BERUBAH ATAU PUNAH DI TENGAH WABAH – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 24 Mei 2020)

Tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan untuk pertama kalinya virus Korona ada di Indonesia, hingga saat ini lebih dari 20.000 orang telah diketahui terinfeksi virus Korona. Kemunculan virus Korona telah menimbulkan dampak yang luar biasa atas bangsa kita bahkan penduduk dunia. Secara tiba-tiba sendi-sendi kehidupan berubah, terutama masalah sosial dan ekonomi. Sektor-sektor perdagangan, pariwisata, dunia hiburan, jasa keuangan dan kesehatan adalah sektor yang paling terpukul akibat pandemi covid ini.

Sebagai anak-anak Tuhan bagaimanakah sikap kita menghadapi situasi seperti ini? Untuk itu marilah kita belajar dari firman Allah, bagaimana berjalan di tengah kesulitan, bagaimana bertahan di tengah tantangan dan tekanan kehidupan.

Mari kita membuka Filipi 4: 11 – 13
Filipi 4:11  Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Filipi 4:12  Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Filipi 4:13  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Ternyata kesulitan hidup tidak hanya dialami oleh kita saja, bahkan orang sekaliber rasul Pauluspun tidak lepas dari kesulitan hidup. Bagaimanakah caranya rasul Paulus keluar dari kesulitan hidup yang dialami? Dari ayat-ayat yang telah kita baca ini, kita dapat belajar hal-hal yang dilakukan rasul Paulus sehingga mampu mengatasi segala tekanan dan kesulitan yang kita alami. Hal itu juga dapat menjadi contoh bagi kita agar dapat melewati kesulitan di tengah pandemi covid ini. Berikut hal-hal yang dilakukan oleh Rasul Paulus.

1. Beradaptasi dengan situasi yang terjadi.
Ayat. 11 
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Inilah yang dilakukan oleh rasul Paulus sehingga mampu mengatasi segala persoalan dan tantangan pelayanan yang dihadapinya yaitu belajar beradaptasi dengan situasi yang terjadi. Kesulitan hidup bukan untuk diratapi, kelaparan bukan alasan untuk melakukan persungutan, tetapi belajar mencukupkan. Ingatlah: “Kita tidak bisa memilih situasi yang terjadi, kita hanya bisa beradaptasi”

Apapun keadaan yang kita alami, marilah kita belajar beradaptasi, menyesuaikan diri dengan keadaan. Memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita dialami.

  • Jika penghasilan mulai berkurang – belajarlah mengikat pinggang, kurangilah jajan di luar.
  • Jika uang ditangan hanya sedikit – gunakanlah dengan irit (makanlah sedikit-sedikit, jangan kebalik, sedikit-sedikit makan)
  • Jika tabungan makin berkurang – cobalah tahan keinginan, gunakan hanya untuk hal-hal yang dibutuhkan.

Adaptasi dengan Covid 19
Sekarang bagaimana caranya kita menjalani hidup di tengah pandemi Covid ini? Bapak Jokowi telah mengajak masyarakat Indonesia untuk hidup berdamai dengan virus Covid 19. Ini bukan berarti kita pasrah kepada keadaan, bukan pula kita menyerah apalagi terserah. Bukan! Ini adalah sebuah perlawanan terhadap virus ini. Para ahli telah mengatakan bahwa jika pandemi ini berakhir, bukan berarti virus Korananya hilang dari bumi. Virus ini akan tetap ada, namun kita bisa menghindarinya dengan cara hidup beradaptasi dengan virus. Itulah sebabnya gaya hidup kita harus berubah, jika tidak kita akan punah. Bagaimana caranya? Ikutilah protokol kesehatan mencegah infeksi virus Korona. Inilah protokol kesehatan versi saya.

  • Jaga kesehatan diri dan jaga kesehatan rohani
  • Tingkatkan imunitas dan bangun spiritualitas
  • Jauhi kerumunan tetapi dekati Tuhan
  • Jaga kebersihan tangan dan kebersihan hati
  • Kenakan masker untuk mulut dan firman Tuhan untuk pikiran.

Pilihan ada di tangan kita, mau berubah atau punah? Hidup memang tidak mudah, tetapi bisa mudah jika mau berubah. Jangan lawan gelombang, berselancarlah diatas gelombang, maka kita akan bertahan. Ketahuilah mereka yang menantang gelombang pasti tenggelam.

Amsal 22:3 
Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.

Hidup adalah pilihan, pilihlah dengan banar dan putuskanlah dengan bijak, berubah atau punah.

2. Sadarilah bahwa hidup berjalan secara seimbang
Ayat :12 
Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Perhatikan frase “aku tahu” Ini menunjukan bahwa rasul Paulus mengerti, faham, sadar bahwa hidup ini berjalan secara seimbang. Antara kekurangan dan kelimpahan, antara kenyang dan lapar, suka dan duka, sehat dan sakit, dll.

Kita tidak bisa memilih satu bagian saja, kita harus menerima keduanya bagi keseimbangan hidup. Sadarilah kenikmatan hidup terjadi justru karena ada hal-hal yang buruk terjadi. Misalnya:

  • Kenyang : Kenikmatan kenyang bukan karena makanan yang enak, tetapi karena ada lapar.
  • Kebahagiaan: Kita bahagia karena ada duka (Ukuran kebahagiaan sebanding dengan kesulitan yang dialami).

Sebab itu syukuri saja, apapun yang terjadi, yakinlah semuanya terjadi untuk kebaikan kita.

Selain rasul Paulus, Ayub juga memahami bahwa kehidupan dibangun dengan keadaan baik dan buruk.

Ayub 2:10 
Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Demikian juga dengan raja Salomo, dalam Pengkhotbah 3, ia memberitahukan kepada kita bahwa hidup dibentuk dari dua pengalaman yaitu:

  • ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal;
  • ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
  • ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan;
  • ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
  • ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa;
  • ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
  • ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu;
  • ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
  • ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi;
  • ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
  • ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit;
  • ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
  • ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci;
  • ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Pada akhirnya Salomo menarik kesimpulan bagaimana menyikapi kehidupan ini.
Pengkhotbah 7:14 
Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.

Jadi, jika kita ingin bertahan dalam kehidupan mulailah berubah, pahamilah bahwa hidup ini berjalan secara simbang. Jangan hanya mengharapkan kesenangan, syukurilah untuk setiap kesulitan.

3. Percayalah, Tuhan memberi kekuatan untuk menanggung segala sesuatu.
Ayat 13 – Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Inilah yang menjadi rahasia kekuatan rasul Paulus, dia tetap kuat sekalipun menghadapi persoalan berat, tidak menyerah walau dihimpit berbagai masalah, dia tegar walau sering mengalami masa sukar. Sebab kekuatannya bukan dari dirinya sendiri tetapi ada di dalam DIA. Ketika rasul Paulus ada di dalam Dia, di dalam Tuhan, maka Tuhanlah yang memberikan kekuatan kepadanya sehingga mampu menanggung segala perkara. Saat dia lemah, Tuhan memberi kekuatan. Saat dia susah, Tuhan memberi penghiburan. Saat dia berputus asa, Tuhan memberi harapan. Saat dia menghadapi kesulitan, Tuhan memberi pertolongan. Itulah sebabnya tidak ada perkara yang sukar atau berat bagi rasul Paulus, karena kekuatannya ada di dalam Tuhan.

Di masa sukar seperti ini, jangan lari dari Tuhan, tetaplah tinggal di dalam Tuhan. Ingatlah, orang-orang yang tinggal di dalam Dia akan selalu memiliki kemampuan untuk bertahan, orang-orang yang tinggal di dalam Dia selalu punya kekuatan untuk meraih kemenangan. Tuhan Yesus berkata: di luar Aku, engkau tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam kitab Rut dikisahkan, bahwa di masa kelaparan Elimelek dan keluarganya tinggalkan Betlehem dan pergi ke Moab. Apa yang terjadi selanjutnya? Di Moab, yang diharapkan dapat memberi kehidupan justru memberikan kematian, Elimelekh dan kedua anaknya yaitu Mahlon dan Kilyon mengalami kematian. Dengar, “Tidak semua orang merentangkan tangan saat kita datang meminta pertolongan” sebab itu tetaplah tinggal di dalam Tuhan.

Nabi Yesaya berkata: Yesaya 40:31  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab ketika Tuhan Yesus naik ke sorga, Dia tidak tinggalkan kita sendirian, Dia berikan Roh KudusNya menjadi penolong bagi kita.

Yohanes 14:16 
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Apapun yang sedang saudara alami, seberat apapun tekanan yang dipikul, ingatlah ada Roh Kudus yang menolong kita. Jangan menyerah, teruslah melangkah, percayalah Roh Kudus akan memberikan kekuatan dan kemenangan hingga akhir perjalanan. Tuhan memberkati. KJP!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *