TANGGUH DALAM KEHIDUPAN, KUAT DALAM TUHAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 19 Juli 2020)

1 Samuel 30:1-8

Pendahuluan
Dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan kesukaran dibutuhkan ketangguhan. Tanpa ketangguhan, maka semua pengalaman, pengetahuan, talenta dan keahlian hanya membuat kita memulai dengan baik, namun tidak menyelesaikannya.  Sadarilah kemenangan tidak didapat diawal perlombaan tetapi diakhir perjuangan. Banyak orang memulai dengan baik, tapi gugur di tengah jalan karena tidak memiliki ketangguhan.  Melalui kebenaran firman Tuhan hari ini marilah kita belajar bertumbuh menjadi pribadi yang “Tangguh dalam kehidupan dan kuat didalam Tuhan.”

Di dalam Alkitab kita bisa mendapati tokoh-tokoh yang menunjukkan ketangguhan iman. Salah satunya adalah Daud. Daud adalah seorang yang memiliki jiwa yang tangguh dalam menghadapi kehidupan, namun juga memiliki iman yang kokoh dan kuat dalam Tuhan. Mari kita buka 1Samuel 30:1-8.

Daud baru saja pulang dari negeri Filistin setelah dua tahun terakhir ia membantu raja Akhis dalam pertempuran melawan musuh-musuhnya. Setiap Daud maju berperang, Tuhan selalu memberikan kemenangan. Namun setelah para prajurit Filistin menolak kehadiran Daud dan orang-orangnya, Daud dan rakyat yang menyertainya pulang kembali ke kotanya yaitu Ziklag.

Ketika Daud serta orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag. Ziklag telah dikalahkan dan dibakar habis oleh orang Amalek. Perempuan-perempuan dan semua orang yang ada di sana, tua dan muda, telah ditawan mereka, termasuk kedua isteri Daud yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail. Melihat keadaan yang demikian maka menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, bahkan mereka tidak kuat lagi menangis.

Inilah fakta kehidupan! Kehidupan tidak selalu dihiasi dengan tawa ceria, tetapi juga dengan duka dan air mata. Ketahuilah, langit tidak selamanya akan cerah, kadang-kadang mendung dan hujan yang lebat tercurah. Hidup ini tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan dan doakan. Kadang-kadang justru yang terjadi kebalikannya.

Daud dan orang-orangnya baru saja memenangkan pertempuran bersama raja Akhis. Selayaknya kedatangan mereka disambut dengan tepuk tangan dan sanjungan sebagai pahlawan. Namun apa yang terjadi, bukan tepuk tangan apalagi sambutan dengan parade kemenangan, yang terjadi justru tangisan. Kota mereka dibakar, istri dan anak-anak mereka ditawan musuh.

Siapa yang pernah menduga jika tahun 2020 akan muncul virus? Tak satupun ahli atau pakar memprediksi sebelumnya jika tahun 2020 akan ada pandemi. Semua orang percaya th. 2020 akan berjalan normal-normal saja. Tidak ada tanda-tanda bahaya sebelumnya, tetapi tiba-tiba terjadi bencana. Virus covid 19 menyerang manusia di seluruh dunia. Akibatnya bukan saja kematian yang dialami manusia, tetapi juga seluruh sektor kehidupan manusia terkena dampaknya. Disinilah pentingnya ketangguhan. Dalam keadaan aman dan senang tidak dibutuhkan ketangguhan, tetapi saat keadaan berubah menjadi susah, diperlukan ketangguhan dan kekuatan iman untuk tetap bertahan. Hanya orang-orang tangguh yang tak akan rubuh meski keadaan yang disekitarnya seolah runtuh.

Melalui kisah Daud ini, marilah kita mempelajari cara bertumbuh menjadi orang tangguh.

  1. Orang tangguh tidak suka mengeluh
    1Samuel 30:6 
    Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu.

Marilah kita perhatikan respon Daud dan respon rakyat yang mengikutinya. Daud sadar kondisi yang dialaminya adalah sukar, kotanya dibakar, seluruh rumah dan harta benda lenyap, istri dan anak-anaknya ditawan. Namun Daud tidak mengeluh dengan keadaannya yang terjadi. Orang yang tangguh tidak suka mengeluh. Sebaliknya bagaimana respon rakyat yang mengikutinya? Ayat enam berkata: rakyat yang mengikutinya mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Orang-orang yang mengikuti Daud mengeluh, mereka protes kepada Daud hingga hendak melempari Daud dengan batu.

Hidup ini memang banyak kesulitan tetapi jangan mengeluh sebab mengeluh justru semakin mempersulit hidupmu. Persoalan bukan untuk dikeluhan, persoalan harus diselesaikan. Ingatlah keluhan tidak akan mengurangi beban yang kita hadapi apalagi menyelesaikan. Mengeluh hanya membuat beban yang dipikul terasa berat. Mengeluh hanya membuat perjalanan hidup terasa makin sulit. Itulah sebabnya jangan penuhi hidup ini dengan mengeluh, penuhi hidup ini dengan bersyukur.

Ketahuilah orang yang suka mengeluh hanya menyalahkan keadaan dan orang lain. Lihatlah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang menyertai Daud. Mereka menyalahkan Daud dan kecewa dengan keadaan yang terjadi.

Ada orang yang berkata: bagaimana tidak mengeluh jika keadaanya sulit, kekurangan dan banyak persoalan. Coba saja keadaannya baik, diberkati dan berkecukupan, pasti orang tidak mengeluh. Sadarilah bahwa mengeluh adalah sikap hati bukan kondisi yang terjadi. Orang yang hatinya baik, maka apapun keadaannya ia akan selalu baik. Sebaliknya orang yang hatinya buruk, apapun keadaannya akan selalu mengeluh. Lihatlah apa yang dialami bangsa Israel selama perjalanan di padang gurun. Apa yang kurang bagi mereka? Makan disediakan, minum tersedia, siang hari ditudungi dengan tiang awan, malam hari disinari dengan tiang api. Ingin daging Tuhan kirim burung puyuh. Semua tercukupi. Apakah dengan semua fasilitas yang diberikan kepada bangsa Israel membuat mereka tidak mengeluh? Tidak! Dalam pemeliharaan dan kecukupan bangsa Israel tetap saja mengeluh. Ini bukti bahwa mengeluh itu bukan kondisi tetapi sikap hati. Banyak orang tidak dapat menikmati hidup ini karena selalu mengeluhkan keadaan, sehingga lupa mensyukuri apa yang Tuhan berikan. Jadilah orang yang tangguh, yang bisa bersyukur dalam segala keadaan dan situasi yang dialami.

2. Orang tangguh imannya teguh
Ayat 6
Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.

Dalam keadaan yang terjepit, Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan Allahnya. Daud bisa saja kecewa kepada Tuhan, sebab selama ini ia hidup dalam kebenaran. Tetapi apa yang dialami? Bukan berkat, bukan pertolongan atau hal-hal yang menyenangkan, sebaliknya kotanya dibakar, istri dan anak-anak ditawan musuh dan orang-orang selama ini menyertainya berbalik hendak melemparinya dengan batu. Dalam keadaan yang demikian Daud tetap mempercayai Tuhan Allahnya bahkan menguatkan kepercayaannya.

Bagaimana dengan kita? Mampukah kita mempercayai Tuhan saat kehilangan? Apakah kita tetap percaya kepadaNya saat duka mendera? Apakah kita tetap beriman saat keadaan suram? Dalam masa yang sukar Daud memilih untuk menguatkan kepercayaanya kepada Tuhan Allahnya. Ketahuilah bahwa iman itu bukan pemberian, iman adalah keputusan untuk mempercayai Tuhan atau keadaan.

Ibrani 11:6 
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Sekali lagi, ketika orang-orangnya kecewa karena keadaaan yang terjadi, Daud memilih untuk tetap mempercayai Tuhan Allahnya. Daud tidak tahu dimana keberadaan anak dan istrinya, tetapi ia percaya bahwa Tuhan mengetahui keberadaan mereka. Daud tidak mampu untuk menolong mereka, tetapi ia percaya bahwa Tuhan sanggup menolong mereka. Itulah sebabnya ia menguatkan kepercayaannya bahwa Tuhan berkuasa untuk menolongnya.

Contoh lain adalah Abraham. (Roma 8:18-21)Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham tetap berharap dan percaya juga bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Ayub
Ayub 23:10  Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

3. Orang yang tangguh bertanya kepada Allah sebelum melangkah
1Sam 30:8  Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” Dan Ia berfirman kepadanya: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”

Inilah kunci kemenangan Daud. Di setiap pertempuran Daud selalu alami kemenangan sebab ia selalu bertanya kepada Allah sebelum ia melangkah. Daud tidak akan menemui musuhnya, sebelum bertemu dengan Allahnya. Sebelum berjumpa dengan musuhnya, terlebih dahulu berjumpa dengan Allahnya. Daud sadar bahwa kemenangan dalam pertempuran bukan ditentukan oleh banyaknya pasukan, tetapi oleh kuasa Tuhan. Oleh sebab itu, ia selalu memulai peperangan dengan bertanya kepada Tuhan.

2 Samuel 5:22,23
Ketika orang Filistin maju sekali lagi dan memencar di lembah Refaim, maka bertanyalah Daud kepada TUHAN, dan Ia menjawab: “Janganlah maju, tetapi buatlah gerakan lingkaran sampai ke belakang mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan pohon-pohon kertau.

Daud tak pernah gegabah, ia selalu bertanya kepada Allah sebelum melangkah. Orang-orang yang tangguh tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, orang-orang yang tangguh mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan. Sadarilah kekuatan orang-orang yang tangguh bukan saat ia berdiri teguh, tetapi saat ia bersimpuh di bawah kaki Tuhan.

Mazmur  37:5 
Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

4. Orang tangguh berani mengejar musuh
1Sam. 30:8 
Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” Dan Ia berfirman kepadanya: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”

Hidup ini tak akan sepi dari persoalan dan tantangan. Akan selalu ada kesulitan disepanjang perjalanan. Tetapi orang-orang yang tangguh berani mengejar musuh. Ingatlah, bahwa kemenangan tidak datang hanya dengan diam, kemenangan datang ketika kita berjuang ke medan pertempuran. Jangan takut dengan apa yang kita hadapi, majulah dengan berani karena Tuhan menyertai.

2Timotius 1:7  Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Percayalah Tuhan tidak pernah memberikan ketakutan kepada anak-anakNya. Tuhan memberikan roh keberanian kepada kita. Sebab itu songsonglah masa depan depan percaya. Jalanilah hidup ini tanpa mengeluhkan keadaan. Berdirilah teguh dalam iman walau jalan bertaburan rintangan, percayalah semua musuh kita pasti taklukan bersama Tuhan. “Jadilah Tangguh dalam kehidupan dan kuat didalam Tuhan”. Tuhan memberkati. KJP!

Hidup Dalam Pimpinan Roh Allah – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya – Minggu, 11 Juli 2020)

Roma 8:14
“Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah.”

Menghadapi kedatangan Yesus yang kedua kali, penting bagi kita untuk hidup dipimpin oleh Roh Allah, karena hari-hari terakhir merupakan hari-hari yang sukar. Ayat ini menjawab pertanyaan banyak orang tentang mengapa orang yang telah lama menjadi kristen bisa mundur, jatuh dan terhilang tetapi yang baru malah lebih kuat dan lebih dewasa rohani. Menjadi pengikut Kristus yang sejati bukan bergantung dari lamanya menjadi orang Kristen.  Masalahnya adalah siapa yang mengendalikan hidupnya: apakah ia dipimpin oleh Roh Allah atau dipimpin oleh kedagingannya.

Banyak orang yang merasa mengetahui Roh Kudus, sudah dipenuhi Roh Kudus dan memiliki Roh Kudus. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Roh Kudus juga merasa memiliki kita? Roh Kudus memiliki kemauan untuk memimpin hidup kita kepada hidup dan damai sejahtera. Kata dipimpin pada ayat di atas menunjukkan bahwa harus ada kerja sama antara roh kita untuk dipimpin oleh Roh Allah. Mengapa? Karena roh kedagingan kita juga memiliki pemikiran dan keinginannya sendiri.

Tujuan Allah dalam hidup kita bukan semata-mata agar kita diberkati, masalah kita selesai, dan sebagainya. Tetapi tujuan Allah yang utama untuk membentuk kita adalah agar kita menjadi seperti Allah.

Roma 8:5-6 menunjukkan kepada kita bahwa baik keinginan daging maupun Roh Allah masing-masing mempunyai pemikiran dan keinginannya sendiri yang hasilnya kita ketahui. Kata “memimpin” berarti menguasai “sepenuhnya”. Karena kedagingan kita mempunyai keinginannya sendiri maka diperlukan penyerahan total kepada Roh Kudus, agar Roh Kudus benar-benar menguasai kita.

Roma 6:13-14
“Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.”

Kalimat “yang dahulu mati tetapi yang sekarang hidup” memiliki arti bahwa dahulu kita telah mati karena dosa, sekarang hidup dalam kebebasan karena penebusan Kristus. Namun kita harus mati hari demi hari dengan mematikan manusia lama kita yang sifatnya masih hidup didalam diri kita (keinginan daging).

Sewaktu-waktu keinginan daging kita dapat menyeret kita kembali kepada kehidupan yang lama. Disinilah ruang kerja iblis untuk menjatuhkan setiap orang tebusan Kristus untuk kembali jatuh ke dalam dosa. Orang percaya harus segera mengambil tindakan.

Antikris yang akan muncul dan memerintah dunia adalah berasal dari kita, yaitu orang yang pada mulanya percaya kepada Yesus. Namun ia tidak bersungguh-sungguh menyerahkan hidupnya untuk dipimpin Roh (1 Yohanes 2:18-19).

Roma 8:13
Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Jangan ijinkan perbuatan dosa yang sudah dihapuskan oleh darah Yesus tumbuh lagi. Kita harus mematikannya.

Kalimat “Jika oleh Roh kamu mematikan” Ini menunjuk kepada penyerahan diri oleh Roh Allah untuk mengikuti kehendakNya. Ketika kita menaklukkan pikiran dan keinginan kita kepada Kristus, maka harus ada yang dimatikan dalam kehidupan kita. Kolose 3:5, berkata bahwa bukan hanya keserakahan tetapi semua dosa yang harus dimatikan itu disamakan dengan penyembahan berhala. Mengapa? Karena dengan membiarkan dosa-dosa itu menjadi pusat dari keinginannya dan nilai hidupnya, sehingga tidak lagi bergantung dan beriman kepada Allah. Selain itu juga ada yang harus kita buang dari dalam hidup kita. Kolose 3:8 menunjukan daftar keinginan daging kita yang harus dimatikan dan dibuang dalam kehidupan baru bersama Tuhan. Namun bagaimana dengan pikiran kita? Bukankah pikiran dan keinginan berjalan bersama dalam menentukan perbuatan kita? Pikiran kita juga harus ditaklukkan kepada pikiran Kristus Yesus (Filipi 2:5).

Semuanya ini dapat terjadi apabila kita berkomitmen untuk memberi diri untuk mau dipimpin oleh Roh Kudus. Galatia 5:18 berkata bahwa apabila kita memberi diri dipimpin oleh Roh maka kita tidak hidup dibawah hukum Taurat. Memberi diri berarti ada kesediaan diri, kerelaan untuk mau dipimpin oleh Roh, bukan karena terpaksa untuk tunduk kepada pimpinan Roh.

Tuhan Yesus telah berkorban untuk menebus kita dari perhambaan dosa, dan memberikan keselamatan jiwa. Tugas kita selama kita masih hidup adalah mengerjakan keselamatan kita (Filipi 2:12). Menjaga hidup kita untuk tidak jatuh lagi kepada dosa, dengan memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus dan bertumbuh ke arah Kristus menjadi sama seperti Yesus.

TANDA PENGENALAN ALLAH
Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah” (Roma 8:14). Kata dipimpin ditulis dalam bahasa aslinya: AGO- artinya: diarahkan/dituntun dalam penguasaanNya. Sebenarnya ketika Roh Kudus memenuhi hidup orang percaya, maka orang itu sudah ada dalam kuasa Roh (Kisah Rasul 1:8a).

Kata “turun” ditulis dalam bahasa aslinya: EPERCHOMAI artinya menguasai. Roh Allah memimpin dan menguasai kehidupan kita bukan untuk memperbudak dan menimbulkan ketakutan pada hidup kita. Tetapi memimpin kehidupan kita agar kita dapat hidup menjadi anak-anak Allah yang sebenar-benarnya, sehingga kita dapat memanggil Allah itu Bapa (Roma 8:15). Anak Allah dalam ayat ini ditulis dengan kata HUYOS-dewasa muda, bukan TEKNON-bayi rohani. Roh Kudus menguasai dan memimpin hidup kita menjadi dewasa muda yang kuat untuk mengalahkan yang jahat (1 Yohanes 2:13-14).

Selanjutnya, Roh Kudus yang memimpin kita akan meneguhkan kita dengan menjadi saksi dalam roh kita untuk memberi kesadaran bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:16). Yang pada akhirnya dari pimpinan Roh dalam hidup kita adalah menjadikan kita sama seperti Yesus dan menjadi ahli waris kerajaan Allah (Roma 8:17).

KESIMPULAN
Menghadapi kehidupan yang semakin sulit ini, sangat penting bagi kita untuk dipimpin oleh Roh Allah. Hal inilah yang akan menolong kita untuk melakukan kehendak Bapa, sehingga semakin hari kita semakin disempurnakan dan menjadi seperti Yesus.

Memuliakanlah Allah dengan Hartamu – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 05 Juli 2020)

Amsal 3:9
Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.

PENDAHULUAN
Pada umumnya kita mengerti bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia memuliakanNya. Ketika manusia berada di taman Eden, mereka ada dalam persekutuan yang manis dengan Tuhan. Allah datang dan menemui manusia dan manusia memuliakan Allah (Kejadian 3:8). Setelah manusia jatuh kedalam dosa, Allah datang ke taman Eden dan bertanya kepada manusia: “Adam, dimana kamu?”

Allah bukan tidak mengetahui keberadaan mereka namun mereka tidak seperti biasa. Biasanya ketika Allah datang ke taman Eden di hari yang sejuk, manusia akan menyambut Tuhan dan memuliakan Tuhan. Namun karena dosa sehingga membuat mereka bersembunyi. Setelah manusia jatuh didalam dosa, Allah rela menjadi manusia, mati disalib untuk menyelamatkan umat manusia agar manusia kembali memuliakan Allah. Wahyu 14:7 berkata bahwa, akan tiba waktu penghakiman dimana kita akan dihakimi apabila tidak memuliakan Allah. Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari bagaimana kita memuliakan Allah dengan harta kita.

Ada sebuah contoh didalam Alkitab bagaimana tokoh ini memuliakan Allah dengan hartanya, yaitu Ayub. Ada beberapa aspek yang merupakan harta Ayub, yang digunakan untuk memuliakan Allah.

  1. Melalui kekayaan materi (Ayub 1:3)

“Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.”

Apa yang Ayub perbuat untuk memuliakan Allah dengan materi yang ia miliki? Ayub 1:1 berkata bahwa Ayub seorang yang saleh, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Dari kesalehannya saja cukup untuk membuat kita mengerti tingkat kerohanian Ayub. Dengan kesalehan Ayub, kita akan mengetahui apa yang Ayub telah lakukan sebagai wujud bagaimana Ayub memuliakan Allah dengan hartanya.

Ayub bukan saja beriman, tetapi ia telah memuliakan Allah dengan kebajikan. Oleh sebab itu, banyak orang yang bersahabat dengan Ayub karena kebajikannya. Pada bagian ini, kita telah melihat bahwa sekalipun harta Ayub diambil seluruhnya, namun kesalehannya tidak berkurang sedikitpun. Ini adalah bentuk bagaimana ia memuliakan Allah dengan hartanya.

2. Melalui anak-anak
Anak-anak merupakan harta kekayaan yang dipercayakan Tuhan bagi setiap orang tua. Oleh sebab itu, penting bagi setiap orang tua untuk mengorbankan harta dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka. Namun diatas segalanya, lebih penting untuk menginvestasi kekayaan rohani kepada anak-anak. Mazmur 127:3, anak merupakan kekayaan kita yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Mereka merupakan milik pusaka Allah. Jadi, seharusnya menjadi tanggung jawab setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka untuk memuliakan Allah. Ayub 1:4-5 menceritakan bagaimana anak-anak Ayub sering mengadakan pesta sehingga hal ini membuat Ayub setiap pagi mempersembahkan korban bakaran kepada Allah untuk memohon ampun dan menguduskan mereka apabila ada sesuatu yang mereka lakukan yang menyakiti hati Tuhan.

Pada saat itu, hukum yang berlaku bukanlah Taurat, tetapi hukum hati nurani. Ayub mempersembahkan domba sebanyak jumlah anak-anaknya. Ayub menginvestasikan hartanya untuk anak-anaknya agar mereka memuliakan Allah. Ayub mensyafaati anak-anaknya dihadapan Tuhan dengan mempersembahkan korban keselamatan bagi anak-anaknya. Dari mana Ayub mengerti hal ini? Kebiasaan untuk mempersembahkan korban bakaran merupakan hal yang diwariskan turun temurun pada zaman Ayub.

Contoh dalam Kejadian 4:3-5, yaitu Kain dan Habel. Tentu mereka juga belajar dari orang tua mereka, yaitu Adam dan Hawa. Kemudian hal ini berlanjut dan diwariskan kepada keturunan mereka. Salah satunya adalah Nuh (Kejadian 8:18-21). Setelah Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari kebinasaan, Nuh mempersembahkan kepada Tuhan persembahan berupa harta kekayaan milik Nuh. Untuk apa Nuh melakukan hal itu? Tujuannya adalah untuk memuliakan Allah. Pada saat Allah menikmati persembahan Nuh, Allah menjadi puas atas persembahan Nuh. Hal ini terekspresi dari respons Allah (Kejadian 8:21). Allah memberi tanda pelangi kepada Nuh. Pelangi adalah simbol janji Allah kepada manusia bahwa Allah tidak akan membinasakan manusia seperti pada zaman Nuh, sebab Allah menyediakan penebus dosa manusia yaitu Yesus sebagai korban pengganti manusia dikayu salib. Allah menyediakan penebus bagi manusia, oleh sebab itu kita perlu mengucap syukur untuk hal ini dengan cara mempersembahkan harta yang telah Tuhan percayakan, terutama untuk kerohanian dan keselamatan anak-anak kita.

3. Saat musibah datang
Harta yang dimaksud dalam Amsal 3:9 merupakan harta yang kita miliki. Namun bagaimana bila harta tersebut sudah tidak ada lagi pada kita? Apakah kita masih bisa mempermuliakan Allah? Secara berturut-turut, harta yang Ayub miliki diambil oleh Iblis dari hidup Ayub. Di bawah ini merupakan harta Ayub yang diambil oleh iblis:

  • Seluruh ternak Ayub (Ayub 1:13-17)

Secara berturut-turut hamba-hamba Ayub yang menggembalakan kambing, domba, unta, lembu, keledai datang kepada Ayub serta melaporkan bencana perampokan dan orang-orang jahat yang membuat harta Ayub habis dan tidak tersisa sedikitpun.

  • Semua anak-anak Ayub (Ayub 1:18-19).

Pada saat anak-anak Ayub berkumpul di rumah si sulung, tiba-tiba badai yang dahsyat datang serta merobohkan rumah dimana mereka berkumpul. Hal ini merupakan kejadian yang begitu tragis sebab tidak seorang pun anak Ayub yang luput.

Apa yang Ayub lakukan ketika semua anaknya mati? Yohanes 10:10 berkata bahwa iblis datang untuk membunuh dan membinasakan. Namun, Ayub tetap memuliakan Allah dan bersyukur kepada Tuhan saat semua harta termasuk anak yang Tuhan titipkan kepada Ayub habis lenyap (Ayub 1:20-22). Orang yang tahu memuliakan Allah akan berpikiran positif tentang Tuhan, sekalipun semua hartanya lenyap.

4. Kesehatan
Setelah seluruh kekayaan dan anak-anak Ayub diambil dari Ayub, maka satu-satunya kekayaan yang masih tersisa dan paling berharga yang Ayub miliki adalah kesehatan. Namun, kesehatan Ayub pun diijinkan Tuhan untuk diambil oleh iblis. Ayub menderita penyakit barah yang mengerikan.

Kondisi fisik orang yang sakit barah:

  • Kulit menggelembung, pecah dan sangat menyakitkan.
  • Gatal-gatal yang berbau bukan hanya aroma luka tetapi aroma bau mulut.
  • Dari kejauhan tercium aroma bau busuk yang membuat orang-orang disekitarnya menjadi mual.
  • Hal ini menyebabkan budak-budak Ayub menolak (tidak mau) dimintai tolong untuk menggaruk rasa gatal yang Ayub rasakan (Ayub 19:16-18).
  • Sakit barah ini dapat berlanjut dan menjadi penyakit kusta (Keluaran 9:9; imamat 13:18-20).

Apabila kita berada dalam posisi Ayub, masih mampukah kita untuk memuliakan Allah ketika kekayaan yaitu kesehatan kita diambil dari diri kita? Namun, sekalipun kesehatan Ayub diambil dari hidupnya, Ayub tetap memuliakan Allah.

Ketika Ayub menggaruk badannya dengan beling karena merasakan gatal yang hebat, istri Ayub datang dan memberi komentar (Ayub 2:8-9). Ada beberapa rincian perkataan istri Ayub dalam bagian ini.

  • Ayub 2:8, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?”

Walaupun Ayub telah merasakan penderitaan yang hebat, namun Ayub tetap saleh. Dengan arti kata, iman Ayub tidak bergeser apalagi menurun karena penderitaan.

  • Istrinya berkata “kutukilah Allahmu.”

Dengan lain kata istri Ayub telah kehilangan imannya kepada Allah. Tetapi, Ayub 2:10 berkata bahwa Ayub membina istrinya karena ia melihat bahwa istrinya sudah tidak beriman lagi. Semenjak Ayub menegur istrinya, ia sudah tidak pernah berbicara sembarangan lagi. Allah mengampuni istri Ayub, bahkan ia diijinkan untuk mendampingi Ayub sampai ia melihat bagaimana Allah memulihkan keadaan Ayub dan mempercayakan kepada mereka sepuluh anak lagi.

5. Sahabat adalah harta berharga dari Tuhan (Amsal 18:24)
“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”

Sahabat merupakan harta yang berharga dari Tuhan. Ayub mempunyai sahabat yang mengasihi Ayub. Mereka menegur Ayub dengan dasar Firman Allah. Tetapi kemudian sahabat-sahabat Ayub menuduh Ayub bersalah, berdosa, bahkan menuduh Ayub melakukan perbuatan orang fasik. Sahabat Ayub tidak mengerti bahwa penderitaan yang Ayub alami bukan karena dosa Ayub, tetapi Allah menjadikan Ayub sebagai contoh orang beriman yang memuliakan Allah dihadapan Iblis.

KESIMPULAN
Kita telah belajar mengenai kehidupan Ayub, bagaimana semua hartanya baik materi, anak-anak, kesehatan, diambil daripadanya. Bahkan sahabat-sahabat yang merupakan hartanyapun menolak dan menuduhkan hal yang tidak benar terhadap Ayub. Namun Ayub tetap mampu memuliakan Allah. Apapun kondisi yang kita alami, mungkin tidak sebanding dengan penderitaan Ayub, tetapi marilah kita tetap memuliakan Allah dalam segala kondisi, maka kita akan menjadi orang-orang beriman yang menjadi teladan bagi orang-orang di sekeliling kita.

Bagi Allah Tidak Ada Yang Mustahil – Oleh: Pdt. Simon Sitinjak (Ibadah Raya – Minggu, 28 Juni 2020)

Lukas 1:37
“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Kita sering mendengar orang-orang berbicara mengenai kemustahilan. Bahkan, sebagai manusia kita sering berhadapan dengan kemustahilan. Dalam ayat ini kita melihat bahwa, Maria mengalami kemustahilan dalam hidupnya. Ketika malaikat datang dan membawa kabar kepada Maria, Maria seolah tidak percaya. Maria ragu dengan kepercayaan besar yang Tuhan berikan. Untuk meyakinkan Maria bahwa Allah berkuasa atas segala yang ada, maka Allah menyatakan bahwa Roh Kudus, pribadi Allah yang Maha Tinggi menaungi Maria dan seorang wanita lanjut usia, Elisabeth sanaknya juga mengandung.

Terkadang kita harus melihat tanda dahulu baru kita percaya. Tetapi kita belajar bahwa ada banyak perkara yang dapat Tuhan lakukan dalam kehidupan kita. Berikut beberapa hal yang dapat Tuhan lakukan dalam kehidupan kita.

1. Tuhan sanggup mengubah pribadi kita.
Bukan berarti Tuhan tidak tertarik untuk mengubah keadaan kita. Namun, Tuhan lebih tertarik mengubah diri kita. Tuhan merindukan ada yang berubah dalam kita, sebab kita berharga dimata Tuhan. Ia begitu bergairah untuk mengubah kita.

Allah terlebih dahulu ingin memulihkan kita kemudian barulah ia memulihkan perekonomian, keadaan, dsb. Saat manusia berada di Taman Eden, sekalipun mereka berdosa, namun Allah terlebih dahulu mencari mereka karena Allah ingin memulihkan pribadi mereka.

Yesaya 43:4 berkata bahwa kita berharga dimata Tuhan. Tuhan kita luar biasa. Dia tidak pernah menyerah untuk mengubah kehidupan kita. Dia tidak pernah menyerah untuk memulihkan dan mengubah kita sebab kita adalah buatan tanganNya. Tuhan bahkan rela mati agar kita diselamatkan, karena begitu berharganya kita dan karena Ia mengasihi kita. Seberapa berat kondisi kita hari-hari ini, atau seberapa jauh kita jatuh kedalam dosa, namun Ia tetap mengasihi kita.

Sebuah contoh mengenai perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh 8:1-11). Perempuan ini seharusnya dirajam batu, seharusnya tidak ada kesempatan lagi untuk berubah atau bertobat. Namun Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada perempuan ini untuk berubah.

Petrus juga pernah mengalami hal yang sama. Petrus menyangkal Yesus sampai 3x karena ia takut mengakui Yesus. Namun ketika Petrus menyangkal, ia menangis, tanda bahwa ia menyesal. Tetapi kemudian Petrus berubah menjadi pribadi yang berani. Bahkan sejarah mencatat bahwa ia mati syahid dalam pemberitaan injil. Allah sanggup mengubah kehidupan kita. Sebelum Tuhan mengubah keadaan kita, ekonomi kita, Tuhan rindu terlebih dahulu mengubah pribadi kita.

2. Tuhan sanggup mengadakan yang tidak ada menjadi ada (Kejadian 1:1).
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dam bumi.”

Kata menciptakan disini dipakai kata “bara“, yang berarti menjadikan sesuatu yang belum ada menjadi ada, yang tidak ada menjadi ada.

Contoh Petrus (Matius 17:27). Suatu saat Tuhan Yesus memerintahkan Petrus untuk membayar biaya bea Bait Allah. Tuhan Yesus menyuruh Petrus untuk memancing ikan dan didalam mulut ikan itu terdapat uang untuk membayar biaya bea Bait Allah. Ini merupakan suatu hal yang luar biasa. Allah sanggup mengubah perkara yang tidak ada menjadi ada.

Filipi 4:19 berkata “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi dan juga kepada kita semua bahwa Allah sanggup mengadakan segala sesuatu, bahkan mengadakan yang tidak ada menjadi ada.

3. Tuhan sanggup membuka jalan (Yesaya 43:19).
“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara”

Ada tiga pengalaman yang bangsa Israel alami ketika keluar dari tanah Mesir.
1). Pengalaman Laut Teberau (Keluaran 14:10)
Mereka dalam kondisi tidak ada jalan. Tuhan telah membebaskan mereka dari Firaun, namun mereka bertemu dengan Laut Teberau. Tetapi Allah membuat jalan ditengah Laut Teberau (Keluaran 14:10, 21). Allah mampu membuat jalan ditengah himpitan.

2). Pengalaman Padang gurun.
Ada beberapa proses yang mereka alami dipadang gurun:

  • Masa kepahitan (Keluaran 15:22-24). Musa melempar kayu kedalam air dan menjadi manis. Kayu yang dilemparkan menggambarkan salìb, yang mengubah kehidupan yang pahit menjadi manis.
  • Masa kelaparan (Keluaran 16:1-4). Allah sanggup memberi makan roti dari sorga kepada bangsa Israel.
  • Masa kehausan (Keluaran 17:1-3). Allah bahkan memberi bangsa Israel minum dari gunung batu.

Namun kita melihat bahwa dari proses-proses ini, Allah sanggup melakukan perkara-perkara yang mustahil.

  • Tuhan sanggup membuka jalan di padang gurun saat mengalami kepahitan (Keluaran 15:25).
  • Tuhan sanggup memberi jalan di padang gurun saat mengalami kelaparan (Keluaran 16:4)
  • Tuhan sanggup memberi jalan di padang gurun saat mengalami kehausan (Keluaran 17:6).

3) Pengalaman Sungai Dalam (Yosua 3:15).
Jika kita melihat dari Yesaya 43:16, beginilah Firman Tuhan, yang telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat.

Dalam kitab Yosua 3:15, dikatakan air yang sebak. Artinya mengalami masalah yang datang secara hebat, digambarkan seperti air yang meluap di Sungai Yordan. Kita tidak pernah tahu kapan dan seperti ada masalah itu datang, tetapi proses yang kita alami ini kadang Tuhan ijinkan untuk membentuk kita, dan karena Allah mengerti bahwa kita mampu bahkan sanggup untuk menanggungnya (Yosua 3: 16).

Sekalipun masalah yang datang dalam kehidupan kita begitu deras, namun percayalah bahwa Tuhan akan membuka jalan bagi setiap permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita.

KESIMPULAN
Masalah sering kali datang dalam kehidupan kita. Namun, kita belajar bahwa sebelum Tuhan mengubah kehidupan kita, Ia terlebih dahulu ingin mengubah pribadi kita agar lebih dewasa dalam menghadapi tantangan kehidupan. Setelah Ia mengubah pribadi kita, maka Ia akan mengadakan segala yang kita perlukan, bahkan Ia membuka setiap jalan bagi kita. Oleh sebab itu sikap kita seharusnya percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah dan percayalah, Ia sanggup melakukan segala sesuatu (Ayub 42:2)