BERTAHAN SAMPAI KESUDAHAN – oleh Pdt. J. S. Minandar (Ibadah Raya 2,3 – Minggu, 20 Juni 2021)

Matius 24:13
“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”

PENDAHULUAN
Ada banyak gambaran yang ditulis didalam Alkitab mengenai persiapan kita dalam menanti kedatangan Tuhan.  Namun dalam ayat ini, hidup manusia digambarkan seperti sebuah pertandingan. Kemenangan atau kekalahan kita ditentukan saat kita ada di garis akhir (finish). Contoh: Penjahat yang hampir binasa di garis finish, tetapi karena dia percaya kepada Yesus, akhirnya dia bersama dengan Yesus di Firdaus (Lukas 23:43).

Sebab itu, firman Allah mengingatkan kita akan hal ini: Lukas 18:8b yang berkata, “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah la mendapati iman di bumi?” Menjelang kedatangan Yesus (di garis akhir) banyak pengikut Yesus yang kehilangan iman.

Ada sebuah nasihat D. Eisenhower, mantan presiden USA yang berkata: “Perjalanan hidup manusia satu waktu akan berada di garis finish. Apabila kamu berada di depan garis finish, berlarilah dengan sungguh-sungguh, seolah-olah masih ada orang yang akan mengalahkanmu.”

TEKAD/KOMITMEN RASUL PAULUS
Oleh sebab itu, rasul Paulus bertekad didalam 2 Timotius 4:7,8 yang berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”

Ada tiga hal yang rasul Paulus akhir dengan baik dalam ayat ini:
1. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik.
Saat percaya Yesus kita seperti berada di garis awal pertandingan. Apakah kita telah bertanding dan mengakhiri pertandingan dengan baik di mata Yesus? Jangan bertanding seperti: Matius 7:21-23.

2. Aku telah memelihara iman
Kalimat ini menegaskan bahwa ajaran: SEKALI SELAMAT TETAP SELAMAT atau HYPER GRACE adalah salah dan sesat. Mengapa?  Sebab ayat ini menegaskan bahwa iman kepada Yesus (keselamatan) harus dijaga, dipelihara dan dikerjakan sampai kita berada di garis akhir kehidupan kita (Filipi 2:12).

3. Tersedia mahkota
“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota.”
Firman Allah berkata, Yesus telah menyediakan mahkota kepada pengikut Yesus yang setia sampai di garis akhir.

Ada beberapa macam Mahkota yang Yesus sediakan kepada pengikut Yesus yang setia beriman dan melayani Yesus sampai akhir.

KESELAMATAN, datang dari Yesus sebagai kasih karunia, anugerah atau pemberian karena kita beriman kepada Yesus yang telah menebus dosa kita dengan kematian-Nya di kayu salib (Efesus 2:8,9). Sedangkan MAHKOTA, adalah upah yang kita terima, yang diberikan Yesus kepada kita, karena kita telah bekerja dan melayani serta pengabdian kita kepada Yesus (Matius 10:42)

……bersambung……

Pekerjaan ‘juga’ adalah Pelayanan – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 23 Juni 2021)

Joh 5:17  Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”

 Pendahuluan
Pemahaman yang salah tentang Pekerjaan (akibat dosa ada yang hilang salah satunya pemahaman yang keliru)

  • Pekerjaan untuk mencari uang
    Dari kecil kita sudah diindoktrinasi bahwa orang tua kita bekerja mencari uang sehingga motivasinya adalah uang.
  • Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan satu hari istirahat.
    Kita adalah masyarakat yang berorientasi kepada istirahat.  Kita meyakini bahwa hari raya, liburan, dan akhir pekan lebih baik dari hari kerja. Kesukaan terhadap waktu bebas dari bekerja mencerminkan asumsi kita bahwa beristirahat lebih baik dari bekerja.
  • Pensiun adalah sasaran/ tujuan bekerja karena ada tunjangan.

Kita dirancang bukan untuk pensiun (tidak mengerjakan apa-apa) karena Allah tidak pernah pensiun. Kita dapat pensiun dari sebuah organisasi atau jabatan yang spesifik tetapi kita tidak akan dapat berhenti dari kehidupan dan bekerja. Begitu kita berhenti bekerja, artinya kita sudah mati.

Peng 9:10  Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

Mengapa bekerja juga adalah Pelayanan?
1. Allah juga bekerja dalam proses Penciptaan bahkan sampai sekarang Dia masih bekerja.
a.
Allah bekerja dalam pemulihan langit dan bumi pada waktu penciptaan alam semesta ini. Waktu bumi ini belum berbentuk dan kosong, Dia melayang-layang di atas permukaan air. Apa yang dilakukan-Nya? Dia bekerja keras untuk memulihkannya. Dia tunjukkan dengan bekerja. Dia mengucapkan Firman-Nya pada hari yang pertama sampai hari yang ke enam dan semuanya terjadi. Sampai-sampai Dia perlu ‘beristirahat’ pada hari ketujuh.

b. Kita perlu bekerja sebab Allah masih bekerja sampai saat ini. Yohanes 5:17 (TB) Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”

c. Anda keluar dari Allah ketika menciptakan diri kita. Dia memberikan Roh yang abadi potensi kekal. Anda boleh pensiun dari sebuah organisasi atau jabatan spesifik tetapi Anda tidak akan pernah pensiun dari kehidupan dan pekerjaan. Begitu berhenti bekerja anda mulai mati sebab bekerja adalah bagian yang diperlukan dari kehidupan.

2. Pekerjaan diberikan kepada manusia untuk mengeluarkan potensi yang Allah sudah berikan di dalam dirinya.
a. Kejadian 1:26, apakah manusia mampu?
b.
Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Terjemahan KJV: Diperintahkan untuk Fruitful (Berbuah) dan Multiply (melipatgandakannya) Menjadi produktif. Itu sebabnya Allah memberi pekerjaan kepada mereka di Taman Eden.

Kejadian 2:5  belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan (Abad) tanah itu; kata ini dipakai juga dalam arti Pelayanan dan Penyembahan.

Kejadian 2:8  Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

Kejadian 2:15  TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Itu sebabnya pekerjaan bukan untuk mencari uang, uanglah yang mendatangkan seorang bekerja dengan maksimal.

c. Memang setelah Manusia jatuh dalam dosa, bekerja menjadi tidak menyenangkan.

Gen 3:17  Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:

 Gen 3:18  semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;

Gen 3:19  dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

Tetapi Pekerjaan sudah diberikan kepada manusia sebelum manusia jatuh dalam dosa

d. Pekerjaan sudah diberikan Tuhan kepada Adam bahkan sebelum Adam mendapatkan istri.

3. Bekerja menyenangkan hati Tuhan dan Tuhan menghargai orang yang bekerja dengan penuh tanggung jawab.
a.
Mat 25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

 Mat 25:21  Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

b. Itu sebabnya dia membenci kemalasan dan mengatakan kepada mereka yang tidak bekerja mengembangkan talenta mereka.

Mat 25:26  Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

Mat 25:30  Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Prinsip Kerajaan Allah
Mat 6:33  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Penutup (Persiapan Perjamuan Tuhan)
Kita sebagai orang yang ditebus oleh darah Yesus dan menjadi manusia baru, sudah sepatutnya cara bekerja kita harus berbeda dengan orang dunia.

Efesus 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

PERINTAH ALLAH – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 3 – Minggu, 13 Juni 2021)

Ketika mendengar frase ini mungkin beberapa orang dari kita berpikir tentang Sepuluh Perintah Allah, yang berisi tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Tetapi bukan hal itu yang ingin saya bahas kali ini. Perintah Allah yang saya maksud menjadi tema yang saya angkat berangkat dari kenyataan bahwa beberapa kali Tuhan memerintahkan suatu hal secara khusus kepada pribadi-pribadi. Perintah ini secara khusus disesuaikan dengan situasi & kondisi yang dialami pribadi-pribadi tersebut.

Mari kita belajar dari pribadi pertama yang saya jadikan contoh: YOSUA. Yosua 1:1-9.

Tuhan meminta Yosua : “Kuatkanlah & Teguhkanlah hatimu.” Kalimat ini sering kita dengar, dan ini adalah suatu perintah yang diulangi hingga 3 (tiga) kali oleh Tuhan. Artinya apa ini adalah sesuatu yang penting! Situasinya saat itu adalah MUSA sudah mati, dan harapan Israel adalah YOSUA.

Kondisi saat ini dimana pandemi Covid-19 belum juga menunjukkan tanda akan berakhir membuat banyak orang percaya menjadi lemah hati, putus asa dan hilang pengharapan. Tetapi firman Tuhan datang kali ini kepada Anda, kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Anda adalah harapan untuk orang-orang di sekitar Anda, jangan menyerah sekarang.

Pribadi yang kedua, atau lebih tepatnya sekumpulan pribadi, adalah Murid-murid Yesus. Matius 28:19-20.

Yesus meminta murid-murid : “Pergilah & Jadikanlah.” Ini seringkali di dalam tradisi Gereja disebut Amanat Agung. Ini adalah suatu perintah di akhir perjumpaan Yesus dengan murid-muridNYA. Ini adalah perintah yang penting! Situasinya saat itu adalah secara fisik Yesus tidak lagi berada di tengah-tengah dunia. Jadi murid-murid menjadi “Kristus” bagi dunia.

Anda mungkin bertanya mengapa manusia bisa menjadi “Kristus”? Kata “Kristus” diterjemahkan sebagai “yang diurapi”. Adam didesain sebagai “Kristus” pertama, namun Adam gagal. (1 Korintus 15:21-23), kegagalan ini berakibat Adam dan semua keturunannya jatuh dalam dosa, sedangkan upah dosa adalah maut. (Roma 6:23). Puji nama Tuhan ada KARUNIA ALLAH yang didapat bukan karena usaha namun IMAN. (Roma 5:15, Efesus 2:8).

Implikasinya bagi kita seperti ini, kitaa adalah keturunan Adam. Kita semua dilahirkan dari rahim wanita. Sehingga kita hidup dalam kegagalan. Namun kisahnya tidak berhenti di situ. Setiap yang percaya kepada Yesus Kristus dilahirkan dari Allah. (1 Yohanes 5:1). Adam gagal karena itu kita tidak bisa mengandalkan kemanusiaan kita untuk bangkit. Tetapi kita adalah manusia baru, dilahirkan oleh Allah karena percaya pada Yesus. Kita belajar untuk hidup dalam teladan Yesus, kita belajar dari Yesus yang mati dan bangkit (Yohanes 18:4-8, 19:30, Roma 6:5). IA melakukan semuanya untuk memenuhi perintah Allah Bapa. Temukan perintah Allah yang spesifik untuk kita hari ini!

RUANG TUNGGU 3 – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1,2 – Minggu, 13 Juni 2021)

Pendahuluan
Haleluya, Puji Tuhan! Saat ini kita masih belajar tentang  “RUANG TUNGGU” dan sekarang kita masuk bagian 3.

Kita semua mengerti bahwa hidup adalah adalah masa untuk menunggu. Ada orang yang menunggu dengan sabar hanya untuk sebuah kabar, tetapi ada juga yang berjuang mati-matian untuk sebuah kepastian. Kadang-kadang jawaban datang begitu cepat, tetapi tidak jarang penantian begitu panjang dan melelahkan. Itulah konsekwensi dari menunggu.

Dua bagian awal yang telah kita pelajari adalah:
1. Ruang tunggu melatih kesabaran
Ruang tunggu adalah tempat untuk melatih dan meningkatkan kesabaran. Di ruang tunggu kita harus bersabar sebab, waktu Tuhan bukan waktu kita dan caraNya tidak selalu sama dengan cara kita. Kesabaran dibutuhkan saat menunggu karena tidak ada keberhasilan secara instan dan tidak ada sukses tanpa proses.

2. Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi (Luk 24:49) Sebelum pergi melayani murid-murid harus menunggu sampai mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi, mengapa?

a. Keberhasilan tidak ditentukan oleh kemampuan manusiawi tetap oleh kuasa dari tempat maha tinggi (Kisah Rasul 4:13)

b. Tanpa api semua korban adalah kekejian bagi Tuhan. (Imamat 3:5)
Setiap korban yang diletakan di atas mezbah harus dibakar dengan api agar baunya menyenangkan hati Tuhan. Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita, tanpa api Roh Kudus semua persembahan adalah kekejian bagi Tuhan. Tanpa Roh Kudus apapun yang kita lakukan dan persembahkan kepada Tuhan akan berbau kedagingan di hadapanNya. Sebab itu setialah menanti di ruang tunggu Tuhan sampai kita diperlengkapi oleh kuasa dari tempat maha tinggi.

Alasan ketiga mengapa Allah membawa anak-anakNya masuk ruang tunggu adalah:

3. DI RUANG TUNGGU ALLAH MENGUJI IMAN KITA.

Dalam dunia industri atau perusahaan, kita mengenal istilah “Quality Control” yaitu sebuah departeman/divisi memiliki tugas menguji sebuah produk agar tetap sesuai standar, spesifikasi pabrik atau perusahaan sebelum dilepas ke pasaran. Quality Control dilakukan untuk memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan memiliki kualitas sesuai yang telah ditetapkan.

Demikian pula dengan iman kita. Untuk mengetahui kualitas iman kita, kita harus melewati ujian. Salah satu ujian iman adalah “RUANG TUNGGU.” Di ruang tunggu Allah menguji iman anak-anakNya, apakah mereka tetap percaya atau meragukanNya? Di ruang tunggu, apakah kita tetap percaya bahwa Allah berkuasa menggenapi janji firmanNya atau menganggap Allah lupa kepada janjiNya?

Tidak sedikit anak-anak Tuhan gugur imannya saat berada di ruang tunggu. Ketika Allah tidak segera menjawab seru doanya, ia mulai meragukanNya. Saat Allah tidak segera menolong persoalan yang hadapi, ia menganggap bahwa Dia tidak peduli. Saat Tuhan berkata tunggu, ia berpikir bahwa Dia sudah tidak mampu. Ketahuilah, ketika Tuhan berkata tunggu bukan karena Dia tidak mampu, saat Tuhan berkata tunggu bukan karena Dia tidak tahu. Saat Tuhan berkata tunggu, Tuhan sedang melatih dan menaikan iman kita pada tingkatan yang baru.

Saul gagal menunggu saat berada di ruang tunggu.
1Sam 10:8
Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan.”

Setelah Saul diurapi dan dilantik sebagai raja Israel pertama, Samuel memerintahkan agar ia pergi ke Gilgal. Di sana Saul harus menunggu tujuh hari lamanya sampai Samuel datang untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan serta memberikan petunjuk kepadanya apa yang harus dilakukannya.

Tetapi apa yang terjadi? Mari kita lihat 1 Sam 13:6-14
Saul gagal saat berada di ruang tunggu. Ayat 8,9 berkata: Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia. Sebab itu Saul berkata: “Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.” Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.

Sangat disayangkan, sebab Saul gagal menunggu pada detik-detik terakhir penantiannya. Sebenarnya ia telah menunggu kedatangan Samuel selama tujuh hari, tetapi karena Samuel tidak segera datang ke Gilgal dan rakyat mulai terjepit, takut bahkan gemetar melihat hadirnya laskar yang besar, maka ia memberanikan diri untuk mempersembahkan korban bakaran. Ini tidak boleh dilakukan oleh Saul sebab itu tugas imam, sementara Saul bukan iman atau keturuan Lewi. Saul seharusnya menunggu kedatangan Samuel untuk melakukan korban bakaran bagi Tuhan. Akibatnya, Saul ditolak Tuhan dan memindahkan tongkat kerajaan Israel kepada orang lain.

Ayat 13, 14
Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

Pelajaran apakah yang dapat kita petik dari kisah ini?
1. Ketika janji TUHAN belum digenapi, bukan berarti kita harus berhenti menanti.
Samuel telah berjanji kepada Saul bahwa tujuh hari lagi ia akan menyusulnya ke Gilgal untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, serta memberitahukan kepadanya apa yang harus dilakukan sesuai dengan perintah Tuhan. Namun sayang, Saul berhenti menanti, sebelum janji itu digenapi. Saul memilih jalan sendiri, ketimbang mempercayai janji Tuhan yang murni dan teruji.

Jangan berhenti untuk menanti sebelum janji Tuhan digenapi. Tetaplah setia di ruang tunggu Tuhan sampai seluruh janjiNya menjadi kenyataan. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah mengulur-ulur waktu untuk menolong anak-anakNya.

 Luk 18:7,8
Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

2. Tetaplah percaya sebab Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikanNya.
Ayat 11,12
Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kauperbuat?” Jawab Saul: “Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran.”

Saul gagal mempercayai Tuhan. Ia berfikir bahwa Samuel tidak akan datang pada waktu yang telah ditentukan, sementara itu ia melihat rakyat berserak-serak meninggalkannya karena ketakutan terhadap musuh yang hendak menyerang mereka. Saul tidak percaya bahwa Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikanNya. Itulah sebabnya dengan lancang ia mempersembahkan korban bakaran.

Apapun keadaan yang engkau alami tetaplah percaya kepada Tuhan, sebab Dia berkuasa melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Ayub percaya penuh kepada Tuhan
Ayub ditengah-tengah penderitaannya tidak pernah meragukan Tuhan, ia tetap percaya walau keadaan yang dialami berbeda dengan yang diharapkannya.

Ia mengharapkan kemakmuran, tetapi yang dialami kebangkrutan, seluruh harta miliknya dalam waktu seketika. Ia mengharapkan kebahagiaan, tetapi yang dialami adalah kesedihan. Dalam waktu yang bersamaan 10 anak mati bersama-sama. Yang diharapkan kesehatan dan kebugaran tetapi yang dialami adalah sakit sekujur tubuhnya. Dalam kesemuanya itu apakah Ayub kehilangan percayanya kepada Tuhan? Tidak! Ayub tetap percaya bahwa Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikanNya. Dengan penuh iman ia berkata dalam Ayub 42:1,2 : Maka jawab Ayub kepada TUHAN: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

Percayalah bahwa Tuhan tak pernah gagal mengenapi rencanaNya, Tuhan tak pernah lalai kepada janjiNya. Semua yang direncakanNya pasti digenapi, semua yang dijanjikanNya pasti ditepatiNya.

Yosua 23:14
Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.

Iman Abraham
Rom 4:19-21
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Selama di ruang tunggu Abraham tidak pernah ragu, meski tubuhnya sudah sangat lemah tapi imannya tidak menjadi lemah. Walau kondisi fisiknya makin memburuk, tetapi imannya tidak terpuruk. Abraham tetap percaya kepada Tuhan yang berjanji melebihi segala yang telah dijanjikannya. Abraham percaya bahwa Tuhan berkuasa menepati segala yang dijanjikanNya.

Alkitab berkata: terhadap janji Allah, ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah imannya diperkuat dengan penuh keyakinan. Inilah iman yang sejati. Iman yang sejati mempercayai Allah bukan percaya kepada masalah, Iman sejati memandang kepada Tuhan, bukan kepada keadaan.

Saul imannya bukan kepada Tuhan yang berjanji, tetapi kepada keadaan yang terjadi. Ketika ia melihat pasukan musuh datang,  imannya hilang. Saat melihat musuh hendak menyerang, ia kehilangan harapan dan pegangan.

2Kor. 3:4,5
Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.

Inilah iman. Iman itu percaya kepada kesanggupan Tuhan, bukan kelemahan manusia. Iman itu mempercayai kuasa Tuhan bukan kemampuan dan kekuatan manusia. Rasul Paulus sadar ada banyak keterbatasan dalam dirinya, tetapi keyakinannya kepada Allah memberikan kesanggupan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar.

Penutup

  • Jangan berhenti untuk menanti, sebab TUHAN layak untuk dipercayai
  • Jangan berhenti untuk menanti sampai seluruh janjiNya digenapi
  • Saat kita menanti, iman kita diuji agar memiliki kualitas yang tinggi
  • Saat kita menanti dengan percaya, kuasa dan pertolongan Tuhan pasti nyata.

MENJELANG PEMISAHAN GEREJA- Pdt. J. S. Minandar- Ibadah Raya Minggu, 6 Juni 2021

1 Yohanes 2:18
“Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.”

PENDAHULUAN
Alkitab secara rinci menjelaskan peristiwa demi peristiwa yang harus terjadi sebelum Yesus datang kedua kali. Adapun gambar kronologisnya adalah sebagai berikut:

MUNCULNYA ANTIKRISTUS
Yohanes telah bernubuat: Sebelum Yesus datang kedua kali, bahwa “Seorang antikristus akan datang”. Siapa yang dimaksud seorang antikristus? Kata “seorang” berarti antikristus bukan setan, iblis, monster, makhluk gaib, dsb. Selain itu kata seorang antikristus memberi pengertian bahwa oknum atau tokoh antikristus itu hanya satu orang, yang banyak adalah pengikutnya.

“Akan datangberarti, oknum antikristus belum datang, atau belum menyatakan diri. Sebab tokoh antikristus baru menyatakan diri apabila ayat ini telah digenapi, yaitu: 2 Tesalonika 2:7-8, yang berkata “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau la datang kembali.” Ayat ini menjelaskan bahwa ada antikris belum datang karena “ada yang menahannya”. Yang dimaksud menahannya disini adalah gereja Tuhan. Apabila gereja Tuhan telah disempurnakan barulah antikris akan menyatakan dirinya.

“Sekarang telah bangkit banyak antikristus”. Maksud ayat ini adalah banyak orang-orang yang hatinya dikuasai oleh roh-roh antikristus. Khususnya di akhir zaman ini kita dapat melihat dari perilaku, sikap dan kegiatan mereka, teror, bom bunuh diri dan kegiatan lain yang mereka lakukan. Ayat ini ditulis Yohanes sekitar tahun 90-95 M, sekitar abad pertama. Pada saat itu saja sudah banyak orang yang dikuasai roh antikris, apalagi dengan zaman sekarang. Kita dapat melihatnya dalam kehidupan sehari-hari.

“Itulah tandanya, waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.” Firman Allah mengingatkan kita bahwa, kita telah berada di penghujung zaman. Bukan saatnya kita berkompromi dengan kejahatan, dosa, mengabaikan ibadah, dan mengabaikan kekudusan. Tetapi sebaliknya saatnya kita harus sungguh-sungguh bertobat, makin setia, rajin, taat, hidup kudus dan benar di hadapan Tuhan. Bekerja dan mencari nafkah adalah keharusan, tetapi fokus kita bukan lagi kepada dunia ini.

1 Yohanes 2:18-19 berkata, “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar- benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh- sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita; niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”

Di ayat 19 rasul Yohanes mengingatkan bahwa menjelang Yesus datang kedua kali, roh antikris membuat orang percaya beralih menjadi pengikut antikristus. Siapakah mereka?

Dari manakah mereka berasal? Apa sebab mereka menjadi pengikut antikris?

1 Yohanes 2:19 berkata, “Memang mereka berasal dari antara kita”. Artinya, ada orang-orang yang awalnya menjadi pengikut Yesus. Tetapi karena tidak sungguh-sungguh termasuk kita (tidak sungguh-sungguh dalam iman kepada Yesus), maka mereka beralih menjadi pengikut antikristus. Bahkan 1 Yohanes 2:19 menjelaskan bahwa tokoh antikristus awalnya bersama-sama kita, tetapi karena tidak sungguh-sungguh bersama-sama kita, akhirnya menjadi pelawan Yesus.

Perhatikan beberapa hal dibawah ini:

  • 12 maha malaikat di sorga satu jatuh karena kesombongan, yaitu Lucifer (Yesaya 14:12-16).
  • 12 anak Yakub, satu jatuh karena zina, yaitu Ruben (1 Tawarikh 5:1).
  • 12 murid Yesus, satu jatuh karena tamak akan uang, yaitu Yudas (Matius 26:14-16).
  • 12 rasul akhir zaman, karena tidak sungguh-sungguh, 1 jatuh karena sombong, zina dan tamak akan uang — antikristus (Wahyu 8:10,11).

TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH
Apa arti “tidak sungguh-sungguh” di ayat ini? Dalam Yohanes 15:1-8, hubungan Yesus dan kita (pengikut-Nya) digambarkan seperti pokok anggur dengan rantingnya. Pengikut Yesus yang sejati, digambarkan seperti ranting anggur yang melekat erat dan kuat pada pokoknya. Dalam Yohanes 15:4 kata tinggal (tinggallah) dalam bahasa Yunani: MENO, artinya tertanam secara tetap; terus menerus; berlanjut; permanen, tidak bisa digeser atau tercabut. Bagaimana kualitas pengiringan kita setelah kita percaya dan menjadi pengikut Yesus?

PENGIKUT YESUS YANG SEJATI
Seperti apakah pengikut Yesus yang tertanam; permanen; tidak goyah? Sebuah contoh dalam Alkitab menceritakan tentang jemaat di akhir zaman yang benar-benar siap menyambut kedatangan Yesus kedua kali (Kisah Rasul 2:41-47). Ada beberapa hal yang mereka lakukan sehingga mereka memiliki kualitas yang luar biasa, yaitu:

1. BERTOBAT DAN LAHIR BARU
Kisah Rasul 2:41 “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” Dikatakan mereka “menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis”. Dari kalimat ini, dapat disimpulkan bahwa, jemaat mula-mula adalah jemaat yang sungguh-sungguh melakukan semua Firman Allah.

  • Sungguh-sungguh beriman.
  • Sungguh-sungguh bertobat.
  • Membuktikan iman dan pengiringan mereka dengan cara hidup yang baru, atau kelahiran baru (2 Korintus 5:17).

2. MENCINTAI FIRMAN dan MELAKUKANNYA

Kisah Rasul 2:42 “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

Jemaat yang sungguh-sungguh tertanam dalam Yesus mencintai firman Allah dan melakukannya setiap hari dan tiap saat.

3. MEMILIKI WIBAWA KRISTUS
Kisah 2:43 “Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat.” Tanda pengikut Yesus yang sungguh-sungguh adalah memiliki wibawa Kristus di depan masyarakat, mereka juga dihormati masyarakat (Titus 2:15).

4. PERSATUAN ANTAR JEMAAT
Kisah Rasul 2:44 “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.” Sebab itu tidak ada perselisihan, pertikaian, perseteruan di antara jemaat. Mereka mengasihi, memperlengkapi, mencukupi kebutuhan jemaat sehingga tidak ada yang merasa kekurangan.

5. PRINSIP HIDUP MEREKA: LEBIH BERKAT MEMBERI DARIPADA MENERIMA
Kisah 2:45 “dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Jemaat yang MENO – sungguh-sungguh melekat kuat, permanen (tetap teguh) di dalam Yesus, mereka mempraktekkan firman Allah dengan cara: “Mengasihi Tuhan dan sesama” (1 Yohanes 4:20,21).

6. TEKUN BERIBADAH DAN BERSEKUTU
Kisah Rasul 2:46-47 “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Agar kasih itu bisa terus terjalin dan terekspresi, jemaat sungguh-sungguh menjaganya dengan cara tekun beribadah.

Tujuan utama persekutuan yang mereka adakan adalah:
a. Meningkatkan iman, harap dan kasih jemaat kepada Tuhan
b. Menjalin persekutuan yang lebih erat antar jemaat

PENUTUP
Pengikut Yesus yang tahu membangun persekutuan dengan Tuhan dan sesama, tidak mungkin terseret sehingga beralih menjadi pengikut Antikristus. Amin!

RUANG TUNGGU – 2 –oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 30 Mei 2021)

Pendahuluan
Tema firman Allah hari ini adalah “RUANG TUNGGU” bagian 2. Ketahuilah bahwa hidup manusia di dunia seperti berada di ruang tunggu. Setiap orang sedang menunggu sesuatu yang diharapkan. Setidak-tidaknya kita semua sedang menunggu hari kematian tiba. Pada bagian pertama kita sudah mempelajari sebuah alasan, mengapa Tuhan membawa anak-anakNya masuk ke dalam ruang tungguNya.

1. RUANG TUNGGU MELATIH KESABARAN
Ruang tunggu adalah tempat untuk melatih dan meningkatkan kesabaran. Orang-orang yang memiliki kesabaran, memiliki kemampuan untuk tetap tinggal di ruang tunggu sampai seluruh kehendak Allah digenapi. Mengapa harus sabar berada di ruang tunggu?
a. Tuhan bertindak sesuai waktu dan caraNya sendiri.
b. Tidak ada keberhasilan secara instan dan tidak ada sukses tanpa proses

Sekarang marilah kita belajar bagian kedua, mengapa Tuhan membawa kita berada di ruang tungguNya adalah:

2. Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi

Luk 24:49
Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”

Kepada murid-muridNya Tuhan Yesus berpesan agar tetap tinggal di kota Yerusalem sampai mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi. Murid-murid harus menunggu dengan setia sampai mereka dipenuhi kuasa Roh Kudus. Alkitab mencatat ada 120 murid yang dipenuhi Roh Kudus pada hari Pantekosta.

Mengapa murid-murid harus menunggu sampai diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi?

1). Keberhasilan tidak ditentukan oleh kemampuan manusiawi tetap oleh kuasa dari tempat maha tinggi
Kisah Rasul 4:13
Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.

Murid-murid adalah orang-orang biasa, tetapi melakukan hal-hal yang luar biasa. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang tidak terpelajar namun dapat melakukan perkara-perkara besar. Semuanya ini terjadi bukan karena pengetahuan yang mereka miliki, bukan pula oleh pengalaman yang telah mereka alami, tetapi semua terjadi oleh karena Roh Tuhan yang menyertai.

Sadarilah bahwa keberhasilan dalam pelayanan selalu berkaitan Roh Tuhan, tidak pernah terjadi oleh sistem, struktur organisasi, metode yang digunakan, ataupun program yang dijalankan. Dalam sebuah proses, sistem, metode program memang dapat meningkatkan kehidupan, tetapi kuncinya adalah Roh Kudus itu sendiri.  Sadarilah tanpa Roh Tuhan, sistem tidak ada gunanya, metode tak ada fungsinya dan rencana tak ada faedahnya, tetapi  apabila ada Roh Tuhan, maka metode, rencana, program dan sistem dapat saja menjadi sangat efektif. Jadi masalah terpenting bagi kita bukanlah semata-mata mengadakan penggantian sistem dan metode, tetapi  “mengupayakan” adanya Roh Tuhan yang diperlukan untuk terjadinya pertumbuhan.

Lihatlah gereja mula-mula, mereka tidak memiliki metode, sistim, program tetapi mereka memiliki orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus. Bedanya dengan gereja modern, mereka memiliki struktur yang baik, program yang bagus, metode yang tepat guna tetapi kehilangan kuasa dan urapan Roh Kudus. Akibatnya gereja menawarkan keindahan bangunan, kenyamanan dalam ibadah, dan tampilan/pertunjukkan yang menarik tetapi kehilangan kuasa di dalamnya. Mengapa semuanya ini terjadi? Karena gereja/orang-orang percaya telah meninggalkan ruang tunggu Tuhan. Kita lebih tertarik dengan sesuatu yang instant dari pada menunggu lama-lama di hadirat Tuhan. Inilah saatnya kita kembali menanti kuasa Ilahi sebelum melayani. Percayalah jika Roh Kudus mengurapi maka perkara-perkara besar pasti terjadi.

2). Tanpa api semua korban adalah kekejian bagi Tuhan.
Imamat 3:5
Anak-anak Harun harus membakarnya di atas mezbah, yakni di atas korban bakaran yang sedang dibakar di atas api, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.

Setiap korban yang diletakkan di atas mezbah harus dibakar dengan api agar baunya menyenangkan hati Tuhan. Dengan kata lain jika korban yang diletakkan di atas mezbah  itu tidak dibakar maka itu akan menjadi kekejian bagi Tuhan, sebab daging korban itu akan membusuk dan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Jangankan Tuhan, kita saja tidak suka untuk mencium bangkai, bukan?

Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita, tanpa api Roh Kudus semua persembahan adalah kekejian bagi Tuhan. Tanpa Roh Kudus apapun yang kita lakukan dan persembahkan kepada Tuhan akan berbau kedagingan di hadapanNya. Sebab itu setialah menanti di ruang tunggu Tuhan sampai kita diperlengkapi oleh kuasa dari tempat maha tinggi.

Dalam kitab 1 Raja-raja 18:20-36 kita dapat melihat kisah antara nabi Elia dan nabi-nabi Baal. Nabi Elia menantang nabi-nabi Baal untuk membuat mezbah korban namun tidak boleh meletakan api di atasnya. Mereka harus meminta api kepada Baal dan Elia meminta api kepada Allah Israel. Pada akhirnya, mezbah korban Elia dibakar oleh api dari Tuhan, tetapi hingga petang hari mezbah korban nabi-nabi Baal tidak ada api yang membakarnya.

Dari kisah ini kita dapat menarik pelajaran perbedaan antara korban nabi-nabi Baal dan korban nabi Elia

Korban Nabi Baal
– Tidak dibakar dengan api
– Pertunjukan
– Kedagingan
– Mencari pujian, imbalan, bayaran
– Memberi sekedarnya

Korban nabi Elia
– Dibakar dengan api
– Persembahan
– Korban
– Memberi dengan pengorbanan
– Memberi sepenuhnya

Rom 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Rasul Paulus menasehati jemaat Roma agar mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup dan sejati. Persembahan yang sejati harus dibakar oleh api, agar kedagingan mati. Sadarilah selama masih ada kedagingan semua persembahan tidak diterima Tuhan. Jadi letakanlah dirimu di atas mezbah, dan relakan api Tuhan membakarmu agar menjadi persembahan yang berbau harum bagi Tuhan.

Tetaplah tinggal di ruang tunggu, Tuhan memberkati. KJP!!

RESTORATION (PEMULIHAN) – oleh Pdp. Patrick Lazarus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 30 Mei 2021)

MAZMUR 126:1-6

Mazmur 126:1-2 (TB)  Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”

Tema yang saya angkat pagi ini adalah pemulihan,saya menyakini bahwa semua kita membutuhkan pemulihan, mengapa? karena hidup tidak terlepas dari masalah, mulai dari masalah kesehatan sampai keuangan, masalah rumah tangga sampai usaha dan pekerjaan, entah masalah dengan perasaan atau kebiasaan/habit. Tentu saja yang tidak boleh kita lupakan adalah masalah terbesar manusia yaitu dosa dan untuk ini semua kita membutuhkan pemulihan! Dari ayat-ayat yang sudah kita baca berbicara tentang Pemulihan Sion!

Dalam Alkitab setidaknya kata Sion merujuk kepada 3 hal: 1. Tempat/Wilayah (Yerusalem-Israel secara keseluruhan), 2. Surga (Ibrani 12:2, Wahyu 14:1), 3. Orang (Contohnya Istilah Puteri Sion).

Mazmur 126 secara khusus merujuk kepada peristiwa kembalinya orang Yehuda yang dari pembuangan di Babel. Pemulihan dari bahasa aslinya “Shub” artinya membawa kembali dan secara konteks dapat diartikan kebebasan/kemerdekaan dan keselamatan.

Ada beberapa hal terkait pemulihan yang dapat kita pelajari pagi hari ini :
1. Pemulihan bukanlah hasil usaha manusia tetapi anugerah TUHAN.
“Nyanyian ziarah. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.” Mazmur 126:1

Apa dialami oleh Israel bukanlah hasil dari usaha atau kemampuan mereka. Sebagai tawanan kondisi mereka tidak ada harapan, tidak ada kekuatan untuk melawan, tidak ada teman/negara sahabat yang dapat diharapkan, mungkin saja mereka sudah pesimis, tapi disaat-saat seperti itulah mereka melihat pertolongan TUHAN. Bukankah hal seperti ini seringkali kita alami? Ingatlah tidak ada yang berubah jika TUHAN tidak beranugerah.

Sejak awal pemulihan datang dari Allah
Alkitab mengajarkan kita bahwa tidak ada pemulihan tanpa campur tangan TUHAN. Kita bahkan dapat melihat tindakan Allah ketika membuat pakaian bagi Adam dan Hawa yang telanjang ketika mereka jatuh dalam dosa sebagai bentuk pemulihan. Pemulihan itu datang dari Allah bukan dari kebenaran diri sendiri (Pakaian dari daun Ara berbicara lambang kebenaran diri sendiri).

Ini bukan berarti kita tidak berusaha, namun kita harus menyadari bahwa diatas semua upaya yang kita lakukan untuk mengalami pemulihan tangan TUHAN-lah yang bekerja!

Pelajaran yang kita ambil adalah bersyukur dan  jangan hilang harapan, nantikanlah TUHAN sebab bukan karena kehebatan atau kecakapan kita tapi tangan TUHAN-lah yang mendatangkan pemulihan.

 Lambang penebusan
Seorang penafsir bernama Mathew Henry mengatakan bahwa peristiwa kembalinya Israel dari penawanan itu merupakan pelambang dari penebusan kita oleh Kristus. Sebab keselamatan yang dikerjakan Yesus, bukan hasil usaha kita tapi pemberian Allah ( Efs 2:8). C.H Spurgeon pernah berkata  “Kekudusan bukanlah jalan menuju Kristus, tetapi Kristus adalah jalan menuju kekudusan.”

2. Pemulihan terjadi menurut cara dan waktu TUHAN
“Nyanyian ziarah. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.” Mazmur 126:1

Untuk alami pemulihan ada waktu yang panjang dan penuh penderitaan yang harus dilalui oleh orang Israel, 70 tahun bukan waktu yang singkat! Tetapi pada akhirnya cara TUHAN bekerja membuat Israel terkesima, mereka merasa seperti sedang bermimpi.

Adalah hal yang wajar jika seseorang ingin secepat mungkin keluar dari situasi yang membuatnya menderita, tetapi mari kita belajar bahwa terkadang waktu kita bukanlah waktu Tuhan, Cara Tuhan bukan cara kita.

Tuhan bekerja sesuai caranya, yang jadi permasalahan ada banyak orang ingin pemulihan terjadi sesuai kemauannya sendiri, sesuai deadline yang  tetapkan, sesuai metode yang diinginkan sehingga yang terlihat lebih seperti mengancam Tuhan daripada beriman! Tidak mengherankan orang-orang seperti ini mengalami kekecewaan ketika situasi tidak berjalan sesuai skenario yang diinginkan. Kisah Naaman adalah salah satu contoh bagaimana cara kerja Tuhan berbeda dengan apa yang dipikirkan manusia.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya ada orang ingin mengalami pemulihan rumah tangga tapi tidak mau merendahkan hati untuk mengampuni, ingin mengalami pemulihan ekonomi tapi tidak mau kerja keras, ingin sehat tapi makan tidak dijaga!!

Banyak orang berpikir karena Tuhan maha kuasa maka pemulihan pasti terjadi secara mudah dan cepat! Pada kenyataanya cara TUHAN menolong tidak selalu cepat tetapi pasti selalu tepat.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya..” Pkh 3:11a

Bandingkan dengan Pengalaman Petrus
“Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan.” Kisah Para Rasul 12:9

“Petrus segera meninggalkan sel dan mengikuti malaikat itu, meskipun menurutnya itu hanya mimpi atau penglihatan, karena tampaknya tidak nyata — dia tidak percaya itu benar-benar terjadi!” – TPT

Ada kalanya sebelum kita memikirkannya, Allah sudah bertindak. Bagi saya ini membuktikan bahwa Allah memikirkan kita lebih dari yang kita pikirkan, Dia peduli lebih dari yang kita ketahui dan Dia mengasihi kita lebih dari yang kita rasakan.

Ini mengajarkan kita untuk terus beriman dan bergantung penuh kepada TUHAN, dan tetap mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh.

Jika kita kaitkan ini dengan keselamatan maka Pengorbanan Yesus adalah cara ajaib TUHAN menyelamatkan dunia (Yesaya 53:5; Yoh 1:1,14; 1 Petrus 2:24).

3. Tujuan pemulihan bukan kepuasan manusia tapi kemuliaan TUHAN
“Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: ” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” Mazmur 126:2

Mengalami sukacita karena pemulihan entah mujizat kesembuhan, pemulihan rumah tangga, dll adalah sesuatu yang wajar tetapi hal utama adalah bagaimana peristiwa-peristiwa itu menjadi batu pijakan untuk mempermuliakan Tuhan.

Banyak orang alami mujizat namun kehidupannya tidak menjadi kesaksian karena itu terkadang TUHAN lebih tertarik memulihkan pribadi dibanding situasi. Dimata TUHAN situasi yang dipulihkan tidak akan berarti apa-apa tanpa pribadi yang dipulihkan, sebab lewat pribadi yang telah dipulihkanlah nama TUHAN akan dimuliakan!

Inilah tujuan hidup orang-orang yang telah ditebus! Setelah diselamatkan hidup kita harus jadi kesaksian.

 Kesimpulannya :
Pemulihan itu datang dari TUHAN, menurut cara dan waktu TUHAN dengan tujuan kemuliaan nama TUHAN.

Roma 11:36 (TB)  Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

DENGAN JALAN DEMIKIAN – oleh Pdp. Corneles Wim Kandau (Ibadah Raya 2 – Minggu, 30 Mei 2021)

KISAH 3:11-18

PENDAHULUAN
Petrus sedang menjelaskan kepada orang-orang Israel, tentang Yesus sang Mesias yang memang diharuskan untuk mati, menebus dosa seisi dunia sebagaimana menggenapi gambaran-gambaran yang ada didalam taurat dan kitab para nabi.

Walau itu kelihatannya direncanakan dengan sadis dan tanpa hati nurani oleh mereka yang menentangnya dan oleh mereka yang tidak mengetahui rancangan Allah yang sesungguhnya, namun Allah Bapa berkuasa atas segala sesuatu, malahan sebenarnya  DENGAN JALAN DEMIKIAN, Yesus menggenapi kehendak Bapa, Ia memuliakan Bapa dan itu memberikan keselamatan bagi kita yang percaya kepada-Nya.

PENGALAMAN YESUS HARUSNYA JUGA MENJADI PENGALAMAN KITA
1 Yoh  2:6  Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Artinya setiap orang wajib mengalami ‘pengalaman jalan demikian” seperti Yesus dan yang diharapkan adalah respon yang sama seperti respon Yesus saat dihadapkan dengan jalan yang demikian.

Pengalaman “jalan demikian” mau tidak mau harus dan akan dialami oleh setiap pengikut Yesus, tak peduli apapun status kita. Tak peduli seberapa rohaninya seseorang, tak peduli sudah seberapa lamanya seseorang menjadi percaya kepada Yesus.

Masalahnya dalam perjalanan yang demikian di hidup kita, banyak dari kita sering salah paham terhadap kehendak Tuhan bagi kita berdasarkan hal-hal yang terjadi disekitar kita. Kita sering berprasangka buruk terhadap Tuhan hanya karena jalan-jalan hidup kita, kenyataan kita tak sesuai ekspektasi, fakta kita yang sesuai rencana, realita kita tak sesuai dengan yang didoakan.

Bahkan terkadang kita mulai mempersalahkan Tuhan, seakan –akan Tuhan menjadi pelaku kejahatan atas segala proses menyakitkan dan jalan terjal yang kita jalani (yang kadang-kadang karna ulah kita sendiri.)

Tak ada yang tak baik yang terjadi dihidup kita, semuanya baik jika kita menilainya dari cara pikir Allah atau memandangnya dari sudut pandang Allah, jika memandang apa yang terjadi dihidup kita sebagai grand design Allah terhadap kita. Segala hal dijalan hidup kita yang kita katakan “tidak baik” sesungguhnya hanya lahir dari ketidaktahuan terhadap rencana besar Allah bagi hidup kita.

MEMANDANG KESEMPURNAAN JALAN TUHAN = MEMANDANG SEGALA KEBAIKAN TUHAN DIJALAN-JALAN SULIT YANG KITA HADAPI

Maz 18:30 (18-31) Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

Respon-respon yang salah terhadap berbagai jalan Tuhan dihidup kita bergantung cara kita menilai jalan Tuhan tersebut. Ketika kita mampu melihat bahwa jalan Tuhan adalah jalan yang sempurna (tanpa cacat, cela ataupun maksud jahat, tanpa celaka dan jebakan) maka kita akan mampu melihat berbagai kebaikan-Nya walaupun ditengah jalan-jalan kehidupan yang terjal yang kita alami.

Beberapa hal yang akan kita pelajari untuk memahami jalan-jalan yang Tuhan ijinkan kita lewati.
1. DENGAN JALAN DEMIKIAN – MENGGENAPI FIRMAN TUHAN
Kisah 3:18  Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.

Yesus melakukan bagian-Nya untuk menggenapi apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa bagi-Nya. Jalan yang dilalui Yesus adalah jalan yang tak pernah terpikirkan oleh orang-orang disekitarNya. Bagaimana bisa anak Allah yang harusnya datang dengan segala kekuasaan malah terkesan tanpa kuasa, tanpa daya menghadapi jalan-jalan yang diperhadapkan bagiNya.

Sisi manusiawi Yesus pun pernah meminta kepada Bapa, untuk melalukan cawan penderitaan yang harus Ia derita. Yesus meminta sekiranya boleh jalan ke Salib itu tidak dilakukan. Tetapi Yesus tahu, bahwa hanya dengan jalan demikian, rencana – kehendak Allah Bapa digenapi. Yesus yakin bahwa tidak ada yang lebih indah selain hidup menggenapi firman Tuhan.

Bahkan hidup untuk menggenapi – melakukan kehendak Bapa disamakan Yesus sebagai makanan yang dibutuhkan sehari-hari. Itu menjadi kebutuhan satu-satunya bagi Yesus. (Yohanes 3:34)

DEMIKIAN DENGAN KITA
Hanya ALLAH yang berkuasa untuk menggenapi FirmanNya, Allah berkuasa untuk mengijikan kita untuk turut ambil bagian didalam penggenapan firmanNya. Jikalau hari ini, kita sedang menjalani jalan yang sama seperti Yesus, maka bersyukurlah sekalipun itu sulit dan sukar tetapi saudara sedang ambil bagian untuk menggenapi kehendak Allah.

Banyak hal dapat terjadi, atau berubah dengan cepat didalam kehidupan kita. Banyak hal yang dapat berubah diluar kekuasaan dan daya kita bahkan bisa saja disebabkan oleh kesalahan kita sendiri, kesalahan orang lain atau hal itu memanglah jalan yang Tuhan ingin kita lalui. Kehidupan keluarga kita, pekerjaan kita, usaha kita, aktivitas-rutinitas kita, level kenyamanan kita semua dapat berubah sekejap mata, tanpa diduga atau diprediksi sebelumnya. Kita mungkin mulai menggerutu-mengeluh kepada Tuhan atas situasi-situasi tertentu dihidup kita.

Tapi pernahkah kita berpikir bahwa semua hal yang berubah diluar kendali kita, yang membuat kita terancam, justru adalah sebuah jalan – kesempatan – peluang bagi kita untuk hidup menggenapi Firman Tuhan didalam kehidupan kita.

Apa yang manusia  pikir adalah suatu kecelakaan, keburukan, kutukan,ketragisan, kerugian atau apapun yang kita sebut “tidak baik”, Tuhan Allah sanggup mengubahnya, membuatnya menjadi jalan bagi kebaikan kita (Roma 8:28), menjadi jalan bagi kita untuk hidup menggenapi firmanNya.

Kalau kita benar-benar hidup untuk menggenapi Firman Tuhan, kita tidak akan mudah atau cepat untuk mengeluh atas berbagai kondisi kehidupan kita. Karena kita tahu itu adalah jalan bagi kita untuk mengenapi Firman-Nya.

2. DENGAN JALAN DEMIKIAN – MENDERITA
Kisah 3:18  Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.

JALAN-JALAN YANG YESUS LALUI ADALAH JALAN PENDERITAAN
Jalan-jalan yang sulit dan terhimpit. Penuh kesukaran, hambatan, tantangan, kegelisahan, penuh kekejaman dan kecaman, deraan, aniaya, hal yang buruk dan memiluhkan, ketidakadilan, pengkhianatan, kesakitan, kepedihan.

Tetapi “dengan jalan demikian” Yesus memberikan apa yang berguna bagi kita untuk masa kini terlebih untuk masa yang akan datang. Hal-hal yang bermanfaat dibumi hinga sorga nanti. Memberikan kepastian selamat dan tempat bag kita di sorga yang mulia.

“Dengan jalan demikian”, Yesus naik ke sorga dan mengaruniakan Roh Kudus bagi kita, yang menyertai dan menolong kita didalam lembah kelam dan masa sukar bahkan dalam segala perubahan situasi.

Jika jalan-jalan yang diperhadapkan dihidup kita justru membawa penderitaan bagi kita (2 Tim 3:12), walaupun kita berada diposisi yang benar, maka jangan cepat-cepat atau gegabah mengambil keputusan dan mempersalahkan Tuhan. Bisa jadi Tuhan pakai penderitaan sebagai jalan untuk membawa kita kepada kehendakNya.

APA KATA ALKITAB TENTANG PENDERITAAN DIDALAM YESUS
1Pe 2:19-21

  1. Menderita seperti Yesus adalah panggilan hidup orang percaya
  2. Menderita seperti Yesus adalah menderita karena berbuat baik
  3. Menderita karena Yesus adalah anugerah –kasih karunia
  4. Yesus meninggalkan teladan untuk bersikap dengan benar walau dalam penderitaan

Jika kita orang Kristen tidak mau menderita karna iman kita maka sesungguhnya kita bukanlah orang Kristen, kita tidak sedang mengasihi Tuhan, kita hanya berpura-pura menjadi Kristen, ingin terima berkat-Nya saja, baiknya saja, tetapi menolak untuk menderita seperti Yesus. Jika demikian, kita tidak lebih dari penjilat, orang munafik, kita bukanlah pengikut Yesus sejati, kita hanya pengagum Yesus saja. Kekristenan kita hanyalah disi oleh hawa nafsu, ketamakan, dan keegoisan.

Kekristenan bukan hanya tentang bagaimana cara mendapat berkat, hidup nyaman berkelimpahan, tanpa gangguan dsb. Menderita sebagai orang Kristen bukanlah hal menyedihkan. Yang menyedihkan adalah ngaku-ngaku Kristen tetapi selalu menolak- bahkan mengknianati Tuhan karena tidak mau menderita seperti Yesus menderita.

Penderitaan dipakai Tuhan sebagai jalan agar kehendak-Nya dinyatakan dibumi, kehendak-Nya dinyatakan dan tergenapi didalam dan melalui kita. Kalau kita orang Kristen sedang menderita karena iman kita, karena melakukan yang benar, tak kompromi terhadap yang berdosa, maka kita adalah orang yang paling berbahagia dimuka bumi ini.

3. DENGAN JALAN DEMIKIAN – MENUMBUHKAN KEPERCAYAAN
Kisah 3:15  Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.

Kisah 3:16a  Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini;

Petrus menjelaskan bahwa apa yang dialami Yesus justru menumbuhkan dan membangkitkan kepercayaan dihati orang-orang yang mengenal dan mendengar tentang Yesus. Mereka para Rasul adalah saksi-saksi Yesus, mereka percaya dan yakin akan keberadaan dan kuasa Yesus, tak bimbang, tak goyah, tak bergeser dari Yesus.

Teladan, pengalaman dan respon-respon Yesus terhadap “jalan-jalan demikian” atas dirinya, menghasilkan- menumbuhkan kepercayaan di hati orang-orang yang melihat dan mengenal-Nya. Berjalan dijalan Tuhan, rasa sulit awalnya, tetapi semakin kita berjalan, mengikuti jejak dan teladan Yesus maka akan tumbuh kepercayaan. Percayalah jalan-jalan penderitaan yang kita alami akan menumbuhkan, tambah menguatkan kepercayaan kita kepada Yesus.

JALAN HIDUP PETRUS – BIOGRAFI PETRUS
–      Murid yang paling tua
–      Paling vokal, dan sering salah dalam bicara
–      Menyangkal Yesus, melarikan diri, merasa gagal
–      Dipulihkan, diberi tugas oleh Yesus
–      Dipenuhkan Roh Kudus
–      Khotbah pertama 3000 jiwa bertobat
–      Menjadi salah satu Bapa Gereja

Petrus tak berhasil awalnya untuk mengikuti teladan Yesus, pernah meragukan Yesus, tetapi seiring waktu berjalan kepercayaan dan keyakinan kepada Yesus makin, menjadi kuat, menjadi dampak seluruh dunia, hingga hari ini.

Pengalaman dan respon kita terhadap berbagai “jalan demikian” dihidup kita juga akan membuat orang lain percaya apa yang kita percayai. Keberhasilan kita menekuni-melewati jalan-jalan penderitaan, kesusahan, dan kesukaran, akan menarik orang lain untuk mulai mempercayai dan menerima Yesus dalam hidup mereka.

4. DENGAN JALAN DEMIKIAN – MELAHIRKAN KEKUATAN DAN KESEMBUHAN
Kisah 3:16  Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua.

Sikap Yesus yang menerima jalan kehidupan yang telah digariskan bagi-Nya membangkitkan kekuatan dan memberi kesembuhan bagi orang yang mempercayaiNya. Kelemahan dan kesakitan Yesus diatas kayu Salib memberikan kepada kita kekuatan dan kesembuhan. Kelemahan dan kesakitan kita diambil-Nya, dengan  jalan demikian, kita bisa menikmati kekuatan dan kesembuhan secara jasmani terlebih yang rohani.

BAGAIMANA DENGAN KITA
Kita pun adalah manusia yang lemah, yang masih rentan dengan berbagai kesakitan. Banyak orang berpikir, untuk apa mengikut Tuhan dengan sungguh jikalau kita sama lemahnya dan sama bisa sakitnya dan menderita berbagai hal lainnya ?

Memang benar, mengikut Tuhan tidak menjamin kita menjadi manusia super, yang tak pernah sakit atau mengalami kelemahan jasmani, jiwani maupun rohani, atau kita kebal terhadap virus Covid-19.

Memang benar kita bisa lemah dan menjadi sakit, tetapi siapa yang pernah tahu DENGAN JALAN DEMIKIAN kita punya kesaksian kita sendiri terhadap kenyataan Tuhan didalam kelemahan yang kita hadapi.

Siapa yang pernah tahu bahwa sakit dan kelemahan jasmani justru menjadi pintu kesadaran kita untuk menerima kekuatan dan kesembuhan secara rohani ? (Banyak orang sakit parah, baru sadar ada Tuhan, ceritakan Kesaksian)

2 Kor 12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Kesakitan secara jasmani justru membuat kita mulai mengintrospeksi diri secara rohani, apa yang salah, apa yang kurang pas dari hidup kita hingga kemudian Tuhan tegur kita dengan penyakit (walau tak semua sakit dari Tuhan)

Didalam kondisi demikian tujuan hidup kita, semangat kita, Kesadaran, gairah, dan kebutuhan kita akan hubungan dengan Tuhan kembali disegarkan dan dipulihkan. Bahkan pengalaman kelemahan dan kesakitan kita, justru menjadi jalan agar kita menjadi berkat bagi mereka yang sedang ada dalam situasi yang sama.

Memang benar kita bisa lemah dan menjadi sakit, tetapi siapa yang pernah tahu DENGAN JALAN DEMIKIAN kita punya kesaksian kita sendiri terhadap kenyataan Tuhan didalam kelemahan yang kita hadapi. Siapa yang pernah tahu bahwa sakit dan kelemahan jasmani justru menjadi pintu kesadaran kita untuk menerima kekuatan dan kesembuhan secara rohani ? Apapun jalan-jalan yang sedang kita hadapi dan lewati, percayalah ada tangan Tuhan yang menopang.