KRISTEN YANG TAK GENTAR DI MASA SUKAR – oleh:Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya – Minggu, 10 Mei 2020)

1 Korintus 16:13-14
“Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”

Pendahuluan
Ayat ini berisi nasehat rasul Paulus kepada jemaat yang ada di kota Korintus. Rasul Paulus merindukan agar jemaat Korintus tidak gentar, sebab akan terjadi banyak hal yang akan mereka hadapi. Kalau kita melihat dalam pasal-pasal sebelumnya, maka terdapat banyak masalah, di antaranya: perselisihan, perpecahan, penyembahan berhala, masalah dalam perkawinan bahkan dalam pelayanan. Oleh sebab itu, tujuan Rasul Paulus dalam nasehat ini adalah agar jemaat Korintus menjadi orang-orang kristen yang tidak gentar sekalipun di tengah masa yang sukar.

KRISTEN YANG TAK GENTAR DIMASA SUKAR
Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi kristen yang tidak gentar sekalipun ditengah masa yang sukar? Berikut beberapa hal yang dapat kita pelajari untuk menjadi kristen yang tidak gentar ditengah masa sukar.
1. Kristen yang selalu berjaga-jaga
Kata ini sering digunakan Yesus saat menasehatkan murid-murid dalam menantikan kedatanganNya yang kedua kali. Kata berjaga-jaga juga dipakai dalam pertempuran yaitu, mengantisipasi akan bahaya yang datang. Kata ini dapat diartikan juga “tidak tertidur”. Demikian juga dalam kehidupan kita. Sebagai orang percaya, kita harus berjaga-jaga, tidak gentar dan tetap tegar, sebab akan terjadi banyak masalah yang datang secara tiba-tiba. Hal inilah yang menjadi tujuan rasul Paulus menasehatkan jemaat di Korintus agar berjaga-jaga. Tujuan nasehat ini bukan saja ditujukan kepada jemaat di Korintus tetapi juga kepada kita sebagai orang-orang percaya. Oleh sebab itu, sebagai orang kristen, kita diminta untuk tidak menggampangkan setiap masalah yang terjadi. Hal ini berarti kita perlu berjaga-jaga agar ketika tantangan datang, kita telah siap. Ketika kita tetap berjaga maka kita akan tetap tegar (Kolose 4:7; 1 Tesalonika 5: 6-10). 1 Petrus 5:8 berkata: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Ayat ini memberi penjelasan kepada kita bahwa ketika kita tidak berjaga-jaga maka iblis akan menjatuhkan kita. Lalu, bagaimana cara untuk berjaga-jaga dalam situasi covid-19 ini? Cara berjaga-jaga dalam situasi ini adalah dengan terus membangun hubungan dengan Tuhan, maka kita akan menjadi orang-orang kristen yang tidak gentar sekalipun menghadapi masa-masa yang sukar.

2. Kristen yang berdiri dengan teguh dalam iman.
Berdiri teguh adalah kata yang juga digunakan dalam konteks peperangan, dimana seorang prajurit mempertahankan posisi didepan musuh dengan tidak goyah, tidak mundur, dan tidak menjadi lemah. Ayat ini selanjutnya berkata: “Berdirilah dengan teguh dalam iman”. Iman seperti apa yang dimaksud rasul Paulus? Iman yang dimaksudkan adalah iman yang sudah diisi oleh Firman Allah, dan mengenai pengajaran yang benar tentang injil Kristus. Dengan demikian maka kita tidak akan goyah, kita akan tetap kuat, kita tidak akan gentar ditengah masa yang sukar.

3. Kristen yang bersikap sebagai laki-laki.
Nasehat ini tentu bukan saja ditujukan hanya kepada laki-laki, tetapi untuk semua orang percaya. Sikap sebagai laki-laki berarti bertindak berani, tidak cengeng, tidak mudah tawar hati dan tidak mudah takut. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) ditulis: “bertindaklah dengan berani”. Mengapa kita diminta untuk bertindak dengan berani? Karena peperangan prajurit bukanlah peperangan mudah. Lawan-lawan kita juga mempunyai perlengkapan-perlengkapan perang dan siap menyerang kita (Efesus 6:12). Lawan kita akan berusaha untuk melemahkan iman percaya kita. Jika kita takut sebelum berperang, maka kita tidak akan melihat kemenangan. Contoh kisah Musa saat membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Adalah hal yang wajar ketika bangsa Israel takut sebab di belakang mereka terdapat bangsa Mesir, di samping kanan dan kiri mereka ada padang gurun dan di depan mereka terdapat laut Teberau (Keluaran 14:13). Tetapi pada akhirnya ketika Musa berani bertindak membawa bangsa Israel, maka Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Contoh lain yaitu raja Daud dan Salomo (1 Raja-raja 2:1-2). Daud menasehatkan Salomo untuk bersikap tegas dalam mengambil keputusan-keputusan. Sebab ada banyak hal yang akan dihadapi Salomo sebagai seorang raja. Contoh terakhir adalah singa (Amsal 30:30). Mengapa alkitab menggunakan singa sebagai contoh? Hal ini bukan disebabkan karena aumannya, larinya, atau bahkan cakarnya yang kuat. Tetapi karena singa mempunyai mental pemberani. Oleh sebab itu, jadilah orang-orang percaya yang mempunyai mental pemberani, maka kita akan mampu menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup ini.

 4. Kristen yang tetap kuat.
Kata tetap kuat berarti orang yang ada dalam keadaan semakin kuat dan bertumbuh semakin kuat. Orang kristen yang tetap kuat adalah orang yang sepenuhnya bersandar kepada Tuhan. Rahasia kekuatan ini adalah karena kedekatan yang intim dengan Tuhan, sebab Tuhan adalah sumber dari kekuatan tersebut (Zakharia 4:6). Rasul Paulus berkata: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 6:10).

5. Kristen yang ada didalam kasih.
Yang dimaksudkan orang kristen yang ada di dalam kasih adalah orang yang tenggelam didalam kasih. Jemaat Korintus bukan jemaat yang pasif. Mereka adalah jemaat yang mengejar karunia, bahkan mereka bergairah dalam berkorban, melayani, dan bekerja. Tetapi mereka tidak melakukannya di dalam kasih (1 Korintus 13:1-3). Sebab itu rasul Paulus menasehatkan bahwa tanpa kasih maka tidak ada pengorbanan mereka yang berfaedah. Contoh dalam (Kisah 11:28-30). Ketika bencana kelaparan terjadi, maka murid-murid  mengumpulkan sumbangan dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea. 1 Korintus 16:1-4 mencatat bahwa rasul Paulus juga rindu jemaat Korintus berkorban. Kalau kita relevansikan dalam kehidupan kita, maka ada banyak orang yang menjadi korban karena covid-19. Oleh sebab itu sebagai orang-orang percaya, kita perlu memberikan perhatian kepada orang-orang disekeliling kita dengan kasih.

Seorang prajurit memberikan segala sesuatunya kepada negaranya bahkan ia memberikan nyawanya untuk negaranya. Sebab itu sebagai prajurit-prajurit Kristus, kita juga harus rela memberikan segala sesuatunya untuk Tuhan. Kalau kita melakukan hal yang sama, maka kita akan selalu diberkati.

Kesimpulan
Ada banyak kesukaran yang akan kita hadapi menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Tetapi lewat kebenaran Firman Allah, kita belajar untuk menjadi orang kristen yang tidak gentar menghadapi semua kesulitan hidup sebab ada Yesus yang menyertai kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *