Pendahuluan
Melayani kota dan bangsa merupakan panggilan setiap anak Tuhan. Dasar pelayanan terdapat dalam :
1 Timotius 2:1-3
2:1 Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,
2:2 untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kejujuran.
2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan di hadapan Allah, Juruselamat kita.
Dimanapun kita tinggal Tuhan perintahkan untuk mengusahakan kesejahteraan kota dimana kita tinggal.
YEREMIA 29:7
“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraamu.”
Kata “mengusahakan” dalam Yeremia 29:7 menggunakan kata asli bahasa Ibrani וְדִרְשׁוּ (wedirshu), yang berasal dari akar kata דָּרַשׁ (darash). Arti teks asli (Darash) secara literal, kata darash memiliki arti yang jauh lebih aktif daripada sekadar “mengusahakan”. Makna dasarnya meliputi :
- Mencari dengan sungguh-sungguh (to seek, pursue): Tindakan yang disengaja, aktif, dan penuh keseriusan untuk mengejar sesuatu.
- Mempelajari atau meneliti (to study, inquire): Memikirkan dengan sungguh-sungguh strategi atau cara terbaik agar kota tersebut maju.
- Mempedulikan (to care for): Memiliki tanggung jawab moral dan kepedulian yang mendalam terhadap tempat tinggal.
Kata ini digabungkan dengan kataשָׁלוֹם (shalom) yang diterjemahkan sebagai “kesejahteraan”. Shalom bukan hanya absennya konflik atau perang, melainkan keutuhan, kemakmuran, kesehatan, keamanan, dan keharmonisan total di dalam masyarakat. Jadi, wedirshu et-shalom berarti “kejarlah dan usahakanlah dengan segenap hati keutuhan serta kemakmuran total” bagi kota tersebut.
Pemahaman teologis dan kontekstual perintah untuk mengusahakan ini sangat revolusioner karena latar belakang situasinya:
- Bukan pasif menanti : Umat Israel saat itu berada di Babel sebagai tawanan dan orang asing. Banyak nabi palsu menyuruh mereka bersikap pasif karena mengira pembuangan akan segera berakhir. Namun, Tuhan memerintahkan mereka untuk aktif: membangun rumah, menanam kebun, dan bekerja keras demi kemajuan Babel.
- Mengasihi musuh melalui tindakan nyata: Babel adalah bangsa kafir yang menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci mereka. Mengusahakan kesejahteraan Babel berarti umat Allah dipanggil untuk menjadi agen berkat, bahkan bagi lingkungan atau struktur masyarakat yang tidak ideal atau memusuhi mereka.
1 Petrus 3:9
“dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.”
Selain memberkati dengan daya upaya, kita juga memberkati dengan ucapan berkat bukan mengutuk bangsa kita, tetapi ucapkanlah berkat.
1 Petrus 3:10
”Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”
- Prinsip simbiosis kesejahteraan: Teks tersebut mencatat, “sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”. Kehidupan umat Tuhan secara praktis terikat dengan kondisi tempat mereka ditempatkan. Jika kota itu aman dan makmur, mereka pun akan menikmati keamanan dan kemakmuran tersebut.
- Integrasi kerja dandDoa: Perintah mengusahakan (darash) ini langsung diikuti dengan perintah untuk mendoakan (hitpalelu) kota tersebut kepada TUHAN. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan sosial-ekonomi yang nyata harus berjalan beriringan dengan kehidupan spiritual yang intim dengan Tuhan.
Mulailah melakukannya dengan kota dimana masing-masing anda tinggal, jadilah berkat melalui tindakan dan doa bagi kota dan juga bangsa kita.