Seorang  Hamba Allah – Oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya 2 – Minggu, 25 Januari 2026)

1 Korintus 4:1-5

PENDAHULUAN
Selaku gembala, juga sekian banyak hamba Tuhan di GPdI Jemaat Mahanaim Tegal, bersepakat membawa dan mengarahkan seluruh jemaat GPdI Mahanaim Tegal, baik pria dan wanita; remaja, pemuda sampai usia berkat, agar ambil bagian melayani Tuhan. Diharapkan semua jemaat tidak hanya rajin dan setia beribadah kepada Tuhan. Tetapi lebih dari itu, diharapkan agar semua jemaat turut ambil bagian dan terlibat dalam melayani Tuhan.

PERHATIKAN KATA “HAMBA”
Dari ayat pokok yang kita baca, rasul Paulus menjelaskan bahwa status kita dalam pandangan Yesus, bukan hanya sebagai jemaat yang hadir untuk dilayani, apalagi hanya jadi penonton. Tetapi yang Tuhan kehendaki adalah agar semua jemaat turut terlibat untuk ambil bagian dalam melayani Tuhan.

Dan dalam ayat pokok ini, setiap orang yang terlibat melayani Tuhan, orang itu disebut “HAMBA.”  Untuk itu, mari kita perhatikan kembali ucapan rasul Paulus kepada jemaat Korintus dalam 1 Korintus 4:1 Demikianlah hendaknya orang memandang kami: “Sebagai hamba-hamba Kristus.” Artinya apa pun bentuk pelayanan yang kita buat dalam kegiatan kita melayani Tuhan, Tuhan ingin nuansa yang terekspresi atau terpancar dari dalam diri kita bukan ekspresi seorang bos; tuan, penguasa, tapi yang Tuhan inginkan yang terpancar dari dalam hati, jiwa dan diri kita dalam kita melayani Tuhan adalah “Hati dan Jiwa Seorang Hamba.” Artinya setiap pelayan Tuhan, mulai dari: gembala, wakil gembala, staf gembala bahkan anggota jemaat yang terlibat dalam melayani Tuhan, apa pun bentuk pelayanan yang dilakukan mulai dari pelayanan yang dianggap kecil sampai bentuk pelayanan yang dianggap besar, kita sadari bahwa posisi kita adalah hamba di mata Tuhan.

HAMBA KRISTUS
Yang pertama yang kita pelajari adalah kata “hamba” dalam 1 Korintus 4:1, di mana kata “hamba” di ayat ini dalam bahasa Yunani dipakai kata: “HUPERETES” yang artinya seorang hamba yang bekerja sebagai pendayung di sebuah kapal besar, dimana mereka bekerja keras mendayung kapal itu, sampai kapal itu tiba di tempat yang dituju.

Bila kita hubungkan dengan Amsal 30:18,19. Di ayat ini dikatakan bahwa “Jalannya kapal di tengah laut adalah merupakan gambaran perjalanan gereja, yaitu perjalanan orang percaya kepada Yesus dari dunia yang fana ini sampai di pelabuhan yang kekal dan abadi, yaitu “SORGA YANG KEKAL.”

BERADA DI DALAM KAPAL KEHIDUPAN
Sebagai orang yang telah percaya kepada Yesus, bertobat dan lahir baru, saya ingin berkata: “Bila Saudara tetap setia berada di dalam kapal kehidupan yaitu Tuhan Yesus Kristus yang berlayar menuju pelabuhan Sorga, kita yakin kita akan tiba di pantai atau pelabuhan yang kekal, yaitu Sorga Samawi, dimana Tuhan Yesus Kristus sudah menanti kita di sana. Amen!

PESAN FIRMAN ALLAH
Jangan sia-siakan kesempatan yang mulia dan berharga ini dengan berbuat ulah yang bisa membuat kita terbuang dan jatuh ke laut kebinasaan yaitu neraka yang kekal. Sebaliknya selama kita masih diberi kesempatan hidup di sisa waktu yang Tuhan berikan kepada kita, jangan sia-siakan kesempatan hidup yang masih kita miliki untuk “melayani Tuhan.”

KEWAJIBAN ATAU TANGGUNG JAWAB  SEORANG HUPERETES
1. Seorang Huperetes (pendayung kapal), kita tidak mendayung atau melayani dengan sekehendak hati dalam bekerja dan melakukan tugasnya pelayanan kita.
2. Seorang Huperetes bekerja dan melayani dengan taat dan setia di bawah pimpinan kapten kapal, yaitu: Bapa, Putra (Tuhan Yesus Kristus) dan Roh Kudus serta para pimpinan yang dipercayakan.

Seorang Huperetes melakukan tugas atau pekerjaan mendayung dengan taat dan sungguh-sungguh, khususnya melakukan pekerjaan atau pelayanan mendayung dengan cara mengikuti atau sesuai aba-aba yang diberi oleh komandan. Menggerakkan alat pendayung sesuai dengan kapasitas kekuatan tenaga yang telah diatur dalam pelatihan. Sebab, kalau tidak sesuai kekuatan di bagian kiri atau kanan kapal, maka jalan kapal tidak akan berjalan seimbang. Menggerakkan kapal dengan dayung yang harus dilakukan dengan sepenuh hati dan jiwa serta kekuatan, baik bagi yang ada di posisi depan, tengah, atau belakang.

Huperetes mendayung dengan kesatuan hati dan seirama dengan Huperetes lainnya dengan hati yang tenang, aman, damai mulai dari titik awal dan sampai ke tempat tujuan. Taat dan tunduk kepada pemberi komando atau pemberi aba-aba. Bekerja atau mendayung bersama dengan seia sekata dalam menggunakan dayung yang dipercayakan kepadanya (Huperetes).

HIDUP DAN PELAYANAN KITA DIAMATI HAKIM
Mengapa kita harus hidup dan melayani dengan cara yang baik dan benar sepanjang pelayaran atau perjalanan hidup dan pelayanan kita?
1 Korintus 4:3
“Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi.”

Seperti seorang Huperetes yang sepanjang perjalanan hidupnya ada dalam pengamatan hakim, demikian juga dengan kita. Kita diamati oleh hakim yang adil, Tuhan Yesus Kristus, demikian juga dalam perjalanan hidup dan pelayanan kita. Perhatikan! Sekecil apa pun pelayanan kita sebagai Huperetes, Yesus menilai dan menyediakan kita pahala (Mahkota Kemuliaan) yang akan kita kenakan di sorga.
Amen!

Arsip Catatan Khotbah