LISTEN – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 3 – Minggu, 10 Februari 2019)

Berapa banyak hal yang kita dengar sampai dengan sekarang? Banyak sekali, bukan? Dari hal yang penting sampai dengan hal yang tidak penting. Tidak semua yang masuk kemudian kita olah jadi informasi yang penting. Sehingga mendengar pun sebenarnya adalah bagian dari pilihan.

Menarik sekali beberapa waktu lalu saya melayani bersama dengan seorang hamba Tuhan muda namanya Christian Effendi. Dia mengambil ilustrasi betapa Allah adalah yang mengambil insiatif untuk berbicara kepada kita. Kalaupun ada halangan untuk kita mendengar, IA akan mencari cara supaya suaraNYA terdengar. Tetapi kalau kemudian kita mengambil pilihan untuk tidak mau mendengar, pada akhirnya IA akan membiarkan kita menerima konsekuensi dari tidak mendengar suaraNYA. Ulangan 28:1, 15.

I. Mendengar Panggilan Pribadi
Biar saya mulai hal ini dengan menegaskan satu hal, bahwa secara organisasi saya bukan pendeta. Hanya karena ada nama “Minandar” bukan berarti saya berhak mengambil jalan pintas. Banyak orang yang memanggil saya pendeta atau pastor, tetapi saya sekali lagi secara organisasi bukan. Saya hanya menjalankan fungsi kependetaan karena saya adalah anggota tim pastoral di gereja lokal di Tegal. Saya sampaikan ini untuk mengingatkan saya dan mengingatkan Anda, there is no shortcut, semua harus ada prosesnya.

Sedikit mengenai kesaksian panggilan saya, sebelum saya membahas mengenai sub-topik: “Panggilan Pribadi”.

“Dimana hartamu berada disitu hatimu berada.” Perkataan Yesus di Matius 6:21 ini tentu sudah sering kita dengar, dan menjadi hafalan. Menghafal itu bagus, namun masalahnya jika hafalan itu hanya berhenti disitu. Seharusnya ini menjadi nilai yang kuat dalam setiap hamba Tuhan dan pelayan Tuhan. Karena hafalan menunjukkan kekuatan pikiran kita, namun nilai menunjukkan kekuatan pribadi kita.

Firman Tuhan sebagai sistem nilai yang Yesus sendiri hidupi (karena DIA adalah Firman itu) mengajarkan mengenai pentingnya hati yang kuat dan teguh. Sesaat sebelum menyeberang sungai Yordan, Tuhan sampai mengulang-ulang hal ini kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Tentu saja ini membutuhkan kerjasama dari pihak manusia  Seberapa ingin Anda untuk berubah dan berbuah. Panggilan untuk berbuah adalah suatu keharusan. Allah mengasihi Anda, Allah memberkati Anda, Allah menyelamatkan kita, supaya kita berbuah. DIA melimpahkan kasih karuniaNYA bukan untuk sesuatu yang sia-sia. DIA ingin ada buah yang kita hasilkan. Contoh yang paling jelas kita bisa temukan dalam perumpamaan tentang talenta. Meskipun kita juga sudah sangat sering mendengar ini, namun kisah ini selalu menarik untuk dibahas.

Matius 25:14-30
Apa yang diberikan Tuan itu kepada hamba-hambanya? Talenta. Ini menarik,  karena kalau kita tidak mengerti nilai talenta maka kuantitas talenta yang diberikan kurang menarik dan tidak mewah. Hanya 1, 2 dan 5. Namun ketika kita tahu nilai sebuah talenta itu adalah upah 6000 hari kerja (di jaman itu) maka kita akan mengerti betapa satu talenta saja sudah sangat berharga!

Sekarang apakah mereka melakukan sesuatu yang hebat untuk mendapat talenta itu? Tidak, Tuan itu hanya menyerahkan (mengaruniakan) talenta-talenta itu “masing-masing menurut kesanggupannya” (ayat 15). Tuan itu tahu kemampuan pengelolaan masing-masing hambanya, namun bukankah itu tidak mempengaruhi nilai berharga dari talenta itu? Lima gram emas tidak kemudian menjadi logam “kurang mulia”  hanya karena dia diletakkan disebelah 1 kilogram emas!

Jadi siapapun kita apapun latar belakang kita dan berapapun orang lain menilai kita. Sesungguhnya kita memiliki talenta yang sungguh sangat berharga. Apakah 1, 2 atau 5 bukan itu yang menjadi perhatian utama, melainkan berapa banyak talenta itu berbuah.

Ada satu lagi perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita, yaitu perumpamaan “sesuatu yang hilang”. Lukas 15:1-32. Didalam perumpamaan ini terdapat 3 hal yang hilang.
1. Domba yang hilang.
Karakter seekor domba adalah makhluk yang perlu pertolongan dan bimbingan. Domba adalah makhluk yang tidak dapat mempertahankan dirinya dan memiliki daya pandang yang terbatas. Sehingga domba sering diidentikkan dengan binatang yang lemah. Keristenan pun sebenarnya ada yang tingkatannya seperti ini.

2. Dirham yang hilang.
Disini sudah melibatkan kedewasaan dan komitmen. Karena biasanya dirham yang paling berharga adalah milik seorang wanita Israel yang bertunangan.

3. Anak yang hilang.
Inilah kasih di tingkat yang tertinggi. Unconditional Love of The Father.
Lalu apa yang bisa dipelajari dari ketiga kisah ini, dan hubungannya dengan mendengar panggilan Allah? Pasal ke-15 dari Lukas diawali dengan ayat yang berkata:

“Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:…”

Pertanyaan ini yang kemudian penting poin yang pertama mengenai mendengar panggilan pribadi ini. Apakah kita memiliki hati dan beban bagi jiwa-jiwa yang terhilang, terutama bagi kaum / bangsa / kelompok yang tak terjangkau? Mereka yang tidak diterima dan yang berdosa? Apakah saudara terpanggil untuk jiwa-jiwa yang terhilang dan dalam jalan menuju maut, atau Anda ingin menjadikannya hanya sekedar tugas?

Hati Yesus penuh dengan belas kasihan hal ini jelas terlihat dalam mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus: memberi makan 5000 orang, membangkitkan anak seorang janda di Nain, juga membangkitkan Lazarus, menyembuhkan orang buta dan orang kusta. Panggilan pribadi kita adalah ketika kita memiliki hati untuk melakukan hal tersebut.

II. Mendengar dan Mengembangkan Komitmen
Komitmen adalah suatu hal yang penting dan mahal. Komitmen adalah keputusan yang penuh integritas. Komitmen adalah janji kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu secara terus menerus, untuk jangka waktu tertentu. Sebenarnya ini adalah cara kita juga mengembangkan karakter.

Karakter datang dari habit atau kebiasaan. Kepribadian adalah keseluruhan dirimu, sedangkan karakter adalah bagian dari kepribadian yang dilihat orang dalam kecenderungan bersikap. Karisma membawa engkau naik ke atas, namun karakter yang mempertahankan engkau tetap di atas.

Orang-orang yang mendengar dengan baik, ia kemudian berkomitmen. Maksudnya orang-orang ini berfokus kepada apa yang penting, apa yang menjadi prioritas bagi dirinya dari apa yang didengarnya.

Yesus adalah orang yang memiliki komitmen tinggi kepada apa yang penting dan menjadi prioritas. Ketika orang banyak ingin memaksa DIA untuk menjadi raja (Yohanes 6:15) Yesus memilih untuk menyingkir, demikian juga ketika Yesus harus naik ke Sorga supaya Roh Kudus turun (Yohanes 16:7). Komitmen bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mengenakkan. Kita tahu banyak masalah sosial saat ini adalah karena orang kehilangan komitmen untuk melakukan sesuatu.

Contohnya saja partai politik, politisi, dan pejabat Negara yang terpilih lewat pemilihan masal. Karena apa yang mereka ucapkan tidak benar-benar mereka lakoni, maka tingkat penyelewengan anggaran, korupsi, dan kerugian Negara terus terjadi oleh ulah orang-orang tanpa komitmen ini. Mereka dengan mudah berpindah haluan kepada yang berkuasa. Bukan saja di tingkat Negara. Kalau sekarang kita lihat unit terkecil dalam masyarakat adalah keluarga. Berapa banyak keluarga yang hancur karena anggota keluarga yang tidak berkomitmen untuk keutuhan suatu keluarga.

Saya selalu percaya bahwa dalam tiap hubungan, apapun itu diperlukan tiga sisi yang saling bertemu dan tidak terpisahkan. Tiga sisi itu adalah:

  1. Passion (Gairah)
  2. Affection (Rasa sayang / kedekatan)
  3. Commitment (Komitmen / janji / ikatan)

Apakah itu dalam rumah tangga di rumah, rumah tangga di gereja, dan rumah tangga Negara, ketiga sisi itu menjadi penting. Tahukah saudara apa yang membuatnya tetap utuh? Komitmen! Sekedar mendengar tidak cukup, Anda harus mulai membangun komitmen atas apa yang Anda pilih untuk dengar.

Setelah kita yakin akan panggilan pribadi kita, ada belas kasihan yang timbul, ada gairah yang besar melihat ladang tuaian yang sangat besar. Selanjutnya lengkapi itu dengan komitmen seumur hidup untuk berdoa bagi para misionaris dan jiwa-jiwa yang terhilang. Doa orang benar, jika benar didoakan besar kuasanya. Mendengar adalah bagian dari doa sebenarnya.

Yesus berkata tentang DOA:
Matius 26:41 Berjaga dan berdoa, roh penurut namun daging lemah.

Seringkali pikiranlah yang membuat kita lemah. Sepanjang Alkitab dikisahkan mengenai Saul dengan pikirannya pada Daud, Elia dan pikirannya pada Izebel, Petrus dan pikirannya pada gelombang. Dengarkan DIA yang berbicara di hatimu.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

ROH, JIWA DAN TUBUH MANUSIA – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 10 Feb 2019)

Sebagai orang percaya kita perlu mengetahui fungsi dari ketiga hal ini, dan secara khusus kita akan lebih menyoroti dan memahami tujuan dan fungsi dari roh yang diberikan Allah kepada setiap manusia.

  • 1 TESALONIKA 5:23, Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Allah menguduskan kita secara sempurna; roh, jiwa dan tubuh kita. Namun bukan berarti kita sudah sempurna. Kita masih dalam proses menuju ke arah sana. Tubuh kita menuju kemampuan terbaiknya yaitu memiliki penguasaan diri. Jiwa kita menuju kepada kedewasaan, baik dalam cara berpikir, berasa dan bertindak. Roh manusia kita semakin hari semakin kuat untuk dapat kekuatan Ilahi melakukan kehendak Allah.

TUBUH, JIWA DAN ROH MANUSIA
Hanya sedikit orang Kristen yang memahami pengertian fungsional dari ROH, JIWA dan TUBUH manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kebanyakan orang percaya memahami bahwa mereka hanya terdiri dari tubuh dan jiwa saja. Mereka merancukan antara jiwa dan roh sebagai suatu hal yang sama. Dalam kehidupan sehari-hari hanya mengakui bagian fisik dan emosional/ kejiwaan saja.

TUBUH MANUSIA
Bagian fisik yang dapat di lihat, yang berhubungan dengan lingkungan materi yang ada di sekeliling kita. Terdiri dari lima panca indra yaitu: Pengilihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba.

JIWA MANUSIA
Jiwa kita terdiri dari Pikiran, Perasaan (Emosi) dan Kehendak (Keinginan). Sebuah kesadaran tentang diri sendiri. Gabungan dari ketiga proses itu jadilah proses pembentukan mental kita yang selanjutnya menjadi Kepribadian kita. Contoh: Apakah mentalnya kuat ketika menghadapi tantangan? Orang mengenal kepribadian kita melalui mental kita.

MENYENTUH DENGAN TUBUH DAN DENGAN JIWA
Hampir setiap hari manusia berelasi dengan hal-hal materi dan jiwa. Mudah sekali mengenali bahwa kita sedang berelasi secara fisik. Contohnya dengan menyentuh pundak seseorang, orang tersebut segera berespon terhadap sentuhan kita. Begitu juga dengan jiwa. Kita dapat merasakan jiwa seseorang ketika ia berkata-kata secara khusus tentang apa yang menjadi maksud dan tujuannya dalam melakukan sebuah tindakan. Kita bahkan dapat disakiti dan dilukai olehnya tanpa orang tersebut menyentuh fisik kita.

CEK KESEHATAN TUBUH DAN CEK KESEHATAN JIWA
Sama seperti jika kita ingin mengetahui kondisi dan keadaan tubuh fisik kita sedang sakit atau tidak ketika tubuh kita suhu tubuhnya mulai naik. Kita dapat segera pergi ke dokter untuk mengeceknya.  Demikian juga dengan jiwa kita; untuk mengecek kesehatan jiwa, kita dapat pergi ke seorang  konselor untuk menanyakan kondisi jiwa kita. Namun bagaimana jika kita ingin mengecek kesehatan roh kita? Kemana kita pergi? ROH MANUSIA???

  • Yoh 3:6  Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 

Sangat jelas perbedaan antara daging (tubuh jiwa) dan roh. Kita tidak dapat mengenal dan memahami roh dengan memakai daging, jiwa apalagi tubuh kita? Itu sebabnya banyak kali mengapa seringkali perkara-perkara rohani sulit untuk dipahami dan dimengerti.

  • 1 Korintus 2:14-15,Tetapi manusia duniawi (Tubuh dan Jiwa) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
  • 1Korintus 2:15  Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu (bukan penilaian hasil dari pemikiran – tetapi dari keinginan roh yang diilhami oleh Roh Kudus) , tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain (karena tidak dimengerti org lain)
  • 1Korintus 2:9  Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”
  • Catatan: Hati adalah pintu masuk kepada roh kita. Apa yang mempengaruhi hati kita akan mempengaruhi roh kita. Hati kita lemah, roh kita juga akan lemah.

BAGAIMANA MEMBUKA ALAM ROH???
Karena roh kita tidak bisa dilihat dan dirasakan, salah satu jalan masuk kita adalah melalui: FIRMAN TUHAN. Sebab Firman itu adalah roh dan hidup yang akan memantulkan keadaan kita yang sebenarnya seperti cermin. Ketika melihat Alkitab, kita melihat diri kita yang sesungguhnya melalui roh kita.

  • Yohanes 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
  • Yakobus 1:23-25  “Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.  Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”

Firman Tuhan adalah Cermin diri kita

  • Ketika melihat wajah dalam cermin sebenarnya kita tidak melihat diri kita yang sesungguhnya. Lebih tepatnya kita melihat pantulan atau refleksi diri kita. Meskipun hanya refleksi, pantulan, Gambaran, ANDA HARUS BELAJAR MEMPERCAYAI. Kita tidak dapat mengandalkan perasaan untuk mengetahui bagaimana diri kita, LIHATLAH CERMIN DAN BELAJARLAH MEMPERCAYAINYA. Penghalang utama untuk Firman Tuhan masuk kedalam roh kita adalah Hati yang tidak percaya. Pintu hati orang yang tidak percaya selalu tertutup rapat untuk Firman dan Roh Allah bekerja dalam rohnya.

Sebuah Contoh Jemaat Laodekia. Mereka tidak menyadari keberadaan mereka yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Tuhan dalam Firman-Nya. Selama ini mereka beribadah tetapi tidak bercermin kepada Firman. Mereka berkata bahwa mereka kaya dan telah memperkayakan diri dan aku tidak kekurangan apa-apa. Tuhan menegur ketidak-tahuan mereka dan mengingatkan bahwa mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang, Wahyu 3:17

  • Wahyu 3:18-19  “maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

LAHIR BARU
Kendala yang terbesar untuk dapat jalan masuk kedalam roh manusia Anda adalah Kelahiran Baru? Apakah Anda sudah mengalami Kelahiran Baru? Kelahiran Barulah yang menghidupkan roh kita. Roh kita dilahirkan melalui air dan Roh yaitu Firman Tuhan dan Roh Kudus. Saat itulah roh kita baru dapat berespon terhadap Firman Tuhan untuk mempercayai bahwa setiap Firman yang didengar layak dipercayai.

  • Yoh 3:3,5  Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Kelahiran baru yang memproses hidup kita menjadi Ciptaan Baru, yang lama sudah berlalu dan ssesungguhnya yang baru sudah datang, 2 Korintus 5:17. Yang baru bukan fisik kita, bukan pula jiwa, melainkan roh kita. Sehingga ketika roh kita bertemu dengan Firman Tuhan, semakin jelas kita dapat melihat dan mengenal diri kita yang sesungguhnya.

  • 1 Kor 2:11  Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.

Teruslah belajar percaya kepada Firman Tuhan. Pintu hati kita terbuka kepada Firman Tuhan dan Roh Kudus bekerja dan berkarya di dalam roh kita. Amin!!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERINGATAN KE-4 “HATI-HATI DENGAN DOSA YANG DISENGAJA” – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 3 Februari 2019)

Ibrani 10:26-27

PENDAHULUAN
Dalam Roma 11:22a menuliskan “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya…” Dari surat Ibrani dan surat Roma, kita akan menemukan sifat Allah, bahwa disatu sisi Yesus adalah Allah yang baik, penuh kasih, lemah lembut, sabar dan penuh dengan pengampunan. Waktu kita bersalah, Yesus bersedia mengampuni kita seperti apapun bentuk kesalahan dan dosa kita. Tetapi di sisi lain, Tuhan Yesus adalah Hakim yang memvonis (menjatuhkan hukuman) kepada yang dianggap bersalah – Keluaran 34:6 dan 7.

SIFAT DASAR ALLAH
Pada umunya kita mengerti bahwa ketegasan Yesus, dalam menjalankan peran-Nya sebagai hakim yang tegas dan tidak kenal kompromi, adalah  sifat  dasar dari Allah kita. Dan, kepada siapa Yesus, Hakim yang adil itu akan menyatakan kekerasan-Nya?

1. SENGAJA MENGERASKAN HATI
Sebagai hakim, tanpa kompromi, Yesus akan tunjukkan sikap-Nya kepada mereka yang menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan beri. Menyia-nyiakan pengampunan, dengan tidak mau bertobat. Contoh orang yang menyia-nyiakan pengampunan adalah:

  • SAUL
    Menurut 1 Samuel 13:1,2, dua tahun setelah dilantik, Saul lakukan pelanggaran yang membuat Allah kecewa, 1 Samuel 15:11. Akhirnya, Allah jatuhkan vonis, Allah putuskan hubungan dengan Saul, sehingga Saul tidak punya akses dan tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Allah. Saul binasa dengan cara yang sangat tragis,yaitu dengan bunuh diri.
  • ESAU (KEJADIAN 25:32)
    Esau memandang rendah hak kesulungan. Hak kesulungan adalah gambaran tentang keselamatan. Jadi Hak Kesulungan Esau tukar dengan semangkuk kacang merah. Setelah sadar pentingnya hak kesulungan, Kejadian 27:24-28, Esau mencari dan meminta dengan meraung-raung agar hak kesulungan itu bisa ia dapatkan. Namun, semuanya telah terlambat, air mata dan penyesalan Esau tidak ada gunanya lagi. Kacang merah gambaran harta dunia yang dapat menjadi tipuan bagi manusia sehingga manusia memilih tidak datang pada Yesus lalu binasa.

2. SENGAJA MENGHINA YESUS
Banyak orang menolak Yesus karena tidak mengenal Yesus. Tetapi Tuhan berikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Lalu, dengan cara apa dan siapa yang memiliki potensi untuk jadi penghina Yesus?
1. Orang Yang Tidak Percaya
Karena mereka tidak kenal Yesus, mereka dengan sengaja menghina dan menolak Yesus. Tetapi, dengan penuh kasih sayang dan panjang sabar, Yesus tunggu sampai mereka bertobat. Kalau masa kemurahan Tuhan itu berakhir baik secara pribadi atau secara umum Yesus akan tunjukkan kekerasan-Nya kepada mereka.
2. Orang Yang Telah Percaya
Orang yang percaya pada Yesus pun dapat menghina Yesus. Dalam Ibrani 10:28-29, Allah tunjukkan kekerasan-Nya kepada orang yang percaya Yesus, tetapi dengan sengaja menghina dan menyangkal Yesus di muka umum, maka tidak ada ampun lagi. Dalam Ibrani 10 juga terdapat perbandingan antara hukum Taurat dan hukum Kasih Karunia.

Pada masa Hukum Taurat, bangsa Israel dengan susah payah melakukan 569 aturan Taurat sehari-hari. Kalau hukum itu diabaikan, disia-siakan atau dihina, orang tersebut langsung dijatuhi hukuman mati, tanpa ampun. Tetapi Hukum Kasih Karunia, yaitu hukum yang Yesus diberikan kepada kita tanpa syarat apapun. Modal kita, hanya buka hati dan dengan iman kita, kita terima Yesus di hati kita maka kita diselamatkan, Yohanes 3:16, Roma 10:9-10.

Tetapi, jikalau kita sudah terima Yesus dan terima kepastian keselamatan dan dengan sengaja membuang, menyia-nyiakan dan menghina Yesus di muka umum, hukuman yang akan kita terima lebih berat dibanding dengan orang yang sekarang dengan terang-terangan menghina Yesus. Sebab kemuliaan Sorga tidak sama rata, demikian juga dengan neraka, Matius 23:15.

SENGAJA MENGHINA YESUS
Apakah kriteria berdosa dengan cara menghina Yesus dengan sengaja? Ingat kisah Yudas dan Petrus? Sekilas, Yudas dan Petrus sama-sama menyangkal Yesus. Tetapi mari kita perhatikan lebih dalam perbedaan kedua tokoh tersebut ketika mereka sadar bahwa mereka telah menyangkal Yesus.

RASUL PETRUS
Sesungguhnya tidak ada keinginan atau rencana dalam diri Petrus untuk menyangkal Yesus. Sebaliknya, Petrus bertekad untuk menjadi “Pengikut Yesus Yang Sejati” Matius 26:35. Saat Yesus diadili, murid-murid lain lari, tapi Petrus hadir di tempat di mana Yesus diadili. Dalam Matius 26:69-75, tidak ada satu ayat yang mengatakan Petrus berniat untuk menyangkal Yesus. Jadi, Petrus berdosa menyangkal Yesus bukan karena ia rencanakan. Petrus berdosa menyangkal Yesus karena iman Petrus yang masih lemah dan Petrus takut. Petrus belum siap untuk menjadi martir (mati syahid karena mempertahankan iman). Pada saat murid-murid Yesus belum mencapai kedewasaan iman (belum matang), maka dengan kasih sayang dan belas kasihan Allah berkemurahan memberi kita fasilitas: 1 Yohanes 1:7-9. Berbeda dengan Yudas Iskariot.

YUDAS ISKARIOT
Yudas menyangkal Yesus dilakukan dengan rencana yang matang, strategis dan terinci. Yudas cinta akan uang, 1 Timotius 6:10. Dan Yudas tidak punya keinginan untuk bertobat dan menjadi “Pengikut Yesus Yang Sejati”.  Yudas pelihara dosa dan kebiasaan buruk, yaitu tidak jujur dan suka mencuri, Yohanes 12:6. Ia merancang cara untuk dapat uang banyak dengan menjual jasa kepada imam kepala dengan upah 30 keping, sehingga mereka punya hak untuk mendakwa Yesus, Matius 26:14-16. Dengan sadar Yudas menyia-nyiakan kesempatan yang Yesus berikan kepadanya untuk bertobat. Yohanes 13:30, Yesus beri Yudas roti perjamuan (korban keselamatan) kalau Yudas menerima dan bertobat. Tetapi, Yudas tidak makan roti itu, sebaliknya meninggalkan Yesus dengan sebelas murid lainnya, mungkin  sambil  pergi  Yudas mencampakkan roti itu dan berkata:apa gunanya ini!.

Sesungguhnya sikap  yang dilakukan Yudas, adalah gambaran dari orang Kristen yang murtad. Dalam Ibrani 10:37,38  – untuk menjadi pengikut Yesus yang sejati yang bertahan sampai akhir,  bukan hal yang mudah, apa lagi dengan kondisi dunia yang semakin hancur. Itu sebabnya dalam Ibrani 6:4-6 firman Allah mengingatkan bahwa perlu untuk kita bertahan sampai akhir sebab tidak mungkin dibaharui sekali lagi untuk orang yang sudah meninggalkan Tuhan.

Jika kekristenan kita tidak bertumbuh maka kita akan seperti Petrus, yang jatuh bangun maka lama kelamaan akan binasa. Sebab itu bangun rohani kita, sebab Matius 24:12,13 keadaan dunia semakin merosot dan kasih akan semakin dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai akhirnya akan selamat.

Kita harus memiliki daya tahan apapun yang terjadi. Untuk berdaya tahan menurut Yesaya 40:30,31 – kita harus menanti-nantikan Tuhan. Dalam bahasa Ibrani: QAVA dan dalam bahasa Inggris  “to bind together by twisting” (menjadikan satu dengan cara memintal/melilit jadi satu). Seperti – tiga utas tali yang dililit jadi tambang yang kuat. Kita lemah, mari kita lilitkan diri kita pada pribadi Yesus yang kuat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

IMAN DAN PERBUATAN PENGIKUT YESUS YANG SEJATI – Oleh: Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 27 Januari 2019)

AMSAL 11:1

PENDAHULUAN
Minggu ini kita tidak melanjutkan pembahasan di minggu lalu, tetapi akan dibahas pada minggu mendatang. Dan khotbah minggu ini menjembatani kita untuk melanjutkan khotbah minggu lalu. Bahwa untuk menjadi “Pengikut Yesus Yang Sejati”, kita harus praktekkan Iman dan Perbuatan dalam kehidupan kita, sebab ada orang Kristen yang belum benar-benar memahami tentang iman dan perbuatan.

KESELAMATAN
Berbicara tentang keselamatan, Efesus 2:8,9 menjelaskan bahwa oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usaha, tetapi pemberian Allah, bukan hasil pekerjaan: jangan ada orang yang memegahkan diri. Apakah maksud ayat tersebut bahwa orang Kristen tidak perlu berbuat baik, karena sudah diselamatkan? Tentu tidak. Sebab ada sebuah ajaran yang mengajarkan bahwa segala kesalahan kita sudah diampuni dan tidak perlu kita menjaga keselamatan dan mengaplikasikannya dengan perbuatan baik. Dengan alasan 1 Yohanes 1:7-9, bahwa jikalau kita akui dosa-dosa kita maka kita diampuni, sehingga dengan seenaknya hidup menurut apa yang dikehendaki. Sekalipun itu perbuatan jahat, Tuhan akan tetap ampuni serta tetap selamat. Apakah konsep keselamatan dalam Yesus (Firman Allah) yang diimani orang Kristen seperti itu? Itu sama sekali tidak benar.

TANGGUNG JAWAB
Sebagai orang percaya, keselamatan yang diberikan dengan cuma-cuma, harus kita kerjakan. Filipi 2:12 Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Filipi bahwa mereka senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu rasul Paulus masih hadir; tetapi terlebih pula sekarang waktu dia tidak hadir bersama jemaat di Filipi. Bahwa mereka wajib mengerjakan keselamatan.

Mengerjakan Keselamatan
Maksud mengerjakan keselamatan bahwa setiap orang percaya harus menjaga neraca iman dan neraca perbuatan dalam hidupnya agar tetap seimbang. Apabila neraca hidupnya serong, itu adalah Kekejian. Kecuali, kisah hidup seperti penjahat di sebelah Yesus yang mati setelah percaya (Lukas 23:43). Tetapi pada kenyataannya kita masih hidup samapi sekarang. Itu sebabnya kita harus kerjakan keselamatan yang kita terima. Bukan sebaliknya hidup semena-mena.

Perhatikan perbandingan antara :
Non Kristen
Syarat masuk sorga tidak perlu beriman kepada Yesus tetapi dengan perbanyak ibadah; lakukan kebaikan; doa, berbuat amal, dan sebagainya. Kalau mati, selamat atau tidak? Sama sekali tidak. Sebab, keselamatan hanya di dalam Yesus, Yohanes 3:16; 14:6, Kisah para rasul 4:12.

Orang Kristen
Untuk diselamatkan harus (mutlak) percaya kepada Yesus. Tetapi keselamatan yang kita sudah terima dari Yesus, harus kita jaga dengan mempraktekkan IMAN dan dengan PERBUATAN sepanjang kehidupan kita. Mengapa demikian? Perhatikan nasihat Yakobus.

NASIHAT YAKOBUS
Yakobus 2:14-26 – “Iman Tanpa Perbuatan Mati”

  • Yakobus 2:14 , Yakobus bertanya “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman padahal ia tidak mempunyai perbuatan?” Artinya, pengakuan kita, bahwa kita beriman kepada Yesus, menjadi tidak ada gunanya kalau kita tidak membuktikan iman kita dengan perbuatan kita.
  • Yakobus 2:15,16
    Yakobus memberikan sebuah ilustrasi tentang iman tanpa perbuatan sama dengan seorang yang memberikan ucapan, nasihat dan saran kepada orang miskin yang kedinginan dan kelaparan  namun tidak sama sekali memberikan apa yang ia perlukan. Semua ucapan dan nasihat itu tidak ada gunanya jika hanya berkata-kata namun tidak ada tindakan.
  • Yakobus 2:17
    Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
  • Yakobus 2:20
    Itu sebabnya Yakobus memberikan teguran bahwa orang yang mengaku beriman kepada Yesus, tapi tanpa perbuatan adalah Kristen Bebal dalam pandangan Yesus.

Selanjutnya, berbicara tentang keselamatan surat 1 Korintus 6:20, memberi penjelasan karena iman, kita diselamatkan oleh korban Yesus di atas kayu salib. Dan tanggung jawab yang harus kita lakukan adalah:
MEMULIAKAN DENGAN TUBUH (PERBUATAN)
Memuliakan Tuhan dengan tubuh atau perbuatan kita, artinya selama kita hidup di dunia ini, hidup kita harus memuliakan Tuhan. Jadi pada saat kita percaya kepada Yesus, kita telah mengisi iman ke dalam neraca hidup kita. Tetapi tanggung jawab kita belum selesai. Selain iman, kita harus isi dalam neraca hidup kita perbuatan yang benar sesuai firman Allah, yaitu perbuatan yang memuliakan nama Tuhan dan bukan perbuatan yang mempermalukan nama Tuhan.

Perbuatan kita digambarkan dengan pakaian yang kita kenakan.
1. Perbuatan Yang Benar – Wahyu 19:8
Mengapa digambarkan pakaian? Dalam Matius 22:1-14, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan, bahwa ada seorang Raja yang telah menyembelih lembu dan mengundang para tamu untuk menikmati pesta besar. Untuk menikmati pesta, tidak ada syarat, tamu undangan tinggal masuk dan nikmati pesta. Tetapi, para tamu undangan menolak dengan segala macam dalih (gambaran Umat Israel). Namun pesta harus berjalan, sebab hidangan sudah tersedia, maka diundang semua orang yang ada di jalan untuk masuk pesta  yang disediakan raja. Tetapi, sebelum pesta dimulai, raja memeriksa para tamu pesta yang hadir, apakah sudah kenakan pakaian pesta yang telah diberikan oleh Raja. Dan ditemukan ada orang yang tidak mengenakan pakaian pesta maka ia dibuang didalam tempat yang paling gelap.

Kisah tersebut sesungguhnya memberikan juga pengertian kepada kita bahwa setelah diselamatkan oleh karena beriman kepada Yesus, kita harus kenakan dan berdandan dengan pakaian yaitu, perbuatan kebenaran. Jika kita tidak memiliki pakaian tersebut, nasib kita akan sama dengan orang yang dibuang ke dalam tempat yang paling gelap, yaitu kebinasaan.

2. Perbuatan Baik
Selain pakaian kebenaran, kita harus kenakan pakaian perbuatan baik. Perhatikan Filipi 4:5 menuliskan biarlah kebaikan hati kita diketahui semua orang. Kebaikan hati hanya dapat dilihat dari perbuatan yang dilakukan. Sehingga kebaikan hati bisa: dilihat, didengar dialami, diterima dan dirasakan oleh saudara seiman, dan semua orang yang belum kenal Yesus,Galatia 6:9,10.

BERIMAN TAPI TAK BERBUAT BAIK
Diatas sudah dijabarkan betapa penting keselamatan dikerjakan. Sebuah contoh tentang orang yang mengaku beriman, tapi tidak lakukan perbuatan benar dan perbuatan baik yaitu raja Saul. Riwayat hidup raja Israel – Saul dalam 1 Samuel 10:1-24. Pasal ini menerangkan tentang awal kehidupan Saul yang baru, perhatikan:

  • 1 Samuel 10:6, Saul diubahkan menjadi menjadi manusia lain – Karakter Saul diubahkan oleh Tuhan.
  • 1 Samuel 10:10-11, Jabatan Saul adalah raja, tetapi kelakuan Saul, kelakuan nabi.
  • 1 Samuel 10:13-16, Saul, tidak sombong tetapi rendah hati.
  • 1 Samuel 10:27, Saul, tidak mudah tersinggung, (bisa menguasai diri).
  • 1 Samuel 11:12, Saul tak dendam, tidak menyimpan kesalahan orang dalam hatinya. Dan memiliki roh pengampunan. Saul profil orang yang dilahirkan baru, yang lama telah berlalu dan yang baru telah datang, 2 Korintus 5:17. Namun Saul tidak mengisi neraca hidupnya dengan perbuatan kebenaran dan perbuatan kebaikan.
  • 1 Samuel 13:8,9, Saul tidak taat pada perintah Tuhan. Saul tidak taat janji (tidak sabar) Saul bertindak lancang.
  • 1 Samuel 15:19,20, kembali Allah uji ketaatan Saul. Allah memerintahkan agar Saul menumpas Agag, raja Amalek dan seluruh rakyatnya. Tetapi, Saul kembali tidak taat kepada Tuhan. Saul tidak menumpas tuntas, Saul selamatkan Agag dan lembu-lembu tambun. Galatia 5:19-21.
    Sebab itu 1 Samuel 18:6-9, Dalam diri Saul tumbuh perasaan: iri hati; benci; curiga yang berujung niat jahat untuk membunuh Daud, yang sudah diurapi Tuhan. 1 Samuel 19, sehingga Daud harus melarikan diri jauh dari hadapan dari Saul. 1 Samuel 19:4-6, Yonatan, anak Saul menasihati Saul bahwa Daud bunuh Goliat dengan mempertaruhnya nyawanya demi Saul dan rakyat Israel. Dan Saul sadar sebentar tetapi Saul kumat lagi.
  • 1 Samuel 24:11-23, Saul berusaha mencari Daud untuk membunuh Daud. Tapi Daud ingatkan Saul, sebenarnya Daud bisa bunuh Saul. Dan dengan tulus Daud mengatakan bahwa ia mengasihi Saul dan tidak ada niat untuk membunuh Saul. Saul sadar, ia pulang, tetapi tidak ada satupun yang baik yang Saul perbuat.
  • 1 Samuel 26:2, kembali Saul berniat membunuh Daud. Tetapi, karena kelelahan, Saul dan 3000 tentaranya tidur nyenyak. Daud datang melihat Saul, tersedia tombak tertancap di tanah dan sebuah kendi. Daud mengambil kendi untuk bukti, bahwa yang ada di hati Daud bukan kejahatan, tetapi kebaikan.

Perhatikan, Orang yang mengaku percaya, tetapi tidak mengisi neraca hidupnya dengan perbuatan kebenaran dan kebaikan, akhir hidupnya seperti Saul à TRAGIS. 1 Samuel 28:6, Allah tutup pengampunan dan jalan keselamatan bagi Saul (Saul tidak bisa lagi menghampiri Allah). 1 Samuel 28:7, Saul lari kepada kuasa penguasa kegelapan yaitu Iblis lewat jasa seorang dukun. Dan 1 Samuel 31:4-6, Saul mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Orang yang mengakhiri hidup seperti Saul tempatnya di Neraka yang kekal.

PENUTUP
Kita telah menerima keselamatan dengan cuma-cuma, karena iman kepada Yesus. Tanggung jawab kita adalah harus pelihara keselamatan yang kita sudah terima dengan cara melakukan hidup benar, yaitu melakukan perbuatan kebenaran dan perbuatan kebaikan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HIDUP BERDAMAI DENGAN DIRI KITA, DENGAN SESAMA DAN TUHAN – oleh Pdt. Titus Asen (Ibadah Raya 3 – Minggu, 13 Januari 2019)

Mazmur 73:21-23

Ini merupakan ucapan Asaf, ia menuliskannya dengan bahasa yang begitu dalam serta menyedikan. Ia katakan “Ketika hatiku merasa pahit dan buang pinggangku menusuk-nusuk rasanya..”. Ia merasa ada yang tidak beres dalam dirinya, buah pinggangnya seperti menusuk-nusuk. Buah pinggang kita kenal dengan sebutan Ginjal.

Kita memiliki sepasang Ginjal dan perannya sangat penting, sebab ia memisahkan racun dari darah. Ada penyakit yang terjadi karena kelainan ginjal yaitu batu ginjal. Mereka yang mengalami sakit ini begitu menderita. Dan gagalnya fungsi ginjal, juga akan membuat hidup seseorang terbatas sebab mereka tidak dapat sembarang  bergaul dan makan. Ini contoh tentang buah pingang yang ditusuk-tusuk sehubungan dengan sakit fisik. Namun, apakah arti kalimat Asaf? Apakah karena ia sedang menderita ginjal karena sakit fisik? Ternyata tidak, sebab ada sakit yang lebih sakit dari fisik.

Perhatikan ayat 1 – 3, pemazmur menderita buah pinggang seperti ditusuk-tusuk, bukan karena fisik tetapi dalam hubungannya dengan psikis. Sebab pemazmur cemburu dengan orang fasik. Jadi sakit ginjal yang dialami oleh pemazmur karena psikis bukan fisik. Kadang sakit yang berhubungan dengan psikis lebih berbahaya dari fisik.

Apa yang diderita oleh pemazmur sehingga ia gunakan ilustrasi yang demikian? Jadi pemazmur mulai membanding-bandingkan orang beriman dan tak beriman. Jangan sekalipun membandingan diri kita dengan orang lain karena kita istimewa dihadapan Tuhan.

Tiga bahaya kepahitan hati dalam hubungannya sakit secara sikis, yaitu:
1. Kepahitan Hati Merusak Hubungan Kita Dengan Diri Kita Sendiri
Sebuah contoh dalam Matius 2:16, kemarahan membuat Herodes bermasalah dengan dirinya sendiri. Herodes marah karena orang majus mencari Mesias. Contoh lain adalah Kain dan Habel, ada masalah dengan Kain dalam hubungannya dengan dirinya sendiri sehingga ia membunuh adiknya. Jika kepahitan hati tidak dibereskan maka ini akan mematikan diri kita sendiri. Pemazmur tidak pernah gagal ginjal atau batu ginjal, namun ia sakit karena ada masalah dengan dirinya sendiri. Siapa yang ajar Kain membunuh? Sebab belum pernah ada yang membunuh. Kain membunuh Habel karena sakit hati dan amarah yang tidak terkendali.

2. Kepahitan Merusak Hubungan Kita Dengan Orang Lain
Matius 2:16b, Kain membunuh Habel bukan kerena melihat pembunuhan yang lain. Dan Herodes membunuh anak-anak di usia 2 tahun kebawah. Kemarahan dan kepahitan merusak hubungan kita dengan orang lain. Mari lepaskan pengampunan sebab akan ada banyak orang disekitar kita akan menderita karena kesalahan kita. Berkat apapun yang Tuhan sediakan bagi kita akan tertahan jika ada masalah dengan orang lain. Tangan Yesus yang penuh dan kasih memegang kehidupan kita. Minta Tuhan pegang tangan kita, maka apapun yang terjadi dalam hidup ketika melepaskan pengampunan akan memulihkan hubungan dengan diri dengan sesama. Jika ada masalah dan persoalan diselesaikan. Lepaskan pengampunan sebab kebencian mematikan.

3. Kepahitan Hati Merusak Hubungan Dengan Tuhan Dan Pelayanan
Berapa banyak pelayan yang kecewa dengan gereja atau kecewa karena Tuhan tidak segera menjawab doanya.

KESIMPULAN
Oleh sebab itu, selesaikan masalah hidup dengan lepaskan pengampunan dan jika ada dendam lepaskan. Biarkan Tuhan bekerja untuk menolong setiap kita sebab Tuhan sudah mengampuni kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HATI-HATI TERHADAP KEMALASAN DAN KEMURTADAN (Peringatan Ketiga) – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 20 Januari 2019)

Ibrani 5:11 – 6:6

PENDAHULUAN
Beberapa minggu yang lalu telah dibahas beberapa peringatan bagi orang percaya, yaitu:

  1. Bahwa setiap orang percaya harus memperhatikan dan jangan mengabaikan apa Tuhan firmankan. Sebab jikalau diabaikan atau lalai, kita dapat hanyut terseret arus yang menyeret kita kepada kebinasaan.
  2. Jangan sampai tidak masuk ke tempat perhentian yaitu, Kanaan sorgawi, karena tidak memiliki penguasaan diri terhadap godaan-godaan yang disodorkan Iblis.
  3. Berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat kita murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Dan poin ketiga inilah yang akan kita bahas selanjutnya, yaitu berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

PENYEBAB KEMURTADAN
Tidak menutup kemungkinan, seorang pengikut Yesus dapat murtad dan menyangkal bahkan menjadi pelawan Yesus karena orang tersebut “Lamban Dalam Mendengar Firman Tuhan.” Kalau kita baca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, khususnya nasihat-nasihat Tuhan Yesus dan para rasul serta kitab Wahyu, firman Allah banyak menekankan tentang hal “mendengar” sekaligus berbicara tentang lamban dalam mendengar.

Mungkin Saudara bertanya: Apa yang dimaksud “Lamban dalam mendengar firman Tuhan…?” Orang yang lamban dalam mendengar firman Tuhan, tentu saja bukan menunjuk kepada orang yang belum percaya kepada Yesus, yaitu orang yang menolak firman Tuhan. Bukan juga orang yang malas ke gereja, sehingga jarang mendengar firman Tuhan. Atau orang itu ke gereja, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengar firman Tuhan.

Kalau begitu siapa dan seperti apa orang yang disebut: Lamban dalam mendengar firman Tuhan? Orang yang lamban dalam mendengar firman Allah, sudah pasti orang tersebut adalah orang yang rajin ke gereja; aktif di jemaat bahkan kalau dengar firman Tuhan, mencatat, hafal firman Tuhan sehingga tidak menutup kemungkinan orang itu juga terlibat melayani Tuhan. Tetapi mereka hanya sebatas mendengar.

Jadi mereka mendengar Firman Allah hanya sebatas di telinga dan pikiran (jiwanya), sehingga ia faham atau mengerti firman Tuhan, bahkan mahir mengkhotbahkan firman Tuhan. Tetapi ia hanya dengar firman Tuhan dengan telinga dan pikirannya tetapi tidak dengan hatinya. Orang yang tidak memasukkan firman yang ia dengar dan ia mengerti ke dalam hatinya, ia tidak akan pernah bisa MENGASIHI firman Allah dan MELAKUKAN firman Allah.

Orang Kristen yang malas, yaitu orang Kristen yang hanya mendengar firman Allah tetapi tidak memasukkan firman itu dalam hatinya dan melakukan firman Allah tersebut, Yesus umpamakan seperti orang yang bodoh (bukan orang yang bijaksana). Dan orang yang bodoh Tuhan Yesus umpamakan seperti orang yang membangun rumah di atas pasir.

Baca dalam Matius 7:26,27 “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Orang yang malas yaitu orang kristen yang cuma mendengar firman Allah tetapi tidak mencintai firman Allah, yaitu tidak mempraktekkan firman Allah dalam hidupnya, orang risten seperti itu sangat mudah untuk menjadi murtad.

MURTAD
Kata Murtad dalam bahasa Yunani: APOSTASIA dalam bahasa Inggris: Apostasy, yaitu ada orang yang awalnya percaya kepada Yesus dan berjuang bagi Yesus tetapi dengan kesadaran (sengaja) orang itu meninggalkan iman kepada Yesus sebagai sikap atau bentuk pengkhianatan atau pemberontakan kepada Yesus. Orang yang murtad ialah orang yang tidak punya kesempatan atau peluang untuk bertobat dan dipulihkan kembali. Itu sebabnya dalam Matius 7:27, digambarkan seperti rumah yang roboh diterpa angin, hujan dan banjir sehingga hebatlah kerusakkannya!

HEBATLAH KERUSAKANNYA
Pada umumnya kita lihat jikalau ada rumah roboh karena gempa atau banjir, tetapi reruntuhan rumah tersebut masih ada yang dapat dimanfaatkan (tiang; jendela; kusen; genting; batu bata) – berarti bagian rumah tersebut masih dapat diselamatkan atau dimanfaatkan. Namun, orang yang murtad digambarkan seperti rumah yang kena gempa liquifaksi, tanah tempat rumah itu berdiri tanahnya mencair, sehingga rumah itu roboh dan tenggelam terseret tanah yang mencair menjadi lumpur sehingga tidak dapat lagi diselamatkan atau dimanfaatkan – inilah yang dimaksud hebatlah kerusakannya. Inilah kondisi orang yang Murtad, mereka tidak dapat diselamatkan lagi. Oleh sebab itu, berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Sebuah contoh, yaitu Daud yang  adalah figur atau tipikal anak Tuhan sangat mencintai firman Tuhan. Dan saat Daud dengar firman Tuhan, Daud tidak hanya mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan pikirannya. Tetapi Daud memasukkan firman Allah itu di hatinya dan menerapkan firman Tuhan itu di hidupnya. Hal ini dapat kita baca dalam kitab mazmur yang Daud tulis Mazmur 119:159 “Lihatlah, betapa aku mencintai titah-titah-Mu! Ya Tuhan, hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu.”

Daud Pernah Gagal
Sebagai manusia, Daud bukan orang yang sempurna, ia pernah gagal dalam melakukan firman Allah. 1 Samuel 24:1-12- mengisahkan bagaimana Saul dan 3.000 tentaranya berusaha menangkap Daud. Saul mendapat informasi bahwa Daud bersembunyi di sebuah gunung, di daerah En-Gedi. Maka Saul dan tentaranya pergi ke tempat tersebut untuk menangkap Daud. Sesampai di sana, Saul ingin buang hajat, lalu ia masuk ke dalam sebuah gua untuk membuang hajatnya. Tetapi Saul tidak tahu kalau di bagian gua yang lebih dalam ada Daud dan orang-orangnya yang sedang bersembunyi. Dengan santai Saul melepas jubahnya dan membuang hajat, tanpa mengetahui bahwa di bagian dalam gua itu ada Daud dengan tentaranya. Pada saat itu Saul benar-benar tidak berdaya. Ayat 5 – anak buah Daud menyuruh agar Daud tidak membuang peluang emas ini. Daud bangun dan dengan pedangnya ia potong punca jubah Saul. Tetapi setelah Daud memotong punca jubah Saul, lalu dikatakan dalam ayat 6 “Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul.”

ADA PERBEDAAN
Kalau kita baca dalam ayat 3, Saul berusaha mencari Daud untuk menangkap dan membunuh Daud, tetapi hati Saul enjoy alias nyaman-nyaman saja. Sedangkan ayat 5, Daud hanya memotong punca jubah Saul, tetapi Tuhan membuat hati Daud berdebar luar biasa. Mengapa ada perbedaan antara Daud dan Saul…?. Karena Daud mendengar firman Allah, dia renungkan firman Allah sampai mengerti. Tapi tidak sampai di situ. Firman Allah itu disimpan dalam hati, artinya firman Allah itu Daud praktekkan.

Perhatikan ucapan Daud di ayat 10, Daud telah menyimpan dan menghidupi firman Allah dalam hatinya bahwa: “orang yang berani menjamah orang yang diurapi Tuhan, orang tersebut tidak akan bebas dari hukuman?” Berbeda dengan Saul, dalam 1 Samuel 10, ketika Saul dilantik menjadi raja, Allah ubah karakter Saul menjadi baru dan sangat ideal sehingga Saul menjadi orang yang rendah hati, tidak mudah tersinggung lalu sakit hati. Memiliki roh pengampunan dan lain sebagainya. Namun dalam kisah ini Saul mengalami perubahan.

Perubahan Saul karena ia malas mendengar firman Allah. Bahkan Firman Allah yang ia terima, ia malas untuk memasukkannya ke dalam hati. Sebab itu Allah tidak mau mendengar permohonan Saul lagi, akhirnya Saul menjadi murtad dan tidak bisa diperbaiki lagi. Saul mengikuti suara Iblis dan bunuh diri!

KESIMPULAN
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang murtad dapat terjadi kepada orang yang rajin beribadah namun mereka tidak alami pertumbuhan. Karena mereka hanya sekedar rajin beribadah dan melayani, tetapi hatinya tidak bersungguh-sungguh melakukan firman Tuhan. Oleh sebab itu sebagai orang percaya biarlah kita hidup dengan sungguh-sungguh. Seperti Daud yang menyimpan firman dalam hatinya serta melakukannya. Dan firman Tuhan itu menjadi alarm bagi dirinya. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HAL KERAJAAN ALLAH – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 13 Januari 2019)

Roma 14:17
“ Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus.”

Bagian awal ayat ini mengatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman….” Dalam Roma 14, Paulus membahas tentang jangan saling menghakimi dan menjadi batu sandungan, dalam masalah ini adalah soal makanan. Paulus menasehati kita, agar jangan sampai pekerjaan Tuhan dirusakkan hanya karena meributkan masalah jasmani yang bersifat sementara yaitu makanan dan minuman. Nasehat yang kedua jangan menghakimi saudara seiman. Betapa seringnya kita tanpa sadar sering menghakimi orang lain dengan penilaian yang salah. Sering kita menilai orang lain dari cara orang bertepuk tangan, cara makan dan kesukaan seseorang, kemudian kita menganggapnya tidak rohani, tidak alkitabiah hanya karena cara dan kesukaan yang berbeda dan tidak umum. Ada hal yang lebih penting yang harus dikejar dari pada meributkan semuanya itu, yaitu Kerajaan Allah.

Berbicara tentang Kerajaan Allah, ada yang berpikir Kerajaan Allah itu nanti, dinikmati kalau sudah sampai di Sorga bukan di bumi. Benarkah demikian? Kerajaan Allah memang ada di Sorga, tetapi suasana sorga dapat dinikmati di bumi ini.  Roma 14:17 – “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus.” Ada tiga prinsip pelayanan untuk menikmati Kerajaan Allah: Kebenaran ; Damai sejahtera dan Suka cita oleh Roh Kudus. Jika pengiringan dan pelayanan setiap orang percaya berpegang pada tiga prinsip ini, maka menurut Roma 14:18 – “Karena barang siapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.”

 KEBENARAN
Hal yang pertama adalah Kebenaran. Kebenaran menjadi hukum dan undang-undang sekaligus menjadi gaya hidup dan budaya warganya untuk menikmati semua fasilitas Kerajaan Allah. Matius 6:33 – “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.”  Kata “Carilah” adalah kata kerja berkesinambungan, artinya Terus-menerus mencari dengan cara memusatkan perhatian pada nilai-nilai rohani dari Kerajaan Allah. Sebagai contoh Matius 13:45 “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.” Seperti seorang pedagang yang dengan tekun terus-menerus mencari mutiara yang berharga sampai didapatkannya. Bagi manusia nilai tertinggi yang paling berharga dan harus dicari adalah : Keselamatan, yang diindentikan dengan Kerajaan Sorga.

DAN KEBENARANNYA
Bagaimana dengan kebenaran, bukankah tidak ada manusia yang benar dihadapan Allah? Roma 3:23, memang tidak ada manusia yang benar, yang ada adalah manusia yang dibenarkan oleh Tuhan, melalui iman percaya pada penebusan darah Yesus, Roma 3:24,28.  Oleh penebusan Kristus di salib, kita yang percaya dan menerima dikuduskan dan dibenarkan. Posisi inilah yang harus didapatkan. Dibenarkan karena pengampunan inilah yang dapat membawa orang ke dalam Kerajaan Sorga, inilah kebenaran dari orang yang akan mendapatkan Kerajaan sorga, karena tanpa pengampunan melalui penebusan darah Yesus, tidak ada satupun orang yang benar dan orang yang masih berada dalam ketidakbenaran karena dosa tidak mungkin dapat mencapai Kerajaan sorga. Semua warga Kerajaan sorga adalah orang-orang benar dan kudus, karena tanpa kekudusan tidak seorangpun yang dapat melihat Tuhan, Ibrani 12:14.

Selanjutnya keselamatan (Kerajaan Allah) yang kita peroleh harus terus dikerjakan sampai akhir. Filipi 2:12a – “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar….” Keselamatan yang diindentikan dengan Kerajaan Allah itu harus dikerjakan artinya harus dijaga dan dipelihara dengan sungguh-sungguh sampai akhir hidup kita. Kesungguhan dalam mengerjakan keselamatan kita itu diungkapkan dengan dua hal yaitu dengan “Takut dan Gentar.” Mengapa dengan takut dan gentar ? Karena keselamatan kita itu masih bisa hilang, Iblis dengan segala tipu dayanya terus mencoba mengugurkan iman kita. Takut karena menyangkut hidup kita dalam kekekalan. Gentar kalau hilang kita binasa.

Dimasa yang semakin singkat ini, Iblis akan terus berusaha menghancurkan iman orang percaya sebanyak mungkin sehingga kehilangan keselamatannya dengan berbagai cara, antara lain:

  • PENYESATAN

Penyesatan dapat melalui Nabi palsu, Mat 7:15; 24:11 – Ciri khas dari pelayanan nabi adalah bernubuat, nabi palsu akan menyesatkan banyak orang dengan nubuat-nubuatnya yang palsu, Guru-guru palsu, 2 Petrus 2:1.

– Guru pekerjaannya adalah mengajar, guru-guru palsu akan mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Kalau toh mengajarkan firman, hanya separuh kebenaran firman tidak sepenuh kebenaran.

– Mesias palsu, Mat 24:24 – Mesias palsu atau Kristus palsu akan muncul dan mengadakan banyak mujizat dan tanda ajaib, untuk menyeret orang-orang pilihan Allah untuk disesatkan.

– Rasul palsu. 2 Kor. 11:13 – Rasul palsu akan menuntun dan mengarahkan benyak orang kepada banyak hal yang bertentangan dengan firman Tuhan.

  • GODAAN

Kekayaan dan kenikmatan dunia menjadi alat Iblis untuk menjatuhkan iman banyak orang percaya. Tidak sedikit orang yang meninggalkan Tuhan karena ingin cepat kaya, dan kenikmatan dunia yang membuat orang terlena dan terjerat kembali dalam kehidupan yang berdosa.

  • ANIAYA

Aniaya dapat dalam bentuk Dikucilkan, Yoh.12:42a ; Dicela ; Diitnah dan Aniaya fisik, Mat. 5:11. Semua ini akan dihadapi orang-orang percaya di akhir jaman. Setiap orang percaya harus berjuang untuk memelihara dan mempertahankan keselamatannya.

Selanjutnya bagaimana kita mengerjakan hidup kita yang sudah dikuduskan oleh Tuhan? Cari terus kebenaran Tuhan. Yohanes 17:17 – “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu adalah Kebenaran.”  Hidup dalam dalam kebenaran (Firman Allah) itulah yang akan menjaga kekudusan kita. Firman Tuhan adalah konsumsi utama kita yang akan terus menguduskan kehidupan setiap orang percaya. Untuk hidup dalam kebenaran, kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi dipimpin juga oleh Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus. Yoh 16:13, Roh Kudus akan memampukan kita untuk hidup dalam kebenaran dan taat dalam kebenaran. Hidup dalam ketaatan kepada Kebenaran itu juga akan menyucikan kita dan memampukan kita untuk hidup dalam kasih,1 Petrus 1:22. Selanjutanya, Hidup dalam kebenaran akan membuat setiap orang percaya merdeka dari intimidasi dosa. Yoh. 8:31-32. Rom, 3:23-24. Inlah salah satu bentuk dari suasana sorga yang dapat kita nikmati di bumi, yaitu kemerdekaan yang sejati karena Kebenaran.

Posted in Uncategorized | Leave a comment