MENANG ATAS UANG – oleh Pdt. K. Priyono (Ibadah Raya 2, 3 – Minggu, 23 November 2025)

Kisah 5:1-11

Pendahuluan
Khotbah ini adalah lanjutan dari khotbah pertama dengan judul “UANG: JERAT ATAU BERKAT.”
Perlu disadari bahwa uang atau kekayaan yang kita miliki adalah berkat Tuhan, tetapi jika kita tidak berhati-hati maka uang yang tadinya sebagai berkat bisa berubah menjadi jerat yang mematikan seperti yang dialami oleh Ananias dan Safira. Untuk itu marilah kita sama-sama belajar bagaimana kita bisa “MENANG ATAS UANG.”

Uang tidak kita letakan di hati, tetapi tetap berada di tangan kita. Uang bukan mengendalikan kita, tetapi kitalah yang mengendalikan uang.  Kita tidak diperbudak oleh uang, tetapi kitalah yang menjadi tuan atas uang. Ingat kita boleh memiliki uang, tetapi jangan sampai uang memiliki kita.

Mari kita membaca Amsal 30:7–9 (TB):
7  Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kau tolak sebelum aku mati, yakni: 
8  Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. 
9  Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. 

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan atas uang bukan datang dari besarnya pendapatan, bukan dari besarnya tabungan, bukan dari banyaknya aset yang kita miliki, kemenangan atas uang dimulai dari kemenangan di dalam hati. Masalah keuangan bukan soal jumlah tetapi soal posisi hati

Agur bin Yake menyadari bahwa sedikit atau banyaknya uang yang dimiliki seseorang berpotensi jatuh didalam dosa.

  • Kalau kaya : bisa sombong bahkan menyangkal Tuhan
  • Kalau miskin : bisa berbuat jahat, mencuri, korupsi, menghalalkan segala cara demi kekayaan materi.

TIGA PRINSIP MENANG ATAS UANG
1. Menang atas uang dimulai dari kejujuran hati
Lukas 6:45  
Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” 

Kejujuran adalah fondasi rohani dalam mengelola keuangan. Kegagalan kita mengelola uang, disebabkan dari kegagalan kita mengelola hati. Ananias dan Safira mati bukan karena mereka kurang uang, mereka mati karena mereka gagal menjaga hati. Bukan soal nominal yang mereka tahan yang membuat mereka gagal, tetapi karena hatinya yang tidak murni,  akibatnya mereka memanipulasi dan membohongi Roh Kudus.

Hati-hatilah! Kebohongan-kebohongan kecil lama-lama melemahkan roh. Ketidakjujuran kecil membuka pintu bagi mamon masuk. Ketidakjujuran kecil membuat suara Roh Kudus makin tidak terdengar.

Dalam dunia modern, godaan ketidakjujuran ada di mana-mana, misalnya: laporan keuangan yang dimanipulasi; “Mark up” nota; pajak yang dipalsukan, klaim asuransi fiktif; gaya hidup yang dipamerkan, padahal tidak sesuai keadaan; cicilan demi cicilan demi terlihat mampu dan gaya.

Sadarilah, Tuhan tidak meminta kita menjadi kaya. Tuhan tidak menuntut kita memberi besar. Tetapi Tuhan menuntut kita jujur. Ingat, kemenangan rohani bukan ditentukan oleh jumlah uang yang kita miliki tetapi oleh kemurnian hati. Orang jujur mungkin tidak cepat kaya, tetapi ia yang paling cepat menikmati damaiNya.

Dalam alkitab ada contoh-contoh orang yang gagal dalam keuangan selalu disebabkan satu hal yaitu kondisi hati.

a. Akhan – hati yang mengingini
Yosua 7:20, 21  
Lalu Akhan menjawab Yosua, katanya: “Benar, akulah yang berbuat dosa terhadap TUHAN, Allah Israel, sebab beginilah perbuatanku:  aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali.”

Akhan gagal menguasai keinginan hatinya, itulah sebabnya ketika melihat jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; timbul keinginan dalam hatinya untuk mencuri.

Keinginan yang tidak terkendali adalah ibarat api kecil yang dibiarkan menyala tanpa penjaga; ia mungkin memberi hangat sementara, tetapi perlahan menjelma menjadi kobaran yang melahap diri sendiri bahkan keluarga.

Dari Akhan kita belajar bahwa masalah keuangan bukan dimulai dari kekurangan, tetapi dari kondisi hati yang tidak memiliki batas keinginan. 

b. Gehazi – hati yang serakah 
2Raja-raja 5:19,20  
Maka berkatalah Elisa kepadanya: “Pergilah dengan selamat!” Setelah Naaman berjalan tidak berapa jauh dari padanya, berpikirlah Gehazi, bujang Elisa, abdi Allah: “Sesungguhnya tuanku terlalu menyegani Naaman, orang Aram ini, dengan tidak menerima persembahan yang dibawanya. Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya aku akan berlari mengejar dia dan akan menerima sesuatu dari padanya.” 

Gehazi adalah  pelayan nabi Elisa. Setiap hari ia melihat tangan Tuhan bekerja melalui Elisa.
Ia menyaksikan mujizat, mendengar suara nubuat, namun ternyata orang dekat dengan hal-hal rohani tidak otomatis membuat imannya kuat. Gehazi jatuh bukan karena kelaparan, tetapi karena keserakahan. Ia membiarkan keserakahan menguasai hatinya.

Dosa Gehazi tidak dimulai dari tangannya, tetapi dari hatinya. Keserakahan selalu lahir dari satu kata:  “Aku mau.” Gehazi mengejar Naaman, mengarang cerita, dan menerima dua talenta perak serta dua pakaian yang indah.

c. Yudas Iskariot: hati yang terikat pada uang
Mat 26:14, 15  
14 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. 
15 Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. 

Yudas Iskariot adalah salah satu dari dua belas murid Yesus. Ia adalah orang yang makan bersama Yesus, berjalan bersama Yesus, mendengar ajaran-Nya, dan menyaksikan mukjizat-Nya. Namun kedekatan fisik itu tidak sama dengan kedekatan hati. Ia mengikuti Yesus, tetapi hatinya tidak pernah benar-benar terikat pada Yesus. Ia melayani Yesus, tetapi hatinya terikat pada uang. Kecintaannya kepada uang, membuat ia rela menjual Tuhan.

Hati-hati! Hati yang tidak dijaga akan menjual apa saja (harga dirinya, imannya bahkan Tuhan nya).

Perhatikan bahasa hati orang yang terikat pada uang:
Ayat 15 Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku?”
Ia tidak menanyakan apa yang benar, berapa berani bayar?
Hati yang terikat pada uang akan mulai menghitung:
Berapa untungnya bagiku?
Apa yang aku dapat?
Apa imbalannya?

KESIMPULAN — akar semua kejatuhan ada di hati
Gehazi, Akhan dan Yudas Iskariot, berbeda zaman, berbeda peran, tetapi kejatuhan mereka dimulai dari satu titik yang sama yaitu “HATI YANG TIDAK DIJAGA.”

Amsal 4:23
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

2. Jalani hidup dengan iman
Roma 1:17  
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” 

Agar kita bisa menang atas uang, maka belajarlah hidup dengan iman. Kita hidup berdasarkan keyakinan akan pemeliharaan Tuhan bukan berdasarkan uang yang kita miliki.

Orang yang hidup berdasarkan iman kepada Tuhan, hidupnya bukan didasarkan kekuatan diri sendiri atau kestabilan ekonomi. Orang yang hidupnya berdasarkan iman, bergantung total kepada Allah bukan keamanan finansial. Orang yang hidup oleh iman ditopang tangan Tuhan, bukan saldo tabungan.

Contoh : Janda di Sarfat
1 Raja-raja 17:12  
Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.” 

Janda di Sarfat. Ia bukan orang kaya, bukan tokoh besar, ia bukan sosok terkenal. Ia hanyalah seorang ibu sederhana, yang mencoba bertahan hidup di tengah musim kekeringan. Di puncak kekurangan, dimana ia hanya memiliki segenggam tepung, sedikit minyak disanalah imannya tumbuh. Dengan iman, ia melakukan apa yang diminta nabi Elia. Dan ketika ia melakukan tepat seperti yang Elia perintahkan, disanalah keajaiban terjadi. Minyak dan tepung tidak pernah habis dari hari ke hari. 

Mari kita belajar dari janda Sarfat ini, dalam kekurangan ia belajar hidup dengan iman. Ia percaya kepada pemeliharaan Tuhan bukan apa yang ia pegang.

  • Janda di Sarfat tidak hidup oleh tepung dalam tempayan. Ia hidup oleh janji Tuhan.
  • Ia tidak hidup oleh minyak dalam buli-buli. Ia hidup oleh Firman Tuhan yang ia percayai.
  • Situasinya tidak berubah secara drastis, tetapi cara Tuhan menopang hidupnya tidak pernah habis. Dari hari ke hari Tuhan menyediakan yang diperlukan dan mencukupi yang ia butuhkan.

3.  Bangunlah gaya hidup memberi
Lukas 6:38 (TB)
“Berilah dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

“Berilah dan kamu akan diberi.”
Kalimat ini tidak sekadar prinsip matematika rohani; ini adalah undangan lembut dari Tuhan untuk mengalami kemenangan atas uang. Ketahuilah kuasa uang itu seperti genggaman yang tidak terlihat. Ia ingin memegang hati kita dan mengikatnya dengan erat. Tetapi setiap kali kita memberi, kita sedang membebaskan diri kita dari cengkeraman kuasa uang.

Memberi adalah deklarasi iman bahwa Tuhanlah sumber hidup kita, bukan saldo di rekening kita. Di saat dunia berkata, “simpan untuk dirimu,” kita berkata, “Aku memberi, sebab Tuhan mencukupi.” Disinilah kemenangan dimulai, bukan saat kita kaya raya, tapi saat kita berani melepaskan. Memberi bukan dimulai dari dompet, tetapi dari hati yang percaya.  Ada orang yang punya banyak tetapi tidak bisa memberi karena hatinya terikat.  Ada orang yang sedikit tetapi memberi dengan sukacita karena hatinya merdeka.

Penutup
Hari ini, Tuhan tidak berkata “Berilah banyak.” Tetapi Ia berkata “Berilah dengan percaya.” Sebab memberi adalah jalan menuju kemenangan atas uang dan saat kita memberi kita memberikan hati kita sebagai tahta Tuhan. Kalau Tuhan di hati, kuasa uang pergi. Kalau Tuhan yang bertahta, uang tidak berkuasa. Selamat mengalami kemenangan atas uang, Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah