Jemaat Filadelfia – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 15 April 2018)

Wahyu 3:7
Dan tuliskanlah kepada  malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”

 PENDAHULUAN
Diantara tujuh sidang jemaat di Asia kecil maka Jemaat Filadelfia dapat dikatakan sebagai Jemaat  yang tidak memiliki cacat cela. Tidak ada teguran yang dikemukakan oleh Tuhan tentang jemaat Filadelfia. Bahkan predikat dari Jemaat di Filadelfia adalah jemaat yang dikasihi oleh Kristus (The Church Christ Loved). Jika kita bandingkan akan sangat berbeda dengan Jemaat di Sardis,yang oleh para akademisi diberi gelar: Zombie Church. Jika kita memilih tentu saja kita ingin menjadi seperti jemaat Filadelfia.

GEREJA SEMPURNA
Predikat jemaat Filadelfia sebagai Jemaat yang dikasihi Yesus, sedang jemaat sardis atau kelima jemaat yang lain mendapat teguran. Bukan berarti bahwa Allah pilih kasih. Mengasihi yang satu dan menegur yang lainnya. Tetapi Tuhan Yesus mengasihi jemaat Filadelfia sebab mereka menggambarkan pengikut Yesus yang sejati atau gereja sempurna yang tidak memiliki cacat-cela. Pengikut Yesus Yang Sejati, yang akan disingkirkan ke Padang Gurun sebelum Antikristus memerintah  di bumi selama 3,5 tahun. Tidak ada cara lain, agar tidak dikuasai dan alami penyiksaan oleh Antkristus yang akan memerintah dunia ini selama 3.5 tahun adalah memiliki kualitas kekristenan, pengiringan dan pelayanan yang sekualitas dengan  Jemaat Filadelfia.

CARA YESUS PERKENALKAN DIRI
Khusus kepada jemaat Filadelfia, secara berbeda Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya dibandingkan dengan jemaat Efesus; Smirna; Tiatira; Pergamus dan Sardis. Jika diperhatikan dalam Wahyu 3:7, Tuhan Yesus memperkenalkan diri dalam kepada jemaat Filadelfia,  yaitu :

  1. YANG KUDUS

Untuk menjadi Pengikut Yang Sejati (Gereja Sempurna), kehidupan orang percaya harus kudus sama seperti Yesus adalah kudus. 1 Petrus 1:16 “…sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Jadi, ukuran kekristenan gereja sempurna bukan manusia atau para tokoh Alkitab, melainkan Kristus sendiri. Yesuslah yang menjadi standar kekristenan semua orang percaya. Dan kekudusan tersebut mempengaruhi seluruh aspek kehidupan: rohani;  jiwani dan jasmani yaitu: kekudusan dalam rumah tangga, pekerjaan atau usaha, pergaulan dan hubungan dengan lawan jenis. Dan kekudusan harus dimulai dari roh, kemudian ke pikiran dan diaplikasikan dalam sikap/tubuh. Bagaimana caranya menjadi kudus? Cara untuk hidup kudus adalah hidup sesuai Firman Allah. Yohanes 15:3 “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.”

Untuk mencapai hidup kudus (bersih), kita harus: baca; dengar dan lakukan atau selaraskan hidup kita dengan firman Allah. Firman Allah menjadi seperti cermin yang akan menunjukkan hal-hal salah dari diri kita sehingga kita dapat memperbaiki hiudp. Jadi, jemaat Filadelfia dikasihi Yesus, bukan karena melakukan perbuatan spektakuler. Tetapi karena Jemaat Filadelfia membaca; mendengar dan melakukan atau selalu menyelaraskan hidupnya  sesuai Firman Tuhan.

  1. YANG BENAR

Cara Yesus memperkenalkan diri, yang kedua sebagai YANG BENAR. Perhatikan, kekudusan atau hidup kudus, berkaitan dengan hati atau batin. Sedangkan kebenaran atau hidup yang benar, berkaitan dengan perbuatan atau perilaku. Kekudusan dan kebenaran adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Untuk hidup benar harus dimulai dari hati atau batin yang kudus. Orang kudus, pikiran dan perbuatannya, pasti benar atau tidak bertentangan dengan  firman Allah. Matius 15:18 “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.”

Sebab itu Pengikut Yesus Yang Sejati adalah pengikut Yesus yang menyelaraskan hati dan hidupnya sesuai Firman Tuhan. Di gereja kita diingatkan; dinasihati; ditegur oleh firman Allah, agar hidup kita selaras firman Allah?  Dalam Lukas 8:18 “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar…” Cara kita mendengar firman Allah akan menentukan kualitas rohani, yaitu dengan cara menaruh fokus hanya kepada firman Allah. Cara kita mendengar firman Allah akan menentukan kualitas  rohani kita.

  1. YANG MEMEGANG KUNCI DAUD

Pada umunya, kita mengerti bahwa Daud, adalah seorang raja terbesar di Israel. Tetapi Yesus jauh lebih besar, lebih tinggi dan lebih mulia dibanding Daud. Daud pernah jatuh dalam dosa tetapi Yesus sempurna. Sebab itu Yesus disebut sebagai Pemegang Kunci Daud. Artinya Daud memerintah Israel selama  40 tahun, tetapi Yesus memerintah dan berkuasa untuk selama-lamanya.

Kundi Daud
Yesus Memegang Kunci Daud, artinya semua kuasa di bumi dan di sorga ada di tangan Yesus. Dalam Wahyu 3:7 yang merupakan kutipan dari Yesaya 22:22 berbunyi demikian :“Aku akan menaruh kunci Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang menutup; apabila  ia menutup tidak ada yang dapat membuka.”

Kalimat “menaruh kunci ke atas bahunya”, jika kita menghubungkan kedua ayat tersebut yaitu Yohanes 19:17, dan Yesaya 22:22, maka kunci yang dimaksud adalah Salib Yesus.

Dalam Kisah 2 – 4, selain Salib Yesus, Gereja mula-mula di Yerusalem juga menerapkan 4 Kunci lainnya yaitu :

  1. Firman Tuhan
  2. Nama Yesus
  3. Roh Kudus
  4. Bertekun dalam Doa.

SALIB YESUS
Korban kematian Yesus di salib ialah satu-satunya kunci keselamatan di bumi dan di sorga. Artinya tidak seorang pun di bumi, yang bisa masuk sorga, kalau ia tidak mau menerima atau menolak kunci  yang dikaruniakan sorga bagi dunia yaitu Salib Yesus. Roma 10:9,10 menuliskan, jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

DIBUKA DAN DITUTUP
Pintu keselamatan mulai dibuka adalah saat Yesus disalib. Pada saat seseorang mengaku dan percaya. Ketika Yesus disalibkan, ada 2 penjahat yang disalib Bersama Yesus, (Lukas 23:33-43). Ibaratnya kedua penjahat ini sudah ada di pintu neraka bahkan semua orang yakin akhir hidup kedua  penjahat yang disalib bersama Yesus pasti masuk neraka. Tetapi ketika penjahat itu percaya dan memohon keselamatan (Lukas 23:43), ia pindah dari maut kepada hidup, Yohanes 5:24. Pintu maut ditutup dan pintu kerajaan Surga dibukakan. Kalau Yesus membuka pintu keselamatan bagi kita orang yang percaya, maka tidak ada seorang pun yang bisa menutupnya. Iblis sekalipun tidak bisa menghalanginya.

BATA KUNCI DIBERIKAN
Dua pengertian :

  • Secara Umum
    Kunci keselamatan Yesus berikan sejak Yesus disalibkan sampai awal pemerintahan Antikristus. Perhatikan Gambar

Jarak kita dengan kemurahan Allah sudah sangat dekat. Selagi ada kesempatan mari kita semakin giat bersaksi tentang Yesus.

  • Secara Pribadi
    Kunci salib diberikan kepada setiap orang sebatas usia orang tersebut. Jangan sia-siakan kesempatan yang Yesus beri dengan terus menolak keselamatan yang Yesus beri. Kematian bisa terjadi kapanpun disaat yang tidak kita duga.

Yesus Berkuasa Membuka/Menutup Wahyu 3:7b “Apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” Iblis memakai segala cara untuk menutup pintu penginjilan  dan keselamatan. Tuhan dapat bergerak dengan cara-Nya, dan  bila Allah bekerja maka Negara-negara non Kristen atau garis keras sekalipun, tidak dapat menolak tentang lawatan Allah. Jika Yesus membuka jalan maka tidak ada yang mustahil.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

APAKAH YANG KAMU CARI? Seri – 22 “Datang dan Tinggal Bersama” (Ibadah Raya 1 – Minggu, 8 April 2018 oleh Pdt. Joseph Priyono)

Yohanes 1:39
Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.
” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.

Pendahuluan
Mengapa banyak orang kristen tidak mengalami pertumbuhan iman? Karena banyak orang yang yang hanya senang menjadi pengikut tetapi tidak mau menjadi murid. Mereka tua di gereja tetapi tidak pernah menjadi dewasa. Tua itu pasti, tetapi dewasa adalah pilihan. Untuk menjadi tua, kita tidak perlu melakukan apa-apa, waktu akan menghantar kita menuju penuaan. Menjadi dewasa membutuhkan upaya dan usaha membangun diri dari hari ke hari hingga menjadi dewasa di dalam Tuhan.

Tuhan Yesus mengundang dua orang murid Yohanes yang mengikutiNya dari belakang bukan untuk menjadikan mereka sebagai pengikut tetapi seorang murid. Itulah sebabnya sejak hari itu mereka tinggal bersama dengan Yesus. Apakah perbedaannya menjadi seorang pengikut dan seorang murid?

  1. Pengikut mengetahui (to know) tetapi murid: Menjadi (to be)

Lukas 6:40
Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.

 Menjadi seorang murid Tuhan bukan sekedar mengetahui tentang Tuhan, tetapi menjadi seperti Yesus. Sayangnya banyak orang kristen puas karena mengetahui tentang Tuhan, bahkan bangga kalau makin banyak tahu firman Tuhan. Banyak orang kristen bermegah diri, karena telah lulus kelas pendalaman alkitab dari tingkat pertama hingga akhir. Itu baik, tetapi persoalannya adalah apakah pengetahuan alkitab yang banyak membuat kita semakin menyerupai Yesus? Kekristenan bukan masalah seberapa banyak kita tahu firman tetapi seberapa banyak kita menyerupai Yesus. Semakin banyak firman yang kita tahu, seharusnya membuat kita semakin “persis” dengan Yesus. Ingatlah! Seorang murid dipanggil untuk menjadi sama dengan gurunya.

  1. Pengikut mengambil keputusan tetapi murid berkomitmen

Perbedaan kedua antara pengikut dan murid adalah “Seorang pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen. Mengambil keputusan adalah langkah awal menjadi pengikut Yesus. Seseorang harus memutuskan dulu dalam dirinya untuk meninggalkan hidup lama dan mempercayakan dirinya sepenuhnya didalam kuasa Tuhan Yesus. Tetapi keputusan tanpa komitmen adalah sia-sia dan kebohongan. Firman Tuhan berkata: orang yang bertahan sampai kesudahannya yang akan selamat. Pertobatan itu keputusan, tetapi kesetiaan adalah komitmen. Pertobatan dan percaya harus dibarengi kesetiaan hingga akhir. Jadi tidak sekedar mengambil keputusan tetapi kita harus berani mengambil komitmen. Komitmen artinya bukan sekedar menjadikan Yesus yang pertama dalam hidup kita, Yesus harus menjadi yang satu-satunya.

  1. Pengikut menjalin hubungan tetapi murid membangun keintiman.

Seorang murid dari rabi Yahudi selalu tinggal bersama gurunya. Bukan saja tinggal, mereka juga akan selalu mengikuti kemanapun sang guru pergi. Hal ini dimaksudkan agar antara sang guru dan murid tidak sekedar terhubung tetapi membangun keintiman. Tuhan merindukan hubungan dengan anak-anaknya bukan hubungan yang ala kadarnya, basa-basi, ataupun biasa-biasa, lebih dari itu Ia merindukan keintiman seperti keintiman antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tuhan ingin hubungan yang akrab dengan anak-anakNya.

Tanda-tanda seorang penjalin hubungan
a.
Mengikut Yesus dari jauh
Luk 22:54
Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh.

Inilah tanda seorang penjalin hubungan, ia mengikut Yesus dari jauh. Seorang penjalin hubungan akan selalu menjaga jarak dengan Yesus. Mengikut Yesus kalau menyenangkan tetapi menghindari penderitaan. Seorang penjalin hubungan rajin ke gereja, aktif ibadah tetapi tidak sungguh-sungguh melakukan firman Tuhan. Ia senang dengan acara gereja tetapi tidak mendalam. Seorang penjalin hubungan puas sebagai penonton gereja dan menikmati pelayanan dari gereja tetapi mengindari korban dan persembahan.

b. Mengikut Yesus karena berkat, kesenangan dan keuntungan
Yoh 6:66
Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Kemanakah ribuan orang yang telah menikmati roti mujizat yang dibuat Yesus? Bukankah tiga hari terakhir mereka mengiring Yesus? Mengapa sekarang satu persatu mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia? Jawabannya karena mereka adalah seorang penjalin hubungan dan bukan seorang murid. Seorang penjalin hubungan hanya mencari berkat, kesenangan dan keuntungan tetapi tidak siap menderita bagi Dia. Orang-orang ini mengikut Yesus karena roti, tetapi tidak siap menerima roti hidup yang menyelamatkan jiwa mereka. Mereka hanya mencari kesenangan tetapi menghindari kesulitan. Mereka mengikut Tuhan hanya ingin mendapatkan manfaat dan keuntungan semata. Ikut Tuhan hanya cari mujizat tetapi menolak sang pemberi mujizat. Seorang murid lebih tertarik kepada pribadiNya lebih dari segala sesuatu yang diperbuatNya. Seorang murid tidak mencari kesembuhan tetapi penyembuhNya, bukan pemberianNya tetapi sang pemberiNya.

c. Lebih memperhatikan tampilan lahiriah dari pada rohaniah
Matius 23:27
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

Seorang pengikut fokusnya hanya hal-hal lahiriah. Ia suka mendandani yang di luar tetapi lupa mengurus hati. Seorang pengikut lebih mempertimbangkan penilaian manusia dari pada penilaian Allah. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah contoh nyata dari seorang pengikut. Mereka sibuk dengan ritual dan tampilan keagamaan, tetapi tidak sibuk dengan urusan hati. Mereka seperti kuburan yang nampak dari luar putih bersih tetapi dalamnya penuh kotoran dan tulang belulang.

Seorang Murid Membangun Keintiman
Berbeda dengan seorang pengikut, seorang murid menjalin hubungan dengan sang guru. Seorang Murid memilih untuk melekat dan menjadi seperti gurunya. Mengapa seorang murid harus membangun keintiman dengan sang guru?

a. Keintiman menghasilkan pengenalan
Yohanes 10:14
Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku

Mengetahui dan mengenal adalah dua hal yang berbeda. Mengetahui tentang Tuhan berbeda dengan mengenal Tuhan. Kita mungkin mengetahui tentang presiden Jokowi, tetapi apakah kita mengenalnya? Banyak orang Kristen hanya tahu tentang Tuhan tetapi tidak mengenalnya. Mengapa bisa demikian? Karena tidak ada keintiman. Buah dari keintiman adalah pengenalan. Jadi jika kita tidak intim dengan Tuhan maka kita tidak akan mengenalNya.

Firman Tuhan berkata: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Inilah keintiman! Keintimam adalah pengenalan antara dua pribadi secara timbal balik. Gembala mengenal domba-dombanya, sebaliknya domba-dombanya juga mengenal gembala. Pengenalan yang demikikan hanya tercipta melalui keintiman bukan sekedar terhubung.

Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan dengan benar, kalau kita tidak membangun keintiman dengan pribadiNya. Coba masing-masing kita cek diri kita. Apakah kita memiliki kebiasaan membaca dan merenungkan firman Allah setiap hari? Adakah kita sediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan dalam doa? Inilah penyebabnya mengapa banyak orang kristen tidak mengenal Tuhan dengan benar. Ternyata mereka hanya terhubung dengan Tuhan tetapi tidak ada keintiman. Sekaranglah saatnya membangun keintiman dengan Tuhan agar memiliki pengenalan yang benar pula.

b.Keintiman menghasilkan iman
Ibrani 11:17 – 19
Keintiman menghasilkan pengenalan, pengenalan menghasilkan iman. Semakin intim kita akan semakin kenal, jika kita semakin kenal maka kita akan semakin percaya. Jadilah inilah hubungan antara keintiman, pengenalan dan iman. Ketiganya saling berkaitan dan mempengaruhi satu dengan lainnya. Contohnya adalah Abraham. Abraham adalah pribadi yang intim dengan Tuhan. Sejak dipanggil keluar dari Ur-kasdim, ia di setiap tempat ia senantiasa membangun mezbah bagi Tuhan. Keintimannya dengan Allah melahirkan pengenalan, kemudian dari pengenalan itu membuahkan kepercayaan penuh kepada Allah. Itulah sebabnya Abraham tidak segan-segan mengorbankan Ishak kepada Allah sebab Ia mengenalNya dan mempercayaiNya bahwa Allah berkuasa membangkitkan Ishak sekalipun dari kematian.

Berapa lama kita sudah menjadi orang Kristen? Apakah iman kita bertumbuh? Apakah rasa kuatir kita makin berkurang? Apakah kita memiliki damai sejahtera dalam menjalani kehidupan dari hari kehari? Jika jawaban atas semua pertanyaan itu adalah ya, itu berarti kita makin mengenalNya dan mempercayai. Tetapi jika jawabannya “tidak” jangan-jangan kita hanya seorang penjalin hubungan, kita tidak memiliki keintiman dengan Tuhan. Ingatlah, tingkat kepercayaan kita tergantung keintiman kita dengan DIA.

c. Keintiman menginginkan Tuhan lebih dari segalanya
Mazmur 73:25,26
Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.

Hasil akhir dari keintiman dengan Tuhan adalah menginginkan pribadiNya lebih dari segala-galanya. Daud menyadari akan hal ini. Keintimannya dengan Tuhan telah membawanya mengenal dan mempercayaiNya lebih dari segala harta yang dimiliki dan kedudukannya sebagai raja. Baginya, Tuhan adalah harta terbesar yang ia miliki. Tuhan memberkati, KJP!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apakah Kita Sudah Sampai Disana? – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 2 – Minggu, 8 April 2018)

Kita sudah merayakan Paskah, yang sebenarnya menjadi dasar dari keyakinan Kristen kita. Anda pasti masih ingat dengan ayat di Roma 10:9, bukan? Bahkan Paulus juga dalam pembelaannya di hadapan Agripa menyebutkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang menjadi inti berita dari Paulus sebagai rasul Kristus, dan bahkan nabi-nabi sebelum dia. Kisah Para Rasul 26:22-23. Tetapi apakah Paskah adalah puncak dari kekristenan kita? Apakah kita sudah sampai disana? Keberhasilan seorang Kristen adalah saat ia percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus?

Mengenai hitungan waktu kita mengenal hari, bulan dan tahun. Dalam perjalanan kekristenan kita kalau ibarat seorang pelari, kita ini sudah di ujung sebelum Hari Kedatangan Tuhan kali yang kedua. Tentu saja kita tidak mau kalah sebelum finis. Seorang pelari malahan mempercepat geraknya saat akan finis!

Menariknya di Alkitab kita diibaratkan pelari. 1Korintus 9:24. Dalam ayat ini Paulus menjelaskan mengenai suatu gelanggang pertandingan, dan dikatakan semua berlari. Kita semua ada dalam pertandingan.

Karena kita ada dalam satu gelanggang yang sama, kita ada dalam kondisi yang sama. Track-nya sama, jarak tempuhnya sama, dan tujuannya sama. Hanya saja sering kali kita saling membandingkan. Ah dia kan dari keluarga pelari, ah dia kan pakai sepatu terbaru, ah dia kan gen pemenang. Baca ini: Roma 8:37.

“Yang terpenting dari sebuah kesuksesan besar adalah kesuksesan kecil yang berulang.”

Maksudnya apa, kita tidak bisa berharap langsung menerima kemenangan besar. Namun kita harus bisa memenangkan serentetan kemenangan-kemenangan kecil. Yosua 12:7-24. Jadi dibandingkan engkau melihat apa yang belum engkau dapat (yang biasanya bikin engkau frustrasi), kenapa engkau tidak melihat apa yang sudah Tuhan letakkan dibawah kakimu (maksudnya apa yang sudah engkau menangkan). ARE YOU THERE YET? Not yet, but I will be there.

Ada cerita inspirasi yang mungkin bisa jadi kesaksian. Yang pertama kisah nyata, yang kedua kisah dari Alkitab. Dua-duanya namanya sama. Yes, you’re right ini bukan tentang Jeff. Tapi tentang orang yang paling dekat dengan saya. Namanya: “Joseph”. Joseph Sudana Minandar. Beliau memiliki latar belakang yang sederhana, kalau tidak salah hanya lulusan SMA. Tinggal di daerah sederhana, tetapi sekarang menjadi seseorang yang kalau tidak kenal dekat

dengan beliau pasti biasa aja, tapi bagi saya Luar biasa. Ada 2 titik dalam hidup yang bagi saya menentukan dimana beliau sekarang. Pertama ketika berusia 32 tahun, menjadi pimpinan SAB, dan kedua, di tahun 2004 ketika memutuskan meninggalkan Tegal atau meneruskannya.

Joseph yang kedua adalah Joseph Bar Jacob. Yusuf bin Yakub. Dalam Kejadian 39:2. Kita belajar mengenai bagaimana standar kesuksesan itu didefinisikan ulang. Ini yang saya rindu saat kita datang bukan sekedar beribadah, tapi mengalami revolusi mental. Perubahan pikiran, metanoia. Sehingga engkau bisa introspeksi, dan menata hidupmu ke depan dengan lebih baik lagi. Are we there yet? Not yet, but with God, I will be there.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENANG ATAS GONCANGAN – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Paskah – Minggu, 1 April 2018)

Matius 26:32

PENDAHULUAN
Pada perayaan kematian Yesus, dalam Matius 26:31 dengan terus terang Yesus menjelaskan bahwa setiap orang percaya akan mengalami goncangan. Tetapi, Matius 26:32 Yesus teguhkan murid-murid agar mereka tidak takut, gelisah atau gentar menghadapi goncangan karena Yesus akan bangkit dan Yesus akan mendahului mereka ke Galelia. Apakah yang dimaksud dengan Yesus mendahului murid-murid ke Galelia? Sebelum kita bahas hal ini, kita perhatikan dahulu bagaimana keadaan murid-murid ketika mengalami goncangan sebelum Yesus bangkit atau disalibkan.

MURID-MURID DALAM GONCANGAN
Markus 14:43-52, saat Yesus bicara dengan murid-murid-Nya, Yudas datang dengan serombongan orang bersenjata untuk menangkap Yesus. Yudas mencium Yesus, sebagai isyarat untuk menangkap Yesus. Terjadilah keributan, sehingga seorang murid Yesus memotong telinga hamba Imam Besar. Dalam Markus 14: 43-52, setelah Yesus berdoa, ia bercakap-cakap dengan murid-muridNya. Ada sekumpulan orang datang dan menahan Yesus. Lalu murid Yesus bernama Yudas memberi tanda dengan mencium Yesus. Pada proses penangkapan Yesus, semua murid meninggalkan Dia dan melarikan diri.

TIDAK KEBAL GONCANGAN
Ketika goncangan datang semua murid itu meninggalkan Yesus dan melarikan diri. Tidak ada orang yang kebal goncangan, semuanya tergoncang dan meninggalkan Yesus. Apa yang murid-murid akan alami, kalau saat itu merupakan saat yang menentukan antara selamat atau binasa maka semua murid pasti binasa. Artinya bila bertahan dalam goncangan, maka akan selamat namun bila tinggalkan Yesus maka akan binasa! Semua binasa, karena semua meninggalkan Yesus.

AKIBAT GONCANGAN

  • Yudas Iskariot
    Dari dua belas murid Yesus, orang pertama yang digoncang adalah Yudas. Karena Yudas Iskariot, murid Yesus yang suka bersosialisasi. Tapi, Yudas tidak sanggup menghadapi goncangan, Matius 26:14-16. Puncaknya, Yudas tega mengkhianati Yesus di taman Getsemani. Sampai sekarang kebutuhan uang, masih menjadi alat yang efektif bagi iblis untuk menggoncang anak Tuhan di akhir zaman.
  • Petrus
    Ketika Petrus menghadapi goncangan, Petrus tidak sanggup mengalahkan perasaan takut dalam dirinya, sehingga Petrus memilih menyangkal Yesus dari pada mengaku Yesus. Tingkat penyangkalan Petrus semakin berat dan serius. Perhatikan, Matius 26:70 Petrus menyangkal dengan cara pura-pura tidak mengerti. Kata Petrus: “Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.” Matius 26:72, Petrus menyangkal Yesus dengan bersumpah, dan berkata: “Aku tidak kenal orang itu…” Matius 26:74 Petrus mengutuk dan bersumpah:“Aku tidak kenal orang itu”

Mengapa Petrus menyangkal Yesus? Petrus adalah model murid Yesus yang sombong rohani. Ia merasa dirinya paling rohani, paling hebat dibanding murid-murid lainnya. Yesus bernubuat goncangan yang akan dialami Petrus. Matius 26:33, Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku   sekali-kali tidak.”  Seharusnya Petrus berdoa: “Yesus tolong, aku tak berdaya, kuatkan aku…!!!”

  • Orang Muda
    Markus 14:51,52  “Ada seorang muda, yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan untuk menutup badannya, mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya, tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang.” Melihat murid-murid lari meninggalkan Yesus, anak muda ini kecewa, sebab itu anak muda ini berusaha mengikut Yesus dan tak mau mengkhianati Yesus. Tapi ketika orang-orang berusaha menangkap dia, ia melarikan diri dengan bertelanjang (melepaskan kain lenannya).

Jubah lenan adalah pakaian yang diperoleh lewat proses upacara. Pada khotbah beberapa minggu lalu, sudah dijelaskan bahwa seorang imam harus punya 2 jubah:

  • Jubah lenan berwarna putih
  • Jubah indah berwarna-warni

1 Petrus 2:9, orang percaya juga adalah Imam-imam yang berkerajaan. Jangan sampai karena ketakutan kita lari meninggalkan Yesus dan meninggalkan jubah lenan (keselamatan).

Dalam alkitab ada beberapa referensi mengenai makna bertelanjang, yaitu:

  • Kejadian 2:25, makna bertelanjang adalah kehilangan Kemuliaan.
  • Yesaya 20:4, makna bertelanjang merupakan penghinaan
  • Kisah Rasul 19:16, makna bertelanjang adalah kalah

Jadi konotasinya tidak baik. Tetapi mengapa anak muda itu lari? Karena anak muda ini tidak bertahan, karena dia ingin mengikut Yesus dengan cara mengandalkan kekuatannya, ia berpikir ia tetap bisa ikut Yesus dan mencoba bertahan meskipun murid-murid lain sudah lari. Setiap kita tidak mungkin sanggup ikut Yesus dengan mengandalkan: kekuatan, jabatan, kedudukan, kekayaan dan uang.

  • Keluarga Kleopas – Lukas 24:13-33
    Kleopas dan istri ialah murid Yesus, mereka mengasihi dan rindu mengikut Yesus, sehingga mereka putuskan untuk pindah dari Emaus ke Yerusalem. Tetapi, ketika Yesus disalib, mereka mengalami goncangan, sehingga mereka memutuskan meninggalkan Yesus pergi dari kota Yerusalem kembali ke Emaus. Kleopas meninggalkan Yesus ketika mengalami goncangan karena tidak berpegang pada firman Allah (Lukas 24:25) sehingga mereka tergoncang dan gagal.

Sebagai pengikut Yesus yang sejati, untuk menjadi kuat dan bertahan, dan  menjadi orang yang terpilih dan menjadi pengikut Yesus sejati kita perlu memperhatikan Matius 26:32 dan Yohanes 21:1-14. Dituliskan setelah iman dan komitmen para murid terpuruk karena goncangan yang mereka alami, membawa mereka kembali pada kehidupan lama. Petrus menjadi pelopor pertama. Tetapi Yohanes 21:4-6, pada saat murid-murid gagal karena tidak mendapat seekor ikan pun, ternyata Yesus sudah mendahului murid-murid-Nya ke Galilea dan menunggu mereka di pantai danau Tiberias. Di sana Tuhan Yesus memberkati murid-murid secara jasmani (Jala yang kosong dipenuhi berkat) Tetapi  Yesus memberkati murid-murid dengan berkat rohani.

Yohanes 21:15-19, Yesus memulihkan Petrus yang putus asa; tidak ada harapan, akibat goncangan yang telah membuat Petrus terpuruk. Tetapi, apakah hanya Petrus saja yang Yesus nasehati; kuatkan dan pulihkan?

KEBANGKITAN YESUS
Dalam Markus 14:32 Yesus berkata: “Akan tetapi sesudah Aku bangkit…” Ayat ini menjelaskan bahwa kebangkitan Yesus mendatangkan kemenangan bagi murid-murid-Nya atas segala bentuk goncangan yang murid-murid alami.

Apakah kebangkitan yang Yesus maksudkan? Dalam Roma 8:11 menuliskan bahwa Yesus bangkit oleh :

  • Kuasa Bapa yang sanggup membangkitkan Yesus
  • Yesus adalah Allah yang sanggup bangkit dari kematian
  • Sesuai Roma 8:11, Yesus bangkit oleh Kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam-Nya.

Apabila Roh Kebangkitan, yaitu Roh Kudus ada dalam diri kita, maka kita jadi “Pengikut Yesus Yang Sejati”, yang tak tergoncangkan. Contoh: Kisah 5:41 “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” Mereka berani karena mereka sudah mengalami kebangkitan rohani. Jadilah pengikut Yesus yang sejati dan tetap berdaya tahan. Tuhan memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TERGONCANG KARENA YESUS – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Kematian Yesus – Jumat, 30 Maret 2018)

PENDAHULUAN
Menjelang Yesus disalibkan, Yesus dengan para murid-Nya mengadakan perjamuan malam. Sementara mereka makan, Yesus mengadakan Perjamuan Suci yang belum dirayakan atau diadakan sebelumnya. Malam itu, Yesus merayakan Paskah yang sesungguhnya, yang akan Yesus genapi di kayu salib (Matius 26:26,27). Perjamuan Suci yang Yesus adakan merupakan nubuatan Paskah sesungguhnya, yaitu korban Yesus sebagai Anak Domba Allah untuk mengampuni dosa dan menyelamatkan umat manusia. Tetapi Perjamuan Suci yang selalu diadakan setiap bulannya merupakan sebuah peringatan akan korban yang Yesus telah lakukan di kayu salib, untuk mengampuni dosa dan menyelamatkan kita. Didalamnya ada berkat yang tersedia (Matius 26:26-27) yaitu:

  • Menerima pengampunan dosa
  • Menjadi anak-anak Allah – Yohanes 1:12
  • Kepastian selamat – Roma 10:9,10

Jadi makan dan minum Perjamuan Suci jangan dilaksanakan dengan sembarangan karena didalamnya terkandung sikap; pernyataan dan komitmen di hadapan Allah Bapa, Putra (Yesus) dan Roh Kudus bahwa kita menerima Yesus dalam hidup kita. Sebab itu lakukanlah perjamuan suci dengan hati yang sungguh-sungguh.

TERGONCANG KARENA YESUS
Setelah Yesus menjelaskan tentang arti dari makan dan minum Perjamuan Suci, maka secara terus terang Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya tentang goncangan. Matius 26:31 “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai berai.” Mengapa Yesus ijinkan goncangan? Apakah Yesus tidak bisa melindungi dari goncangan? Dalam Ibrani 12:26 dan 27, Yesus mengijinkan para pengikut-Nya mengalami goncangan, karena supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan! Artinya, lewat goncangan Yesus ingin mendapatkan pengikut-pengikut Yesus yang sejati, yaitu pengikut Yesus yang tak tergoncangkan.

BENTUK GONCANGAN
Ibrani 12:26 menjelaskan ada dua goncangan yang akan dialami, yaitu:

  • Goncangan di bumi (Goncangan secara jasmani)
    Goncangan ini adalah masalah hidup dan tantangan baik pekerjaan maupun kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya.
  • Goncangan di langit (Goncangan benda langit) – Markus 13:25
    Goncangan di langit merupakan goncangan di bidang rohani. Wahyu 8:8,9, pada saat sangkakala II ditiup, suatu gunung besar jatuh menimpa laut, sehingga sepertiga biota di laut mengalami kematian. Makna rohaninya adalah munculnya nabi palsu yang akan menggoncang bintang-bintang Allah di langit, yaitu orang-orang percaya. Dan tidak sedikit pengikut Yesus gugur imannya sebab telah disesatkan.

SETELAH GONCANGAN
Dalam Wahyu 7:1, menuliskan bahwa ada 4 malaikat yang menahan angin bertiup dari keempat mata angin, akibatnya laut akan menjadi tenang dan teduh karena tidak ada goncangan apa pun yang ditimbulkan oleh angin yang bertiup. Sebaliknya, apabila angin dibiarkan bertiup dari segala penjuru dunia, maka yang terjadi adalah lautan bergoncang begitu rupa. Jadi perhatikan wahyu 7:1 jika dihubungkan dengan Daniel 7:2,3 – saat laut digoncangkan maka keluar 4 binatang yang berbeda satu dengan lain. Laut merupakan gambaran dari masyarakat dunia ( Wahyu 7:15). Jadi dari kumpulan masyarakat dunia muncul para penguasa dunia.

 

KEEMPAT BINATANG

  1. Binatang Pertama – Daniel 7:4
Rupanya seperti seekor singa, dan mempunyai sayap burung rajawali; dan kepadanya diberikan hati manusia. Ini tentang seorang pemimpin besar yaitu raja Babel. Ia merupakan seorang diktator/ Penguasa Dunia

 2. Binatang Kedua – Daniel 7:5
Rupa-nya seperti beruang dan tiga tulang rusuk masih ada di dalam mulutnya di antara giginya. Ini merupakan raja Media-Parsi seorang diktator/ Penguasa Dunia.

 3. Binatang Ketiga – Daniel 7:6
Rupanya seperti macan tutul; ada empat sayap burung pada punggungnya, berkepala empat, dan kepadanya diberikan kekuasaan. Ini merupakan raja Yunani, seorang diktator/Penguasa Dunia.

Ketiga binatang tersebut yang merupakan gambaran penguasa Babel; Media Persia dan Yunani, sudah menjadi sejarah, artinya sudah digenapi. Namun masih ada satu binatang yang belum tergenapi. Wahyu 7:1, binatang ke-4 belum muncul karena ada yang menahannya.

GAMBARAN BINATANG KE-4
Daniel 7:7,8, yaitu menakutkan; mendahsyatkan; dan sangat kuat. Bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagi-pula ia bertanduk sepuluh. Jadi binatang yang tidak dikenal, tetapi sangat menakutkan dan mendahsyatkan adalah Diktator atau Penguasa Dunia di akhir zaman, yaitu: Antikristus. Tetapi binatang keempat (Antikristus) belum muncul (kehadirannya belum digenapi). Sebab 2 Tesalonika 2:2-8, Kehadiran Antikristus masih ada yang menahan yaitu “Gereja Sempurna.”

Apabila yang menahan, yaitu GEREJA telah JADI SEMPURNA atau kita telah bertumbuh menjadi pengikut Yesus yang sejati. Pada saat itu gereja sempurna akan dibawa ke Padang Gurun, Wahyu 12:6,14 dan Antikristus akan berkuasa di muka bumi. Ketiga penguasa dunia yang sudah tergenapi, pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Dan mengakibatkan goncangan yang dahsyat bagi pengikut Yesus. Satu-satunya yang dapat mengalahkan binatang keempat adalah Yesus.

Jadi bila kita menikmati perjamuan kudus maka kita menunjukkan komitmen kepada Yesus dan lewat goncangan kita akan muncul sebagai gereja yang sejati. Saat Antikris memimpin kita disingkirkan ke padang gurun serta bebas dan kekuasaan dan pengaruh antikris.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

IBADAH DAN MELAYANI DENGAN KASIH – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 25 Maret 2018)

Wahyu 3:1,2

 Wahyu 3:1 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu; Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!

Wahyu 3:2  Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.”

PENDAHULUAN
Ini adalah pembahasan terakhir tentang Jemaat di Sardis. Motivasi kita dalam beribadah dan melayani haruslah berdasarkan kasih. Jemaat Sardis terlihat beribadah dan melayani tetapi Yesus berkata tidak menerima apa-apa dari apa yang mereka lakukan. Ini menjadi pelajaran bagi kita agar jangan sampai ibadah dan pelayanan kita sama seperti jemaat di Sardis.

KEMAHATAHUAN YESUS
Yesus berkata “Aku tahu segala pekerjaanmu” artinya Tuhan kita maha tahu. Ia dapat melihat dan menilai ibadah serta pelayanan kita. Mulai dari motivasi kita ketika berangkat dari rumah sampai kita tiba di gereja dan beribadah. Di manapun kita berada, Yesus juga ada dan Ia tahu keadaan kita baik hati, jiwa dan tubuh kita, sebab Yesus memiliki ketujuh Roh Allah. Ini bukan berarti Allah memiiki 7 Roh melainkan bicara tentang bilangan sempurna. Artinya baik pengetahuan dan penglihatan-Nya sungguh sempurna sehingga Dia tahu segalanya.

TEGURAN YESUS
Dalam pandangan Yesus yang maha tahu Jemaat sardis dikatakanEngkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” Disini secara tegas Yesus menegur jemaat di Sardis, karena Jemaat Sardis itu memang ada secara fisik dan terlihat giat melayani, tetapi di mata Yesus, jemaat Sardis tidak berbuat apa-apa. Mengapa bisa demikian? Sebab ibadah dan pelayanan yang mereka lakukan tidak bersumber dari hati, melainkan hanya kekuatan emosi atau fisik semata. Sebab itu, di ayat 2 Yesus berkata: “Tidak satu pun dari pekerjaan-mu Aku dapati sempurna di   hadapan Allah-Ku”.  Jangan sampai kita aktif sepanjang minggu dengan kegiatan-kegiatan ibadah, Memuji Tuhan; dengar firman Tuhan;  melayani; berkorban tetapi dilakukan secara emosi semata, bukan lahir dari hati yang sungguh-sungguh sehingga di mata Yesus, ibadah kita sia-sia, bahkan kita seperti tidak beribadah.

IBADAH DAN MELAYANI YANG BENAR
Kita harus beribadah dengan cara yang benar, sehingga ibadah kita tidak menjadi sia-sia, sebaliknya berkenan kepada Tuhan. Mari kita pelajari  dalam I Korintus 3:11-15.

1.  YESUS ADALAH DASAR YANG BENAR
1 Korintus 3:11 “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”

Satu-satunya dasar ibadah dan pelayanan yang benar dan berkenan kepada Tuhan adalah di atas dasar Tuhan Yesus Kristus. Ketika kita melayani dengan dasar mengasihi Yesus maka di mata Yesus ibadah kita tidak sia-sia melainkan seperti dupa yang berbau harum.

Oleh karena jatuh dalam dosa manusia dipastikan akan binasa. Manusia mencari cara lewat agama-agama untuk bisa selamat, tetapi satu-satunya dasar manusia untuk selamat adalah kasih karunia Allah lewat pengorbanan PutraNya (Yesus).

KESELAMATAN DAN DASAR IBADAH/PELAYANAN YANG BENAR

Gambar 2. Kita adalah orang yang menyambut pengorbanan Yesus sehingga kita sudah ada pada dasar yang benar untuk selamat dan juga untuk beribadah atau melayani Tuhan. Ketika kita setia melayani di atas dasar yang benar ini maka kelak kita akan menerima pahala di sorga. Di luar Kristus, ibadah seperti apa pun tidak akan berkenan dan  tidak akan pernah sampai kepada Allah (tidak selamat).

2. MOTIVASI YANG BENAR DALAM IBADAH DAN PELAYANAN
1 Korintus 3:12 “Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput  kering atau jerami.”

Apapun bentuk Ibadah dan pelayanan yang kita lakukan diatas dasar Kristus, diumpamakan seperti orang yang membangun rumah.  Masalahnya dalam membangun (ibadah dan melayani), bahan apa yang kita gunakan? Paulus mengilustrasikan dua golongan bahan yang digunakan dalam membangun ibadah dan pelayanan yaitu :

  • Bahan yang terbaik : Emas, perak dan batu permata
  • bahan yang rapuh atau tidak berkualitas: Kayu, rumput kering dan jerami

Bahan-bahan ini bukan bicara soal materi (seberapa banyak yang diberi) melainkan Motivasi, yaitu alasan atau dasar yang mendorong kita dalam beribadah dan melayani Tuhan. 

  • MOTIVASI YANG BENAR (Emas; perak dan batu permata)

Yang dimaksud membangun dengan Emas, Perak, Batu Permata adalah Motivasi melayani karena “KASIH”. Ketika bernyanyi, memberi persembahan, berkorban atau melayani harus lahir dari hati yang mengasihi Tuhan.

  • MOTIVASI YANG SALAH (Kayu, rumput kering dan jerami)

Sedangkan membangun dengan bahan dari Kayu, rumput kering dan jerami, adalah ibadah dan pelayanan yang tidak berkualitas karena didasari dengan “Motivasi” yang salah, yaitu dengan terpaksa, untuk kebanggaan diri, pamrih dan lain-lain.

3. TUHAN AKAN MENILAI DAN MEMBERI PAHALA
1 Korintus 3:13 “Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api.”

Semua ibadah dan pelayanan yang kita buat bagi Tuhan kelak akan dinilai dan diberi pahala oleh Tuhan.

a). Kapan Tuhan akan menilai kita?
Semua motivasi kita akan terlihat waktu Tuhan menilai kita. Dan saat itu disebut “pada hari Tuhan” artinya setelah Yesus datang kedua kali yaitu sebelum Kerajaan 1000 tahun damai. Kita akan menyongsong Tuhan di angkasa (saat itulah ibadah dan pelayanan kita akan dinilai oleh Tuhan).

b). Cara Tuhan Menilai
Dikatakan: “Sebab ia akan nampak dengan api…” Artinya ibadah dan pelayanan kita akan dinilai oleh Tuhan dengan “Api”. Api yang dimaksud bukan api ujian atau pencobaan. Yang dimaksud adalah seperti tertulis dalam Wahyu 1:14 dikatakan mata Yesus bagaikan nyala api. Mata  Yesus sanggup melihat sampai ke batin kita apa motivasi kita saat ibadah dan melayani.

“Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.” (1 Korintus 3:14)

Apabila ibadah dan pelayanan kita tahan uji, (berkualitas) karena kita lakukan dengan motivasi yang benar, yaitu: KASIH maka kita akan menerima UPAH/PAHALA.

 

“Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. (1 Korintus 3:15)

Apabila ibadah dan pelayanan kita tidak berkualitas (terbakar), karena motivasi kita salah. Artinya kita akan mengalami kerugian!

Ibadah dan pelayanan yang kita lakukan, walau kecil dan sederhana, bila kita lakukan dengan kasih kita akan terima upah, yaitu pahala kemuliaan dari Tuhan Yesus. Sebaliknya bila ibadah dan pelayanan yang kita lakukan dengan motivasi yang salah, kita tidak akan mendapat upah (Pahala/Kemuliaan), semua yang kita kerjakan akan menjadi sia-sia, terbakar habis seperti kayu, rumput kering dan jerami.

 

JEMAAT SARDIS

Wahyu 3:1,2 “Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna  di hadapan  Allah-Ku.”

Artinya Jemaat di Sardis rajin beribadah dan senang melayani tetapi ibadah dan pelayanan mereka, bukan karena dasar kasih. Mereka lakukan dengan motivasi salah: kebanggaan; roh persaingan; terpaksa bukan dengan hati rela. Orang seperti ini memang akan selamat karena sudah percaya kepada Yesus (1 Korintus 3:15). Tapi, ia telah menyia-nyiakan pahala yang seharusnya ia terima, yaitu “mahkota kemuliaan”.

KESIMPULAN

Mari kita mengintrospeksi diri kita, biarlah yang kita kerjakan menjadi persembahan yang berbau harum di hadapan Tuhan karena motivasi kita dalam beribadah dan melayani adalah kasih, sehingga kelak kita pun beroleh pahala yaitu mahkota kemuliaan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SYARAT MENJADI PENGIKUT YESUS YANG SEJATI – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya 3 – Minggu, 18 Maret 2018)

Lukas 14:25-33

PENDAHULUAN
Tujuan utama Amanat Agung Tuhan Yesus adalah menjadikan semua orang Murid Kristus. Matius 28:19-20 “…jadikanlah segala bangsa murid-Ku, dan ajarlah mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah kuajarkan kepadamu.” Harus diketahui oleh semua anggota jemaat bahwa keselamatan dan menjadi murid adalah hal yang sama, tidak bisa dipisahkan. Sebab orang Kristen sejati pasti adalah murid Yesus yang sejati. Karena ada orang yang mengaku Kristen, sudah dibaptis, menjadi anggota gereja, rajin ke gereja, tetapi belum tentu orang itu sudah menjadi murid Yesus seperti yang Yesus inginkan.

Dalam Lukas 14:25-33, banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Kata “banyak” di ayat ini, dalam Lukas 12:1, disebut beribu-ribu, sehingga mereka berdesak-desakan dan dari beribu-ribu orang yang ikut Yesus, Yesus mengetahui, siapa yang benar-benar pengikut Yesus sejati  dan siapa yang hanya ikut-ikutan. Karena Yesus lihat dan tahu motivasi (niat) hati kita. Yesus ingin bukan banyaknya orang yang berkumpul, tetapi tidak jelas komitmen dan tujuannya. Yesus mencari orang yang sungguh-sungguh mengikut Dia. Sebab itu Yesus berpaling (membalikkan tubuhNya) dan berkata dalam Lukas 14:26 “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, dan anak-anaknya, saudaranya-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Apa arti ayat tersebut?

Syarat pertama untuk jadi “Pengikut Yesus Yang Sejati” adalah membenci Bapa; ibu; istri; anak; saudara; bahkan nyawanya sendiri. Kata “Membenci”, dalam bahasa Yunani ditulis dengan kata MISEO. Sedang dalam terjemahan inggiris ditulis HATE. Artinya membenci dalam ayat tersebut bukan Yesus sedang mengajar supaya benci keluarga, sebab hal itu bertentangan dengan perintah ke 5 Hukum Taurat yang berbunyi “Kita harus menghormati orang tua kita” (Keluaran 20 dan Matius 15:4).

Jadi kata MISEO (bhs. Ibrani Timur), merupakan perbandingan atau merupakan preferensi (pilihan). Tetapi artinya pengikut Yesus yang sejati adalah orang yang beriman kepada Yesus dengan komitmen pada prinsip “Yesus adalah yang utama dan segala-galanya bagi saya. Karena Yesus sudah menyelamatkan saya, mati disalib untuk menebus dosa-dosa saya, oleh karena Yesus, saya diselamatkan. Sebab itu bagi saya Yesus adalah segala-galanya dibandingkan dengan  siapa pun dan apa pun. Saya mengasihi:  bapa saya, ibu saya, istri saya, dan anak-anak saya, saudara-saudara saya yang laki-laki atau perempuan. Tetapi apabila bapa, ibu, istri, dan anak-anak, saudara-saudara saya yang laki-laki atau perempuan, meminta supaya saya menyangkal dan tinggalkan Yesus! Dan mereka berkata: Kalau kamu tidak mau, jangan akui bapa sebagai bapamu; ibu sebagai ibumu; isteri sebagai isterimu dan seterusnya, maka saya akan berkata saya lebih baik kehilangan nyawa saya daripada  harus menyangkal dan mengkhianati Yesus.” Inilah maksud dari membenci keluarga, artinya rela kehilangan semua demi Yesus.

Pertanyaannya, siapkah kita kalau keluarga kita menolak Yesus dan melarang kita untuk ikut Yesus? Siapkah kita kalau karena mengikut Yesus nyawa kita terancam oleh orang-orang yang benci kepada Yesus? Bila tidak siap dan tidak punya komitmen untuk rela kehilangan nyawa karena Yesus, (Luk 9:23; 17:33; 1 Yoh 3:16) berarti kita bukan dan tidak layak atau tidak memenuhi syarat untuk menjadi murid atau pengikut Yesus sejati.

Syarat menjadi pengikut Yesus yang sejati

  1. Mengasihi Yesus lebih utama dari pada ikatan hubungan keluarga dan bahkan nyawa sendiri.
    Kasih kepada Yesus adalah nomor satu dari apapun juga. Lebih dari Ikatan hubungan keluarga, mulai bapa; ibu kandung, istri (apalagi pacar), anak-anak, saudara-saudaranya laki-laki/ perempuan, bahkan nyawa kita sendiri harus ditempatkan pada nomor kesekian diban- dingkan dengan Yesus”.
  1. Rela Menderita Untuk Terus Mengikut Yesus
    Lukas 14:25 tentang orang yang berduyun-duyun ikut Yesus, mungkin hati mereka berharap Yesus akan berkata: “Kalau kamu mau jadi murid-Ku, kamu akan menerima kekayaan; kehormatan dan kemasyuran; dan kamu akan kujadikan orang yang hebat”. Tetapi yang Yesus katakan sebaliknya yaitu jikalau ada orang yang ingin menjadi murid-Ku: Ia harus memikul salibnya dan harus terus mengikut Yesus.
    Kata “memikul salib” di zaman Yesus (abad pertama), tidak seperti zaman sekarang yang dijadikan sebagai hiasan indah, dibuat kalung hiasan, juga symbol gedung gereja. Tetapi Salib dalam bahasa Yunani ditulis STAURO (Cross). Yesus disalib oleh pemerintah Romawi, salib dibuat dari Kayu kasar untuk menghukum mati bagi para penjahat. Orang yang dihukum mati dengan cara disalib, orang tersebut harus pikul salibnya sendiri sampai di tempat penyaliban. Pergelangan tangan dan kaki orang yang akan disalib, diikat pada kayu salib lalu dipaku pada salib. Dan orang yang disalib itu, menderita sampai mati secara perlahan-lahan dan bisa berlangsung berhari-hari.
    Dalam bahasa asli (Yunani) atau dari Bahasa Inggris, yang dimaksud adalah salibnya di sini, bukan salib yang Yesus pikul, tetapi salib kita sendiri yang harus kita pikul. Jadi ucapan Yesus dalam Lukas 14:27, artinya orang Kristen yang bersedia menanggung penderitaan oleh karena Yesus secara terus menerus. Lukas 9:22-26, lebih rinci dijelaskan arti jadi pengikut Yesus, yaitu bukan menjadi baik, suci dan benar selama 2 jam waktu kita ibadah di gereja. Tetapi 24 jam dalam sehari; 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan. Ketika diajak minum; diajak tidak jujur; diajak korupsi; diajak dusta; diajak senang-senang melakukan 1001 dosa, kita senantiasa berkata “Sekali Yesus tetap Yesus.”
    Kesimpulan
    Salib adalah menyalibkan (mematikan) semua keinginan diri atau membiarkan penderitaan  bagi daging kita!
  1. Komitmen
    Komitmen bahwa sampai akhir hidup, bersedia memberikan seluruh hidup bagi Yesus Kristus lebih dari apapun sampai akhir. Lukas 14:28-33, untuk menjelaskan tentang sikap pengikut Yesus yang sejati, Yesus berikan 2 perumpamaan, antara lain:
    – Orang yang akan membangun sebuah Menara
    – Orang yang akan maju berperang melawan musuh.

Merencanakan untuk membangun Menara atau Perang, orang yang bijak akan duduk membuat anggaran dan pertimbangkan matang! Supaya tidak menjadi bahan olok-olok dan cemoohan serta pergunjingan orang, sehingga tidak menjadi Kesaksian Baik. Pengikut Yesus Yang Sejati akan mempertimbangkan segala sesuatu yang akan diperbuat dan dikerjakan di hadirat Tuhan (Di bawah kaki Tuhan). Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment