KRISTEN POHON ZAITUN – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 3 – Minggu, 13 Oktober 2019)

Mazmur 52:1-11
“Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya.”  Mazmur 52:10

PENDAHULUAN
Mazmur ini ditulis saat Daud dikejar Saul dan Daud ada di rumah Tuhan saat imam Ahimelekh melayani dirumah Tuhan, 1Sam. 22:9-10. Daud sedang dalam keadaan yang sangat genting karena tindakan Doeg berpotensi untuk menghancurkan masa depan serta membahayakan keselamatan jiwa Daud, namun Daud tetap berkomitmen dan tidak mengeluh.

  • Ayat 3-6: kita melihat Doeg yang bangga dengan kejahatannya terhadap orang yang dikasihi Allah. Jangan pernah lemah dan kecewa jika kita diperhadapkan kondisi seperti Daud dan menemukan tantangan yang digambarkan seperti Doeg yang menipu, berdusta dan melakukan kejahatan. Perlu kita ketahui dan yakini seperti Daud bahwa mereka akan dirobohkan oleh Allah.
  • Ayat 7-9: Daud punya keyakinan bahwa tindakan Doeg itu akan mendatangkan cemoohan serta kehancuran bagi diri Doeg sendiri.

Apa yang Daud lakukan?

  • Dalam kondisi seperti ini Daud berkomiten dalam dirinya sebagai “Pohon Zaitun” yang menghijau (ayat 10). Ia yakin tidak ada kekuatan apa pun yang akan mengubah rencana Allah bagi dirinya dan menggagalkan rencana Tuhan dalam hidupnya. Daud siap berjuang dan bekerja keras untuk tetap kuat dalam proses rencana Allah bagi dirinya.
  • Dalam kondisi seperti ini Daud berkomitmen dalam dirinya untuk selalu “Bersyukur” kepada Tuhan karena Tuhan yang bekerja di dalam pergumulannya. Keyakinan yang luar biasa inilah yang mendorong Daud untuk bersyukur dan bersaksi akan kesetiaan dan kemuliaan Tuhan senantiasa tanpa tergantung pada situasi maupun keadaan (perhatikan  ayat 11).

POHON ZAITUN
Daud berkomitmen bahwa ia akan tetap seperti  pohon zaitun. Pohon zaitun adalah pohon yang memerlukan waktu yang lama untuk bertumbuh dan membutuhkan proses yang begitu lama untuk dapat dikagumi, dapat kuat, berbuah.

Pohon ini melambangkan keindahan, kekuatan, kedamaian, kelimpahan, bahkan berkat ilahi. Jika kita lihat kerohanian Daud yang dewasa dan kepribadiannya yang matang maka Daud tidak lepas dari namanya ‘proses’ yang  Daud hadapi dalam kehidupannya.

Kehidupan orang percaya seringkali Alkitab ibaratkan seperti pohon atau tanaman yang harus mengalami pertumbuhan fase demi fase:  mulai dari bertunas, berakar, bertumbuh dan kemudian berbuah. Inilah kehidupan Kristen yang normal yaitu kehidupan yang terus bertumbuh secara rohani.

Efesus 4:13 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

Artinya hidup Kristen adalah hidup yang terus berproses, dinamis, bergerak maju, aktif dan tidak statis. Namun banyak orang yang sudah mengikut Tuhan atau menjadi Kristen selama bertahun-tahun kehidupan rohaninya tidak mengalami perubahan yang berarti, tidak ada kemajuan, seperti berjalan di tempat.  Jika demikian berarti kekristenan mereka sudah mati, walau secara kasat mata masih tampak melakukan aktivitas kerohanian yang mungkin tak lebih dari sekedar rutinitas. Kehidupan rohani orang percaya seharusnya seperti pohon zaitun.

TENTANG POHON ZAITUN
1. Akar pohon zaitun pun sangat kuat sehingga tidak mudah dicabut atau dipindahkan ke tempat lain, itulah sebabnya ia dapat hidup dalam waktu yang sangat lama.
Akar pohon zaitun ke dalam dan mencari sumber air, dapat menembus tanah hingga 6 meter dan menjalar ke kanan dan kiri. Nah, inilah rahasia ketangguhan pohon zaitun bisa berumur panjang, kuat, dan tetap menghasilkan buah.

Maksud dari akar yang dalam mencari sumber air artinya kerinduan yang terus ada untuk selalu terhubung dengan Tuhan dan inilah yang menjadi kristen pohon zaitu yaitu kristen yang terus terhubung dengan Tuhan.

Yeremia 17:8 “…Ia akan seperti pohon yang ditanam ditepi air yang merambatkan akar-akarnya ketepi batang air,…”

Menjadi pertanyaan buat kita, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan hari-hari ini? Apakah kita justru lemah dan semakin menjauh? Ketika kita terhubung dengan Tuhan akan ada ketenangan ditengah goncangan, akan ada kekuatan disaat alami kelemahan, akan ada kesegaran disaat kita mulai tidak bergairah melakukan segala sesuatu, ada harapan ditengah keputusasaan (Mazmur 62:9).

Apa ciri-ciri orang yang dekat atau terhubung dengan Tuhan?

  • Percaya kepada Tuhan setiap waktu.
    Dalam kondisi dan keadaan apapun yang dialami oleh pengikut Kristus jika ia terhubung dengan Tuhan maka ia akan terus percaya, Mazmur 52:10b.
  • Mencurahkan isi hatinya hanya kepada Tuhan.
    Kebiasaan manusia bila menghadapi masalah adalah menceritakannya kepada orang yang dekat dengan kita. Tapi disini kita bisa melihat yang Tuhan kehendaki ialah kita terbuka pada Tuhan. Bukan hanya dalam hal masalah saja kita harus jujur kepada Tuhan tapi dalam hal berkat, kita juga harus terbuka padaNya. Jika kita dekat dengan Tuhan kita tidak akan menyembunyikan sesuatu dari Tuhan. Apabila kita jujur di hadapan Tuhan maka semua akan Tuhan proteksi.
  • Tidak akan pernah ragu dengan Tuhannya (Yakobus 1:6-8).
    Sekalipun ada banyak penderitaan yang dialami, dia akan tetap menaruh kepercayaannya hanya pada Tuhan saja. Kita harus bangkit, jangan hanyut dengan masalah, jangan tertekan karena kesulitan. Dunia boleh bergoncang, badai boleh datang tapi kita sebagai anak Tuhan jangan mau dibawa oleh gelombang. Selama Tuhan di sisi kita, tidak ada yang bisa menyentuh kita. Amin.

2. Jenis pohon yang dapat bertahan hidup ribuan tahun lamanya.  Ini berbicara tentang kesetiaan kita mengiring Tuhan.
Wahyu 2:10b- “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Semakin kita setia kepada Tuhan, semakin kita melekat kepada-Nya, semakin kita beroleh kekuatan untuk menghadapi angin, badai dan gelombang kehidupan.

Badai apa yang sedang saudara hadapi, gelombang besar yang datang tidak akan membuat kita lemah dan mundur tetapi kita akan tetap berdiri kokoh dan terus jadi berkat . Tekanan dan ancaman yang dialami oleh Daud mungkin juga sudah atau suatu saat akan kita alami tapi bukankah kita adalah orang-orang yang dikasihi Allah? Karena Ia sudah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk kita.

Tak ada satu kekuatan pun yang dapat menghancurkan kita atau rencana Allah bagi hidup kita, maka bersiaplah senantiasa dan tetap kuat dan setia karena Tuhan akan menggenapi rencana-Nya dalam kehidupan kita. Maka dari itu kita harus seperti pohon zaitun yang tertanam di rumah Tuhan, yang sekali tertanam akan tetap tertanam sampai selama-lamanya artinya belajarlah untuk tetap setia.

3. Pohon zaitun adalah pohon yang menghasilkan minyak.
Minyak zaitun pada masa itu sering dipakai untuk mengurapi raja, disamping untuk keperluan hidup sehari-hari, dimana semua orang membutuhkannya.

Hidup Kristen adalah hidup yang harus menghasilkan buah baik yang dapat dinikmati banyak orang, menjadi berkat bagi orang lain. Orang dapat mengenal kita dari buah yang kita hasilkan  Matius 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

Matius 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
Setiap pohon yang tidak berbuah akan dipotong dan pohon yang  berbuah baik pasti memberi diri untuk terus dibersihkan supaya banyak berbuah.

Yohanes 15:2 Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

 Ilustrasi tentang hidup yang menjadi berkat “EMAS DAN TANAH”
Emas berkata kepada Tanah.
“Coba lihat pada dirimu.. suram.. dan lemah.. Apakah engkau memiliki cahaya mengkilat seperti aku..?? Apakah engkau berharga seperti aku.. ??”

Tanah menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku bisa menumbuhkan bunga dan buah, bisa menumbuhkan rumput dan pohon. Bisa menumbuhkan tanaman dan banyak yang lain, apakah kamu bisa.. ??”

Emas pun terdiam seribu bahasa..!!

Dalam hidup ini banyak orang yang seperti emas yang berharga, menyilaukan tetapi  tidak bermanfaat bagi sesama. Sukses dalam karir, rupawan dalam paras, tapi sukar membantu apalagi peduli.

Tapi ada juga yang seperti tanah. Posisinya biasa saja, bersahaja namun ringan tangan siap membantu kapanpun. Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar bermanfaatnya kita bagi orang lain. Jika keberadaan kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang, barulah kita benar-benar bernilai.

Apalah gunanya kesuksesan bila itu tidak membawa manfaat bagi kita, keluarga dan orang lain.
Apalah arti kemakmuran bila tidak berbagi pada yang membutuhkan.
Apalah arti kepintaran bila tidak memberi inspirasi di sekeliling kita.
Karena hidup ini adalah proses, ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima.
Apakah kita seperti ‘Tanah’ atau ‘Emas’ ?

Galatia 6.10  “Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita,marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Galatia 6: 2 “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Kesimpulan
Jadilah Kristen pohon zaitun yang terus terhubung dengan Tuhan, bertahan dalam kesetiaan, selalu menjadi berkat. Tuhan Yesus memberkati

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

BERKAT DARI SUMBER HIKMAT seri 4 : PEMULIHAN ROHANI dan JASMANI  (Ibadah Raya 2 – Minggu, 13 Oktober 2019 oleh Pdt. Gideon Santoso)

AMSAL 3:7-8

Pendahuluan
Keseluruhan Amsal pasal 3-9 Merupakan nasihat firman, dimana Allah mengambil peran seperti seorang Bapa yang menasihati anak-anak-Nya. Tiga nasihat sudah kita pelajari dari pasal 3 dan kita masuk pada nasihat yang ke empat.

Amsal 3:7-8  “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan. Itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.”

Dari nasihat ayat tersebut, ada tiga hal yang dapat kita pelajari:
1. “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak….”
Menganggap itu artinya menilai diri sendiri bijak atau merasa dirinya bijak. Mengapa Tuhan melarang kita untuk merasa diri bijak ? Orang yang merasa atau menilai dirinya bijak biasanya mudah merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih tahu, lebih pintar dari yang lain. Orang model seperti ini akan bertentangan dengan nasihat Tuhan.
Amsal 3:7b “…Takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan.”

Contoh : 2 Samuel 6:1-8 tentang Daud. 

  • Ayat 1-2 : Daud mempunyai maksud baik dan mulia, memindahkan Tabut Allah (media hadirat Allah) dari Kiryat Yearim ke Yerusalem. Kali ini Daud tidak bertanya kepada Allah soal bagaimana cara yang benar memindahkan Tabut Allah itu.
  • Ayat 3-5: Dengan memakai pemikirannya sendiri, ia memindahkan Tabut Allah dengan tidak sesuai aturan Tuhan. Tabut Allah harusnya dipikul oleh para imam sesuai aturan Tuhan karena tidak boleh sembarangan orang yang boleh menyentuh dan memindahkannya.
  • Ayat 6-7 : Murka Allah bangkit dengan membunuh Uza ketika menyentuh Tabut Allah, meskipun maksudnya baik mau menyelamatkan Tabut Allah yang oleng hampir jatuh. Ada korban kematian karena Daud yang merasa dirinya bijak dengan menggunakan caranya sendiri, tetapi mengabaikan aturan Tuhan.
  • Ayat 8 : Daud marah atas kebodohannya, yang membuat Uza menjadi korban dan Daud menjadi takut akan Tuhan (Ay. 9.) Daud melakukan pemindahan Tabut Allah kedua kalinya sesuai dengan aturan Tuhan yaitu dengan dipikul oleh para imam.
  • Ayat 12-15: Hasilnya Tuhan berkenan atas apa yang Daud lakukan, karena Daud tidak lagi memakai caranya sendiri tetapi memakai aturan Tuhan.

Pelajaran buat kita adalah jangan memakai cara kita dalam kita mengangkat hadirat Tuhan, tapi pakailah ketetapan firman Tuhan. Ada banyak maksud baik dengan tujuan yang juga baik, tetapi Tuhan justru sebaliknya tidak berkenan karena kita sering memakai cara dan kebijakan kita sendiri dan mengabaikan apa yang Tuhan kehendaki sesuai dengan aturan firman-Nya.

Ada banyak gereja Tuhan yang terjebak dalam hal seperti ini. Untuk mengangkat hadirat Tuhan dalam ibadah memakai berbagai cara tampilan dan suasana yang hingar bingar, lagu-lagu baru yang semangat dan dimodifikasi seruan-seruan semangat. Sebenarnya tidaklah salah, pertanyaannya adalah “Apakah Tuhan benar-benar berhadirat diatas puji-pujian yang demikian dan berkenan?” Bagaimana kondisi hati dan rohani pembawa pujiannya, pemain musiknya hampir tidak pernah menjadi perhatian, yang penting tampilan luar. Kalau sudah seperti ini, hadirat Tuhan bukannya membawa berkat, tetapi malah hukuman.

Contoh lain 1 Samuel 15:1-23 tentang Raja Saul.

  • Ayat 1-3
    Raja Saul mendapat perintah dari Tuhan untuk menumpas bangsa yang jahat yaitu Amalek. Tuhan perintahkan tumpas habis tanpa sisa termasuk binatang ternak yang ada di sana.
  • Ayat 4-9
    Saul melaksanakan perintah Tuhan memerangi bangsa Amalek, tetapi tidak menumpas semuanya. Rajanya Agag dan kambing domba lembu yang gemuk tidak ditumpas, hanya yang kurus yang ditumpas.  Apa alasan Saul ketika ditanya oleh nabi Samuel ?
    1 Samuel 5:15 “Jawab Saul: Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan Allahmu, tetapi selebihnya telah kami tumpas.” Alasan Saul terlihat baik dan rohani, untuk dipersembahkan kepada Tuhan, hal itu diucapkan Saul sampai dua kali.
  • Ayat 15,21
    Tuhan marah dan kecewa kepada Saul, Tuhan ungkapkan kekecewaan-Nya kepada nabi Samuel.
    1 Samuel 5:10-11 “Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian. Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku, maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.”
    1 Samuel 5:22 “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.”

Dua kesalahan Saul dalam hal ini :
1).  Saul ingin dianggap bijak oleh rakyatnya sehingga ia membiarkan mereka untuk tidak membunuh Raja Agag dan menyisakan lembu kambing domba yang gemuk-gemuk, padahal perintah Tuhan sangat jelas tumpas semuanya tanpa sisa.
2).  Saul ingin dihargai dan dihormati rakyatnya dari pada menghormati dan mentaati perintah Tuhan.

Pelajaran buat kita :
Jangan mencari hormat dan pujian manusia dengan mengesampingkan rasa hormat dan ketaatan kepada perintah Tuhan. Tuhan sangat kecewa dengan Saul meski Tuhan sendiri yang memilihnya menjadi Raja pertama di Israel. Sehebat apapun prestasi kita, sebaik apapun yang yang kita kerjakan kepada Tuhan, semua tidak ada artinya bahkan mengecewakan Tuhan, kalau semuanya dilakukan dengan kebenaran diri sendiri, caranya sendiri dan mengesampingkan rasa hormat dan tunduk untuk dengar-dengaran kepada Tuhan.

2. “Takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan.”
Takut disini adalah menaruh hormat dan mentaati perintah Tuhan dengan tunduk dan patuh. Menjauhi kejahatan adalah tindakan untuk tidak mengecewakan Tuhan. Dan hanya orang yang benar-benar takut akan Tuhanlah yang pasti menjauhi kejahatan.

3. “..Itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.”
Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, hal ini sama manfaatnya seperti makanan bagi tubuh jasmani kita, membuat sehat jiwa dan kerohanian kita. Orang yang merasa bijak dan tidak takut akan Tuhan itu, seperti dosa yang membawa penyakit pada tubuh dan tulang kita.

Mazmur 38:4 “Tidak ada yang sehat pada dagingku oleh karena amarah-Mu, tidak ada yang selamat pada tulang-tulangku oleh karena dosaku.”

Tuhan akan pulihkan kondisi rohani dan jasmani kita dengan menjaga diri senantiasa tunduk dan taat kepada firman-Nya dan menjauhkan diri dari kejahatan apapun.

Dosa pertama terjadi di sorga oleh malaikat Lusiel karena hilangnya rasa hormat dan tunduk kepada Allah. Ia merasa dirinya hebat, merasa dirinya layak untuk sejajar dengan Allah. Allah lempar ia ke bumi dan namanya diganti dengan Lucifer.

Efesus 5:21 “ …Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.”

Kondisi kerohanian kita akan berpengaruh pada jiwa dan tubuh kita, sedangkan kondisi kerohanian kita dipengaruhi pada seberapa taat dan tunduknya kita kepada firman Tuhan. Tuhan ingin kondisi roh, jiwa dan tubuh kita dipulihkan sehingga terpelihara sempurna dengan tidak bercacat, sampai kepada kedatangan Tuhan (1 Tes. 5:23).

Dosa level tubuh : perzinahan, percabulan dan semua dosa yang dilakukan dengan alat anggota tubuh kita. Dosa level jiwa : semua firman Tuhan yang kita ketahui tetapi tidak dilakukan, tahu dan mengerti tetapi tidak dilakukan, ini sama dengan sakit jiwa, karena semua kehendak dan keinginannya tidak tunduk kepada firman tetapi kepada hawa napsunya sendiri. Sedang dosa level roh :  hal-hal yang tersembunyi, seperti iri hati, kebencian, penyembahan berhala. Semuanya ini harus kita jauhkan, mohon Roh Kudus memulihkan semuanya dan hidup dalam kerendahan hati, ketaatan kepada Kristus.

Bagaimana caranya untuk kita dapat senantiasa belajar untuk merendahkan diri ?  Perhatikan nasihat Rasul Paulus.

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

 Ketika kita menaklukan pikiran dan perasaan kita kepada pikiran dan perasaan Yesus, maka Roh Kudus akan memampukan kita hidup dalam kerendahan hati.

Filipi 2:6-7 “…. Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” 

Kata mengosongkan diri itu artinya Tuhan rela kehilangan hak-Nya dan menjadi hamba.

Filipi 2:8 “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Kerendahan hati karena taat dan tunduk kepada perintah Tuhan adalah kerelaan untuk menderita bagi keselamatan oran lain.  Mari kita adakan pemulihan kondisi rohani kita yang akan berpengaruh pada jasmani kita, sehingga senantiasa berkenan kepada Tuhan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEHIDUPAN ADALAH PROSES – oleh Pdm. Melky Mokodongan (Ibadah Raya 1 – Minggu, 13 Oktober 2019)

Yeremia 18:1-6

Ayat 6
“Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat, di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!”

PENDAHULUAN
Segala sesuatu yang ada kepada kita, baik yang dipakai/gunakan entakah rumah, kendaraan, pakaian bahkan uang yang kita miliki, semua itu ada karena proses. Demikian juga dengan kehidupan kita sendiri, hidup kita ini juga adalah sebuah proses, baik secara jasmani terlebih secara rohani.

Hidup sukses atau tidaknya kita secara jasmani, tergantung dari proses yang mau kita jalani, seperti halnya bejana yang indah, itu terjadi tidak kebetulan tetapi karena ada proses pembentukan. Kalau mau sukses secara materi maka kita harus kerja keras, berusaha dengan tekun, tidak cepat putus asa untuk mencapainya, karena itu yang namanya proses. Begitu juga secara rohani, menjadi lebih baik dan kuatnya kehidupan kekristenan kita kembali kepada proses. Dan proses kehidupan kita ada di tangan Tuhan. Memang tidak mudah seperti yang dibayangkan. Tapi itulah PROSES yang harus kita jalani.

TUJUAN DARI PROSES
1. Baik di pemandangan Allah, Yeremia 18:4
Dalam pasal ini, Allah mengutus Yeremia pergi ke tukang periuk dan memperhatikan bagaimana tukang periuk bekerja membuat bejana, ayat 1-3. Di ayat 4 Yeremia memperhatikan prosesnya, yaitu ketika bejana itu dibuat lalu rusak maka tukang periuk itu membentuknya lagi menjadi bejana yang lain dan baik sesuai pemandangan tukang periuk.

Demikian juga kepada umat-Nya,di ayat 5-6 Firman Allah datang kembali kepada Yeremia, bahwa bukankah Allah akan membuat hal yang sama kepada umat-Nya Israel/ orang-orang Yehuda.

Contoh :
Yunus  yang diproses Tuhan, dia harus dibuang ke laut karena tidak sesuai di pemandangan Tuhan, artinya tidak mau mengikuti kehendak/perintah Allah. Proses dibuangnya dia ke laut membuat dia sadar akan Tuhan sehingga berdoa kepada Tuhan.

Yunus 2:7; Jiwaku letih lesu di dalamaku, teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku kepada-Mu, kedalam bait-Mu yang kudus.

Jadi Allah akan memproses sesuai kehendak Allah yaitu agar umat Allah itu terlihat baik dan indah di pemandangan-Nya. Demikan juga kepada kita umat pilihan-Nya, kita harus percaya bahwa ketika kita ada dalam proses Tuhan, itu agar kita menjadi lebih baik, sempurna dan berkenan kepada-Nya.

2. Beruntung, Yeremia 18:10
Tujuan dari proses yang kedua adalah agar kita memiliki hidup yang beruntung yang telah dijanjikan Allah. Di ayat 10 ini dikatakan apabila mereka melakukan yang jahat dan tidak mendengar suara Tuhan, maka Allah menyesal sudah merancang keberuntungan yang telah dijanjikan. Artinya proses Allah dalam hidup kita adalah kehidupan yang beruntung bukan sebaliknya.

Segala rancangan/proses Tuhan atas hidup kita adalah hidup yang penuh dengan damai sejahtera, pengharapan bukan kecelakaan, Yeremia 29:11.Tetapi bagaimana proses memiliki kehidupan yang beruntung?

Proses memiliki kehidupan beruntung?

  • Ulangan 30:15 – Kembali kepada pilihan dan keputusan. Kalau kita memilih dan memutuskan untuk mengasihi Tuhan serta melakukan apa yang Tuhan kehendaki maka itulah kehidupan yang beruntung.
  • Yosua 1:7 – Tidak menyimpang dari perintah Allah. Jangan pernah menyimpang ketika proses itu datang kepada kita.
  • Yosua 1:8 – Merenungkan Firman Allah serta melakukan (bandingkan Mazmur 1:1-3)

BAGAIMANA CARA TUHAN MEMPROSES KITA?

  • Situasi sulit/sukar (1 Raja-raja 17:7-24, Rut 1:1-22)
    Kelaparan adalah keadaan atau situasi yang sukar/sulit dialami oleh seorang janda dan anaknya, serta keluarga Elimelekh, Naomi dan kedua anaknya. Dan keadaan ini adalah sebuah proses yang harus dialami mereka. Namun yang menjadi perbedaan mereka, seorang janda tetap bertahan di Sarfat wilayah Sidon, tetapi keluarga Elimelek meninggalkan Betlehem dan pergi ke Moab. Demikian juga dengan kita, kadang tanpa kita duga atau pikirkan keadaan atau situasi yang sulit dan sukar menimpa kita. Mungkin itu bukan karena kesalahan kita, tetapi karena orang lain sehingga kita harus mengalaminya. Jangan pernah menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan Tuhan dan meninggalkan Tuhan, sebab kita harus tahu bahwa semua itu merupakan proses agar iman kita menjadi lebih kuat dan berdaya tahan, Yakobus 1:2-4.
  • Melalui teguran/ganjaran ( Ibrani 12:6,10; Wahyu 3:19)
    Teguran/ganjaran adalah situasi yang sulit/sukar memukul kita merupakan sebuah proses untuk kita alami mungkin itu kesalahan kita, tetapi tujuannya adalah untuk mendidik kita, karena kita ini diakui sebagai anak-anak-Nya yang dikasihi. Tapi jangan kita menolak dan memberontak karena proses itu adalah untuk kebaikan kita dan juga karena Allah menunjukan perhatian dan kasih-Nya serta mengakui kita sebagai anak. Dikatakan karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,  dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
  • Kegagalan (Yeremia 18:4)
    Bejana yang rusak merupakan produk yang tidak laku atau gagal. Mungkin kita berpikir bahwa hidup kita telah gagal dan berakhir. Namun kalau kita perhatikan bahwa di tangan sang penjunan bejana itu dibentuk kembali menjadi bejana yang lain.
    Contoh:
    Yusuf yang mengalami proses dibenci, dimasukkan ke sumur, dijual oleh saudara-saudaranya, bahkan difitnah, dimasukkan ke penjara bahkan dilupakan. Semua ini adalah proses yang harus dijalani oleh Yusuf. Sepertinya gagal sudah semua yang Tuhan janjikan kepadanya. Tetapi ternyata dibalik proses yang dia harus jalani, dia tidak mengeluh atau bersungut-sungut, tidak menyalahkanTuhan, bahkan saudara-saudaranya tetap dikasihinya. Luar biasa apa yang dialami oleh Yusuf (Kejadian 37-45).
    Jangan pernah putus asa/menyerah karena proses yang sedang kita alami bukan kegagalan yang sebenarnya, tetapi Allah sedang menyediakan hidup yang terbaik bagi kita.
  • Diproses di tangan Tuhan,Yeremia 18:6
    Ketika kita diproses maka jangan pernah takut karena proses itu ada di tangan Tuhan dan kalau proses itu ada di tangan Tuhan maka itu tidak akan pernah salah apalagi gagal. Tangan Tuhan berbeda dengan tangan kita. Tangan kita tidak punya jaminan untuk tidak gagal, tetapi tangan Allah adalah jaminan yang sempurna bagi kita.

BAGAIMANA SIKAP KITA MENGHADAPI PROSES?

  • Menyerahkepadatangan Allah. Mengapa? Karena tangan Tuhan tidak terbatas untuk membentuk kita, tidak kurang panjang untuk menolong kita, tidak kurang kuat untuk mengangkat kita bahkan tidak kurang berkat untuk memberkati
  • Mengikuti cara dan waktu Allah. Mengapa? Karena cara dan waktu Allah tidak akan salah, Allah punya cara dan waktu yang tepat bagi kita.
  • Percaya saja pada tindakan Allah. Apa alasannya? Tindakan Allah tidak akan pernah keliru.

Jika TUHAN memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa proses, hal ini akan membuat kita lemah. Kita tidak akan menjadi kuat seperti yang kita harapkan.

Jika kita meminta kekuatan dan TUHAN izinkan kita hadapi kesulitan, itu bertujuan agar kita menjadi kuat.

Jika kita meminta kebijaksanaan dan TUHAN mengizinkan kita dalam masalah, tujuannya agar kita dapat memecahkan masalah tersebut.

Jika kita meminta cinta dan TUHAN memberikan orang-orang yang dalam kesulitan untuk kita bantu. Ini semua adalah proses kehidupan yang harus kita jalani.

 Penutup
Kalau kehidupan ini adalah sebuah proses, maka terimalah, jalani prosesnya dan nikmati semua proses yang menjadi bagian kehidupan kita. Jangan takut, ingatlah Allah turut bekerja bersama kita,Roma 8:28.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENDERITA KARENA KRISTUS – oleh Pdt. J.S. Minandar ( Ibadah Raya – Minggu, 6 Oktober 2019)

Kolose 1:24-29

Minggu lalu kita fokus pada ayat 24, bahwa ayat tersebut bukan berbicara tentang penderitaan Kristus yang tidak lengkap sehingga rasul Paulus harus menderita lagi agar genap. Sebab ada sebuah pernyataan bahwa penderitaan Yesus belum lengkap di atas kayu salib. Kolose 1:24 memberi ajaran bahwa penderitaan membawa kepada pertumbuhan menuju kedewasaan. Jadi setiap kita setelah diselamatkan, jangan hidup hanya untuk kesenangan diri kita, melainkan hidup juga juga bagi orang lain, sama seperti Kristus yang menderita bagi kita.

Rasul Paulus rindu jemaat bertumbuh sebab ada 3 tingkat penderitaan Kristen:
1. Menderita karena dosa (kejahatan)
Menderita bukan karena hidup bagi Yesus melainkan karena berbuat dosa. Sebab siapa menabur angin akan menuai badai. Dan orang Kristen yang memiliki cara hidup demikian adalah kristen KTP. Hidup yang belum sungguh-sungguh dalam pengiringannya kepada Tuhan. Ada banyak orang Kristen yang seperti ini, bahwa melanggar UUD pemerintah juga melawan tuan dalam pekerjaan sehingga dipenjara dan ada yang dihukum mati. Bahkan orang Kristen KTP yang tidak bertobat, akan menerima ganjarannya dalam api neraka. Dalam 1 Petrus 3:17; 4:5 – jika ada jemaat yang masih Kristen KTP, maka gembala wajib menegurnya. Dan bila tidak bertobat, maka ia dianggap sama dengan orang yang tidak mengenal Yesus.

2. Menderita supaya taat
Sedang orang kristen yang sudah lahir baru, dibaptis dan percaya sungguh-sungguh kepada Yesus, namun tidak alami pertumbuhan akan terus dididik oleh Tuhan. Ia mengalami penderitaan atau ajaran Tuhan karena hidup kekristenan yang demikian harus disiplin sehingga menjadi anak yang taat. Yesus tidak membenci orang kristen yang demikian,  melainkan karena Tuhan mengasihi dia.

Contoh: Jemaat Laodikia (Wahyu 3:17) – kondisi rohani jemaat Laodikia dalam pandangan Tuhan adalah melarat, malang, miskin, buta dan telanjang. Telanjang yang dimaksudkan adalah seperti kondisi Adam dan Hawa saat ada dalam dosa, maka penderitaan diberikan untuk mendidik mereka. Wahyu 3:9, Tuhan meminta kerelaan hati jemaat Laodikia untuk dihajar dengan mengijinkan Yesus menegur mereka sampai sadar.

1 Korintus 11:32 – tujuan Tuhan mendidik umat-Nya, agar kita tidak dihukum bersama-sama dengan orang yang tidak mengenal Tuhan, melainkan mengalami pertobatan.

3. Menderita bagi orang lain
Poin ke tiga, merupakan poin bagi orang Kristen yang bertumbuh. Karena mereka mengalami penderitaan bukan karena kejahatan mereka dan bukan juga karena tidak taat sehingga mengalami didikan, melainkan karena suatu kesediaan untuk menderita bagi orang lain. Penderitaan disini bukan karena berbuat kesalahan demi orang lain atau berbuat kejahatan demi orang lain, seperti orang yang belum kenal Yesus. Melainkan rela menderita agar orang lain agar dapat menerima keselamatan, percaya kepada Yesus bahkan mengalami pertobatan. Tahap ke tiga ini dilaksanalan oleh mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dan hidup bagi Tuhan, yaitu menjadi pengikut Yesus yang sejati.

Meskipun terkadang penderitaan membuat menjadi kita lemah, padahal kita sudah melakukan dengan sungguh-sungguh, biarlah kita terus bertahan dalam ujian. Sebab Matius 16:24, menuliskan bahwa kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Kata memikul salib dalam ayat ini mengandung arti suatu kesiapan menderita memikul salib demi keselamatan, pertumbuhan dan kemajuan rohani bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi pertumbuhan orang lain.

Contoh-Contoh Penderitaan Bagi Keselamatan Orang Lain
1. Tuhan Yesus untuk keselamatan umat manusia
Ibrani 5:8, sesungguhnya Yesus sebagai anak Allah tidak perlu menderita karena salib. Namun karena melihat manusia membutuhkan keselamatan, maka Yesus diutus dan dengan taat Yesus turun menjadi manusia.

2. Rasul Paulus menderita untuk jemaat Galatia
Galatia 4:19, rasul Paulus rela menderita berkali-kali bagi jemaat Galatia agar ada jemaat yang bertobat. Penderitaan yang berat Paulus hadapi untuk keselamatan mereka sehingga jemaat Galatia bertumbuh. Namun pada akhirnya jemaat Galatia justru turut mengikuti ajaran sesat. Tidak ada penderitaan yang lebih berat atau menyakitkan selain ketika gembala melihat ada jemaat yang dijerat dalam ajaran sesat.

3. Rasul Paulus menderita untuk jemaat di Korintus
2 Korintus 11:2-3, jemaat Korintus adalah jemaat yang dibentuk dan dibimbing rasul Paulus. Digambarkan seperti seorang anak gadis yang dipelihara dan diajar sampai menjadi wanita dewasa. Lewat berbagai penderitaan rasul Paulus lalui untuk mempersiapkan anak gadisnya untuk dipertunangkan dengan satu laki-laki yaitu Kristus, tetapi anak gadis yang telah bertumbuh malah melirik yang lain yaitu ajaran sesat. Sungguh ini menyakiti hati rasul Paulus. Jadi rasul Paulus rela menderita demi pertumbuhan dan kedewasaan jemaat di Korintus. Dengan berbagai tantangan, ia tetap berjuang.

4. Kisah empat orang yang mengusung temannya
Markus 2:1-12, menuliskan kisah tentang empat orang membawa teman mereka karena sakit lumpuh sebab empat orang temannya ingin satu sahabatnya ini sembuh. Maka mereka mulai bersepakat untuk mengusung ia agar berjumpa dengan Yesus dan disembuhkan. Namun ada beberapa hal yang mereka hadapi.

Identifikasi:
Penyebab keempat orang ini tidak tembus masuk untuk berjumpa dengan Yesus :

1). Orang-orang yang ada dalam rumah adalah orang yang ingin berjumpa Yesus
2). Ada yang datang karena membutuhkan kesembuhan dari Yesus.
3). Para penonton yang datang hanya untuk melihat perbuatan Yesus.
4). Orang yang menjadi penghalang (batu sandungan)
5). Orang farisi dan ahli taurat yang datang secara khusus untuk mengkritik dan mempersalahkan Yesus.
6). Empat orang yang datang untuk melayani dan bersedia menderita untuk kebaikan, kemajuan dan pertumbuhan orang lain.

Bentuk Penderitaan
1. Dikecewakan orang-orang yang egois, namun 4 orang pengusung itu tidak menyerah.

2. Rela kerja keras dan berkorban, menyatukan hati melewati jalan lain dengan berkorban menaikkan temannya yang lumpuh ke atas rumah sehingga mereka dapat berjumpa dengan Yesus.

Bila kita memiliki sikap demikian, seperti keempat orang itu yang rela mengusung temannya yang sakit sampai berhasil bertemu dengan Yesus, maka kita semakin kokoh dalam Tuhan, menjadi orang kristen yang dewasa dalam Tuhan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENDERITA KARENA KRISTUS – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 29 September 2019)

Kolose 1:24-29

Pendahuluan
Berbicara tentang penderitaan, tidak ada seorangpun yang suka dengan penderitaan termasuk khotbah tentang penderitaan, melainkan menyukai khotbah tentang berkat, mujizat, sorga dan kemuliaan.   Namun dalam surat Kolose kita diarahkan untuk memahami soal penderitaan. Meskipun secara jasmani tidaklah populer khotbah soal penderitaan, melainkan khotbah yang enak adalah khotbah berkat dan surga. Penderitaan merupakan doktrin yang utama dalam firman Allah. Buktinya Yesus menderita untuk menyelamatkan manusia. Dan seorang hamba Tuhan yang menolak memberitakan tentang penderitaan dan terus melewati topik penderitaan akan bersalah dihadapan Tuhan.

Dalam Matius 16:24 memberi penjelasan, bahwa setiap orang yaitu pengikut Yesus harus mengalami penderitaan dengan menyangkal diri dan memikul salib. Matius 16:25, setiap orang yang mau menyelamatkan nyawanya,  yaitu mempertahankan kenikmatan dunia untuk menikmati dosa, akan kehilangan hidup kekal. Dan sebaliknya bila mematikan kenikmatan dunia akan terima hidup kekal. Jadi jika hidup kita hanya berfokus pada pemuasan diri, kita perlu berhati-hati karena ada ajaran soal hidup dalam Yesus tidaklah menderita, hanya hidup makmur – maka pasti orang yang seperti itu akan binasa.

AJARAN KEMAKMURAN
Menjelang kedatangan Yesus kedua kali yang semakin dekat, ajaran yang marak adalah tentang doktrin kemakmuran. Banyak gereja hanya mengkhotbahkan yang enak-enak untuk kepuasan telinga tetapi firman Allah sudah jelaskan bahwa penderitaan adalah bagian dari kekristenan. Perhatikan Kolose 2:24, rasul Paulus bersukacita untuk jemaat Tuhan. Dan ia menuliskan dalam suratnya bahwa ia harus “menggenapkan penderitaan Kristus”. Kata “menggenapkan” jangan salah diartikan. Dengan berpikir bahwa keselamatan yang Yesus telah kerjakan bagi kita di atas kayu salib tidak sempurna. Tetapi ingat penebusan yang telah dikerjakan oleh Yesus sudah diselesaikan dengan sempurna tanpa harus menambahkan apapun.

Efesus 2:8,9 – Tidak ada penderitaan manusia yang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus di salib.  Sepenuhnya keselamatan secara sempurna karena karya Kristus. Sebab dituliskan bahwa karena kasih karunia kita diselamatkan bukan hasil usaha kita. Karena jika keselamatan adalah usaha manusia maka akan ada orang yang sombong di surga. Jadi apakah yang dimaksud menggenapi penderitaan dalam Kristus? Perhatikan catatan berikut.

BERBUAT DOSA VS BERBUAT BAIK – 1 PETRUS 2:20
Jika menabur yang baik dan mengalami penderitaan, maka itu adalah kasih karunia Allah.  Firman Allah menjelaskan bahwa ada 2 penyebab atau 2 alasan orang mengalami penderitaan,  yaitu:

  • Menderita karena berbuat dosa (kejahatan)
  • Menderita karena berbuat baik (kebenaran)

TINGKAT PENDERITAAN
Tiga tingkat penderitaan:
1. Penderitaan karena dosa
Orang yang mengalami penderitaan karena berbuat dosa atau melakukan yang jahat pasti orang tersebut masih diluar Kristus. Dan kalau mengaku percaya Yesus namun masih berbuat dosa,  maka ia belum bertobat atau lahir baru (diselamatkan) sebab meskipun ia pergi beribadah, namun ia tetap dalam kejahatan. Oleh sebab itu, perhatikan nasihat rasul Petrus bagi setiap orang percaya dalam 1 Petrus 3:17. Dituliskan lebih baik menderita karena berbuat baik jika kehendak Allah, daripada menderita karena berbuat jahat. Lebih jelas lagi dalam 1 Petrus 4:15, akhir hidup orang yang terus dalam dosa begitu tragis.

Firman Allah menjelaskan bahwa mereka yang tidak bertobat akan mendapat bagian dalam lautan api yang menyala-nyala dan kematian kekal menurut Wahyu 21:8. Dan sebaliknya, akhir hidup orang yang tidak berbuat dosa, Wahyu 21:7, orang tersebut adalah orang yang menang dan akan menerima hidup yang kekal.

2. Penderitan supaya taat
Bila mengalami penderitaan ijinkan Tuhan menegur. Wahyu 3:19 mengatakan orang yang dikasihi Tuhan pasti ditegur dan dihajar oleh Tuhan. Semestinya respon kita adalah menerima teguran dengan rela hati agar tidak binasa. Seperti jemaat Laodikia yang ditegur oleh Tuhan. Perhatikan Wahyu 3:17, sebab inilah kondisi rohani jemaat laodikia yaitu: miskin, buta, malang, telanjang dan melarat dihadapan Tuhan, meskipun mereka kaya jasmani karena surga tidak dapat dibeli dengan uang yang banyak.

MISKIN DAN TELANJANG
Dalam 2 Petrus 1:5-8, dahulu sebelum percaya Yesus, kita ada dalam jurang dosa dan oleh anugrah Kristus kita dipindahkan dari maut kepada iman dan terus bertumbuh sampai kasih agape. Sedangkan jemaat Laodikia miskin dalam kebajikan,  padahal tangga berikutnya kita harus menunjukan kebajikan sebagai bukti pertumbuhan kristen. Mereka juga miskin pengetahuan, karena saat firman Tuhan tidak konsentrasi dalam mendengarkan. Jangan sampai kita juga miskin pengetahuan, sebab tidak serius mendengar firman Tuhan, karena itulah kunci agar tidak mudah digoyahkan. Dan karena ada pengetahuan firman kita mampu menguasai diri, bertekun dan saleh dengan mengikuti firman Allah serta terus kaya dalam kasih persaudaraan sampai sama seperti kasih Yesus.

YESUS MENGASIHI JEMAAT LAODIKIA

  • Karena Yesus tidak mau jemaat Laodikia binasa di dalam neraka maka Yesus tegor dan hajar mereka. Tegor dalam bahasa Yunani: ELENGKHO, artinya orang tua yang mendidik anaknya yang melakukan kesalahan. Dan seperti seorang guru yang mendidik murid. Ketika sang murid salah menulis maka si guru tidak segan-segan menghapus dan memperbaiki kalimat yang salah untuk diperbaiki menjadi
  • Hajar, bahasa Yunaninya: PAIDEO,seperti orang tua mendisiplin anak dengan memberi hukuman agar anak tersebut jera dan tidak mengulanginya. Kalau anak tidak disiplin maka ia akan menderita selamanya.

3. Penderitaan bagi orang lain
Yesus ingin agar pengiringan kita kepada Yesus terus bertumbuh dewasa sehingga bukan seperti anak nakal yang harus ditegor dan dihajar. Tetapi kita menjadi seperti Yesus rela menderita bagi keselamatan orang lain.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RELASI DENGAN TUHAN – oleh Pdt. Mual Marolop Sihombing – GPdI Ajibarang (Ibadah Raya – Minggu, 22 September 2019)

YEREMIA 17:7,8

Hubungan antara orang kristen dan Tuhan adalah seperti pohon dan aliran air.  Artinya hubungan kita bergantung dari air. Pohon yang tertanam di aliran air akan mendapatkan dampak yang luar biasa. Mazmur 1:1-3, dari ayat ini juga menggambarkan relasi kita dengan Tuhan dimana kita menyukai firman,  mengandalkan Tuhan dan menaruh hidup kita kepada Tuhan. Banyak orang kristen datang kepada Tuhan dalam ibadah hanya sekedar datang dan mendengar firman, tidak benar-benar rindu aliran air itu yaitu mencintai serta hormati firman Tuhan. Seperti halnya tumbuhan yang hidup mendapatkan aliran air, tumbuhan itu akan bertumbuh subur, hijau, berbuah. Begitu pula dengan kita jiwa mencintai dan menghidupi Firman Tuhan maka kita akan mengalami pertumbuhan rohani yang kuat, berdaya tahan dan berbuah lebat.

Yeremia 2:13, mengatakan bahwa Tuhan adalah sumber air yang hidup namun umatNya senang meninggalkan Tuhan sang sumber air hidup.  Allah menjamin diriNya sendiri bahwa Ia sanggup memberikan kehidupan kepada umatNya. Yesaya 12:2,3 –  Allah kita adalah sumber yang menjamin kita agar memiliki daya tahan, bertumbuh dan berbuah.

Sekarang tinggal bagaimana kita yang seperti pohon, ditanamkan di tepi aliran air:
1. Siap untuk dipanen – Yohanes 15:2
Pohon yang akan berbuah harus dibersihkan dahulu. Dan pohon yang berbuah akan semakin merunduk karena banyaknya buah yang dimiliki. Hakim-hakim 9:8-13, pohon-pohon ini memiliki hasil yang menyenangkan Allah dan manusia. Tidak ada hasil jika buahnya tidak digunakan.  Sering kali kita meminta Tuhan untuk berbuah namun tidak mengijikan ada tangan -tangan yang memanen. Pohon yang tidak mau dipanen akhirnya akan patah dan jauh dari Tuhan. Kadang kala kita sudah diberkati dalam pekerjaan sehingga tidak ada waktu bagi pekerjaan Tuhan.  Padahal kesibukan kita karena berkat Tuhan atas hidup kita. Kapan buah itu dapat dipakai untuk pekerjaan Tuhan?

Buah yang dihasilkan karena tinggal dekat aliran air hidup  akan tetap hasilnya,  sehingga dalam segala musim akan terus berbuah. Wahyu 3:16,17 – apa yang ditulis kitab wahyu menjadi trend. Dimana gairah beribadah dan sukacita ibadah menjadi hilang.  Karena kita berkata kaya,  bukan hanya harta tetapi kaya dalam pengetahuan dan pengetahuan itu dipakai bukan untuk kemuliaan Tuhan,  melainkan untuk merendahkan orang lain. Kekristenan yang demikian akan dimuntahkan Tuhan. Kita harus memiliki hati yang rela dipanen sehingga hidup dalam relasi yang baik dengan Tuhan.

2. Percaya dan tahu kehendak Tuhan
Yohanes 6:68,69 – Ayat ini menunjukan bahwa Petrus dan teman-teman percaya kepada Yesus. Percaya itu timbul karena mengenal dan tahu siapa Tuhan kita. Yohanes 14:1, percaya dan jangan gelisah. Lukas 10:20, bersukacitalah sebab namamu terdaftar di surga. Milikilah visi untuk sampai ke surga. 2 Timorius 4:7, pelihara iman dan mempertahankan relasi dengan Tuhan sampai garis akhir dalam segala kondisi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PEMBUNUH RAKSASA seri 13 – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 22 September 2019)

1Samuel 17

Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu;
ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.
1Samuel 17:50

Pendahuluan
Hidup yang kita jalani tidak pernah steril dari masalah. Masalah akan selalu ada sepanjang hidup kita. Bahkan kadang-kadang ada masalah yang berat dan sukar untuk diselesaikan. Sepertinya itu mustahil dapat diatasi. Kisah pertarungan antara Daud dan Goliat memberikan contoh kepada kita cara mengatasi persoalan-persoalan hidup yang berat bahkan yang mustahil sekalipun. Sejatinya yang menjadi masalah bukan pada masalah yang terjadi, melainkan bagaimaan cara menghadapi masalah itu sendiri. Kegagalan mengetahui atau mendapatkan cara mencari solusi adalah kegagalan menyelesaikan masalah.

Daud mengerti cara menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dia tahu dengan benar bagaimana cara membunuh raksasa Goliat. Cara-cara yang dipilih Daud adalah:

  1. Pembunuh raksasa memilih mendengar suara Tuhan dari pada suara lawan.
  2. Pembunuh raksasa memilih memandang Tuhan daripada memandang lawan.
  3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
  4. Pembunuh raksasa memperkatakan kemenangan bukan kekalahan.
  5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan dari pada mencari kehormatan diri sendiri.
  6. Pembunuh raksasa memilih berharap kepada Tuhan, bukan senjata perang
  7. Pembunuh raksasa memilih keluar dari zona nyaman ke zona iman
  8. Pembunuh raksasa memilih untuk menyembah TUHAN sekalipun lawan ada di depannya
  9. Pembunuh Raksasa memilih menggunakan apa yang ia punya dan ia bisa
  10. Pembunuh Raksasa memilih melihat peluang, bukan hambatan dan kesulitan
  11. Pembunuh Raksasa memilih bertemu Allahnya sebelum bertemu musuhnya
  12. Pembunuh raksasa memilih membunuh dirinya sendiri, sebelum membunuh lawannya. (MEMBUNUH KETAKUTAN)

Sekarang marilah kita mempelajari rahasia kemenangan Daud membunuh Goliat.

13.
Pembunuh raksasa memilih membunuh dirinya sendiri,
sebelum membunuh lawannya.
(MEMBUNUH KEMUSTAHILAN )

Musuh yang terbesar dan terkuat dalam peperangan iman sesungguhnya bukan lawan yang sedang dihadapi, tetapi diri kita sendiri. Kemenangan-kemenangan dalam pepeperangan bukan ditentukan oleh besar dan kuatnya lawan, tetapi oleh kemampuan mengalahkan diri sendiri. Karena apa yang terjadi didalam diri kita lebih penting dari pada yang terjadi di luar diri kita.

Apa yang membuat Saul dan pasukan Israel tidak berani melawan Goliat? Bukan besarnya Goliat yang menakutkan, tetapi ketidakmampuan mereka mengalahkan dirinya sendiri yaitu: “KEMUSTAHILAN”

1Samuel 17:33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Ketika melihat besarnya Goliat, Saul dan bangsa Israel dikuasai ketakutan sehingga berfikir bahwa mustahil mengalahkan Goliat. Akibatnya kemustahilan itulah yang membunuh mereka.

 Menembus KEMUSTAHILAN
1. Jangan izinkan seorangpun membatasi diri kita
1Samuel 17:33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Lihatlah apa yang dikatakan Saul kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia,…” Saul memberikan batasan kepada Daud bahwa ia tidak mungkin dapat mengalahkan Goliat. Hati-hatilah dengan perkataan orang lain, sebab perkataan yang negatif akan membatasi hidup kita sehingga hidup kita menjadi kerdil, tidak bertumbuh dan tumpul. Untungnya Daud memilih mendengarkan suara Tuhan bukan suara Saul. Daud lebih yakin apa yang Tuhan katakan daripada yang diucapkan Saul. Ingatlah, hidup kita tidak ditentukan oleh apa kata orang, tetapi oleh apa yang dikatakan TUHAN, sebab itu jangan ijinkan seorangpun membatasi hidup kita dengan perkataannya yang negatif dan melemahkan. Percayalah semua yang Tuhan katakan itu yang akan jadi kenyataan.

Kita dapat melihat contoh dari kehidupan Gideon. Dalam kitab Hakim-hakim 7, Tuhan memerintahkan agar Gideon mengumpulkan bangsa Israel untuk maju berperang. Ternyata dari 32.000 orang yang siap berperang, Tuhan hanya memilih 300 orang sebagai pasukan Gideon untuk menghancurkan lawan. Rasanya memang mustahil dengan 300 orang dapat menang melawan musuh yang besar. Sekalipun sepertinya tidak mungkin, Gideon memilih mempercayai perkataan Tuhan, hanya dengan 300 orang Gideon maju menghancurkan musuh.

Belajarlah mempercayai perkataan Tuhan sekalipun di tengah kemustahilan, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang. (1Sam. 14:6)

2. Jangan batasi diri Anda dengan keadaan yang Anda alami.
1Samuel 17:33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Sekali lagi kita melihat bahwa Saul meragukan kemampuan Daud, sebab ia melihat keadaan Daud. Saul berkata: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda.” Saul berfikir mustahil Daud menang melawan Goliat karena ia masih muda. Apakah benar bahwa yang bisa menang adalah orang yang tua atau mereka yang menjadi prajurit? Tidak, nyatanya prajurit dan semua orang tua yang ada di Israel tak satupun berani menghadapi Goliat.

Jangan ijinkan keadaan membatasi dan membelenggu hidup kita, sehingga hidup kita tidak berkembang. Percayalah bahwa keadaan kita dimasa lalu atau saat ini tidak menentukan hidup kita di masa yang akan datang. Hidup ini dinamis, segala sesuatu bisa berubah. Orang yang lahir miskin, tak harus tetap miskin. Orang tua yang bodoh tidak selamanya melahirkan anak-anak yang bodoh pula. Masalahnya adalah apakah kita lebih percaya kepada keadaan atau percaya kepada TUHAN? Sekali lagi, setiap orang memiliki masa lalu, tapi masa lalu kita tidak menentukan masa depan. Faktanya banyak orang yang masa lalunya jahat, tetapi sekarang jadi dermawan, orang yang masa lalunya buruk, sekarang hartanya menumpuk. Siapa yang sangka tahun 2001 Bp. Jokowi ke AS untuk jualan mebel, tetapi tahun 2014, Beliau kembali ke AS sebagai presiden RI. Demikian juga dengan seorang wanita yang bernama Najat Belkacem. Ia lahir di Desa Nador, pedalaman Maroko pada 4 Oktober 1977. Masa kecilnya sebagai seorang gembala, tetapi tahun 2004 dan 2008 ia terpilih menjadi Menteri Pendidikan Perancis. Hidup ini tidak statis, keadaan bisa berubah jika kita gigih memperjuangan masa depan. Ingatlah, hidup kita tidak ditentukan oleh keadaan kita tetapi oleh kuasa Tuhan.

3. Jangan membandingkan diri Anda dengan orang lain.
1Samuel 17:33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Inilah yang membedakan Daud dengan Saul. Saul membandingkan dirinya dengan lawannya, itu tercermin dari caranya membandingkan Daud dengan Goliat. Akibatnya Saul selalu berada dibawah kuasa dan kekuatan lawannya. Jangan bandingkan diri Anda dengan siapapun. Saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain kita telah terjebak kepada “kutuk perbandingan” sehingga tidak dapat bertumbuh melampaui orang tersebut.

Tidak perlu cemas dengan kehebatan orang lain, sebab setiap orang diciptakan secara spesial untuk menggenapi tujuan Allah. Percayalah bahwa yang kecil tidak selalu lemah dan yang lemah tidak selalu kalah. Bersama Allah yang kecil menjadi perkasa, bersama Tuhan kita menang sekalipun sendirian.

4. Lakukan yang Anda bisa, selebihnya serahkan Tuhan (1Samuel 17 : 48 – 50)
Keajaiban tidak datang dengan membalik tangan, tidak juga terjadi tiba-tiba. Keajaiban datang melalui perjuangan dan kerja keras. Bekerja dan berusaha adalah cara terbaik menembus kemustahilan. Sebab itu lakukan saja yang Anda bisa, selebihnya serahkan kepada Tuhan.

Ulangan 29:29
Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.”

5. Melangkahlah dengan iman
Inilah yang penting yaitu melangkah dengan iman. Iman bukan impian atau angan-angan, iman butuh tindakan agar menjadi kenyataan. Keberanian untuk melangkahlah yang akan membuat kita menembus kemustahilan.

Apakah yang dimaksud melangkah dengan iman?
a. Iman bukanlah berpangku tangan menanti keajaiban, iman adalah keberanian bertindak menghadapi tantangan.

1Samuel 17:45
Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

b. Iman bukanlah berdiam diri menanti apa yang terjadi, iman adalah berani menghadapi apapun yang terjadi
1Samuel 17:48
Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;

c. Iman bukanlah berpangku tangan menanti pertolongan Tuhan, iman adalah berjuang menghadapi tantangan karena percaya akan penyertaan TUHAN

1Samuel 17:47
dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.

Penutup
Adakah diantara kita yang sedang menghadapi kemustahilan? Barangkali disembuhkan adalah sebuah kemustahilan karena dokter sudah angkat tangan. Atau mungkin ada yang merasa bahwa kehancuran keluargamu mustahil dipulihkan, karena ayah dan ibu sudah berpisah, anak-anak terikat narkoba. Yang lain mungkin berkata: usahaku mustahil diperbaiki kembali karena modal sudah habis, hutang menumpuk. Apapun yang kita anggap kemustahilan jangan biarkan ia terlalu lama membelenggu hidup kita. Percayalah kepada firmanNya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, bahkan firman Tuhan berkata tidak ada yang mustahil bagi orang percaya. Sebab itu bangkitlah dari keterpurukan dan tembuslah kemustahilan. Tuhan memberkati. KJP!

Posted in Uncategorized | Leave a comment