BERTAHAN DALAM PENCOBAAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 13 September 2020)

Yakobus 1:12
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Keberhasilan dalam pertandingan kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kehebatan dan kekuatan semata, tetapi juga kemampuan untuk bertahan ditengah-tengah gempuran kesulitan dan tantangan. Tanpa kemampuan untuk bertahan maka segala yang kita kerjakan akan sia-sia. Semua yang kita mulai tak pernah dapat diakhiri. Ketahuilah bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang, ditengah-tengah perjalanan inilah kita akan menghadapi banyak tantangan, kesulitan, perlawanan dan seribu satu kesukaran lainnya. Bagi mereka yang tidak memilik kekuatan untuk bertahan akan gugur di tengah jalan, tetapi mereka yang terus bertahan akan menikmati kemenangan. Firman Allah berkata: Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Mat 24:13) 

Oleh sebab itu, jika kita ingin mengalami kemenangan, maka bertahanlah! Jangan menyerah, tetaplah bertahan hingga tiba di garis akhir pertandingan iman. Tak peduli berapa lamban engkau berjalan asal engkau tetap bertahan engkau pasti sampai kepada tujuan. Biar pelan asal saja tidak berhenti, kita pasti dapat mengakhiri.Firman Allah hari ini berkata: Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Dari ayat ini kita dapat menemukan beberapa rahasia untuk bertahan dalam pencobaan.

1. Terimalah pencobaan sebagai anugerah bukan musibah.
Perhatikanlah kalimat pertama dari ayat ini: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan.”

Kata “Pencobaan” dalam bahasa Yunani ditulis dengan kata: πειρασμός – peirasmos,  yang berarti: percobaan, pengalaman, membuktikan. Jadi Peirasmos artinya mencoba mengetahui dari pengalaman atau mencoba mengetahui melalui pencobaan. Secara umum kata ini menunjuk kepada kesulitan dan penderitaan.

Hidup tidak akan lepas dari masalah, akan selalu ada pencobaan yang diperhadapkan. Namun yang menjadi persoalannya bukan pencobaan yang terjadi tetapi bagaimana cara kita menyikapi, bukan apa yang kita alami tetapi bagaimana cara kita menghadapi. Ini berbicara cara padang. Bagaimana cara kita memandang pencobaan, itu akan menentukan kekuatan kita untuk bertahan.

Orang-orang yang bertahan dalam pencobaan adalah mereka yang menganggap/memandang pencobaan sebagai anugerah bukan musibah. Sikap menghindari atau menolak pencobaan hanya akan membuat pencobaan terasa makin berat, tetapi dengan bersyukur dan menerima pencobaan sebagai anugerah dari Allah akan menjadikan pencobaan sebagai sumber kebahagiaan dan sekaligus menjadi tumpuan keberhasilan.

Dalam kekristenan kita semua harus menyadari bahwa kita dipanggil bukan saja untuk percaya, tetapi juga untuk menderita bagi Dia. Firman Allah dengan terbuka menyampaikan bahwa salah satu panggilan kekristenan adalah penggilan untuk menderita bersama DIA.

Fil. 1:29
Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

Kisah Rasul. 14:22
Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.

Mazmur  119:71
Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.

Sadarilah bahwa berkat tidak selalu datang dalam bentuk kemenangan, keuntungan atau hal-hal yang menyenangkan. Berkat terkadang tersembunyi dibalik musibah, penderitaan dan rasa sakit.  Cobalah sejenak kita melihat kembali kebelakang, 20 atau 30 th yang lalu. Siapa kita? Dulu kita bukan siapa-siapa, dulu kita tidak punya apa-apa. Tetapi jika saat ini kita dapat menjadi seperti ini, siapakah yang paling berjasa dalam hidup kita? Renungkanlah sejenak dan jawablah dengan jujur pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

a. Siapakah yang membuat hidup Anda maju? Ujian atau pujian?
b. Siapakah yang membesarkan hidup Anda? Kemudahan atau kesulitan?
c. Apakah yang membuat kita bertumbuh menjadi pribadi yang kuat? Hinaan atau sanjungan?
d. Apakah yang membuat kerohanian Anda bertumbuh? Kenyamanan atau kesukaran?
e. Kapankah doa-doa kita terasa paling dalam dengan Tuhan? Saat suka atau duka?
f. Kapan kita mengenal dan mengalami Tuhan? Dalam penderitaan atau kesenangan?

Sejujurnya, hidup kita lebih banyak dibentuk oleh ujian, kesukaran, hinaan, tekanan, duka dan penderitaan. Merekalah yang paling berjasa membesarkan dan menjadikan kita kuat, kokoh dan tegar dimasa-masa sukar. Oleh sebab itu sekali lagi terimalah pencobaan dan ujian hidup sebagai anugerah bukan sebagai musibah. Amin?!

 Ayub 36:15
Dengan sengsara Ia menyelamatkan orang sengsara, dengan penindasan Ia membuka telinga mereka.

Inilah cara Tuhan menolong orang sengsara. Tuhan tidak mengangkat kesengsaraan yang mereka alami, Tuhan justru memberi sengsara sebagai jawaban dan jalan keluarnya. Apapun yang engkau alami bertahanlah dalam pencobaan, jangan lari dari kesulitan, jangan hindari penderitaan karena semuanya itu mengantar kita kepada keberhasilan.

Ingatlah, sebagaimana mutiara cemerlang karena goresan, maka tidak ada kemenangan, keberhasilan, kesuksesan tanpa tantangan. Dalam Ibrani 11 didaftarkan tokoh-tokoh iman. Dari semuanya tokoh iman yang disebutkan, semuanya memiliki satu persamaan yaitu: penderitaan. Ketahanan mereka untuk bertahan dalan pencobaan dan ujian kehidupan menjadikan mereka layak disebut orang-orang beriman. Bagaimana dengan kita? Jangan takut hadapi pencobaan, sebab dalam pencobaan Tuhan memberi pertolongan. Dalam Ibrani 2:18 firmanNya berkata: Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

2. Sadarilah pencobaan adalah sebuah ujian bukan hukuman
Yakobus 1:12
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Sadarilah bahwa pencobaan diijinkan terjadi bukan sebagai hukuman dari Tuhan tetapi sebagai ujian bagi anak-anak Tuhan. Pencobaan datang untuk menguji kualitas dan sekaligus menaikan kelas. Tanpa ujian kita tidak akan tahu apakah kita ini adalah orang-orang yang tangguh atau orang yang rapuh, apakah kita adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada kebenaran atau runtuh dihantam pencobaan.

Ayub 23:10
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

Walau didera dengan berbagai ujian, kesulitan dan penderitaan Ayub tetap bertahan sebab ia memiliki keyakinan bahwa semua pencobaan yang dialaminya adalah ujian yang akan membawanya makin berkilau seperti emas.

Jika pencobaan adalah sebagai ujian yang akan meningkatkan kualitas hidup kita seperti emas, maka dalam hidup ini kita harus memutuskan: Apakah kita hidup mengejar sukses atau hidup bernilai? Mengejar keberhasilan atau kemuliaan?

3. Pandanglah kepada mahkota kehidupan yang dijanjikan.
Yakobus 1:12
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Agar dapat bertahan dalam pencobaan, maka jangan lihat apa yang terjadi, kesulitan yang engkau alami, tetapi lihatlah hadiah yang akan Tuhan berikan kepadamu. Dalam berbagai perlombaan, kita melihat orang-orang yang gigih berjuang di arena pertandingan. Mereka mengabaikan rasa lelah, haus bahkan rasa sakit yang mereka derita dan tetap berjuang demi mendapatkan kemenangan agar dapat meraih hadiah yang disediakan. Kepada kita Tuhan tidak menjanjikan hadiah yang fana, Tuhan menyediakan mahkota kehidupan. Sebab itu bertahanlah, jangan menyerah, terus melangkah sebab ada hadiah kekal yang tersedia.

Rom 8:18
Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

2Co 4:17, 18
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Bertahanlah dalam pencobaan, Tuhan memberkati. KJP!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *