Jemaat Yang Menang Akan Duduk Bersama-sama Yesus di Atas TakhtaNya – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 7 Oktober 2018)

Wahyu 3:21

Pembahasan dua minggu lalu, sudah disampaikan bahwa jemaat Laodikia memiliki masalah yang besar dan serius. Sebab dari 7 Jemaat di Asia Kecil, jemaat di Laodikia adalah jemaat yang menghadapi masalah rohani yang paling berat dibandingkan jemaat-jemaat lainnya dan mereka harus menang atau mampu mengatasi kondisi rohani mereka yang buruk, yaitu:
1. Kemelaratan rohani
2. Kemiskinan rohani
3. Kemalangan rohani
4. Kebutaan rohani
5. Ketelanjangan rohani

Jika jemaat Laodikia tidak dapat mengatasi kelima masalah tersebut, mereka tidak akan didudukan bersama-sama dengan Yesus (ayat 21). Apakah yang dimaksud dengan duduk bersama dengan Yesus? Dan apa pentingnya duduk bersama Yesus di takhta Yesus?

Pada umumnya kita memahami bahwa gereja digambarkan seperti rumah, yaitu tempat dimana kita akan tinggal. Dalam Yohanes 14:2a kalimat “Banyak tempat tinggal”, dalam terjemahan bahasa inggris menuliskan “di rumah BapaKu, banyak rumah yang besar-besar dan indah.” Jadi di surga nanti ada rumah-rumah yang besar dan indah. Di tempat itulah kita akan duduk bersama dalam himpunan besar, dari segala suku bangsa, ras dan bahasa. Dan di dalam rumah yang besar itulah kita berhimpun dalam himpunan raya. Jadi bukan duduk secara harafiah melainkan bersama Yesus dalam kerajaanNya. Lalu apakah yang akan dilakukan selama orang percaya ada di Surga?

SUASANA DAN KEGIATAN DI SURGA
Wahyu 4 akan dapat menjelaskan seperti apa suasana dan kegiatan di Surga:

  • Wahyu 4:1, Yohanes melihat pintu terbuka dan rasul Yohanes diajak untuk naik ke satu tempat serta ditunjukkan apa yang akan terjadi sesudah semua orang kudus di surga.
  • WAHYU 4:2, Yohanes melihat sebuah tahta utama di Surga dan posisinya di tengah. Pada tahta itu ada seorang yang bernama Yesus. Sebab dalam ke esahan Allah, hanya satu pribadi yang nampak yaitu, Yesus. Dalam Yesus berdiam kepenuhan Allah. Dan oleh karena Allah menjadi manusia Yesus, maka Allah dapat menebus dosa manusia. IA pun bangkit dan naik ke surga. Naiknya Yesus di Surga dapat disaksikan oleh semua murid. Kita pun akan melihat Dia nanti dalam kemuliaanNya, duduk di tahtaNya, seperti rasul Yohanes melihat seorang yang duduk di tahta.
  • Wahyu 4:3, rasul Yohanes melihat keindahan dan kemuliaan Yesus yang digambarkan seperti permata. Dan ada pelangi yang melingkupi tahta tersebut.
  • Wahyu 4:4, ada 24 tua-tua yg menggunakan pakaian putih dan mahkota emas. 24 tua-tua (Kisah 2:42) adalah 12 murid Yesus yang bersama dengan Yesus saat berada di muka bumi. Mereka membagikan firman Tuhan tersebut. Sedang 12 lainnya adalah 12 rasul akhir zaman (Kolose 1:28). Jadi Tuhan akan memunculkan 12 rasul di akhir zaman serta membawa jemaat pada kesempurnaan.
  • Wahyu 4:5, kisah dalam ayat ini, mengingatkan kita akan peristiwa tentang bangsa Israel saat digunung Sinai (Keluaran 20). Dalam ayat 18,19 – pada saat itu, orang Israel ketakutan melihat kemuliaan Allah. Namun dalam Wahyu 4:5, kemuliaan Yesus tidak lagi menakutkan seperti di gunung Sinai melainkan kita akan bersukacita dalam kemuliaan Allah.

LAUTAN KACA BAGAIKAN KRISTAL
Selanjutnya dalam Wahyu 4:6a, rasul Yohanes melihat ada orang-orang yang berkeliling tahta dan ada lautan kaca. Kata lautan jika dibandingkan dengan Wahyu 17:15 merupakan gambaran himpunan orang banyak. Jadi lautan adalah gambaran yang begitu mulia dan bercahaya tentang orang-orang percaya. Kumpulan tersebut merupakan ring/lingkaran selanjutnya dari ke 24 tua-tua. Apakah kita bisa memilih untuk menempati urutan lingkaran? Tidak, Yesuslah yang akan menempatkan kita ada di lingkaran ke berapa.

Karena begitu besarnya pertemuan raya tersebut, Rasul Yohanes gambarkan seperti lautan kaca. Lautan kaca seperti Kristal, bersih bening dan mulia karena mulia, suci, bercahaya. Bandingkan dengan Yesaya 64:6, sekarang hidup kita cacat. Namun dalam perhimpunan raya kita semua diubahkan. Jadi, karena demikian banyak dan tidak terhitung jumlahnya takhta di sekeliling takhta Yesus, Yohanes mengungkapkan jumlah orang percaya yang duduk di takhta dengan istilah: seperti hamparan air laut yang banyak dan sangat luas.

Jika digambarkan posisi atau bentuk kedudukan di surga nanti, maka akan tampak seperti gambar di bawah ini. Berbentuk lingkaran, semua orang akan memandang satu takhta. Setelah itu ada lingkaran kedua yang bersisi para tua-tua. Kemudian terus sampai pada tingkat-tingkat berikut yang banyaknya seperti lautan, kata rasul Yohanes.

 

 

 

 

 

 

MEMAKAI MAHKOTA
Selain perhimpunan besar orang percaya, seperti Kristal, mereka menggunakan mahkota pada kepala mereka. Ada dua jenis Mahkota, yaitu:
1. Mahkota keselamatan/kehidupan
Mahkota ini diterima gratis oleh karena pengorbanan Yesus, Efesus 2:8,9. Jadi mereka yang percaya kepada Yesus akan menerima mahkota yang pertama.

2. Mahkota pelayanan – Matius 10:42; 1kor 15:58.
Mahkota ini diperoleh dari pelayanan kita kepada Allah saat di muka bumi. Sebab itu jangan simpan talenta dan harta kita karena di surga semua itu tidak lagi berguna, melainkan pergunakan talenta dan kekayaan untuk melayani Tuhan sebab ada pahalanya. Karena setiap pelayanan untuk Tuhan tidak akan dilupakan.

Manfaat mahkota yang kita terima di surga nanti bukan untuk dipamerkan. Tapi untuk menyatakan sikap dan ekspresi dalam penyembahan di Surga.  Wahyu 4:6b, empat mahluk ini adalah pemimpin pujian dan penyembahan di hadirat Yesus. Dihubungkan dengan Yesaya 6;2. Dalam Wahyu 4:9, keempat mahluk tersebut memuji dan menyembah Tuhan. Saat keempat mahluk tersebut menaikan pujian maka hasilnya 24 tua-tua akan turun dri tahktanya serta melepas mahkotanya. Jangan sampai waktu kita di sorga, kita tidak memiliki mahkota sebab akan menempati posisi (duduk di takhta) paling belakang. Jika tidak memiliki mahkota, kita tidak turut ambil bagian melepas mahkota sebagai persembahan kita.

Demikian halnya jemaat Laodikia yang tidak bisa menang atas: Kemelaratan; Kemalangan; Kemiskinan; Kebutaan dan Ketelanjangan rohani, tidak akan mendapat  tempat (takhta kita) di sorga. Wahyu 3:11 “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”
Terus berpegang pada Yesus dan tetap setia. Tuhan Yesus memberkati.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUASA PUJIAN dan PENYEMBAHAN KEPADA TUHAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 3 – Minggu, 30 September 2018)

Mazmur 22:4
“Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”

Ayat ini merupakan mazmur yang ditulis oleh raja Daud. Dalam ilham Roh, Ia mengungkapkan bahwa Allah itu bersemayam di atas puji-pujian. Kata “Bersemayam” memiliki beberapa pengertian: Berdiam/ tinggal didalam; berhadirat dan juga dapat berarti bertahta di atas puji-pujian umatNya. Yang menarik disini adalah bahwa ternyata Allah tidak hanya berdiam dan bertahta di Sorga saja, tetapi Ia tertarik juga untuk berhadirat di atas puji-pujian orang Israel (Orang-orang percaya).

Apa yang Tuhan kerjakan ketika berdiam di atas puji-pujian kita kepada-Nya ?
1. Tuhan menikmati dan disenangkan dengan puji-pujian yang dinaikkan dengan hati yang tulus untuk mengagungkan Dia.
Yang dapat menyenangkan Tuhan bukanlah harta kita, kemampuan kita atau kedudukan kita, Allah tidak membutuhkan itu tetapi bagaimana kita dapat mengagungkanDia, menaikkan syukur dengan pujian dan penyembahan kita dari dasar hati kita yang tulus atas apa yang Tuhan telah berikan kepada kita itu.

2. Melepaskan kuasa dan otoritas-Nya untuk keperluan orang yang memuji dan menyembah-Nya.
Allah tidak hanya menikmati pujian penyembahan umat-Nya saja, tetapi di atas pujian itu Ia bertindak dengan kuasa dan otoritas-Nya untuk kepentingan umat yang menyembah-Nya.

KUASA ALLAH DALAM PUJIAN DAN PEMYEMBAHAN
Apa saja yang Tuhan kerjakan dengan kuasa dan otoritasnya di atas pujian umat-Nya?
1. Kuasa kegelapan dilumpuhkan.
Maz 149: 6-9 “Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka. Untuk melakukan pembalasan terhadap bangsa-bangsa, penyiksa-penyiksa terhadap suku-suku bangsa, untuk membelenggu raja-raja mereka dengan rantai, dan orang-orang mereka yang mulia dengan tali-tali besi, untuk melaksanakan terhadap mereka hukuman seperti yang tertulis, itulah semarak bagi semua orang yang dikasihi-Nya. Haleluyah.”

Penyiksa-penyiksa suku bangsa dan yang membelenggu dengan rantai dan tali besi terhadap bangsa-bangsa dalam ayat ini yang dimaksud adalah kuasa Iblis. Kuasa puji-pujian kepada Tuhan mampu melumpuhkan dan menghancurkan belenggu Iblis itu.

Dalam Kisah Rasul 16:25-26 – Paulus dan Silas karena Injil Tuhan mereka dipenjarakan dengan rantai dan belenggu, tetapi ketika tengah malam mereka menyanyi dan memuji Tuhan sehingga terjadi goncangan hebat dan belenggu mereka seketika itu terlepas. Kuasa puji-pujian sebenarnya sudah Tuhan tanamkan sejak anak-anak sebagai senjata untuk membungkam intimidasi iblis.

Maz 8:3 – “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kau letakkan dasar kekuatan karena lawanMu, untuk membungkam musuh dan pendendam.”

Kita tahu dari sini bahwa, selain Nama YESUS, ternyata puji-pujian juga merupakan dasar kekuatan untuk membungkamkan musuh (iblis). Dalam ayat ini dipakai kata “membungkamkan”, mengapa kata ini yang dipakai ? Membungkam itu hubungannya dengan  mulut dan dari mulut keluar profokasi atau intimidasi.

Dalam 1 Petrus 5:8 “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Auman mulut singa yang digambarkan sebagai Iblis inilah yang sering mengintimidasi orang percaya untuk dijatuhkan imannya. Untuk menghadapi kuasa kegelapan dan intimidasi Iblis, tidak dibutuhkan senjata fisik, tetapi dengan kuasa Allah, dan kuasa Allah itu dapat terjadi dalam hidup kita salah satunya melalui pujian-pujian dan penyembahan kita. Dengan puji-pujian dan penyembahan kita kepada Tuhan itu akan membungkam mulut Iblis yang suka menuduh dan mengintimidasi kita  (2 Korintus 10:4).

2. Allah mengambil alih peperangan kita dengan berperang ganti kita.
Dalam 2 Taw. 20:1-30 – Dikisahkan bahwa Raja Yosafat dari Yehuda mendapat serangan dari Moab dan Amon yang memiliki kekuatan jauh dibanding pasukannya. Yosafat menjadi takut dan ia mencari Tuhan. Melalui nabi Tuhan diberitahukan kepada Yosafat bahwa Allah mendengar doanya dan akan menolongnya. Ketika tiba hari peperangan itu, Yosafat tidak segera memerintahkan pasukannya menyerang tetapi justru diperintahkannya untuk semuanya memuji dan mengagungkan Tuhan. Sementara pujian itu dinaikkan kepada Tuhan, maka Tuhan dengan kuasa-Nya membuat kacau barisan musuh sehingga dibuatnya bani Moab dan Amon justru saling membunuh. Yosafat tidak perlu lagi berperang tetapi tangan Tuhanlah yang berperang terhadap musuh-musuhnya dengan Kuasa-Nya.

3. Menerima Inspirasi Allah.
2 Raja 3:15 “Maka sekarang, jemputlah bagiku seorang pemetik kecapi, pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan Tuhan meliputi dia.” Dalam ayat ini dikisahkan bahwa Raja Yosafat memohon petunjuk kepada Nabi Elisa yang sebenarnya enggan untuk melayani karena Yosafat bersekutu dengan raja Yoram, anak Ahab yang jahat di mataTuhan. Karena Elisa merasa tidak mendapat ilham apapun dari Tuhan, maka ia minta seorang pemetik kecapi memainkan kecapinya memuji Tuhan. Pada saat pujian kecapi itu dimainkan maka Tuhan bertahta diatas pujian itu dan berfirman kepada Elisa mengenai apa yang harus Elisa katakan.

Tuhan dapat berbicara tidak saja lewat khotbah, tetapi juga lewat pujian yang dimainkan dengan musik. Lewat musik yang dimainkan untuk memuliakan-Nya, Tuhan dapat memberikan inspirasi dan jalan keluar untuk masalah yang kita hadapi. Untuk itu jangan bersungut-sungut dalam menghadapi masalah apapun, tetapi naikkanlah pujian bagiTuhan, maka Ia akan bertindak untuk menolong kita dengan cara-Nya yang ajaib.

4. Menarik jiwa-jiwa datang kepada Yesus.
Yoh. 12: 2; Maz. 40:4 “dan Aku apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang dating kepada-Ku.” (Yoh 12:32)

Ketika Tuhan ditinggikan lewat pujian dan penyembahan, maka kuasa-Nya akan menarik banyak orang untuk datang kepada-Nya. Itulah sebabnya dalam setiap ibadah selalu dimulai dengan pujian dan ditutup dengan puji-pujian juga.

Menarik datang kepada Tuhan, yang ditarik bukan saja orang lain, tetapi juga sang pemuji itu sendiri ia ditarik kedalam hadirat Tuhan untuk mengalami kuasa-Nya. Naikkanlah pujian dan penyembahan kepada Tuhan dengan kesungguhan hati dalam ibadah maupun dalam kehidupan kita, maka kita akan menikmati kuasa dan hadirat-Nya yang ajaib.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PEMBUNUH RAKSASA – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 23 September 2018)

1Samuel 17

1 Samuel 17:50
Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Pendahuluan
Sosoknya tinggi besar, langkahnya menggetarkan bumi dan suaranyapun menggelegar bak halilintar membuat yang mendengarnya menjadi gemetar. Ya, itulah “Raksasa.” Raksasa bukanlah ilusi atau fiksi, ia nyata dan ada. Usianya setua zaman ini. Keberadaan raksasa pertama-tama dikisahkan oleh kitab Kejadian. Kejadian 6:4 mengatakan: “Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, ……. inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.” Raksasa juga muncul saat bangsa Israel hendak menduduki tanah Kanaan.

Ulangan  9:1-2
“Dengarlah, hai orang Israel! Engkau akan menyeberangi sungai Yordan pada hari ini untuk memasuki serta menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu, yakni kota-kota besar yang kubu-kubunya sampai ke langit– suatu bangsa yang besar dan tinggi, orang Enak, yang kaukenal dan yang tentangnya kaudengar orang berkata: Siapakah yang dapat bertahan menghadapi orang Enak?”

 Kini raksasa itu hadir kembali menantang barisan tentara Israel (1 Samuel 17). Raksasa itu bernama: “GOLIAT” Suaranya menakutkan dan menggentarkan seluruh Israel, dari raja, tentara dan segenap umat Israel. Tak seorangpun berani menghadapinya, seluruh bangsa telah kehilangan keberanian dan nyali untuk berperang menghadapi Goliat. Untunglah, diantara seluruh pasukan tentara Israel hadir seorang anak muda, sang gembala domba ayahnya yang bernama Daud. Dengan penuh keyakinan dan keberanian, Daud maju bersama Tuhannya untuk menghancurkan Goliat. Dihadapan Daud, Goliat tumbang tanpa perlawanan.

Nama baru Raksasa
Saat ini kita tidak akan menemukan nama Goliat sebab ia sudah mengganti namanya. Goliat telah bermetamorfosis menjadi: ketakutan, keputusasaan, kegagalan, iri hati, dendam, penyakit, masalah, keluarga, keuangan, masalah anak-anak, kebencian, kemarahan, penderitaan dan lain-lain. Inilah raksasa-raksasa baru yang membayangi langkah kita. Raksasa itu berdiri di depan kita untuk menghentikan langkah kita bahkan menghancurkan hidup kita.

Kebenaran Raksasa dan Raksasa Kehidupan
Mungkin kita bertanya, mengapa ada raksasa?  Mengapa Tuhan mengijinan bahkan membebaskan kita menghadapi raksasa? Raksasa hadir bukan karena kebetulan atau kesalahan penciptaan. Raksasa ada karena Tuhan memiliki tujuan dan maksud khusus atas kehadirannya. Berikut ini beberapa keberanan tentang raksasa dan raksasa kehidupan.

1. Raksasa menunjukan siapa diri Anda sebenarnya.
Kehadiran raksasa dalam kehidupan adalah untuk menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Dari kisah perkelahian antara Daud dan Goliat, kita dapati bahwa ternyata orang yang paling berani bukanlah orang yang paling besar, paling kuat, paling hebat, paling pintar atau paling berpangkat. Seharusnya raja Saul, panglima perang, seluruh jendral Israel dan segenap prajurit adalah orang-orang yang paling berani, tetapi ternyata mereka ketakutan. Jadi siapa diri kita sesungguhnya akan nampak saat menghadapi raksasa. Besarnya raksasa yang Anda hadapi menunjukan kebesaran ukuran Anda.

Dalam kehidupan kristen, raksasa hadir untuk menunjukan kemurnian iman. Segala ujian, pencobaan dan tantangan iman adalah jalan menuju kedewasaan dan peningkatan kekuatan otot-otot rohani.

1 Petrus 1:7
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

2. Raksasa adalah alat Tuhan untuk membawa kita kepada peluang dan kesempatan yang lebih besar.
Kehadiran raksasa tidak pernah dimaksudkan untuk menghancurkan hidup kita. Raksasa hadir untuk melatih dan mempersiapkan kita kepada tingkat yang lebih tinggi. Bisa jadi Daud akan tetap menjadi gembala domba jika saja ia tidak pernah bertemu dengan Goliat. Justru karena perjumpaannya dengan raksasa Goliat, telah menghantarnya ke tahta kerajaan.

Goliat adalah kendaraan yang akan membawa ke masa depan, semakin besar raksasa yang kita hadapi semakin besar pula kesempatan kemenangan yang kita alami. Jadi beranikanlah diri untuk menghadapi raksasa, karena raksasa-raksasa itu yang akan melemparkan kita kepada kesempatan dan kemenangan yang lebih besar.

3. Pembunuh raksasa tidak dimulai sebagai “pembunuh raksasa.”
Seorang pembunuh raksasa tidak dihasilkan dalam waktu sekejap. Membutuhkan proses panjang untuk dapat menjadi pembunuh raksasa dan biasanya tidak dimulai dengan membunuh raksasa. Sebelum membunuh Goliat, Daud lebih dahulu membunuh singa dan beruang (1 Sam. 17:34). Kemenangan Daud membunuh singa dan beruang telah membawanya untuk membunuh raksasa Goliat. Kesuksesan besar di hari depan selalu dihasilkan dari kesuksesan kecil dari hari ke hari. Kemenangan-kemenangan kecil setiap hari adalah tumpukan batu-batu yang akan membangun rumah kemenangan di masa depan. Jadi, menangkanlah peperangan harian Anda, karena itu akan membawamu menghadapi Goliat kehidupan.

PEMBUNUH RAKSASA
Dalam hidup ini tidak mungkin menghindari raksasa. Raksasa akan selalu ada dalam perjalanan kita. Bagaimana menjadi pembunuh raksasa?
1).  Memilih mendengar suara TUHAN dari pada suara LAWAN
1 Sam 17:10, 11
Pula kata orang Filistin itu: “Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.“ Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.

Suara teriakan Goliat memekakan telinga dan mengecilkan kekuatan orang-orang yang mendengarnya. Sampai-sampai raja Saul dan seluruh pasukan menjadi cemas dan ketakutan. Tetapi tidak dengan Daud. Ia memang mendengar suara itu. Keras! tajam! dan mengancam! Tetapi tidak membuatnya cemas dan menakutkan, mengapa? Daud memilih mendengar suara Tuhan dari pada suara lawan. Telinganya diarahan kepada apa yang Tuhan katakan bukan apa yang lawan suarakan. Hidup kita tidak ditentukan oleh apa kata orang, kata pakar, kata ahli, kata dokter dll, tetapi oleh apa yang dikatakan Tuhan. Sebab itu dengarlah apa yang dikatakan Tuhan bukan yang dikatakan manusia. Mendengar perkataan orang, membuat kita lemah dan takut tetapi mendengar perkataan Tuhan menghasilkan iman dan keberanian. Bukankah Roma 10:17 berkata: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Jadi, sekali lagi: “dengarlah yang Tuhan katakan bukan yang orang katakan.”

Dalam kitab Injil dikisahkan bahwa ada seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Berbagai cara telah ia coba untuk menyembuhkan sakitnya, tetapi ternyata semuanya sia-sia saja. Hartanya telah dihabiskan untuk mengobatinya namun kesembuhan tak kunjung datang, sampai ia mendengar berita tentang Yesus.

Mar 5:27,28
Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

 Berita tentang Yesus yang berkuasa menyembuhkan segala penyakit, telah membangkitkan imannya untuk datang menjamah jubahNya. Sekalipun usaha ini tidaklah mudah karena adanya hukum adat dan hukum agama yang melarang seorang wanita yang sakit lelehan mendekat kepada orang lain, namun karena percaya akan berita tentang Yesus, wanita ini terus bergerak maju untuk menjamah jubahNya. Akibatnya sakit yang sudah 12 tahun menyiksa dirinya disembuhkan. Haleluya, Puji Tuhan!!

2). Memilih MEMANDANG TUHAN dari pada  MEMANDANG LAWAN Kisah Rasul 2:25
Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Goliat memang nyata! Ia ada di depan mata. Sosoknya tinggi besar dan menyeramkan! Ukurannya diatas rata-rata orang normal. Semua orang yang melihatnya pasti ketakutan. Daud matanya melihat Goliat, tetapi mata hatinya memandang Tuhan yang lebih hebat, lebih besar dari Goliat yang di depannya.

Hari ini apa yang kita alami? Adakah Goliat sedang menghadang kita? Jadilah seperti Daud memilih memandang Tuhan dari pada melihat Goliat. Sebesar apapun masalah yang kita hadapi, fokuskan untuk memandang Tuhan yang dahsyat dan ajaib. Sekuat apapun Goliat menyerang kita, Tuhan Yesus lebih kuat, sebesar apapun Goliat menantang kita, Tuhan Yesus lebih besar. Dia melebihi Goliat manapun yang kita hadapi.

Setelah melewati masa sukar karena kekejaman tentara Nazi, akhirnya Corrie Ten Boom berkata demikian:

Jika Anda melihat kepada dunia, Anda akan merasa sesak
Jika Anda melihat kedalam diri Anda, Anda akan menjadi tertekan
Tapi jika Anda memandang TUHAN, Anda akan menemukan KELEGAAN

3). Tidak peduli SIAPA YANG DIHADAPI, tetapi SIAPA YANG MENYERTAI
1 Samuel 17:45
Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu.”

Bagi Daud, tidak penting sebesar ataupun sekuat apakah Goliat itu, baginya yang penting bukan siapa yang dihadapi tetapi siapa yang menyertai. Daud yakin jika Tuhan yang menyertai, tidak ada kekuatan apapun yang dapat menandinginya.

Dalam kehidupan ini, kemenangan-kemenangan yang kita alami bukan dihasilkan kerena kehebatan dan keahlian kita, tetapi karena penyertaan Tuhan. Jika Tuhan dipihak kita, tidak ada satu kuasa apapun dapat menghentikan langkah kita.

Alkitab memberikan banyak sekali contoh kemenangan karena penyertaan Tuhan, misalnya:
a. Daud
1 Samuel 18:14
Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia.

b. Yusuf
Kejadian 39:2
Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.

c. Bangsa Yehuda
2 Tawarikh 32:7
“Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia.

d. Orang Percaya
Roma 8:31
Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Goliat apa yang sedang Anda hadapi? Tegakkanlah kepalamu, biarlah tatapan mata kita tetap tertuju kepadaNya dan dengarlah suaraNya. Majulah tepat dipusaran medan pertempuran karena Dia yang menyertai kita lebih hebat, lebih kuat, lebih dahsyat dan lebih berkuasa atas segala-galanya. Majulah dengan gagah berani wahai para pembunuh raksasa karena kemenangan telah ada di tangan kita. Tuhan memberkati. !! KJP

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HATI YANG MENYEMBAH – Oleh : Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 30 September 2018)

Lukas 7:36 – 39 

Pendahuluan
Dikisahkan ada seorang Farisi yang mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Sementara Yesus sedang makan datanglah seorang wanita berdosa membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Kisah ini adalah gambaran sebuah tindakan penyembahan. Penyembahan bukanlah tata cara atau ritual tetapi sikap hati. Wanita ini bukan orang baik, ia dikenal sebagai orang yang berdosa, tetapi sikap hatinya membuat ia berbeda dengan wanita yang lain. Sekalipun ia tidak diundang oleh orang Farisi, tetapi karena mendengar Yesus ada di sana, ia datang untuk menyembahNya. Seorang penyembah tidak mencari kenikmatan pesta dunia, penyembah tertarik kepada hatinya Allah.  Dari kisah ini kita dapat menarik beberapa pelajaran tentang penyembahan.

A. Penyembahan lahir dari pengalaman.
Penyembahan tidak dilahirkan oleh metode, cara, dogma, doktrin, ajaran, sistem, budaya gereja. Penyembahan lahir dari “pengalaman.” Mengapa wanita ini datang menyembah Yesus, sementara yang lain siap untuk makan? Semuanya ini terjadi karena ia memiliki pengalaman dengan Tuhan. Apa yang telah dia alami? Mari kita perhatikan  ayat 37:  Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Di kota itu ia dikenal sebagai perempuan berdosa.

Semua orang ingin terkenal, tetapi kalau terkenal sebagai wanita yang berdosa, siapa yang mau? Tentu ini adalah aib, beban, secara moral dia terhukum. Setiap mata memandangnya dengan tajam dan sinis. Setiap orang menghindari dan menjauh darinya, agar tidak dikenal sebagai teman perempuan berdosa. Tetapi perjumpaannya dengan Yesus, mengubahkan hidupnya. Yesus berbeda dengan yang lain. Yesus tidak menghukum, tidak menuduh dan menuding, Yesus tidak menghakimi sebaliknya Yesus menerimanya dan mengampuninya. PengampunanNya membuat hidupnya diubahkan, penerimaanNya membuat hidupnya diperbaharui. Sekarang ia merdeka, ia bebas, segala beban telah terlepas. Pengalaman inilah yang mendorong dia datang untuk menyembah Tuhan. Lihat ayat  47 sebagai kesimpulan sekaligus penegasan alasan mengapa ia menyembah:  Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Kasih dan pengampunan yang begitu besar, telah membuatnya tidak bisa diam untuk tidak menyembah Tuhan. KasihNya yang tak terbatas telah membawanya menjadi penyembah tanpa batas. Ia memberikan lebih dari semua orang yang dapat memberikan kepada Yesus. Ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya serta menyekanya dengan rambutnya. Ini adalah tindakan seorang penyembah yaitu memberikan dengan limpah.

Jadi seorang penyembah adalah orang yang mengalami Tuhan. Ketiadaan pengalaman dengan Tuhan adalah ketiadaan penyembahan. Keringnya penyembahan kepada Tuhan karena kita kering pengalaman bersama dengan Dia. Mengapa tidak mengalami Tuhan? Karena kita tidak mengenal Tuhan. Kita mungkin tahu tentang Tuhan, tetapi tidak mengenal Tuhan. Mengerti tentang Tuhan membuat kita tahu, tetapi mengalami membuat kita kenal. Contoh seorang penyembah adalah Daud. Ia banyak mengalami Tuhan itulah sebabnya dalam kitab Mazmur, kita menemukan berbagai cara ia mengungkapan penyembahan.

Penyembahan lahir dari pengalaman bukan mengetahuan.
Mari kita bandingkan antara orang lari dan atlet lari. Keduanya sama-sama lari, tetapi tidak semua pelari adalah atlet. Mungkin ada orang yang lari karena dikejar anjing atau lagi mengejar maling, tetapi seorang atlet pasti berlari. Tidak semua nyanyian adalah penyembahan, juga tidak semua orang yang nyanyi adalah penyembah. Tetapi seorang penyembah akan mengungkapkannya dengan nyanyian dan pujian kepada Tuhan. Apa yang membedakan penyembahan? “Pengalaman.”  Seorang bisa bernyanyi karena tahu lagunya, tetapi seorang penyembah menyanyi karena pengalamannya bersama dengan Tuhan. Kiranya setiap pengalaman hidup yang kita alami bersama Tuhan menghantar kita untuk menjadi penyembah Tuhan.

B. Penyembahan adalah persembahan/ pemberian kepada Tuhan.
Ayat 37  “….. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.”

Penyembahan adalah persembahan. Penyembahan bukan apa yang kita terima, tetapi apa yang kita berikan. Apa yang kita persembahkan kepada Tuhan saat datang kepadaNya? Kita gagal menyembah Tuhan kalau kita datang ke gereja hanya untuk mencari berkat atau pertolongan. Penyembah tidak berfikir apa yang ia dapatkan tetapi apa yang dapat ia berikan.

Kepada orang Israel Allah perintahkan agar datang menghadap Tuhan bukan dengan tangan hampa.

Ulangan 16:16, 17
Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.”

Dalam kitab perjanjian baru kita juga diminta untuk mempersembahkan, yaitu:

  • Persembahan ucapan yang memuliakan-Nya
    Ibrani 13:15  Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.
  • Persembahkan tubuhmu
    Roma 12:1  Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

C. Penyembahan adalah ungkapan syukur karena kasihNya.
Ayat 38  Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya.”

Wanita ini menangis bukan karena masalah yang dihadapi, tetapi kekaguman akan kasih Allah yang ia rasakan. Ia sadar siapa dirinya sebenarnya. Ia adalah seorang wanita berdosa. Seharusnya ia mati karena dosanya yang banyak, tetapi karena kasihNya ia dibebaskan dan diampuni. Kasih Allah yang telah dialami membuatnya tidak dapat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dengan kata-kata. Ia hanya dapat mengungkapkannya dengan tetesan air. Air mata yang menetes deras adalah tanda syukur dan terima kasihnya kepada Allah yang telah membebaskannya.

Kita tidak bisa menyembah jika kita sudah kehilangan rasa kagum akan Tuhan. Tanpa kekaguman akan Tuhan semua yang terjadi kita anggap biasa. Saudara, coba ingat 20, 30, 40, atau bahkan 50 th yang lalu apa yang kita miliki? Bagaimana keadaan kita? Dulu, saat kita belum punya apa-apa, belum bisa apa-apa, kita sangat kagum dengan cara Tuhan bekerja, kita kagum dengan pertolonganNya, tetapi sekarang setelah semuanya ada, apakah kita masih memiliki rasa kagum kepada DIA? Kita tidak lagi memiliki rasa kagum dengan Tuhan. Itulah sebabnya kita sukar menyembah Tuhan karena kita kehilangan rasa kagum kepada DIA.

Tuhan mencari penyembah yang kagum akan pribadiNya, perbuatanNya dan kuasaNya.

Mazmur 51:19
Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Penyembahan adalah kekaguman akan Tuhan.
Mengapa kekaguman penting? Sebab saat kita kagum akan Tuhan, kita akan mengatakan tentang sifat dan perbuatan Allah. Inilah yang menyukakan hati Tuhan. Wanita ini sudah tidak bisa lagi menyusun kata-kata, karena kebesaran dan kasih Tuhan yang dialami. Kekagumannya dinyatakan dengan tetesan air mata. Apakah harus menderita dulu baru kita kagum akan Tuhan? Apakah harus mengalami sakit? kecelakan? penderitaan? baru kita kagum akan Tuhan? Jangan tunggu malapetaka datang baru kita kagum akan Tuhan, kagumilah Dia setiap saat karena besar perbuatanNya atas kita. Ingatlah, siapa yang memberi nafas kita? Siapa yang memberi kehidupan? Jadikanlah semua ini alasan untuk mengagumi kasih Allah.

Kekaguman menentukan penghormatan. Kurangnya rasa kagum mengakibatkan menurunnya rasa hormat. Bangsa Israel pernah ditolak oleh Allah karena memberi persembahan tidak dengan rasa hormat.

Maleakhi 1:6 -8
Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!” Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.

Perhatikanlah apa yang dilakukan bangsa Israel. Mereka telah kehilangan rasa kagum kepada Allah akibatnya rasa hormat mereka kepada Tuhan juga menurun. Mereka membawa persembahan kambing/domba yang cacat, buta dan timpang. Tidak lagi memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

Bagaimanakah dengan kita? Masih adakah hati yang kagum akan Tuhan di tempat ini? Saya merasa, kita sudah mulai kehilangan rasa kagum akan Tuhan. Kita lebih tertarik kepada pesta yang diadakan orang Farisi. Semua sudah diganti dengan acara, pertunjukan dan treatikal semata. Kita sedang membuat ibadah kita sebagai drama rohani dihadapan Tuhan. Kita lebih kagum kepada tampilan, khotbah, acara dari pada kagum kepada Tuhan atas perbuatanNya yang telah dikerjakan. Kita lebih sibuk mempersiapkan acara, dari pada mencari pribadiNya. Inilah saatnya kita kembali kepada hatiNya, melakukan apa yang paling diinginiNya yaitu menyembah dengan kekaguman dan penuh hormat. Tuhan memberkati. KJP!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BAIT ALLAH – Oleh Bp. Bunyamin Widjanarko (Ibadah Raya 1 – Minggu, 30 September 2018)

Yesaya  66:1
Begini firman Tuhan :
“Langit adalah tahtaKu dan bumi adalah tumpuan kakiKu. Rumah apakah yang akan kamu dirikan bagiKu dan tempat apakah yang akan menjadi perhentianKu ?”

Allah tidak menganggap langit/bumi sebagai tempat tinggal/tempat kediamanNya. Dia juga tidak menganggap rumah jasmani, bait jasmani yang dibangun bagiNya oleh orang Israel sebagai tempat peristirahatanNya. Dalam Perjanjian Lama, kemah yang dibuat Musa hanyalah merupakan lambang persekutuan Allah dengan umatNya. Begitu pula bait Allah yang direncanakan oleh Daud dan dibangun oleh Salomo.

Namun dalam masa Perjanjian Baru, Allah tidak lagi berdiam dalam bagunan fisik seperti tabut perjanjian atau bait seperti milik raja Salomo. Melainkan Allah berdiam didalam diri setiap orang percaya (Ibrani3 : 6adan2  Kor  6 : 16b). Tempat yang didambakan Allah adalah hati kita, yaitu hati orang yang percaya kepada Yesus. Allah ingin memiliki satu tempat kediaman di alam semesta ini yang adalah pembauran antara Allah dengan manusia, sehingga menjadi satu tempat dimana Allah  dan manusia saling huni satu dengan yang lain (Yohanes 14:20; 1 Yohanes 4 ; 13a; Yohanes 15:4adan Efesus 2:22). Jika Allah berdiam didalam Gereja yaitu hidup orang percaya, maka yang Allah  kehendaki  adalah Gereja  yang  tidak  pasif,  tetapi  mempunyai  responsif  yang  besar  yaitu  memuji  dan  menyembah  Dia (Mazmur 22 : 4).

Alkitab berkata bahwa Allah ternyata  memilih untuk bersemayam  diatas  puji – pujian  umatNya. Dari  sini  kita  dapat  melihat bahwa  Gereja  yang  memuji dan menyembah Tuhan Yesus Kristus adalah hal yang Allah kehendaki. Bahkan di dalam Kitab Mazmur pasal dan ayat terakhir dengan jelas menyatakan perintah Allah untuk memuji Tuhan. Maz. 150:6  “Biarlah segala yang bernafas memuji  Tuhan! Haleluya!”

ARTI KATA
Kata “Mazmur”, dalam terjemahan Ibrani dituliskan MIZMOR artinya nyanyian dengan syair pujian yang dilantunkan oleh para nabi dalam setiap ibadah di Israel. Mazmur 102:19b, bangsa yang  diciptakan nantinya akan memuji – muji Tuhan. Legenda Yahudi mengisahkan, bahwa setelah Allah  melihat segala ciptaannya, sungguh amat baik, maka Ia memanggil semua malaikatNya dan  menanyakan pendapat mereka tentang hasil ciptaannya itu. Setelah mempertimbangkan semua  pekerjaan Allah yang ajaib itu, salah seorang malaikat berkata: “Satu-satunya yang tidak ada hanyalah  suara pujian kepada sang Pencipta”. Oleh sebab itu, Allah menciptakan musik dan musikpun  terdengar dalam bisikan angin, nyanyian burung, bahkan Allah memberikan pada manusia karunia dan kemampuan untuk menciptakan lagu – lagu pujian bagi Sang Raja yaitu Allah sendiri.

Dalam Yesaya  55 : 12b, menunjukan bagaimana bumi dan isinya juga memuji Tuhan:

  • Gunung – gunung serta bukit – bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanMu
  • Dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan
  • Makhluk alampun dapat ditenangkan melalui suara musik

Contohnya, di India ada pawang ular yang dengan musiknya (Magudi) ular dapat tenang bahkan menari. Jadi jika ada diantara kita yang tidak merasa  :
1. Diciptakan untuk memuji Tuhan, Mazmur 102:19b
2. Dia bersemayam diatas pujian umatnya, Mazmur 22:4
3. Diperintah untuk memuji Tuhan, Mazmur 150:6

Tetapi setidak – tidaknya ada 4 alasan kita memuji dan memyembah Tuhan:
a. Keselamatan yang kita peroleh karena percaya kepada Yesus Juru Selamat membuat kita memuji Dia.(1 Tawarikh 16 : 35)
b. Karena belas kasihNya yang kekal (Mazmur 106:1)
c. Karena pujian mempunyai kuasa untuk mengubah keadaan–keadaan yang terburuk menjadi kemenangan bagi Tuhan(Mazmur 59:17– 8). Contoh, Rasul Paulus di penjara  16 : 25 – 34.
d. Karena memuji dan menyembah Allah akan menjadi bagian dari hidup kita kelak di surga (Wahyu 4: ; Mazmur 150:6)

INTROSPEKSI :
Apabila kita mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya, betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi orang–orang Kudus, kita memeriksa diri, siapakah kita  sehingga Tuhan mengingat–ingatnya? Namun Tuhan membuatnya hampir sama seperti Allah, dan  telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

Lalu apa yang harus kita lakukan selain memuji dan memuliakan Tuhan dengan sesembahan  kita?
Keadaan dunia sekarang :

  • Adanya Sodom Gomora abad 21
  • Pembakaran Alkitab secara terbuka di Uganda
  • Perzinahan diijinkan di Afrika Selatan
  • Amerika meresmikan perkawinan sejenis
  • Amerika membuka tempat ibadah untuk setan secara terbuka
  • Canada memungkinkan BESTIALITY (Seks dengan  binatang)
  • Spanyol mengijinkan film porno di sekolah SMU dan Universitas
  • Otorisasi pelacuran dibawah umur

Tentunya Kerajaan Surga sangat menderita dengan hal–hal itu, dan untuk maksud melawan kekuatan besar itu umat Kerajaan harus selalu lakukan pujian dan penyembahan sebagai kekuatan Ilahi yang digunakan Tuhan untuk melawan kekuatan jahat tersebut. Itulah sebabnya Gereja Perjanjian Baru mulai  sekarang  harus dengan giat mengajarkan Pujian dan Penyembahan yang benar menurut Firman Allah.

MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN
Memuji Tuhan adalah pernyataan kita tentang kebaikan Tuhan dan keajaiban Tuhan. Contoh: Keluaran 15:1–21, Nyanyian Musa ketika Musa memimpin umat Israel keluar dari Mesir, mereka  memuji–muji tentang kedasyatan Allah dalam pembebasan Israel tersebut.

Menyembah Allah adalah persekutuan kasih dengan Allah, seperti halnya hubungan kasih antara pria dan wanita. Pada saat kita menyembah, kita menjadi satu dengan Allah, tenggelam dalam kasih setiaNya yang tidak berkesudahan dan kasih yang tiada bandingannya. Pujian mendahului  Penyembahan, hanya dengan pujian yang mempersiapkan kita masuk Ruang Maha Kudus di tengah – tengah awan kemuliaan.

Pelajaran Tentang Jalan  Rajawali  di Udara
Sebelum rajawali terbang tinggi dia akan mengepak– ngepakan sayapnya dahulu  sampai ketinggian 25.000 kaki. Setelah sampai pada ketinggian yang diinginkan, dia akan meluncur dengan anggun. Sungguh pemandangan yang penuh keanggunan. Demikian halnya, pujian itu seperti kepakan sayap Rajawali – apabila dirasa sudah sampai ke Tahta Allah Bapa, di Ruang Maha Kudus, kita akan  berhenti dari segala kegiatan dan beristirahat di dalam Dia (Ibrani 4:10). Seperti Maria yang telah memilih bagian yang terbaik, yang mengisyaratkan penyembahan (Lukas 10:38 – 42). Ini adalah tempat Rahasia yang Maha Tinggi (Mazmur 91:1). Jadi, aplikasi Pujian muncul sebagai akibat dari sukacita keselamatan yang didapati dari Tuhan (Mazmur  51:4 – Hab. 3:18).

Hadirat Allah melalui Roh Kristus datang untuk berdiam didalam orang–orang kristen yang sudah dibasuh oleh darah Kristus (Roma 8:9).Yaitu orang–orang yang tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh. Oleh sebab itu, pujian dan penyembahan merupakan suatu ekspresi yang  mengalir dalam bentuk kata–kata yang berasal dari mata air keselamatan di dalam diri kita (Yesaya 12:3). Jadilah seorang pemuji dan penyembah.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENJADI JEMAAT YANG MENANG – Oleh: Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya 1 dan 2 – Minggu, 23 September 2018)

Matius 3:21

Jika diperhatikan dalam kitab Wahyu, Yesus memberikan nasihat yang sama kepada ketujuh jemaat yaitu dengan kalimat “barang siapa menang.” Jadi Yesus menuntut agar ketujuh jemaat harus menang. Tetapi menang dari seperti apa? Karena jemaat di kitab Wahyu memiliki spesifikasi yang kurang. Secara umum, kita memiliki kekurangan yang berbeda dan harus mengatasi setiap kelemahan tersebut. Dan jemaat Laodikia paling banyak kekurangnnya (ay. 17,18).

Lima Kelemahan Jemaat Laodikia :

  • Kemelaratan Rohani
  • Kemalangan Rohani
  • Kemiskinan Rohani
  • Kebutaan Rohani
  • Ketelanjangan Rohani  dan Kebutaan Rohani

Meskipun jemaat Laodikia kaya raya karena penghasilan yang sangat menunjang dari penjualan kain wol dan strategisnya wilayah Laodikia, namun secara rohani jemaat Laodikia memiliki lima kelemahan. Dan jemaat Laodikia harus mengatasi kelima masalah tersebut dan satu hal yang harus jemaat Laodikia atasi adalah masalah kebutaan rohani.

KEBUTAAN ROHANI
Secara fisik setiap orang memelihara kesehatan matanya. Tetapi tidak ada yang dapat mengetahui kebutaan rohani setiap orang dan ini kebutaan yang fatal. Dalam Mazmur 119:18 menerangkan bahwa pemazmur terhalang matanya, sehingga tidak dapat melihat keajaiban-keajaiban Taurat. Mata yang terhalang akan membuat seseorang kehilangan penglihatan tentang keajaiban firman Allah. Sekecil apapun penghalang akan sangat berpengaruh, contohnya seperti uang koin yang diletakkan di depan mata lalu dihadapkan ke matahari, itu akan menutup matahari yang besar. Sekecil apapun penghalang yang menutupi mata rohani seseorang, akan menutup banyak keajaiban firman Allah.

PENYEBAB KEBUTAAN ROHANI
Ada beberapa penyebab yang membuat kita tidak melihat kemuliaan Allah yaitu:
1. KETAKUTAN (2 raja-raja 6:8-23)
Dalam kisah tersebut dituliskan bahwa kerajaan utara sedang terjadi konflik dengan Aram dan setiap kali Aram menyerang pasti gagal sebab rencana mereka sudah diketahui oleh orang Israel karena ada Nabi Elisa. Itu sebabnya orang Aram datang menangkap Elisa. Ayat 15 – saat hamba Elisa melihat pasukan Aram, ia ketakutan tetapi Elisa tidak takut, sebab matanya terbuka. Itu sebabnya dalam ayat 17 – Elisa berdoa agar mata bujangnya terbuka, sehingga melihat tentara Allah menyertai mereka. Sebab Elisa melihat Allah menyertai dan membelanya.

Terkadang kita sebagai orang percaya memiliki pandangan seperti bujang Elisa yang lebih fokus pada penghalang. Padahal firman Allah katakan bahwa orang percaya ada dalam genggaman tangan Allah – Yohanes 10:37-29. Oleh sebab itu, jangan sampai ketakutan membuat kita tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan seperti yang terjadi di Israel.

2. IMAN YANG TIDAK MURNI (Matius 14:22-23)
Sebagai orang percaya jangan sampai memiliki iman yang tidak murni, yang masih berpegang pada hal-hal diluar kristus. Dalam Matius 14:22-33, khusunya di ayat 25, menuliskan bahwa murid-murid Yesus mengalami badai angin. Faktanya, murid-murid terkejut dan berteriak-teriak karena berpegang kepada ajaran nenek-nenek tua atau takhayul (1 Timotius 4:7). Konon katanya jika ada sesuatu yang aneh di laut saat badai, mereka akan celaka. Itu sebabnya murid-murid berteriak karena takut akan mati. Sampai Tuhan Yesus mengatakan agar murid tenang dan jangan takut karena ada Yesus. Angin pusaran itu disebabkan karena angin yang bertiup dari utara ke selatan dicela-cela bukit. Jangan sampai mata terhalang karena berpegang pada ajaran nenek moyang. Solusinya, jika yang bukan dari firman Allah, harus dibuang bukan diwariskan kepada keturunan selanjutnya.

3. PERASAAN KECEWA (Lukas 24:13-16)
Satu kali dalam perjalanan ke Emaus kedua murid Yesus bercakap-cakap tentang peristiwa yang terjadi di Yerusalem dan dalam perjalanan mereka berjumpa Yesus, namun mereka tidak sadar akan kehadiran Yesus karena perasaan kecewa. Ayat 20, 21- kekecewaan mereka membuat mereka tidak melihat Yesus. Tetapi syukur kedua murid tersebut mendesak Yesus untuk singgah ke rumah mereka dan makan sehidangan dengan mereka sehingga mereka dipulihkan. Kekecewaan membuat kita semakin tidak melihat kemuliaan Tuhan. Solusinya: terima pribadi Tuhan Yesus dan Tuhan akan pulihkan. Sebab Yesus sudah memberikan diriNya, apa lagi yang kita butuhkan. Jadi untuk apa kecewa.

4. MELECEHKAN FIRMAN ALLAH (2 Raja-raja 6:24 – 7:20)
Kisah ini merupakan kelanjutan di poin pertama, yaitu kasus dengan Aram. Saat itu Israel bukan lagi dikepung tempat tinggal nabi Elisa melainkan ibu kota Israel yaitu Samaria. Orang Israel mengalami kelaparan. 2 Raja 7:1, seorang tentara penjaga pintu gerbang, saat mendengar ucapan nubuatan Elisa, tidak percaya dan membantah serta mengomentari ucapan Elisa. Alhasil ia mati diinjak-injak di pintu gerbang. Firman Tuhan selalu terjadi. Oleh sebab itu jangan remehkan firman Tuhan agar kita tidak binasa.

JANJI TUHAN
Dalam Alkitab (Firman Tuhan) terdapat 37.000 Janji Allah, meliputi janji agar jangan takut, janji keselamatan, janji berkat, dan pertolongan. Untuk dapat mengalami janji tersebut, Kita tidak hanya sekedar membaca dan mendengar janji Tuhan. Kita harus percaya dan nikmati, mengalami, merasakan semua yang Tuhan janjikan kepada kita. Amin…!!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEBAIKAN TUHAN – Oleh: Pdt. Brodland – USA (Ibadah Raya 2 dan 3 – Minggu, 16 September 2018)

Dalam Ulangan 2:36, menuliskan tentang sejarah kerajaan Israel yaitu tentang perjuangan mereka dan tidak ada yang terlalu kuat untuk melawan Israel karena Allah menyertai mereka. Itu terjadi di zaman perjanjian lama, sedang dalam perjanjian baru di 2 Korintus 2:14, setiap orang percaya ada dalam jalan kebenaran oleh karena Kristus. Dalam perjanjian lama mereka menang dalam segala kota, sedang dalam perjanjian baru, Tuhan Yesus terus membawa kemenangan bagi setiap orang percaya dan ini adalah jaminan yang luar biasa dalam Yesus.

Lima senjata kemenangan, yaitu:

  • Ucapan Syukur
    Dalam 2 Tawarikh 20:12 – Israel tidak memiliki jalan keluar kerena musuh terlalu besar dan membuat mereka panik. Tetapi meskipun musuh menghadang mereka, ada janji yang luar biasa dari Tuhan agar mereka tenang. Tuhan memberikan strategi untuk melawan musuh mereka, yaitu dengan mengambil suku Yehuda agar memuji Tuhan. Jadi mereka bukan berperang secara fisik dengan pedang, melainkan dengan puji-pujian sehingga semua musuh dikalahkan oleh karena pujian dan penyembahan. Ada kesukaan dan kegirangan, tetapi pihak musuh tidak dapat melawan pujian dan penyembahan yang dinaikkan oleh Yehuda sehingga bangsa Irael menang. Secara akal tidak mungkin menang karena pujian, tetapi firman Allah sudah sampaikan bahwa ada kemenangan dalam Tuhan. Pujian dan penyembahan sudah ada didalam diri setiap orang percaya.  Mazmur 35:10, pemazmur menuliskan “siapakah sama seperti Tuhan?.. bahwa Tuhan sanggup melepaskan dari musuh yang lebih kuat. Tantangan seperti apa yang kita hadapi saat sekarang ini? Apakah soal keuangan, kesehatan atau keluarga? Tetap berpegangan pada firman Tuhan, bahwa tidak ada yang mutahil bagi Tuhan yang sanggup memberi kemenangan.
  • Senjata Penyertaan Tuhan Bagi Gereja
    Dalam Markus 5, ada seorang yang kerasukan setan. Di ayat 5 dijelaskan bahwa tidak ada yang sanggup melepaskan orang yang kerasukan setan itu. Tetapi saat berjumpa dengan Yesus, ia sembuh – Markus 5:15. Didalam Yesus tidak ada benteng yang terlalu kuat bagi Allah yang memimpin dalam jalan kemenangan-Nya. Inilah Tuhan, Ia begitu baik bagi kita.
  • Undang Yesus Sehingga Kita Menang Dan Dipulihkan
    Dalam Kisah para rasul 27:34-35 – Rasul paulus memberikan harapan pada mereka yang akan binasa karena badai. Paulus percaya bahwa firman Tuhan pasti terjadi. Itu sebabnya Rasul Paulus memberikan kekuatan kepada orang-orang di kapal agar tenang dan memberikan firman Tuhan. Paulus menerima firman Allah, sehingga saat badai dan gelombang ia tetap kuat. Dalam keadaan mustahil, saat Tuhan Yesus hadir, semua akan selamat. Biarlah kita menerima firman Tuhan dan pegang firman Tuhan saat menghadapi badai, sehingga kita tetap kuat. Yohanes 6:64 – Hanya firman Tuhan yang memberikan kehidupan. Tuhan satu-satunya yang memberikan jalan keluar dan kekuatan.
  • Bangun Iman dan Dengarkan Firman Tuhan
    Dalam 2 Samuel 5:6,7, Daud diejek dan diremehkan bahwa Daud tidak mungkin menang. Sebab pertahanan mereka kuat, dan katakan orang cacat yang akan mengalahkan kalian. Tetapi yang terjadi adalah Daud menang (Ayat 9-10). Jangan bersandar pada kekuatan sendiri, melainkan kepada Tuhan karena tidak ada satu benteng yang kuat, untuk sanggup melawan.

KESIMPULAN
Yesaya 59:1, Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. Biarlah kita bersandar pada firman Tuhan, yang selalu membawa kepada kemenangan. Pegang ayat ini, dalam menjalani hidup ada kemenangan dalam Yesus. Sebab itu kalahkan masalah dengan puji-pujian kepada Allah.

Posted in Uncategorized | Leave a comment