MENJADI PERABOT YANG MULIA- Pdt. Joseph Minandar (Ibadah Raya Minggu, 17 Mei 2020)

1 Kor 15:8-10
Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

LATAR BELAKANG
Apabila kita melihat seluruh isi kitab 1 Korintus 15 ini, maka pasal ini berisi doktrin pengajaran berupa pengajaran mengenai kebangkitan orang percaya. Sebab pada zaman itu, telah muncul penyesat-penyesat yang mengajarkan bahwa hanya roh saja yang masuk ke sorga, sedangkan tubuhnya tidak turut bangkit. Tetapi kita percaya bahwa karena Yesus telah dibangkitkan maka kita pun akan dibangkitkan seperti Dia.

Dalam ayat 5 mencatat mengenai saksi-saksi kebangkitan Yesus yang masih hidup, yaitu: Kefas (Petrus), 12 murid Yesus, 500 pengikut Yesus, Yakobus (saudara Yesus), dan yang terakhir adalah Paulus, sebelumnya ia bernama Saulus (ayat 8). Tetapi yang menarik adalah Paulus menyebut dirinya sebagai orang yang paling hina dibandingkan dengan rasul-rasul lain (ayat 9). Paulus merasa paling hina karena telah menganiaya orang-orang Kristen. Selain itu, Paulus berkata bahwa ia berjumpa dengan Yesus bukan karena usahanya melainkan kemurahan dan belas kasihan Allah. Karena Paulus menyadari hal ini, maka ia bekerja lebih keras sehingga ia lebih unggul dari rasul-rasul lain. Karena kesadaran hal ini maka ia melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Demikian juga dengan kita sebagai orang percaya. Semakin kita menyadari betapa besar kasih Tuhan atas hidup kita, kita akan semakin berusaha keras untuk melayani dan memberi lebih bagi Tuhan dan bagi pekerjaan Tuhan.

KESAKSIAN ANANIAS
Apabila kita melihat kisah dari panggilan rasul Paulus, maka kita akan menemukan peran dari Ananias. Ananias adalah seorang murid Tuhan yang berada di Damsyik. Pada awalnya Ananias menolak untuk menerima Paulus. Tetapi Allah berfirman kepada Ananias sehingga ia mau menerima Paulus. Kisah Rasul 9:15 berkata “Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.  Kata alat pilihan dalam bahasa Yunani: skeous; dalam bahasa inggris ditulis vessel yang berarti bejana. Tetapi dalam terjemahan lain kata skeous diterjemahkan sebagai perabot atau material (bahan) yang digunakan untuk membangun sesuatu. Oleh sebab itu, rasul Paulus mengumpamakan setiap orang yang percaya kepada Yesus seperti material atau bahan bangunan untuk membangun rumah.

Didalam 2 Timotius 2:20, “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia”. Kata perabot dalam ayat ini  berarti:

  • Peralatan dalam rumah tangga
  • Tetapi juga berarti material atau bahan-bahan bangunan yang digunakan untuk membangun sebuah rumah.

Sebuah contoh dalam 1 Raja-raja 6:1-38 menceritakan mengenai pembangunan Bait Allah yang dilakukan oleh Salomo. Daud, ayahnya telah menyediakan berbagai material yang Salomo perlukan untuk membangun Bait Allah, antara lain: emas, perak dan benda-benda berharga lainnya. Secara individu setiap orang percaya adalah Bait Roh Kudus atau Bait Allah (1 Korintus 6:19). Namun, jika hal ini dihubungkan dengan  1 Korintus 6:19, maka ayat ini mencatat bahwa pada saat setiap orang percaya berhimpun dalam gereja lokal, himpunan orang percaya adalah Bait Allah atau tempat kediaman Allah. Hal ini sama seperti perkataan Yesus dalam (Matius 18:20) yang berkata bahwa: “Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Hal ini berarti bahwa ketika kita berhimpun bersama, di mata Yesus perhimpunan kita adalah Bait atau tempat bagi Yesus untuk bertakhta.

Setiap individu orang percaya seumpama perabot, material yaitu bahan bangunan yang bentuk dan kualitasnya berbeda satu dengan yang lainnya. Alkitab memberi keterangan bahwa ada yang berkualitas emas, perak atau batu permata, tetapi ada juga yang berkualitas kayu dan tanah liat. Tetapi kualitas kita ini bukan ditentukan karena nasib, tetapi kualitas kerohanian kita bergantung bagaimana cara hidup kita, pengabdian kita, pengiringan kita, korban kita, kesetiaan kita, dedikasi kita  kepada Tuhan.

Apabila kita ingin menjadi perabot yang mulia, maka kita harus bersedia diproses oleh Tuhan sebab rumah Tuhan atau bait Allah harus dibangun dari bahan-bahan yang berkualitas. Itu sebabnya ada proses-proses yang harus dijalani untuk menjadi perabot yang mulia. Proses tersebut antara lain:
1. Menyucikan diri dari yang jahat (2 Timotius 2:21). Allah menyediakan jalan bagi umat manusia untuk mengubah kita menjadi perabot yang mulia. Bagaimana jalan untuk menyucikan diri?

  • Korban darah Yesus (1 Petrus 1:18-19).
    Masa lalu Paulus begitu jahat dan kotor. Tetapi oleh darah Yesus, Paulus disucikan dan diubah menjadi perabot atau material yang mulia di tangan Yesus.
  • Firman Allah (Yohanes 15:3).
    Firman Allah memproses dan membawa kita bukan hanya kepada pertobatan saja, tetapi membersihkan serta membentuk kita untuk menjadi perabot, bahan bangunan atau material yang kudus, berkenan dan mulia yang digunakan untuk pembangunan bait Allah rohani yaitu gereja yang sempurna.
  • Kuasa Roh Kudus (1 Tesalonika 2:13). Roh Kudus adalah penolong yang diutus mengingatkan kita akan Firman Allah supaya kita mampu menjaga diri kita untuk tetap menjadi perabot yang kudus dan sesuai dengan Firman Allah. Hal ini berarti, Roh Kudus memberi kemampuan kepada kita untuk menjaga kemuliaan Kristus tetap terpelihara didalam diri orang percaya.
  • Proses kehidupan.
    Pada saat membangun bait Allah, Salomo bukan hanya mencari perabot, material atau bahan bangunan yang berkualitas. Tetapi, Salomo memakai tukang yang ahli untuk memproses perabot, material atau bahan bangunan yang akan dipakai membangun bait Allah (1 raja2 5:17-18).

TIGA MACAM TUKANG
Ada tiga macam tukang yang Salomo pakai untuk membuat material terbaik, mulai dari fondasi, sampai bagian yang terpenting dan yang utama dalam bangunan Bait Allah itu (1 Raja-raja 5:18). Tiga macam tukang tersebut adalah:

  • Tukang-tukang Salomo
    Tukang-tukang Salomo adalah hamba-hamba Tuhan yang dipercayakan oleh Tuhan untuk menempa kerohanian jemaat dengan Firman Allah (Galatia 1:9-10).
  • Tukang Hiram (1 Raja-raja 5:1)
    Tukang Hiram bisa berbicara mengenai teman dekat, relasi pelayanan, kenalan dekat yang dipakai Tuhan untuk menjadi alat agar menempa, mengasah kita agar kita menjadi semakin mulia. Terimalah apabila Tuhan memakai orang-orang di sekeliling kita untuk membentuk kita. Seringkali kita menolak pembentukan dari orang-orang di sekeliling kita.
  • Orang Gebal (Mazmur 83:7,8)
    Orang Gebal adalah musuh. Musuh kita bukan manusia tetapi iblis ( Efesus 6:12). Namun demikian, iblis bisa memakai siapa saja yang berada di sekitar kita (non kristen) untuk membentuk kita agar menjadi mulia.

Catatan: seringkali ini terjadi diluar pemikiran kita. Tetapi bila Tuhan mengijinkan hal ini terjadi dalam hidup kita, berarti Tuhan sedang membentuk kita, apakah kita bisa tetap mengasihi musuh kita?

PERABOT YANG MULIA
Wahyu 21:1 berkata “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.”
Ketika langit dan bumi yang pertama lenyap, kita berada dimana saat itu? Sebab saat itu langit dan bumi yang baru belum diciptakan.

Wahyu 21:2 menjawab, “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.”
Siapakah yang dimaksud dengan kota yang kudus yaitu kota yang namanya Yerusalem baru tersebut? Kota Yerusalem baru itu berhias dan berdandan untuk suaminya. Jadi, kota Yerusalem Baru yang berdandan untuk suaminya adalah mempelai perempuan, yaitu gereja yang sempurna dan suaminya (mempelai laki-laki) tidak lain adalah Yesus Kristus (Wahyu 21:9)

Jadi seperti apakah kemuliaan material (bahan bangunan) kota Yerusalem yang baru yaitu gereja sempurna? Seperti apa kemuliaan Kota yang Kudus, Yerusalem Baru yaitu gereja yang sempurna yang adalah mempelai/ isteri Anak Domba?

Wahyu 21:18, berkata “Tembok itu terbuat dari permata yaspis; dan kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni.”
Jadi bahan bangunan yang digunakan kota Yerusalem yang baru adalah berupa permata yaspis dan emas tulen. Bahkan Wahyu 21:21 berkata, “Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.” Jadi, selain permata Yaspis dan emas tulen, ada juga material atau bahan yang berupa mutiara yang menjadi bagian dari kota Yerusalem baru itu.

KESIMPULAN
Apabila kita ingin menjadi bagian dari kota Yerusalem yang baru maka kita harus siap dibentuk. Kalau kita tidak mau dibentuk, bagaimana kita bisa menjadi bagian dari kota itu? Karena rela diproses, Paulus menjadi perabot yang mulia. Demikian juga dengan kehidupan kita. Saat kita mengerti bahwa kita adalah perabot-perabot yang akan digunakan untuk tujuan yang mulia, maka kita harus bekerja semakin giat dalam mengiring dan melayani Tuhan. Kita juga harus merelakan diri untuk diproses sesuai dengan kehendak Tuhan, maka kita akan menjadi perabot-perabot yang mulia dan menjadi bagian dari kota yang mulia yaitu Yerusalem baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *