Mahanaim Conference

IMG-20180720-WA0001

Advertisements
Image | Posted on by | Leave a comment

MAHANAIM ANNIVERSARY 29 TAHUN – Oleh: Rev. Dr. Steven Sos (Ibadah Raya – Minggu, 29 Juli 2018)

Yesaya 43:18,19

Dalam Yesaya 43:18-19, berisi suatu nubuatan yang berkuasa dan begitu kuat serta ada hal yang penting yang disampaikan didalamnya, bahwa ada kerinduan Allah yang akan disampaikan pada umatNya yaitu Allah memberikan rancangan yang terbaik. Kesetiaan Tuhan dinyatakan dalam perayaan ulang tahun Mahanaim. Setiap jemaat adalah suatu kesaksian, kesaksian bahwa Allah bekerja di Mahanaim dan setiap jemaat memiliki kesempatan untuk dipakai oleh Tuhan serta memberitakan kesaksian tentang bagaimana Allah memberkati setiap umat.

Soal perayaan ulang tahun, sesungguhnya itu adalah sebuah titik dimana seseorang mengakhiri suatu masa dan memulai suatu masa baru, artinya menggenapi tugas di tahun yang sebelumnya dan memulai tugas yang baru. Dalam perayaan ulang tahun, kita seperti seorang angkutan yang menghitung apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan kita lakukan ke depan. Allah mengasihi Mahanaim dan mengasihi jemaat Mahanaim sebab Dia adalah Bapa yang baik dan merancangkan berlipat-lipat berkat di masa mendatang.

Ada banyak hal yang sudah terjadi dalam pelayanan kami. Tahun ini kami sekeluarga merayakan pelayanan yang ke-50 tahun. Beberapa waktu lalu kami merayakan ulang tahun ke-72 tahun pelayanan, tetapi hati saya bertanya apakah harus merayakan atau meratap. Sebab gereja dengan usia 72 tahun seharusnya sudah bermultiplikasi menjadi 10 gereja karena gereja yang sehat adalah gereja yang bertumbuh atau bermultiplikasi. Siklus perkembangan adalah normal dalam perkembangan apapun.

Dalam Filipi 3:13,14 – Rasul Paulus menuliskan bahawa ia tidak memperhatikan apa yang dibelakangnya dan mengarahkan apa yang dihadapannya serta berlari kepada tujuan, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Di Mahanaim pasti ada jemaat yang sudah 29 tahun pelayanan di tempat ini, atau sudah ada sejak gereja ini berdiri. Ini adalah kesetiaan yang jemaat miliki, tetapi Rasul Paulus katakan bahwa ia belum mencapainya. Demikian halnya selama 29 tahun kita berjemaat di Mahanaim. Kita memposisikan diri seperti Rasul Paulus, yaitu tidak puasa dan terus bergerak ke depan dengan mendorong diri untuk melangkah ke depan.

Meskipun beberapa orang senang membicarakan masa lalu dengan merenungkan segala keberhasilan-keberhasilan, tetapi biarlah Mahanaim memandang ke depan dengan mengatakan Eben Haezer (sampai disini Allah sudah menolong serta Allah akan menolong). Itu sebabnya kita perlu Terhubung dengan sang pemilik masa depan yaitu Allah, bukan seperti istri Lot yang memandang ke belakang melainkan terus berlari ke depan.

Setiap perjalanan ada rencana-rencana, segala sesuatu kami persiapkan sebelum melayani dan melihat apa yang saya kerjakan akan berdampak kedepan. Oleh sebab itu, setiap kali datang beribadah padanglah kedepan, bahwa Allah akan mengerjakan hal yang luar biasa. Pandang kedepan bukan kebelakang. Jika ingin memandang ke belakang maka hanya ada satu hal yang kita lakukan seperti Musa, mengingat semua perbuatan Tuhan bahwa mereka dibebaskan dari semua musuh. Demikian kita datang beribadah setiap minggu dan ingat ke belakang atas keselamatan yang Tuhan sediakan. Hanya itu yang harus kita ingat di belakang yaitu sejarah keselamatan tentang perbuatan Tuhan.

Contoh lain adalah Daud, ketika ia berdosa ia mengingat hal yang dulu yaitu sukacita keselamatan yang dahulu ia miliki. Oleh sebab itu, bersukacitalah karena keselamatan yang Tuhan sudah berikan sehingga kita bersukacita kepada Tuhan. Mazmur 103:2,3 – Jika kita sekarang orang Yahudi, maka mereka akan berdiri dan memuji Tuhan karena ada sesuatu yang muncul dari dalam jiwanya bahwa jangan lupakan Tuhan. Selama 29 tahun Tuhan membuat kebaikan atas umatNya itu sebabnya kita bersorak dan bersukacita dan berkata puji Tuhan.. haleluya dan Puji Tuhan.

HAL-HAL DIMASA LALU
Masa lalu dapat menjadi musuh yang sangat menyakitkan, ada orang-orang yang berusaha tidak ingat lagi masa lalu. Ada seorang pengusaha yang tegap dan kasar pembawaannya. Karena karakternya yang keras, ia tidak memiliki sekretaris yang menetap dan ada banyak dokumen yang bertumpuk di mejanya. Suatu kali ia menggaji seorang sekretaris, bahwa ia tidak akan berhenti dari pekerjaan dan membuat semua menjadi benar serta melihat perusahan menjadi baik. Tetapi ia tidak mau membuang dokumen lama dan membiarkan foto copynya. Ini yang jadi masalah, ada kita menyimpan fotocopy masa lalu kita. Sadari bahwa Tuhan sudah membuat masa depan yang penuh dengan harapan. Jadi masa lalu ada untuk menunjukan siapa kita sekarang. 1 Korintus 15:10, oleh karena kasih karunia Allah aku bekerja dan bekerja lebih lagi. Kita secara pribadi menyatakan suatu pernyataan “aku ada sebagai mana ada karena kasih karunia Allah kepadaku dan kasih karunia itu tidaklah sia-sia.” Paulus bersukacita atas perbuatan Tuhan hanya karena ia tidak merasa puas dengan prosesnya, ia melakukan lebih lagi bagi Tuhan. Baiklah kita evaluasi diri apakah kita sudah bertumbuh dan memberikan kepada Tuhan lebih lagi serta bangkit serta keluar dari zona nyaman dan bergerak keatas.

Ada seorang bernama Yusuf yang tercatat di kitab Kejadian. Ia memiliki masa lalu yang penuh penderitaan, kesukaran dan kesedihan. Saat ia memiliki anak ia memberinya nama Manasye dan Efraim. Manasye (Ibrani) artinya melupakan/tidak mengingat dan Efraim (Ibrani) artinya berbuah. Jadi Yusuf menyadari jika ia tidak lupakan masa lalunya, ia tidak akan pernah berbuah/ bertumbuh. Jadi untuk bertumbuh dalam Yesus maka seseorang harus memutuskan/ melupakan masa lalu yang Tuhan tidak kehendaki. Jika masa lalu tidak dilupakan, maka kita tidak akan maju ke depan sebab masa lalu menarik diri kita ke belakang sehingga kita tidak bisa maju.

Filipi 3:13, Allah ingin kita sadar bahwa ada hal yang Tuhan sedang lakukan dalam hidup setiap jemaat, asalkan jemaat melakukan perintah Tuhan. Ulang tahun Mahanaim ke-30 akan lebih megah dan baik karena tidak terpaku dengan masa lalu, melainkan bergerak ke depan dan menjangkau jiwa. Kita perlu mengingat keselamatan yang datang dari Tuhan. Sukacita keselamatan itu mendorong kita untuk menceritakan perbuatan yang Tuhan kerjakan.

Sebelum kita datang beribadah minggu depan, ada seseorang yang perlu mendengarkan kabar baik serta memberitakan keselamatan. Mungkin saja itu pertama kali mereka mendengar firman. Memenangkan jiwa adalah hal yang paling menyenangkan sebab kita bergerak lebih jauh. Tetapi siapakah kita? Apakah kita salah satu dari 21 gereja di kota Tegal? Variasi gereja di Tegal? Bukan ! Seharusnya kita dikenal sebagai terang seperti kota yang terletak di atas bukit.

Orang tidak akan ke geraja jika tidak pernah tahu ada gereja, itu sebabnya kita harus bergerak dan dikenal oleh masyarakat kota Tegal sebab gereja tidak dapat menolong dan memberkati jika tidak dikenal. Kita harus membiarkan kuasa Tuhan bekerja supaya seluruh kota Tegal melihat bahwa Tuhan memberkati gereja Mahanaim dan gereja ini memberikan kelepasan. Gereja yang sehat akan memberitakan injil. Kita adalah laksar Kristus dan Tuhan sudah perlengkapi dengan kuasa Roh Kudus.

APA YANG KITA LAKUKAN DENGAN GENERASI MUDA (MILENIAL)
Perkara yang mudah untuk menjangkau generasi tua tetapi bagaimana menjangkau generasi muda? Bagi generasi muda hal rohani itu penting tetapi bukan dengan cara yang tradisional. Tetapi ada banyak anak muda yang menyia-nyiakan masa muda sebab tidak fokus dengan generasi muda. Dan banyak anak muda yang lebih kecil persentasenya dari generasi tua. Jika tidak dijangkau maka tidak akan ada gereja di tahun depan. Berdoalah bagi generasi berikut bahwa Tuhan akan selamatkan generasi muda. Tuhan akan kerjakan hal-hal yang baru bagi gereja Tuhan. Kita butuh hal-hal baru karena Tuhan yang lakukan itu sudah bergerak terlebih dahulu. Gereja Tuhan ada di depan, terhubunglah dengan Tuhan dan lihat apa yang terjadi di depan. Terus maju jemaat Mahanim dan bergerak dalam pengurapan Roh Kudus.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KELIMPAHAN DAN KEPUASAN DALAM YESUS – Oleh: Pdt. Dolfie Memah, GPdI Tabanan Bali (Ibadah Raya 3 – Minggu, 22 Juli 2018)

Mazmur 1: 1-6

Dalam Mazmur 1, jika sekilas diperhatikan ayat–ayat dalam pasal tersebut seperti diperhadapkan dengan dua kelompok. Tetapi yang sebenarnya ditekankan disini adalah manusia diberikan hak untuk memilih dan memposisikan dirinya. Manusia adalah makhluk yang luar biasa istimewa, sebab dalam Kejadian 1 dan 2, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Konsep Allah tentang manusia sudah ada di dalam pikiran Allah sebelum dunia diciptakan. Meskipun semua ciptaan pertama sampai kelima, hanya dengan berfirman namun lain dengan manusia, Allah menciptakan manusia dengan mengambil debu tanah, membentuknya dan menjadi mitra Allah. Manusia dikonsepkan menjadi pribadi yang akan mendampingi Kristus, memerintah bersama dalam kerajaan Allah. Itu sebabnya iblis berusaha dengan gigih untuk menjatuhkan manusia dengan menaburkan pikiran yang jahat. Karena iblis ingin bukan manusia yang dikonsep Tuhan yang berkuasa melainkan dirinya.

Kasih Allah dinyatakan kepada umatNya, tidak peduli seperti apa bentuk diri kita karena Allah punya rencana bagi kita yaitu menjadikan kita serupa dengan Yesus dan menikmati kasih karuniaNya serta kebaikanNya. Dalam Kejadian 4 – saat manusia jatuh dalam dosa. Allah tetap mencari Adam dan Hawa meskipun mereka takut, Adam dan Hawa tetap keluar untuk berjumpa Allah. Allah memanggil manusia dengan kasih. Dengan panggilan yang lembut itulah, mereka datang kepada Allah. Kasih yang sama pun dimiliki oleh Yesus, Anak Tunggal Allah yang mati bagi semua orang dan memanggil mereka yang berdosa. Siapa yang berani datang dan mengakui dosanya maka dosanya maka diampuni.

Yohanes 1:1-5, Yesus adalah firman yang adalah menjadi manusia dan diam didalam kita. Keberadaan Kristus dalam diri orang percaya membuat Iblis tidak berani menyerang karena Tuhan melindunginya. Sebuah contoh dalam Ayub 1:1-10, iblis berusaha menjatuhkan orang yang saleh dan membuatnya lemah. Penderitaanya bukan hanya fisik tetapi jiwanya juga terguncang karena anak-anak dan istrinya. Meskipun begitu kuat serangan iblis atas dirinya, ia tetap hidup bersama Allah bagaikan pohon yang tertanam di pinggir air dan akan selalu berbuah, itulah kehidupan Ayub.

Kejahatan manusia makin bertambah (2 Timotius 3:1-5). Dunia sedang dilanda dengan dua arus, yaitu arus yang baik dan jahat. Kehausan manusia akan kebenaran diisi dengan kematian dan kesusahan, yang membawa kepada kebinasaan kekal. Tetapi ada air yang membawa kepada kehidupan yang jernih dan murni yaitu air kehiduapn di dalam Yesus (Yohanes 7:37-39). Hanya Yesus yang memberikan kepuasan dalam diri. Kita dapat puas dengan apa yang kita miliki sekarang, tetapi berapa banyak orang yang hanya puas dengan kedudukan serta kekayaan pasti menyesal, kecuali ia menumpuk kekayaan dalam Yesus (Yohanes 7:39) yaitu kekayaan Rohani. Kisah Para Rasul 1:8- Roh Kudus adalah kuasa Allah yang memampukan orang percaya untuk menjalani kehidupan dalam dunia ini. Dekatlah dengan Sang sumber air kehiduan maka kita akan hidup kokoh seperti Ayub. Tuhan sudah menciptakan kita dengan spesial, Allah memberikan RohNya sehingga setiap orang percaya diperbaharui didalam Yesus maka hidup ini akan menjadi saksi yang hidup. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menjangkau Jiwa – oleh Pdt. Markus Rumampuk (Ibadah Raya 2 – Minggu, 22 Juli 2018)

Markus 16:15

Selama 33 tahun lebih Tuhan Yesus berada di muka bumi dengan mengadakan banyak mujizat dan pengajaran. Pesan terakhir sebelum Tuhan Yesus terangkat ke surga adalah “Pergi, jadikan semua bangsa muridKu.” Amanat agung ini begitu penting bagi gereja masa kini tetapi pelayanan dalam memenangkan jiwa di gereja masa kini cukup kurang diperhatikan. Berapa banyak hamba Tuhan dan penginjil yang memperhatikan pelayanan penginjilan? Gereja Tuhan digambar seperti seekor burung yang memiliki 2 sayap yaitu:
1. Sayap untuk menguatkan jemaat, membimbing dan menuntun yaitu program gereja dan ibadah raya.
2. Penjangkauan Jiwa

Gereja Mahanaim sudah seharusnya bersyukur karena fasilitas yang sudah berikan bagi gereja, tetapi bagaimana dengan sayap yang kedua? Gereja tidak akan bertumbuh tanpa ada penjangkauan jiwa. Jemaat harus menjadi garam dan terang bagi daerahnya. Sebuah kisah nyata, ada seorang anak yang hidup dengan ibu dan 2 adiknya. Ayahnya telah meninggal dunia. Ia mencari pekerjaan di penjara dan mendapatkan pekerjaan di sana. Tugasnya adalah memencet bel tanda pekerjaan selesai setiap pukul 5 sore. Namun suatu kali ia mendengar suara “pencet bel..pencet bel..” pada pukul 3 sore sehingga ia pun memutuskan untuk menuruti suara itu. Akhirnya semua pekerja keluar berhamburan dari goa tambang tersebut. Karena tindakannya, Kepala Penjara pun memarahinya. Setelah semua orang keluar dari goa tambang, gempa besar dan longsor pun terjadi, tetapi mereka selamat karena anak itu telah memencet bel lebih awal. Semua orang bertepuk tangan atas tindakan anak itu. Saat semua mulai tenang, ia berkata bahwa “ayah saya meninggal disini karena Kristus, dan Krituslah yang menyuruh saya untuk memencet bel”. Maka 500 jiwa bertobat saat itu juga. Tuhan dapat memakai siapa saja dengan pekerjaan apapun untuk menyelamatkan jiwa, tetapi apakah kita terlibat didalamnya? Ini tugas penting bagi gereja Tuhan, disamping hidup kudus, saling mengasihi dan pertobatan, kita harus memenangkan jiwa bagi Tuhan.

Suatu ketika, ada seorang haji yang membawakan surat perjanjian jika anaknya yang sakit parah dalam tiga hari sembuh maka bapak haji dan keluarga besarnya bertobat, tetapi sebaliknya jika anaknya tidak sembuh maka keluarga pendeta yang harus masuk muslim. Pendeta ini bergumul begitu rupa dan seolah tidak ada pengharapan. Ketika ia sedang berkhotbah, tiba-tiba segerombolan orang dating, mereka adalah keluarga haji. Mereka datang sebab anaknya telah sembuh. Tuhan sudah berjanji akan menyertai kita dengan tanda dan mujizat. G111 – satu jemaat membawa satu jiwa setiap satu tahun. Jangan jadi jemaat yang mandul, tetapi hasilkanlah jiwa. Dalam Lukas menuliskan tentang seorang yang memiliki pohon ara yang tidak berbuah dan akan ditebang sebab tidak hasilkan buah.

Pakailah apapun yang kita miliki untuk menjangkau jiwa maka Tuhan akan menyertai serta mengurapi. Jemaat dapat dipakai Tuhan untuk menjangkau jiwa, jadilah terang dan garam bagi Tuhan yaitu bersaksi bagi Tuhan maka Tuhan menyertai dan mengurapi. Kita harus menjadi garam dan terang dalam perbuatan dan perkataan. Ada orang-orang yang berani berkorban bagi Tuhan bahkan merelakan segalanya, tetapi berapa banyak orang tidak jujur dalam persepuluhan apalagi memberi kepada Tuhan. Lakukan apapun bagi Tuhan walaupun itu kecil, menangkanlah jiwa bagi Tuhan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENJAGA HIDUP DENGAN DEKAT PADA YESUS – Oleh : Pdt. Emil Hehakaya -GPdI Muncar Banyuwangi (Ibadah Raya 1 – Minggu, 22 Juli 2018)

Matius 15:21-28

Gereja di zaman sekarang begitu merindukan kuasa dan mujizat Tuhan dinyatakan. Dalam ayat 21, ada seorang wanita Kanaan datang kepada Yesus karena anaknya kerasukan setan. Kondisi yang dialami oleh wanita Kanaan ini begitu menekan dirinya sebagai seorang ibu. Arti kerasukan setan adalah seorang yang berpikir tidak baik, tidak benar, tidak waras dan tidak teratur. Artinya semua pikirannya dikendalikan oleh Roh Jahat sehingga perkataannya tidak menjadi berkat, melainkan ia menceritakan hal yang palsu. Oleh sebab itu, jagalah kehidupan kita agar hidup kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang yang ada di sekitar kita. Salah satu hal yang juga menjadi tantangan bagi gereja di akhir zaman adalah soal perceraian. Banyak orang percaya yang bercerai dan anak-anak yang tidak lagi menghormati orang tua seperti orang yang kerasukan setan. Untuk menghadapi semua kondisi dunia yang semakin berat, maka perlu untuk kita semakin kuat dalam Tuhan.

Tiga alasan Yesus menolong wanita Kanaan, yaitu:
1.
Matius 15:22 – Datang kepada Yesus dan berseru
Wanita Kanaan ini datang kepada Yesus dan berseru kepada Yesus. Jadikan masalah sebagai pendorong untuk datang kepada Yesus sebab Yesus adalah sumber pertolongan dan mujizat. Jangan berlari mencari pertolongan dunia.

2. Matius 15:23,24 – Iman yang besar
Iman yang besar bukan soal ukuran tetapi soal kualitas iman. Wanita Kanaan ini tetap datang kepada Yesus meskipun sudah ditolak oleh Yesus karena Yesus berfokus kepada umat Israel bukan orang Kanaan. Iman yang besar memampukan kita datang kepada Yesus meskipun belum dijawab.

3. Matius 15:25 -27 – Kerendahan Hati
Kerendahan hati membuat wanita ini tetap sabar dan menunggu belas kasihan Tuhan. Miliki sikap rendah hati untuk datang kepada Tuhan maka Tuhan akan menjawab doa dan permohonan kita.

Datanglah kepada Tuhan seperti wanita Kanaan ini yaitu berseru dengan kualitas iman yang terbaik dan datang dengan kerendahan hati serta keterbukaan kepada Tuhan, maka Tuhan akan bekerja dan menolong. Alhasil, anak dari wanita Kanaan ini disembuhkan oleh Yesus. Saat ini datanglah pada Tuhan dengan hati yang berseru kepada Tuhan, makin setia dalam beribadah. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

JEMAAT YANG MELARAT, MALANG, MISKIN, BUTA DAN TELANJANG – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 15 Juli 2018 )

Wahyu 3:17

Minggu yang lalu sudah dibahas bagaimana kehidupan daripada jemaat Laodikia yang tidak panas atau tidak dingin, sehingga Tuhan akan memuntahkannya. Tuhan menegur begitu keras jemaat Laodikia karena kehidupan mereka karena Allah mengasihi jemaat ini. Kembali kita akan belajar dari jemaat di Laodikia. Selain jemaat ini suam-suam kuku dalam mengiring Tuhan, jemaat Laodikia juga merasa diri kaya secara jasmani dan rohani tetapi dihadapan Tuhan mereka tidaklah demikian. Dalam Wahyu 3:17a, menuliskan bahwa mereka tidak kekurangan apa-apa, mereka kaya dalam segala hal pada hal mereka melarat, miskin dan kekurangan.  Kita akan mengupas apakah yang Tuhan maksud bahwa jemaat Laodikia adalah jemaat yang  melarat, malang, miskin, buta dan telanjang.

KATA “KAYA”
Jika diperhatikan dalam Wahyu 3:17a, jemaat Laodikia merasa diri kaya. Kata “KAYA” dalam bahasa Yunani dituliskan PLOUISIOS. Artinya, jemaat Laodikia  merasa diri kaya secara rohani. Bila kembali dibaca maka isi ayat tersebut demikian “Aku kaya (PLOUISIOS) dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa (secara rohani dan jasmani)”. Jadi jemaat Laodikia begitu sombong dengan kondisi mereka secara lahiriah maupun jasmaniah. Namun dalam pandangan Yesus berdasarkan Wahyu 3:17b,  jemaat Laodikia tidak mengetahui bahwa kondisi mereka di mata Yesus adalah melarat; miskin; buta dan telanjang. Jika dibandingkan dengan kehidupan kita sekarang, apakah mungkin kita juga seperti jemaat Laodikia yang merasa kaya secara jamani dan rohani? Tetapi sebaliknya, di mata Yesus kita melarat, miskin buta dan telanjang. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan di mata Yesus. Kiranya Tuhan menolong sehingga keadaan kita tidak seperti jemaat Laodikia. Merasa dekat dengan Tuhan dan diberkati namun di mata Allah kita miskin.

2 Korintus 11:2,3 – menuliskan bagaimana Rasul Paulus begitu rindu melihat jemaat Korintus yang mengikut Yesus, tetapi masih berpegang pada berhala dan kepercayaan nenek moyang. Dan yang masih terikat dengan dosa karena hal tersebut mendatangkan cemburu. Kerinduan yang dimiliki oleh Rasul Paulus juga merupakan kerinduan setiap gembala karena gereja Tuhan, yaitu orang percaya digambarkan seperti mempelai wanita yang kudus dan berkenan. Itu sebabnya setiap jemaat dididik dengan firman Tuhan sedemikan rupa agar saat jemaat berjumpa dengan Yesus sang mempelai, jemaat tetap dalam keadaan kudus. Bukan menjadi malu berjumpa denganYesus (2 Korintus 11:3).

Jemaat Tuhan yaitu gereja Tuhan yang tidak menjaga dirinya melainkan dalam  keadaan miskin, buta, melarat dan telanjang, maka ketika Yesus sang mempelai pria berjumpa dengan gereja atau jemaat yang demikian, Tuhan Yesus akan berkata seperti dalam Matius 7:23 – Yesus tidak mengenal (menikah). Atau Yesus akan berkata seperti di Wahyu 3:16b – dimuntahkan.

5 KEKURANGAN JEMAAT LAODIKIA
1. MELARAT (TALAIPOROS)
Artinya, seorang yang kondisi fisik dan jiwanya tidak sehat karena tekanan dan kesedihan yang begitu menekan dirinya sebab tanggungan jiwa yang berat. Jadi melarat dalam pengertian ini adalah seperti seorang wanita Samaria yang sehat secara fisik karena ia mampu menimba air yang sumurnya begitu dalam (Yohanes 4:17,18). Tetapi meskipun fisiknya sehat, kondisi rohaninya sakit, karena ia campur adukan yang jasmani dan rohani bahkan korbankan yang rohani demi yang jasmani maka jiwa dan rohnya tertekan. Wanita Samaria tersebut sudah menikah dengan beberapa pria untuk puasakan dirinya. Tetapi tidak satupun diantaranya yang sanggup memenuhi kehausannya. Sampai suatu saat wanita Samaria berjumpa dengan Yesus sang air kehidupan yang sanggup memuaskan kerinduannya dan memuaskan kerohaniannya. Dan wanita tersebut meninggalkan kemelaratnnya dengan percaya Yesus.

2. MALANG (ELEEINOS)
Artinya, keadaanya sangat mengenaskan sehingga perlu dikasihani. Itu sebabnya Yesus menegur jemaat Laodikia karena Yesus kasihan dengan kondisi jemaat Lodikia yang malang. Dalam 1 Korintus 15:19,  jemaat Korintus ditegur oleh Rasul Paulus. Karena jemaat membuka pintu bagi guru-guru palsu yang mengajar jemaat fokus pada materi dan bukan rohani sebab guru palsu mengajarkan bahwa kebangkitan tubuh tidak ada, dan rohnya akan langsung ke surga. Jadi selama di dunia kita harus bekerja dan bekerja, utamakan hal jasmani karena sekali selamat tetap selamat. adahal itu ajaran yang sesat dan terus berkembang di zaman sekarang. Mereka pun mengajarkan bahwa “bukti Tuhan berkenan dan berkat secara rohani ukurannya berkat jasamani.” Jadi keintiman seseorang diukur dari berkat jasmani.

3. MISKIN (PTOCHOS)
Artinya, sekarat dan hampir mati rohaninya. Seperti seorang yang terbaring meringkuk dan menunggu mati karena tidak makan. Jadi Jemaat Laodikia tidak sadar akan kondisi rohaninya yang sekarang karena jemaat hanya fokus pada hal materi dan tidak lagi memperhatikan hal-hal yang rohani. Inilah alasan mengapa perlu setiap orang percaya mendengar firman Allah dan terlibat dalam ibadah raya dan kemah. Datang dan menikmati firman bukan hanya absensi dan tidak menerapkan firman Allah.

4. BUTA (TUPHLOS)
Artinya, tidak dapat melihat karena pandangan, pikirannya dan pendengarannya terfokus pada materi. Fokuslah pada ibadah karena fokus ibadah kita yaitu Yesus, bukan tim penilai dalam ibadah (2 korintus 5:7).

5. TELANJANG (GUMNOS)
Artinya oang yang tidak berpakaian, tidak berdaya atau tidak ada pertahanan sehingga tidak dapat membela diri. Kata telanjang ini juga merupakan hukuman zaman dahulu dengan cara ditelanjangi, suatu hukuman yang hina. Sebaliknya orang yang berjasa diberikan pakaian kebesaran yang bagus seperti:
– Yusuf (Kejadian 41:42)
– Daniel (Daniel 5:29)
– Mordekai (Ester 6:8-11)

Mereka mendapat pakaian kebesaran atas jasa yang mereka sudah perbuat. Demikian halnya, pakaian yang akan digunakan orang percaya saat menghadap Tuhan juga akan menentukan selamat atau binasanya seseorang. Bukan pakaian jasmani tetapi pakaian rohani seperti yang tercatat dalam Lukas 16:19-31. Perhatikan orang kaya dalam ayat 19-25, ia adalah orang percaya sebab Abraham memanggil dia anak. Secara lahiriah dia kaya, hal ini tampak dari pakaian yang ia kenakan, sedangkan secara rohani tidak demikian. Neraca hidupnya serong tetapi perhatikan dalam Lukas 16:24 yang rohani diurus setelah meninggal. Di neraka ia miskin dan melarat lalu mencari air dari atas. Tapi semua sudah terlambat. Jangan urus masalah rohani setelah meninggal, tetapi selagi hidup jangan fokus secara jasmani tetapi melarat secara rohani.

Kesimpulan
Oleh sebab itu, selagi masih ada kesempatan biarlah kita memeriksa diri apakah kita kaya dihadapan Allah. Minta pengampunan Tuhan jika saat ini kita sudah jauh dari Tuhan dan hadir ibadah tanpa menikmati pribadi-Nya. Jangan tunggu meninggal atau sakit baru bertobat. Tuhan kiranya memampukan kita terus berjalan dalam kehendakNya. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PRINSIP HIDUP YANG BERKEMENANGAN (SERI 6) – GIAT DALAM PEKERJAAN TUHAN – oleh Pdt. Gideon S. (Ibadah Raya 3-Minggu, 8 Juli 2018)

1 KORINTUS 15 : 58
“Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.”

Dari ayat di atas kita dapat melihat ada 7 Prinsip hidup berkemenangan, yaitu:
1. Kasih (dua kali dibahas )
2. Berdiri teguh.
3. Jangan goyah.
4. Giatlah selalu.
5. Dalam pekerjaan Tuhan.
6.
Dalam persekutuan dengan Tuhan.
7. Jerih payahmu tidak sia-sia.

DALAM PEKERJAAN TUHAN
Inilah yang menjadi pokok bahasan yang kelima dalam seri keenam  7 Prinsip hidup berkemenangan.  Untuk menjadi orang Kristen yang berkemenangan, kita tidak boleh puas dengan cukup diselamatkan, selama kita masih hidup di dunia ini kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan giat dalam pelayanan. Pelayanan yang mendatangkan pahala atau mahkota kemuliaan bagi kita, adalah pelayanan dalam pekerjaan Tuhan. Pelayanan sehebat apapun di luar koridor pekerjaan Tuhan akan sia-sia. Setiap orang percaya harus memiliki pengertian yang benar dalam hal ini.

Ada banyak orang berpendapat bahwa untuk melayani dan berbuat baik kepada orang lain tidak perlu menjadi orang Kristen.  Hal ini benar tidak salah, bahkan banyak orang yang di luar Tuhan lebih giat dan lebih baik dari orang Kristen. Tetapi mengapa harus giatnya dalam pekerjaan Tuhan, bukankah giat diluar Tuhan juga bermanfaat dan ada berkatnya? Pekerjaan, pelayanan, kebajikan/perbuatan baik di luar Tuhan, tidak akan  mendapatkan pahala apapun.  Untuk lebih jelasnya kita lihat bagaimana tingkatan perjalanan dari iman.

2 Petrus 1:5 “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan.”

 Dari ayat ini kita melihat bahwa iman kepada Yesus adalah dasar dari perbuatan kebajikan atau perbuatan baik, yang selanjutnya terus ditambahkan kepada pengetahuan sampai pada puncaknya kepada kasih yang sempurna sama seperti kasih Yesus (2 Petrus 1:5). Inilah proses perjalanan pengiringan kita kepada Kristus. Segala sesuatunya dapat berpengaruh kedalam kehidupan kekal jika didasari iman kepada Yesus, di luar iman kepada Yesus sia-sia.

Contoh:  KORNELIUS, Kisah 10:1,2
“Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.”

Dari ayat tersebut kita dapat melihat daftar kebaikan yang luar biasa dari Kornelius yang jarang ditemukan dalam kehidupan orang kristen sekalipun.
1. Ia saleh.
2. Seisi rumahnya takut akan Allah.
3. Memberi banyak sedekah.
4. Senantiasa berdoa kepada Allah.

Namun semua hal yang baik dan positif yang dimiliki Kornelius yang juga rendah hati ini, hanya di sebut sebagai “orang yang mengamalkan kebenaran.” Perhatikan Kisah 10:35 : “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” Karena Kornelius melakukan semuanya itu diluar pengenalan akan Yesus, tetapi Tuhan sangat berkenan kepada orang yang mengamalkan kebenaran, meski ia belum mengenal Yesus.

Contoh lain, Markus 12:28-34, tentang penilaian Yesus terhadap seorang ahli Taurat.  Dijelaskan dalam ayat ini, ada seorang ahli Taurat yang menanyakan hukum yang terutama kepada Yesus. Dan Yesus menjawab tentang hukum terutama itu, pertama kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. Lalu kata ahli Taurat  itu kepada Yesus, Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa dan tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban sembelihan (Ay. 30-33).  Mendengar jawaban ahli Taurat itu apa tanggapan Yesus ?

Markus 12:34a – “Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadaNya : “ Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah…”

Jika Kornelius disebut sebagai orang yang mengamalkan kebenaran, Ahli Taurat itu disebut bijaksana karena mengerti hukum kebenaran.  Statusnya cuma “Tidak jauh dari Kerajaan Allah” tetapi tidak untuk masuk ke dalamnya. Apa artinya? Artinya adalah semua kebajikan, kesalehan dan doa Kornelius, dan juga pengetahuan tentang kebenaran dari ahli Taurat, tidak berfaedah bagi mereka dalam kekekalan, karena  di luar iman kepada Yesus. Bagaimana hal ini bisa terjadi?  Mari kita lihat kembali dasar kehidupan yang memiliki nilai kekekalan.

2 Petrus 1:5
“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan.”

 Yang menjadi dasar yang kuat adalah iman yang benar di dalam Yesus untuk melakukan kebajikan, pengetahuan dan sampai kepada kasih yang sempurna (2 Petrus 1:6). Jadi dapat disimpulkan bahwa: Semua kebajikan, kesalehan, penguasaan diri dan ketekunan Kornelius di luar iman kepada Yesus adalah sia-sia, tidak membawa dampak apapun dalam keselamatan dan kekekalan, demikian juga dengan pengetahuan tentang kebenaran yang dimiliki ahli Tauratpun menjadi sia-sia. Itulah sebabnya khususnya bagi Kornelius, Tuhan mengutus Petrus untuk menginjili Kornelius  sekeluarga untuk mengerti dan percaya Yesus sebagai Tuhan yang harus mereka percayai dan imani, setelah itu barulah giatnya Kornelius selanjutnya didalam pekerjaan Tuhan memiliki nilai kekekalan dan pahala.   Giat di dalam pekerjaan Tuhan artinya giat dalam pekerjaan yang dilandasi iman yang tertuju kepada Yesus, karena jerih lelah dalam pekerjaan yang baik diluar iman dan kepercayaan kepada Yesus akan sia-sia. Yohanes 14:6- Menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa tanpa melalui Yesus .

Jika tidak berdampak pada keselamatan atau kekekalan bagi yang diluar iman kepada Yesus bagaimana dengan di bumi apakah sia-sia juga?  Jawabnya tidak . Mereka yang melakukan pekerjaan baik di luar iman kepada Yesus, berlaku hukum tabur tuai, Galatia 6:7. Apa yang mereka tabur juga akan mereka tuai.  Hukum tabur tuai berlaku di bumi, kebaikan yang mereka tabur akan mereka nikmati juga di bumi, makanya mereka juga diberkati, tetapi setelah kematian mereka tetap binasa, jangankan dapat pahala, selamat saja tidak karena diluar iman kepada Yesus. Tetapi bagi orang yang ada di dalam Kristus, mereka menerima balasan di bumi dan pahala atau mahkota kekekalan di sorga. Mengetahui kebenaran ini, seharusnya setiap orang percaya di dalam Yesus harus lebih giat melayani pekerjaan Tuhan.  Sekecil atau sesederhana apapun yang dapat kita kerjakan di dalam Tuhan ada pahala/upahnya di bumi dan di sorga. Matius 10 : 42- meski hanya secangkir air sejuk saja jika hal itu diberikan karena pekerjaan Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan upahnya.

Mari saudaraku sekalian, janganlah jadi orang percaya yang nganggur, layanilah Tuhan menurut kapasitas yang dapat saudara kerjakan bagi Tuhan, jangan sia-siakan waktu yang ada untuk meraih pahala sorgawi yang Tuhan sudah sediakan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment