DIBERKATI UNTUK MENJADI BERKAT – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Natal – Minggu, 25 Desember 2020)

PENDAHULUAN
Di hari natal ini kita akan melihat mengenai janji. Ayat ini sebenarnya tidak lazim dibawakan pada hari natal, namun janji ini bukan hanya tertuju kepada Abraham, tetapi juga kepada setiap kita yang percaya kepadaNya.

Tuhan berjanji bahwa Abraham dan dan keturunan-nya (Israel) akan diberkati dan menjadi berkat bagi umat manusia di muka bumi. Secara perspektif, yang disebut keturunan Abraham, bukan hanya umat Israel secara lahiriah. Tetapi bagi kita, sebagai orang yang percaya kepada Yesus. Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 3:7 berkata: “Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.”

Namun untuk diberkati dan menjadi berkat, maka kita harus melekat erat dengan sumber berkat itu, yaitu Tuhan. Ada beberapa contoh tokoh Alkitab yang akan menjadi perbandingan bagi kita.

SAUL RAJA ISRAEL
1 Sam 10:6 “Maka Roh Tuhan akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain.”

Saul berubah menjadi manusia lain artinya ialah sifat, perilaku dan karakter Saul berubah menjadi baru.

Menjadi manusia baru harus menjadi pengalaman setiap orang Kristen yang ingin diberkati dan menjadi berkat. Menjadi manusia baru berarti ia harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Mari kita lihat pengalaman Saul.

1 Sam 10:10 berkata bahwa ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia (Saul) dengan rombongannya!

1 Samuel 10:11 berkata, “Dan semua orang yang mengenalnya dari dulu melihat dengan heran, bahwa ia (Saul) bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi

itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada yang lain: “Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?”

Maksudnya adalah, ketika Saul kepenuhan Roh dan bernubuat bersama-sama para nabi, orang-orang Israel yang melihatnya bertanya satu dengan lainnya: “Saul ini dilantik sebagai

raja atau sebagai nabi?” Artinya, status Saul adalah raja, tetapi cara hidup, sifat dan perilaku Saul tidak beda dengan cara hidup, sifat dan perilaku para nabi. Berikut ini beberapa sifat cara hidup Saul:

  • 1 Samuel 10:13-16 Kerendahan hati Saul.
  • 1 Samuel 10:27 Saul mempunyai penguasaan diri.
  • 1 Samuel 11:1-13 Saul tidak simpan dendam tetapi mengampuni.

Tetapi bila kita melihat kehidupan Saul maka sangat disayangkan bahwa Saul tidak mempertahankan hubungan yang erat dan intim ini dengan Tuhan sehingga Tuhan mengambil semua berkat dari Saul. Dan, walaupun Saul tetap memerintah sebagai raja, dan Saul mempunyai harta dan kuasa, tetapi hidup Saul tidak menjadi berkat bagi siapapun juga.

1 Samuel 13:13 mencatat perkataan Samuel kepada Saul:
“Perbuatanmu itu bodoh, Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu, sebab sedianya Tuhan mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selamanya”

1 Samuel 13:14
Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. Tuhan telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan Tuhan telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu.”

Sebenarnya, Allah telah menentukan bahwa kerajaan Israel secara turun temurun akan dipimpin oleh keluarga atau keturunan Saul. Artinya, bila Saul setia, maka Juru Selamat, yaitu Yesus, tidak lahir dari keturunan Daud bin Isai, tetapi dari keturunan Saul bin Kish(Kish, adalah ayah Saul). Saul kehilangan berkat karena ia tidak melekat dengan Yesus. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa ketika kita kehilangan keintiman dengan Tuhan maka kita akan kehilangan banyak berkat, bahkan hal ini akan membuat orang lain mengganti posisi kita. Kita dapat menyimpulkan bahwa untuk diberkati dan menjadi berkat, kita harus membangun keintiman dengan Sang sumber berkat yaitu Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Natal kita.

ELISA dan MURID-MURIDNYA
2 Raja 6:1-7 menceritakan kisah Elisa dan murid-muridnya. Ada banyak arti rohani yang dapat kita petik dari kisah ini. 2 Raja 6:1 berkata: Pada suatu hari berkatalah rombongan nabi kepada Elisa: “Cobalah lihat, tempat tinggal kami di dekatmu ini adalah terlalu sesak bagi kami.”

Murid-murid nabi mempunyai keinginan untuk menjadi berkat. Sebab itu mereka berusaha memperluas tempat kediaman mereka. Bagi kita hal ini berarti, sekecil apapun andil kita dalam pelayanan, Yesus tidak akan lupa memberi upah yaitu mahkota kemuliaan bagi kita di sorga. Mungkin kita tidak dapat memberi kontribusi besar dalam pelayanan, namun marilah kita memulainya dari hal kecil, yaitu menjadi berkat.

Matius 10:42 berkata “Dan barang siapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upah dari padanya.”

2 Raja 6:2-3 berkata, “Baiklah kami pergi ke sungai Yordan dan masing-masing mengambil satu balok dari sana, supaya kami membuat tempat tinggal untuk kami”. Jawab Elisa: “Pergilah!” Lalu berkatalah seorang: “Silakan, ikutlah dengan hamba-hambamu ini.” Jawabnya: “Baik aku akan ikut.” Ketika mereka hendak berangkat, salah satu murid nabi merasa membutuhkan penyertaan Elisa.

Elisa berarti God Of Jehovah. Artinya: TUHAN adalah YEHOVA, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kesadaran murid nabi Elisa ini, harus kita tiru dalam hidup dan pelayanan kita. Sebab kita membutuhkan penyertaan Tuhan Yesus dalam pelayanan dan kehidupan kita. Sehebat apapun kapasitas, talenta, bakat, kemampuan dan materi yang kita miliki, tanpa Yesus, kita bukan apa-apa dan tidak ada apa-apanya, melainkan nol besar.

2 Raja 6:4,5 “Maka ikutlah ia (Elisa) dengan mereka. Setelah mereka sampai di sungai Yordan, merekapun menebang pohon-pohon. Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia: “Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!”

Kita melihat bahwa ketika seorang murid bekerja maka mata kapak yang dipakainya itu lepas dari gagangnya dan masuk dalam sungai Yordan. la berteriak kepada Elisa: “Wahai tuanku Itu barang pinjaman!”

Bila kita relevansikan dalam hidup kita, maka apakah ada yang kita miliki yang bukan kita pinjam dari Tuhan? Kekayaan, nafas kita pun adalah pinjaman dari Tuhan. Kalau semua Tuhan ambil dari kita yaitu, rumah, asset, tanah, uang, apalagi nyawa kita diambil dari diri kita, apa yang dapat kita lakukan? Tanpa Tuhan, hidup kita tidak lebih seperti: gagang kayu tanpa mata kapak. Apapun yang kita buat, tidak berarti apa-apa. Jangan berpikir kita dapat berbuat sesuatu tanpa Tuhan Yesus. Kita akan hancur tanpa-Nya (Hagai 1:6-7). Sebab itu, kalau kita ingin diberkati dan menjadi berkat, maka kita harus membangun hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan Yesus, seperti sebuah gagang kayu yang terikat kuat dengan mata kapak yang tajam. Berapapun banyaknya modal yang kita miliki dan sehebat apapun talenta dan relasi yang kita punya, namun Yohanes 15:5b berkata, “…sebab di luar Aku (Yesus) kamu (kita) tidak dapat berbuat apa-apa.

CARA MENEMUKAN MATA KAPAK
2 Raja 6:6 berkata: Tetapi berkatalah abdi Allah: “Kemana jatuhnya? Lalu orang itu menunjukkan tempat itu kepadanya. Kemudian Elisa memotong sepotong kayu, lalu dilemparkannya ke sana, maka timbullah mata kapak itu dibuatnya.”

Bila kita mau diberkati dan menjadi berkat, maka kita harus jujur, terbuka dan mengakui semua dosa, kesalahan, kekurangan dan kelemahan kita di hadapan Tuhan.

MURID-MURID YESUS
Yohanes 21:1-11 Petrus dan rekan-rekannya ingin diberkati agar bisa menjadi berkat. Mereka berangkat menuju danau Tiberias untuk menangkap ikan. Tetapi mereka pergi tanpa Yesus. Semalaman mereka bekerja, dan tidak seekor ikan pun yang mereka tangkap. Dari pantai Yesus bertanya: Adakah kamu mempunyai lauk pauk? Dengan jujur mereka mengakui kegagalan mereka. Mereka menjawab: “Tidak ada!” Yesus menyuruh mereka menebar jala di sebelah kanan perahu mereka. Mereka melakukan perintah Yesus. Dan, yang terjadi jala mereka penuh ikan, sehingga perahu mereka hampir tenggelam. Tetapi jala mereka tidak koyak, tak seekorpun ikan yang hilang. Hal ini memberi pengertian kepada kita bahwa, Tuhan memberkati murid-murid secara total karena kejujuran dan ketatan mereka kepada Yesus. Mereka diberkati dan bisa menjadi berkat.

2 Raja-raja 6:6 mencatat bahwa, “Kemudian, Elisa memotong sepotong kayu dan melemparkan kayu tersebut ke dalam air tenpat mata kapak itu jatuh.”

Arti sepotong kayu dalam ayat ini dapat kita lihat dari beberapa ayat referensi lain, yaitu:

  • Yesaya 53:1-10, sekitar tahun 600-700 SM, nabi Yesaya menubuatkan bahwa Mesias, Juru Selamat akan lahir sebagai berikut:
  1. Kelahiran Yesus digambarkan seperti taruk dan tunas yang tumbuh (ayat 2)
  2. Yesus ditolak, dihina, dianggap tidak masuk perhitungan (ayat 3)
  3. Seumpama taruk/tunas yang tumbuh, Yesus dihina, sengsara, dipukul dan ditindas (ayat 4)

KESIMPULAN
Oleh kelahiran Yesus (natal) dan oleh kematian Yesus di salib (paskah), kita yang tenggelam dalam dosa dan maut, seperti mata kapak yang terbenam dalam sungai Yordan, oleh Kasih Karunia-Nya diangkat, dipakai dan dipergunakan oleh Yesus untuk diberkati dan menjadi berkat bagi kemuliaan nama Yesus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *