BERKAT TUHAN DILEKATKAN PADA KETAATAN-Seri RUANG TUNGGU – 13 – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 1 Mei 2022)

Ulangan 8:2
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kau lakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu,
di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu,
yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

Pendahuluan
Pada ruang tunggu seri 11, kita sudah mempelajari bahwa jarak antara Mesir ke Kanaan kira-kira hampir 800 KM. Menurut para ahli geografi jarak ini bisa ditempuh 25 hari saja dengan berjalan kaki. Tetapi faktanya untuk menuju ke Kanaan, bangsa Israel harus berjalan selama 40 tahun lamanya. Perjalanan yang panjang ini terjadi bukan karena bangsa Israel tidak tahu arah yang hendak dituju, tetapi semuanya itu terjadi atas kehendak Tuhan. Tuhanlah yang membawa bangsa Israel berputar di padang gurun selama 40 tahun. Mengapa Tuhan membawa bangsa Israel berputar di padang gurun selama 40 tahun? Alasannya:  untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

Sekali lagi mengapa Tuhan tidak memilih jalan yang dekat, sebab Tuhan mencari hati yang taat. Sadarilah bahwa Tuhan sangat rindu untuk memberkati anak-anakNya, namun berkatnya dilekatkan kepada ketaatan. Siapa yang taat, merekalah yang beroleh berkat. Dimana ada ketaatan di sana berkat Tuhan dicurahkan. Melalui jalan yang berputar di padang gurun, bangsa Israel diuji oleh Tuhan, apakah mereka taat atau tidak. 

Mengapa Tuhan menuntut ketaatan bangsa Israel?
1. Ketaatan adalah jalan menuju keberhasilan
Keluaran 13:21-22
Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu. 

Keberhasilan menuju ke Kanaan sudah dijamin oleh Tuhan karena Tuhan sendiri yang menuntun mereka dalam perjalanan. Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Jika Tuhan yang menuntun perjalanan apa yang perlu ditakutkan? Semua tantangan, kesulitan bahkan apapun yang menghalangi perjalanan maka Tuhan yang lebih dulu menghadapi. Yang perlu bangsa Israel lakukan adalah “MENTAATI” tuntunan Tuhan. Saat tiang api atau tiang awan berhenti, mereka berhenti, saat tiang awan atau tiang api bergerak mereka bergerak. 

Namun sayangnya, karena ternyata bangsa Israel gagal mentaati Tuhan. Alih-alih mentaati Tuhan bangsa Israel justru melawan dan memberontak kepada Tuhan. Mereka memilih jalannya sendiri ketimbang mengikuti tuntunan Tuhan. Akibatnya dari seluruh orang yang keluar dari Mesir hanya Yosua dan Kaleb yang berhasil masuk ke tanah Kanaan. 

Sadarilah, tidak ada keberhasilan tanpa ada ketaatan, karena ketaatan adalah induk dari semua keberhasilan. 

Amsal 13:13  
Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan. 

2. Ketaatan adalah wujud percaya.
Bilangan 14:11  
TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! 

Inilah alasan mengapa bangsa Israel tidak taat kepada tuntunan Tuhan karena mereka tidak percaya kepada Allah. Bangsa Israel meragukan kuasa dan kemampuan Tuhan untuk memelihara, mencukupi dan menjaga mereka di sepanjang perjalanan dari Mesir menuju Kanaan. Kisah perjalanan mereka menjadi buktikegagalan Israel mempercayai Tuhan.

a. Saat dikejar bangsa Mesir di depan laut Teberau, bangsa Israel tidak percaya kalau Tuhan berkuasa menyelamatkan mereka apapun keadaannya.
Kel. 14:10,11  
Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN, dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kau perbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? 

b. Persinggahan pertama di Mara, mereka tidak percaya akan kuasa Tuhan yang mencukupi kebutuhan mereka.
Kel. 15:23, 24  
Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?”

c. Di padang gurun Sin, meragukan akan kemampuan Tuhan menyediakan makanan dan minuman di sepanjang perjalanan.
Kel. 16:2,3  
Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” 

Ketahuilah bahwa ketaatan lahir dari kepercayaan, sebab kita hanya mengikuti orang-orang yang kita percayai. Contohnya adalah Nuh. Meski Nuh belum pernah melihat hujan turun ke bumi namun ia percaya kepada firmanNya untuk membuat bahtera.

Ibrani 11:7  
Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. 

Demikian juga dengan murid-murid saat gagal menangkap ikan (Luk.5:5) dan para pelayan pesta di Kana, mereka semua percaya kepada firmanNya dan melakukannya sesuai yang dikatakanNYA. (Yoh.2)

3. Ketaatan adalah tanda KECINTAAN.
Ulangan 11:1
“Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.” 

Perhatikanlah apa yang Tuhan perintahkan kepada bangsa Israel. “Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu…” Bangsa Israel diperintahkan untuk mengasihi Tuhan dengan cara melakukan firman Tuhan. Ketahuilah bahwa kasih dan ketaatan berjalan beriringan. Karena tanda seseorang mengasihi adalah mentaati. Kita tidak dapat mengasihi Tuhan tanpa ada ketaatan atau kepatuhan kepada firman Tuhan. “Kasih tanpa ketaatan adalah kepalsuan, ketaatan tanpa kasih adalah paksaan”

Ketaatan sejati tidak dilahirkan karena intimidasi, tetapi oleh hati yang mengasihi.

Yohanes 14:15  
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Contoh: ABRAHAM – Kej. 22:1-3
Setelah menanti janji Tuhan begitu lama untuk memiliki anak. Kini setelah janji itu digenapi dan anak itu bertambah besar, Tuhan meminta kepada Abraham untuk mengorbankan anaknya.  Mempersembahkan seorang anak tunggal yang dikasihi, yang lahir di masa tua tentu bukan hal yang mudah bagi seorang ayah. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Abraham. Ayat 3, setelah mendengar firman Tuhan, keesokan harinya Abraham segara berangkat dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya

Mengapa Abraham rela memberikan anak tunggalnya? Sebab cintanya kepada Allah lebih besar dari pada cintanya kepada Ishak. Ketaatan Abraham adalah bukti kasihnya kepada Tuhan Allahnya.

Ukuran cinta kita kepada Tuhan menentukan kadar ketaatan kita kepada Tuhan. Sedikit cintanya, sedikit pula ketaatannya. Orang-orang yang mencintai secara totalitas, akan mentaati tanpa batas.

1Yohanes 5:3  
Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,

Yohanes 14:21  
Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” 

Ketaatan Tuhan Yesus sebagai teladan.
Ibrani 5:8  
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, 

Penutup
Jika Tuhan masih membiarkan kita menunggu janjiNya, menanti setiap jawaban doa, sadarilah Tuhan sedang mencari hati yang taat. Segeralah bertobat, belajarlah untuk taat pada setiap firmanNya. Percayalah “BERKAT TUHAN DILEKATKAN PADA KETAATAN”. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah