DISTRACTION – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 14 Februari 2021)

“Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka..”
Amsal 4:25

PENDAHULUAN
Semua orang tentu memiliki impian akan masa depan,  namun tidak semua orang berhasil meraih impiannya. Kegagalan-kegagalan yang dialami kadang-kadang bukan karena keterbatasan yang mereka miliki tetapi ada hal-hal yang menariknya keluar dari jalur yang seharusnya dilalui. Agar kita dapat menghindari kegagalan yang terjadi, marilah kita belajar tentang “Distraction – Distraksi”

Apakah yang dimaksud dengan Distraction? Kata distract berasal dari kata Latin “distractus” artinya : “to draw in different directions”: menarik ke arah yang lain. Jadi kata distraction atau distraksi dapat diartikan sebagai: hal/benda yang dapat mengubah/menarik/mengalihkan pikiran atau perhatian kita ke arah yang lain/berbeda.  Dengan kata lain: distraksi merupakan segala sesuatu yang menghalangi seseorang untuk memberikan atensi penuh kepada sesuatu atau seseorang yang seharusnya diperhatikan. Contohnya : Saat kita sedang mendengarkan khotbah, tiba-tiba gadget/HP yang kita pegang bergetar, dengan spontan perhatian teralihkan dari memperhatikan sang pengkhotbah sekarang beralih kepada Hp yang bergetar. Itulah distraksi. Demikian juga dengan pikiran kita. Saat kita sedang beribadah, pikiran kita dapat terdistraksi dengan hal-hal yang telah terjadi di masa lalu, atau perkara-perkara yang kita tinggalkan di rumah.

Hidup ini penuh dengan distraksi yang membuat kita beralih dari apa yang seharusnya kita kerjakan sebagai anak-anak Tuhan. Dalam firman Allah ada banyak contoh tokoh alkitab yang gagal di tengah jalan karena terdistraksi dengan perkara-perkara duniawi. Mereka gagal mencapai finishing well karena terdistraksi oleh daya tarik dunia. Misalnya:

  • Adam dan Hawa: gagal memenuhi kehendak Allah karena terdistraksi oleh perkataan dusta setan dan daya tarik buah pengetahuan baik dan jahat. (Kej. 3:1-7)
  • Bangsa Israel, khususnya generasi pertama yang keluar dari Mesir, gagal masuk Kanaan karena terdistraksi oleh kenikmatkan makanan di Mesir. (Bil. 11:1-5)
  • Simson gagal menjaga dirinya sebagai seorang nazir Allah karena terdistraksi oleh kecantikan gadis dari lembah Sorek yang bernama Delila. (Hak. 16:1-4)
  • Raja Saul gagal menjadikan dia dan keturunannya sebagai raja atas Israel karena terdistraksi oleh rasa takutnya kepada musuh yang dihadapinya. (1Sam 13:1-13)
  • Daud gagal menunjukan kepemimpinan yang bersih karena terdistraksi oleh kemolekan Batsyeba (2Sam 11:1-4)
  • Murid-murid kembali menjadi penjala ikan karena terdistraksi kekecewaan atas kematian sang guru (Yoh.21:1-3)
  • Demas, dia meninggalkan pelayanan karena terdistraksi oleh mecintai dunia. (2Tim. 4:9-10) dll.

Tidak ada orang yang kebal terhadap distraksi. Jika tidak hati-hati perhatian kita dapat teralihkan kepada hal-hal duniawi dan cinta kita kepada Tuhan dapat tergeser kepada hal-hal lain diluar Tuhan. Kepada jemaat di Korintus, rasul Pulus memberikan peringatan agar waspada terhadap penyesatan yang dapat membuat iman dan kesetiaan mereka kepada Tuhan terdistraksi.

2Korintus 11:3
Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.

Distraksi Corona
Hampir setahun Corona ada di Indonesia, sejak Maret 2020 hingga saat ini kita dibombardir dengan berita-berita tentang Corona. Dari istana hingga desa membicarakan tentang Corona. Media sosial hingga media online tidak pernah sepi dengan berita Corona. Bahkan berita Corona mengalahkan berita tentang bencana. Bencana usai berita selesai, tapi Corona beritanya tak selesai-selesai. Berhatilah-hatilah dengan berita tentang Corona yang kita dengar, karena hal itu dapat mendistraksi iman kita sehingga lebih fokus kepada Corona dari pada fokus kepada Tuhan.

Apakah tanda-tandanya bahwa kita telah terdistraksi oleh Corona?

  1. Lebih sering membicarakan Corona daripada membicarakan Tuhan dan kuasaNya
  2. Lebih banyak cari tahu tentang Corona daripada cari tahu kehendak Tuhan
  3. Lebih banyak baca berita Corona daripada baca firmanNya.
  4. Lebih sadar hadirnya Corona daripada hadirnya Tuhan dan penyertaanNya
  5. Lebih takut kepada Corona daripada percaya kepada kuasaNya

Melawan Distraksi Dunia
Agar kita dapat melawan distraksi dunia yang semakin kuat di akhir zaman ini, maka kita harus kembali kepada firman Allah. Firman Allah adalah dasar kehidupan yang kokoh, yang tidak akan tergoncangkan oleh apapun juga. Mari kita perhatikan kembali ayat pokok kita.

Amsal 4:25
“Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka

Ini cara agar kita tidak terdistraksi oleh dunia yaitu menetapkan pandangan kita agar tetap lurus ke depan. Terus memandang ke depan memiliki beberapa pengertian, yaitu :
a. Meninggalkan yang ada di belakang
Mata yang memandang ke depan berarti tak lagi melihat apa yang ada di belakang. Seluruh perhatiannya diarahkan kepada apa yang di depan, ke arah jalan yang hendak ditempuh.

Filipi 3:13
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku

Ketahuilah bahwa keberhasilan dalam pengiringan kita kepada Tuhan ditentukan oleh keberanian meninggalkan apa yang ada di belakang. Inilah yang dimaksud pertobatan.

Luk 9:61,62
Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Demikianlah seharusnya kita mengikut Tuhan, segala sesuatu harus ditinggalkan dan dilepaskan demi menjemput hidup dan pengalaman yang baru, yang jauh lebih berharga dan mulia bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

b. Fokus kepada tujuan hidup kita.
“Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan mukamu tetap ke muka”.

Artinya kita harus mengembalikan arah tujuan hidup kita ke arah yang benar yaitu kepada kehendak dan keinginan Tuhan. Hidup kita harus mengarah kepada tujuan kekal bukan kepada kenikmatan dunia.

1Korintus 9:25
Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

2Korintus 4:18
Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Saya mengutip sebuah tulisan yang saya terima melalui WA Group. Tidak tahu siapa penulisnya, tetapi sangat menginspirasi. Berikut penuturannya:
Antonio Vieira Monteiro, Presiden Dewan Direktur Santander Bank Portugal, ia meninggal dunia akibat Covid-19, sepulangnya dari Italia.

Yang membuat perhatian saya adalah tulisan putrinya di medsos, yaitu:
“Kami keluarga kaya berlimpah harta. Tetapi ayahku wafat seorang diri, sulit bernafas bagai tercekik, sambil mencari sesuatu yang gratis tanpa biaya, yaitu udara segar, sedang hartanya ditinggal di rumah”.

Dari perkataan ini kita dapat menarik pelajaran: bahwa semua harta, jabatan dan kekuasaan, tak dapat menyelamatkannya saat kematian menjemput kita. Sebab itu pastikanlah bahwa arah pandangan dan tujuan hidup kita hanya tertuju kepada Tuhan dan kekekalan.

Apakah yang sedang kita kejar saat ini? Hidup kekal atau hidup saat ini. Arahkanlah hidup kita kepada tujuan kekal yaitu kerajaan Allah dan kebenaranNya.

Matius 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Ketahuilah bahwa harta kekayaan dan segala kenikmatan dunia itu seperti bayangan, semu, fana. Makin dikejar makin menjauh. Oleh sebab itu berbaliklah, arahkan dirimu kepada Allah, maka bayangan akan selalu mengikutimu. Saat kita membelakangi dunia dan mengejar Tuhan, maka berkat-berkat Tuhan akan senantiasa menyertai perjalanan kita.

c. Mengarahkan kehidupan kepada Kristus dan kehendakNya.
Ibrani 12:2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Mengarahkan kehidupan kepada Kristus dan kehendakNya, itu berarti:

  • Menjadikan Yesus sebagai pemimpin hidup kita. Dia gembala, kita domba-dombaNya. Tuhan berjalan di depan, kita mengikuti dari belakang.
    Kel. 13:21  TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.
  • Mempercayai Tuhan sepenuhnya
    Mat. 9:21
      Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
    Wanita ini datang dengan penuh keberanian karena percaya akan kasih karunia Allah dan kebaikan hati Tuhan. Menurut aturan Taurat, orang yang sakit pendarahan harus dijauhi/disingkirkan karena dapat menyebabkan orang lain menjadi najis. Semua tempat yang diduduki, semua barang yang disentuh dan siapapun yang bersentuhan dengannya menjadi najis. Itulah sebabnya, tidak mudah baginya untuk mendekati Yesus apalagi menyentuh jumbai jubahNya. Namun imannya dan perhatiannya hanya tertuju kepada Yesus, Ia percaya akan kasih dan karuniaNya pasti diberikan kepadanya. Dengan penuh percaya ia terus medesak maju hingga menyentuh jumbai jubah Yesus, sedikitpun ia tidak terdistraksi oleh omongan orang-orang sekitarnya, sampai berhasil menjamah jubahNya dan seketika itu sembuhlah ia dari sakitnya.

Sesulit apapun jalan yang sedang kita lalui, tetaplah memandang Tuhan, percayalah diujung perjalanan ada pertolongan dan kemenangan yang Tuhan telah sediakan. Tuhan memberkati. KJP!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *