Pendahuluan
Segala petunjuk yang kita perlukan untuk kita hidup dalam kemenangan dan penyediaan Allah bagi kita orang percaya, sebenarnya sudah komplit dituliskan dalam Alkitab. Tetapi mengapa justru sebaliknya tidak sedikit orang yang mengaku percaya justru tidak mengalami apa yang Tuhan janjikan ? Hal ini terjadi karena banyak dari orang percaya tidak sepola pikir dengan apa yang dikehendaki Tuhan, kita sering gunakan pola pikir kita sendiri , benarnya sendiri sehingga tidak selaras dengan pikiran dan kehendak Tuhan. Ayat pokok yang akan kita bahas mengenai hal ini terdapat dalam :
Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Dari ayat pokok di atas, ada beberapa kalimat yang dapat kita cermati :
I. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini
Artinya menghentikan suatu tindakan yang tengah berlangsung. Orang percaya didorong untuk tidak terus menjadi seperti sistem dunia yang berdosa ini, yang masih terus berlangsung, kita harus tegas berhenti untuk tidak mengikuti cara duniawi yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
II. Tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu
Kata Pembaharuan atau baru, berasal dari akar kata Yunani yaitu kainos, artinya baru dalam kualitas, yang tidak lain menunjuk kepada berubah ke arah Kristus, bukan baru dalam segi waktu (choronos), tetapi kepada perubahan budimu yaitu pikiran kepada karakter Kristus. Alkitab menjelaskan bahwa, indera pendengar dan pelihat dalam diri manusia merupakan jendela jiwa atau pikirannya. Seseorang akan menjadi seperti apa, itu akan dipengaruhi dari apa yang ia pikirkan, melalui apa yang ia lihat dan dengar.
III. Sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah
Kata “Membedakan” berhubungan dengan kata Yunani : dokimazo, yang artinya menguji dengan sebuah pandangan menuju ke arah persetujuan. Kita harus menguji apakah sesuatu yang akan kita kerjakan setuju dengan cara yang dikehendaki Tuhan atau malah sebaliknya. Pola pikir yang berubah, akan juga membawa kepada perubahan dalam hidup kita.
Ada tiga tingkatan pola pikir yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, dimana Allah dapat mengerjakan semua rancangan-Nya bagi kita, sesuai yang ditulis dalam ayat pokok diatas yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
1. Apa yang baik
Kesalahan pada umumnya yang dilakukan oleh orang percaya, hanya berhenti pada apa yang baik, menurut benarnya sendiri, tetapi tidak berkenan dan sempurna di hadapan Tuhan. Contoh datang ibadah itu baik, tetapi jika datangnya karena tidak enak sudah berulangkali di telepon gembala, maka ibadahnya baik, tetapi tidak berkenan dihadapan Tuhan, karena ibadahnya bukan murni dari hati yang tulus untuk mencari Tuhan, tetapi karena tidak enak hati sudah dihubungi gembalanya.
Contoh kisah dalam Lukas 5:1-6. – Dapat dibaca selengkapnya.
Ay. 4 – Yesus berfirman : Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.
Ay. 5 – Simon berargumen sesuai pengalaman dan kenyataan yang dihadapi, bahwa ia tidak mendapatkan seekor ikanpun semalaman ( Sesuai teori para penjala ikan, waktu yang terbaik untuk menjala adalah di waktu petang sampai malam hari ) . “Simon menjawab : Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Simon Petrus awalnya menanggapi perintah Yesus, dengan pola pikirnya sendiri dan menurut kebenaran dari pengalamannya sebagai seorang nelayan. Tetapi ketika ia menanggalkan semuanya itu, dan menuruti perintah Yesus, hasilnya menakjubkan. Ayat 6 Jalanya sampai koyak karena penuh dengan ikan.
2. Yang berkenan kepada Allah
Segala sesuatu memang kita harus mengerjakannya dengan baik, tetapi jangan lupa kerjakan yang baik itu sesuai dengan yang berkenan kepada Allah. Apa yang berkenan kepada Allah itu ? Dengar dengan saksama firman-Nya, dan kerjakanlah sesuai dengan apa kata firman-Nya.
Contoh kisah Lukas 10 : 38-42
Marta mengerjakan apa yang baik tanpa mengerti apa yang berkenan kepada Yesus. Hasilnya Yesus menilainya sebagai usaha menyusahkan diri. Berbeda dengan Maria, ia menyadari ada hal lain yang lebih diperkenan Tuhan, dan ia ambil hal itu, yaitu duduk di kaki Tuhan mendengarkan semua yang diucapkan dan dikehendaki Tuhan, dan sendiri menbgatakan bahwa Maria mengambil bagian yang terbaik, yaitu perkenanan Tuhan. Maria duduk dikaki Tuhan mendengar firman-Nya, orang yang suka duduk dikaki Tuhan untuk mendengarkan firmsn-Nya, kelak juga akan duduk bersama dalam Kerajaan Surga.
Apakah Yesus tidak membutuhkan pelayanan jasmani seperti yang dikerjakan oleh Marta ?. Yesus memerlukannya, namun ada yang lebih dari sekedar pelayanan jasmani atau makanan rohani, karena bagi Yesus ada makanan yang harus lebih diutamakan yaitu : “ Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya “ (Yoh 4:32-34 ), dan karena manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah ( Matius 4:4 ). Kesimpulannya Allah ingin kita melayani pekerjaan Tuhan harus sesuai dengan pemahaman dan kehendak firman-Nya, sebab melayani Tuhan dan melayani pekerjaan Tuhan adalah dua hal yang berbeda. Yesus melayani sesuai dengan kehendak dan perkataan Bapa di surge, Maria mengambil bagian pertama itu, ia duduk untuk mendengarkan perkataan firman, sebagai petunjuk dan arahan untuk ia dapat melayani bagian yang dikerjakan Marta, tetapi dengan yang terbaik dan yang diperkenan Tuhan. Marta sebaliknya ia melayani pekerjaan Tuhan tanpa arahan dan petunjuk yang benar dari perkenanan firman-Nya, hasilnya daging yang nampak, ia mengeluh, marah dan protes, itulah yang Tuhan katakan hanya menyusahkan dirinya.
3. Dan yang sempurna
Istilah ini berarti “ Dewasa “, diperlengkapi dengan lengkap oleh pemahaman firman-Nya untuk menunaikan tugas yang ditugaskannya. Sasaran Allah jelas bagi setiap orang percaya ialah, kedewasaan rohani seperti Kristus. (Matius 5:48.)
Dari pengalaman pertama dengan Yesus mengenai perintah untuk menebarkan jala, Simon Petrus dan murid-murid lainnya mengalami polapikir yang telah diubahkan, kisahnya ada dalam. Yohanes 21:1-6.
Petrus tidak ada lagi argumen menurut baik dan benarnya mereka mereka sendiri. Ketika Yesus berkata adakah lauk pauk padamu, mereka jawab tidak ada, lalu Tuhan memerintahkan untuk menebarkan jalanya disebelah kanan perahu. Petrus tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia langsung menebarkan jalanya sesuai petunjuk firman-Nya, tidak ada lagi argument menurut pikirannya Petrus, ia sepenuhnya tunduk pada perintah firman-Nya. Hasil tangkapan sejumlah ikan yang besar ikan besar dan jalanya tidak koyak. Bandingkan pada pengalaman pertamanya, jala Petrus koyak dan banyak ikan yang terlepas, karena Petrus menjalankan perintah Yesus seperti coba-coba.
Lukas 5:5 – Simon berargumen sesuai pengalaman dan kenyataan yang dihadapi, bahwa ia tidak mendapatkan seekor ikanpun semalaman ( Sesuai teori para penjala ikan, waktu yang terbaik untuk menjala adalah di waktu petang sampai malam hari ) .
“Simon menjawab : Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Benar Petrus berhasil menangkap ikan tetapi jalanya koyak, tetapi pada pengalam kedua dalam Yohanes 21:1-6, jalanya tidak menjadi koyak. Jangani melakukan perintah firman-Nya secara setengah-setengah, karena kita merasa tahu, tetapi sepenuhnya kita selaraskan pola pikir kita untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya.