah-olah menuntut diri kita untuk segera bertindak mewujudkannya. Jadi visi itu tidak akan muncul secara tiba-tiba tanpa ada kekuatan dasar yang mendahuluinya. Visi lahir dari tujuan Tuhan dan menjaga kita tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri mengerjakan sesuatu yang tidak perlu atau membuang waktu dengan sia-sia. Visi membantu kita membuat perencanaan yang sangat jelas dan pasti.

Dari visi yang sangat jelas inilah muncul sebuah gairah (Passion) untuk segera melaksanakannya sampai selesai. Passion membuat kita sangat senang mengerjakan tujuan hidup kita sekalipun tidak dibayar dengan materi, tidak dapat menghalangi kita untuk terus menyelesaikan tujuan hidup kita.

Gairah untuk menyelesaikan tujuan inilah membuat diri kita segera menindaklanjutinya dengan membuat perencanaan (Planning). Jadi dari sini kita dapat melihat bahwa perencanaan yang kita buat bukan lagi berdasarkan keinginan kita tetapi berdasarkan tujuan Tuhan di dalam kehidupan kita.

3.Tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri
Yosua 1:6 – Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.

Yosua 1:7 – Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.

Godaan yang paling besar yang mau menghalangi perjalanan kita dalam menyelesaikan tujuan Tuhan dalam hidup kita adalah godaan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. Untuk hal tersebut mutlak kita masih sangat membutuhkan disiplin rohani dalam perjalanan hidup kita.

DISIPLIN ROHANI
Disiplin menjaga arah perjalanan kita, melakukan apa yang harus dilakukan, tidak membuang sumber daya (waktu) untuk hal yang sia-sia, sehingga perjalanan kita begitu efektif untuk menyelesaikan tujuan Tuhan di dalam kehidupan kita.

Ingatlah bahwa hidup itu singkat dan waktu yang diberikan kepada kita ada masa selesainya. Dan ketika waktunya sudah selesai kiranya tidak ada penyesalan atas waktu yang telah kita manfaatkan seumur hidup kita. Setelah itu akan ada pertanggungjawaban atas waktu dan kesempatan yang sudah diberikan oleh Tuhan. Di situlah ‘point of no return’ kita masing-masing.