PEMBUNUH RAKSASA seri 7 – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 10 Maret 2019)

1Samuel 17

1Samuel 17:50
Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Puji Tuhan, saat ini kita masih mempelajari tentang menjadi “Pembunuh Raksasa.” Kita semua tahu bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Kelahiran adalah awal perjalanan, sementara kematian adalah akhir perjalanan hidup. Dalam perjalanan menuju akhir kita akan menghadapi berbagai macam rintangan, kesulitan dan persoalan. Kadang-kadang ada masalah yang mudah diselesaikan, namun tidak jarang ada persoalan yang rumit untuk diatasi. Katakanlah itu seperti raksasa Goliat yang dihadapi Daud. Kita memang tidak dapat menghindari hadirnya raksasa-rakasa kehidupan, tetapi percayalah Tuhan memberikan kekuatan dan kuasa untuk memenangkan pertempuran. Daud bukan pahlawan, ia hanya seorang anak gembala, tetapi dapat menumbangkan pahlawan yang gagah perkasa yaitu Goliat.

Rahasia Kemenangan Daud
Kita sudah mempelajari rahasia-rahasia  kemenangan Daud  menghadapi Goliat, yaitu:
1. Memilih mendengar suara TUHAN dari pada suara LAWAN.
Suara lawan selalu terdengar keras, tajam, dan menggentarkan, tetapi suara Tuhan itu lembut, manis dan menenteramkan hati. Oleh karena itu pilihlah untuk mendengar apa yang Tuhan katakan bukan apa yang dikatakan lawan. Percayalah bahwa hidup kita ditentukan oleh perkataan Tuhan bukan perkataan orang.

2. Memilih MEMANDANG TUHAN daripada MEMANDANG LAWAN
Musuh akan selalu kelihatan lebih besar, lebih kuat dari pada diri kita. Jika mata kita hanya tertuju kepada musuh, kita akan ketakutan. Karena itu arahkan pandangan kita kepada Tuhan yang lebih besar dari musuh yang kita hadapi. Di depan mata Daud dan semua orang Israel, Goliat memang besar dan kuat sebab ia adalah raksasa, tetapi Daud tidak takut kepadanya sebab matanya ditujukan kepada Allahnya lebih kuat dan besar dari Goliat.

3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
Percayalah bahwa kemenangan dalam pertempuran kehidupan tidak tentukan oleh besarnya musuh yang kita hadapi tetapi oleh “siapa” yang menyertai. Jika Tuhan di pihak kita siapa yang dapat melawan kita. Jangankan seorang Goliat, ribuan Goliat sekalipun tak akan pernah mampu menandingi kuasa penyertaan TUHAN.

4. Memperkatakan KEMENANGAN bukan KEKALAHAN.
Kata-kata adalah kuasa. Apa yang kita katakan, itu yang kita undang untuk menghampiri kita. Ucapan kita meramalkan masa depan kita. Jadi menang atau kalah tergantung dari ucapan kita. Sebab itu ucapkanlah berkat, kekuatan, kemenangan dan hal-hal yang mendatakang kedamaian. Daud dengan tegas memperkatakan kemenangan atas Goliat, sehingga kemenangan yang terjadi. Jadi jangan katakan keadaan Anda katakan yang Anda harapkan.

5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan daripada mencari kehormatan diri sendiri.
Kemenangan dalam peperangan kehidupan sangat tergantung dari motivasi kita. Apakah kita melakukannya untuk kemuliaan diri sendiri atau demi nama kehormatan Tuhan. Tuhan hanya membela mereka yang membela kehormatanNya.

6. Pembunuh raksasa memilih berharap kepada TUHAN, bukan senjata perang
Pengharapan adalah kekuatan. Orang-orang berani menghadapi kesulitan hidup karena mereka masih memiliki pengharapan. Hilangnya pengharapan adalah akhir kehidupan. Apapun yang sedang terjadi dan kita hadapi tetaplah berharap kepada Tuhan yang tidak pernah mengecewakan.

Sekarang marilah kita mempelajari rahasia kemenangan Daud selanjutnya yaitu:
7. Pembunuh Raksasa Memilih Keluar dari Zona Nyaman ke ZONA IMAN

 1Samuel 17:32
Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.”

Sebenarnya Daud tidak ada urusannya dengan peperangan ini, sebab ia hanya seorang gembala, dia bukan prajurit yang dilatih untuk perang. Ada banyak alasan yang dapat membenarkan Daud bersembunyi di padang bersama dengan domba-domba ayahnya. Namun Daud memilih keluar dari zona nyaman ke zona iman. Jika saja Daud tetap bersembunyi di padang dan menikmati kenyamanan, Daud tidak akan pernah dikenal sebagai seorang “pembunuh raksasa.”

Zona Nyaman atau Zona Iman

Zona Nyaman adalah tempat orang-orang bersembunyi menikmati keadaan tenang, nyaman dan aman. Jauh dari kesulitan dan bahaya apalagi pertempuran. Tempat ini adalah bangku empuk bagi para penonton yang bersorak sorai bertempuk tangan menyaksikan pertandingan.

Sebaliknya zona iman adalah medan pertempuran. Di sini orang-orang berdiri dengan gagah menantang lawan dengan keberanian dan keyakinan. Mereka bukan golongan penonton, tetapi para pemain yang siap menghancurkan musuh apapun resikonya.

Orang-orang yang berada di zona nyaman pada akhirnya akan mengalami kemunduran dan mati, tetapi mereka yang memilih berada di zona iman akan tumbuh menjadi besar, kuat dan dewasa.

Kenyaman itu membunuh
Hati-hati dengan kenyamanan, sebab kenyamanan adalah pembunuh kehidupan dan iman. Pelan tetapi pasti. Kenyamanan meninabobokan iman sehingga tanpa disadari seseorang akan jatuh dan mati. Contohnya adalah Jemaat Laodikia – Wahyu 3 : 15-18. Jemaat Laodikia bangga dengan kenyamanan hidup mereka, mereka kaya dan tidak kekurangan apapun. Akibatnya iman mereka menjadi suam, tidak dingin dan tidak panas. Kehidupan rohani yang suam menyebabkan Tuhan menolak dan memuntahkannya. Awas kenyamanan!

Bagaimana dengan KITA?

Perhatikan dua gambar ini! Manakah yang mirip menggambarkan keadaan kita? Apakah kita penumpang kapal pesiar atau kapal perang? Kapal pesiar menawarkan kenyamanan dan kemewahan. Semua orang dilayani dan dihormati. Berbeda dengan kapal perang. Mereka yang ada di kapal perang adalah orang-orang yang terlatih, para prajurit yang telah disiapkan, dididik, digembleng dengan kesukaran sehingga siap menghadapi pertempuran lawan.

Sayangnya banyak orang kristen memilih berada di kapal pesiar. Datang ke gereja hanya ingin menikmati, dilayani, hidup nyaman dan penuh berkat. Usaha maju, pekerjaan oke, keluarga bahagia, anak-anaknya berhasil, dll. Akibatnya kita tidak bertumbuh, tidak menjadi orang kristen yang militan, kita rapuh dan gampang menyerah. Kekristenan kita harus berpindah dari kapal pesiar ke kapal perang. Menjadi laskar Kristus yang tangguh, kuat, kokoh dan berdaya tahan. Tidak gampang menyerah, tegar dalam menghadapi berbagai masalah dan kesukaran, serta mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh.

BERPINDAH DARI ZONA NYAMAN KE ZONA IMAN
1.
Bongkar bentuk kenyamanan, Ulangan 32:11-12
Sekaranglah saatnya kita bergerak maju ke area kerohanian yang baru yaitu zona iman. Untuk itu beranikanlah membongkar segala bentuk kenyamanan. Belajarlah dari Rajawali yang melatih anak-anaknya terbang. Induk Rajawali akan membongkar sarang kenyamanan lalu membawa terbang anak-anaknya dan melemparkannya di udara. Disinilah anak-anak Rajawali mulai mengepakkan sayapnya, mengembangkan potensinya dan terbang menembus badai di angkasa.

Saya percaya selama kita masih menikmati kenyamanan, kita tidak pernah memiliki iman yang tangguh. Iman justru tumbuh dalam kesukaran dan kesulitan. Jika semua tersedia dan mudah, kita tidak membutuhkan iman. Iman dilahirkan dari ketidakmampuan dan ketidakberdayaan.

Perhatikan dua gambar singa ini.

Pertama adalah singa di hutan dan yang kedua adalah singa di kebun binatang. Singa yang berada di kebun binatang memang nyaman, semuanya tersedia, diberi makan, dirawat, tetapi dia hanya menjadi tontonan. Berbeda dengan singa di hutan. Ada banyak tantangan, kesulitan dan persaingan tetapi justru didalam zona seperti itu ia mencapai potensi maksimalnya yaitu menjadi “Raja Hutan.”

2. Bergerak maju ke medan pertahanan lawan
1Samuel 17:48
Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;

Langkah kedua adalah bergeraklah maju ke medan pertempuran lawan. Jangan hindari pertempuran, kesulitan dan tantangan, beranilah menghadapinya sekalipun tidak mudah, sebab disanalah iman kita akan bertumbuh. Percayalah hanya badai yang menghasilkan pelaut ulung bukan angin sepoi-sepoi.

3. Melakukan yang bisa dilakukan.
1Samuel 17:49
Lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.

Iman tidak menuntut hal-hal besar, ia dimulai dengan hal kecil yang disertai dengan keyakinan dan kepercayaan yang besar. Untuk membunuh Goliat tidak diperlukan tentara yang banyak atau senjata yang canggih, cukup dengan umban gembala yang disertai dengan kepercayaan penuh kepada kuasa Tuhan  untuk merobohkannya. Percayalah apapun yang kita pegang, Tuhan dapat memakainya untuk meraih kemenangan asal kita percaya. Lakukan saja yang bisa dilakukan, selebihnya serahkan kepada TUHAN.

4. Ingatlah, kepada yang TUHAN telah kerjakan
1Samuel 17:37
Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

Daud sangat mempercayai Tuhan, sebab ia memiliki pengalaman bersama Tuhan. Jauh sebelum ia bertemu dengan Goliat, Tuhan telah mengajarnya untuk membunuh singa dan beruang. Pengalaman akan pertolongan Tuhan inilah yang menumbuhkan iman Daud kepada Tuhan sehingga tidak ada sekecilpun keraguan bahwa Tuhan tidak akan menolongnya. Dengan iman ia berkata: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”

Iman tumbuh bukan dari pengetahun tetapi pengalaman dengan Tuhan. Sadarilah jika Tuhan telah menolong kita di hari kemarin, bukankah Tuhan juga akan menolong kita pada hari ini bahkan hari yang akan datang? Sebab itu tumbuhkanlah iman kepada Tuhan dengan cara merenungkan kembali segala karya dan pertolonganNya atas diri kita. Percayalah DIA yang telah menolong kita, akan terus menolong kita sampai akhirnya. Sebab itu berpindahlah dari zona nyaman ke zona iman. Tuhan memberkati. KJP!

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ada Mujizat Bersama Yesus – oleh Pdt. Daniel Limpele – Bali (IBADAH RAYA 3 – Minggu, 10 Maret 2019)

Lukas 9:10

Pada saat itu para murid menceritakan apa yang mereka alami. Setiap kitapun seharusnya ada yang dapat kita sampaikan pada Yesus tentang pekerjaan apa yang telah kita perbuat. Memang Tuhan Yesus mengetahui segala sesuatu sebab itu tidak ada yang dapat kita sembunyikan dihadapan Tuhan.

 

  • Ayat 11
    Pengaruh Yesus luar biasa tidak perlu berpromosi namun orang-orang mengikutiNya. Ada begitu banyak orang yang membutuhkan Yesus dan mereka diterima. Disini Tuhan Yesus memberikan contoh bahwa kita menerima orang dalam segala keadaan dan sampaikan tentang kerajaan Allah. Ini pesan yang perlu kita sampaikan yaitu berkata-kata tentang kerajaan Allah. Dalam kerajaan Allah ada iman dan pengharapan. Kemudian Tuhan Yesus menyembuhkan mereka.
  • Ayat 12
    Mereka kekurangan satu hal lagi tentang kebutuhan jasmani yaitu kebutuhan makan dan minum. Dalam Yohanes 6:5 – ada hubungan dengan keuangan dan kita harus memeriksa keuangan kita.  Di ayat 7, keuangan mereka tidak cukup, sedangkan orang-orang yang datang kepada Yesus tidak cukup hanya dipenuhi kebutuhan rohaninya namun ada kebutuhan jasmani. Sampai di ayat 9 ada seorang anak datang pada Yesus yang membawa 5 roti dan 2 ikan untuk bisa dibagikan ke orang banyak. Bagaimana mungkin mencukupi kebutuhan massa hanya dengan 5 roti dan 2 ikan? Yesus menunjukkan tindakanNya yaitu menyatakan mujizat. Jika dalam pelayanan kita dapat lakukan sesuatu itu karena Tuhan yang menggeraknya didalam diri kita. Ayat 11 – ini adalah kesimpulan dari yang Yesus sampaikan, ada 12 bakul makanan yang tersisa. Secara manusia tidak cukup bila dihitung namun Yesus sanggup penuhi kebutuhan kita.

    Tuhan Yesus bukan hanya menceritakan tentang injil, menyembuhkan
    , tapi Yesus juga mencukupkan kebutuhan jasmani mereka. Tuhan Yesus juga mengucap syukur. Bukan karena roti jadi banyak atau ada yang sembuh pada saat itu. Tuhan Yesus menunjukan bahwa mengucap syukur adalah mujizatnya. Apakah kita memiliki pengalaman demikian yaitu mengucap syukur. Inilah pengalaman pertama. Pengalaman kedua adalah berbagi dengan 5 roti. 5 roti yang sedikit dan kurang artinya mustahil. Tetapi bila kita berbagi itu adalah mujizat.
  • Ayat 14
    Ada pengakuan dari mereka yang mengikut Yesus sebab pokok doa mereka sudah dijawab.
  •  Ayat 15
    Mereka kemudian ingin menjadikan Yesus pemimpin mereka karena sudah mencukupi kebutuhan diri mereka dan Yesus menyingkirkan diri ke gunung. Yesus tinggalkan mereka yang berjumlah 15.000.

 Banyaknya jiwa bukan ukuran sebab apakah arti 15.000 jiwa tanpa Yesus didalamnya? Apa gunanya memiliki segalanya tanpa Yesus? Semua sia-sia, sebab itu sertakan Tuhan Yesus selalu. Tuhan memberkati.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

IMAN YANG TERUJI – oleh Pdt. Hendriyanto (IBADAH RAYA I – Minggu, 10 Maret 2019)

Roma 4:17-25

Dalam Kejadian 12:1-2, ini adalah awal Abram dipanggil oleh Tuhan. Awal mula Abram dipanggil oleh Tuhan ketika ia masih bersama keluarganya di Haran. Mereka adalah keluarga yang tidak mengenal Allah. Mereka adalah penyembah berhala, namun Allah memanggil Abram untuk ikut rencana Allah. Pada masa tua Abram di usia 75 tahun ia dipanggil Tuhan dan Sarai istrinya mandul. Hal tersebut menunjukan bahwa usia bukan batasan untuk Tuhan memakai seseorang.

1.Ujian Iman Abram Di Uji Dengan Waktu.
Mereka pergi meninggalkan keluarga dan pergi ke tempat yang belum tahu kemana akan mereka tuju. Dalam Kejadian 12:2, ada janji Allah dinyatakan sehingga ia percaya. Ini merupakan proses panjang dari usia 75 tahun sampai 100 tahun. Jadi, menanti janji Tuhan harus dengan kesabaran. Tuhan akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar. Dan Tuhan merubah nama Abram menjadi Abraham. Kejadian 15, Tuhan meneguhkan panggilan dan janji Tuhan atas hidupnya. Abraham sempat kecewa dan kuatir (Kejadian 15:3).  Abraham mempertanyakan janji Tuhan dalam hidupnya.

Ketidaksabaran melahirkan hal yang fatal. 1 Samuel 13:11-12, Saul nekat mempersembahkan korban pada Tuhan, padahal itu bukan tugas serta tanggung jawabnya. Di ayat 13, akibat Saul tidak taat maka kerajaannya akan berakhir. Jika saja Saul sabar maka semua tidak adak terjadi. Saul tidak taat kepada firman yang disampaikan sebab itu sertakan Tuhan dalam rencana kita. Ibrani 6:15, kesabaran dalam menanti janji Tuhan membuat Abraham memperoleh yang ia imani.

2. Iman Diuji Dengan Ketaatan
Ketaatan Abraham diuji dengan meminta Ishak sebagai korban bagi Dia. Abraham tidak mengeluh atas permintaan Tuhan tentang Ishak anaknya. Tetapi perhatikan dalam Kejadian 22:5, Abraham memperkatakan iman bahwa ia dan Ishak akan turun bersama-sama. Bukan hanya Abraham, Ishak pun taat dan tunduk mengikuti apa yang ayahnya minta. Abraham percaya bahwa Tuhan akan menyediakan bagi mereka korban pengganti Ishak.

Lukas 5:6, Petrus dan kawan-kawan adalah orang yang mahir dalam menangkap ikan namun hari itu mereka tidak mendapat apa-apa. Yesus datang dan meminta mereka menebarkan jala lagi dan Petrus menaatinya. Petrus berhasil mendapat banyak ikan karena taat kepada perintah Tuhan. Ketaatan kita akan mendatangkan berkat.

3. Iman Tidak Boleh Ragu Atau Bimbang
Roma 4:20, terhadap janji Allah tidak ada keraguan dalam hati Petrus dan kawan-kawan. Markus 5:28, iman kristen adalah sebuah kepastian. Galatia 3:29, ada janji Tuhan atas kita.

Kesimpulan
Iman yang teruji adalah iman yang sudah melewati proses dengan penuh kesabaran serta percaya. Nikmati setiap janji Tuhan di dalam proses kehidupan ini. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Peringatan ke-5: WASPADA TERHADAP AKAR PAHIT DAN MENJAUHKAN DIRI DARI KASIH KARUNIA ALLAH – oleh Pdt. J.S Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 3 Maret 2019)

Ibrani 12:14-15

PENDAHULUAN
Salah satu ciri seorang pengikut Yesus yang sejati adalah hidup dalam perdamaian. Berdamai yang dimaksud bukan hanya dengan orang tertentu saja, misalnya keluarga atau orang-orang yang dikasihi, tetapi dengan semua orang, siapapun orang tersebut dan dimanapun kita berada. Dan ukurannya adalah bagaimana sikap kita dalam kehidupan berjemaat. Mengapa dalam kehidupan berjemaat? Sebab jika kita tidak bisa berdamai dengan saudara seiman, maka kita tidak bisa berdamai dengan orang lain yang tidak seiman. Sebab cara kita bersikap dengan saudara seiman dalam persekutuan gereja Tuhan menjadi ukuran di kehidupan sehari-hari.

DASAR HARUS BERDAMAI
Dalam 1 Korintus 10:16, bahwa dasar orang kristen berdamai adalah pengorbanan Yesus. Sebab yang membangun kesatuan ini bukanlah manusia, tetapi Yesus oleh darah-Nya dan Tubuh-Nya. Yesus memberikan nyawa-Nya untuk mempersatukan setiap orang percaya, sehingga kita yang terpisah-pisah dijadikan satu. Inilah sebabnya ketika kita berkumpul kita harus bisa berdamai dan menjadi satu keluarga. Dan saat kita makan roti dan minum anggur perjamuan suci, kita bukan hanya sekedar mengingat pengorbanan Yesus, tetapi juga menjadi satu dengan tubuh dan darah Yesus, yaitu pribadi Yesus. 1 Korintus 10:17, seperti seketul roti yang utuh, maka kita pun menjadi satu dalam perjamuan suci dan menjadi saudara didalam Kristus. Menjadi satu komunitas bukan lagi terpecah-pecah atau saling membenci melainkan satu kesatuan. Yang membangun kesatuan ini adalah Tuhan Yesus lewat karya kematianNya. Itu sebabnya setiap kali perjamuan kudus, kita jadi satu.Biarlah kesadaran ini membuat kita mengerti bahwa setiap orang yang kita jumpai dalam ibadah adalah keluarga.

Persatuan yang Yesus bangun digambarkan dalam berbagai bentuk seperti roti satu ketul, tetapi Tuhan Yesus juga memberikan gambaran yang lain tentang persekutuan sebagai gambaran dari orang percaya, bahwa persekutuan orang percaya adalah tempat kediaman atau rumah Tuhan.

RUMAH TUHAN
Dalam Matius 18:20 “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka”. Setiap orang percaya adalah tempat kediaman Tuhan, persekutuan yang kita lakukan didasarkan pada nama Yesus dan Yesus menjadikan perhimpunan kita sebagai tempat kediaman-Nya. Bahkan Rasul Paulus menjelaskan lebih detail lagi bahwa perhimpunan orang percaya sebagai Bait Allah.

Jika kita membaca 1 Korintus 3:16, terdapat kata “kamu”, kata tersebut tidak merujuk kepada satu pribadi melainkan himpunan orang yang percaya kepada Yesus, yaitu jemaat di Korintus. Jadi, saat orang percaya berkumpul dalam suatu ibadah, maka persekutuan jemaat Tuhan ini disebut Bait Allah. Yesus tidak tertarik pada bangunan gereja melainkan orang-orang yang hadir dalam ibadah. Perhimpunan jemaat inilah yang menjadi rumah TUHAN. Dan jika Bapa, Putra dan Roh Kudus bertahta diantara kita, maka IA akan menyatakan Kemahakuasaan-Nya; Kemahatahuan-Nya; dan Kemahadiran-Nya. Maka apapun yang kita sembunyikan dan tutupi dapat diketahui oleh Allah dan Tuhan akan menyelesaikan serta menolong setiap umat yang datang berhimpun bersama-sama.

Kehadiran Allah juga datang membawa berkat dan sudah dinubuatkan dalam perjanjian lama. Mazmur 133:1-3, sadar bahwa kita membutuhkan orang lain sehingga ada persekutuan maka minyak menggambarkan berkat Ilahi yang turun dalam perkumpulan orang percaya lewat Firman Allah. Jika ada kesatuan maka berkat rohani akan dialirkan begitu rupa. Dan juga ada “embun”, ini gambaran berkat jasmani. Persoalannya mengapa kita sering tidak alami kuasa,mujizat dan berkat setiap ibadah? Masalahnya adalah sikap hati. Sebab kita datang beribadah dengan sikap individualistis, egois, bahkan angkuh serta tidak peduli dengan keberadaan orang lain. Iblis tidak suka kita menikmati berkat dalam ibadah, karena itu dia berusaha menciptakan kekacauan diantara kita.

Nasihat Firman Allah
Perhatikan nasihat firman Allah dalam Ibrani 12:14. Bahwa kita beribadah dengan satu pengertian bahwa kita semua adalah saudara. Tidak memikirkan diri sendiri, tetapi juga terbeban dengan pergumulan saudara yang lain dan hidup dalam perdamaian sesama jemaat. Seperti Firman dalam Kolose 3:15, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu”. Bahasa asli kata memerintah adalah seperti wasit yang bertugas mengatur jalannya pertandingan dengan baik. Artinya Damai sejahtera yaitu Yesus menjadi pengadil dalam hati kita. Jika kita ijinkan Damai sejahtera memerintah dalam hati kita maka kita akan hidup rukun. Ketika kita hidup dalam damai maka Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya dalam hidup kita.

MENGAPA HARUS TIUP PELUIT?
Damai sejahtera adalah atmosfer Kerajaan Allah yang Tuhan taruh di hati oleh Roh Kudus. Roma 14:17 “Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Jika kita tidak mau meniup peluit damai sejahtera itu maka kita akan kehilangan 4 hal yang sangat penting dalam hidup. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 12:15 yaitu :
1. Menjauhkan diri dari Kasih Karunia
2. Tumbuh akar pahit
3. Menimbulkan kerusuhan
4. Mencemarkan banyak orang

Kalau hal Ini terjadi maka akan merusak Bait Allah yaitu persekutuan yang Yesus bangun dengan pengorbanan-Nya.

Ada 3 kategori Bait Allah:
1. Bait Allah secara individu (1 Korintus 6:19)
Saat kita buka hati bagi Yesus maka kita disebut Bait Allah atau tempat kediaman Allah. Artinya jangan merusak diri kita dengan meninggalkan kasih karunia, akar pahit, menciptakan kerusuhan.

2. Bait Allah sebagai persekutuan /himpunan orang percaya. (1 Korintus 3:16)
Kata “kamu” adalah himpunan orang percaya. Jangan kita merusak persekutuan dengan menciptakan perpecahan. Yang terjadi kepada orang yang binasakan Bait Allah : 1 Korintus 3:17 jika ada yang merusakkan Bait Allah atau persekutuan jemaat maka Allah akan membinasakan orang tersebut.

3. Bait Allah (Himpunan Orang percaya) secara universal
Orang yang membinasakan Bait Allah tidak akan mendapat bagian dalam perhimpunan besar semua orang percaya yang diadakan di depan takhta Yesus dalam kemuliaan (Wahyu 7:9). Jika kita mau ada dalam perhimpunan itu mulailah dari menjaga hidup kita secara pribadi dan juga dalam hidup berjemaat.

KESIMPULAN
Ketika kita berhimpun dalam ibadah jangan saling cuek melainkan saling memperhatikan dan bila kita lakukan dengan benar maka kita akan masuk dalam perhimpunan besar. Yesus akan memimpin kita dalam ibadah raya di Sorga kekal. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KASIH KARUNIA MEMBAWA DAMAI SEJAHTERA – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 24 Februari 2019)

Kolose 1:1-2

Pendahuluan
Surat kepada Jemaat di Kolose merupakan salah satu dari 14 surat Rasul Paulus. Salah satu ciri surat-surat Paulus bahwa ia selalu memulai dengan ucapan salam. Contohnya surat Kolose yang akan dibahas hari ini. Ada hal yang menarik dari salam Rasul Paulus kepada jemaat Kolose, dari ucapan Salam kepada Jemaat Kolose.

SALAM PAULUS YANG PERTAMA
Rasul Paulus menuliskan “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah….” Hal ini menjelaskan bahwa kerasulan Paulus bukan datang dari kemauannya melainkan atas kehendak Allah dalam hidupnya. Mengapa demikian? Jika kita perhatikan riwayat hidup Paulus yang dulu bernama Saulus, sangat bertentangan dengan kehendak Yesus. Saulus terkenal sebagai penganiaya bahkan pembunuh orang Kristen. Tetapi dalam perjalanannya ke Damsyik untuk membunuh pengikut Yesus, Tuhan menjumpai dan mengubah hidupnya menjadi alat pilihan bagi Tuhan (Kisah rasul 9:13-15). Namanya diubah menjadi Paulus dan ia  dipilih secara khusus untuk memberitakan tentang Yesus kepada bangsa-bangsa lain, bahkan bagi raja-raja.

Perhatikan kata “Alat” dalam bahasa asli, dituliskan “bejana”. Jadi kehidupan Rasul Paulus digambarkan seperti bejana. Kehidupan bejana hidup Paulus yang lama  hanya berisi kebencian untuk membunuh semua orang Kristen,  tetapi kemudian bejana itu menjadi wadah yang Allah isi dengan kebenaran dan kebaikan sehingga Paulus dapat memenangkan banyak orang bagi Tuhan. Berbicara tentang bejana, tentu kita ingat kisah pernikahan di Kana. Pada masa itu, Tuhan Yesus meminta pelayan untuk mengambil bejana pembasuhan kaki lalu mengisi dengan air baru. Bejana yang berfungsi untuk mencuci kaki dan tangan, Tuhan Yesus merubah air yang ada dalam bejana menjadi anggur yang terbaik sehingga banyak orang diberkati (Yohanes 2:6-10).

Tuhan pun ingin mengubah bejana kehidupan kita yang dulu terisi oleh hal-hal yang tidak baik diubahkan sehingga bejana hidup kita dapat terisi dengan hal-hal baik sehingga menjadi berkat bagi banyak orang. Di akhir zaman ini Tuhan sedang mencari orang-orang yg mau membuka bejana hatinya bagi Tuhan.

SALAM PAULUS YANG KEDUA
Selanjutnya salam Paulus yang kedua adalah “kepada saudara-saudara yang Kudus dan yang percaya dalam Kristus”.

Kalimat terdebut memberikan perngertian kepada setiap kita orang-orang yang percaya kepada Yesus disebut orang kudus. Gelar ini bukan pemberian institusi gereja atau manusia melainkan diberikan oleh Tuhan Yesus sendiri sebab:
1. Darah Yesus
Oleh darah Yesus kita dikuduskan (Wahyu 1:5b). Saat kita terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, semua dosa dalam diri kita dibersihkan oleh darah Yesus. Artinya semua dosa masa lalu sudah dilupakan oleh Yesus. Oleh sebab itu, biarlah kekudusan hidup harus dijaga, baik roh, jiwa dan tubuh kita.

2. Firman Tuhan (Yohanes 15:3)
Pekerjaan Firman Allah menjadikan kita kudus seperti seorang anak hilang yang dipulihkan statusnya sebagai anak. Namun apakah artinya dikuduskan oleh Firman Allah? Apakah saat seseorang datang ke gereja dan mendengar Firman Allah lalu secara otomatis menjadi kudus? Tentu saja tidak. Aplikasinya adalah ketika kita mendengar Firman Allah dan bertobat maka saat itu kita dikuduskan oleh Firman. Contoh Firman yang membahas tentang dosa masa lalu orang-orang Korintus yang terikat dengan dosa cabul, penyembahan berhala, zinah, banci, pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu, yang membuat mereka tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah (1 Korintus 6:9-10). Tetapi setelah mendengar Firman Allah dan bertobat maka mereka dikuduskan (1 Korintus 6:11). Artinya saat kita mendengar Firman Allah kemudian bertobat maka kita dikuduskan oleh Firman Allah. Mengingat setiap Firman yang kita dengar akan mencegah kita melakukan dosa. Berkat Allah akan kita alami bila kita ijinkan firman Allah menyucikan kita dan wujud berkat itu adalah “Kasih Karunia.”

3. Nama Yesus
Nama Yesus menguduskan kehidupan kita dalam segala hal. Asal pekerjaan yang kita lakukan sesuai dengan kehendak Allah bukan untuk kepentingan diri sendiri.

4. Roh Kudus
Roh Kudus adalah pribadi Allah yang tinggal dalam diri orang percaya dan mengingatkan setiap kita apabila kita hidup keluar dari kehendak Allah. Roh kudus akan mengingatkan kepada diri kita akan firman Allah. Bila kita taat maka kita hidup dalam kekudusan.

SALAM PAULUS YANG KETIGA
Bagian ketiga dari salam Paulus “kasih karunia…” Kasih karunia dalam terjemahan KJV berbunyi grace be unto you, artinya anugerah menjadi bagian kita. Apa anugrah yang dimaksud? Ini berbicara tentang keselamatan. Jadi urutannya adalah ketika kita menerima keselamatan secara cuma-cuma (kasih karunia) maka kita memperoleh damai sejahtera sehingga tidak ada lagi ketakutan atau kecemasan.

Sebagai pengikut Yesus yang sejati secara terus-menerus mengijinkan: Darah Yesus, Firman Tuhan , Nama Yesus, Roh Kudus untuk menyucikan kehidupan kita. Dimana pun kita berada biarlah terus mengingat keempat hal tersebut sehingga kita dimampukan untuk hidup kudus dan terhindar dari jerat dosa dan tetap ada dalam kasih karunia Allah. Dengan demikian maka kita bukan sekedar bergelar orang kudus melainkan hidup dalam kekudusan. Setelah kita mempotensikan keempat hal tersebut dalam hidup kita maka kita memperoleh damai sejahtera. Yaitu kehidupan yang bebas dari ketakutan, kegelisahan atau gentar terhadap iblis yang berusaha meneror siang malam karena kita yakin bahwa sorga sudah menjadi jaminan bagi kita.

Iblis adalah penuduh seolah keselamatan yang Yesus kerjakan belum tuntas. Wahyu 12:10, yang dimaksud dari ayat ini adalah iblis berusaha mendakwa atau mengintimidasi kita dengan dosa-dosa masa lalu  tetapi iblis bungkam dan dikalahkan karena darah Yesus, Firman, Nama Yesus , Roh Kudus telah menyucikan kehidupan kita.

Ada beberapa contoh :
1. Imam besar Yosua
Masa lalu imam Yosua dikatakan seperti puntung yang ditarik dari api. Dia digambarkan memakai pakaian yang kotor, berbicara tentang hidup lama yang penuh dosa, tetapi Tuhan kemudian menguduskan dan melayakkan dia untuk kembali melayani Tuhan. Apa yang dialami oleh Imam besar Yosua menggambarkan kehidupan kita yang ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus, sehingga kita yang dikuduskan hidup dalam kelimpahan damai sejahtera dan sukacita (Zakaria 3:1-10).

2. Anak yang hilang (Lukas 15:13-22)
Anak bungsu yang meninggalkan bapanya dan hidup dalam dosa mengalami kemelaratan. Dalam keadaan tidak berdaya ia mengingat akan rumah bapanya dan memutuskan untuk kembali. Dengan perasaan cemas dan takut ia melangkah kembali ke rumah bapanya, ketika bapanya melihat anak yang hilang itu kembali maka dengan segera ia berlari menyambut, memeluk anak itu, memberi pakaian yang baru, cincin, kasut dan keadaannya dipulihkan. Inilah kasih karunia sehingga ketakutan anak itu hilang digantikan dengan damai sejahtera.

KESIMPULAN
Hendaklah kita bersyukur sebab oleh Kasih dan AnugrahNya kita dapat menikmati damai sejahtera. Dan pergunakan keempat perangkat yaitu Darah Yesus, Nama Yesus, Firman Allah dan Roh Kudus untuk memampukan kita berjalan dalam kehendak Allah yang sempurna sampai menjelang kedatanganNya yang kedua kali. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MELAWAN KEKUATIRAN HIDUP – Oleh Pdt. Filmar Manoy (Ibadah Raya 3 – Minggu, 17 Februari 2019)

Matius 13:8-9

Ayat pokok menjelaskan tentang kisah seorang penabur, yang menaburkan benih dan jatuh di atas 4 jenis tanah. Jenis tanah tersebut adalah:
1. Tanah seperti di pinggir jalan
Ketika benih itu ditabur, datanglah burung sehingga tidak terjadi pertumbuhan karena gagal tumbuh. Ada orang yang mendengar Firman Tuhan tapi ia tidak paham karena iblis mencuri firman itu sehingga firman/ benih itu tidak tumbuh atau berdampak sehingga akhirnya benih/ firman itu hilang.

2. Tanah yang berbatu-batu
Benih yang jatuh di tanah itu bertumbuh tapi ketika cuaca panas, terik, benih itu menjadi layu. Terjadi pertumbuhan tapi tidak maksimal. Ini adalah gambaran dari orang yang senang mendengar firman Tuhan tapi ketika masalah datang orang itu menjadi murtad karena benih itu tidak bertumbuh dikarenakan tanahnya tipis.

3. Tanah yang penuh semak duri
Benih yang jatuh di tanah ini, benihnya tumbuh tapi terhimpit dengan semak duri sehingga benih itu mati. Semak duri itu adalah kekuatiran. Seringkali kita mendengarkan Firman Tuhan tapi sering kali pula kekuatiran menghimpit kita , membunuh iman kita sehingga iman kita tidak bertumbuh.

4. Tanah yang baik
Ketika benih itu ditaburkan, benih itu bertumbuh ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Ada dampak di tanah yang baik.

Kita tergolong pada tanah yang mana? Tentu kita menginginkan tanah yang ke-4. Apakah ketika kita sudah mempersiapkan tanah hati/ hidup kita dengan baik maka secara otomatis kita akan menerima berlipat ganda? Apakah setelah kita siapkan hidup yang terbaik apakah itu langsung menghasilkan buah? Jawabannya tidak. Ternyata di tanah yang baik masih ada persoalan.

PERSOALAN DI TANAH YANG BAIK
Matius 13:24-26 – Perumpamaan Tuhan Yesus tentang tanah yang baik

Si penabur benih itu tidur, datanglah penguasa kegelapan yang menaburkan benih lain di tanah yang baik itu, yaitu benih lalang. Lalang dan gandum tumbuh bersama. Otomatis benih gandung tidak akan tumbuh maksimal karena terhimpit benih lalang. Seperti tanah yang ke-3, yang penuh dengan semak duri, bisa jadi itu tumbuhan lalang. Lalang berbicara tentang kekuatiran hidup dan tipu daya kekayaan.

Kita meminta Tuhan taburkan benih yang baik dalam hati yang baik. Tapi jangan sampai kita kehilangan kewaspadaan/ tertidur/ lengah sehingga iblis menaburkan benih lalang yaitu benih kekuatiran hidup.

BENIH KEKUATIRAN HIDUP
Kekuatiran bisa melanda siapa saja. Iblis tahu kekuatiran dapat membunuh iman orang percaya. Itulah sebabnya iblis berkeliling mengaum-gaum mencari orang-orang yang tidak berjaga-jaga untuk menaburkan ‘benihnya’. Banyak orang kristen yang aktif ke gereja tapi masih kuatir dengan banyak hal. Jika kekuatiran itu dipelihara maka benih itu akan bertumbuh menjadi ketakutan dan terus bertumbuh menimbulkan stress. Jangan ikat iman kita dengan benih kekuatiran.

3 CARA UNTUK MELAWAN KEKUATIRAN
1.
Lawan dengan iman yang teguh, 1 Petrus 5:9
Jangan berdiam diri saja tapi lawan dengan iman teguh. Yesus pernah menegur kepada para murid, Matius 6:30. Rumput yang tidak berguna saja didandani dan dipelihara Allah, mengapa kita (anak Tuhan) harus bimbang/ kurang percaya? Kata ‘kurang percaya’ dalam bahasa inggris dipakai kata little faith (iman yang kecil). Kita tidak bisa mengusir kekuatiran jika iman kita kecil. Kita harus besarkan iman kita karena kita memiliki Allah yang luar biasa.Matius 6:31 – Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

Orang yang kuatir itu sama dengan orang yang tidak mengenal Allah. Orang itu berupaya dengan kekuatannya sendiri, sehingga sewaktu-waktu ia akan mengalami depresi. Mengapa kita harus kuatir jika kita memiliki Allah yang tahu apa yang menjadi kebutuhan kita? Lepaskan kekuatiran kita sebab itu tidak berguna.

2. Mengingat akan kasih setia Tuhan dalam hidup kita, Mazmur 13:6
Pemazmur merasa kekuatiran menghimpit hidupnya sepanjang hari. Tapi ia menyadari untuk mengusir kekuatirannya dengan bernyanyi bagi Tuhan karena Tuhan baik baginya. Jika kita mengingat semua kebaikan Tuhan maka tidak ada tempat bagi kekuatiran. Orang yang melupakan kebaikan Tuhan, sering kali dihinggapi kekuatiran. Jika kita mengingat bahwa Tuhan itu baik buat kita tanpa kita sadari kita berharga di mata Tuhan.

Matius 10:29-31 – burung pipit yang tidak berharga dipelihara Tuhan, maka kita pun lebih berharga dari burung pipit dan pasti memelihara kita.

3. Miliki hati yang penuh syukur, Mazmur 37:4-5
Hati yang penuh syukur adalah hati yang bergembira karena perbuatan Tuhan dalam hidupnya. Hati yang bersyukur adalah hati yang Tuhan rindukan pada setiap orang percaya.

Jangan beri kesempatan pada Iblis, melainkan lawan dengan iman, ingat kasih Tuhan dan miliki hati yang penuh dengan syukur. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MEMPERBAHARUI DIRI – Oleh Pdt. Yessy Tololiu (Ibadah Raya 2 – Minggu, 17 Februari 2019)

Yehezkiel 36:26

Hampir 2 bulan kita menjalani tahun baru ini. Melangkah di tahun yang baru, kita perlu memperbaharui diri kita. Hal-hal apa saja yang perlu diperbaharui?

1. Hati
Tuhan tidak melihat penampilan kita tetapi hati kita. Seperti Nabi Samuel memilih anak-anak Isai yang akan diurapi menjadi Raja, ia mengira Eliab yang tubuhnya tinggi besar-lah yang akan dipilih Tuhan. Tapi Tuhan mengatakan Ia telah menolaknya. Manusia hanya bisa melihat sebatas penampilan tapi Tuhan melihat sampai ke dalam hati. Ketika kita memiliki hati yang baru maka hati yang keras berubah menjadi lembut.

2.Pikiran
Rasul Paulus mengingatkan kita untuk memperbaharui pikiran kita. Kita akan menjadi apa seperti yang kita pikirkan. Jika kita berpikir negatif, maka seperti itulah kita. Demikian pula sebaliknya. Untuk itu sangat penting memperbaharui pikiran kita.

3. Semangat/ kekuatan
Kita semua membutuhkan semangat baru untuk menjalani hidup ini.
Yesaya 40:31 – tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Menanti-nantikan Tuhan dapat diartikan kita bersekutu dengan Tuhan. Bersekutu dengan Tuhan dapat kita lakukan dengan melayani Tuhan, berdoa, bermazmur bagi Tuhan, dll.

Orang kristen digambarkan seperti burung rajawali. Burung Rajawali tidak takut menghadapi badai yang besar, bahkan ia akan menyambutnya dengan merentangkan sayapnya dan terbang tinggi mengatasi badai. Dengan kekuatan baru yang Tuhan berikan, kita tidak akan kalah, tidak akan lelah menghadapi badai kehidupan. Presiden Bung Karno berkata “berikan kepada saya 10 orang muda yang bersemangat maka aku akan menggoncangkan dunia”.

4. Komitmen
Komitmen adalah janji. Ketika kita berkomitmen, itu artinya kita berjanji kepada diri kita sendiri, pada orang lain, terutama kepada Tuhan. Yosua sebagai pemimpin bangsa Israel dan kepala keluarga berkomitmen beserta seisi rumahnya untuk beribadah kepada Tuhan. Kita harus memperbaharui komitmen kita untuk Tuhan supaya kita semakin teguh didalam Tuhan.

Waktu terus bergerak dan tidak bisa kembali. Kita tidak bisa mengembalikan waktu-waktu yang sudah terlewat, itulah yang disebut KRONOS (waktu yang bergulir). Pada waktu yang bergulir/ KRONOS ada waktu KAIROS (kesempatan/momentum). Ada istilah kesempatan baik/emas tidak akan datang dua kali. Jika kesempatan itu datang tapi kita tidak segera menggunakannya, maka kesempatan itu akan hilang. Ada 3 hal yang tidak bisa kembali lagi: waktu, ucapan, kesempatan. Jika kita tidak menggunakan waktu, maka waktu itu akan terbuang dengan percuma.

Efesus 5:15-16 – Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup dan pergunakan waktu.

Apa pengukurnya untuk mengetahui apakah kita menggunakan waktu seperti orang bijak atau orang bebal? Orang yang bebal adalah orang yang membuang waktu. Orang yang bijak adalah orang yang memanfaatkan waktu dengan baik.  Ada waktu untuk bekerja, belajar, beribadah, melayani. Jangan mencampuradukan waktu.

Contoh :
Kisah 15:37 – Markus pergi meninggalkan pelayanan dan tidak mau bekerja lagi. Ketika ia mau ikut pelayanan selanjutnya, Paulus mengatakan untuk tidak melibatkan Markus lagi.

2 Tim 4:11 – Paulus menyuruh untuk menjemput Markus sebab pelayanan Markus sangat penting bagi Paulus. Setelah 20 tahun, Markus mengalami perubahan sehingga ia semakin giat melayani Tuhan. Markus tidak membuang waktu dengan percuma, ia manfaatkan waktu dengan baik. Marilah kita juga baharui komitmen kita dengan menebus waktu yang telah terbuang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment