RENCANA ALLAH BAGI ANDA – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya-Minggu, 20 September 2020)

Apa kabar jemaat? Semoga di tengah-tengah pandemi ini Anda tetap memiliki:

  • Iman bahwa Allah yang memegang dan memelihara hidup Anda (Matius 10:29-31),
  • pengharapan akan masa depan dimana yang lama akan digantikan yang baru (Wahyu 21:4),
  • dan kasih kepada Allah karena IA terlebih dahulu mengasihi kita (1Yohanes 4:19).

Iman, pengharapan, dan kasih akan menuntun kita untuk lebih lagi rindu mengenal DIA dan FirmanNYA. Itulah mengapa meskipun ditengah pandemi, kita tetap bersekutu baik secara on-site (dalam satu tempat), maupun secara online/daring (dalam jaringan internetlive streaming).

Saya berharap selesai dari ibadah ini Anda semakin mengenal apa rencana besar Allah dalam hidup kita sebagai ciptaanNYA (secara umum) dan sebagai umat pilihanNYA (secara khusus). Pertama-tama, saya ingin menjelaskan apa rencana besar Allah dalam hidup manusia, ciptaan Allah yang termulia (Kejadian 1:26).

RENCANA ALLAH: DI BUMI SEPERTI DI SURGA
Saya menyampaikan hal ini terinspirasi dari yang disampaikan Tim Mackie, seorang hamba Tuhan, profesor di kampus Kristen, dan pemimpin kreatif dari Bible Project (YouTube channel yang mengedukasi tentang Alkitab).

Kita sering dihadapkan dengan kesempatan-kesempatan untuk menjelaskan iman kita kepada Allah yang kita kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kesempatan ini Anda bisa dapatkan di dalam pembicaraan dalam keluarga inti (orang tua dan anak-anak) atau pembicaraan dengan keluarga besar (kakek-nenek, kakak-adik, sepupu, dan sanak saudara lain), atau bisa jadi di tempat studi, tempat kerja, dan tempat lain dimana Anda sedang beraktivitas.

Kalau boleh disederhanakan kira-kira begini pola pikir orang kebanyakan tentang rencana besar Allah terhadap manusia. “ALLAH” menciptakan “MANUSIA” untuk hidup di “BUMI” dan menjalani hari-harinya dengan berbuat baik atau jahat, dan pada akhirnya perbuatan-perbuatan itu menentukan mereka masuk ke dalam “SURGA” atau “NERAKA” yang sudah disiapkan.

Tetapi bagi kita yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman (dalam bentuk tertulis) yang dilhamkan Allah (2Timotius 3:16a) maka kita bisa berkata kepada orang yang memiliki pola pikir seperti ini bahwa pola itu tidak sama dengan yang tertulis di dalam Alkitab. Mereka berpikir atau berasumsi bahwa urutan itu adalah iman Kristen, tetapi sebenarnya tidak.

Lalu apa kata Alkitab? Mari kita bahas secara singkat saja dalam tiga sub-bagian, yang bisa menjadi tiga khotbah yang berbeda. Tetapi saya rasa penjelasannya akan saya persingkat seperti ini.

1. Allah menciptakan bumi untuk manusia.
Saya rasa saya pernah menyampaikan hal ini, bahwa manusia diciptakan di hari ke-enam, saat semua yang di bumi sudah siap. Anda bisa melihat kasih Allah bahkan dari urutan penciptaan di Kejadian 1. Menariknya Allah tidak pernah disebutkan menciptakan neraka. Kita setuju mengenai ini, bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Dari Yesaya 66:1 kita mengerti bahwa langit adalah tahta Allah. Manusia ditempatkan di bumi untuk berkuasa atasnya. Kejadian 1:28. Jadi kapan Allah menciptakan neraka?

  • Allah menciptakan yang baik, iblis menipu manusia.

Segala sesuatu yang baik datang dari Allah dan bukan yang jahat. IA tidak dapat dicobai dan tidak mencobai (mendatangkan kejahatan). Yakobus 1:13. Sehingga kejahatan timbul dari mana? Yesus berkata dalam Matius 7:21-22, segala sesuatu yang jahat itu datang dari dalam hati. Jika kita melihat tulisan mengenai raja Tirus yang adalah gambaran kejatuhan iblis maka kita melihat dari kondisinya yang sempurna sebagai maha malaikat (Anda bisa cek khotbah Pdt. J.S. Minandar di www.gpdimahanaim-tegal.org tentang “maha malaikat”), ia jatuh saat kecurangan (dalam Bahasa aslinya bisa berarti “kejahatan”) timbul dalam dirinya. Yehezkiel 28:15. Itulah mengapa saat manusia ada di taman Eden, ia berusaha menimbulkan “yang jahat” di dalam diri manusia, yang kisahnya dapat Anda baca di Kejadian 3. Lalu mana nerakanya?

  • Allah menginginkan persekutuan dengan manusia.

Yesaya 59:2. Saya rasa ayat ini sering kita baca dengan konteks Allah yang marah kepada umatnya, dan memang demikian jika kita melihat keseluruhan pasal itu. Tetapi kalau Anda melihatnya dari apa yang Yesus katakan dan janjikan di Yohanes 14:3, maka saya melihatnya adalah kisah sedih namun romantis yang Allah lakukan demi manusia. Bumi dan surga harusnya bersatu, dimana Allah berada disitulah manusia. Kejadian 3:8. Tetapi manusia lari dan bersembunyi, singkat cerita mereka diusir dari taman Eden, maka terpisahlah bumi dan surga.

Setelah kejatuhan manusia, momen dimana bumi dan surga terhubung adalah saat Allah hadir dalam persembahan korban manusia. Ini yang kemudian kalau kita lihat menjadi konsep Tabernakel (Keluaran 40:34) dan kemudian Bait Allah bagi Israel (2Tawarikh 7:1). Namun korban ini harus dipersembahkan ulang setiap saat manusia bersalah. Inilah yang kemudian digenapi di dalam Yesus (Ibrani 10:1, 14) dari korban yang berkali-kali harus dipersembahkan, IA menjadi korban yang sempurna, sekali untuk selamanya.

Namun demikian Allah tidak bisa berkompromi dengan kejahatan, seperti terang yang tidak mungkin bersatu dengan gelap. 1Yohanes 1:5-6. Itulah mengapa kemudian mereka yang memilih untuk tinggal didalam gelap, harus dipisahkan (tempat pemisahan inilah neraka, dimana Allah tidak berdiam disana). Wahyu 20:14-15. Karena mereka yang akan bersekutu dengan Allah harus tinggal dalam terang. Wahyu 22:3-5.

RENCANA ALLAH: BALA TENTARA / PASUKAN ALLAH
Sebagai umat pilihan Allah kita tahu ada misi yang khusus yang kita emban seperti yang kita lihat di penjelasan tentang rencana Allah, kita menjadi agen Allah untuk menyebarkan “keharuman pengenalan akan DIA.” 2Korintus 2:14-16. Ini selaras dengan maksud Allah di Perjanjian Lama tentang orang pilihanNYA supaya “semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Kejadian 12:3.

Hal ini kemudian dinyatakan dalam keturunan Yakub atau juga dikenal sebagai Israel. Dalam salah satu kisah perjalanan Yakub disebutkan bahwa Yakub lari dari rumah Laban, mertuanya, setelah berulang kali diperlakukan tidak adil. Kejadian 31:38-42. Setelah ia berargumen dengan Laban, kemudian Laban meninggalkan rombongan Israel. Ketika melanjutkan perjalanannya Israel menamakan tempat pertemuan dengan malaikat-malaikat Allah, Mahanaim. Mahanaim diterjemahkan di Alkitab terjemahan Indonesia sebagai “bala tentara Allah” seperti tertulis di Kejadian 32:2 (TB).  Sementara di Alkitab terjemahan Bahasa Inggris, ditulis “God’s Camp” (NKJV).

Jadi mari kita pelajari dari asal katanya. Menariknya ketika Anda mempelajari bahasa Ibrani maka ada kata yang berasal dari gabungan dua kata. Mungkin sama seperti kata serapan yang masuk ke Bahasa Indonesia seperti “a” dan “moral” kemudian menjadi satu kata “amoral”. Dalam bahasa Ibrani kata “Mahanaim” terdiri dari dua kata, yang pertama “makhaneh” yang artinya “tenda, atau kumpulan orang di satu tempat”, dan yang kedua “shenayim” seperti yang ada di ayat 7. Sebenarnya kata “im” itu untuk menunjukkan bentuk plural, seperti di kata Elohim atau Yahudi(m).

Jadi apa itu Mahanaim? Kumpulan dari keturunan Illahi (1Petrus 2:9), yang diperanakkan karena iman (Galatia 3:14, 4:4-7), diperlengkapi oleh kuasa (Kisah Para Rasul 1:8), dan dikumpulkan kepada suatu kumpulan besar malaikat Tuhan, kepada Yesus sendiri yang menebus kita dengan darahNYA, darah Perjanjian Baru (Ibrani 12:22-24).

Bagaimana? Apakah Anda bisa melihat betapa indah, baik, dan mulianya rencana Allah bagi Anda? Jangan berhenti sekarang, apapun yang sedang Anda alami, tetap pelihara iman, pengharapan, dan kasih kepada DIA, Tuhan Yesus Kristus yang menjelaskan rencanaNYA bagi kita.

BERTAHAN DALAM PENCOBAAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 13 September 2020)

Yakobus 1:12
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Keberhasilan dalam pertandingan kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kehebatan dan kekuatan semata, tetapi juga kemampuan untuk bertahan ditengah-tengah gempuran kesulitan dan tantangan. Tanpa kemampuan untuk bertahan maka segala yang kita kerjakan akan sia-sia. Semua yang kita mulai tak pernah dapat diakhiri. Ketahuilah bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang, ditengah-tengah perjalanan inilah kita akan menghadapi banyak tantangan, kesulitan, perlawanan dan seribu satu kesukaran lainnya. Bagi mereka yang tidak memilik kekuatan untuk bertahan akan gugur di tengah jalan, tetapi mereka yang terus bertahan akan menikmati kemenangan. Firman Allah berkata: Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Mat 24:13) 

Oleh sebab itu, jika kita ingin mengalami kemenangan, maka bertahanlah! Jangan menyerah, tetaplah bertahan hingga tiba di garis akhir pertandingan iman. Tak peduli berapa lamban engkau berjalan asal engkau tetap bertahan engkau pasti sampai kepada tujuan. Biar pelan asal saja tidak berhenti, kita pasti dapat mengakhiri.Firman Allah hari ini berkata: Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Dari ayat ini kita dapat menemukan beberapa rahasia untuk bertahan dalam pencobaan.

1. Terimalah pencobaan sebagai anugerah bukan musibah.
Perhatikanlah kalimat pertama dari ayat ini: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan.”

Kata “Pencobaan” dalam bahasa Yunani ditulis dengan kata: πειρασμός – peirasmos,  yang berarti: percobaan, pengalaman, membuktikan. Jadi Peirasmos artinya mencoba mengetahui dari pengalaman atau mencoba mengetahui melalui pencobaan. Secara umum kata ini menunjuk kepada kesulitan dan penderitaan.

Hidup tidak akan lepas dari masalah, akan selalu ada pencobaan yang diperhadapkan. Namun yang menjadi persoalannya bukan pencobaan yang terjadi tetapi bagaimana cara kita menyikapi, bukan apa yang kita alami tetapi bagaimana cara kita menghadapi. Ini berbicara cara padang. Bagaimana cara kita memandang pencobaan, itu akan menentukan kekuatan kita untuk bertahan.

Orang-orang yang bertahan dalam pencobaan adalah mereka yang menganggap/memandang pencobaan sebagai anugerah bukan musibah. Sikap menghindari atau menolak pencobaan hanya akan membuat pencobaan terasa makin berat, tetapi dengan bersyukur dan menerima pencobaan sebagai anugerah dari Allah akan menjadikan pencobaan sebagai sumber kebahagiaan dan sekaligus menjadi tumpuan keberhasilan.

Dalam kekristenan kita semua harus menyadari bahwa kita dipanggil bukan saja untuk percaya, tetapi juga untuk menderita bagi Dia. Firman Allah dengan terbuka menyampaikan bahwa salah satu panggilan kekristenan adalah penggilan untuk menderita bersama DIA.

Fil. 1:29
Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

Kisah Rasul. 14:22
Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.

Mazmur  119:71
Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.

Sadarilah bahwa berkat tidak selalu datang dalam bentuk kemenangan, keuntungan atau hal-hal yang menyenangkan. Berkat terkadang tersembunyi dibalik musibah, penderitaan dan rasa sakit.  Cobalah sejenak kita melihat kembali kebelakang, 20 atau 30 th yang lalu. Siapa kita? Dulu kita bukan siapa-siapa, dulu kita tidak punya apa-apa. Tetapi jika saat ini kita dapat menjadi seperti ini, siapakah yang paling berjasa dalam hidup kita? Renungkanlah sejenak dan jawablah dengan jujur pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

a. Siapakah yang membuat hidup Anda maju? Ujian atau pujian?
b. Siapakah yang membesarkan hidup Anda? Kemudahan atau kesulitan?
c. Apakah yang membuat kita bertumbuh menjadi pribadi yang kuat? Hinaan atau sanjungan?
d. Apakah yang membuat kerohanian Anda bertumbuh? Kenyamanan atau kesukaran?
e. Kapankah doa-doa kita terasa paling dalam dengan Tuhan? Saat suka atau duka?
f. Kapan kita mengenal dan mengalami Tuhan? Dalam penderitaan atau kesenangan?

Sejujurnya, hidup kita lebih banyak dibentuk oleh ujian, kesukaran, hinaan, tekanan, duka dan penderitaan. Merekalah yang paling berjasa membesarkan dan menjadikan kita kuat, kokoh dan tegar dimasa-masa sukar. Oleh sebab itu sekali lagi terimalah pencobaan dan ujian hidup sebagai anugerah bukan sebagai musibah. Amin?!

 Ayub 36:15
Dengan sengsara Ia menyelamatkan orang sengsara, dengan penindasan Ia membuka telinga mereka.

Inilah cara Tuhan menolong orang sengsara. Tuhan tidak mengangkat kesengsaraan yang mereka alami, Tuhan justru memberi sengsara sebagai jawaban dan jalan keluarnya. Apapun yang engkau alami bertahanlah dalam pencobaan, jangan lari dari kesulitan, jangan hindari penderitaan karena semuanya itu mengantar kita kepada keberhasilan.

Ingatlah, sebagaimana mutiara cemerlang karena goresan, maka tidak ada kemenangan, keberhasilan, kesuksesan tanpa tantangan. Dalam Ibrani 11 didaftarkan tokoh-tokoh iman. Dari semuanya tokoh iman yang disebutkan, semuanya memiliki satu persamaan yaitu: penderitaan. Ketahanan mereka untuk bertahan dalan pencobaan dan ujian kehidupan menjadikan mereka layak disebut orang-orang beriman. Bagaimana dengan kita? Jangan takut hadapi pencobaan, sebab dalam pencobaan Tuhan memberi pertolongan. Dalam Ibrani 2:18 firmanNya berkata: Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

2. Sadarilah pencobaan adalah sebuah ujian bukan hukuman
Yakobus 1:12
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Sadarilah bahwa pencobaan diijinkan terjadi bukan sebagai hukuman dari Tuhan tetapi sebagai ujian bagi anak-anak Tuhan. Pencobaan datang untuk menguji kualitas dan sekaligus menaikan kelas. Tanpa ujian kita tidak akan tahu apakah kita ini adalah orang-orang yang tangguh atau orang yang rapuh, apakah kita adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada kebenaran atau runtuh dihantam pencobaan.

Ayub 23:10
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

Walau didera dengan berbagai ujian, kesulitan dan penderitaan Ayub tetap bertahan sebab ia memiliki keyakinan bahwa semua pencobaan yang dialaminya adalah ujian yang akan membawanya makin berkilau seperti emas.

Jika pencobaan adalah sebagai ujian yang akan meningkatkan kualitas hidup kita seperti emas, maka dalam hidup ini kita harus memutuskan: Apakah kita hidup mengejar sukses atau hidup bernilai? Mengejar keberhasilan atau kemuliaan?

3. Pandanglah kepada mahkota kehidupan yang dijanjikan.
Yakobus 1:12
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Agar dapat bertahan dalam pencobaan, maka jangan lihat apa yang terjadi, kesulitan yang engkau alami, tetapi lihatlah hadiah yang akan Tuhan berikan kepadamu. Dalam berbagai perlombaan, kita melihat orang-orang yang gigih berjuang di arena pertandingan. Mereka mengabaikan rasa lelah, haus bahkan rasa sakit yang mereka derita dan tetap berjuang demi mendapatkan kemenangan agar dapat meraih hadiah yang disediakan. Kepada kita Tuhan tidak menjanjikan hadiah yang fana, Tuhan menyediakan mahkota kehidupan. Sebab itu bertahanlah, jangan menyerah, terus melangkah sebab ada hadiah kekal yang tersedia.

Rom 8:18
Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

2Co 4:17, 18
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Bertahanlah dalam pencobaan, Tuhan memberkati. KJP!

KUASA DOA SYAFAAT- oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya Minggu – 06 September 2020)

Kejadian 20:17-18

“Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak. Sebab tadinya TUHAN telah penutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, isteri Abraham itu.”

PENDAHULUAN
Kisah ini terjadi setelah Allah menghukum Sodom dan Gomora. Saat itu Abraham tinggal di Kanaan sebagai orang asing, sebab pada saat itu Kanaan belum menjadi milik Israel. Israel (keturunan Abraham) baru menerima Kanaan (tanah perjanjian) setelah bangsa Israel bebas dari Mesir. Karena rasa takut yang luar biasa sebab Abraham menumpang di wilayah kekuasaan Abimelekh yang rakyatnya sangat kejam, Abraham meminta agar Sara mengakui bahwa Abraham adalah saudaranya. Demikian juga sebaliknya. Namun Allah tidak pernah membiarkan rencana-Nya gagal sehingga Allah datang dalam mimpi Abimelekh (Kejadian 20:3-7). Allah menegur Abimelekh dengan keras dalam mimpi itu.

Kejadian 20:8, Allah menyuruh Abimelekh untuk mengembalikan Sara agar Abimelekh tetap hidup. Tetapi bila Abimelekh tidak mau menuruti perintah Tuhan, maka ia akan mati. Setelah itu Abimelekh memanggil semua hambanya dan menceritakan mimpi itu.

Kejadian 20:14 berkata bahwa, Abimelekh memberi seribu syikal perak, hamba laki dan perempuan serta mengembalikan Sara, isteri Abraham. Dan Allah menyuruh Abimelekh untuk meminta agar Abraham berdoa syafaat baginya. Setelah Abimelekh didoakan karena ia mengembalikan Sara, maka doa syafaat itu berdampak luar biasa bagi Abimelekh, sebab istri dan para budak-budaknya awalnya mandul namun setelah didoakan, mereka melahirkan anak-anak. Hasil doa syafaat itu bukan hanya berdampak bagi Abimelekh tetapi juga berdampak kepada Abraham. Setelah Abraham berdoa syafaat untuk Abimelekh maka, Kejadian 21:1-3 menceritakan bahwa Sara melahirkan anak diusia sembilan puluh tahun. Abraham telah menunggu anak ini selama dua puluh lima tahun. Doa syafaat membuat sesuatu yang mustahil menjadi tidak mustahil. Tidak rugi apabila kita berdoa untuk orang lain, sebab doa syafaat ini bukan hanya berdampak kepada orang yang kita doakan, tetapi juga berdampak bagi kehidupan kita. Abraham tidak berdoa mengenai hal-hal yang buruk kepada Abimelekh, namun Abraham berdoa dan memberkati Abimelekh sehingga Abraham pun diberkati.

Selain Abraham, ada tokoh lain yang diceritakan didalam Alkitab yang melakukan doa syafaat bagi orang lain, yaitu Ayub. Salah satu gelar Ayub adalah orang saleh sebab Ayub suka berdoa syafaat.

1. Doa syafaat Ayub untuk anak-anaknya
Ayub mendoakan anak-anaknya (Ayub 1:5). Oleh doa syafaat Ayub ini maka anak-anak Ayub selamat dari kebinasaan kekal sehingga ketika Tuhan melipatgandakan kekayaan Ayub, bukan hanya harta Ayub yang dilipatgandakan, tetapi Allahpun melipatgandakan anak-anaknya. Artinya, sepuluh anak Ayub hidup di sorga namun Tuhan menambahkan sepuluh anak bagi Ayub di bumi.

2. Doa syafaat Ayub untuk isterinya
Tidak ada catatan yang menulis bahwa Ayub bersyafaat untuk isterinya. Tetapi kalau kita membaca dalam kitab Ayub 2:10, maka dalam ayat ini tersirat bahwa setelah Ayub marah maka Ayub melakukan doa syafaat bagi isterinya agar Tuhan mengubahkan istrinya. Istri Ayub diubahkan Tuhan sehingga ia setia mendampingi Ayub sampai Ayub pulih. Dan dari rahim isterinya, Ayub diberkati oleh Tuhan bukan cuma harta Ayub yang dipulihkan, tetapi Tuhan memberi Ayub tujuh orang anak laki-laki dan tiga anak perempuan yang tercantik di negerinya.

3. Doa syafaat Ayub bagi sahabat-sahabatnya
Tiga sahabat Ayub yaitu Elifas, Bildad dan Zofar datang menemui Ayub karena begitu mengasihi Ayub. Tetapi ketika mereka melihat kondisi dan keadaan Ayub, tanpa bertanya terlebih dahulu, ketiga sahabat Ayub menuduh  bahwa tragedi perampokan, malapetaka, kematian anak-anak, sakit penyakit dan berbagai penderitaan yang Ayub alami bukan terjadi tanpa sebab. Mereka menuduh Ayub bahwa semua yang terjadi akibat dari kejahatan, dosa, kecurangan dan perbuatan fasik yang Ayub telah lakukan kepada Tuhan. Tuduhan sahabat-sahabat Ayub sangat menyakitkan hati dan perasaan Ayub. Tetapi, Ayub memiliki penguasaan diri untuk menahan emosinya. Ayub tidak emosi dan mengusir sahabat-sahabatnya. Dengan sabar Ayub menjadikan Tuhan sebagai saksi di depan sahabat-sahabatnya bahwa Ayub tidak melakukan kesalahan sedikitpun kepada Tuhan dan sesamanya.

Ayub 27:5
Aku sama sekali tidak membenarkan kamu! (tiga sahabat Ayub yang telah menuduh Ayub) Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah!”

Tetapi, dalam keadaan yang sangat tersakiti, Allah menyuruh Ayub mendoakan dan mensyafaati sahabat-sahabanya. Ayub 42:7,8 menceritakan bahwa Allah marah terhadap ketiga sahabat Ayub. Mereka diperintahkan untuk memberikan persembahan serta meminta agar Ayub mendoakan mereka. Hanya doa syafaat Ayublah yang dapat menyelamatkan ketiga sahabanya dari murka Allah. Ternyata dosa menuduh merupakan dosa yang berat.

Tetapi sekarang kalau kita berbuat dosa apakah kita harus mencari Ayub dan meminta agar Ayub melakukan doa syafaat untuk keselamatan kita? Tentu tidak. Sebab apabila ini menjadi syarat agar kita selamat, maka kita semua akan binasa sebab Ayub sudah mati dan dunia kematian tidak ada hubungannya dengan kita yang masih hidup. Tetapi syukur kepada Yesus. 1 Yohanes 2:1-3 berkata bahwa Yesus adalah juru syafaat atau sebagai pengantara agung yang menghubungkan kita dengan Bapa. Yesus datang menjadi pengantara bagi kita dengan Bapa yang menanggung dosa kita. Ayub artinya: permusuhan. Dari kisah tiga sahabat Ayub, kita diingatkan bahwa dosa menuduh tujuh kali lipat beratnya (sehingga Elifas dan temannya harus mempersembahkan korban tujuh ekor domba dan tujuh ekor kambing).

BERKAT DOA SYAFAAT
Setelah Ayub mendoakan Elifas, Bildad dan Zofar, yaitu orang yang sudah menyakiti Ayub, maka Allah memulihkan keadaan Ayub (Ayub 42:10).

KESIMPULAN
Dari kisah-kisah di atas, kita belajar untuk mensyafaati orang-orang disekeliling kita, sebab ada kuasa yang besar dibalik doa syafaat. Sering kali kita juga diperhadapkan dengan orang-orang yang menyakiti hati kita. Namun, hari ini kita belajar seperti Abraham, Ayub, terlebih Yesus bahwa kita diminta untuk mensyafaati orang-orang yang menyakiti kita. Apabila kita melakukan hal ini, maka Allah akan memberikan berkat-Nya dan memulihkan keadaan kita.

MEMANDANG YESUS – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya – Minggu, 30 Agustus 2020)

Ibrani 3:1-6

Surat Ibrani ditulis untuk orang-orang Ibrani di perantauan dengan beberapa tujuan, salah satu tujuannya adalah agar mereka memiliki komitmen untuk terus memandang kepada Yesus. Orang Ibrani yang menjadi pengikut Yesus pada saat itu mengalami banyak aniaya dan pencobaan dari orang-orang yang membenci mereka. Ada beberapa faktor mengapa kita diminta untuk memandang kepada Yesus.

1. Yesus lebih tinggi dari Musa
Didalam surat ini, penulis kitab menekankan bahwa Yesus lebih tinggi dari Musa. Bagi orang Ibrani Musa adalah Nabi besar yang dijunjung tinggi oleh mereka. Tetapi sebagai pengikut Kristus mereka didorong untuk memandang hanya kepada Yesus

 2. Yesus adalah Allah yang setia
Kesetiaannya dibuktikan dengan mati bagi seluruh manusia. Ayat 1b berkata bahwa kita diminta untuk memandang kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya.

3. Yesus adalah kepala atas jemaat
Yesus adalah Anak yang setia kepada kehendak Bapa dan Yesus adalah kepala atas Rumah-Nya yaitu kita (jemaat).  Ayat 6 berkata: “Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai Rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita.” Jadi hanya Yesus yang harus menjadi satu-satunya fokus utama bagi orang percaya.

Ibrani 3:1 berkata, “Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar  yang kita akui, yaitu Yesus, yang setia.” Itu sebabnya orang percaya didorong untuk selalu memandang kepada Yesus.

4. Yesus sebagai Rasul
Rasul dalam bahasa Yunani adalah Apostolos, artinya duta besar tertinggi dari Allah yang diutus untuk dunia dengan kuasa yang Maha Tinggi.

5. Yesus sebagai Imam Besar
Imam besar dalam bahasa aslinya adalah archiereus. Imam yang melayani pendamaian yang besar antara Allah dengan dunia ini dengan darah-Nya sendiri. Imam yang melayani manusia dan Allah.

Ada beberapa hal yang kita peroleh saat memandang kepada Yesus.
1). Ada kekuatan baru
Mazmur 16:8 berkata “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan;karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Ini adalah Mazmur dari Daud. Daud berkata bahwa ia tidak akan goyah karena ia selalu memandang kepada Tuhan. Ketika Daud melihat orang fasik dalam kemujurannya namun tetap hidup didalam kefasikan, bahkan ketika Daud dalam keadaan tertindas dan terancam, seharusnya kondisi seperti ini akan membuat ia gampang tergoncangkan. Namun ia tetap berdiri kuat, beriman dan percaya karena Daud selalu memandang kepada Tuhan yang ada didekatnya.

Siapa yang kita pandang hari-hari ini? Apakah seseorang yang kuat? Seseorang yang kita yakini mampu menolong kita? Ataukah kepada kekayaan kita? Semuanya akan goyah. Namun ketika kita memandang kepada Tuhan, maka kita tidak akan goyah.

Ketika kita memandang kepada Yesus bukan berarti kita tidak akan menghadapi masalah, tetapi saat kita memandang kepada Tuhan, maka kita akan mendapat kekuatan baru.

Contoh Stevanus (Kisah Rasul 7:55). Dalam pelayanannya ketika ia akan dirajam batu, ia memandang kepada Tuhan. Stevanus bukannya luput dari rajaman batu itu, namun ia mendapat kekuatan sehingga sekalipun ia mati dirajam batu, tetapi ia mampu menanggungnya.

2). Ada pertolongan
Ibrani 2:18 berkata, “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Penulis menasehatkan bahwa ketika kita memandang Imam Besar itu, maka kita akan mendapat pertolongan.

Contoh: Elisa (2 Raja-raja 6:15-17). Raja Aram pada waktu itu ingin menyerang bangsa Israel. Namun setiap rencananya selalu gagal. Kemudian raja Aram mengetahui bahwa yang selalu memberitahu strategi mereka adalah Elisa sehingga hal ini membuat raja Aram marah dan menyerang Elisa. Bujangnya melihat bahwa gerombolan orang Aram datang dan telah mengepung mereka. Namun, Elisa meyakinkan bujangnya bahwa ada pertolongan Tuhan saat kita memandang kepadaNya. Mazmur 121:1-4 menceritakan bagaimana pemazmur bertanya-tanya dalam hatinya saat melakukan ziarah; apakah ada pertolongan di gunung? Namun ia memilih untuk memandang kepada Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, sebab Ia tidak pernah terlelap.

 3). Karena akan mendapat berkat
Bilangan 6:24-26 berkata, “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Ketika kita memandang kepada Tuhan, maka Ia akan melimpahkan berkat-Nya dalam hidup kita.

Bagaimana cara memandang Yesus? Mazmur 123:1-2

  • Memandang Tuhan di sorga
  • Memandang Tuhan seperti seorang hamba kepada tuan dan nyonyanya (penuh dengan kerendahan hati).
  • Memandang berkali-kali (tidak menyerah).

Ibrani 3:1 dalam terjemahan lama berkata : “Maka dari sebab itu, hai saudara-saudaraku yang suci, yang beroleh sama bahagian dalam panggilan sorga, amat-amatilah Rasul lagi Imam Besar yang telah kita akui, yaitu Yesus.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu teruslah memandang kepada Tuhan, sebab sekalipun kita melewati banyak tantangan kehidupan namun kita akan memperoleh kekuatan, pertolongan serta berkat yang melimpah.