Mahanaim Fun Walk

IMG-20190622-WA0005

Advertisements
Image | Posted on by | Leave a comment

Memuliakan Yesus Sebagai Allah Pencipta – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 7 Juli 2019)

Kolose 1:15-19

Dalam khotbah minggu lalu kita telah membahas ayat 15 dan dihubungkan dengan ayat ke 16 yang akan dibahas hari ini. Setiap orang percaya harus memiliki keyakinan penuh bahwa Yesus adalah Tuhan. Sebab iblis tidak senang jika ada yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan,  karena setiap orang yang tidak percaya akan binasa. Oleh sebab itu, secara teliti kita perhatikan Kolose 1:16, dari ayat ini dapat dimengerti bahwa didalam Yesus telah diciptakan segala sesuatu. Dan ayat tersebut menunjukan bahwa ajaran yang menolak Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus hanyalah ciptaan bukan Allah adalah ajaran sesat. Sebab ajaran mereka hanya sampai di ayat 15 dan tidak melanjutkan ke ayat 16 dari Kolose 1, yang menunjukan bahwa Yesus sang pencipta. Sebab di ayat 16 membuktikan bahwa segala yang di sorga dan bumi adalah dari Yesus. Kiranya kita semakin kuat dalam iman kita untuk menghadapi ajaran-ajaran yang mengatakan Yesus bukan Allah dengan berpegang penuh pada ajaran yang sehat. Perhatikan bukti-bukti bahwa Yesus adalah percipta.

BUKTI YESUS ADALAH PENCIPTA
Dalam Kejadian 1:26 – ketika Allah menjadikan manusia, Allah berkata “Baiklah KITA menjadikan manusia menurut gambar dan rupa KITA”.

Kata “KITA” dalam ayat ini adalah kata ganti bilangan jamak. Hal ini Allah lakukan saat menciptakan. Pada Kejadian 1:1,2 menuliskan bahwa ada pribadi Allah yang melayang-melayang di atas bumi yaitu Roh Kudus atas ciptaan Allah yang dirusak iblis. Kata “Melayang-layang” dalam terjemahan asli ditulis “RACHAP”. Mengandung arti,  mengerami seperti seekor burung yang mengerami telur-telur sehingga ada ciptaan baru. Demikian alam semesta yang rusak karena iblis dierami Roh Kudus sehingga menjadi ciptaan yang baru. Selanjutnya ayat 3, Allah Bapa berfirman. Jadi ada Roh Allah melayang-layang dan Bapa berfirman. Lalu dimanakah keterlibatan Yesus?  Perhatikan ayat 3 – “berfirmanlah Allah.. ” Firman atau perkataan yang keluar dari mulut Allah,  itulah pribadi Yesus.  Yohanes 8:42, saat kita percaya pada Allah Bapa maka kita mengasihi Yesus sebab Yesus keluar dari Allah seperti saat berkata-kata maka perkataan itu keluar dari Bapa dan Yesus keluar dari Bapa. Kaitkan dengan Yohanes 1:1, Yesus yang adalah firman sudah bersama-sama dengan Allah sebelum segala sesuatu jadi. Selanjutnya Yohanes 1:3, segala sesuatu dijadikan oleh firman dan tanpa firman tidak ada sesuatu yang jadi. Ayat 5 – firman menjadi manusia dan diam diantara kita yaitu anak Tunggal Bapa yaitu Yesus. Sebab itu penjelasan rasul Paulus dalam Kolose tentang firman sama dengan kata firman di Yohanes tentang pencipta dalam Yohanes 1:14.

Meskipun banyak yang menolak bahwa Yesus adalah Allah, firman Allah sudah membuktikan bahwa Yesus Tuhan yang menciptakan.

DICIPTAKAN OLEH DIA UNTUK DIA
Tujuan Bapa,  Yesus dan Roh Kudus (Kolose 1:16c) menciptakan segala sesuatu adalah untuk Yesus. Tuhan punya rencana istimewa bagi setiap manusia yaitu diciptakan untuk kepentingan, kesenangan dan kesukaan Allah. Apakah kita sudah melakukan hal tersebut? Oleh sebab itu,  ketika manusia berdosa dan harus binasa, Yesus selamatkan agar memuliakan nama-Nya.

BUKAN UNTUK BEKERJA
Pada mulanya manusia tidak diciptakan untuk bekerja tetapi untuk menggenapi seluruh rencana Allah (Kejadian 1:29). Manusia bekerja karena dosa,  Kejadian 1:29 – Tuhan sudah sediakan segalanya pada mulanya tetapi di Kejadian 3:17-19, tanah terkutuk karena dosa manusia dan berkeringat untuk mendapat makan.

Perhatikan gambar.
SEBELUM MANUSIA BERDOSA

Rancangan Allah ketika menciptakan manusia. Dari hari pertama sampai ke tujuh.  Dan hari ke enam manusia diciptakan untuk menyenangkan Allah dihari ke tujuh. Dan saat manusia berdosa maka …

SETELAH MANUSIA BERDOSA

Setelah manusia berdosa maka Yesus diutus untuk memulihkan keadaan manusia agar di kerajaan 1000 tahun akan memuliakan Allah bahkan sampai pada kekekalan. Jadi tugas kita setelah percaya Yesus dan selamat maka kita harus menyukakan Allah.

Kesimpulan
Yesus mati dikayu salib supaya rencana Allah yang gagal dilakukan Adam,  akan digenapi oleh kita yang ditebus oleh Yesus, lewat sikap yang menyenangkan hati Allah. Inilah kerinduan Allah yang begitu besar. Wahyu 4:11, dalam versi KJV (King James Version) “Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab engkau telah menciptakan segala sesuatu;  dan untuk kesenangan- Mu, semuanya itu diciptakan.”

Apakah hidup kita sudah menjadi kesenangan Allah? Sebab di sorga nanti tidak akan dapat melayani seperti di bumi. Karena itu dengan potensi yang kita miliki jangan disimpan karena segala yang kita miliki akan ditinggalkan. Sebab itu berdayakan selama masih hidup didunia.

Wahyu 4:9-11, segalanya hanya bagi Yesus dan disorga kita memuji serta menyenangkan Allah.

Penutup
Untuk diselamatkan dan dibenarkan dihadapan Allah,  caranya:
Roma 10:9,10 – dengar,  percaya dan diselamatkan.  Mahkota diterima oleh mereka yang mengerjakan segala potensi yaitu talenta, potensi dan kekayaan. Matius 10:42, saat memberi secangkir saja air sejuk Tuhan hargai.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PEMBUNUH RAKSASA, Seri 11: PEMBUNUH RAKSASA MEMILIH BERTEMU DENGAN ALLAH TERLEBIH DAHULU SEBELUM BERTEMU DENGAN MUSUH – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 30 Juni 2019)

1Samuel 17:48-50

Pendahuluan
Hidup tidak mungkin bebas dari tantangan. Sepanjang jalan kehidupan kita akan menemui raksasa-raksasa yang menantang dan menghadang perjalanan hidup kita. Kadang-kadang tantangan hidup mudah kita selesaikan, tetapi tidak jarang pula tantangan itu sulit untuk ditaklukan. Oleh sebab itu, marilah kita belajar dari Daud, seorang gembala yang dapat membunuh Goliat.

Kemenangan Daud ditentukan oleh beberapa pilihan yang ia ambil dalam hidupnya yaitu:

  1. Pembunuh raksasa memilih mendengar suara Tuhan dari pada suara lawan.
  2. Pembunuh raksasa memilih memandang Tuhan daripada memandang lawan.
  3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
  4. Pembunuh raksasa memperkatakan kemenangan bukan kekalahan.
  5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan dari pada mencari kehormatan diri sendiri.
  6. Pembunuh raksasa memilih berharap kepada Tuhan, bukan senjata perang
  7. Pembunuh raksasa memilih keluar dari zona nyaman ke zona iman.
  8. Pembunuh raksasa memilih untuk menyembah TUHAN sekalipun lawan ada di depannya
  9. Pembunuh Raksasa memilih menggunakan apa yang ia punya dan ia bisa
  10. Pembunuh Raksasa memilih melihat peluang, bukan hambatan dan kesulitan

Sekarang kita akan mempelajari rahasia kemenangan Daud selanjutnya yaitu:

  1. PEMBUNUH RAKSASA MEMILIH BERTEMU DENGAN ALLAH TERLEBIH DAHULU SEBELUM BERTEMU DENGAN MUSUH

Kemenangan Daud atas Goliat ditentukan oleh perjumpaannya dengan Tuhan. Daud sadar bahwa penentu kemenangan bukanlah hebatnya ia memainkan umban, tetapi pertemuannya dengan Allah. Ketika dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan, disanalah ia dapatkan kuasa dan kekuatan Allah menyertainya.

Dimanakah Daud bertemu dengan Allah?
Perjumpaan Daud dengan Allah diawali sejak ia menjadi gembala di padang penggembalaan. Pengalamannya bertemu dengan Tuhan diekspresikan dalam Mazmur 23. Kita dapat menyimpulkan bahwa penyembahan sejati bukan sensasi tetapi relasi. Relasi yang terbangun antara Daud dan Allah terjadi dalam segala musim kehidupan. Baik masa yang penuh suka cita yang digambarkan seperti padang rumput dan air yang tenang maupun masa yang penuh bahaya, seperti berjalan dalam lembah kekelaman, Daud tetap menunjukkan relasi dengan Tuhannya. Inilah seorang penyembah sejati, ia senantiasa terhubung dengan Tuhan. Seorang penyembah adalah orang yang bukan berbicara tentang Tuhan, tetapi orang yang berbicara dengan Tuhan.

Selama menggembalakan domba ayahnya, Daud membangung hubungan dengan Tuhan. Waktu-waktu di padang dihabiskan bukan saja menjaga domba ayahnya tetapi juga menjaga hatinya agar tetap terhubung dengan Allah. Itulah sebabnya kehadiran singa dan beruang tidak pernah menggentarkan Daud karena ia tahu dengan pasti bahwa Tuhan bersamanya.

Kehidupan seorang Penyembah
1. Seorang penyembah bukanlah orang yang mengerti tentang Tuhan, tetapi orang yang mengalami TUHAN.
Kehidupan Daud dipenuhi dengan pengalaman bersama Tuhan, baik suka maupun duka Daud tetap menikmati kebaikan Tuhan. Itulah sebabnya tidak sukar bagi Daud untuk menyembah Tuhan, karena ia telah mengalami kebaikan Tuhan

Mazmur 34:9 berkata: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”

Mengecap itu adalah merasakan. Orang yang telah merasakan kebaikan Tuhan ia akan memuji Tuhan. Tanpa mengalami dan merasakan Tuhan kita gagal untuk menyembah Tuhan. Itulah sebabnya penyembahan hanya sebagai tata cara, metode dan ritual, bukan kehidupan  yang mengalir dan lahir dari hati.

Mari kita lihat penyembahan seorang wanita yang berdosa.
Lukas 7:37-38
Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Ketika Yesus ada di rumah salah seorang Farisi, datanglah perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa, ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Inilah tindakan penyembahan. Mengapa wanita itu melakukannya? Sebab ia telah mengalami kasih Tuhan yang besar. Dosanya yang banyak telah diampuni.

Dalam bahasa Ibrani salah satu bentuk penyembahan ditulis dengan kata: Yadah. Yadah memiliki arti bersyukur atau memuji, pujian, mengakui, berterima kasih. Mengungkapkan suatu tindakan rasa syukur dan terima kasih yang keluar dari hati. Sebagai orang yang telah dilepaskan dari dosa, marilah kita buat Yadah kepada Allah, ucapkanlah syukur kepada Tuhan sebagai penyembahan.

2. Seorang penyembah bukanlah orang yang mengetahui tentang Tuhan, tetapi orang yang mempercayai TUHAN.
Penyembahan adalah tindakan iman. Problem terbesar dalam penyembahan adalah ketidakpercayaan. Penyembahan selalu berhubungan dengan kepercayaan. Ketahuilah bahwa semua oknum yang disembah adalah pribadi yang dipercayai. Jika kita menyembah Tuhan, maka kita harus percaya kepadaNya. Sekalipun mata kita tidak melihat, tetapi hati kita harus percaya. Tanpa iman semua penyembahan adalah kesia-sian.

Ibrani 11:6
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Hubungan penyembahan dan iman
Untuk melihat hubungan antara penyembahan dan iman, marilah kita melihat kisah robohnya tembok Yerikho yang dicatat dalam Yosua 6:1-27. Saat menghadapi bangsa Yerikho Allah memerintahkan kepada bangsa Israel untuk mengeliling kota tersebut.

Yosua 6:3-4
Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala.

Bangsa Israel diperintahkan mengeliling kota Yerikho sekali selama enam hari, dan pada hari yang ketujuh mereka wajib mengelilingnya selama tujuh kali. Dalam sebuah literatur dikisahkan bahwa saat bangsa Israel mengelilingi kota Yerikho, mereka mengalami hinaan, lemparan batu hingga kotoran. Coba bayangkan, pada hari pertama mereka mengalami keadaan yang demikian dan tidak terjadi apa-apa, masih mau mengelilingi lagi? Demikian hari ke dua, tiga dan empat, tidak terjadi apa-apa, masih mau keliling lagi? Dibutuhkan iman! Bangsa Israel tetap percaya bahwa Tuhan pasti akan menolong mereka. Pada hari ketujuh dalam putaran yang terakhir, tembok Yerikho runtuh karena tindakan penyembahan yang dilandasi oleh kepercayaan kepada Allah.

Barangkali saat ini masalah yang kita hadapi belum tuntas, kesulitan masih menghadang, penyakit belum sembuh, tetaplah menyembah Tuhan, percayalah ada kuasa dalam pujian penyembahan. Selamat menyembah, Tuhan memberkati!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KINGDOM WORSHIP (PENYEMBAHAN/IBADAH) – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 30 Juni 2019)

Penyembahan yang manusia lakukan adalah seperti sebuah bentuk ibadah yang dilakukan  kebanyakan orang yaitu sebuah praktek kepercayaan, bagaimana cara seseorang dalam mendekati Allah sang Pencipta.

Penyembahan sudah ada sejak zaman dahulu. Kita dapat mengetahui melalui Alkitab bagaimana penyembahan di taman Eden terjadi. Penyembahan yang terjalin dalam persekutuan yang indah antara Allah dan manusia pertama yaitu Adam. Di taman Eden, penyembahan bahkan sudah terjadi sebelum terciptanya alat-alat musik yang kita dapat lihat seperti saat ini.

Sangat disayangkan setelah manusia jatuh dalam dosa, praktek penyembahan telah terjadi banyak penyimpangan. Keturunan pertama dari Adam dan Hawa, yaitu Kain, tega membunuh adiknya Habel hanya karena masalah penyembahan yang ia lakukan tidak diterima oleh Allah.

Allah menciptakan manusia dengan menaruh hasrat untuk menyembah di dalam roh mereka. Meskipun manusia sudah jatuh dalam dosa, hasrat untuk menyembah tidak pernah hilang dalam diri mereka, hanya saja tujuan mereka menyembah dan kepada siapa mereka menyembah telah mengalami banyak pergeseran.

Kita dapat melihat banyak praktek penyembahan terjadi dimana-mana. Setiap negara, suku bangsa dan bahasa, dari benua, pulau-pulau yang besar dan yang kecil sampai ke pelosok pedalaman, kita dapat menemukan praktek penyembahan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menyembah arwah, dewa-dewa, benda-benda dan lain sebagainya.

Sampai di zaman modern inipun, bentuk penyembahan juga telah mengalami banyak perubahan. Penyembahan modern lebih banyak ditujukan kepada apa saja yang dapat mendatangkan kesenangan, kenyamanan dan pemuasan hawa nafsu daging. Hal-hal tersebut dipuja sebagai jalan keluar dari berbagai masalah kehidupan, dan bukan Tuhan.

PENYEMBAHAN YANG SALAH
Tujuan penyembahanpun telah disalahgunakan, bahwa penyembahan dipakai hanya untuk mencari pertolongan, pengharapan dan hal-hal materi lainnya, antara lain kekayaan, kedudukan dan kesuksesan. Banyak juga orang percaya memiliki pemahaman yang salah tentang penyembahan atau ibadah yang mereka lakukan dimana tujuan penyembahan merekapun sama seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Jika penyembahan hanya ditujukan untuk pengejaran akan hal-hal materi, tidak mengherankan jika suatu saat kita akan mengalami seperti apa yang orang Israel pernah alami yaitu ‘merasa sia-sia beribadah kepada Tuhan’.

Mal 3:13  – Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?” Mal 3:14  Kamu berkata: “Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?” 

Tuhan mengetahui setiap motivasi orang yang datang beribadah dengan maksud menyembah-Nya. Tujuan penyembahan yang salah menyebabkan ibadah kita begitu dapat membahayakan diri kita. Bayangkan bahwa orang Israel yang melakukan ibadah kepada Tuhan, tetapi karena tujuan materinya tidak tercapai, justru melahirkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan dihadapan Tuhan seperti ayat di atas.

Pada kenyataannya tidaklah demikian. Jika kita membaca ayat 16-18, kita akan melihat bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang takut akan Tuhan sebagai sebuah ekspresi penyembahan, semuanya dicatat dalam sebuah Kitab Peringatan. Mereka akan menjadi milik kesayangan Tuhan. Tuhan akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. Selanjutnya kita akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya. Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya mengapa hal tersebut dapat terjadi kepada orang yang berkata bahwa dirinya beribadah.

Mat 15:8  Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.  Ay.9,  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

KLAIM TEMPAT IBADAH
Hal lain yang salah adalah masalah Klaim tempat ibadah yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Samaria.

Yoh 4:20 – Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”

Namun Yesus datang dengan membawa sebuah berita yang merevolusi sistem penyembahan yang ada pada saat itu, baik cara Yerusalem maupun Samaria.

Yoh 4:21  Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

PENYEMBAHAN BENAR = MENYEMBAH DALAM ROH DAN KEBENARAN
Dan Yesus menunjukkan sebuah cara yang baru dalam menyembah Allah Bapa yang adalah Roh itu yaitu di dalam roh dan kebenaran.

Yoh 4:23 – Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Yoh 4:24 – Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.

Penyembahan yang benar adalah terjadi dalam roh manusia kita dan dalam kebenaran. Kita secara khusus akan melihat bagian pertama yaitu dalam roh manusia kita. Roh manusia kita adalah pusat kesadaran kita akan Tuhan, keberadaan-Nya dan kehadiran-Nya. Kesadaran ini akan melahirkan pengakuan yang keluar dari mulut kita, mengakui keMahaKuasaan, keMahaHadiran dan keMahaTahuan-Nya. Dari pengakuan ini, lahirlah sebuah tindakan Penyembahan yang mempengaruhi jiwa dan mengekspresikannya melalui tubuh kita baik dalam sebuah bentuk pujian ataupun ekspresi penyembahan kita yang dapat dilihat oleh orang lain. Penyembahan seperti ini akan mendatangkan kekuatan kehadiran Tuhan yang dapat dirasakan oleh semua yang sedang beribadah.

1Kor 14:25b,  …. sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: “Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.”

KINGDOM WORSHIP
Kita akan melihat hubungan antara penyembahan dan Kerajaan Allah dalam bagian ini. Tahukah Anda bahwa istilah ‘Penyembahan’ hanya ada dalam pemerintahan dengan sebuah sistem Kerajaan. Dalam negara Republik kita tidak pernah disuruh untuk menyembah presiden. Dalam sebuah kerajaan ada seorang raja. Dan seluruh warga kerajaan akan menyembah jika bertemu dengan sang raja atau menghadap kehadiratnya. Hanya sebuah penyembahan yang membuat layak seseorang menghampiri sang raja.

Penyembahan seperti sebuah budaya yang melekat dalam setiap warga dari kerajaan tersebut. Sebuah budaya tidak dapat disembunyikan. Orang dapat melihatnya dengan mudah karena menjadi ciri khas daerah tersebut. Jika kita pergi ke Kraton di Yogyakarta, kita akan melihat budaya keraton yang sangat kental ketika kita memasuki wilayah dimana kraton tersebut  berada. Kita dapat melihat dari pakaiannya, bahasanya, tradisinya, dan banyak lagi atribut yang melekat pada sebuah budaya yang ada di Kraton. Tahukah Saudara bahwa Sorga merupakan sebuah kerajaan? Yesus menyebutnya Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah. Kerajaan Sorga juga memiliki budaya yang khas yang dimilikinya. Kalau kita membaca Firman Tuhan sangat jelas khususnya kitab Wahyu menceritakan bagaimana budaya Kerajaan Sorga diwarnai dengan budaya penyembahan terus menerus, siang dan malam.

Demikian juga hendaknya kita sebagai warga dari kerajaan Sorga, sudah sepatutnyalah bahwa penyembahan dalam roh dan kebenaran itu adalah budaya kita. Apa yang Saudara katakan, jika ada orang yang memberi saudara uang sebanyak 1 Juta? Pasti Anda mengucapkan terima kasih. Bagaimana kalau Anda diberi lagi untuk kedua kalinya? Pasti Anda juga akan mengucapkan terima kasih. Apakah Anda berdoa terlebih dahulu untuk mengucapkan terima kasih? Tentunya tidak. Mengapa? Karena mengucapkan terimakasih merupakan sebuah budaya yang sudah biasa kita hidupi.

Kapan kita berhenti mengucapkan terima kasih? Ketika kita tidak diberi lagi. Bagaimana jika orang tersebut memberi Anda uang 1 Juta sampai berulang-ulang kali? Pasti Anda juga mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Tahukah Saudara bahwa sebagai warga kerajaan Allah semua yang kita miliki adalah milik Allah. Kita hanyalah dipercayakan sebagai pengelola saja. Tahukah Saudara bahwa oksigen yang kita hirup adalah milik Tuhan? Berapa kali kita harus mengatakan terima kasih atas oksigen yang kita hirup setiap saat? Bukankah sudah selayaknya setiap kali tarikan nafas kita mengucapkan terima kasih kepada Tuhan? Seperti itulah sebuah Penyembahan, bahwa setiap tarikan nafas kita haruslah menjadi sebuah penyembahan yang menyenangkan hati Sang Raja. Itu sebabnya ketika Daud menyadari akan hal ini, dia menuliskannya dalam beberapa mazmur ini.

  • Mazmur 150:6  Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!
  • Mazmur 34:2  Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.

KUASA PENYEMBAHAN MEMBAWA PERUBAHAN KEHIDUPAN
Kuasa dari sebuah penyembahan yang berkenan dan mengubahkan hidup orang yang menyembah ada pada sebuah Pengertian, Pemahaman (Understanding). Hal inilah yang akan membangkitkan kesadaran roh kita untuk memiliki sikap takut akan Tuhan. Dan melahirkan sebuah pengakuan dari mulut kita mengenai keMahaBesaran, keMahaKuasaan dan keMahaMuliaan-Nya. Dari pengakuan ini lahirlah sebuah ekspresi yang keluar dari jiwa dan tubuh kita dalam memuji dan menyembah-Nya dalam sebuah ibadah atau dimanapun kita berada.

Sebagai warga kerajaan Sorga, penyembahan bukan lagi sebagai alat untuk meminta-minta agar kebutuhan hidup kita dipenuhi dan terjamin melainkan sebagai bentuk sebuah pengakuan bahwa Dialah Raja atas segala raja (Penguasa) dan Tuan atas segala tuan (Pemilik). Dialah Sang Pemelihara, Pelindung dan Penyelamat kita.
Tuhan Yesus Memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BERKAT DARI SUMBER HIKMAT  seri 3: TUNTUNAN TUHAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 30 Juni 2019)

Ada lima berkat dari sumber berkat yang tidak lain adalah Yesus sebagai sumber hikmat setiap orang percaya, yang tertulis dalam Amsal 3:1-10. Hikmat yang dibicarakan disini sebenarnya berhubungan dengan hubungan pribadi kita dengan Tuhan.  Berkat-berkat apa saja yang akan kita peroleh jika kita merespon sesuai dengan kehendak Tuhan sebagai sumber hikmat itu? Ada lima berkat yang akan kita dapatkan dari Tuhan jika kita mengerjakan kehendak Tuhan.  Apa sajakah itu?

LIMA BERKAT
1. Panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera, ay. 1-2.
2. Kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah dan manusia, ay. 3-4.
3. Tuntunan Tuhan, ay. 5-6.
4. Kesembuhan dan kebugaran, ay. 7-8.
5. Perlipatgandaan berkat, ay. 9-10.

TUNTUNAN TUHAN
Inilah berkat ke-3 dari Sumber Hikmat .
Amsal 3:5-6  “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Dari ayat di atas kita dapat membaca bahwa ada dua hal yang membuat orang percaya tidak mendapatkan tuntunan Tuhan sehingga hidupnya tidak pada jalan yang lurus.
1). Tidak percaya kepada Tuhan dengan segenap hati (separuh hati). Lebih bersandar kepada pengertian sendiri.
Orang yang hidupnya tidak percaya kepada Tuhan dengan segenap hati (separuh hati) lebih bersandar kepada pengertian sendiri, maka orang seperti ini hidupnya akan mudah disesatkan dan juga sulit untuk mendapatkan  pertolongan Tuhan.

Contoh orang yang tidak percaya Tuhan dengan sepenuh hati, sehingga mudah disesatkan adalah Hawa,  Kejadian 2:16-17.

Perhatikan perintah Tuhan yang disampaikan kepada Adam dan Hawa.
“Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Ini adalah perintah firman yang disampaikan langsung Tuhan kepada Adam dan Hawa.  Tetapi apa yang dikatakan Hawa ketika berdialog dengan Iblis.

Kejadian 3:3 “Tetapi tentang buah pohon yg ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

Perhatikan kalimat yang digarisbawahi. Tuhan tidak pernah mengatakan atau menyinggung soal meraba buah itu, tetapi janganlah kau makan buah itu. Hawa menambahkan sendiri kalimat itu, ini menunjukkan bahwa Hawa tidak sepenuhnya mempercayai Tuhan.  Melihat Hawa tidak mempercayai Allah dengan segenap hatinya, maka Iblis menggunakan kesempatan itu untuk menyesatkan Hawa. Iblis memutarbalikkan maksud dari larangan memakan buah pengetahuan baik dan jahat itu.

Kejadian 3:4-5 – “Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Iblis merusak dan memutar balik perintah Tuhan seolah-olah Tuhan menyembunyikan sesuatu yang manusia tidak boleh ketahui.  “Pada waktu kamu  memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu yang baik dan yang jahat”, padahal sudah jelas Allah katakan pada waktu kamu makan kamu akan mati. Iblis berkata dusta tentang akan menjadi seperti Allah. Itulah sebabnya ia mendapat gelar Bapa segala Pendusta, Yohanes 8:44. Tanpa menunggu lama Hawa langsung percaya perkataan Iblis, ia disesatkan dan masuk dalam jerat dosa yang dipasang Iblis. Hal ini terjadi karena Hawa tidak percaya dengan segenap hatinya terhadap perkataan Tuhan.

Contoh lain NAAMAN, 2 Raja-raja 5:9-14.
Kisahnya dapat diringkas sebagai berikut :
Ay. 9 – Naaman menjumpai nabi Elisa karena mendengar kesaksian dari anak perempuan Israel yang menjadi budaknya.

Ay. 10 – Elisa tidak menjumpai tetapi hanya mengutus suruhannya.

Ay. 11-12 – Naaman tersinggung, karena Elisa tidak menjumpainya dan hanya mengutus utusannya. Ia pergi dengan panas hati, apalagi cara penyembuhannya dinilai aneh, mandi 7x di sungai Yordan yang tidak lebih baik dari sungai di Damsyik tempat tinggalnya.

Ay. 13-14 – Naaman hampir saja gagal untuk mendapatkan pertolongan yang ajaib dari Tuhan, karena menolak perintah firman Tuhan yang disampaikan oleh pesuruh Elisa. Rasa gengsinya sebagai seorang Panglima Tinggi Kerajaan Aram menjadikan ia merasa terhina dengan cara penyembuhan yang aneh, mandi di sungai Yordan 7x. Apalagi disampaikan oleh pesuruh bukan oleh Nabi Elisa secara langsung. Untung para pengawalnya memberi nasehat yang baik, sehingga Naaman sadar dan kembali kepada jalur yang benar yaitu dengan memilih mempercayai firman Allah meski disampaikan oleh pesuruh Elia, ia mandi tujuh kali di sungai Yordan dan Naaman mengalami mujizat kesembuhan dari kustanya.

Dari peristiwa ini kita mendapat pelajaran bahwa kadang Allah memakai cara yang diluar nalar manusia, untuk meruntuhkan gengsi, kesombongan seseorang sebelum menolongnya. Karena yang menjadi penghalang besar bagi orang kaya dan berpangkat model Naaman ini bisa mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati adalah gengsi dan kesombongannya.

2). Tidak mengakui Tuhan dalam segala laku kita. Hasilnya kehidupan yang tidak lurus.

Orang tipe seperti ini :

  • Lebih mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri. Ia merasa dia-lah yang banyak berbuat untuk menghasilkan banyak hal dalam hidupnya.
  • Tidak pernah melibatkan Tuhan dalam segala rancangan hidupnya karena merasa mampu tanpa pertolongan Tuhan.
  • Tidak pernah mengucapkan syukur kepada Tuhan karena merasa dia-lah yang sudah berjerih lelah membuat segala usahanya berhasil.

Karena Tuhan tidak terlihat, tidak sedikit anak Tuhan pun kadang tidak menyadari apalagi menghargai keberadaan Tuhan dan mengakui peran Tuhan dalam hidupnya. Semua yang terjadi dalam hidup kita, yang kita miliki, termasuk kemampuan kita adalah dari Tuhan, karena Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan. Ini harus kita akui dalam kehidupan kita.

Bagaimana kita mengakui Tuhan dalam segala laku kita? Salah satu bentuk dalam kita mengakui Tuhan adalah  SIKAP HATI kita dalam memuji dan menyembah Tuhan. Sikap hati yang dikehendaki Tuhan dalam kita memuji dan menyembah-Nya adalah dari dalam roh dan kebenaran. Mengapa harus menyembah dari dasar hati kita yaitu roh kita? Karena Allah adalah Roh.

Yoh. 4:24 “Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Orang yang menyembah dalam roh akan terlihat dalam ekspresi tubuhnya.

Mazmur 134:2 – “Angkatlah tanganmu ke tempat kudus dan pujilah TUHAN.”
Bandingkan dengan (Ratapan 3:41). Mengangkat tangan adalah salah satu bagian dari ekspresi mengakui Tuhan yang dipuji itu ada. Perhatikan, ketika kita sedang menunggu seorang pejabat tinggi dan kemudian menyambut ketika orangnya datang, biasanya kita semua berdiri untuk menyambutnya. Pertanyaannya mengapa harus berdiri? Berdiri merupakan ekpresi kita mengakui dan menghormati kedatangannya. Demikianlah harusnya kita juga mengakui hadirat Tuhan dalam ibadah. Ketika kita memuji Tuhan ekspresikanlah pengakuan kita dengan mengangkat tangan, berdiri, bertepuk tangan dengan tulus dari dasar hati kita yang terdalam (roh kita). Allah akan hadir dalam puji-pujian dan penyembahan yang dinaikkan dengan sikap hati yang benar dan mengakui keberadaan Tuhan.

Mazmur 22:3 “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”

Tuhan hadir dan bersemayam/berdiam di atas puji-pujian kita. Allah menghargai orang yang mengakui Tuhan dalam ekspresi yang dari rohnya memuji dan menyembah Tuhan. Memang tidak harus berdiri, mengangkat tangan, karena disesuaikan dengan usia tentunya, dengan dudukpun kita dapat mengekspreikan pengakuan kita akan kehadiran Tuhan. Tetapi hati-hati jangan pernah menganggap rendah orang yang sungguh-sungguh memuji Tuhan.

Ada satu contoh dalam Alkitab seorang yang menganggap rendah orang yang sungguh-sungguh mengekspresikan pengakuannya akan hadirat Tuhan.

1 Tawarikh 15:29 – Mikhal, anak perempuan raja Saul yang menjadi istri Daud. Melihat Daud melompat dan menari-nari bagi Tuhan, sebagai pengakuan Allah yang berhadirat, ia memandang rendah Daud dalam hatinya.  Apa yang dikatakan Mikhal terhadap Daud, dapat dibaca selengkapnya di 2 Samuel 6:20-22. Karena sikap Mikhal yang tidak menghargai bahkan menganggap rendah Daud dalam mengakui Tuhan dengan cara memuji, menari dan melompat, Tuhan buat ia mandul dan tidak punya anak sampai hari matinya, ay. 23.

Bagi kita yang dapat mengekpresikan pengakuan hadirnya Tuhan dalam ibadah dengan berdiri, mengangkat tangan dan lain-lain, jangan memandang rendah orang yang cuma duduk dalam memuji dan menyembah Tuhan, tetapi bagi yang duduk juga jangan menilai atau menghakimi orang yang memuji Tuhan dengan berdiri. Semua bebas mengekpresikan pengakuan kita akan hadirat Tuhan dengan caranya, yang terpenting adalah semuanya harus datang dari roh kita yang sungguh-sungguh memuji dan menyembah Tuhan.

Kesimpulan
Jika kita mau mendapat tuntunan Tuhan pada jalan yang lurus kepada kebenaran, berkat dan damai sejahtera-Nya, maka kembali kepada ayat pokok kita.

Amsal 3:5-6 – “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

CARA MENGATASI KEMUSTAHILAN – oleh Pdt. Semmy Jonathan (Ibadah Raya 3, Minggu 23 Juni 2019)

Yunus 2:1-10 

Setiap orang memiliki masa lalu yang kelam tetapi Allah kita adalah Allah yang melihat hari ini bukan mengingat-ingat kesalahan di hari lalu. Yunus melakukan kesalahan dan karena kesalahannya itulah ia di hukum dan mustahil ia selamat karena hukuman yang ia terima. KBBI mengatakan bahwa kata ‘mustahil’ – tidak mungkin terjadi artinya tidak akan ada jalan keluar atau keselamatan, tetapi Yunus mengalami pertolongan Tuhan. Apakah yang membuat Yunus dapat alami mujizat?

KESELAMATAN YUNUS
1. Ingatlah kepada Tuhan (Ayat 6,7)
Saat mengalami masalah ingatlah kepada Tuhan, bukan kepada pertolongan manusia. Sebab hanya Yesus yang tidak pernah mengecewakan. Jika kita mengandalkan kekuatan sendiri maka yang kita alami seperti wanita pendarahan 12 tahun yaitu harta dan kekayaan habis, sebab harta dan kekayaan memang tidak dapat menolong. Namun saat wanita ini mendengar tentang Yesus, ia percaya dan berharap pada Tuhan maka mujizat kesembuhan ia terima. Ubahlah pola pikir kita, saat ada masalah maka ingatlah kepada Tuhan. Mazmur 108:13, penyelamatan dari manusia sia-sia. Bukan berarti tidak perlu membangun relasi dengan orang lain, melainkan tetap membangun relasi.

2. Dengarlah hanya suara Tuhan
Saat menghadapi masalah tentu ada banyak masukan dan saran dari orang sekitar tetapi jangan semua diterima melainkan disaring dengan kebenaran firman Tuhan.

3. Akui Kesalahan
Saat menghadapi masalah, jangan cari kambing hitam untuk disalahkan agar menutupi kesalahan, melainkan akui di hadapan Tuhan, seperti Daud saat ditegur ia minta ampun kepada Tuhan. Masuklah dalam proses maka Tuhan akan membentuk lebih lagi sebab Allah kita murah hati. Mazmur 51:4 – doa pengakuan Daud kepada Tuhan bahwa ia bersalah.

4. Tetaplah berdoa
Berdoa harus menjadi gaya hidup. Contohnya Daniel yang komitmen dalam doa, meskipun ada halangan ia tetap berdoa kepada Tuhan meskipun nyawa sebagai konsekuensinya. Doa adalah segala-galanya. Yakobus  5:16, doa orang benar dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya.

Untuk mengalami mujizat Tuhan maka ingatlah Tuhan, tulus dan jujur serta berdoalah dengan penuh keyakinan. Yeremia 32:27, tidak ada yang mutahil bagi Tuhan. Jika saat ini kita mengalami kemustahilan, ada Yesus yang tidak dapat diukur dengan akal manusia. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DIBENTUK,  DIAJAR  DAN DIUJI – oleh Pdt. Semmy Jonathan – GPdI Shekinah Lampung (Ibadah Raya 1 – Minggu, 23 Juni 2019)

Kolose 2:7,8

Kota Kolose ada di timur kota Efesus dan Kolose mendapat perhatian khusus dari Rasul Paulus karena jemaat menginjil dan terbentuk pelayanan di kota Kolose. Namun berjalannya waktu ada ajaran lain yang masuk untuk mendidik jemaat. Itu sebabnya Rasul Paulus memberitahu agar jemaat berakar dan bertambah teguh didalam iman dalam Kristus.

Iman dinyatakan dalam doa-doa dan kehidupan sehari-hari. Kolose 2:8, banyak ajaran yang menjebak kita untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan akan orang yang mencari hal-hal untuk mengenakkan telinga. Rasul Paulus ingin mengembalikan bahwa kita untuk dibentuk,  diajar dan diuji agar kita tampil sebagai pemenang.

Hasil dari pembentukan, ajaran dan ujian
Yesaya 42:6-9
Allah memanggil untuk suatu maksud, bahwa Tuhan merancang hal yang ajaib namun ada proses dan pembentukan untuk menerima hasil yang luar biasa.  Ia memanggil dan membentuk.

Proses bukan untuk dihindari tetapi dijalani sebab proses menjadikan kita pribadi yang tangguh dan dewasa serta sempurna sama seperti Yesus. Dalam proses Tuhan menjadikan kita sesuai keinginan Tuhan. Keinginan Tuhan tercatat dalam firman Tuhan dan memampukan hidup dalam Tuhan serta tangguh dalam melakukan firman Tuhan.

Kedewasaan tidak diukur dari jumlah umur melainkan kelakuan, sifat dan perbuatan. Demikian juga sebagai orang percaya, kitapun harus menjadi dewasa rohani bukan kanak-kanak karena masuk dalam sebuah proses.

Dalam proses ada ujian yang mengeluarkan kualitas yang paten, tidak berubah dalam segala kondisi dan situasi. Ujian adalah akhir dari segala sesuatu untuk menentukan nilai. Kita berhasil bila sudah menang atas ujian, bukan melewatkan ujian. Sebab upah ditentukan dari menyelesaikan ujian hidup. Contoh: Ayub teruji dan nyata dari ucapannya kepada Tuhan bahwa ia tetap memuliakan Tuhan.

Seseorang yang melewati proses nyata memberikan hasil yang berkualitas.
1. Tampil sebagai pribadi yang makin menyadari dan menghargai bahwa keselamatan lebih penting dari pada kebahagiaan.
Banyak anak Tuhan tinggalkan Tuhan hanya untuk sebuah kedudukan,  jabatan dan keuntungan diri. Itu mengapa ujian terhadap iman menghasilkan hati yang menghargai keselamatan dari pada kebahagiaan. Hidup ini hanya sementara, jabatan, harta dan kedudukan tidak menyelamatkan.

  1. Menjadi orang yang peka dan mengerti maksud serta kehendak Tuhan.
  1. Semakin menghargai firman Tuhan
  1. Hati dan pikiran seperti Yesus
    Filipi 2:7 hendaklah menaruh pikiran dan perasaan dalam Kristus Yesus.
Posted in Uncategorized | Leave a comment