KUASA ADA DI MULUT ANDA – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 14 Mei 2017 )

YAKOBUS 3:1-10

Pendahuluan

Menurut saudara, apa ukuran kerohanian yang baik itu ?

  • Rajin baca Alkitab.
  • Rajin berdoa dan melakukan firman Tuhan.
  • Rajin kebaktian/ibadah.
  • Rajin dalam ketiganya dan memiliki kemurahan hati

Yakobus menuliskan bahwa ukuran kerohanian yang baik adalah pengendalian atas lidah.

Ay.1 – Yakobus memperingatkan agar tidak sembarangan orang untuk jadi guru karena ada tanggung jawab yang besar dengan apa yang diajarkan.

Sesudah memberi peringatan agar tidak sembarangan jadi guru, Yakobus menyoroti pentingnya memperhatikan mulut kita dalam hal ini lidah. Lidah memang kecil, tetapi seperti halnya api dan kekang apabila tidak dikendalikan lidah dapat menyebabkan kerusakan yang besar, seperti api yang dapat membakar hutan.

Begitu seriusnya pengaruh lidah yang tidak terkendali, sampai-sampai Yakobus menyebutnya sebagai :

  • Dunia kejahatan, ay.6a
  • Dinyalakan oleh api neraka, ay.6b

Artinya ungkapan kejahatan dapat terjadi melalui lidah mulut kita seperti mengutuk, memaki, menghina, fitnah, dll. Ironisnya manusia dapat menjinakkan binatang buas tetapi sulit untuk menjinakkan kekuasaan lidah. Dengan lidah kita dapat memuji Tuhan, tetapi dengan lidah juga kita dapat mengutuki manusia yang diciptakan Tuhan, Yak 3:9.

Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk, hal seperti ini tidak boleh terjadi dalam kehidupan orang percaya, ay.3:10. Mustahil sumber air tawar mengeluarkan air pahit. Pohon ara tidak mungkin menghasilkan buah zaitun, pohon anggur tidak mungkin menghasilkan buah ara, ay.11,12.

BAGAIMANA  MENGENDALIKAN  LIDAH

Pemakaian lidah bergantung pada sesuatu yang dapat mengendalikannya. Sesuatu apakah yang dapat mengendalikan lidah itu ?  Sesuatu itu adalah : HATI.

Tuhan Yesus berkata bahwa bukan yang masuk ke dalam mulut orang yang membuat orang najis, tetapi apa yang keluar dari seseorang, yakni segala kejahatan yang keluar dari dalam hati, Markus 7:18-23. Untuk memelihara lidah dari dosa dan kejahatan harus dimulai dengan menjaga hati.

Yakobus mendorong kita semua orang percaya untuk menggunakan lidah untuk hal-hal yang baik saja, karena lidah mulut kita memiliki kuasa mendatangkan berkat atau kutuk. Orang yang dapat mendisiplin lidahnya niscaya akan dapat mengendalikan hidupnya dan meraih kuasa berkat-berkat Tuhan.

MENJAGA LIDAH atau UCAPAN KITA

I Petrus 3:10

“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”

Amsal 12:18

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”

Lancang mulut, artinya

  • Sok tahu dan suka menghakimi.
  • Mempersalahkan orang tanpa tahu masalah yang sebenarnya.

Yakobus 1:26

“Jika ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”

Kata “Beribadah” (THRESKOS) artinya terbiasa melakukan kegiatan keagamaan.

Bagaimana ucapan kita bisa mendatangkan kuasa berkat ?

Amsal 18:21

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”

Menggemakan dapat diartikan menyerukan, memperkatakan.

Untuk lidah kita dapat menarik kuasa berkat dalam hidup kita :

  • Ucapkan kata-kata baik dan positif.
  • Ucapkan kata-kata berkat dengan keyakinan dan iman yang kuat.
  • Ucapkan kata-kata firman Tuhan.

Mari kita ubah cara bicara dan ucapan kita, karena ada kuasa di mulut kita. Ada kuasa untuk menarik berkat dan kemenangan, tetapi waspada didalamnya ada juga kuasa yang mendatangkan kutuk dan celaka. Semua itu tergantung pada apa yang kita ucapkan. Tuhan memberkati.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

APAKAH YANG KAMU CARI – Seri 13 – MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHATNYA –UNDANGAN UNTUK MEMPERCAYAI-NYA– (Ibadah Raya 3 – Minggu, 14 Mei 2017)

Yohanes 1: 35-39


Yohanes 1:39

Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.

” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal,

dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia;

waktu itu kira-kira pukul empat.

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya” Hal ini memberikan pengertian kepada kita yaitu:

  1. Penerimaan Total

Tuhan Yesus menerima secara total kedua orang murid Yohanes yang datang kepadaNya tanpa pernah menanyakan asal-usul dan latar belakangnya, kompetensi dan skil yang mereka miliki. Dia menerima mereka apa adanya.

  1. Undangan untuk menjadi murid.

“Marilah dan kamu akan melihatnya” adalah sebuah undangan istimewa bagi kedua murid Yohanes pembaptis untuk menjadi murid Yesus. Sekali lagi, kita dipanggil bukan hanya sekedar “mengakui” tetapi “mengikuti”. Kekristenan bukan menjadi kristen, tetapi murid sejati.

  1. Undangan untuk menerima dari sang guru

“Marilah dan kamu akan melihatnya” adalah undangan untuk menerima pengajaran, pengetahuan, hikmat, kuasa dan kehidupan dari Yesus sebagai guru baru.

Tiga bagian ini telah kita pelajari pada ibadah beberapa waktu yang lalu, sekarang kita akan memperlajari bagian yang keempat dari makna perkataan Tuhan Yesus “Marilah dan kamu akan melihatnya” yaitu :

  1. UNDANGAN UNTUK MEMPERCAYAI-NYA

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya” itu artinya Tuhan Yesus memanggil kedua murid Yohanes yang ingin menjadi muridNya untuk mempercayaiNya sepenuhnya. Mempercayai sang guru adalah langkah awal sebuah pemuridan. Tanpa mempercayai sang guru seorang murid akan gagal untuk menerima semua pengajaranNya. Keragu-raguan hanya akan menghambat seorang murid menjadi pandai untuk mengerti dan memahami maksud sang guru. Percaya adalah landasan hubungan antara guru dan murid.

Dalam Perjanjian Baru kata “PERCAYA” diterjemahkan dari kata Yunani yaitu: “PISTIS” artinya percaya dan “PISTEUO” artinya mempercayakan diri. Jadi percaya itu artinya bukan hanya percaya bahwa sesuatu itu benar, tetapi lebih dari itu ia berani mempercayakan dirinya. Contohnya demikian: Bapak ibu percaya bahwa saya orang baik? Kalau Bapak ibu percaya itu “Pistis”. Bagi yang percaya saya orang baik, beranikah bapak ibu mempercayakan dompetnya, uangnya atau kunci brankasnya kepada saya? Inilah “Pisteuo”. Banyak orang kristen hanya pada tingkat “pistis” percaya kepada Tuhan tetapi tidak sampai “pisteuo”. Hal ini nampak jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengaku percaya kepada Yesus, tetapi masih pergi ke dukun, cari pertolongan alternatif dan cemas saat hadapi masalah. Ini bukti bahwa mereka hanya percaya “pistis” tetapi tidak sampai “pisteuo” mempercayakan diri kepada Tuhan. Menjadi murid bukan sekedar percaya Yesus adalah guru, Dia penolong, berkuasa, dll, tetapi berserah sepenuhnya, pasrah total, dan mempercayakan diri seutuhnya kepada Tuhan.

Mari kita lihat pemakaian kata pistis dan pisteuo dalam firman Tuhan.

Galatia 2:16

Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman (PISTIS) dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya (PISTEUO) kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman (PISTIS) dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat. Jadi jelas bagi kita bahwa iman yang menyelamatkan bukan hanya percaya tetapi juga mempercayakan diri kepada Tuhan sebagai satu-satunya juru selamat, yang didalamnya terkadung makna taat dan setia.

Bapa Orang Beriman

Abraham dikenal sebagai Bapa orang percaya. Untuk memahami pengertian tentang iman percaya mari kita belajar dari bapa Abraham. Imannya dicatat dalam Ibrani 11:8-19. Dari kisah ini kita dapat menarik pelajaran beberapa komponen iman.

  1. TAAT

Ibrani  11:8 

Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

 

Iman/percaya tidak dapat dipisahkan dari taat. Iman yang benar selalu melahirkan ketaatan. Sebaliknya ketidaktaatkan disebabkan karena ketidakpercayaan. Jika seorang anak Tuhan tidak mentaati secara penuh, itu pasti disebabkan karena ia juga tidak percaya seutuhnya kepada Tuhan. Abraham taat mengikuti perintah Tuhan untuk meninggalkan tanah kelahirannya Ur Kasdim dan pergi ke tempat yang ia tidak ketahui, sebab ia percaya bahwa Tuhan pasti membawanya ke tempat yang lebih baik, lebih besar dan lebih indah. Bagaimana dengan kita? Jika kita tidak mentaatiNya sepenuhnya, periksalah hati Anda? Ingat! Percaya kita berbanding lurus dengan ketaatan kita.

Korelasi Iman dan Ketaatan

a. Iman tanpa perbuatan adalah mati

Yakobus 2:26 

Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

b. Iman tanpa perbuatan adalah Iman Setan

Yakobus 2:19 

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

c. Iman disempurnakan oleh tindakan

Yakobus 2:22

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

 

  1. Iman melampaui KETIDAKTAHUAN

Ibrani  11:8 

Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

 

Abraham tidak mengetahui kemana tempat yang akan ia tuju. Apakah tempatnya dekat atau jauh? lebih baik atau lebih buruk dari tanah kelahirannya? subur atau tandus? Abraham buta akan semuanya itu, satu hal yang ia tahu bahwa Tuhan akan membawa ke tempat yang lebih baik. Abraham tetap percaya walaupun tidak tahu. Iman selalu melampui ketidaktahuan. Iman percaya sekalipun belum tahu.

Seorang murid dipanggil, dididik, dilatih untuk berjalan dengan IMAN bukan dengan PENGLIHATAN.  Murid-murid Tuhan Yesus, mengawali imannya dengan meninggalkan segala sesuatu, baik perkerjaan mereka, keluarga mereka dan kenyamanan hidup mereka, kemudian hidup sepenuhnya dengan percaya kepada Yesus.

2Korintus 5:7 

–sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat–

Bahaya hidup dengan penglihatan

a. Jatuh dalam dosa penyembahan berhala

Keluaran 32:1 

Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir–kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.”

Melalui berbagai mujizat dan keajaiban bangsa Israel merasakan pimpinan Tuhan sekalipun mereka tidak melihatNya. Hanya karena keinginan untuk memiliki Allah yang dapat dilihat dan diraba mereka membuat patung lembu emas. Hati-hatilah karena penglihatan kita dapat membawa kita kedalam penyembahan berhala yang menyesatkan.

b. Gagal memandang KEBESARAN Tuhan

Bilangan 13:31 

Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.”

 

Dari 12 pengintai yang diutus Musa mengintai tanah Kanaan, 10 diantara mereka menyampaikan kabar buruk. Hal ini disebabkan karena mereka hanya melihat apa yang mereka lihat. Mereka hanya melihat mengandalkan mata mereka bukan iman mereka. Berbeda dengan Yosua dan Kaleb, mata mereka memang melihat bangsa yang kuat dan besar tetapi iman mereka melihat bahwa Tuhan Allah Israel yang lebih besar dari semua bangsa yang ada di Kanaan.

c. Lebih menyukai hal yang NATURAL dari pada SUPRANATURAL

1Samuel 8:5 

dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”

Kegagalan ketiga karena mengandalkan penglihatan adalah menyukai hal natural dari pada hal yang supranutural. Selama ini pemerintahan Israel menganut pemerintahan theokrasi, dimana Allah sendiri yang memimpin bangsa Israel. Tetapi karena bangsa Israel melihat bangsa-bangsa di sekitarnya memiliki raja yang dapat dilihat, mereka meminta raja dan menolak Allah.

  1. Iman menembus KETIDAKMUNGKINAN

Ibrani 11:11 

Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

Aspek iman Abraham yang ketiga adalah bahwa iman itu menembus ketidakmungkinan. Bagi Abraham dan Sara mempunyai anak, itu tidak mungkin. Abraham sudah tua dan Sara sudah berhenti haid. Secara medis ini tidak mungkin. Tetapi Iman menembus ketidak mungkinan. Yang tidak mungkin bagi manusia selalu mungkin bagi Allah.

Lukas 1:37

“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Adakah diantara kita yang pada saat ini sedang berada dalam keadaan ketidakmungkinan? Barangkali Saudara merasa bahwa disembuhkan dari sakit itu tidak mungkin karena terlalu parah, atau mungkin usaha dan ekonomi Saudara tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. Atau bahkan Saudara merasa memiliki anak juga tidak mungkin, atau seribu satu hal lain ketidakmungkinan. Apapun itu, siapapun Saudara, saatnya pejamkan mata, dan pandang Tuhan dengan iman. Percayalah dan percayakan diri Saudara kepada Tuhan, bahwa DIA berkuasa melakukan apa saja bagi anak-anakNYa. Tuhan memberkati. KJP!!

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HOW MUCH MORE (Betapa Lebih Lagi) – oleh Sdr. Jeff Minandar (Ibadah Raya 1 – Minggu, 14 Mei 2017)

 Apakah Anda bisa menebak kira-kira di ayat apa Tuhan Yesus pernah mengatakan hal ini di dalam Injil? Baiklah kalau Anda tidak bisa menebak dalam Bahasa Inggris, bagaimana kalau kita coba dengan Bahasa Yunani? “Posos” (how much – betapa lebih) dan “mallon” (more – lagi). Baik kalau masih bingung memang di dalam Terjemahan Baru yang rata-rata kita miliki dipakai kata “apalagi”, mari kita buka di dalam Matius 7:11. Menariknya “hal-hal yang baik” dari ayat di Matius, dituliskan sebagai “Roh Kudus” di Lukas 11:13. Jadi dari ayat-ayat ini dengan kata “apalagi” Yesus ingin membuat kontras antara bapa di dunia dan Bapa di Surga. Jika bapa di dunia memberi hal-hal dunia, Bapa di Surga memberi hal-hal rohani.

Mengenai bapa di dunia, kita mengerti bahwa mereka memiliki anak berdasarkan hubungan suami-istri seperti yang digambarkan di Kejadian 4:1. Pada ayat ini kata “anak” dipakai kata Ibrani: iysh (yang artinya laki-laki). Sedangkan mengenai Bapa di Surga, IA juga memiliki anak-anak seperti dituliskan di 1Yohanes 3:1, dan kata anak yang dipakai adalah kata Yunani: teknon (gambaran anak secara keseluruhan).

Kita semua adalah anak dari bapa kita di dunia. Bagaimanapun kita tidak bisa menutupi fakta ini, betapapun tidak sempurnanya bapa kita di dunia, mereka adalah “alat Tuhan” untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saya akan memberi 2 contoh mengenai bapa di dunia yang ditulis di Alkitab yang menunjukkan ketidaksempurnaan.

  1. Isai, bapa dari Daud. 1Samuel 6:11 (tidak menganggap anak bungsunya)
  2. Yusuf, “bapa” dari Yesus. Matius 13:55 (tidak memiliki status sosial, dan banyak komentator Alkitab percaya ia mati muda)

Meskipun bapa di dunia tidak sempurna, rancangan Bapa di Surga sempurna. DIA tidak akan membiarkan kita hidup tanpa tujuan dan tanpa potensi.

Namun demikian kita juga harus menyadari bahwa kita juga adalah anak-anak Allah karena iman kita kepada Yesus Kristus. Galatia 3:26. Karena kita adalah anak Allah, kita juga adalah ahli waris. Betapa luar biasa. Roma 8:17. Tetapi kita juga harus sadar bahwa dalam janji itu ada bagian kita dalam penderitaanNYA. Jika Yesus harus menderita sebelum masuk dalam kemuliaanNYA (Lukas 24:26) mengapa kita harus takut? Roma 8:18. Kuatkan hati kita itu yang perlu kita lakukan. Yohanes 16:3.

Jika bapa di dunia tahu apa yang baik untuk anaknya, APALAGI Bapa di Surga. DIA sangat memerhatikan kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

YESUS ANAK DOMBA ALLAH – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 7 Mei 2017)

Yohanes 1:29-34

PENDAHULUAN

Dalam ayat kebenaran firman Tuhan yang kita bahas hari ini, Yohanes Pembaptis memakai perumpamaan dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah.” Tujuannya agar pendengar bisa dengan mudah mengerti maksud firman Allah. Dalam beberapa injil sinopsis (Matius, Markus, Lukas) Yohanes pembaptis sering memakai perumpamaan, seperti:

  • Matius 3:10 – Kapak sudah tersedia pada akar pohon.

Kapak berbicara tentang penghukuman sedangkan orang percaya digambarkan seperti sebuah pohon yang diharapkan menghasilkan buah. Jika kita sebagai orang percaya tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkan maka sudah tersedia kapak penghukuman bagi kita.

  • Matius 3:12 – Mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung

Orang percaya yang berbuah digambarkan seperti bulir gandum yang berharga yang harus dikumpulkan dan dibawa ke lumbung. Demikian orang yang berkenan kepada Tuhan suatu waktu akan dikumpulkan Tuhan dan dibawa ke tempat menyenangkan yaitu sorga. Sebaliknya anak Tuhan yang tidak berbuah akan menjadi seperti sekam yang tidak berguna sehingga dibuang dan dicampakkan.

 

  • Lukas 3:5 – Lembah akan ditimbun, gunung dan bukit akan menjadi rata.

Hidup orang Kristen harus seperti tanah yang rata dan lurus bagi Tuhan. Sebab itu ada lembah yang harus ditimbun artinya ada bagian kosong dalam diri kita yang perlu diisi dengan nilai yang berharga. Bukan dengan materi atau perkara dunia melainkan dengan hal rohani. Demikian halnya dalam hidup kita juga ada bukit atau gunung yang menggambarkan dosa atau hal yng tidak berkenan, kita harus ijinkan Tuhan meratakannya dengan Firman Allah yang sering kali keras.

  • Lukas 3:17 – Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan pengirikannya.

Alat penampi sudah ada di tangan Yesus dan Ia siap memisahkan antara gandum dan sekam. Alat penampi itu bisa diartikan Firman Tuhan yang kita dengar saat beribadah ataupun ujian yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, semuanya bertujuan untuk memurnikan hidup kekristenan kita.

  • Lukas 3:17 – Debu jerami itu akan dibakarNya dalam api yang tak terpadamkan.

Kalau kita tidak memiliki kualitas kekristenan seperti bulir gandum yang bernilai melainkan seperti debu jerami yang tidak berharga maka kita akan dicampakkan dan dibakar dalam api yang tak terpadamkan yaitu neraka.

 

ANAK DOMBA ALLAH

Dalam Yohanes 1:29, Yohanes Pembaptis kembali menggunakan perumpaan dengan menunjuk Yesus sebagai Anak Domba Allah. Apakah maksud Yohanes pembaptis menggambarkan Yesus sebagai Anak Domba Allah? Dalam masa perjanjian lama orang hidup dalam era ibadah tipologi (gambaran) dimana untuk menerima pengampunan dosa, diajarkan orang harus membawa korban, salah satunya anak domba. Setelah menyembelihnya dan mengambil darahnya untuk pengudusan maka bangsa Israel mengalami pengudusan oleh korban anak domba itu. Namun pengampunan yang dikerjakan ibadah ini tidak kekal. Artinya korban domba diulangi setiap kali bangsa israel berbuat dosa. Ketika Yesus datang sebagai Anak domba Allah untuk melakukan pengudusan bagi kita ini terjadi sekali untuk selamanya.

Perkataan  Yohanes pembaptis tentang Anak domba Allah dapat kita hubungkan dengan pertanyaan Ishak dalam Kejadian 22:7-8, lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “di manakah anak domba untuk korban  bakaran itu?”

Ishak tidak tahu kalau dirinya-lah yang harus dikorbankan. Dan jawaban dari Abraham “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya..” Ini dari satu sisi adalah ucapan Iman dari Abraham.

PERTANYAAN ISHAK

Pertanyaan Ishak sebenarnya mewakili pertanyaan semua orang di dunia sebelum mengenal siapa Anak domba Allah yang mau menggantikan posisi kita. Sebab dalam Roma 6:23 “sebab upah dosa ialah maut.” Artinya semua orang yang berbuat dosa akan masuk neraka yang kekal. Menyadari akan hal itu maka muncul berbagai agama yang mengajarkan bagaimana bisa masuk sorga ketika hidup di dunia ini berakhir termasuk dengan perbuatan baik. Namun itu bukanlah solusi sebab tidak ada alat tukar bagi manusia untuk selamat dari maut termasuk dengan melakukan kebaikan. Karena kita tidak berdaya untuk melepaskan diri kita dari maut maka manusia mencari solusi bagi keselamatan dirinya. Muncul satu pertanyaan besar “Siapa yang bisa menyelamatkan aku dari kebinasaan?”

Ada orang yang merasa perjalanan hidupnya terhuyung-huyung tidak memiliki kepastian akan masa depannya (Amsal 24:11). Kita ada dalam sebuah kendaraan yaitu waktu. Waktu akan mengantar kita kepada kematian dan jika tidak punya solusi dengan dosa maka kita seperti orang yang akan dibantai dalam tempat pemancungan. Karena itulah Yohanes pembaptis mendeklarasikan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang akan menggantikan posisi kita.

Penjelasan Yohanes Pembaptis

 

Di gunung moria ada berbagai bukit salah satunya adalah bukit Golgota. Ketika Ishak bertanya kepada Abraham tentang dimana domba yang akan dijadikan korban maka ini menjadi pertayaan dari semua orang karena semua orang telah berbuat dosa dan membutuhkan keselamatan. Sekitar 2.000 tahun setelah peristiwa Abraham dan Ishak maka Yohanes pembaptis memperkenalkan kepada semua umat manusia domba pengganti yang diberikan Allah untuk menebus dosa semua manusia yaitu Yesus. Dialah yang mati di Golgota untuk menggantikan kita.

PERKEMBANGAN KORBAN DOMBA

Kejadian 4:4            Korban domba dilakukan untuk kebutuhan 1 pribadi.

Kain dan Habel mempersembahkan korban, namun persembahan Kain tidak diterima karena tidak ada unsur darah, sedang Habel yang mempersembahkan domba yang terbaik dan ini diterima oleh Allah dan secara pribadi menjadikan Habel berkenan kepada Allah. Ini memberi pengertian bahwa kita diselamatkan dengan menerima Yesus dengan sungguh-sungguh sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.

Keluaran 12:3 Korban domba dilakukan untuk kebutuhan 1 keluarga

Setiap kepala keluarga wajib mengambil seekor domba untuk dikorbankan bagi seisi keluarganya. Setiap anggota harus makan korban paskah ini dan darah Domba menjadi tanda untuk keluarga Israel. Ini memberi pengertian jika kita sudah menerima korban Domba keselamatan secara pribadi maka kita juga punya tanggung jawab memikirkan keselamatan keluarga kita baik anak, istri, suami, orang tua.

Imamat 16:33 Korban domba dilakukan untuk kebutuhan 1 bangsa

Bangsa Israel punya Imam besar yang mengadakan acara tahunan yaitu Grafirat besar, masuk ke ruang Maha kudus dan membawa korban darah lalu memercikannya ke tutup grafirat dan dosa seluruh Israel diampuni. Saat kita sudah diselamatkan maka kita tidak hanya memikirkan keluarga melainkan juga bangsa kita. Gereja harus berdoa bagi bangsa.

Yohanes 1:19 Korban domba utk seluruh dunia (umat manusia).

Korban Yesus cukup untuk keselamatan seisi dunia, karena itu kita harus memberitakan kepada semua orang agar mereka tahu keselamatan hanya diperoleh di dalam Yesus.

MENGHAPUS DOSA DUNIA

Kata “menghapus”, dalam bahasa Yunani ditulis AIRE, artinya: diangkat, dipikul dan dibawa pergi. Ketika kita percaya dan menerima Yesus dalam hidup kita maka Yesus mengangkat, memikul, memakukan dan membawa pergi serta membuang semua dosa-dosa yang dari dalam diri kita.

TENTANG DOSA

Sedang kata “dosa” ditulis tunggal. Ini memberi pengertian bahwa ada banyak macam dosa tapi dalam pandangan Allah tidak ada klasifikasi dosa. Artinya tidak ada dosa besar atau dosa kecil dan tidak ada dosa hitam atau dosa putih. Setiap dosa atau kesalahan adalah kejahatan atau pelanggaran di mata Tuhan. Pada saat kita percaya Yesus bahwa Yesus mati untuk menghapus dosa kita, pada saat itulah Yesus mengangkat; memikul; membawa pergi dan membuang semua dosa kita.

Yang Yesus ambil bukan hanya materi dosa (Mencuri,Membunuh dll), tetapi Yesus mengangkat; memikul; membawa pergi dan membuang semua prinsip dosa dari diri kita. Sehingga, kita bertumbuh semakin dewasa, sampai kita mencapai tingkat rohani di mana kita tidak ada keinginan untuk berbuat dosa lagi. Ini terjadi seiring pertumbuhan kekristenan kita, dimana kita mencapai kedewasaan rohani dan terlepas dari prinsip dosa.

I Korintus 13:11 “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang setelah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Ketika kita Kristen “kanak-kanak” maka kita masih berdosa dengan kata-kata dan pikiran kita, namun saat kita menjadi dewasa secara rohani maka perkataan, pikiran dan perasaan kita tidak lagi mengandung unsur dosa.

Secara jasmani kita bertumbuh menjadi dewasa secara natural, namun kita tidak bisa menjadi dewasa secara rohani secara otomatis melainkan kita perlu mengambil sikap untuk meninggalkan kondisi “kanak-kanak” yang masih hidup dalam dosa dan menuju kepada Manusia baru artinya menjadi sempurna dan bebas dari prinsip dosa. Untuk menjadi pengikut Yesus yang bertumbuh dan diubah dari hari ke sehari kita perlu menjadi dewasa dan sempurna seperti Yesus, sehingga tak ada lagi hasrat dalam diri kita untuk “berbuat dosa.”

Kolose 3:5-7 “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.”

Sekalipun sudah ditebus darah Yesus namun masih ada dosa-dosa maka ini akan mendatangkan murka. Kita harus bersikap dewasa untuk mematikannya.

Kata “Matikan”, menurut American Standart Version (ASV): Put to death, diterjemahkan seperti tunas yang tumbuh kembali, dipetik agar mati sama sekali. Sikap seperti inilah yang harus kita miliki.

Kolose 3:8-9 “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,”

Selain mematikan kita juga harus membuang dan menanggalkan dosa. Kata “buanglah dan menanggalkan”. Dalam bahasa Yunani digambarkan seperti pakaian yang kita kenakan atau pakai dan menjadi gaya hidup kita. Tetapi sekarang pakaian lama itu harus kita tanggalkan atau tidak kita dipakai lagi dan kemudian mengenakan manusia baru kita seperti Yesus.

Kolose 3:10 “…dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diper-baharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya,”

Mengenakan Manusia Baru artinya seperti kita memakai baju. Sehingga baju itu jadi gaya hidup dan ciri khas hidup kita. Kehidupan baru atau cara hidup baru tanpa dosa, akan diperbaharui dari sehari ke sehari, sampai kita jadi pengikut Yesus yang benar, di mana prinsip dosa itu tak ada lagi dalam diri kita. Sehingga dosa, tidak lagi menjadi seperti beban; persoalan; pergumulan; peperangan; yang terus harus kita petik seperti tunas pohon. Atau harus kita tanggalkan seperti pakaian yang terus menerus kita harus tanggalkan dari diri kita. Ketika prinsip dosa itu sudah tidak ada lagi di dalam diri kita. Maka kita tidak punya keinginan atau hasrat lagi untuk berbuat dosa.

Yesus sudah menjadi korban bagi kita dan mengangkut semua dosa kita, sekarang adalah bagian kita untuk mengambil sikap untuk berkomitmen meninggalkan dosa dan menjadi dewasa dalam kerohanian dimana tidak ada lagi keinginan berbuat dosa dalam diri kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

INTIMATELY KNOWN – oleh Sdr. Jeff Minandar (Ibadah Raya 3 – Minggu, 30 April 2017)

Paskah adalah dasar dari iman Kristen kita, jika Yesus tidak mati dan bangkit maka sia-sialah iman percaya dan pengharapan kita.

Paskah berasal dari kata “pesakh” yang dalam bahasa Inggris dipakai kata “Passover”. Kita yang seharusnya dihukum, dilewatkan dari hukuman itu karena pengorbanan Yesus. Pengorbanan Yesus membuat kita dibenarkan, sekali lagi ini karena pengorbanan Yesus, bukan karena perbuatan kita. Oleh kasih kita dibenarkan, kita diperdamaikan, sehingga tidak perlu menanggung konsekuensi dari dosa-dosa kita. 1Yohanes 4:10. Inisiatifnya datang dari Allah, karena Allah begitu mengasihi, DIA membuat rencana pendamaian ini dengan mengutus Yesus.

Kita hanya bisa menjadi dekat dengan pihak yang sudah diperdamaikan dengan kita. Ini sesuai dengan apa yang tertulis di Efesus 2:13, oleh darah Kristus kita yang dahulu jauh kini menjadi dekat.

“Intimately Known”  memiliki arti bahwa karena pengorbanan Yesus kita kini dikenal Allah (known adalah bentuk ketiga/verb-3 dari kata know atau “kenal”). Namun lebih jauh dari itu saya melihat ada dua kata dalam bahasa Inggris yang muncul dalam pikiran saya saat mendengar frase “intimately known”. Kata-kata itu adalah: close dan understand. Jadi saya akan membangun khotbah saya dari dua kata ini.

CLOSE.

Bagaimana cara untuk bisa menjadi dekat dengan seseorang? Jelas sekali dengan menjalin komunikasi. Anda tidak mungkin bisa dekat dengan “gebetan” tanpa menjalin komunikasi. Mengenai komunikasi untuk menjadi dekat ini tidak bisa berhenti hanya sebatas menyapa. Menyapa itu baik, namun jika tidak berkomunikasi lebih intens, maka komunikasinya tidak akan menjadi mendalam.

Komunikasi ini juga diperlukan jika kita ingin dekat dengan Tuhan. Apalagi disebutkan di 2Korintus 3:17 bahwa Tuhan adalah Roh, tentu saja tidak bisa sekedar kita “menyapa” Tuhan dan berharap kita dekat dengan DIA. Dekat dengan Tuhan berarti kita melangkah kepada keintiman rohani. Hal ini bisa dicapai dengan doa dan penyembahan, karena dengan doa dan penyembahan lah roh manusia dapat berkomunikasi dengan Roh Tuhan.

Mengenai doa, di dalam Mazmur 145:18 dikatakan bahwa Tuhan dekat dengan mereka yang berseru kepadaNYA. Ini adalah bentuk sederhana dari doa, ini seperti berteriak: Tolong! Saya percaya orang tua yang memiliki anak akan sangat peka mendengar anaknya yang berteriak minta tolong. Demikian juga antara kita dengan Allah. Banyak orang Kristen yang merasa tidak bisa berdoa, karena mereka tidak bisa membuat kalimat-kalimat yang panjang dalam doa mereka. Atau, seseorang tidak berdoa karena dia tidak mau menyusahkan Tuhan selama dirinya masih mampu. Padahal Allah dekat dengan mereka yang meminta tolong. Janganlah menjadi sombong rohani dengan merasa bahwa meminta tolong adalah untuk orang-orang yang berjiwa lemah. Yesus sendiri berdoa di saat-saat terakhirnya sebelum ditangkap dan disalibkan. Lukas 22:4.

Bagaimana dengan penyembahan? Mungkin banyak dari Anda yang sudah mengetahui bahwa kata asli yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk penyembahan adalah “proskuneo”. Kata ini disebutkan 60 kali dalam Perjanjian Baru. Salah satu ayat yang memuat kata ini adalah perkataan Yesus di Yohanes 4:23. Kata “proskuneo” sendiri berarti mencium tangan sebagai tanda penundukan, seperti seekor anjing yang menjilat tangan pemiliknya, dan juga digambarkan berlutut dan menunduk sampai muka menyentuh tanah. Sehingga kita kita bisa mengerti bahwa ketika kita menyembah itu adalah bentuk penyerahan total pada Tuhan apapun yang terjadi. Itu dilakukan dalam Roh dan Kebenaran, ini bukan kebiasaan, ini adalah hubungan.

UNDERSTAND.

Bagaimana kita memahami sesuatu atau seseorang jika kita tidak memiliki informasi dan tidak memiliki pengalaman dengan sesuatu atau seseorang tersebut. Allah memahami kita sepenuhnya karena DIA yang menciptakan kita. Mazmur 139:14-16. Tetapi apakah kita memahami DIA? Mengenal itu bukan sekedar mengetahui identitas, tetapi tahu apa yang dikehendaki. Banyak orang mengaku mengenal Tuhan. Tetapi dalam Alkitab dijelaskan bahwa orang yang mengenal Tuhan mereka melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Beberapa diantaranya disebutkan Yesus demikian:

  • Matius 5:47. Mereka yang tidak mengenal Allah berbuat baik, menyapa dan (bahkan di ayat 46, mengasihi) hanya kepada yang melakukan itu kepada mereka yang disebut “saudara”.
  • Matius 6:7. Mereka yang tidak mengenal Allah berdoa untuk dilihat dan sebagai kegiatan agamawi (bandingkan tentang yang saya bahas diatas tentang doa).
  • Matius 6:27-32. Mereka yang tidak mengenal Allah kuatir akan banyak hal dan tidak mengerti prioritas, tetapi berbeda dengan prioritas mereka yang mengenal Allah (ayat 33).

Bagaimana kita memahami Allah jika kita tidak mau mempelajari SURAT CINTA ALLAH? Saya katakana demikian karena Alkitab berbicara tentang Yesus (Yohanes 21:25) dan semua yang tertulis diinspirasi oleh Allah. 2Timotius 3:16.

Tetapi diantara semua yang saya sudah jelaskan, adalah sebuah ironi jika kita tidak dikenal Tuhan. Matius 7:23. Karena itu berbaliklah dari kejahatan-kejahatan yang kita sadar dan minta terang Firman dan Roh untuk mengetahui bahkan kejahatan-kejahatan yang tidak kita sadari. DIA mengasihimu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

APAKAH YANG KAMU CARI Seri 12 “MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHATNYA” – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2-Minggu, 30 April 2017)

Yohanes 1:39

Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.

” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal,

dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia;

waktu itu kira-kira pukul empat.

 

Kehadiran Tuhan Yesus telah membuat perubahan besar kepada dua orang murid Yohanes pembaptis. Secara spontan mereka meninggalkan Yohanes pembaptis kemudian pergi mengikut Yesus.  Dengan rasa haus dan kerinduan yang dalam mereka dengan terus terang menjawab pertanyaan Yesus: “apa yang kamu cari?” Rabi (artinya guru) dimanakah Engkau tinggal? Murid-murid bukan ingin melihat seperti apa tempat tinggal Yesus. Apakah rumah Yesus besar atau kecil? Di kota atau di desa? Bukan! Mereka menanyakan tempat tinggal Yesus karena mereka ingin menjadi muridNya.

Bagian terakhir yang sudah kita pelajari tentang makna pertanyaan murid-murid Yahanes pembaptis; “Rabi dimanakah Engkau tinggal?” adalah:

 a. pengenalan

b. persekutuan

c. penyerahan

Pada pagi hari ini, kita akan melanjutkan pembahasan kisah ini dengan tanggapan Yesus terhadap pertanyaan murid-murid Yohanes. Mari kita perhatikan dialog antara Tuhan Yesus dan murid-murid Yohanes pembaptis yang mengikut dari belakang.

Yesus : “Apakah yang kamu cari?”

Murid Yohanes : “Rabi (artinya: Guru), dimanakah Engkau tinggal?”

Yesus : “Marilah dan kamu akan melihatnya.”

Jawaban Tuhan Yesus kepada murid-murid Yohanes ini memberikan pengertian kepada kita beberapa hal yaitu:

  1. Penerimaan Total

Dengan  berkata: “Marilah dan kamu akan melihatnya” itu berarti Tuhan Yesus menerima kedatangan dua orang murid Yohanes. Tuhan Yesus tidak mempersoalkan asal usul mereka, kecakapan yang mereka miliki atau bahkan keluarga dan latar belekang mereka. Sebaliknya dengan kedua tangan yang terbuka Tuhan Yesus menerima mereka apa adanya.

Seperti Tuhan Yesus menerima kedatangan dua orang murid Yohanes, Ia juga menerima semua orang yang datang kepadaNya.

Dalam dunia ini ada banyak penolakan. Ada anak-anak yang ditolak saat mendaftar sekolah karena dianggap kurang pintar. Tidak sedikit anak-anak remaja dan pemuda ditolak dalam pergaulan karena dianggap tidak level, kurang gaul atau bahkan tidak satu ras/suku. Para pelamar kerja ditolak karena dianggap tidak memadai atau kurang cakap. Dan entah sudah berapa banyak anak-anak yang lahir ditolak oleh orang tuanya karena berbagai alasan. Ada seorang ibu yang rela membuang anaknya karena tidak menghendaki kehadirannya. Mungkin masalah ekonomi, lahir di luar nikah atau anaknya lahir cacat. Dengan berbagai alasan seseorang bisa menolak kita, tetapi tidak dengan Tuhan Yesus. Dia menerima kita apa adanya.

Yesaya 49:15

Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

Yohanes 6:37

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

Dengan tangan terbuka Tuhan Yesus menerima setiap orang yang datang kepadaNya, bahkan yang sudah rusak sekalipun Ia tetap menerimannya. Sebesar apapun kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan tidak akan pernah merubah cinta dan kasihNya kepada kita. Sebab untuk itulah  Ia datang yaitu memanggil orang berdosa.

Markus 2:17

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Banyak orang merasa tidak layak untuk datang kepada Yesus, karena keadaannya yang berdosa. Semakin banyak ia berdosa semakin tidak layak datang kepadaNya. Ini sikap yang salah, sebab Tuhan Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa bukan orang yang merasa benar.

1Timotius 1:15

Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

  1. Undangan untuk menjadi murid.

Jawaban Tuhan Yesus: “marilah dan kamu akan melihatnya” itu berarti  Ia menerima dua orang murid Yohanes Pembaptis untuk menjadi muridNya. Ingat, dalam sistim sekolah kerabian Yahudi seorang guru memiliki kuasa untuk menerima atau menolak seseorang menjadi muridnya. Dengan berkata “marilah…” adalah tanda penerimaan bagi murid Yohanes yang mengikutiNya dari belakang.

Setiap orang percaya dipanggil bukan hanya sekedar “mengakui” tetapi “mengikuti”. Kekristenan memang diawali dari percaya dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Tetapi kekristenan tidak boleh hanya bertumpu pada pengakuan saja tanpa ada ketaatan. Pengakuan yang benar selalu dikuti dengan perbuatan yang benar pula, Panggilan Tuhan kepada kita bukan saja untuk Keselamatan. Kita terima melalui “pengakuan” tetapi kedewasaan dihasilkan melalui penurutan.

Apakah artinya menjadi seorang murid?

Dalam bahasa Yunani seorang murid disebut “Mathetes” artinya:

a. Seorang yang belajar, (Matius 11:29, Matius 28:19)

b. Pengikut atau penganut. (Matius 4:19, 9:9, 19:21; Lukas 5:11)

Dari arti kata “Mathetes” dapat kita simpulkan bahwa seorang murid adalah seorang yang belajar meneladani kehidupan Yesus.

1Yohanes 2:6

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

  1. Undangan untuk menerima dari sang guru

Pada umumnya seorang murid yang sedang belajar berawal dari ketidaktahuan dan ketidakbisaan. Melalui belajar mereka yang tidak tahu menjadi tahu dan yang tidak bisa menjadi bisa. Dalam keadaan kosong, bodoh, murid-murid akan menerima ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh sang guru. “Marilah dan kamu akan melihatnya” itu berarti bahwa Tuhan Yesus mengundang dua orang murid Yohanes untuk menerima pengajaran, pengetahuan, hikmat, kuasa dan kehidupan dari Yesus.

Seperti murid-murid Tuhan Yesus yang diperlengkapi sebelum mereka pergi melayani, demikian juga kita sebagai gereja Tuhan. Tuhan ingin memperlengkapi kita sebelum kita pergi menjangkau dunia.

Kegagalan memberi karena kegagalan menerima.

Tanpa menerima sesuatu dari Tuhan kita akan gagal memberikan apapun kepada sesama. Kita harus menerima terlebih dahulu dari Tuhan, barulah kita dapat mengalirkan kepada yang lain. Dalam Markus 6 : 35 – 44, adalah kisah Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki. Yang menarik dari kisah ini adalah saat dimana murid-murid angkat tangan tidak mampu memberi mereka makan karena tidak ada persediaan makanan. Dari tangan seorang anak kecil mereka mendapati lima roti dan dua ekor ikan sebagai bekal ia makan. Tetapi apalah artinya untuk orang sebanyak ini? Memang tidak ada artinya! Lalu apa yang kemudian terjadi? Lima roti dan dua ekor ikan diberikan kepada Yesus.

Ayat 41

Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.

Puji Tuhan! Setelah murid-murid menerima roti dan ikan dari tangan Tuhan Yesus, mereka membagi-bagikannya kepada orang banyak dan alkitab menulis, semua orang makan sampai kenyang bahkan sisa dua belas bakul. Sekali lagi kita harus menerima dulu dari Tuhan, barulah kita bisa membagikan kepada orang lain. Tanpa menerima dariNya, kita gagal membagikan apapun kepada orang lain.

Contoh lain yang dapat kita pelajari dari prinsip ini adalah Kisah kakak beradik Maria dan Marta yang ditulis dalam Lukas 10:38-42. Maria, ia duduk dekat Tuhan, ia mendengar suaraNya membiarkan Tuhan melayaninya. Maria menerima firmanNya dan membiarkan Tuhan memenuhi hidupnya sebelum ia berdiam untuk melayani. Berbeda dengan Marta. Marta sibuk melayani tanpa terlebih dahulu menerima dari Tuhan. Akibatnya Marta marah-marah, melayani dengan persungutan.

Bapak, Ibu dan sdr/i, kapan terakhir kali kita menigijinkan Tuhan melayani kita. Sang Guru mengajar dan memenuhi kita dengan kasihNya? Jadilah seperti Maria, duduklah dulu di kaki Tuhan, injinkan DIA mengisi hidup kita agar kita dapat membagikan kepada orang lain. Sebab itu dengarlah suaraNya: “marilah dan kamu akan melihatnya.” Tuhan memberkati. KJP!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RESEP KEHIDUPAN YANG BERKUALITAS – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 30 April 2017)

Amsal 19:16

Secara umum semua orang yang mau hidup harus berpegang pada perintah Allah. Ini merupakan kunci dari kehidupan itu sendiri. Kejatuhan dan kebinasaan manusia adalah karena manusia tidak lagi berpegang pada perintah Allah (Kej 3). Kejatuhan manusia membuat hidupnya tidak lagi berkualitas, dipenuhi dengan dukacita, tekanan, hilangnya damai sejahtera yang berakhir kepada kebinasaan.

Berpegang pada firman membawa kita pada kehidupan kekal. Lalu bagaimana dengan kehidupan kita selama di dunia ini? Bagi orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, Allah memberi petunjuk lewat firmanNya, bagaimana manusia dapat memiliki kehidupan yang berkualitas.

Resep Kehidupan Yang Berkualitas

  1. Bersukacitalah senantiasa, 1 Tes 5:16

Banyak orang kehilangan kualitas hidupnya karena tidak memiliki sukacita. Raut wajah yang murung, penuh duka dan kepahitan. Banyak hal menekan hidupnya. Bagaimana kita dapat bersukacita dalam segala keadaan karena untuk bersukacita tidaklah mudah. Untuk memiliki sukacita yang sejati kita harus mengerti tujuan firman Tuhan dalam kehidupan kita.

Contoh:

Apa alasan kita melayani Tuhan harus dengan sukacita?

1 Kor 15:58 – “…sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Dengan mengetahui ayat ini, setiap orang percaya seharusnya bersukacita dalam setiap pelayanannya karena jerih payahnya tidak pernah sia-sia. Apapun tantangan yang dihadapi dalam pelayanan, mungkin tidak dihargai. Kita akan tetap bersukacita karena pelayanan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia.

Bagaimana kita dapat bersukacita dengan tidak membalas orang yang menajahti kita. Apa kata firman Tuhan?

Roma 12:19 – “….pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”

Dijahati atau dimusuhi tanpa alasan selalu membawa tekanan dan amarah dan hal ini membuat kita kehilangan sukacita. Rasa ingin membalas pasti ada, tetapi dengan mengerti firman Allah, maka kita dapat mengendalikan diri untuk tidak membalas karena pembalasan adalah haknya Tuhan. Kita akan tetap bersukacita.

  1. Tetaplah berdoa, 1 Tes 5:17

Ada saat tertentu dimana tidak ada seorang pun yang dapat menolong kita, maka doa kitalah yang menggerakkan pertolongan Tuhan. Doa adalah bagian terpenting dalam hidup orang percaya untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Sering kali kita berdoa jika sedang butuh saja sehingga terkesan doa hanya sebagai sarana untuk meminta-minta saja. Doa adalah jalinan hubungan dan sikap berbakti kita dengan Tuhan. Kualitas kehidupan kita sangat bergantung dari hubungan kita dengan Tuhan.

  1. Mengucap syukur dalam segala hal, 1 Tes 5:18

Mengucap syukur akan membawa kita pada kekuatan yang mengendalikan rasa kecewa dan kepahitan. Hadapilah segala sesuatu dengan ucapan syukur. Dalam ucapan syukur terkandung:

  • Penyerahan total kepada keputusan Tuhan
  • Menerima segala sesuatu dengan sukacita

Dalam ucapan syukur ada kuasa yang mengubahkan semua masalah menjadi berkat.

  1. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik, 1 Tes 5:21

Dengan maraknya pengajaran baru yang sepertinya alkitabiah sebenarnya menyesatkan, orang percaya dituntut untuk ekstra waspada. Waspadai semua hal yang kelihatannya rohani tetapi sebenarnya menjerumuskan. Jadikan kebenaran Firman Tuhan menjadi pegangan untuk kita tidak terjerumus kepada hal yang menyesatkan.

  1. Menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan

Semua jenis kejahatan, baik kejahatan fisik  (seperti zinah, percabulan) maupun kejahatan jiwa (iri hati, marah, dll) semua membuat hidup kita jadi tidak berkualitas.

  1. Menciptakan relasi/ komunitas sebagai makhluk sosial

Kita adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup seorang diri. Semua butuh orang lain. Firman Tuhan berkata: “Bertolong-tolonglah menanggung bebasmu!….”(Gal 6:2).

  1. Menjaga pola makan

Amsal 23:2 – Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu.

Banyak orang yang kualitas kesehatannya buruk karena rakus dan tidak bijaksana dengan pola makanannya.

  1. Berolah raga, 1 Tim 4:8

“Latihan badai terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal…”

Meski sedikit olah araga tetap ada gunanya. Selain makanan, olah raga menunjang kualitas hidup kita.

Semua resep untuk kehidupan yang berkualitas sudah ada dalam Alkitab. Semua sudah Tuhan tuliskan bagaimana kita dapat memiliki kehidupan yang berkualitas baik secara rohani maupun jasmani. Jangan sampai kita menganggap ringan apalagi menghina petunjuk Tuhan karena kita akan binasa. Tuhan memberkati

Posted in Uncategorized | Leave a comment