TANGGUNG JAWAB SEBAGAI ANAK – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya – Minggu, 23 Agustus 2020)

Matius 21:28-30

PENDAHULUAN
Perumpamaan ini sangat menarik karena secara umum melambangkan dua jenis manusia, yaitu :

  1. Mereka yang perkataannya lebih baik dari pada kelakuannya – dilambangkan sebagai anak pertama.
  2. Kelakuannya lebih baik dari pada perkataannya – dilambangkan sebagai anak yang kedua.

Keduanya memiliki perintah yang sama dari ayah yang sama. Hal ini berarti bahwa perumpamaan ini tidak berbicara tentang orang duniawi dan anak Tuhan, tetapi keduanya adalah anak- anak Tuhan. Namun sebagai anak-anakNya, sudah seharusnya kita menjadi orang-orang yang melakukan kehendak Bapa.  Mana lebih baik mengatakan “ya” tetapi tidak melakukan, atau mengatakan “ tidak” tetapi melakukan? Ini adalah pertanyaan Tuhan Yesus kepada para imam dan tua-tua Yahudi, karena mempertanyakan dari mana kuasa Yesus dan baptisan Yohanes. Para imam dan tua-tua Yahudi adalah pemimpin-pemimpin agama seperti anak sulung dalam kisah ini. Merekalah yang pertama mendapat firman Tuhan, tetapi mereka justru tidak menindaklanjuti dengan mempercayai dan melakukan firman itu, sebaliknya malah menolak (Lukas 10:25-29).

Tabiat orang Yahudi sebagai anak yang pertama ini, ingin selalu diajar tetapi tidak pernah mau melakukan, sehingga seperti yang tercatat dalam 2 Timotius 3:7 “Yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.” Akibatnya mereka tetap tinggal diluar kerajaan Allah, mereka dekat tetapi tidak masuk.

Ada juga contoh orang Yahudi lain di dalam Markus 12:33:  “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan”.

Yesus pun menjawab (Markus 12:34a), “Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan la berkata kepadanya : Engkau tidak jauh dari kerajaan Allah.” Yesus mengatakan bahwa mereka tidak jauh dari Kerajaan Allah, tetapi tetap di luar karena mereka mengerti firman tetapi tidak mengerjakannya, hal ini sama dengan penolakan.

Gambaran sebaliknya yaitu para pemungut cukai, dan perempuan sundal yang digambarkan sebagai anak yang kedua. Mengapa Yesus menggambarkan anak kedua seperti perempuan sundal dan pemungut cukai? Karena dosa mereka dianggap sebagai dosa yang terbesar bagi bangsa Yahudi. Mereka adalah para pendosa yang tidak pernah mengenal kebenaran sama sekali dan selalu berkata “tidak” untuk kebenaran, tetapi ketika mendapat panggilan dari suara kebenaran, mereka menyesali perbuatannya, bertobat dan mematuhi perintah Tuhan.

Ada dua hal yang terjadi pada gambaran anak kedua ini :
1. Pertobatan = METANOIA.
Ini merupakan hasil dari suatu perenungan yang terjadi kemudian setelah mendengar dan menerima firman Tuhan.

2. METAMELEIA – Tindakan yang terjadi kemudian. Jadi, tidak hanya berhenti di pertobatan, namun terus bertumbuh dan melayani serta mengerjakan keselamatan kita (Filipi 2:12).

Untuk mengerjakan keselamatan dibutuhkan perintah. Perintah itu tidak lain adalah firman Tuhan; firman Tuhan yang membutuhkan perhatian yang serius, dan perhatian ini hanya dapat dilakukan saat pertemuan ibadah. Anak sulung bisa menjadi gambaran anak Tuhan zaman sekarang. Cepat menanggapi ya, tetapi tidak melakukan perintah Tuhan. Mengapa? Karena ia terbiasa dengan kenyamanan dan menjauhi persekutuan terhadap perintah bapanya.

  • Fokus hidupnya pada kepentingannya sendiri bukan kepentingan bapanya. Awalnya mungkin timbul rasa yang tidak enak, namun lama-kelamaan menjadi terbiasa. Sebuah peringatan dalam Ibrani 10:25 berkata, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

Jika seseorang mengaku telah menerima firman Tuhan dan percaya, tetapi tidak berlanjut pada hidup menuruti perintah Tuhan, maka ia sama seperti orang Yahudi. 2 Timotius 3:5 berkata, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”

Yesaya 29:13 “Dan Tuhan telah berfirman: Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.” (Bandingkan dalam Matius 15:8-9; Markus 7:6-7).

Mengapa para pemimpin agama Yahudi ini sangat sulit untuk percaya dan bertobat?

  1. Mereka menganggap diri lebih tinggi dari pada kebanyakan orang. Mereka beranggapan bahwa yang perlu bertobat hanyalah orang berdosa.
  2. Mereka dibutakan oleh status mereka.

Mereka merasa sebagai pemimpin dan pengajar agama tidak mungkinlah ditolak oleh Tuhan. Status mereka membutakan mereka untuk bertobat. Hal yang samapun bisa terjadi dimasa sekarang ini, para aktivis rohani kehilangan kepekaan akan kebutuhan pembaharuan hidup dan ketaatan kepada firman.

Tuhan membutuhkan keterbukaan hati kita untuk terus diproses hari demi hari dengan kebenaran firman Tuhan yang harus kita hidupi sampai menjadi sempurna dan tidak ada lagi ketelanjangan dalam hidup kita. Dosa identik dengan ketelanjangan. Kejadian 3:7a berkata “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang.”

Bagaimana Allah menutup kembali ketelanjangan kita?

  • Pertama: Menebus kita dari kematian akibat dosa lewat pengorbanan-Nya di kayu salib.
  • Kedua : Menutup ketelanjangan kita dengan pakaian kebenaran-Nya (Wahyu 19:8).

Di mata Tuhan kita semua telanjang, dosa membuat kita kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Pakaian kebenaran Tuhan adalah firman-Nya. Setiap kali kita mendengar firman Tuhan dan melakukannya, sesungguhnya kita sedang merajut pakaian kita sendiri sampai tertutup ketelanjangan kita dan sempurna seperti mengenakan Kristus (Roma 13:14).

KESIMPULAN
Jadilah pengikut Tuhan yang mengerjakan kedua hal, yaitu: mengatakan ya terhadap firman dan juga mengerjakan perintah Tuhan sebagai tanggung jawab kita menjadi anak-anak-Nya. Karena hal inilah yang membawa makna penting dalam kehidupan setiap orang kristen  yang membawa dampak pada kehidupannya sendiri (Matius 7: 24).

Orang yang mendengar dan melakukan perintah Tuhan, ia disebut sebagai orang yang bijaksana, memiliki kecerdasan rohani. Sebaliknya dalam Matius 7:26 berkata bahwa  orang yang mendengar Firman Tuhan tetapi tidak melakukannya, ia disamakan dengan orang yang bodoh (Matius 7: 27).

MENANTIKAN TUHAN- oleh Pdm. Melky Mokodongan (Ibadah Raya – Minggu, 16 Agustus 2020)

Yesaya 40:30

PENDAHULUAN
Hari-hari ini merupakan hari-hari yang sulit bagi setiap kita. Karena kesulitan ini maka kita diberikan pilihan, apakah kita tetap menantikan Tuhan atau tidak. Apakah kita tetap mengandalkan Tuhan atau tidak. Atau jangan-jangan karena kesulitan yang terjadi kita meninggalkan Tuhan.

ISI
Pasal ini merupakan ayat-ayat yang ditulis oleh nabi Yesaya diakhir-akhir hidupnya kepada bangsa Israel yang berada di pembuangan. Yesaya menguatkan mereka agar mereka mampu menghadapi situasi-situasi yang sulit selama berada didalam pembuangan di Babel. Dalam keadaan sulit, penting bagi kita untuk menerima Firman Tuhan agar kita menjadi kuat. Menantikan Tuhan merupakan kehendak-Nya dalam menghadapi situasi yang sulit. Orang yang menantikan Tuhan akan terus memandang kepada Tuhan sebab mereka sadar bahwa keselamatan dan pertolongan hanya datang melalui Tuhan. Orang yang menantikan Tuhan tidak akan mudah digoyahkan atau bahkan terbawa arus. Ini merupakan jaminan Tuhan bagi kita.

Kata menantikan dalam ayat ini ditulis Qavah, yang berarti menantikan sesuatu yang besar atau mengikat sesuatu dengan cara memintal.

Ada beberapa pengertian kata menantikan dalam ayat ini:
1. Berharap penuh
Menantikan Tuhan berarti kita berharap lebih kepada Tuhan. Bukan sekedar berharap tetapi dengan segenap hati dan kepercayaan kita. Bukan berharap pada apapun atau siapapun. Mazmur 71:5, pemazmur mencatat bahwa Tuhanlah yang menjadi harapannya, bahkan sejak masa muda. Artinya pengharapannya ditujukan hanya kepada Allah. Mazmur 130:5-6, berkata bahwa orang yang menantikan Tuhan kesukaannya adalah Firman Tuhan. Orang yang menantikan Tuhan adalah orang yang berharap kepada Tuhan seperti orang yang menanti datangnya fajar. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sepenuhnya berharap kepada Tuhan, ataukah harapan kita hanya kepada manusia atau harta kita? Alkitab mencatat bahwa orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan akan diberkati (Yeremia 17:7-8). Bahkan orang yang menantikan Tuhan akan selalu menarik perhatian Allah ( Mazmur 33:18 Ratapan 3:25-26).

1 Timotius 6:17, berkata bahwa Paulus memberi nasehat kepada Timotius agar menasehatkan jemaat yang dilayaninya untuk menaruh pengharapannya hanya kepada Allah, bukan kepada sesuatu yang fana, yaitu harta. Jadi, orang yang berharap penuh kepada Tuhan adalah orang yang mencintai Firman dan doa, sebab ia menyadari bahwa sumber pengharapannya hanya kepada Allah.

2. Mengikat menjadi satu
Seperti tiga utas tali yang digabung menjadi satu sehingga menjadi kuat. Artinya, seseorang yang mengikatkan diri dengan Tuhan akan menjadi seseorang yang kuat dan tidak dapat dipisahkan.

Roma 8 :35-36, 39, Paulus berkata bahwa masalah, aniaya tidak akan bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Inilah orang-orang yang menantikan Tuhan. Ketika ia mengikatkan diri dari Tuhan maka tidak ada satupun yang dapat memisahkan ia dari Tuhan.

Sama seperti Ayub yang menyadari bahwa karena ia telah mengikatkan diri kepada Tuhan maka masalah hanya akan membuat hubungannya dengan Tuhan semakin kuat dan semakin murni dihadapan-Nya (Ayub 23:10). Oleh sebab itu, kita harus menyatu dengan Tuhan, dengan kehendak Tuhan, dengan cara-cara Tuhan. Apabila masih ada kehendak kita yang lebih menonjol, kedagingan kita yang lebih menonjol atau cara kita yang lebih menonjol, ini berarti kita belum mengikatkan diri dengan Tuhan. Sebab orang yang mengikatkan diri dengan Kristus adalah orang-orang yang menaruh pikiran dan perasaannya kepada Kristus (Filipi 2:5; Fil 4:8). Yesaya 58:1-2, berkata bahwa dosalah yang membuat doa kita tidak didengar. Namun apabila kita mengikat diri dengan Tuhan maka doa kita akan didengar bahkan Allah akan bertindak menjawab doa kita bahkan hidup kita akan berbuah (Yohanes 15:3).

3. Menunggu atau menanti dengan sabar.
Sebuah pohon yang ditanam tidak mungkin langsung mengeluarkan buah. Namun harus dimulai dari biji atau benih dan butuh waktu sampai ia menjadi besar dan mengeluarkan buah. Demikian juga kita. Apabila kita menantikan Tuhan, kita harus menunggu dengan sabar sampai apa yang dinantikan dijawab Tuhan.

Kesabaran ini adalah bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Apabila kita berkata bahwa kita adalah orang yang mengasihi Allah, maka kita akan menunggu Dia dengan sabar. Orang-orang yang mempunyai kesabaran dalam menanti Tuhan adalah orang-orang yang memiliki kesanggupan untuk bertahan dalam menghadapi penderitaan ( 2 Korintus 1:6; 2 Timotius 4:5). Menantikan Tuhan adalah cara Tuhan untuk memproses kita (Mazmur 25:5).

Ada jaminan bagi orang yang menantikan Tuhan.
1). Mendapat kekuatan baru (Yesaya 40:31a)
Kekuatan ini yang akan menjaga pengharapan kita kepada Tuhan.
2). Naik terbang (Yesaya 40:31b)
Artinya, orang yang dapat mengatasi setiap persoalan dan pergumulan.
3). Ketahanan (Yesaya 40: 31c)
Hal ini bararti bahwa orang-orang ini akan bertahan hingga mencapai garis akhir.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, jadilah orang percaya yang terus menantikan Tuhan dengan pengharapan penuh kepada-Nya, dan terus mengikatkan diri dengan-Nya menjadi satu, serta tetap terus setia dan bertahan dengan sabar dalam situasi yang sukar sekalipun, maka Tuhan yang akan memberkati kita, dan kita akan menjadi orang-orang yang berkemenangan dalam pergumulan hidup. Amin.

 

 

MENGENAL ALLAH DAN MELAKUKAN KEHENDAK-NYA – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya – Minggu, 9 Agustus 2020)

Kisah Para Rasul 9:5-6

Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

Bila kita mengenal Allah hanya sedikit, maka banyak kebingungan yang akan kita alami dalam kehidupan kita. Ketidakmengertian kita tentang kehendak Allah dan cara kerja Allah, akan membuat kita melihat perbuatan Allah sebagai kekacauan. Sebaliknya, apabila pengenalan kepada Allah semakin baik (level up), kita akan semakin mengenal Dia dan mengerti kehendak-Nya.

Dalam ayat ini, Saulus bertanya tentang ‘Siapakah Tuhan’. Ayat ini mengisahkan bagaimana pertobatan Saulus dalam perjalanannya ke Damsyik untuk menganiaya orang percaya. Di tengah jalan justru Yesus menjumpai dirinya lewat cahaya dan suara-Nya. Percayalah, setiap orang yang berurusan dengan umat Tuhan, ia sedang berurusan dengan Tuhan sendiri.

Kemudian Saulus bertanya “Siapakah Engkau Tuhan?”. Maka Tuhan menjawab: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu”. Selanjutnya Tuhan Yesus memerintahkan Saulus untuk pergi ke kota dan menemui seorang yang bernama Ananias. Yang menarik adalah, 28 tahun kemudian setelah Paulus menulis kitab Filipi, ia tetap memiliki kerinduan yang sama untuk mengenal Tuhan (Fil 3:10). Dari awal pertobatannya, Paulus sudah memiliki kerinduan untuk mengenal Tuhan dan Tuhan membukakan sedikit demi sedikit rahasia-rahasia yang membuat Paulus semakin mengenal Tuhan. Paulus sebenarnya telah memiliki pengenalan yang luas, namun ia tetap rindu mengenal Tuhan lebih lagi ( 2Kor 12; Yohanes 17:3).

Mari kita belajar beberapa pengenalan akan Allah dari sisi kerohanian kita, antara lain:

– Kita sebagai Anak – Allah sebagai Bapa yang baik

– Kita sebagai Hamba – Allah sebagai Tuan yang baik

– Kita sebagai Sahabat – Allah sebagai Sahabat yang terbaik

– Kita sebagai Mempelai – Allah sebagai Mempelai Laki-Laki Sorga

(Ini merupakan tingkatan pengenalan akan Allah, bukan berbicara mengenai status).

Saya percaya peningkatan dalam pengenalan ini akan menolong kita untuk mampu bertahan dan dapat melewati sesulit apapun zaman ini dan berkata seperti Paulus “tidak ada yang dapat memisahkan aku dari kasih Yesus” Roma 8:35

1. Mengenal Tuhan sebagai Anak (Matius 6:31-32).
Kita adalah anak-anak Allah melalui korban Yesus. Sebagai anak-anak-Nya, kita sangat perlu mengenal Tuhan sebagai Bapa yang baik, sang pemelihara dan pelindung (tidak pernah meragukannya). Sebab itu, untuk kita terus dapat  menyenangkan Bapa kita, kita harus bertumbuh dewasa (1 Korintus 13:1). Jika tidak Efesus 4: 14, maka kita akan mudah dihanyutkan oleh berbagai angin pengajaran. Ketika pengenalan kita hanya sebatas anak, maka kita hanya menginginkan segala sesuatunya terlihat baik-baik saja.

Ketika kita tidak bertumbuh menjadi dewasa dalam mengenal Tuhan, kita akan mudah kuatiir, kecewa dan putus asa saat sedang dalam keadaan tidak baik.

2. Mengenal Tuhan sebagai Hamba.
Pengenalan ini adalah pengenalan dimana kita mulai mengerti tanggung jawab kita (Yohanes 15:15a). Bukan hanya sekedar anak yang hanya mengetahui semua kebutuhannya tercukupi, namun sudah mulai bertumbuh dewasa, mengerti tanggung jawab yaitu melakukan kehendak tuannya. Bahkan meskipun belum mengerti sepenuhnya maksud dari perintah tersebut. Tekadnya adalah bagaimana menyenangkan hati tuannya.

Lukas 1:38, menceritakan ketika Malaikat Tuhan datang kepada Maria dan memberitahukan mengenai kehamilannya, maka Maria menjawab: “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku sesuai kehendakMu“. Maria belum mengerti sepenuhnya maksud dan tujuan Allah, namun ia belajar tunduk dan berkata ‘Jadilah Kehendak-Mu’ untuk menyenangkan hati tuannya.

Mengenal Allah sebagai hamba akan membuat kita dengan mudah untuk melakukan kehendak-Nya. Dalam pengenalan sebagai hamba sudah seharusnya kita mengerti bahwa Tuan kita  adalah Tuan yang baik, dan tidak mungkin akan memberikan perintah yang salah, yang akan menghancurkan diri hambanya.

Matius 25:26 sebagai hamba jika kita tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh sang Tuan, kita akan disebut sebagai hamba yang jahat dan malas.

3. Mengenal Tuhan sebagai Sahabat.
Pengenalan sebagai Sahabat merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari Pengenalan Hamba. Sebagai sahabat, Allah akan memberitahukan hal-hal yang akan Dia lakukan kepada kita. Sahabat mengenal Allah dari rahasia yang dibukakan atau yang diceritakan.

Kejadian 18:17, menceritakan bagaimana Allah membukakan rahasia mengenai Sodom dan Gomora kepada Abraham. Ketika Abraham tahu mengenai rahasia ini, maka Abraham menaikkan doa syafaat bagi Tuhan. Abraham tahu apa yang harus dilakukan. Ketika kita menjadi sahabat Allah, maka hati kita akan mendorong kita untuk melakukan apa yang menyenangkan sahabat kita tanpa diminta.

Bagaimana kita dapat mengerti isi hati Allah sebagai Sahabat, bila kita tidak membaca, mendengar dan merenungkan Firman-Nya, berdoa dalam saat teduh kita? (Mazmur 25:14). Oleh sebab itu kita perlu melakukan hal-hal ini agar kita dapat mengerti keinginan Tuhan.

Jika dalam persahabatan kita akrab dengan Tuhan, maka suatu saat kita masih punya kemungkinan dapat menjadi sahahat yang ‘mengangkat tumit’ melawan Yesus dan menjual-Nya dengan ciuman (seperti Yudas). Bila kita tidak memiliki keakraban dalam pengenalan kita kepada Tuhan sebagai Sahabat, kita dapat memiliki agenda pribadi seperti Yudas dan mencari keuntungan diri sendiri (Mazmur 41:10;Lukas 22:48).

4. Mengenal-Nya sebagai mempelai (Kejadian 8:21).
Tuhan seringkali berfirman dalam hati (tidak bersuara). Siapakah yang dapat mengenal apa isi hati Allah, kalau bukan orang yang punya pengenalan kepada-Nya sebagai Mempelai-Nya. BIla kita sampai kepada pengenalan ini, maka kita akan mengenal seutuhnya rahasia hati Allah (1 Korintus 13:11-12). Oleh sebab itu, tidak ada gunanya menyimpan sesuatu yang busuk, sebab nantinya semuanya akan nampak kelihatan di hadapan Allah.

Contoh orang yang mengenal Allah sedalam ini adalah Musa, Keluaran 32:9-14. Kisah ini menceritakan bagaimana Musa dapat mengubah hati Allah yang sedianya sedang murka kepada bangsa Israel dan Allah memilih Musa dan keturunannya untuk menggantikan bangsa Israel. Bila Musa tidak mengenal Allah, maka bangsa Israel akan dibinasakan dan Musa menjadi bangsa yang besar. Namun karena Musa mengenal Tuhan, maka ia mampu melunakkan hati Tuhan. Allah bukannya berubah-rubah, namun Musa tahu isi hati Tuhan sebab Musa mengenal Allah.

Kesimpulan:

Ketika kita mengenal Allah sebagai mempelai, maka kita akan dibawa ke pesta perkawinan Anak Domba (Wahyu 19:7-8). Oleh sebab itu, mari kita belajar seperti rasul Paulus yang tetap merindukan untuk mengenal semakin dalam sampai pada tingkat dimana kita mengenal Tuhan sebagai mempelai-Nya.

BERJAGA DAN BERDOA – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya; Minggu, 2 Agustus 2020)

Matius 26:41
“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

PENDAHULUAN
Ayat ini merupakan nasihat atau peringatan Yesus kepada murid-murid-Nya pada saat mereka berada di taman Getsemani, sebelum Yesus ditangkap, diadili, disiksa dan disalibkan di kayu salib Golgota. Tujuan nasihat dan peringatan ini adalah sehubungan dengan akan adanya “pencobaan” yang harus dihadapi dan dialami oleh murid-murid-Nya pada saat, sebelum, dan setelah Yesus disalib, mati dan dibangkitkan.

Nasihat atau peringatan Yesus kepada murid-murid-Nya ini, sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai pengikut Yesus yang hidup di akhir zaman. Sebab dalam 2 Timotius 3:1-9 berkata bahwa ada kesukaran kesukaran yang dapat membuat kualitas rohani jemaat merosot bahkan kehilangan iman kepada Yesus. Sebab itu, Yesus menasehatkan supaya kita tidak jatuh kedalam pencobaan.

Kata pencobaan dalam bahasa Yunani: PEIRASMOS, memiliki dua arti, antara lain:

  • Pencobaan yang wujudnya berupa: penderitaan yang datang dari luar kita (iblis), dengan tujuan supaya kita melakukan keinginan iblis.
  • Pencobaan yang wujudnya berupa: tawaran iblis yang menggoda, menimbulkan dorongan dalam hati kita untuk mengikuti tawaran iblis yang jahat, sebab bertentangan dengan firman Allah.

Penderitaan yang iblis timpakan dan tawaran yang iblis sodorkan kepada kita, bukanlah penderitaan dan tawaran yang biasa atau ringan tetapi sangat berat dan menggoda.

Yesus berkata mengenai kondisi kita sebagai manusia bahwa “roh penurut tetapi daging lemah”. Artinya kunci kekuatan kita terletak di dalam roh kita bukan di dalam daging kita. Yang dimaksud roh adalah manusia batiniah kita (the inner man), sedang tubuh adalah manusia lahiriah kita (sensual man) lemah. Adapun yang harus kita bangun selama kita hidup di muka bumi ini adalah manusia rohaniah atau manusia batiniah kita, bukan manusia jasmani kita.

Pertanyaannya adalah, apa yang sudah kita lakukan, khususnya bagi kita yang hidup di akhir zaman? Bila pencobaan datang apakah kita benar-benar sudah siap untuk mengatasi atau menanggulanginya? Oleh sebab itu, kita perlu mengevaluasi diri kita melalui tabel di bawah ini.

Dari tabel tersebut, kita dapat menilai diri kita sehingga kita lebih memperhatikan kehidupan rohani kita dari pada kehidupan jasmani kita. Karena itu, Allah memberi solusi supaya kita tidak jatuh (kalah) dalam pencobaan, yaitu dengan berjaga-jaga dan berdoa. Matius 26:41 “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan, roh (manusia rohani) memang penurut (taat), tetapi daging (manusia jasmani) lemah.”

BERJAGA-JAGA
Apa yang maksud dengan berjaga? Kata “berjaga-jaga” dalam bahasa Yunani: GREGORÉUO. Artinya: tetap sadar (siuman); tidak tidur; atau tetap waspada. Sikap berjaga-jaga tidak berarti tidak pernah tidur. Tetapi kata berjaga-jaga adalah suatu sikap dimana kita terus mengoreksi diri: apakah tindakan yang kita lakukan (baik dilihat orang atau tidak dilihat orang), semua itu sungguh- sungguh BERASAL dari Allah atau tidak.

Ayub disebut orang “SALEH”. Ayub tidak melakukan hal-hal yang bertentangan atau yang tidak berasal dari Allah. Perhatikan ucapan Ayub kepada sahabatnya.

Ayub 10:7 “…padahal Engkau tahu, bahwa aku tidak bersalah, dan bahwa tiada seorangpun dapat memberi kelepasan dari tangan-Mu?” Aku sama sekali tidak membenarkan kamu! (ketiga teman Ayub yang telah mempersalahkan Ayub).

Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah!”(Ayub 27:5).

Mengapa Ayub begitu yakin bahwa semua penderitaan yang dialaminya bukan karena kesalahannya? Karena Ayub senantiasa mengoreksi diri. Kebiasaan mengoreksi diri ini bukanlah karena ia adalah seorang yang hebat, namun karena ia memiliki kecerdasan roh.

Matius 7:21 berkata bahwa “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Apa yang dimaksud dengan ayat ini? Para ahli Taurat dan orang Farisi menghafal Hukum Taurat (qatam), namun hukum itu hanya tertulis pada sebuah buku (perkamen), bukan tertulis didalam hati. Hal inilah yang menyebabkan hukum itu atau Firman Allah itu tidak “GREGORÉUO”. Artinya Firman Allah tidak membuat ahli Taurat atau orang Farisi itu sadar, siuman, waspada dengan apa yang harus dilakukannya.

BERDOA
Kata: Berdoa dalam bahasa Yunani: PROSÉVKHOMAI, gabungan dari dua kata, yaitu kata PRÓS dan kata: ÉVKHOMAI. Kata: “Prós” adalah kata depan yang menunjukkan arah, yaitu ke depan. Sedangkan kata ÉVKHOMAI adalah berharap atau berkehendak. Dengan kata lain kata PROSÉVKHOMAI berarti: suatu harapan, keinginan atau kerinduan yang sangat kuat untuk berada didepan (seperti seorang pembalap atau seseorang yang sedang berlomba), yang ingin tetap berada didepan dan tidak mau ketinggalan atau ada di belakang.

Artinya, sebagai pengikut Yesus yang hidup di akhir zaman yaitu hidup di masa sukar ini, apa yang kita pandang dan harapkan untuk masa mendatang? Apa yang menjadi target atau ambisi kita? Apakah kekayaan duniawi atau kekayaan sorgawi?

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, dimasa-masa yang semakin sukar ini, marilah kita terus berjaga-jaga dan berdoa. Hanya dengan berjaga-jaga dan berdoalah yang akan membuat kita siap untuk menghadapi kesukaran-kesukaran hidup dan yang akan menghantar kita mencapai kekekalan.

HIKMAT TUHAN DITENGAH PANDEMI – oleh Pdp. Corneles Wim Kandou (Ibadah Raya – Minggu, 26 Juli 2020)

PENGERTIAN HIKMAT
Hikmat berasal dari kata “Hokmah” yang merupakan asal kata “hakam” yang berarti menjadi atau bertindak bijaksana. Hikmat (wisdom) adalah suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian dan situasi yang kemudian menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian, perbuatan sesuai pengertian tersebut. Tidak jarang dibutuhkan sebuah kecerdasan emosional untuk mampu mengelola segala pengertian yang diterima.

Sebagai orang percaya, maka tentu kita meyakini bahwa dunia ini dan segala yang ada didalamnya, serta yang terjadi didalamnya ada didalam kekuasaan Tuhan. Untuk itu penting sekali dalam kehidupan yang Tuhan anugerahkan untuk kita memiliki hikmat yang asalnya dari Tuhan.

Dunia pun memiliki hikmatnya sendiri, tetapi itu terbatas, semu, dan gampang hancur. Akan tetapi dengan hikmat Tuhan memungkinkan orang percaya untuk hidup dengan maksimal ditengah dunia dan segala tantangannya. Terlebih dalam masa-masa pandemi yang kita rasakan hari-hari ini.

HIKMAT TUHAN UNTUK TEROBOSAN DITENGAH PANDEMI
Hikmat Tuhan sangat penting bagi kita agar mengalami terobosan dalam cara kita membangun hubungan dengan Tuhan, mengalami peningkatan secara rohani, terobosan dalam keluarga bahkan pekerjaan dan masih banyak hal lainnya. Kita akan mempelajari tokoh-tokoh hikmat yang luar biasa di negeri pembuangan yaitu Daniel dan rekan-rekannya (Hananya, Misael, Azarya atau Sadrakh, Mesakh, Abednego). Dari Daniel kita akan belajar bagaimana hikmat itu bekerja dalam diri seseorang, apa yang dihasilkan dan apa yang harus dilakukan agar hikmat itu ada didalam diri kita.

SIAPA DANIEL, SADRAKH MESAKH DAN ABEDNEGO ?
Daniel dkk adalah buangan dari Yehuda yang dibawa ke Babel bersama orang-orang muda lainnya yang punya keahlian dan pengertian yang dapat digunakan dalam pemerintahan di Babel.

Daniel adalah seorang berhikmat yang luar biasa dan itu dibuktikan bahwa Daniel terus berguna dalam berbagai pemerintahan walau raja silih berganti (walau tidak didapat catatan lanjutan mengenai 3 kawannya yang lain).

Mulai dari Nebukadnezar Raja Babel – Belsyazar Raja Babel – Darius Raja Media. Daniel selalu dipakai dalam berbagai pemerintahan, karena hikmat Allah dalam dirinya.

1. Hikmat diberikan kepada orang yang berkomitmen kepada kebenaran, Daniel 1:3;4;8
Dan 1:3 Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,

Dan 1:4  yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.

Dan 1:8  Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.

Daniel dikenal sebagai orang yang berhikmat jauh sebelum ada panggung yang melambungkan namannya. Dikatakan bahwa Daniel adalah orang muda yang tidak bercela. Artinya dari masa mudanya Daniel menjaga dirinya dari segala hal yang tak berkenan, sehingga tidak heran dalam dirinya Tuhan mengaruniakan hikmat yang luar biasa. Ketahuilah, hikmat dan kebenaran itu beriringan. Hikmat lahir dari kebenaran bukan pengetahuan. Banyak orang yang pintar tetapi belum tentu berhikmat karena hidup dalam kejahatan. Sebaliknya ada orang yang pendidikannya tidak tinggi, pengetahuanya tidak luas, tapi hidupnya penuh hikmat karena hidup dalam kebenaran (Mazmur  111:10). Dengan takut akan Tuhan, mengantarkan kita pada pintu gerbang hikmat Allah yang luar biasa.

Hikmat Tuhan hanya datang kepada orang yang hidup dalam kebenaran. Hikmat hanya akan datang kepada orang yang menjaga dirinya dari hal-hal yang jahat. Hikmat hanya datang kepada orang yang mempersiapkan kehidupannya begitu rupa. Hikmat hanya akan datang kepada orang yang berkomitmen untuk menjaga dirinya begitu rupa dari hal-hal yang merusak dirinya. Hikmat Tuhan hanya datang kepada orang yang hidup dalam kebenaran. Didalam kehidupan yang menghormati Tuhan dan firmanNya disitulah Hikmat Tuhan dilimpahkan atas setiap kita.

2. Hikmat Tuhan memberikan nilai dalam diri seseorang, Daniel 1:19-20.

Kisah mengenai percobaan mengenai santapan Daniel dkk dan para orang berhikmat lainnya.

Dan1:19  Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja.

Dan 1:20 Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.

Setelah percobaan mengenai makanan yang dikonsumsi oleh Daniel dkk, dibandingkan dengan beberapa orang lainnya, didapati bahwa mereka lebih segar dari orang lainnya yang makan santapan raja. Dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Mereka didapati sepuluh kali lebih cerdas. Dari ayat ini kita dapat melihat bahwa dalam diri Daniel dkk, bukan sekedar kecerdasan ataupun kepintaran tetapi sebuah nilai yang kemudian membuat mereka jauh lebih unggul dalam segi kecerdasan dan hal lain yang berhubungan dengan itu. Orang yang mempunyai nilai lebih dalam kehidupanlah yang hanya akan diakui oleh orang lain.

Nilai dalam diri seseoranglah yang menentukan identitas orang tersebut. Ini membuktikan bahwa hikmat yang asalnya dari Tuhan memberi nilai dalam diri seseorang, hikmat Tuhan dalam diri seseorang selalu mengerjakan sesuatu diatas rata-rata, hikmat Tuhan tidak sama dengan dunia ini, hikmat Tuhan melampaui segala hikmat dunia.

Pengkhotbah 7:19 Hikmat memberi kepada yang memilikinya lebih banyak kekuatan dari pada sepuluh penguasa dalam kota.

Masalah dikerjakan atau keluarga boleh sama, tapi anak Tuhan yang mempunyai hikmat Tuhan tahu bagaimana cara untuk menyelesaikan itu semua.

3. Hikmat Tuhan hanya lahir dari sebuah ketergantungan tunggal kepada Tuhan, Daniel 2:16-19;28.

Kisah tentang mimpi Nebukadnezar
Daniel dipanggil untuk dimintakan mengartikan mimpi tersebut.

Dan 2:16  Maka Daniel menghadap raja dan meminta kepadanya, supaya ia diberi waktu untuk memberitahukan makna itu kepada raja.

Dan 2:17  Kemudian pulanglah Daniel dan memberitahukan hal itu kepada Hananya, Misael dan Azarya, teman-temannya,

Dan 2:18  dengan maksud supaya mereka memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit mengenai rahasia itu, supaya Daniel dan teman-temannya jangan dilenyapkan bersama-sama orang-orang bijaksana yang lain di Babel.

Dan 2:19 Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam. Lalu Daniel memuji Allah semesta langit.

Dan 2:28  Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang. Mimpi dan penglihatan-penglihatan yang tuanku lihat di tempat tidur ialah ini:

Hikmat selalu diberikan kepada orang-orang yang menghormati Tuhan, artinya walau mereka mempunyai kepandaian, pengalaman, sumber daya apapun, namun mereka selalu menempatkan Tuhan sebagai penolong utama dalam kehidupan. Yang menarik dari mereka adalah bahwa sekalipun mereka tahu bahwa diri mereka memiliki hikmat dan dianggap sebagai orang yang pintar, namun mereka tidak tinggi hati dan berjalan dengan hikmat mereka sendiri. Sekalipun kita mempunyai pengalaman puluhan tahun, sekalipun kita mahir, memiliki sumber daya yang mumpuni, tetapi jangan pernah sekalipun mencoba untuk berjalan sendiri tanpa hikmat Tuhan.

Amsal 3:19 Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit,

Kita seharusnya sadar bahwa dunia ini diciptakan oleh Tuhan, segala hal diatur, dikonsep, dikerjakan oleh Tuhan maka sudah sepantasnya kita pun dalam hidup ini melakukan segala sesuatu dengan hikmat Tuhan. Kita membutuhkan hikmat Tuhan setiap waktu untuk segala kondisi dan perubahan yang terjadi disekitar kita.

4. Hikmat Tuhan melalui diri seseorang mengerjakan penghormatan & peninggian bagi Tuhan, Daniel 2:46-48.

Kisah tentang mimpi Nebukadnezar
Setelah Daniel mengartikan mimpi Nebukadnezar.

Dan 2:46  Lalu sujudlah raja Nebukadnezar serta menyembah Daniel; juga dititahkannya mempersembahkan korban dan bau-bauan kepadanya.

Dan 2:47  Berkatalah raja kepada Daniel: “Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.”

Dan 2:48  Lalu raja memuliakan Daniel: dianugerahinyalah dengan banyak pemberian yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel.

Karena hikmat Tuhan, Daniel mampu mengartikan mimpi dari raja Nebukadnezar. Namun justru yang menarik setelahnya adalah bahwa Nebukadnezar sendiri yang mengucapkan sebuah pengakuan dan penghormatan kepada Tuhan yang diyakini bekerja dibalik kemampuan dan hikmat Daniel.

Disinilah letak perbedaan hikmat dunia dibandingkan dengan Hikmat Tuhan. Hikmat duniawi berfokus pada peninggian diri sendiri; hikmat dunia berfokus pada nama besar seseorang; hikmat dunia hanya ditujukan bagi sebuah panggung  keegoisan, kecongkakan dan tinggi hati.  Tetapi hikmat Tuhan dalam diri seseorang harusnya hanya dan semata-mata untuk meninggikan nama Tuhan.

Ini pun seharusnya terjadi dalam kehidupan orang percaya. Hikmat Tuhan yang diberikan kepada kita dalam segala area kehidupan, hikmat yang Tuhan berikan dalam cara kita memimpin keluarga, memimpin usaha, dalam cara kita melakukan apapun, itu semua harus mendatangkan hormat bagi kemuliaan Tuhan.

Saya yakin bahwa seperti halnya Daniel pun dihormati demikian juga kita akan mendapat pengaruhnya. Ada wibawa sorgawi dalam setiap kepemimpinan kita (entahkah dalam keluarga, pekerjaan, komunitas gereja, komunitas sosial dan lain sebagainya.)

Filipi 1:9  Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,

Filipi 1:10 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,

Filipi 1:11  penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Setiap kasih, pengetahuan yang benar, berbagai macam pengertian melahirkan sebuah kesanggupan untuk memilih apa yang baik, menjadi suci dan tak bercacat, menghasilkan buah kebenaran – Inilah HIKMAT (Kombinasi dari kasih – pengetahuan yang benar – pengertian). Hikmat Tuhan tidak sekedar diberikan untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan kita, tetapi lewat hidup kita nama Tuhan dipermuliakan.

5. Hikmat Tuhan tidak mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. Daniel 3:16-18

Kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego di perapian yang menyala-nyala karena menolak menyembah patung yang didirikan oleh Nebukadnezar.

Dan 3:16  Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.

Dan 3:17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;

Dan 3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Sekalipun mereka orang yang pintar, mempunyai hikmat dan pengertian namun mereka tidak menggunakan hal itu untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dan mengorbankan iman mereka kepada Tuhan. Sekalipun jauh dari kampung halaman, jauh dari tanah Yehuda, tanah suci, namun hati mereka tidak pernah jauh dari Tuhan (seperti yang kita tahu kesepuluh hukum Taurat, didalamnya terdapat larangan untuk menyembah Allah lain.) Sekalipun mereka mempunyai hikmat, tetapi itu tidak membuat mereka mengakal-akali Tuhan dan mempreteli kebenaran Tuhan hanya untuk sekedar bertahan hidup (bisa saja mereka berpikir, bahwa boleh-boleh saja menyembah patung tersebut, sebab mereka pun ada dalam tawanan, jauh dari tanah perjanjian Allah).

Hikmat tidak mengerjakan suatu jalan pintas yang membuat kita melanggar firman Tuhan. Hikmat memberi kita sebuah cara Ilahi dan bukan jalan pintas. Hikmat Tuhan tidak mengerjakan sebuah kompromi terhadap kebenaran firman Tuhan. Hikmat Tuhan tidak mengerjakan hal-hal yang tidak menghormati Tuhan. Hikmat Tuhan adalah bagaimana menyelesaikan masalah kita dengan cara Tuhan, bukan cara kita. Saat masalah datang maka orang yang mempunyai hikmat Tuhan mengerti kepada siapa pertama kali harus berdoa, kepada siapa harus berharap dan percaya. Hikmat Tuhan membuat kita tahu kapan kita harus berusaha sekuat tenaga dan kapan saudara harus berserah tanpa batas.

Amsal  4:11  Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.

Amsal 4:12 Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung.

Dari ayat ini kita tahu bahwa cara Tuhan memimpin kita tidak sekedar membuat kita berada ditempat tujuan kita, tetapi Dialah yang memimpin perjalanan kita. Hikmat Tuhan memberikan kita kemampuan untuk mengelola sikap bahkan tindakan iman walau dalam keadaan yang paling sukar. Hikmat tidak memberikan kemudahan tetapi memberi kita cara Ilahi untuk bertumbuh bahkan melalui kesulitan. Kita akan terus maju walau ada tantangan, terus terbang walau angin badai, terus bertahan walau ombak menderu.

6. Hikmat Tuhan menembus segala kebuntuan dan membawa penyelesaian, Daniel 5:10-14

Kisah tentang tulisan di dinding pada zaman raja Belysazar.

Dan 5:10  Karena perkataan raja dan para pembesarnya itu masuklah permaisuri ke dalam ruang perjamuan; berkatalah ia: “Ya raja, kekallah hidup tuanku! Janganlah pikiran-pikiran tuanku menggelisahkan tuanku dan janganlah menjadi pucat;

 Dan 5:11 sebab dalam kerajaan tuanku ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus! Dalam zaman ayah tuanku ada terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa. Ia telah diangkat oleh raja Nebukadnezar, ayah tuanku menjadi kepala orang-orang berilmu, para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum,

Dan 5:12  karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja. Baiklah sekarang Daniel dipanggil dan ia akan memberitahukan maknanya!”

Dan 5:13  Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: “Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda?

 Dan 5:14  Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa.

 Kita melihat bahwa, ketika kegemparan terjadi dikerajaan tersebut (karena tulisan yang ada di dinding yang terjadi secara ajaib), permaisuri raja langsung mengingat Daniel dan hikmat Tuhan dalam dirinya. Jadi dari sini kita bisa mengetahui mengenai reputasi Daniel serta hikmat Tuhan dalam dirinya yang begitu diingat dan dikenang oleh pemerintahan Babel. Telah terbukti berulang kali dalam berbagai pemerintahan yang berbeda mengenai hikmat Daniel yang mampu menembus kebuntuan serta yang mampu menembus segala  keterbatasan para orang berhikmat di sana. Tahukah saudara kita pun mampu menembus segala kebuntuan, membawa penyelesaian bagi hal-hal yang ada disekitar kita ? Sebagai orang percaya, hidup kita seperti diatas panggung, banyak cahaya, banyak orang yang menyorot kita, mereka menunggu terobosan kita dalam situasi yang juga sama dialami oleh mereka.

Ditengah situasi pandemi terhebat di abad-21 ini, banyak orang menjadi buntu. Mereka tidak mempunyai jalan, tidak memiliki harapan, semua runtuh, gagal, segala sesuatu berada diluar daya kita, rasanya begitu dekat dengan kematian. Namun, tahukah saudara bahwa hikmat Tuhan akan menembus segala kebuntuan, kemustahilan, kerumitan yang terjadi dalam berbagai area kehidupan.

Bagi orang lain hari ini mereka mengalami jalan buntu – tidak mempunyai cara untuk memimpin keluarga, membesarkan anak ditengah situasi pandemi ini. Tetapi jika kita mempunyai hikmat Tuhan, maka hidup kita akan berbeda. Hidup kita tak dirundung oleh ketakutan, tetapi sebaliknya orang melihat dan mencari Yesus karena keberadaan hikmatNya dalam hidup orang percaya.

KESIMPULAN:
Ditengah pandemi global ini, penting bagi kita untuk memiliki hikmat Tuhan, sebab kita telah mempelajari keuntungan saat memiliki hikmat Tuhan. Jadi, kejarlah hikmat Tuhan, berkomitmenlah dengan kebenaran agar segala masalah kita selesai. Mintalah hikmat kepada Tuhan dalam mempertimbangkan dan menyelesaikan setiap masalah kita, maka Tuhan pasti akan memberikan hikmat kepada setiap kita yang memintanya.