RUANG TUNGGU seri 14 – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 22 Mei 2022)

Saat ini kita masih belajar tentang “Ruang Tunggu” Dan sekarang masuk seri 14 dengan tema: PENUAIAN TERJADI LAMA SETELAH BENIH DITABURKAN

Yakobus 5:7
Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.

Seorang petani sangat faham bahwa setiap benih yang ditaburkan tidak akan menghasilkan buah secara instan. Dibutuhkan kesabaran untuk menanti datangnya musim menuai. Firman Allah berkata: Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Hujan musim gugur dan hujan musim semi yang dimaksudkan adalah hujan awal dan hujan akhir. Saat hujan awal para petani di Israel akan menaburkan benih di ladang, kemudian mereka menunggu hingga datangnya hujan akhir sebagai penanda waktu penuaian akan segera tiba.

Inilah pelajaran penting yang harus dipahami oleh semua orang percaya, bahwa setiap kita harus bersedia berada di ruang tunggu untuk menunggu setiap benih yang telah ditabur itu bertumbuh dan mengeluarkan buah. Tanpa kesediaan untuk menunggu tidak ada buah yang akan dituai.

Untuk itu marilah kita belajar beberapa kebenaran tentang menunggu hasil tuaian.
1. Anda harus menanam agar mendapat tuaian.
Yohanes 12:24
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Menanam adalah awalan dari seluruh tindakan penuaian. Tanpa menanam tidak akan ada hasil yang didapatkan. Benih dengan kualitas prima tidak akan menghasilkan apa-apa jika hanya disimpan atau digenggam tanpa pernah ditanam. Benih itu harus jatuh di tanah artinya di taman maka ia akan menghasilkan tumbuhan.

Seorang petani faham betul bahwa semua ladang, atau sawah tidak akan menghasilkan tanpa ada benih yang ditaburkan. Itulah sebabnya sesulit apapun, seberat apapun, petani tidak akan bosan apalagi berhenti untuk menaburkan benih demi tuaian yang akan didapatkan. Inilah prinsip dasar kehidupan yang berlaku secara universal, dimana saja di atas muka bumi ini, semua orang harus bersedia untuk menanam agar bisa menuai hasil yang diharapkan. Sekali lagi: “Anda harus menanam agar mendapat tuaian.”

Sayangnya banyak orang yang hanya berorientasi kepada tuaian, tanpa menaburkan benih. Ini tidak mungkin! Jika anda bisa menuai tanpa menabur, pasti ada orang yang telah menabur terlebih dahulu. Ingat prinsip dasarnya : Anda harus menanam agar mendapat tuaian.

Berikut ini beberapa perbedaan pandangan dan sikap manusia yang berorientasi pada taburan dan tuaian.

Orientasi Tuaian Orientasi taburan
Kalau saja gaji saya naik, saya akan bekerja lebih baik.Bekerjalah lebih baik maka gajinya naik
Kalau jabatan saya tinggi, saya kerja dengan segenap hatiBekerjalah dengan segenap hati, agar jabatan semakin tinggi
Kalau orangtua baik, saya akan rajin bekerja.Bekerjalah dengan rajin agar mama/papa baik
Kalau nilai saya bagus, saya akan rajin belajar.Rajinlah belajar maka nilaimu bagus
Kalau suamiku cinta, saya tunduk.Tunduklah agar suami makin cinta
Kalau istriku baik, saya akan cinta.Cintailah istri Anda, maka ia akan baik

Beranilah untuk menaburkan benih, karena hanya dengan menanam kita mendapatkan tuaian. Ketahuilah semua yang Anda nikmati hari ini adalah tuaian di masa lalu, dan semua Anda tabur hari ini akan dituai di masa depan.

2. Ukuran tuaian tergantung ukuran benih yang ditaburkan.
2Kor. 9:6  
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

Jumlah yang kita taburkan menentukan jumlah tuaian yang dihasilkan. Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Jadi jangan menilai keberhasilan dari tuaian yang didapatkan, tetapi nilailah keberhasilan berdasarkan benih-benih yang telah ditaburkan.

Ingatlah perkataan Tuhan Yesus.
Lukas 6:38  
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Jadi apakah ukuran yang sedang kita gunakan untuk menanam? Kita tidak bisa melawan hukum alam. Jumlah taburan menentukan jumlah tuaian. Ukuran yang kita gunakan akan diukurkan juga kepada kita. Ini bicara tentang kualitas dan kuantitas benih. Oleh sebab itu beranilah untuk membayar harga dalam menabur, karena harga yang Anda bayarkan akan dikembalikan saat penuaian.

Mazmur 126:5, 6  
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Orang-orang yang menuai dengan sukacita adalah mereka yang mau membayar harga mahal saat menaburkan benih yaitu menabur dengan mencucurkan air mata. Orang-orang seperti ini tidak takut susah, berani berlelah, bahkan tidak menghindari penderitaan. Seorang petani mengerti bahwa pekerjaan menabur tak sekedar mananam atau menyebar benih. Menabur itu berarti mengolah tanah, mencangkul, membajak, mengairi, hingga lahan siap untuk ditanami. Meski pekerjaan ini melelahkan, tapi petani tetap mengerjakannya dengan setia dia mengerti bahwa orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan sorak-sorai. Amin?!

Ketahuilah, tidak ada hal-hal yang luar biasa lahir dengan cara-cara yang biasa. Orang yang berani membayar lebih akan menerima lebih. Pengorbananmu menentukan hasil yang akan didapatkan. Banyak menabur banyak menuai, sedikit menabur  sedikit pula menuai.

  • Orang yang tidak takut menderita, akan menuai dengan sukacita
  • Yang tidak takut susah, berkatnya makih melimpah
  • Yang berani sakit, tuaiannya tidak pernah sedikit.

Pahamilah, untuk menerima Anda harus memberi, untuk mendapatkan Anda harus melepaskan, untuk menuai Anda harus menabur. Sebab itu beranilah melakukan pertukaran dalam kehidupan.

  • Tukarkanlah kesenangan sesaat, dengan kerja keras meskipun berat
  • Tukarkanlah kenyamanan dengan keberanian menerima tantangan
  • Tukarkanlah kualitas rata-rata dengan keunggulan.
  • Tukarkanlah mencari kemudahan dengan menapaki jalan kesulitan.
  • Tukarkanlah dari membuang-buang waktu dengan menggunakan waktu dengan bijak.

3. Kita hanya menuai apa yang Anda taburkan.
Galatia 6:7
Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan . Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 

Jenis benih yang kita taburkan menentukan buah yang dihasilkan. Jika kita menanam benih mangga kita akan menuai mangga, menanam benih jeruk menuai jeruk. Apa yang ditanam akan dituainya. Sebab itu taburlah benih yang ingin Anda tuai.

Matius 7:12
”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi

Tuhan menyediakan benih untuk ditabur.
Menabur itu bukan masalah mampu atau tidak , tetapi masalah mau atau tidak. Sebab untuk menabur Tuhan telah menyediakan benih dalam hidup kita. Ada banyak potensi, kemampuan, kekuatan yang dapat kita taburkan dalam kehidupan. Tapi masalahnya apakah kita mau menaburkan atau malas untuk menabur.

2Korintus 9:10  
Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

Penutup
Sadarilah dalam setiap berkat selalu disisipkan benih untuk ditaburkan. Nikmatilah roti yang Tuhan berikan kepadamu, tetapi taburkanlah benih yang IA berikan agar terjadi kelangsungan kehidupan. Jadi marilah kita mulai menabur benih-benih yang Tuhan berikan kepada kita baik itu berupa tenaga, keahlian, potensi bahkan berkat-berkat materi. Percayalah, semua benih yang ditaburkan akan dituai kembali jika kita bersedia menanti di ruang tunggu Ilahi. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah