BERUBAH ATAU PUNAH DI TENGAH WABAH – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 24 Mei 2020)

Tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan untuk pertama kalinya virus Korona ada di Indonesia, hingga saat ini lebih dari 20.000 orang telah diketahui terinfeksi virus Korona. Kemunculan virus Korona telah menimbulkan dampak yang luar biasa atas bangsa kita bahkan penduduk dunia. Secara tiba-tiba sendi-sendi kehidupan berubah, terutama masalah sosial dan ekonomi. Sektor-sektor perdagangan, pariwisata, dunia hiburan, jasa keuangan dan kesehatan adalah sektor yang paling terpukul akibat pandemi covid ini.

Sebagai anak-anak Tuhan bagaimanakah sikap kita menghadapi situasi seperti ini? Untuk itu marilah kita belajar dari firman Allah, bagaimana berjalan di tengah kesulitan, bagaimana bertahan di tengah tantangan dan tekanan kehidupan.

Mari kita membuka Filipi 4: 11 – 13
Filipi 4:11  Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Filipi 4:12  Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Filipi 4:13  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Ternyata kesulitan hidup tidak hanya dialami oleh kita saja, bahkan orang sekaliber rasul Pauluspun tidak lepas dari kesulitan hidup. Bagaimanakah caranya rasul Paulus keluar dari kesulitan hidup yang dialami? Dari ayat-ayat yang telah kita baca ini, kita dapat belajar hal-hal yang dilakukan rasul Paulus sehingga mampu mengatasi segala tekanan dan kesulitan yang kita alami. Hal itu juga dapat menjadi contoh bagi kita agar dapat melewati kesulitan di tengah pandemi covid ini. Berikut hal-hal yang dilakukan oleh Rasul Paulus.

1. Beradaptasi dengan situasi yang terjadi.
Ayat. 11 
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Inilah yang dilakukan oleh rasul Paulus sehingga mampu mengatasi segala persoalan dan tantangan pelayanan yang dihadapinya yaitu belajar beradaptasi dengan situasi yang terjadi. Kesulitan hidup bukan untuk diratapi, kelaparan bukan alasan untuk melakukan persungutan, tetapi belajar mencukupkan. Ingatlah: “Kita tidak bisa memilih situasi yang terjadi, kita hanya bisa beradaptasi”

Apapun keadaan yang kita alami, marilah kita belajar beradaptasi, menyesuaikan diri dengan keadaan. Memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita dialami.

  • Jika penghasilan mulai berkurang – belajarlah mengikat pinggang, kurangilah jajan di luar.
  • Jika uang ditangan hanya sedikit – gunakanlah dengan irit (makanlah sedikit-sedikit, jangan kebalik, sedikit-sedikit makan)
  • Jika tabungan makin berkurang – cobalah tahan keinginan, gunakan hanya untuk hal-hal yang dibutuhkan.

Adaptasi dengan Covid 19
Sekarang bagaimana caranya kita menjalani hidup di tengah pandemi Covid ini? Bapak Jokowi telah mengajak masyarakat Indonesia untuk hidup berdamai dengan virus Covid 19. Ini bukan berarti kita pasrah kepada keadaan, bukan pula kita menyerah apalagi terserah. Bukan! Ini adalah sebuah perlawanan terhadap virus ini. Para ahli telah mengatakan bahwa jika pandemi ini berakhir, bukan berarti virus Korananya hilang dari bumi. Virus ini akan tetap ada, namun kita bisa menghindarinya dengan cara hidup beradaptasi dengan virus. Itulah sebabnya gaya hidup kita harus berubah, jika tidak kita akan punah. Bagaimana caranya? Ikutilah protokol kesehatan mencegah infeksi virus Korona. Inilah protokol kesehatan versi saya.

  • Jaga kesehatan diri dan jaga kesehatan rohani
  • Tingkatkan imunitas dan bangun spiritualitas
  • Jauhi kerumunan tetapi dekati Tuhan
  • Jaga kebersihan tangan dan kebersihan hati
  • Kenakan masker untuk mulut dan firman Tuhan untuk pikiran.

Pilihan ada di tangan kita, mau berubah atau punah? Hidup memang tidak mudah, tetapi bisa mudah jika mau berubah. Jangan lawan gelombang, berselancarlah diatas gelombang, maka kita akan bertahan. Ketahuilah mereka yang menantang gelombang pasti tenggelam.

Amsal 22:3 
Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.

Hidup adalah pilihan, pilihlah dengan banar dan putuskanlah dengan bijak, berubah atau punah.

2. Sadarilah bahwa hidup berjalan secara seimbang
Ayat :12 
Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Perhatikan frase “aku tahu” Ini menunjukan bahwa rasul Paulus mengerti, faham, sadar bahwa hidup ini berjalan secara seimbang. Antara kekurangan dan kelimpahan, antara kenyang dan lapar, suka dan duka, sehat dan sakit, dll.

Kita tidak bisa memilih satu bagian saja, kita harus menerima keduanya bagi keseimbangan hidup. Sadarilah kenikmatan hidup terjadi justru karena ada hal-hal yang buruk terjadi. Misalnya:

  • Kenyang : Kenikmatan kenyang bukan karena makanan yang enak, tetapi karena ada lapar.
  • Kebahagiaan: Kita bahagia karena ada duka (Ukuran kebahagiaan sebanding dengan kesulitan yang dialami).

Sebab itu syukuri saja, apapun yang terjadi, yakinlah semuanya terjadi untuk kebaikan kita.

Selain rasul Paulus, Ayub juga memahami bahwa kehidupan dibangun dengan keadaan baik dan buruk.

Ayub 2:10 
Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Demikian juga dengan raja Salomo, dalam Pengkhotbah 3, ia memberitahukan kepada kita bahwa hidup dibentuk dari dua pengalaman yaitu:

  • ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal;
  • ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
  • ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan;
  • ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
  • ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa;
  • ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
  • ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu;
  • ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
  • ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi;
  • ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
  • ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit;
  • ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
  • ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci;
  • ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Pada akhirnya Salomo menarik kesimpulan bagaimana menyikapi kehidupan ini.
Pengkhotbah 7:14 
Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.

Jadi, jika kita ingin bertahan dalam kehidupan mulailah berubah, pahamilah bahwa hidup ini berjalan secara simbang. Jangan hanya mengharapkan kesenangan, syukurilah untuk setiap kesulitan.

3. Percayalah, Tuhan memberi kekuatan untuk menanggung segala sesuatu.
Ayat 13 – Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Inilah yang menjadi rahasia kekuatan rasul Paulus, dia tetap kuat sekalipun menghadapi persoalan berat, tidak menyerah walau dihimpit berbagai masalah, dia tegar walau sering mengalami masa sukar. Sebab kekuatannya bukan dari dirinya sendiri tetapi ada di dalam DIA. Ketika rasul Paulus ada di dalam Dia, di dalam Tuhan, maka Tuhanlah yang memberikan kekuatan kepadanya sehingga mampu menanggung segala perkara. Saat dia lemah, Tuhan memberi kekuatan. Saat dia susah, Tuhan memberi penghiburan. Saat dia berputus asa, Tuhan memberi harapan. Saat dia menghadapi kesulitan, Tuhan memberi pertolongan. Itulah sebabnya tidak ada perkara yang sukar atau berat bagi rasul Paulus, karena kekuatannya ada di dalam Tuhan.

Di masa sukar seperti ini, jangan lari dari Tuhan, tetaplah tinggal di dalam Tuhan. Ingatlah, orang-orang yang tinggal di dalam Dia akan selalu memiliki kemampuan untuk bertahan, orang-orang yang tinggal di dalam Dia selalu punya kekuatan untuk meraih kemenangan. Tuhan Yesus berkata: di luar Aku, engkau tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam kitab Rut dikisahkan, bahwa di masa kelaparan Elimelek dan keluarganya tinggalkan Betlehem dan pergi ke Moab. Apa yang terjadi selanjutnya? Di Moab, yang diharapkan dapat memberi kehidupan justru memberikan kematian, Elimelekh dan kedua anaknya yaitu Mahlon dan Kilyon mengalami kematian. Dengar, “Tidak semua orang merentangkan tangan saat kita datang meminta pertolongan” sebab itu tetaplah tinggal di dalam Tuhan.

Nabi Yesaya berkata: Yesaya 40:31  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab ketika Tuhan Yesus naik ke sorga, Dia tidak tinggalkan kita sendirian, Dia berikan Roh KudusNya menjadi penolong bagi kita.

Yohanes 14:16 
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Apapun yang sedang saudara alami, seberat apapun tekanan yang dipikul, ingatlah ada Roh Kudus yang menolong kita. Jangan menyerah, teruslah melangkah, percayalah Roh Kudus akan memberikan kekuatan dan kemenangan hingga akhir perjalanan. Tuhan memberkati. KJP!

HIDUP ADALAH KRISTUS DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Kenaikan Tuhan Yesus, 21 Mei 2020)

Filipi 1:21
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”

Kenaikan Yesus ke sorga bukan hanya sebagai peringatan bagi kita tetapi, hal ini juga akan menjadi pengalaman kita. Yang menjadi pertanyaan adalah, orang Kristen seperti apa yang akan diangkat ke sorga? Jawabannya adalah orang kristen yang menerapkan prinsip seperti yang diterapkan oleh rasul Paulus, yaitu: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).

Dari banyak kata yang terdapat dalam ayat ini, mari kita melihat terlebih dahulu kata mati atau kematian. Firman Allah mengatakan bahwa sejak Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa di dalam taman Eden, maka setiap manusia telah berdosa. Memang setiap orang tua tidak mungkin mengajarkan dosa kepada anak-anak mereka, tetapi ada tabiat dosa didalam diri manusia sehingga tanpa diajar pun manusia cakap dalam berbuat dosa. Roma 6:23a berkata bahwa “upah dosa adalah maut”. Kata maut pada ayat ini bukan lah kematian secara jasmani, tetapi suatu bentuk siksaan yang kekal didalam api neraka.

Apapun latar belakang manusia, dari agama manapun ia, namun manusia tidak bisa mendustai suara hukum bantin atau suara hukum hati nurani. Hal ini merupakan pemberian Tuhan kepada manusia.  Sekalipun manusia tidak mengenal hukum agama, namun setiap orang tidak bisa mendustai hukum hati nurani yang mengatakan bahwa dia berdosa, suatu saat akan mati dan akan dihukum. Hati nuranilah yang akan menegur dan mengingatkan sebagai “alarm” dalam diri manusia.

Jadi, apa solusi agar setelah kematian kita tidak akan mengalami hukuman akibat dosa yang telah kita perbuat? Jawabannya adalah dengan menerapkan prinsip: Hidup adalah Kristus (Filipi 1:21). Hal ini berarti, kita harus menjadikan Yesus sebagai inti dari kehidupan kita, sehingga kematian akan menjadi keuntungan bagi kita. Oleh sebab itu setiap pengikut Yesus harus memiliki komitmen yang kuat untuk mempraktekkan cara hidup seperti yang rasul Paulus terapkan dalam kehidupannya, yaitu: “Hidup adalah Kristus”. Apa yang dimaksudkan dengan hidup adalah Kristus?

  1. Percaya kepada Yesus.
    Pada saat kita percaya, bertobat dan hidup baru kita menjadi anggota keluarga kerajaan Allah dan Yesus ada didalam kita. Saat kita percaya kepada Yesus maka DNA Kristus ada didalam diri kita. Kita dilahirkan kembali dari atas karena pekerjaan Kristus. Sehingga, setiap orang yang benar-benar percaya memiliki potensi untuk menjadi sama seperti Yesus, sebab kita telah dipilih dan ditentukan untuk menjadi serupa dengan Allah (Roma 8:29).
  1. Memuliakan Kristus
    Hidup adalah Kristus berarti kehidupan yang dipakai untuk memuliakan Yesus. Sejarah penyebutan Kristen terdapat didalam Kisah Rasul 11:26, pertama kali Kristen disebut di Antiokhia. Kata Kristen sebenarnya merupakan kata hinaan sebab, orang Roma banyak menganiaya pengikut Yesus. Mereka berpikir bahwa pengikut Yesus telah menjadi saingan bagi Kaisar karena pengikut Yesus tidak mau menyembah Kaisar bahkan mereka rela mati untuk tetap mengikuti Yesus.  Sebab itu pengikut kaisar disebut Kaisarianos, sedangkan orang kristen menjadi Christianos. Christianos berarti:
  • Orang yang telah menjadi milik Kristus dan menjadi satu dengan Kristus
  • Seorang pengikut Yesus adalah orang yang memiliki hayat dan sifat Kristus; ada kesatuan organic yaitu: cara hidup, perilaku, perkataan dan perbuatannya mirip dengan Yesus(1 Petrus 4:16).
  1. Melayani Yesus
    Setiap pengikut Yesus yang prinsip pengiringannya adalah Kristus maka ia tidak akan menjadi penonton di dalam sebuah gereja. Dia akan melibatkan diri, sekecil apapun dari kemampuan yang diberikan Tuhan kepada dia untuk melayani Tuhan. Apa yang akan kita terima kalau kita mengambil bagian apabila kita melayani Tuhan? Yohanes 12:26 berkata bahwa kita akan dihormati Bapa.
  1. Menjadi Terang dan Saksi Yesus.
    Hidup adalah Kristus berarti hidup sebagai saksi Kristus. Itulah sebabnya setiap pengikut Yesus yang memakai prinsip bahwa “hidup adalah Kristus”, di teguhkan oleh Tuhan Yesus untuk menjadi saksi (1 Korintus 1:5-6). Jadi, kalau hidup kita tidak pernah menjadi kesaksian bagi orang-orang disekeliling kita, maka sebenarnya hidup kita tidak pernah menjadikan Tuhan Yesus sebagai pusat kehidupan kita. Kata kesaksian dalam bahasa Yunani adalah Marturion. Dari kata ini maka muncul sebuah kata yang kita dengar yaitu Martyr, yang berarti Syahid. Kata Syahid berarti: senantiasa menjadi saksi.Jadi, pengikut Yesus yang sejati akan berusaha terus bersaksi walau ia harus mengalami syahid. Inilah yang disebut “Hidup adalah Kristus”.
  1. Setia Sampai Akhir
    Orang Kristen yang sabar dan setia sampai akhir hidupnya tetap menjadi saksi Kristus. Artinya, dalam penderitaan apapun ia tetap setia menjadi saksi Kristus. Matius 24:13 berkata, Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Kata bertahan dalam ayat ini dipakai kata hupomeno yang berarti bersabar atau setia kepada Tuhan Yesus walau harus menanggung penderitaan. Para pahlawan iman didalam Ibrani 11:1-35a bersaksi bahwa mereka semua menderita karena mempertahankan iman mereka. Walaupun mereka penuh dengan penderitaan tetapi mereka bertahan. Mereka mengakhiri hidup mereka dalam kesetiaan kepada Tuhan (Ibrani 11:35b-40).

Setiap manusia pada akhirnya akan mati dan dihakimi. Ibrani 9:27 menulis bahwa “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” Inilah yang disebut dalam Roma 6:23a bahwa upah dosa ialah maut sebab, tidak ada manusia yang tidak berdosa, semuanya harus dihakimi. Penghakiman Allah adalah kebinasaan yang kekal didalam neraka, tetapi bagi yang berpegang kepada prinsip “hidup adalah Kristus”, maka bagi orang tersebut kematian bukanlah suatu penghakiman tetapi kematian adalah keuntungan sebab, kematian menjadi saat yang sangat menyenangkan. Kematian orang percaya adalah keuntungan atau saat yang menyenangkan karena:

  1. Kematian orang percaya berarti tidur (Yoh 11:11). Ketika Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus bahwa Lazarus sudah mati, maka Yesus berkata bahwa Lazarus sudah tertidur. Hal yang sama Allah katakan didalam Daniel 12:2. Jadi, kematian bagi orang percaya berarti kita tertidur.
  2. Sebuah istirahat yang membahagiakan (wahyu 14:13). Mereka yang diluar kristus justru menganggap sebagai penderitaan kekal. Tetapi bagi kita orang percaya maka kematian merupakan sebuah istirahat yang membahagiakan.
  3. Kematian menjadi saat yang menyenangkan karena kita dibawa ke Firdaus. Penjahat yang disalib bersama Tuhan Yesus tidak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan “hidup adalah Kristus”. Namun, karena ia percaya kepada maka, ia dibawa ke Firdaus bersama Yesus.

DIBANGKITKAN DARI KEMATIAN
1 Tesalonika 4:16 berkata bahwa “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit”.

Orang-orang yang berprinsip bahwa “hidup adalah Kristus” akan dibangkitkan pada kebangkitan yang pertama. Setelah itu, orang-orang percaya akan diubahkan, kemudian diangkat menyongsong Tuhan ke angkasa. Sedangkan orang yang berada diluar Kristus akan dibangkitkan juga, namun untuk menerima penghukuman.

KESIMPULAN
Jadi, hal ini memberi penjelasan kepada kita bahwa baik orang percaya maupun orang tidak percaya sama-sama akan mengalami kematian. Namun perbedaannya adalah: kematian bagi orang percaya yang berprinsip bahwa “hidup adalah Kristus” adalah hal yang menyenangkan sedangkan kematian bagi orang yang tidak percaya kepada Yesus akan menjadi saat yang menakutkan karena mereka akan menerima penghukuman. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya, kita harus mempertahankan iman kita dan menjadikan Yesus sebagai pusat dari kehidupan kita maka kita akan hidup bersama-sama dengan Dia didalam kerajaan sorga.

MENJADI PERABOT YANG MULIA- Pdt. Joseph Minandar (Ibadah Raya Minggu, 17 Mei 2020)

1 Kor 15:8-10
Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

LATAR BELAKANG
Apabila kita melihat seluruh isi kitab 1 Korintus 15 ini, maka pasal ini berisi doktrin pengajaran berupa pengajaran mengenai kebangkitan orang percaya. Sebab pada zaman itu, telah muncul penyesat-penyesat yang mengajarkan bahwa hanya roh saja yang masuk ke sorga, sedangkan tubuhnya tidak turut bangkit. Tetapi kita percaya bahwa karena Yesus telah dibangkitkan maka kita pun akan dibangkitkan seperti Dia.

Dalam ayat 5 mencatat mengenai saksi-saksi kebangkitan Yesus yang masih hidup, yaitu: Kefas (Petrus), 12 murid Yesus, 500 pengikut Yesus, Yakobus (saudara Yesus), dan yang terakhir adalah Paulus, sebelumnya ia bernama Saulus (ayat 8). Tetapi yang menarik adalah Paulus menyebut dirinya sebagai orang yang paling hina dibandingkan dengan rasul-rasul lain (ayat 9). Paulus merasa paling hina karena telah menganiaya orang-orang Kristen. Selain itu, Paulus berkata bahwa ia berjumpa dengan Yesus bukan karena usahanya melainkan kemurahan dan belas kasihan Allah. Karena Paulus menyadari hal ini, maka ia bekerja lebih keras sehingga ia lebih unggul dari rasul-rasul lain. Karena kesadaran hal ini maka ia melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Demikian juga dengan kita sebagai orang percaya. Semakin kita menyadari betapa besar kasih Tuhan atas hidup kita, kita akan semakin berusaha keras untuk melayani dan memberi lebih bagi Tuhan dan bagi pekerjaan Tuhan.

KESAKSIAN ANANIAS
Apabila kita melihat kisah dari panggilan rasul Paulus, maka kita akan menemukan peran dari Ananias. Ananias adalah seorang murid Tuhan yang berada di Damsyik. Pada awalnya Ananias menolak untuk menerima Paulus. Tetapi Allah berfirman kepada Ananias sehingga ia mau menerima Paulus. Kisah Rasul 9:15 berkata “Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.  Kata alat pilihan dalam bahasa Yunani: skeous; dalam bahasa inggris ditulis vessel yang berarti bejana. Tetapi dalam terjemahan lain kata skeous diterjemahkan sebagai perabot atau material (bahan) yang digunakan untuk membangun sesuatu. Oleh sebab itu, rasul Paulus mengumpamakan setiap orang yang percaya kepada Yesus seperti material atau bahan bangunan untuk membangun rumah.

Didalam 2 Timotius 2:20, “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia”. Kata perabot dalam ayat ini  berarti:

  • Peralatan dalam rumah tangga
  • Tetapi juga berarti material atau bahan-bahan bangunan yang digunakan untuk membangun sebuah rumah.

Sebuah contoh dalam 1 Raja-raja 6:1-38 menceritakan mengenai pembangunan Bait Allah yang dilakukan oleh Salomo. Daud, ayahnya telah menyediakan berbagai material yang Salomo perlukan untuk membangun Bait Allah, antara lain: emas, perak dan benda-benda berharga lainnya. Secara individu setiap orang percaya adalah Bait Roh Kudus atau Bait Allah (1 Korintus 6:19). Namun, jika hal ini dihubungkan dengan  1 Korintus 6:19, maka ayat ini mencatat bahwa pada saat setiap orang percaya berhimpun dalam gereja lokal, himpunan orang percaya adalah Bait Allah atau tempat kediaman Allah. Hal ini sama seperti perkataan Yesus dalam (Matius 18:20) yang berkata bahwa: “Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Hal ini berarti bahwa ketika kita berhimpun bersama, di mata Yesus perhimpunan kita adalah Bait atau tempat bagi Yesus untuk bertakhta.

Setiap individu orang percaya seumpama perabot, material yaitu bahan bangunan yang bentuk dan kualitasnya berbeda satu dengan yang lainnya. Alkitab memberi keterangan bahwa ada yang berkualitas emas, perak atau batu permata, tetapi ada juga yang berkualitas kayu dan tanah liat. Tetapi kualitas kita ini bukan ditentukan karena nasib, tetapi kualitas kerohanian kita bergantung bagaimana cara hidup kita, pengabdian kita, pengiringan kita, korban kita, kesetiaan kita, dedikasi kita  kepada Tuhan.

Apabila kita ingin menjadi perabot yang mulia, maka kita harus bersedia diproses oleh Tuhan sebab rumah Tuhan atau bait Allah harus dibangun dari bahan-bahan yang berkualitas. Itu sebabnya ada proses-proses yang harus dijalani untuk menjadi perabot yang mulia. Proses tersebut antara lain:
1. Menyucikan diri dari yang jahat (2 Timotius 2:21). Allah menyediakan jalan bagi umat manusia untuk mengubah kita menjadi perabot yang mulia. Bagaimana jalan untuk menyucikan diri?

  • Korban darah Yesus (1 Petrus 1:18-19).
    Masa lalu Paulus begitu jahat dan kotor. Tetapi oleh darah Yesus, Paulus disucikan dan diubah menjadi perabot atau material yang mulia di tangan Yesus.
  • Firman Allah (Yohanes 15:3).
    Firman Allah memproses dan membawa kita bukan hanya kepada pertobatan saja, tetapi membersihkan serta membentuk kita untuk menjadi perabot, bahan bangunan atau material yang kudus, berkenan dan mulia yang digunakan untuk pembangunan bait Allah rohani yaitu gereja yang sempurna.
  • Kuasa Roh Kudus (1 Tesalonika 2:13). Roh Kudus adalah penolong yang diutus mengingatkan kita akan Firman Allah supaya kita mampu menjaga diri kita untuk tetap menjadi perabot yang kudus dan sesuai dengan Firman Allah. Hal ini berarti, Roh Kudus memberi kemampuan kepada kita untuk menjaga kemuliaan Kristus tetap terpelihara didalam diri orang percaya.
  • Proses kehidupan.
    Pada saat membangun bait Allah, Salomo bukan hanya mencari perabot, material atau bahan bangunan yang berkualitas. Tetapi, Salomo memakai tukang yang ahli untuk memproses perabot, material atau bahan bangunan yang akan dipakai membangun bait Allah (1 raja2 5:17-18).

TIGA MACAM TUKANG
Ada tiga macam tukang yang Salomo pakai untuk membuat material terbaik, mulai dari fondasi, sampai bagian yang terpenting dan yang utama dalam bangunan Bait Allah itu (1 Raja-raja 5:18). Tiga macam tukang tersebut adalah:

  • Tukang-tukang Salomo
    Tukang-tukang Salomo adalah hamba-hamba Tuhan yang dipercayakan oleh Tuhan untuk menempa kerohanian jemaat dengan Firman Allah (Galatia 1:9-10).
  • Tukang Hiram (1 Raja-raja 5:1)
    Tukang Hiram bisa berbicara mengenai teman dekat, relasi pelayanan, kenalan dekat yang dipakai Tuhan untuk menjadi alat agar menempa, mengasah kita agar kita menjadi semakin mulia. Terimalah apabila Tuhan memakai orang-orang di sekeliling kita untuk membentuk kita. Seringkali kita menolak pembentukan dari orang-orang di sekeliling kita.
  • Orang Gebal (Mazmur 83:7,8)
    Orang Gebal adalah musuh. Musuh kita bukan manusia tetapi iblis ( Efesus 6:12). Namun demikian, iblis bisa memakai siapa saja yang berada di sekitar kita (non kristen) untuk membentuk kita agar menjadi mulia.

Catatan: seringkali ini terjadi diluar pemikiran kita. Tetapi bila Tuhan mengijinkan hal ini terjadi dalam hidup kita, berarti Tuhan sedang membentuk kita, apakah kita bisa tetap mengasihi musuh kita?

PERABOT YANG MULIA
Wahyu 21:1 berkata “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.”
Ketika langit dan bumi yang pertama lenyap, kita berada dimana saat itu? Sebab saat itu langit dan bumi yang baru belum diciptakan.

Wahyu 21:2 menjawab, “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.”
Siapakah yang dimaksud dengan kota yang kudus yaitu kota yang namanya Yerusalem baru tersebut? Kota Yerusalem baru itu berhias dan berdandan untuk suaminya. Jadi, kota Yerusalem Baru yang berdandan untuk suaminya adalah mempelai perempuan, yaitu gereja yang sempurna dan suaminya (mempelai laki-laki) tidak lain adalah Yesus Kristus (Wahyu 21:9)

Jadi seperti apakah kemuliaan material (bahan bangunan) kota Yerusalem yang baru yaitu gereja sempurna? Seperti apa kemuliaan Kota yang Kudus, Yerusalem Baru yaitu gereja yang sempurna yang adalah mempelai/ isteri Anak Domba?

Wahyu 21:18, berkata “Tembok itu terbuat dari permata yaspis; dan kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni.”
Jadi bahan bangunan yang digunakan kota Yerusalem yang baru adalah berupa permata yaspis dan emas tulen. Bahkan Wahyu 21:21 berkata, “Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.” Jadi, selain permata Yaspis dan emas tulen, ada juga material atau bahan yang berupa mutiara yang menjadi bagian dari kota Yerusalem baru itu.

KESIMPULAN
Apabila kita ingin menjadi bagian dari kota Yerusalem yang baru maka kita harus siap dibentuk. Kalau kita tidak mau dibentuk, bagaimana kita bisa menjadi bagian dari kota itu? Karena rela diproses, Paulus menjadi perabot yang mulia. Demikian juga dengan kehidupan kita. Saat kita mengerti bahwa kita adalah perabot-perabot yang akan digunakan untuk tujuan yang mulia, maka kita harus bekerja semakin giat dalam mengiring dan melayani Tuhan. Kita juga harus merelakan diri untuk diproses sesuai dengan kehendak Tuhan, maka kita akan menjadi perabot-perabot yang mulia dan menjadi bagian dari kota yang mulia yaitu Yerusalem baru.

KRISTEN YANG TAK GENTAR DI MASA SUKAR – oleh:Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya – Minggu, 10 Mei 2020)

1 Korintus 16:13-14
“Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”

Pendahuluan
Ayat ini berisi nasehat rasul Paulus kepada jemaat yang ada di kota Korintus. Rasul Paulus merindukan agar jemaat Korintus tidak gentar, sebab akan terjadi banyak hal yang akan mereka hadapi. Kalau kita melihat dalam pasal-pasal sebelumnya, maka terdapat banyak masalah, di antaranya: perselisihan, perpecahan, penyembahan berhala, masalah dalam perkawinan bahkan dalam pelayanan. Oleh sebab itu, tujuan Rasul Paulus dalam nasehat ini adalah agar jemaat Korintus menjadi orang-orang kristen yang tidak gentar sekalipun di tengah masa yang sukar.

KRISTEN YANG TAK GENTAR DIMASA SUKAR
Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi kristen yang tidak gentar sekalipun ditengah masa yang sukar? Berikut beberapa hal yang dapat kita pelajari untuk menjadi kristen yang tidak gentar ditengah masa sukar.
1. Kristen yang selalu berjaga-jaga
Kata ini sering digunakan Yesus saat menasehatkan murid-murid dalam menantikan kedatanganNya yang kedua kali. Kata berjaga-jaga juga dipakai dalam pertempuran yaitu, mengantisipasi akan bahaya yang datang. Kata ini dapat diartikan juga “tidak tertidur”. Demikian juga dalam kehidupan kita. Sebagai orang percaya, kita harus berjaga-jaga, tidak gentar dan tetap tegar, sebab akan terjadi banyak masalah yang datang secara tiba-tiba. Hal inilah yang menjadi tujuan rasul Paulus menasehatkan jemaat di Korintus agar berjaga-jaga. Tujuan nasehat ini bukan saja ditujukan kepada jemaat di Korintus tetapi juga kepada kita sebagai orang-orang percaya. Oleh sebab itu, sebagai orang kristen, kita diminta untuk tidak menggampangkan setiap masalah yang terjadi. Hal ini berarti kita perlu berjaga-jaga agar ketika tantangan datang, kita telah siap. Ketika kita tetap berjaga maka kita akan tetap tegar (Kolose 4:7; 1 Tesalonika 5: 6-10). 1 Petrus 5:8 berkata: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Ayat ini memberi penjelasan kepada kita bahwa ketika kita tidak berjaga-jaga maka iblis akan menjatuhkan kita. Lalu, bagaimana cara untuk berjaga-jaga dalam situasi covid-19 ini? Cara berjaga-jaga dalam situasi ini adalah dengan terus membangun hubungan dengan Tuhan, maka kita akan menjadi orang-orang kristen yang tidak gentar sekalipun menghadapi masa-masa yang sukar.

2. Kristen yang berdiri dengan teguh dalam iman.
Berdiri teguh adalah kata yang juga digunakan dalam konteks peperangan, dimana seorang prajurit mempertahankan posisi didepan musuh dengan tidak goyah, tidak mundur, dan tidak menjadi lemah. Ayat ini selanjutnya berkata: “Berdirilah dengan teguh dalam iman”. Iman seperti apa yang dimaksud rasul Paulus? Iman yang dimaksudkan adalah iman yang sudah diisi oleh Firman Allah, dan mengenai pengajaran yang benar tentang injil Kristus. Dengan demikian maka kita tidak akan goyah, kita akan tetap kuat, kita tidak akan gentar ditengah masa yang sukar.

3. Kristen yang bersikap sebagai laki-laki.
Nasehat ini tentu bukan saja ditujukan hanya kepada laki-laki, tetapi untuk semua orang percaya. Sikap sebagai laki-laki berarti bertindak berani, tidak cengeng, tidak mudah tawar hati dan tidak mudah takut. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) ditulis: “bertindaklah dengan berani”. Mengapa kita diminta untuk bertindak dengan berani? Karena peperangan prajurit bukanlah peperangan mudah. Lawan-lawan kita juga mempunyai perlengkapan-perlengkapan perang dan siap menyerang kita (Efesus 6:12). Lawan kita akan berusaha untuk melemahkan iman percaya kita. Jika kita takut sebelum berperang, maka kita tidak akan melihat kemenangan. Contoh kisah Musa saat membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Adalah hal yang wajar ketika bangsa Israel takut sebab di belakang mereka terdapat bangsa Mesir, di samping kanan dan kiri mereka ada padang gurun dan di depan mereka terdapat laut Teberau (Keluaran 14:13). Tetapi pada akhirnya ketika Musa berani bertindak membawa bangsa Israel, maka Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Contoh lain yaitu raja Daud dan Salomo (1 Raja-raja 2:1-2). Daud menasehatkan Salomo untuk bersikap tegas dalam mengambil keputusan-keputusan. Sebab ada banyak hal yang akan dihadapi Salomo sebagai seorang raja. Contoh terakhir adalah singa (Amsal 30:30). Mengapa alkitab menggunakan singa sebagai contoh? Hal ini bukan disebabkan karena aumannya, larinya, atau bahkan cakarnya yang kuat. Tetapi karena singa mempunyai mental pemberani. Oleh sebab itu, jadilah orang-orang percaya yang mempunyai mental pemberani, maka kita akan mampu menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup ini.

 4. Kristen yang tetap kuat.
Kata tetap kuat berarti orang yang ada dalam keadaan semakin kuat dan bertumbuh semakin kuat. Orang kristen yang tetap kuat adalah orang yang sepenuhnya bersandar kepada Tuhan. Rahasia kekuatan ini adalah karena kedekatan yang intim dengan Tuhan, sebab Tuhan adalah sumber dari kekuatan tersebut (Zakharia 4:6). Rasul Paulus berkata: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 6:10).

5. Kristen yang ada didalam kasih.
Yang dimaksudkan orang kristen yang ada di dalam kasih adalah orang yang tenggelam didalam kasih. Jemaat Korintus bukan jemaat yang pasif. Mereka adalah jemaat yang mengejar karunia, bahkan mereka bergairah dalam berkorban, melayani, dan bekerja. Tetapi mereka tidak melakukannya di dalam kasih (1 Korintus 13:1-3). Sebab itu rasul Paulus menasehatkan bahwa tanpa kasih maka tidak ada pengorbanan mereka yang berfaedah. Contoh dalam (Kisah 11:28-30). Ketika bencana kelaparan terjadi, maka murid-murid  mengumpulkan sumbangan dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea. 1 Korintus 16:1-4 mencatat bahwa rasul Paulus juga rindu jemaat Korintus berkorban. Kalau kita relevansikan dalam kehidupan kita, maka ada banyak orang yang menjadi korban karena covid-19. Oleh sebab itu sebagai orang-orang percaya, kita perlu memberikan perhatian kepada orang-orang disekeliling kita dengan kasih.

Seorang prajurit memberikan segala sesuatunya kepada negaranya bahkan ia memberikan nyawanya untuk negaranya. Sebab itu sebagai prajurit-prajurit Kristus, kita juga harus rela memberikan segala sesuatunya untuk Tuhan. Kalau kita melakukan hal yang sama, maka kita akan selalu diberkati.

Kesimpulan
Ada banyak kesukaran yang akan kita hadapi menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Tetapi lewat kebenaran Firman Allah, kita belajar untuk menjadi orang kristen yang tidak gentar menghadapi semua kesulitan hidup sebab ada Yesus yang menyertai kehidupan kita.

PENGIKUT YESUS YANG SEJATI – Oleh : Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 03 Mei 2020)

YOHANES 18:1

PENDAHULUAN
Kita sering mendengar mengenai pengikut Yesus yang sejati. Tetapi tahukah Anda bahwa untuk menjadi pengikut Yesus yang sejati, kita akan dibawa kepada pengalaman-pengalaman yang tidak kita kehendaki. Namun sebenarnya pengalaman-pengalaman itu membawa kita untuk menjadi pengikut Tuhan yang sejati. Oleh sebab itu, marilah kita mempelajari bagaimana caranya menjadi pengikut Tuhan yang sejati. Mari kita mendasarkan pembahasan ini dari Yohanes 18:1.

Yohanes 18:1, berkata: “Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.”

Kalau kita memperhatikan ayat ini, terdapat dua catatan dimana Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pertanyaannya adalah, kemana Yesus berjalan bersama murid-murid-Nya?

  1. Yesus bersama murid-murid-Nya untuk menyeberang sungai Kidron.
  2. Yesus berjalan bersama murid-murid-Nya menuju ke taman Getsemani.

Dapat kita simpulkan bahwa Tuhan Yesus membawa murid-murid-Nya pada dua pengalaman yaitu: pengalaman di sungai Kidron dan pengalaman di taman Getsemani. Melalui dua pengalaman ini, Tuhan Yesus dapat melihat mana pengikut-Nya yang sejati dan mana yang bukan pengikut Yesus yang sejati. Jadi dari ayat ini kita bisa memastikan bahwa untuk menjadi murid Yesus atau pengikut Yesus yang sejati, tidak ada pilihan; kita harus masuk kepada dua pengalaman yaitu pengalaman menyeberangi sungai Kidron dan pengalaman masuk ke taman Getsemani.

TENTANG SUNGAI KIDRON
Sungai Kidron letaknya pada suatu lembah yang sangat dalam, yaitu di lembah Kidron. Diapit oleh dua bukit yaitu bukit Moria dan bukit Zaitun. Kota Yerusalem ada di bukit Moria, sedangkan taman Getsemani terletak di bukit Zaitun. Dengan demikian, apabila orang-orang dari Yerusalem ingin ke taman Getsemani, ia harus turun ke lembah Kidron, menyeberangi sungai Kidron barulah tiba di taman Getsemani. Begitu juga sebaliknya. Orang-orang yang berasal dari taman Getsemani yang ingin pergi ke Yerusalem, mereka juga harus turun ke lembah Kidron kemudian menyeberangi sungai Kidron.

Apa artinya sungai Kidron? Dalam bahasa Ibrani kata Kidron ditulis “Qidron” dan dalam bahasa Inggris disebut “obscure”, yang berarti kabur atau samar. Kalau kita hubungkan dengan manusia, maka manusia yang obscure berarti seseorang yang tidak mempunyai identitas yang jelas atau samar-samar. Sebagai anak-anak Tuhan atau pengikut Yesus yang sejati, kita harus mempunyai identitas yang jelas. Tuhan Yesus tidak mau ada pengikut–Nya yang mengaku sebagai orang kristen tetapi tidak mempunyai identitas yang jelas. Tuhan Yesus ingin agar setiap orang kristen yang mengaku pengikut Tuhan, karakter dan kehidupannya menunjukkan kekristenan yang sejati. Yesus tidak mau ada kekristenan yang kualitas ketaatan, kualitas imannya tidak jelas. Seringkali kita bertanya-tanya mengenai pengalaman-pengalaman sulit yang kita alami. Kita bertanya mengapa menjadi pengikut Yesus yang sejati kita meghadapi banyak masalah, kesulitan dan berbagai penderitaan. Percayalah bahwa pengalaman-pengalaman itu bertujuan agar Tuhan melihat kejelasan dari ketaatan, iman, dan komitmen kita kepada Tuhan.

Mari kita melihat beberapa contoh betapa pentingnya pengalaman sungai Kidron bagi kekristenan kita. Dua contoh dari Perjanjian Lama.
1. Ahitofel.
2 Samuel 18:1-12 mencatat mengenai kisah pemberontakan Absalom. Tetapi mari kita melihat ayat sebelumnya (2 Samuel 15:13). Dari ayat ini kita mendapat informasi bahwa rakyat Israel yang dahulu menghormati raja Daud, tetapi kini hati mereka condong kepada Absalom sang pemberontak. 2 Samuel 15:23 mencatat bahwa, para pengikut Daud berjalan menuruni lembah Kidron dan menyeberang sungai Kidron sambil menangis. Bahkan dalam 2 Samuel 15:30, Daud mendaki ke bukit Zaitun sambil berkabung. Mengapa Daud menutup mukanya? Sebab ia malu karena anaknya sendiri yang memberontak kepadanya. Selanjutnya di ayat 31 berkata: Ahitofel ada bersama-sama dengan Absalom. Mengetahui Ahitofel bersama dengan Absalom maka Daud berdoa agar Tuhan menggagalkan nasehat Ahitofel. Daud baru menyadari bahwa selama ini ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Seorang penasehat Daud yang begitu setia dan kelihatan mencintai Daud, tetapi ternyata selama ini ia memakai topeng. Ternyata Ahitofel berada di pihak Absalom dan mendukung Absalom untuk memberontak terhadap Daud, ayahnya. Mengapa Allah membiarkan Daud mengalami pengalaman ini? Sebab Allah ingin melihat kemurnian hati Daud.

2. Daud.
2 Samuel 16:5 mencatat mengenai Simei. Simei adalah seseorang yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Saul, raja sebelumnya. Saat Simei melihat Duad di Bahurim, ia mengutuki Daud dan melemparinya dengan batu kerikil. Melihat apa yang terjadi, Abisai salah satu panglima Daud berkata: “mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja?”, bahkan ia meminta ijin untuk memenggal kepala Simei (ayat 9). Apakah jawaban raja Daud atas permohonan Abisai? Dalam 2 Samuel 16:10-12, Daud berkata: “biarkan saja Simei mengutukiku, siapa tahu Tuhan telah berfirman dan menyuruhnya untuk mengutukiku.” Daud melihat dari sisi yang positif. Daud tidak menjadi emosi dengan perkataan Simei, tetapi dengan kesadaran dia melihat mungkin Allahlah yang telah berfirman kepada Simei agar mengutukinya. Sebagai seorang raja, Daud bisa memerintahkan untuk membunuh Simei, tetapi dari cara pandangnya menunjukkan karakter sebagai pengikut Tuhan yang sejati. Dia tidak menjadi marah dan kecewa dengan keadaan yang terjadi, tetapi Daud menunjukkan karakter pengikut Tuhan yang sejati. Bagaimana dengan kita? Apabila kita melewati sungai Kidron, Allah ingin melihat kualitas iman kita, kasih kita, kesetiaan kita, ibadah kita, karekter kita kepada-Nya. Di Tahun 2020 ini Tuhan sedang membawa kita melewati lembah Kidron. Melalui wabah Covid 19, Tuhan ingin melihat seperti apa dan sejauh mana kualitas rohani kita. Apakah dengan semua ini kita makin  murni, mulia dan berkualitas, atau sebaliknya? Ketahuilah pengalaman lembah Kidron akan menunjukan  kualitas rohani kita yang sebenarnya.

Bagaimana peran sungai Kidron di zaman Perjanjian Baru?
Berulang kali Tuhan Yesus membawa murid-murid-Nya dari Yerusalem ke Getsemani  atau sebaliknya melewati lembah Kidron dan sungai Kidron. Melalui pengalaman-pengalaman ini akan terlihatlah secara jelas kualitas pengiringan murid-murid Yesus. Salah satu yang tersingkap kualitas pengiringannya adalah Yudas Iskariot.

3. Yudas Iskariot, (Yohanes 13:28-29)
Dimata rekan-rekannya, Yudas Iskariot adalah murid yang baik, ia suka memberi dan memperhatikan orang-orang yang miskin dan kekurangan. Tetapi setelah Yudas melewati sungai Kidron dan masuk ke taman Getsemani, maka terbukalah mata murid-murid siapa Yudas yang sebenarnya. Melewati sungai Kidron, topeng yang digunakan Yudas akhirnya terbuka. Yudas bukanlah pengikut Yesus yang sejati. Kebaikan yang dilakukannya selama ini hanyalah kedok untuk menutupi jati dirinya yang sebenarnya. Melalui pengalaman lembah Kidron, ternyata Yudas adalah seorang penipu yang mencium dan menjual Yesus demi mendapatkan uang.

TAMAN GETSEMANI
Dalam bahasa Aram kata Getsemani ditulis “Gat-syemen” yang berarti alat pemerasan. Apa yang diperas? Karena disana terdapat banyak pohon zaitun maka yang diperas adalah buah zaitun. Tanpa disadari di taman inilah Yudas sedang masuk ke dalam tempat pemeresan. Ketika ia diperas, bukan minyak zaitun yang baik yang keluar dari dirinya tetapi sesuatu yang busuk. Yudas datang dengan ciuman pengkhianatan, ia menjual Yesus dengan 30 keping perak. Ternyata Yudas lebih mencintai uang daripada mencitai Tuhan.

TUHAN YESUS
Berbeda dengan Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus masuk ke taman Getsemani, Ia meletakkan diri-Nya menjadi buah zaitun yang terbaik yang siap untuk diperas. Dalam pergumulan yang sangat berat karena beban dosa manusia yang harus ditanggung, Tuhan Yesus menyerahkan semuanya kepada kehendak BapaNya. Lukas 22:44 berkata, “Ia bersunguh-sungguh berdoa dan peluh-Nya seperti titik-titik darah.” Di atas kayu salib, Tuhan Yesus seperti buah zaitun yang dihancurkan agar menghasilkan minyak yang baik. Minyak zaitun sangat banyak kegunaannya, salah satunya adalah memberikan kesehatan. Demikian juga  dengan pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. KematianNya bukan saja memberikan keselamatan bagi kita, kematianNya juga membuat kita sembuh, pulih dari segala sakit penyakit.

Selain itu, kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib memberikan tanda keagungan Tuhan sehingga  salah seorang dari prajurit Romawi berkata “sungguh Ia ini Anak Allah”. Tempat pemerasan telah menunjukan bahwa Yesus bukan sekedar manusia, Ia adalah Anak Allah. Demikian juga dengan kita. Biarlah melalui tempat-tempat pemerasan, kesulitan, tekanan dan berbagai persoalan orang-orang melihat kita sebagai anak-anak Allah yang terbukti kualitas imannya.

KESIMPULAN:
Kadang Allah mengijinkan kita untuk turun ke lembah Kidron dan masuk ke taman Getsemani. Kita seperti berada pada pengalaman “turun ke lembah” dan “masuk ke dalam tempat pemerasan”. Tetapi, kita tidak boleh bersungut-sungut. Percayalah Tuhan menyediakaan sesuatu yang istimewa dari pengalaman-pengalaman tersebut. Oleh sebab itu, belajarlah dewasa dalam menghadapi segala sesuatunya, agar hidup kita dapat menyenangkan hati Allah dan menjadi berkat bagi banyak orang. Selamat memasuki lembah Kidron dan Taman Getsemani, Tuhan kiranya menolong dan memampukan kita semua. Tuhan memberkati.

DATANG KEPADA YESUS DENGAN IMAN – Oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Minggu, 26 April 2020)

Lukas 8:40-56

PENDAHULUAN
Kisah ini dicatat dengan lengkap dalam  Injil  Matius, Markus dan Lukas. Dan dua kejadian ditulis dalam satu perikop. Lebih dahulu kita memperhatikan perbandingan antara kedua orang yang datang kepada Yesus dan memohon kesembuhan dari Yesus yaitu:

MAKNA PERBANDINGAN
1. Yesus, Allah yang tidak pandang bulu
Yesus adalah Allah yang tidak membeda-bedakan siapa pun. Yesus katakan dalam Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Siapapun yang datang kepada Yesus, dengan sungguh-sungguh, Yesus bersedia membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk menyambut dan melayani siapapun dia.

2. Yesus bukan Allah yang formalistik
Dalam Keluaran 23:25; Ibrani 10:25, bahwa setiap orang percaya wajib beribadah kepada Tuhan. Tetapi, ketika:

  1. Kondisi tidak memungkinkan, kita bisa mencari dan menghampiri Yesus di manapun kita berada.
  2. Sebagaimana Yesus sambut Yairus dan sembuhkan perempuan itu di jalan maka kita bisa ibadah di rumah, Matius 18:20.
  3. Yesus tidak membeda-bedakan pria – wanita, kaya – miskin, terkenal – tidak dikenal. Yesus tidak membedakan, kita ibadah secara formal – informal. Dari sorga Yesus lihat dan mengerti masalah dan isi hati kita.
  4. Kita bisa mengalami kuasa-Nya; berkat-Nya; mujizat-Nya, dalam ibadah formal di Gereja.
  5. Kita juga bisa mengalami hal yang sama seperti perempuan berpenyakit lelehan darah, ketika secara diam-diam, dengan iman dia menjamah jumbai jubah Yesus (gambaran ibadah informal).
  6. Sebagaimana Yesus mengalirkan kuasa kesembuhan-Nya kepada wanita yang datang dengan diam-diam, Yesus akan alirkan berkat-Nya; kuasa-Nya dan mujizat-Nya bagi orang percaya yang datang ibadah secara informal (diam-diam di rumah) masing-masing.

KUNCINYA
Dari kesembuhan anak perempuan Yairus dan seorang perempuan yang disembuhkan dari sakit lelehan darah selama 12 tahun, dapat disimpulkan bahwa Yesus tidak mempersoalkan: tempat, posisi, kapan, siapa, status dan apapun itu. Semua sama di hadapan Yesus. Yang paling utama, kita harus datang kepada Yesus dengan iman dan dengan hati yang sungguh-sungguh. Perhatikan, Lukas 8:41 “Maka datanglah seorang yang bernama  Yairus.  Ia adalah  kepala rumah ibadat. Sambil tersungukur di depan kaki Yesus ia memohon kepada-Nya, supaya Yesus datang ke rumahnya.” Jadi, Yairus datang dengan tersungkur dan memohon kepada Yesus, tanda ia sangat membutuhkan Yesus.

Tetapi perhatikan dengan sikap perempuan yang menjamah Yesus. Lukas 8:44 “Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.”

Lukas 8:45 Lalu kata Yesus: “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.”

Lukas 8:46 “Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ADA KUASA KELUAR DARI DIRI-KU.”

Dari sekian banyak orang yang berdesakan dan menjamah Yesus, tidak satupun yang mengalami kuasa Tuhan. Seperti gereja masa kini, dimana banyak orang beribadah hanya sekedar formalistik, kelihatan berhadapan langsung, bahkan bersentuhan dengan Yesus. Namun, Yesus tidak merasakan sentuhan iman dari ibadah yang mereka lakukan. Sebab itu, tidak heran ketika pulang, tidak alami dan rasakan kuasa ibadah, 2 Timotius 3:5. Namun perhatikan, perempuan ini, datang diam-diam, tidak dilihat orang. Walau begitu ia datang dengan sungguh-sungguh. Tangan iman diulurkan menyentuh hadirat Yesus dan kuasa Yesus mengalir atas hidupnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa ibadah seperti Yairus dan seperti  perempuan  yang 12  tahun sakit inilah yang berkenan dan menyenangkan Tuhan Yesus, sehingga tidak ada alasan bagi Yesus tidak mengalirkan berkat-Nya;  kuasa-Nya dan mujizat-Nya kepada orang yang beribadah seperti Yairus dan perempuan yang datang dari belakang Yesus ini.

PENUTUP
Sebagai orang percaya, dalam kondisi sekarang ini, tidak mustahil bagi Tuhan untuk menjamah dan memulihkan kita meskipun secara fisik kita terpisah karena wabah penyakit. Namun, bila kita datang kepada Tuhan dengan bersungguh-sungguh, tersungkur dan memohon, maka iman kita sanggup menyentuh Yesus, sehingga yang sukar dijadikan-Nya berhasil. Percayalah bahwa Yesus adalah Allah yang hidup yang sanggup memulihkan bangsa ini dan keadaan ini. Tuhan Yesus memberkati.

TUJUH UCAPAN YESUS DI ATAS KAYU SALIB – Oleh: Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Kematian Yesus – Jumat, 10 April 2020)

PENDAHULUAN

Ketika Yesus disalib untuk menebus dosa umat manusia, ada 7 perkataan yang Yesus ucapkan ketika Yesus tergantung di atas Kayu Salib. Dan inilah ketujuh ucapan yang Yesus ucapkan saat Yesus disalib.

1.Ya Bapa ampunilah mereka
Dalam Lukas 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan mereka membuang undi  untuk membagi pakaian-Nya.”

Beragam motivasi yang ada di hati orang-orang yang ingin Yesus dihukum mati dengan cara disalibkan. Para Imam, ahli Taurat dan orang Farisi, memaksa Pilatus untuk menyalibkan Yesus karena Yesus mengaku adalah Mesias dan menuduh Yesus melanggar Taurat. Pilatus menyalibkan Yesus karena terpaksa, sebab orang Yahudi menuduh Pilatus musuh Kaisar. Sebab itu, Pilatus mencuci tangan sebagai tanda ia tidak bersalah. Tetapi apapun motivasi mereka seperti kebencian, iri hati, kelicikan, kejahatan dan segala macam dosa yang mereka buat sehingga menyalibkan Yesus yang tidak verdosa, kematian Yesus telah membuka jalan bagi manusia untuk mendapat pengampunan dari Tuhan.

2. “Hari ini engkau bersama Aku di dalam Firdaus
Dalam Lukas 23:43 “Kata Yesus kepadanya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Kepada siapakah Yesus menyampaikan ucapan atau perkataan ini…? Tentu kepada salah satu penjahat yang disalib bersama Yesus, seorang penjahat, pendosa paling berat, dibenci, sampah masyarakat. Tapi, ketika ia percaya bahwa Yesus yang adalah Mesias (Penyelamat), dalam detik-detik menjelang ajalnya seorang pendosa paling jahat yang sudah ada di bibir neraka, oleh kematian Yesus ia dipindahkan ke Taman Firdaus.

 3.Ibu, inilah anakmu!
Dalam Yohanes 19:26,27, “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!“ Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!“ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di rumahnya.”

Yesus, Allah yang menjadi manusia, dilahirkan, dibesarkan secara jasmani oleh Maria. Menjelang kematian Yesus, sebagai anak Yesus menitipkan Maria kepada Yohanes, murid yang dikasihi. Kalau kita pelajari Yohanes pasal 7, kemungkinan pada saat itu Yusuf suami Maria sudah meninggal. Sedangkan dalam Yohanes 7:3-4, anak-anak hasil pernikahan Maria dan Yusuf, pada saat itu belum percaya kepada Yesus (Yohanes 7:5). Yohanes 19:7b “Dan sejak saat itu murid itu (Yohanes) menerima día (Maria) di dalam rumahnya.” Kematian Yesus telah mempersatukan orang-orang percaya (para pengikut Yesus) menjadi satu keluarga yang saling mengasihi, menolong, membela bahkan memelihara.”

4. “Eli, Eli lama sabakhtani…?
Perhatikan Matius 27:46, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?“ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Mengapa Yesus berseru dengan suara yang keras seperti itu kepada Bapa di sorga? Sebab pada waktu Yesus tergantung diatas kayu salib, semua dosa manusia yang ada di muka bumi, ditimpakan/ ditanggungkan diatas diri Yesus. Dan Bapa yang benar, suci dan mulia tidak bisa bersikap kompromi dengan  dosa. Sebab itu Bapa memalingkan wajah-Nya dari Yesus yang sedang menderita menanggung dosa manusia (kita semua). Dan Yesus pun mengungkapkan perasaan-Nya kepada Bapa di sorga. Hal ini memberi pengertian kepada kita, betapa mengerikan orang yang dibuang ke dalam neraka. Mereka  dipisahkan dan ditinggalkan oleh Allah selama-lamanya. Tetapi orang-orang yang percaya kepada Yesus bersama-sama dan diperhatikan Bapa, seperti Maria juga penjahat di sebelah Yesus.

5.Aku haus”
Yohanes 19:28 “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: “Aku haus!”

Inilah penggenapan nubuatan Mesianik! Mazmur 69:21“Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.” Ketika Yesus berkata “Aku haus” tentara Romawi memberi Yesus anggur asam, yaitu minuman yang biasa disediakan bagi para terhukum saat proses penyaliban. Secara jasmani Yesus adalah Allah yang menjadi manusia 100% dan saat itu Yesus  benar-benar merasa haus. Tetapi ucapan Yesus yang yang kelima ini adalah ungkapan kerinduan ilahi yang ada di hati Allah sejak dulu sampai kini. Yesaya 5:1,2 Allah umpamakan bangsa Israel adalah benih anggur terbaik yang dipilih oleh Allah sendiri, untuk menghasilkan buah anggur yang manis. Tetapi  yang dihasilkan Israel bukan buah anggur yang manis, tetapi buah anggur yang asam. Dan setelah kematian Yesus, maka kita yang percaya dalam 1 Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan  yang  besar  dari  Dia,  yang  telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.“

Oleh kematian Yesus di atas kayu salib, lahirlah bangsa pilihan Allah, yaitu orang-orang percaya untuk menggantikan bangsa Israel yang dipilih untuk menghasilkan buah anggur yang menyenangkan dan memuaskan haus Yesus yaitu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Yesus, Tuhan kita.” Dengan merayakan kematian Yesus, kita diingatkan bahwa kita harus menjadi anak-anak-Nya yang menyenangkan dan memuaskan hati Tuhan dan Raja kita yaitu Yesus.  Bagaimana caranya? 2 Petrus 1:5-8, yaitu dengan cara hidup yang berkenan kepada Allah. Perhatikan gambar. Dimana pertumbuhan kita bukan hanya sampai di iman, melainkan iman itu bertumbuh dengan ditandai oleh perbuatan kebajikan, pengetahuan akan firman, hidup dalam penguasaan diri, tekun, saleh, bertumbuh pada kasih philea sampai disempurnakan sama seperti Yesus yang memiliki kasi Agape. Inilah air anggur yang manis, yang menyenangkan hati Yesus.

6. “Sudah selesai ”
Yohanes 19:30 “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan  menyerahkan nyawa-Nya.”

Ucapan Yesus ini memiliki arti yang  sangat  menentukan dan luar biasa dahsyatnya. Oleh kematian  Yesus di kayu salib, Yesus telah selesai membuka jalan keselamatan bagi semua yang percaya kepada  Yesus (termasuk orang paling jahat yang disalib bersama Yesus yang nyaris binasa). Tetapi sebaliknya kalau ada orang yang menolak dan tidak mau berjalan di jalan keselamatan yang Yesus telah buka ini, ia akan mendengar suara yang sama, yaitu “sudah terlaksana.” Bilamana dan di mana? Wahyu 16:17, Dan malaikat yang ketujuh menumpahkan cawannya ke angkasa. Dan dari dalam Bait Suci kedengaranlah suara yang nyaring dari takhta itu, katanya: “Sudah terlaksana.” Artinya, pada saat Yesus datang kedua kali, orang-orang yang menolak korban Yesus di atas salib, akan dibinasakan Yesus sampai semua tuntas dilaksanakan.

7. Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawaKu”
Lukas 23:46, Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawaKu.” Dan sesudah berkata demikian  Ia menyerahkan nyawaNya.

Pada saat Yesus menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa, pada saat itu resmi, sah, genap telah dibuka satu-satunya jalan bagi manusia untuk masuk ke dalam sorga, yaitu JALAN KESELAMATAN di dalam Tuhan Yesus Kristus! Sebab itu, setelah Yesus mengucapkan perkataan-Nya yang terakhir di atas kayu salib, maka dalam Matius 27:51 dikatakan “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah! Puji Tuhan, kematian Yesus membuka tabir pemisah atara manusia dengan Allah sehingga kita dapat berjumpa dengan Allah. Tidak ada lagi tembok pemisah. Kematian Yesus menjadi kehidupan bagi setiap orang yang percata. Amin! Tuhan Yesus memberkati.