MELAYANI DALAM KELUARGA –  oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 1 Februari 2026

Pendahuluan 
Melayani adalah satu panggilan mulia bagi setiap orang yang sudah menerima kasih Tuhan, melalui penebusan darah Kristus. Orang percaya tidak lagi diperhamba apalagi memperhamba orang lain, tetapi dipanggil untuk saling melayani. Bagaimana memulai pelayanan? Ini yang banyak orang pertanyakan, apakah langsung mendaftarkan diri untuk terlibat pelayanan di gereja, atau harus bagaimana memulainya. Fondasi pelayanan yang baik, adalah dari kehidupan keluarga. Keluarga yang bagaimana? Keluarga yang memiliki komitmen kuat dalam iman. Seperti yang dikomitmenkan keluarga Yosua.

Yosua 24:15b “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.”

Keluarga seperti yang dikomitmenkan oleh Yosua inilah yang memiliki fondasi kuat untuk bisa dan bertahan dalam melayani Tuhan. Komitmen tunduk dan hanya kepada Tuhan sajalah beribadah, tidak kepada siapapun hanya kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Melayani dalam keluarga itu terlihat dalam sikap dan perbuatan. Keluarga yang saling melayani akan teruji dan membawa dampak dalam pelayanan kepada orang lain.  Alkitab mencatat dengan jelas bagaimana keluarga yang saling melayani melalui sikap dan perbuatannya dari suami, isteri, anak-anak, kakek dan neneknya.

SUAMI DAN ISTERI DALAM RUMAH TANGGA
1 Korintus 7:3 – “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.”

Konteks ayat ini sebenarnya mengacu pada kewajiban pribadi yaitu hubungan intim, tetapi tidak hanya itu saja melainkan kewajiban-kewajiban lainnya dari kedua belah pihak. Bagaimana pelayanan suami kepada orang yang paling dekat

Efesus 5:33 – “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”

Pelayanan penting yang tidak boleh diabaikan suami terhadap isterinya adalah mengasihi isterinya. Mengapa suami harus mengasihi isteri seperti dirinya sendiri?
Efesus 5:31 – “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.”

Jawabannya adalah karena suami dan isteri itu sudah satu daging. Jadi apa yang dilakukan suami terhadap isterinya, itu sama dengan melakukan terhadap dirinya sendiri.
Tentang satu daging yaitu hubungan intim harus didasari dengan kasih dan kesetiaan. Dunia memang dapat melakukannya tanpa rasa cinta, tetapi tidak dengan setiap orang percaya, hubungan satu daging para suami harus didasari rasa mengasihi dan dalam kesetiaan. Demikian juga pasangannya yaitu isterinya.

1 Petrus 3:7 – Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

Hubungan suami isteri bukan saja karena sudah satu daging, tetapi isteri merupakan teman pewaris dari kasih karunia Allah, memiliki hak dan derajat yang sama di mata Allah, bahkan akan sangat berpengaruh dalam kehidupan kerohanian suami jika sampai semena-mena terhadap isterinya. Tuhan tidak akan memperdulikan doa-doa para suami yang berlaku tidak bijaksana terhadap isterinya.  Pelayanan kasih para suami terhadap isterinya akan menjadi dasar bagi pelayananya dalam pekerjaan Tuhan, terutama dalam memimpin jemaat.

1 Timotius 3:2 – “Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang.”

Kata penilik jemaat ditulis EPISKOPOS, ini menunjuk kepada jabatan kepemimpinan gereja lokal, yaitu pendeta atau juga penatua, ini menjadi sorotan utama bagi Allah. Salah satu dari syarat dan menduduki nomor pertama adalah suami dari satu isteri, itu artinya pelayanan kasihnya terhadap isterinya sudah teruji. Ini tidak cuma berlaku bagi para pemimpin saja, tetapi juga berlaku bagi para pelayan Tuhan yang lain.

1 Timotius 3:12. – Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.

Diaken atau Diakonos adalah para pelayan Tuhan non mimbar, yaitu para pelayan jemaat dibidang pelayanan meja, termasuk didalamnya para pelayan ibadah, baik pemuji, pemusik dan yang lainnya, syaratnya sama yaitu suami dari satu isteri, ini sekali lagi menjadi syarat utama. Selanjutnya bagaimana dengan para isteri?

Efesus 5:33b – “ … dan isteri hendaklah menghormati suaminya “

Para isteri dipanggil untuk menghormati dan tunduk kepada suami mereka, Efesus 5:22,24.  Hal ini akan meningkatkan dan memperkuat ikatan kasih diantara suami isteri. Apa yang isteri lakukan kepada suaminya akan menjadi gambaran dalam pelayanannya kepada Tuhan. Para wanita yang selalu membuat keributan dalam pelayanannya, itu pasti bermasalah dalam rumah tangganya. Jadi bagi para suami dan isteri, layanilah keluargamu dengan baik, baru layanilah Tuhan.

KAKEK DAN NENEK DALAM KELUARGA
Selanjutnya Alkitab juga mencatat peran kakek dan nenek dalam keluarga yang melayani.
Titus 2:2 – “Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.”

Untuk para orang tua dalam hal ini kakek dan nenek, Alkitab lebih menekankan pada pelayanan keteladanan iman kepada anak dan cucunya.

Titus 2:3-5 – “Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar firman Allah jangan dihujat orang.”

ANAK-ANAK DALAM KELUARGA
Efesus 6:1-3 – “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikiian. Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini …supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”

Perhatikan semua yang masih berstatus sebagai anak. Jika pelayanan kasihnya kepada orang tua tidak baik, maka pelayanannya pun tidak akan baik. Mengapa tidak sedikit para pelayan Tuhan sulit untuk tunduk pada otoritas diatasnya? Itu karena terbiasa tidak tunduk pada orang tuanya. Menghormati dan tunduk kepada orang tua merupakan perintah penting. Memang tidak ada orang tua yang sempurna, tetapi bagaimanapun perintah Tuhan, hormati dan taati mereka didalam Tuhan. Hal ini bukan saja akan berpengaruh terhadap pelayanan yang dikerjakan, lebih dari itu berpengaruh terhadap masa depannya, yaitu supaya kamu berbahagia dan lanjut umurmu. Kerjakanlah hal ini, dan baru layanilah Tuhan.

Arsip Catatan Khotbah