Memuliakanlah Allah dengan Hartamu – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 05 Juli 2020)

Amsal 3:9
Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.

PENDAHULUAN
Pada umumnya kita mengerti bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia memuliakanNya. Ketika manusia berada di taman Eden, mereka ada dalam persekutuan yang manis dengan Tuhan. Allah datang dan menemui manusia dan manusia memuliakan Allah (Kejadian 3:8). Setelah manusia jatuh kedalam dosa, Allah datang ke taman Eden dan bertanya kepada manusia: “Adam, dimana kamu?”

Allah bukan tidak mengetahui keberadaan mereka namun mereka tidak seperti biasa. Biasanya ketika Allah datang ke taman Eden di hari yang sejuk, manusia akan menyambut Tuhan dan memuliakan Tuhan. Namun karena dosa sehingga membuat mereka bersembunyi. Setelah manusia jatuh didalam dosa, Allah rela menjadi manusia, mati disalib untuk menyelamatkan umat manusia agar manusia kembali memuliakan Allah. Wahyu 14:7 berkata bahwa, akan tiba waktu penghakiman dimana kita akan dihakimi apabila tidak memuliakan Allah. Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari bagaimana kita memuliakan Allah dengan harta kita.

Ada sebuah contoh didalam Alkitab bagaimana tokoh ini memuliakan Allah dengan hartanya, yaitu Ayub. Ada beberapa aspek yang merupakan harta Ayub, yang digunakan untuk memuliakan Allah.

  1. Melalui kekayaan materi (Ayub 1:3)

“Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.”

Apa yang Ayub perbuat untuk memuliakan Allah dengan materi yang ia miliki? Ayub 1:1 berkata bahwa Ayub seorang yang saleh, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Dari kesalehannya saja cukup untuk membuat kita mengerti tingkat kerohanian Ayub. Dengan kesalehan Ayub, kita akan mengetahui apa yang Ayub telah lakukan sebagai wujud bagaimana Ayub memuliakan Allah dengan hartanya.

Ayub bukan saja beriman, tetapi ia telah memuliakan Allah dengan kebajikan. Oleh sebab itu, banyak orang yang bersahabat dengan Ayub karena kebajikannya. Pada bagian ini, kita telah melihat bahwa sekalipun harta Ayub diambil seluruhnya, namun kesalehannya tidak berkurang sedikitpun. Ini adalah bentuk bagaimana ia memuliakan Allah dengan hartanya.

2. Melalui anak-anak
Anak-anak merupakan harta kekayaan yang dipercayakan Tuhan bagi setiap orang tua. Oleh sebab itu, penting bagi setiap orang tua untuk mengorbankan harta dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka. Namun diatas segalanya, lebih penting untuk menginvestasi kekayaan rohani kepada anak-anak. Mazmur 127:3, anak merupakan kekayaan kita yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Mereka merupakan milik pusaka Allah. Jadi, seharusnya menjadi tanggung jawab setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka untuk memuliakan Allah. Ayub 1:4-5 menceritakan bagaimana anak-anak Ayub sering mengadakan pesta sehingga hal ini membuat Ayub setiap pagi mempersembahkan korban bakaran kepada Allah untuk memohon ampun dan menguduskan mereka apabila ada sesuatu yang mereka lakukan yang menyakiti hati Tuhan.

Pada saat itu, hukum yang berlaku bukanlah Taurat, tetapi hukum hati nurani. Ayub mempersembahkan domba sebanyak jumlah anak-anaknya. Ayub menginvestasikan hartanya untuk anak-anaknya agar mereka memuliakan Allah. Ayub mensyafaati anak-anaknya dihadapan Tuhan dengan mempersembahkan korban keselamatan bagi anak-anaknya. Dari mana Ayub mengerti hal ini? Kebiasaan untuk mempersembahkan korban bakaran merupakan hal yang diwariskan turun temurun pada zaman Ayub.

Contoh dalam Kejadian 4:3-5, yaitu Kain dan Habel. Tentu mereka juga belajar dari orang tua mereka, yaitu Adam dan Hawa. Kemudian hal ini berlanjut dan diwariskan kepada keturunan mereka. Salah satunya adalah Nuh (Kejadian 8:18-21). Setelah Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari kebinasaan, Nuh mempersembahkan kepada Tuhan persembahan berupa harta kekayaan milik Nuh. Untuk apa Nuh melakukan hal itu? Tujuannya adalah untuk memuliakan Allah. Pada saat Allah menikmati persembahan Nuh, Allah menjadi puas atas persembahan Nuh. Hal ini terekspresi dari respons Allah (Kejadian 8:21). Allah memberi tanda pelangi kepada Nuh. Pelangi adalah simbol janji Allah kepada manusia bahwa Allah tidak akan membinasakan manusia seperti pada zaman Nuh, sebab Allah menyediakan penebus dosa manusia yaitu Yesus sebagai korban pengganti manusia dikayu salib. Allah menyediakan penebus bagi manusia, oleh sebab itu kita perlu mengucap syukur untuk hal ini dengan cara mempersembahkan harta yang telah Tuhan percayakan, terutama untuk kerohanian dan keselamatan anak-anak kita.

3. Saat musibah datang
Harta yang dimaksud dalam Amsal 3:9 merupakan harta yang kita miliki. Namun bagaimana bila harta tersebut sudah tidak ada lagi pada kita? Apakah kita masih bisa mempermuliakan Allah? Secara berturut-turut, harta yang Ayub miliki diambil oleh Iblis dari hidup Ayub. Di bawah ini merupakan harta Ayub yang diambil oleh iblis:

  • Seluruh ternak Ayub (Ayub 1:13-17)

Secara berturut-turut hamba-hamba Ayub yang menggembalakan kambing, domba, unta, lembu, keledai datang kepada Ayub serta melaporkan bencana perampokan dan orang-orang jahat yang membuat harta Ayub habis dan tidak tersisa sedikitpun.

  • Semua anak-anak Ayub (Ayub 1:18-19).

Pada saat anak-anak Ayub berkumpul di rumah si sulung, tiba-tiba badai yang dahsyat datang serta merobohkan rumah dimana mereka berkumpul. Hal ini merupakan kejadian yang begitu tragis sebab tidak seorang pun anak Ayub yang luput.

Apa yang Ayub lakukan ketika semua anaknya mati? Yohanes 10:10 berkata bahwa iblis datang untuk membunuh dan membinasakan. Namun, Ayub tetap memuliakan Allah dan bersyukur kepada Tuhan saat semua harta termasuk anak yang Tuhan titipkan kepada Ayub habis lenyap (Ayub 1:20-22). Orang yang tahu memuliakan Allah akan berpikiran positif tentang Tuhan, sekalipun semua hartanya lenyap.

4. Kesehatan
Setelah seluruh kekayaan dan anak-anak Ayub diambil dari Ayub, maka satu-satunya kekayaan yang masih tersisa dan paling berharga yang Ayub miliki adalah kesehatan. Namun, kesehatan Ayub pun diijinkan Tuhan untuk diambil oleh iblis. Ayub menderita penyakit barah yang mengerikan.

Kondisi fisik orang yang sakit barah:

  • Kulit menggelembung, pecah dan sangat menyakitkan.
  • Gatal-gatal yang berbau bukan hanya aroma luka tetapi aroma bau mulut.
  • Dari kejauhan tercium aroma bau busuk yang membuat orang-orang disekitarnya menjadi mual.
  • Hal ini menyebabkan budak-budak Ayub menolak (tidak mau) dimintai tolong untuk menggaruk rasa gatal yang Ayub rasakan (Ayub 19:16-18).
  • Sakit barah ini dapat berlanjut dan menjadi penyakit kusta (Keluaran 9:9; imamat 13:18-20).

Apabila kita berada dalam posisi Ayub, masih mampukah kita untuk memuliakan Allah ketika kekayaan yaitu kesehatan kita diambil dari diri kita? Namun, sekalipun kesehatan Ayub diambil dari hidupnya, Ayub tetap memuliakan Allah.

Ketika Ayub menggaruk badannya dengan beling karena merasakan gatal yang hebat, istri Ayub datang dan memberi komentar (Ayub 2:8-9). Ada beberapa rincian perkataan istri Ayub dalam bagian ini.

  • Ayub 2:8, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?”

Walaupun Ayub telah merasakan penderitaan yang hebat, namun Ayub tetap saleh. Dengan arti kata, iman Ayub tidak bergeser apalagi menurun karena penderitaan.

  • Istrinya berkata “kutukilah Allahmu.”

Dengan lain kata istri Ayub telah kehilangan imannya kepada Allah. Tetapi, Ayub 2:10 berkata bahwa Ayub membina istrinya karena ia melihat bahwa istrinya sudah tidak beriman lagi. Semenjak Ayub menegur istrinya, ia sudah tidak pernah berbicara sembarangan lagi. Allah mengampuni istri Ayub, bahkan ia diijinkan untuk mendampingi Ayub sampai ia melihat bagaimana Allah memulihkan keadaan Ayub dan mempercayakan kepada mereka sepuluh anak lagi.

5. Sahabat adalah harta berharga dari Tuhan (Amsal 18:24)
“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”

Sahabat merupakan harta yang berharga dari Tuhan. Ayub mempunyai sahabat yang mengasihi Ayub. Mereka menegur Ayub dengan dasar Firman Allah. Tetapi kemudian sahabat-sahabat Ayub menuduh Ayub bersalah, berdosa, bahkan menuduh Ayub melakukan perbuatan orang fasik. Sahabat Ayub tidak mengerti bahwa penderitaan yang Ayub alami bukan karena dosa Ayub, tetapi Allah menjadikan Ayub sebagai contoh orang beriman yang memuliakan Allah dihadapan Iblis.

KESIMPULAN
Kita telah belajar mengenai kehidupan Ayub, bagaimana semua hartanya baik materi, anak-anak, kesehatan, diambil daripadanya. Bahkan sahabat-sahabat yang merupakan hartanyapun menolak dan menuduhkan hal yang tidak benar terhadap Ayub. Namun Ayub tetap mampu memuliakan Allah. Apapun kondisi yang kita alami, mungkin tidak sebanding dengan penderitaan Ayub, tetapi marilah kita tetap memuliakan Allah dalam segala kondisi, maka kita akan menjadi orang-orang beriman yang menjadi teladan bagi orang-orang di sekeliling kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *