Filipi 1:3-9 (TB)
Gereja sempurna
Di dunia ini tidak ada gereja yang sempurna. Jika kita membaca Alkitab, bahkan gereja-gereja dalam Perjanjian Baru pun memiliki kelemahan. Ada jemaat yang berselisih, ada yang jatuh dalam dosa, ada yang kurang dewasa secara rohani. Itu berarti sejak dahulu sampai sekarang, gereja selalu terdiri dari manusia yang tidak sempurna.
Ilustrasi
Ada sebuah cerita tentang seorang pria yang sedang mencari gereja yang sempurna. Ia mengunjungi banyak gereja. Setiap kali datang, ia selalu menemukan kekurangan. Di satu gereja ia melihat ada jemaat yang suka berselisih. Di gereja lain ia melihat pemimpinnya tidak sempurna. Di tempat lain lagi ia merasa pelayanan kurang baik. Akhirnya ia berkata, “Saya belum menemukan gereja yang sempurna.”
Seorang hamba Tuhan kemudian berkata kepadanya, “Kalau suatu hari Anda menemukan gereja yang sempurna, jangan masuk ke dalamnya… karena ketika Anda masuk, gereja itu tidak akan sempurna lagi.”
Karena itu, jika kita mencari gereja yang sempurna di dunia ini, kita tidak akan pernah menemukannya. Cerita ini mengingatkan kita bahwa gereja terdiri dari manusia biasa yang penuh kelemahan. Karena itu gereja yang sempurna tidak ada di dunia ini.
Tuhan tidak pernah meminta kita untuk mencari gereja yang sempurna tapi menjadi gereja sempurna. Sebab gereja yang sempurna tidak pernah ada di dunia ini. Gereja terdiri dari manusia yang memiliki kelemahan dan keterbatasan. Namun yang Tuhan kehendaki adalah agar kita belajar mengasihi gereja tempat Tuhan menempatkan kita. Bukan hanya menjadi pengunjung, tetapi menjadi bagian dari gereja itu, mengasihinya, melayaninya, dan membangunnya bersama-sama. Sebab gereja bukanlah tempat orang-orang yang sudah sempurna berkumpul. Gereja adalah tempat orang-orang yang sedang dibentuk, diproses, dan disempurnakan oleh Tuhan.
Karena itu yang terpenting bukanlah menemukan gereja yang sempurna, tetapi memiliki hati yang mengasihi gereja Tuhan, khususnya gereja lokal tempat Tuhan menanamkan kita. Dari sanalah kita bertumbuh bersama, saling membangun, dan bersama-sama melayani Tuhan.
Kita dapat belajar dari teladan rasul Paulus ketika ia menulis kepada jemaat di Filipi. Dari surat itu kita melihat bahwa Paulus memiliki kasih yang sangat dalam kepada gereja tersebut. Ini bukan sekadar kasih secara umum, tetapi kasih yang khusus, nyata, dan tulus.
Hal ini terlihat dengan jelas dari kata-kata Paulus sendiri.
- Ayat 3: “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.”
- Ayat 4: setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.
- Ayat 7: “Sebab kamu ada dalam hatiku /Aku menyimpan kamu di dalam hatiku.”
- Ayat 8: “Aku merindukan kamu semua dengan kasih sayang Kristus Yesus.”
Bahasa yang digunakan Paulus menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengasihi jemaat ini. Lalu apa hubungannya dengan kita sekarang? Memang benar bahwa Paulus mengasihi gereja lokal di abad pertama. Tetapi yang penting untuk kita pahami adalah bahwa teladan Paulus menunjukkan bahwa mengasihi gereja lokal adalah sesuatu yang mungkin dan seharusnya dilakukan oleh setiap orang percaya. Jika Paulus mampu mengasihi sebuah gereja lokal dengan begitu dalam, maka kita pun dapat belajar untuk mengasihi gereja tempat Tuhan menempatkan kita.
Ada alasan mengapa kita harus mengasihi gereja kita.
1. Karena Yesus Memerintahkannya
Yohanes 13:34 Yesus berkata: “Perintah baru Kuberikan kepadamu: Kasihilah satu sama lain; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.”
Perintah ini tidak hanya berlaku secara umum, tetapi juga dalam kehidupan gereja. Artinya, kita dipanggil untuk saling mengasihi di dalam komunitas tempat Tuhan menempatkan kita.
2. Karena Yesus Memberi Kita Kekuatan untuk Mengasihi
1 Yohanes 4:7-9, 19 “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah. Dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”
Ay.19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”
Sejujurnya, kita tidak akan pernah bisa mengasihi siapa pun dengan tulus sampai kita memahami kasih Allah kepada kita. Dan itulah karya Roh Kudus di dalam hati kita. Apakah Anda tahu bahwa Anda dikasihi oleh Allah? Dan bahwa kasih-Nya adalah kasih yang tak pernah berhenti, tak pernah menyerah, tak pernah putus, selalu dan selamanya. Kasih Allah kepada kita di dalam Kristus adalah kekuatan kasih kita kepada sesama.
Artinya, kita tidak mengasihi dengan kekuatan kita sendiri. Kita mampu mengasihi karena kasih Allah terlebih dahulu bekerja di dalam hati kita.
Ketika kita benar-benar memahami bahwa kita dikasihi oleh Allah di dalam Kristus, kasih yang tidak pernah berhenti, tidak pernah menyerah, dan tidak pernah berakhir, maka kasih itu akan mendorong kita untuk mengasihi sesama, termasuk mengasihi dan melayani gereja kita.
Cara kita mengasihi gereja lokal ini.
1. Pelayanan pribadi : mengucap syukur dan berdoa
Ay. 3-4 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.
Paulus mengucap syukur kepada Allah atas jemaat ini dan ia berdoa untuk jemaat dengan sukacita.
Ini cukup mudah dipahami, kita perhatikan dua hal:
– Paulus berdoa untuk gereja ini.
– Paulus mengucap syukur kepada Tuhan atas gereja ini.
Ini berarti bahwa Paulus tidak hanya secara acak mengingat gereja ini dan kemudian mengucap syukur untuk mereka. Bukan berarti gereja Filipi tiba-tiba muncul di benaknya dan itu membuatnya bersyukur, tetapi Paulus menghubungkan ingatan itu dengan doa. Dia mengingat gereja itu dan dia berdoa untuk gereja itu.
Alasan tidak bersyukur dan tidak berdoa atas gereja ini yaitu:
- Terlalu Fokus pada Kekurangan Gereja
Banyak jemaat lebih fokus kepada kekurangan gereja dari pada melihat apa yang sudah Tuhan kerjakan didalam gereja-Nya
Melihat kelemahan pemimpin, membandingkan dengan gereja lain, mengkritik program atau pelayanan. Akibatnya: hati dipenuhi keluhan, bukan ucapan syukur. - Luka atau Kekecewaan di Dalam Gereja
Ada jemaat yang berhenti bersyukur karena pernah: disakiti, tidak dihargai, mengalami konflik pelayanan. Luka hati membuat orang: sulit mengucap syukur dan malas mendoakan. Namun Paulus pun sering disakiti orang percaya, tetapi ia tetap berdoa dengan sukacita. - Terlalu Sibuk dengan Kepentingan Pribadi
Doa sering hanya berisi: kebutuhan pribadi, keluarga, pekerjaan tapi gereja tidak masuk dalam daftar doa. Paulus menunjukkan teladan dimana saat Paulus ada didalam penjara tapi ia tetap mendoakan dan beryukur atas jemaat Filipi. Paulus menunjukkan doa bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk komunitas iman. - Tidak Menyadari Gereja adalah Pekerjaan Tuhan
Sebagian orang melihat gereja hanya sebagai organisasi manusia. Padahal gereja adalah:Tubuh Kristus, tempat Allah bekerja, keluarga rohani yang Tuhan bentuk. Jika gereja hanya dilihat secara manusiawi, maka syukur berubah menjadi kritik.
Jemaat di Filipi ini bukan gereja yang sempurna. Di dalam beberapa masalah jemaat filipi ini juga ada:
Filipi 1:29-30, Gereja ini penuh dengan pergumulan dan penderitaan.
Filipi 2:1-3, Bahkan ada anggota jemaat yang tidak hidup rukun mereka memiliki beberapa masalah persatuan Gereja sehingga Rasul Paulus meminta mereka sehati, sejiwa setujuan.
Filipi 4: 2, Ada diantara para pelayan ada yang selisih yaitu Euodia dan Sintikhe tetapi Paulus mengasihi gereja ini, dan dia berdoa untuk gereja ini, dan setiap kali dia berdoa, dia mengucap syukur kepada Tuhan untuk mereka.
Aplikasi
Lalu apa pelajaran bagi kita?
Kita dipanggil untuk melakukan Firman Tuhan seperti apa yang Paulus lakukan. Berhenti bersungut dan marah atas gereja dan orang-orang yang ada di gereja ini dan belajarlah untuk mengasihi gereja ini dengan kita bersyukur serta menjadi pendoa bagi gereja ini.
Dengan Saudara bersyukur atas gereja lokal ini akan mendorong saudara untuk bersama memikirkan dan melakukan hal apa saja yang bisa saudara bisa lakukan untuk membangun gereja ini. Saudara juga dapat berdoa dan lakukan ini di dalam doa saudara saat mengikuti doa di GPdI Mahanaim Tegal, atau saudara dapat lakukan ini di rumah saudara secara pribadi.
Ketika rasul Paulus berkata “ketika aku ingat gereja ini aku bersyukur dan di dalam doaku aku berdoa buat kamu semua dan berdoa dengan sukacita.”
Cara kita mengasihi gereja lokal ini.
1. Pelayanan Pastoral : belajar mengenal lebih dalam
Pelayanan Pastoral adalah pelayanan menggembalakan dan memperhatikan jemaat secara pribadi.
Artinya:
– Mengenal kehidupan jemaat
– Memahami pergumulan mereka
– Mengetahui kebutuhan rohani maupun kehidupan sehari-hari
– Mendampingi, menguatkan, dan menolong mereka bertumbuh dalam Tuhan
Pelayanan pastoral tidak hanya dilakukan oleh pendeta. Pendeta memang memiliki tanggung jawab utama sebagai gembala, tetapi Alkitab menunjukkan bahwa pelayanan pastoral adalah panggilan seluruh tubuh Kristus, sesuai fungsi masing-masing.
– Saling menasihati (Kolose 3:16)
– Saling menanggung beban (Galatia 6:2)
– Saling menguatkan (1 Tesalonika 5:11)
– Saling memperhatikan dalam kasih (Ibrani 10:24–25)
Ini semua adalah tindakan pastoral.
Tidak semua orang adalah pendeta, tetapi semua orang bisa memiliki hati pastoral.
Contohnya:
* Penatua → membimbing dan menjaga jemaat
* Pemimpin KeMah → mendampingi anggota
* Pelayan doa → menguatkan yang lemah
* Jemaat → saling memperhatikan dan menghibur
Pendeta menggembalakan gereja, tetapi jemaat ikut menggembalakan satu sama lain dalam kasih Kristus. Dasarnya terlihat dalam teladan rasul Paulus yang bukan hanya berdoa untuk jemaat, tetapi juga mengenal keadaan mereka secara nyata (Filipi 1:7).
Paulus cukup mengenal jemaat ini sehingga ia yakin akan pekerjaan Allah di dalam mereka. Paulus tidak hanya mengenal jemaat Filipi secara nama atau kehadiran, tetapi ia mengenal kehidupan rohani mereka. Karena itu ia bisa berkata dengan keyakinan penuh bahwa Allah sedang bekerja di dalam mereka
- Mengenal dan Membawa Keyakinan Rohani (ayat 6)
Filipi 1:6-7 (TB) Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
“Aku yakin sepenuhnya…” Keyakinan Paulus bukan sekadar perasaan positif, tetapi lahir dari pengamatan rohani yang mendalam. Ia melihat: pertumbuhan iman mereka, kesetiaan mereka dalam pelayanan, partisipasi mereka dalam Injil. Artinya Paulus melihat jejak pekerjaan Allah dalam hidup jemaat.
Penting sekali kita melihat di dalam gereja lokal yaitu mereka ada orang-orang yang dapat kita kenal, semakin kita mengenal seseorang secara rohani, semakin kita mampu melihat karya Tuhan dalam hidupnya. Jangan cepat menilai seseorang di dalam gereja, apapun keadaan, kegagalan, kesalahan yang pernah mereka sudah lakukan percayalah ada karya Allah yang sedang dikerjakan di dalam hidup mereka. Kenali perjalanan iman mereka.
Allah yang memulai, menerusakan dan Allah yang menyelesaikan.
“Ia yang memulai pekerjaan yang baik…” Paulus menegaskan tiga tahap pekerjaan Allah:
a. Allah Memulai
“Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu…”
Paulus menegaskan bahwa inisiatif keselamatan berasal dari Allah. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Tuhan karena kekuatan atau usaha sendiri. Pertobatan, iman, dan kehidupan baru semuanya dimulai oleh kasih karunia Tuhan.
Sebelum seseorang mengenal Tuhan, sebenarnya Allah sudah lebih dahulu bekerja di dalam hatinya. Roh Kudus menyadarkan manusia akan dosa, membuka hati untuk menerima Injil, dan memberi iman untuk percaya kepada Kristus. Ini berarti keselamatan bukan hasil usaha manusia, bukan karena kebaikan, moralitas, atau usaha religius seseorang. Semua adalah anugerah Allah.
Efesus 2:8 mengatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”
Karena itu setiap orang percaya harus menyadari bahwa hidup barunya adalah karya Allah sejak awal. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati dan rasa syukur kepada Tuhan.
b. Allah Meneruskan
Paulus juga menegaskan bahwa Allah tidak hanya memulai, tetapi juga terus bekerja dalam kehidupan orang percaya. Kehidupan rohani bukanlah sesuatu yang langsung sempurna setelah seseorang percaya, melainkan sebuah proses pertumbuhan.
Tuhan terus membentuk karakter, memperbarui pikiran, dan memimpin kehidupan orang percaya melalui firman-Nya, Roh Kudus, dan berbagai pengalaman hidup.
Dalam proses ini sering kali orang percaya masih memiliki kelemahan, kegagalan, bahkan pergumulan. Namun hal itu tidak berarti Tuhan berhenti bekerja. Justru melalui proses itulah Tuhan membentuk kehidupan rohani kita. Karena itu gereja bukanlah kumpulan orang yang sudah sempurna, tetapi komunitas orang-orang yang sedang diproses oleh Tuhan. Di dalam gereja ada orang yang sedang belajar mengampuni, belajar setia, belajar hidup kudus, dan belajar mengasihi.Setiap orang percaya berada dalam proses pertumbuhan rohani yang terus berlangsung.
Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
c. Allah Menyempurnakan
Ada tujuan akhir yaitu Hari Kristus Yesus (kedatangan Tuhan).
Pesan penting: Gereja bukan kumpulan orang sempurna, tetapi orang yang sedang dikerjakan Tuhan menuju kesempurnaan.
1 Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Apakah saudara mengasihi gereja lokal? Apakah saudara mengasihi jiwa-jiwa, apakah saudara mengasihi anggota tubuh kristus? Belajar mengenal lebih dalam berarti melihat setiap orang percaya bukan sebagaimana mereka sekarang, tetapi sebagaimana Allah sedang membentuk mereka menuju kesempurnaan di dalam Kristus.
Bagaimana kasih Paulus begitu kuat dan dalam bagi jemaat lokal dan mendorong mereka untuk saling melayani, melengkapi dan mengasihi?
Jika kita melihat diayat 7 ada Kasih yang dalam Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.
“Kamu ada di dalam hatiku…” Ini bukan bahasa formal pelayanan, ini bahasa kasih pastoral. Paulus: tidak melayani dari jarak, tidak melihat jemaat sebagai tugas, tetapi sebagai keluarga rohani.Pelayanan sejati selalu melibatkan hati, bukan hanya tanggung jawab.
Pandanglah gereja lokal sebagai keluarga rohani yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dikasihi. Karena itu, ambillah bagian di dalam gereja lokal untuk melayani keluarga rohani kita, yaitu jiwa-jiwa yang Tuhan tempatkan di tengah jemaat. Layanilah mereka sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Dalam melayani, jangan lagi memandang jemaat dari kegagalan, kejatuhan, kekurangan, atau dosa masa lalu mereka. Sebaliknya, pandanglah mereka dari sudut pandang Allah, yaitu karya Allah di dalam Kristus Yesus yang terus bekerja dalam hidup mereka.
Kita harus percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam setiap anggota tubuh Kristus, di dalam setiap jemaat. Ketika kita memiliki pandangan seperti ini, maka pelayanan kita tidak dipenuhi oleh penghakiman, tetapi oleh kasih. Dari situlah akan lahir pelayanan yang penuh dengan kasih yang tulus dan pengenalan yang semakin dalam, sehingga setiap pribadi yang kita layani dapat bertumbuh bersama menuju kedewasaan rohani di dalam Kristus.
Ada tujuan akhir pelayanan Pastoral dimana jemaat, kita orang percaya yaitu suci dan tak bercacat menjelang hari Tuhan, penuh dengan buah kebenaran.
Ay.8 Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.
Ay.9 Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,
Ay.10 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,
Ay.11 penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.
- Pelayanan Misi : Menjadi Mitra Allah
Filipi 1:5
“Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.”
Paulus mengucap syukur kepada Tuhan karena jemaat di Filipi bukan hanya sekadar jemaat yang berkumpul untuk beribadah. Mereka adalah jemaat yang terlibat aktif dalam pelayanan Injil. Mereka tidak hanya mendengar Firman, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam pekerjaan Allah.
Arti Kata “Persekutuan”
Kata “persekutuan” dalam ayat ini berasal dari bahasa Yunani koinonia (κοινωνία). Kata ini memiliki arti yang sangat dalam, yaitu:
- Berpartisipasi bersama
- Ikut mengambil bagian
- Bekerja sama dalam satu tujuan
Jadi yang dimaksud Paulus bukan sekadar kebersamaan dalam ibadah atau pertemuan gereja. Koinonia berarti keterlibatan aktif dalam pekerjaan Tuhan, khususnya dalam pemberitaan Injil. Dengan kata lain, jemaat Filipi bukan hanya penonton pelayanan, tetapi rekan sekerja dalam pelayanan Injil.
Persekutuan dalam berita Injil
Persekutuan jemaat Filipi dengan Paulus terlihat nyata dalam tindakan mereka. Mereka tidak hanya berkata bahwa mereka mendukung Injil, tetapi mereka membuktikannya dengan tindakan.
Beberapa bentuk keterlibatan mereka antara lain:
- Mendukung pelayanan Injil yang dilakukan Paulus.
- Memberi bantuan dan dukungan materi ketika Paulus berada dalam kebutuhan.
- Tetap berdiri bersama Paulus dalam pemberitaan Injil, walaupun ada tekanan dan penderitaan.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka bukan hanya pendengar Firman, tetapi mitra dalam pelayanan Injil.
Persekutuan berita injil penuh pengorbanan
Ketika Paulus menulis surat ini, ia sedang berada di penjara karena Injil. Namun jemaat Filipi tetap setia mendukungnya. Bahkan dua nama yang disebut sebagai tanda persekutuan berita injil yaitu Timotius dan Epafroditus Filipi 2: 19,20,22, 25,26,27 seorang dari jemaat mereka, Epafroditus, hampir mati karena pelayanannya. Ia bolak-balik membawa bantuan dan melayani kebutuhan Paulus. Ini menunjukkan bahwa persekutuan Injil adalah persekutuan yang berani berkorban.
Mereka yaitu jemaat dan Paulus menyatukan tenaga, sumber daya, waktu, bahkan hidup mereka, demi satu tujuan yang sama, yaitu supaya Injil Yesus Kristus diberitakan. Jadi kita belajar bahwa persekutuan dalam gereja seharusnya lebih dari sekadar berkumpul bersama. Gereja bukan hanya tempat kita datang untuk menerima, tetapi tempat kita dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan Allah.
Kesimpulan
Paulus memiliki hati yang begitu besar bagi jemaat Filipi karena ia belajar dari hati Kristus sendiri. Jika Paulus mengasihi gereja lokal, itu karena Yesus lebih dahulu mengasihi gereja-Nya. Karena itu mari kita memandang gereja lokal bukan sekadar tempat beribadah, tetapi keluarga rohani yang dikasihi Tuhan. Di dalam gereja inilah Kristus bekerja, membentuk, memulihkan, dan menumbuhkan setiap orang percaya.
Jika Kristus begitu mengasihi gereja-Nya sampai menyerahkan diri-Nya, maka marilah kita juga memiliki hati yang sama: mengasihi gereja, melayani jemaat, dan mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan di tengah gereja lokal. Sebab pada akhirnya, gereja adalah milik Kristus, tubuh Kristus, dan tempat di mana Kristus sedang bekerja sampai Ia datang kembali. ✨