YESUS HIDUP ADA HARI ESOK – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 2,3 – Minggu, 26 April 2021)

Kematian Yesus di Golgota telah mengguncang iman para murid-Nya sehingga mereka pun melepaskan tugas dan tanggung jawabnya sebagai murid Yesus ditengah dunia yaitu memberitakan kabar baik.  Kondisi para murid pada waktu Yesus mati dikayu salib adalah: ada yang menangis dan berdukacita, ada pula yang menyembunyikan diri karena ketakutan, beberapa dari mereka mengalami lemah iman dan ada yang kembali ke profesi semula sebagai nelayan dan juga ada yang kembali ke kampung halaman dengan kecewa.

Matius 28:6 – Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.

Inilah berita kebangkitan Tesys, dikatakan bahwa Yesus tidak ada dan kubur itu sudah kosong. Kubur yang kosong adalah bukti nyata bahwa Yesus telah bangkit. Kebangkitan Yesus dari kematian bukanlah rekayasa atau cerita dongeng atau mimpi, melainkan sebuah kebenaran. Ini adalah pengenapan dari apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya,  “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”  (Matius 17:22-23).  Hal ini menunjukkan bahwa firman Tuhan adalah ya dan amin.  Tidak ada janji firmanNya yang tidak Dia tepati.

Kebangkitan Yesus menyatakan bahwa Ia Allah yang tidak berdusta. KebangkitanNya membuktikan bahwa Yesus bukan hanya sebagai Juruselamat, tetapi juga sebagai Tuhan yang hidup dan berkuasa!

Dan ketika Dia menyatakan kepada murid-murid bahwa Ia hidup maka:
1. Ada masa depan.
Yohanes  20:11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,

Kondisi Maria Magdalena pada waktu itu menangis dan berduka selain karena kematian Yesus, juga karena mayat Yesus hilang. Sedih adalah emosi naluriah yang dapat dirasakan setiap orang. Kesedihan bisa menghampiri saudara sesekali atau bahkan hampir setiap hari, tergantung pada apa yang sedang terjadi dalam hidup saudara.

Kesedihan dan duka apa yang saudara alami hari-hari ini? Kesedihan seseorang karena kehilangan orang dicintai adalah hal yang wajar. Jika kita bersedih karena kegagalan bersedihlah. Jika kita bersedih karena dirugikan atau bersedih karena saudara ditinggalkan seseorang yang dikasihi menagislah. Tetapi kita harus sadar, ketika kita bersedih, menangis dan berduka berkepanjanagan atau berlarut-larut, maka kita tidak akan melihat kemuliaan Tuhan, tidak melihat masa depan.

Maria tidak dapat melihat Yesus.
Yohanes 22:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ,tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 

Kesedihan dapat menghalangi kita untuk melihat masa depan, untuk bangkit dan membuka lembaran baru, itu sebabnya jangan bersedih berlarut-larut.

Ketika Maria bersedih Yesus menegur Maria dan berkata dalam Yohanes 22:15 Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” 

Dari ayat ini menjelaskan kepada kita, tidak perlu menangis berlarut-larut.  Tanggalkan duka, manusia lama, dan kesedihan serta duka kita karena Yesus yang mati, yang dicari dan hilang telah bangkit dan hidup  untuk selamanya.

Dikatakan siapa yang engkau cari cari? Artinya yang di cari / yang hilang dan mati sudah hidup. Yesus hidup memeberikan masa depan ada hari esok.

Yohanes 20:16 Kata Yesus kepadanya: “Maria!“… ini adalah sapaan Yesus yang mengubahkan duka dan tangisan Maria sehingga Maria dipulihkan dan dapat melihat Yesus dan sapaan ini juga berarti Yesus mengenal kita dan tahu kondisi kita.

Ketika Yesus berkata dan menyapa Maria dalam Yohanes 20:16 Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!  “, artinya Guru.

Dari sapaan Yesus yang khas menyadarkan dirinya. Yesus hidup dan menjadikan Maria manusia baru, manusia yang mampu melihat harapan, keselamatan masa depan. Ia yang tadinya tidak dapat melihat dan mengenal Yesus yang bangkit pada akhirnya menjadi saksi pengalaman perjumpaan dengan Sang Guru. Sapaan Yesus berarti Ia mengenal kita dan tahu kondisi kita.

Sapaan yang sama dari Firman Allah menyapa saudara ”Mengapa kamu menangis,siapakah yang engkau cari” artinya karena Yesus yang mati, yang dicari dan hilang telah bangkit dan hidup  untuk selamanya mengubah saya dan saudara untuk terus memiliki harapan, masa depan yang cerah didalam Yesus.

2. Memberi damai sejahtera
Yohanes 20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempatdengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!  

Setiap orang percaya bisa saja mengalami rasa takut. Yesus hidup dan menampakan diri kepada murid-murid dalam ketakutan mereka, Yesus memberikan “Damai sejahtera.”

Ada dua kali kata damai sejahtera yang Yesus ucapkan dalam rumah itu.
1). Damai sejahtera, ayat 19
Damai sejahtera yang diberikan oleh Yesus saat Kematian Yesus dikayu salib yaitu mendamaikan kita dengan Allah.

Ketika manusia jatuh dalam dosa maka manusia hidup didalam rasa takut, kegelisahan karena dosa yang dilakukan tetapi damai sejahtera pertama menekankan  bahwa sumber damai sejahtera itu diberikan ketika Yesus menjadi korban mendamikan kita dengan Allah.

Roma 5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

2). Damai sejahtera
Yohanes 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku,   demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. 

Damai sejahtera yang kedua Yesus menekankan kepada murid-murid apapun kondisi yang terjadi di sekitar kita tidak akan merampas damai sejahtera yang diberikan Yesus kepada kita dan damai sejahtera itu yang akan membuat murid-murid berani dan mampu keluar memberitakan tentang Yesus.

Damai sejahtera ini adalah pekerjaan dari pribadi Roh kudus, dalam Yohanes 20:22 dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh kudus. Dari ayat ini bukan berarti murid-murid pada waktu itu dipenuhi oleh Roh kudus, karena Roh Kudus akan memenuhi mereka nanti ketika Yesus naik ke sorga dan itu terjadi ruang loteng Yerusalem, tetapi maksunya adalah:

  • Yesus memberikan nafas kehidupan yang membaharukan yaitu lahir baru bagi murid-murid
  • Yesus ingin menjelaskan bahwa damai sejahtera akan mereka peroleh dari Roh Kudus yang mengingatkan mereka saat pesan Yesus dipasal 14 yaitu janji Roh penghibur.

Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

3. Meneguhkan Iman percaya
Yohanes 20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka”Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya,sekali-kali aku tidak akan percaya.

Paska kematian Yesus di kayu salib membuat iman murid-murid Yesus menjadi sangat terguncang.  Salah satunya adalah Tomas, yang memilih untuk meninggalkan persekutuan yang biasa diadakan di suatu tempat bersama dengan murid-murid lainnya dalam ayat 24.  “Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.” 

Tomas tidak lagi hadir karena terguncang imannya dan frustasi. Mengapa Tomas ragu?

  • Karena beranggapan bahwa kematian Yesus di kayu salib adalah akhir segalanya.  Bahkan ketika murid-murid lainnya menceritakan perihal kebangkitan Yesus kepadanya ia bersikap skeptis dan sama sekali tidak percaya.  Tomas butuh bukti konkret untuk percaya.  Begitu mudahnya iman Tomas memudar, padahal ketika masih bersama-sama Yesus ia mendengar sendiri apa yang dikatakan Yesus bahwa Ia akan mati disalibkan dan bangkit dari kubur pada hari yang ketiga.
  • Karena konsep pemahaman Tomas tentang Mesias salah. Menurut Tomas bahwa Mesias akan datang dalam semarak dan penuh kemegahan, bukan kesederhanaan.  Sementara Tuhan Yesus datang sebagai hamba yang sederhana dan malah harus menderita, dan mati secara memalukan di kayu salib.
  • Karena Tomas tidak mengenal Yesus lebih dalam. Ternyata 3,5 tahun diajar dan hidup bersama dengan Yesus tidak cukup bagi Tomas mengenal pribadi-Nya secara benar. Namun begitu Yesus datang kepada Tomas secara pribadi dan menampakkan diri kepadanya, serta berkata, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”  (ayat 27)

Hati-hati dengan keraguan
1. Keraguan membuat kita kehilangan keselamatan
Dengan Iman kita memperoleh keselamatan, bagaimana kita peroleh keselamatan jika kita iman kita ragu?

2. Keraguan membuat kita tidak akan bertumbuh
Pertumbuhan menurut 2 Petrus 1:5 dimulai dari iman dan meningkat sampai kasih akan semua orang, bagaimana mungkin dapat meningkat jika iman kita ragu?

3. Keraguan tidak akan menikmati janji Tuhan
Janji Tuhan kita terima dengan iman percaya kita, bagaimana menikmati janji Tuhan jika Iman kita ragu?

4. Keraguan tidak dapat melakukan perkara yang besar
Jika engkau memiliki iman sebesar biji sesawi maka akan memindahkan gunung artinya melakukan perkara yang besar. Bagaimana bisa terjadi jika iman kita ragu?

Tetapi ketika Yesus hidup Ia menyatakan diri, Iman Tomas diteguhkan
Yohanes 20: 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. ” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku !” 

Roma 1:17…” orang benar akan hidup oleh iman.”
Ketika iman dipulihkan maka keselamatan menjadi milik kita, iman kita bertumbuh, kita dapat menikmati janji Tuhan dan melakukan perkara yang besar didepan kita seperti halnya Tomas, Tomas menjadi saksi yang luar biasa bahkan rela mati demi pemberita Injil Kristus di India.

Mungkin kita juga pernah kecewa karena setelah menerima dan mengenal Kristus, masalah bertubi-tubi menimpa kita. Atau apa yang terjadi dalam hidup kita, tidak sesuai harapan kita.

Kita kecewa dan meninggalkan persekutuan, sama seperti yang Tomas lakukan. Tapi Tomas yang dulunya mengalami kekecewaan dan menjauh dari Tuhan, akhirnya kembali mengikut Tuhan. Bukan hanya kembali, tapi ia juga memberikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Saudaraku, bangun kembali iman percaya saudara, percayai Tuhan sepenuhnya bahwa Ia Allah yang bangkit dan hidup sanggup memulihkan iman percaya saudara dan memulihkan keadaan kita.

Kesimpulan
Yesus hidup ada hari esok, Ia memberikan masa depan buat kita, memberikan damai sejahtera yang mengalahkan ketakutan dan Yesus hidup meneguhkan iman percaya kita. Tuhan Yesus memberkati.

MENCARI KERAJAAN ALLAH DAN KEBENARANNYA – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 18 April 2021)

Matius 6:33
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

 Pendahuluan
Tuhan Yesus perintahkan hal ini dalam salah satu pengajarannya di bukit, sehubungan dengan kekuatiran soal makan, minum dan pakaian (Matius 6:25-31a). Semuanya itu kata Tuhan, dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, Mat. 6:32a. Mengapa mereka begitu menguatirkan tentang hal itu? Karena mereka tidak mengenal Allah sebagai Bapa surgawi seperti kita, mereka tidak punya pengharapan yang pasti dan tidak mempunyai pegangan hidup seperti yang orang percaya miliki. Kepada orang yang percaya Yesus, dikatakan bahwa Bapa kita di surge tahu kalau kita memerlukan semuanya itu.

Mat 6:32b – “…Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.”

Selanjutnya Tuhan member petunjuk sekaligus perintah, bagaimana mendapatkan semua yang kita perlukan itu yang sebenarnya hanya hal tambahan. Perintahnya adalah cari hal yang utama yang merupakan sumber dari yang kita butuhkan itu, yaitu sang pemberi berkat bukan pada berkatnya, karena dengan kita memiliki Tuhan sebagai sumbernya maka sebenarnya kita sudah mendapatkan segalanya.

CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH
Kata “ Carilah “ dalam Bahasa Yunani ZETE0, artinya :

  • Cari dengan kesungguhan dan penalaran. Mengapa dengan penalaran ? Karena Kerajaan Allah dan kebenarannya itu ya dan amin, bukan fiksi, tetapi nyata bagi setiap orang yang percaya.
  • Cari dengan pemahaman yang mendalam. Kerajaan Allah dan kebenarannya harus dipahami dengan benar, jangan separuh kebenaran tetapi sepenuhnya dipahami dengan
  • Cari sebagai hal yang sangat Kerajaan Allah dan kebenarannya harus menjadi prioritas kehidupan kita, untuk menjadi pegangan dan prinsip hidup kita.

 KERAJAAN ALLAH
Kerajaan Allah – ditulis dengan kata BASILEA,yaitu : Kepemerintahan Allah, yang meliputi : Undang-undang atau hukum Allah, dan aturan Kerajaan Allah. Dalam hidup ini kita harus tunduk kepada kepemerintahan Allah, yaitu hukum dan aturan Kerajaan Tuhan. Bagi kita orang percaya, kita memiliki dua hukum dan aturan yang harus diikuti, yaitu aturan Kerajaan atau pemerintahan negara dimana kita tinggal dan aturan Kerajaan surga.

Filipi 3:20 – “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.”

Secara jasmani kita hidup dibawah undang-undang dan aturan pemerintah negara kita Indonesia. Tetapi secara rohani kehidupan kita ada dibawah hukum dan aturan Kerajaan sorga.

DAN KEBENARANNYA
Kata “ Kebenaran “ ditulis DIAKOSUNE, yang memiliki beberapa arti :

  1. Kebenaran dalam Kristus yang tidak lain adalah firman Yoh 17:17-Firman disini bukan Cuma dipahami, tetapi dihidupi dipraktekkan sebagai hukum dan pegangan hidup orang percaya.
  2. Integritas disini adalah ketaatan yang dipegang teguh ,bukan kadang taat kadang tidak.
  3. Kekudusan Meliputi kehidupan moral, sosial, tubuh, jiwa dan roh.
  4. Kesaksian hidup kita yang menampilkan kasih Kristus, melalui perbuatan baik kita sebagai bukti kita hidup dalam hukum Kristus.
  5. Tidak Hidup bebas dari kebencian dan sanggup melepas pengampunan.
  6. Tidak munafik – satu wajah satu pribadi , transparan.

 TENTANG TRANSPARAN
Wahyu 4:6 – “Dan dihadapan tahta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata di sebelah muka dan di sebelah belakang.”

Laut dalam alkitab sering disebut juga dengan kumpulan air yang banyak. Air yang banyak itu tidak lain adalah kumpulan dari bangsa-bangsa, rakyat banyak dari kaum dan bahasa, Wahyu 17:15.

Apa yang dimaksud dengan lautan kaca disini adalah kumpulan orang kudus yang dihadapan Allah begitu murni tanpa noda, bening bagai lautan kaca, ini adalah keadaan orang percaya yang telah ditebus Tuhan dalam kesempurnaan. Bukan Cuma keadaan kita yang bening sempurna tanpa cacat dan cela dihadapanTuhan, tetapi kelak dalam keadaan itulah kita juga akan dapat melihat Allah dengan jelas, muka dengan muka. Keadaan kita yang sekarang masih jauh dari bening, tapi dalam ketaatan kepada hukum Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya kita menuju kesana, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus dan Yohanes.

1 Korintus 13:12 – “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna seperti aku sendiri dikenal.”

1 Yohanes 3:2 – “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”

“MAKA SEMUANYA ITU AKAN DITAMBAHKAN KEPADAMU
Jika kehidupan kita benar-benar tunduk pada pemerintahan Allah dan hidup menurut kebenaran hukum firman-Nya, maka semua yang kita perlukan mengenai makan, minum dan pakaian akan ditambahkan dalam kehidupankita.

Kata “ditambahkan” ditulis PROTITEMI, artinya ditambahkan berulang-ulang dalam kehidupan kita. Bahkan bukan Cuma cukup, tapi sampai limpah sehingga kita bias memberkati orang lain. Sampai disini, selanjutnya Tuhan member nasehat pada ayat yang 34.

Matius 6:34 – “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.Kesusahan yang dimaksud adalah mengenai perkara jasmaniah, mengacu kepada persoalan-persoalan yang mungkin akan timbul pada hari itu.  Nasihatnya adalah jangan menguatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi di hari esok dan jangan menambahkan masalah esok yang belum tentu terjadi kepada masalah hari ini.

Kata“ Kuatir “ disini ditulis MERIMOU, yang artinya gelisah, mencemaskan kepada hal-hal yang belum terjadi. Semuanya ini akan berlalu jika kita benar-benar mencari Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya, dan komitmen untuk hidup dalam aturan Tuhan dan taat kepada seluruhk ebenaran-Nya.

TANGGUNG JAWAB ORANG YANG SUDAH DISELAMATKAN – oleh Pdt. J. S. Minandar (Ibadah Raya 2 dan 3 – Minggu, 18 April 2021)

1 Yohanes 3:16
Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa la telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

PENDAHULUAN
Alkitab banyak memuat perintah atau kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus, Allah kita. Untuk itu, saya ingin mengajak Saudara untuk memperhatikan dan mempelajari 1 Yohanes 3:11-18. Orang yang sudah ditebus harus melakukan hal ini, yaitu mengasihi saudara seiman.

Dari perikop ini, ada dua hal yang harus kita lakukan sebagai Pengikut Yesus Yang Sejati :
1. Saling mengasihi
1 Yohanes 3:11
“Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi.”

Mengapa kita harus saling mengasihi satu dengan lainnya selama kita hidup di dunia ini? Konsep Allah menciptakan manusia sejak dunia dijadikan adalah supaya setiap manusia saling mengasihi.

Karena, dari awal Allah menjadikan manusia adalah untuk saling mengasihi, dan 1 Yohanes 3:12a berkata, bahwa “… bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya.”

Allah tidak pernah memerintahkan manusia membuat kekacauan: teror, permusuhan, bom bunuh diri, kerusuhan, dsb.

1 Yohanes 3:12b berkata, “Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatanya jahat dan perbuatan adiknya benar.”

Dunia menjadi rusak, penuh kejahatan, teror, pembunuhan, dan kacau, bukan karena rancangan Allah. Karena seluruh manusia telah dikuasai dosa, oleh sebab itu Yohanes mensehatkan agar kita jangan heran kalau kita dibenci dan dijahati.  “Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu.” (1 Yohanes 3:13). Sebaliknya, justru aneh apabila ada orang Kristen, tetapi membenci saudaranya. Seperti Kain yang membenci Habel, adiknya.

1 Yohanes 3:14 berkata, “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.”
Yang disebut: orang kristen adalah orang yang sudah dipindahkan Tuhan dari maut (neraka) kepada hidup (keselamatan). Sebagai bukti orang yang sudah pindah dari maut (neraka) kepada hidup (keselamatan) maka ia mengasihi saudara-saudaranya (sesama). Sebaliknya, apabila ada orang mengaku kristen, tetapi ia membenci saudaranya (sesama), berarti orang tersebut masih berada dalam maut (kebinasaan) dan belum hidup (selamat).

Tanggung jawab pengikut Kristus adalah kita harus membuktikan kepada orang-orang diluar Tuhan bahwa kita adalah orang-orang yang telah diselamatkan. Untuk membuktikan bahwa kita telah diselamatkan adalah dengan menjadi terang, salah satunya ialah tidak ada lagi kebencian dalam hidup kita.

Tetapi, oleh korban Yesus di kayu salib, kita telah disucikan, dibenarkan dan dilahirkan kembali (hidup yang lama berlalu dan yang baru telah datang – 2 Korintus 5:17) sehingga hidup kita tidak sama seperti Kain yang membenci Habel adiknya. Tetapi kita dapat saling mengasihi satu dengan lainnya.

Mengapa tidak boleh ada kebencian dalam hidup seorang pengikut Yesus? 1 Yohanes 3:15 berkata  “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”

Sebaliknya, hidup orang yang telah ditebus oleh korban darah Yesus di atas kayu salib, orang itu berusaha mematikan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan firman Allah (Kolose 3:5-10).

2.Menyerahkan nyawa kita untuk saudara kita (1 Yohanes 3:16-18)
1 Yohanes 3:16 berkata, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa la telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”

Kita sudah membahas dan mempelajari bahwa 1 Yohanes 3:11-15 menunjukkan perbuatan dari orang-orang yang mempraktekkan kasih Philia, yaitu kasih kepada saudara-saudara yang harus ditunjukkan antar jemaat. Tetapi sebagai pengikut Yesus, tidak cukup kita hanya sampai kepada tingkat kasih Philia. Yesus ingin agar kita terus bertumbuh dan hidup dalam kasih agape (1 Yohanes 3:16-18).

Empat Kategori Kasih

  • Kasih Eros- kasih antara pria dan wanita.
  • Kasih Storge – kasih antara keluarga.
  • Kasih Philia- kasih persahabatan.
    Ketiga kasih ini bisa dilakukan semua orang, bahkan yang tidak mengenal Yesus.
  • Kasih Agape : hanya bisa dilakukan oleh orang yang taat kepada Firman Allah dan Roh Kudus.

Orang Samaria Yang Baik Hati
Untuk memudahkan pengertian kita tentang “menyerahkan nyawa kepada saudara kita”, mari kita melihat Injil Lukas 10:25-37, tentang: “Kisah Orang Samaria Yang Baik Hati”. Dalam kisah ini diceritakan empat orang tokoh, antara lain:

1). Mr. X sebagai korban perampokan
2). Seorang Imam – tokoh rohani, dikenal paham dan mengerti Firman Allah
3). Seorang Lewi – dari kalangan kaum/umat yang dikhususkan sebagai pelayan Tuhan
4). Seorang Samaria – kaum marginal, orang yang dianggap musuh orang Yahudi

Status Kita Di Masa Lalu
Status kita dulu seperti Mr. X;  oleh karena dosa, kita sama seperti Mr. X yang telah dirampok, dipukul, dilukai dengan kondisi hampir mati dan tidak bisa menyelamatkan diri. Karena kasih agape, orang Samaria yang baik hati (sebagai gambaran Yesus), yang rela mengorbankan semua miliknya untuk menolong dan menyelamatkan si Mr. X dari kebinasaan, tanpa meminta apa pun.

Status kita sebagai pengikut Yesus, sekarang seperti Mr. X yang sudah aman dan selamat. Apabila suatu saat, kita melihat ada orang nyaris mati, terkapar di jalan karena telah dirampok, dipukuli seperti si Mr. X dulu, kira-kira apa yang akan  kita lakukan? Kalau yang kita lakukan adalah sama seperti yang dilakukan imam dan orang Lewi karena tidak memiliki kasih Agape, berarti kita adalah orang yang telah menerima, mengalami dan menikmati kasih agape dari Yesus tetapi kasih agape itu tidak ada dalam diri kita. Kita tidak melakukan perintah Yesus. Apabila hal ini terjadi, apa yang akan Yesus katakan kepada kita ketika kita ada di hadapan takhta Yesus? Matius 25:11, 12 menceritakan tentang lima gadis bodoh, yang berseru-seru: “Tuan bukakan kami pintu!” Dari dalam Yesus menjawab: “Aku tidak mengenal kamu!”

Apabila yang kita melakukan sama seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati, (gambaran Yesus) yang telah mempraktekkan kasih agape, berarti kita sudah menerima, mengalami dan menikmati kasih agape dari Yesus, dan kasih agape itu ada, hidup dan bertumbuh dalam hidup kita. Apakah yang Yesus akan katakan kepada kita pada saat kita berhadapan dengan Yesus jika kita melakukan kasih agape? Matius 25:21 berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil dan aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

KESIMPULAN
Kita telah menerima kasih Agape itu. Oleh sebab itu, kita harus memberikan kasih Agape ini kepada semua orang: baik yang percaya maupun yang belum percaya kepada Yesus. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai orang yang telah diselamatkan. Jangan pernah menyimpan kebencian, sebab saat kita membenci berarti kita tidak melakukan kasih Agape itu. Pada akhirnya ketika kita setia melakukan kasih Agape, maka kita akan menerima upah yang Allah sediakan.

MENJAGA HATI DENGAN SEGALA KEWASPADAAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 dan 3 – Minggu, 11 April 2021)

Amsal 4:23
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.”

 Ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita pelajari dari ayat ini.
1. Jagalah
Kata “jagalah” dalam bahasa ibrani ditulis “nasar”

  • Menjadi penjaga untuk diri sendiri.
    Memang kita membutuhkan penjagaan Allah, namun kita juga memiliki tugas untuk menjaga diri sendiri, terutama hati kita.
  • Membiasakan diri untuk melakukan observasi dengan kata lain melakukan pengamatan dan penelitian terhadap diri sendiri. Manusia pada umumnya lebih pintar mengobservasi orang lain ketimbang diri sendiri. Hal ini juga disebutkan Yesus didalam Lukas 6:42:
    Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Tuhan menegur dengan keras, seolah memberi nasihat kepada kita bahwa “observasilah dirimu sendiri dulu dengan benar, baru dapat mengobservasi orang lain, sehingga kita tidak salah menilai orang lain.” Orang yang suka mengobservasi orang lain tetapi lupa mengobservasi diri disebut Tuhan sebagai orang munafik.

 2. (Jagalah) Hati
Kata “ Hati dalam bahasa Ibrani =LEB, yang artinya :

✓ PERASAAN.

✓ KEHENDAK.

✓ CARA BERPIKIR.

Dari hati selalu muncul dua hal yaitu, REAKSI dan RESPON.

  • REAKSI – adalah ekspresi kita yang dipicu karena tidak berpikir panjang.
  • RESPON – adalah ekspresi kita yang dihasilkan setelah kita berpikir panjang.

Dalam menghadapi situasi dan masalah apapun, Tuhan ingin kita mengobservasi diri, yaitu cara berpikir kita, perasaan kita dan kehendak kita; apakah sesuai dengan cara berpikir, kehendak dan perasaan Tuhan. Oleh sebab itu Filipi 2:5 berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Allah ingin kita melatih cara berpikir yang benar untuk mengelola dan menjaga hati kita.

Filipi 4:8 berkata “Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap di dengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

3. Dari situlah terpancar kehidupan
Orang yang mampu untuk menjaga dan mengobservasi perasaannya, kehendaknya dan cara berpikirnya sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka hasilnya hidupnya akan memancarkan kehidupan yang mempengaruhi orang lain dengan kebaikan dan berkat. Orang yang memiliki kepahitan yang dipancarkan adalah kepahitan dan hal ini akan mempengaruhi orang lain. Demikian juga apabila kita memancarkan hal-hal yang baik maka kita akan memberi pengaruh baik kepada orang lain.

Ayub 1:8 berkata, Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Apa yang Ayub lakukan dalam hidupnya? Salah satu contoh Ayub 31:1 yang berkata: “Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?”

Ayub berkeputusan untuk mengobservasi matanya agar tidak berdosa. Ayub mengerti bahwa dia harus menjaga matanya sedemikian rupa agar tidak jatuh kedalam dosa. Ayub tahu konsekuensi jika ia tidak menjadi penjaga dan mengobservasi dirinya. Ayub 31:3 berkata, “Bukankah kebinasaan bagi orang yang curang dan kemalangan bagi yang melakukan kejahatan?” Bahkan dilanjutkan didalam Ayub 31:4 bahwa Allah mengamati jalan hidup Ayub; “Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku dan menghitung segala langkahku.”

Karena Ayub menjaga hatinya, maka ia seperti berani “bertaruh” dengan Allah didalam Ayub 31:5-6 berkata, “Jikalau aku bergaul dengan dusta, atau kakiku cepat melangkah ke tipu daya, biarlah aku ditimbang si atas neraca yang teliti, maka Allah akan mengetahui, bahwa aku tidak bersalah.”

 Ayub berani melakukan hal ini karena Ayub memang ternyata benar. Tidak heran Allah memujinya terang-terangan. Hal ini juga teruji ketika Ayub dalam kondisi benar tidak ada kesalahan tetapi mengalami lima (5) bencana besar dalam hidupnya. :

  • Kehilangan harta bendanya dalam waktu singkat.
  • Kehilangan 10 anak-anaknya pada waktu bersamaan.
  • Kena sakit borok yang parah. Borok ini adalah borok yang gatal dan perih dan terjadi selama 9 bulan.
  • Kehilangan dukungan istri.
  • Kehilangan dukungan dari sahabat-sahabatnya.

Dalam keadaan kemalangan yang hebat seperti ini, apakah Ayub mundur dan tidak mempercayai Tuhan lagi? Apakah Ayub menjadi kecewa kepada Tuhan bahkan menyangkali Tuhan? Tentu tidak. Bahkan Alkitab mencatat bahwa dosa sahabat-sahabatnya akan diampuni apabila Ayub berdoa untuk mereka.

Contoh lainnya adalah Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Daniel 1 : 8 menceritakan bagaimana Daniel menetapkan hatinya untuk tidak menajiskan diri dengan makanan Raja yang sudah dipersembahkan kepada berhala, yang juga diikuti oleh SMA (Sadrakh, Mesakh, Abednego).

Daniel, 3:17-18 berkata Sadrakh, Mesakh dan Abednego menetapkan hatinya untuk menolak menyembah kepada kepada patung dewa Babel yang berupa patung emas meski nyawa  menjadi taruhannya: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka la akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Menurut ahli kejiwaan, semua orang punya potensi sakit jiwa, bukan gila, tetapi kejiwaan yang tidak stabil. Tetapi Ayub, Daniel dan sahabat- sahabatnya begitu luar biasa dalam menjaga dan mengobservasi hatinya dengan penuh kewaspadaan.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, kita perlu menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh, sebab apa yang dikeluarkan dari hati akan menentukan pikiran, perbuatan dan keputusan-keputusan dalam kehidupan ini.

LATIHLAH DIRIMU BERIBADAH – oleh Pdm. Melky Mokodongan (Ibadah Raya I – Minggu 11 April 2021)

1 Timotius 4:8 “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”

PENDAHULUAN Dalam ayat ini, Paulus sedang tidak berbicara untuk meniadakan manfaat olahraga tertentu kepada Timotius, tetapi lebih kepada bagaimana Timotius menyikapi dan menghadapi pengajaran sesat, serta dapat meluruskan dan memberikan pengajaran doktrin yang benar agar jemaat tidak disesatkan. Agar jemaat terhindar dari ajaran yang menyesatkan, maka ditegaskan oleh Paulus dalam ayat 7 bahwa: “LATIHLAH DIRIMU BERIBADAH”, sehingga pada ayat delapan ini, Paulus berkata; “latihan badani itu terbatas gunanya tetapi IBADAH berguna dalam segala hal….”

Mengapa ibadah lebih penting daripada latihan badani? 1. Karena berguna dalam segala hal Kalau berbicara dalam segala hal, dalam konteks ini tentu saja tidak terlepas dari apa yang namanya tubuh.

  • Tubuh kita (kesehatan fisik), bandingan dengan Amsal 17:22 yang berkata, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”. Artinya kesehatan jasmani kita dipengaruhi oleh hati kita.
  • Pertumbuhan kita (Kesehatan rohani).

1 Timotius 4:15 berkata, “Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.”

Apa yang harus diperhatikan? Ayat 14 berkata, “Jangan lalai mempergunakan karunia yang ada padamu.” Ayat 13 berkata,  “Bertekunlah dalam membaca kitab-kitab Suci.” Ayat 12 berkata, “Jadilah teladan.” Ayat 7 berkata,  “Jauhilah takhayul, latihlah dirimu beribadah, karena ibadah berguna dalam segala hal.”

2. Mengandung janji Ada beberapa janji yang akan kita peroleh dalam ibadah, yaitu:

  • Hidup sekarang (Keluaran 23:25)
  • Memberkati roti makanan dan air minuman
  • Menjauhkan dari penyakit
  • Hidup yang akan datang. Ini dapat dikatakan sampai kepada kekekalan. Kalau saja kita dapat melihat bahwa betapa hebat dan dahsyatnya kehidupan yang akan datang, maka besar kemungkinan cara hidup kita akan sangat berubah. Allah telah mempersiapkan kehidupan yang akan datang bagi kita orang percaya (Yoh 14:1-3, 2 Korintus 5:1,2).

3. Menerima pengajaran yang benar 1 Timotius 6:3,4 “Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan Ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cedera, fitnah, curiga”.

Artinya dalam ibadah kita yang benar, maka kita akan menerima pengajaran yang benar, sehingga kita tidak mudah disesatkan oleh pengajaran yang salah.

4. Dilakukan karena Tuhan 1 Korintus 15:58b berkata “Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”.

Ibadah yang dilakukan karena Tuhan mendatangkan hasil bagi kita, sebab dikatakan jerih payahmu tidak sia-sia.

BAGAIMANA KITA BERIBADAH? 1. Mempersembahkan tubuh kita Roma 12:1  berkata, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itu adalah ibadahmu yang sejati.”

2. Memiliki komitmen Yosua 24:15 berkata, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

3. Memiliki ketulusan dan kesetiaan Yosua 24:14a berkata, “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.” (bandingkan dengan 1 Tawarikh 28:9)

KESIMPULAN Mazmur 100:2 “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai.”

Hampirilah Tuhan melalui ibadah kita kepada Tuhan, datang ke hadiratNya dan mulailah kita memberikan segenap hidup kita kepada-Nya.

KUASA KEBANGKITAN YESUS – oleh Pdt. J. S. Minandar (Ibadah Kebangkitan Yesus – Minggu, 4 April 2021 )

1 Korintus 15:20
Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”

PENDAHULUAN
Setiap pengikut Yesus harus mengimani kebangkitan-Nya, sebab kebangkitan Yesus menjadi dasar iman orang yang percaya kepada Yesus. Sebab itu, iman akan kebangkitan Yesus menjadi kredo atau syahadat bagi orang percaya.

Roma 10:9-10 Bearkata, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”

Apabila seseorang mengaku sebagai pengikut Yesus, tetapi tidak percaya Yesus telah bangkit dari kematian, orang tersebut bukanlah orang Kristen dan belum diselamatkan!

BEBERAPA ISTILAH KEBANGKITAN
Ada beberapa istilah kebangkitan, yaitu:
1. KEBANGKITAN SULUNG
Dari semua yang telah mati (Adam hingga saat ini), Yesus ialah yang sulung (pertama-tama bangkit dari antara orang yang mati). Banyak orang yang bangkit dari kematian, tetapi mereka mati lagi dan sekarang mereka berada didalam dikubur. Satu-satunya yang bangkit dan hidup untuk selama-lamanya di sorga adalah Yesus sebab Yesus adalah Allah dan Tuhan.

Ada orang yang salah mengartikan Matius 27:50-54: kisah setelah Yesus mati di salib, orang kudus bangkit lalu masuk kota kudus. Mereka berkata bahwa orang yang mati dan bangkit itu masuk kota kudus dan mereka mengartikannya sebagai sorga. Tafsiran ini merupakan tafsiran yang salah. Bahkan kata mereka yang bangkit itu adalah orang kudus dari sejak Adam sampai zaman Yesus. Pada saat Yesus mati, orang-orang kudus bangkit, mereka masuk kota kudus yang adalah kota Yerusalem. Tetapi, pada saatnya mereka akan mati lagi. Kalau mereka bangkit dan hidup kekal, berarti kebangkitan sulung bukan hanya Yesus tapi banyak orang. Yang pertama mengalami kebangkitan dari kematian, lalu bangkit dari kematian dan hidup selamanya di dalam sorga ialah Yesus. Sebab itu, salah satu gelar Yesus didalam 1 Korintus 15:20 adalah: “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai: “Yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”

Yesus disebut kebangkitan sulung karena kematian dan kebangkitan Yesus merupakan jaminan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya, kalau ia mati, ia akan mengalami kebangkitan sebagaimana yang telah dialami oleh Yesus. 1 Korintus 15:22,23 berkata,  “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali (dibangkitkan) dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.”

Semua orang yang hidup di dunia adalah keturunan Adam dan bersekutu dengan Adam dan satu kali kelak akan mati sama seperti Adam. Tetapi, setiap orang yang selama hidupnya bersekutu dengan Kristus, ia akan dibangkitkan sama seperti Kristus, tetapi sesuai dengan urutannya / gilirannya.

URUTAN KEBANGKITAN
Kalau Yesus bangkit sebagai kebangkitan sulung, yaitu tiga hari setelah kematian-Nya, kapan urutan atau giliran kebangkitan orang-orang percaya kepada Yesus? Dikatakan dalam 1 Korintus 15:23 bahwa, “…pada waktu kedatangan-Nya.”

2. KEBANGKITAN ORANG BENAR
Selain kebangkitan sulung, istilah lain yang dipakai dalam Alkitab adalah kebangkitan orang benar. Dalam Wahyu 20:1-6 disebut sebagai “Kebangkitan Orang Benar” karena mereka adalah orang-orang yang dibenarkan oleh kuasa kematian dan kebangkitan-Nya.

3. KEBANGKITAN ORANG YANG AKAN DIBINASAKAN/ KEBANGKITAN ORANG BERDOSA

Orang-orang berdosa dan orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus juga akan mengalami kebangkitan. Tetapi, mereka d bangkitkan dengan tubuh yang kekal (tidak bisa mati) untuk disiksa di dalam neraka untuk selama-lamanya (Wahyu 20:13-15).

KESIMPULAN
Setelah mempelajari hal ini, timbul pertanyaan bagi kita, masuk golongan manakah kita: kebangkitan orang benar atau kebangkitan orang yang akan dibinasakan? Oleh sebab itu, hiduplah menjadi pengikut Yesus yang sejati, atau mempelai Kristus, atau gereja Tuhan yang sempurna, atau Hawa yang akhir, sehingga kita masuk kepada kebangkitan orang benar.

VIA DOLOROSA – oleh Pdt. joseph Priyono (Ibadah Kematian Yesus 2 – Jumat, 2 April 2021)

Pendahuluan
Dalam ibadah raya pertama, Bapak Gembala telah menyampaikan firman Tuhan dengan tema: “Jalan Ke Eden.” Melalui kematian Tuhan Yesus pintu ke Eden yang tertutup oleh dosa kini telah dibuka kembali. Tidak ada lagi penghalang untuk masuk ke dalam Eden, karena Kristus telah mati di kayu salib bagi dosa manusia. Selaras dengan tema tersebut, pada saat ini saya ingin menyampaikan firman Allah dengan tema: “VIA DOLOROSA”. Pintu ke Eden telah terbuka, namun jalan untuk menuju ke sana kita harus melewati jalan “Via Dolorosa.”

Kata Via Dolorosa berasal dari bahasa Latin yang berarti jalan kesengsaraan atau jalan penderitaan. Via Dolorosa menunjuk kepada perjalanan Tuhan Yesus Kristus dari Taman Getsemani, menuju pengadilan Pilatus yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata (Yohanes 19:13) menuju bukit Golgota yang dikenal sebagai tempat tengkorak (Yohanes 19:17) hingga penguburanNya (Yoh.19:38). Ini adalah perjalanan panjang yang sangat menyiksa mengingat kondisi fisik Tuhan Yesus Kristus yang melemah karena sepanjangan malam menghadapi pengadilan dan aniaya dari orang-orang yang membencinya.

Mengapa kita perlu mempelajari Via Dolorosa?
Sebab perjalanan yang telah ditempuh oleh Tuhan Yesus menuju salib adalah sebuah contoh, teladan bagi orang-orang percaya. Perjalanan Via Dolorosa adalah gambaran perjalanan iman para pengikut Yesus yang sejati. Orang-orang yang mencintaiNya dengan segenap hati tidak mungkin menghindari jalan penderitaan ini.

1Petrus 2:21
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

Via Dolorosa tidak sekedar sejarah masa lalu yang kita dengar dibangku-bangku sekolah Minggu. Via Dolorosa juga tak sekedar cerita paskah, tetapi Via Dolorosa adalah petunjuk untuk kita melangkah. Oleh sebab itu marilah kita menelusuri kembali jalan-jalan yang telah dilalui Tuhan Yesus menuju kayu salib.

Menurut tradisi gereja jalan Via Dolorosa terdiri dari 14 titik perhentian menuju salib, yaitu:

  1. Taman Getsemani di Bukit Zaitun (Luk 22:39-46).
  2. Yesus dikhianati oleh Yudas dan ditangkap (Luk 22:47-48).
  3. Yesus diadili di hadapan Mahkamah Agama (Luk 22:66-71).
  4. Petrus menyangkal Yesus (Luk 22:54-62).
  5. Yesus diadili oleh Pontius Pilatus (Luk 23:13-25).
  6. Yesus dicambuk dan dimahkotai dengan duri (Mrk 15:15-17).
  7. Yesus memikul salib (Yoh 19:17).
  8. Simon dari Kirene memikul salib Yesus (Luk 23:26).
  9. Yesus bertemu dengan perempuan-perempuan dari Yerusalem (Luk 23-31).
  10. Yesus disalibkan (Luk 23:33-47).
  11. Yesus menjanjikan kerajaan-Nya kepada penyamun yang bertobat (Luk 23:43).
  12. Yesus berbicara dengan ibu dan murid-murid-Nya (Luk 23:48-49).
  13. Yesus mati di kayu salib (Luk 23:44-46).
  14. Yesus dikuburkan di dalam makam (Luk 23:50-54).

Karena waktu yang terbatas, tentu pagi hari ini kita tidak dapat mempelajari semua jalan yang telah dilaluiNya. Saat ini, kita hanya akan belajar awal perjalanan Tuhan Yesus di taman Getsemani. Marilah kita memulai perjalanan untuk menyusuri kembali jalan Via Dolorosa.

TAMAN GETESMANI
(Luk 22:39-46).
Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Lukas 22:41,42 

Tempat inilah awal perjalanan penderitaan Tuhan Yesus dimulai (meski sejatinya via dolorosa telah dimulai sejak di sorga, Allah berduka saat manusia jatuh dalam dosa). Di taman Getsemani, Yesus bergumul hingga peluhNya menetes seperti darah. Apakah mengerjakan kehendak Allah dan menuruti keinginan pribadi. Dalam doaNya tergambar jelas, jika boleh/diperkenan dilepaskan dari cawan hukuman tetapi “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Getsemani adalah sebuah kebun pohon zaitun yang terletak di kaki Bukit Zaitun di sebelah utara Lembah Kidron. Secara etimologi kata Getsemani berasal dari kata Ibrani gath “pemeras” atau “penggiling” dan shemen “minyak” yang berarti “alat pemeras minyak” kemungkinan menunjuk pada lokasi tempat pemerasan minyak zaitun yang ada di taman itu.

Seperti buah zaitun yang digiling, diperas dan dilumatkan di atas alat pemerasan, di tempat inilah kehendak/keinginan Yesus diperas, dihancurkan agar yang keluar adalah minyak yang memberikan kehidupan banyak orang.

Apa yang Tuhan Yesus alami di taman Getsemani?
Dari catatan Injil sinopsis kita dapat melihat beratnya tekanan yang dialami Tuhan Yesus saat berada di taman Getsemani.

  • Lukas 22:44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
  • Matius 26:37-38 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
  • Markus 14:33,34 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”

Di taman Getsemani Tuhan Yesus mengalami kesedihan yang mendalam, tekanan yang sangat berat, Mengapa? TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Yesaya 53:6
Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Sebagai murid Yesus yang sejati, kita harus siap memasuki taman Getsemani, di sana hidup kita dihancurkan, keakuan kita digiling, ego kita diperas agar hidup kita berkenan kepada Allah. Tanpa pemerasan/penggilingan mustahil terjadi pembentukan.

Kita dibentuk oleh proses kehidupan yang sulit, pergumulan yang berat dan kehidupan penuh tekanan. Covid 19 bisa jadi itu adalah taman Getsemani bagi kita. Kesulitan keuangan, sakit yang tidak kunjung sembuh, dll.

Bagaimana sikap kita saat berada di taman Getsemani?
A.
Berdoalah kepada Allah
Dalam pergumulan yang berat di taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa kepada BapaNya di sorga. Apa yang terjadi saat Ia berdoa?

Luk 22:43
Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

Dalam doa, Tuhan Yesus mendapat kekuatan untuk menghadapi semua kesulitan, tekanan dan pergumulan yang dihadapi. Sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi penderitaan amat kontras dengan sikap para murid. Tuhan Yesus bergumul dalam doa, sedangkan para murid memilih untuk tidur. Doa membuat Tuhan Yesus sanggup menghadapi penderitaan tanpa mengeluh, sedangkan para murid lari ketakutan saat musuh datang. Doa merupakan sumber kekuatan saat kita menghadapi penderitaan.

Doa mungkin tidak menghilangkan beban yang kita pikul, tetapi doa memberikan kekuatan untuk menanggung beban yang kita pikul. Doa itu seperti payung. Payung tidak menghentikan hujan, tetapi dengan payung kita dapat melewati hujan tanpa kebasahan.

Ibrani 5:7
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.

Jika pundakmu tak lagi mampu menanggung beban yang berat, ingatlah engkau masih punya tangan untuk dilipat dalam doa. Jika kakimu tak lagi mampu melangkah maju karena masalah yang besar, ingatlah engkau masih memiliki lutut untuk berdoa kepada Allah yang maha besar.

B. Berserahlah kepada kehendak Allah.
Lukas 22:42
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Meski keinginanNya dilepaskan dari cawan murka, namun pilihanNya adalah kehendak BapaNya yang terjadi. Tuhan Yesus sadar bahwa misi kedatanganNya ke dunia ini adalah untuk menebus dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Oleh sebab itu, Ia berkomitmen penuh untuk mengenapi dan menuntaskan tugas Bapa di sorga.

Alkitab berkata:
Yesaya 53:7
Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

Inilah kualitas murid Yesus yang sejati yaitu menyerah total kepada kehendak Allah. Seorang murid Yesus yang sejati tidak sekedar mengambil keputusan percaya kepada Yesus, ia berkomiten secara total untuk mengikuti kehendak Bapa di sorga.

Taman Getesemani telah membuktikan, siapakah murid yang sungguh-sungguh mengikutiNya dan siapa yang sekedar mencari keuntungan dan kenikmatan. Salah satu muridNya telah memilih mengkhianati sang guru dan menjualnya demi mendapatkan 30 keping perak. Dan yang lain meninggalkanNya seorang diri saat serdadu menangkapNya dengan keji.

Apapun yang terjadi Tuhan Yesus berkomitmen untuk melakukan kehendak BapaNya.

Yohanes 4:34
Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Rasul Paulus adalah contoh lain yang dapat kita teladani dalam mengikuti kehendak Bapa di sorga.

Kisah Rasul 20:24
Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

C. Taatlah melakukan kehendak Bapa.
Lukas 22:42
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

PenyerahanNya kepada kehendak BapaNya adalah sebuah bukti ketaatanNya. Dengan penuh kesadaran Tuhan Yesus taat melakukan kehendak BapaNya meskipun harus mengalami penderitaan bahkan kematian.

Filipi 2:8
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Ibrani 5:8
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,

Sekali lagi Tuhan sedang mencari gereja yang memiliki ketaatan penuh kepada kehendakNya. Jadilah pengikut Kristus yang sejati yang memiliki ketaatan total kepada firman Allah.

Sadarilah bahwa ketaatan adalah tanda kasih kita kepada Tuhan. Kita diselamatkan karena iman, tetapi kita diperkenan melalui ketaatan.

Yohanes 14:23
Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

Pertolongan di taman Getsemani
Ibrani 4:15,16
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Adakah diantara kita yang saat ini berada di taman Getsemani? Saudara dalam pergumulan hidup yang berat, dalam tekanan kesulitan, dikhianati, difitnah, dll? Ingatlah saat Saudara di taman Getsemani, Saudara tidak ditinggalkan sendirian sebab Tuhan Yesus pernah berada di taman Getsemani. Ia bertahan dalam kesendirian karena melihat saudara dan saya. Tetaplah percaya, Tuhan memberkati. KJP!

JALAN KE EDEN – oleh Pdt. J. S. Minandar (Ibadah Kematian Tuhan Yesus 1,3 – Jumat, 2 April 2021)

KEJADIAN 3:23, 24
“Lalu Tuhan Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. la menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala – nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

TUJUAN ALLAH MENGUSIR MANUSIA
Upah Dosa Adalah Maut.
Kejadian 2:17; 3:2,3 “sebab pada hari engkau memakannya pasti engkau mati.” Kematian yang dimaksud bukan hanya putus nyawa tetapi manusia dipisahkan dari Allah selama-lamanya, yaitu siksa kekal di neraka (Roma 6:23).

Kasih dan Rencana Allah
Tujuan Allah mengusir Adam dan Hawa dari taman Eden adalah (Yohanes 3:16) karena Allah tidak menghendaki manusia binasa, Allah mempunyai rencana untuk menebus manusia, sebab Allah harus menggenapi rencana-Nya yang gagal dilakukan Adam (Kejadian 1:26-28).

Apa kaitannya antara diusirnya Adam dan Hawa dari Eden dengan dosa dan rencana Allah? Bila Adam dan Hawa yang berdosa memakan buah kehidupan, mereka akan hidup kekal di dalam dosa dan tidak bisa ditebus dan diampuni untuk selamanya, sehingga rencana Allah gagal dan tidak bisa dipulihkan selamanya.

Adam dan Hawa pasti ingin kembali ke taman Eden dan mengalami kemuliaan taman Eden. Tetapi ada perasaan yang sama yaitu: rasa takut! Takut karena apa? Apabila mereka terus berada di luar Eden, saat usia mereka mendekati 1000 tahun dan mereka harus menghadapi kematian maka upah dosa adalah maut kekal (Roma 6:33). Dan apabila Adam dan Hawa berusaha menghindar dari kematian dengan cara kembali ke taman Eden, mereka makin takut sebab dalam Kejadian 3:24 berkata,  “Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nya lah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.”

Perhatikan! Allah menempatkan beberapa kerub di gerbang Eden (Yesaya 6:2 – Serafim= malaikat bersayap), dengan pedang yang berkilau-kilauan di tangan mereka dan pedang itu dilayang-layangkan untuk menghalau serta membunuh setiap orang yang mencoba masuk ke taman Eden.

Roma 6:23a berkata, “Upah dosa adalah maut!” Seluruh umat manusia yang masih hidup di dunia statusnya sedang menunggu kematian, kemudian hukuman (maut).

Tidak ada seorang manusia yang bisa membawa kita ke taman Eden dan luput dari pedang maut yang membawa kita ke neraka. Bila kita masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, gunakanlah kesempatan yang berharga ini untuk menerima kasih karunia Allah dan tetap bertahan dalam kasih karunia Allah apapun yang terjadi.

Roma 6:23a “Sebab upah dosa ialah maut.” Tidak ada seorang pun yang bisa menolak upah yang harus diterimanya dari dosa yang telah dibuatnya, yaitu maut atau neraka. Dan kita harus bersyukur, sebab ayat ini tidak berhenti sampai di bagian “a” saja, tetapi dilanjutkan ke bagian “b”. Roma 6:23b  berkata, “Tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Satu-satunya yang bisa membuat manusia lolos dari upah dosa, yaitu maut adalah Allah. Tetapi, untuk menyelamatkan manusia, Allah tidak bisa melanggar ketentuan atau hukum yang Allah sendiri telah jatuhkan yaitu, Upah dosa adalah maut!

CARA ALLAH MENJADI MANUSIA
Untuk menyelamatkan manusia dari dosa tidak ada cara lain, Allah harus menjelma menjadi manusia. Sebab, kalau Allah tidak menjadi manusia, Allah tidak bisa mati dan tidak bisa mengalami maut sebagai satu-satunya cara untuk menebus dosa manusia. Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Selanjutnya dikatakan dalam Yohanes 1:14 bahwa, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

YESUS DI ATAS SALIB
Apakah yang Yesus lakukan setelah Yesus (Allah) menjelma menjadi manusia?

Yohanes 3:16 berkata, Sebab kasih Yesus yang begitu besar kepada umat manusia, Yesus tidak mau ada seorang pun manusia yang dihukum dan binasa di dalam neraka. Sebab itu, 1 Timotius 2:6 mengatakan: “yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan”.

Yesus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib menjadi penebus yaitu menanggung dosa kita agar kita tidak dihukum dalam neraka, tetapi manusia bisa kembali ke taman Eden.

Di kayu salib Yesus memproklamirkan kembalinya manusia ke taman Eden didalam Lukas 23:43, yang berkata: “Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepada mu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

KRONOLOGIS UCAPAN YESUS DI SALIB
Lukas 23:36-37 berkata, “Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada- Nya dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!”

Empat prajurit yang bertugas menyalibkan Yesus, mengolok-olok Yesus. Salah seorang penjahat yang sedang disalibkan bersama-sama Yesus turut menghujat dan mengolok-olok Yesus. Tetapi Lukas 23:39 berkata, “Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu.” Penjahat yang telah mengolok-olok Yesus ini ditegur rekannya yang disalib bersama-sama. Rupanya dalam penderitaannya di salib, ia memperhatikan Yesus. Hal ini menimbulkan iman di hatinya, sehingga ketika ia mendengar rekannya mengolok-olok Yesus, ia menegur rekannya itu sebagai ekspresi kepercayaannya kepada Yesus.

Lukas 23:40-42 berkata, “Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Setelah berkata demikian, ia menyampaikan permohonannya (doa) kepada Yesus: “Lalu ia berkata: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai raja.” la percaya, Yesus bukan seorang penjahat, tetapi Mesias, Raja dan Penyelamat yang dijanjikan oleh Allah. Yesus menjawab dan menyelamatkan orang yang beriman itu dan berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus (Eden).” (Lukas 23:43)

KESIMPULAN
Yesuslah yang membuka jalan bagi kita untuk kita menikmati Eden (Firdaus). Jalan menuju Eden sudah terbuka karena Yesus yang terlebih dahulu melewati Kerub itu, sehingga Dia yang mati terkena pedang itu dan membuka jalan bagi kita semua. Seberapa besar apapun dosa yang telah dilakukan seseorang dimasa lalu, ketika ia percaya kepada Yesus maka ia akan terluput dari pedang maut dan menikmati Eden.

KOBARAN API PENTAKOSTA – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 28 Maret 2021)

Selamat datang Jemaat Tuhan di Ibadah Perayaan 100 tahun Gereja Pantekosta di Indonesia. Saya merasa terhormat sebagai generasi ketiga keluarga hamba Tuhan Pantekosta, untuk berdiri di hadapan Anda dan berbicara mengenai apa yang Tuhan mulai 100 tahun yang lalu di Indonesia.

Hari ini kita akan berbicara tentang api pantekosta yang membawa pada pengalaman Pantekosta. Kata “pantekosta” sendiri adalah istilah yang sering kita dengar dan bahkan menjadi bagian dari nama Gereja kita. Mungkin ada yang bertanya mengapa bukan “pentakosta”? Saya rasa nanti hal itu akan dijawab oleh rekan-rekan staf Gereja yang lain. Saya akan fokus kepada “pengalaman pantekosta”. Namun, apakah kita memahami pengalaman Pantekosta itu? Saya ingin membawa Anda kembali kepada pengalaman Pantekosta pertama kali di Yerusalem. Kisah Para Rasul 2:1-8, 11, 16-18, 40-41.

Kurang lebih sembilan belas abad kemudian, tepatnya di 1907, pengalaman Pantekosta di Yerusalem, hidup juga di Azusa Street, Los Angeles, California, Amerika Serikat. Mereka yang mengalami lawatan Roh Kudus, berkata-kata dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Pergerakan api pantekosta ini juga menjalar sampai kota Seattle, Washington. Tahun 1919 ada sebuah Gereja Pantekosta yang dinamakan Bethel Temple dimana ada dua keluarga yang dipenuhkan oleh kuasa Roh Kudus dan memberi diri untuk menjadi misionaris. Nama mereka adalah Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren. Keduanya mendapat penglihatan dari Tuhan untuk melayani pulau Jawa. Saat itu pulau Jawa dan teritori yang dikuasai Belanda disebut Hindia-Belanda (Dutch East Indies).

Pada tahun 1921 kedatangan kedua misionaris ini menandai masuknya gerakan pantekosta di negara jajahan Belanda saat itu. Nama perkumpulan orang percaya itu disebut “De Pinkstergemeente in Nederlandsch Indie”alias ”De Pinksterkerk in Nederlandsch Oost-Indie” (yang secara literal berarti Gereja Pantekosta di Hindia Belanda). Setelah Belanda dikalahkan, maka negara Indonesia ada di bawah kendali pendudukan Jepang, dan pada 1942 banyak nama yang berbahasa Belanda kemudian di-Indonesia-kan, sampai kemudian Indonesia menjadi berdaulat, yang dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini berpengaruh pula kepada nama perkumpulan ini, yang pada akhirnya dikenal sebagai Gereja Pantekosta di Indonesia. Hari ini kita bersekutu di GPdI Mahanaim Tegal sebagai bukti nyata karya api pantekosta yang masuk ke Indonesia 100 tahun yang lalu.

Terdapat fakta-fakta dari pengalaman Pantekosta di Indonesia yang terjadi seabad lalu dalam catatan saya. Ketiganya ternyata punya relevansi dengan apa yang terjadi di dalam Alkitab.

1. Karunia Penglihatan.
Hal ini dialami oleh dua keluarga misionaris, Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren yang dengan jelas melihat Pulau Jawa di penglihatan mereka. Pengalaman yang demikian juga dialami oleh Rasul Paulus di dalam perjalanan misi, saat itu ia ada di Troas. Kisah Para Rasul 16:8-10.

Kita belajar dari kisah ini bahwa Allah bekerja dengan memberi visi kepada seseorang untuk melihat sesuatu yang selaras dengan rencana Tuhan, meskipun mereka sudah memiliki rencana yang lain (ayat 6-7).

Apa yang kita rencanakan juga bisa berubah ketika kita dipimpin oleh kuasa Roh Kudus. Galatia 5:25. Pengalaman yang sama baik Groesbeek – Van Klaveren maupun Rasul Paulus, yang mereka kejar dalam penglihatan itu adalah pemenangan jiwa-jiwa bukan keuntungan diri sendiri. Siapkah kita dengan perubahan? Keluar dari apa yang sudah kita rencanakan?

2. Kesatuan
Dua misionaris ini merupakan anggota dari Gereja Bethel Temple. Mereka menundukkan diri di bawah kepemimpinan Gembala Jemaat Bethel Temple yang bernama W.H. Offiler. Mereka juga didukung penuh oleh jemaat yang rindu melihat bangsa-bangsa dilawat oleh Tuhan. Mungkin mereka tidak menyadari 100 tahun kemudian, setelah mengutus dua misionaris ini, keputusan mereka menghasilkan kurang lebih 21,000 jemaat lokal di Indonesia.

Perubahan yang besar dapat terjadi melalui kesatuan dan ketekunan orang-orang percaya. Dalam Kisah Para Rasul 1:11-15 ada 120 orang yang berkumpul, berdoa, dan bertekun. Kemudian Roh Kudus melawat dan menambahkan jumlah mereka menjadi 3.000 orang percaya (ayat 41). Saat ini ada sekitar 2,3 milyar orang percaya, jumlah besar itu dimulai dari kesatuan hati 120 orang di Yerusalem.

3.Inspirasi
Para misionaris dari Amerika Serikat ini mengasihi orang yang berbeda bangsa, bahkan bahasa dengan mereka. Tetapi kasih mereka, yang digerakkan oleh kuasa Roh Kudus, melintasi batas-batas perbedaan. Apa yang mereka lakukan kemudian menginspirasi bapak-bapak GPdI mula-mula. Mereka melepaskan apa yang mereka terima dari dunia, dan percaya bahwa kuasa Tuhan lebih dari cukup buat mereka. Ini tercermin dari lirik lagu-lagu Pantekosta klasik. Contohnya: “Maju-maju saja”, “Kerja buat Tuhan”, “Mana-mana Tuhan panggil”. Lagu-lagu ini bukan sekedar lagu klasik, tetapi suatu ungkapan pengharapan yang membuat mereka bertahan di tengah tekanan.

Rasul Paulus menyadari panggilannya untuk melayani orang-orang non-Yahudi, meskipun ia dibesarkan dalam mazhab/aliran dalam agama Yahudi yang paling fanatik, yaitu sebagai golongan Farisi. Galatia 1:14-16. 1Timotius 2:7. Filipi 3:5. Ia kemudian rela untuk menderita, demi membuat banyak orang percaya kepada Kristus. 2Korintus 11:24-28. Apa yang Paulus lakukan menginspirasi hamba-hamba Tuhan dan jemaat Tuhan untuk terus bertahan.

Pengalaman pantekosta seharusnya tidak berhenti hanya menjadi pengalaman institusional, maksudnya hanya karena kita berjemaat di GPdI. Tetapi seharusnya ini menjadi pengalaman pribadi sehingga setiap jemaat mendapatkan karunia Roh yang khusus dari Tuhan. Kerinduannya setiap jemaat terdorong untuk bersatu, dan menjadi inspirasi untuk dunia.

Pengalaman pantekosta melibatkan keseluruhan diri kita: tubuh, jiwa, dan roh. Ketika Anda memuji Tuhan, ekspresi tubuh Anda menjadi cerminan apa yang dikatakan Yesus dalam Markus 12:30.

Setelah dengan tubuh menunjukkan kasih kita kepada Tuhan, ada catatan pengalaman orang-orang di Perjanjian Baru, dimana mereka menunjukkan kerinduan dalam jiwa mereka untuk mengalami Tuhan. Dari kerinduan itu kemudian Roh Kudus melawat mereka. Seperti di kisah-kisah berikut:

  • Kisah Para Rasul 1:13-14. Murid-murid berkumpul dengan tekun menanti janji pencurahan Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 8:14-17.Orang-orang percaya di Samaria sudah menerima baptisan air, tetapi belum menerima Roh Kudus, mereka membuka diri untuk beroleh kuasa Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 10:33, 44. Kornelius, seorang non-Yahudi, membawa sanak saudara dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Mereka rindu mendengar Firman Allah, dan setelah itu mereka menerima Roh Kudus.

Tubuh yang digerakkan untuk Tuhan, kerinduan yang penuh pada Tuhan diikuti dengan pengalaman penuh dengan Roh Kudus. Saat itu mereka terhubung dengan keberadaan Tuhan yang adalah Roh, Yohanes 4:24. Mereka tenggelam dalam hadirat Tuhan, itulah mengapa orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus bisa melakukan hal-hal yang tubuh dan jiwanya belum pernah lakukan sebelumnya, seperti berbahasa lidah, bernubuat, menari, memuji dan menyembah dalam jangka waktu yang lama. Biarlah kita rindu kobaran api pantekosta itu nyata di Gereja kita, di keluarga kita, dan di masing-masing pribadi kita.