MENGENAL ALLAH DAN MELAKUKAN KEHENDAK-NYA – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya – Minggu, 9 Agustus 2020)

Kisah Para Rasul 9:5-6

Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

Bila kita mengenal Allah hanya sedikit, maka banyak kebingungan yang akan kita alami dalam kehidupan kita. Ketidakmengertian kita tentang kehendak Allah dan cara kerja Allah, akan membuat kita melihat perbuatan Allah sebagai kekacauan. Sebaliknya, apabila pengenalan kepada Allah semakin baik (level up), kita akan semakin mengenal Dia dan mengerti kehendak-Nya.

Dalam ayat ini, Saulus bertanya tentang ‘Siapakah Tuhan’. Ayat ini mengisahkan bagaimana pertobatan Saulus dalam perjalanannya ke Damsyik untuk menganiaya orang percaya. Di tengah jalan justru Yesus menjumpai dirinya lewat cahaya dan suara-Nya. Percayalah, setiap orang yang berurusan dengan umat Tuhan, ia sedang berurusan dengan Tuhan sendiri.

Kemudian Saulus bertanya “Siapakah Engkau Tuhan?”. Maka Tuhan menjawab: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu”. Selanjutnya Tuhan Yesus memerintahkan Saulus untuk pergi ke kota dan menemui seorang yang bernama Ananias. Yang menarik adalah, 28 tahun kemudian setelah Paulus menulis kitab Filipi, ia tetap memiliki kerinduan yang sama untuk mengenal Tuhan (Fil 3:10). Dari awal pertobatannya, Paulus sudah memiliki kerinduan untuk mengenal Tuhan dan Tuhan membukakan sedikit demi sedikit rahasia-rahasia yang membuat Paulus semakin mengenal Tuhan. Paulus sebenarnya telah memiliki pengenalan yang luas, namun ia tetap rindu mengenal Tuhan lebih lagi ( 2Kor 12; Yohanes 17:3).

Mari kita belajar beberapa pengenalan akan Allah dari sisi kerohanian kita, antara lain:

– Kita sebagai Anak – Allah sebagai Bapa yang baik

– Kita sebagai Hamba – Allah sebagai Tuan yang baik

– Kita sebagai Sahabat – Allah sebagai Sahabat yang terbaik

– Kita sebagai Mempelai – Allah sebagai Mempelai Laki-Laki Sorga

(Ini merupakan tingkatan pengenalan akan Allah, bukan berbicara mengenai status).

Saya percaya peningkatan dalam pengenalan ini akan menolong kita untuk mampu bertahan dan dapat melewati sesulit apapun zaman ini dan berkata seperti Paulus “tidak ada yang dapat memisahkan aku dari kasih Yesus” Roma 8:35

1. Mengenal Tuhan sebagai Anak (Matius 6:31-32).
Kita adalah anak-anak Allah melalui korban Yesus. Sebagai anak-anak-Nya, kita sangat perlu mengenal Tuhan sebagai Bapa yang baik, sang pemelihara dan pelindung (tidak pernah meragukannya). Sebab itu, untuk kita terus dapat  menyenangkan Bapa kita, kita harus bertumbuh dewasa (1 Korintus 13:1). Jika tidak Efesus 4: 14, maka kita akan mudah dihanyutkan oleh berbagai angin pengajaran. Ketika pengenalan kita hanya sebatas anak, maka kita hanya menginginkan segala sesuatunya terlihat baik-baik saja.

Ketika kita tidak bertumbuh menjadi dewasa dalam mengenal Tuhan, kita akan mudah kuatiir, kecewa dan putus asa saat sedang dalam keadaan tidak baik.

2. Mengenal Tuhan sebagai Hamba.
Pengenalan ini adalah pengenalan dimana kita mulai mengerti tanggung jawab kita (Yohanes 15:15a). Bukan hanya sekedar anak yang hanya mengetahui semua kebutuhannya tercukupi, namun sudah mulai bertumbuh dewasa, mengerti tanggung jawab yaitu melakukan kehendak tuannya. Bahkan meskipun belum mengerti sepenuhnya maksud dari perintah tersebut. Tekadnya adalah bagaimana menyenangkan hati tuannya.

Lukas 1:38, menceritakan ketika Malaikat Tuhan datang kepada Maria dan memberitahukan mengenai kehamilannya, maka Maria menjawab: “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku sesuai kehendakMu“. Maria belum mengerti sepenuhnya maksud dan tujuan Allah, namun ia belajar tunduk dan berkata ‘Jadilah Kehendak-Mu’ untuk menyenangkan hati tuannya.

Mengenal Allah sebagai hamba akan membuat kita dengan mudah untuk melakukan kehendak-Nya. Dalam pengenalan sebagai hamba sudah seharusnya kita mengerti bahwa Tuan kita  adalah Tuan yang baik, dan tidak mungkin akan memberikan perintah yang salah, yang akan menghancurkan diri hambanya.

Matius 25:26 sebagai hamba jika kita tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh sang Tuan, kita akan disebut sebagai hamba yang jahat dan malas.

3. Mengenal Tuhan sebagai Sahabat.
Pengenalan sebagai Sahabat merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari Pengenalan Hamba. Sebagai sahabat, Allah akan memberitahukan hal-hal yang akan Dia lakukan kepada kita. Sahabat mengenal Allah dari rahasia yang dibukakan atau yang diceritakan.

Kejadian 18:17, menceritakan bagaimana Allah membukakan rahasia mengenai Sodom dan Gomora kepada Abraham. Ketika Abraham tahu mengenai rahasia ini, maka Abraham menaikkan doa syafaat bagi Tuhan. Abraham tahu apa yang harus dilakukan. Ketika kita menjadi sahabat Allah, maka hati kita akan mendorong kita untuk melakukan apa yang menyenangkan sahabat kita tanpa diminta.

Bagaimana kita dapat mengerti isi hati Allah sebagai Sahabat, bila kita tidak membaca, mendengar dan merenungkan Firman-Nya, berdoa dalam saat teduh kita? (Mazmur 25:14). Oleh sebab itu kita perlu melakukan hal-hal ini agar kita dapat mengerti keinginan Tuhan.

Jika dalam persahabatan kita akrab dengan Tuhan, maka suatu saat kita masih punya kemungkinan dapat menjadi sahahat yang ‘mengangkat tumit’ melawan Yesus dan menjual-Nya dengan ciuman (seperti Yudas). Bila kita tidak memiliki keakraban dalam pengenalan kita kepada Tuhan sebagai Sahabat, kita dapat memiliki agenda pribadi seperti Yudas dan mencari keuntungan diri sendiri (Mazmur 41:10;Lukas 22:48).

4. Mengenal-Nya sebagai mempelai (Kejadian 8:21).
Tuhan seringkali berfirman dalam hati (tidak bersuara). Siapakah yang dapat mengenal apa isi hati Allah, kalau bukan orang yang punya pengenalan kepada-Nya sebagai Mempelai-Nya. BIla kita sampai kepada pengenalan ini, maka kita akan mengenal seutuhnya rahasia hati Allah (1 Korintus 13:11-12). Oleh sebab itu, tidak ada gunanya menyimpan sesuatu yang busuk, sebab nantinya semuanya akan nampak kelihatan di hadapan Allah.

Contoh orang yang mengenal Allah sedalam ini adalah Musa, Keluaran 32:9-14. Kisah ini menceritakan bagaimana Musa dapat mengubah hati Allah yang sedianya sedang murka kepada bangsa Israel dan Allah memilih Musa dan keturunannya untuk menggantikan bangsa Israel. Bila Musa tidak mengenal Allah, maka bangsa Israel akan dibinasakan dan Musa menjadi bangsa yang besar. Namun karena Musa mengenal Tuhan, maka ia mampu melunakkan hati Tuhan. Allah bukannya berubah-rubah, namun Musa tahu isi hati Tuhan sebab Musa mengenal Allah.

Kesimpulan:

Ketika kita mengenal Allah sebagai mempelai, maka kita akan dibawa ke pesta perkawinan Anak Domba (Wahyu 19:7-8). Oleh sebab itu, mari kita belajar seperti rasul Paulus yang tetap merindukan untuk mengenal semakin dalam sampai pada tingkat dimana kita mengenal Tuhan sebagai mempelai-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *