BERJAGA DAN BERDOA – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya; Minggu, 2 Agustus 2020)

Matius 26:41
“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

PENDAHULUAN
Ayat ini merupakan nasihat atau peringatan Yesus kepada murid-murid-Nya pada saat mereka berada di taman Getsemani, sebelum Yesus ditangkap, diadili, disiksa dan disalibkan di kayu salib Golgota. Tujuan nasihat dan peringatan ini adalah sehubungan dengan akan adanya “pencobaan” yang harus dihadapi dan dialami oleh murid-murid-Nya pada saat, sebelum, dan setelah Yesus disalib, mati dan dibangkitkan.

Nasihat atau peringatan Yesus kepada murid-murid-Nya ini, sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai pengikut Yesus yang hidup di akhir zaman. Sebab dalam 2 Timotius 3:1-9 berkata bahwa ada kesukaran kesukaran yang dapat membuat kualitas rohani jemaat merosot bahkan kehilangan iman kepada Yesus. Sebab itu, Yesus menasehatkan supaya kita tidak jatuh kedalam pencobaan.

Kata pencobaan dalam bahasa Yunani: PEIRASMOS, memiliki dua arti, antara lain:

  • Pencobaan yang wujudnya berupa: penderitaan yang datang dari luar kita (iblis), dengan tujuan supaya kita melakukan keinginan iblis.
  • Pencobaan yang wujudnya berupa: tawaran iblis yang menggoda, menimbulkan dorongan dalam hati kita untuk mengikuti tawaran iblis yang jahat, sebab bertentangan dengan firman Allah.

Penderitaan yang iblis timpakan dan tawaran yang iblis sodorkan kepada kita, bukanlah penderitaan dan tawaran yang biasa atau ringan tetapi sangat berat dan menggoda.

Yesus berkata mengenai kondisi kita sebagai manusia bahwa “roh penurut tetapi daging lemah”. Artinya kunci kekuatan kita terletak di dalam roh kita bukan di dalam daging kita. Yang dimaksud roh adalah manusia batiniah kita (the inner man), sedang tubuh adalah manusia lahiriah kita (sensual man) lemah. Adapun yang harus kita bangun selama kita hidup di muka bumi ini adalah manusia rohaniah atau manusia batiniah kita, bukan manusia jasmani kita.

Pertanyaannya adalah, apa yang sudah kita lakukan, khususnya bagi kita yang hidup di akhir zaman? Bila pencobaan datang apakah kita benar-benar sudah siap untuk mengatasi atau menanggulanginya? Oleh sebab itu, kita perlu mengevaluasi diri kita melalui tabel di bawah ini.

Dari tabel tersebut, kita dapat menilai diri kita sehingga kita lebih memperhatikan kehidupan rohani kita dari pada kehidupan jasmani kita. Karena itu, Allah memberi solusi supaya kita tidak jatuh (kalah) dalam pencobaan, yaitu dengan berjaga-jaga dan berdoa. Matius 26:41 “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan, roh (manusia rohani) memang penurut (taat), tetapi daging (manusia jasmani) lemah.”

BERJAGA-JAGA
Apa yang maksud dengan berjaga? Kata “berjaga-jaga” dalam bahasa Yunani: GREGORÉUO. Artinya: tetap sadar (siuman); tidak tidur; atau tetap waspada. Sikap berjaga-jaga tidak berarti tidak pernah tidur. Tetapi kata berjaga-jaga adalah suatu sikap dimana kita terus mengoreksi diri: apakah tindakan yang kita lakukan (baik dilihat orang atau tidak dilihat orang), semua itu sungguh- sungguh BERASAL dari Allah atau tidak.

Ayub disebut orang “SALEH”. Ayub tidak melakukan hal-hal yang bertentangan atau yang tidak berasal dari Allah. Perhatikan ucapan Ayub kepada sahabatnya.

Ayub 10:7 “…padahal Engkau tahu, bahwa aku tidak bersalah, dan bahwa tiada seorangpun dapat memberi kelepasan dari tangan-Mu?” Aku sama sekali tidak membenarkan kamu! (ketiga teman Ayub yang telah mempersalahkan Ayub).

Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah!”(Ayub 27:5).

Mengapa Ayub begitu yakin bahwa semua penderitaan yang dialaminya bukan karena kesalahannya? Karena Ayub senantiasa mengoreksi diri. Kebiasaan mengoreksi diri ini bukanlah karena ia adalah seorang yang hebat, namun karena ia memiliki kecerdasan roh.

Matius 7:21 berkata bahwa “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Apa yang dimaksud dengan ayat ini? Para ahli Taurat dan orang Farisi menghafal Hukum Taurat (qatam), namun hukum itu hanya tertulis pada sebuah buku (perkamen), bukan tertulis didalam hati. Hal inilah yang menyebabkan hukum itu atau Firman Allah itu tidak “GREGORÉUO”. Artinya Firman Allah tidak membuat ahli Taurat atau orang Farisi itu sadar, siuman, waspada dengan apa yang harus dilakukannya.

BERDOA
Kata: Berdoa dalam bahasa Yunani: PROSÉVKHOMAI, gabungan dari dua kata, yaitu kata PRÓS dan kata: ÉVKHOMAI. Kata: “Prós” adalah kata depan yang menunjukkan arah, yaitu ke depan. Sedangkan kata ÉVKHOMAI adalah berharap atau berkehendak. Dengan kata lain kata PROSÉVKHOMAI berarti: suatu harapan, keinginan atau kerinduan yang sangat kuat untuk berada didepan (seperti seorang pembalap atau seseorang yang sedang berlomba), yang ingin tetap berada didepan dan tidak mau ketinggalan atau ada di belakang.

Artinya, sebagai pengikut Yesus yang hidup di akhir zaman yaitu hidup di masa sukar ini, apa yang kita pandang dan harapkan untuk masa mendatang? Apa yang menjadi target atau ambisi kita? Apakah kekayaan duniawi atau kekayaan sorgawi?

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, dimasa-masa yang semakin sukar ini, marilah kita terus berjaga-jaga dan berdoa. Hanya dengan berjaga-jaga dan berdoalah yang akan membuat kita siap untuk menghadapi kesukaran-kesukaran hidup dan yang akan menghantar kita mencapai kekekalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *