KEMERDEKAAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 17 Agustus 2025)

Yohanaes 8:36 – “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

Dari ayat pokok di atas, ada dua hal yang menarik untuk dijabarkan:
I.  ANAK  ITU
Ini tidak lain menunjuk kepada Yesus. Tidak seorangpun yang dapat benar-benar bebas merdeka jika bukan Yesus yang adalah Anak Allah yang memerdekakan. Sebab upah dosa adalah maut, tidak seorangpun yang dapat meluputkan diri dari maut, selain Yesus yang telah menanggung hukum maut itu, melalui kematian-Nya di atas kayu salib.

II. BENAR-BENAR MERDEKA
Dalam teks aslinya ditulis ‘eleutherosei’ atau ‘eleutheroo’, yang memilki makna :
1. Kemerdekaan yang diperoleh dari pribadi yang  berkuasa penuh.
Ini tidak lain menunjuk kepada Yesus, yang disebutkan sebagai Anak itu.

Matius 28:18 – “Yesus mendekati mereka dan berkata: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.”

Yesus satu-satunya pribadi yang diberikan kuasa penuh atas segala sesuatu, apa yang Ia lepas tidak ada satupun yang dapat mengikatnya.

2. Kemerdekaan yang berlaku bagi semua orang yang percaya kepada Anak yaitu Yesus. Merdeka dari dosa atau perbudakkan rohani.
Jadi bukan kepada semua orang secara otomatis, tetapi kepada siapa saja yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan penebusnya.

3. Pembebasan atau kemerdekaan yang akan terjadi secara berkelanjutan.
Karena manusia belum bebas dari pergumulan rohani melawan dosa. Selama masih hidup dalam raga ini kita masih harus berjuang melawan tabiat kedagingannya, dunia dan Iblis. Jadi kemerdekaan yang kita terima, menuntut tanggung jawab kita untuk dijaga dan mengerjakan keselamatan yang telah kita terima dengan hidup sesuai dengan firman Tuhan.

Galatia 5:1 – “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

Bebarapa hal yang harus kita hadapi dan berjuang untuk tetap menang.
I. PERJUANGAN MELAWAN TABIAT DAGING
Galatia 5:17 –  “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”

Galatia 5:19-21 – “Perbuatan daging yang nyata, seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, dan pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kubuat dahulu – bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Sebagai orang yang sudah dimerdekakan, maka ada daftar perbuatan daging atau duniawi yang harus dimatikan.  
Kolose 3:5 – “ Karena itu matikanlah dalam dirimu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.

Ada lima dosa yang harus dimatikan setiap saat muncul dalam kehidupan setiap orang percaya :
1). Percabulan (porneia).
Arti sebenarnya adalah Pelacur. Tetapi kemudian digunakan untuk amoralitas seksual pada umumnya. (1 Kor 6:9 )

2). Kenajisan (akartharsi )
Ini menunjuk kepada ketidakmurnian moral yang mengacu kepada segala bentuk kenajisan penyimpangan sexual, termasuk di dalamnya LGBT.

3). Hawa nafsu (pathos)
Digunakan dalam dua pengertian yang berbeda :
* Penderitaan
* Hasrat seksual yang tak terkendali.

Untuk ayat ini, yang kedua yang dimaksudkan dengan Pathos, yaitu hasrat seksual yang tak terkendali. Tokoh Alkitab dalam Perjanjian Lama yang jatuh dalam dosa ini adalah Daud dan Simson. Kedua tokoh ini belum merdeka dalam soal hawa nafsunya. Daud jatuh karena menginginkan dan berzinah dengan Bestsyeba sampai membunuh suaminya dengan cara yang sangat licik. Simson memaksa orang tuanya untuk melamar wanita kafir yang bukan dari bangsa Israel karena hawa nafsunya. Pada akhirnya ia bertekuk lutut oleh Delilah, ironisnya wanita itu adalah musuh dari Israel.

4). Nafsu jahat  (epithumia)
Artinya suatu keinginan yang kuat untuk sesuatu yang jahat dan merugikan orang lain.

5). Keserakahan (pleonexia)
Adalah keinginan yang tidak terkendali dan berlebihan untuk memiliki lebih dari yang dimiliki, lebih banyak harta, kekuasaan dan keuntungan tanpa memperdulikan hak dan kebutuhan orang lain.

Kelima dosa kedagingan tersebut harus sudah dimatikan dalam kehidupan setiap orang percaya yang sudah dimerdekakan oleh Yesus.

Selain dari daftar dosa yang harus mati dalam kehidupan orang percaya, masih karakter kedagingan yang harus dibuang. Karakter ini sewaktu-waktu muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Kolose 3:8 – “ Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu : marah, geram, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.”

Karakter jahat yang harus dibuang :

  1. Marah : ini adalah kemarahan mendidih yang berkelanjutan dan tahan lama (2 Kor 12:20; Gal 5:20; Ef 4:31). Di dalamnya termasuk, dendam, kebencian dan tidak bisa mengampuni.
  2. Geram : Kemarahan yang cepat terbakar, mudah meledak. Gampang sekali tersinggung, mudah terbawa perasaan, mudah sekali marah.
  3. Kejahatan : Pikiran yang keji – mengacu kepada keinginan untuk merugikan bahkan menyakiti orang lain. ( Rom 1:29; 1 Kor 5:8; Ef 4:31 ).
  4. Fitnah dan kata-kata kotor : Orang-orang akan menilai siapa kita, dari cerminan kata-kata dan pembicaraan kita.

II. PERJUANGAN MELAWAN IBLIS
Efesus 6:11 – “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.”  Hubungkan dengan Efesus 6:12.

Tipu daya Iblis dapat berupa :

  • Ajaran sesat
  • Agama dan kepercayaan lain yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Semua yang tidak berdasarkan pada kasih karuna Yesus Kristus, itu bukan dari Allah tapi dari tipu daya Iblis.
  • Takhayul dan dongeng nenek tua. 1 Tim 4:7.

Mari kita jaga kemerdekaan kita dengan hidup sesuai dengan firman Allah dan tuntunan Roh Kudus. Dengan kuasa Roh Kudus kita mampu mematikan dosa kedagingan dan membuang segala karakter jahat yang sering mempengaruhi kehidupan manusia. Sekali Yesus tetap Yesus! Jangan lagi mau diperhamba dosa.

Arsip Catatan Khotbah