Ibadah Peringatan Kematian dan Perayaan Kebangkitan Yesus

baner Ibadah memperingati kematian Yesus

Advertisements
Image | Posted on by | Leave a comment

Seri PEMBUNUH RAKSASA: PEMBUNUH RAKSASA MEMILIH MENYEMBAH TUHAN SEKALIPUN LAWAN ADA DI DEPANNYA – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 31 Maret 2019)

1 Samuel 17

1 Samuel 17:50
Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Pendahuluan
Sehubungan hari ini adalah Minggu kelima, maka ibadah kita dikemas sebagai ibadah pujian penyembahan. Secara khusus dalam ibadah ini kita memberikan porsi yang lebih banyak untuk memuji dan menyembah Tuhan. Demikian pula dengan khotbah-khotbah yang disampaikan seputar tentang pujian dan penyembahan. Untuk itu, sore hari ini marilah kita belajar tentang pujian dan penyembahan dari kisah perkelahian Daud dan Goliat.

Rahasia Kemenangan Daud
Kita sudah mempelajari rahasia-rahasia  kemenangan Daud  menghadapi Goliat, yaitu:
1. Pembunuh raksasa memilih mendengar suara TUHAN dari pada suara LAWAN.
2. Pembunuh raksasa memilih MEMANDANG TUHAN daripada MEMANDANG LAWAN
3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
4. Pembunuh raksasa memperkatakan KEMENANGAN bukan KEKALAHAN.
5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan dari pada mencari kehormatan diri sendiri.
6. Pembunuh raksasa memilih berharap kepada TUHAN, bukan senjata perang
7. Pembunuh raksasa memilih keluar dari zona nyaman ke zona iman.

Dan rahasia kemenangan Daud selanjutnya yang akan kita pelajari adalah:

8. Pembunuh Raksasa memilih untuk menyembah TUHAN sekalipun lawan ada di depannya.

Kemenangan Daud melawan Goliat bukan ditentukan oleh kekuatannya ataupun keahliannya untuk berperang. Daud hanya seorang gembala, bukan prajurit yang terlatih. Daud tidak terbiasa berperang dan tidak memiliki keahlian untuk memainkan senjata perang, tetapi mengapa dia bisa mengalahkan Goliat? Karena Daud adalah seorang “Penyembah Tuhan.” Inilah rahasia tersembunyi yang tidak dimiliki oleh raja Saul dan seluruh pasukan Israel. Mereka mengandalkan kekuatan dan senjata perang, tetapi Daud memilih untuk mengandalkan Tuhan.

Mari kita perhatikan perbedaan antara raja Saul dan Daud.

  • Raja Saul adalah seorang yang percaya Tuhan, Daud adalah seorang penyembah Tuhan
    Inilah yang membedakan antara raja Saul dan Daud. Raja Saul percaya kepada Tuhan tetapi bukan seorang penyembah, sedangkan Daud bukan saja orang yang percaya kepada Tuhan, namun ia adalah seorang “penyembah Tuhan.” Bagaimana dengan kita? Menjadi kristen tidak sekedar percaya kepada Tuhan tetapi harus menjadi penyembah Tuhan. Jika kekristenan kita hanya sekedar percaya kepada Tuhan, maka kekristenan kita sama dengan kepercayaaan setan. Setan itu percaya adanya Tuhan bahkan mereka gemetar, tetapi setan tidak menyembah Tuhan, sebab dia sendiri ingin disembah (Yak.2:19). Setan percaya, tetapi bukan penyembah!
  • Raja Saul berperang di medan tempur, Daud berperang di padang pengembalaan.
    Sebelum ada di medan tempur, Daud telah mempersiapkan dirinya di padang pengembalaan. Di sana ia berlatih bertempur dengan singa dan beruang, kesulitan, penderitaan dan segala macam tantangan hidup. Oleh sebab itu ia tidak takut dengan Goliat sebab ia telah mempersenjatai dirinya di padang pengembalaan.
  • Raja Saul berperang di area kelihatan, Daud berperang di area tidak kelihatan
    Kunci kemenangan Daud dengan Golait di medan pertempuran diawali di tempat-tempat yang tak terlihat dimana ia bersekutu dengan Tuhannya. Daud telah memenangkan pertandingan di alam spiritual, sebelum ia membunuh Goliat.
    Firman Tuhan dalam kitab Ibrani 11:3  berkata : Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.”Segala sesuatu yang kelihatan diawali dari yang tak terlihat. Jadi kemenangan kita menghadapi peperangan iman selalu diawali dari kemenangan di alam yang tak terlihat. Di tempat-tempat tersembunyi, jauh dari keramaian dan hingar-bingar dunia, ditempat dimana hanya kita dengan Allah dalam ruang-ruang doa kita. Mustahil kita dapat memenangkan peperangan iman, jika kita tidak menang dalam doa dan penyembahan.
  • Saul mengandalkan senjata perang, Daud mengandalkan kuasa Tuhan
    Saat maju berperang Saul diperlengkapi dengan senjata perang. Seluruh tubuhnya terbungkus rapat pakaian perang, serta dilengkapi tombak dan tameng. Berbeda dengan Daud. Daud tidak mengandalkan pakaian perang, ia lebih mengandalkan kuasa Tuhan. Sekalipun dengan tubuh yang terbuka, Daud tidak takut sebab yang menjadi perlindungannya adalah Tuhan.
    Jangan andalkan pakaian perang, sebab semuanya itu hanya bisa menutupi tubuh kita tetapi bukan jiwa kita. Andalkanlah Tuhan yang sanggup memelihara tubuh, jiwa dan roh kita.2 Kor. 10:4
    karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.

Jadi dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemenangan Daud melawan Goliat disebabkan karena Daud tetap menyembah Tuhan sekalipun musuh ada di depannya. Pandangan Daud tetap fokus kepada Tuhan yang ia sembah. Teriakan tantangan Goliat tidak dapat mengalihkan perhatiannya untuk menyembah Tuhan. Inilah kehidupan seorang pembunuh raksasa, ia memilih untuk tetap menyembah Tuhan sekalipun lawan ada di depannya.

Mengapa Daud tetap menyembah Tuhan sekalipun musuh ada di depannya?
A. Seorang penyembah mengenal “siapa” yang disembah
1 Sam 17:37
Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

Penyembahan membawa pengenalan siapa yang kita sembah. Daud sebagai seorang penyembah mengenal dengan benar siapa Tuhan yang disembah. Itulah sebabnya perkataannya menunjukan pengenalan akan Tuhan dan kepastiannya akan pertolongan Tuhan. Perhatikan kembali perkataan Daud. Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”

Dengan penuh keyakinan Daud percaya bahwa Allah yang dia sembah akan memberikan kemenangan terhadap Goliat seperti ia membunuh singa dan beruang di padang belantara. Banyak orang kristen tidak berani menghadapi lawan karena tidak mengenal Tuhan. Mereka tidak mengenal Tuhan karena tidak menyembah Tuhan. Oleh sebab itu tidak ada pilihan bagi kita jika ingin mengenal Tuhan kita harus menyembah Tuhan.

Penyembahan adalah pengenalan
Yoh 4:21,22
Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

Jadi penyembahan yangan benar bukan dimana atau bagaimana kita menyembah, tetapi “siapa” yang kita sembah. Penyembahan itu bukan metode/cara/ sistem, penyembahan adalah hubungan antara kita dengan Tuhan. Penyembahan yang benar membawa pengenalan yang benar kepada siapa kita menyembah. Dari kisah ini kita dapat melihat pertumbuhan pengenalan wanita Samaria ini. Wanita Samaria awalnya mengenal Yesus sebagai orang Samaria, kemudian ia mengenalnya sebagai Nabi, dan akhirnya ketika Yesus menawarkan air hidup, ia mengenalNya sebagai Mesias/juru selamat.

Pengenalan akan Tuhan memberikan keyakinan, keberanian dan kekuatan. Orang yang hidupnya menyembah Tuhan akan memiliki pengenalan yang dalam kepada Tuhan, akibat pengenalan tersebut ia akan memiliki keyakinan yang kokoh kepada Tuhan, keberanian untuk bertindak dan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi.

Daniel 11:32b
“…. tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.”

 2 Timotius 1:12
Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

B. Penyembahan mempengaruhi kerajaan Allah
Daud tetap menyembah Tuhan sekalipun musuh ada di depannya, sebab Daud tahu bahwa penyembahannya akan mempengaruhi kerajaan Allah. Ingatlah: “Jika kita tidak bisa mengendalikan musuh kita, kita dapat mempengaruhi kerajaan Allah untuk bertindak.”

Daud tidak bisa mengendalikan Goliat tetapi Daud dapat mempengaruhi kerajaan Allah untuk bertindak baginya. Penyembahan itu menyebabkan tangan Allah bertindak. Mari kita perhatikan pengaruh penyembahan Daud terhadap kerajaan Allah.

1 Samuel 17:45-47
Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

Lihatlah perkataan seorang penyembah. Secara kasat mata peperangan itu adalah antara Daud dan Goliat. Tetapi penyembahannya telah membawa imannya naik ke tingkat yang lebih tinggi sehingga ia berkata: “Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

Daud tahu dengan betul bahwa peperangan yang dihadapi bukan peperangannya tetapi peperangan TUHAN. “Jika musuh kita adalah musuh Tuhan, maka peperangan itu adalah peperangan TUHAN.”

Peperangan apa yang sedang Anda hadapi? Tetaplah menyembah Tuhan, fokuskan perhatian hanya kepada Tuhan bukan kepada lawan, percayalah saat kita menyembah, kerajaan Allah akan bergerak bersama kita. Teruslah menyembah Tuhan memberkati. – KJP!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HAL KERAJAAN SURGA BAGIAN 3: SUKA CITA OLEH ROH KUDUS – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 31 Maret 2019)

Roma 14:17
“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus.”

Pendahuluan
Kita sudah mendapat pengertian bahwa suasana Kerajaan surga dapat kita nikmati selagi kita ada dalam dunia ini bukan cuma nanti kalau sudah di surga. Tetapi hal Kerajaan surga sama sekali tidak dipengaruhi oleh perkara jasmani (makanan dan minuman). Karena suasana Kerajaan surga tercipta dengan adanya : Kebenaran, Damai Sejahtera dan Suka cita oleh Roh Kudus. Orang percaya menjadi benar karena dibenarkan oleh penebusan darah Yesus, dosa kita dihapuskan sehingga kita menjadi orang-orang yang dibenarkan. Jadi sebenarnya tidak ada orang yang benar, yang ada adalah orang-orang yang telah dibenarkan oleh penebusan darah Yesus. Sebagai orang-orang yang benar, maka kita harus hidup dalam kebenaran, yaitu melakukan segala perintah firman Tuhan, karena firman Tuhanlah sumber kebenaran  yang dapat mengkuduskan kehidupan orang percaya untuk tetap menjaga hidupnya dalam kebenaran. Yoh. 17:17.

Damai sejahtera akan menjadi penanda atau ciri khas dari orang yang hidup dalam kebenaran, karena damai sejahtera tidak akan mungkin ada dalam hidup orang yang diluar kebenaran, sebab hati nuraninya akan terus menuduhnya. Jika dalam hidupnya masih ada kebencian, kepahitan dan dosa-dosa lain tidak mungkin dapat hidup dalam damai sejahtera, ibils akan terus mengintimidasi kehidupannya lewat hati nuraninya dengan tuduhan-tuduhan dosa yang belum diselesaikan.

Kisah 24:16 – “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia”

Dalam hidupnya Paulus menjaga hati nuraninya yang tulus dengan selalu hidup dalam kebenaran firman Tuhan, baik terhadap Tuhan maupun kepada sesama manusia. Kepada Tuhan tidak ada lagi dosa yang tersembunyi semua diselesaikan, kepada sesama manusia Ia sudah bebas dari kebencian, amarah apalagi dendam. Paulus telah menyelesaikan semuanya dengan pengampunan sebagaimana ia juga telah diampuni dosanya. Paulus menjadi orang yang benar-benar merdeka, tidak lagi ada intimidasi dosa maupun kepahitan terhadap sesamanya, maka damai sejahteralah ia, damai kepada Allah dan manusia. Setiap orang percaya harus masuk dalam taraf kehidupan rohani yang seperti ini.

SUKA CITA OLEH ROH KUDUS
Selanjutnya orang yang hidup dalam kebenaran, bukan saja mengalami damai sejahtera tetapi juga suka cita oleh Roh Kebenaran yaitu Roh Kudus.  Yohanes 16:13a – “Sebab apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,Ia akan memimpin kamu kedalam seluruh kebenaran…..”   Orang yang hidup dalam kebenaran, akan mengalami damai sejahtera dan oleh Kuasa Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran akan melengkapinya dengan suka cita.

Kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya inilah yang akan membawanya masuk dalam suasana Kerajaan Allah. Ia akan dengan mudah menjumpai Allah sang pemilik Kerajaan surga.  Bagaimana caranya ?

PUJIAN DAN PENYEMBAHAN
Orang yang hidup dalam kebenaran, damai sejatera oleh Roh Kudus dapat menjumpai Allah lewat pujian dan penyembahannya kepada Allah. Yohanes 4:24 – “Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Allah itu Roh, tidak dapat dihampiri dengan perkara jasmaniah tetapi  harus dengan roh kita. Roh manusia yang bagaimana yang dapat menjumpai Allah dalam pujian dan penyembahannya? Yaitu roh manusia yang sudah alami proses dibenarkan, mengalami damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus. Dengan kata lain roh manusia yang sudah lahir baru, oleh penebusan darah Yesus yang sudah alami pembenaran.

Inilah yang menjadi masalah mengapa orang sangat sulit memuji dan menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, karena hatinya belum mengalami pengubahan. Bertobat saja belum, ia tidak akan mampu mengampiri Allah dengan rohnya yang mati,iIa harus alami kelahiran baru rohnya, melalui pertobatan dan menerima penebusan dosanya oleh darah Kristus. Hal seperti juga dapat terjadi terhadap orang percaya, jika ternyata ada dosa yang belum diselesaikan dengan Tuhan, ada dosa yang disembunyikan, ia akan sulit menyembah Tuhan, karena kehilangan damai sejahteranya. Secepatnya kita berkomitmen kepada Tuhan untuk meninggalkan cara hidup lama kita, watak lama kita, pikiran lama kita, maka Roh Kudus akan memperbaharui hidup kita menjadi sama sekali baru.

2 Kor. 5:17 – “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru yg lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Kata “baru” disini bukan hidup lama yang kotor dicuci dengan bersih sehingga menjadi seperti baru, tetapi benar-benar Tuhan buat hidup kita baru sama sekali, karena yang lama sudah tidak ada lagi. Bagaimana kita memuji dan menyembah Tuhan dengan roh kita ? Lakukan dari dasar hati yang terdalam yaitu roh kita dengan penuh kesungguhan, fokus kepada Tuhan, bukan kepada siapa yang pimpin pujian atau yang main musik. Karena orang yang sudah hidup dalam kebenaran, tidak lagi menilai kekurangan orang lain. Banyak orang terhalang untuk menyembah Tuhan karena masih suka menilai kekuarangan orang lain, tidak suka kepada yang memimpin pujian, tidak suka dengan yang main musik, karena menilai hidup mereka tidak layak dalam melayani, akhirnya hatinya dipenuhi dengan syak dan menghakimi orang lain, jika sudah seperti ini tidak mungkin ia dapat menyembah Tuhan. Fokuslah kepada Tuhan, soal mereka yang melayani di mimbar itu bukan urusan kita, itu urusan hidup mereka dengan Tuhan. Kita harus puji dan sembah Tuhan sampai pada satu tingkat dimana kita bersatu dengan Roh Kudus.

Roma 8:16  – “Roh itu bersaksi bersama-sama roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”  Roh Allah dan roh kita terjalin intim dalam pujian penyembahan kita. Allah adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak-Nya.

Maleakhi 1:6a – “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu. Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu ?”

Nabi Maleakhi menegur bangsa Israel yang tidak menghormati Allah, baik sebagai Bapa maupun sebagai Tuan mereka, karena kehidupan bangsa Israel jauh dari kebenaran yang Tuhan inginkan, sehingga menjadi bangsa pemberontak. Tetapi tidak demikian dengan kita, kita adalah orang-orang yang sudah dibenarkan, hidup dalam damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus yang diam dalam hati kita, maka kita tahu bagaimana kita harus memuji dan menyembah Tuhan sebagai Bapa kita yang kekal. Tanpa harus dikomando kita dapat mengekpresikan rasa hormat kita dalam memuji dan menyembah Tuhan tulus dari dasar hati kita yang terdalam.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pujian dan Penyembahan – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 1 – Minggu, 31 Maret 2019)

Dalam Kitab Wahyu pasal 4 dan 5, kita membaca dan menyaksikan suatu pemandangan yang indah dan semarak di Sorga. Melalui dua pasal ini, kita dapat menyimak suasana ibadah sorgawi yang luar biasa mulia dan Kudus. Ternyata kebaktian di sorga didominasi oleh PUJIAN & PENYEMBAHAN. Beribu – ribu laksa penduduk surga, mengelilingi Tahta Allah, yang bersentral pada Anak Domba Allah yaitu Tuhan Yesus Kristus (Wahyu 5: 6, 11). Mereka terdiri dari setiap suku, setiap bahasa, setiap kaum, setiap bangsa yang pernah bermukim di dunia, yaitu orang-orang yang telah ditebus oleh Darah Yesus (Wahyu 5:9). Mereka mempersembahkan puji-pujian, hormat dan ucapan syukur kepada Dia sebagai korban kepada Tuhan. (Wahyu 4 : 9). Mereka menyembah (“PROSKUNEO”) Dia (Wahyu 4:10, 5: 14).

Minggu ini kita berbicara mengenai penyembahan, bagaimana keseluruhan hidup kita merupakan “Korban” di hadapan Tuhan sebagai bentuk ucapan syukur atas segala karunia yang Tuhan sudah berikan dalam hidup kita.

Apa yang disebut sebagai penyembahan sesuai Firman Tuhan?
1. Penyembahan adalah ‘KORBAN”
Kata worship atau penyembahan pertama kali muncul di Alkitab dalam Kejadian 22:5. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang (shachah), sesudah itu kami kembali kepadamu.”

Abraham mempersiapkan korban yang terbaik dari hidupnya dan pergi untuk sembahyang kepada Tuhan dan inilah sebagai bukti penyembahan Abraham yang mengorbankan segalanya buat Allah yang hidup tanpa dipengaruhui keraguan,tanpa rasa rugi dan hitung- hitungan kepada Tuhan dan tidak dipengaruhi kondisi hati dan keadaan yang terjadi saat itu.

Kita perlu mempersembahkan hidup kita seutuhnya sebagai “Korban” di hadapan Altar/Mezbah Tuhan. Penyembahan yang berkenan kepada Tuhan tidak bergantung event, kondisi hati, emosi bahkan keadaan kita saat ini. Justru saat kita merasakan kondisi yang kurang baik TETAPI kita tetap mengambil keputusan untuk menyembah Dia dan hidup dalam kebenaran, itulah korban bakaran atau penyembahan kita yang sejati. 

Dalam Mazmur 73,  kita dapat belajar dari pengalaman Asaf, sebagai seorang pemuji dan penyembah Tuhan di bait Allah yang merupakan keturunan orang Lewi / pelayan Tuhan. Pemazmur  hampir tergelincir terjatuh karena melihat keadaan orang fasik yang sepertinya baik-baik saja dan diberkati (ayat 2-10), bahkan di ayat 21-22 Pemazmur dalam kondisi hati yang pahit dan lemah tetapi Pemazmur tetap mengambil keputusan untuk memuji dan menyembah Tuhan. Dalam  Mazmur 73:25-26  Pemazmur memgambil keputusan dan berkomitmen untuk tetap menyembah Tuhan. Dia katakan: “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau?  Selain Engkau  tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku  habis lenyap, gunung batuku  dan bagianku  tetaplah Allah selama-lamanya.”

Kisah lain kita dapat belajar dari pengalaman Raja Daud  2 Samuel 15:30-32. Ketika Daud lari karena diancam Absalom anaknya, Daud naik ke bukit Zaitun tanpa menggunakan kasut dan sampai ke puncak, ke tempat orang sujud menyembah (shachah) kepada Allah, maka datanglah Husai,  orang Arki,  mendapatkan dia dengan jubah yang terkoyak dan dengan tanah  di atas kepala.

Kita belajar untuk tetap menyembah Tuhan dalam keadaan apapun yang kita alami seperti Daud tetap berkeputusan datang bersujud menyembah Tuhan dan inilah penyembahan sebagai korban bagi Tuhan.

2. Pujian, Penyembahan dan Ucapan Syukur Merupakan Deklarasi Kita kepada Tuhan
Sering kali dalam setiap ibadah kita menilai pujian dan penyembahan hanyalah sebuah pemanasan sebelum kita mendengarkan khotbah, sehingga kita mungkin datang terlambat, atau seenaknya dalam memuji dan menyembah Tuhan, sesuatu yang tidak penting. Ini salah! Pujian dan penyembahan adalah moment dimana kita bisa memberi ucapan syukur kita kepada Tuhan, membawa korban syukur kita di hadapan Tuhan dan memberikan yang terbaik dalam kehidupan kita kepada Dia.

Pada saat kita mengangkat tangan, menaikan suara dan membawa hati kita menyentuh hati Tuhan, kita sedang mendeklarasikan kepada sekeliling kita, kepada setiap permasalahan kita, dan kepada musuh kita yaitu iblis, bahwa Dia Yesus adalah Tuhan dan Raja atas hidup kita, sehingga tidak ada suatu kuasa pun yang berhak mengganggu dan menghalangi kita untuk menerima semua berkat, kelimpahan, kemenangan, kesembuhan dan kedahsyatan yang Tuhan mau berikan di dalam kehidupan kita! Sesuatu hal yang supranatural yang sedang terjadi dalam penyembahan.

Bagaimana kalau kita sedang lemah?
Tuhan tidak mau kita lemah!
Kenapa Tuhan tidak mau kita lemah? Karena Iblis menyerang kita pada saat kita lemah. Jangan kita biarkan kelemahan menguasai kita. Cari Tuhan, supaya kita dikuatkan, sehingga ketika kita kuat, kita bisa menghadapi dunia. Mungkin kita susah menghadapi hidup ini, tapi Tuhan pasti turun tangan. Justru dalam kelemahanlah, kekuatan Tuhan menjadi sempurna.

Mungkin kita sedang lemah, kawan jadi lawan, diserang dari belakang, orang yang kita tolong mungkin menyerang dari belakang. Tapi kalau kita terus bertahan dalam kelemahan, dunia akan terus menyerangmu.

Yohanes 16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”Saat kita didalam Yesus maka ada kekuatan yang baru mengalir dan memperbaharui hidup kita karena Yesus sudah mengalahkan dunia ini,  itu sebabnya saat kita lemah teruslah mengucapan syukur katakan Tuhan itu baik, menyembahan dengan meninggikan, menyanjung namaNya, mengangkat tangan saat memuji dan menyembah, bernyayi, bermazmur, berkat-kata dalam pujian sebagai Deklarasikan kita (Efesus 5:19-20)

3. Penyembahan Mengubah Hidup Kita, Yohanes 4:23-24
Mengetahui tentang penyembahan tidak akan berdampak apa pun, tetapi menyembah Tuhan akan mengubah hidup kita!

Ayat 23…sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Kata “menghendaki” ditulis KJV dengan kata “mencari”.

Di dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, kata “menghendaki” ditulis dengan kata “mencari”. Jadi Tuhan mencari penyembah, bukan sekadar bentuk penyembahannya. Tuhan tidak tertarik dengan kemegahan acara ibadah, tetapi Tuhan mencari penyembah, Tuhan mencari Anda. Ketika kita datang ke Rumah Tuhan, kita bukan mau melihat konser yang megah, pemimpin pujian yang dahsyat, atau pembicara yang luar biasa. Jika itu yang kita lakukan, kita tidak akan mendapat upahnya. Lakukan penyembahan dengan cara saudara sendiri, alami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Kita tidak perlu meniru gaya orang lain, karena setiap kita berbeda. Tuhan juga tidak menilai gaya orang per orang di dalam penyembahan. Yang diperlukan bukan gaya penyembahan, tetapi kedekatan kita dengan Tuhan sebagai hasil dari penyembahan tersebut. Cara pandang kita diubahkan begitu kita dekat dengan Tuhan, sehingga kita mulai mengerti cara kerja Tuhan.

Perempuan Samaria yang mengalami perjumpaan dengan Yesus mengalami perubahan hidup. Yohanes 4:14-24 menjelaskan bagaimana perempuan ini bercakap-cakap dengan Yesus dan melalui perjumpaan dengan Yesus maka perempuan ini mengalami perubahan hidup. Penyembahan membawa kita lebih dekat dan mengalami Tuhan setiap hari dan hidup kita pastinya ada perubahan sesuai kehendakNya. Penyembahan akan membuat kita intim dengan Tuhan. Ketika kita intim dengan Tuhan, kemuliaan Tuhan menular kepada kita.

Contoh Musa saat mengalami perjumpaan dengan Tuhan, Keluaran 34:29-30, wajahnya penuh dengan kemuliaan Tuhan, bukan hanya kemuliaan Tuhan, Kasih karunia dan damai sejahteraNya serta kuasaNya pun akan diberikan kepada kita untuk menghancurkan pekerjaan Iblis. Ini menegaskan bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan. Di samping itu, perkenanan dan belas kasih ilahi pun turun atas kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kekuatan dan hikmat Allah – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 24 Maret 2019)

Kolose 1:9-11

Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari ayat 9 sampai ayat 11. Khotbah pagi ini merupakan pendahuluan dari khotbah di minggu-minggu mendatang. Dalam ibadah pertama di minggu kedua, sudah membahas ayat 3-8. Pada ayat-ayat tersebut dijelaskan bagaimana Paulus berdoa dan bersyukur karena jemaat di Kolose karena mereka jemaat yang beriman kepada Yesus. Iman mereka bukan hanya sebagai penghias, melainkan iman mereka dipraktekkan atau dilakukan dan dikerjakan melalui perbuatan-perbuatan yang dapat dilihat. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati, seperti mayat. Demikian orang percaya yang beriman, namun tidak dipraktekkan maka hidup kekristenan kita seperti mayat karena tidak berguna. Sebab tujuan menjadi orang kristen adalah menjadi sama dengan Yesus sehingga orang yang belum percaya Yesus menjadi percaya karena sikap hidup orang percaya.

Dalam Roma 8:9, menuliskan bahwa Tuhan sudah memilih kita untuk menjadi serupa dengan gambar anakNya. Dan Yesus menjadi nyata dalam hidup orang percaya lewat cara hidup. Kita belum sampai ditahap ini.

DOA RASUL PAULUS
Selanjutnya Paulus berdoa untuk jemaat di Kolose. Perhatikan dalam Kolose 1:9, ketika Rasul Paulus mendengar tentang jemaat Kolose. Rasul Paulus berdoa agar jemaat Kolose menerima segala hikmat. Hikmat seperti apakah? Dalam 1 korintus 1:23 dan 24, menjelaskan bahwa saat Allah Bapa di Surga melihat dosa manusia, Allah berbelas kasihan. Itu sebabnya Allah mengutus Yesus dan mengorbankan Yesus untuk mati di kayu salib supaya setiap orang percaya selamat.

Orang Yahudi
Tetapi bagi orang Yahudi menganggap sebagai batu sandungan, sebab orang yahudi punya kosep penyelamatan tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Orang Yahudi mengangap bahwa Mesias tidak mengalami penderitaan, melainkan akan memerintah sebagai raja. Sesungguhnya dalam kitab Yesaya dan kitab lainnya sudah dijelaskan bahwa Mesias akan menderita. Dan Tuhan Yesus memang datang dengan kesederhanaan, dari lahir sampai ajarannya juga sederhana. Ajaran Yesus jika berjalan 1 mill, berjalanlah 2 mill dan saat Yesus ditangkap Ia tidak menyerang, sampai Yesus mati di kayu salib. Konsep orang Yahudi salah dan itu yang membuat mereka tidak percaya sampai sekarang.

Orang Yunani
Orang non yahudi termasuk bangsa lain. Kematian Yesus dianggap sebagai kebodohan. Sebab konsep orang Yunani pada zaman itu yang menganut banyak dewa dan dewi, bahwa Allah itu Apatelia atau tidak dapat dipengaruhi. Jadi jika Allah utus Yesus untuk mengampuni manusia adalah Allah yang lemah sebab dapat dipengaruhi. Jangan berhenti pada konsep orang Yahudi dan Yunani. Perhatikan 1 Korintus 1:24, tetapi bagi orang percaya kematian Yesus adalah kekuatan dan hikmat Allah.

APAKAH YANG DIMAKSUD KEKUATAN DAN HIKMAT ALLAH?
Hikmat Allah
Posisi manusia mulia dan jatuh karena ketidaktaatan. Akibatnya adalah maut, dan membuat manusia berpikir bagaimana keluar dari maut. Lalu hikmat manusia muncul namun pada akhirnya tidak ada yang dapat memberi kekuatan untuk menyelamatkan manusia. Satu-satunya cara, Yesus harus mati dan menebus dosa manusia. Korban Yesuslah yang memindahkan dari maut kepada hidup kekal.

Hikmat Manusia
Hikmat manusia adalah upaya manusia untuk selamat dari maut. Ada banyak cara dilakukan seperti berbuat kebaikan serta cara-cara hidup yang justru tidak dapat menyelesaikan persoalan dosa. Segala cara manusia untuk menyelamatkan diri sama dengan membuat tangga untuk naik ke atas kepada keselamatan dan cara demikian  dimata Allah adalah kebodohan. Hanya ada satu cara, yaitu terima hikmat Allah yaitu keselamatan dalam Yesus. 1 Korintus 1:25, sebab apa yang bodoh dari Allah yaitu salib, lebih besar hikmatnya dari pada usaha manusia.

BERKAT DALAM HIKMAT ALLAH
Dalam hikmat Allah, kita tidak akan dihukum melainkan diselamatkan. Dalam Lukas 11:29- 31, Yesus memakai kesempatan ini untuk menjelaskan bahwa generasi itu adalah jahat. Sebab mereka meminta yang spektakuler agar mereka percaya. Hanya dengan mujizat nabi Yunus, ayat 30, Yesus memberikan tanda lewat kematian dan kebangkitanNya. Yunus tetap hidup meskipun ada dalam perut ikan. Mereka yang mendengar percaya. Pertobatan orang Niniwe akan menghakimi bersama-sama dalam ayat 32.

Ayat 31, ratu selatan akan bersama-sama menghakimi. Ia adalah ratu Syeba yang mendengar hikmat Salomo. Ia datang ke Salomo, lalu saat mendengarkan hikmat Salomo, mereka kembali dengan percaya kepada Allah orang Israel. Kita yang menerima Yesus lebih hebat dari menerima ajaran-ajaran Salomo, sebab Salomo memberitakan hikmatnya. Salib adalah hikmat Allah, percaya dan jangan tukar dengan apapun.

DAMPAK MENERIMA SALIB YESUS
Jika menerima salib Yesus, maka kita akan memancarkan kasih ,1 Yoh 5:12. Anak di sini adalah Yesus bukan secara jasmani. Anak akan terekpresi dalam hidup. Dalam 1 Raja 3:16-28, jika hikmat yaitu kekuatan Allah ada dalam diri kita, maka kita akan terekspresi hikmat membuat kita penuh belas kasih.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SUDUT PANDANG – oleh Pdm. Haniel  Joyos, GPdI Wlingi-Blitar, Jawa Timur (Ibadah Raya 3 – Minggu, 17 Maret 2019)

Perjalanan kehidupan kita tidak selamanya lurus dan nyaman, ada banyak tantangan dan mau tidak mau kita harus menghadapinya. Mungkin kita merasa tidak sanggup, tetapi Firman Allah berkata bahwa pencobaan yang datang tidak melebihi kekuatan kita (1 Korintus 10:13).

Sore ini saya ini menyampaikan tentang “Sudut pandang” yang dapat membantu kita untuk memandang sebuah permasalahan atau persoalan yang terjadi dalam kehidupan agar kita tidak kalah tetapi mendapatkan kekuatan dari TUHAN.

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari tentang cara pandang :
1. Rabas
Rabas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai air yang jatuh dari daun sesudah turun hujan. Rabas dapat saya gambarkan seperti air mata atau tangisan kita. Tentu saja ada banyak alasan untuk kita menangis tetapi saya ingin membahas air mata atau tangisan yang diakibatkan kesedihan. Ada berbagai hal terjadi dalam hidup kita yang bisa membuat kita bersedih bahkan sampai meneteskan air mata, tetapi kita dapat belajar memahami bahwa setiap tetesan air mata kita tidak akan jatuh sia-sia , sebab TUHAN menampung dalam kirbat-Nya (Mazmur 56:9). Sesuai dengan janji Tuhan maka orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan sorak sorai (Mazmur 126:5-6).

2. Parah
Parah dapat diartikan suatu kondisi dimana hidup seakan-akan tidak ada harapan atau kritis. Dalam Alkitab ada beberapa contoh kisah dimana TUHAN dapat bekerja dalam kondisi yang parah sekalipun. Seperti kisah dimana empat orang kusta yang berada dalam kondisi kesehatan begitu parah diperburuk lagi dengan situasi dikepung musuh. Sungguh satu situasi yang tanpa harapan. Sekalipun dalam kondisi demikian mereka melangkahkan kaki dengan iman ke perkemahan musuh dan yang terjadi adalah Tuhan mengadakan mujizat lewat empat orang kusta ini, (2 Raja 7:1-20). Ada juga mujizat yang dialami janda Sarfat yang mengalami kondisi parah secara ekonomi.

Mungkin kita sedang mengalami kondisi yang begitu parah dan terpuruk entah dalam hal kesehatan, ekonomi, keluarga atau mungkin dikarenakan dosa yang kita lakukan. Kondisi demikian bisa saja membuat orang lain memandang rendah atau bahkan kita sendiri merasa sudah tidak berharga lagi. Tapi mari kita tetap percaya bahwa separah apapun keadaan kita berharga di mata TUHAN (Mazmur 17:8).

3. Taat
Sebagai anak TUHAN sudah seharusnya kita taat kepada TUHAN apapun situasi yang kita alami (Roma 6:17). Ada begitu banyak Firman yang sudah kita terima namun yang terpenting apakah kita menaatinya? Kita harus belajar taat kepada setiap jalan TUHAN. Jalan TUHAN adalah jalan yang lurus, jika kita taat kepada setiap jalan-Nya maka akan lebih cepat bagi kita untuk sampai kepada tujuan hidup yang TUHAN berikan bagi kita (Hosea 14:10).

4. Berat
Untuk menerima Yesus itu gratis tapi untuk mengikut Yesus itu berat karena harus bayar harga. Jangan sampai kita menyerah di tengah jalan dan meninggalkan TUHAN sekalipun berbeban berat. Justru dalam kondisi berbeban berat kita harus tetap dengan TUHAN, karena hanya di dalam TUHAN kita dapati kekuatan dan kelegaan (Matius 11:28).

VIDEO Sudut Pandang
Video ini menunjukkan pengaruhnya sudut pandang. Dari video ini kita dapat melihat gambar jerapah pada sebuah benda tapi dari sudut pandang yang lain kita bisa melihat seekor gajah. Untuk menentukan angka 6 dan angka 9 ditentukan dari sudut pandang. Sudut pandang kita menentukan tindakan kita. Kita bisa bersyukur atau mengeluh juga ditentukan oleh sudut pandang.

Kesimpulan
Kehidupan kita memang tidak mudah tetapi saat kita bisa melihat sudut pandang yang benar maka kita dapat melihat rencana TUHAN yang indah bagi kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Be The Change – oleh Pdt. Christian Jims, GPdI Green Betani Berau, Kalimantan Timur (Ibadah Raya 2 – Minggu, 17 Maret 2019)

Perubahan selalu terjadi dalam setiap diri seseorang. Seperti kesehatan, keuangan dan hubungan termasuk perubahan menjadi sama seperti Yesus. Pertanyaannya perubahan dimulai dari mana? Perubahan bukan dari fisik atau yang nampak, tetapi Roma 12:2 menuliskan bahwa perbuahan dimulai dari budi atau pemikiran atau pemahaman. Dalam bahasa asli dituliskan bahwa seseorang mengalami perubahan karena mengerti atau memahami. Dan perubahan itu akan terjadi permanen sebab mengalami dan melakukan. Sedangkan jika hanya mendengar tapi tidak memahami akan mudah hilang.

Jadi perubahan terjadi dari pikiran ini. Contohnya saya adalah orang tidak suka pete. Tetapi setelah memahami tentang kasiat pete, maka pemahaman saya sudah mulai berubah.  Maka saya mencoba mencicipi pete, awalnya tidak suka tetapi pemahaman atau pengertian tentang kasiat pete membuat saya berusaha untuk makan. Berjalannya waktu saya mulai menyukai makanan ini. Perubahan itu terjadi karena pemahaman saya sudah diubah.

Banyak area hidup ini tidak ada perubahan karena pikiran dan pengertian kita tidak berubah. Filipi 2:1-5, rasul Paulus menuliskan bahwa hendaklah kamu “menaruh”. Jadi kita harus menaruh pikiran Kristus dalam hidup kita supaya pikiran lama diganti pikiran Kristus sebab pikiran lama belum tentu berkenan dihadapan Tuhan. Tetapi ketika pikiran kristus ditaruh, semuanya akan baik.

Didalam otak besar ada pikiran dan diekpresikan dalam bentuk tindakan. Jadi apa yang ada di otak akan keluar juga, apa yang didalam akan keluar. Jadi ada barang, orang dan situasi hanyalah pemicu, misalnya ada orang yang lewat kuburan dengan ketakutan, namun ada yang tidak takut. Situasinya sama, tapi responnya berbeda sebab di otak sudah tersetting bahwa di kuburan ada hantu dan menakutkan. Sedang yang lain berpikir bahwa kuburan tidak memiliki efek apapun seperti tempat biasa. Atau ada orang yang marah langsung keluar kata makian dan hinaan. Sedang ada orang lain yang marah, ia tetap tenang dan diam. Mengapa? Karena pikiran sudah tersetting karena pola asuh dan lingkungan yang mengajarkan bahwa saat marah harus marah-marah. Jika ada pemicu yaitu barang, orang dan lingkungan maka yang buruk akan keluar.

Perhatikan gambar berikut

Dalam sistem otak kita ada Limbik yaitu otak kecik, amygdale adalah untuk menyimpan emosi dan datanya dari perkembangan seseorang dair kecil hingga dewasa. Sedang hippocampus adalah memori dari alamat, muka dan huruf. Segala yang kita ingat tersimpan disitu. Jadi bagian itu jangan terbentur keras sehingga hilang memori. Dan sebagainya. Menurut survey, isi dari sistem limbic umumnya negatif sebab dari kecil melihat dunia yang rusak dan berdosa dan semua negatif. Tanpa sadar yang buruk ini mengisi otak manusia.

Dalam Alkitab dituliskan ada 4 Jenis tanah:

  1. Tanah yang keras
  2. Berbatu-batu
  3. Bersemak duri
  4. Tanah yang baik

Yang jadi persoalan bahwa 95% mengendalikan seseorang. Contohnya, saya dibawakan satu kantong plastik telur. Lalu direbus dan masih panas telurnya. Saya nikmati dengan kecap manggie. Tetapi seberapa banyak ketika membaca kata telur, pikiran kita teringat telur ayam? Dan perlu diketahui bahwa telur itu adalah telur penyu bukan telur ayam. Saya tidak  mengatakan telur apapun itu, tetapi karena kita sering melihat telur ayam maka ketika mendengar kata Telur yang terbayang adalah telur ayam.

Berapa banyak kali kita salah menafsirkan ayat karena pikiran kita ini belum ditanggalkan dan ini membuat kita sulit alami perubahan ke hal-hal rohani. Seperti diawal sudah disampaikan, ambil pikiran Kristus dan kita letakkan. Ada aksi dari dalam diri kita juga.

CARA MENARUH PIKIRAN KRISTUS:
1.
Membuang batu-batu dan semak duri
Membuang batu kekecewaan atau dosa membuat firman tidak berakar maka harus mengakui dosa dihadapan Tuhan (1 Yoh 1:9,  Yak 5:16). Selanjutnya didoakan bersama hamba Tuhan.

2. Menanam kebenaran
Setelah dibersihkan maka tanah yang bersih itu harus digarap dengan melakukan disiplin rohani, yaitu Yosua 1:8:
a. Memperkatakan firman.
b. Merenungkan firman.
c. Lakukan Firman.
Ketika itu dilaksanakan maka kita akan berbuah dan berubah.

KESIMPULAN
Untuk seseorang mengalami perubahan ia harus merubah budinya yaitu dengan menaruh pikiran Kristus dan menanggalkan pikiran manusia atau pikiran dosa. Marilah kita membuang batu dan semak dosa dan mengisinya dengan firman kebenaran hingga kita menjadi serupa serta seg

Posted in Uncategorized | Leave a comment