TANGGUNG JAWAB SEBAGAI ANAK – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya – Minggu, 23 Agustus 2020)

Matius 21:28-30

PENDAHULUAN
Perumpamaan ini sangat menarik karena secara umum melambangkan dua jenis manusia, yaitu :

  1. Mereka yang perkataannya lebih baik dari pada kelakuannya – dilambangkan sebagai anak pertama.
  2. Kelakuannya lebih baik dari pada perkataannya – dilambangkan sebagai anak yang kedua.

Keduanya memiliki perintah yang sama dari ayah yang sama. Hal ini berarti bahwa perumpamaan ini tidak berbicara tentang orang duniawi dan anak Tuhan, tetapi keduanya adalah anak- anak Tuhan. Namun sebagai anak-anakNya, sudah seharusnya kita menjadi orang-orang yang melakukan kehendak Bapa.  Mana lebih baik mengatakan “ya” tetapi tidak melakukan, atau mengatakan “ tidak” tetapi melakukan? Ini adalah pertanyaan Tuhan Yesus kepada para imam dan tua-tua Yahudi, karena mempertanyakan dari mana kuasa Yesus dan baptisan Yohanes. Para imam dan tua-tua Yahudi adalah pemimpin-pemimpin agama seperti anak sulung dalam kisah ini. Merekalah yang pertama mendapat firman Tuhan, tetapi mereka justru tidak menindaklanjuti dengan mempercayai dan melakukan firman itu, sebaliknya malah menolak (Lukas 10:25-29).

Tabiat orang Yahudi sebagai anak yang pertama ini, ingin selalu diajar tetapi tidak pernah mau melakukan, sehingga seperti yang tercatat dalam 2 Timotius 3:7 “Yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.” Akibatnya mereka tetap tinggal diluar kerajaan Allah, mereka dekat tetapi tidak masuk.

Ada juga contoh orang Yahudi lain di dalam Markus 12:33:  “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan”.

Yesus pun menjawab (Markus 12:34a), “Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan la berkata kepadanya : Engkau tidak jauh dari kerajaan Allah.” Yesus mengatakan bahwa mereka tidak jauh dari Kerajaan Allah, tetapi tetap di luar karena mereka mengerti firman tetapi tidak mengerjakannya, hal ini sama dengan penolakan.

Gambaran sebaliknya yaitu para pemungut cukai, dan perempuan sundal yang digambarkan sebagai anak yang kedua. Mengapa Yesus menggambarkan anak kedua seperti perempuan sundal dan pemungut cukai? Karena dosa mereka dianggap sebagai dosa yang terbesar bagi bangsa Yahudi. Mereka adalah para pendosa yang tidak pernah mengenal kebenaran sama sekali dan selalu berkata “tidak” untuk kebenaran, tetapi ketika mendapat panggilan dari suara kebenaran, mereka menyesali perbuatannya, bertobat dan mematuhi perintah Tuhan.

Ada dua hal yang terjadi pada gambaran anak kedua ini :
1. Pertobatan = METANOIA.
Ini merupakan hasil dari suatu perenungan yang terjadi kemudian setelah mendengar dan menerima firman Tuhan.

2. METAMELEIA – Tindakan yang terjadi kemudian. Jadi, tidak hanya berhenti di pertobatan, namun terus bertumbuh dan melayani serta mengerjakan keselamatan kita (Filipi 2:12).

Untuk mengerjakan keselamatan dibutuhkan perintah. Perintah itu tidak lain adalah firman Tuhan; firman Tuhan yang membutuhkan perhatian yang serius, dan perhatian ini hanya dapat dilakukan saat pertemuan ibadah. Anak sulung bisa menjadi gambaran anak Tuhan zaman sekarang. Cepat menanggapi ya, tetapi tidak melakukan perintah Tuhan. Mengapa? Karena ia terbiasa dengan kenyamanan dan menjauhi persekutuan terhadap perintah bapanya.

  • Fokus hidupnya pada kepentingannya sendiri bukan kepentingan bapanya. Awalnya mungkin timbul rasa yang tidak enak, namun lama-kelamaan menjadi terbiasa. Sebuah peringatan dalam Ibrani 10:25 berkata, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

Jika seseorang mengaku telah menerima firman Tuhan dan percaya, tetapi tidak berlanjut pada hidup menuruti perintah Tuhan, maka ia sama seperti orang Yahudi. 2 Timotius 3:5 berkata, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”

Yesaya 29:13 “Dan Tuhan telah berfirman: Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.” (Bandingkan dalam Matius 15:8-9; Markus 7:6-7).

Mengapa para pemimpin agama Yahudi ini sangat sulit untuk percaya dan bertobat?

  1. Mereka menganggap diri lebih tinggi dari pada kebanyakan orang. Mereka beranggapan bahwa yang perlu bertobat hanyalah orang berdosa.
  2. Mereka dibutakan oleh status mereka.

Mereka merasa sebagai pemimpin dan pengajar agama tidak mungkinlah ditolak oleh Tuhan. Status mereka membutakan mereka untuk bertobat. Hal yang samapun bisa terjadi dimasa sekarang ini, para aktivis rohani kehilangan kepekaan akan kebutuhan pembaharuan hidup dan ketaatan kepada firman.

Tuhan membutuhkan keterbukaan hati kita untuk terus diproses hari demi hari dengan kebenaran firman Tuhan yang harus kita hidupi sampai menjadi sempurna dan tidak ada lagi ketelanjangan dalam hidup kita. Dosa identik dengan ketelanjangan. Kejadian 3:7a berkata “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang.”

Bagaimana Allah menutup kembali ketelanjangan kita?

  • Pertama: Menebus kita dari kematian akibat dosa lewat pengorbanan-Nya di kayu salib.
  • Kedua : Menutup ketelanjangan kita dengan pakaian kebenaran-Nya (Wahyu 19:8).

Di mata Tuhan kita semua telanjang, dosa membuat kita kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Pakaian kebenaran Tuhan adalah firman-Nya. Setiap kali kita mendengar firman Tuhan dan melakukannya, sesungguhnya kita sedang merajut pakaian kita sendiri sampai tertutup ketelanjangan kita dan sempurna seperti mengenakan Kristus (Roma 13:14).

KESIMPULAN
Jadilah pengikut Tuhan yang mengerjakan kedua hal, yaitu: mengatakan ya terhadap firman dan juga mengerjakan perintah Tuhan sebagai tanggung jawab kita menjadi anak-anak-Nya. Karena hal inilah yang membawa makna penting dalam kehidupan setiap orang kristen  yang membawa dampak pada kehidupannya sendiri (Matius 7: 24).

Orang yang mendengar dan melakukan perintah Tuhan, ia disebut sebagai orang yang bijaksana, memiliki kecerdasan rohani. Sebaliknya dalam Matius 7:26 berkata bahwa  orang yang mendengar Firman Tuhan tetapi tidak melakukannya, ia disamakan dengan orang yang bodoh (Matius 7: 27).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *