1 Tawarikh 4:9–10 “Yabes lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: ‘Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.’ Yabes berseru kepada Allah Israel: ‘Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!’ Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.”
Pendahuluan
Ketika mendengar istilah keluarga yang diberkati, banyak orang langsung membayangkan rumah tangga yang harmonis, ekonomi yang stabil, anak-anak yang berhasil, dan hidup tanpa masalah. Namun kisah Yabes menunjukkan bahwa berkat Tuhan tidak selalu lahir dari latar belakang keluarga yang baik atau masa lalu yang sempurna. Berkat Tuhan tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh hati yang mau datang kepada-Nya.
Yabes adalah contoh seseorang yang beralih dari “tersakiti” menjadi “terberkati.” Ia disebut lebih dimuliakan dari saudara-saudaranya (1 Taw 4:9). Kata “dimuliakan” menunjukkan bahwa Yabes menjadi pemimpin bagi kaumnya. Nama “Yabes” berarti kesakitan. Ia lahir dengan label negatif dari keluarganya sendiri. Namun lewat doa dan iman, Tuhan mengubah kisah hidupnya.
Dari kisah Yabes ini kita akan belajar beberapa hal yang menjadi paradigma (cara pandang) tentang keluarga yang diberkati menurut Firman Tuhan.
1. Keluarga yang diberkati tidak terikat luka masa lalu
“…ibunya menamai dia Yabes, sebab katanya: ‘Aku telah melahirkannya dengan kesakitan.’” (ay. 9b)
Nama Yabes lahir dari penderitaan ibunya. Dalam budaya Ibrani, nama memiliki makna simbolik dan sering diyakini menentukan masa depan seseorang. Artinya, sejak kecil Yabes hidup dengan stigma dan beban emosional. Namun ia memilih untuk tidak hidup terikat pada luka masa lalunya.
Keluarga yang diberkati adalah keluarga yang dipulihkan dari luka masa lalu, bukan yang tidak pernah terluka. Banyak dari kita memiliki sejarah keluarga yang sulit, kita mungkin pernah diremehkan, dibandingkan, ditinggalkan, mengalami kekerasan, atau dilabeli dengan kata-kata negatif. Luka itu bisa terbawa sampai dewasa, bahkan ke dalam pernikahan dan pola asuh anak. Namun kabar baiknya: Tuhan sanggup memulihkan.
Contoh Kisah Yusuf : “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” (Kejadian 50:20)
Untuk pulih, dibutuhkan dua hal: iman kepada Allah dan kesediaan untuk mengampuni. Di situlah keluarga belajar memberi ruang bagi kegagalan, saling menopang, mengasihi, dan menumbuhkan harapan baru.
“Allah tidak menjanjikan semua situasi itu baik, tetapi Dia menjamin bahwa Ia sanggup memakai segala situasi untuk menghasilkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya.” (Roma 8:28)
2. Keluarga yang diberkati mengutamakan relasi dengan Allah
“Yabes berseru kepada Allah Israel…” (ay. 10a)
Yabes tidak membiarkan kepahitan menguasai hidupnya, ia memilih berdoa dan mencari Allah. Menjadi pelajaran bagi kita bahwa “keluarga yang diberkati bukanlah keluarga yang bebas masalah, tetapi keluarga yang tahu membawa setiap masalahnya kepada Tuhan”.
Ingatlah bahwa “Tanpa kehidupan doa, tidak ada relasi dengan Allah.”
Keluarga Yabes tidak memberikan masa depan yang baik baginya, tetapi ketika ia berpaling kepada Tuhan, Tuhan mengubah arah hidupnya. Pahamilah bahwa keluarga yang diberkati adalah keluarga yang menempatkan Tuhan di pusat kehidupan sehari-hari.
Contoh Yosua : “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15)
3. Keluarga yang diberkati bergantung pada kemurahan Allah
“Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.” (ay. 10b)
Berkat dalam keluarga bukan hasil strategi, latar belakang, atau kekuatan manusia, melainkan hasil kemurahan Allah. Doa Yabes menunjukkan ketergantungan penuh kepada Tuhan melalui empat permohonan:
1). “Kiranya Engkau memberkati aku” — Kesadaran bahwa berkat sejati datang dari Tuhan.
2). “Perluaslah daerahku” — Tuhan tidak hanya memperbesar wilayah, tetapi juga memperluas kapasitas hati dan tanggung jawab kita.
3). “Kiranya tangan-Mu menyertai aku” — Kesadaran bahwa keberhasilan tanpa penyertaan Allah tidak ada artinya.
4). “Lindungilah aku dari malapetaka” — Doa agar keluarga hidup dalam perlindungan Tuhan.
Dari Yabes kita melihat bahwa doa yang berasal dari hati yang bergantung penuh pada Tuhan akan dijawab oleh kemurahan-Nya.
Penggenapan dalam Injil
Kisah Yabes adalah bayangan kecil dari berita Injil. Yabes lahir dengan nama “kesakitan,” tetapi Tuhan mengubah nasibnya melalui seruan iman. Demikian juga seluruh umat manusia lahir dalam dosa dan kutuk, tetapi Injil menawarkan identitas baru di dalam Kristus.
“Sebab Kristus adalah ‘Ya’ bagi semua janji Allah.” (2 Korintus 1:20)
“Supaya berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:14)
“Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu yang dahulu jauh sudah menjadi dekat.” (Efesus 2:13)
Kesimpulan
Keluarga yang diberkati adalah keluarga yang dipulihkan dari luka masa lalu, mengutamakan relasi dengan Allah dalam doa, dan bergantung pada kemurahan Allah. Kalau Yabes bisa diubah dari label “sakit” menjadi “diberkati,” di dalam Yesus keluarga kita juga bisa.