TENANG – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya1 – Minggu, 10 Oktober 2021)

Mazmur 3:6-7
Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!. Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.

PENDAHULUAN
Salah satu hal yang penting bagi manusia yang ingin di dapatkan adalah KETENANGAN Jiwa.

Di tengah-tengah kondisi dunia yang penuh kesasakan seperti saat ini kita butuh ketenangan. Tetapi saat-saat sekarang ini terasa sulit untuk kita dapat menikmati ketenangan.

Ada banyak perkara di dunia ini sedang berjalan menuju kehancuran dan sudah berada di penghujung zaman.  Konflik, pertikaian, perang, bencana alam, perekonomian sulit, wabah penyakit, tingkat kejahatan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, dan kehidupan kekristenan semakin hari semakin mengalami tekanan yang luar biasa.

Kita akan melihat reaksi orang-orang saat menghadapi masalah terjadi:
1. Menghadapai dengan serius.
Tipe seperti ini adalah sesorang yang menghadapi masalah degan serius dan tak heran orang tersebut dapat mengatasi persoalan dengan cepat, tetapi tipe ini jika tidak dibawa dalam doa dan minta hikmat Tuhan maka dapat mengambil keputusan yang salah.

2. Menghadapi dengan dramatisasi.
Tipe ini seorang yang yang larut dalam persoalan seperti pentas Drama “ persoalan yang sebenarnya  bisa diselesaikan, didramatiskan seolah-olah ia sedang berhadapan dengan raksasa yang besar.

3. Menghadapi dengan panik atau takut.
Ini tipe saat menghadapi persoalan, ia begitu panik dan takut sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Bagi dia persoalan itu dianggap seperti sesuatu yang sangat mengerikan sehingga tipe seperti ini merasa dirinya begitu hancur, tak berdaya lagi dan biasanya mereka memilih memilih jalan pintas atau merusak dirinya sendiri.

4. Menghadapi dengan tenang.
Tipe seperti ini jarang ditemui, bayangkan persoalan sebesar apapun, ia tetap tenang saja menghadapinya. Dan tipe ini yang akan kita pelajari untuk kita TENANG dalam segala keadaan.

Mazmur 3 menceritakan hal buruk yang dialami oleh raja Daud, sebuah realita dari sebuah kejahatan dari hati manusia, rasa ingin memiliki, dendam, ketakutan dan keserakahan, dimana Absalom, Ahitofel penasihatnya mengadakan kesepakatan yang gelap dan ingin membunuh Daud serta merebut kekuasaan dan kerjaaan. Apa yang dilakukan Daud? Daud TENANG. Daud menghadapi semua persoalan yang berat dengan TENANG, bisa menikmati tidur, istirahat dan tidak takut.

RAHASIA KETENANGAN YANG DAUD NIKMATI :
1). Daud sudah berperkara dengan Tuhan.
Kita tahu bahwa masalah yang kompleks ini adalah hasil dari kesalahan Daud saat Daud berzinah dengan Batsyeba dan membunuh suaminya Uria.

Nabi Nathan jelas menegur Daud dan menyampaikan dalam 2 Samuel 12:10-12. Tetapi ini yang dilakukan Daud : Daud menyesal dan memohon pengampunan kepada Tuhan  .

Ketika Daud mendapatkan pengampunan Daud mendapatkan ketenangan, damai sejahtera sekalipun konsekuensi harus ia hadapi. Hati-hati dengan dosa, dosa membuat kita hidup dalam kegelisahan dan ketakutan, tetapi kebenaran itu membebaskan kita dan memberikan kita damai sejahtera.

 Yesaya 30:15 sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan,

Yesaya 32:17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

Daud mendapat dua berkat saat dia berperkara dengan Tuhan: yaitu ada kekuatan supranatural yang memampukan dia menghadapi masalah dan yang kedua adalah ada damai dan ketenangan yang Tuhan berikan dan kerjakan sekalipun ada di tengah badai.

1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

2). Miliki satu Tuhan walau seribu lawan.

Ayat 2 Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku;

Ayat 7...puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.

Kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa dilakukan musuh terhadap kita, namun kita tahu bahwa Tuhan pasti menyertai kita. Jadi jangan pernah bersandar pada kekuatan saudara, sebab kekuatan musuh jauh lebih besar. Bersandarlah pada kekuatan Allah yang besar, sehingga jika kita tak sanggup, Dia mampu menolong kita. Kekuatan banyak musuh tidak pernah sebanding dengan kekuatan satu Tuhan. 

Daud punya keyakinan hanya Tuhanlah satu-satunya Tuhan yang ia miliki.
Ayat 2 Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku.
Kata” Ya Tuhan” artinya Yehova berarti Daud hanya memiliki satu Tuhan yang benar sekalipun ada banyak musuh yang tidak benar yang ada disekitarku. Bagi Daud: jabatan, kekayaan, kekuasaan bukanlah segalanya tapi segalanya adalah ketika Daud memilki Tuhan sehingga sekalipun jabatan lepas, kekuasaan dan kejayaan habis lenyap maka Daud akan tetap tenang karena Tuhan adalah satu-satunya yang ia miliki.

Mazmur 3:6 Aku membaringkan diri, lalu tidur  ;aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!
Menopang disini ada tangan yang kuat yang menopang kita. Inilah rahasia KEMENANGAN Daud yaitu MILIKI SATU TUHAN.

Kisah yang berbeda yang dialami Yeremia tetapi kondisi yang hampir  sama yaitu kecemasan, ketakutan,  pahit merasuki atau menguasai hidup peratap sehingga dikatakan dalam Ratapan 3: 19 Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.

Ayat 20 – Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
Ayat 21 – Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap. 

Kata “kuperhatikan” mengandung arti mengembalikan kedalam hati, ada perubahan dalam hati yang awalnya dikuasai oleh ipuh, cemas, pahit tetapi ini yang membuat ia tenang, penuh harapan selain kasih setia Tuhan.

Ratapan 3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
Dalam Terjemahan BIS Ratapan 3:24 TUHAN adalah hartaku satu-satunya. Karena itu, aku berharap kepada-Nya.

Jadikanlah Tuhan satu-satunya Allah yang kita percayai, walau seribu lawan maka tangan Tuhan mampu menjaga dan menolong kita sehingga apapun yang tejadi kita rasakan ketenangan.

 3). Jangan terintimidasi.
Ayat 3 “Banyak orang yang berkata tentang aku: “Baginya tidak ada pertolongan  dari pada Allah.” Sela
Intimidasi adalah “perilaku” yang akan menyebabkan seseorang yang pada umumnya akan merasakan “takut cedera” atau berbahaya.

Intimidasi bukan hanya rasa takut tetapi roh ketakutan. Intimidasi sering kita alami baik dari keluarga (saudara), pimpinan dan sekeliling kita bahkan dari teman kerja kita sendiri. Namun jangan pernah kalah dengan intimidasi, sebab intimidasi akan membuat kita gagal.

Beberapa jenis Intimidasi
1. Intimidasi verbal
Intimidasi verbal yaitu serangan seseorang dengan mengucapkan atau menuliskan suatu hal yang mengandung makna tertentu yang menyakiti orang tersebut. intimidasi verbal ini meliputi menggoda, mengomentari hal yang tidak pantas, memberikan panggilan nama, mengacam dan mengejek seseorang.

2. Intimidasi Sosial
Intimidasi sosial ini serangan terhadap kehidupan bersosial seperti dengan sengaja meninggalkan seseorang, mengatakan kepada orang lain untuk tidak berteman dengan seseorang, menyebarkan rumor buruk tentang seseorang dan mempermalukan seseorang di depan umum.

3. Intimidasi Fisik
Intimidasi fisik ini serangan yang langsung berkontak pada fisik seseorang atau suatu tindakan yang menyakiti tubuh atau harta benda seseorang. Intimidasi fisik itu berupa menekan, menendang, menjepit, mendorong, mengambil, meludah atau menghancurkan barang seseorang dan gerakan kasar lainnya yang disebabkan anggota tubuh.

 Daud pernah alami tiga jenis Intimidasi ini 

  • Intimidasi Sosial saat Daud tidak diperhitungan di tengah keluarga dan ditengan tentara Israel.
  • Daud pernah terintimidasi Fisik saat diserang dan diancam oleh Saul untuk dibunuh dan
  • Daud pernah terintimidasi Verbal dari perkataan banyak orang, bukan satu orang tetapi ayat 3 menjelasakan banyak orang berkata tentang aku: Baginya tidak ada pertolongan…

RAHASIA MENGALAHKAN INTIMIDASI :
Perhatikan Ayat 4 – Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.
Lawanlah musuhmu / pergumulanmu dengan Iman!

PERISAI: Efesus 6:16  Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman,  sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat.
Kita memiliki senjata terhebat yakni iman kita kepada Allah.

4. Diam dalam gunung Tuhan.
Ayat 5 Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya  yang kudus. Sela
Gunung Tuhan berbicara tentang keberadaan Tuhan, di mana Tuhan bertakhta, tempat yang kudus atau berbicara juga tentang hadirat Tuhan. Allah bukan Allah yang sulit untuk ditemui. Untuk bertemu dengan Allah, kita harus naik ke gunung kudusnya Tuhan.

Daud lakukan ini dalam kehidupannya, Daud seorang penyembah, pemain musik, pelayan Tuhan, seorang yang intim dengan Tuhan dan Daud lakukan ini dalam segala keadaan hingga tak heran ketika di gunung-Nya Tuhan, Daud mendapatkan Jawaban “Ia menjawab aku dari gunung-Nya  yang kudus. Sela”

Saudara dapat alami kehadiran Tuhan, ada ditempat kediaman Tuhan saat Saudara datang menyembah Tuhan, melayani Tuhan, berdoa dan ketika kita datang maka kita akan mengalami namanya jawaban dari Tuhan yaitu pemulihan, kesembuhan, kelepasan, mukjizat, ketenangan.

RUANG TUNGGU seri 4 – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1,2 – Minggu, 26 September 2021)

Pendahuluan
Haleluya, Puji Tuhan! Saat ini kita masih belajar tentang  “RUANG TUNGGU” dan sekarang kita belajar bagian 4.

Sejatinya hidup dalam dunia ini adalah tentang menunggu. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara instan segalanya membutuhkan penantian. Hanya Tuhan saja yang tidak perlu menunggu, sebab Dia tidak dikuasai oleh waktu, Dia ada dari kekal hingga kekal. Tetapi manusia yang hidupnya dikuasai waktu harus bersedia untuk menunggu sampai semua yang dinanti tejadi.

Pada bagian awal kita sudah pelajari alasan-alasan mengapa Tuhan membawa anak-anakNya masuk ke dalam ruang tunggu.
1. Ruang tunggu melatih kesabaran
Kesabaran tidak tumbuh melalui proses yang instant, kesabaran itu ditumbuhkan melalui sebuah penantian. Orang-orang yang sabar selalu setia menanti sampai semua janji digenapi. Jika semua didapatkan dengan cepat, lalu dimanakah kesabaran akan bertumbuh kuat? Jika semua mudah didapatkan, dimanakah kesabaran ditumbuhkan?

2. Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi (Luk 24:49)
Sadarilah bahwa penentu kemenangan dalam kehidupan bukan mereka yang kuat, bukan pula yang paling besar atau yang paling pintar, tetapi mereka yang bersama dengan Tuhan. Itulah sebabnya setiap anak-anak perlu untuk masuk ke ruang tunggu untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi. Mereka yang bergerak maju bersama Tuhan akan menjadi nomor satu dan mereka yang berperang bersama Tuhan akan meraih kemenangan.

3. Di ruang tunggu Allah menguji iman kita
Iman sejati diketahui setelah kita diuji. Salah satu ujian iman adalah saat Tuhan membiarkan kita menunggu di ruang tunggu. Ketahuilah, beban hidup ini tidak terjadi karena besarnya masalah yang kita hadapi, tetapi kadang-kadang terjadi karena lamanya waktu untuk menanti. Saat kita menanti, saat itulah iman diuji. Apakah kita tetap mempercayai bahwa firman Tuhan pasti digenapi, atau kita mulai ragu bahwa Tuhan ingkar janji.

4. DI RUANG TUNGGU KITA MENDAPATKAN KEKUATAN BARU 

Yesaya 40:30, 31
Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,
tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru:
mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;
mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Ruang tunggu bukan sekedar tempat untuk menunggu waktu berlalu, tetapi ruang tunggu adalah tempat dimana kita menemukan kekuatan baru. Di tengah masa sukar seperti saat ini kita butuh kekuatan baru agar kita mampu untuk tetap melangkah maju. Kita butuh kekuatan baru agar dapat terus berjalan pada impian/sasaran yang kita tuju.

Setelah kurang lebih satu setengah tahun kita hidup di tengah-tengah pandemi, ternyata tidak sedikit orang-orang yang merasa lelah, mereka menyerah karena tidak kuat menghadapi berbagai masalah. Dari berbagai berita online kita melihat orang-orang yang mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah kepada keadaan yang terjadi.

Perjalanan kehidupan tidak selalu mudah untuk dijalani. Ada berbagai rintangan, hambatan bahkan kesulitan yang kita hadapi. Lelah itu lumrah sebab kita adalah manusia yang lemah, namun jangan pernah menyerah. Jika engkau lelah, masuklah ke ruang tunggunya Allah, di sana kita akan mendapatkan kekuatan yang baru.

Hari ini marilah kita belajar dari seekor burung rajawali. Minggu yang lalu Bapak Gembala sudah menyinggung tentang kristen rajawali. Salah satu gelar dari pengikut Kristus yang sejati adalah menjadi “Orang Kristen Rajawali.” Melengkapi apa yang telah disampaikan Bapak Gembala, hari ini saya mengajak jemaat Tuhan belajar bagaimana cara burung Rajawali memperbarui kekuatannya.

Rajawali dikenal sebagai penguasa langit. Tidak ada burung yang mampu menandingi kekuatan rajawali. Ketika burung-burung yang lain bersembunyi dan menghindari badai, rajawali justru menantang badai yang datang. Rajawali tidak takut dengan datangnya angin kencang, rajawali tidak takut dengan tantangan yang menghempaskan. Dengan mengepakkan kedua sayapnya rajawali terbang mengatasi badai yang datang.

Namun sehebat-hebatnya burung rajawali, pada akhirnya rajawali akan mengalami kelemahan juga. Saat usianya makin bertambah, kekuatanya makin melemah. Saat itulah rajawali harus memutuskan apakah ia hanya menanti untuk mati atau memilih memperbaharui diri.

Rajawali akan mengalami kelemahan saat memasuki usia 40 tahun. Pada usia yang ke 40 tahun ini cakarnya telah memanjang sehingga sulit untuk mencengkeram hewan buruan. Paruhnya juga telah memanjang dan rapuh sehingga tidak lagi kuat mematuk mangsa. Matanya menjadi kabur sehingga kehilangan ketajaman melihat buruan. Bulu-bulunya sudah menebal sehingga menyebabkannya sulit untuk bergerak dan mencari makanan, apalagi untuk mempertahankan hidup dari serangan lawan. Pada saat itulah rajawali akan menarik diri dari gegap-gempita jagad angkasa. Sang raja langit akan terbang mencari tempat yang tinggi, di sana ia menyendiri untuk memperbaharui diri selama 150 hari.

Pertama-tama rajawali akan melepaskan paruhnya yang telah menua dan rapuh dengan cara memukul-mukulkan ke atas bebatuan. Kemudian sejenak ia akan berdiam diri menanti paruhnya tumbuh kembali. Setelah paruh baru itu tumbuh maka ia gunakan paruh barunya untuk melepaskan cakar-cakar yang memanjang dan melengkung itu, kemudian satu-persatu mencabut bulu-bulu yang tebal itu. Setelah cakar dan bulunya tanggal, maka untuk beberapa saat rajawali akan berdiam diri menanti bulu dan cakarnya tumbuh kembali. Setelah 150 hari ada di ruang tunggu, kini rajawali memiliki kekuatan yang baru untuk terbang dan menjalani kehidupan paruh kedua selama 30 tahun lagi.

Pelajaran apakah yang dapat kita petik saat rajawali berada di ruang tunggu?
1). Di ruang tunggu Rajawali BERUBAH untuk mendapat kekuatan yang baru.
Rajawali sadar bahwa kekuatannya sudah mulai melemah, sementara itu keadaan di luar tidak dapat dia ubah. Rajawali tidak mampu menghentikan badai yang menerpanya, rajawali juga tidak berkuasa menghindari datangnya hewan pemangsa. Jika rajawali mencoba mempertahankan diri, maka pada akhirnya dia akan mati sia-sia. Satu-satunya cara agar rajawali tetap bertahan menghadapi tantangan kehidupan adalah masuk ke ruang tunggu untuk mendapatkan kekuatan yang baru. Rajawali sadar saat keadaan di luar tidak dapat dia ubah, maka dialah yang harus berubah.

Saat keadaan yang kita hadapi tidak dapat diubah, kekuatan kita mulai melemah, segeralah berubah, masuklah ke ruang tunggu Allah. Sadarilah, kita tidak dapat lari dari apa yang terjadi, kita juga tidak berkuasa mengubah situasi, yang dapat kita lakukan adalah mentransformasi diri untuk beradaptasi dengan situasi yang terjadi.

Hari-hari ini kita hidup di tengah-tengah pandemi. Kita tidak dapat mengubah situasi ini, yang dapat kita lakukan adalah beradaptasi. Sekali lagi, jika keadaan tidak dapat kita ubah, maka kitalah yang harus berubah. Jika kita tidak berubah, maka pada akhirnya kita akan kalah bahkan bisa punah.

Roma 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Kita tidak menuntut orang lain berubah jika hidup kita tidak lebih dahulu yang berubah. Percayalah jika kita berubah, maka orang lain akan berubah.

Contoh: Kisah pertemuan Yakub dab Esau
Kejadian 32 : 1-21 judul perikopnya : Yakub takut dengan Esau
Kejadian 32 : 22-32 Pergumulan Yakub dengan Allah
Kejadian 33 : 1-20 Yakub berbaik kembali dengan Esau

Ayat 1  Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang.
Ayat 3  Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.
Ayat 4  Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka.

Jika kita memperhatikan cara LAI menyusun kisah Yakub ini, maka kita melihat bahwa awalnya Yakub takut bertemu Esau, tetapi pada pasal 33 Yakub bertemu dan berbaik kembali dengan Esau. Bagaimana keadaan ini bisa berubah? Kej.32:22-32, di sungai Yabok, Yakub bergumul dengan Allah, lalu Allah memukul pangkal pahanya sehingga terpelecok. Sejak itu ia berubah, namanya bukan lagi Yakub sang penipu tetapi Israel. Ketika Yakub berubah, maka Esaupun berubah, dulu benci sekarang mencintai, dulu dendam sekarang penuh kasih sayang. Percayalah, saat hidup kita berubah keluarga kita berubah. Saat kita berubah musuhpun bisa berubah.

Amsal 16:7  Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia.

2). Kekuatan sejati lahir dari dalam hati bukan dari besarnya tubuh jasmani.
Amsal 24:10
Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.

Percayalah bahwa kuat atau tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh ukuran tubuhnya tetapi oleh ukuran hatinya. Kekuatan yang sejati itu sumbernya dari hati bukan dari besarnya tubuh jasmani. Karena faktanya orang-orang yang kuat bukan mereka yang memiliki tubuh yang besar atau badan yang kekar, tetapi mereka yang hatinya besar. Lihatlah pertempuran antara Daud dan Goliat. Dari para pahlawan Israel Daudlah yang terkecil diantara mereka, tetapi mengapa Daud menjadi pribadi yang paling berani? Daud memang tubuhnya kecil, tetapi ia memiliki hati yang besar. Dengan tegas ia berkata: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”

Dari mana Daud memiliki keberanian sebesar ini? Ketika semua pasukan Israel tawar hati, Daud tampil dengan percaya diri. Saat semua orang lari ketakutan, Daud justru maju dengan penuh keberanian? Rahasianya: sebelum Daud tampil di medan pertempuran, Daud diam di ruang tunggu Allah.

Padang gurun penggembalan adalah “Ruang Tunggu” bagi Daud. Di padang gurun Daud sendirian, hanya ditemani dua tiga ekor kambing domba yang digembalakannya, tetapi di sana dia bertemu dengan Tuhan di ruang tunggu. Inilah rahasianya mengapa Daud menjadi pribadi yang paling berani, sebab sebelum Daud berdiri menghadapi lawan, terlebih dahulu Daud duduk diam di bawah kaki Tuhan.

Ketahuilah orang-orang yang tahu duduk di bawah kaki Tuhan, selalu memiliki kemampuan untuk berdiri menghadapi semua lawan.

2 Taw 16:8, 9a
Bukankah tentara orang Etiopia dan Libia besar jumlahnya, kereta dan orang berkudanya sangat banyak? Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, karena engkau bersandar kepada-Nya. Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.

Kapan terakhir kali Sdr. masuk ke ruang tunggu Allah? Jika imanmu begitu lemah, mungkin itu karena engkau tidak bersandar kepada Allah. Masuklah ke ruang tunggu Allah, percayalah mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Tuhan memberkati. KJP!

RUSAK – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 2 – Minggu, 19 September 2021)

Manusia diciptakan dengan kesempurnaan, kalau diibaratkan benda maka kita adalah benda yang paling mulia. Sayangnya dosa membuat kita menjadi rusak! Sekarang kita mengenal kutipan “tiada manusia yang sempurna” karena memang seperti yang dituliskan dalam Roma 3:23 bahwa semua manusia sudah kehilangan kemuliaan Allah. Jadi tidak mungkin seseorang dalam dunia ini ada dalam keadaan sempurna.

Mari bayangkan skenario ini, kalau ada penjual menawarkan suatu barang yang mudah rusak untuk Anda, apalagi kalau barang itu harganya mahal, ada besar kemungkinan Anda tidak menginginkannya. Mengenai barang komersil, tahukah Anda bahwa ada satu opini yang menyatakan bahwa semua barang komersil dibuat tidak begitu tahan lama, supaya orang terus membeli barang baru? Salah satu contoh yang mendukung opini ini adalah adanya lampu yang tidak pernah padam di California.

Kembali mengenai sesuatu yang mudah rusak, kalau Anda tidak menginginkannya lalu mengapa ada saja orang yang membeli barang yang mudah rusak itu? Tentu saja ada alasan yang kuat mendorong orang itu untuk tetap membeli. Mungkin karena memang kebutuhan, atau karena tidak ada pilihan, atau bisa jadi karena orang itu adalah sultan.

Tetapi bolehkah saya tambahkan satu alasan yang memungkinkan seseorang untuk membeli suatu barang yang mudah rusak. Karena orang itu menyukainya. Benar sesederhana itu, seseorang yang memiliki segalanya, tetapi karena cintanya pada barang atau benda itu. Ia mau membayar mahal untuk membeli atau menebusnya.

Beberapa dari Anda tentu sudah tahu saya akan membicarakan apa dan siapa. Allah adalah pencipta segalanya, manusia adalah ciptaanNYA. Allah begitu mengasihi kita, tetapi kita kemudian menjadi ciptaan yang rusak oleh dosa. Oleh Paulus di surat Roma yang tadi sudah dibahas kita disebut “kehilangan kemuliaan Allah”. Sama seperti benda penerang yang kehilangan cahayanya, manusia kehilangan kondisinya yang serupa dengan Allah.

Allah kemudian berusaha untuk memperbaiki yang rusak tersebut namun di saat yang sama kita terjual dalam kuasa dosa. Hal ini yang kemudian membuat kita harus ditebus. Saya pernah menyampaikan tentang kisah Hosea dan Gomer, saya akan membuat versi singkatnya dengan tabel di bawah ini.

Kondisi   Titik Balik
Gomer hidup sebagai perempuan sundal yang statusnya rendah. Orang yang statusnya tinggi “nabi Allah” (Hosea) yang kemudian memperistrinya bahkan membelinya dari persundalan. Hosea 1:2, 3:1-2.
Manusia hidup dalam kondisi yang kehilangan status sebagai ciptaan yang paling mulia. Allah yang maha mulia mau menjadi manusia dan menebus manusia dengan darahNYA. Efesus 1:6-7.

Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan kemampuan kita berasal dari pekerjaan Tuhan dalam kita. Ada dua contoh di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang ingin saya sampaikan untuk menjadi bahan perenungan kita, di masa-masa kita merasa lemah dan tak berarti.

Dalam Perjanjian Lama Tuhan menaruh tanda di dalam hidup Yakub (kaki yang pincang) supaya ia diingatkan akan pertemuannya dengan Tuhan. Pertemuan itu yang mengubahkan dia dari Yakub (Ibrani: pengganti, penipu) menjadi Israel (Ibrani: pangeran Allah). Kejadian 32:22-32.

Dalam Perjanjian Baru, Tuhan mengizinkan Paulus untuk memiliki kelemahan dalam dirinya. Hal ini bukan untuk menghukumnya, tetapi untuk menjadi tanda bagi Paulus. Kelemahannya menjadi penanda bahwa apa yang bisa dilakukannya karena kekuatan Tuhan bukan kehebatannya. 2Korintus 12:8-10.

Bagaimana sekarang kita melihat diri kita, seseorang yang kuat karena usaha kita sendiri. Atau seseorang yang sadar penuh bahwa ia sebenarnya rusak, pincang dan lemah. Tetapi dikuduskan dan dikuatkan sesuai dengan kekuatan kuasaNYA, bukan kehebatan kita. Efesus 1:18-19.

Godbles

EVALUASI IMAN – oleh Pdm. Corneles W. Kandou (Ibadah Raya 3 – Minggu, 12 September 2021)

Ibrani 12:1-3

Evaluasi adalah salah satu cara didalam kita menilai sesuatu. Evaluasi memberikan kita gambaran yang sebenarnya mengenai apa yang sedang kita kerjakan, seberapa baik atau buruk hal itu. Baik  apabila memenuhi target ataupun sebaliknya.  Iman berarti kepercayaan atau keyakinan. Iman (kata benda), percaya (kata sifat) adalah istilah yang menggambarkan hubungan seseorang dengan Tuhan.

(Bahasan iman sangat luas, untuk keterangan lebih lanjut bisa lihat di Web Blog saya “What Is Faith” yang saya khotbahkan di Youth GPdI Greenville –  https://youtu.be/y8vv2HQwzXE) atau saudara bisa mampir ke Website gereja untuk melihat catatan-catatan tentang pengertian iman yang sudah dikhotbahkan oleh Hamba Tuhan yang lain).

Iman kita kepada Allah juga butuh untuk dievaluasi. Sebenarnya jikalau kita bergairah –bersemangat dengan Tuhan, kita tidak akan malas, sungkan ataupun malu apabila iman kita dievaluasi. Karena kita ingin tahu sejauh apa, sekualitas apa iman kita dibangun. Tuhan dapat memakai siapapun untuk mengevaluasi kerohanian kita, tetapi indikator-indikator penilaian itu hanya dapat kita temukan dari apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan  dan Roh Kudus adalah satu-satunya sarana terbaik untuk mengevaluasi-menilai iman – kerohanian kita. Firman Tuhan dan Roh Kudus adalah penilai terbaik dan terjujur mengenai kerohanian – iman kita. Mari kita baca, salah satu bagian Firman Tuhan yang dapat menolong kita untuk mengevaluasi seberapa sehat iman – kerohanian kita.Perikop ini adalah lanjutan dari perikop “Saksi-saksi Iman” di Ibrani 11, dimana terdapat penjelasan tentang IMAN dan prakteknya dalam kehidupan tokoh-tokoh Alkitab. Kita bisa temukan beberapa hal dalam ayat ini sebagai bahan evaluasi kita terhadap iman dan kerohanian kita. Apa yang Yesus jelaskan, kerjakan dan teladankan sesungguhnya adalah nilai-nilai yang penting sebagai acuan didalam kita mengevaluasi sejauh mana iman dan kerohanian kita selama ini. Apakah kita telah melakukannya dengan tepat dan presisi seperti yang Yesus kehendaki atau tunjukkan ? Ataupun sebaliknya.

1. Menanggalkan beban dan dosa
Ibr 12:1 ITB
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Menanggalkan beban dan dosa menjadi ketentuan penting bagi orang Kristen dalam mengerjakan imannya. Hal yang sama kita temukan melalui pengalaman hidup para saksi iman (Ibrani 11). Ketika mereka memulai perjalanan-perlombaan iman mereka, mereka menanggalkan segala beban dan dosa mereka.

Kita bisa teliti kisah beberapa dari mereka:

(1) Nuh – Kejadian 6:9-22, Ibr 11:7;
(2) Abraham – Kejadian 12-22, Ibr 11:8-10;
(3) Musa – Keluaran 2-4, Ibr 11:24-28

 ‘Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita’
Pengalaman iman para saksi iman ini (dalam salinan Inggris) ‘mengarahkan’ bagaimana kita harus mengerjakan iman kita. Dari pengalaman mereka kita belajar mengerjakan iman kita.

‘marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita,’
Menanggalkan artinya: Membuang, memisahkan, menyingkirkan, merelakan.

Beban artinya: Bisa bicara mengenai kenyamanan hidup, kebiasaan, hal-hal yang tidak penting – tidak berguna, tidak punya nilai kekekalan jika diukur dari kacamata firman.

Dosa artinya: segala bentuk sikap hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan Allah.

Beban dan dosa menghambat kita untuk mengerjakan iman – kerohanian kita. Orang –orang yang tidak menanggalkan bebas dan dosa adalah orang-orang yang tidak akan pernah maju-berhasil didalam mengerjakan iman mereka. Menanggalkan beban dan dosa adalah permulaan didalam perlombaan atau perjalanan iman kita.

Hari-hari ini, Iblis pintar memanfaatkan pandemi untuk menambah beban dan dosa kita kemudian merintangi-menghambat pertumbuhan rohani kita.

Iblis taruh Kepahitan – jarang berhubungan dengan Tuhan, dengan gampangnya muncul benih jahat hingga timbul kepahitan, selalu menjadi pahit dengan perlakuan orang lain.

Iblis taruh Pikiran Cabul – karna banyak dirumah, banyak dikamar, tidak dilihat orang lain dsb, sehingga membuat kita selalu tertuduh, dan lebih nyaman untuk tidak datang kepada Tuhan dalam ibadah-ibadah atau persekutuan pribadi dengan Tuhan.

Iblis taruh Kesombongan – karna tetap sehat, tidak kena covid19, sudah vaksin, punya harta, kedudukan, orang kuat dsb.

Iblis taruh Kemalasan – terlalu lama dirumah, work from home, school from home, ibadah online dsb, akhirnya malas untuk melakukan apapun termasuk malas cari tahu tentang Tuhan.

Orang yang tidak menanggalkan beban dan dosa mereka, akan menjadi orang-orang yang kalah didalam perlombaan iman, sekalipun puluhan tahun dalam gereja, mengaku Kristen tetapi kualitasnya tidak dapat diharapkan.

Evaluasi 1: Sudahkah hari ini kita benar-benar  menanggalkan beban dan dosa kita ?

2. Menekuni
Ibr 12:1 ITB
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

 ‘berlomba dengan tekun’
Ketekunan adalah bagian penting lainnya dalam mengerjakan iman kita (Ibrani 10:38). Ketekunan adalah salah satu kunci kemenangan dalam perlombaan iman kita.
Ketekunan tidak dibentuk dari kemudahan tetapi kemauan melalui kesulitan.
Ketekunan tidak lahir dari kemalasan tetapi kerajinan.
Ketekunan tidak terbentuk dari waktu yang singkat tetapi melalui proses yang lama.
Ketekunan menimbulkan tahan uji, kualitas yang teruji (Roma 5:4).

Kata ‘tekun’ dalam salinan asli diartikan ketabahan, sabar, ketahanan. Orang-orang yang tekun mengerjakan imannya mereka adalah mereka yang tidak membelok-membelot dari tujuan- kesetiaan iman mereka. Secara sederhana, ketekunan kita dapat dilihat dari disiplin kita terhadap hal-hal yang menunjang iman kita.

Misalnya:
Baca Alkitab: Masing-masing kita punya Alkitab, baik manual maupun digital. Tetapi seberapa sering kita membuka Alkitab, membaca, merenungkannya ?

Berdoa: Doa sering diumpamakan sebagai aktivitas yang sama persisnya dengan bernafas. Tapi berapa banyak orang Kristen yang tekun bernafas secara rohani ? Tak heran rohani kita mati, iman dan pengharapan kita mati. Kita sulit menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita.

Mendengar dan Melakukan Firman: Hari ini minim sekali orang yang tidak mendengarkan firman Tuhan. Dengan teknologi, memfasiltasi kita untuk dapat mengakses firman Tuhan dengan beragam cara, baik bentuk tertulis, rekaman suara, maupun video. Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar menekuni untuk melakukannya ?

“perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”
Bertekun dalam iman adalah suatu keharusan-kewajiban bagi kita. Selalu ada konsekuensi yang serius bagi mereka yang tidak tekun. Bicara iman-hidup rohani kita maka dampak dari ketidaktekunan kita adalah dampak yang kekal. Bertekun dalam iman selama waktu kita didunia, berdampak secara kekekalan.

Evaluasi 2: Sudahkah kita tekun mengerjakan iman kita ?

3. Melihat dan mengingat Yesus
MELIHAT YESUS
Ibr 12:2 ITB Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

 Firman Allah menghendaki setiap orang percaya  untuk mengalihkan pandangan mereka dari hal lain dan memusatkan perhatian, konsentrasi, dan fokus kepada Yesus.

MENGAPA KITA HARUS MENGERJAKAN IMAN KITA DENGAN MATA YANG TERTUJU-MELIHAT YESUS ?

  1. Yesus yang memimpin kita dalam iman: Yesus yang membuka jalan untuk apa yang kita yakini hari ini. Karya keselamatan memungkinkan kita untuk hidup didalam Dia
  2. Yesus yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan: Yesus yang sempurna dalam segala hal, maka hanya Dialah yang mampu menyempurnakan iman kita.
  3. Yesus yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia: Yesus memberi teladan ketekunan dalam mengerjakan kehendak Allah. Ketekunan sebagai syarat untuk mengerjakan iman kita.
  4. Yesus yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah: Sebagaimana Sorga menghormati Yesus, demikian Yesus pun menghormati mereka yang mengerjakan imannya.

Kegagalan didalam membangun-mengerjakan iman kita disebabkan oleh perhatian, fokus dan konsentrasi kita bukan kepada Yesus. Sekalipun kita mengaku percaya dan mengasihi Yesus tetapi sejujurnya kita sedang tidak serius melihat-memperhatikan Yesus.

Beberapa hal yang lagi ‘trend’, mengalihkan pandangan kita dari Yesus.
Covid19 dan kawan-kawannya: Terlalu memperhatikan Covid, selalu update varian terbaru covid19, dibuat terlalu takut dengan covid, hingga kita tidak bisa melihat janji Allah tentang kehidupan kita baik dimasa kini ataupun dimasa yang akan datang.

Cari Uang: Ekonomi kurang baik, ekstra bekerja, lembur sebab bertanggung jawab menafkahi keluarga, diperbudak oleh uang, selalu merasa kurang kemudian lupa bersyukur. Tidak mau memandang Yesus, berharap pada Yesus yang adalah sumber berkat, Allah yang mengerti dan menyediakan kebutuhan kita tepat pada waktunya.

Khawatir-kecewa-pahit-protes-menuduh-mempersalahkan: Kesusahan-kesusahan yang kita alami hari ini memicu rangkaian kekhawatiran terhadap masa depan, kecewa dengan apa yang dialami, menjadi pahit, kemudian protes sana sini termasuk protes Tuhan. Kita terlalu sibuk dengan apa yang kita rasakan hingga kemudian kita lupa melihat Yesus, Dialah Allah atas segalanya.

 Kecenderungan untuk melihat dengan salah akan selalu ada, dan lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi orang yang benar-benar fokus kepada Yesus, mereka selalu dimampukan menghadapi segala sesuatu. Mereka selalu punya cara pandang yang berbeda, selalu memiliki respon yang positif tidak peduli seberapa negatif keadaan yang sedang mereka alami, tak peduli seberapa sukar jalan yang mereka lalui, tak peduli seberapa sakitnya proses yang dialami.

 MENGINGAT YESUS
Ibr 12:3 ITB Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

‘Ingatlah selalu akan Dia’
‘Ingat’ – renungkan, pikirkan.
Kegagalan kita dalam perjalanan iman kita disebabkan oleh pola pikir dan minimnya perenungan kita kepada Yesus dan apa yang Ia katakan dalam firman-Nya.

Kita seringkali ditipu dengan pemahaman yang salah terhadap Yesus. Kita berpikir bahwa kehidupan Kristen selalu berisi tentang kesenangan kita dan bukan menderita seperti Yesus. Atau bahkan, Iblis pintar memanfaatkan pikiran kita bukan untuk mengingat semua tentang Yesus tetapi justru mengingat hal-hal tak berguna, berdosa. Dengan mengingat segala sesuatu tentang Yesus membuat diri kita tidak gampang menjadi lemah ataupun putus asa. Tak peduli seberapa rumit masalah yang dihadapi, tetapi orang yang mengingat Yesus, punya pikiran Kristus (Kolose 3:1) mereka tidak akan mudah menjadi lemah dan putus asa.

Evaluasi 3: Sudahkah mata dan pikiran kita tertuju kepada Yesus ?

KESIMPULAN:
Didalam membangun iman-hidup rohani kita, apakah cara-cara ini sudah kita lakukan sesuai petunjuk Firman Allah, sesuai teladan Yesus ?

Saya berdoa, setelah saudara memperhatikan – mendengar  khotbah dari Firman Tuhan ini, Roh Kudus memberi kita kesanggupan untuk merendahkan diri, memohon belas kasihan Tuhan untuk memulihkan keadaan kita, dan kembali berusaha melakukan apa yang dikehendaki-Nya bagi kehidupan kita.

www.corneleskandou.wordpress.com 

Kasih Allah Yang Mendisiplin – oleh Pdm. Patrick Byornjovi Lazarus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 12 September 2021)

Ibrani 12:5 -11

PENDAHULUAN
Satu hal yang sangat dibanggakan oleh orang percaya dari pribadi Allah adalah kasih.  Pertanyaannya adalah seperti apa kita memahami kasih Allah? Umumnya kita mengerti Allah mengasihi kita maka kita tidak dibiarkan-Nya berjalan sendirian, karena Allah mengasihi kita maka kita diberi kesehatan, karena Allah mengasihi kita maka Dia mendengar doa kita, menjaga kita, memberkati kita.

Sangatlah mudah memahami kasih Allah disaat-saat bahagia dalam hidup kita. Tetapi bagaimana jika kita ada dalam penderitaan? Sebab kita tahu kehidupan orang percaya tidak jarang dihiasi oleh persoalan, tantangan bahkan penderitaan. Dalam Alkitab orang-orang yang dikasihi Tuhan seperti Daniel,Ayub, Daud, Rasul-rasul tidak luput dari penderitaan!

Mungkin ada diantara saudara yang juga mempertanyakan dimana kasih Allah? Jika Tuhan mengasihi aku kenapa sekian lama rumah tanggaku belum dipulihkan, usaha aku macet, anak ku sakit, dalam usaha aku ditipu orang. Cara pikir seperti ini muncul karena kita melihat kasih Allah hanya dari satu sisi saja yaitu berkat, mujizat , jawaban doa dan lain sebagainya. Karena itu pagi ini kita perlu melihat sisi lain dari kasih Allah yaitu Kasih Allah yang “mendisiplin”.

Sedikit gambaran tentang situasi penerima surat Ibrani dimana sejak mereka menjadi orang percaya, mereka mengalami penganiayaan, dihukum dan harta mereka dirampas (10:32-34). Dampak dari situasi yang sulit ini mengguncang kehidupan jemaat sehingga banyak yang mulai meninggalkan ibadah (Ibrani 10:25).

Mengetahui kondisi jemaat maka penulis surat ibrani memberikan pengajaran bahwa Tuhan memiliki tujuan dalam penderitaan yang mereka alami.

Kata “didikan,menghajar, ganjaran” yang muncul berkali-kali (Ayat 5-11) dalam bahasa aslinya menggunakan kata “Paidea” yang mengandung arti membesarkan anak, melatih dan mendisiplin (Strong’s Concordance).  Kata ini menjadi sempit artinya jika diartikan seperti hukuman karena itu dalam beberapa terjemahan inggris untuk kata-kata tersebut digunakan kata disiplin (AMP,NIV, The Msg). Artinya penulis surat Ibrani memberikan sudut pandang bahwa penderitaan yang kita alami adalah bentuk didikan/disiplin dari TUHAN.

Mengapa Allah menunjukan kasih-Nya dengan cara mendisiplin kita?
1.
Kasih yang mendisiplin menunjukan cara Allah memperlakukan kita sebagai anak Allah (5-8)

Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ”Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12:5-6

Dalam keluarga mendisiplin anak adalah tanda kasih. Setiap orang tua yang mengasihi anaknya pasti pernah mendisiplin anaknya entah dalam bentuk hukuman, teguran yang sifatnya mencegah atau bertujuan memberikan pengajaran. Makna Paidea/disiplin disini mencakup seluruh pelatihan dan didikan yang berkaitan dengan pengembangan pikiran dan juga moral (karakter) seorang anak.

Sebagai anak Allah disiplin ilahi adalah sebuah keniscayaan. Jika kita menyebut diri kita anak Allah tetapi hanya menilai kasih Allah dari apa yang membahagiakan kita maka kita sedang gagal paham terhadap kasih Allah.

Ibrani 12:7-8
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.

 Jangan termakan oleh teologi kemakmuran sehingga berpikir bahwa status sebagai anak Allah artinya selalu melekat dengan berkat, hidup dilimpahi mukjizat, kesehatan, kelimpahan, kekayaan. Kita sangat menyukai perkataan Yesus: “marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan beri kelegaan”, tetapi kita melupakan perkataan Yesus bahwa orang yang ingin mengikut Dia harus siap pikul salib artinya siap didisiplin!

 Sama seperti seorang anak yang seringkali salah memahami maksud baik dari orang tuanya, demikian pula kita dengan Tuhan. Terkadang kita mengeluh pada saat Tuhan mengijinkan kita pada situasi yang tidak menyenangkan, apalagi pada saat Dia menghukum kita rasanya sulit bagi kita untuk memahami tujuan dibalik hukuman itu.

Seringkali kita keliru dalam memahami kasih Allah karena kita hanya mengindentifikasi kasih-Nya dari hal-hal yang menyenangkan . Jika saat ini Tuhan sedang meletakkan kita pada situasi yang serba terbatas dan tidak menyenangkan, atau bahkan itu sebuah hukuman bagi kita. Ingatlah semua itu terjadi karena kita adalah anak-Nya. Percayalah dibalik disiplin Ilahi yang tidak menyenangkan tujuan bagi kebaikan kita.

Wahyu 3:19 berkata: “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

Setiap bentuk disiplin ilahi yang diizinkan Allah bertujuan mendatangkan kebaikan bagi kita “…tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita,..” (ayat 10b).

2. Kasih yang mendisiplin adalah cara Allah untuk membawa kita hidup dalam kekudusan.
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Ibrani 12:10

Kekudusan di sini mengarah pada kekudusan secara progresif (terus-menerus) sampai kita mendapat bagian bersama Tuhan. Firman Tuhan dapat menuntun kita kepada kekudusan tetapi terkadang pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakan, bahkan penderitaan menjadi alat yang efektif bagi Tuhan untuk memproses kita menuju keserupaan dengan Allah atau Kristus. Lewat penderitaan iman dan kesetiaan menjadi teruji. Karakter kita dibentuk. Kesombongan akan apa yang kita miliki ditaklukkan. Motivasi kita yang salah dalam mengiring Tuhan dimurnikan. Tujuan hidup kita yang tadinya berpusat pada diri sendiri dibelokkan kepada tujuan yang baru yaitu hidup bagi kemuliaan-Nya.

Terkadang penderitaan menjadi jalan Allah untuk membawa kita alami pertobatan, menyadarkan kita akan kuasa-Nya, dan memproses iman kita agar kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.

Contoh :

  • Bencana telah mengembalikan Yunus pada rencana Tuhan. (Yunus 1-3)
  • Penderitaan dan kehilangan telah memurnikan iman dan pengenalan Ayub terhadap Tuhan (Ayub 23:10;42:5).
  • Kelemahan menyadarkan Paulus akan kesempurnaan kuasa Tuhan (2 Kor 12:9).

 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. – Ayub 42:5

 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.- 2 Korintus 12:9-10

3. Kasih yang mendisiplin adalah cara Allah melatih kita dan memberikan kita kedamaian.
“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12:11

Kedamaian diperoleh dari buah kebenaran artinya ini merupakan sebuah proses. Kedamaian tidak akan muncul di awal. Pandanglah penderitaan yang Tuhan ijinkan sebagai sebuah latihan yang mengokohkan iman, dan ketika kita mampu mempercayai Tuhan ditengah penderitaan kita akan alami kedamaian.

Tuhan tidak menjanjikan bahwa kedamaian dan sukacita akan muncul karena situasi yang diubahkan oleh Tuhan. Situasi bisa saja tetap sama, tetapi yang berbeda adalah orangnya. Tadinya cepat putus asa, sekarang berpengharapan, tadinya jauh dari Tuhan sekarang melekat kepada-Nya, tadinya dikuasai ketakutan tetapi sekarang berlimpah dengan kedamaian.

Saudaraku tetaplah hidup dalam kebenaran sebab kedamaian dari Allah diberikan kepada orang yang terus berjalan dalam kebenaran sekalipun berada dalam penderitaan.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”. Filipi 4:7

Kesimpulan
Sesungguhnya penderitaan tidak mengindikasikan kegagalan Allah mengasihi kita, sebaliknya penderitaan dapat menjadi bukti dari kasih-Nya. Sebab Allah mengasihi kita di dalam dan melalui penderitaan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Garam Dan Terang Dunia – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 12 September 2021)

Matius 5:13-14
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

Dari ayat pokok kita itu, ada kata yang diulang, yaitu kata dunia. Kata ‘dunia’ dalam ayat ini dipakai kata: GE (Bahasa Yunani), menunjuk kepada: tempat dimana kakimu berpijak. Tuhan ingin dimanapun kita berpijak, kita adalah garam dan terang di tempat itu. Itulah yang dimaksud dengan dunia. Menjadi garam dan terang itu bukan karena prestasi, tetapi merupakan indentitas. Ketika manusia pertama kali diciptakan, Tuhan sudah berikan identitas yang jelas yaitu menurut gambar dan rupa Allah sendiri, Kej. 1:26. Dosalah yang kemudian merusak dan mengacaukan identitas manusia.

Ada dua kalimat lain juga yang ditulis dalam ayat pokok kita itu, yaitu: Kamu adalah. Kalimat “Kamu adalah” artinya bahwa kita sudah memiliki identitas. Identitas itu adalah: (1) kamu garam dunia, (2) kamu adalah terang dunia. Tuhan menegaskan bahwa kamu adalah, bukan kamu seumpama atau kamu seperti garam dan terang dunia.

Penegasan yang sama juga Tuhan terapkan dalam roti dan anggur perjamuan, dalam 1 Korintus 11:24. Tentang roti perjamuan, Tuhan katakana inilah tubuh-Ku, tidak disebutkan inilah roti lambing tubuh-Ku, tetapi inilah tubuh-Ku, karena hal itu merupakan identitas dari pribadi Tuhan yang tubuh-Nya dipecahkan karena dosa kita melalui karya salib, demikian juga dengan anggur yang adalah darah Kristus. Itulah sebabnya Rasul Paulus memperingatkan agar jangan main-main ketika makan dan minum perjamuan kudus, tetapi dengan pengertian yang benar dan penuh hormat jangan makan seperti makan makanan biasa.

I. GARAM DUNIA
Kata “garam” ditulis Halas.  Ada lima (5) arti dari kata Halas.
1). Pengaruh.
Tuhan ingin dimanapun kita berada dapat membawa atau menjadi pengaruh yang baik. Sama seperti garam yang membawa pengaruh yang baik, memberi rasa yang menyedapkan, dan juga dapat memberi dampak menyembuhkan untuk beberapa jenis penyakit, serta mengawetkan makanan dengan menahan pembusukkan pada daging yang diasinkan.

2) Pengorbanan.
Tuhan mau dimanapun kita berada menjadi pribadi yang rela berkorban. Kebanyakan orang lebih suka mengorbankan orang lain untuk keuntungan diri sendiri. Rasul Paulus member gambaran pengorbanan dalam :

Filipi 2:3-4 “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan jangan tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga…”

Tidak mencari kepentingan dan pujian pribadi, menganggap orang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri, kemudian tidak memperhatikan kepentingan diri melainkan kepentingan orang lain adalah hal yang sangat sulit, selain dari pengorbanan. Hanya orang yang memiliki jiwa berkorbanlah yang mampu melakukannya. Inilah garam/Halas yang harus menjadi identitas kita.

3). Pembawa pesan damai.
Identitas anak Tuhan itu bukan Cuma memberitakan tentang damai, tetapi juga pribadi yang membawa damai. Identitas anak Tuhan adalah orang yang tidak biasa bertengkar, atau pemicu pertengkaran, tetapimemperdamaikan. Identitas Tuhan Yesus adalah Raja damai, dari lahir sampai pada naik-Nya ke surga selalu membawa dan member damai, identitas-Nya inilah yang juga menjadi identitas setiap pengikut-Nya yang harus terpancar dalam kehidupan setiap orang percaya. HALAS selain berarti pembawa pesan damai, juga berarti mempertahankan damai.

Roma 12:18 – Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Kalimat“ sedapat-dapatnya “ sering ditafsirkan salah, seolah yang penting sudah diusahakan sedapat-dapatnya, tetapi kalau tidak bias ya apa boleh buat, anda jual saya beli. Bukan seperti ini maksudnya. Kalimat“ Bergantung padamu “ dipakai kata DUNAMES artinya kekuatan besar. Jika dikalimatkan, “Ada kekuatan besar dalam dirimu untuk hidup dalam perdamaian. Jadi dalam kehidupan orang percaya Tuhan telah menaruh kuasa yang besar untuk dapat membawa damai, menjadi pendamai dan mempertahankan perdamaian di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kebencian dan pemusuhan.

4).Bijaksana.
Disebut bijaksana adalah karena mampu mengendalikan diri; tidak sembarangan bicara tetapi bertindak dengan pertimbangan yang matang, sesuai firman Tuhan.

5). Kasih karunia
Pribadi yang membawa kasih karunia Tuhan, memiliki hati yang berkemurahan, mampu mengampuni, memiliki kesabaran dalam kasihTuhan, sebagai sumber dari kasih karunia itu sendiri.

GARAM YANG MENJADI TAWAR
Bagaimana jika Halas atau garam itu dalam kehidupan orang percaya menjadi tawar ?

Matius 5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak adalagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kata “tawar “ dalam ayat ini  MORAINO.  Artinya terbukti berkelakuan bodoh. Jika kita tidak menjadi HALAS (Garam), dalam kelima hal yaitu menjadi pengaruh, memiliki pengorbanan, pembawa damai, bijaksana dan penuh kasih karunia, maka kita adalah garam yang tidak asin, alias tawar, terbukti berkelakuan bodoh.” Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kita menjadi tidak berguna dan dibuang Tuhan.

Kata MORAINO juga memiliki arti:
1. Tumpul.
Orang percaya yang kehilangan asinnya itu menjadi tumpul dalam karakter, pribadi Yesus dalam hidupnya sama sekali tidak tergambar apalagi dapat dirasakan.

2. Tidak berohani
Apa yang biasanya menjadi standar seseorang itu berohani? Rajin ibadah, suka melayani, rajin berdoa, suka menolong, pandai berkhotbah? Ini semuakah standarnya? Bagus, tetapi tidak benar. Standard kerohanian orang percaya adalah memiliki identitas sebagai garam dalam lima aplikasi di  atas.Tetapi orang percaya yang sudah hilang identitas garamnya, ia juga tidak berohani.

II. TERANG DUNIA
Matius 5:14 – Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

Sebagai pribadi terang, tempat kita di atas bukan di bawah, tetapi di atas gunung. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan kepada kita dalam, Kolose. 3:2 – Pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi. Identitas umat Tuhan disebut sebagai “Kota di atas gunung” artinya terang itu berfungsi di atas bukan di bawah. Terang itu jangan sampai ditaruh di bawah tempat tidur atau ditutup dengan gantang, Markus 4:21. Terang yang seperti ini tidak akan berfungsi.

Kata “ terang” dipakai kata PHOS, artinya :
1. Pikiran yang berkualitas. Apa yang dipikirkan orang itulah yang dilakukan, orang yang hidup dalam terang pasti melakukan segala sesuatu dalam terang Tuhan, bukan dalam kegelapan.

2.Manifestasi terang. Kelakuannya ada dalam terang, karena tidak mungkin satu sumber mata air mengeluarkan dua jenis air.

Filipi 4:8“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. ”

Kata “Pikirkanlah semua itu“, dipakai kata LOGISOMAI. Artinya: Jadikanlah semua itu sebagai inventaris otak kita / pikiran kita, yaitu delapan hal yang ada Filipi 4:8. Inilah pikiran yang berkualitas, yang dimanifestasikan dalam perbuatan sebagai identitas anak Tuhan.

Matius 5:14 – “… Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

Kata “tersembunyi” dalam ayat ini,  dipakai kata KRIPTO, artinya: sulit ditemukan atau sulit terlihat. Jika diterjemahkan ayat ini menjadi “Kota diatas gunung itu tidak sulit untuk terlihat dan ditemukan.” BagiTuhan semua yang baik, yang menjadi terang tidak akan disembunyikan tetapi malah di-LAUNCHING, artinya Tuhan akan tampilkan, dipromosikan, dibanggakan. Apakah ada orang yang di-Launching oleh Tuhan ?

Ayub 1:8 – “Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis : Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

Karakter Ayub yang di-Launching Tuhan adalah :

  1. Sedemikian saleh
  2. Jujur
  3. Takut akan Tuhan
  4. Menjauhi kejahatan

Mari jadilah garam dan terang dunia bagi Tuhan, sebab inilah harapan Tuhan untuk setiap orang yang sudah ditebus-Nya. Kamu adalah garam dan terang dunia.

KUAT DI DALAM TUHAN – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Sore HUT GPdI Mahanaim  – Minggu, 29 Agustus 2021)

PENDAHULUAN
Bersyukur kepada Tuhan sebab pada saat hari ini kita semua dapat merayakan ulang tahun GPdI Mahanaim Tegal yang ke 32. Tentu perayaan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena kita masih menghadapi pandemi. Meski tidak ada hiasan balon warna-warni atau kue ulang tahun yang menjulang tinggi, tetapi semua yang terjadi patut untuk syukuri karena jika kita bisa sampai pada hari ini, kita harus mengakui bahwa semuanya ini adalah kasih karunia Allah yang maha tinggi.

Tema firman Allah pada perayaan ulang tahun gereja saat ini adalah “KUAT DI DALAM TUHAN.” Mari kita buka Efesus 6:10 – Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

Setelah rasul Paulus mengajarkan pokok-pokok iman kristen, kesatuan hidup orang percaya dan cara hidup orang percaya maka ia menutup suratnya dengan sebuah kesimpulan yaitu : Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, didalam kekuatan kuasa-Nya. Orang-orang percaya di Efesus dinasehati agar menjadi anak-anak Tuhan yang kuat didalam Tuhan.

Kata kuat dalam bahasa Yunani ditulis dengan kata ἐνδυναμόω – endunamoō artinya meningkatkan kekuatan, menjadi kuat atau membuat kuat. Dari sini kita mendapat pengertian bahwa menjadi kuat itu adalah sebuah proses yang dibangun dari hari ke hari. Menjadi kuat itu tidak terjadi seketika atau tiba-tiba, melainkan dilatih, dibiasakan dari waktu ke waktu. Jadi menjadi kuat itu adalah tindakan kesengajaan bukan sebuah kebetulan.

Ketahuilah bahwa “Kekuatan itu tidak dilahirkan, kekuatan itu diciptakan.” Tidak ada kekuatan yang datang dengan sendirinya, semuanya itu harus dilatih, dibentuk dan diciptakan. Seorang bayi yang diberi makan dan minum setiap akan tidak otomatis menjadi kuat jika tidak dilatih agar otot-ototnya menjadi bertumbuh menjadi kuat. Sebagaimana fisik kita menjadi kuat karena dilatih dari hari ke hari, demikian juga dengan jiwa kita dan roh kita agar menjadi kuat harus dilatih setiap saat. Percayalah bahwa “kualitas dihasilkan dari rutinitas.” Jika kita ingin menjadi raksasa-raksasa rohani, menjadi orang-orang yang kuat secara rohani, maka kita harus melatih roh kita secara terus-menerus. Endunamoō : meningkatkan kekuatan, menjadi kuat atau membuat kuat.

Setelah 32 th kita lalui, apakah kita telah endunamoō? Meningkatkan kekuatan, menjadi kuat atau membuat kuat. Saya berharap setelah 32 th, kita terus bertumbuh menjadi anak-anak Tuhan yang kuat dalam iman dan tangguh dalam kehidupan.

Menjadi kuat dalam Tuhan menjadi pesan penting yang disampaikan rasul Paulus kepada anak-anak Tuhan di Efesus, tentu saja ini juga penting bagi kita, mengapa?

1. Kita harus menjadi kuat karena setan menyerang dengan tipu muslihat
Efesus 6:11
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

Tipu muslihat  atau dusta adalah senjata perang yang digunakan iblis untuk menjatuhkan manusia. Dengan dusta iblis menipu manusia agar jatuh dalam dosa. Di taman Eden dengan kelicikannya iblis telah berhasil memperdaya Hawa sehingga jatuh didalam dosa.  Cara yang sama iblis tetap gunakan untuk menjatuhkan ank-anak Tuhan di akhir zaman, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. (Yoh.8:44) Iblis itu adalah serigala yang berbulu domba. Kelihatan luarnya baik, manis tetapi mematikan.

2. Kita harus menjadi kuat karena kita berada di medan pertempuran yang hebat
Efesus 6:12
karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Musuh yang kita hadapi bukan main-main. Musuh kita bukan manusia, bukan pula saudara, tetangga atau sesama. Musuh kita adalah penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini dan roh-roh jahat di udara.

Wahyu 12:12
Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.”

Sadarilah kita sedang berada di medan pertempuran yang hebat sebab Iblis telah turun dengan geramnya yang dahsyat karena ia tahu bahwa waktunya sudah singkat. Iblis sedang mengerahkan sepenuh kekuatan dan seluruh pasukan untuk melawan anak-anak Tuhan sebab ia tahu tidak lama lagi ia masuk dalam hukuman. Sebab itu marilah kita saling bergandeng tangan, rapatkan barisan, eratkan kesatuan untuk menghancurkan kekuatan lawan.

3. Kita harus menjadi kuat karena menghadapi tantangan hidup yang makin berat
Efesus 6:13
Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

Bagiamana caranya kita dapat menjadi kuat?
Selain mendorong agar anak-anak Tuhan bertumbuh menjadi kuat, rasul Paulus juga memberikan cara untuk bertumbuh menjadi kuat. Mari kita kembali perhatikan Efesus 6:10 ; Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

Rahasia kekuatan yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat Efesus adalah hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan. Ini kunci kekuatan orang percaya, kita menjadi kuat jika kita berada didalam Tuhan. Jika kita ada didalam Tuhan, maka kekuatan Tuhan menjadi kekuatan kita dan kuasa Tuhan mengalir melalui hidup kita. Apakah artinya di dalam Tuhan? Di dalam Tuhan artinya kita “Melekat kepada Tuhan”

 Yohanes 15:5
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Kekuatan kita tergantung kepada siapa kita melekatkan hati dan percaya kita. Jika hati kita melekat kepada Tuhan maka kita akan memiliki kekuatan untuk menghadapi segala tantangan kehidupan. Rasul Paulus adalah salah satu sosok yang hidupnya dipenuhi dengan kesulitan, penderitaan dan penganiayaan. Dalam 2 Korintus 11 : 23-27  dia katakan:

Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.

Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian.

Meskipun dalam keadaan yang penuh penderitaan, aniaya dan kesulitan yang begitu banyak, namun dengan penuh keyakinan rasul Paulus berkata dalam Fil 4:13  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ia sadar selama ia berada dalam Tuhan maka tidak ada penderitaan yang tidak dapat ditanggungnya, semua dilalui bersama Tuhan.

PENUTUP
Kita semua sadar bahwa saat-saat ini kita sedang berada di masa sukar, tetaplah melekat kepada Tuhan yang besar yang dapat memberikan jalan keluar. Jangan menjauh dariNya, peluk pribadiNya, pegang tanganNya, percayalah di tengah-tengah hidup ini memang berat, kita punya Tuhan yang hebat yang membuat kita kuat menanggung beban hidup yang berat. Sekali lagi, orang-orang yang mendekat kepada Allah akan tetap kuat dan mereka yang selalu melekat kepada Tuhan akan mendapat kemenangan. Tuhan memberkati. KJP!

KUAT DALAM TUHAN – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Pagi HUT GPdI Mahanaim – Minggu, 29 Agustus 2021)

Efesus 6:10

Kalau sampai saat ini kita masih hidup dan bertahan, kita percaya ini karena Tuhan. Allah yang ada dari permulaan zaman, akan menyertai kita sampai akhir yaitu saat IA datang untuk menjemput kita, Wahyu 1:4. Perhatian Allah kepada kita ditunjukkan lewat kasih dan anugerahNYA.

Lagu terjemahan berikut akan menjadi bahasan saya saat ini, mewakili ucapan syukur kita pada hari ini kepada Tuhan.

Burungpun Kau perhatikan
dan tanganMu menjagaku
dari ujung dunia sampai relung hatiku
Biar rahmat dan kuatMu nyata

Kau memilihku Tuhan
S’mua malaikat tahu
‘tuk kemuliaanMu menjadi saksiMu
p’nuh kasih dan anugrahMu

Dan kuberlari padaMu, pada FirmanMu
bukan kuat, bukan gagah
tapi oleh Roh Kudus

Ya, ku ‘kan berlomba
sampai kupandang wajahMu
Biarku hidup dalam kasihMu yang mulia

Dalam hidup ini ada selalu ada bagi kita kesempatan untuk mengucap syukur bahkan dalam saat sulit sekalipun. Kita tentu saja ingat perkataan Ayub yang begitu menginspirasi dalam Ayub 1:21  “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Kita mengucap syukur karena kebaikan Tuhan yang memelihara hidup kita. Allah melengkapi kita dengan kemampuan untuk tetap hidup bagi DIA. Yesus pernah memberikan perbandingan yang menunjukkan betapa pemeliharaan Allah atas semua ciptaan meskipun ia kurang berharga, Matius 10:29.

Sehingga bagaimana mungkin Allah menjaga yang kurang berharga tetapi abai kepada yang lebih berharga? Ayat 31. Ketika kita menilai diri kita tidak berharga, sebenarnya kita menganggap rendah perkataan Yesus. Mari kita baca dan renungkan ayat terkenal di Yesaya 43:1-4.

Dalam hal ini kita percaya bahwa Allah pencipta langit dan bumi berkuasa untuk menjaga hal yang begitu jauh dari pemikiran kita (Mazmur 19:1-7). Tetapi IA juga mampu menjaga keberadaan kita (Mazmur 121:1-8), dan IA mengenal hati kita (1Raja-raja 8:39).

Kata rahmat itu sejajar dengan dengan kata “belas kasihan”, “kasih karunia”, “kasih setia”, dan “anugerah”. Inilah yang membedakan kekristenan dengan kepercayaan lain di dunia. Istilahnya bisa jadi sama, tetapi konsep rahmat dalam kekristenan begitu unik karena itu nyata (Titus 3:4-5) dan Tuhan yang mengambil inisiatif (1Yohanes 4:10).

Anugerah Allah juga nyata dalam pilihanNYA atas kita, 1Tesalonika 1:4. Bahkan malaikat Allah tahu bahwa belas kasihan Tuhan ada atas manusia yang percaya bukan atas malaikat, Ibrani 2:16. Pilihan Allah itu bukan untuk sesuatu yang sia-sia. IA memilih Paulus untuk menjadi alat Tuhan, Kisah Para Rasul 15:7. IA juga memilih kita untuk “rajin berbuat baik”, Titus 2:14.

Jadi supaya kita sebagai “manusia ilahi” diperlengkapi dengan perbuatan baik, maka seharusnya pengejaran kita adalah firman Allah, 1Timotius 3:16-17. Kita berlari sedemikian rupa dalam hidup ini untuk mendapatkan Sang Firman yang menjadi manusia, yang oleh Paulus diistilahkan “panggilan surgawi dalam Kristus Yesus”, Filipi 3:14.

Kuat dan gagah manusia tidak bisa membawa kita menyelesaikan pertandingan hidup ini, Zakharia 4:16. Ibadah-ibadah kita, termasuk di dalamnya pengejaran akan firman Allah, dilakukan oleh karena Roh Allah, bukan sekadar ritual lahiriah, Filipi 3:3.

Karena itu tetaplah bertanding, tetaplah berlari, apa yang kita capai sampai saat ini belum selesai sampai nanti kita sampai ke Surga (Filipi 3:10-14) dan berhadapan muka dengan muka dengan Sang Kasih sejati, Tuhan Yesus Kristus,1Korintus 13:12.

“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”

GodblesS

Bersandarlah Kepada Tuhan – oleh Pdm. Melky Mokodongan (Ibadah Raya Pagi- Minggu, 22 Agustus 2021)

1 Samuel 30:6
Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.

Pendahuluan
Setiap manusia pasti akan mengalami apa yang namanya masa-masa yang sukar/sulit untuk dilewati. Keadaan seperti ini memang dapat mengancam hidup kita sewaktu-waktu.   Bahkan seorang seperti Daudpun tidak lepas dari keadaan yang sukar.

Dari ayat pokok di atas, kita dapat melihat pengalaman pahit yang dialami oleh Daud. Saat Daud dan orang-orangnya sampai ke kota Ziklag; Ziklag telah dikalahkan dan dibakar habis oleh orang-orang Amalek. Bukan hanya kota yang dibakar, tetapi isteri serta anak mereka, yang laki-laki dan perempuan telah ditawan sehingga menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi untuk menangis. Dalam kondisi yang demikian, orang-orang bukannya saling menguatkan atau menyemangati agar kuat menghadapi kesulitan itu, tetapi sebaliknya mereka justru menyalahkan Daud dan hendak melemparinya dengan batu sehingga Daud merasa tak berdaya.

Kadang kita tidak dapat menghindari persoalan atau kesulitan yang datang menimpa hidup kita. Siapa yang mau atau bersukacita dengan pandemi saat ini?  Tentu kita tidak pernah mengharapakan, justru kita berharap semua segera keluar dari pandemik/kesulitan ini. Tetapi fakta/realitanya kita masih dikurung dengan virus Corona. Kita memang tidak bisa menolak kesulitan, tetapi yang menjadi persoalaanya adalah bagaimana sikap dan respon kita dalam menghadapi dan keluar dari masa yang sukar tersebut?.

Tentu kunci/cara untuk kita keluar bahkan menang dari setiap masa sukar bukanlah terletak dari kemampuan, hikmat kita, dan kepintaran bahkan kesanggupan kita sebagai manusia, tetapi terletak kepada siapa kita menggantungkan hidup kita.

Ditengah-tengah keadaan yang sulit dan ancaman dari orang-orang yang menyertainya, Daud mengambil keputusan untuk perpaut, berharap hanya kepada Tuhan. Dikatakan Daud menguatkan kepercayaanya kepada Tuhan. Artinya apa? Daud kembali bersandar kepada Tuhan.

Pertanyaannya sekarang, mengapa Tuhan mengijinkan persoalaan/masa sukar harus terjadi?
1. Agar kita ingat dan kembali kepada Tuhan (bertobat).
Persoalan terbesar manusia adalah ketika dia sukses, jaya, punya segalanya, tanpa disadari dia mulai lupa siapa yang membuat dia sukses. Dia mulai tidak ingat bahwa kepada siapa dia berdoa, siapa yang menolongnya, itulah masalah yang kerap terjadi.

Contoh: Lukas 15:16 ~ Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

Ayat ini berbicara tentang anak yang terhilang, dia mengambil keputusan yang salah dan meninggalkan bapanya sehingga pada akhirnya mengalami apa yang namanya masa yang sukar, merasa lapar tapi tidak ada yang dapat dimakan, bahkan makanan ampas saja untuk makanan babi tidak diberikan, tidak ada yang peduli. Namun pada akhirnya karena penderitaan ini, dia menyadari dan ingat kepada bapanya.

Lukas 15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapa yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Lukas 15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

Perhatikan apa yang dikatakannya, “aku disini mati kelaparan”, ini menunjukkan situasi/keadaan yang sulit, sukar bahkan terjepit, keadaan inilah yang membuat dia ingat dan kembali kepada bapanya.

Masa-masa sukar diijinkan Tuhan terjadi agar seseorang ingat dan kembali.  Tidak ada satu perkara yang Tuhan ijinkan terjadi tanpa kebaikan-Nya. Ingatlah bahwa, kejadian-kejadian buruk, masa-masa sukar kita alami, itu dapat menjadi alat Tuhan untuk membawa kita kembali kepada Dia. Masa sukar membuat kita mengingat setiap kebaikan Tuhan, kasih setia Tuhan bahkan anugrah Tuhan atas hidup kita.

Mazmur 77:12  Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban- keajaiban-Mu dari zaman purbakala.

Kalau hari-hari ini, kita ada dalam masa-masa yang sukar, bukan menjadi alasan kita melupakan Tuhan apalagi meninggalkan Tuhan, tetapi ini adalah sebuah proses, agar kita terus bersandar kepada Tuhan, dan mengingat terus perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan atas hidup kita. Sebab itu, bersandarlah penuh kepada Tuhan, jangan pernah mengambil keputusan yang keliru, apalagi keputusan untuk menjauh dari Tuhan.

2. Agar kuasa dan pertolongan-Nya dinyatakan.
Pertolongan Tuhan atas Daud saat ia menghadapi masalah bukan semata-mata untuk meluputkan dia begitu saja, tetapi dibalik hal itu, “Allah ingin memperlihatkan atau menunjukkan kepadanya betapa hebat dan besarnya kuasa-Nya.”

Contoh bangsa Israel.
Ketika mereka dibawa keluar dari Mesir, maka mereka tidak dibiarkan pergi begitu saja, mereka dikejar-kejar oleh tantara Mesir sehingga mereka sangat ketakutan, terjepit dan merasa terancam sehingga berkata kepada Musa, apakah tidak ada kuburan di Mesir sehingga engkau membawa kami keluar dari sana? Keluaran 14:12.

Namun perhatikan ayat 13,14 Musa tegaskan, “jangan takut, lihatlah keselamatan dari Tuhan, lihatlah Kuasa dari Tuhan akan dinyatakan yaitu Dia Allah yang akan berperang dan kamu akan diam saja..”

Luar biasa Allah kita, Dia buktikan kemahakuasaan-Nya kepada kita. Bagi manusia mustahil, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Keadaan yang seperti ini, kadang-kadang membuat kita bertanya-tanya, mengapa? Tetapi sesunggunya dibalik semua yang dialami, TUHAN mau nyatakan kuasa-Nya.

Pemazmur yaitu mazmur Asaf berkata;
Mazmur 77:14 Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?
Mazmur 77:15 Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban ; Engkau telah menyatakan kuasa-Mau di antara bangsa bangsa.

Allah menyatakan kuasa-Nya bagi kita agar kita sadar bahwa tidak ada Allah yang lain seperti Dia. Dia Allah yang hebat, Dia Allah berkuasa, bahkan Dia yang dapat meluputkan kita dari setiap masa yang sukar.

Hari-hari ini, apa yang membuat kita meragukan kuasa-Nya? Pertolongan-Nya? Apa yang membuat kita tidak mempercayai-Nya? Adakah pertolongan dan Kuasa-Nya tidak sanggup meluputkan kita? Apakah Covid lebih membuat kita meragukan kuasa-Nya? Sehingga untuk beribadah kita tidak lakukan lagi? Bersyukur kalau kita masih setia beribadah walaupun lewat online. Tetapi persoalaanya apakah kita lakukan dengan sungguh-sungguh? Jelas Alkitab berkata bahwa, Allah manakah yang besar seperti Allah kita? Allah manakah yang hebat seperti Allah kita?

Efesus 1:19, dan betapa hebat kuasa-Nya  bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,

3. Agar iman kita semakin kuat dan berdaya tahan.
Bukankah menjadi kuat dan berdaya tahan didalam Tuhan merupakan kehendak-Nya bagi kita?

“Kualitas kekristenan akan diketahui dari seberapa kuat dan daya tahan seseorang menghadapi masa sukar.”

Contoh adalah Ayub.
Ayub 2:9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah.

Kalau saya terjemahkan begini;
Masih kuatkah engkau Ayub?, Masihkah engkau sanggup bertahan? Kalau tidak,.. sana kedukun, kalau ga bisa lagi ambil jalan pintas tinggalkan Tuhan dan gantung diri….di (pohon semangka). Lalu apa jawab Ayub?

Ayub 2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk:  Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Secara manusia, Ayub bisa saja menjawab iya ya, buat apa bertahan, buat hidup saleh sedangkan menderita. Ayub sekalipun beratnya pergumulan/ masa sukar yang dia alami, tidak membuat dia meninggalkan Tuhan, apalagi mengutuki Allah, tetapi dia semakin kuat dan berdaya tahan, sehingga di pasal 23 ayat 10 dia katakan:

Ayub 23:10 Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku,  aku akan timbul seperti emas
Demikian juga kepada kita, sebagai jemaat Tuhan, kalau Ayub mampu, Ayub sanggup, kitapun bisa menjadi orang-orang yang kuat.

Efesus 6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

Menjadi kuat dan semakin kuat didalam Tuhan merupakan kehendak-Nya bagi setiap kita. Nasehat Yakobus Yakobus 1:12:
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan,  sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

4. Agar kita menjadi saksi melalui pengalaman masa sukar.
Biasanya kekecewaan akan terlihat ketika kita berada dalam keadaan-keadaan yang sulit/menyakitkan.Namun sebenarnya kalau kita dapat memahami, tujuan dari apa yang kita alami maka hal ini tidak akan membuat kita kecewa.

Contoh seperti Yusuf.
Yusuf dimulai dari mimpi, dibenci saudara-saudaranya, mau dibunuh, dijual, difitnah, bahkan dimasukan kedalam penjara, dilupakan, namun pada akhirnya pengalaman sukar membuat dia menjadi sebuah kesaksian bukan hanya oleh petinggi Mesir, tetapi juga oleh saudara-saudaranya yang  menghianatinya.

– Dia menjadi saksi melalui kesabarannya
– Dia menjadi saksi lewat kejujuran/ sekalipun difitnah

Bukan berarti kita harus masuk penjara dulu baru kita menjadi saksi, tetapi tanamkan hal ini. Dalam kondisi apapun kita, baik itu perkara-perkara sukar yang kita hadapi, jangan pernah kita menyangkal Tuhan, tetapi biarlah kita menjadi saksi dalam hal kita terus bersandar kepada Tuhan.

Kesimpulan
Kepada saudara dan saya, kondisi apapun, bahkan sesukar apapun hari-hari ini kita jalani, tetaplah bersandar kepada Tuhan, dengan kita mempercayai dan kembali kepada Tuhan, mengalami kuasa dan pertolongan-Nya, menjadi kuat dan terus bertahan didalam Tuhan sehingga kita menjadi saksi dimanapun kita berada. Amin.

PAHLAWAN YANG GAGAH PERKASA – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya Sore- Minggu, 22 Agustus 2021)

Hakim-hakim 11:1-11 (Baca Ay. 1-3)

YEFTA
Nama Yefta pertama kali muncul dalam kitab Hakim-hakim pasal 11 yang dikenal dengan Yefta bin Gilead. Ia menjadi hakim sebelum kerajaan Israel berdiri yang dipimpin oleh Saul. Yefta bertugas sebagai hakim di Israel selama 6 tahun, Hakim-hakim 12:7. Seperti namanya, Yefta bin Gilead berasal dari Gilead. Gilead sendiri adalah sebuah wilayah Israel yang terletak di daerah pegunungan yang dalam pembagian wilayah suku-suku Israel ditempati oleh suku Gat, suku Manasye dan suku Ruben. Yefta berasal dari suku Manasye.

Mari kita lihat tokoh ini dalam Hakim-hakim 11:1-3
Ay. 1 Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead. 

Ay. 2 Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: “Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain.” 

Ay 3 Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang  yang pergi merampok bersama-sama dengan dia.

Seorang pahlawan yang gagah perkasa tetapi latar belakang Yefta yang merupakan anak perempuan sundal, yang pastinya dicap sebagai sampah masyarakat yang tentunya ini menekan seseorang jika disebut anak perempuan sundal. Karena hal tersebut saudara, anak ayahnya tidak mau menerimanya sehingga saudaranya, mengusir Yefta serta berkata “Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami.” Yefta pasti merasa sangat sakit hati ketika diusir oleh keluarga besarnya secara khusus oleh anak-anak lain di keluarga ayahnya. Yefta lari dan menetap di tanah Top dan di sana ia berkumpul bersama petualang-petualang  yang merampok. Yefta masuk dalam pergaulan yang buruk.

Saudara, kita lihat dari sini Yefta yang lahir dari keluarga yang berantakan, mengalami penolakan dan akhirnya terjerumus dalam pergaulan yang salah. Apakah tidak bisa dipulihkan? Apakah masa depannya hancur? Dan tidak bisakah berubah menjadi seorang pria baik dan berguna? Mungkin secara manusia mustahil Yefta bisa berubah, tidak mungkin Yefta diangkat menjadi orang yang terhormat.

Tetapi Alkitab menceritakan Yefta yang memiliki latar belakang yang buruk namun bisa dipulihkan menjadi orang yang baik, yang dipakai Tuhan secara hebat, bahkan Alkitab jelaskan bahwa Yefta menjadi seorang pahlawan yang gagah perkasa.

Pahlawan : Seorang yang memberi diri untuk berkorban dan berjuang.
Gagah perkasa : Berani, kuat, memiliki kesanggupan.

Ditengah kondisi yang sulit dan sukar sekalipun jadilah pahlawan yang gagah perkasa bagi diri saudara sendiri saat menghadapi segala tantangan dan pergumulan. Saudara pejuang yang kuat, sanggup dan mampu hadapi tantanagan. Jadilah pahlawan yang gagah perkasa bagi keluarga, bagi saudara-saudara yang lain, bagi pekerjaan Tuhan.

Hari ini kita akan belajar bagaimana seorang yang punya latar belakang rusak, buruk, mungkin orang yang gagal dan mengalami banyak penolakan tetapi menjadi pahlawan yang gagah perkasa?

1. Belajar melihat rencana Tuhan dalam setiap peristiwa.
Ketika kita menghadapi situasi yang sukar, hal ini bicara tentang :

  • Kelahiran, tidak bisa memilih dikeluarga mana kita dilahirkan, kita tidak bisa memilih orang tua kita, begitu juga orang tua tidak bisa memilih anak seperti apa yang akan dilahirkan. Ini kondisi yang sukar yang mungkin saudara alami.
  • Masa lalu kita, semua orang punya masa lalu, ada masa lalu yang sampai hari ini masih mengintimidasi, menghantui, mendatangkan trauma.
  • Pekerjaan,dimana kita bekerja, kita hadapi tekanan disana dan disini.
  • Dan mungkin masih banyak peristiwa yang kita bilang kondisi yang mungkin sukar.

Saudaraku, meskipun kondisi tidak enak sekalipun, kita yang sudah ada didalam Tuhan lihatlah bahwa dibalik semuanya itu ada kehendak serta maksud rencana Tuhan yang Dia mau nyatakan dalam setiap peristiwa terjadi dalam hidup kita. Kita harus berjuang dan tidak menyerah. Kita akan melihat campur tangan dan anugrah Tuhan menyertai hidup kita.

Yefta dalam kondisi sama sekali tidak ideal untuk dia menjadi seorang pahlawan tetapi ini yang dilakukan Yefta adalah dia tidak mau diam dalam kondisi yang pahit, dia tidak mau terus berada ditempat yang gelap karena Yefta percaya ada rencana Tuhan.

 Mari kita baca Hakim 11:5 Dan ketika bani Amon itu berperang melawan orang Israel, pergilah para tua-tua Gilead menjemput Yefta dari tanah Tob.
11:6 Kata mereka kepada Yefta: “Mari, jadilah panglima kami dan biarlah kita berperang melawan bani Amon.”

Melalui peristiwa bani Amon menyerang Israel dan tentunya ada alasan, mengapa tua-tua Gilead mencari Yefta? Apa mungkin keberanian Yefta terdengar di tanah Gilead tentang dia di tanah Tob? Mungkin itu alasan-alasan yang dianggap tepat sehingga tua-tua itu datang. Tetapi alasan yang lebih tepat adalah Tuhan bekerja dan berdaulat dalam setiap peristiwa yang kita alami sehingga tua-tua itu mencari Yefta.

 Mungkin disetiap peristiwa kita mencoba lari kecewa dan meninggalkan Tuhan dan kita salah langkah sehingga kita terlalu jauh dari Tuhan atau kita merasa bahwa hidup ini tidak adil dan mempersalahkan keadaan,menuduh Tuhan berbuat jahat. Tetapi malam ini kita diingatkan kembali apapun peritiwa yang terjadi hari–hari ini, mari kita melihat sebenarnya ada rencana Tuhan yang indah yang sebenarnya Tuhan sedang kerjakan bagi saya dan saudara. Itu sebabnya kembalilah didalam rencana-Nya. Mari bangkit dari keterpurukan, pandang ke depan dan lihatlah ada  rencana Tuhan dalam setiap peristiwa.

Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan  apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

2. Pergunakan setiap kesempatan
Setiap kilometer kehidupan kita selalu ada kesempatan dan tawaran dari Tuhan.

Kesempatan untuk Melayani
Selalu ada kesempatan untuk kita dipanggil menjadi mitra kerja Tuhan. Dia mau pakai hidup kita dimanapun kita dan apapun jenis pekerjaan kita.
Miliki kerendahan hati untuk meresponi setiap kesempatan melayani. Kita diciptakan unik dengan talenta dan potensi yang berlainan, karena ada maksud Tuhan yang spesifik bagi kita masing-masing. Jangan anggap remeh semua potensi dan kemampuan yang kita miliki karena itu sangat berarti dihadapan Tuhan.

Markus 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Kata kekuatan disini adalah kesanggupan yang dapat kita lakukan untuk kita mengasihi Tuhan, artinya setiap kita yang mengasihi Tuhan dengan kita melayani sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing.

Yefta awalnya menolak ketika para tua-tua Gilead datang meminta dia memimpin peperangan melawan bani Amon tetapi akhirnya Yefta menerima tawaran itu dengan perjanjian Yefta menjadi kepala atas mereka. Akhirnya Yefta mengambil kesempatan itu untuk dia melayani Tuhan menjadi hakim bagi Israel.

Jika saudara masih sehat, masih hidup bernafas bahkan Tuhan tahu kemampuan yang saudara  miliki karena Tuhan percayakan itu dalam hidup saudara, jangan tunda atau tunggu lagi tetapi responi setiap kesempatan untuk kita melayani Tuhan karena ada saatnya kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Pengkhotbah 9:10 segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati,  ke mana engkau akan pergi.

Kesempatan untuk berubah
Matius 3:8 Tunjukkanlah dengan perbuatanmu bahwa kamu sudah bertobat dari dosa-dosamu.

Ini tidak kalah pentingnya dari kita mengunakan kesempatan untuk melayani yaitu kita hidup baru, meninggalkan manusia lama kita untuk melayani Tuhan sehingga Tuhan akan berkenan mengurapi kita, dan pelayanan kita menjadi berkat.

Bukti perubahan Yefta:
– Ketika bani Amon ingin berperang melawan Israel, yang dilakukan Yefta adalah mampu menahan diri, berkomunikasi dengan baik dengan memakai pendekatan persuasif.

Mengapa ia memakai pendekatan ini dan tidak langsung saja menyerang Bani Amon? Kita belajar bahwa Yefta sudah berubah, ia tidak memakai pendekatan perampok. Jadi Yefta bukanlah pemimpin yang sembarangan dikendalikan oleh emosinya, Yefta tidak menginginkan pertumbuhan darah.

11:12 Kemudian Yefta mengirim utusan kepada raja bani Amon dengan pesan: “Apakah urusanmu dengan aku, sehingga engkau mendatangi aku untuk memerangi negeriku?”
11:14 Lalu Yefta mengirim pula utusan kepada raja bani Amon

– Ketika bani Amon menuduh Israel merampas tanah mereka di ayat 13,  Jawab raja bani Amon kepada utusan Yefta: “Orang Israel, ketika berjalan keluar dari Mesir, telah merampas tanahku, dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok dan sampai ke sungai Yordan. Maka sekarang, kembalikanlah semuanya itu dengan jalan damai.”

Yefta menjawab dengan fakta yang tertulis dalam kitab Musa bahwa Israel tidak pernah merebut tanah milik bani Amon artinya jawaban Yefta selain dia mengerti sejarah. Ketika dituduh oleh bani Amon maka jawaban membuktikan bahwa Yefta mengalami perubahan hidup.

– Rendah hati – sisi manusia banyak kali merasa sombong dan tinggi hati ketika dipakai luar biasa atau ketika dia mempunyai kemampuan. Berbeda dengan Yefta, ketika orang meminta bantuan kepadanya dengan mengangkatnya sebagai hakim justu ini yang keluar dari mulut Yefta di ayat 27 Jadi aku tidak bersalah terhadap engkau, tetapi engkau berbuat jahat terhadap aku dengan berperang melawan aku. TUHAN, Hakimitu, Dialah yang menjadi hakim pada hari ini antara orang Israel dan bani Amon.”

Mengakui bukan dia hakim itu tetapi Tuhanlah hakim yang sesungguhnya menjadi pembela dan penolong Israel.

Yefta dipimpin  maka Roh Allah ayat 29 Lalu Roh TUHAN menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa  di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon.

 Galatia 5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Galatia 5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh,baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,
Galatia 5:26 dan janganlah kita gila hormat,janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

Memberi
Hakim-hakim 11:30 Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku.”

Yefta bernazar dihadapan Tuhan, sekalipun nazar itu sangatlah berat yaitu menyerahkan putri satu-satunya dipersembahakan kepada Tuhandan Yefta berani menepati janjinya untuk memberi yang terbaik dari miliknya bagi Tuhan dan itu menyenangkan hati Tuhan.

Jika saudara rindu dipakai Tuhan dengan luar biasa, gunakalah kesempatan untuk kita mengalami perubahan hidup dalam hidup kita. Ada banyak kali Tuhan terkadang mengingatkan kita melalui firmanNya untuk kita meninggalkan dosa, kesukaan dan hobi kita untuk lakukan dosa. Sering kali Tuhan menegur kita mungkin lewat orang lain, melalui kejadian yang terjadi, sadarlah mungkin itu adalah kesempatan untuk kita merubah hidup kita.

3. Segala perkara dibawa kepada Tuhan
Ayat 11b Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya  itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa.

Dari seorang anak perempuan sundal, diusir oleh saudara-saudara dan keluarganya, bahkan pernah ada dimasa kelam bersama perampok-perampok, apalagi pernah dikecewakan, untuk percaya kepada janji tua-tua Gileada itu tidak mungkin tetapi ini yang dilakukan oleh Yefta membawa segala perkaranya kepada Tuhan.

Segala perkara disini kemungkinan Yefta mengucapkan hal perjanjian yang telah dilakukan dihadapan tua-tua Gilead, dan kata membawa (dabar) Yefta berkata dan bercakap-cakap kepada Tuhan dengan sangat tegas Yefta menyampaikan, menyatakan segala perkara yang dialaminya saat itu, dan memproklamasikan apa yang akan dia lakukan dan yang harus diikuti oleh bangsa Israel.

Melalui pernyataan Yefta tersebut, dia menyampaikan segala kejadian yang dialami serta menyampaikan komitmennya di hadapan Tuhan dan bangsa Israel untuk menolong mereka menghadapi bani Amon. Ketika Yefta membawa dan menyampaikan semua perkaranya kepada Tuhan maka Yefta menciptakan pemulihan hubungannya dengan Tuhan.

 Arti Mizpa dalam perjanjian lama sangat banyak sekali
1). Bagi Yakub : Mizpa itu berarti Tuhan berjaga-jaga.
Kejadian 31:49  dan juga Mizpa,sebab katanya: “TUHAN kiranya berjaga-jaga antara aku dan engkau, apabila kita berjauhan.

2). Bagi Samuel : Mizpa itu tempat berkumpunya orang Isarel dan Samuel berdoa pemulihan dan kemenangan Israel atas Filistine dan mereka mempersembahakan korban bagi Tuhan.

1 Samuel 7:5-6 Lalu berkatalah Samuel: “Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN.”  Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya  di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN.” Dan Samuel menghakimi  orang Israel di Mizpa. 

3). Bagi Yefta : Mizpa adalah persekutuan dimana Yefta menjadikan Tuhan tempat mengadu, berseru membawa seluruh perkaranya dihadapan Tuhan karena Yefta percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang menjadi penjaga Israel, menara perlindungan, Allah yang memulihkan dan kekuatan.

Kesimpulan
Seorang pahlawan gagah perkasa adalah pribadi yang mampu melihat rencana Tuhan dalam segala peristiwa, seorang yang selalu menggunakan setiap kesempatan baik, kesempatan untuk melayani bahkan untuk berubah dan mau menjadikan Tuhan tempat satu-satunya pribadi yang diandalakan. Tidak ada yang mustahil untuk kita terus berharap kepada Tuhan.