KUASA KEBANGKITAN YESUS – oleh Pdt. J. S. Minandar (Ibadah Kebangkitan Yesus – Minggu, 4 April 2021 )

1 Korintus 15:20
Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”

PENDAHULUAN
Setiap pengikut Yesus harus mengimani kebangkitan-Nya, sebab kebangkitan Yesus menjadi dasar iman orang yang percaya kepada Yesus. Sebab itu, iman akan kebangkitan Yesus menjadi kredo atau syahadat bagi orang percaya.

Roma 10:9-10 Bearkata, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”

Apabila seseorang mengaku sebagai pengikut Yesus, tetapi tidak percaya Yesus telah bangkit dari kematian, orang tersebut bukanlah orang Kristen dan belum diselamatkan!

BEBERAPA ISTILAH KEBANGKITAN
Ada beberapa istilah kebangkitan, yaitu:
1. KEBANGKITAN SULUNG
Dari semua yang telah mati (Adam hingga saat ini), Yesus ialah yang sulung (pertama-tama bangkit dari antara orang yang mati). Banyak orang yang bangkit dari kematian, tetapi mereka mati lagi dan sekarang mereka berada didalam dikubur. Satu-satunya yang bangkit dan hidup untuk selama-lamanya di sorga adalah Yesus sebab Yesus adalah Allah dan Tuhan.

Ada orang yang salah mengartikan Matius 27:50-54: kisah setelah Yesus mati di salib, orang kudus bangkit lalu masuk kota kudus. Mereka berkata bahwa orang yang mati dan bangkit itu masuk kota kudus dan mereka mengartikannya sebagai sorga. Tafsiran ini merupakan tafsiran yang salah. Bahkan kata mereka yang bangkit itu adalah orang kudus dari sejak Adam sampai zaman Yesus. Pada saat Yesus mati, orang-orang kudus bangkit, mereka masuk kota kudus yang adalah kota Yerusalem. Tetapi, pada saatnya mereka akan mati lagi. Kalau mereka bangkit dan hidup kekal, berarti kebangkitan sulung bukan hanya Yesus tapi banyak orang. Yang pertama mengalami kebangkitan dari kematian, lalu bangkit dari kematian dan hidup selamanya di dalam sorga ialah Yesus. Sebab itu, salah satu gelar Yesus didalam 1 Korintus 15:20 adalah: “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai: “Yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.”

Yesus disebut kebangkitan sulung karena kematian dan kebangkitan Yesus merupakan jaminan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya, kalau ia mati, ia akan mengalami kebangkitan sebagaimana yang telah dialami oleh Yesus. 1 Korintus 15:22,23 berkata,  “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali (dibangkitkan) dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.”

Semua orang yang hidup di dunia adalah keturunan Adam dan bersekutu dengan Adam dan satu kali kelak akan mati sama seperti Adam. Tetapi, setiap orang yang selama hidupnya bersekutu dengan Kristus, ia akan dibangkitkan sama seperti Kristus, tetapi sesuai dengan urutannya / gilirannya.

URUTAN KEBANGKITAN
Kalau Yesus bangkit sebagai kebangkitan sulung, yaitu tiga hari setelah kematian-Nya, kapan urutan atau giliran kebangkitan orang-orang percaya kepada Yesus? Dikatakan dalam 1 Korintus 15:23 bahwa, “…pada waktu kedatangan-Nya.”

2. KEBANGKITAN ORANG BENAR
Selain kebangkitan sulung, istilah lain yang dipakai dalam Alkitab adalah kebangkitan orang benar. Dalam Wahyu 20:1-6 disebut sebagai “Kebangkitan Orang Benar” karena mereka adalah orang-orang yang dibenarkan oleh kuasa kematian dan kebangkitan-Nya.

3. KEBANGKITAN ORANG YANG AKAN DIBINASAKAN/ KEBANGKITAN ORANG BERDOSA

Orang-orang berdosa dan orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus juga akan mengalami kebangkitan. Tetapi, mereka d bangkitkan dengan tubuh yang kekal (tidak bisa mati) untuk disiksa di dalam neraka untuk selama-lamanya (Wahyu 20:13-15).

KESIMPULAN
Setelah mempelajari hal ini, timbul pertanyaan bagi kita, masuk golongan manakah kita: kebangkitan orang benar atau kebangkitan orang yang akan dibinasakan? Oleh sebab itu, hiduplah menjadi pengikut Yesus yang sejati, atau mempelai Kristus, atau gereja Tuhan yang sempurna, atau Hawa yang akhir, sehingga kita masuk kepada kebangkitan orang benar.

VIA DOLOROSA – oleh Pdt. joseph Priyono (Ibadah Kematian Yesus 2 – Jumat, 2 April 2021)

Pendahuluan
Dalam ibadah raya pertama, Bapak Gembala telah menyampaikan firman Tuhan dengan tema: “Jalan Ke Eden.” Melalui kematian Tuhan Yesus pintu ke Eden yang tertutup oleh dosa kini telah dibuka kembali. Tidak ada lagi penghalang untuk masuk ke dalam Eden, karena Kristus telah mati di kayu salib bagi dosa manusia. Selaras dengan tema tersebut, pada saat ini saya ingin menyampaikan firman Allah dengan tema: “VIA DOLOROSA”. Pintu ke Eden telah terbuka, namun jalan untuk menuju ke sana kita harus melewati jalan “Via Dolorosa.”

Kata Via Dolorosa berasal dari bahasa Latin yang berarti jalan kesengsaraan atau jalan penderitaan. Via Dolorosa menunjuk kepada perjalanan Tuhan Yesus Kristus dari Taman Getsemani, menuju pengadilan Pilatus yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata (Yohanes 19:13) menuju bukit Golgota yang dikenal sebagai tempat tengkorak (Yohanes 19:17) hingga penguburanNya (Yoh.19:38). Ini adalah perjalanan panjang yang sangat menyiksa mengingat kondisi fisik Tuhan Yesus Kristus yang melemah karena sepanjangan malam menghadapi pengadilan dan aniaya dari orang-orang yang membencinya.

Mengapa kita perlu mempelajari Via Dolorosa?
Sebab perjalanan yang telah ditempuh oleh Tuhan Yesus menuju salib adalah sebuah contoh, teladan bagi orang-orang percaya. Perjalanan Via Dolorosa adalah gambaran perjalanan iman para pengikut Yesus yang sejati. Orang-orang yang mencintaiNya dengan segenap hati tidak mungkin menghindari jalan penderitaan ini.

1Petrus 2:21
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

Via Dolorosa tidak sekedar sejarah masa lalu yang kita dengar dibangku-bangku sekolah Minggu. Via Dolorosa juga tak sekedar cerita paskah, tetapi Via Dolorosa adalah petunjuk untuk kita melangkah. Oleh sebab itu marilah kita menelusuri kembali jalan-jalan yang telah dilalui Tuhan Yesus menuju kayu salib.

Menurut tradisi gereja jalan Via Dolorosa terdiri dari 14 titik perhentian menuju salib, yaitu:

  1. Taman Getsemani di Bukit Zaitun (Luk 22:39-46).
  2. Yesus dikhianati oleh Yudas dan ditangkap (Luk 22:47-48).
  3. Yesus diadili di hadapan Mahkamah Agama (Luk 22:66-71).
  4. Petrus menyangkal Yesus (Luk 22:54-62).
  5. Yesus diadili oleh Pontius Pilatus (Luk 23:13-25).
  6. Yesus dicambuk dan dimahkotai dengan duri (Mrk 15:15-17).
  7. Yesus memikul salib (Yoh 19:17).
  8. Simon dari Kirene memikul salib Yesus (Luk 23:26).
  9. Yesus bertemu dengan perempuan-perempuan dari Yerusalem (Luk 23-31).
  10. Yesus disalibkan (Luk 23:33-47).
  11. Yesus menjanjikan kerajaan-Nya kepada penyamun yang bertobat (Luk 23:43).
  12. Yesus berbicara dengan ibu dan murid-murid-Nya (Luk 23:48-49).
  13. Yesus mati di kayu salib (Luk 23:44-46).
  14. Yesus dikuburkan di dalam makam (Luk 23:50-54).

Karena waktu yang terbatas, tentu pagi hari ini kita tidak dapat mempelajari semua jalan yang telah dilaluiNya. Saat ini, kita hanya akan belajar awal perjalanan Tuhan Yesus di taman Getsemani. Marilah kita memulai perjalanan untuk menyusuri kembali jalan Via Dolorosa.

TAMAN GETESMANI
(Luk 22:39-46).
Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Lukas 22:41,42 

Tempat inilah awal perjalanan penderitaan Tuhan Yesus dimulai (meski sejatinya via dolorosa telah dimulai sejak di sorga, Allah berduka saat manusia jatuh dalam dosa). Di taman Getsemani, Yesus bergumul hingga peluhNya menetes seperti darah. Apakah mengerjakan kehendak Allah dan menuruti keinginan pribadi. Dalam doaNya tergambar jelas, jika boleh/diperkenan dilepaskan dari cawan hukuman tetapi “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Getsemani adalah sebuah kebun pohon zaitun yang terletak di kaki Bukit Zaitun di sebelah utara Lembah Kidron. Secara etimologi kata Getsemani berasal dari kata Ibrani gath “pemeras” atau “penggiling” dan shemen “minyak” yang berarti “alat pemeras minyak” kemungkinan menunjuk pada lokasi tempat pemerasan minyak zaitun yang ada di taman itu.

Seperti buah zaitun yang digiling, diperas dan dilumatkan di atas alat pemerasan, di tempat inilah kehendak/keinginan Yesus diperas, dihancurkan agar yang keluar adalah minyak yang memberikan kehidupan banyak orang.

Apa yang Tuhan Yesus alami di taman Getsemani?
Dari catatan Injil sinopsis kita dapat melihat beratnya tekanan yang dialami Tuhan Yesus saat berada di taman Getsemani.

  • Lukas 22:44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
  • Matius 26:37-38 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
  • Markus 14:33,34 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”

Di taman Getsemani Tuhan Yesus mengalami kesedihan yang mendalam, tekanan yang sangat berat, Mengapa? TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Yesaya 53:6
Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Sebagai murid Yesus yang sejati, kita harus siap memasuki taman Getsemani, di sana hidup kita dihancurkan, keakuan kita digiling, ego kita diperas agar hidup kita berkenan kepada Allah. Tanpa pemerasan/penggilingan mustahil terjadi pembentukan.

Kita dibentuk oleh proses kehidupan yang sulit, pergumulan yang berat dan kehidupan penuh tekanan. Covid 19 bisa jadi itu adalah taman Getsemani bagi kita. Kesulitan keuangan, sakit yang tidak kunjung sembuh, dll.

Bagaimana sikap kita saat berada di taman Getsemani?
A.
Berdoalah kepada Allah
Dalam pergumulan yang berat di taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa kepada BapaNya di sorga. Apa yang terjadi saat Ia berdoa?

Luk 22:43
Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

Dalam doa, Tuhan Yesus mendapat kekuatan untuk menghadapi semua kesulitan, tekanan dan pergumulan yang dihadapi. Sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi penderitaan amat kontras dengan sikap para murid. Tuhan Yesus bergumul dalam doa, sedangkan para murid memilih untuk tidur. Doa membuat Tuhan Yesus sanggup menghadapi penderitaan tanpa mengeluh, sedangkan para murid lari ketakutan saat musuh datang. Doa merupakan sumber kekuatan saat kita menghadapi penderitaan.

Doa mungkin tidak menghilangkan beban yang kita pikul, tetapi doa memberikan kekuatan untuk menanggung beban yang kita pikul. Doa itu seperti payung. Payung tidak menghentikan hujan, tetapi dengan payung kita dapat melewati hujan tanpa kebasahan.

Ibrani 5:7
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.

Jika pundakmu tak lagi mampu menanggung beban yang berat, ingatlah engkau masih punya tangan untuk dilipat dalam doa. Jika kakimu tak lagi mampu melangkah maju karena masalah yang besar, ingatlah engkau masih memiliki lutut untuk berdoa kepada Allah yang maha besar.

B. Berserahlah kepada kehendak Allah.
Lukas 22:42
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Meski keinginanNya dilepaskan dari cawan murka, namun pilihanNya adalah kehendak BapaNya yang terjadi. Tuhan Yesus sadar bahwa misi kedatanganNya ke dunia ini adalah untuk menebus dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Oleh sebab itu, Ia berkomitmen penuh untuk mengenapi dan menuntaskan tugas Bapa di sorga.

Alkitab berkata:
Yesaya 53:7
Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

Inilah kualitas murid Yesus yang sejati yaitu menyerah total kepada kehendak Allah. Seorang murid Yesus yang sejati tidak sekedar mengambil keputusan percaya kepada Yesus, ia berkomiten secara total untuk mengikuti kehendak Bapa di sorga.

Taman Getesemani telah membuktikan, siapakah murid yang sungguh-sungguh mengikutiNya dan siapa yang sekedar mencari keuntungan dan kenikmatan. Salah satu muridNya telah memilih mengkhianati sang guru dan menjualnya demi mendapatkan 30 keping perak. Dan yang lain meninggalkanNya seorang diri saat serdadu menangkapNya dengan keji.

Apapun yang terjadi Tuhan Yesus berkomitmen untuk melakukan kehendak BapaNya.

Yohanes 4:34
Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Rasul Paulus adalah contoh lain yang dapat kita teladani dalam mengikuti kehendak Bapa di sorga.

Kisah Rasul 20:24
Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

C. Taatlah melakukan kehendak Bapa.
Lukas 22:42
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

PenyerahanNya kepada kehendak BapaNya adalah sebuah bukti ketaatanNya. Dengan penuh kesadaran Tuhan Yesus taat melakukan kehendak BapaNya meskipun harus mengalami penderitaan bahkan kematian.

Filipi 2:8
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Ibrani 5:8
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,

Sekali lagi Tuhan sedang mencari gereja yang memiliki ketaatan penuh kepada kehendakNya. Jadilah pengikut Kristus yang sejati yang memiliki ketaatan total kepada firman Allah.

Sadarilah bahwa ketaatan adalah tanda kasih kita kepada Tuhan. Kita diselamatkan karena iman, tetapi kita diperkenan melalui ketaatan.

Yohanes 14:23
Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

Pertolongan di taman Getsemani
Ibrani 4:15,16
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Adakah diantara kita yang saat ini berada di taman Getsemani? Saudara dalam pergumulan hidup yang berat, dalam tekanan kesulitan, dikhianati, difitnah, dll? Ingatlah saat Saudara di taman Getsemani, Saudara tidak ditinggalkan sendirian sebab Tuhan Yesus pernah berada di taman Getsemani. Ia bertahan dalam kesendirian karena melihat saudara dan saya. Tetaplah percaya, Tuhan memberkati. KJP!

JALAN KE EDEN – oleh Pdt. J. S. Minandar (Ibadah Kematian Tuhan Yesus 1,3 – Jumat, 2 April 2021)

KEJADIAN 3:23, 24
“Lalu Tuhan Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. la menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala – nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

TUJUAN ALLAH MENGUSIR MANUSIA
Upah Dosa Adalah Maut.
Kejadian 2:17; 3:2,3 “sebab pada hari engkau memakannya pasti engkau mati.” Kematian yang dimaksud bukan hanya putus nyawa tetapi manusia dipisahkan dari Allah selama-lamanya, yaitu siksa kekal di neraka (Roma 6:23).

Kasih dan Rencana Allah
Tujuan Allah mengusir Adam dan Hawa dari taman Eden adalah (Yohanes 3:16) karena Allah tidak menghendaki manusia binasa, Allah mempunyai rencana untuk menebus manusia, sebab Allah harus menggenapi rencana-Nya yang gagal dilakukan Adam (Kejadian 1:26-28).

Apa kaitannya antara diusirnya Adam dan Hawa dari Eden dengan dosa dan rencana Allah? Bila Adam dan Hawa yang berdosa memakan buah kehidupan, mereka akan hidup kekal di dalam dosa dan tidak bisa ditebus dan diampuni untuk selamanya, sehingga rencana Allah gagal dan tidak bisa dipulihkan selamanya.

Adam dan Hawa pasti ingin kembali ke taman Eden dan mengalami kemuliaan taman Eden. Tetapi ada perasaan yang sama yaitu: rasa takut! Takut karena apa? Apabila mereka terus berada di luar Eden, saat usia mereka mendekati 1000 tahun dan mereka harus menghadapi kematian maka upah dosa adalah maut kekal (Roma 6:33). Dan apabila Adam dan Hawa berusaha menghindar dari kematian dengan cara kembali ke taman Eden, mereka makin takut sebab dalam Kejadian 3:24 berkata,  “Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nya lah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.”

Perhatikan! Allah menempatkan beberapa kerub di gerbang Eden (Yesaya 6:2 – Serafim= malaikat bersayap), dengan pedang yang berkilau-kilauan di tangan mereka dan pedang itu dilayang-layangkan untuk menghalau serta membunuh setiap orang yang mencoba masuk ke taman Eden.

Roma 6:23a berkata, “Upah dosa adalah maut!” Seluruh umat manusia yang masih hidup di dunia statusnya sedang menunggu kematian, kemudian hukuman (maut).

Tidak ada seorang manusia yang bisa membawa kita ke taman Eden dan luput dari pedang maut yang membawa kita ke neraka. Bila kita masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, gunakanlah kesempatan yang berharga ini untuk menerima kasih karunia Allah dan tetap bertahan dalam kasih karunia Allah apapun yang terjadi.

Roma 6:23a “Sebab upah dosa ialah maut.” Tidak ada seorang pun yang bisa menolak upah yang harus diterimanya dari dosa yang telah dibuatnya, yaitu maut atau neraka. Dan kita harus bersyukur, sebab ayat ini tidak berhenti sampai di bagian “a” saja, tetapi dilanjutkan ke bagian “b”. Roma 6:23b  berkata, “Tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Satu-satunya yang bisa membuat manusia lolos dari upah dosa, yaitu maut adalah Allah. Tetapi, untuk menyelamatkan manusia, Allah tidak bisa melanggar ketentuan atau hukum yang Allah sendiri telah jatuhkan yaitu, Upah dosa adalah maut!

CARA ALLAH MENJADI MANUSIA
Untuk menyelamatkan manusia dari dosa tidak ada cara lain, Allah harus menjelma menjadi manusia. Sebab, kalau Allah tidak menjadi manusia, Allah tidak bisa mati dan tidak bisa mengalami maut sebagai satu-satunya cara untuk menebus dosa manusia. Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Selanjutnya dikatakan dalam Yohanes 1:14 bahwa, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

YESUS DI ATAS SALIB
Apakah yang Yesus lakukan setelah Yesus (Allah) menjelma menjadi manusia?

Yohanes 3:16 berkata, Sebab kasih Yesus yang begitu besar kepada umat manusia, Yesus tidak mau ada seorang pun manusia yang dihukum dan binasa di dalam neraka. Sebab itu, 1 Timotius 2:6 mengatakan: “yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan”.

Yesus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib menjadi penebus yaitu menanggung dosa kita agar kita tidak dihukum dalam neraka, tetapi manusia bisa kembali ke taman Eden.

Di kayu salib Yesus memproklamirkan kembalinya manusia ke taman Eden didalam Lukas 23:43, yang berkata: “Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepada mu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

KRONOLOGIS UCAPAN YESUS DI SALIB
Lukas 23:36-37 berkata, “Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada- Nya dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!”

Empat prajurit yang bertugas menyalibkan Yesus, mengolok-olok Yesus. Salah seorang penjahat yang sedang disalibkan bersama-sama Yesus turut menghujat dan mengolok-olok Yesus. Tetapi Lukas 23:39 berkata, “Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu.” Penjahat yang telah mengolok-olok Yesus ini ditegur rekannya yang disalib bersama-sama. Rupanya dalam penderitaannya di salib, ia memperhatikan Yesus. Hal ini menimbulkan iman di hatinya, sehingga ketika ia mendengar rekannya mengolok-olok Yesus, ia menegur rekannya itu sebagai ekspresi kepercayaannya kepada Yesus.

Lukas 23:40-42 berkata, “Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Setelah berkata demikian, ia menyampaikan permohonannya (doa) kepada Yesus: “Lalu ia berkata: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai raja.” la percaya, Yesus bukan seorang penjahat, tetapi Mesias, Raja dan Penyelamat yang dijanjikan oleh Allah. Yesus menjawab dan menyelamatkan orang yang beriman itu dan berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus (Eden).” (Lukas 23:43)

KESIMPULAN
Yesuslah yang membuka jalan bagi kita untuk kita menikmati Eden (Firdaus). Jalan menuju Eden sudah terbuka karena Yesus yang terlebih dahulu melewati Kerub itu, sehingga Dia yang mati terkena pedang itu dan membuka jalan bagi kita semua. Seberapa besar apapun dosa yang telah dilakukan seseorang dimasa lalu, ketika ia percaya kepada Yesus maka ia akan terluput dari pedang maut dan menikmati Eden.

KOBARAN API PENTAKOSTA – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 28 Maret 2021)

Selamat datang Jemaat Tuhan di Ibadah Perayaan 100 tahun Gereja Pantekosta di Indonesia. Saya merasa terhormat sebagai generasi ketiga keluarga hamba Tuhan Pantekosta, untuk berdiri di hadapan Anda dan berbicara mengenai apa yang Tuhan mulai 100 tahun yang lalu di Indonesia.

Hari ini kita akan berbicara tentang api pantekosta yang membawa pada pengalaman Pantekosta. Kata “pantekosta” sendiri adalah istilah yang sering kita dengar dan bahkan menjadi bagian dari nama Gereja kita. Mungkin ada yang bertanya mengapa bukan “pentakosta”? Saya rasa nanti hal itu akan dijawab oleh rekan-rekan staf Gereja yang lain. Saya akan fokus kepada “pengalaman pantekosta”. Namun, apakah kita memahami pengalaman Pantekosta itu? Saya ingin membawa Anda kembali kepada pengalaman Pantekosta pertama kali di Yerusalem. Kisah Para Rasul 2:1-8, 11, 16-18, 40-41.

Kurang lebih sembilan belas abad kemudian, tepatnya di 1907, pengalaman Pantekosta di Yerusalem, hidup juga di Azusa Street, Los Angeles, California, Amerika Serikat. Mereka yang mengalami lawatan Roh Kudus, berkata-kata dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Pergerakan api pantekosta ini juga menjalar sampai kota Seattle, Washington. Tahun 1919 ada sebuah Gereja Pantekosta yang dinamakan Bethel Temple dimana ada dua keluarga yang dipenuhkan oleh kuasa Roh Kudus dan memberi diri untuk menjadi misionaris. Nama mereka adalah Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren. Keduanya mendapat penglihatan dari Tuhan untuk melayani pulau Jawa. Saat itu pulau Jawa dan teritori yang dikuasai Belanda disebut Hindia-Belanda (Dutch East Indies).

Pada tahun 1921 kedatangan kedua misionaris ini menandai masuknya gerakan pantekosta di negara jajahan Belanda saat itu. Nama perkumpulan orang percaya itu disebut “De Pinkstergemeente in Nederlandsch Indie”alias ”De Pinksterkerk in Nederlandsch Oost-Indie” (yang secara literal berarti Gereja Pantekosta di Hindia Belanda). Setelah Belanda dikalahkan, maka negara Indonesia ada di bawah kendali pendudukan Jepang, dan pada 1942 banyak nama yang berbahasa Belanda kemudian di-Indonesia-kan, sampai kemudian Indonesia menjadi berdaulat, yang dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini berpengaruh pula kepada nama perkumpulan ini, yang pada akhirnya dikenal sebagai Gereja Pantekosta di Indonesia. Hari ini kita bersekutu di GPdI Mahanaim Tegal sebagai bukti nyata karya api pantekosta yang masuk ke Indonesia 100 tahun yang lalu.

Terdapat fakta-fakta dari pengalaman Pantekosta di Indonesia yang terjadi seabad lalu dalam catatan saya. Ketiganya ternyata punya relevansi dengan apa yang terjadi di dalam Alkitab.

1. Karunia Penglihatan.
Hal ini dialami oleh dua keluarga misionaris, Cornelius Groesbeek dan Richard Van Klaveren yang dengan jelas melihat Pulau Jawa di penglihatan mereka. Pengalaman yang demikian juga dialami oleh Rasul Paulus di dalam perjalanan misi, saat itu ia ada di Troas. Kisah Para Rasul 16:8-10.

Kita belajar dari kisah ini bahwa Allah bekerja dengan memberi visi kepada seseorang untuk melihat sesuatu yang selaras dengan rencana Tuhan, meskipun mereka sudah memiliki rencana yang lain (ayat 6-7).

Apa yang kita rencanakan juga bisa berubah ketika kita dipimpin oleh kuasa Roh Kudus. Galatia 5:25. Pengalaman yang sama baik Groesbeek – Van Klaveren maupun Rasul Paulus, yang mereka kejar dalam penglihatan itu adalah pemenangan jiwa-jiwa bukan keuntungan diri sendiri. Siapkah kita dengan perubahan? Keluar dari apa yang sudah kita rencanakan?

2. Kesatuan
Dua misionaris ini merupakan anggota dari Gereja Bethel Temple. Mereka menundukkan diri di bawah kepemimpinan Gembala Jemaat Bethel Temple yang bernama W.H. Offiler. Mereka juga didukung penuh oleh jemaat yang rindu melihat bangsa-bangsa dilawat oleh Tuhan. Mungkin mereka tidak menyadari 100 tahun kemudian, setelah mengutus dua misionaris ini, keputusan mereka menghasilkan kurang lebih 21,000 jemaat lokal di Indonesia.

Perubahan yang besar dapat terjadi melalui kesatuan dan ketekunan orang-orang percaya. Dalam Kisah Para Rasul 1:11-15 ada 120 orang yang berkumpul, berdoa, dan bertekun. Kemudian Roh Kudus melawat dan menambahkan jumlah mereka menjadi 3.000 orang percaya (ayat 41). Saat ini ada sekitar 2,3 milyar orang percaya, jumlah besar itu dimulai dari kesatuan hati 120 orang di Yerusalem.

3.Inspirasi
Para misionaris dari Amerika Serikat ini mengasihi orang yang berbeda bangsa, bahkan bahasa dengan mereka. Tetapi kasih mereka, yang digerakkan oleh kuasa Roh Kudus, melintasi batas-batas perbedaan. Apa yang mereka lakukan kemudian menginspirasi bapak-bapak GPdI mula-mula. Mereka melepaskan apa yang mereka terima dari dunia, dan percaya bahwa kuasa Tuhan lebih dari cukup buat mereka. Ini tercermin dari lirik lagu-lagu Pantekosta klasik. Contohnya: “Maju-maju saja”, “Kerja buat Tuhan”, “Mana-mana Tuhan panggil”. Lagu-lagu ini bukan sekedar lagu klasik, tetapi suatu ungkapan pengharapan yang membuat mereka bertahan di tengah tekanan.

Rasul Paulus menyadari panggilannya untuk melayani orang-orang non-Yahudi, meskipun ia dibesarkan dalam mazhab/aliran dalam agama Yahudi yang paling fanatik, yaitu sebagai golongan Farisi. Galatia 1:14-16. 1Timotius 2:7. Filipi 3:5. Ia kemudian rela untuk menderita, demi membuat banyak orang percaya kepada Kristus. 2Korintus 11:24-28. Apa yang Paulus lakukan menginspirasi hamba-hamba Tuhan dan jemaat Tuhan untuk terus bertahan.

Pengalaman pantekosta seharusnya tidak berhenti hanya menjadi pengalaman institusional, maksudnya hanya karena kita berjemaat di GPdI. Tetapi seharusnya ini menjadi pengalaman pribadi sehingga setiap jemaat mendapatkan karunia Roh yang khusus dari Tuhan. Kerinduannya setiap jemaat terdorong untuk bersatu, dan menjadi inspirasi untuk dunia.

Pengalaman pantekosta melibatkan keseluruhan diri kita: tubuh, jiwa, dan roh. Ketika Anda memuji Tuhan, ekspresi tubuh Anda menjadi cerminan apa yang dikatakan Yesus dalam Markus 12:30.

Setelah dengan tubuh menunjukkan kasih kita kepada Tuhan, ada catatan pengalaman orang-orang di Perjanjian Baru, dimana mereka menunjukkan kerinduan dalam jiwa mereka untuk mengalami Tuhan. Dari kerinduan itu kemudian Roh Kudus melawat mereka. Seperti di kisah-kisah berikut:

  • Kisah Para Rasul 1:13-14. Murid-murid berkumpul dengan tekun menanti janji pencurahan Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 8:14-17.Orang-orang percaya di Samaria sudah menerima baptisan air, tetapi belum menerima Roh Kudus, mereka membuka diri untuk beroleh kuasa Roh Kudus.
  • Kisah Para Rasul 10:33, 44. Kornelius, seorang non-Yahudi, membawa sanak saudara dan sahabat-sahabatnya berkumpul. Mereka rindu mendengar Firman Allah, dan setelah itu mereka menerima Roh Kudus.

Tubuh yang digerakkan untuk Tuhan, kerinduan yang penuh pada Tuhan diikuti dengan pengalaman penuh dengan Roh Kudus. Saat itu mereka terhubung dengan keberadaan Tuhan yang adalah Roh, Yohanes 4:24. Mereka tenggelam dalam hadirat Tuhan, itulah mengapa orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus bisa melakukan hal-hal yang tubuh dan jiwanya belum pernah lakukan sebelumnya, seperti berbahasa lidah, bernubuat, menari, memuji dan menyembah dalam jangka waktu yang lama. Biarlah kita rindu kobaran api pantekosta itu nyata di Gereja kita, di keluarga kita, dan di masing-masing pribadi kita.