VIA DOLOROSA – oleh Pdt. joseph Priyono (Ibadah Kematian Yesus 2 – Jumat, 2 April 2021)

Pendahuluan
Dalam ibadah raya pertama, Bapak Gembala telah menyampaikan firman Tuhan dengan tema: “Jalan Ke Eden.” Melalui kematian Tuhan Yesus pintu ke Eden yang tertutup oleh dosa kini telah dibuka kembali. Tidak ada lagi penghalang untuk masuk ke dalam Eden, karena Kristus telah mati di kayu salib bagi dosa manusia. Selaras dengan tema tersebut, pada saat ini saya ingin menyampaikan firman Allah dengan tema: “VIA DOLOROSA”. Pintu ke Eden telah terbuka, namun jalan untuk menuju ke sana kita harus melewati jalan “Via Dolorosa.”

Kata Via Dolorosa berasal dari bahasa Latin yang berarti jalan kesengsaraan atau jalan penderitaan. Via Dolorosa menunjuk kepada perjalanan Tuhan Yesus Kristus dari Taman Getsemani, menuju pengadilan Pilatus yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata (Yohanes 19:13) menuju bukit Golgota yang dikenal sebagai tempat tengkorak (Yohanes 19:17) hingga penguburanNya (Yoh.19:38). Ini adalah perjalanan panjang yang sangat menyiksa mengingat kondisi fisik Tuhan Yesus Kristus yang melemah karena sepanjangan malam menghadapi pengadilan dan aniaya dari orang-orang yang membencinya.

Mengapa kita perlu mempelajari Via Dolorosa?
Sebab perjalanan yang telah ditempuh oleh Tuhan Yesus menuju salib adalah sebuah contoh, teladan bagi orang-orang percaya. Perjalanan Via Dolorosa adalah gambaran perjalanan iman para pengikut Yesus yang sejati. Orang-orang yang mencintaiNya dengan segenap hati tidak mungkin menghindari jalan penderitaan ini.

1Petrus 2:21
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

Via Dolorosa tidak sekedar sejarah masa lalu yang kita dengar dibangku-bangku sekolah Minggu. Via Dolorosa juga tak sekedar cerita paskah, tetapi Via Dolorosa adalah petunjuk untuk kita melangkah. Oleh sebab itu marilah kita menelusuri kembali jalan-jalan yang telah dilalui Tuhan Yesus menuju kayu salib.

Menurut tradisi gereja jalan Via Dolorosa terdiri dari 14 titik perhentian menuju salib, yaitu:

  1. Taman Getsemani di Bukit Zaitun (Luk 22:39-46).
  2. Yesus dikhianati oleh Yudas dan ditangkap (Luk 22:47-48).
  3. Yesus diadili di hadapan Mahkamah Agama (Luk 22:66-71).
  4. Petrus menyangkal Yesus (Luk 22:54-62).
  5. Yesus diadili oleh Pontius Pilatus (Luk 23:13-25).
  6. Yesus dicambuk dan dimahkotai dengan duri (Mrk 15:15-17).
  7. Yesus memikul salib (Yoh 19:17).
  8. Simon dari Kirene memikul salib Yesus (Luk 23:26).
  9. Yesus bertemu dengan perempuan-perempuan dari Yerusalem (Luk 23-31).
  10. Yesus disalibkan (Luk 23:33-47).
  11. Yesus menjanjikan kerajaan-Nya kepada penyamun yang bertobat (Luk 23:43).
  12. Yesus berbicara dengan ibu dan murid-murid-Nya (Luk 23:48-49).
  13. Yesus mati di kayu salib (Luk 23:44-46).
  14. Yesus dikuburkan di dalam makam (Luk 23:50-54).

Karena waktu yang terbatas, tentu pagi hari ini kita tidak dapat mempelajari semua jalan yang telah dilaluiNya. Saat ini, kita hanya akan belajar awal perjalanan Tuhan Yesus di taman Getsemani. Marilah kita memulai perjalanan untuk menyusuri kembali jalan Via Dolorosa.

TAMAN GETESMANI
(Luk 22:39-46).
Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Lukas 22:41,42 

Tempat inilah awal perjalanan penderitaan Tuhan Yesus dimulai (meski sejatinya via dolorosa telah dimulai sejak di sorga, Allah berduka saat manusia jatuh dalam dosa). Di taman Getsemani, Yesus bergumul hingga peluhNya menetes seperti darah. Apakah mengerjakan kehendak Allah dan menuruti keinginan pribadi. Dalam doaNya tergambar jelas, jika boleh/diperkenan dilepaskan dari cawan hukuman tetapi “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Getsemani adalah sebuah kebun pohon zaitun yang terletak di kaki Bukit Zaitun di sebelah utara Lembah Kidron. Secara etimologi kata Getsemani berasal dari kata Ibrani gath “pemeras” atau “penggiling” dan shemen “minyak” yang berarti “alat pemeras minyak” kemungkinan menunjuk pada lokasi tempat pemerasan minyak zaitun yang ada di taman itu.

Seperti buah zaitun yang digiling, diperas dan dilumatkan di atas alat pemerasan, di tempat inilah kehendak/keinginan Yesus diperas, dihancurkan agar yang keluar adalah minyak yang memberikan kehidupan banyak orang.

Apa yang Tuhan Yesus alami di taman Getsemani?
Dari catatan Injil sinopsis kita dapat melihat beratnya tekanan yang dialami Tuhan Yesus saat berada di taman Getsemani.

  • Lukas 22:44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
  • Matius 26:37-38 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
  • Markus 14:33,34 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”

Di taman Getsemani Tuhan Yesus mengalami kesedihan yang mendalam, tekanan yang sangat berat, Mengapa? TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Yesaya 53:6
Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Sebagai murid Yesus yang sejati, kita harus siap memasuki taman Getsemani, di sana hidup kita dihancurkan, keakuan kita digiling, ego kita diperas agar hidup kita berkenan kepada Allah. Tanpa pemerasan/penggilingan mustahil terjadi pembentukan.

Kita dibentuk oleh proses kehidupan yang sulit, pergumulan yang berat dan kehidupan penuh tekanan. Covid 19 bisa jadi itu adalah taman Getsemani bagi kita. Kesulitan keuangan, sakit yang tidak kunjung sembuh, dll.

Bagaimana sikap kita saat berada di taman Getsemani?
A.
Berdoalah kepada Allah
Dalam pergumulan yang berat di taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa kepada BapaNya di sorga. Apa yang terjadi saat Ia berdoa?

Luk 22:43
Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

Dalam doa, Tuhan Yesus mendapat kekuatan untuk menghadapi semua kesulitan, tekanan dan pergumulan yang dihadapi. Sikap Tuhan Yesus dalam menghadapi penderitaan amat kontras dengan sikap para murid. Tuhan Yesus bergumul dalam doa, sedangkan para murid memilih untuk tidur. Doa membuat Tuhan Yesus sanggup menghadapi penderitaan tanpa mengeluh, sedangkan para murid lari ketakutan saat musuh datang. Doa merupakan sumber kekuatan saat kita menghadapi penderitaan.

Doa mungkin tidak menghilangkan beban yang kita pikul, tetapi doa memberikan kekuatan untuk menanggung beban yang kita pikul. Doa itu seperti payung. Payung tidak menghentikan hujan, tetapi dengan payung kita dapat melewati hujan tanpa kebasahan.

Ibrani 5:7
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.

Jika pundakmu tak lagi mampu menanggung beban yang berat, ingatlah engkau masih punya tangan untuk dilipat dalam doa. Jika kakimu tak lagi mampu melangkah maju karena masalah yang besar, ingatlah engkau masih memiliki lutut untuk berdoa kepada Allah yang maha besar.

B. Berserahlah kepada kehendak Allah.
Lukas 22:42
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Meski keinginanNya dilepaskan dari cawan murka, namun pilihanNya adalah kehendak BapaNya yang terjadi. Tuhan Yesus sadar bahwa misi kedatanganNya ke dunia ini adalah untuk menebus dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Oleh sebab itu, Ia berkomitmen penuh untuk mengenapi dan menuntaskan tugas Bapa di sorga.

Alkitab berkata:
Yesaya 53:7
Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

Inilah kualitas murid Yesus yang sejati yaitu menyerah total kepada kehendak Allah. Seorang murid Yesus yang sejati tidak sekedar mengambil keputusan percaya kepada Yesus, ia berkomiten secara total untuk mengikuti kehendak Bapa di sorga.

Taman Getesemani telah membuktikan, siapakah murid yang sungguh-sungguh mengikutiNya dan siapa yang sekedar mencari keuntungan dan kenikmatan. Salah satu muridNya telah memilih mengkhianati sang guru dan menjualnya demi mendapatkan 30 keping perak. Dan yang lain meninggalkanNya seorang diri saat serdadu menangkapNya dengan keji.

Apapun yang terjadi Tuhan Yesus berkomitmen untuk melakukan kehendak BapaNya.

Yohanes 4:34
Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Rasul Paulus adalah contoh lain yang dapat kita teladani dalam mengikuti kehendak Bapa di sorga.

Kisah Rasul 20:24
Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

C. Taatlah melakukan kehendak Bapa.
Lukas 22:42
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

PenyerahanNya kepada kehendak BapaNya adalah sebuah bukti ketaatanNya. Dengan penuh kesadaran Tuhan Yesus taat melakukan kehendak BapaNya meskipun harus mengalami penderitaan bahkan kematian.

Filipi 2:8
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Ibrani 5:8
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,

Sekali lagi Tuhan sedang mencari gereja yang memiliki ketaatan penuh kepada kehendakNya. Jadilah pengikut Kristus yang sejati yang memiliki ketaatan total kepada firman Allah.

Sadarilah bahwa ketaatan adalah tanda kasih kita kepada Tuhan. Kita diselamatkan karena iman, tetapi kita diperkenan melalui ketaatan.

Yohanes 14:23
Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

Pertolongan di taman Getsemani
Ibrani 4:15,16
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Adakah diantara kita yang saat ini berada di taman Getsemani? Saudara dalam pergumulan hidup yang berat, dalam tekanan kesulitan, dikhianati, difitnah, dll? Ingatlah saat Saudara di taman Getsemani, Saudara tidak ditinggalkan sendirian sebab Tuhan Yesus pernah berada di taman Getsemani. Ia bertahan dalam kesendirian karena melihat saudara dan saya. Tetaplah percaya, Tuhan memberkati. KJP!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *