MENJAGA HATI DENGAN SEGALA KEWASPADAAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 dan 3 – Minggu, 11 April 2021)

Amsal 4:23
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.”

 Ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita pelajari dari ayat ini.
1. Jagalah
Kata “jagalah” dalam bahasa ibrani ditulis “nasar”

  • Menjadi penjaga untuk diri sendiri.
    Memang kita membutuhkan penjagaan Allah, namun kita juga memiliki tugas untuk menjaga diri sendiri, terutama hati kita.
  • Membiasakan diri untuk melakukan observasi dengan kata lain melakukan pengamatan dan penelitian terhadap diri sendiri. Manusia pada umumnya lebih pintar mengobservasi orang lain ketimbang diri sendiri. Hal ini juga disebutkan Yesus didalam Lukas 6:42:
    Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Tuhan menegur dengan keras, seolah memberi nasihat kepada kita bahwa “observasilah dirimu sendiri dulu dengan benar, baru dapat mengobservasi orang lain, sehingga kita tidak salah menilai orang lain.” Orang yang suka mengobservasi orang lain tetapi lupa mengobservasi diri disebut Tuhan sebagai orang munafik.

 2. (Jagalah) Hati
Kata “ Hati dalam bahasa Ibrani =LEB, yang artinya :

✓ PERASAAN.

✓ KEHENDAK.

✓ CARA BERPIKIR.

Dari hati selalu muncul dua hal yaitu, REAKSI dan RESPON.

  • REAKSI – adalah ekspresi kita yang dipicu karena tidak berpikir panjang.
  • RESPON – adalah ekspresi kita yang dihasilkan setelah kita berpikir panjang.

Dalam menghadapi situasi dan masalah apapun, Tuhan ingin kita mengobservasi diri, yaitu cara berpikir kita, perasaan kita dan kehendak kita; apakah sesuai dengan cara berpikir, kehendak dan perasaan Tuhan. Oleh sebab itu Filipi 2:5 berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Allah ingin kita melatih cara berpikir yang benar untuk mengelola dan menjaga hati kita.

Filipi 4:8 berkata “Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap di dengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

3. Dari situlah terpancar kehidupan
Orang yang mampu untuk menjaga dan mengobservasi perasaannya, kehendaknya dan cara berpikirnya sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka hasilnya hidupnya akan memancarkan kehidupan yang mempengaruhi orang lain dengan kebaikan dan berkat. Orang yang memiliki kepahitan yang dipancarkan adalah kepahitan dan hal ini akan mempengaruhi orang lain. Demikian juga apabila kita memancarkan hal-hal yang baik maka kita akan memberi pengaruh baik kepada orang lain.

Ayub 1:8 berkata, Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Apa yang Ayub lakukan dalam hidupnya? Salah satu contoh Ayub 31:1 yang berkata: “Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?”

Ayub berkeputusan untuk mengobservasi matanya agar tidak berdosa. Ayub mengerti bahwa dia harus menjaga matanya sedemikian rupa agar tidak jatuh kedalam dosa. Ayub tahu konsekuensi jika ia tidak menjadi penjaga dan mengobservasi dirinya. Ayub 31:3 berkata, “Bukankah kebinasaan bagi orang yang curang dan kemalangan bagi yang melakukan kejahatan?” Bahkan dilanjutkan didalam Ayub 31:4 bahwa Allah mengamati jalan hidup Ayub; “Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku dan menghitung segala langkahku.”

Karena Ayub menjaga hatinya, maka ia seperti berani “bertaruh” dengan Allah didalam Ayub 31:5-6 berkata, “Jikalau aku bergaul dengan dusta, atau kakiku cepat melangkah ke tipu daya, biarlah aku ditimbang si atas neraca yang teliti, maka Allah akan mengetahui, bahwa aku tidak bersalah.”

 Ayub berani melakukan hal ini karena Ayub memang ternyata benar. Tidak heran Allah memujinya terang-terangan. Hal ini juga teruji ketika Ayub dalam kondisi benar tidak ada kesalahan tetapi mengalami lima (5) bencana besar dalam hidupnya. :

  • Kehilangan harta bendanya dalam waktu singkat.
  • Kehilangan 10 anak-anaknya pada waktu bersamaan.
  • Kena sakit borok yang parah. Borok ini adalah borok yang gatal dan perih dan terjadi selama 9 bulan.
  • Kehilangan dukungan istri.
  • Kehilangan dukungan dari sahabat-sahabatnya.

Dalam keadaan kemalangan yang hebat seperti ini, apakah Ayub mundur dan tidak mempercayai Tuhan lagi? Apakah Ayub menjadi kecewa kepada Tuhan bahkan menyangkali Tuhan? Tentu tidak. Bahkan Alkitab mencatat bahwa dosa sahabat-sahabatnya akan diampuni apabila Ayub berdoa untuk mereka.

Contoh lainnya adalah Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Daniel 1 : 8 menceritakan bagaimana Daniel menetapkan hatinya untuk tidak menajiskan diri dengan makanan Raja yang sudah dipersembahkan kepada berhala, yang juga diikuti oleh SMA (Sadrakh, Mesakh, Abednego).

Daniel, 3:17-18 berkata Sadrakh, Mesakh dan Abednego menetapkan hatinya untuk menolak menyembah kepada kepada patung dewa Babel yang berupa patung emas meski nyawa  menjadi taruhannya: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka la akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Menurut ahli kejiwaan, semua orang punya potensi sakit jiwa, bukan gila, tetapi kejiwaan yang tidak stabil. Tetapi Ayub, Daniel dan sahabat- sahabatnya begitu luar biasa dalam menjaga dan mengobservasi hatinya dengan penuh kewaspadaan.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, kita perlu menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh, sebab apa yang dikeluarkan dari hati akan menentukan pikiran, perbuatan dan keputusan-keputusan dalam kehidupan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *