Pujian dan Penyembahan – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 2 – Minggu, 15 September 2023)

Mazmur 150 1:6
 Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!
2. Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!
3. Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!
4. Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!
5. Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
6 Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Pendahuluan

Ayat pokok menjelaskan tentang ajakan untuk memuji dan menyembah Tuhan dan ajakan tersebut bukan kepada tiupan sangkakala, gambus, kecapi, bukan kepada rebana dan tari-tarian, ceracap,  tetapi ajakan buat semua orang yang bernafas untuk dapat memuji Tuhan dengan segala yang dapat mereka lakukan. Tuhan dapat memerintahkan batu-batu dan pohon-pohon untuk dapat memuji Dia, tetapi Allah lebih suka dan mencari orang-orang setiap kita yang bernafas untuk dapat memuji Tuhan.

Ketika kita memuji dan menyembah Tuhan maka itu adalah pujian dan penyembahan yang bukan hanya sekedar aktivitas musik atau ritual dalam ibadah. Ini adalah respons dari hati yang terhubung dengan Tuhan dan merupakan salah satu elemen paling fundamental dalam kehidupan Kristen. Melalui pujian dan penyembahan, kita mengekspresikan iman, kasih, dan rasa syukur kita kepada Tuhan yang layak menerima segala hormat dan kemuliaan.

Mengapa pujian dan penyembahan begitu penting dalam kehidupan kita dan bagaimana hal itu mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan serta kehidupan kita sehari-hari? Karena:
1. Pujian dan penyembahan merupakan respons alami terhadap siapa Tuhan.
Mazmur 150:1-2 mengatakan, “Pujilah Tuhan dalam tempat kudus-Nya, pujilah Dia dalam cakrawala kekuasaan-Nya. Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat.” Pujian berpusat pada pengakuan terhadap kebesaran dan perbuatan Tuhan.

Pujian dan penyembahan melibatkan dua dimensi:

  • Dimensi pengakuan atas sifat Tuhan: Dalam pujian, kita mengakui atribut Tuhan yang tak terhingga—kekuasaan-Nya, kasih setia-Nya, kekudusan-Nya, dan kesetiaan-Nya. Pujian bukan sekedar lirik lagu, tetapi deklarasi yang mengingatkan kita siapa Tuhan dalam hidup kita.
  • Dimensi meresponi perbuatan-Nya: Pujian juga merupakan respons atas karya Tuhan dalam hidup kita. Ketika kita menyadari apa yang telah Tuhan lakukan—menyelamatkan, memelihara, memulihkan, dan memberkati—pujian kita menjadi otentik dan penuh kekaguman.

Jadikan pujian sebagai respons spontan. Ketika kita mengerti siapa Tuhan sebenarnya, kita tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji-Nya. Sama seperti kita secara alami memuji hal-hal baik dalam hidup kita, seperti pemandangan indah, karya seni, atau orang-orang yang kita kasihi, demikian pula kita harus memuji Tuhan karena kebesaran dan kasih-Nya.

Saat kita ada pada kedua dimensi ini maka iman kita akan dibangkitkan dan mempercayai bahwa kuasa-Nya dapat mengatasi permasalahan kita, kasih setia-Nya yang menyertai kehidupan kita bahkan kekudusan-Nya akan terus memenuhi kehidupan kita  dan kesetiaan-Nya akan kita rasakan dalam segala hal.

Aplikasi: Pujian harus datang dari hati yang menyadari kebesaran Tuhan. Ketika kita memuji Tuhan, apakah kita benar-benar memahami dan menghargai kebesaran dan kebaikan-Nya? Atau apakah kita hanya melakukannya sebagai bagian dari rutinitas?

2. Pujian dan penyembahan adalah kurban hidup kepada Tuhan
Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Pada bagian ini mengajarkan bahwa penyembahan sejati adalah mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Tuhan.

Dalam konteks Alkitabiah, kurban atau pengorbanan memiliki arti yang mendalam, mencerminkan hubungan antara manusia dan Tuhan, serta sebagai simbol penebusan dosa dan penyembahan.

1). Kurban di Perjanjian Lama:

  • Kurban dalam Perjanjian Lama merupakan bagian utama dari sistem ibadah Israel. Berbagai jenis persembahan dan kurban dilakukan di altar, termasuk kurban bakaran, kurban penghapus dosa, kurban syukur, dan kurban pendamaian.
  • Kurban binatang adalah praktik umum, dimana darah binatang dipercayai sebagai sarana untuk menutupi dosa (misalnya, kitab Imamat 1-7). Korban ini dilakukan di bait suci oleh imam sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.
  • Salah satu cerita paling terkenal adalah kisah Abraham yang diperintahkan Tuhan untuk mengorbankan anaknya, Ishak, namun Tuhan menyediakan domba sebagai pengganti (Kejadian 22). Ini menjadi simbol pengorbanan yang berkenan di mata Tuhan.

2). Kurban di Perjanjian Baru:

  • Dalam Perjanjian Baru, konsep kurban mengambil makna yang lebih mendalam dengan kehadiran Yesus Kristus sebagai “Anak Domba Allah”. Yesus merupakan sebagai kurban utama yang sempurna, yang menebus dosa seluruh umat manusia.
  • Pengorbanan Yesus di kayu salib dianggap sebagai penggenapan dari semua kurban Perjanjian Lama, karena Dia mempersembahkan diri-Nya sekali untuk selamanya, sehingga tidak diperlukan lagi kurban binatang (Ibrani 10:10-14).
  • Kurban Yesus juga merupakan kasih dan anugerah Allah yang besar, karena melalui pengorbanan ini, umat manusia dapat diperdamaikan dengan Tuhan dan menerima keselamatan.

3). Kurban Spiritual:

  • Dalam firman Tuhan, setelah Yesus mengorbankan diri-Nya, pengikut Kristus diajak untuk mempersembahkan hidup mereka sebagai “kurban hidup” yang kudus dan berkenan kepada Tuhan (Roma 12:1). Ini bukan lagi berupa kurban fisik, melainkan penyerahan diri dalam ibadah, pelayanan, dan hidup sehari-hari sebagai bentuk rasa syukur dan pengabdian kepada Tuhan.

Jadi berilah diri saudara sebagai kurban persembahan bagi Tuhan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah baik pikiran, hati, kehendak, dan tubuh yang mencakup seluruh aspek kehidupan, baik saat kita bekerja, berhubungan dengan orang lain, maupun saat kita berdoa.

Aplikasi: Apakah kita menyembah Tuhan dengan totalitas hidup kita, atau hanya ketika kita berada di gereja? Penyembahan sejati memerlukan penyerahan diri setiap hari—mengambil keputusan, bekerja, dan berhubungan dengan orang lain dengan sikap hati yang menyenangkan Tuhan.

3. Pujian dan penyembahan merupakan keputusan yang dapat mengubah fokus kita
Habakuk 3:17-19 “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”

Ayat 17 menggambarkan situasi yang sangat suram: tidak ada hasil dari tanaman atau hewan ternak yang menjadi sumber utama kehidupan pada waktu itu. Ini melambangkan kesulitan hidup, kehancuran ekonomi, dan ketidakpastian yang menyeluruh.

  • Pohon ara, anggur, dan zaitun merupakan simbol dari kemakmuran.
  • Ladang yang tidak menghasilkan makanan melambangkan kelaparan.
  • Tidak adanya ternak melambangkan kehancuran ekonomi dan hilangnya sumber daya.

Meski dalam keadaan yang seburuk itu, Habakuk memutuskan untuk tetap bersukacita dalam Tuhan. Penyembahan yang Habakuk tunjukkan bukan berdasarkan keadaan yang baik atau buruk, melainkan atas dasar siapa Tuhan itu. Didalam keputusannya untuk memuji dan menyembah Tuhan membuat Habakuk tidak lagi berfokus kepada kesulitan yang dialami tetapi berfokus kepada Dia sumber kekuatan dan segalanya dalam kehidupan.

Aplikasi: Ketika kita menghadapi masalah, apakah kita tetap memuji dan menyembah Tuhan? Pujian dalam penderitaan adalah keputusan yang tepat sehingga fokus kita bukan kepada penderitaan tetapi kepada  Tuhan selalu layak dipuji, meskipun keadaan tidak ideal. Tuhan merespons pujian yang lahir dari hati yang penuh iman.

4.Pujian dan penyembahan membawa kuasa dan mujizat Tuhan (Kisah Para Rasul 16:25-26)
Ayat 25– Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.
Ayat 26 – Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.

Dalam Kisah Para Rasul 16:25-26, kita melihat bagaimana Paulus dan Silas, meskipun sedang berada dalam penjara, memilih untuk memuji Tuhan. Dan Tuhan merespons pujian mereka dengan gempa bumi yang membuka pintu penjara dan membebaskan mereka dari belenggu. Pujian membuka pintu mukjizat. Ketika kita memuji Tuhan, kita mengundang kuasa-Nya untuk bekerja dalam hidup kita. Pujian membawa hadirat Tuhan dan mengubah atmosfer di sekitar kita.

Penyembahan membuka ruang untuk kuasa Tuhan bekerja. Dalam kisah ini, pujian dan penyembahan Paulus dan Silas bukan hanya membawa pembebasan bagi mereka, tetapi juga bagi tahanan lain yang mendengarkan mereka. Menghidupkan pujian dan penyembahan dalam hidup kita dapat menjadi alat Tuhan untuk menyatakan kuasa Allah bekerja bagi orang lain.

Aplikasi: Ketika kita menghadapi tantangan besar, apakah kita memilih untuk memuji Tuhan, percaya bahwa Dia dapat membawa pembebasan dan mukjizat? Pujian yang kita berikan kepada Tuhan bisa membuka ruang bagi kuasa-Nya untuk bekerja dalam hidup kita dan orang lain.

5. Pujian dan penyembahan memperbaharui hati kita (Mazmur 51:17)
Mazmur 51:17 berkata, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina, ya Allah.”

Pujian dan penyembahan juga adalah alat Tuhan untuk memperbarui hati kita. Ketika kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, menyembah-Nya dengan jiwa yang terbuka, Tuhan akan memperbarui dan menyembuhkan hati kita yang terluka.

Penyembahan membawa pemulihan. Dalam penyembahan, kita mengalami pemulihan dari luka batin, rasa bersalah, dan dosa. Tuhan bekerja di dalam hati kita ketika kita menyembah-Nya dengan hati yang hancur di hadapan-Nya.

Aplikasi: Apakah kita membutuhkan pemulihan atau penyegaran rohani? Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang terbuka dalam penyembahan, dan biarkan Dia bekerja di dalam hati kita untuk memperbaharui dan menyembuhkan kita.

Kesimpulan:
Pujian dan penyembahan adalah inti dari hubungan kita dengan Tuhan. Itu adalah respons kita terhadap kasih-Nya, pernyataan iman kita di tengah kesulitan, dan jalan untuk mengalami kuasa dan hadirat Tuhan. Mari kita jadikan pujian dan penyembahan bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi sebagai gaya hidup yang memuliakan Tuhan setiap hari.

Arsip Catatan Khotbah