Bersyukur adalah Tanda Percaya – oleh Pdm. Melky R. Mokodongan (Ibadah Raya 3 – Minggu, 20 Juli 2025)

Ibrani 12:28 (TB)
“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya dengan hormat dan takut.”

Pendahuluan

Pendahuluan
Hari-hari ini penuh dengan ketidakpastian: ekonomi tidak stabil, keamanan terganggu, kekerasan dan konflik terjadi di berbagai tempat, bahkan anak-anak Tuhan di banyak wilayah menghadapi tekanan dan penganiayaan. Situasi ini menjadi ujian bagi iman kita. Dalam keadaan sulit, apakah kita masih dapat bersyukur? Bersyukur bukan hanya soal suasana hati, tetapi merupakan indikasi kedewasaan rohani dan kepercayaan sejati kepada Tuhan.

Saat ini kita belajar bahwa bersyukur adalah bukti iman, bukan sekadar reaksi terhadap keadaan baik.

1. Bersyukur karena Kerajaan yang tidak tergoncangkan
Ibrani 12:28
Kita bersyukur karena telah menerima Kerajaan Allah yang kekal, yang tidak akan pernah tergoncangkan oleh situasi dunia.

a. Bersyukur memperkuat identitas rohani kita sebagai warga Kerajaan Allah
Kita hidup bukan hanya sebagai warga negara dunia ini, tetapi warga Kerajaan Surga. Kesadaran ini membawa ketenangan dan keyakinan di tengah dunia yang berguncang.
b. Bersyukur menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja atas hidup kita
Dengan bersyukur, kita mengakui bahwa hidup kita ada di bawah pemerintahan-Nya, bukan kendali situasi. Kita tidak bergantung pada kekuatan sendiri, tapi percaya pada kedaulatan Tuhan.

Ayat Peneguh
Yesaya 26:4
“Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.”

2. Bersyukur membuktikan kita hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan
2 Korintus 5:7
“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”
Sebagai orang percaya, kita tidak berjalan berdasarkan apa yang kita lihat, tetapi berdasarkan apa yang kita imani.
Pelajaran
a. Bersyukur melatih kita untuk mempercayai Tuhan lebih dari logika manusia
Ketika logika berkata “tidak mungkin”, iman berkata “Tuhan sanggup”.
Syukur melatih kita untuk percaya kepada Tuhan, bahkan ketika keadaan atau logika manusia tidak bisa menjelaskan alasan untuk bersyukur.

Dalam hidup, ada banyak situasi yang secara logika manusia tampak buruk, menyakitkan, atau tidak adil misalnya:

  • Ketika doa belum dijawab,
  • Saat mengalami kegagalan, sakit, kehilangan,
  • Atau saat masa depan tampak tidak pasti.
    Secara alami/logis, orang akan mengeluh atau kecewa.

Namun, ketika kita tetap bersyukur dalam keadaan seperti itu, kita sedang:

  • Melatih iman bahwa Tuhan tetap baik meskipun situasi tidak baik.
  • Membiarkan iman, bukan logika, yang memimpin hati dan respons kita.

Contoh (Ayub 1:21)
“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Kata Bijak:
“Syukur bukan karena semuanya masuk akal, tapi karena kita tahu, Tuhan selalu memegang kendali.”

b. Bersyukur menumbuhkan pengharapan yang teguh
Saat kita bersyukur sebelum doa dijawab, kita sedang menabur benih harapan yang akan dituai pada waktu Tuhan.

3. Bersyukur menjadikan kita menang atas keluhan dan ketakutan
Filipi 4:6-7
“Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur…”

Ketakutan dan keluhan bisa melemahkan iman, tetapi syukur adalah senjata rohani untuk mengalahkannya.

Pelajaran:
a. Bersyukur mengalihkan fokus dari ketakutan kepada iman

Mengingat karya Tuhan yang dahulu akan membangkitkan iman kita untuk saat ini.

Mazmur 56:4: “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.”

Kata Bijak:
“Rasa takut bertumbuh ketika kita melupakan Tuhan. Rasa syukur mengingatkan siapa yang memegang kendali.”

b. Bersyukur menjaga hati dari keluhan yang meracuni
Keluhan memperbesar masalah. Syukur memperbesar kesadaran akan kehadiran Tuhan.
Dengan bersyukur, kita melindungi hati dari pahit dan kecewa.

Kata Bijak:
“Keluhan membuat kita terjebak di masa lalu; syukur membawa kita melangkah maju dengan harapan.”

Kesimpulan:
Bersyukur adalah lebih dari sekadar kebiasaan, ini adalah ekspresi iman yang sejati.

Dunia boleh berguncang, tetapi Kerajaan Allah tidak. Ketika kita hidup dalam kesadaran itu, maka ucapan syukur akan mengalir bukan karena keadaan, tapi karena janji kekal Allah yang tidak berubah.

1 Tesalonika 5:18
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Arsip Catatan Khotbah