Mazmur 128:1–3
1 Nyanyian ziarah.
Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!
2. Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
3. Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!
Pendahuluan
Setiap manusia pasti punya apa yang namanya kerinduan, baik tua, muda, kaya ataupun sederhana. Lalu pertanyaanya, “apa kerinduan terbesar manusia, termasuk kita?” Yaitu ingin hidup berbahagia, ingin keluarganya diberkati.
Ada pepatah berkata, “Rumah bisa megah, tetapi kalau di dalamnya tidak ada damai, itu hanya bangunan kosong.” Betul, bukan? Tetapi realitanya? Banyak yang retak, penuh pertengkaran, anak-anaknya tidak menemukan kasih sejati. Bahkan jiwa mereka hampa, kosong, kering, tidak ada sesuatu yang menghidupkan. Hidup keluarga mereka seperti sumur yang dalam tetapi airnya asin, tidak bisa memuaskan dahaga. Sebaliknya, ada keluarga yang hidupnya sederhana, tetapi penuh dengan sukacita, damai, dan ketahanan rohani yang mengagumkan. Pertanyaannya, “apa rahasianya?”
Firman Tuhan saat ini akan memperlihatkan rahasia sejati dari kebahagiaan keluarga. Bukan pada harta, bukan pada jabatan, melainkan pada satu hal: Takut akan Tuhan! Itulah jawabannya.
Sekarang kita akan perhatikan hal-hal yang berhubungan dengan takut akan Tuhan, ada empat berkat nyata bagi keluarga yang takut akan Tuhan.
1. Memiliki fondasi dan kompas hidup (ayat 1)
Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!”
“Takut akan TUHAN” di sini bukan ketakutan panik atau menghindar, melainkan sikap hormat, kekaguman, dan ketaatan yang menempatkan Allah sebagai pusat hidup. Takut akan Tuhan adalah ketaatan kita melakukan kehendak-Nya, sehingga membentuk hati yang rendah hati, dan menghasilkan sikap bijaksana dalam pengambilan keputusan.
Ketika keluarga meletakkan Tuhan sebagai dasar seperti fondasi rumah di atas batu maka cara menghadapi persoalan sehari-hari berakar pada hikmat ilahi sehingga berkat-Nya nyata bukan hanya dalam materi tetapi dalam ketahanan rohani, damai, dan keharmonisan.
Coba direnungkan.
Ada dua rumah dibangun di tepi pantai yang sama. Saat badai datang (krisis ekonomi, penyakit, konflik), rumah di atas pasir (fondasinya adalah kekayaan atau materi, karier, atau gengsi) akan runtuh karena fondasinya bergeser. Tetapi akan sangat jauh berbeda dengan rumah di atas Batu Karang (Tuhan). Badai, ombak pasti akan menerpa, tetapi ia tidak goyah karena fondasinya tidak bergerak. Begitu juga keluarga kita, ketika dibangun diatas dasar yang salah, maka cepat atau lambat akan runtuh.
Pertanyaannya
Siapa yang paling nyata mengambil tempat “sebagai dasar” dalam kehidupan keluarga kita: Tuhan atau sesuatu yang lain?
Mazmur 112:1 menegaskan, “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.”
Takut akan Tuhan merupakan dasar yang kokoh untuk membangun kehidupan sekaligus pedoman yang menuntun arah hidup kita agar tidak salah jalan dan tetap berada dalam rencana Allah. Jadi, fondasi serta petunjuk berkat kebahagiaan sejati bagi keluarga kita adalah takut akan Tuhan. Lalu, apa buah nyata yang kita nikmati ketika kita hidup takut akan Tuhan?
2. Menikmati hasil dan kebahagiaan karena Tuhan (Ayat 2)
“Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!”
Ayat ini menekankan dua hal: usaha manusia (jerih payah tangan) dan berkat Tuhan yang memungkinkan kita menikmati hasilnya. Tetapi lebih jauh yang perlu kita sadari adalah, berkat bukan selalu tentang kuantitas besar, melainkan kualitas sukacita dan pemeliharaan Tuhan yang diberikan sehingga hasilnya dipakai untuk kebaikan, syukur, dan melayani. Dengan demikian bahwa hidup takut akan Tuhan akan mengubah kerja menjadi ibadah: artinya kita tidak melakukan sebagai beban, tapi kita lakukan dengan ketulusan, kerja keras, kemurahan hati, dan rasa cukup.
Banyak orang bekerja keras siang-malam, punya banyak harta, tetapi tidak bisa menikmatinya karena kecemasan, penyakit, stres, atau perselisihan dll. Tapi orang yang hidup takut akan Tuhan, meskipun hasil sederhana, bisa menikmatinya dengan penuh sukacita.
Ilustrasi:
Seorang petani sederhana yang rajin menanam dan selalu berdoa. Panen yang ia dapat tidak selalu berlimpah, tapi setiap kali ia duduk di meja makan dengan keluarganya, ia berkata, “Ini berkat Tuhan.” Hatinya penuh syukur.
Pengkhotbah 3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.
Berkat Tuhan terlihat bukan hanya dari jumlah hasil, tapi dari sukacita saat menikmatinya.
Makna buat kita
Keluarga yang takut akan Tuhan melihat pekerjaan bukan sekadar mencari nafkah, tetapi sebagai bagian dari panggilan Tuhan. Kita akan belajar untuk hidup dengan rasa cukup dan menjadikan meja makan sebagai tempat bersyukur, bukan mengeluh.
Nah, berkat berikutnya Tuhan janjikan bukan hanya pada usaha kita, tapi juga dalam keluarga dimulai dari istri.
3. Istri menjadi sumber sukacita (Ayat 3a)
“Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu.”
Gambaran “pohon anggur” dalam budaya Israel sangat kaya sekalipun membutuhkan perawatan, tetapi ketika subur, maka ia akan memberikan berbagai banyak keuntungan:
– Sumber makanan dan minuman – Buah anggur dapat dimakan langsung atau diolah menjadi minuman (anggur baru), melambangkan kesegaran dan sukacita dalam kehidupan keluarga.
– Simbol kesuburan dan kelimpahan – Pohon anggur yang berbuah lebat menjadi tanda berkat Tuhan atas tanah dan pekerjaan tangan mereka, sama seperti istri yang menghadirkan kelimpahan berkat dalam rumah tangga.
– Ketenteraman dan kedamaian – Orang Israel menghubungkan duduk di bawah pohon anggur dengan keadaan aman dan damai (Mikha 4:4), seperti istri yang memberi rasa nyaman dan keteduhan dalam keluarga.
– Sumber ekonomi dan kesejahteraan – Anggur adalah hasil utama tanah Israel yang memberi penghasilan, ini melambangkan peran istri yang menopang kesejahteraan rumah tangga melalui kebijaksanaannya.
– Simbol sukacita perayaan – Anggur sering hadir dalam pesta dan perayaan, menggambarkan bahwa kehadiran istri yang setia membawa sukacita dan keceriaan dalam keluarga.
Inilah gambaran tentang istri dari keluarga yang takut akan Tuhan.
Kehadirannya menghasilkan kehidupan baik melalui kata-kata yang membangun, kasih sayang yang memulihkan, hikmat yang menuntun, dan iman yang menguatkan. Ia menjadi pusat kehidupan dan sukacita di dalam rumah
Makna buat kita:
Peran ini bukan otomatis. Seorang istri bertumbuh sebagai “pohon anggur yang subur” ketika ia sendiri berakar kuat dalam takut akan Tuhan.
Amsal 31:30 (TB) Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
Ada kebanggaan, pujian, kebahagiaan dalam keluarga. Bahkan ia akan dilindungi dihargai dan dikasihi oleh suaminya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat (Efesus 5:25). Ini adalah panggilan timbal balik.
4. Anak-anak menjadi Generasi Penerus Berkat (Ayat 3b)
“…anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!”
Tunas zaitun melambangkan:
– Kuat dan panjang umur
– Menghasilkan minyak berharga
– Melambangkan generasi berkat generasi muda yang kuat, bernilai, dan bertumbuh di lingkungan yang memberi nutrisi.
Anak-anak bukan sekadar pewaris nama, tapi pewaris iman. Mereka bukan sekadar penghuni rumah tapi bagian dari kehidupan keluarga yang aktif: duduk, belajar, diberkati. Tanggung jawab utama dalam keluarga adalah mendidik anak dalam takut akan Tuhan melalui teladan, disiplin penuh kasih, pengajaran Firman, dan suasana rumah yang konsisten. Bayangkan suasana meja makan keluarga anak-anak duduk bersama, bercakap dengan penuh kasih, tertawa, dan dididik dalam firman Tuhan.
Itulah gambaran keluarga yang diberkati, bukan sekadar ada anak, tetapi anak-anak yang bertumbuh sebagai berkat bagi generasi.
Mazmur 127:3 menegaskan: “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.”
Kesimpulan
Keluarga yang takut akan Tuhan serta diberkati bukanlah jaminan bahwa keluarga akan bebas dari kesulitan. Tetapi dapat dipastikan bahwa keluarga yang benar-benar takut akan Tuhan akan menikmati segala berkat yang terbaik dari Tuhan.
Amsal 9:10: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
Mari kita jadikan Tuhan sebagai fokus, fondasi, dan tujuan akhir dari setiap aspek kehidupan keluarga kita.