Hari ini kita masih belajar tentang: “CAWAN PAHIT KEHIDUPAN.”
Beberapa cawan pahit kehidupan yang telah kita pelajari adalah:
- Penderitaan
- Pengkhianatan
- Kegagalan
- Penghinaan
Sekarang kita masuk seri yang kelima, Cawan Pahit Kehidupan yaitu MUSIBAH.
Pendahuluan
Datangnnya musibah tidak dapat kita duga, kita juga tidak dapat memilih kapan terjadinya atau dimana tempatnya. Musibah bisa datang secara tiba-tiba, bahkan saat kita tidak menginginkanya. Meski semua orang menolak musibah, namun kenyataannya tidak ada seorang diantara kita bebas dari musibah. Setiap orang pernah mengalami musibah dalam hidupnya, apakah itu musibah yang besar atau musibah yang kecil.
Berikut ini beberapa bentuk musibah yang dialami manusia:
- Kehilangan: Harta benda hingga orang-orang yang kita cintai.
- Kecelakaan
- Bencana alam
- Sakit penyakit , dll
Dalam alkitab ada seorang yang mengalami musibah bertubi-tubi dalam hidupnya. Orang itu bernama Ayub. Saya percaya kita semua sudah faham kisah tentang Ayub, tetapi hari ini, saya ingin mengajak kita sekalian untuk belajar dari Ayub yaitu cara ia mengatasi musibah dalam hidupnya.
Siapakah Ayub?
- Secara rohani: Saleh, jujur, takut akan Tuhan, menjauhi kejahatan
Ayub 1:1
Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
- Secara Jasmani: orang yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
Ayub 1:2,3
Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
- Apa yang dialami? Musibah
Ayat 13 – 19 : Daftar panjang musibah yang dialami Ayub secara bertubi-tubi.
Ayat 13 – 15 Lembu sapi dan keledai-keledainya dirampas orang-orang Syeba
Ayat 16 “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga.
Ayat 17 Orang-orang Kasdim menyerbu unta-unta dan merampasnya
Ayat 18, 19 Anak-anaknya lelaki dan yang perempuan mati bersama tertimpa rumah si sulung yang rubuh.
Itulah kenyataan dari sebuah musibah, bahwa musibah tidak pernah memilih orang. Bahkan Ayub orang yang saleh, benar, jujur dan takut akan Tuhan juga tidak luput dari musibah. Tidak ada orang yang kebal dengan musibah, siapa saja bisa mengalami musibah, baik orang benar maupun orang jahat. Musibah memang tidak dapat kita hindari, tetapi yang utama adalah bagaimana cara kita mengatasi musibah yang terjadi.
Untuk itu mari kita belajar dari Ayub yang telah berhasil mengatasi musibah dalam hidupnya. (Ayub 1:20-22)
- Bangkit dan berdirilah di atas musibah.
Ayat 20a. Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya.
Mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya adalah tanda duka yang dialami oleh Ayub atas musibah yang menimpanya. Siapa yang tidak bersedih jika seluruh kekayaan yang dikumpulkan bertahun-tahun kini lenyap dalam sekejab? Siapa yang tak berduka, jika 10 anak yang dicintainya meninggal seketika, di tempat dan waktu yang sama? Ayub mengalami duka yang mendalam atas kehilangan dan kematian anak-anaknya. Itulah sebabnya ia berduka dan menangis atas apa yang dialaminya.
Dalam dukamu, menangislah, sebab tidak ada orang hebat yang tidak pernah menangis. Orang-orang hebat pernah menangis bahkan mereka menangis berkali-kali, tetapi yang membuat mereka berbeda adalah mereka tidak larut dalam tangisan dan duka, mereka bangkit dan berdiri diatas reruntuhan, duka, kehilangan dan berbagai musibah yang mereka alami.
Lukas 6:21b
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
Itulah sebabnya seburuk apapun, musibah yang engkau alami, mari hapus air matamu saatnya bangkit dan berdiri diatas segala duka yang dialami. Jalani hari depan bersama Tuhan. Percayalah dalam Tuhan selalu ada harapan baru yang telah menantimu.
- Sujud dan menyembah TUHAN
Ayat 20b “… kemudian sujudlah ia dan menyembah,”
Dalam kehilangan dan duka yang dialami, Ayub memilih untuk menyembah Tuhan. Mengapa Ayub sujud dan menyembah Tuhan? Bagi Ayub, Tuhan adalah harta sejatinya. Tuhan segala-galanya. Ia menaruh Tuhan dengan nilai tertinggi melampaui segala yang dimiliki. Dengan kata lain, semua boleh hilang dan pergi tetapi jangan sampai Tuhan pergi dari hidupnya.
Mengapa kita terpuruk di tengah musibah? Sebab kita lebih banyak meratapi musibah daripada menyembah Allah. Penyembahan itu menaikan iman dan pengharapan. Saat iman dan pengharapan bertemu dalam penyembahan maka akan lahir yang namanya kuasa.
Contoh: Saat kita menyembah, kita sedang memperkatakan sifat-sifat Tuhan. Kita berkata: Tuhan itu baik, meski kita dengan mengalami musibah, maka iman dan pengharapan tumbuh, melahirkan kuasa. Hasilnya: kuasa Tuhan mengalir dalam diri kita sehingga kita kuat dalam menghadapi musibah sebab percaya bahwa dalam musibah ada kebaikan yang Tuhan nyatakan.
Selain itu, Ayub menyembah Tuhan, sebab dalam penyembahan Ayub menyerahkan segala bebannya kepada Tuhan.
Mazmur 55:22
Lemparlah bebanmu kepada Tuhan, dan Dia akan memeliharamu. Dia takkan membiarkan orang benar terguncang selama-lamanya.
- Belajarlah melihat INTI kehidupan
Ayat 21 katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
Saat musibah terjadi, belajarlah memahami inti kehidupan. Apakah inti kehidupan menurut Ayub?
a. Datang dalam keadaan kosong, kembali dalam keadaan kosong.
Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Pada akhirnya semua yang melekat dalam diri kita akan ditanggalkan. Hidup ini menjadi berat karena hati kita sudah melekat kepada hal-hal yang jasmani. Kita sudah merasa memiliki.
1Timotius 6:7 “Sebab kita tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar”
b. TUHAN yang memberi
Ayub menyadari semua kekayaan yang dia miliki, lembu, sapi, kambing, domba, keledai dan unta, semuanya adalah pemberian Tuhan. Itu bukan miliknya tapi Tuhan yang memberikan kepadanya. Oleh sebab itu Ayub tidak merasa sedih saat semuanya itu hilang, sebab itu adalah pemberian Tuhan.
Milikilah keadaan seperti Ayub. Semua yang kita miliki datangnya dari Tuhan. Semua kekayaan adalah titipan Tuhan. Tuhan yang memberi untuk dinikmati, tapi bukan dimiliki. Semua adalah pemberian Tuhan untuk kita gunakan, tapi bukan untuk menjadi milik kepunyaan.
c. TUHAN yang mengambil.
Selain Ayub sadar semuanya adalah Tuhan yang memberi, Ayub juga sadar bahwa Tuhan juga berdaulat untuk mengambil milikNya kapan saja DIA inginkan.
Roma 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
- Belajarlah mempercayai TUHAN sepenuhnya
Ayat 22 Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Mengapa di tengah musibah yang dialami Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. Sebab Ayub percaya sepenuhnya bahwa dibalik semua yang terjadi ada berkat yang Tuhan sediakan. Ayub percaya semua yang diijinkan Tuhan terjadi adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi dirinya.
- Ayub tidak hanya memahami apa yang tangan Tuhan kerjakan, ia memahami apa yang hati Tuhan maksudkan
- Tidak hanya melihat apa yang terjadi, tetapi apa yang DIA ingini.
- Tidak hanya mengerti apa yang Tuhan lakukan, tetapi mengerti apa yang Tuhan janjikan.
Pada akhirnya, iman percayanya kepada Tuhan menumbuhkan kedewasaan dan pemahaman yang benar tentang Tuhan. Dari kitab Ayub, kita melihat iman Ayub bertumbuh dari orang yang dulu hanya tahu tentang Tuhan, sekarang ia kenal Tuhan. Dulu ia hanya mengetahui Tuhan dari kata orang, tetapi sekarang ia sendiri mengalami Tuhan.
Ayub 42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Ayub 42:10 Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.
Penutup
Terkadang kita tidak dapat menghindari datangnya musibah, kesulitan dan penderitaan. Apapun yang terjadi, percayalah bahwa Tuhan berkuasa untuk melepaskan kita dari segala musibah. Jika Tuhan mampu menolong Ayub, Tuhan juga mampu menolong kita.
Mazmur 34:19
Banyak penderitaan orang benar, tetapi Tuhan melepaskan mereka dari semua itu.
Tuhan memberkati. KJP!