Tantangan Dalam Pertandingan Iman – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Sulung – Minggu, 5 Januari 2020)

1 Korintus 9:24-25

PENDAHULUAN
Berbicara tentang kehidupan, firman Allah mengumpamakan bahwa hidup manusia di dunia ini seperti:

  • Yosua 1:8 – sebuah perjalanan panjang
  • Ayub 7:1 – orang yang sedang bergumul
  • 1 Korintus 9:7 – seperti orang berperang
  • 1 Korintus 9:24 – seperti arena pertandingan

SEJARAH PERTANDINGAN
Sebuah pertandingan dalam sejarah olimpiade Yunani, tidak semua orang dapat mengikuti  pertandingan di arena perlombaan. Ada syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang ingin bertanding. Syaratnya antara lain:

  1. Harus orang merdeka bukan budak.
  2. Berstatus warga negara
  3. Mengikuti pelatihan
  4. Memiliki dedikasi dan berdisiplin
  5. Diperkenalkan (nama dan asalnya disebut) saat perlombaan

Kelima syarat ini harus dimiliki oleh setiap orang yang akan mengikuti sebuah pertandingan. Jika tidak memenuhi syarat pertandingan, mereka akan gugur. Dalam kekristenan pun, ada syarat dan ketentuan. Karena orang yang mengikuti pertandingan rohani (iman) adalah orang yang telah percaya kepada Yesus; lahir baru dan namanya sudah tercatat di dalam kerajaan Surga. Artinya, tidak semua orang di dunia ada di arena pertandingan iman. Orang yang  ada di luar Kristus, tidak turut berlomba. Arena menuju kemuliaan adalah waktu yang kita miliki sekarang ini. Namun dalam arena pertandingan iman pasti ada tantangan, sebab itu untuk  jadi pemenang, membutuhkan disiplin rohani; asupan gizi rohani; diperlukan latihan rohani tiap-tiap hari; memelihara stamina rohani dan berjuang dengan gigih.

GAMBARAN KEKRISTENAN dan PERJALANAN BANGSA ISRAEL
Berbicara tentang pertandingan iman, kisah bangsa Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir ke tanah Kanaan dapat kita pelajari, karena dapat dikatakan relevan dengan perjalanan kita dari dunia ini menuju Kanaan Samawi, Sorga yang kekal.

Jika diperhatikan perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan seperti dalam  pertandingan, pergumulan, perjuangan dan peperangan yang harus dimenangkan oleh bangsa Israel. Demikian kita sebagai orang percaya, kita sedang bertanding untuk bisa sampai di Tanah Kanaan Samawi, yaitu Surga dan hal ini sesuai yang dijelaskan Paulus kepada jemaat Korintus dalam 1 Korintus 10:1. Sebagaimana bangsa Israel bisa melintasi Laut Teberau dengan cara ajaib, setiap pengikut Yesus juga melintasi laut kematian oleh korban Yesus di kayu salib, sehingga kita sekarang ada di jalur menuju Surga kekal. Jadi Israel dapat melintasi laut Teberau karena Tuhan menyertai mereka. Sebab untuk menuju Tanah Perjanjian , yaitu Kanaan, kita dapat melintasi Laut Kematian oleh korban Yesus di kayu salib sehingga sekarang kita ada di jalur menuju Tanah Perjanjian, Sorga yang mulia.

1 Korintus 10:2-4, bangsa Israel akan mati di padang gurun apabila mereka tidak mau berhimpun untuk mengumpulkan roti manna dan memakannya. Jemaat (pengikut Yesus yang sejati) juga harus setia ibadah makanan rohani, yaitu firman Allah dan kehadiran Roh Kudus yang menyegarkan  rohani. Itu sebabnya “jangan tinggalkan ibadah”.

JAMINAN TUHAN
Kalau kita cermati 1 Korintus 10:2-4, sebenarnya tidak ada satu pun dari bangsa Israel yang  gagal. Mengapa? Sebab, Tuhan sudah sediakan semua kebutuhan bangsa Israel.  Mereka  hanya  dituntut  patuhi pimpinan Tuhan, mereka pasti akan sampai di Tanah Kanaan. Tetapi, selanjutnya dikatakan dalam 1 Korintus 10:5, bahwa Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Bangsa Israel gagal masuk ke tanah perjanjian karena Allah tidak berkenan kepada bangsa Israel. Dan hal ini harus menjadi contoh dan peringatan bagi kita yang hidup di akhir zaman (1 Korintus 10:6a). Artinya, kegagalan bangsa Israel jangan sampai terulang dalam diri kita. Walaupun kita sudah ada di jalan menuju sorga tetapi kita gagal karena kita seperti atlet yang  tidak taat dengan aturan pertandingan.

5 (LIMA) KESALAHAN BANGSA ISRAEL
Kesalahan yang dilakukan bangsa Israel yang menyebabkan mereka gagal masuk Kanaan, yaitu:
1. Menginginkan hal yang jahat
1 Korintus 10:6b “Supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat.” Peristiwa ini dicatat dalam kitab Bilangan 11:4-6, dimana bangsa Israel bosan dengan manna yang mereka makan tiap hari. Mereka menginginkan menu Mesir. Dan arti rohaninya, orang Kristen yang sudah percaya Yesus, tapi hidupnya masih dikuasai keinginan daging yaitu hawa nafsu, 1 Yohanes 2:16. Penyebabnya Bilangan 11:4, ada orang bajingan yaitu orang Mesir yang cuma ikut-ikutan, merupakan gambaran orang Kristen yang hanya ikut-ikutan (Keluaran 12:28).

2. Menjadi penyembah berhala (1 korintus 10:7)
Peristiwa ini dicatat dalam Keluaran 32:1-6, lama bangsa Israel tidak melihat nabi Musa sebagai pemimpin mereka. Sebagai gambaran bahwa dalam menantikan kedatangan Yesus kedua kali, banyak orang kehilangan iman; goyah lalu berpaling dan berkompromi dengan penyembahan-penyembahan lain. Yesus ingin kita setia, apa pun yang terjadi, Matius 24:12,13 “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi  dingin. Tetapi  orang  yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”

3. Melakukan percabulan
1 Korintus 10:8 “Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan beberapa orang dari mereka sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.” Dosa zinah sama dengan dosa tidak setia. Kisah ini tercatat dalam:

a. Bilangan 22 – Balak, raja Moab ketakutan, lalu meminta jasa dari Bileam untuk mengutuk bangsa Israel.
b. Bilangan 23,24 – Bileam bukan mengutuki Israel tetapi memberkati karena bangsa Israel, berada pada posisi formasi yang Allah tetapkan. Perhatikan gambar! Bangsa Israel setia dengan posisi mereka saat dalam perjalanan, tetapi ketika bangsa Israel tergoda oleh para wanita Moab, mereka keluar dari formasi yang Allah tetapkan dan berzinah dengan wanita-wanita Moab, yang terjadi adalah kematian bagi yang berzinah. Bilangan 25:9 “Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu orang banyaknya.”

4. Mencobai Tuhan
1 Korintus 10:9 “Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka sehingga mereka mati dipagut ular.” Pada kasus ini, bangsa Israel dengan sengaja menantang Tuhan, yaitu berbuat/melakukan dosa yang sudah diketahui dan dimengerti.

5. Jangan bersungut-sungut
1 Korintus 10:10 “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.”

Berjalan Bersama Tuhan Dengan Hati Yang Bijaksana Di Sepanjang Tahun 2020 – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Tutup Tahun – Selasa, 31 Desember 2019)

Kiranya ini menjadi kerinduan kita bersama jemaat GPdI Mahanaim Tegal yaitu berjalan bersama Tuhan di tahun 2020 namun yang perlu ditambahkan didalamnya adalah hati yang bijaksana.

Musa meminta kepada Tuhan supaya Tuhan menyertai mereka dalam perjalanan sampai ke tanah Kanaan. Musa menginginkan agar Tuhan berjalan bersama dengan mereka. Namun tahukah saudara, sekalipun Tuhan berjalan bersama dengan mereka yang hanya bisa memasuki tanah Kanaan hanyalah Yosua dan Kaleb, selebihnya adalah keturunan bangsa Israel yang lahir di padang gurun. Mengapa demikian? Mereka meminta Tuhan berjalan bersama mereka namun mereka tidak memiliki hati yang bijaksana. Itulah sebabnya Musa di masa tua kehidupannya, dia menuliskan Mazmur 90:12 untuk mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya setelah kita mengevaluasi hari-hari kehidupan kita sehingga pada akhirnya kita memiliki hati yang bijaksana.

Mazmur 90:12 – Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Namun adalah lebih bijaksana bila kita memperoleh hati yang bijaksana bukan karena sudah terjadi suatu musibah atau sakit penyakit yang mengharuskan kita tidak memiliki pilihan yang lain selain hati yang bijaksana. Memperoleh hati yang bijaksana namun hanya memiliki sedikit waktu untuk tidak mengulanginya kembali.

EVALUASI AKHIR TAHUN
Akhir tahun adalah waktu untuk kita mengevaluasi diri. Bapak Gembala dalam firman Tuhan yang disampaikan di minggu terakhir tanggal 29 Desember 2019, menyampaikan topik tentang bagaimana kita mengevaluasi waktu yang ada untuk kita mengerti kehendak Tuhan. Jangan sampai kita berada di situasi  ‘point of no return’, di mana kita tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan dan kekeliruan yang sudah kita lakukan. Evaluasi ini dibutuhkan untuk kita menjalani tahun baru dengan hati yang bijaksana.

Tahun baru adalah sebuah kesempatan karena Tuhan masih mengijinkan kita untuk hidup, berkarya bagi Tuhan dan memuliakan-Nya. Di tahun baru kita memiliki kesempatan untuk lebih mengerti kehendak Tuhan, untuk kembali kepada tujuan Tuhan atas hidup kita, untuk kembali kepada visi Tuhan dalam hidup kita, untuk menemukan ulang prioritas hidup kita, untuk menetapkan ulang apa yang akan kita lakukan (apakah bermanfaat bagi diri sendiri? Berguna bagi orang lain? Tuhan dipermuliakan atau tidak?). Tahun baru juga adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk membuang hal-hal yang buruk, menguburkan semua kekecewaan dan ‘move on’.

BEROLEH HATI YANG BIJAKSANA
Bagaimana mengalaminya?
1Ko 13:13 – Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

1. Berjalan dalam iman, pengharapan dan kasih.
Ibrani 11:6 – Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Berjalanlah dengan iman meskipun ada tantangan dan kesukaran yang akan kita hadapi. Sebuah kata-kata bijak yang berbunyi ‘iman adalah berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk’, adalah hal yang terbaik untuk kita menjalani kehidupan. Tetap percaya kepada Tuhan untuk yang terbaik. Namun jika iman kita tidak terjadi seperti yang kita inginkan, tetaplah memiliki pengharapan.

Ibrani 6:19 – Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.

Pakailah pengharapan ketika apa yang kita imani tidak terjadi. Percayalah pengharapan kita di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan karena pengharapan dalam Yesus seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Jaminannya adalah Yesus yang ada di surga sebagai pengharapan kita.

Roma 8:38-39-  Sebab aku yakin, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Ketika iman dan pengharapan kita tidak menjadi kenyataan pergunakanlah kasih. Caranya adalah renungkanlah apa yang Allah sudah lakukan dalam mengasihi diri kita orang yang berdosa.

Roma 5:8 (TB)  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

2. Berjalan dalam rencana Tuhan (kehendak Tuhan)
Karena kerinduan kita adalah Tuhan berjalan bersama dengan kita maka sangatlah bijaksana jikalau kitalah yang harus menyesuaikan rencana kita terhadap rencana Allah.

Pahamilah apa yang menjadi tujuan Tuhan (purpose) dalam hidup kita. Tidak ada satupun yang diciptakan oleh Tuhan yang tidak memiliki tujuan.

Amsal 16:4 – TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.

Kita dibuat oleh Tuhan untuk menyelesaikan tujuan kita. Tujuan besar kita adalah keselamatan dan Kerajaan Allah datang ke dunia ini, melalui panggilan kita masing-masing. Seperti satu tubuh banyak anggota, demikianlah kita memiliki tujuan dan fungsi  yang berbeda-beda. Untuk mengetahui tujuan Tuhan dalam kehidupan kita, mutlak kita harus terhubung kepada-Nya sebagai sumber hidup kita. Dari tujuan Tuhan (purpose) inilah akan menghasilkan keyakinan yang sangat kuat dalam hidup kita untuk mengerjakan apa yang harus kita kerjakan (conviction). Bahkan sampai kematian pun tidak dapat menghalangi kita dalam menyelesaikan tujuan Tuhan dalam hidup kita.

Kisah 20:22-24 – Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ, selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

Dari keyakinan inilah muncul visi yaitu gambaran masa depan yang selalu terbayang-bayang dalam imajinasi kita dan selalu membayangi kita seolah-olah menuntut diri kita untuk segera bertindak mewujudkannya. Jadi visi itu tidak akan muncul secara tiba-tiba tanpa ada kekuatan dasar yang mendahuluinya. Visi lahir dari tujuan Tuhan dan menjaga kita tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri mengerjakan sesuatu yang tidak perlu atau membuang waktu dengan sia-sia. Visi membantu kita membuat perencanaan yang sangat jelas dan pasti.

Dari visi yang sangat jelas inilah muncul sebuah gairah (Passion) untuk segera melaksanakannya sampai selesai. Passion membuat kita sangat senang mengerjakan tujuan hidup kita sekalipun tidak dibayar dengan materi, tidak dapat menghalangi kita untuk terus menyelesaikan tujuan hidup kita.

Gairah untuk menyelesaikan tujuan inilah membuat diri kita segera menindaklanjutinya dengan membuat perencanaan (Planning). Jadi dari sini kita dapat melihat bahwa perencanaan yang kita buat bukan lagi berdasarkan keinginan kita tetapi berdasarkan tujuan Tuhan di dalam kehidupan kita.

3.Tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri
Yosua 1:6 – Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.

Yosua 1:7 – Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.

Godaan yang paling besar yang mau menghalangi perjalanan kita dalam menyelesaikan tujuan Tuhan dalam hidup kita adalah godaan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. Untuk hal tersebut mutlak kita masih sangat membutuhkan disiplin rohani dalam perjalanan hidup kita.

DISIPLIN ROHANI
Disiplin menjaga arah perjalanan kita, melakukan apa yang harus dilakukan, tidak membuang sumber daya (waktu) untuk hal yang sia-sia, sehingga perjalanan kita begitu efektif untuk menyelesaikan tujuan Tuhan di dalam kehidupan kita.

Ingatlah bahwa hidup itu singkat dan waktu yang diberikan kepada kita ada masa selesainya. Dan ketika waktunya sudah selesai kiranya tidak ada penyesalan atas waktu yang telah kita manfaatkan seumur hidup kita. Setelah itu akan ada pertanggungjawaban atas waktu dan kesempatan yang sudah diberikan oleh Tuhan. Di situlah ‘point of no return’ kita masing-masing.

My Heart Longs For Christmas – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Natal Sore – Rabu, 25 Desember 2019)

Matius 2:9-12

PENDAHULUAN
Ada kerinduan yang begitu besar dalam hati para Majus untuk bertemu Yesus dan mempersembahkan yang mereka miliki bagi Yesus yaitu emas; kemenyan dan mur. Dan Yesus dapat merasakan kerinduan yang ada di hati para Majus saat itu. Sebab walaupun Yesus masih bayi, IA adalah pribadi badi Allah yang berdiam didalam diri manusia Yesus. Jadi Yesus tahu apa yang dirasakan oleh para Majus. Pertanyaannya adalah apakah saat ini Yesus dapat merasakan getaran kerinduan para majus yang sama, ada didalam diri kita? Karena ada sekian banyak orang percaya yang merayakan natal, adakah yang rindu mempersembahkan sesuatu bagi Yesus?

Mengenai persembahan, mungkin kita selama ini sudah memberikan persembahan kepada Allah berupa talenta, tenaga termasuk kekayaan kita. Namun yang Yesus rindukan bukan hanya persembahan itu saja, Roma 12:1. Yesus rindu kita memberikan persembahan yang terbaik adalah seluruh hidup kita, persembahan hidup yang berkenan kepada Allah sehingga saat Yesus datang kedua kali, kita didapati seperti  para  Majus  yang  mempersembahkan hidup bagaikan emas yang murni; kemenyan terbaik dan mur yang berharga dihadapan Yesus.

BAGAIMANA KONDISI KITA?
Kalau kita lihat diri kita, kira-kira seperti apakah kondisi kita?  Bila Yesus datang, apakah kita siap mempersembahkan diri kita, bagai emas murni, gambaran dari seorang perawan suci bagi Yesus mempelai laki-laki? 2 Korintus 11:2,3. Sebuah ilustrasi raja Salomo untuk menggambarkan Gereja Yang Kudus dan Tidak Bercacat. Dalam Amsal 25:4 “Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah benda yang indah (mulia) bagi pandai emas.” Sanga, adalah sejenis logam yang terkandung dalam logam mulia (emas – perak). Dan, STATUS SANGA, adalah menjadi KOTORAN, di dalam logam mulia. Artinya perhiasan yang masih mengandung sanga, perhiasan tersebut belum murni (masih kotor). Ada beberapa jenis logam sebagai sanga, tembaga, timah putih, besi dan timah hitam. Allah tidak ingin kehidupan orang percaya memiliki sanga atau justru menjadi sanga itu sendiri seperti bangsa Israel dihadapan Yesus. Yehezkiel 22:18,  Tuhan menyamakan Israel seperti sanga dituliskan “Hai anak manusia, bagiKu kaum Israel sudah menjadi sanga…; mereka seperti sanga perak.” Dihadapan Allah mereka seperti kotoran karena hidup yang tidak berkenan dihadapan Allah. Jadi, bagaimana kondisi kita? Apakah masih ada sanga ataukah kita yang menjadi sanga itu sendiri? Sanga harus dibuang.

Jika pandai emas yang malas, membiarkan sanga dalam logam mulia. Hasilnya, perhiasan tidak berkualitas dan nilai jualnya rendah. Sebaliknya pandai emas yang rajin, membuang sanga yang ada dalam logam mulia. Hasilnya, ia memiliki perhiasan berkualitas.

Rasul Paulus juga memberikan ilustrasi kepada Timotius untuk menjelaskan Gereja Yang Mulia – Sempurna dalam 2 Timotius 2:20. Bahwa dalam rumah terdapat berbagai jenis perabot, ada emas, perak, tapi ada  perabot  yang  terbuat  dari  bahan kayu dan tanah liat. Perabot mulia, diperuntukan bagi maksud mulia. Tetapi, perabot yang kurang mulia (kayu dan tanah liat), diperuntukan bagi maksud yang kurang mulia. Rumah yang besar dan perabot yang dimaksud bukan perabot yang jasmania melainkan:

  • Rumah yang besar, yang dimaksud adalah gereja lokal – jemaat
  • Perabot, yang dimaksud adalah diri kita dan anggota jemaat lainnya dalam gereja lokal.

Secara kasat mata, hampir tidak ada bedanya antara individu anggota  jemaat  yang satu dengan anggota jemaat lainnya dalam Jemaat  Lokal. Tetapi, Yesus sanggup melihat  dan  membedakan, mana jemaat yang berkualitas emas, perak dan mana anggota jemaat yang berkualitas kayu dan tanah liat. Jika kita menilai diri sendiri, kira-kira kualitas kita seperti apa di hadapan Yesus? Berapa lama kita ada di rumah yang besar? Sejauh mana perubahan yang saudara alami? Seharusnya kualitas rohani kita berubah jadi semakin mulia, bukan sebaliknya. Sebab rasul Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:16, kualitas kita harus semakin bertambah. Bukan seperti rumah jasmani, yang dibeli. Contohnya perabot dari kayu, tanah liat (keramik) yang diletakkan di rumah. Berapa pun lamanya perabot itu diletakkan, ia tidak akan berubah jadi mulia. Sebaliknya, perabot itu bisa merosot, rusak bahkan hancur. Namun gereja Tuhan yang ada dalam  rumah yang besar yaitu, gereja lokal (Rumah Rohani – Rumah Pemulihan). Tidak sedikit orang, yang  pada awalnya ia percaya, kondisi rohaninya seperti tanah  liat  bahkan  seperti  lumpur. Tetapi  oleh  Firman  Allah  dan  Roh Kudus, diubah jadi mulia seperti  emas atau perak yang mulia.

SIAP DIPROSES
Sekarang, apa yang harus dilakukan supaya selama masih hidup/diberi waktu oleh Tuhan ada di rumah yang besar, yaitu gereja lokal, kita benar-benar diproses dan dibentuk Tuhan menjadi perabot yang mulia dan diperuntukan bagi maksud yang mulia? 2 Timotius 2:21, Perhatikan kalimat “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat.” Jadi untuk dapat menjadi perabot yang mulia, maka kejahatan dan dosa harus dibersihkan dengan firman Allah dan Roh Kudus. Oleh karena itu, saat beribadah jangan perhatian kita dialihkan dengan apapun termasuk handphone. Sebab firman yang didengar akan menyadarkan kita dan saat kembali ke rumah serta beraktivitas, kita ingat firman tersebut serta melakukannya. Roh kudus memampukan untuk melaksanakan. Dan bila terus dilakukan, lambat laun hidup kita semakin serupa dengan Kristus karena kejahatan dan dosa, seperti sanga yang membuat kualitas hidup kita kotor serta merosot dan firmanlah yang menguduskannya.

KUALITAS GEREJA SEMPURNA
Kitab Wahyu menjelaskan tentang Gereja Sempurna dalam Wahyu 21:2 dengan dua gambaran:

  1. Seorang Pengantin Perempuan yang berdandan untuk melayani suaminya, Efesus 5:27.
  2. Kota Yang Kudus, yang bernama Yerusalem Baru, Wahyu 21:10.

Seperti apa kemuliaan Kota Yang Kudus, bernama Yerusalem Baru, yaitu Gereja Sempurna? Perhatikan Wahyu 21:16-22:
1. Kota empat segi, Wahyu 21:16
Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan Ia mengukur kota itu dengan tongkat itu dua belas ribu mil; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama. Bentuknya seperti ruang maha kudus yang ada di Tabernakel, suatu tempat dimana Allah bertahta. Jadi gereja sempurna adalah tempat Allah berdiam, disana ada kemuliaan dan kekudusan Allah.

2. Tembok kota, Wahyu 21:18
Tembok itu terbuat dari permata Yaspis dan kota itu sendiri  dari  emas  tulen, bagaikan kaca murni.

3. Dua belas pintu, Wahyu 21:21,22
Kota itu memiliki dua belas pintu gerbang dan masing-masing memiliki satu mutiara dan jalan-jalan kota itu emas murni bagaikan kaca bening. Mutiara memiliki nilai yang sangat tinggi karena prosesnya. Mutiara tercipta karena ada butiran-butiran pasir yang masuk dalam kerang. Ketika kerang itu terisi dengan pasir maka ia akan membungkus dirinya dengan cairan yang khusus sehingga lambat laun menjadi mutiara. Penderitaan yang kita alami selama hidup di dunia ini akan membentuk kita menjadi gereja yang berkualitas dan mulia.

Biarlah hati kita terus merindukan Yesus dan hidup dalam kehendak Tuhan sehingga lewat proses yang dihadapi kualitas kita semakin mulia dan digunakan untuk maksud yang mulia. Penderitaan adalah jalan menjadi sama seperti Yesus. Semakin mulia dan indah dihadapan Tuhan menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali.

NATAL ADALAH IMPLIKASI ALLAH DIAM DI ANTARA KITA – oleh Pdt. Yohanes Praptowarso – Ungaran (Ibadah Natal Pagi – Rabu, 25 Desember 2019)

Yohanes 1:14


Dalam Yohanes 1:14 dituliskan bahwa Allah berdiam di antara kita. Apakah maksudnya? Dan dikatakan bahwa firman yang adalah pencipta kehidupan telah menjadi manusia. Firman ini tidak sekedar lewat, melainkan tinggal bersama-sama dengan manusia. Firman itu tinggal menunjukkan waktu yang tidak singkat karena ia bersama-sama dengan kita maka firman itu mengenal apa kebiasaan yang kita lakukan, sifat, karakter, masalah dan sakit penyakit yang dialami oleh manusia.

Sekali lagi, Allah tinggal bersama kita, yaitu Manusia Allah menjamin keselamatan sekarang dan yang akan datang. Dalam Ibrani 4:14-15, dituliskan bahwa Yesus sang firman yang menjadi manusia adalah Imam Besar yang turut merasakan segala hal yang kita alami. Itulah mengapa dalam Ibrani 4:16, bila kita menghampiri Yesus maka kita akan mendapatkan pertolongan tepat pada waktunya. Jadi keselamatan yang kita terima bukan hanya nanti saat Yesus datang kedua kali, melainkan sekarang pun kita dapat menikmati keselamatan. Ia menyembuhkan kita dari sakit dan menolong dalam masa kesukaran, tepat pada waktunya.

Dalam 2 Korintus 12:2-4 dituliskan “Aku tahu tentang seorang Kristen empat belas tahun yang lampau–entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya–orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga( was caught up to the third heaven/NASB) . Aku juga tahu tentang orang itu, –entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya —  ia tiba-tiba diangkat  ke Firdaus  dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.” Ini adalah pengalaman rasul Paulus, dimana orang Listra merajam dia dengan batu. Dalam kondisi itu menyaksikan diangkat ke langit ke tiga. Terjemahan NASB menuliskan “The third heaven” atau bahasa tepatnya adalah “Langit Yang Ke tiga”. Bahasa jelasnya disebut Firdaus, sebagai tempat asal Imam Besar kita memulai melintasi segala langit.

The Third Heaven

  • Langit Yang Pertama
    Adalah dunia yang kita hidupi dengan panca indera kita. Segala sesuatu yang dapat dilihat dengan mata kepala kita, yang dapat diraba dengan tangan, yang dapat didengar melalui telinga dan dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan manusia.
  • Langit Yang Kedua
    Adalah sebuah kehidupan yang tidak dapat dilihat dengan mata jasmani manusia, tidak dapat dijangkau dengan pengetahuan teknologi, namun nyata mempengaruhi kehidupan kita di langit yang pertama saat ini.
  • Langit Ketiga
    Adalah lintasan kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia, sekarang dan yang akan datang.  Dan Yesus selalu ada di semua lintasan langit itu sampai saat ini sebagai Imam Besar Agung yang memberikan pertolongan tepat pada waktunya untuk kita.

Manusia-Allah Menjadi Juru Syafaat Kita
Yohanes 1:51 “Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” Jadi malaikat memiliki tugas untuk melayani manusia. Mereka tidak maha hadir seperti Allah, mereka diutus untuk memberikan pesan Allah. Dan Yesus sebagai Imam Besar kita menjadi juru syafaat bagi kita, sehingga melalui Yesus kita berdoa kepada Allah, maka malaikat akan diperintahkan untuk melayani kita, menjaga dan melindungi karena Yesus. Perhatikan Daniel 10:11; Ibrani 1:14; Kisah 10:1-3 dan Lukas 15-25. Malaikat turun dan naik dengan intensitas yang sangat tinggi kepada Anak Manusia karena: “He always lives to make intercession for them.” (Ibrani 7:25).

Manusia- Allah membaptis dengan Roh Kudus
Selanjutnya Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Teologi pantekosta yang kita yakini adalah menerima baptisan Roh kudus. Sekalipun kita sudah menerima berkat dan mujizat, namun itu bukanlah yang terbaik. Sebab pemberian yang terbaik dari sorga adalah Roh Kudus  (Lukas 11:13). Matius 3:11 – Yesus membaptis kita dengan Roh Kudus dan api. Artinya Roh Kudus adalah pribadi Allah yang lain dan menunjukkan kuasa.

Efesus 5:18, Rasul Paulus memberi nasihat agar kita harus penuh Roh Kudus bukan mabuk dengan anggur. Jika seorang ingin mabuk, ia harus meminum minuman dalam jumlah yang banyak. Demikian untuk penuh dengan Roh Kudus harus membiarkan Roh Kudus memenuhi ia sampai melimpah. Dan seorang yang mabuk durasinya paling lama 24 jam. Untuk mabuk kembali, ia harus minum lagi. Roh Kudus harus kita alami setiap hari dan memenuhi kehidupan kita sampai melimpah-limpah.

Ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, maka ia akan menjadi orang yang menang setiap hari, sebab Tuhan beserta dengannya.

Janji Bagi Yang Menang – Wahyu 3:5

  • Barangsiapa menang ia akan dikenakan pakaian putih: artinya ada pakaian kebenaran bagi yang sampai langkah terakhir tetap setia kepada Tuhan.
  • Namamu tidak akan dihapus : orang yang menang namanya tidak akan dihapus.
  • Aku akan mengaku namanya dihadapan Bapa-Ku : ini bentuk penghormatan tertinggi yang TUHAN berikan bagi orang yang menang.

Dia Allah Imanuel, yang memberikan kemenangan bagi kita. Sebab ia tinggal bersama-sama dengan kita serta mengetahui segala yang kita butuhkan, rindukan dan alami. Tuhan Yesus memberkati.

MEMILIH YANG TERBAIK – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 22 Desember 2019)

PENDAHULUAN
Alkitab mencatat reaksi, sikap dan perbuatan yang dilakukan orang terhadap Yesus setelah mereka mendengar atau melihat secara langsung kelahiran Yesus. Reaksi, sikap dan perbuatan orang-orang pada saat itu adalah cerminan dari apa yang dilakukan orang terhadap Yesus di akhir zaman. Kita perhatikan kisah natal, yaitu tentang reaksi, sikap  dan perbuatan  para orang Majus, raja Herodes dan Imam-imam kepala sehubungan dengan kelahiran Tuhan Yesus, Matius 2:1-12.

ORANG MAJUS
Menurut Herodotus (sejarawan) kata Majus berasal dari kata: Madai atau Magoi yaitu salah satu suku yang ada di Kerajaan Persia (Irak) yaitu orang-orang yang berprofesi sebagai imam di Persia (Irak). Sebab itu mereka juga disebut atau diberi gelar “para bijaksana.” Sikap para Majus terhadap Yesus ketika para Majus tahu dari bintang yang mereka lihat, bahwa telah lahir seorang Raja di atas segala raja, inilah yang mereka lakukan:
1. Tidak menunda waktu
Mereka meninggalkan negeri mereka dan mencari Sang Jalan; Kebenaran dan Hidup yaitu Yesus Raja diatas segala raja. Mereka tidak menunda-nunda waktu. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak sekali-kali menunda-nuda waktu atau kesempatan yang Tuhan beri kepada kita. Kalau tidak, kita akan menyesal selamanya. Sebab waktu atau kesempatan seperti es batu, dipakai atau tidak, ia akan meleleh dan hilang lenyap, Yesaya 55: 6,7.

2. Bersedia berkorban
Para Majus telah melihat bintang, dimana saat itu Yesus, Raja di atas segala raja dilahirkan, Matius 2:2. Tetapi mereka baru bertemu Yesus setelah Yesus berumur 2 tahun. Matius 2:16 menjelaskan bahwa mereka berjumpa Yesus di rumah bukan lagi di kandang yang merupakan tempat Yesus lahir. Diperkirakan jarak tempuh yang mereka korbankan adalah selama 2 tahun untuk bertemu dengan Yesus. Jadi berapa dana yang mereka harus keluarkan untuk perjalanan, konsumsi, akomodasi selama 2 tahun mereka mencari Yesus? Semua mereka lakukan hanya untuk bertemu sang juruselamat yaitu, Yesus Kristus. Demikian halnya, menjelang kedatangan Yesus kedua kali, Yesus mencari Gereja-Nya (orang percaya) yang mencari dan mengasihi Yesus dengan sungguh-sungguh, yaitu mengasihi Yesus dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan segenap kekuatannya berjuang bagi Yesus berapa pun harganya (Markus 12:30).

3. Tidak malu mengaku Yesus bahkan rela mati demi Yesus
Para Majus tidak malu mengaku Yesus di depan Herodes dan orang-orangnya. Matius 2:2 “…dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Namun, menjelang Yesus datang kedua kali, banyak orang yang malu bahkan takut mengaku Yesus sebagai Tuhan. Bahkan ada yang menyembunyikan identitasnya karena malu dikenal sebagai orang Kristen. Maka konsekuensi yang diterima Markus 8:38 “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah Angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Orang yang malu mengaku Yesus, maka Yesus pun malu untuk mengakui dia di hadapan Bapa kelak dalam kemuliaan-Nya.

4. Para Majus rela syahid karena Yesus
Matius 2:3 “Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.” Kata: TERKEJUT dalam terjemahan KJV dituliskan “Troubled – bermasalah”. Lebih jelasnya dalam terjemahan NIV dituliskan “Disturbed –  terganggu; terusik.” Jadi kalau kita baca kisah selanjutnya dalam Matius  2:8  bahwa Herodes menyuruh para Majus ke Betlehem, katanya: ”Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Para majus diperintahkan untuk kembali mendatangi Herodes, padahal Herodes bukan bertujuan menyembah Yesus. Tetapi, Herodes menyuruh para Majus untuk datang kembali kepada Herodes, karena:

  • Herodes ingin mendapat informasi lengkap tentang Raja (Yesus) untuk membunuh Yesus.
  • Menyuruh para Majus untuk kembali kepada Herodes, bukan Herodes ingin menyembah Yesus tetapi Herodes ingin membunuh para Majus. Sebab Herodes terganggu oleh sikap dan iman para Majus yang tidak menyembah Herodes, melainkan menyembah Yesus.

5. Para Majus adalah pengikut Yesus sejati
Kerinduan, kesungguhan, ketulusan, kesetiaan, pengorbanan, keberanian yang begitu besar dalam diri para Majus untuk bertemu dan menyembah Yesus adalah gambaran pengikut Yesus yang sejati yaitu,  Gereja Yang Sempurna. Sebab tanpa beban, para Majus sebelum pulang ke negerinya, mereka bermaksud untuk menemui Herodes sesuai pesan Herodes. Tetapi dalam Matius 2:12, mereka diperingatkan dalam mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes dan pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain bukan kembali pada Herodes.

GEREJA SEMPURNA DISINGKIRKAN
Seperti catatan di atas, bahwa para Majus menggambarkan tentang pengikut Yesus yang sejati atau gereja sempurna. Sedangkan Herodes adalah gambaran Antikris, yang berusaha membunuh pengikut Yesus. Sebab menjelang kedatangan Yesus kedua kali, akan datang penguasa dunia yaitu antikristus. Seluruh bangsa dan negara di dunia akan ada di bawah kekuasaannya. Salah satu target atau ambisi penguasa dunia – antikristus adalah “tidak  ada  yang  boleh  menyembah  YESUS, kecuali menyembah iblis dan antikristus.”

Wahyu 13:4 “Dan mereka menyembah naga (Iblis) itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang (antikristus) itu. Dan mereka menyembah binatang (antikristus) itu sambil berkata: “Siapakah yang sama seperti binatang (antikristus) ini? Dan siapakah yang dapat  berperang melawan dia?”

KEKEJAMAN ANTIKRISTUS
Setiap pengikut Kristus yang tidak mau tunduk kepada perintah binatang yaitu (antikristus) akan dianiaya sampai ia mau menyembah antikristus atau bertahan dan alami syahid, Wahyu 13:10. Tetapi bagi “pengikut Yesus sejati” (Gereja Sempurna) yang kualitas pengiringannya sama seperti para Majus akan diluputkan dari kekuasaan antikristus. Dengan cara pengikut Yesus yang sejati (Gereja Sempurna) akan disingkirkan ke padang gurun, bebas dari kekuasaan antikristus, Wahyu 12:6. Dengan cara apa Gereja Sempurna disingkirkan? Perhatikan Wahyu 12:14 – dengan kekuatan sayap dari burung nasar, yaitu kekuatan supranatural yang dari Allah. Dan di padang gurun, dipelihara Allah seperti orang Israel dipelihara Allah di padang gurun.

Sebaliknya, jangan sampai ada jemaat yang kekeristenannya seperti para Imam dan Ahli Taurat hebat dalam pengetahuan firman Allah. Perhatikan Matius 2:4 menuliskan “Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi. Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Jadi, walaupun mereka tahu dengan detil tentang Mesias (Yesus), mereka tidak mau mencari dan menyembah Yesus karena sebagai orang percaya, mereka tidak mau pikul salib  dan menyangkal diri, Matius 16:24, seperti orang majus yang mencari Yesus.

Pilihan ada di tangan kita, pilihlah yang terbaik yaitu seperti orang Majus yang mencari Yesus dan pada akhirnya akan diloloskan dari maut, yaitu dari kekejaman Herodes yang merupakan gambaran Antikristus.

KEPENUHAN ALLAH DI DALAM YESUS – Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 15 Desember 2019)

Kolose 2:9-12

PENDAHUUAN
Beberapa minggu lalu sudah dibahas tentang ajaran sesat yang berusaha menyesatkan dan menawan orang percaya dengan berbagai ajaran, antara lain menurut Kolose 2:8:

  1. Filsafatnya yang kosong dan palsu
  2. Ajaran turun- temurun
  3. Roh-roh dunia
  4. Tidak menurut Kristus

Jadi ajaran sesat ini begitu menarik namun kosong. 1 Korintus 12:2 menuliskan bahwa ajaran mereka dapat membelenggu atau mempesona. Oleh sebab itu, perlu iman kita bertumbuh didalam Kristus, bukan hanya sekedar percaya saja.

MENGAPA KITA HARUS TOLAK?
Mengapa harus hati-hati supaya tidak mudah terseret oleh ajaran-ajaran; peraturan-peraturan; isu-isu yang tidak sesuai ajaran Kristus? Karena guru-guru palsu bertujuan menawan; menyesatkan dan menyeret jemaat agar keluar dari Kristus dan tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Kolose 2:9 “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”

Apakah yang dimaksud Paulus “Di dalam Dia-lah (Yesus) berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan Allah”? Tentu kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia berbeda dengan binatang. Allah menaruh dalam manusia hati nurani, yang membuat manusia menyadari bahwa ada Sang Pencipta yang menciptakan segalanya, yaitu Sang Maha Kuasa dengan berbagai panggilan atau sebutan diciptakan oleh manusia. Selain itu manusia memiliki kesadaran, naluri atau hati nurani, sehingga ketika manusia melakukan dosa, hati nuraninya menuduh dirinya bahwa ia telah bersalah/berdosa kepada Yang Maha Kuasa dan suatu saat ia akan dituntut.

USAHA MANUSIA
Rasa takut dalam diri manusia inilah yang mendorong manusia untuk mencari dan mendekati penguasa alam semesta, agar ia tidak dihukum. Maka munculah berbagai kepercayaan atau agama, filsafat dan ajaran dengan beragam ritual dengan harapan agar mereka bisa luput dari hukuman. Tetapi solusinya bukanlah dengan usaha manusia untuk mendekati Allah, sebab semua manusia telah berdosa dan tidak layak dihadapan Allah.

Paulus katakan kepada jemaat Efesus dalam Efesus 2:8,9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri.” Firman Allah menegaskan bahwa manusia tidak bisa selamat dari hukuman  dengan usaha atau mengerjakan sesuatu agar Allah membebaskan manusia dari maut. Dosa dalam diri manusia tidak mungkin bisa diselesaikan oleh manusia yang roh-nya; jiwa-nya tubuh-nya kotor karena dosa. Sebab manusia berdosa tak mungkin bisa membersihkan diri dari dosa dengan usaha dan perbuatan.

Solusinya hanya oleh dengan Allah yang tidak berdosa yang dapat menyelesaikan dosa manusia, hanya Allah yang suci, kudus dan tidak berdosa. Sebab itu Yesus berkata dalam Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang  percaya  kepada-Nya  tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Hanya oleh kasih Allah yang besar seseorang mendapat keselamatan bukan usaha manusia.

YANG DILAKUKAN ANAK TUNGGAL ALLAH
Apakah yang telah dilakukan Yesus, Anak Tunggal Allah dalam menyelesaikan masalah dosa? Perhatikan Kolose 2:9 “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke Allahan.” Artinya, Allah yang penuh, yaitu seutuhnya – sempurna, berdiam (berkemah) dalam tubuh manusia, dan tinggal bersama-sama manusia (berimanuel). Jadi manusia Allah yaitu Yesus berkemah dalam tubuh jasmania seperti manusia.

MENGAPA ALLAH HARUS JADI MANUSIA?
Kalau Allah tidak menjadi manusia dengan Allah tidak berdiam secara jasmaniah dalam tubuh Yesus, Allah tidak akan bisa menyelesaikan dosa umat manusia di bumi. Sebab itu, oleh kematian Yesus di atas kayu salib ada jalan bagi manusia untuk mengakhiri masalah yang tak terselesaikan yaitu dosa. Dalam Yohanes 3:16 kata Yesus kepadanya “Akulah  jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Jadi dari ayat tersebut dijelaskan beberapa hal bahwa Yesus adalah:

  • JALAN, artinya jalan satu-satunya untuk menyelesaikan dosa hanya Yesus.
  • KEBENARAN, artinya untuk menjadi benar di hadapan Allah, adalah iman kepada Yesus, sebab oleh Yesus kita dibenarkan dihadapan Allah.
  • HIDUP, artinya hidup untuk masuk ke dalam sorga dan menikmati hidup kekal bebas dari hukuman solusinya hanya Yesus.

PENUTUP
Yohanes 1:16  “Karena dari kepenuhan-Nya (kesempurnaan Yesus sebagai Allah), kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;” Kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikan dan kedatangan Yesus ke dua kali. Kita terima karunia demi kasih karunia (jasmani, jiwani dan rohani) selama di dunia sampai dalam kemuliaan.

Yohanes 1:17  “…sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Oleh Taurat yang dibawa Musa – kita disadarkan bahwa kita sudah berdosa dan harus dihukum. Tetapi, oleh kasih karunia dari Yesus kita dibebaskan dari dosa dan upah dosa yaitu maut/neraka. Taurat tidak memberi solusi untuk menyelesaikan dosa, tetapi kasih karunia adalah diri-Nya, yaitu Yesus diberikan kepada semua manusia.

Firman Allah menuliskan dalam Yohanes 1:18 bahwa tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Yesus yang memperlihatkan Bapa dan Roh Kudus secara utuh. Jadi tak ada yang bisa melihat Allah (Bapa), Roh  Kudus di bumi dan di sorga. Tapi kita bisa melihat Allah, yaitu Bapa dan Roh Kudus secara utuh dalam bentuk/wujud fisik yaitu Tuhan Yesus Kristus (Kolose 2:9).

Perhatikan gambar! Allah tidak dapat dilihat, namun manusia sadar adanya Allah. Namun karena tidak mengetahui Allah seperti apa dan kehendakNya, maka manusia berinisiatif dengan cara mereka sendiri untuk menghampiri Allah. Dan cara mereka tidak ada yang berkenan dihadapan Allah.

Jalan yang benar adalah melalui iman kepada Yesus dan kita dibenarkan dalam Yesus lewat iman kita. Oleh sebab itu, kiranya iman kita tetap berakar dan bertumbuh didalam Kristus dan semakin kuat menjelang kedatangan-Nya.

PENGARUH AJARAN SESAT – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 8 Desember2019)

Kolose 2:6-8

PENDAHULUAN
Dalam Kolose 2:6-8, setiap orang percaya dinasihati agar  “tetap didalam Yesus.” Artinya, kita harus menjadi pengikut Yesus yang sejati, yang menaati firman Tuhan. Caranya kita harus berakar didalam Yesus dan tak tergoyahkan oleh pengaruh apapun. Sebab itu rasul Paulus mengingatkan agar kita berhati- hati terhadap pengaruh ajaran sesat yang semakin berkembang di akhir zaman. Khususnya berhati-hati dengan filsafat yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus (Kolose 2:8).

FILSAFAT YANG KOSONG
Di zaman rasul Paulus melayan saat itu, dunia dikuasai oleh bangsa Yunani karena bangsa Yunani menguasai dunia dengan bahasa, ilmu pengetahuan (filsafat Yunani) dan budaya dan berbagai peraturan khususnya tentang cara hidup. Pada saat itu, ilmu pengetahuan (filsafat Yunani) telah  menjadi  seperti  illah (berhala) bagi masyarakat dunia.

Ada 4 filsuf yang terkenal, antara lain Homer, Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates disusul Plato kemudian Aristoteles, semuanya tewas dengan cara dihukum mati. Kemudian murid Aristoteles yang terkenal ialah Iskandar Agung membawa ajaran yang sudah ia terima dari sang guru sehingga kemana saja ia pergi, ia membawa gaya hidup, budaya dan ajaran/filsafat Yunani. Ia membangun kota di negara-negara yang dikuasainya dan diberi nama Iskandariah.

Berbicara tentang filsafat, firman Allah menjelaskan dalam Kolose 2:8, bahwa ajaran-ajaran mereka begitu menawan. Kata “menawan” mengandung arti memperlakukan pengikutnya sebagai budak filsafat, dengan cara memaksa untuk mengikuti ajaran-ajaran mereka. Sedang kata filsafat mengandung arti mencintai hikmat. Jadi dari segi moral, filsafat yang diajarkan (filsafat dunia) bukan dosa, tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, malah terkesan ajarannya luhur, baik, bijaksana, adil karena filsafat mengajar berbuat baik, amal, ibadah! Tapi ajaran yang baik dan bukan dosa itu menjadi dosa bahkan jahat di mata Tuhan, karena tanpa kita sadari, ajaran – ajaran  yang  diajarkan  membuat  kita terlepas, keluar bahkan terpisah dari Yesus. Sebab segala ajaran diluar Yesus, tidak berkenan dihadapan Allah. Yohanes 15:5c “…Sebab di luar Aku (Yesus) kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Inilah yang rasul Paulus sebut dengan istilah filsafat yang kosong. Oleh karena itu Firman Allah menghendaki agar kita menjadi pengikut Yesus yang sejati, yaitu pengikut Yesus yang taat dan tidak mencampuradukkan dengan cara mengikuti ajaran-ajaran yang lain. Layaknya seorang yang berjalan mengikuti tapak kaki secara presisi. Bukan seolah – olah kita ikuti jejak – jejak tapak kaki yang lain selain jejak tapak kaki yang Yesus tinggalkan, yaitu firman Tuhan. Sehingga kita berjalan bukan menurut jejak kaki Yesus, melainkan jejak kaki ajaran-ajaran diluar Kristus. Pesan firman Tuhan ini menjadi peringatan keras bagi setiap kita termasuk kepada setiap orang tua untuk memperhatikan perkembangan setiap anak kita yang hidup generasi modern. Sebab ajaran sesat sudah semakin berkembang khusunya dalam dunia internet.

Sebuah contoh dalam Alkitab mengajarkan kepada jemaat di Galatia (Galatia 3:1-5). Mereka sudah percaya Kristus dan masuk ajaran yang lain. Meskipun ajaran sesat secara literal nampaknya ajaran mereka tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab, sebab ajaran mereka tidak mengajarkan untuk mencuri, membunuh, berdusta, berzinah, mengingini milik orang, dan tidak menyembah berhala. Jadi ajarannya baik dalam perilaku dan perbuatannya sama dengan Alkitab yaitu tidak melakukan perbuatan jahat atau dosa. Tetap di mata Allah, segala ajaran yang bukan beriman kepada Yesus berarti ada di luar Kristus. Sebab setiap orang yang berada di luar Kristus akan berakhir dengan kebinasaan. Menurut Roma 8:1, hanya mereka yang ada dalam Kristus yang bebas dari hukuman.

MENURUT AJARAN TURUN TEMURUN
Ajaran sesat berusaha merampas Yesus yang sangat berharga dari diri kita. Karena ajaran sesat tidak menutup kemungkinan diwariskan secara turun-temurun oleh kaum keluarga. Namun pengikut Yesus yang sejati, tidak akan mewariskan kepada anak cucu ajaran yang bertentangan dengan firman Allah. Karena itu jugalah rasul Paulus mengingatkan kepada Timotius sebagai gembala muda dalam 1 Timotius 4:1-6 untuk:

  • Ayat 6 – Mengajar jemaat agar berhati-hati dengan ajaran sesat.
  • Ayat 8 – berjalan sesuai tapak kaki Yesus dalam menjalani hidup kekristean, bukan hanya datang beribadah.

Karena kalau kita ingin hidup berkenan kepada Tuhan dan menjadi sempurna, tidak ada pilihan lain, kita harus tetap di dalam Yesus dan menolak ajaran turun-temurun yang bisa membuat kita keluar dari Yesus karena standar kita hanyalah firman Allah, 1 Tesalonika 4:1-8.

MENURUT ROH-ROH DUNIA
Bagian yang berikutnya adalah ajaran menurut roh-roh dunia. Ajaran menurut roh-roh dunia adalah ajaran spiritisme yaitu orang-orang yang bersekutu dengan hal-hal gaib atau mistis. Pengikut Yesus yang sejati adalah orang-orang yang telah mengerti dan menyadari bahwa ia harus menjauhkan diri dari roh-roh dunia yaitu hal-hal magic, gaib/spiritisme.

Perhatikan!
Ulangan 18:10,11 “Di antaramu janganlah didapati seorangpun  yang  mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya  perempuan  sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.”

Ulangan 18:12 “Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi Tuhan, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah Tuhan, Allahmu menghalau mereka dari hadapanmu.”

Jadi jelas bahwa ajaran menurut roh-roh dunia bertentangan dengan kehendak Allah dan merupakan suatu kejijikan di mata Allah. Sebuah contoh dalam 1 Samuel 28:1-25, Saul binasa dengan mati bunuh diri, karena Saul memutuskan hubungan dengan Tuhan dan membangun atau mengikat hubungan dengan iblis (spiritisme).

KESIMPULAN
Jadi sangat jelas firman Tuhan disampaikan kepada setiap kita saat ini, untuk lebih waspada dengan ajaran sesat, yaitu filsafat yang kosong, ajaran turun-temurun yang diwariskan kepada anak dan cucu, termasuk ajaran dari roh-roh dunia karena ajaran itu ada diluar Kristus. Sebab jika kita tidak menjauhi ajaran-ajaran sesat ini, kita akan binasa dalam kematian kekal.

Oleh karena itu, baiklah kita menjadi pengikut Yesus yang sejati dengan mengikuti ajaran firman Allah secara tetap dengan mengikuti jejak kaki Yesus yaitu hidup didalam firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

JEMAAT TEGUH, KUAT DAN BERAKAR – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 1 Desember 2019)

Kolose 2:6-8

PENDAHULUAN
Dalam Kitab Kolose disampaikan bahwa rasul Paulus sangat bersyukur kepada Tuhan atas pertumbuhan jemaat di Kolose. Bahwa ia melihat, jemaat Kolose semakin bertumbuh didalam Tuhan. Meski demikian, rasul Paulus tetap berusaha menasihati jemaat di Kolose, agar tetap di dalam Yesus, kuat seperti pohon yang akarnya tertanam dalam sehingga iman pengharapan dan kasih jemaat kepada Yesus tidak bisa digoyahkan oleh apa pun juga. Khususnya pengaruh yang paling hebat dan berkembang di akhir zaman adalah pengaruh ajaran sesat.

Jadi rasul Paulus tidak mau jemaat menjadi lengah dalam pengiringan mereka kepada Yesus. Karena Iblis  tidak  pernah  berhenti  dan  tidak pernah  menjadi  lelah  menyeret  kita  dari Kristus untuk membinasakan kita, salah satunya melalui ajaran sesat. Perhatikan dalam Matius 24:24. Dikatakan bahwa mereka akan muncul dan sudah muncul sekarang, sehingga perbuatan mereka mampu menyesatkan orang pilihan yaitu setiap orang percaya termasuk para hamba-hamba Tuhan yang melayani. Dan kepada jemaat Efesus, rasul Paulus memperingatkan dalam Kisah Para Rasul 20:29, akan muncul serigala-serigala yang buas sehingga mereka binasa. Istilah mesias palsu, nabi palsu dan serigala-serigala adalah para ajaran sesat. Melihat kondisi yang demikian maka Tuhan memakai rasul Paulus untuk menasehati jemaat Kolose dan gereja Tuhan di akhir zaman agar tidak mudah terseret dan binasa. Apa sajakah nasihat firman Allah tersebut?

MENGINGATKAN JEMAAT
1. Tetap di dalam Dia (Yesus), Kolose 2:6
Nasihat yang pertama adalah bahwa setiap pengikut Kristus harus tetap didalam Yesus.  Kata “tetap” mengandung arti harus mengikuti jejak tapak kaki Yesus secara presisi atau secara tepat. Meskipun sudah ada 20, 50 atau 100 orang yang mengikuti Yesus, jejak-Nya tidak boleh berubah. Harus sama seperti jejak Yesus dan jejak yang ditinggalkan Yesus adalah firman Allah.

Tetap didalam Yesus juga mengandung arti hidup menurut tuntunan Roh Kudus, bukan keinginan daging (Roma 8:4).  Ingat penglihatan dari nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 1:7,9, bahwa mahluk itu berjalan lurus ke depan. Profil makhluk yang dilihat Yehezkiel dalam  Yehezkiel 1 tidak lain adalah profil Yesus, yang berjalan lurus di hadapan Bapa di sorga. Seperti yang dijelaskan dalam keempat injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Meskipun keempat injil ditulis dalam sisi yang berbeda tentang Yesus, namun semua injil menuliskan bahwa Yesus berkenan dihadapan Bapa (Matius 3:17). Jadi selama Yesus hidup di dunia ini, Yesus berjalan lurus dihadapan Bapa. Demikianpun dengan kita jika ingin tetap yaitu hidup kita berkenan di hadapan Bapa di sorga. Berakar artinya tidak mudah disesatkan, maka cara hidup kita harus berjalan seperti ketika Yesus hidup di muka bumi ini, yaitu berjalan lurus sesuai firman Tuhan. 1 Yohanes 2:6, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, (Yesus), ia wajib  hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

2. Berakar di dalam Dia, Kolose 2:7
Dalam Alkitab, Tuhan Yesus banyak sekali menyinggung tentang akar. Sepeti yang tercatat dalam Matius 13:1-23, Yesus bicara tentang 4 jenis tanah, yang ditaburi benih (firman Allah). Tapi sangat menyedihkan, dari 4 (keempat) jenis tanah yang ditaburi benih:
a). Ada tanah yang sama sekali tidak terima benih
b). Akarnya tidak tumbuh sebab terhalang batu
c). Akarnya tumbuh, tapi mati terhimpit duri
d). Hanya satu tanah yang ketika ditaburi benih, tanah itu berakar, tumbuh dan berbuah 30 kali ganda; 60 kali ganda dan 100 kali ganda

Mengapa ada yang tidak berakar? Dalam Yohanes 15 dicatat tentang pokok anggur dan cabang yang tidak berbuah serta dikerat. Cabang yang tidak berbuah adalah cabang yang tidak melekat erat dengan batang, seperti pohon yang tidak berakar. Jemaat yaitu pengikut Yesus yang sejati, yang teguh dan berakar (berdaya tahan) adalah jemaat yang berjalan sesuai firman Tuhan. Dengan lain kata, pengikut Yesus yang sejati adalah jemaat yang setia dalam segala aspek hidup selama ia hidup di muka bumi.

Sebuah contoh dalam alkitab, seorang yang memiliki tanah hati yang tidak teguh serta berakar karena masih ada batu-batu penghalang dalam dirinya. Ia adalah seorang pelayan Tuhan bernama Ahitofel.

AHITOFEL
Ahitofel adalah pelayan semasa Pemerintahan Daud. Ia adalah penasihat Daud yang sangat handal dan dipakai Tuhan. 1 Tawarikh 27:33 “Ahitofel adalah penasihat raja (Daud); Husai orang Arkhi, adalah sahabat raja (raja Daud).” Tetapi, amat disayangkan, ketika Absalom (anak Daud) mengadakan kudeta dan melakukan pemberontakan kepada Daud, ayahnya, Ahitofel berpihak kepada Absalom dan memilih melakukan perlawanan terhadap Daud. Sehingga Daud melarikan diri dari Yerusalem (2 Samuel 15:13-37). Dalam pelarian itu Daud berdoa kepada Tuhan. Daud berdoa kepada Tuhan dalam 2 Samuel 15:31, agar Tuhan sekiranya menggagalkan nasihat Ahitofel.

Apakah nasihat Ahitofel pada Absalom? Nasihat pertama dalam 2 Samuel 16:22, Ahitofel menasihati Absalom untuk meniduri gundi-gundik Daud di atas sotoh dan dipertontonkan kepada umat Israel. Absalom mengikuti nasihat Ahitofel, sebab menurut 2 Samuel 16:23, nasihat Ahitofel sama dengan nasihat yang datang dari Tuhan. Nasihat kedua, dalam 2 Samuel 17:1-4, Ahitofel meminta12.000 tentara untuk menyerang Daud dan permintaannya disetujui, tetapi atas kehendak Tuhan, nasihat Ahitofel digagalkan oleh Husai sahabat Daud yang berpura-pura menjadi pengikut Absalom. Maka dalam suatu pertempuran (2 Samuel 18:1-18) Absalom mati, kepalanya tersangkut di pohon terbantin. Yoab, panglima perang Daud membunuh Absalom dengan 3 lembing  dan 10 pembawa senjata Yoab menikam dan memukuli Absalom sampai mati.

PENUTUP
Mengapa Ahitofel, orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa, bisa membelot seperti pohon yang tidak teguh dan tidak berakar? Jika diperhatikan nama Ahitofel, dalam bahasa Ibrani dituliuskan אחיתפל, mengandung arti: “Saudara laki-laki yang tawar hati (foolish).”

Kebodohan dan ketidaksetiaan Ahitofel tentu ada penyebabnya. Selidiki 2 Samuel 23:34. Dijelaskan Ahitofel memiliki anak bernama Eliam, yang adalah salah seorang pahlawan Daud, dan Eliam memiliki anak perempuan bernama Batsyeba, cucu Ahitofel (istri Uria). Tetapi, keluarga Batsyeba dan Uria dihancurkan oleh Daud, karena Daud telah meniduri Batsyeba. Dengan cara yang licik dan curang Daud membunuh Uria suami Batsyeba. Dengan demikian motif utama pengkhianatan Ahitofel terhadap Daud sehingga ia membelot kepada Absalom dan melawan Daud adalah karena roh kebencian, dendam, dan merasa sakit hati, sebab anaknya Eliam dan cucunya bernama Batsyeba, yang sudah mengabdi secara total kepada Daud telah dihancurkan oleh Daud sendiri. Daud pasti tahu bahwa Batsyeba adalah cucu Ahitofel.

Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa Ahitofel berusaha membalas Daud dengan perbuatan yang lebih kejam, yaitu dengan memberi nasihat kepada Absalom untuk meniduri gundik-gundik Daud di atas sotoh rumah, sehingga seluruh orang Israel bisa melihatnya (2 Samuel 16:20-22). Sebab itu, tidak heran kalau Daud mengalami ketakutan yang luar biasa ketika tahu Ahitofel bersekongkol dengan Absalom, anaknya, 2 Samuel15:31.

Perasaan sakit hati dan dendam yang telah menimbulkan pembalasan keji, sehingga Ahitofel begitu rapuh (tidak kokoh) seperti pohon yang tercabut dari akarnya lalu bergeser ke posisi  yang salah dan jahat di mata Tuhan. Ahitofel berkali-kali berusaha melakukan pembalasan tetapi gagal. Pada akhirnya Ahitofel merasa malu dan memilih bunuh diri dengan cara  gantung diri di rumahnya, 2 Samuel 17:23.

Ahitofel adalah model dari orang Kristen yang tidak kokoh kuat dalam Yesus, seperti pohon yang tidak berakar, hatinya seperti tanah berbatu. “Kita adalah pendusta besar dihadapan Tuhan, bila kita makan minum perjamuan suci, dimana kita mendapat pengampunan dari Tuhan Yesus, tapi kita sendiri tidak pernah bisa mengampuni orang lain.”

Iman dan Belas Kasihan – oleh Pdt. Heintje Talumewo, GPdI Getsemani – Manado (Ibadah Raya 3 – Minggu, 24 November 2019)

Dalam Matius 23:23, ada 3 hal yang penting yang disampaikan yaitu belas kasihan, iman dan kesetiaan. Iman dalam Yesus, menerobos hal-hal yang sukar dalam hidup. Contoh seorang wanita yang datang kepada Yesus dalam Matius 15:21-28. Wanita Siro Fenisia adalah wanita kafir. Namun imannya membawanya mengalami kuasa Allah. Dengan iman ia datang meminta belas kasihan Yesus. Ia melangkah kepada tangga kekristenan yang berikutnya. Tanpa mengetahui tangga selanjutnya, karena menyerahkan kepada kehendak Allah. Rasul Yohanes mengatakan bahwa yang mengalakan dunia adalah iman kita.

Ada 2 hal tentang iman:
1. Iman kepada Yesus (keselamatan)
2. Iman yang memindahkan gunung (pengharapan kepada Allah – kuasa Allah)

Dalam Galatia 3:14,  saat Yesus disalib yang terjadi:
1. Mengampuni kita dan masuk kerajaan Allah
2. Menyembuhkan
3. Memberkati
Semua diperoleh dengan iman.

Lewat iman dalam Yesus kita juga menerima berkat Abraham, yaitu:

  1. Bangsa yang besar
  2. Nama yang masyur
  3. Mulplikasi
  4. Kesehatan
  5. Berkat raja-raja
  6. Kemenangan atas musuh
  7. Berkat materi
  8. Berkat rohani
    Dan tanggung jawab kita, saat menerima berkat adalah miliki belas kasihan agar tidak menjadi sombong.

BELAS KASIHAN
Selain iman, poin yang kedua adalah belas kasihan Allah. Artinya,  selain kita memiliki iman, biarlah belas kasihan Allah yang terjadi. Artinya kehendak Allah yang terlaksana bukan kehendak kita. Jika Allah berkehendak mendengar doa dan melaksanakan apa yang kita imani, maka semua adalah kasih karunia. Inilah iman yang memindahkan gunung yaitu pengharapan kepada Allah.

Iman memindahkan gunung bukan hanya untuk kesenangan jasmani diaman kita beriman untuk kesenangan pribadi, sehingga mudah kecewa bila apa yang kita imani tidak terjadi.  Biarlah sebagai orang percaya, iman kita bertumbuh semakin dewasa didalam Kristus. Sehingga bila kita diberkati,  kita tidak melupakan bahwa ini adalah belas kasihan Allah atas hidup kita. Dan bila iman kita belum terjawab atau tidak terjadi, maka kita tidak menjadi kecewa bahkan meninggalkan Tuhan.

Milikilah iman seperti wanita Siro Fenisia,  yang mengalami mujizat sebab belas kasihan Allah. Ia tidak memaksa Tuhan dengan imannya melainkan Tuhan yang berkehendak. Dan oleh belas kasihan Allah ini juga, biarlah ada dalam hidup kita.

Berkat belas kasihan Allah
Dalam mempergunakan setiap berkat Allah jangan kita seperti:
1. Orang Isarel, mereka dibuang ke Babel karena egois, sebab mereka mengabaikan perintah Tuhan yaitu belas kasihan.
2. Para imam melupakan yang terutama yaitu belas kasihan.
3. Kisah orang kaya dan Lazarus. Orang kaya ini sudah menerima belas kasihan Allah dan berkat Allah tetapi lupa untuk memberikan belas kasihan kepada orang lain.

Kiranya iman kita terus bertumbuh dalam Kristus, bukan lagi untuk hal jasmani kita beriman.  Dalam hal rohani juga kita meningkat. Masalah selalu ada, namun biarlah kehendak dan belas kasihan Allah yang terjadi. Tuhan Yesus kiranya menolong setiap kita untuk berjalan dalam iman dan belas kasihan Allah.