MENAPAKI HARI BERSAMA TUHAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 20 Desember 2020)

Matius 2:1-12

Pendahuluan
Tidak terasa kita sudah berada dipenghujung tahun 2020, 10 hari lagi kita akan tinggalkan tahun ini dan memasuki tahun baru 2021. Tentunya ada banyak pengalaman yang telah kita lalui sepanjang tahun ini, lebih-lebih tahun ini menjadi tahun yang tersulit yang pernah kita lalui karena pandemi Covid yang terjadi. Apapun keadaannya, kehidupan harus tetap berjalan. Sesulit apapun kondisi yang kita alami, hidup ini tidak boleh berhenti. Kita harus tetap menjalani hidup ini hingga garis akhir perjalanan nanti. Itulah sebabnya pada hari ini kita akan belajar bagaimana menapaki hari-hari kedepan bersama dengan Tuhan.

Matius 2:1-12
Dikisahkan bahwa  sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem. Melalui tuntunan bintang mereka mencari bayi Yesus yang baru dilahirkan. Meski perjalanan yang ditempuh sangat jauh, menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan diperjalanan, serta menghabiskan banyak uang dan perbekalan, pada akhirnya rombongan orang-orang Majus ini berjumpa dengan Yesus bersama Maria dan Yusuf di rumahnya. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. Itulah kisah perjalanan orang-orang majus yang mencari Yesus.

Sebelum kita membahas kisah perjalanan orang majus ini, marilah kita melihat terlebih dahulu, siapakah yang disebut orang-orang Majus ini.

Tentang orang majus
Ayat 1  Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem

Orang-orang Majus : dalam bahasa Yunani ditulis dengan kata magoi (bentuk jamak dari magos), tetapi Alkitab tidak memberitahukan siapa sebenarnya mereka. Para penerjemah biasanya menerjemahkannya dengan “orang-orang bijaksana” (“wise men”) karena mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian tentang perbintangan dan ilmu lain.

Darimana orang-orang majus berasal?
Alkitab hanya memberi keterangan bahwa orang-orang majus ini berasal dari Timur. Kata Timur : ditulis dengan kata anatolē (“timur”), secara hurufiah berarti “tempat terbitnya matahari”, sehingga tepat jika diterjemahkan “timur”. Sebagian besar penafsir Alkitab menduga para majus berasal dari Babilonia atau Persia. Selain dari sisi geografis baik Babel maupun Persia sama-sama terletak di sebelah timur, dua kerajaan ini juga terkenal karena ilmu perbintangannya, apalagi di kemudian hari negara Babel juga dikalahkan oleh Media-Persia.

Jika kita memperhatikan tempat asal orang-orang majus ini dan jarak yang mereka tempuh, tentu perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah. Ada banyak kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi diperjalanan. Pada awalnya mereka melihat bintang di Timur sebagai penanda lahirnya seorang raja, lalu melalui pimpinan bintang itu mereka memulai perjalanan mencari raja yang baru dilahirkan. Rupa-rupanya bintang itu tidak selalu nampak menyertai perjalanan mereka, ada waktunya dimana bintang itu hilang sehingga mereka harus berjalan tanpa tuntunan bintang. Orang-orang majus harus terus berjalan meski tanpa tuntunan, arah dan alamat yang jelas sampai mereka menemukan raja yang baru dilahirkan. Puji Tuhan, oleh pertolongan Tuhan, pada akhirnya mereka menemukan Yesus dalam sebuah rumah bersama dengan orang tuanya.

Hidup adalah sebuah perjalanan.
Hidup adalah sebuah perjalanan, maka tugas kita hanya berjalan dan terus berjalan, hingga kita sampai di tempat tujuan. Perjalanan ini diawali saat kita dilahirkan dan akan diakhiri saat kita meninggalkan dunia ini. Pertanyaannya? Bagaimana cara kita mengakhiri perjalanan hidup ini dengan baik. Bagaimanakah cara kita memenangkan perjalanan yang kita lakukan. Melalui kisah perjalanan orang majus ini, marilah kita belajar menapaki hari bersama Tuhan sampai kita meraih keberhasilan.

Prinsip-prinsip menapaki hari bersama dengan Tuhan
1. Fokuslah kepada siapa yang menyertai, bukan jalan yang kita lalui.

Perhatikanlah ayat 2 dan 9
Mat 2:2  dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Mat 2:9  Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

Apakah yang membuat orang-orang majus ini berhasil menemukan Yesus? Karena mereka fokus kepada siapa yang menyertai, bukan jalan yang dilalui. Jika orang-orang majus ini memperhatikan jalan yang mereka lalui, kesulitan yang dihadapi dan tantangan yang dialami, tentu mereka akan berhenti menempuh perjalanan ini. Untunglah mata mereka tertuju kepada siapa yang menyertai bukan tantangan yang menghalangi. Kehadiran bintang di Timur adalah sebuah pertanda akan penyertaan Tuhan dalam perjalanan yang mereka lakukan.

Jika kita ingin berhasil dalam menjalani hidup ini, maka fokuskan perhatian kita kepada Tuhan yang menyertai bukan jalan yang kita lalui. Banyak orang gagal menjalani hidup ini, bukan kurangnya pengetahuan yang mereka miliki, bukan sedikitnya modal yang dimiliki atau ketiadaan relasi, tetapi karena mata mereka tertuju kepada jalan yang dilalui bukan Tuhan yang menyertai.

Banyak orang berhenti di tengah jalan karena tak tahan dengan tantangan dan kesulitan diperjalanan. Tidak sedikit mereka memilih untuk menyerah dan berhenti melangkah karena tak kuat menghadapi masalah.  Ketahuilah, selama mata dan perhatian kita hanya tertuju kepada jalan yang kita lalui kita akan berhenti, tetapi jika mata kita tertuju kepada Tuhan yang menyertai maka kita akan terus berjalan maju dan mengalahkan setiap tantangan, kesulitan dan hambatan satu persatu.

Berapa banyak diantara kita yang meyakini akan pernyertaan Tuhan dalam perjalanan yang sedang kita lakukan? Sadarilah, jika kita dapat menjalani tahun 2020 sampai hari ini, itu semua terjadi karena Tuhan menyertai. Di tengah-tengah kesulitan yang sedang kita hadapi karena pendemi, penyertaan Tuhan akan selalu menjadi jawaban. Orang-orang yang sadar akan penyertaan Tuhan selalu memiliki keberanian untuk menjalani kehidupan.

Mazmur 23:4
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Apa yang membuat pemazmur tidak pernah takut dengan jalan yang lalui? Bahkan ditengah-tengah lembah kekelaman sekalipun? Keyakinan akan penyertaan Tuhan.  Hidup yang kita jalani kadang-kadang menghantar kita berjalan dalam lembah kekelaman. Kita berada di jalan-jalan yang menakutkan, penuh mara dan bahaya, berdiri diantara hidup dan mati, kita berada dalam pilihan melangkah maju atau menyerah kalah, dipulihkan atau mengalami kehancuran. Jika itu yang sedang kita hadapai yakinlah akan penyertaan Tuhan. Percayalah, Tuhan tidak hanya menyertai kita di jalan yang tenang dan senang, tetapi Tuhan juga beserta di jalan yang menakutkan, sulit dan bahaya sekalipun.

Sebaliknya orang-orang yang tidak menyadari akan penyertaan, mereka akan mengalami ketakutan saat ujian dan kesulitan datang.

Mat 8:25, 26
Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

Murid-murid sedang bersama Tuhan Yesus. Mereka ada dalam satu perahu, satu perjalanan, namun sayangnya murid-murid tidak menyadari akan penyertaan Tuhan dalam diri mereka. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak ketakutan saat gelambong datang.

Jangan takut memasuki tahun baru 2021, Tuhan yang telah menyertai kita di tahun ini, Tuhan yang sama akan menyertai kita memasuki tahun baru yang akan datang. Percayalah akan penyertaan Tuhan yang memberikan kemenangan kepada anak-anakNya. Ingatlah, bukan kemana kita melangkah, tetapi dengan siapa kita melangkah.

2Tawarikh 32:7,8
“Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali.

Sadarkah kita bahwa saat kita merayakan natal disetiap bulan Desember, Pribadi yang kita rayakan yaitu Tuhan Yesus Kristus yang lahir di kandang Betlehem namanya disebut : “Imanuel”yang berarti: Allah menyertai kita.

Matius 1:23
“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.

Bahkan ketika Tuhan Yesus naik ke sorga, Dia berikan Roh Kudus untuk menyertai kita selama-lamanya.

Yohanes 14:16
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

2. Jangan berhenti, meski tantangan dan rintangan menghalangi.
Ayat 7  Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.

Karena tidak mengetahui alamat atau tempat dimana bayi Yesus dilahirkan, maka rombongan orang majus ini menuju istana Herodes dan bertanya dimana raja yang baru lahir itu. Bukannya mendapat jawaban yang melegakan, Herodes justru menginterogasi orang-orang majus ini. Dikatakan: dengan teliti Herodes bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.

Perjalanan yang ditempuh oleh orang-orang majus ini tidaklah mudah. Ada banyak kesulitan dan rintangan yang mereka hadapi dalam perjalanan, dan sekarang mereka menghadapi tantangan dari pihak kerajaan Herodes. Pertanyaanya, apakah mereka berhenti saat tantangan dan rintangan menghalangi? Tidak! Meskipun menghadapi banyak kesulitan dan tantangan namun orang-orang majus tetap berjalan maju hingga bertemu dengan bayi Yesus yang dilahirkan.

Sadarilah, bahwa tidak ada jalan mudah untuk meraih keberhasilan. Sukses itu butuh perjuangan kerja keras dan usaha. Sebab itu jangan menyerah meski pikiran dan tubuh telah lelah, jangan berhenti meski banyak tantangan yang menghalangi. Ingatlah: Orang-orang yang tidak mudah menyerah, tidak pernah kalah.

 2 Tawarikh 15: 7
tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”

 Ezra 10:4
Bangkitlah, karena hal itu adalah tugasmu. Kami akan mendampingi engkau. Kuatkanlah hatimu, dan bertindaklah!”

Apapun keadaan yang sedang engkau alami, janganlah berhenti untuk menjalani hidup ini. Kuatkanlah hati, teguhkan iman dan bangunlah kepercayaan kepada Tuhan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan engkau berjalan sendirian. Melangkahlah dengan penuh keberanian, yakinlah bersama Tuhan kita raih kemenangan. Tuhan memberkati. KJP!

Diselamatkan Untuk Menjadi Terang Kristus – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 13 Desember 2020)

Matius 5:13-16

PENDAHULUAN
Dalam perikop ini, Yesus sedang berbicara kepada murid-murid-Nya bahwa mereka (sekarang adalah kita sebagai pengikut Yesus/orang Kristen) digambarkan sebagai garam dan terang. Jadi, hidup kita didalam dunia ini harus menjadi terang dan garam. Apabila ada pengikut Yesus atau orang Kristen yang hidupnya tidak menjadi teladan, tidak menjadi berkat atau tidak menjadi contoh yang baik bagi lingkungan disekitarnya maka Yesus mengumpamakan mereka seperti:

1). Garam yang kehilangan asinnya.
Pada zaman dulu, bangsa Israel memakai batu yang diambil dari laut mati yang mengandung garam sebagai bahan untuk mengasinkan sesuatu. Batu tersebut berukuran kecil dan berongga seperti batu karang. Namun lama kelamaan batu ini akan kehilangan rasa asinnya kemudian dibuang ke halaman sehingga diinjak-injak orang.

2). Pelita yang menyala terang tetapi ditutup gantang dan diletakkan di bawah tempat tidur.
Artinya, sekalipun ada pelita namun karena ditutupi sehingga tidak menjadi berkat.

Setelah kita melihat hal-hal di atas, maka apakah relevansinya bagi perayaan natal? Yesaya 9:1 berkata “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.”

 Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa kelahiran Yesus ke dalam dunia seperti terang untuk menerangi kegelapan, sehingga hidup orang yang percaya kepada Yesus diterangi oleh terang Kristus dan tidak tinggal lagi dalam kegelapan. Dan orang yang menerima Yesus, ia akan menjadi pengikut Yesus yang sejati dan menjadi terang atau menjadi berkat bagi semua orang yang ada di sekitarnya. Hal ini memberi pengertian kepada kita bahwa setiap orang yang telah percaya kepada Yesus, orang tersebut tidak lagi hidup didalam dosa dalam seluruh aspek kehidupan dan perbuatannya. Selain itu, orang Kristen atau pengikut Yesus yang sejati, hidupnya pasti menjadi berkat bagi orang yang ada di sekitarnya.

PERISTIWA NATAL
Hal ini sangat erat kaitannya dengan peristiwa para Majus yang hidup di benua timur (Matius 2:1-12). Mereka menerima berita kelahiran Yesus bukan dari para malaikat seperti para gembala, tetapi orang majus menerima berita tentang kelahiran Yesus dari bintang-bintang yang bersinar dan terang bintang yang mereka lihat. Bintang itu mengisyaratkan atau menginformasikan kepada mereka bahwa telah lahir seorang Raja diatas segala raja yang harus disembah. Bintang itu menuntun para majus itu sampai mereka tiba di Bethlehem berjumpa dengan Yesus, dan mereka pun menyembah Yesus.

Pertanyaannya bagi kita adalah apakah hidup kita telah menjadi terang bagi orang di sekitar kita? Dan, apakah kita sudah membawa jiwa-jiwa yang masih hidup dalam dosa (kegelapan) kepada terang Kristus?

2000 tahun yang lalu, saat Yesus datang ke dalam dunia, secara khusus Allah telah menempatkan bintang di Timur untuk menuntun para Majus, sehingga oleh para Majus: Herodes, para imam dan seluruh penduduk Yerusalem mengetahui bahwa Yesus, Mesias itu telah lahir ke dalam dunia. Bagaimana dengan kita sebagai bintang-bintang yang Yesus tempatkan di dunla, dimasa akhir zaman ini? Apakah kita sudah berperan menjadi bintang yang bersinar terang di dunia ini?

HIDUP SEBAGAI BINTANG
Untuk menjadi bintang-Nya Yesus di akhir zaman, kita tidak perlu menjadi orang top di dunia ini. Tetapi, walaupun kita  orang yang sederhana, namun dengan beriman kepada Yesus maka Yesus dapat mengubah kita menjadi bintang-Nya! Yang jadi masalah adalah, apakah kita bersedia menyerahkan diri kita untuk dipulihkan Tuhan atau tidak?

SYARAT UNTUK MENJADI BINTANG
Filipi 2:15 berkata, “Supaya kamu tidak BERAIB dan tidak BERNODA, sebagai anak-anak Allah yang tidak BERCELA di tengah- tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu BERCAHAYA di antara mereka seperti BINTANG-BINTANG di dunia.”

Ada beberapa hal yang ditekankan oleh Paulus dalam ayat ini, yaitu:

  • BERAIB
    Seorang anak Tuhan seharusnya di dalam dirinya / hidupnya tidak ada lagi aib. Kata aib dalam bahasa Yunani ditulis: AMEMPTOS = hati kita benar-benar bersih atau murni dari semua yang jahat, sehingga siapa pun juga tidak dapat menemukan yang jahat di dalam diri orang itu.
  • BERNODA
    Sebagai pengikut Yesus seharusnya tidak ada lagi noda. Dalam bahasa Yunani ditulis: AKERAIOS, artinya hidup kita tidak bercampur lagi atau dicemari lagi oleh segala macam kejahatan yang ada di dunia ini sehingga, motivasi kita benar-benar bersih dan murni dari yang jahat.
  • BERCELA
    Sebagai pengikut Yesus, seharusnya hidup kita tidak ada lagi cela. Dalam bahasa Yunani ditulis: MOMOS artinya hidup kita seperti korban yang benar-benar berkenan dan layak di mezbah Tuhan.

Jadi, kita akan gagal menjadi “TERANG KRISTUS” di dunia ini, apabila ketiga hal ini yaitu: AIB, NODA dan CELA masih ada dalam diri kita. Untuk menjadi bintang, yang memancarkan kasih Kristus di tengah-tengah dunia ini. Setiap pengikut Yesus harus memancarkan kasih Yesus. Artinya, kita mengekspresikan kasih Kristus dalam perbuatan dan seluruh aktivitas hidup kita selama kita hidup di dunia ini.

Dalam Yesaya 58:8, Allah telah berfirman bahwa, “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu  dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.” Ini adalah janji Allah kepada bangsa Israel, namun bukan saja kepada mereka tetapi juga kepada kita yang percaya kepada Yesus. Tetapi, dengan cara apa ayat ini digenapi? Hal ini akan terjadi apabila kita melakukan hal-hal berikut ini: Yesaya 58:7 berkata, “Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”

Apabila kita mau bersinar terang maka ada syarat yang harus kita lakukan. Ayat ini memang dapat kita lakukan secara harafiahnya, namun selain itu dapat kita lakukan secara rohani.

1. Memecah-mecahkan roti
Kita menerima banyak roti yaitu Firman Allah melalui ibadah-ibadah yang dilakukan didalam gereja. Roti hidup yang kita terima yaitu Firman Allah, bukan hanya untuk diri kita, tetapi harus kita bagikan kepada mereka yang belum diselamatkan. Hanya Firman Allah yang di dalamnya ada berita tentang Yesus yang sangup menghidupkan dan menyelamatkan.

2. Membawa ke rumah orang miskin yang tak punya rumah
Yohanes 14:2 Yesus berkata: “Di dalam rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal!” Kita yakin, Yesus sudah menyediakan rumah bagi kita dl sorga. Tetapi ada banyak orang yang tidak memiliki rumah di sana. Oleh sebab itu, hal ini seharusnya hal ini menjadi beban untuk kita tanggung.

3. Memberi pakaian kepada yang bertelanjang
Ketika Adam dan Hawa berdosa, mereka bertelanjang di hadapan Allah sehingga mereka malu dan menyembunyikan diri. Lalu, Allah mengenakan pakaian dari kulit binatang sehingga Adam dan Hawa tidak malu lagi. Selama zaman Taurat, manusia dibenarkan dan dosanya diampuni bila mereka membawa korban binatang. Ini adalah teologi tipologi yang kemudian digenapi oleh Yesus di atas kayu salib. Sehingga barangsiapa yang percaya kepada Yesus ia tidak bertelanjang lagi sebab ia telah berpakaian kebenaran.

KESIMPULAN
Menjelang kita memperingati kelahiran Tuhan Yesus, di hari natal ini, marilah hidup sebagai bintang-bintang yang menerangi banyak orang. Hiduplah sebagai berkat, sehingga melalui hidup kita banyak orang akan diselamatkan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

MENJADI SERUPA DENGAN YESUS – oleh Pdt. J. S. Minandar  (Ibadah Raya – Minggu, 6 Desember 2020)

Roma 8:29
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya la, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

PENDAHULUAN
Untuk menyelamatkan dan mengembalikan manusia kepada maksud dan rencana Allah yang semula, maka Allah harus menjelma menjadi manusia. Dan bila kita mengatakan bahwa: “Allah menjadi manusia hal ini tidak berarti bahwa ketika Allah menjadi manusia, Allah itu tidak ada sebab sudah berubah jadi manusia.” Sebab Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa Allah yang menjelma menjadi manusia adalah: Firman Allah yaitu kalam Allah, yang adalah Allah sendiri, yang menjelma menjadi manusia dalam wujud Yesus, sebagaimana yang telah difirmankan dalam Yohanes 1:1,14. Dan pada saat Allah menebus dosa manusia maka Filipi 2:5-8 berkata bahwa, “dalam keadaan manusia Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa kita.”

Dan inilah janji yang disampaikan Yesus kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dalam Yohanes 5:24 berkata bahwa “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa yang mendengar perkataan-Ku (Yesus-Firman yang menjadi manusia) dan percaya kepada Dia (Allah Bapa) yang mengutus Aku (Yesus) ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”

PINDAH DARI MAUT KEPADA HIDUP
Oleh karena pengorbanan Yesus di atas kayu salib bagi seluruh umat manusia, maka orang-orang yang percaya kepada Yesus posisinya sudah dipindahkan oleh Yesus dari maut kepada hidup yang kekal.

Dibawah ini merupakan ilustrasi posisi orang yang percaya kepada Yesus

Keterangan gambar:
Jadi, dari gambar diatas kita melihat bahwa ketika ketika kita percaya kepada Yesus, maka posisi kita tidak lagi berada dalam kebinasaan, namun kita berada dalam kehidupan yang kekal bersama-sama dengan Yesus

Oleh karena itu, ada dua hak istimewa yang kita dapat sebagai orang yang percaya kepada Yesus, yaitu:

1. Kepastian Selamat
Kapanpun kita dipanggil Tuhan (mati) maka kita pasti masuk sorga. Kecuali apabila kita tidak setia dalam mengikut Yesus atau menolak dan menyangkal Yesus.

2. Menggenapi Rencana Allah
Artinya, apabila kita hidup sampai Yesus datang kedua kali, maka kita memiliki peluang besar untuk menggenapi rencana Allah yang gagal dilakukan oleh Adam dan Hawa. Dengan catatan bahwa kualitas kerohanian kita harus pulih menjadi seperti Adam Hawa yang serupa dengan Allah sebelum mereka jatuh dalam dosa (Kejadian 1:26). Bahkan, menjadi serupa dengan Yesus (Roma 8:19).

KESUNGGUHAN DALAM MENGIKUT YESUS
Untuk tetap ada pada “posisi jaminan keselamatan” maka Yesus meminta pertanggung jawaban pengiringan kita kepada Dia. Filipi 2:12 berkata, “Hai Saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.”

Bagaimana caranya untuk memiliki kesungguhan dalam mengikut Yesus?

1). TAAT
Dilihat atau tidak dilihat orang, kita senantiasa hidup sesuai dengan kebenaran firman Allah. Inilah yang disebut pengikut Yesus yang sejati (CHRISTIANOS), Yesaya 26:7.

2). KERJAKAN KESELAMATANMU
Keselamatan yang sudah kita terima dari Yesus harus bisa dilihat setiap orang dalam hidup kita sehari-hari dari karakter dan perbuatan kita.

3). TAKUT DAN GENTAR
Artinya, siapa dan apapun status kita: pendeta, diaken, pelayan/aktivis, anggota jemaat, suami, isteri, pemuda, remaja bahkan apapun itu, kita harus memiliki rasa hormat kepada Tuhan dan menyadari bahwa Tuhan memperhatikan dan mengamat-amati secara detail aktivitas roh jiwa dan tubuh kita, dimanapun kita berada.

Tidak sedikit orang yang bertanya mengenai latar belakang hidup mereka yang jahat dan banyak sekali melakukan dosa: “Apakah saya bisa diubah, dan menjadi serupa dengan Yesus? Apakah ini dapat menjadi kenyataan?” Yesus sudah mengampuni kita oleh kematian-Nya di kayu salib pada saat kita percaya kepada-Nya. Dan untuk menjadi serupa dengan Yesus, kita tidak dapat melakukannya dengan usaha dan kekuatan kita, namun kita harus berserah sepenuhnya kepada Firman-Nya dan Roh Kudus agar Dia membentuk kita menjadi serupa dengan Yesus. Sebab walaupun bagi manusia hal itu adalah mustahil tetapi dikatakan dalam Lukas 1:37 bahwa “Bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Demikian juga Ayub berkata dalam Ayub 42:2 bahwa “Allah sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Nya yang gagal.”

3. Bertumbuh dalam Mengikut Yesus

Perhatikan gambar dibawah ini.

Didalam mengikut Yesus, seharusnya kerohanian kita bertumbuh seperti gambar diatas. Ketika kita bertumbuh maka kita akan menjaga diri kita sedemikian rupa agar hidup kita menjadi semakin seperti Yesus. Ketika kita bertumbuh maka kita akan melakukan hal-hal dalam tangga kekristenan, yang menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Yesus yang sejati.

4. Jangan Kendor Dalam Pengiringan
Roma 12:11 berkata, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala- nyala dan layanilah Tuhan.” Apapun situasi dan kondisi yang terjadi dengan dunia ini, kita harus tetap setia tetap bersemangat dalam beribadah dan melayani Tuhan Yesus Kristus. Dalam 2 Korintus 12:3 Rasul Paulus mengungkapkan rasa kuatirnya ketika melihat kerohanian jemaat (demikian juga dengan setiap gembala) bahwa Rasul Paulus tidak mau apa yang Yesus nubuatkan digenapi secara negatif di dalam jemaat. Nubuat Yesus terdapat didalam Matius 19:30 yang berkata, “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

FENOMENA PETOBAT BARU DIGENAPI
Roma 10:20,21 berkata, “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: “Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku” Tetapi tentang Israel ia berkata: “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.”

Di bawah ini merupakan gambar-gambar petobat baru.

Demikian juga seorang gembala sangat takut kalau ada jemaat yang kehilangan kasih yang mula-mula seperti yang dialami jemaat Efesus. Wahyu 2:4 berkata, “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Menjelang Yesus datang kedua kali, apabila kondisi rohani kita seperti jemaat Efesus (kehilangan kasih yang mula-mula). Maka status kita di mata Yesus adalah: Wahyu 2:5 “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.”

Hal ini berarti:

1). Kita hidup dalam dosa seperti kita hidup di masa lalu saat kita belum diselamatkan.

2). Kita harus bertobat, artinya: berbalik dari jalan yang salah dan kembali ke jalan yang semula (dan mulai dari nol lagi).

3). Bila tidak mau bertobat atau mengeraskan hati kita maka,

4). Yesus akan mengambil kaki dian dari kita.

Apa arti kaki dian? Wahyu 1:20b berkata bahwa, “Ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.” Jadi, kaki dian yang diambil dari tempatnya artinya: Orang yang dikeluarkan oleh Yesus dari keanggotaan jemaat (bukan dari organisasi gereja) sehingga orang tersebut bukan milik Yesus lagi. Orang yang bukan menjadi milik Yesus akan dicampakkan kedalam api yang kekal.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, untuk menjadi serupa dengan Yesus, kita harus bertumbuh, bersungguh-sungguh dalam mengikut Yesus, menjaga diri kita untuk melakukan Firman Allah, serta tidak kendor dalam pengiringan kepada Yesus. Hal-hal inilah yang akan membuat kita menjadi serupa dengan Yesus dan kita akan masuk dalam kerajaan sorga bersama dengan Yesus.

LAPAR dan HAUS oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya – Minggu, 29 November 2020

PENDAHULUAN
Ayat ini merupakan bagian ke empat dari rangkaian sepuluh kata bahagia pada khotbah Yesus di bukit. Tuhan Yesus menggunakan kesepuluh kata berbahagia itu dalam bahasa aslinya : MAKARIOS, yang lebih tepat diterjemahkan dengan kata “DIBERKATILAH.”

Tuhan Yesus menggunakan kata “berbahagia” ini tidak untuk membicarakan tentang orang-orang yang merasa bahagia atau orang yang berpikir bahagia. Juga tidak sedang membicarakan tentang apa yang kita pikir tentang diri kita atau perasaan kita. Sebab kehidupan rohani orang pecaya tidak dimulai dari perasaan, atau dari apa yang kita pikirkan, tetapi fondasi kerohanian Kristen yang sejati adalah “Apa kata Yesus mengenai kita dan apa yang telah la singkapkan di dalam firman-Nya mengenai kita.”

Dalam bagian ini, Tuhan sedang mendeklarasikan para pengikut-Nya, bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia diberkati, jika memiliki rasa lapar dan haus, dalam hal ini akan kebenaran karena Tuhan akan memuaskannya.

LAPAR DAN HAUS
Lapar dan haus merupakan fundamental needs artinya kebutuhan yang paling mendasar, yang jika tidak dipenuhi orang pasti akan mati. Tubuh manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh dan memiliki kebutuhan masing-masing.

  • TUBUH : Dipuaskan dengan makanan dan minuman.
  • JIWA : Dipuaskan dengan ketenangan, penghiburan, wisata.
  • ROH : Dipuaskan dengan hal yang datang dari asalnya, yaitu hadirat Allah dan firman-Nya/ kebenaran.

Jika kita melihat tentang hukum alam ciptaan, kita dapat mengetahui bahwa apa yang diciptakan Tuhan lewat perkataan firman adalah tumbuhan dan binatang (Kej. 1:11, 20, 24). Tumbuhan tidak akan hidup tanpa tanah karena ia muncul dari dalam tanah oleh perkataan firman Allah,  demikian juga dengan binatang. Ikan tidak akan hidup tanpa air karena ia keluar dari air oleh perkataan firman Allah. Bagaimana dengan manusia? Manusia diciptakan oleh tangan Allah sendiri dan menghembuskan nafas-Nya, sehingga manusia menjadi mahluk yang hidup dan begitu mulia yang segambar dengan Allah sendiri, Kej. 2:7. Tanpa manusia tidak masalah bagi Allah, tetapi manusia tanpa Allah, ia akan mati karena rohnya berasal dari Allah. Sama seperti dengan kebutuhan akan makanan dan minuman untuk menghidupi tubuh jasmani kita, demikian juga “kebenaran” adalah kebutuhan mutlak rohani kita yang harus dipenuhi tiap hari. Kita tidak dapat berkata kadang-kadang saja saya makan, kadang-kadang saja saya minum, makan sebulan sekali minum setahun sekali.

Setiap orang yang percaya kepada Yesus, hidupnya telah ditebus dari dosanya dan dibenarkan oleh Allah. Orang benar tidak akan mungkin dapat hidup tanpa kebenaran, untuk itu kita tidak bisa hanya sekali-kali saja belajar akan kebenaran Allah. Orang benar tidak akan dapat hidup dengan kadang-kadang saja menaruh perhatian kepada kebenaran.

(Yohanes. 6:27) “Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu, sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Ayat ini memberi peringatan jangan hanya mementingkan kebutuhan jasmani yang hanya dapat mempertahankan hidup jasmani manusia sampai 70-80 tahun saja, tetapi berjuanglah juga untuk memenuhi kebutuhan rohani kita yang kekal.

WASPADAI TIPU DAYA IBLIS
Jika Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya (Roma 8:28), iblispun turut bekerja dalam situasi dan kondisi manusia untuk mengalihkan, menyesatkan dan membinasakan manusia.

Kepada Yesus sebagai manusia, Iblis berani mencoba mengalihkan kebutuhan lapar  dan haus-Nya kepada hal yang bukan makanan. BATU dijadikan ROTI.  Matius.4:3 – “Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Sesuatu yang bukan makanan yaitu batu minta dijadikan roti. Inilah tipu daya Iblis yang disebut pengalihan kepada hal yang bukan kebutuhan sejati. Tetapi Tuhan segera menjawabnya.

(Matius 4:4) “Tetapi Yesus menjawab. Ada tertulis manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah .” Tuhan meluruskan kembali bahwa manusia tidak hanya melulu membutuhkan makanan jasmani, tetapi juga membutuhkan makanan rohani yaitu firman kebenaran Allah.

Bagaimana Iblis mengalihkan rasa lapar dan haus akan kebenaran kepada perkara lain?
1. Melalui tipu daya (Markus 4:19)
“Lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” Ada dua hal dalam ayat ini untuk bisa dialami.

A).Tipu daya kekayaan
Menjadi kaya itu tidak salah asal bekerja keras sesuai aturan Tuhan, pasti Tuhan akan berkati, tetapi waspadai Iblis yang akan menggunakan tipu dayanya agar kita menjadi lapar dan haus bukan kepada kebenaran tetapi kepada cinta akan uang.

1 Timotius 6:10.
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta akan uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Iblis berusaha mengalihkan rasa lapar hausnya manusia akan kebenaran kepada tipu daya kekayaan, manusia dibuat lapar untuk memburu kekayaan jasmani apapun caranya, sehingga neraca / timbangan kehidupannya menjadi tidak seimbang, kebutuhan jasmaninya kenyang, tetapi rohaninya tetap kelaparan dan kehausan. Amsal 11:1 mengatakan bahwa neraca yang serong itu merupakan kekejian bagi Tuhan. Orang-orang seperti ini masih bisa mengikuti ibadah tetapi tanpa merasa perlu mendengar tentang kebenaran Allah bagi rohaninya. Biasanya suka pilih-pilih khotbah mana yang cocok baginya untuk didengar.

Tipe orang seperti ini dalam kitab wahyu adalah tipe jemaat Laodekia. Wahyu 3:17 berkata:  “Karena engkau berkata, aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.”

Kelihatannya secara jasmani kaya tidak kekurangan apapun, tetapi rohaninya menyedihkan di mata Tuhan.

B). Keinginan-keinginan yang lain
Salah satu dari keinginan yang lain yang terus meningkat adalah rasa lapar dan haus pada MEDSOS. Orang tidak lagi merasa perlu baca Alkitab cetak lagi. Bisa kirim ayat tanpa merasa perlu buka Alkitab. Bisa mengirimkan acara ibadah dan khotbah tanpa harus hadir dan mendengar apa isi khotbahnya. Lebih suka memposting keadaan yang sedang dihadapi dari pada dibawanya dalam doa.

Apa kata Alkitab mengenai kondisi rohani orang-orang seperti ini? Wahyu 3:1 berkata, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!”

Kelihatan hidup ada aktivitas, tetapi sebenarnya mati secara rohani. Rasul Paulus menyebutnya sebagai manusia duniawi.

1 Korintus 2:14
“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan, dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.”

Orang-orang seperti ini tidak dapat bertumbuh rohaninya, karena mati. Itulah sebabnya mereka tidak sanggup mengerti hal- hal rohani.

Iblis membuat banyak orang akan kehilangan kepekaannya akan rasa lapar dan haus yang sesungguhnya kepada kebenaran Allah, sehingga membuatnya menjadi seperti lima gadis yang bodoh (Matius 25:3,8,12). Tahu bahwa pelitanya butuh minyak tapi tidak menyediakan minyaknya. Mereka terlambat menyadari kebutuhan minyaknya, sampai akhirnya ditolak masuk kedalam pesta perjamuan Anak Domba Allah.

2. Melalui penyesatan, Matius 18:7.
Penyesatan dapat terjadi melalui:

  • Nabi palsu – Nubuat dan mujizat palsu
  • Rasul palsu – Pengajaran firman yang disesatkan.
  • Penginjil palsu- Memberitakan Injil lain.
  • Gembala dan guru palsu – Mengajarkan hal yang bertentangan dengan kebenaran firman.
  • Kristus palsu – Karunia yang dipalsukan, urapan yang dipalsukan.

LAPAR DAN HAUS
Hubungannya dengan makanan dan minuman. Yohanes 6:53, “Maka kata Yesus kepada mereka, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup didalam dirimu.”

Ayat ini menjelaskan bahwa kelaparan dan kehausan manusia adalah keselamatan jiwanya, dan hanya pribadi Yesus melalui penebusan-Nya yang dapat menyelesaikannya. Ketika kita percaya dan menerima Yesus sebagai juru selamat, kita dipersekutukan dengan tubuh dan darah Yesus melalui perjamuan Kudus.

AKAN KEBENARAN
Yohanes 17:17.
“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran.”

Dalam perjalanan hidup kita sebagai orang yang sudah dibenarkan, maka kehidupan kita dihidupi dengan firman Tuhan.

DIPUASKAN
Orang-orang yang mencari hadirat Tuhan dan firman-Nya dengan rasa lapar dan haus akan kebenaran-Nya akan dipuaskan.

Kata “dipuaskan” ditulis dalam bahasa aslinya – KHORTASTESONTAI, yang juga dapat berarti dikenyangkan atau dipenuhi. Jadi Kebenaran bukan hanya menghidupkan kita tetapi juga “memuaskan” kita.

Segeralah sadar dan siuman, apakah masih ada rasa lapar dan haus akan kebenaran Allah? Ini penting sebab itu petanda bahwa kita masih hidup secara rohani. Lapar dan haus rohani kita hanya dapat dipuaskan oleh hadirnya Yesus dalam hidup kita, dan kebenaran firman-Nya, inilah yang dapat mempertahankan hidup kita sampai pada kekekalan. Amin.