Ibrani 12:1-3
Evaluasi adalah salah satu cara didalam kita menilai sesuatu. Evaluasi memberikan kita gambaran yang sebenarnya mengenai apa yang sedang kita kerjakan, seberapa baik atau buruk hal itu. Baik apabila memenuhi target ataupun sebaliknya. Iman berarti kepercayaan atau keyakinan. Iman (kata benda), percaya (kata sifat) adalah istilah yang menggambarkan hubungan seseorang dengan Tuhan.
(Bahasan iman sangat luas, untuk keterangan lebih lanjut bisa lihat di Web Blog saya “What Is Faith” yang saya khotbahkan di Youth GPdI Greenville – https://youtu.be/y8vv2HQwzXE) atau saudara bisa mampir ke Website gereja untuk melihat catatan-catatan tentang pengertian iman yang sudah dikhotbahkan oleh Hamba Tuhan yang lain).
Iman kita kepada Allah juga butuh untuk dievaluasi. Sebenarnya jikalau kita bergairah –bersemangat dengan Tuhan, kita tidak akan malas, sungkan ataupun malu apabila iman kita dievaluasi. Karena kita ingin tahu sejauh apa, sekualitas apa iman kita dibangun. Tuhan dapat memakai siapapun untuk mengevaluasi kerohanian kita, tetapi indikator-indikator penilaian itu hanya dapat kita temukan dari apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan dan Roh Kudus adalah satu-satunya sarana terbaik untuk mengevaluasi-menilai iman – kerohanian kita. Firman Tuhan dan Roh Kudus adalah penilai terbaik dan terjujur mengenai kerohanian – iman kita. Mari kita baca, salah satu bagian Firman Tuhan yang dapat menolong kita untuk mengevaluasi seberapa sehat iman – kerohanian kita.Perikop ini adalah lanjutan dari perikop “Saksi-saksi Iman” di Ibrani 11, dimana terdapat penjelasan tentang IMAN dan prakteknya dalam kehidupan tokoh-tokoh Alkitab. Kita bisa temukan beberapa hal dalam ayat ini sebagai bahan evaluasi kita terhadap iman dan kerohanian kita. Apa yang Yesus jelaskan, kerjakan dan teladankan sesungguhnya adalah nilai-nilai yang penting sebagai acuan didalam kita mengevaluasi sejauh mana iman dan kerohanian kita selama ini. Apakah kita telah melakukannya dengan tepat dan presisi seperti yang Yesus kehendaki atau tunjukkan ? Ataupun sebaliknya.
1. Menanggalkan beban dan dosa
Ibr 12:1 ITB
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Menanggalkan beban dan dosa menjadi ketentuan penting bagi orang Kristen dalam mengerjakan imannya. Hal yang sama kita temukan melalui pengalaman hidup para saksi iman (Ibrani 11). Ketika mereka memulai perjalanan-perlombaan iman mereka, mereka menanggalkan segala beban dan dosa mereka.
Kita bisa teliti kisah beberapa dari mereka:
(1) Nuh – Kejadian 6:9-22, Ibr 11:7;
(2) Abraham – Kejadian 12-22, Ibr 11:8-10;
(3) Musa – Keluaran 2-4, Ibr 11:24-28
‘Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita’
Pengalaman iman para saksi iman ini (dalam salinan Inggris) ‘mengarahkan’ bagaimana kita harus mengerjakan iman kita. Dari pengalaman mereka kita belajar mengerjakan iman kita.
‘marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita,’
Menanggalkan artinya: Membuang, memisahkan, menyingkirkan, merelakan.
Beban artinya: Bisa bicara mengenai kenyamanan hidup, kebiasaan, hal-hal yang tidak penting – tidak berguna, tidak punya nilai kekekalan jika diukur dari kacamata firman.
Dosa artinya: segala bentuk sikap hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan Allah.
Beban dan dosa menghambat kita untuk mengerjakan iman – kerohanian kita. Orang –orang yang tidak menanggalkan bebas dan dosa adalah orang-orang yang tidak akan pernah maju-berhasil didalam mengerjakan iman mereka. Menanggalkan beban dan dosa adalah permulaan didalam perlombaan atau perjalanan iman kita.
Hari-hari ini, Iblis pintar memanfaatkan pandemi untuk menambah beban dan dosa kita kemudian merintangi-menghambat pertumbuhan rohani kita.
Iblis taruh Kepahitan – jarang berhubungan dengan Tuhan, dengan gampangnya muncul benih jahat hingga timbul kepahitan, selalu menjadi pahit dengan perlakuan orang lain.
Iblis taruh Pikiran Cabul – karna banyak dirumah, banyak dikamar, tidak dilihat orang lain dsb, sehingga membuat kita selalu tertuduh, dan lebih nyaman untuk tidak datang kepada Tuhan dalam ibadah-ibadah atau persekutuan pribadi dengan Tuhan.
Iblis taruh Kesombongan – karna tetap sehat, tidak kena covid19, sudah vaksin, punya harta, kedudukan, orang kuat dsb.
Iblis taruh Kemalasan – terlalu lama dirumah, work from home, school from home, ibadah online dsb, akhirnya malas untuk melakukan apapun termasuk malas cari tahu tentang Tuhan.
Orang yang tidak menanggalkan beban dan dosa mereka, akan menjadi orang-orang yang kalah didalam perlombaan iman, sekalipun puluhan tahun dalam gereja, mengaku Kristen tetapi kualitasnya tidak dapat diharapkan.
Evaluasi 1: Sudahkah hari ini kita benar-benar menanggalkan beban dan dosa kita ?
2. Menekuni
Ibr 12:1 ITB
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
‘berlomba dengan tekun’
Ketekunan adalah bagian penting lainnya dalam mengerjakan iman kita (Ibrani 10:38). Ketekunan adalah salah satu kunci kemenangan dalam perlombaan iman kita.
Ketekunan tidak dibentuk dari kemudahan tetapi kemauan melalui kesulitan.
Ketekunan tidak lahir dari kemalasan tetapi kerajinan.
Ketekunan tidak terbentuk dari waktu yang singkat tetapi melalui proses yang lama.
Ketekunan menimbulkan tahan uji, kualitas yang teruji (Roma 5:4).
Kata ‘tekun’ dalam salinan asli diartikan ketabahan, sabar, ketahanan. Orang-orang yang tekun mengerjakan imannya mereka adalah mereka yang tidak membelok-membelot dari tujuan- kesetiaan iman mereka. Secara sederhana, ketekunan kita dapat dilihat dari disiplin kita terhadap hal-hal yang menunjang iman kita.
Misalnya:
Baca Alkitab: Masing-masing kita punya Alkitab, baik manual maupun digital. Tetapi seberapa sering kita membuka Alkitab, membaca, merenungkannya ?
Berdoa: Doa sering diumpamakan sebagai aktivitas yang sama persisnya dengan bernafas. Tapi berapa banyak orang Kristen yang tekun bernafas secara rohani ? Tak heran rohani kita mati, iman dan pengharapan kita mati. Kita sulit menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita.
Mendengar dan Melakukan Firman: Hari ini minim sekali orang yang tidak mendengarkan firman Tuhan. Dengan teknologi, memfasiltasi kita untuk dapat mengakses firman Tuhan dengan beragam cara, baik bentuk tertulis, rekaman suara, maupun video. Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar menekuni untuk melakukannya ?
“perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”
Bertekun dalam iman adalah suatu keharusan-kewajiban bagi kita. Selalu ada konsekuensi yang serius bagi mereka yang tidak tekun. Bicara iman-hidup rohani kita maka dampak dari ketidaktekunan kita adalah dampak yang kekal. Bertekun dalam iman selama waktu kita didunia, berdampak secara kekekalan.
Evaluasi 2: Sudahkah kita tekun mengerjakan iman kita ?
3. Melihat dan mengingat Yesus
MELIHAT YESUS
Ibr 12:2 ITB Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Firman Allah menghendaki setiap orang percaya untuk mengalihkan pandangan mereka dari hal lain dan memusatkan perhatian, konsentrasi, dan fokus kepada Yesus.
MENGAPA KITA HARUS MENGERJAKAN IMAN KITA DENGAN MATA YANG TERTUJU-MELIHAT YESUS ?
- Yesus yang memimpin kita dalam iman: Yesus yang membuka jalan untuk apa yang kita yakini hari ini. Karya keselamatan memungkinkan kita untuk hidup didalam Dia
- Yesus yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan: Yesus yang sempurna dalam segala hal, maka hanya Dialah yang mampu menyempurnakan iman kita.
- Yesus yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia: Yesus memberi teladan ketekunan dalam mengerjakan kehendak Allah. Ketekunan sebagai syarat untuk mengerjakan iman kita.
- Yesus yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah: Sebagaimana Sorga menghormati Yesus, demikian Yesus pun menghormati mereka yang mengerjakan imannya.
Kegagalan didalam membangun-mengerjakan iman kita disebabkan oleh perhatian, fokus dan konsentrasi kita bukan kepada Yesus. Sekalipun kita mengaku percaya dan mengasihi Yesus tetapi sejujurnya kita sedang tidak serius melihat-memperhatikan Yesus.
Beberapa hal yang lagi ‘trend’, mengalihkan pandangan kita dari Yesus.
Covid19 dan kawan-kawannya: Terlalu memperhatikan Covid, selalu update varian terbaru covid19, dibuat terlalu takut dengan covid, hingga kita tidak bisa melihat janji Allah tentang kehidupan kita baik dimasa kini ataupun dimasa yang akan datang.
Cari Uang: Ekonomi kurang baik, ekstra bekerja, lembur sebab bertanggung jawab menafkahi keluarga, diperbudak oleh uang, selalu merasa kurang kemudian lupa bersyukur. Tidak mau memandang Yesus, berharap pada Yesus yang adalah sumber berkat, Allah yang mengerti dan menyediakan kebutuhan kita tepat pada waktunya.
Khawatir-kecewa-pahit-protes-menuduh-mempersalahkan: Kesusahan-kesusahan yang kita alami hari ini memicu rangkaian kekhawatiran terhadap masa depan, kecewa dengan apa yang dialami, menjadi pahit, kemudian protes sana sini termasuk protes Tuhan. Kita terlalu sibuk dengan apa yang kita rasakan hingga kemudian kita lupa melihat Yesus, Dialah Allah atas segalanya.
Kecenderungan untuk melihat dengan salah akan selalu ada, dan lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi orang yang benar-benar fokus kepada Yesus, mereka selalu dimampukan menghadapi segala sesuatu. Mereka selalu punya cara pandang yang berbeda, selalu memiliki respon yang positif tidak peduli seberapa negatif keadaan yang sedang mereka alami, tak peduli seberapa sukar jalan yang mereka lalui, tak peduli seberapa sakitnya proses yang dialami.
MENGINGAT YESUS
Ibr 12:3 ITB Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
‘Ingatlah selalu akan Dia’
‘Ingat’ – renungkan, pikirkan.
Kegagalan kita dalam perjalanan iman kita disebabkan oleh pola pikir dan minimnya perenungan kita kepada Yesus dan apa yang Ia katakan dalam firman-Nya.
Kita seringkali ditipu dengan pemahaman yang salah terhadap Yesus. Kita berpikir bahwa kehidupan Kristen selalu berisi tentang kesenangan kita dan bukan menderita seperti Yesus. Atau bahkan, Iblis pintar memanfaatkan pikiran kita bukan untuk mengingat semua tentang Yesus tetapi justru mengingat hal-hal tak berguna, berdosa. Dengan mengingat segala sesuatu tentang Yesus membuat diri kita tidak gampang menjadi lemah ataupun putus asa. Tak peduli seberapa rumit masalah yang dihadapi, tetapi orang yang mengingat Yesus, punya pikiran Kristus (Kolose 3:1) mereka tidak akan mudah menjadi lemah dan putus asa.
Evaluasi 3: Sudahkah mata dan pikiran kita tertuju kepada Yesus ?
KESIMPULAN:
Didalam membangun iman-hidup rohani kita, apakah cara-cara ini sudah kita lakukan sesuai petunjuk Firman Allah, sesuai teladan Yesus ?
Saya berdoa, setelah saudara memperhatikan – mendengar khotbah dari Firman Tuhan ini, Roh Kudus memberi kita kesanggupan untuk merendahkan diri, memohon belas kasihan Tuhan untuk memulihkan keadaan kita, dan kembali berusaha melakukan apa yang dikehendaki-Nya bagi kehidupan kita.
www.corneleskandou.wordpress.com