MENANTIKAN TUHAN- oleh Pdm. Melky Mokodongan (Ibadah Raya – Minggu, 16 Agustus 2020)

Yesaya 40:30

PENDAHULUAN
Hari-hari ini merupakan hari-hari yang sulit bagi setiap kita. Karena kesulitan ini maka kita diberikan pilihan, apakah kita tetap menantikan Tuhan atau tidak. Apakah kita tetap mengandalkan Tuhan atau tidak. Atau jangan-jangan karena kesulitan yang terjadi kita meninggalkan Tuhan.

ISI
Pasal ini merupakan ayat-ayat yang ditulis oleh nabi Yesaya diakhir-akhir hidupnya kepada bangsa Israel yang berada di pembuangan. Yesaya menguatkan mereka agar mereka mampu menghadapi situasi-situasi yang sulit selama berada didalam pembuangan di Babel. Dalam keadaan sulit, penting bagi kita untuk menerima Firman Tuhan agar kita menjadi kuat. Menantikan Tuhan merupakan kehendak-Nya dalam menghadapi situasi yang sulit. Orang yang menantikan Tuhan akan terus memandang kepada Tuhan sebab mereka sadar bahwa keselamatan dan pertolongan hanya datang melalui Tuhan. Orang yang menantikan Tuhan tidak akan mudah digoyahkan atau bahkan terbawa arus. Ini merupakan jaminan Tuhan bagi kita.

Kata menantikan dalam ayat ini ditulis Qavah, yang berarti menantikan sesuatu yang besar atau mengikat sesuatu dengan cara memintal.

Ada beberapa pengertian kata menantikan dalam ayat ini:
1. Berharap penuh
Menantikan Tuhan berarti kita berharap lebih kepada Tuhan. Bukan sekedar berharap tetapi dengan segenap hati dan kepercayaan kita. Bukan berharap pada apapun atau siapapun. Mazmur 71:5, pemazmur mencatat bahwa Tuhanlah yang menjadi harapannya, bahkan sejak masa muda. Artinya pengharapannya ditujukan hanya kepada Allah. Mazmur 130:5-6, berkata bahwa orang yang menantikan Tuhan kesukaannya adalah Firman Tuhan. Orang yang menantikan Tuhan adalah orang yang berharap kepada Tuhan seperti orang yang menanti datangnya fajar. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sepenuhnya berharap kepada Tuhan, ataukah harapan kita hanya kepada manusia atau harta kita? Alkitab mencatat bahwa orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan akan diberkati (Yeremia 17:7-8). Bahkan orang yang menantikan Tuhan akan selalu menarik perhatian Allah ( Mazmur 33:18 Ratapan 3:25-26).

1 Timotius 6:17, berkata bahwa Paulus memberi nasehat kepada Timotius agar menasehatkan jemaat yang dilayaninya untuk menaruh pengharapannya hanya kepada Allah, bukan kepada sesuatu yang fana, yaitu harta. Jadi, orang yang berharap penuh kepada Tuhan adalah orang yang mencintai Firman dan doa, sebab ia menyadari bahwa sumber pengharapannya hanya kepada Allah.

2. Mengikat menjadi satu
Seperti tiga utas tali yang digabung menjadi satu sehingga menjadi kuat. Artinya, seseorang yang mengikatkan diri dengan Tuhan akan menjadi seseorang yang kuat dan tidak dapat dipisahkan.

Roma 8 :35-36, 39, Paulus berkata bahwa masalah, aniaya tidak akan bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Inilah orang-orang yang menantikan Tuhan. Ketika ia mengikatkan diri dari Tuhan maka tidak ada satupun yang dapat memisahkan ia dari Tuhan.

Sama seperti Ayub yang menyadari bahwa karena ia telah mengikatkan diri kepada Tuhan maka masalah hanya akan membuat hubungannya dengan Tuhan semakin kuat dan semakin murni dihadapan-Nya (Ayub 23:10). Oleh sebab itu, kita harus menyatu dengan Tuhan, dengan kehendak Tuhan, dengan cara-cara Tuhan. Apabila masih ada kehendak kita yang lebih menonjol, kedagingan kita yang lebih menonjol atau cara kita yang lebih menonjol, ini berarti kita belum mengikatkan diri dengan Tuhan. Sebab orang yang mengikatkan diri dengan Kristus adalah orang-orang yang menaruh pikiran dan perasaannya kepada Kristus (Filipi 2:5; Fil 4:8). Yesaya 58:1-2, berkata bahwa dosalah yang membuat doa kita tidak didengar. Namun apabila kita mengikat diri dengan Tuhan maka doa kita akan didengar bahkan Allah akan bertindak menjawab doa kita bahkan hidup kita akan berbuah (Yohanes 15:3).

3. Menunggu atau menanti dengan sabar.
Sebuah pohon yang ditanam tidak mungkin langsung mengeluarkan buah. Namun harus dimulai dari biji atau benih dan butuh waktu sampai ia menjadi besar dan mengeluarkan buah. Demikian juga kita. Apabila kita menantikan Tuhan, kita harus menunggu dengan sabar sampai apa yang dinantikan dijawab Tuhan.

Kesabaran ini adalah bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Apabila kita berkata bahwa kita adalah orang yang mengasihi Allah, maka kita akan menunggu Dia dengan sabar. Orang-orang yang mempunyai kesabaran dalam menanti Tuhan adalah orang-orang yang memiliki kesanggupan untuk bertahan dalam menghadapi penderitaan ( 2 Korintus 1:6; 2 Timotius 4:5). Menantikan Tuhan adalah cara Tuhan untuk memproses kita (Mazmur 25:5).

Ada jaminan bagi orang yang menantikan Tuhan.
1). Mendapat kekuatan baru (Yesaya 40:31a)
Kekuatan ini yang akan menjaga pengharapan kita kepada Tuhan.
2). Naik terbang (Yesaya 40:31b)
Artinya, orang yang dapat mengatasi setiap persoalan dan pergumulan.
3). Ketahanan (Yesaya 40: 31c)
Hal ini bararti bahwa orang-orang ini akan bertahan hingga mencapai garis akhir.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, jadilah orang percaya yang terus menantikan Tuhan dengan pengharapan penuh kepada-Nya, dan terus mengikatkan diri dengan-Nya menjadi satu, serta tetap terus setia dan bertahan dengan sabar dalam situasi yang sukar sekalipun, maka Tuhan yang akan memberkati kita, dan kita akan menjadi orang-orang yang berkemenangan dalam pergumulan hidup. Amin.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *