Doa Kemenangan Iman, oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 14 Jan 2018)

1 Tawarikh 4:9-10

PENDAHULUAN

Tentunya di tahun 2018 ini kita punya banyak harapan, doa serta kerinduan untuk mengalami hal-hal yang baik. Seperti Firman Allah katakan, biarlah itu terjadi seperti Iman yang saudara miliki. Sekalipun Tahun 2018 masih merupakan sebuah rahasia, kita dapat belajar memandang segala sesuatu dengan mata iman. Disatu sisi, tahun 2018 ini sudah sebenarnya selesai ditangan Tuhan karena Dia tidak dibatasi oleh waktu. Tentu saja Ia menyelesaikannya dengan sangat baik, namun bagaimana menjalani hari demi hari Tuhan percayakan kepada kita dan tentu Ia ingin kita menjalaninya sesuai dengan rencanaNya.

Tahun 2018 Gereja kita memiliki tema “Tahun Pertumbuhan.” Itulah sebabnya perlu terlebih dahulu ada benih yang ditabur. Ini tidaklah mudah karena benih (Firman) yang ditabur ini akan berhadapan dengan berbagai tantangan (tanah yang keras, berbatu-batu dan juga semak duri) yang menghimpit benih sehingga tidak bertumbuh. Selain itu benih gandum yang ditabur dan mulai bertumbuh akan berhadapan dengan benih ilalang (Matius 13). Ada iblis yang sengaja menabur benih yang tidak baik agar iman kita terhambat dan tidak bertumbuh dengan baik. Tantangan akan terus ada namun iman kita harus tetap bertumbuh dengan doa kemenangan iman yang kita naikan. Kita akan belajar tentang doa kemenangan iman dari doa Yabes (1 Tawarikh 4:9-10).

Sungguh menarik karena nama Yabes seperti  tiba-tiba muncul dalam 2 ayat saja, lalu tidak diketemukan lagi di bagian manapun dalam Alkitab. Seolah nama ini tidak punya peran yang penting. Terkadang mungkin orang sering menganggap kita tidak berarti karena sepertinya kita bukanlah orang menonjol atau mungkin banyak kekurangan. Tetapi tidak bagi Tuhan, Dia melihat jauh kedalam hidup kita. Dia bahkan dapat mengangkat dan membuat kita bersinar, karena Dia melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Diawal kemunculannya, nama Yabes langsung bersinar (DIMULIAKAN). Apa yang dialami Yabes ini tentu bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba melainkan melalui sebuah proses. Semua orang ingin berhasil tapi tidak semua orang ingin menjalani proses.

LATAR BELAKANG YABES

Yabes berasal dari suku Yehuda. Masa kecil dan masa mudanya penuh dengan penderitaan. Ini dapat dilihat dari nama yang diberikan oleh ibunya, Yabes (kesakitan). Namun Yabes telah menjadi seorang yang dimuliakan Allah (KABOD). Sesungguhnya dalam pribadi setiap orang percaya telah ada kemuliaan Allah namun tentu saja perlu tindakan/respon dari pribadi kita untuk memancarkannya. Yang perlu diingat adalah ketika kemuliaan Allah itu dipancarkan lewat hidup kita maka tujuannya bukanlah untuk menarik perhatian orang kepada pribadi kita tetapi justru menarik perhatian orang kepada Allah yang memberi kemuliaan itu. Yabes adalah seorang yang dapat mengatasi semua ‘Kesakitan’ dalam hidupnya sehingga dalam doanya, Ia mengalami KEMENANGAN IMAN. Doa yang dijawab telah teruji melewati proses-proses iman.

Yabes berproses dalam kemenangan Iman dalam beberapa hal :

  1. Mengatasi penolakan kelahirannya.
  2. Mengatasi ‘stigma’ melalui pemberian namanya.
  3. Mengatasi kutuk/takdir masa depannya

Kita akan bahas satu per satu.

  1. Mengatasi penolakan kelahirannya.

Merupakan hal yang wajar bagi  wanita mengalami kesakitan saat melahirkan. Namun menjadi hal yang tidak wajar jika kesakitan ini kemudian dibebankan juga kepada anak yang dilahirkan. Orang tua tentu akan memberikan nama yang indah kepada anaknya namun dalam tidak dalam kisah Yabes, dimana ibunya memberi ia nama yang berarti kesakitan. Kita dapat berasumsi bahwa kelahiran Yabes sebenarnya tidak diinginkan. Dengan kata lain sebelum dilahirkan Yabes sudah tertolak. Menurut Psikologi Klinis, perasaan tidak nyaman akibat penolakan ibu nantinya akan tersambung ke otak bayi sehingga bayi di kandungan tahu bahwa kehadirannya ditolak. Akibatnya anak yang ditolak ini akan bertumbuh dalam ketidaknyamanan dan membenci dirinya bahkan kemungkinan terburuk adalah bunuh diri. Sekalipun tertolak, Yabes bisa menang atas pengalaman ini. Terlihat dari doa yang ia panjatkan. Kuncinya adalah ketika kita menyadari bahwa Allah tetap mengasihi dan tidak pernah melupakan kita, bahkan ketika orang tua atau orang terdekat kita menolak kita (Yesaya 49:15;43:4). Firman Allah-lah yang dapat meneguhkan bahwa kita berharga, dan tetap diterima.

  1. Mengatasi ‘stigma’ melalui pemberian namanya.

Stigma ini seperti noda atau sesuatu yang buruk yang disematkan kepada seseorang. Semua orang ibrani tentu tahu nama Yabes mengandung makna yang kurang baik. Dan Yabes harus bertumbuh dengan nama itu.

William Shakespeare berkata “Apa artinya sebuah nama? Kita dapat menyebut bunga mawar dengan nama yang berbeda, namun baunya tetaplah harum. ”Banyak orang masih menganggap bahwa dirinya adalah apa yang dikatakan oleh orang lain. Kalau kita tidak bisa menang atas jati diri kita maka kita juga akan merasa tertolak. Sekali lagi hanya Firman Tuhan yang dapat meneguhkan kita ketika merasa tertolak, seperti dalam Wahyu 2:17  “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat : Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.” Orangtua tentu punya harapan atau alasan ketika memberi kita nama namun itu tentu terbatas. Dihadapan Tuhan kita akan menemukan jati diri kita yang sebenarnya bahkan di sorga Dia memberi kita nama yang baru.

  1. Mengatasi kutuk/takdir masa depannya

Takdir dapat diartikan sebagai destiny atau tujuan. Ketika Allah menciptakan kita sebenarnya saat itu pula Dia sudah selesaikan segala tujuan atau rencana yang baik bagi kita. Allah tidak merancang kita untuk dibinasakan melainkan diselamatkan. Namun demikian Allah juga tidak pernah menentukan pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup.

Yabes (Ibrani: יַעְבֵּץ – YA’BETS, secara harfiah: dia akan berduka, dia akan sengsaradalam tatanan bahasa inggris ini adalah Verb (kata kerja) Qal Imperfect (belum selesai) 3rd Maskulin (untuk laki-laki) Singular (untuk seorang).

Pemberian nama berisi suatu harapan untuk masa depan. Nama orang Ibrani biasanya mengandung arti dan sering kita temukan dalam bentuk kata kerja dalam tensis imperfect (belum selesai). Ini juga digunakan dalam nama Yesus dan bahkan Allah (Yehovah). Bentuk Imperfect diberikan kepada orang yang masih hidup atau eksis, dengan kata lain Yabes sejak awal sudah tahu akan mengalami sengsara di masa depan (sesuai arti nama). Namun Yabes berhasil mengatasinya. Kita dapat melihat ketika ia menaikan Doa kemenangan Imannya.

Ada beberapa contoh pribadi yang diberikan nama yang baru yang memiliki makna yang lebih baik seperti Abram menjadi Abraham; Simon menjadi Petrus. Ini menunjukkan bahwa Allah lebih tahu siapa diri kita sebenarnya. Kisah lain tentang seorang pahlawan bernama Yefta. Anak seorang pelacur, dia ditolak oleh saudara-saudaranya dan pernah menjadi perampok. Tapi Tuhan tahu Yefta tidak ditakdirkan menjadi perampok melainkan seorang pahlawan yang gagah perkasa (Hakim 11:1-3). Yefta mungkin tidak menyadari bahwa didalam dirinya ada seorang pahlawan. Jika Yefta bisa menang dari kutuk yang diucapkan orang lain maka kita pun bisa.

Filipi 4:3

Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

Orang boleh menjelekkan atau merendahkan kita tetapi jika kita tahu bahwa nama/takdir kita adalah sorga maka kita tidak akan terpengaruh dengan apa kata orang lain.

Kesimpulan

1Taw 4:10 Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!”

Berkat itu bukan selalu soal materi melainkan berkat juga bicara tentang perkenanan Tuhan. Yabes meminta agar semakin hari semakin berkenan kepada Allah. Dan Allah MENGABULKAN permintaannya itu karena Dia meminta dan yakin Tuhan sanggup menolongnya.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

BAHASA KASIH YESUS, oleh Sdr. Jeff Minandar (Ibadah Raya 2 – Minggu, 14 Januari 2018)

1 Korintus 13:13

Ayat diatas akan menjadi dasar pemahaman bahwa kasih punya kekuatan yang sungguh luar biasa, dan karena pendahuluan saya akan panjang, maka saya beri ayat dasar ini terlebih dahulu.

Kasih adalah suatu kata yang tidak akan habis dibahas sampai kapanpun. Kita banyak mendefinisikan kasih dan bahkan setiap orang ditempat ini, masing-masing dari Anda pasti memiliki definisi kasih tersendiri. “Kasih itu berarti uang” mungkin beberapa dari Anda berpikir seperti itu, karena setiap ekspresi kasih membutuhkan uang, baik ketika Anda sendiri, maupun berkeluarga. “Kasih itu berarti perasaan” mungkin juga ada beberapa dari Anda berpikir demikian, karena tidak mungkin kalau tidak ada “rasa didalam dada” kemudian kita mengasihi.

Orang  tua bisa mendefinisikan kasih dari seorang anak adalah ketika anaknya berprestasi, kemudian anaknya itu merawat mereka dimasa tuanya. Sementara seorang anak bisa saja mendefinisikan kasih sebagai pemenuhan biaya kehidupan orang  tuanya saja. Atau bentuk hubungan yang lain, yaitu pada hubungan antara suami-istri dirumah tangga. Seorang suami mungkin mendefinisikan kasihnya dengan 2 kata: menikahi dan menafkahi. Tetapi seorang istri membutuhkan sentuhan lahir dan batin!  Saya tidak sedang menghakimi mengenai mana yang benar atau salah disini. Tetapi menarik bahwa ada banyak cara “membahasakan” atau mengungkapkan kasih itu, dari sekedar konsep, menjadi tindakan nyata.

Ada seorang penulis buku (Gary Chapman) yang mengungkapkan bahwa sebenarnya bahasa kasih itu bisa diungkapkan melalui 5 jenis tindakan. Menariknya pula setiap orang punya kecenderungan lebih kuat ke satu atau dua jenis bahasa kasih tersebut. Berikut jenis-jenisnya:

  1. Tindakan melayani.
  2. ‎Kata-kata peneguhan.
  3. ‎Sentuhan.
  4. ‎Waktu berkualitas.
  5. ‎Pemberian.

Seseorang bisa saja mengharapkan jenis 1 dan 2 tetapi yang ia dapatkan hanyalah jenis 5. Atau seseorang lain melakukan 2 dan 3, dan ia berpikir ia sudah mengasihi pasangannya yang menunjukkan kasih dengan jenis 1 dan 4. Ekspektasi terhadap seseorang bisa membuat Anda terpuaskan atau kecewa. Tetapi kalaupun orang yang Anda kasihi tidak mengerti bahasa kasih yang Anda harapkan itu bukan akhir dunia. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

  1. Utarakan keinginan Anda.
  2. ‎Ingatkan, tetapi tidak berlebihan.
  3. ‎Tanyakan/temukan bahasa kasih orang yang Anda kasihi.
  4. ‎Usahakan untuk memberi bahasa kasih yang diharapkan.
  5. ‎Berdoa untuk perubahan.

Kelima Bahasa kasih ini begitu menarik, tetapi sebenarnya ini bukanlah teori baru, karena Yesus sudah mempraktekkannya ribuan tahun yang lalu. Gary Chapman sendiri adalah seorang pendeta disalah satu gereja baptis yang berlokasi di North Carolina, Amerika Serikat.

Mari saya tunjukkan ayat-ayatnya:

  1. Tindakan melayani

Yohanes 13:1b, 4. Yesus melayani dengan kesadaran penuh bahwa IA “lebih” dari semua murid-muridNYA. Pada kenyataannya, DIA-lah pemegang kuasa di bumi dan di Surga, tetapi IA memilih untuk melayani. Anda hanya bisa disebut pelayan sejati ketika Anda sebenarnya punya “kuasa” untuk tidak melakukannya, tetapi Anda tetap melakukannya karena kerinduan untuk menunjukkan kasih. Galatia 2:20.

2.Kata-kata peneguhan

Matius 28:20. Yesus tidak pernah meninggalkan kita, bahkan IA berjanji akan menyertai kita senantiasa, dan itu dinyatakanNYA dalam banyak kesempatan. Kita tahu “janji penyertaan” itu adalah pribadi Roh Kudus yang akan selalu ada, sampai akhir nanti kita bersekutu dengan Yesus dalam kekekalan. Saya tergoda untuk menjelaskan ayat-ayat mengenai janji kekekalan (misalnya: Wahyu 22:3-5), tetapi mengingat waktu, saya tidak akan lakukan hal itu. Tetapi ingatlah sepanjang Perjanjian Lama Allah juga selalu meneguhkan umatNYA dengan kata-kata: “AKU menyertai kamu,” atau, “AKU tidak akan meninggalkan kamu,” atau frase yang terkenal: “Jangan takut!” (Kejadian 26:3, Ulangan 4:31, Yesaya 41:10).

  1. ‎Sentuhan

Markus 10:16. Yesus dengan kasihNYA yang besar memeluk dan memberkati anak-anak yang datang kepadaNYA. Alkitab tidak mencatat bahwa Yesus memiliki kekasih atau pun pernah masuk dalam jenjang pernikahan kemudian memiliki anak. Tetapi ini tidak menghalangiNYA untuk menunjukkan kasih dengan sentuhan pribadi. IA pun membiarkan salah satu muridNYA, Yohanes, untuk menyentuh diriNYA dan menunjukkan kasih melalui bersentuhan. Yohanes 13:23.

  1. ‎Waktu berkualitas

Markus 6:31. Yesus mengambil waktu untuk beristirahat dan berbincang bersama dengan murid-muridNYA. Fokus Yesus supaya murid-muridNYA belajar sebanyak mungkin dari 3,5 tahun kebersamaanNYA dengan mereka, membuat hal ini (maksudnya waktu Yesus berbincang pribadi dengan murid-muridNYA), tentu terjadi berulangkali dan kita tahu tidak semua tertulis dalam Injil. Yohanes 21:25.

  1. Pemberian

Lukas 9:13. Bercerita tentang bagaimana Yesus menunjukkan kasihNYA dengan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Jika kisah di Lukas melibatkan 5000 orang laki-laki, ada kisah yang hampir sama di Markus 8:2-3, namun melibatkan 4000 orang laki-laki. Pada kisah di Markus dituliskan bahwa, “Yesus tergerak oleh belas kasihan”.

Saya akan menutup penyampaian saya ini dengan sebuah kisah dari Yohanes 11. Ini adalah salah satu kisah klasik dalam Alkitab yang saya yakin Anda, yang dibesarkan dalam lingkungan “Sekolah Minggu”, sudah mendengarnya sejak masih kecil. Secara singkat kisahnya adalah mengenai Keluarga di Betania, yaitu Keluarga yang dekat dengan Yesus. Ini dibuktikan dengan singgahnya Yesus ke rumah mereka untuk memuridkan mereka dengan pengajaran-pengajaran. Kalau Anda penasaran segera saja buka Lukas 10:38-42. Tetapi yang menarik bagi saya adalah bagaimana Keluarga ini meminta Yesus untuk datang dan melawat Lazarus, adik laki-laki mereka.

 Dalam Yohanes 11:3 mereka meminta Yesus untuk datang karena “…dia, yang Engkau kasihi, sakit.” Ketika saya membaca kalimat ini, saya berpikir, mereka benar-benar punya ekspektasi besar untuk Yesus segera datang, karena mereka berpikir, bahwa Yesus pasti ingin membuktikan kasihNYA yang besar terhadap Keluarga ini secara umum, atau Lazarus secara khusus. Tetapi sama seperti kisah-kisah dalam Injil yang lain, Yesus menunjukkan keillahianNYA, dan kita tahu cara pikir Tuhan tidak terjangkau oleh cara pikir manusia. Mazmur 139:17.

Apakah Yesus mengasihi Maria, Marta, dan Lazarus? Saya tidak meragukannya. Tetapi Bahasa kasih yang Tuhan tunjukkan kepada mereka berbeda, dengan tujuan yang berbeda. Yohanes 11:4. Bukankahseringkali kita mengharapkan Allah menunjukkan kasihNYA kepada kita dengan cara pikir kita sendiri. Terkadang kita marah dengan tekanan, kesulitan, dan pengalaman di lembah. Mazmur 23:4-5. Padahal disitu IA sedang membisikkan kalimat yang indah: “Aku mengasihimu anakku”.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Diselamatkan Untuk Memuliakan Yesus , oleh Pdt. JS. Minandar (IBADAH SULUNG – Minggu, 7 Januari 2018)

Lukas 17:11-19

Pendahuluan

Yesus berjalan menyusuri kota Yerusalem menuju ke suatu jalan yang tidak lazim, yaitu ke Samaria karena orang Israel tidak bergaul dengan orang Samaria. Desa Samaria yang Yesus kunjungi dimungkinkan adalah desa tempat Yesus berjumpa degnan wanita samaria yang mencari air dan di tempat yang sama Yesus berjumpa dengan 10 orang kusta. Perhatikan ayat 12, sepuluh orang kusta tersebut saat berjumpa Yesus, mereka tidak berbicara dekat dengan Yesus tetapi dengan jarak tertentu, itu sebabnya mereka berseru kepada Yesus. Sikap mengambil jarak mereka lakukan karena mereka sadar bahwa ada ketentuan-ketentuan taurat tentang orang-orang kusta. Bahkan orang sakit kusta dipisahkan dari penduduk yang sehat dan mereka tinggal dil embah serta tidak mengenakan pakaian yang bagus atau layak, rambutnya acak-acakan serta menyerukan kata “najis..najis..”. Ini dilakukan agar orang mengetahui jika mereka terkena kusta, karena setiap orang yang bersentuhan dengan seorang kusta menjadi najis.

BERSERU KEPADA YESUS

Sepuluh orang kusta itu tetap berseru pada Yesus meskipun mereka tahu bahwa mereka tidak layak. Ini sebuah pelajaran, meskipun kita merasa tidak layak karena dosa, jangan ragu untuk berseru pada Yesus sebab dalam Yesus ada pengharapan. Seperti kesepuluh orang kusta, mereka mengetahui bahwa Yesus peduli dan mengasihi mereka sepenuhnya. Itu sebabnya mereka berani datang pada Yesus. Mazmur 22.6, Yesus tidak pernah mempermalukan orang yang berseru kepadaNya.

Timbullah suatu pertanyaan “Mengapa Yesus tidak langsung menyembuhkan 10 orang kusta saat berjumpa dengan Yesus? Melainkan memerintahkan mereka untuk pergi kepada Imam?” Tujuannya, karena Yesus ingin melihat sejauh mana iman mereka sebab banyak orang yang berseru pada Yesus dengan seruan yang kosong dan tidak ada bobot iman didalamnya. Kita perlu berhati-hati karena menjelang kedatangan Tuhan Yesus kedua kali akan terjadi krisis iman. Jangan sampai ibadah yang sudah dilaksanakan menjadi sia-sia karena tidak ada iman lagi didalamnya – Lukas 18:8.

SESUATU YANG MUSTAHIL

Yesus menyuruh 10 orang kusta itu pergi memperlihatkan diri kepada imam. Ini adalah ujian iman bagi mereka sebab mereka:

  1. Tidak boleh dekat orang tahir
  2. Kenakan baju compang camping
  3. Rambut berantakan
  4. Berseru “najis…najis..”

Pada umunya, kita mengerti bahwa Imam tempatnya di bait Allah, periksa Imamat 21:17-20. Seorang penderita kusta sangat tidak diperbolehkan untuk masuk bait Allah apa lagi berjumpa dengan imam. Jadi, perintah Yesus kepada 10 orang kusta agar berjumpa dengan para imam adalah hal yang mustahil. Namun perhatikan Lukas 17:14, kesepuluh orang kusta tersebut tidak ragu dengan perintah Yesus. Dengan iman mereka pergi kepada imam. Dan selama perjalanan itu mereka mengalami kesembuhan.  Perhatikan Mazmur 19:9, perintah Tuhan tepat, perintah Tuhan adalah murni dan tidak ada tujuan untuk mencelakakan, sehingga mata menjadi bercahaya atau tercengang saat kita melakukan firman Allah.

SETELAH MEREKA DI SEMBUHKAN

Kesepuluh orang kusta yang datang pada Yesus menjadi sembuh (Lukas 17:15), tetapi hanya 1 orang yang datang kembali kepada Yesus (Lukas 17:16) sedangkan kesembilan orang lain lupa kembali pada Yesus dan mengucap syukur karena begitu senangnya melihat tubuh mereka sembuh. Ucapan syukur adalah buah keselamatan yaitu keselamatan jiwa dan tubuh. Jadi seorang yang sudah diselamatkan pasti akan nampak dari buahnya, salah satunya adalah sikap hidup yang mengucap syukur. Keselamatan adalah pengalaman hati yang berdampak pada jiwa dan tubuh. Bila hati, batin atau roh kita belum dijamah, kita belum benar-benar mengalami keselamatan. Jadi jangan heran bila ada yang mengaku percaya, disembuhkan, tetapi tidak beribadah bahkan murtad. Karena orang tersebut hanya fisiknya yang disembuhkan, tetapi hati, batin atau rohnya belum disembuhkan. Sebaliknya orang yang disembuhkan hati, batin atau roh-nya, apa pun yang dia alami dalam pengiringan kepada Yesus, dia akan menjadi pengikut Yesus yang sejati. Imannya tidak bisa dipengaruhi oleh masalah apa pun juga.

Roma 8:35

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Ini cuma bisa dibuktikan oleh orang yang roh, hati, batinnya telah diselamatkan. Ayat inipun adalah ucapan Rasul Paulus.

Lukas 17.19, itu sebabnya Yesus berkata “pergilah sebab imanmu sudah menyelamatkan engkau.” Dalam terjemahan inggris: “And He said unto him, Arise, go thy way: thy faith hath made thee whole.” Artinya, “Bangkit, pergilah, imanmu telah memulihkan kamu secara sempurna/utuh”. Kalimat telah memulihkan secara sempurna dalam terjemahan Yunani ditulis SOZO (sodzo) artinya keselamatan yang sesungguhnya.

KESIMPULAN

Jadi orang percaya yang telah diselamatkan akan tampak dari:

  1. BERIBADAH – Lukas 17:18

Satu orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus, ia kembali kepada Yesus untuk bersyukur dan berterima kasih. Orang yang sudah diselamatkan, seharusnya sadar bahwa mengucap syukur adalah kewajiban.

  1. HIDUP MEMULIAKAN ALLAH – LUKAS 17.18

Perhatikan bahwa orang kusta juga memuliakan Allah. Memuliakan Allah adalah dengan suara nyaring yaitu:

a.memuji dan menyembah Tuhan

Orang yang sudah diselamatkan, bukan hanya sadar dan beribadah. Tetapi juga sadar, bahwa ia harus memuji dan menyembah Tuhan!  Jadi bukan hanya hadir ibadah tetapi saat ibadah, ia memuji dan memulikan Tuhan. Mazmur 40.4, pujian kita luar biasa berkuasa dan membuat orang takut dan percaya kepada Yesus. Tuhan menerima pujian dari manusia. Pujian dan penyembahan adalah bukti bahwa kita sudah diselamatkan secara sempurna oleh Tuhan. Inilah ekspresi dari orang-orang yang sudah diselamatkan.

b. hidup memuliakan Tuhan

Seorang yang sudah diselamatkan seharusnya mengalami perubahan. 2 Korintus 5:17- Orang yang hidup dalam Kristus sudah menjadi ciptaan baru. Seperti seorang kusta, yang memulikan Tuhan dengan kesembuhan pada tubuhnya, demikian pun kita yang dahulu dikenal suka berbuat buruk namun sekarang mengalami perubahan hidup.

c. memuliakan Tuhan sesuai potensi

Tuhan mengaruniakan kepada kita talenta dan karunia yang berbeda. Pergunakan semua yang Tuhan beri untuk memuliakan Tuhan. Kisah Para Rasul 9:36-42, contohnya adalah Dorkas. Ia memakai talentanya untuk memberkati orang lain. Tuhan bisa pakai kita dengan segala cara.

Biarlah keselamatan yang kita terima dapat terekspresi dari cara hidup, penyembahan dan apa yang kita miliki sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

YESUS KECEWA

Dalam kisah 10 orang kusta, Yesus kecewa kepada 9 kusta yang sudah sembuh. Lukas 17:17,18 -Perasaan apa yang ada di hati Yesus, ketika Yesus ucapkan ayat di atas? Yesus ucapkan dengan hati sedih; kecewa; marah.  Kira-kira  dari sorga Yesus melihat cara kita beribadah bagaimana? Bangga, senang, bahagia, puas, gembira atau sebaliknya…? Yesus kecewa, sedih dan marah karena hidup kita tidak mencerminkan seorang yang sudah diselamatkan atau sembuh dengan total. Jadi, marilah kita menyadari betapa kita diberkati dengan keselamatan/ kesembuhan yang Tuhan beri secara utuh. Biarlah dengan kesembuhan yang kita alami, kita bisa memberikan tubuh, jiwa, roh kita untuk memuliakan nama Tuhan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KELAHIRAN YESUS DAN KEDATANGANNYA KEDUA KALI, oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 31 Desember 2017)

Lukas 2:1-7

 

Tidak terasa beberapa jam lagi kita akan meninggalkan tahun 2017 dan memulai perjalanan di tahun yang baru, tahun 2018. Ada banyak hal yang sudah kita lalui dan tentu menjadi evaluasi agar kita menjadi lebih baik di tahun yang baru.

Ada 2 hal yang dapat kita maknai dari pergantian Tahun :

  1. Dengan bergantinya Tahun maka paket hidup kita semakin berkurang. Sisa hidup kita berkurang satu tahun.
  2. Dengan berganti Tahun artinya perjalanan hidup akan semakin dekat dengan garis akhir, yaitu kedatangan Yesus kedua kali.

Karena itu dalam mengevaluasi hidup kita di tahun yang baru, bukan hanya soal bagaimana cara kita mengalami peningkatan dalam hal materi, melainkan juga kita harus mengalami peningkatan dalam hal rohani. Kita masih akan membahas seputar kelahiran Yesus dan akan kita kaitkan dengan kedatanganNya yang kedua. Ada persamaan antara kedatangan Yesus yang pertama yaitu kelahiranNya atau kita rayakan sebagai hari natal dibandingkan dengan kedatanganNya pada kali kedua. Lukas 2:1-7 akan mendasari Firman Tuhan bagi kita.

Persamaan kelahiran (Kedatangan Pertama) dan kedatangan Yesus kali kedua :

tabel1tabel2tabel3tabel4tabel5

Ini mulai diberlakukan di Amerika dengan menawarkan kemudahan dan berbagai keuntungan bagi penggunanya, untuk akses dibidang kesehatan, ekonomi, dan banyak lagi.

Seperti Maria dan Yusuf terluput dari mata Herodes, maka kita rindu kita pun terluput dari mata Antikristus. Karena itu kita dapat mencontoh kehidupan Maria dan Yusuf.

*TIPOLOGI Pengikut Yesus Yang Sejati*

Maria dan Yusuf adalah tipologi pengikut Yesus yang sejati

Maria :

  1. Lukas 1:30 Maria dapat anugerah/kasih karunia dari Allah.
  2. Lukas 1:34 Maria menjaga kekudusan hidup secara utuh tubuh, jiwa, roh.
  3. Lukas 1:35 Maria dikuasai, dipenuhi,dinaungi Roh Kudus.
  4. Lukas 1:38 , Maria beri sepenuh hidupnya untuk Tuhan.
  5. Lukas 1:46-55 Maria hidup dalam penyembahan dan pujian kepada Tuhan.
  6. Lukas 2:19 Maria menyimpan dan merenungkan Firman Allah.

Yusuf :

  1. Matius 1:19, dari sejak muda Yusuf telah menjaga hidup kudus. (*Baca Efesus 5:27)
  2. Matius 1:18, Hidup tanpa cela.
  3. Matius 1:24 Yusuf utamakan kehendak Tuhan daripada kehendak diri sendiri.
  4. Matius 1:25 menjunjung tinggi pesan Firman Tuhan.
  5. Matius 2:13, 14 Taat kepada perintah Tuhan untuk mengungsi ke Mesir.
  6. Matius 2:19-21, Taat walau menderita.
  7. Lukas 2:21 berpegang teguh pada Firman Allah.

KESIMPULAN

Mengakhiri tahun 2017, tentu ada begitu banyak hal yang sudah kita hadapi. Ada stress, kecemasan, kekecewaan, kesakitan/sakit penyakit, mungkin juga sudah ada waktu yang terbuang sia-sia, ada kebencian, kemunduran, kegagalan, penyesalan bahkan hal-hal gelap (dosa). Biarlah semuanya itu ditinggalkan di tahun 2017 serta digantikan dengan sukacita, kebahagiaan, pengharapan, kasih, kepedulian, keberanian, kesuksesan dan kesembuhan di tahun 2018. Semua hal-hal baik itu dapat kita nikmati jika menyertakan Tuhan di tahun 2018. Biarlah kehendak Tuhan diatas semuanya. Hiduplah dengan kekudusan, takut akan Tuhan dan teruslah bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus hingga mencapai kedewasaan penuh menjadi sama seperti Yesus. Tuhan Memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AMAZING LOVE oleh Sdr. Jeff Minandar (Perayaan Natal Pagi -Senin, 25 Desember 2017

Sesuatu yang “amazing” adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang “wow” dan tidak terpikirkan atau tidak terduga. Maafkan saya kalau saya tidak mengambil referensi dari kamus, tetapi saya ingin menangkap faktor “wow” dari kata asing ini.

Bagi Bapak Ibu yang angkatan G30S/PKI keatas (maksudnya yang sudah lahir sebelum tahun 1965) tentu mengenal lagu “Amazing Grace” atau yang diterjemahkan menjadi “Anugerah Besar” atau “Anugerah Heran”. Faktor yang mengherankan ini terbaca dari liriknya, sesuatu yang tidak semestinya dimiliki, namun kemudian diberikan. Wow!

Untuk saudara-saudara angkatan Kerusuhan 1998 kebawah (maksudnya yang baru lahir 1998 atau sesudahnya) tentu mengenal film “Amazing Spiderman”, sang manusia laba-laba, yang menjadi pahlawan fiksi di kota New York. Apa yang mengherankan? Tentu saja kemampuannya yang seperti laba-laba. Wow!

Demikian hari ini tepat tanggal 25 Desember, kita memperingati kelahiran Yesus Kristus. Ini bukan sekedar hari raya yang kita rayakan karena rutinitas. Tetapi momen dimana kita mengingat bahwa ada “Amazing Love” yang menjadi manusia. Kemudian hal ini membuat kita mampu memiliki kasih yang mengherankan, kepada sesama dan kepada Tuhan.

Bulan Februari 2017 saya sempat bicara kepada rekan-rekan HOF mengenai cinta, dan membahas bahwa: Hidup ini adalah gambaran tentang “G-TO-G”. Started with GOD and ended with GOD. Jadi ada siklus seperti ini:

“GOD –> Love –> ME –> Love –> OTHER –> Love –> GOD”

Jadi hidup kita berawal dari Tuhan, ujungnya juga kepada Tuhan, sehingga tidak ada yang dapat kita banggakan, selain kasih yang datang dari Tuhan dan seharusnya kembali kepada Tuhan.

Dengan dasar ini kita masuk kedalam ayat utama kita: Matius 9:13.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Ayat ini sebenarnya dikutip dari Hosea 6:6 yang saya akan saya bahas secara paralel. Jadi Anda bisa buka kedua ayat tersebut dan ikut membandingkan. Kata “kukehendaki” pada ayat di Matius, pada ayat di Hosea menggunakan kata “menyukai”. Kata “belas kasihan” yang pada Perjanjian Baru hanya terbatas pada kata itu. Pada Perjanjian Lama dipakai kata Ibrani “chesed atau hesed” yang artinya bisa: kebaikan, kesetiaan, anugerah, kasih dan belas kasihan. Frase “Aku datang…” menunjukkan alasan kedatangan Yesus, yang adalah Allah, yaitu untuk memanggil orang berdosa. DIA datang bukan untuk orang-orang benar namun bagi mereka yang terhilang. Lukas 15:1-32.

Kisah seperti ini menimbulkan kesenjangan yang begitu lebar, bahkan irasional (lihat saja ketiga cerita di Lukas 15). Bagaimana mungkin “Yang Mulia” mau menjadi sama dengan “yang hina”? Bagaimana mungkin yang “kaya” menanggalkan statusnya untuk menjadi “miskin”? Bagaimana mungkin “yang tidak bersalah” mencari, dan setelah mendapatkan, mengampuni “yang bersalah”? Bagaimana mungkin yang ganteng/ cantik, menikahi yang “jelek dan jorok”?

Anda mungkin berkata ini cuma kisah yang ada di sinetron atau di layar lebar. Tetapi kisah seperti itu sebenarnya tertulis di Alkitab mengenai Nabi Hosea. Saya pernah menyampaikan hal ini dalam Ibadah Raya beberapa tahun yang lalu, Anda bisa mengakses semua khotbah yang disampaikan di GPdI Mahanaim dari tahun 2014 di http://www.gpdimahanaim-tegal.org.

Secara singkat apa yang tertulis di Hosea adalah definisi “Amazing Love” itu. Mari kita mulai dari Hosea 1:2 dimana Hosea sebagai nabi Tuhan (yang hidup seangkatan dengan Yesaya) mendapat Firman untuk menikahi seorang perempuan sundal, sebagai perlambang kasih Tuhan (arti nama Hosea sama dengan Yosua, Yesus) kepada suatu negeri yang “membelakangi Tuhan”. Saya berharap Anda tidak mendapat ayat ini nanti ketika di Akhir Tahun atau Ibadah Sulung dibagikan ayat emas untuk 2018.

Tetapi kita bisa lihat dari kisah bagaimana Allah memiliki Kasih yang heran, yang Anda tidak pernah bisa pikirkan. Seperti Hosea, Allah berkomitmen untuk “menikahi” Gereja Tuhan (yang dalam Perjanjian Baru sering dilambangkan sebagai perempuan). Siapa dari kita yang tidak hina, miskin, bersalah, jelek dan jorok di hadapan Tuhan. Tapi Kasih itu begitu besar IA berkomitmen untuk menyelamatkan manusia yang kemudian digenapi melalui Yesus. Bahkan seperti Hosea yang diminta memperanakkan keturunan lewat perempuan sundal, saya melihat hal ini sebagai suatu investasi yang dilakukan Hosea. Demikian juga Tuhan, bukankah IA Tuan yang menginvestasikan talenta-talenta luar biasa pada kita (Matius 25:14-30)? Bukankah IA Bapa yang memberikan sebagian hartanya untuk si bungsu, yang kemudian menghabiskannya untuk bersundal (Lukas 15:11-32)? Apa yang jadi respon kita sekarang?

Perempuan sundal ini, yang bernama Gomer, adalah gambaran kita bukan? IA mencintai kita, bahkan saat kita masih bersalah. Jika itu saja belum cukup dalam Hosea 3:1-3 dituliskan mengenai bagaimana Hosea mencintai kembali ia yang bersalah, ia yang berpaling, ia yang berdosa, bahkan menebus! Ini berbicara tentang korban. Apa respon yang Allah harapkan? Supaya kita mencari DIA, karena “gementar kepada Tuhan dan kepada kebaikanNYA” atau pada KasihNYA yang begitu heran. Hosea 3:5.

Seorang ibu gembala dari sebuah gereja besar di Hillsong Australia pernah mengatakan kutipan yang saya rasa sangat tepat dengan tema Natal 2017 kita:

The beauty of the gospel, yet it is the mistery for many, God the Father choose not to abandon us. This is amazing!

Kasih terbesar ini, kabar baik ini sudah dijanjikan sejak dahulu kala (Roma 1:2), digenapi dalam Yesus, dan hari ini kita rayakan dengan ucapan syukur.

Tim musik dari gereja ini, Hillsong Worship, pernah menyanyikan lagu yang menggambarkan “Amazing Love” judulnya “Love On The Line”:

You put Your love on the line

(KAU ambil resiko dengan memberi Kasih)

To bear the weight of sin that was mine

(Untuk menanggung beban dosaku)

Washing my rivers of wrongs

(Membasuh kesalahanku yang seperti sungai)

Into the sea of Your infinite love

(Masuk kedalam KasihMU yang seluas samudera)

With arms held high

(Dengan tanganku terangkat tinggi)

Lord I give my life

(Tuhan aku menyerahkan hidupku)

Knowing I’m found in Christ

(Aku tahu aku ditemukan di dalam Kristus)

In Your love forever

(Didalam KasihMU selamanya)

With all I am

(Dengan seluruh keberadaanku)

In Your grace I stand

(Dalam AnugerahMU kuberdiri)

The greatest of all romance

(Kisah Cinta terbesar)

Love of God my Saviour

(Kasih Allah penyelamatku)

Mercy roars like hurricane winds

(Belas kasihan begitu dahsyat seperti angin badai)

Furious love laid waste to my sin

(Kasih yang begitu besar tercurah untuk dosaku)

To the one who has rescued my soul

(Bagi DIA yang telah menyelamatkan jiwaku)

To the one who has welcomed me home

(Bagi DIA yang telah menyambutku pulang)

To the one who is Saviour of all

(Bagi DIA juruselamat segala insan)

I sing forever

(Aku bernyanyi selamanya)

Kembali pertanyaannya setelah kita merasakan “Amazing Love” ini, apa respon kita? Bolehkah kalau saya mengajukan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk meresponi ini?

  1. Dengan memuji dan menyembah DIA, menggantikan semua kata yang sia-sia, yang keluar dari mulut kita. Karena dengan demikian kita menunjukkan kasih kita padaNYA.
  2. Dengan mengasihi sesama kita, dan membantu mereka yang perlu dibantu.
  3. Dengan mengundang mereka di luar sana untuk mencicipi, menikmati Kasih yang Heran, Amazing Love.

 GodblesS

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Amazing Love – Oleh : Pdt. J.S. Minandar (Perayaan Natal Sore – Senin, 25 Desember 2017)

Matius 9:13

“Jadi pergilah dan pelajarilaharti firman ini:  “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

PENDAHULUAN

Orang Farisi mengkritik Yesus karena melihat Yesus hadir dan makan di rumah Matius, yang dinilai oleh orang Farisi sebagai orang berdosa karena profesinya sebagai pemungut cukai. Sebab bagi orang Farisi, Yesus adalah seorang yang suci, yaitu seorang Rabi karena pelayanan yang Yesus lakukan meskipun orang Farisi belum mengakui Yesus sebagai Tuhan. Dan Tuhan Yesus pun menjawab “Karena Aku datang bukan memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

  1. TABUR TUAI

Pada umunya kita mengerti bahwa kata tabur – tuai cenderung kepada hal materi atau hal jasmani. Orang-orang diluar Kristus menyebutnya dengan kata Karma. Dalam 2 Korintus 9:6 – Camkanlah ini: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Sebuah contoh, bila seseorang memiliki ladang yang berpotensi ditaburi benih 10 ton maka akan menghasilkan 100 ton. Akan tetapi karena orang tersebut hanya memiliki 1 ton, maka ia hanya dapat menuai 10 ton. Jadi semakin banyak menabur, maka hasil yang dituai makin bertambah.

Semakin banyak orang percaya berbuat baik dan mengasihi maka jerih payahnya tidak akan menjadi sia­-sia sebab dalam Kristus apapun yang kita perbuat untuk kemuliaan Allah akan menerima upah di bumi bahkan di Surga. Tetapi, kita lupa bahwa kejahatan dan perbuatan keji sama dengan menabur benih dosa yang harus dituai hasilnya. Roma 6:33a – “Sebab upah dosa ialah maut…” Jadi dosa yang selama ini telah kita tabur, suatu saat akan dituai dan wujud tuaian dosa itu adalah maut (neraka).

Berapa banyak dosa yang telah kita tabur sepanjang umur kita? Dan upah/tuaian maut seperti apa yang harus kita terima nanti? Jika menghitung dalam 1 tahun ada 365 hari dikali 2 dosa setiap harinya maka jumlah tersebut dikalikan dengan umur seseorang dari satu tahun maka betapa besarnya tuaian yang harus ditanggung? Mau tidak mau, semua upah dosa harus dibayar yaitu maut.

SYUKUR KEPADA  ALLAH

Namun syukur kepada Allah, ayat tersebut tidak berhenti hanya sampai Roma 6:23a saja. Tetapi berlanjut Roma 6:23b “…tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita…” Bersyukur bahwa kita adalah orang yang menyambut kasih Yesus, yaitu amazing love. Sehingga tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, melainkan hidup kekal. Inilah sesuatu yang amazing, luar biasa,heran dan ajaib. Tidak ada kebaikan yang sanggup membayar dosa-dosa, sebab orang berdosa tidak dapat lakukan yang baik sehingga menutupi dosanya.

Namun orang-orang di luar Yesus  berpikir bahwa iman Kristen itu irasional atau tidak masuk akal. Setelah berbuat dosa lalu percaya Yesus lalu dosa diampuni dan masuk dalam kerajaan surga. Itu sebabnya ada ajaran yang menekankan untuk berbuat baik agar dosa diampuni. Mereka beranggapan bahwa hukum tabur tuai (karma) itu tidak berlaku bagi orang Kristen.

Jadi apakah hukum tabur tuai? Hukum tabur tuai adalah:

  • Hukum Allah yang benar
  • Hukum yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun
  • Setiap orang yang menabur, ia harus menuai apa yang ia tabur. Kolose 3:25, apa yang ditabur, itu yang dituai oleh orang tersebut. Jika menabur dosa, akan menuai maut. Tujuan kelahiran Yesus bukan berakhir di Bethlehem tetapi sampai karya penebusan selesai, supaya dalam Yesaya 53:4 tergenapi. Inilah yang disebut Amazing Love (Kasih Yesus Yang Ajaib).

Tuhan Yesus tidak mau manusia menuai maut, dan binasa di dalam neraka. Kita yang seharusnya menuai maut di dalam neraka. Oleh karena Kasih Yesus kepada manusia, maka maut yang seharusnya menimpa manusia, telah ditimpakan Yesus kepada diri-Nya, agar setiap orang yang percaya diselamatkan (tidak binasa). Jadi orang Kristen bukan tidak menuai dosa yang telah ditaburkannya, melainkan dosa tersebut sudah ditanggung oleh Yesus di atas kayu salib.

  1. HUTANG YANG TIDAK BISA DIBAYAR

Pada catatan sebelumnya seorang yang berdosa digambarkan seperti seorang yang menabur. Tetapi dalam Matius 18:21-27 orang berdosa diumpamakan seperti sedang berhutang dan suatu waktu setiap kejahatan; kesalahan dan dosa yang telah diperbuat atau lakukan harus pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Bila tidak dilunasi akan menerima konsekuensi yang besar. Pada saat itu terjadi percakapan antara Yesus dan murid-muridnya. Bahwa mereka harus mengampuni 70×7 kali. Ini bukan berarti bahwa harus mengampuni sampai batas 490 kali kemudian boleh untuk tidak mengampuni. Sesungguhnya 70×7 mengandung arti pengampunan yang total / sempurna yang Yesus berikan kepada orang percaya. Pada ayat-ayat tersebut menuliskan ada seorang raja yang mulai mengadakan perhitungan. Lalu dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang 10.000 talenta. Ini merupakan gambaran kehidupan semua manusia yang berdosa. Sekecil apa pun dosa yang sudah seseorang perbuat, semua diperhitungkan oleh Tuhan. Jadi jumlah hutang dosa yang diperbuat seseorang di mata Tuhan, seperti berhutang 10.000 talenta dan harus lunasi, jika tidak ia harus masuk penjara (Neraka).

Talenta

Berapa besar nilai 10.000 talenta…?

  • 1 talenta =1000 dinar
  • 1000 talenta = 10.000 X 6.000 dinar = 60.000.000 dinar

Jadi setiap orang berdosa harus membayar hutang sebesar 60.000.000 dinar. Semakin panjang usia, semakin banyak tumpukan dosa yang harus dilunasi. Jadi bila ada ajaran untuk selamat kita harus buat yang baik, amal, ibadah, kita bandingkan dengan perumpamaan Matius 18. Upah kerja pada starta zaman itu, dari pukul 6 pagi sampai 6 sore bernilai 1 dinar (Matius 22:2). Jadi untuk melunasi hutang 60.000.000 dinar, kita harus kerja selama 60.000.000 hari. Bila seseorang bisa berusia sampai dengan 100 tahun, berarti 100X365 hari = 36.500 hari. Kalau sejak lahir, seseorang bekerja sampai meninggal di usia 100 tahun, maka hasil yang didapat hanya 36.500 dinar. Jadi waktu hidup tidak dapat membayar 60.000.000 dinar.  Perhatikan ayat 25, tetapi karena orang berhutang tidak dapat membayar, maka ia dan keluarganya harus dijual. Ini berarti setiap orang berdosa dan tidak bisa membebaskan diri dari dosa, ia jadi budak dosa dan terjual kepada maut yang berakhir ke neraka/ kebinasaan.

Jadi apakah solusinya? Karena ia tidak bisa lunasi hutang yang sudah diperbuatnya?

Matius 18:26,27 – sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: “Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan”. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Satu-satunya yang bisa membebaskan seseorang dari neraka adalah belas kasihan Tuhan. Sebab itu Yesus rela datang ke dunia, mati disalib untuk menanggung dosa manusia. Hanya pengampunan Yesus yang mampu membebaskan dari hutang dosa. Tuaian maut yang harus tuai dan tanggung di dalam neraka telah dituai (ditanggung) oleh Yesus bagi kita di atas kayu salib. Sujudlah menyembah kepada sang Raja yaitu Yesus dan memohon pengampunan.

Hanya Yesus yang bisa selesaikan hutang dosa kita, asalkan kita jujur, mengakui semua hutang dosa dan kejahatan kita. Kolose 2: 14 dan 15, ketentuan hukum adalah tabur tuai, menabur dosa menuai maut dan hukum kedua adalah berhutang dan harus membayarnya jika tidak masuk penjara (neraka). Namun semua itu sudah lunas, Yesus telah memakukannya di atas kayu salib. Sehingga ketika iblis datang kepada Tuhan dan mendakwa kita maka Tuhan Yesus berkata bahwa IA sudah melunasi segenap hutangnya, inilah amazing love.

TANGGUNG JAWAB

Setelah seseorang sudah diampuni dosanya maka tanggung jawab yang harus dikerjakan  adalah pergilah dan pelajarilah arti firman ini: “yang Kuhendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Jadi tanggung jawab setiap orang percaya adalah:

  1. “Pergi Menjadi Saksi Yesus…!”

Pergi bukan berarti kabur sebab sudah dilunasi hutangnya, melainkan memberitakan kepada semua orang, bahwa ada solusi (jalan keluar) agar bebas dari maut (neraka) dan diselamatkan. Masalah dosa, kita harus berperkara kepada Tuhan dengan mengakui semua dosa 1 Yohanes 1:9.

  1. Miliki Hati Seperti Yesus

Hati Yesus adalah hati yang dipenuhi dengan belas kasihan. Orang melihat dari orang yang sudah diampuni mengalir hati yang penuh belas kasihan. Namun jika melihat dalam kisah Matius 18:28, hamba yang sudah dibebaskan dari hutang 60.000.000 dinar bertemu dengan seorang yang berhutang padanya 100 dinar. Artinya, kalau ada orang yang telah berhutang salah; keliru; khilaf dan lainnya kepada diri kita namun kita tidak memiliki belas kasihan maka kita sama dengan hamba tersebut. Yesus mengajarkan, bahwa sebesar apapun hutang salah yang telah mereka buat kepada kita, bagikan dan buktikan bahwa kita telah terima belas kasihan Kristus, dengan memberikan pengampunan kepada yang membutuhkan.

Inilah amazing love, yaitu kasih Allah yang besar, yang sudah diberikan kepada semua manusia. Seharusnya tidak layak, menjadi layak oleh karena penebusan Kristus bagi kita. Kiranya kasih Allah ini menjadi milik kita, sehingga kemana pun kita pergi, kasih Allah memancar dalam kehidupan setiap kita, maka jiwa-jiwa akan semakin ditambahkan karena melihat hidup kita yang penuh belas kasihan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BELAJAR DARI SEORANG ANAK KECIL – Oleh : Pdt. Roland Sitompul (Ibadah Natal Sore – Minggu, 24 Desember 2017)

Matius 18:1-5

Pertanyaan murid-murid sangat menarik dan pertanyaan ini wajar sebab mereka sudah mengorbankan banyak waktu bersama Yesus. Bahkan murid-murid  melakukan mujizat dan berpikir bahwa pelayanan mereka ada kelebihan sedikit dari orang-orang lain. Sebab itu mereka bertanya ”siapakah yang terbesar dalam kerajaan Surga?” Ada suatu keyakinan yang besar dalam hati para murid bahwa mereka pasti masuk dalam kerajaan Surga. Keyakinan yang dimiliki oleh para murid, perlu juga untuk kita miliki bahwa suatu kali kelak masuk dalam kerajaan Surga. Tetapi dalam ayat yang ke 2, Yesus memanggil seorang anak kecil dan menaruhnya di tengah murid. Tiga kali Yesus menyingung anak kecil, yaitu pada ayat ke-3, ke-4 dan ayat ke-5.

Ada beberapa hal yang dapat dilihat dari seorang anak kecil sehingga Yesus menekankan betapa penting belajar dari seorang anak kecil. Bahwa mereka mudah diajar, apapun yang diajarkan dengan mudah ia ikuti. Anak kecil pun begitu polos dan terbuka. Mereka menceritakan apa yang mereka lihat dan pelajari. Selain dari pada itu, anak kecil begitu lemah dan tak bertenaga. Inilah yang Yesus lihat dan sampaikan kepada para muridNya agar mereka mengikuti apa yang anak kecil kerjakan. Perkataan Yesus bukan tawaran atau pilihan melainkan syarat untuk masuk dalam kerajaan Allah. Kelemahan yang dilihat Yesus dalam pribadi anak kecil, sehingga kurang dihargai.

Dalam 1 Korintus 1:26-27, Rasul Paulus menuliskan tentang keadaan kita waktu percaya kepada Tuhan Yesus. Banyak yang tidak terpandang, tidak berpengaruh di tengah masyarakat sehingga dipandang lemah. Iman lemah dan kekuatan rohani kita lemah. Dalam Lukas 12:32, secara jumlah orang percaya kecil dibandingkan dengan yang lain sehingga kurang diperhitungkan. Seolah posisi kita lemah seperti anak kecil. Tetapi jawab Yesus dalam Matius, jangan kuatir karena menjadi kawanan kecil.

Penjelasan Yesus tentang anak kecil membuat para murid menjadi sedikit bingung dan mungkin ada yang kecewa. Mengapa mereka harus menjadi anak kecil untuk masuk kerajaan Allah. Tetapi dalam injil Lukas disampaikan walaupun kita lemah tidak mampu seperti anak kecil, Yesus katakan agar jangan takut bahwa Tuhan memberikan kerajaan yang dijanjikan oleh Allah asal kita merendahkan diri seperti anak kecil.

Dalam 1 Korintus 14:20, pada umumnya dengan bertambahnya usia, seseorang dapat lakukan hal yang licik. Pada kitab Kejadian menuliskan bahwa manusia cenderung berbuat jahat, itu sebabnya firman Allah katakan agar menjadi dewasa dalam pemikiran namun seperti anak kecil dalam kejahatan. Itu sebabnya Yesus memberikan persyaratan untuk masuk dalam kerajaan Allah harus seperti anak-anak dalam kejahatan. Mereka begitu polos dan percaya kepada apa yang mereka lihat dan dengar dari orang tua mereka. Allah kita adalah Bapa kita, jadilah seperti anak kecil yang percaya dan mengikut apa yg disampaikan oleh Bapa di Surga. Allah menegur setiap orang percaya agar menjadi dewasa dalam pemikiran tetapi menjadi kanak-kanak dalam kejahatan. Dewasa dalam pemikiran itu penting, sehingga kita mengerti maksud dan rencana Allah dalam hidup kita. Karena seorang kanak-anak terbatas dalam mengerti soal hal-hal yang jahat.

Perhatikan dalam 2 Korintus 12:10, rasul Paulus suka penderitaan karena Kristus. Sebab jika ia lemah maka ia kuat. Meskipun banyak orang menghindar dari penderitaan. Namun rasul Paulus bangga dalam penderitaan karena Kristus. Biarlah penderitaan karena Kristus menjadi kesukaan sampai kita menjadi seperti Yesus. Semakin merendahkan diri oleh karena Kristus, maka Tuhan akan bekerja didalam hidup kita lebih lagi. Semakin kita menjadi lemah, maka Roh Kudus semakin leluasa bekerja dalam hidup kita untuk memberikan kekuatan dan kemampuan dalam menjalani hidup ini. Tuhan memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment