GONCANGAN IMAN DI AKHIR ZAMAN – oleh Pdt. J.S. Minandar ( Ibadah Raya-Minggu 18 Juli 2021 )

2 Samuel 22:1-51 (Baca 8-20)

PENDAHULUAN

Judul 2 Samuel 22:1-51 “Nyanyian Syukur Daud” karena Tuhan tolong dan angkat Daud dari gembala domba jadi raja.

2 Samuel 22:1 Tuhan telah lepaskan Daud dari cengkeraman semua musuhnya  dan dari cengkeraman Saul.

Artinya:

  • Sebelum Daud jadi raja Israel, Daud ada di dalam kekuasaan atau cengkeraman musuh-musuhnya selain itu Daud juga ada dalam cengkeraman Saul.

2 Samuel 22:49

Tuhan telah bebaskan Daud dari musuh-musuhnya. Tuhan  meninggikan  Daud  dan membuat Daud sanggup mengatasi musuh-musuhnya  yang  bangkit  melawan  Daud. Dan Tuhan melepaskan Daud dari orang-orang yang membenci Daud.

Artinya, sebelum Daud diangkat dan ditinggikan sebagai raja di Israel, posisi Daud ada dalam kekuasaan musuh  dan  jajahan para penindas.

“Gereja Yang Diangkat dan Memerintah Bersama  Yesus  Dalam  Kerajaan-Nya, adalah Gereja yang bebas (menang)  dari para penjajah dan penindas.

DAUD SALAH MELANGKAH

1 Samuel 27:1 Tetapi Daud berpikir dalam hatinya: “Bagaimanapun juga pada satu hari aku akan  binasa  oleh  tangan  Saul  jadi tidak  ada yang lebih  baik  bagiku  selain  meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari  aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku   akan terluput dari tangannya.”

  • Daud kehilangan iman sehingga ia tidak lagi berpegang kepada janji Tuhan.
  • Padahal Tuhan sendiri yang menyuruh Samuel untuk melantik Daud menjadi  raja Israel.
  • Hal ini disahkan dengan Roh Tuhan ada atas Daud sebaliknya undur dari Saul.

1 Samuel 16:13,14

“Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah  Roh Tuhan  atas Daud. Lalu berang-katlah Samuel  menuju  Rama. Tetapi Roh Tuhan telah  mundur dari pada  Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang daripada Tuhan.”

DAUD BERGABUNG DENGAN MUSUH

1 Samuel 27:2-12

  1. Daud dengan 600 tentaranya bergabung dengan seorang raja kota Gat di Filistin, yang bernama Akhis bin Maok.
  2. Selain itu Daud dan seluruh tentara serta keluarga mendapat fasilitas istimewa untuk tinggal di Ziklag, 1 Samuel 27:1-7.
  1. Tetapi, Daud tidak bekerja dengan tulus dan benar sebab Daud bekerja secara sembunyi-sembunyi.
  2. Yaitu, Daud kalahkan musuh Filistin tapi tidak pernah bawa pulang tawanan.
  3. Daud takut para tawanan melapor apa yang Daud lakukan dalam peperangan.

PENDERITAAN MEMULIHKAN DAUD

Melihat tekanan dan kesulitan yang Daud alami karena Saul…

  • Allah turun tangan dan izinkan Daud alami ujian berat. Tapi  lewat ujian berat  yang  Daud  alami. Daud dipulihkan dan kembali di jalan rencana Allah semula.

UJIAN DAN PENCOBAAN DAUD

1 Samuel 29:1-11

“Daud dikirim pulang oleh orang Filistin”

  • Pencobaan berat Tuhan izinkan, bukan untuk menghancurkan, tapi memulihkan dan membawa Daud (kita) kembali kepada rencana Allah.

1 Samuel 29:1-5

  • Kehadiran Daud dan 600 tentaranya di antara pasukan raja Akhis (raja kota Gat), dipermasalahkan raja-raja kota lainnya.
  • 1 Samuel 29:6-10

Daud dan 600 tentaranya dipecat!

  • 1 Samuel 29:11 

Daud dan tentaranya pulang ke Ziklag.

Firman Tuhan mengatakan kesulitan dengan digenapinya tanda-tanda kedatangan Yesus kedua kali, akan terjadi susul-menyusul.

  • Dibalik semua, Tuhan sedang menyaring, menguji dan melihat apakah kita masuk dalam bagian Pengikut Yesus Yang Sejati atau tidak.

SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA

1 Samuel 30:1-4

  • Saat tiba di Ziklag, Daud dan 600 tantara-nya melihat semua kemah mereka telah dibakar habis dan istri, anak dan keluar-ga mereka telah dibawa sebagai tawanan oleh orang Amalek.

DAUD HENDAK DIRAJAM BATU

Yang lebih fatal, 600 tentara Daud berinisiatif mau melempari Daud dengan batu karena kepedihan hati mereka.

1 Samuel 30:6a “Dan Daud sangat terjepit karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu.

1 Samuel 30:6b

Seluruh rakyat itu telah pedih hati,    masing-masing karena anaknya laki  laki dan perempuan.

Di puncak penderitaan yang  begitu  berat, justru pada saat itulah  Daud alami pemulihan atau dipulihkan  Tuhan.

1 Samuel 30:6c “Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan Allahnya.”

  •  Atas kehendak Tuhan, Daud alami penderitaan yang berat dan bertubi-tubi.
  •  Tetapi, penderitaan tidak membuat iman Daud terpuruk, sebaliknya jadi kuat, bertumbuh dan berdaya tahan.

DAUD ALAMI KEMENANGAN

Melewati penderitaan, ujian dan pencobaan yang begitu berat.

  • Oleh iman, Daud menang atas orang Amalek.
  • Istri, anak-anak Daud dan istri-istri juga semua anak dari 600 orang pasukan Daud, diselamatkan. Tidak ada seorangpun yang tewas oleh orang Amalek, 1 Sam. 30:17-19.

Sebaliknya, Daud mendapat jarahan dari semua kekayaan orang Amalek yang sangat banyak. Dan yang paling utama adalah. Melewati pengalaman pahit yang Daud alami…

1 Sam 29            Daud dan 600 tentaranya di-PHK.

1 Sam 30 –           Ziglag dibakar, istri, anak-anak ditawan.

Tetapi, karena Daud mampu membangun imannya di tengah kesulitan…

1 Sam 30 –           Daud mampu bebaskan pengikut-                                            nya dan kalahkan Amalek.

1 Sam 31 – Tuhan selesaikan musuh Daud (Saul telah mati).

2 Sam 2   –           Dan Daud diangkat menjadi raja.

“Masalah atau kondisi boleh datang menggoncang kehidupan kita, tetapi tetaplah teguh didalam iman kepada Yesus.”

KETAKUTAN dan PENGHARAPAN – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 11 Juli 2021)

Mari kita mulai bahasan kali ini dengan membaca Ibrani 13:6. Siapa yang tidak pernah merasa takut? Saya rasa tidak ada orang yang tidak pernah merasa takut, tetapi yang membedakan rasa takut adalah derajat rasa takutnya. Sama seperti rasa dingin yang membedakan adalah derajat dinginnya.

Rasa takut itu penting dalam hidup manusia. Dalam kajian Psikologi rasa takut bisa dilihat baik dari sisi positif, yaitu menjadi alarm untuk bahaya yang mengancam, maupun sisi negatif, yaitu menjadi penghambat untuk bertindak. Sekarang kalau Anda melihat ke belakang, apa respons Anda jika mengalami ketakutan?

Kita akan belajar hari ini untuk melihat bahwa Allah memakai hal-hal yang menakutkan untuk membuka “jendela kesempatan”. Ketakutan menjadi kesempatan tokoh-tokoh Alkitab ini untuk mengambil keputusan, membuktikan komitmen, dan mengevaluasi diri. Mari kita lihat satu per satu:

  • Daud – melihat kesempatan mengambil keputusan di tengah-tengah hal yang menakutkan yaitu suatu ketidaknormalan. (1 Samuel 17:34-37).
  • Daniel – selalu lolos ketika diuji dengan tantangan maut karena komitmennya pada Allah. (Daniel 2:13-20, Daniel 6:11-29).
  • Paulus – pengalamannya dengan bahaya demi nama Kristus membuat ia terus mengevaluasi diri. (2 Korintus 11:23-28, 2 Korintus 12:9).

Ketiga tokoh yang baru saja kita bahas begitu berbeda situasi dan kondisinya. Namun apa persamaan dari mereka? Ada dua hal: Mereka percaya & berharap kepada Tuhan. Mengenai percaya mari kita baca Galatia 3:5-6. Percaya itu ada jauh sebelum ada hukum Taurat dan Injil. Abraham percaya karena itu ia dibenarkan, bagaimana bentuk percaya kita pada Tuhan?

Berharap adalah sesuatu yang didasarkan pada kemampuan Tuhan, bukan untung-untungan. 1 Timotius 4:10.Kita percaya bahwa Allah mampu, dan pengharapan kepada Allah yang hidup yang akan menghidupkan kita. Kita tidak takut akan penyakit, marabahaya, bahkan kematian sekalipun.

HIDUP BENAR DAN MEMELIHARA IMAN MENJELANG KEDATANGAN YESUS KEDUA KALI- oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya- Minggu, 4 Juli 2021)

2 Timotius 4:7-8
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepada ku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”

PENDAHULUAN
Secara individu, akhir hidup atau garis finish kehidupan manusia berbeda satu dengan lainnya. Tetapi secara umum kita semua ada di akhir zaman atau ada di garis finish dimana kedatangan Yesus kedua kali sudah sangat dekat. Sebab itu, Paulus mengingatkan agar kita memelihara iman. Menjelang kedatangan Yesus kedua kali, kita berada dalam posisi hidup yang berkenan dan iman kita terpelihara sempurna di hadapan Tuhan. Tidak seperti yang Yesus katakan dalam Lukas 18:8b yang berkata: “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah la mendapati iman di bumi?”

Sebab itu agar hidup kita benar dan berkenan serta iman kita terpelihara di hadapan Tuhan saat Yesus datang kedua kali, janganlah kita menjadi pengikut Yesus yang mendengar tetapi tidak melakukan firman Allah.

Matius 7:21-23 “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.”

Ucapan ini Yesus katakan kepada pengikut-Nya, sebab mereka mengaku sebagai pengikut Yesus, tetapi mereka tidak melakukan firman Allah. Ayat 23 menjelaskan bahwa, mereka bangga sebab mereka bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mukjizat. Artinya mereka kelihatan hebat dalam melayani. Tetapi dengan berterus terang Yesus berkata kepada mereka “Aku tidak mengenal kamu!” Orang itu dibuang ke dalam kegelapan yang paling gelap, sebab orang itu mengerti firman Tuhan, tapi tidak taat dan melakukan firman Tuhan. Artinya, orang itu tidak CHRISTIANOS.

MENJADI PENGIKUT YESUS YANG SEJATI
Sebagai pengikut Yesus yang hidup di akhir zaman, dianalogikan seperti berada di garis akhir (finish) dalam pertandingan iman. Kita harus menjadi pengikut Yesus sejati, yang memahami firman Tuhan, terutama melakukan firman Tuhan. Mazmur 19:8-9 berkata, “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengetahuan. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya.”

 Perhatikan istilah:

  • Taurat Tuhan
  • Peraturan Tuhan
  • Titah Tuhan
  • Perintah Tuhan

Empat istilah tersebut di atas, sama dengan: Firman Tuhan atau Firman Allah.

Ada beberapa berkat atau manfaat firman Allah:
1. Firman Tuhan itu sempurna, memberi kesegaran jiwa bagi yang melakukannya.
2. Firman Tuhan itu teguh, memberikan hikmat atau kebijaksanaan bagi yang tidak mengerti kebenaran.
3. Firman Tuhan itu tepat, membuat hati orang yang melakukan firman Tuhan akan bersukacita di bumi dan di surga.
4. Firman Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya artinya membuat mata rohani kita celik (terbuka).

FIRMAN TUHAN MEMBUKA MATA ROHANI
Matius 6:22,23 berkata, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, jika matamu jahat gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Yesus menjelaskan bahwa apabila Yesus datang kedua kali, hidup kita harus terang. Artinya, tidak ada kegelapan atau dosa dalam hidup kita sehingga, hidup dan mata hati kita terang atau benar di hadapan Yesus.

IBLIS BERUSAHA MEMBUTAKAN
Ada  beberapa contoh dalam Alkitab yang menceritakan bagaimana pentingnya mata rohani kita.
1. Penduduk Yabesy Gilead (1 Samuel 11:1-2). “Maka Nahas, orang Amon itu, bergerak maju dan berkemah mengepung Yabesy Gilead. Lalu berkatalah semua orang Yabesy itu kepada Nahas: “Adakanlah perjanjian dengan kami, maka kami akan takluk kepadamu. Tetapi Nahas, orang Amon itu, berkata kepada mereka: “Dengan syarat inilah aku akan mengadakan perjanjian dengan kamu, bahwa tiap mata kanan mu akan kucungkil; dengan demikian aku mengadakan malu kepada segenap orang Israel.”

“Nahas” berarti: Ular. Ular adalah gambaran iblis. Nahas mengancam akan mencungkil mata kanan orang Yabesy Gilead. Di akhir zaman, iblis ingin membuat mata rohani orang-orang percaya menjadi buta. Kalau pandangan kita mulai cenderung negatif akan hal-hal rohani, hati-hati! Jangan-jangan si Nahas akhir zaman telah menyerang kita.

2. Simson
Sebelum matanya buta, oleh penyertaan Tuhan, Simson sanggup melakukan hal-hal yang luar biasa dalam hidupnya.

Hakim-hakim 15:14,15 Ketika Simson berada di Lehi, Simson diserang oleh 1000 orang tentara Filistin. Dengan sepotong tulang rahang keledai, Simson mengalahkan 1000 orang Filistin. Tetapi, setelah Simson buta, maka Simson tidak berdaya. Simson dibelenggu, diikat di tiang, menjadi tontonan dan cemoohan serta bahan lelucon orang Filistin.

Bagaimana bila Yesus datang kedua kali? Bila rohani kita seperti Simson saat ia buta, terikat dan jadi olok-olokan, pasti kita akan terbuang. Tetapi di saat terakhir Simson menang sekalipun ia harus mengalami penderitaan.

3. HIZKIA – Raja Israel, Yesaya 36-39
Yesaya 36:2 bercerita ketika Israel diserang Asyur. Tetapi, Hizkia matanya tidak silau oleh kekuatan Mesir. Hizkia tetap mengarahkan pandangan matanya kepada Tuhan, Yesaya 37:1,14, menceritakan bagaimana Hizkia mengalami kemenangan. Kemudian dalam Yesaya 38:1, Hizkia jatuh sakit dan divonis mati. Sambil menangis, Hizkia memandang kepada Tuhan, sehingga Hizkia sembuh dan mendapat bonus umur 15 tahun dari Tuhan (Yesaya 38:2). Tetapi Yesaya 39:1 berkata bahwa Raja Asyur datang berkunjung seperti teman. Mata Hizkia dibutakan oleh harta yang dibawa raja Asyur. Hizkia ditegur Yesaya karena Hizkia telah menjadi buta rohani, ia tidak peduli nasib generasi selanjutnya dari bangsa Israel, Yesaya 39:6-8.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu kita perlu hidup benar dan memelihara iman kita kepada Tuhan. Ketika kita tidak menjaga hidup kita, maka kita akan mengalami kebutaan-kebutaan rohani yang membuat iman kita lemah, sehingga kita tidak sampai kepada garis akhir.

TUJUAN SEBUAH PERNIKAHAN – oleh Pdt. Anton Lita (Ibadah Raya  – Minggu, 27 Juni 2021)

Kejadian 1:27-28
Allah kita adalah Allah yang peduli terhadap pernikahan. Hal ini dapat kita lihat dalam beberapa hal:

  • Kitab Kejadian dimulai dengan pernikahan Adam dan Hawa.
  • Mujizat pertama yang dilakukan Yesus adalah mengubah air menjadi anggur di dalam sebuah pernikahan.
  • Kitab Wahyu diakhiri dengan pernikahan.

Ini menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang peduli dengan pernikahan. Dia juga sebagai inisiator pernikahan. Lembaga pernikahan pertama kali dibentuk oleh Allah, bukan agama, organisasi, adat, negara, apalagi setan. Karena Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan maka dunia ini penuh dengan cinta.

Kejadian 2:24, berkata bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Pernikahan sudah direncanakan oleh Allah. Tentu di dalam pernikahan juga, ada rencana Allah yang begitu indah. Kejadian 2:18 berkata bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Dalam dunia ini, ada orang-orang khusus yang tidak menikah. Tetapi maksud Allah adalah ketika manusia dipersatukan, maka hal itu akan menjadi lebih baik. Pernikahan dirancang oleh Allah untuk membawa kebahagiaan di dalam rumah tangga, bukan kesengsaraan.

Sebagai anak Tuhan, kita harus mengerti tujuan pernikahan. Apabila kita tidak tahu tujuan pernikahan, maka kita akan sengsara, tidak bahagia dalam pernikahan kita. Tujuan pernikahan bukanlah harta dan popularitas. Apabila hal ini menjadi tujuan dari pernikahan, maka hal itu akan merusak rumah tangga, rumah tangga menjadi perjalanan yang melelahkan, sebab hal ini tidak sejalan dengan tujuan Allah.

Tujuan Allah dalam pernikahan adalah, melalui pernikahan Allah mau gambar Allah terlihat. Allah kita adalah Allah yang tidak kelihatan. Oleh sebab itu Allah mau melalui pernikahan, dunia dapat melihat Allah. Apabila karakter Allah menjadi karakter dalam rumah tangga, maka akan ada sesuatu yang menarik dunia, sehingga akan banyak jiwa yang diberkati. Hal ini tentu bukanlah hal yang mudah, sebab setiap kita pada dasarnya memiliki karakter-karakter yang berbeda. Allah mau karakter buruk kita diubah di dalam pernikahan. Namun hanya Allah yang mampu merubah karakter kita. Bagaimana caranya? Allah memakai orang terdekat untuk mengubah kita, yaitu pasangan kita. Karakter apa yang Allah kehendaki? Sabar, setia, murah hati, penuh kasih, mengampuni, dll. Apabila kita membawa karakter kita, mempertahankan karakter kita, maka hal ini akan merusak rumah tangga. Ketika kita mempertahankan karakter kita, maka hal ini menunjukkan bahwa kita tidak mengerti tujuan Allah dalam sebuah pernikahan.

Efesus 5 :25-28 berkata bahwa sebagai suami istri, kita harus saling mengasihi.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, milikilah karakter Kristus dalam pernikahan kita, maka hal ini akan membawa kita memenuhi tujuan Allah dalam pernikahan kita, sehingga berkat Allah tercurah dalam pernikahan kita (Kejadian 2:28).

BERTAHAN SAMPAI KESUDAHAN – oleh Pdt. J. S. Minandar (Ibadah Raya 2,3 – Minggu, 20 Juni 2021)

Matius 24:13
“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”

PENDAHULUAN
Ada banyak gambaran yang ditulis didalam Alkitab mengenai persiapan kita dalam menanti kedatangan Tuhan.  Namun dalam ayat ini, hidup manusia digambarkan seperti sebuah pertandingan. Kemenangan atau kekalahan kita ditentukan saat kita ada di garis akhir (finish). Contoh: Penjahat yang hampir binasa di garis finish, tetapi karena dia percaya kepada Yesus, akhirnya dia bersama dengan Yesus di Firdaus (Lukas 23:43).

Sebab itu, firman Allah mengingatkan kita akan hal ini: Lukas 18:8b yang berkata, “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah la mendapati iman di bumi?” Menjelang kedatangan Yesus (di garis akhir) banyak pengikut Yesus yang kehilangan iman.

Ada sebuah nasihat D. Eisenhower, mantan presiden USA yang berkata: “Perjalanan hidup manusia satu waktu akan berada di garis finish. Apabila kamu berada di depan garis finish, berlarilah dengan sungguh-sungguh, seolah-olah masih ada orang yang akan mengalahkanmu.”

TEKAD/KOMITMEN RASUL PAULUS
Oleh sebab itu, rasul Paulus bertekad didalam 2 Timotius 4:7,8 yang berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”

Ada tiga hal yang rasul Paulus akhir dengan baik dalam ayat ini:
1. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik.
Saat percaya Yesus kita seperti berada di garis awal pertandingan. Apakah kita telah bertanding dan mengakhiri pertandingan dengan baik di mata Yesus? Jangan bertanding seperti: Matius 7:21-23.

2. Aku telah memelihara iman
Kalimat ini menegaskan bahwa ajaran: SEKALI SELAMAT TETAP SELAMAT atau HYPER GRACE adalah salah dan sesat. Mengapa?  Sebab ayat ini menegaskan bahwa iman kepada Yesus (keselamatan) harus dijaga, dipelihara dan dikerjakan sampai kita berada di garis akhir kehidupan kita (Filipi 2:12).

3. Tersedia mahkota
“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota.”
Firman Allah berkata, Yesus telah menyediakan mahkota kepada pengikut Yesus yang setia sampai di garis akhir.

Ada beberapa macam Mahkota yang Yesus sediakan kepada pengikut Yesus yang setia beriman dan melayani Yesus sampai akhir.

KESELAMATAN, datang dari Yesus sebagai kasih karunia, anugerah atau pemberian karena kita beriman kepada Yesus yang telah menebus dosa kita dengan kematian-Nya di kayu salib (Efesus 2:8,9). Sedangkan MAHKOTA, adalah upah yang kita terima, yang diberikan Yesus kepada kita, karena kita telah bekerja dan melayani serta pengabdian kita kepada Yesus (Matius 10:42)

……bersambung……

Pekerjaan ‘juga’ adalah Pelayanan – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 23 Juni 2021)

Joh 5:17  Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”

 Pendahuluan
Pemahaman yang salah tentang Pekerjaan (akibat dosa ada yang hilang salah satunya pemahaman yang keliru)

  • Pekerjaan untuk mencari uang
    Dari kecil kita sudah diindoktrinasi bahwa orang tua kita bekerja mencari uang sehingga motivasinya adalah uang.
  • Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan satu hari istirahat.
    Kita adalah masyarakat yang berorientasi kepada istirahat.  Kita meyakini bahwa hari raya, liburan, dan akhir pekan lebih baik dari hari kerja. Kesukaan terhadap waktu bebas dari bekerja mencerminkan asumsi kita bahwa beristirahat lebih baik dari bekerja.
  • Pensiun adalah sasaran/ tujuan bekerja karena ada tunjangan.

Kita dirancang bukan untuk pensiun (tidak mengerjakan apa-apa) karena Allah tidak pernah pensiun. Kita dapat pensiun dari sebuah organisasi atau jabatan yang spesifik tetapi kita tidak akan dapat berhenti dari kehidupan dan bekerja. Begitu kita berhenti bekerja, artinya kita sudah mati.

Peng 9:10  Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

Mengapa bekerja juga adalah Pelayanan?
1. Allah juga bekerja dalam proses Penciptaan bahkan sampai sekarang Dia masih bekerja.
a.
Allah bekerja dalam pemulihan langit dan bumi pada waktu penciptaan alam semesta ini. Waktu bumi ini belum berbentuk dan kosong, Dia melayang-layang di atas permukaan air. Apa yang dilakukan-Nya? Dia bekerja keras untuk memulihkannya. Dia tunjukkan dengan bekerja. Dia mengucapkan Firman-Nya pada hari yang pertama sampai hari yang ke enam dan semuanya terjadi. Sampai-sampai Dia perlu ‘beristirahat’ pada hari ketujuh.

b. Kita perlu bekerja sebab Allah masih bekerja sampai saat ini. Yohanes 5:17 (TB) Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”

c. Anda keluar dari Allah ketika menciptakan diri kita. Dia memberikan Roh yang abadi potensi kekal. Anda boleh pensiun dari sebuah organisasi atau jabatan spesifik tetapi Anda tidak akan pernah pensiun dari kehidupan dan pekerjaan. Begitu berhenti bekerja anda mulai mati sebab bekerja adalah bagian yang diperlukan dari kehidupan.

2. Pekerjaan diberikan kepada manusia untuk mengeluarkan potensi yang Allah sudah berikan di dalam dirinya.
a. Kejadian 1:26, apakah manusia mampu?
b.
Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Terjemahan KJV: Diperintahkan untuk Fruitful (Berbuah) dan Multiply (melipatgandakannya) Menjadi produktif. Itu sebabnya Allah memberi pekerjaan kepada mereka di Taman Eden.

Kejadian 2:5  belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan (Abad) tanah itu; kata ini dipakai juga dalam arti Pelayanan dan Penyembahan.

Kejadian 2:8  Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

Kejadian 2:15  TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Itu sebabnya pekerjaan bukan untuk mencari uang, uanglah yang mendatangkan seorang bekerja dengan maksimal.

c. Memang setelah Manusia jatuh dalam dosa, bekerja menjadi tidak menyenangkan.

Gen 3:17  Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:

 Gen 3:18  semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;

Gen 3:19  dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

Tetapi Pekerjaan sudah diberikan kepada manusia sebelum manusia jatuh dalam dosa

d. Pekerjaan sudah diberikan Tuhan kepada Adam bahkan sebelum Adam mendapatkan istri.

3. Bekerja menyenangkan hati Tuhan dan Tuhan menghargai orang yang bekerja dengan penuh tanggung jawab.
a.
Mat 25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

 Mat 25:21  Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

b. Itu sebabnya dia membenci kemalasan dan mengatakan kepada mereka yang tidak bekerja mengembangkan talenta mereka.

Mat 25:26  Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

Mat 25:30  Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Prinsip Kerajaan Allah
Mat 6:33  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Penutup (Persiapan Perjamuan Tuhan)
Kita sebagai orang yang ditebus oleh darah Yesus dan menjadi manusia baru, sudah sepatutnya cara bekerja kita harus berbeda dengan orang dunia.

Efesus 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

PERINTAH ALLAH – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 3 – Minggu, 13 Juni 2021)

Ketika mendengar frase ini mungkin beberapa orang dari kita berpikir tentang Sepuluh Perintah Allah, yang berisi tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Tetapi bukan hal itu yang ingin saya bahas kali ini. Perintah Allah yang saya maksud menjadi tema yang saya angkat berangkat dari kenyataan bahwa beberapa kali Tuhan memerintahkan suatu hal secara khusus kepada pribadi-pribadi. Perintah ini secara khusus disesuaikan dengan situasi & kondisi yang dialami pribadi-pribadi tersebut.

Mari kita belajar dari pribadi pertama yang saya jadikan contoh: YOSUA. Yosua 1:1-9.

Tuhan meminta Yosua : “Kuatkanlah & Teguhkanlah hatimu.” Kalimat ini sering kita dengar, dan ini adalah suatu perintah yang diulangi hingga 3 (tiga) kali oleh Tuhan. Artinya apa ini adalah sesuatu yang penting! Situasinya saat itu adalah MUSA sudah mati, dan harapan Israel adalah YOSUA.

Kondisi saat ini dimana pandemi Covid-19 belum juga menunjukkan tanda akan berakhir membuat banyak orang percaya menjadi lemah hati, putus asa dan hilang pengharapan. Tetapi firman Tuhan datang kali ini kepada Anda, kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Anda adalah harapan untuk orang-orang di sekitar Anda, jangan menyerah sekarang.

Pribadi yang kedua, atau lebih tepatnya sekumpulan pribadi, adalah Murid-murid Yesus. Matius 28:19-20.

Yesus meminta murid-murid : “Pergilah & Jadikanlah.” Ini seringkali di dalam tradisi Gereja disebut Amanat Agung. Ini adalah suatu perintah di akhir perjumpaan Yesus dengan murid-muridNYA. Ini adalah perintah yang penting! Situasinya saat itu adalah secara fisik Yesus tidak lagi berada di tengah-tengah dunia. Jadi murid-murid menjadi “Kristus” bagi dunia.

Anda mungkin bertanya mengapa manusia bisa menjadi “Kristus”? Kata “Kristus” diterjemahkan sebagai “yang diurapi”. Adam didesain sebagai “Kristus” pertama, namun Adam gagal. (1 Korintus 15:21-23), kegagalan ini berakibat Adam dan semua keturunannya jatuh dalam dosa, sedangkan upah dosa adalah maut. (Roma 6:23). Puji nama Tuhan ada KARUNIA ALLAH yang didapat bukan karena usaha namun IMAN. (Roma 5:15, Efesus 2:8).

Implikasinya bagi kita seperti ini, kitaa adalah keturunan Adam. Kita semua dilahirkan dari rahim wanita. Sehingga kita hidup dalam kegagalan. Namun kisahnya tidak berhenti di situ. Setiap yang percaya kepada Yesus Kristus dilahirkan dari Allah. (1 Yohanes 5:1). Adam gagal karena itu kita tidak bisa mengandalkan kemanusiaan kita untuk bangkit. Tetapi kita adalah manusia baru, dilahirkan oleh Allah karena percaya pada Yesus. Kita belajar untuk hidup dalam teladan Yesus, kita belajar dari Yesus yang mati dan bangkit (Yohanes 18:4-8, 19:30, Roma 6:5). IA melakukan semuanya untuk memenuhi perintah Allah Bapa. Temukan perintah Allah yang spesifik untuk kita hari ini!

RUANG TUNGGU 3 – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1,2 – Minggu, 13 Juni 2021)

Pendahuluan
Haleluya, Puji Tuhan! Saat ini kita masih belajar tentang  “RUANG TUNGGU” dan sekarang kita masuk bagian 3.

Kita semua mengerti bahwa hidup adalah adalah masa untuk menunggu. Ada orang yang menunggu dengan sabar hanya untuk sebuah kabar, tetapi ada juga yang berjuang mati-matian untuk sebuah kepastian. Kadang-kadang jawaban datang begitu cepat, tetapi tidak jarang penantian begitu panjang dan melelahkan. Itulah konsekwensi dari menunggu.

Dua bagian awal yang telah kita pelajari adalah:
1. Ruang tunggu melatih kesabaran
Ruang tunggu adalah tempat untuk melatih dan meningkatkan kesabaran. Di ruang tunggu kita harus bersabar sebab, waktu Tuhan bukan waktu kita dan caraNya tidak selalu sama dengan cara kita. Kesabaran dibutuhkan saat menunggu karena tidak ada keberhasilan secara instan dan tidak ada sukses tanpa proses.

2. Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi (Luk 24:49) Sebelum pergi melayani murid-murid harus menunggu sampai mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi, mengapa?

a. Keberhasilan tidak ditentukan oleh kemampuan manusiawi tetap oleh kuasa dari tempat maha tinggi (Kisah Rasul 4:13)

b. Tanpa api semua korban adalah kekejian bagi Tuhan. (Imamat 3:5)
Setiap korban yang diletakan di atas mezbah harus dibakar dengan api agar baunya menyenangkan hati Tuhan. Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita, tanpa api Roh Kudus semua persembahan adalah kekejian bagi Tuhan. Tanpa Roh Kudus apapun yang kita lakukan dan persembahkan kepada Tuhan akan berbau kedagingan di hadapanNya. Sebab itu setialah menanti di ruang tunggu Tuhan sampai kita diperlengkapi oleh kuasa dari tempat maha tinggi.

Alasan ketiga mengapa Allah membawa anak-anakNya masuk ruang tunggu adalah:

3. DI RUANG TUNGGU ALLAH MENGUJI IMAN KITA.

Dalam dunia industri atau perusahaan, kita mengenal istilah “Quality Control” yaitu sebuah departeman/divisi memiliki tugas menguji sebuah produk agar tetap sesuai standar, spesifikasi pabrik atau perusahaan sebelum dilepas ke pasaran. Quality Control dilakukan untuk memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan memiliki kualitas sesuai yang telah ditetapkan.

Demikian pula dengan iman kita. Untuk mengetahui kualitas iman kita, kita harus melewati ujian. Salah satu ujian iman adalah “RUANG TUNGGU.” Di ruang tunggu Allah menguji iman anak-anakNya, apakah mereka tetap percaya atau meragukanNya? Di ruang tunggu, apakah kita tetap percaya bahwa Allah berkuasa menggenapi janji firmanNya atau menganggap Allah lupa kepada janjiNya?

Tidak sedikit anak-anak Tuhan gugur imannya saat berada di ruang tunggu. Ketika Allah tidak segera menjawab seru doanya, ia mulai meragukanNya. Saat Allah tidak segera menolong persoalan yang hadapi, ia menganggap bahwa Dia tidak peduli. Saat Tuhan berkata tunggu, ia berpikir bahwa Dia sudah tidak mampu. Ketahuilah, ketika Tuhan berkata tunggu bukan karena Dia tidak mampu, saat Tuhan berkata tunggu bukan karena Dia tidak tahu. Saat Tuhan berkata tunggu, Tuhan sedang melatih dan menaikan iman kita pada tingkatan yang baru.

Saul gagal menunggu saat berada di ruang tunggu.
1Sam 10:8
Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan.”

Setelah Saul diurapi dan dilantik sebagai raja Israel pertama, Samuel memerintahkan agar ia pergi ke Gilgal. Di sana Saul harus menunggu tujuh hari lamanya sampai Samuel datang untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan serta memberikan petunjuk kepadanya apa yang harus dilakukannya.

Tetapi apa yang terjadi? Mari kita lihat 1 Sam 13:6-14
Saul gagal saat berada di ruang tunggu. Ayat 8,9 berkata: Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia. Sebab itu Saul berkata: “Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.” Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.

Sangat disayangkan, sebab Saul gagal menunggu pada detik-detik terakhir penantiannya. Sebenarnya ia telah menunggu kedatangan Samuel selama tujuh hari, tetapi karena Samuel tidak segera datang ke Gilgal dan rakyat mulai terjepit, takut bahkan gemetar melihat hadirnya laskar yang besar, maka ia memberanikan diri untuk mempersembahkan korban bakaran. Ini tidak boleh dilakukan oleh Saul sebab itu tugas imam, sementara Saul bukan iman atau keturuan Lewi. Saul seharusnya menunggu kedatangan Samuel untuk melakukan korban bakaran bagi Tuhan. Akibatnya, Saul ditolak Tuhan dan memindahkan tongkat kerajaan Israel kepada orang lain.

Ayat 13, 14
Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

Pelajaran apakah yang dapat kita petik dari kisah ini?
1. Ketika janji TUHAN belum digenapi, bukan berarti kita harus berhenti menanti.
Samuel telah berjanji kepada Saul bahwa tujuh hari lagi ia akan menyusulnya ke Gilgal untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, serta memberitahukan kepadanya apa yang harus dilakukan sesuai dengan perintah Tuhan. Namun sayang, Saul berhenti menanti, sebelum janji itu digenapi. Saul memilih jalan sendiri, ketimbang mempercayai janji Tuhan yang murni dan teruji.

Jangan berhenti untuk menanti sebelum janji Tuhan digenapi. Tetaplah setia di ruang tunggu Tuhan sampai seluruh janjiNya menjadi kenyataan. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah mengulur-ulur waktu untuk menolong anak-anakNya.

 Luk 18:7,8
Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

2. Tetaplah percaya sebab Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikanNya.
Ayat 11,12
Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kauperbuat?” Jawab Saul: “Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran.”

Saul gagal mempercayai Tuhan. Ia berfikir bahwa Samuel tidak akan datang pada waktu yang telah ditentukan, sementara itu ia melihat rakyat berserak-serak meninggalkannya karena ketakutan terhadap musuh yang hendak menyerang mereka. Saul tidak percaya bahwa Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikanNya. Itulah sebabnya dengan lancang ia mempersembahkan korban bakaran.

Apapun keadaan yang engkau alami tetaplah percaya kepada Tuhan, sebab Dia berkuasa melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Ayub percaya penuh kepada Tuhan
Ayub ditengah-tengah penderitaannya tidak pernah meragukan Tuhan, ia tetap percaya walau keadaan yang dialami berbeda dengan yang diharapkannya.

Ia mengharapkan kemakmuran, tetapi yang dialami kebangkrutan, seluruh harta miliknya dalam waktu seketika. Ia mengharapkan kebahagiaan, tetapi yang dialami adalah kesedihan. Dalam waktu yang bersamaan 10 anak mati bersama-sama. Yang diharapkan kesehatan dan kebugaran tetapi yang dialami adalah sakit sekujur tubuhnya. Dalam kesemuanya itu apakah Ayub kehilangan percayanya kepada Tuhan? Tidak! Ayub tetap percaya bahwa Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikanNya. Dengan penuh iman ia berkata dalam Ayub 42:1,2 : Maka jawab Ayub kepada TUHAN: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

Percayalah bahwa Tuhan tak pernah gagal mengenapi rencanaNya, Tuhan tak pernah lalai kepada janjiNya. Semua yang direncakanNya pasti digenapi, semua yang dijanjikanNya pasti ditepatiNya.

Yosua 23:14
Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.

Iman Abraham
Rom 4:19-21
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Selama di ruang tunggu Abraham tidak pernah ragu, meski tubuhnya sudah sangat lemah tapi imannya tidak menjadi lemah. Walau kondisi fisiknya makin memburuk, tetapi imannya tidak terpuruk. Abraham tetap percaya kepada Tuhan yang berjanji melebihi segala yang telah dijanjikannya. Abraham percaya bahwa Tuhan berkuasa menepati segala yang dijanjikanNya.

Alkitab berkata: terhadap janji Allah, ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah imannya diperkuat dengan penuh keyakinan. Inilah iman yang sejati. Iman yang sejati mempercayai Allah bukan percaya kepada masalah, Iman sejati memandang kepada Tuhan, bukan kepada keadaan.

Saul imannya bukan kepada Tuhan yang berjanji, tetapi kepada keadaan yang terjadi. Ketika ia melihat pasukan musuh datang,  imannya hilang. Saat melihat musuh hendak menyerang, ia kehilangan harapan dan pegangan.

2Kor. 3:4,5
Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.

Inilah iman. Iman itu percaya kepada kesanggupan Tuhan, bukan kelemahan manusia. Iman itu mempercayai kuasa Tuhan bukan kemampuan dan kekuatan manusia. Rasul Paulus sadar ada banyak keterbatasan dalam dirinya, tetapi keyakinannya kepada Allah memberikan kesanggupan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar.

Penutup

  • Jangan berhenti untuk menanti, sebab TUHAN layak untuk dipercayai
  • Jangan berhenti untuk menanti sampai seluruh janjiNya digenapi
  • Saat kita menanti, iman kita diuji agar memiliki kualitas yang tinggi
  • Saat kita menanti dengan percaya, kuasa dan pertolongan Tuhan pasti nyata.

MENJELANG PEMISAHAN GEREJA- Pdt. J. S. Minandar- Ibadah Raya Minggu, 6 Juni 2021

1 Yohanes 2:18
“Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.”

PENDAHULUAN
Alkitab secara rinci menjelaskan peristiwa demi peristiwa yang harus terjadi sebelum Yesus datang kedua kali. Adapun gambar kronologisnya adalah sebagai berikut:

MUNCULNYA ANTIKRISTUS
Yohanes telah bernubuat: Sebelum Yesus datang kedua kali, bahwa “Seorang antikristus akan datang”. Siapa yang dimaksud seorang antikristus? Kata “seorang” berarti antikristus bukan setan, iblis, monster, makhluk gaib, dsb. Selain itu kata seorang antikristus memberi pengertian bahwa oknum atau tokoh antikristus itu hanya satu orang, yang banyak adalah pengikutnya.

“Akan datangberarti, oknum antikristus belum datang, atau belum menyatakan diri. Sebab tokoh antikristus baru menyatakan diri apabila ayat ini telah digenapi, yaitu: 2 Tesalonika 2:7-8, yang berkata “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau la datang kembali.” Ayat ini menjelaskan bahwa ada antikris belum datang karena “ada yang menahannya”. Yang dimaksud menahannya disini adalah gereja Tuhan. Apabila gereja Tuhan telah disempurnakan barulah antikris akan menyatakan dirinya.

“Sekarang telah bangkit banyak antikristus”. Maksud ayat ini adalah banyak orang-orang yang hatinya dikuasai oleh roh-roh antikristus. Khususnya di akhir zaman ini kita dapat melihat dari perilaku, sikap dan kegiatan mereka, teror, bom bunuh diri dan kegiatan lain yang mereka lakukan. Ayat ini ditulis Yohanes sekitar tahun 90-95 M, sekitar abad pertama. Pada saat itu saja sudah banyak orang yang dikuasai roh antikris, apalagi dengan zaman sekarang. Kita dapat melihatnya dalam kehidupan sehari-hari.

“Itulah tandanya, waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.” Firman Allah mengingatkan kita bahwa, kita telah berada di penghujung zaman. Bukan saatnya kita berkompromi dengan kejahatan, dosa, mengabaikan ibadah, dan mengabaikan kekudusan. Tetapi sebaliknya saatnya kita harus sungguh-sungguh bertobat, makin setia, rajin, taat, hidup kudus dan benar di hadapan Tuhan. Bekerja dan mencari nafkah adalah keharusan, tetapi fokus kita bukan lagi kepada dunia ini.

1 Yohanes 2:18-19 berkata, “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar- benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh- sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita; niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”

Di ayat 19 rasul Yohanes mengingatkan bahwa menjelang Yesus datang kedua kali, roh antikris membuat orang percaya beralih menjadi pengikut antikristus. Siapakah mereka?

Dari manakah mereka berasal? Apa sebab mereka menjadi pengikut antikris?

1 Yohanes 2:19 berkata, “Memang mereka berasal dari antara kita”. Artinya, ada orang-orang yang awalnya menjadi pengikut Yesus. Tetapi karena tidak sungguh-sungguh termasuk kita (tidak sungguh-sungguh dalam iman kepada Yesus), maka mereka beralih menjadi pengikut antikristus. Bahkan 1 Yohanes 2:19 menjelaskan bahwa tokoh antikristus awalnya bersama-sama kita, tetapi karena tidak sungguh-sungguh bersama-sama kita, akhirnya menjadi pelawan Yesus.

Perhatikan beberapa hal dibawah ini:

  • 12 maha malaikat di sorga satu jatuh karena kesombongan, yaitu Lucifer (Yesaya 14:12-16).
  • 12 anak Yakub, satu jatuh karena zina, yaitu Ruben (1 Tawarikh 5:1).
  • 12 murid Yesus, satu jatuh karena tamak akan uang, yaitu Yudas (Matius 26:14-16).
  • 12 rasul akhir zaman, karena tidak sungguh-sungguh, 1 jatuh karena sombong, zina dan tamak akan uang — antikristus (Wahyu 8:10,11).

TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH
Apa arti “tidak sungguh-sungguh” di ayat ini? Dalam Yohanes 15:1-8, hubungan Yesus dan kita (pengikut-Nya) digambarkan seperti pokok anggur dengan rantingnya. Pengikut Yesus yang sejati, digambarkan seperti ranting anggur yang melekat erat dan kuat pada pokoknya. Dalam Yohanes 15:4 kata tinggal (tinggallah) dalam bahasa Yunani: MENO, artinya tertanam secara tetap; terus menerus; berlanjut; permanen, tidak bisa digeser atau tercabut. Bagaimana kualitas pengiringan kita setelah kita percaya dan menjadi pengikut Yesus?

PENGIKUT YESUS YANG SEJATI
Seperti apakah pengikut Yesus yang tertanam; permanen; tidak goyah? Sebuah contoh dalam Alkitab menceritakan tentang jemaat di akhir zaman yang benar-benar siap menyambut kedatangan Yesus kedua kali (Kisah Rasul 2:41-47). Ada beberapa hal yang mereka lakukan sehingga mereka memiliki kualitas yang luar biasa, yaitu:

1. BERTOBAT DAN LAHIR BARU
Kisah Rasul 2:41 “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” Dikatakan mereka “menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis”. Dari kalimat ini, dapat disimpulkan bahwa, jemaat mula-mula adalah jemaat yang sungguh-sungguh melakukan semua Firman Allah.

  • Sungguh-sungguh beriman.
  • Sungguh-sungguh bertobat.
  • Membuktikan iman dan pengiringan mereka dengan cara hidup yang baru, atau kelahiran baru (2 Korintus 5:17).

2. MENCINTAI FIRMAN dan MELAKUKANNYA

Kisah Rasul 2:42 “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

Jemaat yang sungguh-sungguh tertanam dalam Yesus mencintai firman Allah dan melakukannya setiap hari dan tiap saat.

3. MEMILIKI WIBAWA KRISTUS
Kisah 2:43 “Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat.” Tanda pengikut Yesus yang sungguh-sungguh adalah memiliki wibawa Kristus di depan masyarakat, mereka juga dihormati masyarakat (Titus 2:15).

4. PERSATUAN ANTAR JEMAAT
Kisah Rasul 2:44 “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.” Sebab itu tidak ada perselisihan, pertikaian, perseteruan di antara jemaat. Mereka mengasihi, memperlengkapi, mencukupi kebutuhan jemaat sehingga tidak ada yang merasa kekurangan.

5. PRINSIP HIDUP MEREKA: LEBIH BERKAT MEMBERI DARIPADA MENERIMA
Kisah 2:45 “dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Jemaat yang MENO – sungguh-sungguh melekat kuat, permanen (tetap teguh) di dalam Yesus, mereka mempraktekkan firman Allah dengan cara: “Mengasihi Tuhan dan sesama” (1 Yohanes 4:20,21).

6. TEKUN BERIBADAH DAN BERSEKUTU
Kisah Rasul 2:46-47 “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Agar kasih itu bisa terus terjalin dan terekspresi, jemaat sungguh-sungguh menjaganya dengan cara tekun beribadah.

Tujuan utama persekutuan yang mereka adakan adalah:
a. Meningkatkan iman, harap dan kasih jemaat kepada Tuhan
b. Menjalin persekutuan yang lebih erat antar jemaat

PENUTUP
Pengikut Yesus yang tahu membangun persekutuan dengan Tuhan dan sesama, tidak mungkin terseret sehingga beralih menjadi pengikut Antikristus. Amin!

RUANG TUNGGU – 2 –oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 30 Mei 2021)

Pendahuluan
Tema firman Allah hari ini adalah “RUANG TUNGGU” bagian 2. Ketahuilah bahwa hidup manusia di dunia seperti berada di ruang tunggu. Setiap orang sedang menunggu sesuatu yang diharapkan. Setidak-tidaknya kita semua sedang menunggu hari kematian tiba. Pada bagian pertama kita sudah mempelajari sebuah alasan, mengapa Tuhan membawa anak-anakNya masuk ke dalam ruang tungguNya.

1. RUANG TUNGGU MELATIH KESABARAN
Ruang tunggu adalah tempat untuk melatih dan meningkatkan kesabaran. Orang-orang yang memiliki kesabaran, memiliki kemampuan untuk tetap tinggal di ruang tunggu sampai seluruh kehendak Allah digenapi. Mengapa harus sabar berada di ruang tunggu?
a. Tuhan bertindak sesuai waktu dan caraNya sendiri.
b. Tidak ada keberhasilan secara instan dan tidak ada sukses tanpa proses

Sekarang marilah kita belajar bagian kedua, mengapa Tuhan membawa kita berada di ruang tungguNya adalah:

2. Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi

Luk 24:49
Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”

Kepada murid-muridNya Tuhan Yesus berpesan agar tetap tinggal di kota Yerusalem sampai mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi. Murid-murid harus menunggu dengan setia sampai mereka dipenuhi kuasa Roh Kudus. Alkitab mencatat ada 120 murid yang dipenuhi Roh Kudus pada hari Pantekosta.

Mengapa murid-murid harus menunggu sampai diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi?

1). Keberhasilan tidak ditentukan oleh kemampuan manusiawi tetap oleh kuasa dari tempat maha tinggi
Kisah Rasul 4:13
Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.

Murid-murid adalah orang-orang biasa, tetapi melakukan hal-hal yang luar biasa. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang tidak terpelajar namun dapat melakukan perkara-perkara besar. Semuanya ini terjadi bukan karena pengetahuan yang mereka miliki, bukan pula oleh pengalaman yang telah mereka alami, tetapi semua terjadi oleh karena Roh Tuhan yang menyertai.

Sadarilah bahwa keberhasilan dalam pelayanan selalu berkaitan Roh Tuhan, tidak pernah terjadi oleh sistem, struktur organisasi, metode yang digunakan, ataupun program yang dijalankan. Dalam sebuah proses, sistem, metode program memang dapat meningkatkan kehidupan, tetapi kuncinya adalah Roh Kudus itu sendiri.  Sadarilah tanpa Roh Tuhan, sistem tidak ada gunanya, metode tak ada fungsinya dan rencana tak ada faedahnya, tetapi  apabila ada Roh Tuhan, maka metode, rencana, program dan sistem dapat saja menjadi sangat efektif. Jadi masalah terpenting bagi kita bukanlah semata-mata mengadakan penggantian sistem dan metode, tetapi  “mengupayakan” adanya Roh Tuhan yang diperlukan untuk terjadinya pertumbuhan.

Lihatlah gereja mula-mula, mereka tidak memiliki metode, sistim, program tetapi mereka memiliki orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus. Bedanya dengan gereja modern, mereka memiliki struktur yang baik, program yang bagus, metode yang tepat guna tetapi kehilangan kuasa dan urapan Roh Kudus. Akibatnya gereja menawarkan keindahan bangunan, kenyamanan dalam ibadah, dan tampilan/pertunjukkan yang menarik tetapi kehilangan kuasa di dalamnya. Mengapa semuanya ini terjadi? Karena gereja/orang-orang percaya telah meninggalkan ruang tunggu Tuhan. Kita lebih tertarik dengan sesuatu yang instant dari pada menunggu lama-lama di hadirat Tuhan. Inilah saatnya kita kembali menanti kuasa Ilahi sebelum melayani. Percayalah jika Roh Kudus mengurapi maka perkara-perkara besar pasti terjadi.

2). Tanpa api semua korban adalah kekejian bagi Tuhan.
Imamat 3:5
Anak-anak Harun harus membakarnya di atas mezbah, yakni di atas korban bakaran yang sedang dibakar di atas api, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.

Setiap korban yang diletakkan di atas mezbah harus dibakar dengan api agar baunya menyenangkan hati Tuhan. Dengan kata lain jika korban yang diletakkan di atas mezbah  itu tidak dibakar maka itu akan menjadi kekejian bagi Tuhan, sebab daging korban itu akan membusuk dan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Jangankan Tuhan, kita saja tidak suka untuk mencium bangkai, bukan?

Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita, tanpa api Roh Kudus semua persembahan adalah kekejian bagi Tuhan. Tanpa Roh Kudus apapun yang kita lakukan dan persembahkan kepada Tuhan akan berbau kedagingan di hadapanNya. Sebab itu setialah menanti di ruang tunggu Tuhan sampai kita diperlengkapi oleh kuasa dari tempat maha tinggi.

Dalam kitab 1 Raja-raja 18:20-36 kita dapat melihat kisah antara nabi Elia dan nabi-nabi Baal. Nabi Elia menantang nabi-nabi Baal untuk membuat mezbah korban namun tidak boleh meletakan api di atasnya. Mereka harus meminta api kepada Baal dan Elia meminta api kepada Allah Israel. Pada akhirnya, mezbah korban Elia dibakar oleh api dari Tuhan, tetapi hingga petang hari mezbah korban nabi-nabi Baal tidak ada api yang membakarnya.

Dari kisah ini kita dapat menarik pelajaran perbedaan antara korban nabi-nabi Baal dan korban nabi Elia

Korban Nabi Baal
– Tidak dibakar dengan api
– Pertunjukan
– Kedagingan
– Mencari pujian, imbalan, bayaran
– Memberi sekedarnya

Korban nabi Elia
– Dibakar dengan api
– Persembahan
– Korban
– Memberi dengan pengorbanan
– Memberi sepenuhnya

Rom 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Rasul Paulus menasehati jemaat Roma agar mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup dan sejati. Persembahan yang sejati harus dibakar oleh api, agar kedagingan mati. Sadarilah selama masih ada kedagingan semua persembahan tidak diterima Tuhan. Jadi letakanlah dirimu di atas mezbah, dan relakan api Tuhan membakarmu agar menjadi persembahan yang berbau harum bagi Tuhan.

Tetaplah tinggal di ruang tunggu, Tuhan memberkati. KJP!!