PEMISAHAN DALAM GEREJA-oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 21 Maret 2021)

1 Korintus 11:19

Beberapa minggu lalu kita telah membahas topik Yesus sebagai Adam yang akhir (1 Korintus 15:45):

  1. Oleh Yesus sebagai Adam yang akhir dosa kita diakhiri di kayu salib
  2. Yesus sebagai Adam yang akhir akan menggenapi rencana Allah (Kejadian 1:26-28)

PENYEBAB KEGAGALAN
Ada seseorang yang menjadi penyebab kegagalan rencana Allah yang gagal digenapi Adam dan Hawa. 1 Timotius 2:14 berkata, “Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.” Secara jelas dalam ayat ini mencatat bahwa Hawa-lah yang menjadi penyebab Adam berdosa dan mulai gagal dalam menggenapi rencana Allah.

Apakah kegagalan Hawa di taman Eden akan terulang lagi? Sebab, rencana Allah tidak bisa digenapi apabila hanya Adam saja yang menggenapi rencana Allah. Jadi, Adam tidak bisa seorang diri, Adam harus didampingi Hawa. Yesus sebagai Adam yang akhir tidak mungkin gagal dan yang mendampingi Yesus adalah Pengikut Yesus yang sejati atau gereja yang sempurna atau mempelai wanita, atau dapat juga kita sebut dengan istilah Hawa yang akhir.

Untuk mendapatkan pengikut Yesus yang sejati, Tuhan mengijinkan seluruh pengikut Yesus yang sejati mengalami ujian, masalah yang tidak pernah dirasakan oleh pengikut Yesus sebelumnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk menguji, menyaring dan membentuk kita supaya benar-benar keluar sebagai jemaat yang berkualitas, yaitu: pengikut Yesus yang sejati/ gereja sempurna/ mempelai wanita Kristus atau Hawa yang akhir dan bukan pengikut Yesus yang asal-asalan.

2 Korintus 11:2 berkata, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Paulus memiliki kerinduan agar suatu waktu ia sebagai gembala dapat membawa jemaat yang telah digembalakannya kepada mempelai laki-laki, yaitu Kristus.

Ayat 3 berkata, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya”

Diakhir zaman, si ular (iblis) akan begitu giat dengan kelicikannya menyesatkan dan memperdayakan pengikut Yesus yang sejati. Itu sebabnya, Yesus harus melakukan pemisahan didalam gereja untuk mendapat Hawa yang akhir sebab Yesus harus didampingi oleh Hawa yang akhir akan menggenapi rencana Allah yang gagal di taman Eden.

Sesudah pemisahan, di dunia ini akan muncul tiga macam gereja, yaitu:

  1. Gereja sempurna/ Pengikut Yesus yang sejati/ mempelai wanita/ Hawa yang akhir, yang akan mendampingi Adam yang akhir. Pada saat Antikristus berkuasa di bumi, maka gereja yang sempurna akan diluputkan Tuhan. Sebelum Antikristus datang maka gereja yang sempurna akan disingkirkan secara supra natural ke padang gurun (Wahyu 8:12,13; 12:14)
  1. Gereja yang tidak sempurna (Marius 25:1-13: gadis-gadis yang bodoh), mereka tidak mencapai kesempurnaan, sehingga mereka tertinggal dan harus masuk dalam pemerintahan Antikristus. Untuk menjadi selamat, mereka harus mempertahankan iman mereka sampai akhir.
  1. Gereja Palsu yaitu orang-orang kristen yang tidak berpegang kepada Firman Alah, sehingga mereka terseret dengan ajaran nabi Palusu. Mereka menjadi penyembah iblis atau Antikristus.

Oleh sebab itu sebagai orang Kristen diakhir zaman, kita harus membangun iman dan penurutan serta kesetiaan kepada Yesus, sehingga ketika pemisahan tiba, kita menjadi pengikut Yesus yang sejati.

Bagaimana menjadi pengikut Yesus yang sejati?
1. Pengiringan dan kesetiaan (Matius 25)

2. Membangun kekristenan (2 Petrus 1:5-8)

3. Kristianos: melakukan Firman Tuhan dengan taat sepenuhnya (1 petrus 2:5)

4. Rahasia besar (Efesus 5:31-32),

Firman Allah berkata suami dan istri dalam pernikahan Kristen adalah rahasia besar. Rahasia yang dimaksud adalah ikatan pernikahan suami dan istri dalam rumah tangga merupakan gambaran dari hubungan antara Kristus dengan gereja atau jemaat yaitu himpunan orang-orang percaya. Hal ini harus dipraktekkan dalam tiap-tiap rumah tangga oleh seorang suami dan seorang istri seperti yang tertulis didalam Efesus 5:33, yaitu: seorang suami harus mengasihi istri dan seorang istri harus mengasihi suami.

Hubungan suami-istri= Kristus – jemaat. Bila ikatan pernikahan tidak dipraktekkan dalam rumah tangga jasmani, yaitu mengasihi dan menghormati, bagaimana mungkin kita bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan? Hal ini harus dipraktekkan oleh seluruh anggota jemaat. Bagaimana apabila ada anggota jemaat yang belum menikah? Maka mereka dapat memulainya dengan mempraktekkan perintah Yesus: Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:29-31).

PENUTUP
Apabila Markus 12:29-31 kita lakukan dalam kehidupan kita, maka inilah arti rahasia besar itu. Jadi, sebagaimana suami istri saling menghormati dan mengasihi, demikian juga yang harus kita lakukan kepada Tuhan dan sesama kita. Rahasia besar pernikahan antara suami istri ini secara rohani harus dilakukan dengan melakukan nasehat Paulus yang berkata: “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”

 

Adapun cara menerapkan atau mengaplikasikannya dalam hidup kekristenan sehari-hari baik dalam rumah tangga maupun secara umum bagi mereka yang belum berumah tangga adalah dengan melakukan 2 Petrus 1:5-8 dan taat melakukan firman Allah dengan benar dan teliti. Sebaliknya, ketidaktaatan kita adalah bukti bahwa kita tidak memiliki penundukan dan kasih kita kepada Yesus.

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita (2 Petrus 1:5-8).”

HIDUP OLEH PERCAYA – Oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 1 – Minggu, 14 Maret 2021)

Habakuk 2:4
“Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.”

PENDAHULUAN
Tidaklah gampang menjalani kehidupan di tengah penderitaan dengan iman seperti pesan Allah “orang benar akan hidup oleh percayanya”. Tetapi sesungguhnya, ini adalah pesan penting Allah melalui nabi Habakuk kepada orang benar supaya tetap hidup melangkah, berjalan dan bertindak dengan iman.

SITUASI SAAT ITU
Habakuk 1:2-4
Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak , tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. 

Pada saat itu, orang benar berada dalam kondisi menderita, teraniaya dan mereka terjepit di tengah-tengah orang fasik (Israel yang tidak setia). Kemudian, Allah akan mendatangkan murka kepada orang Israel yang berlaku fasik dan tidak setia dengan kesusahan dari orang Kasdim (Habakuk 1:6).

Situasi saat itu adalah orang Israel sudah hidup benar dan setia dihadapan Allah tetapi mereka mengalami banyak penderitaan, ditambah lagi kenyataan ketika Allah menghukum orang fasik maka orang benar juga akan terkena dampaknya (sama-sama mengalami kondisi itu).

Namun Tuhan berjanji bahwa Ia akan mengadakan perbedaan ditengah penderitaan, kesukaran, aniaya, yang sedang dan akan terjadi jika orang benar hidup dengan iman percayanya.

Roma 1:17
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Injil (firman Allah) didalamnya menyatakan kebenaran Allah yang membebaskan, menyelamatkan kita, dengan iman kita kepada Allah dalam Yesus Kristus.

Apa yang kita butuhkan untuk bertahan hidup? Kebutuhan primer: yaitu sandang, pangan, papan. Hal itu mungkin akan menjadi jawaban bagi kita. Itu memang kebutuhan yang paling mendasar yang menjadi ukuran apakah hidup sudah layak atau tidak. Bisakah kita hidup tanpa ketiga hal tersebut? Tentu tidak bisa karena ini merupakan hal yang penting. Tetapi Alkitab menyebutkan satu hal lain yang sangat penting karena menjadi ukuran dari kehidupan. Untuk sekedar hidup di dunia ini mungkin cukup dengan 3 hal tersebut, tetapi untuk dapat hidup sebagai orang benar ada satu hal lain lagi yang dibutuhkan, yaitu iman.

Ada beberapa hal untuk melangkah dari iman kepada iman, yaitu:
1. Iman yang menyelamatkan
Efesus 2:8 berkata, sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman ; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

Besar sekali pengaruh iman yang kita miliki. Ketika kita beriman  maka kita diselamatkan. Tuhan memberikan kasih karuniaNya untuk menyelamatkan kita, tetapi tergantung dari iman yang ada pada kita. Ketika kita percaya akan kasih karunia didalam Yesus Kristus maka kita akan memperoleh keselamatan sehingga kita menjadi orang benar. Iman bukan hanya berarti sekedar menerima Yesus tetapi iman sangat berperan dalam kehidupan. Hidup oleh iman mengarah kepada sebuah proses kehidupan, daya serta kekuatan.

2. Iman bertumbuh dalam pengajaran
Artinya iman yang bertahan oleh karena pengajaran akan firman Tuhan yang murni. Roma 10:17 berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

Dimana saudara tertanam, firman yang kita terima, itulah yang akan membentuk kualitas iman kita. Jangan sembarang membuka hati untuk sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Pengajaran yang sehat akan menghasilkan iman yang kuat. Pengajaran yang benar akan mejadikan iman saudara besar. Jika iman saudara bertumbuh kuat dan besar maka segala situasi yang kita dengar dari Habakuk, maka kita akan bertahan. Penderitaan apa yang kita alami hari-hari ini, goncangan yang Tuhan ijinkan terjadi, maka kita akan terlihat berkualitas.

Ilustrasi
Petani kentang setelah panen langsung membawa kentang-kentang itu ke bak mobilnya untuk dijual. Ada yang bertanya apakah pak tani tidak repot memisahkan kentang besar dan kentang kecil di pasar nanti?  Pak tani menjawab justru tidak repot. Sebab selama perjalanan nanti, akan ada banyak goncangan karena jalan tidak rata yang akan dilalui mobil itu. Kentang yang besar akan selalu tampil ke permukaan sedangkan kentang kecil akan turun ke bawah dengan sendirinya.

Seperti itulah orang benar yang hidup oleh percayanya. Dia tidak akan mudah goyah karena goncangan, justru goncangan akan membuatnya mampu bertahan dan tetap muncul di permukaan.

Nabi Habakuk menggambarkan iman yang kuat bertumbuh seperti kaki rusa, kaki yang kuat di tempat yang terjal, kasar bahkan bukit bebatuan.

Habakuk 3:19
“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”

Rahasia kekuatan iman kaki rusa adalah iman yang didasari dengan hubungan kepada Tuhan dalam pengajaran akan firman yang murni sehingga iman menjadi kuat.

Roma 1:16
Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah  yang menyelamatkan setiap orang.

Habakuk 3:17-18
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN , beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan  aku.

Iman yang sudah tidak terpengaruh oleh kondisi yang terjadi dalam hidup orang benar, baik kondisi saat ini maupun kondisi yang akan datang.

KESIMPULAN
Banyak tantangan yang akan terjadi, namun percayalah kepadaNya. Hiduplah dengan iman karena hidup dengan iman yang akan membuat kita kuat ditengah tantangan kehidupan ini.

BANGKIT DI MASA SULIT -Oleh Pdt. Joseph Priyono  (Ibadah Raya 2 dan 3 – Minggu, 14 Maret 2021)

Ester 4:16
“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Pendahuluan
Setiap orang  pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya. Tidak ada seorangpun yang bebas  dari kesulitan hidup. Bahkan dalam keberhasilan dan kemenangan sekalipun, kesulitan selalu menjadi jalan untuk mencapainya.  Lebih-lebih pada saat ini, ketika pandemi belum berhenti, kesulitan seolah-olah menjadi kawan sejati yang selalu menyertai. Kesulitan selalu mengiringi langkah kaki menuju impian kita.

Jika kita membaca tokoh-tokoh alkitab baik dalam PL mapun PB, kesulitan menjadi bagian dalam hidup mereka.

  • Musa sebagai pemimpin besar bangsa Israel, telah mengalami kesulitan hidup sejak dilahirkan.
  • Yusuf, sebelum menjadi penguasa di Mesir, perjalanan hidupnya dipenuhi dengan penderitaan dan kesulitan.
  • Daud sebagai raja besar di Israel, tidak lepas dari kesulitan hidup.
  • Rasul Paulus, dalam 2Kor.11, ia mendaftarkan kesulitan hidup yang dialami saat melayani Tuhan.
  • Bahkan Tuhan Yesus sendiri saat melayani dunia ini, hidupNya dipenuhi kesulitan hingga mati di kayu salib.

Kesulitan akan selalu ada, tetapi yang menjadi persoalan bukan kesulitan apa yang sedang terjadi, tetapi bagaimana kita mengatasi kesulitan yang sedang kita alami. Sesulit apapun jalan yang kita tempuh atau seberat apapun beban yang sedang kita pikul, kita tidak boleh berhenti melangkah atau menyerah pasrah dengan keadaan yang terjadi. Kita harus berani menghadapi semua kesulitan yang sedang terjadi. Marilah kita belajar dari kehidupan Ester, bagaimana caranya ia dapat bangkit di masa sulit.

Jika kita membaca kitab Ester pasal empat ini,  maka kita akan mengetahui  bahwa pada saat itu Ester telah diangkat menjadi ratu menggantikan ratu Wasti. Ester secara resmi menjadi permaisuri raja Ahasyweros. Ia sekarang menikmati kemewahan kerajaan dan istana raja. Hidupnya berubah drastis dari seorang buangan menjadi permaisuri raja. Tetapi apakah kemewahan kerajaan dan tingginya kedudukan yang dimiliki Ester membebaskannya dari keadaan sulit? Tidak! Saat ini Ester mengalami kesulitan besar, karena Haman sedang merencanakan untuk membinasakan seluruh orang Yahudi yang ada di seluruh wilayah kerajaan Persia termasuk ratu Ester, sekalipun berada di dalam istana raja. Mengetahui orang-orang Yahudi dalam ancaman kematian, maka Mordekhai mengirim pesan kepada Ester agar menolong bangsanya dengan cara berbicara kepada raja agar membatalkan surat kuasa yang telah diterima Haman. Tetapi persoalannya, hukum kerajaan Persia tidak mengijinkan seorang ratu menghadap raja jika raja tidak memanggilnya. Dalam keadaan seperti itu,inilah pesan yang disampaikan Mordhekai kepada Ester:

Ester 4:13,14
maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

Maka jawab Ester:
Ester 4:16
“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Inilah fakta kehidupan, bahwa dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang pasti. Sebagai seorang ratu, seharusnya Ester hidup dalam kebahagiaan dan kemewahan kerajaan. Tetapi nyatanya, ia sekarang justru mengalami kesulitan besar. Dia dan seluruh bangsanya diancam kematian.

Hidup dalam dunia ini tidak ada yang pasti, semuanya semu baik kekayaan, kedudukan, kekuasaan, ketenaran ataupun kecantikan dan ketampanan.  Sebab itu jangan andalkan hal-hal yang lahiriah, satu-satunya yang dapat kita andalkan adalah Allah. Berikut ini beberapa contoh bahwa kekayaan, ketenaran, uang dan jabatan bukan jaminan kebahagiaan.

  • Adolf Merckle orang terkaya dari Jerman, tetapi mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.
  • Michael Jackson, penyanyi terkenal dari USA, meninggal dengan cara meminum obat tidur hingga overdosis. Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.
  • Getulio Vargas, presiden Brazil meninggal dengan bunuh diri. Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia tentunya Getulio Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya sendiri.
  • Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, meninggal karena meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis. Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Setiap orang memiliki kesulitan hidup masing-masing, entah besar atau kecil. Yang  pasti tidak ada seorang pun bebas dari kesulitan. Kesulitan apa yang sedang saudara alami? Jangan terpuruk dengan kesulitan yang sedang terjadi, bangkit dan atasi kesulitan itu. Marilah kita belajar dari ratu Ester, bagaiamana caranya ia mengatasi kesulitan hidupnya.

Bangkit dimasa sulit
1. Menghadaplah kepada Allah sebelum menghadap raja
Ester 4:16
“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang.

Inilah tindakan yang dipilih Ester untuk bangkit di masa sulit yaitu berpuasa. Ester memilih menghadap Tuhan lebih dahulu sebelum ia menghadap raja. Ia memilih bertemu dengan Raja di atas segala raja sebelum bertemu raja Ahasyweros. Bagi Ester Tuhan menjadi prioritas utama dan pertama dalam mencari solusi persoalannya. Bagaimana dengan kita?

Di saat sulit seperti ini, bukan membuat strategi baru yang utama, bukan menata atau merombak kembali usaha kita yang penting, tetapi yang dibutuhkan adalah mendekat kepada Allah. Ester sadar bahwa tanpa campur tangan Allah, mustahil dapat menembus undang-undang kerajaan. Hanya jika Tuhan bekerja maka ia akan diterima raja. Oleh sebab itu jalan satu-satunya adalah memohon pertolongan Tuhan dengan cara berpuasa.

Arti berpuasa
Imamat 16:29
Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu.

Inilah makna puasa, bukan sekedar tidak makan atau minum, tetapi tujuan puasa adalah merendahkan diri dihadapan Tuhan untuk memohon pertolongan dan belas kasihanNya.

Ester mengerti bahwa saat ia dapat menyentuh hati Tuhan, maka ia dapat menggerakkan tangan Tuhan. Satu anggukan kepala Tuhan akan menyelesaikan seluruh persoalan.

2Taw. 7:14
dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

Di masa yang sulit seperti ini, jangan jauhi Tuhan, berbaliklah kepadaNya dan mohonkan belas kasihan Tuhan. Tanpa belas kasihan Tuhan, segala sesuatu yang kita kerjakan tidak akan menuai keberhasilan.

Berikut ini adalah contoh orang-orang yang mengutamakan untuk mencari Tuhan sebelum maju berperang.

  • Raja Hizkia (2Raja-raja 19:14)
    Saat menerima surat acaman dari musuh, Hizkia memilih pergi ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN.
  • Daud (1Sam.30:1-8)
    Dalam keadaan yang terjepit karena kota Ziklag terbakar habis dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan musuh bahkan rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu, Daud memilih menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya dan bertanya kepada TUHAN sebagai solusi utama.

Dalam berbagai kesulitan yang kita alami, carilah Tuhan dan mohonkan belas kasihNya. Jika kita menerima kasih karunia Allah maka semua kesulitan akan terasa mudah untuk diselesaikan. Kasih karunialah yang memberikan kita kekuatan dan kemampun untuk berjalan melewati semua kesulitan.

2Kor. 12:9
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

2Tim. 2:1  Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.

2. Kemenangan tidak bisa ditunggu, Anda harus bergerak maju.
Ester 4:16
“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Ester dan bangsa Yahudi telah berpuasa dan mohon belas kasihan Tuhan, kita saatnya ia masuk menghadap raja, sebab ia sadar bahwa kemenangan tidak bisa ditunggu, Ester harus bergerak maju menuju arah yang dituju.  Jangan menunggu keadaan berubah baru melangkah. Bergeraklah maka Allah akan bertindak.

Peng. 11:4
Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.

Peng. 11:6
Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.

Teladanilah Ishak menabur meski di masa kelaparan.

Kej. 26:12
Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.

Lakukan saja yang kita bisa, selebihnya serahkan kepada Tuhan yang berkuasa. Kerjakan apa yang anda mampu dan biarkan Tuhan menjadi penentu.

3. Pengorbanan yang anda berikan menentukan kemenangan yang anda dapatkan.
Ester 4:16
“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Ukuran besarnya masalah kita bukan menentukan besarnya kesulitan yang kita hadapi, tetapi kemenangan yang akan terjadi. Kelas pertandingan anda menentukan hadiah yang anda dapatkan.

1Kor. 10:13  Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Ketahuilah, besarnya musuh yang kita hadapi menunjukan besarnya kepercayaan Allah kepada kemampuan kita untuk mengatasinya. Sebab itu beranilah untuk bangkit meski keadaan masih sulit, percayalah saat kita mendahulukan Tuhan, maka Tuhan akan menyatakan kuasaNya atas kita. Saat kita menyentuh hati Tuhan, maka kita akan menggerakan tanganNya untuk bertindak. Bangkitlah di masa sulit. Tuhan memberkati. KJP!

YESUS SEBAGAI ADAM YANG AKHIR- oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 7 Maret 2021)

1 Korintus 15:45
Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.”

PENDAHULUAN
Mungkin ada di antara Saudara yang baru kali ini mendengar istilah: Adam yang akhir. Apa yang dimaksud dengan istilah Adam yang akhir? Mari kita melihat dan mempelajari perbandingan berikut ini:

ADAM
Adam mendapat gelar makhluk yang hidup, karena Adam adalah cikal bakal dari semua manusia yang hidup di muka bumi ini. Akibat Adam jatuh kedalam dosa, maka seluruh umat manusia yang merupakan keturunan Adam, menerima warisan Adam yaitu dosa. Upah dosa ialah maut, yaitu kematian atau siksaan yang kekal di dalam neraka (Roma 6:23). Selain itu oleh karena dosa, Adam dan Hawa gagal menggenapi rencana Allah (Kejadian 1:26-28).

ADAM YANG AKHIR
Tetapi, oleh karena kasih Allah yang besar kepada manusia sehingga Yesus, yaitu Adam yang akhir, yang adalah Roh yang menghidupkan, turun kedalam dunia untuk menebus dosa manusia. Oleh pengorbanan Yesus di atas kayu salib, setiap orang yang percaya kepada Yesus sebagai Adam yang akhir maka segala dosanya diakhiri (diampuni) di dalam Yesus. Ia tidak akan mengalami maut yaitu kebinasaan didalam neraka, melainkan menerima hidup yang kekal di sorga. Selain itu, kegagalan Adam dan Hawa yaitu menggenapi rencana Allah, akan diakhiri oleh Yesus.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Oleh pengorbanan Yesus di salib, maka di dalam Yesus sebagai Adam yang akhir semua dosa dan kesalahan kita diakhiri.
  2. Oleh kematian Yesus, kegagalan Adam yaitu melakukan rencana Allah akan digenapi oleh Yesus sebagai Adam yang akhir.

KAPAN KEGAGALAN ADAM DIAKHIRI?
Pada umumnya kita sudah mengerti bahwa dosa yang diwariskan Adam kepada umat manusia, telah diakhiri oleh Yesus di kayu salib (Yohanes 19:30). Tetapi kapan Yesus akan mengakhiri kegagalan Adam dalam menggenapi rencana Allah?  (Kejadian 1: 26-28)

ADAM DAN HAWA DI TAMAN EDEN
Dalam kejadian 1:26-28, dijelaskan bahwa:
1. Adam Hawa dijadikan serupa dengan Allah.
Adam dan Hawa adalah manusia yang mulia dan sempurna, serupa dengan Allah.

2. Tujuan Allah menjadikan manusia supaya manusia beranak cucu, menghasilkan keturunan Ilahi, dan memenuhi bumi.
Manusia diberikan kuasa untuk memelihara bumi dan isinya tetap lestari,  juga menjadi penguasa atas bumi serta isinya. Manusia tidak dijadikan Allah untuk mati, tetapi hidup kekal di bumi sebagai penguasa atas bumi dan semua isinya. Tetapi Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

3. Adam dan Hawa gagal melakukan rencana Allah akibat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.
Adam dan Hawa telah gagal total dalam menggenapi rencana Allah. Akibatnya, Adam dan Hawa diusir oleh Allah dari taman Eden. Kalau begitu, apakah Allah membiarkan rencana-Nya yang kudus dan mulia itu gagal total? Tentu saja tidak. Ayub 42:2 berkata, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Tidak mungkin Allah membiarkan rencana-Nya gagal, termasuk rencana-Nya untuk melahirkan keturunan Ilahi dan memenuhi bumi (Kejadian 1:26-28). Masalahnya di taman Eden (langit bumi), Adam didampingi oleh Hawa dan gagal menggenapi rencana Allah di langit bumi yang baru (Wahyu 21:1-8). Siapa yang akan bersama Yesus sebagai Adam yang akhir untuk menggenapi rencana Allah? Yang mendampingi Yesus ialah pengikut Yesus yang sejati yaitu gereja yang sempurna atau mempelai wanita Kristus.

MENJADI PENGIKUT YESUS YANG SEJATI
Bila kita menelusuri sejarah gereja, umumnya bapa-bapa gereja menyebut kelahiran gereja yaitu himpunan orang percaya terjadi pada tahun 30 Masehi, tepatnya saat Yesus mati disalib. Saat itu lambung Yesus, yaitu lambung Adam yang akhir ditikam dan dari lambung Yesus, mengalir darah dan air. Dan pada saat itu lahir gereja, yaitu jemaat atau himpunan orang percaya dari generasi berganti generasi. Artinya, karena pengorbanan Yesus maka lahir gereja Tuhan, yaitu jemaat atau himpunan orang percaya terus hidup di muka bumi ini. Bila dilihat secara individu entah sudah berapa banyak hamba Tuhan begitu juga anak-anak Tuhan yang mati dalam iman. Dan mereka semua sekarang ada di Firdaus bersama Yesus. Kita tidak pernah berpikir dan menyangka, Tuhan telah mengizinkan kita hidup diakhir dari akhir zaman, di mana rencana Allah dalam Kejadian 1:26-28 harus digenapi.

PENGIKUT YESUS YANG SEJATI
Untuk menggenapi rencana Allah, yang gagal dilakukan Adam dan Hawa, sekarang Yesus, yakni Adam yang akhir sedang menantikan pengikut sempurna yaitu Hawa yang akhir yaitu sebagai “mempelai wanita Kristus”. Untuk maksud dan tujuan diatas, Yesus akan melakukan pemisahan didalam jemaat. 1 Korintus 1:19 berkata bahwa “Sebab di antara kamu (himpunan jemaat) harus ada perpecahan (pemisahan), supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji (berkualitas)”.

 Bekerja, berusaha, dan mencari uang tidak salah. Tetapi kita tidak boleh mengabaikan bahwa kita harus membangun kualitas rohani kita sehingga dalam penilaian Yesus, kita termasuk dalam bagian jemaat yang tahan uji atau pengikut Yesus yang sejati, gereja yang sempurna yaitu mempelai wanita kristus dan tidak salah bila saya sebut: “HAWA YANG AKHIR”.

KESIMPULAN
Saatnya sudah sangat dekat, kita akan masuk pada masa dimana kita tidak bisa lagi lari atau menghindar. Saatnya akan tiba dimana Yesus akan mengadakan pemisahan didalam gereja atau jemaat, yaitu himpunan orang percaya, sehingga akan nampak mana yang menjadi pengikut Yesus yang sejati.

TAK PERNAH TERTIDUR – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 28 Februari 2021)

Jika  Anda pernah mendengar istilah “the city that never sleeps” itu menggambarkan sebuah kota yang tidak pernah sepi, atau dengan lain kata selalu saja aktivitas yang ada di kota tersebut. Mungkin Jakarta cocok dengan sebutan itu, meskipun kalau jam 2 pagi kata Pak Gubernur Anies sudah sepi jalanan di Jakarta. Tapi secara global biasanya orang menyebut New York, Amerika Serikat dengan julukan kota yang tidak pernah tertidur. Untuk kota Tegal mungkin memang lebih cocok “laka-laka” meskipun jalur pantura yang melintasi kota Tegal bisa dibilang tidak pernah sepi.

Menariknya di dalam Mazmur 121:4 disebutkan bukan tentang kota, tapi tentang penjaga Israel yang tidak pernah tertidur. Saudara Geralldi membawakan mengenai Mazmur ini di Doa Pagi GPdI Mahanaim beberapa hari lalu. Untuk jemaat Mahanaim yang belum tahu, setiap pukul 04.45 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB, Anda bisa mengikuti Live Streaming Doa Pagi Mahanaim di YouTube Channel GPdI Mahanaim Tegal, atau Anda juga bisa hadir secara langsung di Beth Eden. Pakai kesempatan ini untuk bergabung bersama kami dalam pujian, penyembahan, penyampaian Firman dan doa. Anda yang tidak bisa bangun sepagi itu, tetap bisa menyaksikan rekamannya sampai 24 jam, sebelum videonya dihapus dari YouTube.

Kembali ke Mazmur 121, jika kita baca secara lengkap ini adalah suatu mazmur yang menyatakan betapa orang-orang yang menaruh percaya mereka kepada Tuhan akan dilindungi dan diselamatkan. Betapa kita membutuhkan pesan pengharapan mengenai jaminan penjagaan Tuhan di hari-hari seperti ini. Ketika semua kanal berita berisi kabar yang menyedihkan, menakutkan, dan mengkhawatirkan, kita berpaling pada berita dari Surga yang menguatkan, menghibur dan memberi jaminan.

Ketika mendengar kata “kekuatan”, “penghiburan”, dan “jaminan” satu figur yang langsung muncul di pikiran saya adalah figur bapa atau ayah. Saya pernah membawakan mengenai sebutan Bapa ini di tahun 2018, dalam Firman Tuhan Ibadah Raya GPdI Mahanaim berjudul “Ayah”. Anda bisa search di website Gereja atau di website pribadi saya dan ketikkan kata kunci “ayah” di kolom pencarian.

Saya selalu suka dengan bagaimana Yesus memperkenalkan Allah sebagai “Bapa” kepada murid-muridNYA dan semua orang yang mendengar pengajaranNYA.

(.)“Bapa” adalah sebutan yang Yesus berulang-ulang kali ungkapkan ketika IA merujuk tentang Allah Pencipta Langit dan Bumi. Contohnya disaat Yesus menyucikan Bait Allah di Yerusalem, IA berkata, “Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Yohanes 2:16.

(..)Demikian juga Yesus berbicara tentang Bapa di dalam doaNYA didepan murid-murid. Matius 6:9-13. Coba Anda baca ayat ini dengan saksama. Saya percaya bahwa apa yang Yesus inginkan adalah pengertian lebih dari pengulangan, karena kalau Anda baca di ayat 7-8 Yesus meminta supaya doa itu tidak bertele-tele dan terlalu banyak kata, karena Bapa mengetahui apa yang kita perlukan. Anda bisa cek juga penjelasan saya bahwa Doa itu bukan mantra orang Kristen di YouTube Channel Gereja.

(…)Yesus pernah menyebut tentang Bapa juga disaat menjelaskan alasan diriNYA terpisah dari rombongan orang yang berjalan pulang ke Nazaret dari Yerusalem. Lukas 2:49.

Meskipun Yesus sering menyebut Allah sebagai Bapa, namun diakhir hidupNYA di muka bumi Yesus bukan memanggil “Abba” (sebutan untuk Bapa di dalam bahasa Aram) tetapi “Eloi” (sebutan untuk Allah, lebih tepatnya Allahku, dalam bahasa Aram). Markus 15:34. Ps. Joseph Prince pernah menjelaskan tentang ini dengan sangat baik. Bahwa apa yang Yesus lakukan dengan memanggil “Allah” kepada yang biasa dipanggilnya “Bapa” itu supaya semua orang yang percaya kepada Yesus bisa memanggil Allah dengan sebutan Bapa. Ini adalah paradoks tindakan dari Yesus, sama seperti “IA mati, supaya kita hidup”, “IA menjadi miskin, supaya kita kaya”, dan lain sebagainya.

Kematian Yesus adalah kulminasi dari kasih Allah yang ditunjukkan pada manusia (Roma 5:8) dan adalah bukti dari janji kemenangan atas kuasa iblis (Kejadian 3:15). IA mengasihi kita dan menepati janjiNYA, apakah layak kalau kita menuduh Allah yang tidak-tidak? Keadaan Ayub yang begitu menderita tidak mengubah kesalehannya kepada Tuhan. Padahal ia dalam kondisi tidak mengerti alasan atas apa yang terjadi. Dalam Ayub 1:22 dituliskan ia “tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”

Saya menyadari bahwa keraguan akan kehadiran Allah akan semakin meningkat di tengah kesulitan. Ini ditunjukkan oleh Ayub juga di Ayub 13:24, demikian oleh Daud di Mazmur 10:1, juga murid-murid Yesus di Markus 4:38. Pada kisah yang melibatkan murid-murid Yesus, Markus menuliskan, “Pada waktu itu Yesus sedang tidur…” Jadi ayat ini sebenarnya menegasi pernyataan Mazmur 121:4, bukan?

Matthew Henry seorang hamba Tuhan yang terkenal dengan komentar-komentar Alkitab yang ditulisnya, memberi catatan khusus mengenai insiden tidurnya Yesus. Ia menulis bahwa Yesus tidur untuk menguji iman murid-muridNYA! Tentu saja Anda mungkin pernah mendengar pernyataan bahwa mungkin yang tidur adalah sisi kemanusiaan Yesus yang lelah setelah melakukan pelayanan seharian. Apapun pernyataan tentang hal itu, saya tertarik dengan tulisan George Herbert, “Meskipun IA memejamkan mata, namun bukan hatiNYA!”

Saya melihat apa yang Yesus lakukan kepada murid-murid sama seperti apa yang Allah izinkan terjadi kepada:

(.)Ayub, ketika diizinkanNYA iblis untuk “menjamah” segala yang dipunyai Ayub (Ayub 1:11), kemudian tulang dan daging Ayub (Ayub 2:5).

(..)Paulus, yang menulis tentang utusan iblis dalam dagingnya yang “menggocoh” atau dalam terjemahan New English Translation (NET) disebut “menyusahkan” (2Korintus 12:7).

(…)Yesus, saat IA dibawa ke padang gurun dan kemudian dicobai iblis (Lukas 4:2). Kemudian saat Yesus tergantung di kayu Salib, Yesus berkata kepada Allah Bapa “mengapa Engkau meninggalkan Aku?” yang menggambarkan Allah memalingkan wajah karena dosa dunia (Yohanes 1:29) yang ditanggung Yesus.

Namun ketika ujian itu datang, biarlah itu tidak menggoyahkan kepercayaan dasar kita kepada Allah, bahwa IA Bapa yang baik, karena IA selalu berjaga bagi kita. Sama seperti seorang anak yang percaya bahwa ayahnya akan selalu ada untuk dirinya. Saya belum memiliki anak secara jasmani, tetapi saya punya ayah yang begitu memperhatikan saya dan selalu ada. Apalagi Bapa kita di Surga, DIA akan memberikan pemberian yang baik. Lukas 11:12.

Apa itu pemberian yang baik? Roh Kudus. Mengapa kehadiran Roh Kudus itu penting? Ingat ketika Yesus dicobai? Apa yang dikatakan di Lukas 4:1? Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, dibawa ke padang gurun. Bentuk pencobaan apapun yang Anda hadapi dengan Roh Kudus, Anda punya jaminan penyertaan Allah. 2Korintus 5:5. IA tidak pernah tertidur, IA akan mengirim malaikat-malaikat untuk melayani Anda, setelah Anda menang atas semua pencobaan. Matius 4:11.