TANGGUH DALAM KEHIDUPAN, KUAT DALAM TUHAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 19 Juli 2020)

1 Samuel 30:1-8

Pendahuluan
Dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan kesukaran dibutuhkan ketangguhan. Tanpa ketangguhan, maka semua pengalaman, pengetahuan, talenta dan keahlian hanya membuat kita memulai dengan baik, namun tidak menyelesaikannya.  Sadarilah kemenangan tidak didapat diawal perlombaan tetapi diakhir perjuangan. Banyak orang memulai dengan baik, tapi gugur di tengah jalan karena tidak memiliki ketangguhan.  Melalui kebenaran firman Tuhan hari ini marilah kita belajar bertumbuh menjadi pribadi yang “Tangguh dalam kehidupan dan kuat didalam Tuhan.”

Di dalam Alkitab kita bisa mendapati tokoh-tokoh yang menunjukkan ketangguhan iman. Salah satunya adalah Daud. Daud adalah seorang yang memiliki jiwa yang tangguh dalam menghadapi kehidupan, namun juga memiliki iman yang kokoh dan kuat dalam Tuhan. Mari kita buka 1Samuel 30:1-8.

Daud baru saja pulang dari negeri Filistin setelah dua tahun terakhir ia membantu raja Akhis dalam pertempuran melawan musuh-musuhnya. Setiap Daud maju berperang, Tuhan selalu memberikan kemenangan. Namun setelah para prajurit Filistin menolak kehadiran Daud dan orang-orangnya, Daud dan rakyat yang menyertainya pulang kembali ke kotanya yaitu Ziklag.

Ketika Daud serta orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag. Ziklag telah dikalahkan dan dibakar habis oleh orang Amalek. Perempuan-perempuan dan semua orang yang ada di sana, tua dan muda, telah ditawan mereka, termasuk kedua isteri Daud yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail. Melihat keadaan yang demikian maka menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, bahkan mereka tidak kuat lagi menangis.

Inilah fakta kehidupan! Kehidupan tidak selalu dihiasi dengan tawa ceria, tetapi juga dengan duka dan air mata. Ketahuilah, langit tidak selamanya akan cerah, kadang-kadang mendung dan hujan yang lebat tercurah. Hidup ini tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan dan doakan. Kadang-kadang justru yang terjadi kebalikannya.

Daud dan orang-orangnya baru saja memenangkan pertempuran bersama raja Akhis. Selayaknya kedatangan mereka disambut dengan tepuk tangan dan sanjungan sebagai pahlawan. Namun apa yang terjadi, bukan tepuk tangan apalagi sambutan dengan parade kemenangan, yang terjadi justru tangisan. Kota mereka dibakar, istri dan anak-anak mereka ditawan musuh.

Siapa yang pernah menduga jika tahun 2020 akan muncul virus? Tak satupun ahli atau pakar memprediksi sebelumnya jika tahun 2020 akan ada pandemi. Semua orang percaya th. 2020 akan berjalan normal-normal saja. Tidak ada tanda-tanda bahaya sebelumnya, tetapi tiba-tiba terjadi bencana. Virus covid 19 menyerang manusia di seluruh dunia. Akibatnya bukan saja kematian yang dialami manusia, tetapi juga seluruh sektor kehidupan manusia terkena dampaknya. Disinilah pentingnya ketangguhan. Dalam keadaan aman dan senang tidak dibutuhkan ketangguhan, tetapi saat keadaan berubah menjadi susah, diperlukan ketangguhan dan kekuatan iman untuk tetap bertahan. Hanya orang-orang tangguh yang tak akan rubuh meski keadaan yang disekitarnya seolah runtuh.

Melalui kisah Daud ini, marilah kita mempelajari cara bertumbuh menjadi orang tangguh.

  1. Orang tangguh tidak suka mengeluh
    1Samuel 30:6 
    Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu.

Marilah kita perhatikan respon Daud dan respon rakyat yang mengikutinya. Daud sadar kondisi yang dialaminya adalah sukar, kotanya dibakar, seluruh rumah dan harta benda lenyap, istri dan anak-anaknya ditawan. Namun Daud tidak mengeluh dengan keadaannya yang terjadi. Orang yang tangguh tidak suka mengeluh. Sebaliknya bagaimana respon rakyat yang mengikutinya? Ayat enam berkata: rakyat yang mengikutinya mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Orang-orang yang mengikuti Daud mengeluh, mereka protes kepada Daud hingga hendak melempari Daud dengan batu.

Hidup ini memang banyak kesulitan tetapi jangan mengeluh sebab mengeluh justru semakin mempersulit hidupmu. Persoalan bukan untuk dikeluhan, persoalan harus diselesaikan. Ingatlah keluhan tidak akan mengurangi beban yang kita hadapi apalagi menyelesaikan. Mengeluh hanya membuat beban yang dipikul terasa berat. Mengeluh hanya membuat perjalanan hidup terasa makin sulit. Itulah sebabnya jangan penuhi hidup ini dengan mengeluh, penuhi hidup ini dengan bersyukur.

Ketahuilah orang yang suka mengeluh hanya menyalahkan keadaan dan orang lain. Lihatlah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang menyertai Daud. Mereka menyalahkan Daud dan kecewa dengan keadaan yang terjadi.

Ada orang yang berkata: bagaimana tidak mengeluh jika keadaanya sulit, kekurangan dan banyak persoalan. Coba saja keadaannya baik, diberkati dan berkecukupan, pasti orang tidak mengeluh. Sadarilah bahwa mengeluh adalah sikap hati bukan kondisi yang terjadi. Orang yang hatinya baik, maka apapun keadaannya ia akan selalu baik. Sebaliknya orang yang hatinya buruk, apapun keadaannya akan selalu mengeluh. Lihatlah apa yang dialami bangsa Israel selama perjalanan di padang gurun. Apa yang kurang bagi mereka? Makan disediakan, minum tersedia, siang hari ditudungi dengan tiang awan, malam hari disinari dengan tiang api. Ingin daging Tuhan kirim burung puyuh. Semua tercukupi. Apakah dengan semua fasilitas yang diberikan kepada bangsa Israel membuat mereka tidak mengeluh? Tidak! Dalam pemeliharaan dan kecukupan bangsa Israel tetap saja mengeluh. Ini bukti bahwa mengeluh itu bukan kondisi tetapi sikap hati. Banyak orang tidak dapat menikmati hidup ini karena selalu mengeluhkan keadaan, sehingga lupa mensyukuri apa yang Tuhan berikan. Jadilah orang yang tangguh, yang bisa bersyukur dalam segala keadaan dan situasi yang dialami.

2. Orang tangguh imannya teguh
Ayat 6
Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.

Dalam keadaan yang terjepit, Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan Allahnya. Daud bisa saja kecewa kepada Tuhan, sebab selama ini ia hidup dalam kebenaran. Tetapi apa yang dialami? Bukan berkat, bukan pertolongan atau hal-hal yang menyenangkan, sebaliknya kotanya dibakar, istri dan anak-anak ditawan musuh dan orang-orang selama ini menyertainya berbalik hendak melemparinya dengan batu. Dalam keadaan yang demikian Daud tetap mempercayai Tuhan Allahnya bahkan menguatkan kepercayaannya.

Bagaimana dengan kita? Mampukah kita mempercayai Tuhan saat kehilangan? Apakah kita tetap percaya kepadaNya saat duka mendera? Apakah kita tetap beriman saat keadaan suram? Dalam masa yang sukar Daud memilih untuk menguatkan kepercayaanya kepada Tuhan Allahnya. Ketahuilah bahwa iman itu bukan pemberian, iman adalah keputusan untuk mempercayai Tuhan atau keadaan.

Ibrani 11:6 
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Sekali lagi, ketika orang-orangnya kecewa karena keadaaan yang terjadi, Daud memilih untuk tetap mempercayai Tuhan Allahnya. Daud tidak tahu dimana keberadaan anak dan istrinya, tetapi ia percaya bahwa Tuhan mengetahui keberadaan mereka. Daud tidak mampu untuk menolong mereka, tetapi ia percaya bahwa Tuhan sanggup menolong mereka. Itulah sebabnya ia menguatkan kepercayaannya bahwa Tuhan berkuasa untuk menolongnya.

Contoh lain adalah Abraham. (Roma 8:18-21)Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham tetap berharap dan percaya juga bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Ayub
Ayub 23:10  Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

3. Orang yang tangguh bertanya kepada Allah sebelum melangkah
1Sam 30:8  Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” Dan Ia berfirman kepadanya: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”

Inilah kunci kemenangan Daud. Di setiap pertempuran Daud selalu alami kemenangan sebab ia selalu bertanya kepada Allah sebelum ia melangkah. Daud tidak akan menemui musuhnya, sebelum bertemu dengan Allahnya. Sebelum berjumpa dengan musuhnya, terlebih dahulu berjumpa dengan Allahnya. Daud sadar bahwa kemenangan dalam pertempuran bukan ditentukan oleh banyaknya pasukan, tetapi oleh kuasa Tuhan. Oleh sebab itu, ia selalu memulai peperangan dengan bertanya kepada Tuhan.

2 Samuel 5:22,23
Ketika orang Filistin maju sekali lagi dan memencar di lembah Refaim, maka bertanyalah Daud kepada TUHAN, dan Ia menjawab: “Janganlah maju, tetapi buatlah gerakan lingkaran sampai ke belakang mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan pohon-pohon kertau.

Daud tak pernah gegabah, ia selalu bertanya kepada Allah sebelum melangkah. Orang-orang yang tangguh tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, orang-orang yang tangguh mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan. Sadarilah kekuatan orang-orang yang tangguh bukan saat ia berdiri teguh, tetapi saat ia bersimpuh di bawah kaki Tuhan.

Mazmur  37:5 
Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

4. Orang tangguh berani mengejar musuh
1Sam. 30:8 
Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” Dan Ia berfirman kepadanya: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”

Hidup ini tak akan sepi dari persoalan dan tantangan. Akan selalu ada kesulitan disepanjang perjalanan. Tetapi orang-orang yang tangguh berani mengejar musuh. Ingatlah, bahwa kemenangan tidak datang hanya dengan diam, kemenangan datang ketika kita berjuang ke medan pertempuran. Jangan takut dengan apa yang kita hadapi, majulah dengan berani karena Tuhan menyertai.

2Timotius 1:7  Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Percayalah Tuhan tidak pernah memberikan ketakutan kepada anak-anakNya. Tuhan memberikan roh keberanian kepada kita. Sebab itu songsonglah masa depan depan percaya. Jalanilah hidup ini tanpa mengeluhkan keadaan. Berdirilah teguh dalam iman walau jalan bertaburan rintangan, percayalah semua musuh kita pasti taklukan bersama Tuhan. “Jadilah Tangguh dalam kehidupan dan kuat didalam Tuhan”. Tuhan memberkati. KJP!

Hidup Dalam Pimpinan Roh Allah – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya – Minggu, 11 Juli 2020)

Roma 8:14
“Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah.”

Menghadapi kedatangan Yesus yang kedua kali, penting bagi kita untuk hidup dipimpin oleh Roh Allah, karena hari-hari terakhir merupakan hari-hari yang sukar. Ayat ini menjawab pertanyaan banyak orang tentang mengapa orang yang telah lama menjadi kristen bisa mundur, jatuh dan terhilang tetapi yang baru malah lebih kuat dan lebih dewasa rohani. Menjadi pengikut Kristus yang sejati bukan bergantung dari lamanya menjadi orang Kristen.  Masalahnya adalah siapa yang mengendalikan hidupnya: apakah ia dipimpin oleh Roh Allah atau dipimpin oleh kedagingannya.

Banyak orang yang merasa mengetahui Roh Kudus, sudah dipenuhi Roh Kudus dan memiliki Roh Kudus. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Roh Kudus juga merasa memiliki kita? Roh Kudus memiliki kemauan untuk memimpin hidup kita kepada hidup dan damai sejahtera. Kata dipimpin pada ayat di atas menunjukkan bahwa harus ada kerja sama antara roh kita untuk dipimpin oleh Roh Allah. Mengapa? Karena roh kedagingan kita juga memiliki pemikiran dan keinginannya sendiri.

Tujuan Allah dalam hidup kita bukan semata-mata agar kita diberkati, masalah kita selesai, dan sebagainya. Tetapi tujuan Allah yang utama untuk membentuk kita adalah agar kita menjadi seperti Allah.

Roma 8:5-6 menunjukkan kepada kita bahwa baik keinginan daging maupun Roh Allah masing-masing mempunyai pemikiran dan keinginannya sendiri yang hasilnya kita ketahui. Kata “memimpin” berarti menguasai “sepenuhnya”. Karena kedagingan kita mempunyai keinginannya sendiri maka diperlukan penyerahan total kepada Roh Kudus, agar Roh Kudus benar-benar menguasai kita.

Roma 6:13-14
“Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.”

Kalimat “yang dahulu mati tetapi yang sekarang hidup” memiliki arti bahwa dahulu kita telah mati karena dosa, sekarang hidup dalam kebebasan karena penebusan Kristus. Namun kita harus mati hari demi hari dengan mematikan manusia lama kita yang sifatnya masih hidup didalam diri kita (keinginan daging).

Sewaktu-waktu keinginan daging kita dapat menyeret kita kembali kepada kehidupan yang lama. Disinilah ruang kerja iblis untuk menjatuhkan setiap orang tebusan Kristus untuk kembali jatuh ke dalam dosa. Orang percaya harus segera mengambil tindakan.

Antikris yang akan muncul dan memerintah dunia adalah berasal dari kita, yaitu orang yang pada mulanya percaya kepada Yesus. Namun ia tidak bersungguh-sungguh menyerahkan hidupnya untuk dipimpin Roh (1 Yohanes 2:18-19).

Roma 8:13
Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Jangan ijinkan perbuatan dosa yang sudah dihapuskan oleh darah Yesus tumbuh lagi. Kita harus mematikannya.

Kalimat “Jika oleh Roh kamu mematikan” Ini menunjuk kepada penyerahan diri oleh Roh Allah untuk mengikuti kehendakNya. Ketika kita menaklukkan pikiran dan keinginan kita kepada Kristus, maka harus ada yang dimatikan dalam kehidupan kita. Kolose 3:5, berkata bahwa bukan hanya keserakahan tetapi semua dosa yang harus dimatikan itu disamakan dengan penyembahan berhala. Mengapa? Karena dengan membiarkan dosa-dosa itu menjadi pusat dari keinginannya dan nilai hidupnya, sehingga tidak lagi bergantung dan beriman kepada Allah. Selain itu juga ada yang harus kita buang dari dalam hidup kita. Kolose 3:8 menunjukan daftar keinginan daging kita yang harus dimatikan dan dibuang dalam kehidupan baru bersama Tuhan. Namun bagaimana dengan pikiran kita? Bukankah pikiran dan keinginan berjalan bersama dalam menentukan perbuatan kita? Pikiran kita juga harus ditaklukkan kepada pikiran Kristus Yesus (Filipi 2:5).

Semuanya ini dapat terjadi apabila kita berkomitmen untuk memberi diri untuk mau dipimpin oleh Roh Kudus. Galatia 5:18 berkata bahwa apabila kita memberi diri dipimpin oleh Roh maka kita tidak hidup dibawah hukum Taurat. Memberi diri berarti ada kesediaan diri, kerelaan untuk mau dipimpin oleh Roh, bukan karena terpaksa untuk tunduk kepada pimpinan Roh.

Tuhan Yesus telah berkorban untuk menebus kita dari perhambaan dosa, dan memberikan keselamatan jiwa. Tugas kita selama kita masih hidup adalah mengerjakan keselamatan kita (Filipi 2:12). Menjaga hidup kita untuk tidak jatuh lagi kepada dosa, dengan memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus dan bertumbuh ke arah Kristus menjadi sama seperti Yesus.

TANDA PENGENALAN ALLAH
Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah” (Roma 8:14). Kata dipimpin ditulis dalam bahasa aslinya: AGO- artinya: diarahkan/dituntun dalam penguasaanNya. Sebenarnya ketika Roh Kudus memenuhi hidup orang percaya, maka orang itu sudah ada dalam kuasa Roh (Kisah Rasul 1:8a).

Kata “turun” ditulis dalam bahasa aslinya: EPERCHOMAI artinya menguasai. Roh Allah memimpin dan menguasai kehidupan kita bukan untuk memperbudak dan menimbulkan ketakutan pada hidup kita. Tetapi memimpin kehidupan kita agar kita dapat hidup menjadi anak-anak Allah yang sebenar-benarnya, sehingga kita dapat memanggil Allah itu Bapa (Roma 8:15). Anak Allah dalam ayat ini ditulis dengan kata HUYOS-dewasa muda, bukan TEKNON-bayi rohani. Roh Kudus menguasai dan memimpin hidup kita menjadi dewasa muda yang kuat untuk mengalahkan yang jahat (1 Yohanes 2:13-14).

Selanjutnya, Roh Kudus yang memimpin kita akan meneguhkan kita dengan menjadi saksi dalam roh kita untuk memberi kesadaran bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:16). Yang pada akhirnya dari pimpinan Roh dalam hidup kita adalah menjadikan kita sama seperti Yesus dan menjadi ahli waris kerajaan Allah (Roma 8:17).

KESIMPULAN
Menghadapi kehidupan yang semakin sulit ini, sangat penting bagi kita untuk dipimpin oleh Roh Allah. Hal inilah yang akan menolong kita untuk melakukan kehendak Bapa, sehingga semakin hari kita semakin disempurnakan dan menjadi seperti Yesus.

Memuliakanlah Allah dengan Hartamu – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 05 Juli 2020)

Amsal 3:9
Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.

PENDAHULUAN
Pada umumnya kita mengerti bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia memuliakanNya. Ketika manusia berada di taman Eden, mereka ada dalam persekutuan yang manis dengan Tuhan. Allah datang dan menemui manusia dan manusia memuliakan Allah (Kejadian 3:8). Setelah manusia jatuh kedalam dosa, Allah datang ke taman Eden dan bertanya kepada manusia: “Adam, dimana kamu?”

Allah bukan tidak mengetahui keberadaan mereka namun mereka tidak seperti biasa. Biasanya ketika Allah datang ke taman Eden di hari yang sejuk, manusia akan menyambut Tuhan dan memuliakan Tuhan. Namun karena dosa sehingga membuat mereka bersembunyi. Setelah manusia jatuh didalam dosa, Allah rela menjadi manusia, mati disalib untuk menyelamatkan umat manusia agar manusia kembali memuliakan Allah. Wahyu 14:7 berkata bahwa, akan tiba waktu penghakiman dimana kita akan dihakimi apabila tidak memuliakan Allah. Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari bagaimana kita memuliakan Allah dengan harta kita.

Ada sebuah contoh didalam Alkitab bagaimana tokoh ini memuliakan Allah dengan hartanya, yaitu Ayub. Ada beberapa aspek yang merupakan harta Ayub, yang digunakan untuk memuliakan Allah.

  1. Melalui kekayaan materi (Ayub 1:3)

“Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.”

Apa yang Ayub perbuat untuk memuliakan Allah dengan materi yang ia miliki? Ayub 1:1 berkata bahwa Ayub seorang yang saleh, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Dari kesalehannya saja cukup untuk membuat kita mengerti tingkat kerohanian Ayub. Dengan kesalehan Ayub, kita akan mengetahui apa yang Ayub telah lakukan sebagai wujud bagaimana Ayub memuliakan Allah dengan hartanya.

Ayub bukan saja beriman, tetapi ia telah memuliakan Allah dengan kebajikan. Oleh sebab itu, banyak orang yang bersahabat dengan Ayub karena kebajikannya. Pada bagian ini, kita telah melihat bahwa sekalipun harta Ayub diambil seluruhnya, namun kesalehannya tidak berkurang sedikitpun. Ini adalah bentuk bagaimana ia memuliakan Allah dengan hartanya.

2. Melalui anak-anak
Anak-anak merupakan harta kekayaan yang dipercayakan Tuhan bagi setiap orang tua. Oleh sebab itu, penting bagi setiap orang tua untuk mengorbankan harta dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka. Namun diatas segalanya, lebih penting untuk menginvestasi kekayaan rohani kepada anak-anak. Mazmur 127:3, anak merupakan kekayaan kita yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Mereka merupakan milik pusaka Allah. Jadi, seharusnya menjadi tanggung jawab setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka untuk memuliakan Allah. Ayub 1:4-5 menceritakan bagaimana anak-anak Ayub sering mengadakan pesta sehingga hal ini membuat Ayub setiap pagi mempersembahkan korban bakaran kepada Allah untuk memohon ampun dan menguduskan mereka apabila ada sesuatu yang mereka lakukan yang menyakiti hati Tuhan.

Pada saat itu, hukum yang berlaku bukanlah Taurat, tetapi hukum hati nurani. Ayub mempersembahkan domba sebanyak jumlah anak-anaknya. Ayub menginvestasikan hartanya untuk anak-anaknya agar mereka memuliakan Allah. Ayub mensyafaati anak-anaknya dihadapan Tuhan dengan mempersembahkan korban keselamatan bagi anak-anaknya. Dari mana Ayub mengerti hal ini? Kebiasaan untuk mempersembahkan korban bakaran merupakan hal yang diwariskan turun temurun pada zaman Ayub.

Contoh dalam Kejadian 4:3-5, yaitu Kain dan Habel. Tentu mereka juga belajar dari orang tua mereka, yaitu Adam dan Hawa. Kemudian hal ini berlanjut dan diwariskan kepada keturunan mereka. Salah satunya adalah Nuh (Kejadian 8:18-21). Setelah Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari kebinasaan, Nuh mempersembahkan kepada Tuhan persembahan berupa harta kekayaan milik Nuh. Untuk apa Nuh melakukan hal itu? Tujuannya adalah untuk memuliakan Allah. Pada saat Allah menikmati persembahan Nuh, Allah menjadi puas atas persembahan Nuh. Hal ini terekspresi dari respons Allah (Kejadian 8:21). Allah memberi tanda pelangi kepada Nuh. Pelangi adalah simbol janji Allah kepada manusia bahwa Allah tidak akan membinasakan manusia seperti pada zaman Nuh, sebab Allah menyediakan penebus dosa manusia yaitu Yesus sebagai korban pengganti manusia dikayu salib. Allah menyediakan penebus bagi manusia, oleh sebab itu kita perlu mengucap syukur untuk hal ini dengan cara mempersembahkan harta yang telah Tuhan percayakan, terutama untuk kerohanian dan keselamatan anak-anak kita.

3. Saat musibah datang
Harta yang dimaksud dalam Amsal 3:9 merupakan harta yang kita miliki. Namun bagaimana bila harta tersebut sudah tidak ada lagi pada kita? Apakah kita masih bisa mempermuliakan Allah? Secara berturut-turut, harta yang Ayub miliki diambil oleh Iblis dari hidup Ayub. Di bawah ini merupakan harta Ayub yang diambil oleh iblis:

  • Seluruh ternak Ayub (Ayub 1:13-17)

Secara berturut-turut hamba-hamba Ayub yang menggembalakan kambing, domba, unta, lembu, keledai datang kepada Ayub serta melaporkan bencana perampokan dan orang-orang jahat yang membuat harta Ayub habis dan tidak tersisa sedikitpun.

  • Semua anak-anak Ayub (Ayub 1:18-19).

Pada saat anak-anak Ayub berkumpul di rumah si sulung, tiba-tiba badai yang dahsyat datang serta merobohkan rumah dimana mereka berkumpul. Hal ini merupakan kejadian yang begitu tragis sebab tidak seorang pun anak Ayub yang luput.

Apa yang Ayub lakukan ketika semua anaknya mati? Yohanes 10:10 berkata bahwa iblis datang untuk membunuh dan membinasakan. Namun, Ayub tetap memuliakan Allah dan bersyukur kepada Tuhan saat semua harta termasuk anak yang Tuhan titipkan kepada Ayub habis lenyap (Ayub 1:20-22). Orang yang tahu memuliakan Allah akan berpikiran positif tentang Tuhan, sekalipun semua hartanya lenyap.

4. Kesehatan
Setelah seluruh kekayaan dan anak-anak Ayub diambil dari Ayub, maka satu-satunya kekayaan yang masih tersisa dan paling berharga yang Ayub miliki adalah kesehatan. Namun, kesehatan Ayub pun diijinkan Tuhan untuk diambil oleh iblis. Ayub menderita penyakit barah yang mengerikan.

Kondisi fisik orang yang sakit barah:

  • Kulit menggelembung, pecah dan sangat menyakitkan.
  • Gatal-gatal yang berbau bukan hanya aroma luka tetapi aroma bau mulut.
  • Dari kejauhan tercium aroma bau busuk yang membuat orang-orang disekitarnya menjadi mual.
  • Hal ini menyebabkan budak-budak Ayub menolak (tidak mau) dimintai tolong untuk menggaruk rasa gatal yang Ayub rasakan (Ayub 19:16-18).
  • Sakit barah ini dapat berlanjut dan menjadi penyakit kusta (Keluaran 9:9; imamat 13:18-20).

Apabila kita berada dalam posisi Ayub, masih mampukah kita untuk memuliakan Allah ketika kekayaan yaitu kesehatan kita diambil dari diri kita? Namun, sekalipun kesehatan Ayub diambil dari hidupnya, Ayub tetap memuliakan Allah.

Ketika Ayub menggaruk badannya dengan beling karena merasakan gatal yang hebat, istri Ayub datang dan memberi komentar (Ayub 2:8-9). Ada beberapa rincian perkataan istri Ayub dalam bagian ini.

  • Ayub 2:8, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?”

Walaupun Ayub telah merasakan penderitaan yang hebat, namun Ayub tetap saleh. Dengan arti kata, iman Ayub tidak bergeser apalagi menurun karena penderitaan.

  • Istrinya berkata “kutukilah Allahmu.”

Dengan lain kata istri Ayub telah kehilangan imannya kepada Allah. Tetapi, Ayub 2:10 berkata bahwa Ayub membina istrinya karena ia melihat bahwa istrinya sudah tidak beriman lagi. Semenjak Ayub menegur istrinya, ia sudah tidak pernah berbicara sembarangan lagi. Allah mengampuni istri Ayub, bahkan ia diijinkan untuk mendampingi Ayub sampai ia melihat bagaimana Allah memulihkan keadaan Ayub dan mempercayakan kepada mereka sepuluh anak lagi.

5. Sahabat adalah harta berharga dari Tuhan (Amsal 18:24)
“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”

Sahabat merupakan harta yang berharga dari Tuhan. Ayub mempunyai sahabat yang mengasihi Ayub. Mereka menegur Ayub dengan dasar Firman Allah. Tetapi kemudian sahabat-sahabat Ayub menuduh Ayub bersalah, berdosa, bahkan menuduh Ayub melakukan perbuatan orang fasik. Sahabat Ayub tidak mengerti bahwa penderitaan yang Ayub alami bukan karena dosa Ayub, tetapi Allah menjadikan Ayub sebagai contoh orang beriman yang memuliakan Allah dihadapan Iblis.

KESIMPULAN
Kita telah belajar mengenai kehidupan Ayub, bagaimana semua hartanya baik materi, anak-anak, kesehatan, diambil daripadanya. Bahkan sahabat-sahabat yang merupakan hartanyapun menolak dan menuduhkan hal yang tidak benar terhadap Ayub. Namun Ayub tetap mampu memuliakan Allah. Apapun kondisi yang kita alami, mungkin tidak sebanding dengan penderitaan Ayub, tetapi marilah kita tetap memuliakan Allah dalam segala kondisi, maka kita akan menjadi orang-orang beriman yang menjadi teladan bagi orang-orang di sekeliling kita.

Bagi Allah Tidak Ada Yang Mustahil – Oleh: Pdt. Simon Sitinjak (Ibadah Raya – Minggu, 28 Juni 2020)

Lukas 1:37
“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Kita sering mendengar orang-orang berbicara mengenai kemustahilan. Bahkan, sebagai manusia kita sering berhadapan dengan kemustahilan. Dalam ayat ini kita melihat bahwa, Maria mengalami kemustahilan dalam hidupnya. Ketika malaikat datang dan membawa kabar kepada Maria, Maria seolah tidak percaya. Maria ragu dengan kepercayaan besar yang Tuhan berikan. Untuk meyakinkan Maria bahwa Allah berkuasa atas segala yang ada, maka Allah menyatakan bahwa Roh Kudus, pribadi Allah yang Maha Tinggi menaungi Maria dan seorang wanita lanjut usia, Elisabeth sanaknya juga mengandung.

Terkadang kita harus melihat tanda dahulu baru kita percaya. Tetapi kita belajar bahwa ada banyak perkara yang dapat Tuhan lakukan dalam kehidupan kita. Berikut beberapa hal yang dapat Tuhan lakukan dalam kehidupan kita.

1. Tuhan sanggup mengubah pribadi kita.
Bukan berarti Tuhan tidak tertarik untuk mengubah keadaan kita. Namun, Tuhan lebih tertarik mengubah diri kita. Tuhan merindukan ada yang berubah dalam kita, sebab kita berharga dimata Tuhan. Ia begitu bergairah untuk mengubah kita.

Allah terlebih dahulu ingin memulihkan kita kemudian barulah ia memulihkan perekonomian, keadaan, dsb. Saat manusia berada di Taman Eden, sekalipun mereka berdosa, namun Allah terlebih dahulu mencari mereka karena Allah ingin memulihkan pribadi mereka.

Yesaya 43:4 berkata bahwa kita berharga dimata Tuhan. Tuhan kita luar biasa. Dia tidak pernah menyerah untuk mengubah kehidupan kita. Dia tidak pernah menyerah untuk memulihkan dan mengubah kita sebab kita adalah buatan tanganNya. Tuhan bahkan rela mati agar kita diselamatkan, karena begitu berharganya kita dan karena Ia mengasihi kita. Seberapa berat kondisi kita hari-hari ini, atau seberapa jauh kita jatuh kedalam dosa, namun Ia tetap mengasihi kita.

Sebuah contoh mengenai perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh 8:1-11). Perempuan ini seharusnya dirajam batu, seharusnya tidak ada kesempatan lagi untuk berubah atau bertobat. Namun Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada perempuan ini untuk berubah.

Petrus juga pernah mengalami hal yang sama. Petrus menyangkal Yesus sampai 3x karena ia takut mengakui Yesus. Namun ketika Petrus menyangkal, ia menangis, tanda bahwa ia menyesal. Tetapi kemudian Petrus berubah menjadi pribadi yang berani. Bahkan sejarah mencatat bahwa ia mati syahid dalam pemberitaan injil. Allah sanggup mengubah kehidupan kita. Sebelum Tuhan mengubah keadaan kita, ekonomi kita, Tuhan rindu terlebih dahulu mengubah pribadi kita.

2. Tuhan sanggup mengadakan yang tidak ada menjadi ada (Kejadian 1:1).
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dam bumi.”

Kata menciptakan disini dipakai kata “bara“, yang berarti menjadikan sesuatu yang belum ada menjadi ada, yang tidak ada menjadi ada.

Contoh Petrus (Matius 17:27). Suatu saat Tuhan Yesus memerintahkan Petrus untuk membayar biaya bea Bait Allah. Tuhan Yesus menyuruh Petrus untuk memancing ikan dan didalam mulut ikan itu terdapat uang untuk membayar biaya bea Bait Allah. Ini merupakan suatu hal yang luar biasa. Allah sanggup mengubah perkara yang tidak ada menjadi ada.

Filipi 4:19 berkata “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi dan juga kepada kita semua bahwa Allah sanggup mengadakan segala sesuatu, bahkan mengadakan yang tidak ada menjadi ada.

3. Tuhan sanggup membuka jalan (Yesaya 43:19).
“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara”

Ada tiga pengalaman yang bangsa Israel alami ketika keluar dari tanah Mesir.
1). Pengalaman Laut Teberau (Keluaran 14:10)
Mereka dalam kondisi tidak ada jalan. Tuhan telah membebaskan mereka dari Firaun, namun mereka bertemu dengan Laut Teberau. Tetapi Allah membuat jalan ditengah Laut Teberau (Keluaran 14:10, 21). Allah mampu membuat jalan ditengah himpitan.

2). Pengalaman Padang gurun.
Ada beberapa proses yang mereka alami dipadang gurun:

  • Masa kepahitan (Keluaran 15:22-24). Musa melempar kayu kedalam air dan menjadi manis. Kayu yang dilemparkan menggambarkan salìb, yang mengubah kehidupan yang pahit menjadi manis.
  • Masa kelaparan (Keluaran 16:1-4). Allah sanggup memberi makan roti dari sorga kepada bangsa Israel.
  • Masa kehausan (Keluaran 17:1-3). Allah bahkan memberi bangsa Israel minum dari gunung batu.

Namun kita melihat bahwa dari proses-proses ini, Allah sanggup melakukan perkara-perkara yang mustahil.

  • Tuhan sanggup membuka jalan di padang gurun saat mengalami kepahitan (Keluaran 15:25).
  • Tuhan sanggup memberi jalan di padang gurun saat mengalami kelaparan (Keluaran 16:4)
  • Tuhan sanggup memberi jalan di padang gurun saat mengalami kehausan (Keluaran 17:6).

3) Pengalaman Sungai Dalam (Yosua 3:15).
Jika kita melihat dari Yesaya 43:16, beginilah Firman Tuhan, yang telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat.

Dalam kitab Yosua 3:15, dikatakan air yang sebak. Artinya mengalami masalah yang datang secara hebat, digambarkan seperti air yang meluap di Sungai Yordan. Kita tidak pernah tahu kapan dan seperti ada masalah itu datang, tetapi proses yang kita alami ini kadang Tuhan ijinkan untuk membentuk kita, dan karena Allah mengerti bahwa kita mampu bahkan sanggup untuk menanggungnya (Yosua 3: 16).

Sekalipun masalah yang datang dalam kehidupan kita begitu deras, namun percayalah bahwa Tuhan akan membuka jalan bagi setiap permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita.

KESIMPULAN
Masalah sering kali datang dalam kehidupan kita. Namun, kita belajar bahwa sebelum Tuhan mengubah kehidupan kita, Ia terlebih dahulu ingin mengubah pribadi kita agar lebih dewasa dalam menghadapi tantangan kehidupan. Setelah Ia mengubah pribadi kita, maka Ia akan mengadakan segala yang kita perlukan, bahkan Ia membuka setiap jalan bagi kita. Oleh sebab itu sikap kita seharusnya percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah dan percayalah, Ia sanggup melakukan segala sesuatu (Ayub 42:2)

Muliakanlah Allah dengan Tubuhmu – oleh Pdt. J.S Minandar (Ibadah Raya, Minggu, 21 Juni 2020)

1 Korintus 6:20
“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Dengan adanya pandemik Covid-19 ini, kita melihat manusia menjadi begitu berhati-hati dalam beraktifitas dan melakukan kegiatan. Apa yang dahulu tidak pernah dilakukan kini menjadi kebiasaan baru. Contohnya penggunaan masker, kebiasaan sering mencuci tangan, menjaga jarak, tidak bersentuhan fisik dan tidak makan makanan sembarangan. Tujuan semua ini adalah supaya kita dapat tetap sehat dengan harapan agar terhindar dari virus ini dan tidak jatuh sakit. Tidak sedikit orang yang melakukan semua anjuran yang diberikan kepadanya. Tetapi, semua usaha yang kita lakukan adalah hal-hal yang baik dan tidak salah sejauh kita berbuat semua hal yang tidak bertentangan dengan Firman Allah.

Rasul Paulus menasehatkan kita agar kita memuliakan Allah dengan tubuh kita. Hal ini berarti apapun upaya yang kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan jasmani serta menjaga kesehatan seharusnya tidak membuat kita melupakan kewajiban kita, yaitu: memuliakan Allah dengan tubuh kita. Maksud nasihat rasul Paulus adalah kesukaran Covid-19 yang kita hadapi, jangan sampai membuat kita hanya mengurus hal-hal jasmani tetapi mengabaikan hal rohani.

Apakah arti makna Firman Allah dengan “memuliakan Allah dengan tubuh kita”?

  1. Manusia jasmani
    1 Korintus 6:12 “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.”

Ada 2 hal yang ditekankan rasul Paulus dari ayat ini
1). Jangan menghalalkan segala cara.
Yang pertama dan yang utama untuk memuliakan Allah dengan tubuh adalah rasul Paulus menasehatkan agar kita tidak menghalalkan segala cara untuk tetap bertahan hidup ditengah pandemik, termasuk dengan melanggar Firman Allah. Apabila kita melakukan hal ini maka berarti kita hanya memperhatikan hal jasmani tetapi tidak memperhatikan hal rohani. Kita memahami bahwa sebagai pengikut Yesus, kita tidak berada dibawah hukum Taurat. Karena kita tidak lagi berada dibawah hukum Taurat, ini bukan berarti kita dapat berbuat apapun tanpa aturan. Sebagai pengikut Yesus, kita tidak boleh keluar dari Firman Allah, sebab sebagai pengikut Yesus yang sejati dalam keadaan apapun, kita dianjurkan untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kita sama seperti jemaat pendatang yang dilayani oleh Petrus (1 Petrus 2:12). Surat Petrus merupakan surat yang ditujukan kepada orang-orang Kristen yang berkebangsaan Yahudi. Mereka dianjurkan untuk memiliki cara hidup yang baik ditengah-tengah orang yang tidak percaya, sehingga orang-orang yang tidak percaya ini pun menjadi percaya kepada Yesus.

2). Tidak diperhamba oleh apapun
Matius 24:8
“Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.”

Kesukaran yang kita alami dan lihat sekarang barulah permulaan menjelang zaman baru. Kesukaran sekarang belum seberapa bila dibandingkan dengan kesukaran besar di akhir zaman.

2. Manusia Rohani
Pelacuran Rohani di Akhir Zaman
Sebelum membahas pelacuran rohani, kita akan terlebih dulu membahas mengenai pelacuran jasmani.

Pelacuran rohani telah dinubuatkan didalam Wahyu 13:11-12. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud pelacur dalam ayat ini bukan dalam arti harafiah, namun menunjuk kepada nabi-nabi palsu. Mereka mengajarkan ajaran yang terlihat baik, namun sebenarnya merupakan kompromi dengan ajaran sesat.Iblis mencoba meniru Trinitas Allah kita (iblis, Antikristus dan nabi palsu). Mereka digambarkan seperti binatang yang keluar dari dalam bumi. Nabi palsu keluar dari bumi seperti anak domba, mirip seperti Yesus. Tetapi ia berbicara seperti naga, artinya berita yang ia sampaikan berasal dari iblis. Dia melakukan perintah Iblis ini, dan membuat seluruh bumi menyembah iblis. Jadi bentuk pengajarannya gereja palsu seperti gereja.

1 Korintus 6:15
“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!.”

Perlu diketahui bahwa setiap orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus merupakan anggota tubuh Yesus.

Karena kita adalah anggota tubuh Yesus, oleh sebab itu sesukar apapun kondisinya, kita harus menjaga kekudusan diri kita.

Mengapa kita tidak boleh berzinah?
1 Korintus 6:16
Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging.”

Alkitab melarang perzinahan sebab apabila seseorang melakukan perzinahan, maka mereka menjadi satu tubuh, sebab perzinahan mengikat. Melakukan perzinahan jasmani akan berakibat dibuang dari keanggotaan tubuh Kristus, terlebih lagi perzinahan rohani. Oleh sebab itu, jangan bermain-main dengan dosa perzinahan, sebab dosa ini berakibat fatal.

1 Korintus 6:17
“Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.”

Melakukan perzinahan menyangkut dosa tubuh, jiwa dan roh. Itu sebabnya orang yang melakukan dosa perzinahan menjadi terikat dengan dosa itu. Tetapi, kalau kita melekat dengan Tuhan hal ini berarti kita tetap menjadi pengikut Kristus yang sejati, yang berjalan mengikuti jejak Yesus, karena jalan hidup kita dipimpin Roh Kudus sehingga kita menjadi satu roh dengan Tuhan.

Percabulan rohani menyangkut roh.
1 Korintus 6:18-19
Tubuh ini harus kita pakai sebagai alat kebenaran (Roma 6:19). Ketika kita menjadi anggota tubuh Kristus, kita harus menjaga hidup kita. Oleh sebab itu tubuh kita jangan digunakan sebagai alat kecurangan atau kejahatan demi sesuap nasi apalagi untuk berbuat sesuatu yang cemar, yaitu percabulan rohani.

Karena kita telah dibeli dengan darah Yesus, maka:

  • Sebagai milik Kristus, diri kita bukan milik kita sendiri.
  • Percabulan bukan hubungan fisik semata
  • Percabulan adalah suatu sikap kompromi orang Kristen yang menyerahkan rohnya untuk menerima dan mengimani ajaran diluar Firman Allah, yaitu ajaran setan-setan.

KESIMPULAN:
Kesulitan dalam hidup sering membuat orang-orang Kristen berkompromi dengan dosa. Namun, kita belajar bahwa saat kita berkompromi dengan dosa, kita telah melakukan perzinahan secara rohani. Oleh sebab itu, sesulit apapun kehidupan ini, jangan pernah berkompromi dengan dosa, sebab tubuh kita adalah Bait Allah. Saat kita tetap berjalan pada jalan yang benar, maka Bapa akan memelihara hidup kita.

Matius 24:26
“Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

Hati-hati Bahaya Penyesatan – Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya- Minggu, 14 Juni 2020)

Matius 24:10-14

Matius 24 dan 25 merupakan khotbah Yesus mengenai akhir zaman. Yesus yang mempunyai zaman ini mengetahui bahwa diakhir-akhir ini akan banyak kesukaran yang akan membuat kita lengah dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Sebagai orang-orang percaya, kita seharusnya sudah menang terhadap pergumulan jasmani maupun jiwani. Sebab apabila kita tidak menang terhadap hal-hal mendasar ini, maka kita akan semakin sulit menghadapi masa-masa sukar khususnya dalam kehidupan rohani kita, karena dari ayat-ayat ini kita melihat bahwa dihari-hari terakhir akan timbul banyak penyesatan.

Ada 6 bagian penting dalam Matius 24, yaitu:

  • Bait Allah akan diruntuhkan. Goncangan gereja secara fisik akan terjadi agar Allah bisa menemukan Bait Allah yang sejati.
  • Permulaan penderitaan
  • Siksaan yang berat dan mesias-mesias palsu
  • Kedatangan Anak Manusia dan perumpamaan tentang pohon ara
  • Nasehat supaya berjaga-jaga
  • Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat

Beberapa hal sulit yang perlu diwaspadai pada akhir zaman adalah:

  • Penyesatan (mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu)
  • Kesukaran karena pembukaan meterai-meterai. Hal ini merupakan permulaan penderitaan, banyak orang yang tidak selamat karena tidak bertahan (tidak setia) dan murtad.

PENYESATAN
Matius 24:3-5,11,24
Apabila kita semakin dekat dengan Tuhan, maka kita akan semakin peka terhadap tanda zaman. Kalau kita membaca ayat-ayat ini maka berulang-ulang Yesus memperingatkan mengenai kesesatan. Bahkan orang-orang pilihan pun akan sulit untuk bertahan.

Kata sesat dalam bahasa Yunani ditulis planaō
Yang berarti:

  • Tersesat (keluar dari jalan atau rute yang benar)
  • Menipu/merayu (menawarkan sesuatu yang lebih)
  • Mengembara (tidak tahu arah)

Alkitab berkata bahwa memang penyesatan harus ada. Tujuan dari penyesatan yang dilakukan iblis adalah untuk membawa orang-orang ke neraka bersamanya. Yang harus kita waspadai adalah tipuan mengenai kesesatan ini selalu menawarkan kita untuk tampil lebih. Iblis selalu menawarkan hal-hal lebih secara jasmani, keinginan daging dan mencintai diri sendiri.

Matius 24:4 kata menyesatkan dipakai kata menipu/ menyesatkan/deceive. Bahkan Alkitab menyebutkan bahwa banyak orang akan tersesat. Penyesat ini akan datang dan melakukan mujizat, namun perhatikan bahwa orientasinya selalu kepada hal-hal lahiriah. Ada mesias yang diurapi tetapi pengurapan palsu. Ajarannya mengandung mujizat tetapi demi kepentingan-kepentingan lahiriah manusia.

2 Timotius 3:5, berkata bahwa penyesatan menyentuh bagian lahiriah, keuangan kita. Mereka memungkiri kekuatan ibadah, artinya mereka hanya memusatkan perhatian kepada hal-hal jasmani. Penyesatan selalu menyusul apa yang sudah benar, seolah-olah menjadi lebih benar. Kekuatan ibadah kita terdapat didalam roh kita yang mempengaruhi jiwa kita. Kekuatan ibadah bukan dari berkat-berkat, tetapi bagaimana ibadah dapat mengubah kehidupan kita.

Penyesatan selalu menyelundup (2 Timotius 3:6). Penyesatan secara diam-diam menawarkan sesuatu yang lebih baik. Banyak hal yang “menyeludup” hari-hari ini (melalui HP, barang elektronik, arisan, dll) yang mempengaruhi keputusan kita, sehingga penyelundupan yang dikerjakan oleh Iblis berlangsung secara tidak disadari dan merusak pikiran kita. Ketika tawaran ini menyangkut diri kita, pasti kita tergiur apalagi tawarannya menyangkut keuangan kita. Kalau kita tidak menang terhadap hal-hal ini, maka kita mudah bertambah lemah dan bertambah ragu kepada Tuhan jika mengalami ujian dibidang keuangan. Tugas kita saat menghadapi keinginan daging adalah dengan mematikan keinginan daging. Bagaimana caranya? Jangan sering dikasih makan. Artinya apa yang menjadi kelemahan kita jangan dituruti. Belajarlah untuk mendisiplinkan diri. Dan tentu hidup ini kita serahkan kepada Roh Kudus untuk dapat dipimpin.

Penyesatan selalu menyusul hal-hal yang sudah benar, seolah-olah nampak benar. Kejadian 3 menceritakan bahwa sejak awal, penyesatan sudah dimulai di taman Eden. Awalnya Hawa dapat memberi jawaban kepada ular. Tetapi ketika timbul keraguan, maka penyesatan itu menyusul masuk dalam pikiran Hawa. Ular mulai menawarkan dari hal-hal yang lahiriah, tetapi lama kelamaan masuk lebih dalam dan membuat Hawa ragu dan pada akhirnya membuat Hawa memakan buah yang dilarang Tuhan bahkan memberinya kepada Adam untuk dimakan oleh Adam.

2 Korintus 11: 3, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.”

Kata disesatkan dalam bahasa inggris adalah corrupt. Sedikit demi sedikit ‘digerogoti’ sehingga mulai meragukan Tuhan.

NASIHAT TERHADAP PENYESATAN
2 Timotius 3:14, apa yang kita terima dan yakini mengenai kebenaran, harus benar-benar kita pegang dan kita ikuti. Jangan sampai kita disesatkan dalam pikiran kita, sehingga kita tidak berpegang kepada kebenaran dan keluar dari jalur yang seharusnya. Selain itu, kita diminta untuk mengingat orang-orang yang berperan penting dalam mengajar kebenaran didalam hidup kita. Timotius juga diminta untuk mengingat nilai-nilai yang telah tertanam sejak kecil. Sebagai orang tua, marilah kita menanamkan nilai-nilai kekal atau nilai rohani dalam hidup anak-anak kita (ayat 15).

1 Timotius 4: 6, Ingatkan saudara-saudara kita. Dalam keluarga juga baiklah kita mengajak keluarga kita dalam pokok-pokok iman dan ajaran yang sehat, sehingga bukan hanya kita yang diselamatkan tetapi keluarga kita juga lepas dari penyesatan.

KESIMPULAN
Sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita berjuang dan mempertahankan iman lewat Firman Tuhan yang telah disampaikan kepada kita (Yudas 1:3). Akan terjadi banyak hal yang sulit karena pembukaan meterai, tetapi lebih lagi yang harus kita waspadai adalah penyesatan-penyesatan di akhir zaman. Apabila kita kuat didalam Firman Tuhan, maka kita akan kuat dalam mempertahankan iman kita menghadapi setiap penyesatan.

KEMENANGAN DIMASA SUKAR – Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 07 Juni 2020)

2 Timotius 3:1-5

Ayat ini merupakan nasehat rasul Paulus yang ditujukan kepada anak rohaninya yaitu Timotius. Tetapi tentu nasehat ini juga ditujukan kepada kita sebab kita hidup di akhir zaman. Rasul Paulus berkata bahwa di hari-hari terakhir akan ada masa sukar. Kesukaran akan berdampak bagi semua orang, apalagi apabila kesukaran itu terjadi secara global. Contohnya adalah pandemik Covid-19 ini. Dunia digoncang oleh Covid-19 dan dampaknya dialami oleh semua orang, yaitu kesukaran. Padahal virus ini terjadi diakhir tahun 2019, tetapi sampai sekarang masalah virus ini  belum selesai. Bahkan dampak dari virus ini merusak ekonomi,keuangan, usaha dan berbagai bidang kehidupan lainnya. Namun yang paling ditakuti adalah ancaman kematian.

Kesukaran ini bukan hanya menyerang materi tetapi sadar atau tidak, kesukaran di akhir zaman ini juga mengancam kerohanian kita apabila kita tidak mengantisipasinya. Bagaimana caranya agar kerohanian kita tidak goyah sekalipun ditengah kesukaran ini? Kesukaran seperti apapun jangan sampai kesukaran itu membuat kita berfokus hanya kepada hal-hal materi atau jasmani.

Berikut adalah perbandingan bagaimana kehidupan kita secara rohani dan ancaman yang terjadi dalam kesukaran.

Tabel ini adalah hal-hal yang akan terjadi dihari-hari terakhir ketika kesukaran itu datang. Alkitab memang mengajarkan hal-hal yang baik, tetapi karena kesukaran maka banyak hal buruk yang terjadi kepada manusia.

Sebagai contoh kita tahu bahwa pandemic covid-19 ini merupakan lanjutan dari penggenapan meterai ke-IV yaitu sampar yang berkembang menjadi pandemik. Bagaimana dengan kehadiran pandemik Covid-19 ini? Apakah tidak berdampak apa-apa, ataukah berdampak pada kerohanian jemaat?

HIDUP DALAM KEMENANGAN
Tuhan Yesus menghendaki agar setiap orang yang sudah ditebus dan diselamatkan dapat hidup oleh Roh, bukan hidup oleh daging. Sebab akhir hidup orang yang dikuasai daging akan binasa, tetapi orang yang hidup oleh Roh akan memperoleh keselamatan, yaitu sorga yang kekal.

Tuhan mau kita hidup oleh Roh, bukan digerakkan oleh daging atau hawa nafsu. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa sering kali hidup kita dikuasai oleh daging. Oleh sebab itu, banyak hal yang hilang karena kesukaran-kesukaran ini.

Bagaimana kita dapat hidup dimata Tuhan apabila kehidupan kita seperti ini? Apabila kita hidup seperti ini maka kita tidak akan hidup sebagai orang yang berkenan dihadapan Tuhan, sehingga kita tidak masuk kedalam kemuliaan sebab Tuhan menolak kita.

Allah mau kita hidup seperti ini. Kesukaran seharusnya tidak mengubah kita. Apabila kita hidup seperti pada gambar ini dihadapan Tuhan, maka kita akan masuk kedalam kekekalan bersama Tuhan.

RAHASIA HIDUP BERKEMENANGAN
Ester 8:17
“Demikian juga di tiap-tiap daerah dan di tiap-tiap kota, di tempat mana pun titah dan undang-undang raja telah sampai, ada sukacita dan kegirangan di antara orang Yahudi, dan perjamuan serta hari gembira; dan lagi banyak dari antara rakyat negeri itu masuk Yahudi, karena mereka ditimpa ketakutan kepada orang Yahudi.”

Pada ayat ini kita melihat bahwa ada sukacita dan kegirangan yang besar diantara orang Yahudi. Bahkan banyak dari antara rakyat negeri itu menjadi Yahudi  karena mereka takut kepada orang Yahudi.

Padahal, apabila kita melihat dalam kisah-kisah sebelum, maka yang terjadi adalah orang Yahudi yang berada di benteng Susan atau yang hidup dimana saja, mereka mengalami ketakutan yang luar biasa. Mengapa? Pada saat itu orang Yahudi berada dalam undang-undang yang mengerikan sebab terdapat keputusan untuk memusnahkan orang Yahudi (Ester 3:12-13). Orang Yahudi beradaidalam ancaman maut dan kemiskinan. Mengapa undang-undang maut ini bisa berubah menjadi pesta perjamuan, sukacita dan kegirangan bagi orang Yahudi? Dan mengapa banyak rakyat yang ingin menjadi Yahudi apabila terdapat undang-undang maut seperti ini? Rahasia hidup berkemenangan dari orang Yahudi adalah mematikan keinginan daging.

Bagaimana mematikan keinginan daging menurut kitab Ester? Ester 3:1-2 mencatat mengenai seorang buangan yang bernama Haman, seorang dari keturunan Amalek. Haman marah kepada Mordekhai, paman dari ratu Ester. Ia marah sebab Mordekhai tidak mau menyembah Haman. Haman bukan ingin dihormati karena ia adalah pejabat, tetapi ia ingin disembah seperti Tuhan. Ini adalah gambaran dari Antikris (Wahyu 13:14).

Ester 3:8-15 menceritakan bahwa Haman ingin membunuh semua orang Yahudi. Haman membujuk raja Ahasyweros untuk memeteraikan undang-undang yang ia buat. Akhirnya undang-undang untuk bebas membunuh orang Yahudi itu resmi diedarkan kepada seluruh daerah yang berada dibawah kekuasaan raja Ahasyweros.

Ester 4:8, mencatat bagaimana Mordekhai meminta Ester untuk menghadap raja Ahasyweros dan membujuk raja untuk membatalkan undang-undang tersebut. Namun ada peraturan kerajaan Media-Persia bahwa orang yang tidak diundang untuk menghadap raja, apabila raja tidak berkenan maka ia akan mati. Aturan ini menggambarkan bahwa dosa telah memisahkan manusia dan Allah (Yesaya 59:2). Siapa yang menghadap Allah akan binasa oleh kekudusan Allah. Namun karena Yesus turun kedalam dunia maka kita dapat menghadap Allah yang kudus.

Dalam menghadapi ancaman ini, Ester mengirim pesan kepada Mordekhai (Ester 4:15-17). Ester meminta semua orang Yahudi yang berada di benteng Susan, berpuasa bersama Ester selama tiga hari tiga malam. Setelah itu, Ester akan menghadap raja, sekalipun Ester datang tanpa undangan raja. Ester berkata bahwa “kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Ester adalah gambaran Gereja (pengikut Yesus) yang hidup di akhir zaman. Ester berpuasa selama tiga hari tiga malam adalah gambaran Gereja di akhir zaman yang telah mematikan keinginan daging dan telah hidup oleh Roh, bukan oleh daging.

Kalau kita ingin melihat bagaimana gereja mengalami kemenangan besar dan tongkat kuasa itu diberikan kepada Gereja, maka Gereja Tuhan harus mematikan keinginan daging. Hal ini seharusnya dimulai dari individu orang percaya, kemudian berlanjut ke tingkat komunitas gereja lokal yang terus berlanjut sampai pada tingkat gereja secara universal. Aplikasi atau penerapan hal tersebut di atas, bukan semata-mata puasa yang dilakukan secara massal selama tiga hari tiga malam, namun terekspresi pada gambar dibawah ini:

Allah mau kita bukan hanya sekedar beriman tetapi juga melakukan Firman Tuhan. Dan kita tidak bisa melakukan Firman Tuhan ini apabila kita melakukan keinginan daging.

Ketika kita mematikan keinginan daging kita maka Tuhan akan memberikan tongkat kuasa seperti yang diberikan raja Ahasyweros kepada Ester.

Apabila gereja bertumbuh secara rohani mati dari keinginan daging dan hidup didalam keinginan Roh, maka kita dapat melakukan: “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16)

Hal ini digambarkan dengan gambaran bagaimana Ester tidak takut menghadap raja. “Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu.” (Ester 5:2)

Ester tidak takut mati, sebab ia telah mematikan keinginan daging sebelum menghadap raja. Kalau kedagingan kita mati, maka Roh akan menggerakkan kita.

Ester 5:3 berkata bahwa, ketika raja melihat Ester, maka raja jatuh hati sehinggga raja memberikan tongkat kerajaan kepada Ester serta berkata “Sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu.”

Bersama Yesus, Gereja akan memiliki kuasa dahsyat dan tidak terbatas. Semua rencana jahat untuk menghancurkan gereja akan dipakai untuk menghancurkan mereka. Tiang gantung yang telah dibuat oleh Haman untuk menggantung Mordekhai, dipakai untuk menggantung Haman. Bahkan undang-undang yang menetapkan semua orang diperbolehkan membunuh bangsa Yahudi berbalik kepada mereka; bangsa Yahudi diperbolehkan untuk membunuh musuh-musuh mereka. Hal ini merupakan gambaran dari perang Harmagedon.

PERANG HARMAGEDON (Wahyu 19:17-21)
Dalam perang Harmagedon, Tuhan Yesus akan melibatkan gereja sempurna (Gereja yang telah mati dari semua keinginan daging) untuk melakukan pembalasan kepada musuh-musuh Gereja, yaitu: Antikristus, Nabi Palsu, dan pengikut-pengikutnya yaitu orang berdosa.

KESIMPULAN
Untuk memiliki hidup yang berkemenangan, maka kita harus mematikan keinginan daging kita dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Apabila kita melakukan hal ini, maka kita akan melihat bagaimana kemenangan-kemenangan besar menjadi milik kita sebagai gereja Tuhan.

Hari Raya Pentakosta – Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Pentakosta – Minggu, 31 Mei 2020)

Kisah Para Rasul 2:1-4
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Saat itu murid-murid tidak tahu bahwa mereka sedang menggenapi hari raya Pentakosta yang sudah dirayakan bangsa Israel sebelumnya (sekitar 1500 tahun sebelumnya). Ayat 5 mengatakan bahwa pada saat itu semua orang Yahudi yang merantau di berbagai negara berkumpul di Yerusalem, tepatnya di Bait Allah untuk merayakan hari raya Pentakosta. Hal ini merupakan tradisi bagi mereka bahwa setiap perayaan hari raya Pentakosta, orang-orang Israel di perantuan akan pulang untuk mengikuti perayaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada dua kelompok orang Yahudi yang sama-sama merayakan hari raya Pentakosta.

  • Kelompok pertama adalah murid-murid Yesus.
    Murid-murid tidak seperti pada umumnya orang-orang Yahudi merayakan hari raya Pentakosta. Murid-murid merayakan Pentakosta tetapi mereka juga mengalami penggenapan Pentakosta tersebut. Mereka mengalami apa yang dijanjikan Yesus (Kisah 1:8). Penggenapan hari raya Pentakosta bagi orang-orang yang merayakan Pentakosta adalah pengalaman dimana mereka dipenuhkan dengan Roh Kudus yang ditandai dengan berkata-kata dengan bahasa lain (glosolalia). Bahasa ini bukan asal berbicara tetapi ini merupakan pekerjaan Roh Kudus dalam diri seseorang sehingga mendorong orang tersebut mengucapkan kata-kata seperti yang dikaruniakan Roh Kudus. Oleh sebab itu, kita tidak boleh hanya merayakan tetapi harus mengalami kepenuhan Roh Kudus.
  • Kelompok yang kedua adalah orang-orang yang merayakan hari raya Pentakosta sebagai warisan yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.
    Sayangnya mereka tidak mengalami kuasa Pentaksota seperti yang dialami murid-murid. Padahal inti dari perayaan Pentakosta adalah Roh Kudus. Mereka bukan saja tidak mengalami kuasa Pentakosta tetapi mereka juga menghina dan mengejek orang-orang yang dipenuhi kuasa Roh Kudus (Kisah 2:13).

Setiap pengikut Kristus yang mengalami kuasa Pentakosta, mereka bukan saja dipenuhi Roh Kudus tetapi mereka juga memiliki tanggung jawab, yaitu menjadi saksi Kristus. Apa yang dimaksud dengan saksi Kristus? Menjadi saksi Kristus harus menjadi hal yang mendasar didalam kehidupan orang percaya. Hidup sebagai saksi Kristus harus ditunjukkan dari cara hidup yang menjadi teladan dan menjadi berkat bagi orang-orang disekelilingnya baik dalam situasi yang baik ataupun disaat-saat yang sulit.

KESUKARAN AKHIR ZAMAN
Tanda-tanda yang harus digenapi yaitu: pembukaan meterai Allah, peniupan ketujuh sangkakala.

Meterai 4: kuda hijau kuning. Gambaran tentang kuasa wabah penyakit sampar. Seluruh dunia merasakan hal itu.
Meterai 5: aniaya kepada pengikut Kristus. Bagaimana kita tetap menjadi saksi sekalipun dianiaya.
Meterai 6: bencana alam secara global.

Jadi, kesukaran yang akan terjadi dimasa yang akan datang bukannya berkurang tetapi semakin menjadi-jadi. Sebab itu, satu-satunya cara untuk menjadi jemaat yang tetap berdiri sebagai jemaat akhir zaman adalah dengan  dipenuhi Roh Kudus dan firman Allah.

Matius 26: 31, sebelum Yesus disalib, yang dianiaya adalah Yesus, tetapi yang tergoncang imannya adalah murid-murid, padahal mereka belum mengalami aniaya.

1 Yohanes 2: 14
Yang dimaksud dengan banyak antikristus adalah orang-orang yang mengikuti roh antikristus.

Ayat 19 mengatakan bahwa Antikristus berasal dari antara kita. Jadi sebelumnya mereka adalah orang yang percaya kepada Yesus, tetapi kemudian berbalik dari Yesus. Mengapa mereka berbalik? Karena mereka tidak berdaya tahan, mereka tidak penuh dengan Roh Kudus, mereka tidak sungguh-sungguh. Untuk menjadi orang yang sungguh-sungguh kita harus mengalami kuasa Pentakosta, kita harus penuh dengan Roh Kudus.

Ayat 20, kita perlu pengurapan dari Roh Kudus untuk menjadi jemaat yang setia.

KESETIAAN ITAI
2 Samuel 15:19, Itai adalah orang Gat.

  • Arti nama Itai: adalah profil orang yang kuat dan setia.
  • Orang asing. Bukan orang Israel. Ia adalah orang Gat, termasuk wilayah Filistin.
  • Itai adalah orang buangan.
  • Saat Itai datang ke Israel, saat itu Absalom belum memberontak kepada Daud. Ketika Absalom memberontak, ini menjadi momemtum yang tepat untuk Daud melihat ketulusan Itai, sebab itu Daud menguji Itai. Ketika Daud menyebrang ke sungai Kidron, maka salah satu orang yang setia yang mengikuti Daud menyebrang adalah Itai (2 sam 15:17). Daud berhenti di rumah yang terakhir, di rumah itu Daud duduk beristirahat dan melihat orang-orang yang mengikutinya. Ayat 18-19,

Kesetiaan Itai betul-betul teruji.
Kita melihat komitmen Itai. Walaupun ia orang Filistin, tetapi ia percaya kepada Allah Israel. Komitmen ini harus ada didalam diri kita sebagai pengikut Yesus. Kita hanya dapat bertahan dan tetap setia apabila Roh Kudus ada di dalam diri kita. Ketika Daud melihat kesetiaan Itai,  Daud memberikan jabatan kepadanya. Daud mengangkat triwira yang sangat hebat salah satunya adalah Itai!

Kalau kita setia kepada Tuhan Yesus, maka Ia akan menempatkan kita pada posisi-posisi yang mulia. Sebab itu sekalipun perjalanan yang kita tempuh makin berat, tantangan makin banyak, kesulitan makin meningkat jangan tinggalkan Tuhan. Tetaplah setia seperti Itai. Mintalah kepada Tuhan agar memenuhi kita dengan Roh KudusNya sehingga kita diberikan kemampuan untuk tetap setia sampai tiba garis akhir kehidupan. Tuhan memberkati!

BERUBAH ATAU PUNAH DI TENGAH WABAH – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya – Minggu, 24 Mei 2020)

Tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan untuk pertama kalinya virus Korona ada di Indonesia, hingga saat ini lebih dari 20.000 orang telah diketahui terinfeksi virus Korona. Kemunculan virus Korona telah menimbulkan dampak yang luar biasa atas bangsa kita bahkan penduduk dunia. Secara tiba-tiba sendi-sendi kehidupan berubah, terutama masalah sosial dan ekonomi. Sektor-sektor perdagangan, pariwisata, dunia hiburan, jasa keuangan dan kesehatan adalah sektor yang paling terpukul akibat pandemi covid ini.

Sebagai anak-anak Tuhan bagaimanakah sikap kita menghadapi situasi seperti ini? Untuk itu marilah kita belajar dari firman Allah, bagaimana berjalan di tengah kesulitan, bagaimana bertahan di tengah tantangan dan tekanan kehidupan.

Mari kita membuka Filipi 4: 11 – 13
Filipi 4:11  Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Filipi 4:12  Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Filipi 4:13  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Ternyata kesulitan hidup tidak hanya dialami oleh kita saja, bahkan orang sekaliber rasul Pauluspun tidak lepas dari kesulitan hidup. Bagaimanakah caranya rasul Paulus keluar dari kesulitan hidup yang dialami? Dari ayat-ayat yang telah kita baca ini, kita dapat belajar hal-hal yang dilakukan rasul Paulus sehingga mampu mengatasi segala tekanan dan kesulitan yang kita alami. Hal itu juga dapat menjadi contoh bagi kita agar dapat melewati kesulitan di tengah pandemi covid ini. Berikut hal-hal yang dilakukan oleh Rasul Paulus.

1. Beradaptasi dengan situasi yang terjadi.
Ayat. 11 
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Inilah yang dilakukan oleh rasul Paulus sehingga mampu mengatasi segala persoalan dan tantangan pelayanan yang dihadapinya yaitu belajar beradaptasi dengan situasi yang terjadi. Kesulitan hidup bukan untuk diratapi, kelaparan bukan alasan untuk melakukan persungutan, tetapi belajar mencukupkan. Ingatlah: “Kita tidak bisa memilih situasi yang terjadi, kita hanya bisa beradaptasi”

Apapun keadaan yang kita alami, marilah kita belajar beradaptasi, menyesuaikan diri dengan keadaan. Memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita dialami.

  • Jika penghasilan mulai berkurang – belajarlah mengikat pinggang, kurangilah jajan di luar.
  • Jika uang ditangan hanya sedikit – gunakanlah dengan irit (makanlah sedikit-sedikit, jangan kebalik, sedikit-sedikit makan)
  • Jika tabungan makin berkurang – cobalah tahan keinginan, gunakan hanya untuk hal-hal yang dibutuhkan.

Adaptasi dengan Covid 19
Sekarang bagaimana caranya kita menjalani hidup di tengah pandemi Covid ini? Bapak Jokowi telah mengajak masyarakat Indonesia untuk hidup berdamai dengan virus Covid 19. Ini bukan berarti kita pasrah kepada keadaan, bukan pula kita menyerah apalagi terserah. Bukan! Ini adalah sebuah perlawanan terhadap virus ini. Para ahli telah mengatakan bahwa jika pandemi ini berakhir, bukan berarti virus Korananya hilang dari bumi. Virus ini akan tetap ada, namun kita bisa menghindarinya dengan cara hidup beradaptasi dengan virus. Itulah sebabnya gaya hidup kita harus berubah, jika tidak kita akan punah. Bagaimana caranya? Ikutilah protokol kesehatan mencegah infeksi virus Korona. Inilah protokol kesehatan versi saya.

  • Jaga kesehatan diri dan jaga kesehatan rohani
  • Tingkatkan imunitas dan bangun spiritualitas
  • Jauhi kerumunan tetapi dekati Tuhan
  • Jaga kebersihan tangan dan kebersihan hati
  • Kenakan masker untuk mulut dan firman Tuhan untuk pikiran.

Pilihan ada di tangan kita, mau berubah atau punah? Hidup memang tidak mudah, tetapi bisa mudah jika mau berubah. Jangan lawan gelombang, berselancarlah diatas gelombang, maka kita akan bertahan. Ketahuilah mereka yang menantang gelombang pasti tenggelam.

Amsal 22:3 
Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.

Hidup adalah pilihan, pilihlah dengan banar dan putuskanlah dengan bijak, berubah atau punah.

2. Sadarilah bahwa hidup berjalan secara seimbang
Ayat :12 
Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Perhatikan frase “aku tahu” Ini menunjukan bahwa rasul Paulus mengerti, faham, sadar bahwa hidup ini berjalan secara seimbang. Antara kekurangan dan kelimpahan, antara kenyang dan lapar, suka dan duka, sehat dan sakit, dll.

Kita tidak bisa memilih satu bagian saja, kita harus menerima keduanya bagi keseimbangan hidup. Sadarilah kenikmatan hidup terjadi justru karena ada hal-hal yang buruk terjadi. Misalnya:

  • Kenyang : Kenikmatan kenyang bukan karena makanan yang enak, tetapi karena ada lapar.
  • Kebahagiaan: Kita bahagia karena ada duka (Ukuran kebahagiaan sebanding dengan kesulitan yang dialami).

Sebab itu syukuri saja, apapun yang terjadi, yakinlah semuanya terjadi untuk kebaikan kita.

Selain rasul Paulus, Ayub juga memahami bahwa kehidupan dibangun dengan keadaan baik dan buruk.

Ayub 2:10 
Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Demikian juga dengan raja Salomo, dalam Pengkhotbah 3, ia memberitahukan kepada kita bahwa hidup dibentuk dari dua pengalaman yaitu:

  • ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal;
  • ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
  • ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan;
  • ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
  • ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa;
  • ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
  • ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu;
  • ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
  • ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi;
  • ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
  • ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit;
  • ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
  • ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci;
  • ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Pada akhirnya Salomo menarik kesimpulan bagaimana menyikapi kehidupan ini.
Pengkhotbah 7:14 
Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.

Jadi, jika kita ingin bertahan dalam kehidupan mulailah berubah, pahamilah bahwa hidup ini berjalan secara simbang. Jangan hanya mengharapkan kesenangan, syukurilah untuk setiap kesulitan.

3. Percayalah, Tuhan memberi kekuatan untuk menanggung segala sesuatu.
Ayat 13 – Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Inilah yang menjadi rahasia kekuatan rasul Paulus, dia tetap kuat sekalipun menghadapi persoalan berat, tidak menyerah walau dihimpit berbagai masalah, dia tegar walau sering mengalami masa sukar. Sebab kekuatannya bukan dari dirinya sendiri tetapi ada di dalam DIA. Ketika rasul Paulus ada di dalam Dia, di dalam Tuhan, maka Tuhanlah yang memberikan kekuatan kepadanya sehingga mampu menanggung segala perkara. Saat dia lemah, Tuhan memberi kekuatan. Saat dia susah, Tuhan memberi penghiburan. Saat dia berputus asa, Tuhan memberi harapan. Saat dia menghadapi kesulitan, Tuhan memberi pertolongan. Itulah sebabnya tidak ada perkara yang sukar atau berat bagi rasul Paulus, karena kekuatannya ada di dalam Tuhan.

Di masa sukar seperti ini, jangan lari dari Tuhan, tetaplah tinggal di dalam Tuhan. Ingatlah, orang-orang yang tinggal di dalam Dia akan selalu memiliki kemampuan untuk bertahan, orang-orang yang tinggal di dalam Dia selalu punya kekuatan untuk meraih kemenangan. Tuhan Yesus berkata: di luar Aku, engkau tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam kitab Rut dikisahkan, bahwa di masa kelaparan Elimelek dan keluarganya tinggalkan Betlehem dan pergi ke Moab. Apa yang terjadi selanjutnya? Di Moab, yang diharapkan dapat memberi kehidupan justru memberikan kematian, Elimelekh dan kedua anaknya yaitu Mahlon dan Kilyon mengalami kematian. Dengar, “Tidak semua orang merentangkan tangan saat kita datang meminta pertolongan” sebab itu tetaplah tinggal di dalam Tuhan.

Nabi Yesaya berkata: Yesaya 40:31  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab ketika Tuhan Yesus naik ke sorga, Dia tidak tinggalkan kita sendirian, Dia berikan Roh KudusNya menjadi penolong bagi kita.

Yohanes 14:16 
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

Apapun yang sedang saudara alami, seberat apapun tekanan yang dipikul, ingatlah ada Roh Kudus yang menolong kita. Jangan menyerah, teruslah melangkah, percayalah Roh Kudus akan memberikan kekuatan dan kemenangan hingga akhir perjalanan. Tuhan memberkati. KJP!

HIDUP ADALAH KRISTUS DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Kenaikan Tuhan Yesus, 21 Mei 2020)

Filipi 1:21
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”

Kenaikan Yesus ke sorga bukan hanya sebagai peringatan bagi kita tetapi, hal ini juga akan menjadi pengalaman kita. Yang menjadi pertanyaan adalah, orang Kristen seperti apa yang akan diangkat ke sorga? Jawabannya adalah orang kristen yang menerapkan prinsip seperti yang diterapkan oleh rasul Paulus, yaitu: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).

Dari banyak kata yang terdapat dalam ayat ini, mari kita melihat terlebih dahulu kata mati atau kematian. Firman Allah mengatakan bahwa sejak Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa di dalam taman Eden, maka setiap manusia telah berdosa. Memang setiap orang tua tidak mungkin mengajarkan dosa kepada anak-anak mereka, tetapi ada tabiat dosa didalam diri manusia sehingga tanpa diajar pun manusia cakap dalam berbuat dosa. Roma 6:23a berkata bahwa “upah dosa adalah maut”. Kata maut pada ayat ini bukan lah kematian secara jasmani, tetapi suatu bentuk siksaan yang kekal didalam api neraka.

Apapun latar belakang manusia, dari agama manapun ia, namun manusia tidak bisa mendustai suara hukum bantin atau suara hukum hati nurani. Hal ini merupakan pemberian Tuhan kepada manusia.  Sekalipun manusia tidak mengenal hukum agama, namun setiap orang tidak bisa mendustai hukum hati nurani yang mengatakan bahwa dia berdosa, suatu saat akan mati dan akan dihukum. Hati nuranilah yang akan menegur dan mengingatkan sebagai “alarm” dalam diri manusia.

Jadi, apa solusi agar setelah kematian kita tidak akan mengalami hukuman akibat dosa yang telah kita perbuat? Jawabannya adalah dengan menerapkan prinsip: Hidup adalah Kristus (Filipi 1:21). Hal ini berarti, kita harus menjadikan Yesus sebagai inti dari kehidupan kita, sehingga kematian akan menjadi keuntungan bagi kita. Oleh sebab itu setiap pengikut Yesus harus memiliki komitmen yang kuat untuk mempraktekkan cara hidup seperti yang rasul Paulus terapkan dalam kehidupannya, yaitu: “Hidup adalah Kristus”. Apa yang dimaksudkan dengan hidup adalah Kristus?

  1. Percaya kepada Yesus.
    Pada saat kita percaya, bertobat dan hidup baru kita menjadi anggota keluarga kerajaan Allah dan Yesus ada didalam kita. Saat kita percaya kepada Yesus maka DNA Kristus ada didalam diri kita. Kita dilahirkan kembali dari atas karena pekerjaan Kristus. Sehingga, setiap orang yang benar-benar percaya memiliki potensi untuk menjadi sama seperti Yesus, sebab kita telah dipilih dan ditentukan untuk menjadi serupa dengan Allah (Roma 8:29).
  1. Memuliakan Kristus
    Hidup adalah Kristus berarti kehidupan yang dipakai untuk memuliakan Yesus. Sejarah penyebutan Kristen terdapat didalam Kisah Rasul 11:26, pertama kali Kristen disebut di Antiokhia. Kata Kristen sebenarnya merupakan kata hinaan sebab, orang Roma banyak menganiaya pengikut Yesus. Mereka berpikir bahwa pengikut Yesus telah menjadi saingan bagi Kaisar karena pengikut Yesus tidak mau menyembah Kaisar bahkan mereka rela mati untuk tetap mengikuti Yesus.  Sebab itu pengikut kaisar disebut Kaisarianos, sedangkan orang kristen menjadi Christianos. Christianos berarti:
  • Orang yang telah menjadi milik Kristus dan menjadi satu dengan Kristus
  • Seorang pengikut Yesus adalah orang yang memiliki hayat dan sifat Kristus; ada kesatuan organic yaitu: cara hidup, perilaku, perkataan dan perbuatannya mirip dengan Yesus(1 Petrus 4:16).
  1. Melayani Yesus
    Setiap pengikut Yesus yang prinsip pengiringannya adalah Kristus maka ia tidak akan menjadi penonton di dalam sebuah gereja. Dia akan melibatkan diri, sekecil apapun dari kemampuan yang diberikan Tuhan kepada dia untuk melayani Tuhan. Apa yang akan kita terima kalau kita mengambil bagian apabila kita melayani Tuhan? Yohanes 12:26 berkata bahwa kita akan dihormati Bapa.
  1. Menjadi Terang dan Saksi Yesus.
    Hidup adalah Kristus berarti hidup sebagai saksi Kristus. Itulah sebabnya setiap pengikut Yesus yang memakai prinsip bahwa “hidup adalah Kristus”, di teguhkan oleh Tuhan Yesus untuk menjadi saksi (1 Korintus 1:5-6). Jadi, kalau hidup kita tidak pernah menjadi kesaksian bagi orang-orang disekeliling kita, maka sebenarnya hidup kita tidak pernah menjadikan Tuhan Yesus sebagai pusat kehidupan kita. Kata kesaksian dalam bahasa Yunani adalah Marturion. Dari kata ini maka muncul sebuah kata yang kita dengar yaitu Martyr, yang berarti Syahid. Kata Syahid berarti: senantiasa menjadi saksi.Jadi, pengikut Yesus yang sejati akan berusaha terus bersaksi walau ia harus mengalami syahid. Inilah yang disebut “Hidup adalah Kristus”.
  1. Setia Sampai Akhir
    Orang Kristen yang sabar dan setia sampai akhir hidupnya tetap menjadi saksi Kristus. Artinya, dalam penderitaan apapun ia tetap setia menjadi saksi Kristus. Matius 24:13 berkata, Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Kata bertahan dalam ayat ini dipakai kata hupomeno yang berarti bersabar atau setia kepada Tuhan Yesus walau harus menanggung penderitaan. Para pahlawan iman didalam Ibrani 11:1-35a bersaksi bahwa mereka semua menderita karena mempertahankan iman mereka. Walaupun mereka penuh dengan penderitaan tetapi mereka bertahan. Mereka mengakhiri hidup mereka dalam kesetiaan kepada Tuhan (Ibrani 11:35b-40).

Setiap manusia pada akhirnya akan mati dan dihakimi. Ibrani 9:27 menulis bahwa “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” Inilah yang disebut dalam Roma 6:23a bahwa upah dosa ialah maut sebab, tidak ada manusia yang tidak berdosa, semuanya harus dihakimi. Penghakiman Allah adalah kebinasaan yang kekal didalam neraka, tetapi bagi yang berpegang kepada prinsip “hidup adalah Kristus”, maka bagi orang tersebut kematian bukanlah suatu penghakiman tetapi kematian adalah keuntungan sebab, kematian menjadi saat yang sangat menyenangkan. Kematian orang percaya adalah keuntungan atau saat yang menyenangkan karena:

  1. Kematian orang percaya berarti tidur (Yoh 11:11). Ketika Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus bahwa Lazarus sudah mati, maka Yesus berkata bahwa Lazarus sudah tertidur. Hal yang sama Allah katakan didalam Daniel 12:2. Jadi, kematian bagi orang percaya berarti kita tertidur.
  2. Sebuah istirahat yang membahagiakan (wahyu 14:13). Mereka yang diluar kristus justru menganggap sebagai penderitaan kekal. Tetapi bagi kita orang percaya maka kematian merupakan sebuah istirahat yang membahagiakan.
  3. Kematian menjadi saat yang menyenangkan karena kita dibawa ke Firdaus. Penjahat yang disalib bersama Tuhan Yesus tidak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan “hidup adalah Kristus”. Namun, karena ia percaya kepada maka, ia dibawa ke Firdaus bersama Yesus.

DIBANGKITKAN DARI KEMATIAN
1 Tesalonika 4:16 berkata bahwa “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit”.

Orang-orang yang berprinsip bahwa “hidup adalah Kristus” akan dibangkitkan pada kebangkitan yang pertama. Setelah itu, orang-orang percaya akan diubahkan, kemudian diangkat menyongsong Tuhan ke angkasa. Sedangkan orang yang berada diluar Kristus akan dibangkitkan juga, namun untuk menerima penghukuman.

KESIMPULAN
Jadi, hal ini memberi penjelasan kepada kita bahwa baik orang percaya maupun orang tidak percaya sama-sama akan mengalami kematian. Namun perbedaannya adalah: kematian bagi orang percaya yang berprinsip bahwa “hidup adalah Kristus” adalah hal yang menyenangkan sedangkan kematian bagi orang yang tidak percaya kepada Yesus akan menjadi saat yang menakutkan karena mereka akan menerima penghukuman. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya, kita harus mempertahankan iman kita dan menjadikan Yesus sebagai pusat dari kehidupan kita maka kita akan hidup bersama-sama dengan Dia didalam kerajaan sorga.