Seminar Keluarga

Screenshot_2018-07-18-09-54-52-57

Advertisements
Image | Posted on by | Leave a comment

MENGHANCURKAN KEPUTUSASAAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 8 Juli 2018)

Nehemia 4:10
Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Bahkan terkadang apa yang tidak diinginkan dan dihindari malah terjadi, sebaliknya yang diharapkan tidak terjadi. Inilah fakta hidup! Musim akan terus berganti mengiringi perjalanan hidup kita. Pada musim panen kita akan berbahagia dan penuh tawa, sebaliknya saat musim berubah menjadi gelap, kelam dan kelabu hidup kita dipenuhi duka dan penderitaan.  Pada musim yang terakhir inilah kadang-kadang kita tidak tahan untuk melewatinya. Persoalan yang terjadi seolah-olah sudah berada diambang batas kemampuan untuk menanggungnya, sehingga tidak jarang seseorang mengalami keputusasaan.

Menurut media online ada beberapa fakta yang menunjukan bahwa karena beban hidup yang berat membuat seseorang berputus asa hingga berujung bunuh diri.

  • Jawa Pos-27 Juni 2018 – Putus Asa, Pemuda Ini Akhiri Hidup dengan Nenggak Apotas
  • com -Kamis, 05 Juli 2018 – Sakit Tak Kunjung Sembuh, Ngatimin Gantung Diri
  • Tribun Batam-26 Juni 2018 – Gadis yang hanya disebut bermarga Li ini tewas karena meloncat dari atas gedung dengan wajah putus asa.

Keputusasaan bukan saja menyergap manusia di “zaman now”, ribuan tahun yang lalu keputusasaan telah merasuki hidup manusia sejak manusia jatuh dalam dosa, tidak terkecuali kepada bangsa pilihan Allah yaitu Israel. Pada zaman nabi Nehemia seluruh bangsa Yehuda juga mengalami keputusasaan saat mereka hendak membangun kembali tembok Yerusalem yang telah menjadi reruntuhan. Lihatlah apa yang mereka katakan dalam Nehemia 4:10 : Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Upaya membangun kembali tembok Yerusalem ternyata tidaklah mudah, sebab bukan saja ketersediaan sumber daya yang terbatas, tetapi juga tantangan dari bangsa-bangsa sekitar Yerusalem yang ingin menghambat bahkan menggagalkan pembangunan kembali tembok Yerusalem. Di sana berdiri Sanbalat, Tobia Orang Amon, orang Arab, dan orang Asdod mengolok bangsa Yehuda yang sedang membangun tembok Yerusalem. Dibawah tekanan dan kesulitan yang besar pada akhirnya mereka menyerah dan putus asa. Serentak mereka berkata : “… Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Apakah yang menyebabkan bangsa Yehuda putus asa? Dari ayat pokok di atas kita dapat melihat beberapa penyebab bangsa Yehuda putus asa.
1. Kelelahan
Perhatikanlah perkataan mereka. Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot..” Pembangunan tembok Yerusalem telah menguras tenaga mereka. Berhari-hari mereka bekerja siang dan malam mengangkat puing-puing reruntuhan namun sepertinya puing-puing tidak berkurang. Seluruh kekuatan telah dikerahkan, seluruh tenaga dan daya telah dihabiskan hingga akhirnya mereka kelelahan. Tidak ada lagi tenaga dan kekuatan yang tersisa untuk terus mengangkat kembali puing-puing reruntuhan. Beban pekerjaan yang besar dan banyak telah membuat bangsa Yehuda kelelahan dan kehabisan tenaga.

Berhati-hatilah dengan kelelahan, karena kelelahan adalah akar keputusasaan. Saat tenaga telah terkuras, daya makin menurun dan kekuatan telah habis, keputusasaan akan segera menyergap kita. Jangan biarkan kelelahan menghabisi hidup Anda. Jika Anda lelah datanglah kepada Tuhan yang memberikan kekuatan baru bagi anak-anakNya.

Yesaya 40:30,31
Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Kata : menanti-nantikan TUHAN dalam bahasa Ibrani ditulis menggunakan kata “Kavah” yang berarti: to bind together by twisting. Seperti dua utas tali yang dipilin menjadi satu, sehingga kekuatan menjadi satu, mengganda, dan makin perkasa. Itulah keadaan orang yang melilitkan diri kepada Tuhan, kekuatan Tuhan akan menyatu dalam dirinya. Jika anda lelah kavahlah dengan Tuhan, disana anda akan menemukan kekuatan baru, pemulihan dan kesegaran.

2. Beban berat
Nehemia 4:10 : Berkatalah orang Yehuda:  “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.“

Rupanya keputusasaan bangsa Yehuda bukan saja disebabkan kelelahan yang mereka alami, tetapi juga karena beban pekerjaan yang sangat banyak. Siang malam mereka mengangkut puing tetapi puing-puing tidak berkurang. Gunung-gunung reruntuhan sepertinya menggandakan diri sehingga tidak habis-habis untuk dibuang.

Kehidupan selalu memberikan beban kepada kita, kadang-kadang beban itu sangat berat dan besar sehingga kita tidak mampu menanggungnya. Untunglah kita punya Tuhan yang peduli kepada kita. Ia memanggil kita yang berbeban berat untuk menerima kelegaan dan kelepasan.

Matius 11:28
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

3. Menyerah
Ketika kelelahan menyergap, beban menumpuk pada akhirnya bangsa Yehuda menyerah dan putus asa. Itulah yang dialami bangsa Yehuda, mereka menyerah, tidak sanggup lagi melanjutkan pembangunan tembok Yeruslam.

Dalam hidup ini kita bisa salah, kita bisa gagal, kita juga bisa kalah, tetapi jangan pernah menyerah. Jika kita salah, kita masih bisa memperbaikinya, jika kita gagal kita masih dapat mengulangi kembali bahkan jika kita kalah kita masih bisa mencoba kembali. Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah. Percayalah selalu ada jalan bagi mereka yang bertahan.

Presiden Joko Widodo pernah berkata: “bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutanlah yang membuat sulit, jadi jangan menyerah.”

Keluar dari KEPUTUSASAAN
Di tengah keputusasaan yang mendera bangsanya, Nehemia berdiri mengajak umat untuk bangkit, terus membangun, jangan menyerah. Apa yang ia lakukan saat bangsa Yehuda mengalami keputusasaan?

1. Berseru kepada Allah
Nehemia 4:4
Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.

Nehemia berseru kepada Allah, ia memanggil Tuhan yang berkuasa untuk menolongnya. Jika segala usaha terasa sia-sia, segala pintu tertutup, manusia tidak lagi mendengarmu, datanglah kepada Tuhan, berserulah kepadaNya, telingaNya selalu terbuka  bagi seruan anak-anakNya.

Tuhan tidak pernah menutup telingaNya bagi kita, semua yang berseru kepadaNya selalu didengarNya.

Matius 20:30  – Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!”

 Mat 15:22  – Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”

 Yeremia 33:3  – Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui.

2. Teruslah Bekerja
Nehemia 4:6
Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.

Seberat apapun yang kita alami jangan menyerah, teruslah bekerja. Lakukanlah yang saudara bisa lakukan, yang tidak bisa kita kerjakan serahkanlah kepada Tuhan. Sekalipun kelihatan kecil dan tak berarti teruslah bekerja, sebab dari yang kecil akan melahirkan perkara-perkara yang besar.

3. Pandanglah TUHAN
Neh 4:14
Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: “Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.”

Jika kita melihat beban yang kita alami, persoalan yang kita tanggung, kita akan menjadi lemah dan putus asa. Saatnya angkat kepala anda dan lihatlah Tuhan yang maha besar dan dahsyat. Melihat ke bawah, saudara hanya melihat masalah, melihat ke atas saudara akan melihat Tuhan yang mengatasi masalah yang kita alami. Sebab itu jangan menyerah!

2Tawarikh 15:7
Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”

Tuhan memberkati. GBU.KJP!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengalami Kuasa Dalam Ibadah – Oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 1 – Minggu, 1 Juli 2018)

1 Timotius 4:8

Rasul Paulus menyampaikan kepada Timotius bahwa ibadah adalah hal yang sangat berguna sehingga ibadah tidak ditinggalkan melainkan setia dalam mengikuti ibadah. Latihan badani juga berguna, tetapi hanya mencapai umur 80 sampai 90 tahun. Sedangkan ibadah, berguna sampai kekekalan dan berguna dalam segala hal. Ibadah juga mengandung janji Allah, yang diperoleh dengan datang ibadah. Dalam keadaan yang masih sehat inilah kesempatan terbaik untuk beribadah.

Menikmati kuasa ibadah bukan hanya di ibadah raya melainkan setiap jam-jam pertemuan ibadah seperti wadah dan keMah (Keluarga Mahanaim). Sehingga kita pun diberkati, bukan menjadi tim penilai dalam setiap pertemuan ibadah.

PELAYANAN YESUS
Dalam pelayanan Yesus, ada kesembuhan dan mujizat karena disana mereka bersekutu bersama. Dalam suatu pertemuan ada kuasa karena Yesus hadir. Jika Yesus hadir dalam ibadah maka kuasa dan mujizat akan dialami bagi mereka yang hadir. Dalam Kisah Para Rasul, para murid juga mengalamai kuasa ibadah dan semua orang juga yang datang beribadah atau bersekutu, mengalami kuasa Allah sehingga banyak diselamatkan dan disembuhkan. Tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa kuasa ibadah tidak kita alami?

Matius 21:12
Dalam pasal ini, Yesus menyucikan bait Allah karena ada orang-orang yang mencari keuntungan dengan bersekutu  bersama para imam. Itu sebabnya Tuhan Yesus menegur mereka. Alhasil di ayat 14, orang yang datang karena sakit dan pulang menjadi sembuh. Tuhan Yesus pun menguduskan setiap orang yang percaya sehingga mujizat dan kuasa dialami dalam setiap pertemuan ibadah. Jangan sampai gereja kehilangan kuasa dalam ibadah karena kompromi dengan dosa. Itu sebabnya, setiap jemaat meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah sehingga kuasa dan mujizat kembali dinyatakan dalam ibadah.

Jika kita memperbaiki hidup dan bersungguh dalam hidup yang kudus maka mujizat dinyatakan, maka yang sakit disembuhkan dan yang bermasalah diberikan kekuatan serta sukacita.

Berikut adalah contoh orang yang mengalami kuasa dalam ibadah. Markus 5:25-34, wanita menderita 12 tahun pendarahan dan begitu menderita. Tetapi ia menjadi sembuh karena:

1. Ayat 27 – Cara ia mendengarkan Firman Allah
Titik awal terjadinya mujizat adalah cara mendengar Firman Tuhan. Alkitab tidak mencatat sejak kapan/seberapa banyak firman yang didengarnya. Mungkin sering mendengar tetapi sekedar mendengar. Detik itu, benih firman Tuhan yang pernah didengarnya tumbuh, imannya bangkit.

Bandingkan dengan Roma 10:17, iman timbul dari mendengar firman Tuhan. Tidak mendengarkan firman dengan baik maka tidak ada pertumbuhan bahkan makin melemah ketika dalam keadaan sukar. Jadi dengarkan firman Tuhan dan nikmati.

Mungkin kita sering mendengar dan membaca Firman tetapi tidak terjadi apa-apa sehingga kita mundur. Tetapi ada waktunya benih itu tumbuh, merubah, memulihkan dan menyembuhkan kita.Saat itulah kita alami mujizat. Namun kita tidak tahu Firman Tuhan yang kapan dan yang mana yang akan memberi mujizat. Oleh sebab itu marilah membaca dan mendengar Firman Tuhan sebanyak yang kita mampu.

2. Ayat 26 – Penyerahan total kepada Tuhan
Kuasa Allah dinyatakan dengan cara kita melakukan penyerahan total kepada kehendak Allah. Wanita pendarahan ini sudah gunakan kekutannya lebih dahulu dengan kekayaan yang ia miliki, tetapi saat ia serahkan kepada Tuhan, maka Allah bekerja.

Saat kita masih berharap kepada manusia, harta atau yang lainnya, mujizat tidak akan terjadi. Permasalahnnya, hati kita lebih tergantung kepada yang lain daripada bergantung kepada Tuhan. Contohnya saat kita sembuh dari sakit, yang kita ucapkan adalah nama dokter/obat yang kita minum.

Dalam Yeremia 1;5,7 – Terkutuk orang yang mengandalkan manusia dan hatinya menjauh dari Tuhan. Biarlah Allah bergerak dalam masa sukar,  maka mujizat Allah akan bekerja. Ketika wanita ini mulai percaya dan berharap kepada Tuhan, Tuhan turun tangan menolongnya. Pertolongan dari manusia tidak menghasilkan apa-apa bahkan menjadi lebih buruk, tetapi dengan Tuhan, mujizat terjadi.

3. Ayat 28,29 – Fokus kepada pribadi Allah
Wanita pendarahan ini fokus sembuh dan mencari obat-obatan. Tetapi saat imannya bertumbuh, ia merubah pemikirannya yaitu datang pada Yesus bukan hanya untuk mendapatkan kesembuhan melainkan beriman “asal kujamah saja jubahNya, maka aku sembuh”. Datanglah kepada Allah bukan hanya untuk mendapatkan berkat dan mujizat. Tetapi datanglah dengan kerinduan untuk menjamah pribadiNya sebagai sumber segala sesuatu maka berkata dan kesembuhan pasti akan dialami.

4. Ayat 30 – 32 -Masuk dalam hadiratNya
Pada saat itu Yesus dekat dengan banyak orang tetapi hanya mereka yang menyentuh Yesus dengan iman, yang akan mengalami kuasa Allah.  Seperti wanita pendarahan, karena ia datang dengan kerinduan dan penyembahan. Alamilah hadirat Tuhan dalam pertemuan ibadah. Sentuh Allah dengan iman, masuk dalam hadiratNya, maka ada kuasa Allah yang akan kita alami. Memuji dan menyembah dengan kesungguhan hati. Ada tindakan, seperti mengangkat tangan, mengeluarkan suara, bertepuk tangan dan menari bagi Allah bukan untuk dilihat pemimpin pujian atau jemaat bahkan gembala.

Kesimpulan
Oleh sebab itu, datanglah kepada Tuhan dengan kerinduan dan masuk dalam hadiratNya dengan kerinduan kepada Tuhan maka kuasa dan berkat Tuhan akan menjadi bagian kita. Nikmatilah jam-jam ibadah karena Allah hadir. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

JEMAAT LAODIKIA – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 1 Juli 2018)

WAHYU 3:14,15

PENDAHULUAN
Laodikia adalah kota yang terkenal di zamannya. Ada tiga ciri khas dari kota Laodikia yang membuat kota ini terkenal, yaitu:
1. Pusat Perbankan
2. Produksi Kain Wol Laodikia indah, lembut dan hitam keunguan.
3. Sekolah Kedokteran (Zeuxis dan Aleksander Filalethes).

Mentalitas Masyarakat Laodikia
Mental dan watak orang Laodikia sombong, karena secara umum orang Laodikia kaya, sebab secara umum pendapatan mereka besar. Pada tahun 61M, 31 tahun sesudah kematian Yesus, kota Laodikia diguncang oleh gempa yang hebat sehingga hancur. Namun penguasa kota menolak semua bantuan karena mereka merasa diri kaya dan mampu membangun kota Laodikia kembali. Prinsip hidup orang Laodikia, pantang ngemis (minta mengemis bantuan) kepada siapapun.  Selain itu orang-orang Laodikia juga sangat bangga dengan kecantikan dan ketampanan mereka sehingga mereka punya obsesi yang sama yaitu ingin dikagumi semua orang. Dan hal tersebut mempengaruhi kehidupan Jemaat. Jemaat yang seharusnya jadi teladan yang baik bagi mereka yang belum kenal Yesus, namun yang terjadi sebaliknya.  Masyarakat Laodikia (orang yang tidak mengenal Yesus) yang mempengaruhi jemaat.

BERDAMPAK KEPADA JEMAAT
Kemakmuran, kesejahteraan dan kemapanan hidup, membuat rohani jemaat Laodikia merosot.  Karena jemaat Laodikia lebih mengutamakan jasmani daripada rohani sehingga sikap mereka keji di mata Tuhan. Amsal 11:1b  “Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan…”. Jemaat lebih utamakan hal duniawi ketimbang yang rohani sehingga neraca mereka menjadi serong. Jemaat Laodikia bukan model “Pengikut Yesus Yang Sejati”. Pengikut Yesus Yang Sejati rela mengorbankan atau kehilangan materi bahkan mengorbankan nyawa untuk mendapat yang kekal. Jangan sampai keselamatan dan kebenaran itu hilang berlalu karena fokus kepada hal duniawi. Dalam alkitab ada daftar Pahlawan Iman. Ibrani 11:4-32, dimulai dari Habel sampai Samuel. Ibrani 11:36-40, tidak sedikit tokoh iman yang menyerahkan nyawa demi yang kekal. Secara fisik mereka tidak dapat hal materi karena Allah  menyediakan sesuatu yang lebih baik. Pada akhirnya Tuhan Yesus tegur, karena jemaat lebih peduli dengan materi.

Dalam Wahyu 3:15, ada 3 hal yang Tuhan Yesus sampaikan, yaitu (3 hal yang kita bahas tentang jemaat di Laodekia):
1. Aku Tahu Segala Pekerjaanmu
Yesus tahu kesungguhan kita dalam membangun rohani kita. Yesus melihat apakah kita mengutamakan nilai-nilai rohani dibandingkan nilai jasmani dalam hidup kita.

2. Engkau tidak dingin dan tidak panas
Kondisi jemaat di Laodikia, sama persis dengan kondisi alam, situasi dan lingkungan kota Laodikia, berkaitan dengan keadaan air di Laodikia. Perlu Saudara ketahui, kota Laodikia tidak memiliki sumber air. Untuk kebutuhan air, penduduk Laodikia bergantung kepada kota Hierapolis, di utara dan kota Kolose, di selatan.

  • Air dari Hierapolis mengalirkan air panas
  • Air dari Kolose mengalirkan air dingin

Ketika kedua sumber air ini bertemu atau bercampur di kota Laodekia. Air panas bercampur dengan air dingin. Air berubah menjadi: “suam-suam kuku.

Gambar:

Perhatikan gambar sebelah kiri, yaitu peta dari Laodikia dan sebelah kanan adalah gambar saluran air yang menggunakan batu. Betapa banyak biaya yang dikeluarkan karena pembuatan saluran air ini bukan hanya satu saluran.

Kondisi Rohani Jemaat Laodikia
Bukan hanya mental dan gaya hidup penduduk yang berpengaruh kepada jemaat. Tetapi keadaan alam Laodikia berpengaruh kepada rohani jemaat di Laodikia, yang suam-suam kuku.

Makna Rohani:
Air dari utara (dari atas) artinya: kekayaan, nilai-nilai rohani dari Allah (firman Allah/Roh Kudus).  Sedangkan air dari selatan (dari bawah) artinya, Kekayaan-nilai-nilai jasmani, materi atau duniawi.

Contoh: Yohanes 4:13,14 – Air dari atas (utara) adalah air yang Yesus janjikan, membawa keselamatan (kekal). Sedangkan air dari sumur (bawah) adalah hal-hal jasmani duniawi, (sementara). Arti Rohani, Memenuhi kebutuhan air dari bawah (sandang, pangan, papan). Tidak salah! Tetapi, demi air dari bawah (kebutuhan jasmani dan hal duniawi) perempuan Samaria korbankan Air Dari Atas (iman, kebenaran dan moral). Tetapi ketika Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Air Dari Atas, perempuan Samaria terima Yesus. Sebagai wujud pertobatannya, perempuan Samaria meninggalkan buyung (air dari bawah). Dan Yesus memakai perempuan Samaria menjadi Seorang Penginjil.

Berbeda dengan Ananias dan Safira, Kisah 5:1-11. Mereka adalah anak Tuhan di Yerusalem yang setia dan mengasihi Tuhan, Kisah 2-4. Hati mereka seperti air mendidih, sehingga seluruh jemaat berlomba-lomba untuk melayani Tuhan, Kisah 2:44-47. Semangat melayani dalam diri Yusuf, menular kepada Ananias dan Safira, sehingga mereka mendeklarasikan kerinduannya untuk berkorban (melayani Tuhan), Kisah 5:1-11. Setelah tanah hati mereka berubah menjadi uang, air dari atas (kasih Allah) yang tulus dan jujur serta semangat berkorban dalam diri Ananias dan Safira dirusakkan oleh air dari bawah yaitu keinginan akan uang dan hal duniawi. Akhirnya, Ananias dan Safira bukan hanya mencampur-adukkan ‘Air Dari Atas dan air dari bawah’. Mereka membuang air dari atas: kasih ilahi; kejujuran; kebenaran dan ketulusan lalu   menukarnya dengan air dari bawah: kebohongan; kepalsuan dan kejahatan.

3. Aku Akan Memuntahkan Engkau Dari Mulut-Ku
Melayani Yesus haruslah dengan kasih yang sungguh-sungguh; tulus; murni; jujur dan dengan motivasi yang benar. Kita merespon ucapan Yesus di salib, Yohanes 19:28c, ketika Yesus berkata: “Aku haus!”

Sebaliknya, yang dilakukan Ananias dan Safira adalah seperti memberi anggur asam yang memuakkan Yesus sehingga Yesus muntahkannya! Orang yang dimuntahkan, keadaannya seperti Ananias dan Safira – tidak ada harapan. Karena itu, hiduplah dalam Tuhan. Jangan suam-suam kuku tetapi tetap teguh dalam kebenaran firman Tuhan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MAHKOTA SEBAGAI UPAH – oleh Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya 2 – Minggu, 24 Juni 2018)

Wahyu 3:11
“Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”

PENDAHULUAN
Iman kepada Yesus menjadi jaminan bagi orang percaya untuk diselamatkan (masuk sorga) dan kita akan menerima upah atau pahala yang wujudnya adalah mahkota yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Keselamatan tidaklah bergantung pada status sosial atau keburukan atau kejelekan kita di masa lalu. Keselamatan yang kita terima adalah tanpa syarat, karena keselamatan adalah pemberian dan kita hanya dapat menerimanya lewat iman kita kepada Yesus. Sebaliknya bagi yang menolak atau tidak percaya kepada Yesus akan binasa (masuk neraka). Dengan lain kata Keselamatan adalah karya (hasil kerja) Allah bukan karena usaha (hasil kerja) kita sebagai manusia. Ini merupakan ajaran yang sangat fundamental. Karena Yesus mengasihi kita maka Ia mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Dia menggantikan posisi kita, mati menanggung dosa kita agar kita tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal (Yohanes 3:16; Efesus 2:8,9).

Ada seorang yang bertanya kepada saya, jika karena kasih-Nya, Yesus telah rela berkorban untuk menyelamatkan kita, apakah kita kemudian boleh dengan bebas berbuat dosa lagi? Karena pengampunan Yesus tersedia bagi kita? Ada ajaran yang mengajarkan demikian, sehingga dengan tegas saya jawab, tidak boleh! Seorang yang telah diselamatkan Yesus adalah orang yang percaya dan mengalami lahir baru, dimana hidup yang lama yang penuh dosa telah berlalu dan hidup yang baru telah datang (2 Korintus 5:17).

Bukti seorang yang telah lahir baru adalah ia membenci dosa, dan mengasihi kebenaran / kesucian.
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
Keselamatan yang Yesus kerjakan seharusnya membuat kita mengabdikan diri sepenuhnya kepada kebenaran.

UPAH – PAHALA (KEMULIAAN)
Kalau keselamatan kita terima secara cuma-cuma dengan iman, apakah upah atau pahala juga kita terima secara cuma-cuma? Tentu saja tidak sebab untuk mendapat upah atau mahkota kemuliaan, kita harus kerja (melayani), itu sebabnya saudara dihimbau agar tidak jadi jemaat penonton, melainkan melibatkan diri dalam pelayanan.

Agama yang diciptakan manusia memiliki konsep keselamatan yang berbanding terbalik dengan yang diajarkan firman Allah. Mereka mengajarkan bahwa perbuatan baiklah yang menghasilkan keselamatan. Konsep yang benar adalah sesuai dengan yang diajarkan firman Allah yaitu satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menerima pemberian Allah yaitu Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat.

Di sorga nanti orang yang melayani Yesus selama hidupnya akan menerima upah yaitu mahkota, tentu saja jumlah mahkota yang diterima bisa berbeda satu dengan yang lain. Namun ada juga orang yang masuk sorga namun tidak menerima mahkota sebab selama hidupnya tidak melayani Tuhan, seperti yang dialami penjahat yang disalib bersama Yesus.

PEGANGLAH YANG ADA PADAMU
Dalam Wahyu 3:11 “Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”
Apa yang harus dipegang? Yang dimaksud Yesus adalah keselamatan. Modal yang kita perlukan adalah iman kepada Yesus.

“Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu…!
Artinya, kita harus sungguh-sungguh pegang/pertahankan keselamatan yang telah kita terima. Kalau kita kehilangan iman, yaitu iman yang menjamin kita masuk sorga, maka kita bukan hanya kehilangan upah/ pahala yaitu mahkota, tetapi kita akan kehilangan yang paling utama yaitu keselamatan kekal. Kita tahu orang yang tidak diselamatkan, tempatnya bukan di sorga melainkan di neraka.

ALLAH TIDAK MEMBEDAKAN PELAYANAN
Kita yang percaya dan diselamatkan punya peluang untuk mendapat mahkota dari Tuhan, asal kita bersedia melayani Tuhan, dan Tuhan tidak membeda-bedakan orang yang mau melayani.

Beberapa Contoh :
Matius 10:42
“Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

1 Korintus 3:8,9
“Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”

Paulus umpamakan jemaat, tempat kita melayani dalam dua gambaran, antara lain:

  • Ladang Allah
  • Bangunan Allah.

Orang yang melayani Tuhan digambarkan seperti seorang petani yang menabur dan menyiram benih yang ditanam. Banyak jemaat mengira bahwa pelayanan menabur dan menyiram benih firman Tuhan itu hanya tugas hanya hamba-hamba Tuhan! Namun sesungguhnya Firman Tuhan yang kita telah terima, kita bisa tabur kepada orang lain. Ketika kita berbicara tentang nilai-nilai firman Allah kepada orang lain, saat itu kita juga telah menabur. Ada upah yaitu mahkota yang Allah sediakan bagi yang sudah bekerja.

 MENYIRAM BENIH
Orang yang melayani Tuhan juga digambarkan sebagai orang yang menyiram, yaitu menyiram benih yang sudah ditaburkan. Benih itu sudah ditaburkan oleh gembala atau hamba Tuhan di gereja namun benih itu harus disiram. Benih yang disiram akan segar, tumbuh besar, kuat dan berbuah. Sebagai keluarga Allah, apakah yang kita perbuat bagi saudara-saudara seiman? Kita harus memperhatikan tentang ucapan kita. Lewat apa yang kita ucapkan sebenarnya kita sedang menyiram benih iman dalam diri orang lain. Karena itu perhatikan apakah kita mengeluarkan ucapan yang menyegarkan atau racun mematikan? Apakah ucapan kita membuat rekan kita bertumbuh imannya atau justru mematikan imannya? Apakah kita sudah menaruh perhatian kepada saudara seiman kita yang lemah dan memberi kekuatan atau sebaliknya? Ini bukan tanggung jawab hamba Tuhan semata melainkan semua anak Tuhan sebagai saudara seiman. Apa yang kita ucapkan haruslah seperti seorang yang sedang membangun bukan meruntuhkan. Paulus bergembira atas kedatangan Stefanus, Fortunatus dan Akhaikus yang memiliki ucapan yang memberi kesegaran bagi dirinya dan juga jemaat. (1 Kor. 16:17)

MENGHADAP TAHTA  PENGADILAN KRISTUS
Kita harus melayani karena kita semua akan menghadap tahta pengadilan Kristus. Inilah pendorong mengapa orang percaya melayani selama hidup di dunia ini.

2 Korintus 5:10 “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang yang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”

Ada orang yang mengajarkan bahwa pada saat Yesus datang kedua kali, semua orang termasuk yang percaya Yesus, harus menghadap tahta pengadilan Kristus untuk diadili dan dilihat perbuatannya baik atau jahat lalu Tuhan akan tentukan sorga atau neraka! Ini adalah ajaran Sesat! Bagi kita yang sudah terima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat tidak akan dihakimi lagi. Arti yang benar adalah saat Yesus datang kedua kali adalah :

  • Orang percaya yang sudah mati akan dibangkitkan dan yang hidup akan diubahkan lalu kita akan diangkat, menyongsong Tuhan di angkasa.
  • Di angkasa, kita akan menghadap tahta pengadilan Kristus, bukan untuk diadili, masuk sorga atau Tetapi…
  • Di hadapan tahta-Nya, Allah akan menentukan berapa besar pahala (berapa mahkota) yang akan kita terima. Dan…
  • Kita akan terima pahala (mahkota) atau tidak, hal itu ditentukan ber-asarkan pelayanan yang sudah kita lakukan, apakah pelayanan kita lakukan BAIK atau JAHAT.
  • Perbuatan pelayanan kita Baik atau Jahat disini, bukan masalah melakukan perbuatan kebaikan atau perbuatan kejahatan. Tetapi masalah MOTIVASI (tujuan atau maksud) kita dalam melayani atau melakukan sesuatu bagi Tuhan.

1 Korintus 3:10-15, motivasi seseorang melayani seperti bahan yang pakai dalam membangun sebuah bangunan:

  • Apakah pelayanan kita, kita buat dari bahan emas, perak dan batu permata -> dengan KASIH.
  • Atau apakah pelayanan kita, kita buat dari bahan kayu, rumput kering dan jerami -> tanpa KASIH.

MAHKOTA YANG AKAN KITA TERIMA

  1. Mahkota Kehidupan, Yakobus 1:12.
  2. Mahkota Yang Tak Dapat Binasa (Abadi), 1 Korintus 9:24-27.
  3. Mahkota Sukacita yaitu Kemegahan, 1 Tesalonika 2:19-20; Filipi 4:1.
  4. Mahkota Kebenaran, 2 Timo 4:5-8.
  5. Mahkota Kemuliaan, 2 Petrus 5:2-4.
  6. Mahkota Pemenang, Wahyu 3:11.
  7. Mahkota Kesetiaan, Wahyu 2:10b; 6:9.

Wahyu 4:9-11, tahta Yesus berada di tengah. Dan akan ada 12 tua-tua. Selain keselamatan, maka mahkota akan menentukan posisi (kita di ring berapa) kita duduk di hadapan tahta Yesus. Dalam memuji, menyembah Allah, kita akan melepas mahkota kita dan menaruh mahkota kita di hadapan Allah sebagai penghormatan bagi Tuhan Yesus Kristus.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AYAH – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 1 – Minggu, 24 Juni 2018)

Kalau Gembala sering mengutip bagian-bagian dari ayat-ayat ini:
Lukas 11:28 – Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Matius 7:24 – Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Pagi hari ini saya ingin mengutip apa yang Musa katakan kepada bangsa Israel di penghujung masa pelayanannya:
Ulangan 32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Saya percaya pengajaran bisa membasahi dan mengairi hati yang mendengarnya, membawa kehidupan pada tanaman hidup rohani Anda semua. Semua diperlukan menuju pertumbuhan pribadi Anda, secara khusus, dan Gereja kita, secara umum.

Saya akan membahas kali ini tentang kata “ayah”. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil kata ini untuk dibahas:

  1. Hari Ayah yang dirayakan banyak negara di setiap hari Minggu ke-3, bulan Juni.

Kalau di Indonesia, “Hari Ayah Nasional” dirayakan setiap tanggal 12 November, meskipun banyak dari Anda yang mungkin baru tahu. Karena memang lebih “terkenal” perayaan Hari Ibu. Tetapi setidaknya merayakan bagaimana seseorang menjadi “ayah” bagi anak-anaknya adalah sesuatu yang spesial. Kalau ada ajaran agama lain berkata “surga ada di telapak kaki ibu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani), Alkitab berkata “hormatilah ayahmu dan ibumu”, Keluaran 20:12.

Jika Anda berpikir bahwa ini hanya ada di Perjanjian Lama, maka Anda salah. Perintah yang sama ditegaskan oleh Yesus di dalam Matius 15:4. Bahkan diulangi oleh Paulus saat menuliskan surat kepada jemaat di Efesus, Efesus 6:2-3. Jadi dalam Alkitab kita harus menghormati sosok ayah sama seperti menghormati sosok ibu. Saya percaya kalau selama ini Anda mengabaikan atau tidak pernah memikirkan ini, atau pernah terlintas namun Anda lupakan karena mungkin ada pengalaman negatif dengan sosok ini, Firman Tuhan datang untuk berbicara secara pribadi dengan Anda.

  1. Kata “ayah” adalah kata dalam Bahasa Indonesia yang menurut saya punya posisi hampir sama dengan kata “Abba” dalam Bahasa Ibrani, yang menjadi sebutan dalam Alkitab untuk Allah.

Saya sempat menyampaikan tentang ini dalam artikel “Karakter Allah” (@jeffminandar.com). Mengapa saya sebut posisinya hampir sama? Karena kata “abba” mengandung konotasi hubungan yang lebih dekat, lebih dari sebuah sebutan. Maksud saya begini, dalam Bahasa Indonesia, kita punya sebutan lain untuk seorang laki-laki yang bersama dengan ibu kita “bekerja-sama” (tentu saja dengan sepengetahuan Tuhan, Yeremia 1:5) untuk menghadirkan kita di dunia. Sebutan itu adalah “Bapak”. Namun Bapak kehilangan komponen keintimannya karena hampir semua orang laki-laki yang dituakan atau dihormati, dipanggil “bapak”. Tetapi “ayah” berbeda, meskipun pada prakteknya beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya memakai sebutan “papa”. Saya akan menjelaskan ini lebih jauh, mengapa ini penting.

Seorang ayah akan melakukan segala sesuatunya untuk anaknya. Saya sering memberi contoh hubungan ayah-anak dengan salah satu staf Gereja kami yang memiliki anak balita. Dia bukan sekedar “bapak” secara formal, dia bersuka atas anak ini, dia rela untuk direpotkan oleh anak ini, dan yang terpenting dia punya rancangan yang indah untuk anak ini.

Bagi saya inilah mengapa Yesus ingin kita pengikutNYA memanggil Tuhan bukan dengan sebutan-sebutan di Perjanjian Lama: Adonai, Yehova, atau bahkan Yahweh. Karena itu kalau saya analogikan seperti memanggil “bapak” dengan penjelasan seperti di poin 2. Bagi Anda yang memanggil ayah Anda dengan kata “bapak” saya tidak bermaksud merubah kebiasaan Anda, semoga Anda mengerti maksud saya.

Abba adalah hubungan personal, dan itulah yang Yesus inginkan dengan kayu salib. Yesus ingin Anda diperdamaikan dengan Allah, Efesus 2:15-18. Karena IA bersuka atas Anda (Lukas 15:10 – pasal ini digambarkan di reff dari lagu “Reckless Love” ), IA rela Anda repotkan (Matius 11:28), dan IA punya rancangan yang indah untuk Anda (Yohanes 14:1-3).

Dia menyediakan cinta sejati bagi kita yang selalu mencari jawaban atas cinta, ingat kisah perempuan Samaria di Yohanes 4. Seseorang yang tahu ia dicintai tidak mencari cinta di tempat lain, bahkan dia berjalan dengan percaya diri, dan tidak mengemis cinta. Allah Bapa, “Ayah” kita di Surga, mencintai kita sedemikian. Itulah mengapa Paulus berusaha menjadikan “bapa-bapa” Kristen merefleksikan hal ini. Efesus 6:4.

Seorang ayah juga menyediakan makanan yang baik bagi anaknya (Lukas 11:11-12). Demikian di Gereja ini kami yang sudah merasakan kasih Bapa, berusaha menjadi “bapa” bagi jemaat, dan menyediakan makanan yang baik buat jemaat. Kami tahu, kami seperti bapa di dunia, yang mungkin masih penuh kekurangan, dan tentu saja pilihan ada di tangan Anda.

Saya tahu iblis dan dunia di sekitar kita merusak gambaran ayah, bapa, abba, yang baik. Saya malah percaya iblis memulainya di Taman Eden dengan menipu Hawa, bahwa rancanganNYA tidak baik, Kejadian 3:4-5. Tetapi saya rindu kita kembali kepada kebenaranNYA, bagaimanapun latar belakang Anda dan status Anda sekarang.

Saya lupa saya mendengar ilustrasi ini dimana, tetapi saya selalu melihat Bapa dan anaknya dalam hubungan yang seperti ini. “Seperti seorang anak di tengah kerumunan orang. Dia tidak bisa melihat, dia takut, dia tidak mengerti apa yang ada di depannya. Tapi ketika dia minta kepada BAPA dan BAPA mengangkat anakNYA supaya sang anak bisa melihat dari perspektifNYA, dan anak itu menjadi tenang. Seperti pengalaman di Mazmur 73, ketika pemazmur cemburu dengan orang-orang fasik, Allah mengangkat ia untuk melihat dari perspektif Allah.

Lagu berikut menjadi inspirasi saya juga untuk melihat Allah sebagai “Ayah” yang baik.

VERSE-1
I’ve heard a thousand stories of what they think you’re like
(Aku mendengar ribuan cerita orang tentang apa yang mereka pikir tentang ENGKAU)

But I’ve heard the tender whispers of love in the dead of night
(Namun aku juga mendengar KASIH yang berbisik lembut di kelam malam)

And you tell me that you’re pleased
(KAU berkata kalau KAU berkenan atasku)

And that I’m never alone
(Dan ku tak pernah sendiri)

REFF
You’re a good good father
(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are
(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you
(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am
(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

VERSE-2
I’ve seen many searching for answers far and wide
(Aku melihat begitu banyak usaha mencari jawaban)

But I know we’re all searching
(Dan aku sadar semua manusia sedang mencari)

For answers only you provide
(Jawaban yang hanya ada didalamMU)

‘Cause you know just what we need
(Kar’na KAU tahu apa yang kami butuhkan)

Before we say a word
(Bahkan sebelum kami meminta)

REFF
You’re a good good father
(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are
(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you
(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am
(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

BRIDGE
Because you are perfect in all of your ways
(Kar’na seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways
(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us
(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

You are perfect in all of your ways
(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways
(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us
(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

VERSE-3
Oh, it’s love so undeniable
(Oh KASIH yang tak terbantahkan)

I, I can hardly speak
(Aku, aku kehabisan kata-kata)

Peace so unexplainable
(Damai, yang sukar dijelaskan)

I, I can hardly think
(Aku, aku sampai tak habis pikir)

As you call me deeper still
(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still
(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still
(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

Into love, love, love
(Kedalam KASIH, KASIH, KASIH)

BACK TO REFF

Posted in Uncategorized | Leave a comment

APAKAH YANG KAMU CARI? Seri 24 “DATANG DAN TINGGAL BERSAMA”- oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 24 Juni 2018)

Yohanes  1 : 35-39

Yohanes 1:39
Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya. ” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.

Pendahuluan
Menjadi kristen bukanlah sekedar menjadi seorang pengikut tetapi menjadi seorang murid. Ada perbedaan besar antara seorang pengikut dan murid Kristus.
1. Pengikut mengetahui tentang Yesus, tetapi murid menjadi seperti Yesus.
Menjadi seorang murid Tuhan bukan sekedar mengetahui tentang Tuhan, tetapi menjadi seperti Yesus. Sayangnya banyak orang kristen puas karena mengetahui tentang Tuhan, bahkan bangga kalau makin banyak tahu firman Tuhan. Banyak orang kristen bermegah diri, karena telah lulus kelas pendalaman alkitab dari tingkat pertama hingga akhir. Itu baik, tetapi persoalannya adalah apakah pengetahuan alkitab yang banyak membuat kita semakin menyerupai Yesus? Kekristenan bukan masalah seberapa banyak kita tahu firman tetapi seberapa banyak kita menyerupai Yesus. Semakin banyak firman yang kita tahu, seharusnya membuat kita semakin “persis” dengan Yesus. Ingatlah! Seorang murid dipanggil untuk menjadi sama dengan gurunya.

2. Pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen.
Perbedaan kedua antara pengikut dan murid adalah “Seorang pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen.” Mengambil keputusan adalah langkah awal menjadi pengikut Yesus. Seseorang harus memutuskan dulu dalam dirinya untuk meninggalkan hidup lama dan mempercayakan dirinya sepenuhnya didalam kuasa Tuhan Yesus. Tetapi keputusan tanpa komitmen adalah sia-sia dan kebohongan. Firman Tuhan berkata: orang yang bertahan sampai kesudahannya yang akan selamat. Pertobatan itu keputusan, tetapi kesetiaan adalah komitmen. Pertobatan dan percaya harus dibarengi kesetiaan hingga akhir. Jadi tidak sekedar mengambil keputusan tetapi kita harus berani mengambil komitmen. Komitmen artinya bukan sekedar menjadikan Yesus yang pertama dalam hidup kita, Yesus harus menjadi yang satu-satunya.

3. Pengikut menjalin hubungan, murid membangun keintiman
Seorang murid dari rabi Yahudi selalu tinggal bersama gurunya. Bukan saja tinggal, mereka juga akan selalu mengikuti kemanapun sang guru pergi. Hal ini dimaksudkan agar antara sang guru dan murid tidak sekedar terhubung tetapi membangun keintiman. Tuhan merindukan hubungan dengan anak-anaknya bukan hubungan yang ala kadarnya, basa-basi, ataupun biasa-biasa, lebih dari itu Ia merindukan keintiman seperti keintiman antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tuhan ingin hubungan yang akrab dengan anak-anakNya.

4. Pengikut fokus kepada hasil, seorang muris fokus kepada proses.
Inilah alasan mengapa murid harus tinggal bersama sang guru. Seorang murid tidak dihasilkan secara spontan, tetapi melalui proses panjang.

Seorang murid dihasilkan melalui proses.
Saat Tuhan Yesus mengundang dua orang murid Yohanes Pembaptis untuk mengikutiNya itu berarti Ia mengundang mereka untuk mengikuti seluruh proses pemuridan. “Marilah dan kamu akan melihatanya” artinya: marilah ikuti seluruh proses yang akan Aku berikan kepadamu. Murid tidak dihasilkan secara instan, dibutuhkan proses, tahapan, yang harus dijalani sampai tuntas. Layaknya seorang yang sedang menempuh pendidikan sekolah melewati kelas demi kelas demikianlah proses pemuridan yang dikerjakan Tuhan Yesus.

Mengapa seorang murid menjalani proses?
1.
Standar Tuhan
Di sekolah umum kita mengenal istilah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Seorang murid dinyatakan berhasil apabila mereka mendapatkan nilai ulangan/nilai tes melampaui atau sama dengan standar nilai yang ditetapkan di KKM. Bagi murid yang tidak mendapat nilai sama atau dibawah KKM mereka diwajibkan untuk melalukan tes ulang atau remidial. KKM adalah standar yang wajib dipenuhi oleh seorang murid. Apakah standar seorang murid Kristus?

a. Menurut apa yang baik pada pemandanganNya.
Yeremia 18:4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

b. Mengikuti TeladanNYA
1Yohanes 2:6
Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

c. Serupa dengan DIA
Roma 8:29
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

2. Proses menentukan bobot, nilai, harga, kadar dan kualitas.
1Petrus 1:7
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Selain menentukan standar seorang murid, proses juga digunakan untuk menentukan kualitas, kadar, nilai dan bobot seorang murid. Proses yang benar, kesesuaian dengan tahapan dan langkah-langkah, serta prosedur yang tepat akan menghasilkan produk yang berkualitas. Bagaimana proses itu dijalankan akan mendapatkan hasil yang diinginkan.

Kualitas hidup Yesus
Jika kita memperhatikan Alkitab ternyata kualitas kehidupan Yesus adalah sebuah produk yang muncul karena Dia pernah menjejakkan kaki pada setiap “tempat pemprosesan.” Sebagai Allah, Tuhan Yesus adalah pribadi yang sempurna, tetapi saat Ia datang ke dunia menjadi Anak Manusia, Ia merelakan diriNya larut dalam tempat pemprosesan yang Bapa tetapkan. Dari perkataanNya kita dapat melihat kerelaanNya menjalani proses kehidupan.

Mari kita perhatikan Matius 3:15 : “Biarlah itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Kata “biarlah itu terjadi” menunjukan kesiapan Tuhan Yesus  untuk menjalani proses agar seluruh kehendak Bapa digenapi dalam diriNya. Sebagai sang penebus dosa, Dia tidak perlu dibaptis karena Ia tidak berdosa dan tidak akan pernah berdosa. Namun demi menggenapi seluruh kehendak Allah, ia merelakan diriNya menjalani proses dibaptis oleh Yohanes pembaptis. Kehidupan Tuhan Yesus diawali dengan melarutkan diri dalam proses, dijalani dari proses demi proses dan diakhiri dengan menuntaskan proses kehidupan sebagai penutup dari misi kehadiranNya di bumi ini. Di ujung hidupNya, Tuhan Yesus membiarkan proses Bapa tetap terjadi atasNya. Matius 26:54 – Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”

Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak dapat lepas dari proses kehidupan. Menghindari proses hanya membuat hidup kita bernilai rendah, tanpa bobot, kurang dari standar dan tidak berkualitas. Bersiaplah menjalani proses Tuhan, agar seluruh kehendak Allah digenapi dalam hidup kita. Bukankah tujuan hidup kita adalah melakukan kehendakNya? Setiap tempat pemprosesan selalu menyimpan kehendak dan maksud Allah untuk dikerjakan. Relakanlah diri Anda untuk larut dalam aliran pemprosesan Tuhan sampai seluruh kehendakNya terjadi dan digenapi atas diri kita.

MEMAHAMI PROSES TUHAN
Yesaya 28 : 23- 29
Untuk memahami cara Tuhan menjalankan proses pembentukan dalam diri kita, marilah kita melihat melalui Yesaya 28:23-29. Dalam perikop ini diberikan judul “Kebijaksanaan Tuhan”, artinya bahwa proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam diri anak-anakNya, selalu dilakukan dengan cara-cara yang bijaksana, baik dalam ketepatan waktu, ukuran dan tempat. Untuk itu marilah kita melihat bagian demi bagian dari ayat-ayat ini.
a. Waktu
Ayat 23 – 24
Pasanglah telinga dan dengarkanlah suaraku; perhatikanlah dan dengarkanlah perkataanku! Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur?

Seorang petani tentu sangat faham dengan waktu/musim. Karena ketepatan mengenal waktu atau musim akan menentukan hasil yang akan dituai. Petani tahu kapan membajak, menabur dan menuai. Tidak ada petani yang setiap hari membajak atau mencangkul ataupun menyisir. Petani yang benar akan menjalankan proses dengan tepat. Pertama tanah akan dibajak atau dicangkul, kemudian ditaburkan benih, diperlihara dengan pupuk atau disiram, hingga akhirnya menuai.

Demikianlah cara Tuhan memproses kita. Ada waktu hidup kita dibajak atau dicangkul. Pada tahap ini tentu kita semua merasakan kesakitan dan rasa tidak nyaman. Kita tidak bisa menghindar dari proses ini, sebab tanpa dibajak atau dicangkul tanah tidak dapat ditaburi. Ini berarti tidak akan ada hasil tuaian. Sebab itu jalanilah proses Tuhan dengan sukacita, Dia selalu tepat waktu dalam menjalankan kehendakNya. Segala sesuatu terjadi indah pada waktunya.

b. Tempat
Ayat 25 – Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya?

Kebijaksanaan Tuhan yang kedua dalam menjalankan proses hidup adalah sehubungan dengan tempat. Seperti bangsa Israel yang menanam benih pada tempat-tempat yang tepat demikianlah Tuhan membentuk hidup kita. Tuhan memakai setiap tempat untuk memproses hidup kita. Contohnya adalah bangsa Israel. Tuhan menggunakan 42 tempat persinggahan dari Mesir ke Kanaan untuk membentuk karakter bangsa Israel. Demikian juga dengan Yusuf. Hidupnya sangat menarik karena untuk meluncurkannya ke istana, Tuhan ijinkan Yusuf singgah diberbagai tempat pemprosesan. Mula-mula Yusuf ada di rumah Bapa, suatu tempat yang menyenangkan karena menjadi anak yang dikasihi bapa. Kemudian Tuhan melemparkannya ke sumur kering. Keadaan yang terbalik dari rumah bapa. Di sumur kering, segala kenyamanan dilucuti, diganti dengan penderitaan dan sengsara. Namun rupanya tempat ini juga belum cukup bagi Yusuf. Dari sumur kering, Yusuf digiring ke Mesir menuju tempat baru yaitu rumah Potifar. Yusuf berfikir rumah Potifar lebih baik dari pada sumur kering, tetapi ternyata ia salah. Dari rumah Potifar ia diseret masuk ke dalam penjara. Suatu tempat yang tidak pernah muncul dalam benak dan angan-angannya. Tetapi justru dari penjara, Yusuf berjalan menuju istana raja. Setiap tempat pemprosesan yang disinggahi Yusuf sangatlah penting karena dari tempat-tempat itulah yang menghantarkan Yusuf meraih mimpinya seperti yang Tuhan nyatakan sejak di rumah bapanya.

Tuhan pasti membawa kita di setiap tempat pemprosesan seperti yang Dia inginkan. Jangan takut dan kecil hati sebab yang penting bukan “dimana” Anda berada tetapi dengan “siapa” Anda berada. Lebih baik di sumur kering bersama Tuhan dari pada di istana tanpa Dia. Dimanapun tempatnya asal bersama denganNya kita akan menikmati damai dan sejahtera.

c. Berat ringannya pukulan.
Ayat 27-28 – Sebab jintan hitam tidak diirik dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat. Apakah orang waktu mengirik memukul gandum sampai hancur? sungguh tidak, orang tidak terus-menerus memukulnya sampai hancur! Dan sekalipun orang menjalankan di atas gandum itu jentera gerobak dengan kudanya, namun orang tidak akan menggilingnya sampai hancur.

Para petani Israel mengerti benar tata cara mengeluarkan biji jintan atau gandun dari sekamnya. Jintan hitam akan diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, sedangkan Jintan putih dipukul-pukul dengan tongkat. Untuk gandum mereka giling dengan jentera gerobak dengan kudanya. Ini adalah aturan yang harus mereka taati, salah menggunakan cara yang tepat bisa-bisa menghancurkan jintan dan gandum.

TUHAN mengerti batas kemampuan setiap anak-anakNYA. Ia tidak akan menjalankan prosesnya melampaui kekuatan kita. Tuhan memperlakukan kita dengan cara, ukuran dan saat yang tepat. Segala yang kita alami diukur dengan ketepatan cara dan ukuran yang mampu kita tanggung.

1Korintus 10:13
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Sikap kita dalam menjalani proses Tuhan.
Yesaya 64:8
Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.

 Sekalipun prosesnya terasa berat dan menyakitkan, jangan pernah menghindari atau menolaknya. Menghidari dari prosesNya hanya akan memperlambat tujuan dan kehendakNya digenapi. Percayalah Tuhan berdaulat atas hidup kita, Dia tahu batas kemampuan kita. Tuhan pasti memperlakukan kita sesuai dengan batas ukuran kita. Menyerahlah pada kehendakNya, ijinkan segala prosesnya terjadi sampai seluruh rencanaNya digenapi atas diri kita. Tuhan memberkati. GBU, KJP!

Posted in Uncategorized | Leave a comment